Kapan Al Qur’an Mulai Diajarkan

Featured

Ust Harry Santosa

Umur Berapa Saya Ajarkan Anak-Anak Saya Quran? – Nouman Ali Khan – Gulf Tour Q&A
Judul asli: What Age Do I Teach My Child Quran? – Nouman Ali Khan

Ada pertanyaan bagus dari seorang Ibu di Gulf Tour yang bertanya, “Kapan anak saya perlu belajar bahasa Arab?
Anak saya 2,5 tahun. Kapan saya harus mengajarnya gramatika bahasa Arab, Qur’an, tajwid dan hafalan? Saya ingin ia dibesarkan dengan Al Qur’an.”

Sangat indah niat anda untuk ajarkan anak anda Qur’an. Tapi, dia baru berusia 3 tahun. Santai saja, Bu.

Kita ingin mereka untuk miliki setiap… Apa yang Anda lakukan pada usia 3 tahun? Anda tak ingat. Bahkan Anda tak ingat pernah memakai sepatu terbalik. Anak-anak berada pada fitrah mereka. Fitrah mereka sangat indah. Biarkanlah mereka.

Ajarkan dengan kasih sayang. Sebagian dari mereka lebih berbakat. Mereka ingin belajar lebih cepat. Berikan kesempatan itu. Sebagian anak ingin banyak bermain.
Biarkanlah mereka mengambil waktu mereka. Para orang tua harus belajar fleksibel dengan anak mereka. Tidak menetapkan standar yang sama. Tidak bandingkan satu anak dengan yang lain, terutama dalam Al Qur’an mereka.

Saya punya enam anak dan cara mereka hafalkan Qur’an berbeda. Cara belajar Qur’an mereka sama sekali tidak sama. Salah satu anak saya bisa menghafal dalam 5 menit. Sangat cepat menghafal, sangat mengagumkan. Anak saya yang lain menghafal yang sama selama satu bulan.

Saya tidak membandingkannya. “Mengapa kau tak seperti kakakmu?”

Saya tidak lakukan itu. Itu adalah zhulm (ketidakadilan), ‘uluwul (obsesi) dan menciptakan rasa benci pada agama. Karena buku (Al Quran) ini ayah saya lebih menyayangi kakak saya. Ini salah. Hentikan. Jangan terlalu tertekan karena anak-anakmu.

Allah tidak menginginkan anakmu menjadi hafidz, atau alim. Allah ingin anakmu jadi muslim yang baik. Allah ingin anakmu mencintai agamanya. Itu yang Allah inginkan. Jadi, santai saja.

Catatan lainnya, tentang anak-anak. Ada beberapa orang datang pada saya dan berkata, “Anak kami 5 atau 6 tahun. Kami tunjukkan video tentang tanda hari kiamat dan bicarakan Dajjal.”

Kenapa kau lakukan itu? Mengapa Anda bicarakan Dajjal dengan anak Anda? Anak Anda baru berusia 5 tahun. Itu membuat dia trauma. Saya sendiri takut membaca tentang Dajjal. Tak perlu diceritakan pada anak.

Anak-anak berada pada fitrah mereka. Anda tahu apa maksudnya? Saat ini mereka tidak bertanggung jawab atas kesalahan mereka. Mengapa Anda ingin buat mereka takut pada Allah di saat mereka tak perlu takut kepada Allah?
Takut kepada Allah diperlukan bagi mereka yang bertanggung jawab atas amal perbuatan mereka. Ya atau tidak?

Sekarang adalah waktu untuk menunjukkan pada mereka cinta, ampunan, rasa sayang dan karunia dari Allah. Cinta Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Tidak
tentang rasa takut, jahanam, hari kiamat, Dajjal dan perang besar… Tidak. Tunggu dulu. Bukan ini yang dibutuhkan anak-anak. Ini akan ciptakan trauma.

Jangan gambarkan agama mereka dengan mengerikan. Anak-anak akan takut. Jangan beralasan bahwa tak ada yang berkata positif pada mereka. Bukan begitu caranya.
Anda tak bisa tontonkan film horor pada seorang anak, lalu katakan tapi kami tunjukkan boneka beruang setelahnya agar masalah selesai. Anda tak bisa lakukan itu. Sangat merusak anak-anak.

Pada permulaan Anda perlu memelihara fitrah itu. Mereka sudah datang dengan cinta Allah. Itulah yang Allah tanamkan di dalam mereka. Pelihara rasa cinta itu, jangan gantikan dengan rasa takut. Rasa takut akan datang kemudian. Saat mereka semakin dewasa, lalu kita bisa bahas tentang tanggung jawab, akuntabilitas. Lalu kau ajarkan tentang hari kiamat, Dajjal pada usia itu.

Mengajarkan semua itu sebelum waktunya, menghilangkan semuanya. Sama dengan mengajarkan Al Quran dan apa saja yang lainnya. Buatlah semua sesuai dengan umur dan penuh rasa sayang. Pencapaian terbesar pada zaman kita,
Wallahi, mohon dengarkan dengan seksama. Pencapaian terbesar untuk anak di zaman kita, bukan banyaknya yang mereka pelajari. Banyaknya yang mereka pelajari tak berarti.

Maafkan jika terdengar seperti menyerang Anda, tapi semua itu tak berarti. Yang berarti adalah berapa besar mereka mencintai Rabb mereka, berapa besar mereka mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam mereka, seperti apa karakter mereka, sejujur apa mereka, semudah apa bagi mereka untuk mengakui sebuah kesalahan, seterbuka apa komunikasi dengan Anda,

Karakter mereka adalah yang terpenting. Bukan ilmu mereka. Ilmu itu dangkal. Hanya untuk ditunjukkan pada orang lain. Saya tidak mengatakan ilmu tidak penting. Tapi, ilmu selalu yang kedua setelah karakter. Selalu akan jadi yang kedua setelah karakter.

Sekarang saatnya memelihara karakter itu, memelihara kepribadian itu, dengan sedikit ilmu pada perjalanannya. Banyak anak yang menghafal Al Quran pada usia dini tanpa karakter, dan itu bukan salah mereka.

Yang ditekankan pada mereka hanya menghafal Al Qur’an. Anak-anak ini akan berbohong, nakal, mereka menghina teman mereka yang tidak menghafal secepat mereka, semua yang tak harusnya dilakukan muslim mereka lakukan, tapi karena mereka hafal Qur’an jadi kebanggaan masyarakat kita.

Apa yang telah kita lakukan? Kita menekankan apa yang tidak Allah tekankan dan kita mengabaikan yang Allah tekankan. Tapi, kita mengaku bahwa kita menjalani deen (agama) kita. Kita harus menyeimbangkan kembali. Ilmu memiliki tempat, karakter juga memiliki tempat. Keduanya harus seimbang. Harus diseimbangkan.

Semoga Allah Azza wa Jalla berikan kita kedewasaan dan rasa untuk besarkan anak kita dengan pemahaman agama yang benar, pendekatan pada deen yang seimbang, penuh kasih sayang, sehingga mereka tidak berbelok dan menemukan yang dicintai selain Islam. Mereka tahu banyak tentang Islam, tapi cinta mereka untuk yang lain.

Advertisement

Ajarkan Agama dengan Rileks

Adriano Rusfi

Miris rasanya menyaksikan anak-anak para aktivis yang tak menunjukkan komitmen yang kuat terhadap agamanya.Merokok, pacaran, pamer aurat, menggunakan narkoba,
homoseks, hamil di luar nikah, gangster, bahkan atheis, bukan lagi barang langka. Benar-benar tersentak ketika membayangkan siapa orangtua mereka dengan segala kiprahnya dalam dakwah.

Apakah orangtua mereka lalai mendidik mereka dengan agama ? Sama sekali tidak !!! Mereka bukan saja sangat serius mendidik anak-anak mereka dengan Al-Islam, bahkan ketat dan keras. Beberapa diantara anak-anak mereka malah telah masuk pesantren sejak usia sangat dini, berjilbab tak lama setelah lahir sebagai perempuan, masuk Islamic Fullday School, hafal Juz ‘Amma sebelum 7 tahun, hafal Hadits Arba’in Annawawiyyah ketika masih TK, dan segudang “prestasi edukatif” lainnya.

Pergaulan anak-anak mereka sangat terjaga. Untuk itu mereka sengaja bikin komunitas sendiri, tinggal di kompleks perumahan yang sama dan sekolah di sekolah yang sama. Seorang anak berusia 3 tahun pernah dicubit bibirnya hingga berdarah oleh ibunya karena dari bibirnya keluar kata “Pacaran”. Tayangan-tayangan televisi di rumah mereka juga sangat terkontrol, begitu pula dengan bahan bacaan. Bahkan, ada yang mengharamkan televisi sama sekali.

Lalu, apa yang salah ?

Pertama, syari’ah dipandang sebagai sesuatu yang “given” dalam rumah tangga mereka. Karena telah dianggap terberi dan menjadi keseharian, maka tak perlu lagi ada penjelasan : apa, kenapa, bagaimana ? Anak diminta berjilbab tanpa ada penjelasan “kenapa ?”. Begitu pula tentang tauhid, akhlaq dan sebagainya. Akhirnya terbentuklah anak-anak yang bagaikan sebuah rumah yang indah namun pondasinya rapuh. KELIHATANNYA TELAH ISLAMI, PADAHAL HANYA TRADISI. Lalu, suatu saat mereka akan mencari momen yang tepat untuk MEMBERONTAK

Kedua, mimpi yang terlalu tinggi. Mereka memimpikan anak-anak yang tumbuh seperti para shahabat, atau shalafush-shalih, atau sekurang-kurangnya seperti Hasan AlBanna dan Syyid Quthb. Mereka bukan saja bermimpi menghasilkan anak-anak “beyond generation”, bahkan “above generation”. Lalu setelah itu para orang tua menjadi stres sendiri dengan mimpi yang dibuat, panik melihat kesenjangan antara “das sein” dengan “das sollen”. Mulailah anak diasingkan, kalau perlu disterilisasi melalui pendidikan antah-berantah. Apakah lahir anak shaleh ? Ternyata tidak. Yang terbentuk adalah GENERASI STERIL NAMUN TAK IMUN TERHADAP GODAAN DUNIA. Anak-anak itu bahkan tak diijinkan untuk menjalani COBAAN KEIMANAN.

Ketiga, Tadribusy-Syar’ie (pelatihan syari’ah) yang terlalu cepat. Allah dan RasulNya selalu benar, bahwa pelatihan syari’ah itu baru dimulai saat anak berusia 7 tahun. Dalam hal ini tak berlaku anggapan “lebih cepat lebih baik”. Tiba-tiba saja, atas nama agama, para orangtua telah merampas hak-hak anak yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka berjilbab sangat dini, belajar shalat sangat dini, menghafal hadits sangat dini. Padahal, Abdullah Nasih ‘Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Awlad telah menegaskan bahwa itu semua selayaknya dimulai pada usia 7 tahun. Akhirnya anak telah dirampas kebebasannya secara dini. Mereka bukan saja telah di-tadrib oleh orang tuanya, bahkan telah di-taklif jauh sebelum aqil-baligh. Pada saatnya kelak MEREKAPUN AKAN MENINGGALKAN SYARI’AH SEDINI MUNGKIN. Andai anak-anak itu kelak di Yaumil Mahsyar mengadu kepada Allah tentang HAK-HAK YANG DIRAMPAS ORANGTUANYA, bagaimana kita akan menjawabnya ?

Keempat, rumah tak lagi menjadi surga (baitii jannatii) bagi anak. Terlalu banyak aturan, terlalu banyak larangan, terlalu banyak kekangan. Ini bukan model rumah surgawi, tapi neraka. Akhirnya, anak tak berkesempatan menyalurkan naluri-naluri instingtifnya di rumah. Mereka tak punya ruang untuk meluapkan dan mengeluarkan “kejahiliyyahannya” di balik dinding rumah. Sebaliknya, di rumah mereka begitu santun, Islami, syar’ie, akhlaqi. Luar biasa. Nah, ketika mereka keluar dari rumah, mereka justru MEMAPAR AURAT DAN MENGUMBAR NAFSU DI LUAR RUMAH. Dunia publik akhirnya menjadi dunia di mana borgol dipatahkan dan
tirani dihancurkan.

Kelima, tidak ramah terhadap fitrah. Para orangtua yang aktivis biasanya sangat pro “ajaran langit” dan kurang peduli terhadap “realitas bumi”. Yang pertama kali terpikir oleh mereka saat akan mendidik anak adalah “Apa maunya Allah”,
bukan “apa maunya fitrah”. Padahal, toh fitrah manusia itu pada dasarnya Islami. Tampaknya, mereka kurang menguasai ayat-ayat insaniyyah (kemanusiaan) yang lebih dahulu turun di Makkah (yaa ayyuhan-naas…), dan lebih fokus kepada ayat ayat imaniyyah (keimanan) yang turun belakangan di Madinah (yaa ayyuhalladziina aamanuu…). Akhirnya, Islam yang sama sekali tak bertentangan dengan kemanusiaan itu, justru dihayati oleh anak sebagai sebuah kontradiksi : ISLAM VS EGO

Akhirnya, justru ketika para aktivis mendidik anaknya dengan ketat dan keras, yang lahir adalah anak-anak yang memberontak terhadap agamanya sendiri. Sedih membaca “Tagline” seorang anak dari “Syaikhul-Kabiir” di Facebook miliknya : Aku tak percaya pada Tuhan !. Seorang anak dari “assaabiquunal-awwaluun” harus mendapatkan perawatan psikiatrik. Di tempat lain, saya harus mengantarkan putra seorang senior pergerakan ke pondok rehabilitasi narkoba. Sedangkan anak dari seorang ustadzah kaliber nasional hobby betul melakukan bullying dan pemerasan terhadap teman-temannya. Kenapa tidak kita tanamkan Al-Islam ini dengan rileks dan manusiawi, untuk membentuk generasi yang targetnya tidak neko-neko : terbaik untuk zamannya???

(Segala puji bagi Allah yang telah membimbing anak-anakku sehingga seluruhnya menjadi aktivis Islam yang ceria)

Modal Sosial dan Trust Society

Jusman Syafii Djamal
January 15, 2019

Tadi malam saya sengaja ambil kesempatan menonton TV siaran langsung pidato Kandidat Presiden no 2 Prabowo Subianto di TV One. Sebelumnya juga saya menyaksikan pidato Presiden Jokowi sebagai kandidat no 1 di depån alumni ITB, UI, Gama dan Perguruan tinggi lain nya di GBK.

Buat saya kedua penampilan putra terbaik bangsa ini ini bikin kita punya optimisme tentang Indonesia masa depan. Buat intelektual berbasis keahlian sebagai teknolog seperti saya perbedaan style dan model pendekatan dalam menemukan solusi dan Inovasi terobosan amatlah penting muncul. Sebab dunia yang seragam dan monokultur serta regimented tak punya daya adaptasi terhadap perubahan zaman.

Karenanya perbedaan style of leadership dari kedua calon Presiden , sangatlah menyenangkan. Merupakan Rachmat dan Karunia tersendiri. Sebagai Bangsa kita perlu multi ide, banyak gagasan dan rame ing gawe, agar tak mundur dengan Kereta api Ekspress kata Bung Hatta.

Kita perlu membangun sebuah ekosistem dimana Demokrasi Politik berhasil mewujud menjadi pelbagai langkah kebijakan mengedepankan demokrasi Ekonomi untuk kesejahteraan bersama agar Inequality menyempit.

Sebab masalah utama masa depan yang dihadapi semua bangsa di dunia adalah kesenjangan yang melebar. Pertumbuhan ekonomi yang tak diikuti pemerataan. Growth without equity.

Dari penampilan kedua beliau selama ini, kita menyaksikan bahwa masing masing memiliki cara berbeda dalam mengedepankan kata Optimisme. Ada yang menggunakan pesimisme untuk membangkitkan semangat kejuangan sehingga optimisme lahir Ada yang mengatakan dengan tegas :”Jauhkan diri dari fikiran pesimis sebab kita tidak mungkin punah ditelan bumi”.

Meski beranjak dari persfektip berbeda, ke dua calon Presiden memiliki fikiran dan visi yang solid tentang masa depan NKRI. Tak ada keraguan bahwa kedua beliau baik Presiden Jokowi maupun Pak Prabowo sangat mencintai Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dua duanya Tidak menginginkan Indonesia menjadi tenggelam dan punah dalam arus perubahan zaman. Itu catatan saya setelah mencermatinya.

Memang pengalaman hidup yang berbeda serta latar belakang keluarga yang tumbuh dari environtment beraneka ragam telah membuat Style of leadership kedua beliau sangat lain. Model dan perspektif serta sudut pandang nya juga sedikit bervariasi.

Yang satu cenderung lugas dan action oriented tanpa Retorika. Action Oriented Leadership dengan Management by objective style. From Micro to Macro. From Infrastructure to Supra structure Human Resource Development. Sementara Yang satu lainnya mencoba mengembangkan retorika sebagai Solidarity Maker dengan visi yang jelas dan terukur pula.

Yang satu telah memiliki modal kerja lapangan sehingga tingkat keberhasilannya mudah diukur secara transparan dan akuntabel. Yang lain sedang menyusun rencana, Jika saja terpilih maka ini visi misi dan program kerja nya, begitu kuran lebih. Tetapi dua dua nya adalah Putera Terbaik Bangsa, yang lahir dari rahim Indonesia yang kita cintai bersama ini.

Kedua beliau akan melangsungkan debat pertama Kamis 17 Januari, pasti Amat menarik untuk disimak. Menangkap apa yang tersirat dibalik kata dan retorika. Mengukur mana yang feasible dan tepat memimpin Indonesia 2019-2024.

*********

Yang jelas saya kini tidak lagi merasa cemas. Harapan akan Pemilu yang berlangsung aman damai terkendali dan berlangsung jurdil jadi terang benderang. Sebab kedua Calon memiliki komitment yang sama dan sebangun.

Dari penampilan kedua beliau sebagai kandidat Presiden akhir akhir ini, jelas bagi saya ternyata kehidupan Demokrasi Indonesia yang berjalan sejak Reformasi 1998 (maaf tadi tertulis typing error’ 2018, dikoreksi bang Ilham Bintang ) telah melahirkan benih yang subur untuk lahirnya fikiran besar dan menyejukkan tentang masa depan Indonesia.

Apalagi Kita telah meliwati pelbagai krisis politik dan ekonomi paling tidak tahun 1945, 1959,1965,1999. Pelbagai Konflik telah mampu kita atasi. Ada modal sosial yang cukup besar bagi generasi masa kini untuk terus maju dan berjuang menjadikan Indonesia menjadi Bangsa Besar di Dunia.

Dalam banyak catatan saya, sering kali saya tergoda untuk ingin ikut menggunakan istilah bangkit kembali. Akan tetapi fikiran saya selalu bertanya :” emangnya bangsa Indonesia pernah tenggelam ? Emangnya sejak 1945 kita pernah pecah belah seperti Yugoslavia dan Balkan ? Pasti jawabnya tidak. Kita nyaris saja berkali kali dipinggir jurang.

Akan Tetapi kita berhasil lolos dari lubang jarum.

*******

Kita sering Jatuh tersandung batu kerikil perbedaan sudut pandang diantara nya, akan Tetapi kita selalu terus berhasil Bangun Kembali dan menemukan solusi yang indah untuk masa depan yang jauh lebih baik. Turbulensi, gelombang perubahan yang akhirnya dapat kita liwati sebagai suatu Bangsa. Jatuh Bangun Kembali begitu pesan Bung Karno dan Founding Father NKRI.

Mengapa ? Sebab utama nya tidak lain dan tidak bukan adalah kekuatan dan semangat Rakyat Indonesia untuk terus mencintai Indonesia sepenuh jiwa raganya. Kita sebagai Bangsa ternyata sangat memiliki spirit kejuangan dan daya adaptasi serta kelenturan dalam menghadapi semua badai perubahan zaman.

Lentur sepeti pohon bambu yang akar nya kuat dan selalu berdampingan hidup satu rumpun. Bhineka Tunggal Ika. Sebuah Modal Sosial yang amat bernilai tinggi telah tumbuh dalam benih fikiran setiap putera Puteri Indonesia

Spirit kejuangan dan modal sosial yang terbentuk dari pengalaman hidup dan jatuh Bangun sebagai satu Bangsa itu yang menurut hemat saya perlu terus dipupuk untuk menjadi tanaman yang subur.

Buahnya adalah spirit Siliwangi Silih Asih. Silih Asah dan Silih Asuh. Sharing experiences, saling berbagi emphaty dan kerja bersama membangun “Trust Society”.

Insya Allah.
Mohon Maaf jika keliru. Salam

Masyarakat negara sekuler yang maju & negara timur muslim yang masih berkembang

Harry Santosa
December 23, 2018 ·

Masyarakat negara sekuler yang maju, nampaknya sudah taubat dengan materialisme, kini mulai mencari kebahagiaan dengan lebih bermakna atau meaning atau spiritualisme namun sayangnya tanpa Tuhan.

Masyarakat negara timur muslim yang masih berkembang itu, nampaknya baru bangkit dari kesulitan ekonomi, kini sedang asik2nya mengejar kebahagiaan dengan kekuasaan dan materi, namun sayangnya mengatasnamakan Tuhan.

Siapa dari dua tipikal masyarakat di atas yang akan menguasai peradaban masa depan?

#fitrahbasedlife

Unlimited Mobility : Traveler Note

Jusman Syafii Djamal
January 8, 2019

Pagi jam 530 seperti biasa saya terbangun. Rasanya sudah dirumah sendiri. Ternyata masih di sebuah hotel bintang tiga kota Strasbourg. Kebetulan kamarnya lumayan bikin rasa nyaman. Sebab disebelah tempat tidur ada meja kecil tempat menulis sambil menyeruput kopi panas. Di balik lemari tersembunyi kitchen set. Jadi bisa menggoreng telur mata sapi. Sebuah interior design yg menarik. Simple tapi functional.

Iwan Simatupang dulu pernah menulis novel judulnya Hotel. Berkisah tentang kehidupan pemuda bohemian yg punya kebiasaan jadi avonturir tanpa kerja dan rumah permanen.. Pengembara yg selalu gelisah dan penuh rasa ingin tau tentang hebatnya dunia. Yg tak mau manja dengan fikiran sempit dunia sebesar batok kelapa.

Novel Hotel ini pernah saya baca berulang kali. Novel yg sy senangi tahun 83 hingga 87 ketika saya sering pindah tempat kerja tiap enam bulan. Pindah pabrik dan kantor. Dari satu negara ke negara lain. Untuk mengakumulasi jam terbang dalam rancang bangun pesawat terbang dan model simulasi computational aerodynamics.

Ketika itu saya sering dapat tugas untuk Ganti ganti Mentor. Tupoksi saya ketika itu mendalami dan menggali pelbagai ” school of thought. Pelbagai persfektip dan Metode pengembangan produk baru pesawat terbang dan produk teknologi tinggi saya pelajari. Entah itu Pesawat, Sistim Senjata ataupun Sistem Antariksa. Diantaranya school of thought dan cara kerja di Boeing Airbus dan Fokker.Saya ditraining untuk Belajar dari sumber nya. Learning by doing.

Mobilitas jadi kata kunci. A mobile professional mirip seperti kerja jurnalisme. Modalnya 5 W. What., Where, When, Who and Why. Apa dimana bilamana siapa dan mengapa. Runtutan algoritma yang bikin sebuah journey jadi menarik.

Iwan Simatupang bilang bagi seorang professional bohemian my home is where i sleep. Dimana saya tidur itulah rumah ku. Karenanya ia memberi judul novel nya Hotel. Sebab tempat menginapnya ia jadikan SoHo small office and home office. Kini generasi millineal seperti generasi anak anak saya punya kecenderungan seperti itu. Urban lifestyle. Dengan mobilitas sebagai key driver nya.

Generasi millineal adalah mereka yg lahir tahun 1989 hingga 2019. Mengapa tahun 89 jadi rujukan ? Salah satu sebabnya saya temui ketika saya mampir di Berlin dalam perjalanan awal musim dingin bulan Januari ini.

Saya pernah mampir di Berlin tahun 84 ketika tembok Berlin masih berdiri tegak. Ketika regime negara komunis masih membelah Eropa jadi dua. Eropa Barat dan.Timur. Cold War.

Kini ketika saya mampir lagi 34 tahun kemudian. Semua berubah drastis. Tak saya temui suasana muram lagi. Semua terang benderang. Berlin jadi satu. Tak ada Barat dan Timur. Tembok pembatas itu. Runtuh berkeping.

Kini tembok itu jadi objek turisme. Dan tidak ada satu penduduk Berlin pun yang mengatakan enak zaman ku Yo dengan menenteng foto Honecker presiden masa lalu. Zaman berubah.

Ketika duduk di Brandenburg Gate sambil selfie kanan kiri saya sempat membaca histori pintu gerbang ini. Disini ada patung Prajurit Russia yang gugur ketika merebut kota Berlin bersama Sekutu.

Dari pintu gerbang ini kita bisa punya lesson learned bagaimana Tahun 1948 dunia melihat runtuhnya regime facisme Nazi Hitler Jerman dan Mussolini di Italia.

Perang Dunia kedua Sekutu dan Russia membuat Jepang. Italia dan Jerman tak lagi berdiri di atas fondasi otoritarian militerisme dan fascist yg expansip.

Ideologi fascist lenyap dari khasanah. Otoritarianisme dan kehendak untuk membangun monokultur Arian melalui jalan kekerasan dan militerisme ternyata tak berusia panjang.

Ketika duduk sambil menyeruput kopi di pinggiran potongan tembok.Berlin yang dilukis foto Brezhnev sedang berciuman saya mendapatkan cerita bagaimana tembok itu runtuh tahun 1989. Regime Communism ala Marxisme Stalin dan Leninisme yang menggunakan Sentralisme planning, Etatisme , dan kehidupan politik dan ekonomi yang regimented ternyata hanya bertahan 70 tahun. Sebab di regime seperti itu competitiveness creativity innovation dan entrepreneurship tak punya tempat.

Regimentasi penyeragaman pandangan monokultur jadi lifestyle. Sistem politik ekonomi seperti itu Tak kuat hadapi gempuran akselerasi ekspektasi dan kemajuan teknologi. Yg mengedepankan desentralisasi, otonomi sharing dan kolaborasi.

Di Check Points Charlie kita dapat menyaksikan bagaimana kehendak untuk bergerak bebas menemukan ruang kreativitas dan inovasi tidak dapat dihalangi oleh Tembok dan kawat berduri serta pasukan bersenjata . Unlimited Mobility jadi engine pendorong kemajuan ekonomi.

Begitu kata Fukuyama dalam tulisan nya The End of History and the Last Man. Disini saya jadi takjub dengan Presiden Trump yang terus menerus ingin melindungi pasar domestik nya dengan membangun tembok baja pembatas Mexico dan Amerika Serikat.

Sebab hanya tembok yg membuat orang Mexico dan Amerika Latin tak bisa menembus batas negara seenaknya. Sementara Trump ingin membatasi ruang gerak migrasi tenaga kerja. Kita jauh lebih maju. Bebas Visa semua orang asal punya paspor negara sahabat dianggap turis boleh masuk bebas. Tak peduli turis bokek atau kantong tebal.

Trump tidak mau belajar dari Eropa. Sebab memang sejarah tiap bangsa dan kontinen itu bersifat unik.

Kini kita beruntung hidup di tahun 2018. 30 tahun setelah tembok Berlin rubuh. Dua krisis berhasil kita liwati dengan baik. Krisis ekonomi 1998 dan krisis finansial global 2008.

Kini tiap hari ada tambahan 360000 orang terkoneksi dengan internet secara global . Sharing Economic jadi issue begitu juga ancaman melelehnya es di kutub Utara perubahan iklim dan bencana alam yg tiba tiba menyergap. Ada optimisme tapi ada kabut kecemasan membayang.

Dalam policy making ada kecendrungan ulang tentang membiaknya spirit nasionalisme sempit yg tak percaya pada. Populisme yg diwarnai semangat Nationalism.

Kemana hendak melangkah ? Apakah freedom of movement dan unlimited Mobility yg jadi ciri khas generasi millineal akan terkendala oleh “school of thought masa lalu” ? Is Winter Coming again ?

Apakah trade War akan jadi Cold War 2.0 ?

Wallahualam. Mohon maaf jika keliru sharing traveler note pagi hari ini. Salam

Ciri Orang Besar Memulai

Ustadz Rahmat Abdullah

Pagi yang indah selalu dihadirkan Allah SWT untuk kita yang memiliki keterpautan hati dan bisa merasakan betapa besar Cinta-Nya pada hambanya. Mata yang masih bisa melihat Keindahan itu, udara yang masih bisa kita hirup, aliran darah dan denyut nadi yang masih bisa kita rasakan, menunjukkan jika kita masih diberi eksistensi oleh-Nya. Rasulullah SAW yang melihat umatnya dari syurga Firdaus-Nya, mendoakan kita yang tak kenal letih memperjuangkan risalah dakwah untuk kejayaan Islam di Bumi Allah ini. Semoga kelak kita semua dikumpulkan bersama Baginda Rasul dan para keluarga serta sahabat.

Terkadang kita ini terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri kita. Juga terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan selain diri kita, baik itu merupakan kesalahan, keburukan, maupun kelalaian. Namun ternyata sikap kita yang kita anggap kebaikan itu tidak efektif untuk memperbaiki yang kita anggap salah. Banyak orang yang menginginkan orang lain berubah, tapi ternyata yang diinginkannya itu tak kunjung terwujud. Kita sering melihat orang yang menginginkan Indonesia berubah. Tapi, pada saat yang sama, ternyata keluarganya “babak belur”, di kampus tak disukai, di lingkungan masyarakat tak bermanfaat. Itu namanya terlampau muluk.

Jangankan mengubah Indonesia, mengubah keluarga sendiri saja tidak mampu. Banyak yang menginginkan situasi negara berubah, tapi kenapa merubah sikap adik saja tidak sanggup. Jawabnya adalah: kita tidak pernah punya waktu yang memadai untuk bersungguh-sungguh mengubah diri sendiri. Tentu saja, jawaban ini tidak mutlak benar. Tapi jawaban ini perlu diingat baik-baik. Siapa pun yang bercita-cita besar, rahasianya adalah perubahan diri sendiri. Ingin mengubah Indonesia, caranya adalah ubah saja diri sendiri. Betapapun kuatnya keinginan kita untuk mengubah orang lain, tapi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, semua itu menjadi hampa. Setiap keinginan mengubah hanya akan menjadi bahan tertawaan kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Orang di sekitar kita akan menyaksikan kesesuaian ucapan dengan tindakan kita.

Boleh jadi orang yang banyak memikirkan diri sendiri itu dinilai egois. Pandangan itu ada benarnya jika kita memikirkan diri sendiri lalu hasilnya juga hanya untuk diri sendiri. Tapi yang dimaksud di sini adalah memikirkan diri sendiri, justru sebagai upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki yang lebih luas. Perumpamaan yang lebih jelas untuk pandangan ini adalah seperti kita membangun pondasi untuk membuat rumah. Apalah artinya kita memikirkan dinding, memikirkan genteng, memikirkan tiang yang kokoh, akan tetapi pondasinya tidak pernah kita bangun. Jadi yang merupakan titik kelemahan manusia adalah lemahnya kesungguhan untuk mengubah dirinya, yang diawali dengan keberanian melihat kekurangan diri.

Pemimpin mana pun bakal jatuh terhina manakala tidak punya keberanian mengubah dirinya. Orang sukses mana pun bakal rubuh kalau dia tidak punya keberanian untuk mengubah dirinya. Kata kuncinya adalah keberanian. Berani mengejek itu gampang, berani menghujat itu mudah, tapi, tidak sembarang orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri. Ini hanya milik orang-orang yang sukses sejati. Orang yang berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain, itu tidak istimewa. Sebab itu bisa dilakukan oleh orang yang tidak punya apa-apa sekali pun. Tapi, kalau ada orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang kekurangan itu secara sistematis, lalu dia buat sistem untuk melihat kekurangan dirinya, inilah calon orang besar.

Mengubah diri dengan sadar, itu juga mengubah orang lain. Walaupun dia tidak berucap sepatah kata pun untuk perubahan itu, perbuatannya sudah menjadi ucapan yang sangat berarti bagi orang lain. Percayalah, kegigihan kita memperbaiki diri, akan membuat orang lain melihat dan merasakannya. Memang pengaruh dari kegigihan mengubah diri sendiri tidak akan spontan dirasakan. Tapi percayalah, itu akan membekas dalam benak orang. Makin lama, bekas itu akan membuat orang simpati dan terdorong untuk juga melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini akan terus berimbas, dan akhirnya semakin besar seperti bola salju. Perubahan bergulir semakin besar.

Jadi kalau ada orang yang bertanya tentang sulitnya mengubah keluarga, sulitnya mengubah anak, jawabannya dalam diri orang itu sendiri. Jangan dulu menyalahkan orang lain, ketika mereka tidak mau berubah. Kalau kita sebagai ustadz, atau kyai, jangan banyak menyalahkan santrinya. Tanya dulu diri sendiri. Kalau kita sebagai pemimpin, jangan banyak menyalahkan bawahannya, lihat dulu diri sendiri seperti apa. Kalau kita sebagai pemimpin negara, jangan banyak menyalahkan rakyatnya. Lebih baik para penyelenggara negara gigih memperbaiki diri sehingga bisa menjadi teladan. Insya Allah, walaupun tanpa banyak berkata, dia akan membuat perubahan cepat terasa, jika berani memperbaiki diri. Itu lebih baik dibanding banyak berkata, tapi tanpa keberanian menjadi suri teladan. Jangan terlalu banyak bicara. Lebih baik bersungguh-sungguh memperbaiki diri sendiri. Jadikan perkataan makin halus, sikap makin mulia, etos kerja makin sungguh-sungguh, ibadah kian tangguh. Ini akan disaksikan orang.

Membicarakan dalil itu suatu kebaikan. Tapi pembicaraan itu akan menjadi bumerang ketika perilaku kita tidak sesuai dengan dalil yang dibicarakan. Jauh lebih utama orang yang tidak berbicara dalil, tapi berbuat sesuai dalil. Walaupun tidak dikatakan, dirinya sudah menjadi bukti dalil tersebut. Mudah-mudahan, kita bisa menjadi orang yang sadar bahwa kesuksesan diawali dari keberanian melihat kekurangan diri sendiri. Jadi teringat kutipan kata bijak dari sebuah buku seperti ini:

– Jadilah kau sedemikian kuat sehingga tidak ada yang dapat mengganggu kedamaian pikiranmu
– Lihatlah sisi yang menyenangkan dari setiap hal
– Senyumlah pada setiap orang
– Gunakanlah waktumu sebanyak mungkin untuk meningkatkan kemampuanmu sehingga kau tak punya waktu lagi untuk mengkritik orang lain
– Jadilah kau terlalu besar untuk khawatir dan terlalu mulia untuk meluapkan kemarahan
– Satu-satunya tempat dimana kita dapat memperoleh keberhasilan tanpa kerja keras adalah hanya dalam kamus.

Di awal tahun, awal bulan dan awal minggu (Jum’at adalah awal minggu bagi umat Islam), ayo kita semua mulai memperbaiki diri. Suatu karya besar selalu diciptakan oleh orang-orang yang berfikir besar. Namun perubahan besar pasti dimulai dari satu langkah kecil, dan itu dimulai dari diri kita masing-masing.

Wallahualam bishowab

Sekolah Alam yang Mendidik Hati

Wicak Amadeo

Nun di sebuah gedung megah berpintu rapat, sekumpulan anak berusia 5 – 7 tahun dikumpulkan. Mereka adalah murid-murid SD Anu, buah dari seleksi inteligensi yang teramat ketat. Wajar, karena di sekolah tersebut ada begitu banyak pelajaran yang hanya bisa dicerna oleh intelektualitas kelas tinggi. Dibutuhkan logika yang tajam dan penalaran kelas master untuk dapat mencerna paparan dan argumentasi atas tiap hal yang diajarkan.

Ya karena SD itu terlanjur yakin bahwa pendidikan itu adalah upaya membangun otak yang sehat, karena otaklah yang mengendalikan perilaku. Mereka yakin, bersama otak yang cerdas akan mudah mendidik keyakinan dan kebiasaan baik, seperti shalat, puasa, membaca AlQur’an, menutup aurat, berakhlaq mulia dan sebagainya.

Tapi segalanya belakangan berubah menjadi tangis, karena ternyata otak, pikiran dan penalaran tak mengenal kata kebaikan dan kebenaran. Ternyata otak hanya mengenal pengalaman dan data… Pikiran hanya mengenal argumentasi…. Sedangkan penalaran hanya mengenal kata logis. Kini anak-anak cerdas itu telah mampu melawan otak dengan otak, argumentasi dibalas dengan kontra-argumen, sedangkan tesis dihadapi dengan anti-tesis. Apa-apa yang telah tertanam dalam, ternyata tak tumbuh. Sedangkan kebiasaan baik hilang dengan sekejap, seakan usaha penuh disiplin dalam waktu lama, kini hilang tanpa bekas.

Dan tak jauh dari sana, ada sebuah sekolah alam. Di sana hadir berkumpul siapapun yang punya hati. Murid-muridnya tak pernah diseleksi, karena yang diseleksi adalah para ayahbunda mereka : ayahbunda yang punya peduli. Mereka “hanya” punya alam, dan itulah sebabnya kenapa yang dibutuhkan adalah hati. Karena alam hanya bisa dinikmati dengan hati, dan alam berdialog kepada hati.

Ya, alam itu feminin. Ia berbicara setiap hari pada manusia dalam bahasa hati, karena hanya bahasa itulah yang telah Allah ajarkan kepada alam untuk berbicara pada manusia (QS Al-Zalzalah : 4-5). Kalaulah kita tak kunjung mengerti cerita alam, itu karena kita telah terlalu lama berlogika.

Lalu kenapa harus hati ? Tentu, karena kesadaran itu bermula dari hati. Sedangkan niat itu adalah produk dari hati, lalu ia perintahkan otak untuk menggerakkan tubuh. Mungkin kita telah lama lupa, bahwa kesadaran bukan lahir dari pikiran dan niat tidak lahir dari otak. Otak hanya melahirkan ide, bukan gairah. Pikiran hanya melahirkan konsep, bukan niat. Sedangkan logika hanya melahirkan metode, bukan kesadaran. Nah, amal adalah buah dari gairah, kesadaran dan niat. Sementara ide, konsep dan metode hanyalah perangkat-perangkat untuk beramal. Dan sekolah alam sepenuhnya menyadari bahwa keshalehan lahir dari hati yang membuahkan gairah, niat dan kesadaran, sedangkan otak, logika dan argumentasi hanyalah instrumen keshalehan.

Maka para guru sekolah alam pun mungkin bukan orang-orang sangat cerdas, tapi kumpulan orang-orang yang punya hati, cinta, ketulusan dan keikhlasan. Mereka sadar, intelektualitas bisa dibentuk dengan ilmu, profesionalitas bisa dibentuk dengan kompetensi, namun spiritualitas hanya bisa ditularkan oleh cinta dan ketulusan. Jadi, di sekolah alam tak akan banyak kita saksikan debat argumentatif, tapi kaya dengan kisah-kisah menyentuh. Di sekolah alam tak akan banyak kita dengarkan alasan-alasan “kenapa begini dan begitu ?”, tapi yang ada adalah peran-peran yang dimainkan dan dihayati. Di sekolah alam senyum dan airmata lebih banyak berbicara daripada logika dan kata-kata, karena senyum dan airmata mampu melembutkan jiwa.

Saatnya anak-anak kita hidup di sekolah alam, jika yang kita inginkan adalah pembentukan generasi bertaqwa. Karena taqwa itu ada di dalam dada (AlHadits)

Adriano Rusfi
Konsultan Senior, Psikolog, Pelaku Pendidikan
Dewan Pakar Masjid Salman ITB

Apakah Anda adalah AyahBunda yang

1. Selalu mempertanyakan status “legal” dan “tidak legal” dari sekolah alam?
2. Selalu mempertanyakan apakah siswa sekolah alam bisa achieve “nilai akademis”?
3. Selalu mempertanyakan fasilitas dan hal-hal non teknis lain seperti jalan masuk, bangunan, dan sebagainya?
4. Selalu mempertanyakan “kurikulum diknas”?
5. Selalu berniat melanjutkan sekolah anaknya ke sekolah negeri selepas jenjang sekolah dasar?
6. Selalu beranggapan bahwa sekolah alam semacam penitipan anak-anak “liar” atau anak-anak “bermasalah” yang dikeluarkan dari sekolah lain?
7. Selalu menganggap sekolah alam adalah sekolah unggul?

Jika AyahBunda adalah yang demikian, maka jangan teruskan membaca tulisan ini karena akan mengganggu “kebahagiaan” anak-anaknya kelak dan segera lupakan sekolah alam. Bisa jadi, Anda memang salah pilih sekolah.

Tetapi, jika Anda adalah AyahBunda yang

1. Merindukan “sekolah impian” dengan segala eksperimen dan inovasi tentang implementasi sekolah yang membebaskan dan membahagiakan,

2. Selalu curious atau ingin tahu dengan perkembangan potensi bakat anak serta akhlak atau karakter dibanding capaian nilai akademis,

3. Selalu berpikir “lebih baik mencoba sesuatu yang belum tentu gagal, daripada melanjutkan sesuatu yang sudah pasti gagal”,

maka sekolah alam atau sekolah berbasis potensi dan akhlak bersama komunitas bisa menjadi pilihan yang tiada lagi pilihan lain.

Anak-anak di sekolah alam memang sering kalah dalam lomba cepat tepat, sering kalah dalam olimpiade sains, sering kalah dalam berbagai macam kompetisi.

Tetapi, anak-anak sekolah alam sangat hebat dalam lomba merancang dan mendesign serta mengimplementasikan proyek bersama. Lihatlah bagaimana mereka menyiapkan Sale Day, Market Day dan Bazaar di sekolah. Lihatlah bagaimana mereka menyiapkan penelitian untuk Science Fair di sekolah. Lihatlah bagaimana mereka berkolaborasi dengan teman-teman dan fasilitator menyiapkan karya pustaka bersama untuk Pekan Literasi. Mereka hebat dalam karya, bukan sekadar nilai angka dalam raport semata.

Anak-anak sekolah alam tidak perlu belajar serius hanya untuk mengejar nilai akademik. Yang dibutuhkan dan diajarkan di sekolah alam adalah tentang curiosity atau rasa ingin tahu, tentang tradisi belajar dengan logika berpikir ilmiah sehingga tanpa sadar membawanya pada fast learning dan high order of thinking.

Sebelum belajar, mereka berdoa bersama, melantunkan ayat-ayat suci dari kitab suci, bahkan menunaikan ibadah pagi.

Lalu mereka belajar dan bermain dengan kambing, belajar dan bermain dengan kelinci, belajar dan bermain dengan ayam di kandang, belajar dan bermain dengan ikan di kolam.

Mereka tampak bahagia menyusuri jejak jalanan setapak sambil menghirup udara pagi yang segar serta menikmati indahnya alam serta flora dan fauna ciptaan Sang Maha Pencipta, mencari harta karun barang bekas, memanjat atap sekolah, memancing ikan, mengerjakan tugas di pinggir danau atau di dahan pepohonan, melatih keberanian dan kepercayaan diri dengan meniti two-line bridge atau bamboo bridge bahkan meluncur dengan flying fox.

Mereka belajar tidak dengan buku tulis dan bukan hanya dengan buku cetak. Mereka juga berselancar di internet dan perpustakaan.

Mereka kerap menggunakan kertas setengah pakai dari perpustakaan serta terlibat diskusi yang mengasyikkan.

Mereka tampak bahagia walaupun ada yang menghina kelas mereka sama sederhananya dengan “kandang kambing”. Mereka bisa merasakan langsung hembusan angin dan menyaksikan dahan dan daun pepohonan melambai-lambai tertiup angin.

Tas sekolah mereka besar-besar. Isinya bukan buku, tetapi baju ayah untuk berkebun di Green Lab, jas hujan, baju ganti, termos minuman dan kotak makanan, serta sepatu boots.

Mereka berlibur tidak dengan bis mewah dan menginap di hotel mewah. Mereka berlibur dengan menjelajahi hutan, mengenali tanaman dan tumbuhan yang bisa dimakan, mempraktikkan memasak bersama di hutan dengan bahan-bahan alam yang ada di sekitar hutan (jungle cooking).

Mereka berlibur dengan menyusuri pantai, mendatangi mercu suar, menyelam di sekitar pantai (snorkeling), dan menangkap ikan untuk disantap sebagai ikan bakar. Lihatlah wajah bahagia mereka saat merasakan pengalaman ekspedisi ke kawasan konservasi, mencari jejak badak, biawak, ular, babi hutan dan fauna dilindungi lainnya. Lihatlah mata mereka yang berbinar saat menyusuri sungai dengan berkano diiringi kicauan burung serta suara kodok dan jangkrik serta alunan lagu hutan para satwa. Lihatlah ekspresi wajah mereka saat kaki mereka ditempeli lintah dengan baju basah saat menginap di hutan dan tidur di dalam tenda.

Mereka berlibur dengan mendaki bukit dan gunung, menyusuri jejak para petualang di pegunungan, menikmati udara dan angin di ketinggian pegunungan, menikmati waktu dan merenungi langkah-langkah yang dituju, memercikkan air danau dan mensyukuri kesegarannya anugerah Sang Pencipta.

Mereka berlibur dengan tinggal bersama penduduk di kawasan dengan pesona kesederhanaan dalam kehidupannya. Mereka dengan wajah ceria turun ke sawah, memandikan kambing, memerah sapi, menebarkan pakan ayam dan bebek, meniti jembatan kayu sempit agar lebih dekat dengan ikan saat menebar pakan ikan, menyimpan sepatu dan meniti pematang mengangkut hasil bumi, menikmati hiruk pikuk pasar tradisional sambil membantu menjualkan hasil bumi. Pesona kesederhahaan ini membuat mereka merasakan lebih dekat dengan Sang Sumber Kehidupan Yang Maha Menghidupi. Menguatkan keyakinan bahwa sebagai manusia selalu dicurahi Kasih dan Sayang-Nya tak terhingga.

Wahai AyahBunda,

Anak-anak itu bahagia. Jika AyahBunda justru “miris” dengan segudang pengalaman mereka di sekolah alam, cobalah buka hati dan pikiran lebih lebar, bukan hanya mudah buka dompet untuk mereka. InsyaAllah, dari sekolah alam inilah, akan lahir pemimpin yang tidak elitis, yang sejak kecil terbiasa menghargai alam, menghargai sekolahnya bukan karena kemewahan gedungnya dan bukan karena licinnya seragam, tetapi pesona kebersamaan dan pesona miniatur kehidupannya. Memuliakan teman-teman sesama karena kebaikan akhlaknya bukan karena rankingnya. Mereka terbiasa mencintai sekolahnya, bahkan hingga sampai suatu masa kemudian, bersama teman-temannya, mengenang masa-masa indah di sekolah alam yang membuat mereka merasa “benar-benar diterima” sebagai manusia seutuhnya.

(Harry Santosa – Wicak Amadeo)

Sekolah Alam adalah sebuah konsep pendidikan yang digagas oleh Lendo Novo berdasarkan keprihatinannya akan biaya pendidikan yang semakin tidak terjangkau oleh masyarakat. Ide membangun sekolah alam adalah agar bisa membuat sekolah dengan kualitas sangat tinggi tapi murah. Itu dilakukan karena sebagian besar rakyat Indonesia miskin.

Paradigma umum dalam dunia pendidikan adalah sekolah berkualitas selalu mahal. Yang menjadikan sekolah itu mahal karena infrastrukturnya, seperti bangunannya, kolam renang, lapangan olahraga, dan lain-lain. Sedangkan yang membuat sekolah itu berkualitas bukan infrastruktur. Kontribusi infrastruktur terhadap kualitas pendidikan tidak lebih dari 10%. Sedangkan 90% kontribusi kualitas pendidikan berasal dari kualitas guru, metode belajar yang tepat, dan buku sebagai gerbang ilmu pengetahuan. Ketiga variabel yang menjadi kualitas pendidikan ini sebetulnya sangat murah, asalkan ada guru yang mempunyai idealisme tinggi. Dari situ Lendo mencoba mengembangkan konsep-konsep sekolah alam.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sekolah_Alam

Apakah Sekolahalam itu sekolah untuk anak-anak nakal, yang tak bisa dididik di sekolah lain?

Berbahagialah anak-anak yang dilabeli nakal oleh para guru yang putus harapan akan rahmat Allah. Artinya, semakin banyak Sekolahalam harus segera ditingkatkan kapasitas dan daya tampungnya. Sekolah biasa yang ringan memberi label “anak nakal” yang ditinggalkan anak memang harus dikurangi kapasitasnya, bahkan ditutup jika banyak yang terbukti bahagia di Sekolahalam.

Anak yang dilabeli nakal adalah anak yang potensinya belum terlihat buahnya atau yang jeritan jiwanya sedang mencari jalan keluar terbaiknya. Alangkah berbahagianya apabila orangtua dan orang dewasa, apalagi pendidik, di sekitar kehidupannya dapat bersabar dan telaten sampai terlihat buahnya dan ditemukan jalan terbaiknya.

Anak yang “cerewet” berpotensi menjadi orator atau story teller. Anak yang “keras kepala” berpotensi menjadi pemimpin dan penegak keadilan. Anak yang “cengeng” berpotensi menjadi sastrawan. Anak yang sering “curiga” dan “perhitungan” mungkin calon manajer keuangan atau financial planner. Anak yang “tak bisa duduk tenang” mungkin calon penari dan koreografer, atau olahragawan hebat. Anak yang “suka melamun” mungkin calon dosen dan peneliti. Anak yang suka “mengutak-atik benda dan membongkar-pasang benda hingga berantakan” mungkin calon engineer atau insinyur. Begitu seterusnya.

Apakah di Sekolahalam itu ada belajarnya? Tampaknya, anak-anaknya di Sekolahalam hanya bermain sepanjang hari.

Ruang Belajar siswa sekolah biasa hanya sebatas dinding sekolah dan jam sekolah. Ruang Belajar siswa Sekolahalam luasnya seluas Alam Semesta. Sumber belajarnya tiada habisnya bagaikan mata air yang berlimpah. Fasilitasnya tersedia melimpah di alam dan lingkungan hidup di sekitarnya. Waktunya sepanjang hayat. Gurunya, selain para fasilitator yang baik hati, juga para Mentor Ahli yang ikhlas dan para Maestro yang karya dan akhlaknya diakui masyarakat, serta para Guru Kehidupan yang dapat ditemukan dimana saja sepanjang hayat.

Dalam teori Psikologi Pendidikan anak, khususnya tentang Perkembangan Sosial anak, sesungguhnya usia sebelum 7 tahun (Pra-Sekolah) bukanlah usia sosialisasi, tapi usia INDIVIDUASI. Pada usia inilah anak belajar tentang KONSEP DIRI, MEMBANGUN EGO, Menegakkan HAK-HAK INDIVIDUALITAS, BERANI TAMPIL BEDA dan sebagainya.

Makanya, pada USIA DINI bahkan bermainpun masih bersifat “PARALEL PLAY” : BERMAIN SAMA-SAMA, bukan bermain bersama. Mereka baru mengenal PLAY, bukan game. Itu karena para anak masih berkembang keyakinan Onomatopeia : Alam semesta berputar mengelilingi diriku. Dalam teori perkembangan moral, ini adalah usia pre-moral (Piaget, Kohlberg)

Barulah pada usia 7 tahun (mulai jenjang SD) anak belajar melakukan SOSIALISASI. Di usia ini diperkenalkan Konsep KESAMAAN, KEBERSAMAAN dan KERJASAMA. Anak pada usia ini diharapkan mulai memandang ke luar dirinya, bukan lagi ke dalam. Maka, pada usia ini mulai ditegakkan ATURAN dan DISIPLIN SOSIAL. Anakpun telah mengenal GAME dengan segala RULE of the GAME-nya

Mempercepat sosialisasi terhadap anak usia dini akan memberikan sejumlah dampak negatif : LEMAHNYA EGO, TAK MENGENAL DIRI, KURANG MANDIRI, TAK BERANI TAMPIL BEDA, KURANG MENGENAL HAK-HAK INDIVIDUAL, Mudah Terbawa ARUS LINGKUNGAN, Kurang Memiliki KEUNIKAN dan sebagainya. Biasanya, gejala ini mulai tampak saat anak memasuki usia remaja (pra-aqil).

Apakah siswa di Sekolahalam dapat melanjutkan ke sekolah lain ke jenjang yang lebih tinggi?

Siswa Sekolah Alam tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi hingga perguruan tinggi, jika hanya bermodal sandal gunung.

Siswa Sekolahalam yang memiliki NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) dapat melanjutkan ke sekolah manapun, diterima di perguruan tinggi di manca negara, bahkan tanpa ijazah SMA. Contohnya banyak sekali. Mereka belajar hingga ke manca negara dan berkiprah dalam skala global.

Bagaimana dengan biaya pendidikan di Sekolahalam?

Biaya sekolah yang disediakan negara terbatas. Tidak ada Pendidikan yang Gratis. Anggaran Pendidikan Putra Putri AyahBunda adalah Cerminan Besar Kecilnya Kasih Sayang pada mereka dan keyakinan akan Ke-Maha-Kuasa-an Allah.

Di Sekolahalam, ada kegiatan Market Day, Sale Day, Bazar, atau apapun namanya. Inti kegiatan ini adalah mengasah kemandirian dengan belajar mendapatkan uang secara halal melalui kegiatan berniaga. Anak-anak banyak yang bersemangat mengikuti kegiatan ini sejak usia 7 tahun di jenjang Sekolah Dasar.

Untuk urusan berniaga ini, anak-anak terbukti terlatih untuk disiplin dan teliti saat berurusan dengan uang dan barang niaganya.

Bertahun-tahun mereka berlatih “mendapatkan uang dengan cara halal”. Bahkan, dengan kegiatan-kegiatan seperti itu, mereka dapat berkali-kali “mendapatkan uang dengan cara halal” sebagai bentuk apresiasi atas karya dan kreativitas mereka. Sebagian uang dapat dinikmati, sebagian lagi dapat disimpan dalam tabungannya di bank, sebagian yang lain dapat dikumpulkan untuk membantu sesama warga yang sedang kurang beruntung.

Dalam level belajar selanjutnya, di jenjang Sekolah Menengah, mereka dapat melakukannya secara lebih terstruktur. Mereka terlebih dahulu merancang produknya, memaparkan rencananya, membuat contoh produknya, memproduksinya dalam jumlah tertentu, menentukan metode dan lokasi berniaga, mengajukan permohonan izin kepada pengelola lokasi jika diperlukan, menjalankan kegiatan berniaga, serta mengevaluasi kegiatan berniaganya.

Bahkan, mereka dapat melanjutkan ke tahap inisiasi untuk mengembangkan platform berniaga berbasis teknologi informasi, yang kini menjadi tren sesuai perkembangan zaman.

Pertanyaannya, mengapa anak-anak tak boleh belajar mencari nafkah?

Mungkin banyak yang beralasan :

“Agar anak-anak kita cukup waktu untuk belajar dan bersekolah !!!”

Pertanyaan selanjutnya : Apakah berlatih mencari nafkah bukan merupakan bagian dari pembelajaran? Bukankah dengan berlatih mencari nafkah sejak kecil, anak-anak akan belajar tentang kehidupan, perjuangan, entrepreneurship, menghargai jerih payah dan sebagainya?

Memang banyak masyarakat yang tak paham bahwa berlatih mencari nafkah adalah cara paling efektif untuk membangun generasi yang aqil – dewasa mental. Dengan mencari nafkah, anak terlatih untuk membangun mentalitas yang tangguh. Mereka belajar untuk mempengaruhi orang lain, bukan memaksakan kehendak. Seorang anak yang sadar bahwa mencari nafkah bukanlah hal yang mudah, akan bersyukur terhadap uang yang diberikan orangtuanya.

Dengan Kurikulum Bisnis yang diterapkan sejak jenjang SD, terbukti siswa Sekolahalam terbangun kemandiriannya melalui kegiatan berniaga. Untuk kegiatan Student Scout di Sekolahalam, terbuka bagi siswa untuk memberikan kontribusi biaya dari hasil berniaga sejak jenjang SD, dengan porsi yang makin besar di jenjang Sekolah Menengah. Biaya Ekspedisi ke Taman Nasional yang mencapai Rp 5 juta dapat dipenuhi tanpa mengeluarkan dana tambahan dengan manajemen gotong royong dalam berniaga selama jangka waktu tertentu.

Indonesia hari ini adalah negara karyawan karena perolehan pajak penghasilan lebih ditopang oleh pajak karyawan-pekerja ketimbang pajak para pemilik perusahaan dan manajer perusahaan. Ini merupakan keanehan yang tidak baik (outliers). Profil pajak negara-negara menengah dan negara maju menunjukkan bahwa komposisi pajak terbesar adalah Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi termasuk pemilik perusahaan dan manajer perusahaan disusul pajak perusahaan (pajak badan), dan selanjutnya pajak pembelian barang (PPn).

Bagaimana dengan anggapan bahwa siswa Sekolahalam itu liar dan kotor?

Perguruan Taman Siswa yang didirikan Ki Hajar Dewantara itu dicap sebagai Sekolah Liar oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Artinya, siswa Perguruan Taman Siswa juga dianggap Siswa Liar. Lalu apa bedanya Bapak Ibu dengan Pemerintah Kolonial jika menganggap siswa Sekolahalam sebagai Siswa Liar? Mereka terdaftar dengan NISN dan tercatat di Badan Pusat Statistik diantara lebih dari 45,2 juta siswa di Indonesia dari jenjang SD, SMP, SMA/SMK.

The promise is the school will set them free. The reality is the school prepares them for nothing but being in poverty. Where does the laughter go?

Katanya sekolah akan membebaskan mereka dari keterbelakangan. Tetapi sekolah telah mengubah anak-anak merdeka yang bahagia hidupnya menjadi masyarakat yang tergerus dalam kemiskinan.

Pendidikan yang dibutuhkan bangsa ini adalah pendidikan untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan yang selaras dengan kehidupan dan keadaban, serta agar tetap dapat menjalankan peran kontributif bagi semesta. Sekolah yang hanya menjejalkan pengetahuan yang tak relevan dengan kehidupan dan keadaban tentu saja hanya akan menjadi racun bagi kelangsungan peradaban yang selaras dan lestari bersama alam.

Pahlawan itu Manusia yang Berani Ambil Resiko. Salah satu Resiko siswa di Sekolahalam adalah bajunya kotor. Artinya, mereka memupuk semangat seperti Pahlawan. Apakah AyahBunda tak bahagia jika putra putrinya bermental Pahlawan, yang semangatnya diperingati setiap 10 November, bahkan di banyak peristiwa heroik lainnya?

(Wicak Amadeo)

.

Gaya Doktriner dan Gagalnya Pendidikan Agama Kita

Ahmad Rizali
Pengamat pendidikan dan Pendiri The Centre for Betterment of Education (CBE).
Kompas, 2 Januari 2019

Sudah puluhan tahun, begitu banyak bencana menimpa negeri ini, mulai tsunami sampai tanah longsor, dari terjatuhnya pesawat terbang hingga bis tergelincir masuk ke dalam jurang.

Semuanya memicu terjadinya seremoni pertobatan dan mengingat Tuhan secara massal dan marak. Bahkan, untuk menyumpal banjir lumpur sedahsyat itu, masyarakat secara ramai-ramai meminta Tuhan melakukannya.

Salahkah sikap seperti itu?

Tidak! Tetapi miris, karena semakin sering pengingatan dan pertobatan masal itu dilakukan dengan gegap gempita, nasib rakyat bukannya semakin baik, dan bencana tetap antre untuk turun menghantam.

Lalu, kita pun kembali ingat, bahwa kita tak siap menghadapi hantaman itu. Lantas kita kembali lupa ketika bencana usai. Otak yang dianugerahi Tuhan hanya sesekali dipakai untuk menganalisa ketika bencana sudah terjadi.

Seorang ibu, lantaran mendengar cerita temannya, begitu gandrung dengan pelatihan peningkatkan kecerdasan spiritual dan emosi, tetapi ketika membaca buku yang mampu terjual begitu banyak dan ditanya suami apa isinya, dia tersipu malu. Ternyata, isi buku tidak seperti yang dia harapkan.

Ya, jargon pelatihan kecerdasan spiritual dan emosi adalah sebuah kemasan baru cara mengajak pendosa kembali ke jalan kebenaran, semacam cara berkhutbah yang dahulu gratis, namun dengan cara ini, harus membayar.

Untuk kembali ke jalan yang benar, manusia harus mengeluarkan uang, karena jalan kebenaran ternyata laku dijual. Maka, sekali lagi, rakyat kecil akhirnya tertinggal, tak mampu membeli jalan ke surga. Sebuah harapan terakhir untuk hidup mulia yang sia sia, sementara hidup di dunia sudah bak neraka.

Zikir dan pertobatan masal serta pelatihan sejenis penguatan emosi dan spiritual itulah yang membuat manusia berduit merasa bersih dari dosa. Dengan uangnya, mereka bisa membayar penyelenggara pelatihan, maka mereka bebas menangis tersedu-sedu sepuasnya.

Pada akhirnya, kelompok manusia seperti itu ikut mendorong kebenaran tesis Marx, bahwa “Agama adalah candu yang membuat manusia lupa esensinya sebagai manusia.”

“Kita tidak berbuat apa apa untuk meniadakan suasana yang melahirkan orang orang seperti itu, malahan kita mendorong tumbuhnya lembaga lembaga yang menumbuhkan mereka, juga menganggapnya perlu, mendorongnya dan mengaturnya….”

Leo Tolstoy mengatakan hal itu dan menyindir masyarakat Rusia pada akhir abad ke-19, dan berakhir dengan pengucilan dirinya oleh para pemuka agamanya.

Zikir dan pertobatan masal serta pelatihan penguatan spiritual dan emosional tersebut jika menjadi tren dan arus besar, bisa jadi, hanya akan membelah kepribadian manusia.

Semestinya, sebagai manusia merdeka yang sudah terdidik dengan sangat baik, mereka akan mengutamakan esensi ruhani yang sesungguhnya, tanpa kehilangan rasionalitas. Semestinya tak perlu!

Akan tetapi, dengan candu ini, mereka hanya akan lebih mengutamakan simbol kesalehan kasat mata, meskipun tidak salah, seperti seragam, tempat ibadah mewah, tur spiritual berulang kali, dan pelan tapi pasti, meninggalkan kesalehan hakiki, seperti integritas, keberanian, kemerdekaan dan kemandirian bersikap dan berfikir rasional, kerja keras dan bersahaja dalam menjalani hidup.

Pendidikan yang doktriner?

Pendidikan umum dan pendidikan agama kita yang semakin hedonis dan mengekor pertumbuhan ekonomi tampaknya telah gagal, karena secara sistemik telah membuat semua anak bangsa hanya ingin menjadi kaisar kaya raya.

Mereka ingin menjadi sangat berkuasa seperti halnya Zulkarnaen Agung, tapi melupakan kemuliaan AlMasih As dan Muhammad SAW, yang berdiri sampai mati di sisi kaum tak berpunya.

Suatu saat, seorang teman bertanya kepada saya tentang hasil temuan sebuah studi dari UIN Jakarta pada 2008 yang mengatakan bahwa “Pendidikan Agama (Islam) di Indonesia, khususnya di Jawa, tidak mendorong perilaku kebinekaan.”

Jawaban pertama saya adalah “Tidak mengejutkan, dan bahkan memperkuat hipotesis saya menjadi sebuah tesis”.

Saya lalu menambahkan, “Materi dan cara guru agama di sekolah dalam mendidik masih tidak berubah sejak 30 bahkan 50 tahun lalu, yang masih berkutat dan 99 persen fokus pada urusan pribadi. Meskipun agama pada dasarnya adalah sebuah doktrin, namun jika 100 persen materinya disampaikan pula dengan cara yang doktriner, tentulah hasilnya akan hitam-putih, salah-benar, on-off. Mungkinkah kebinekaan akan tumbuh, jikalaupun ada, tentulah hanya kebinekaan pura pura”.

Pembelajaran umum yang pada dasarnya bukan doktrin pun, disampaikan dengan cara yang sama. Guru, bahkan dosen sangat piawai menggunakan cara yang deterministik. Semuanya, ya memang “sudah begitu”, dan kalau tidak begitu ya dianggap “salah”.

Pembelajaran tersebut dimulai dengan mencetak pemikiran kaum balita di PAUD dengan cara berpikir gurunya. Jika memberi warna badan gajah tidak abu-abu atau kecoak tidak dengan hitam, pastilah dikasih nilai “C”.

Murid yang mewarnai badan gajah abu-abu dan kecoak hitam mendapat nilai A. Bayangkan berapa nilai lembar mewarnai jika di murid balita itu mewarnai badan gajah colorful seperti “d united color of benneton”?

Pola deterministik guru semacam itu terus berlanjut. Orang tua juga bersikap sama, bahkan masyarakat pun menguatkan. Yang “beribadah” tidak sesuai dengan cara mereka akan “digebukin”. Istilahnya, mengikuti gaya bercanda anak Betawi, “‘Yang kagak ikut ane, ente semua musuh ane!”

Sejatinya, jika pendidikan dan akhirnya menjadi perilaku dan berujung kepada budaya yang tidak menjunjung hukum alam kebhinekaan (bukankah Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu sama, bahkan manusia kembar sekalipun) atau keberagaman, maka jangan berharap manusianya akan bermental bhineka.

Mungkin, dosa terbesar Soeharto adalah menyeragamkan sesuatu yang seharusnya beragam, mulai baju kerja PNS hingga nama gedung (graha) diseragamkan. Bahkan, doktrin P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) pun begitu seragamnya hingga Pancasila yang kemuliaannya sebagai ideologi bangsa tiada taranya, nyaris terbuang seperti sampah.

Bangsa ini menjadi semakin kurang menghargai keberagaman. Salah satunya karena gaya kepemimpinan yang doktriner, keberagaman hukum alam dipaksa menjadi keseragaman hukum manusia. Di titik inilah peran guru menjadi strategis.

Meminjam istilah kang Endo, seorang pendidik pakar etnomusika, “Seharusnya, mendidik itu adalah menjadikan anak manusia menjadi manusia beneran, yang bukan setan dan bukan pula malaikat”.

Kang Endo ingin mengatakan, bahwa manusia yang sebenarnya adalah insan kamil yang sebagian dan sangat sedikit adalah seperti (bukan) setan (hitam) dan malaikat (putih) dan paling banyak adalah diantaranya (abu abu).

Jadi, jika pendidikan memaksa kita menjadi malaikat dan setan, pastilah keberagaman akan mustahil terjadi. Ya, karena cuma ada dua pilihan, tidak ada area abu abu di mana 99 persen manusia berada, dimana determinisme tidak laku karena melanggar hukum alam. Gagalkah pendidikan kita?

Dakwah Keluarga

Harry Santosa
December 16, 2018

Sesungguhnya, dalam marhalah (tahapan) dakwah, setelah dakwah personal, sebelum masuk ke masyarakat apalagi ke pemerintahan, ada tahapan yang sebenarnya kritikal untuk diselesaikan lebih dahulu yaitu dakwah keluarga.

Reformasi 1998, membuat semua mata mengarah kepada kekuasaan, sehingga semua sumberdaya mengarah ke politik praktis, termasuk sumberdaya dakwah. Ada loncatan dalam tahapan yang semestinya tidak dilakukan, namun sejarah sering berkata lain dan pemimpin sering mengambil keputusan yang sulit untuk memilih.

Walhasil, hari ini kita rasakan betul bahwa dakwah Keluarga memang ternyata tidak bisa dilewatkan. Barangkali kita sering dengar banyak kasus perceraian, perselingkuhan, KDRT dll dari para aktifis dakwah yang terjadi di banyak tempat, belum lagi bicara kasus penyimpangan yang menimpa anak anak mereka yang seolah sama saja dengan keluarga lain pada umumnya.

Dakwah keluarga memang benar benar kosong. Shaf ini luput dari pembinaan serius. Padahal keluarga adalah basis peradaban, satuan terkecil peradaban yang menentukan baik dan buruk peradaban.

Kita sering berifikir bahwa urusan keluarga ini selesai lewat berbagai peraturan perundangan, peraturan menteri, pergub, perda dll. Ternyata tidak, sampai hari inipun konsep dan praktek Ketahanan Keluarga masih tidak jelas.

Keluarga keluarga muda kini seolah kehilangan pegangan, mereka tak punya panduan bahkan keteladanan dalam berkeluarga. Mereka gamang dan kemudian mencari jalan masing masing.

Menyekolahkan anak di Sekolah Islam dengan hafalan alQuran seolah fatwa paling mujarab untuk menyelesaikan semua masalah pendidikan anak dan keluarga. Sebagaian orang merasa jika anaknya sudah bersekolah di Sekolah Islam maka selesailah pendidikan anak anaknya. Padahal pendidikan bukan sekedar persekolahan dan pengajaran.

Seminar dan workshop parenting diminati dimana mana sejak 10 tahun belakangan, sekolah alternatif diburu orangtua, boardingschool menjamur sebagai jawaban kepanikan orangtua akan lingkungan yang buruk serta kepasrahan tak mampu mendidik.

Kemudian semua nampak lebih kepada kepanikan keluarga bukan gairah untuk menjadi orangtua sejati dalam mendidik anak. Maka pembinaan fardiyah harus juga bergeser kepada pembinaan keluarga, misalnya bagaimana seorang Murobby atau Ustadz membina dan mendampingi 10-20 keluarga dalam semua aspek keluarga. Jangan sampai ada kasus terjadi sehingga berujung pada perceraian, perselingkuhan dsbnya.

Hari ini saya berada di Wamena, sebuah kota di Papua, yang Muslimnya hanya 5%. Keluarga keluarga minoritas Muslim di sinipun nampak berjuang membenahi pendidikan anak anaknya. Keluarga keluarga ini sama galaunya dengan keluarga Muslim di daerah mayoritas.

Bisa dibayangkan jika keluarga keluarga Muslim galau bagaimana dengan nasib peradaban Islam di masa depan. Mari kita berbenah, mari kita hidupkan lagi dakwah keluarga, mari kita kembali kepada fitrah mendidik dan fitrah pendidikan itu sendiri, kembali mendidik anak anak kita sesuai fitrahnya dengan fitrah keayahbundaan kita.

Agar peradaban masa depan menjadi peradaban yang menebar rahmat dan manfaat melalui peran peran peradaban terbaik generasi peradaban anak anak kita yang tumbuh dari rumah rumah yang telah kembali kepada fitrahnya.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation

Family Business & Community Business

Harry Santosa
December 9·

Family Business & Community Business

Di masa depan peran keluarga dan peran komunitas akan semakin menguat. Keluarga keluarga mulai menyadari pentingnya memiliki misi keluarga sebagai keniscayaan untuk ketahanan keluarga dan pendidikan anak anaknya.

Tentu ini berawal dari akan semakin banyak lahirnya generasi masa depan yang sejak muda sudah punya misi personal. Misi personal sejak muda, nampak dari banyaknya anak muda hari ini yang lebih suka memulai bisnis sendiri atau membuat startup business daripada bekerja menjadi karyawan atau buruh.

Misi personal sejak muda ini, ketika mereka menikah akan menjadi misi keluarga. Misi keluarga inilah kemudian yang akan berkembang menjadi bisnis keluarga dan juga menjadi kurikulum pendidikan anak anaknya untuk melanjutkan misi dan bisnis keluarga di masa depan.

Regeneration parenting kemudian menemukan bentuknya, bahwa anak anak kita tidak lagi sekedar dididik untuk menemukan peran peradabannya atau misi hidup personalnya namun melanjutkan misi keluarga yang dirintis oleh ayah dan ibunya sebagai kelanjutan perjuangan dan amal jariah yang terus mengalir pahalanya. Family mission, family business kemudian family legacy.

Tentu misi keluarga akan berkembang menjadi bisnis keluarga, namun bukan bisnis untuk tujuan mencari uang dan dunuawi karena uang dan duniawi hanyalah efek dari manfaat yang kita berikan kepada ummat. Makin besar manfaatnya, makin besar uang yang diterima.

Semakin ajek dan mulia misi keluarga semakin banyak ia menebar manfaat, semakin banyak menebar manfaat maka kemudian materi dan syurga adalah efek dari manfaat yang diberikan bagi ummat dan itu juga yang membuat Allah ridha.

Jadi bisnis keluarga pada hakekatnya adalah upaya dan usaha untuk mendeliver manfaat dengan lebih luas, besar, professional, akuntabel dan sustainabel karena akan juga diwariskan kelak, baik peran, branding, wisdom dan knowledge juga manfaat dan aset.

Community based Business

Keluarga keluarga itu tentu tak bisa sendirian, secara alamiah keluarga keluarga ini akan membentuk komunitas bersama keluarga lain yang memiliki belive yang sama. Awalnya bisa dimulai pada kebersamaan dalam hal yang paling penting yaitu mendidik anak.

Community based Education (CBE) adalah jawaban dari kebutuhan untuk membesarkan anak secara bsrsama dengan keluarga keluarga yang memiliki keyakinan dan platform yang sejalan. Lalu terjadilah kolaborasi seru saling berbagi pengalaman dan perjalanan mendidik. Sepanjang dewasa dalam berkomunitas, maka yang terjadi adalah saling mengkayakan dan saling mencahayakan.

Berkomunitas bukan melebur sehingga kehilangan peran unik dan identitas masing masing, namun berkomunitas adalah bersinergi atas peran peran unik masing masing dan sekaligus menjalankan peran atau misi bersama komunitas.

Pada perkembangannya kemudian, niscaya CBE akan berkembang menjadi Community based Business (CBB), karena komunitas secara alamiah adalah tempat bertemunya misi keluarga yang unik termasuk bisnis keluarga yang juga unik. Komunitas tidak boleh menggerus keunikan identitas keluarga, nsmun justru mensinergikan dan menghebatkannya.

Peradaban adalah hasil perpaduan peran pendidikan dan peran pemberdayaan, saling mencahayakan peran masing masing, sehingga tegaklah peradaban yang menyinari. Ibarat taman peradaban, bunga bunga yang ada tak seragam, namun ditata agar keindahan warnanya menjadi paduan harmoni yang indah.

Dengan berkolaborasi, akan terjadi supply dan demand dalam banyak hal baik pengetahuan, jasa, barang dsbnya di dalam komunitas. Sepanjang dewasa dalam berkomunitas, maka yang terjadi adalah saling mengkayakan dan saling mencahayakan.

Community based Business selain memfasilitasi family business , tentu bisa juga bahkan harus ada bisnis yang dikelola bersama dengan mengutamakan supply chain dan customer based di dalam jaringan komunitas itu sendiri.

Jika ini berjalan harmoni, maka kemudian akan datang masa dimana keluarga dan komunitas begitu berdaya menegakkan peradabab, karena begitulah sesungguhnya peradaban itu, ia adalah milik keluarga dan komunitas, karena dari keduanyalah lahir generasi peradaban dengan peran peran peradaban terbaik dan adab termulia yang berkelanjutan.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife
#communutybasededucation
#communutybasedbusiness