Dakwah Keluarga

Harry Santosa
December 16, 2018

Sesungguhnya, dalam marhalah (tahapan) dakwah, setelah dakwah personal, sebelum masuk ke masyarakat apalagi ke pemerintahan, ada tahapan yang sebenarnya kritikal untuk diselesaikan lebih dahulu yaitu dakwah keluarga.

Reformasi 1998, membuat semua mata mengarah kepada kekuasaan, sehingga semua sumberdaya mengarah ke politik praktis, termasuk sumberdaya dakwah. Ada loncatan dalam tahapan yang semestinya tidak dilakukan, namun sejarah sering berkata lain dan pemimpin sering mengambil keputusan yang sulit untuk memilih.

Walhasil, hari ini kita rasakan betul bahwa dakwah Keluarga memang ternyata tidak bisa dilewatkan. Barangkali kita sering dengar banyak kasus perceraian, perselingkuhan, KDRT dll dari para aktifis dakwah yang terjadi di banyak tempat, belum lagi bicara kasus penyimpangan yang menimpa anak anak mereka yang seolah sama saja dengan keluarga lain pada umumnya.

Dakwah keluarga memang benar benar kosong. Shaf ini luput dari pembinaan serius. Padahal keluarga adalah basis peradaban, satuan terkecil peradaban yang menentukan baik dan buruk peradaban.

Kita sering berifikir bahwa urusan keluarga ini selesai lewat berbagai peraturan perundangan, peraturan menteri, pergub, perda dll. Ternyata tidak, sampai hari inipun konsep dan praktek Ketahanan Keluarga masih tidak jelas.

Keluarga keluarga muda kini seolah kehilangan pegangan, mereka tak punya panduan bahkan keteladanan dalam berkeluarga. Mereka gamang dan kemudian mencari jalan masing masing.

Menyekolahkan anak di Sekolah Islam dengan hafalan alQuran seolah fatwa paling mujarab untuk menyelesaikan semua masalah pendidikan anak dan keluarga. Sebagaian orang merasa jika anaknya sudah bersekolah di Sekolah Islam maka selesailah pendidikan anak anaknya. Padahal pendidikan bukan sekedar persekolahan dan pengajaran.

Seminar dan workshop parenting diminati dimana mana sejak 10 tahun belakangan, sekolah alternatif diburu orangtua, boardingschool menjamur sebagai jawaban kepanikan orangtua akan lingkungan yang buruk serta kepasrahan tak mampu mendidik.

Kemudian semua nampak lebih kepada kepanikan keluarga bukan gairah untuk menjadi orangtua sejati dalam mendidik anak. Maka pembinaan fardiyah harus juga bergeser kepada pembinaan keluarga, misalnya bagaimana seorang Murobby atau Ustadz membina dan mendampingi 10-20 keluarga dalam semua aspek keluarga. Jangan sampai ada kasus terjadi sehingga berujung pada perceraian, perselingkuhan dsbnya.

Hari ini saya berada di Wamena, sebuah kota di Papua, yang Muslimnya hanya 5%. Keluarga keluarga minoritas Muslim di sinipun nampak berjuang membenahi pendidikan anak anaknya. Keluarga keluarga ini sama galaunya dengan keluarga Muslim di daerah mayoritas.

Bisa dibayangkan jika keluarga keluarga Muslim galau bagaimana dengan nasib peradaban Islam di masa depan. Mari kita berbenah, mari kita hidupkan lagi dakwah keluarga, mari kita kembali kepada fitrah mendidik dan fitrah pendidikan itu sendiri, kembali mendidik anak anak kita sesuai fitrahnya dengan fitrah keayahbundaan kita.

Agar peradaban masa depan menjadi peradaban yang menebar rahmat dan manfaat melalui peran peran peradaban terbaik generasi peradaban anak anak kita yang tumbuh dari rumah rumah yang telah kembali kepada fitrahnya.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s