Kapan Al Qur’an Mulai Diajarkan

Featured

Ust Harry Santosa

Umur Berapa Saya Ajarkan Anak-Anak Saya Quran? – Nouman Ali Khan – Gulf Tour Q&A
Judul asli: What Age Do I Teach My Child Quran? – Nouman Ali Khan

Ada pertanyaan bagus dari seorang Ibu di Gulf Tour yang bertanya, “Kapan anak saya perlu belajar bahasa Arab?
Anak saya 2,5 tahun. Kapan saya harus mengajarnya gramatika bahasa Arab, Qur’an, tajwid dan hafalan? Saya ingin ia dibesarkan dengan Al Qur’an.”

Sangat indah niat anda untuk ajarkan anak anda Qur’an. Tapi, dia baru berusia 3 tahun. Santai saja, Bu.

Kita ingin mereka untuk miliki setiap… Apa yang Anda lakukan pada usia 3 tahun? Anda tak ingat. Bahkan Anda tak ingat pernah memakai sepatu terbalik. Anak-anak berada pada fitrah mereka. Fitrah mereka sangat indah. Biarkanlah mereka.

Ajarkan dengan kasih sayang. Sebagian dari mereka lebih berbakat. Mereka ingin belajar lebih cepat. Berikan kesempatan itu. Sebagian anak ingin banyak bermain.
Biarkanlah mereka mengambil waktu mereka. Para orang tua harus belajar fleksibel dengan anak mereka. Tidak menetapkan standar yang sama. Tidak bandingkan satu anak dengan yang lain, terutama dalam Al Qur’an mereka.

Saya punya enam anak dan cara mereka hafalkan Qur’an berbeda. Cara belajar Qur’an mereka sama sekali tidak sama. Salah satu anak saya bisa menghafal dalam 5 menit. Sangat cepat menghafal, sangat mengagumkan. Anak saya yang lain menghafal yang sama selama satu bulan.

Saya tidak membandingkannya. “Mengapa kau tak seperti kakakmu?”

Saya tidak lakukan itu. Itu adalah zhulm (ketidakadilan), ‘uluwul (obsesi) dan menciptakan rasa benci pada agama. Karena buku (Al Quran) ini ayah saya lebih menyayangi kakak saya. Ini salah. Hentikan. Jangan terlalu tertekan karena anak-anakmu.

Allah tidak menginginkan anakmu menjadi hafidz, atau alim. Allah ingin anakmu jadi muslim yang baik. Allah ingin anakmu mencintai agamanya. Itu yang Allah inginkan. Jadi, santai saja.

Catatan lainnya, tentang anak-anak. Ada beberapa orang datang pada saya dan berkata, “Anak kami 5 atau 6 tahun. Kami tunjukkan video tentang tanda hari kiamat dan bicarakan Dajjal.”

Kenapa kau lakukan itu? Mengapa Anda bicarakan Dajjal dengan anak Anda? Anak Anda baru berusia 5 tahun. Itu membuat dia trauma. Saya sendiri takut membaca tentang Dajjal. Tak perlu diceritakan pada anak.

Anak-anak berada pada fitrah mereka. Anda tahu apa maksudnya? Saat ini mereka tidak bertanggung jawab atas kesalahan mereka. Mengapa Anda ingin buat mereka takut pada Allah di saat mereka tak perlu takut kepada Allah?
Takut kepada Allah diperlukan bagi mereka yang bertanggung jawab atas amal perbuatan mereka. Ya atau tidak?

Sekarang adalah waktu untuk menunjukkan pada mereka cinta, ampunan, rasa sayang dan karunia dari Allah. Cinta Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Tidak
tentang rasa takut, jahanam, hari kiamat, Dajjal dan perang besar… Tidak. Tunggu dulu. Bukan ini yang dibutuhkan anak-anak. Ini akan ciptakan trauma.

Jangan gambarkan agama mereka dengan mengerikan. Anak-anak akan takut. Jangan beralasan bahwa tak ada yang berkata positif pada mereka. Bukan begitu caranya.
Anda tak bisa tontonkan film horor pada seorang anak, lalu katakan tapi kami tunjukkan boneka beruang setelahnya agar masalah selesai. Anda tak bisa lakukan itu. Sangat merusak anak-anak.

Pada permulaan Anda perlu memelihara fitrah itu. Mereka sudah datang dengan cinta Allah. Itulah yang Allah tanamkan di dalam mereka. Pelihara rasa cinta itu, jangan gantikan dengan rasa takut. Rasa takut akan datang kemudian. Saat mereka semakin dewasa, lalu kita bisa bahas tentang tanggung jawab, akuntabilitas. Lalu kau ajarkan tentang hari kiamat, Dajjal pada usia itu.

Mengajarkan semua itu sebelum waktunya, menghilangkan semuanya. Sama dengan mengajarkan Al Quran dan apa saja yang lainnya. Buatlah semua sesuai dengan umur dan penuh rasa sayang. Pencapaian terbesar pada zaman kita,
Wallahi, mohon dengarkan dengan seksama. Pencapaian terbesar untuk anak di zaman kita, bukan banyaknya yang mereka pelajari. Banyaknya yang mereka pelajari tak berarti.

Maafkan jika terdengar seperti menyerang Anda, tapi semua itu tak berarti. Yang berarti adalah berapa besar mereka mencintai Rabb mereka, berapa besar mereka mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam mereka, seperti apa karakter mereka, sejujur apa mereka, semudah apa bagi mereka untuk mengakui sebuah kesalahan, seterbuka apa komunikasi dengan Anda,

Karakter mereka adalah yang terpenting. Bukan ilmu mereka. Ilmu itu dangkal. Hanya untuk ditunjukkan pada orang lain. Saya tidak mengatakan ilmu tidak penting. Tapi, ilmu selalu yang kedua setelah karakter. Selalu akan jadi yang kedua setelah karakter.

Sekarang saatnya memelihara karakter itu, memelihara kepribadian itu, dengan sedikit ilmu pada perjalanannya. Banyak anak yang menghafal Al Quran pada usia dini tanpa karakter, dan itu bukan salah mereka.

Yang ditekankan pada mereka hanya menghafal Al Qur’an. Anak-anak ini akan berbohong, nakal, mereka menghina teman mereka yang tidak menghafal secepat mereka, semua yang tak harusnya dilakukan muslim mereka lakukan, tapi karena mereka hafal Qur’an jadi kebanggaan masyarakat kita.

Apa yang telah kita lakukan? Kita menekankan apa yang tidak Allah tekankan dan kita mengabaikan yang Allah tekankan. Tapi, kita mengaku bahwa kita menjalani deen (agama) kita. Kita harus menyeimbangkan kembali. Ilmu memiliki tempat, karakter juga memiliki tempat. Keduanya harus seimbang. Harus diseimbangkan.

Semoga Allah Azza wa Jalla berikan kita kedewasaan dan rasa untuk besarkan anak kita dengan pemahaman agama yang benar, pendekatan pada deen yang seimbang, penuh kasih sayang, sehingga mereka tidak berbelok dan menemukan yang dicintai selain Islam. Mereka tahu banyak tentang Islam, tapi cinta mereka untuk yang lain.

Advertisement

Ajarkan Agama dengan Rileks

Adriano Rusfi

Miris rasanya menyaksikan anak-anak para aktivis yang tak menunjukkan komitmen yang kuat terhadap agamanya.Merokok, pacaran, pamer aurat, menggunakan narkoba,
homoseks, hamil di luar nikah, gangster, bahkan atheis, bukan lagi barang langka. Benar-benar tersentak ketika membayangkan siapa orangtua mereka dengan segala kiprahnya dalam dakwah.

Apakah orangtua mereka lalai mendidik mereka dengan agama ? Sama sekali tidak !!! Mereka bukan saja sangat serius mendidik anak-anak mereka dengan Al-Islam, bahkan ketat dan keras. Beberapa diantara anak-anak mereka malah telah masuk pesantren sejak usia sangat dini, berjilbab tak lama setelah lahir sebagai perempuan, masuk Islamic Fullday School, hafal Juz ‘Amma sebelum 7 tahun, hafal Hadits Arba’in Annawawiyyah ketika masih TK, dan segudang “prestasi edukatif” lainnya.

Pergaulan anak-anak mereka sangat terjaga. Untuk itu mereka sengaja bikin komunitas sendiri, tinggal di kompleks perumahan yang sama dan sekolah di sekolah yang sama. Seorang anak berusia 3 tahun pernah dicubit bibirnya hingga berdarah oleh ibunya karena dari bibirnya keluar kata “Pacaran”. Tayangan-tayangan televisi di rumah mereka juga sangat terkontrol, begitu pula dengan bahan bacaan. Bahkan, ada yang mengharamkan televisi sama sekali.

Lalu, apa yang salah ?

Pertama, syari’ah dipandang sebagai sesuatu yang “given” dalam rumah tangga mereka. Karena telah dianggap terberi dan menjadi keseharian, maka tak perlu lagi ada penjelasan : apa, kenapa, bagaimana ? Anak diminta berjilbab tanpa ada penjelasan “kenapa ?”. Begitu pula tentang tauhid, akhlaq dan sebagainya. Akhirnya terbentuklah anak-anak yang bagaikan sebuah rumah yang indah namun pondasinya rapuh. KELIHATANNYA TELAH ISLAMI, PADAHAL HANYA TRADISI. Lalu, suatu saat mereka akan mencari momen yang tepat untuk MEMBERONTAK

Kedua, mimpi yang terlalu tinggi. Mereka memimpikan anak-anak yang tumbuh seperti para shahabat, atau shalafush-shalih, atau sekurang-kurangnya seperti Hasan AlBanna dan Syyid Quthb. Mereka bukan saja bermimpi menghasilkan anak-anak “beyond generation”, bahkan “above generation”. Lalu setelah itu para orang tua menjadi stres sendiri dengan mimpi yang dibuat, panik melihat kesenjangan antara “das sein” dengan “das sollen”. Mulailah anak diasingkan, kalau perlu disterilisasi melalui pendidikan antah-berantah. Apakah lahir anak shaleh ? Ternyata tidak. Yang terbentuk adalah GENERASI STERIL NAMUN TAK IMUN TERHADAP GODAAN DUNIA. Anak-anak itu bahkan tak diijinkan untuk menjalani COBAAN KEIMANAN.

Ketiga, Tadribusy-Syar’ie (pelatihan syari’ah) yang terlalu cepat. Allah dan RasulNya selalu benar, bahwa pelatihan syari’ah itu baru dimulai saat anak berusia 7 tahun. Dalam hal ini tak berlaku anggapan “lebih cepat lebih baik”. Tiba-tiba saja, atas nama agama, para orangtua telah merampas hak-hak anak yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka berjilbab sangat dini, belajar shalat sangat dini, menghafal hadits sangat dini. Padahal, Abdullah Nasih ‘Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Awlad telah menegaskan bahwa itu semua selayaknya dimulai pada usia 7 tahun. Akhirnya anak telah dirampas kebebasannya secara dini. Mereka bukan saja telah di-tadrib oleh orang tuanya, bahkan telah di-taklif jauh sebelum aqil-baligh. Pada saatnya kelak MEREKAPUN AKAN MENINGGALKAN SYARI’AH SEDINI MUNGKIN. Andai anak-anak itu kelak di Yaumil Mahsyar mengadu kepada Allah tentang HAK-HAK YANG DIRAMPAS ORANGTUANYA, bagaimana kita akan menjawabnya ?

Keempat, rumah tak lagi menjadi surga (baitii jannatii) bagi anak. Terlalu banyak aturan, terlalu banyak larangan, terlalu banyak kekangan. Ini bukan model rumah surgawi, tapi neraka. Akhirnya, anak tak berkesempatan menyalurkan naluri-naluri instingtifnya di rumah. Mereka tak punya ruang untuk meluapkan dan mengeluarkan “kejahiliyyahannya” di balik dinding rumah. Sebaliknya, di rumah mereka begitu santun, Islami, syar’ie, akhlaqi. Luar biasa. Nah, ketika mereka keluar dari rumah, mereka justru MEMAPAR AURAT DAN MENGUMBAR NAFSU DI LUAR RUMAH. Dunia publik akhirnya menjadi dunia di mana borgol dipatahkan dan
tirani dihancurkan.

Kelima, tidak ramah terhadap fitrah. Para orangtua yang aktivis biasanya sangat pro “ajaran langit” dan kurang peduli terhadap “realitas bumi”. Yang pertama kali terpikir oleh mereka saat akan mendidik anak adalah “Apa maunya Allah”,
bukan “apa maunya fitrah”. Padahal, toh fitrah manusia itu pada dasarnya Islami. Tampaknya, mereka kurang menguasai ayat-ayat insaniyyah (kemanusiaan) yang lebih dahulu turun di Makkah (yaa ayyuhan-naas…), dan lebih fokus kepada ayat ayat imaniyyah (keimanan) yang turun belakangan di Madinah (yaa ayyuhalladziina aamanuu…). Akhirnya, Islam yang sama sekali tak bertentangan dengan kemanusiaan itu, justru dihayati oleh anak sebagai sebuah kontradiksi : ISLAM VS EGO

Akhirnya, justru ketika para aktivis mendidik anaknya dengan ketat dan keras, yang lahir adalah anak-anak yang memberontak terhadap agamanya sendiri. Sedih membaca “Tagline” seorang anak dari “Syaikhul-Kabiir” di Facebook miliknya : Aku tak percaya pada Tuhan !. Seorang anak dari “assaabiquunal-awwaluun” harus mendapatkan perawatan psikiatrik. Di tempat lain, saya harus mengantarkan putra seorang senior pergerakan ke pondok rehabilitasi narkoba. Sedangkan anak dari seorang ustadzah kaliber nasional hobby betul melakukan bullying dan pemerasan terhadap teman-temannya. Kenapa tidak kita tanamkan Al-Islam ini dengan rileks dan manusiawi, untuk membentuk generasi yang targetnya tidak neko-neko : terbaik untuk zamannya???

(Segala puji bagi Allah yang telah membimbing anak-anakku sehingga seluruhnya menjadi aktivis Islam yang ceria)

Modal Sosial dan Trust Society

Jusman Syafii Djamal
January 15, 2019

Tadi malam saya sengaja ambil kesempatan menonton TV siaran langsung pidato Kandidat Presiden no 2 Prabowo Subianto di TV One. Sebelumnya juga saya menyaksikan pidato Presiden Jokowi sebagai kandidat no 1 di depån alumni ITB, UI, Gama dan Perguruan tinggi lain nya di GBK.

Buat saya kedua penampilan putra terbaik bangsa ini ini bikin kita punya optimisme tentang Indonesia masa depan. Buat intelektual berbasis keahlian sebagai teknolog seperti saya perbedaan style dan model pendekatan dalam menemukan solusi dan Inovasi terobosan amatlah penting muncul. Sebab dunia yang seragam dan monokultur serta regimented tak punya daya adaptasi terhadap perubahan zaman.

Karenanya perbedaan style of leadership dari kedua calon Presiden , sangatlah menyenangkan. Merupakan Rachmat dan Karunia tersendiri. Sebagai Bangsa kita perlu multi ide, banyak gagasan dan rame ing gawe, agar tak mundur dengan Kereta api Ekspress kata Bung Hatta.

Kita perlu membangun sebuah ekosistem dimana Demokrasi Politik berhasil mewujud menjadi pelbagai langkah kebijakan mengedepankan demokrasi Ekonomi untuk kesejahteraan bersama agar Inequality menyempit.

Sebab masalah utama masa depan yang dihadapi semua bangsa di dunia adalah kesenjangan yang melebar. Pertumbuhan ekonomi yang tak diikuti pemerataan. Growth without equity.

Dari penampilan kedua beliau selama ini, kita menyaksikan bahwa masing masing memiliki cara berbeda dalam mengedepankan kata Optimisme. Ada yang menggunakan pesimisme untuk membangkitkan semangat kejuangan sehingga optimisme lahir Ada yang mengatakan dengan tegas :”Jauhkan diri dari fikiran pesimis sebab kita tidak mungkin punah ditelan bumi”.

Meski beranjak dari persfektip berbeda, ke dua calon Presiden memiliki fikiran dan visi yang solid tentang masa depan NKRI. Tak ada keraguan bahwa kedua beliau baik Presiden Jokowi maupun Pak Prabowo sangat mencintai Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dua duanya Tidak menginginkan Indonesia menjadi tenggelam dan punah dalam arus perubahan zaman. Itu catatan saya setelah mencermatinya.

Memang pengalaman hidup yang berbeda serta latar belakang keluarga yang tumbuh dari environtment beraneka ragam telah membuat Style of leadership kedua beliau sangat lain. Model dan perspektif serta sudut pandang nya juga sedikit bervariasi.

Yang satu cenderung lugas dan action oriented tanpa Retorika. Action Oriented Leadership dengan Management by objective style. From Micro to Macro. From Infrastructure to Supra structure Human Resource Development. Sementara Yang satu lainnya mencoba mengembangkan retorika sebagai Solidarity Maker dengan visi yang jelas dan terukur pula.

Yang satu telah memiliki modal kerja lapangan sehingga tingkat keberhasilannya mudah diukur secara transparan dan akuntabel. Yang lain sedang menyusun rencana, Jika saja terpilih maka ini visi misi dan program kerja nya, begitu kuran lebih. Tetapi dua dua nya adalah Putera Terbaik Bangsa, yang lahir dari rahim Indonesia yang kita cintai bersama ini.

Kedua beliau akan melangsungkan debat pertama Kamis 17 Januari, pasti Amat menarik untuk disimak. Menangkap apa yang tersirat dibalik kata dan retorika. Mengukur mana yang feasible dan tepat memimpin Indonesia 2019-2024.

*********

Yang jelas saya kini tidak lagi merasa cemas. Harapan akan Pemilu yang berlangsung aman damai terkendali dan berlangsung jurdil jadi terang benderang. Sebab kedua Calon memiliki komitment yang sama dan sebangun.

Dari penampilan kedua beliau sebagai kandidat Presiden akhir akhir ini, jelas bagi saya ternyata kehidupan Demokrasi Indonesia yang berjalan sejak Reformasi 1998 (maaf tadi tertulis typing error’ 2018, dikoreksi bang Ilham Bintang ) telah melahirkan benih yang subur untuk lahirnya fikiran besar dan menyejukkan tentang masa depan Indonesia.

Apalagi Kita telah meliwati pelbagai krisis politik dan ekonomi paling tidak tahun 1945, 1959,1965,1999. Pelbagai Konflik telah mampu kita atasi. Ada modal sosial yang cukup besar bagi generasi masa kini untuk terus maju dan berjuang menjadikan Indonesia menjadi Bangsa Besar di Dunia.

Dalam banyak catatan saya, sering kali saya tergoda untuk ingin ikut menggunakan istilah bangkit kembali. Akan tetapi fikiran saya selalu bertanya :” emangnya bangsa Indonesia pernah tenggelam ? Emangnya sejak 1945 kita pernah pecah belah seperti Yugoslavia dan Balkan ? Pasti jawabnya tidak. Kita nyaris saja berkali kali dipinggir jurang.

Akan Tetapi kita berhasil lolos dari lubang jarum.

*******

Kita sering Jatuh tersandung batu kerikil perbedaan sudut pandang diantara nya, akan Tetapi kita selalu terus berhasil Bangun Kembali dan menemukan solusi yang indah untuk masa depan yang jauh lebih baik. Turbulensi, gelombang perubahan yang akhirnya dapat kita liwati sebagai suatu Bangsa. Jatuh Bangun Kembali begitu pesan Bung Karno dan Founding Father NKRI.

Mengapa ? Sebab utama nya tidak lain dan tidak bukan adalah kekuatan dan semangat Rakyat Indonesia untuk terus mencintai Indonesia sepenuh jiwa raganya. Kita sebagai Bangsa ternyata sangat memiliki spirit kejuangan dan daya adaptasi serta kelenturan dalam menghadapi semua badai perubahan zaman.

Lentur sepeti pohon bambu yang akar nya kuat dan selalu berdampingan hidup satu rumpun. Bhineka Tunggal Ika. Sebuah Modal Sosial yang amat bernilai tinggi telah tumbuh dalam benih fikiran setiap putera Puteri Indonesia

Spirit kejuangan dan modal sosial yang terbentuk dari pengalaman hidup dan jatuh Bangun sebagai satu Bangsa itu yang menurut hemat saya perlu terus dipupuk untuk menjadi tanaman yang subur.

Buahnya adalah spirit Siliwangi Silih Asih. Silih Asah dan Silih Asuh. Sharing experiences, saling berbagi emphaty dan kerja bersama membangun “Trust Society”.

Insya Allah.
Mohon Maaf jika keliru. Salam

Unlimited Mobility : Traveler Note

Jusman Syafii Djamal
January 8, 2019

Pagi jam 530 seperti biasa saya terbangun. Rasanya sudah dirumah sendiri. Ternyata masih di sebuah hotel bintang tiga kota Strasbourg. Kebetulan kamarnya lumayan bikin rasa nyaman. Sebab disebelah tempat tidur ada meja kecil tempat menulis sambil menyeruput kopi panas. Di balik lemari tersembunyi kitchen set. Jadi bisa menggoreng telur mata sapi. Sebuah interior design yg menarik. Simple tapi functional.

Iwan Simatupang dulu pernah menulis novel judulnya Hotel. Berkisah tentang kehidupan pemuda bohemian yg punya kebiasaan jadi avonturir tanpa kerja dan rumah permanen.. Pengembara yg selalu gelisah dan penuh rasa ingin tau tentang hebatnya dunia. Yg tak mau manja dengan fikiran sempit dunia sebesar batok kelapa.

Novel Hotel ini pernah saya baca berulang kali. Novel yg sy senangi tahun 83 hingga 87 ketika saya sering pindah tempat kerja tiap enam bulan. Pindah pabrik dan kantor. Dari satu negara ke negara lain. Untuk mengakumulasi jam terbang dalam rancang bangun pesawat terbang dan model simulasi computational aerodynamics.

Ketika itu saya sering dapat tugas untuk Ganti ganti Mentor. Tupoksi saya ketika itu mendalami dan menggali pelbagai ” school of thought. Pelbagai persfektip dan Metode pengembangan produk baru pesawat terbang dan produk teknologi tinggi saya pelajari. Entah itu Pesawat, Sistim Senjata ataupun Sistem Antariksa. Diantaranya school of thought dan cara kerja di Boeing Airbus dan Fokker.Saya ditraining untuk Belajar dari sumber nya. Learning by doing.

Mobilitas jadi kata kunci. A mobile professional mirip seperti kerja jurnalisme. Modalnya 5 W. What., Where, When, Who and Why. Apa dimana bilamana siapa dan mengapa. Runtutan algoritma yang bikin sebuah journey jadi menarik.

Iwan Simatupang bilang bagi seorang professional bohemian my home is where i sleep. Dimana saya tidur itulah rumah ku. Karenanya ia memberi judul novel nya Hotel. Sebab tempat menginapnya ia jadikan SoHo small office and home office. Kini generasi millineal seperti generasi anak anak saya punya kecenderungan seperti itu. Urban lifestyle. Dengan mobilitas sebagai key driver nya.

Generasi millineal adalah mereka yg lahir tahun 1989 hingga 2019. Mengapa tahun 89 jadi rujukan ? Salah satu sebabnya saya temui ketika saya mampir di Berlin dalam perjalanan awal musim dingin bulan Januari ini.

Saya pernah mampir di Berlin tahun 84 ketika tembok Berlin masih berdiri tegak. Ketika regime negara komunis masih membelah Eropa jadi dua. Eropa Barat dan.Timur. Cold War.

Kini ketika saya mampir lagi 34 tahun kemudian. Semua berubah drastis. Tak saya temui suasana muram lagi. Semua terang benderang. Berlin jadi satu. Tak ada Barat dan Timur. Tembok pembatas itu. Runtuh berkeping.

Kini tembok itu jadi objek turisme. Dan tidak ada satu penduduk Berlin pun yang mengatakan enak zaman ku Yo dengan menenteng foto Honecker presiden masa lalu. Zaman berubah.

Ketika duduk di Brandenburg Gate sambil selfie kanan kiri saya sempat membaca histori pintu gerbang ini. Disini ada patung Prajurit Russia yang gugur ketika merebut kota Berlin bersama Sekutu.

Dari pintu gerbang ini kita bisa punya lesson learned bagaimana Tahun 1948 dunia melihat runtuhnya regime facisme Nazi Hitler Jerman dan Mussolini di Italia.

Perang Dunia kedua Sekutu dan Russia membuat Jepang. Italia dan Jerman tak lagi berdiri di atas fondasi otoritarian militerisme dan fascist yg expansip.

Ideologi fascist lenyap dari khasanah. Otoritarianisme dan kehendak untuk membangun monokultur Arian melalui jalan kekerasan dan militerisme ternyata tak berusia panjang.

Ketika duduk sambil menyeruput kopi di pinggiran potongan tembok.Berlin yang dilukis foto Brezhnev sedang berciuman saya mendapatkan cerita bagaimana tembok itu runtuh tahun 1989. Regime Communism ala Marxisme Stalin dan Leninisme yang menggunakan Sentralisme planning, Etatisme , dan kehidupan politik dan ekonomi yang regimented ternyata hanya bertahan 70 tahun. Sebab di regime seperti itu competitiveness creativity innovation dan entrepreneurship tak punya tempat.

Regimentasi penyeragaman pandangan monokultur jadi lifestyle. Sistem politik ekonomi seperti itu Tak kuat hadapi gempuran akselerasi ekspektasi dan kemajuan teknologi. Yg mengedepankan desentralisasi, otonomi sharing dan kolaborasi.

Di Check Points Charlie kita dapat menyaksikan bagaimana kehendak untuk bergerak bebas menemukan ruang kreativitas dan inovasi tidak dapat dihalangi oleh Tembok dan kawat berduri serta pasukan bersenjata . Unlimited Mobility jadi engine pendorong kemajuan ekonomi.

Begitu kata Fukuyama dalam tulisan nya The End of History and the Last Man. Disini saya jadi takjub dengan Presiden Trump yang terus menerus ingin melindungi pasar domestik nya dengan membangun tembok baja pembatas Mexico dan Amerika Serikat.

Sebab hanya tembok yg membuat orang Mexico dan Amerika Latin tak bisa menembus batas negara seenaknya. Sementara Trump ingin membatasi ruang gerak migrasi tenaga kerja. Kita jauh lebih maju. Bebas Visa semua orang asal punya paspor negara sahabat dianggap turis boleh masuk bebas. Tak peduli turis bokek atau kantong tebal.

Trump tidak mau belajar dari Eropa. Sebab memang sejarah tiap bangsa dan kontinen itu bersifat unik.

Kini kita beruntung hidup di tahun 2018. 30 tahun setelah tembok Berlin rubuh. Dua krisis berhasil kita liwati dengan baik. Krisis ekonomi 1998 dan krisis finansial global 2008.

Kini tiap hari ada tambahan 360000 orang terkoneksi dengan internet secara global . Sharing Economic jadi issue begitu juga ancaman melelehnya es di kutub Utara perubahan iklim dan bencana alam yg tiba tiba menyergap. Ada optimisme tapi ada kabut kecemasan membayang.

Dalam policy making ada kecendrungan ulang tentang membiaknya spirit nasionalisme sempit yg tak percaya pada. Populisme yg diwarnai semangat Nationalism.

Kemana hendak melangkah ? Apakah freedom of movement dan unlimited Mobility yg jadi ciri khas generasi millineal akan terkendala oleh “school of thought masa lalu” ? Is Winter Coming again ?

Apakah trade War akan jadi Cold War 2.0 ?

Wallahualam. Mohon maaf jika keliru sharing traveler note pagi hari ini. Salam

Ciri Orang Besar Memulai

Ustadz Rahmat Abdullah

Pagi yang indah selalu dihadirkan Allah SWT untuk kita yang memiliki keterpautan hati dan bisa merasakan betapa besar Cinta-Nya pada hambanya. Mata yang masih bisa melihat Keindahan itu, udara yang masih bisa kita hirup, aliran darah dan denyut nadi yang masih bisa kita rasakan, menunjukkan jika kita masih diberi eksistensi oleh-Nya. Rasulullah SAW yang melihat umatnya dari syurga Firdaus-Nya, mendoakan kita yang tak kenal letih memperjuangkan risalah dakwah untuk kejayaan Islam di Bumi Allah ini. Semoga kelak kita semua dikumpulkan bersama Baginda Rasul dan para keluarga serta sahabat.

Terkadang kita ini terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri kita. Juga terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan selain diri kita, baik itu merupakan kesalahan, keburukan, maupun kelalaian. Namun ternyata sikap kita yang kita anggap kebaikan itu tidak efektif untuk memperbaiki yang kita anggap salah. Banyak orang yang menginginkan orang lain berubah, tapi ternyata yang diinginkannya itu tak kunjung terwujud. Kita sering melihat orang yang menginginkan Indonesia berubah. Tapi, pada saat yang sama, ternyata keluarganya “babak belur”, di kampus tak disukai, di lingkungan masyarakat tak bermanfaat. Itu namanya terlampau muluk.

Jangankan mengubah Indonesia, mengubah keluarga sendiri saja tidak mampu. Banyak yang menginginkan situasi negara berubah, tapi kenapa merubah sikap adik saja tidak sanggup. Jawabnya adalah: kita tidak pernah punya waktu yang memadai untuk bersungguh-sungguh mengubah diri sendiri. Tentu saja, jawaban ini tidak mutlak benar. Tapi jawaban ini perlu diingat baik-baik. Siapa pun yang bercita-cita besar, rahasianya adalah perubahan diri sendiri. Ingin mengubah Indonesia, caranya adalah ubah saja diri sendiri. Betapapun kuatnya keinginan kita untuk mengubah orang lain, tapi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, semua itu menjadi hampa. Setiap keinginan mengubah hanya akan menjadi bahan tertawaan kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Orang di sekitar kita akan menyaksikan kesesuaian ucapan dengan tindakan kita.

Boleh jadi orang yang banyak memikirkan diri sendiri itu dinilai egois. Pandangan itu ada benarnya jika kita memikirkan diri sendiri lalu hasilnya juga hanya untuk diri sendiri. Tapi yang dimaksud di sini adalah memikirkan diri sendiri, justru sebagai upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki yang lebih luas. Perumpamaan yang lebih jelas untuk pandangan ini adalah seperti kita membangun pondasi untuk membuat rumah. Apalah artinya kita memikirkan dinding, memikirkan genteng, memikirkan tiang yang kokoh, akan tetapi pondasinya tidak pernah kita bangun. Jadi yang merupakan titik kelemahan manusia adalah lemahnya kesungguhan untuk mengubah dirinya, yang diawali dengan keberanian melihat kekurangan diri.

Pemimpin mana pun bakal jatuh terhina manakala tidak punya keberanian mengubah dirinya. Orang sukses mana pun bakal rubuh kalau dia tidak punya keberanian untuk mengubah dirinya. Kata kuncinya adalah keberanian. Berani mengejek itu gampang, berani menghujat itu mudah, tapi, tidak sembarang orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri. Ini hanya milik orang-orang yang sukses sejati. Orang yang berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain, itu tidak istimewa. Sebab itu bisa dilakukan oleh orang yang tidak punya apa-apa sekali pun. Tapi, kalau ada orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang kekurangan itu secara sistematis, lalu dia buat sistem untuk melihat kekurangan dirinya, inilah calon orang besar.

Mengubah diri dengan sadar, itu juga mengubah orang lain. Walaupun dia tidak berucap sepatah kata pun untuk perubahan itu, perbuatannya sudah menjadi ucapan yang sangat berarti bagi orang lain. Percayalah, kegigihan kita memperbaiki diri, akan membuat orang lain melihat dan merasakannya. Memang pengaruh dari kegigihan mengubah diri sendiri tidak akan spontan dirasakan. Tapi percayalah, itu akan membekas dalam benak orang. Makin lama, bekas itu akan membuat orang simpati dan terdorong untuk juga melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini akan terus berimbas, dan akhirnya semakin besar seperti bola salju. Perubahan bergulir semakin besar.

Jadi kalau ada orang yang bertanya tentang sulitnya mengubah keluarga, sulitnya mengubah anak, jawabannya dalam diri orang itu sendiri. Jangan dulu menyalahkan orang lain, ketika mereka tidak mau berubah. Kalau kita sebagai ustadz, atau kyai, jangan banyak menyalahkan santrinya. Tanya dulu diri sendiri. Kalau kita sebagai pemimpin, jangan banyak menyalahkan bawahannya, lihat dulu diri sendiri seperti apa. Kalau kita sebagai pemimpin negara, jangan banyak menyalahkan rakyatnya. Lebih baik para penyelenggara negara gigih memperbaiki diri sehingga bisa menjadi teladan. Insya Allah, walaupun tanpa banyak berkata, dia akan membuat perubahan cepat terasa, jika berani memperbaiki diri. Itu lebih baik dibanding banyak berkata, tapi tanpa keberanian menjadi suri teladan. Jangan terlalu banyak bicara. Lebih baik bersungguh-sungguh memperbaiki diri sendiri. Jadikan perkataan makin halus, sikap makin mulia, etos kerja makin sungguh-sungguh, ibadah kian tangguh. Ini akan disaksikan orang.

Membicarakan dalil itu suatu kebaikan. Tapi pembicaraan itu akan menjadi bumerang ketika perilaku kita tidak sesuai dengan dalil yang dibicarakan. Jauh lebih utama orang yang tidak berbicara dalil, tapi berbuat sesuai dalil. Walaupun tidak dikatakan, dirinya sudah menjadi bukti dalil tersebut. Mudah-mudahan, kita bisa menjadi orang yang sadar bahwa kesuksesan diawali dari keberanian melihat kekurangan diri sendiri. Jadi teringat kutipan kata bijak dari sebuah buku seperti ini:

– Jadilah kau sedemikian kuat sehingga tidak ada yang dapat mengganggu kedamaian pikiranmu
– Lihatlah sisi yang menyenangkan dari setiap hal
– Senyumlah pada setiap orang
– Gunakanlah waktumu sebanyak mungkin untuk meningkatkan kemampuanmu sehingga kau tak punya waktu lagi untuk mengkritik orang lain
– Jadilah kau terlalu besar untuk khawatir dan terlalu mulia untuk meluapkan kemarahan
– Satu-satunya tempat dimana kita dapat memperoleh keberhasilan tanpa kerja keras adalah hanya dalam kamus.

Di awal tahun, awal bulan dan awal minggu (Jum’at adalah awal minggu bagi umat Islam), ayo kita semua mulai memperbaiki diri. Suatu karya besar selalu diciptakan oleh orang-orang yang berfikir besar. Namun perubahan besar pasti dimulai dari satu langkah kecil, dan itu dimulai dari diri kita masing-masing.

Wallahualam bishowab

Gaya Doktriner dan Gagalnya Pendidikan Agama Kita

Ahmad Rizali
Pengamat pendidikan dan Pendiri The Centre for Betterment of Education (CBE).
Kompas, 2 Januari 2019

Sudah puluhan tahun, begitu banyak bencana menimpa negeri ini, mulai tsunami sampai tanah longsor, dari terjatuhnya pesawat terbang hingga bis tergelincir masuk ke dalam jurang.

Semuanya memicu terjadinya seremoni pertobatan dan mengingat Tuhan secara massal dan marak. Bahkan, untuk menyumpal banjir lumpur sedahsyat itu, masyarakat secara ramai-ramai meminta Tuhan melakukannya.

Salahkah sikap seperti itu?

Tidak! Tetapi miris, karena semakin sering pengingatan dan pertobatan masal itu dilakukan dengan gegap gempita, nasib rakyat bukannya semakin baik, dan bencana tetap antre untuk turun menghantam.

Lalu, kita pun kembali ingat, bahwa kita tak siap menghadapi hantaman itu. Lantas kita kembali lupa ketika bencana usai. Otak yang dianugerahi Tuhan hanya sesekali dipakai untuk menganalisa ketika bencana sudah terjadi.

Seorang ibu, lantaran mendengar cerita temannya, begitu gandrung dengan pelatihan peningkatkan kecerdasan spiritual dan emosi, tetapi ketika membaca buku yang mampu terjual begitu banyak dan ditanya suami apa isinya, dia tersipu malu. Ternyata, isi buku tidak seperti yang dia harapkan.

Ya, jargon pelatihan kecerdasan spiritual dan emosi adalah sebuah kemasan baru cara mengajak pendosa kembali ke jalan kebenaran, semacam cara berkhutbah yang dahulu gratis, namun dengan cara ini, harus membayar.

Untuk kembali ke jalan yang benar, manusia harus mengeluarkan uang, karena jalan kebenaran ternyata laku dijual. Maka, sekali lagi, rakyat kecil akhirnya tertinggal, tak mampu membeli jalan ke surga. Sebuah harapan terakhir untuk hidup mulia yang sia sia, sementara hidup di dunia sudah bak neraka.

Zikir dan pertobatan masal serta pelatihan sejenis penguatan emosi dan spiritual itulah yang membuat manusia berduit merasa bersih dari dosa. Dengan uangnya, mereka bisa membayar penyelenggara pelatihan, maka mereka bebas menangis tersedu-sedu sepuasnya.

Pada akhirnya, kelompok manusia seperti itu ikut mendorong kebenaran tesis Marx, bahwa “Agama adalah candu yang membuat manusia lupa esensinya sebagai manusia.”

“Kita tidak berbuat apa apa untuk meniadakan suasana yang melahirkan orang orang seperti itu, malahan kita mendorong tumbuhnya lembaga lembaga yang menumbuhkan mereka, juga menganggapnya perlu, mendorongnya dan mengaturnya….”

Leo Tolstoy mengatakan hal itu dan menyindir masyarakat Rusia pada akhir abad ke-19, dan berakhir dengan pengucilan dirinya oleh para pemuka agamanya.

Zikir dan pertobatan masal serta pelatihan penguatan spiritual dan emosional tersebut jika menjadi tren dan arus besar, bisa jadi, hanya akan membelah kepribadian manusia.

Semestinya, sebagai manusia merdeka yang sudah terdidik dengan sangat baik, mereka akan mengutamakan esensi ruhani yang sesungguhnya, tanpa kehilangan rasionalitas. Semestinya tak perlu!

Akan tetapi, dengan candu ini, mereka hanya akan lebih mengutamakan simbol kesalehan kasat mata, meskipun tidak salah, seperti seragam, tempat ibadah mewah, tur spiritual berulang kali, dan pelan tapi pasti, meninggalkan kesalehan hakiki, seperti integritas, keberanian, kemerdekaan dan kemandirian bersikap dan berfikir rasional, kerja keras dan bersahaja dalam menjalani hidup.

Pendidikan yang doktriner?

Pendidikan umum dan pendidikan agama kita yang semakin hedonis dan mengekor pertumbuhan ekonomi tampaknya telah gagal, karena secara sistemik telah membuat semua anak bangsa hanya ingin menjadi kaisar kaya raya.

Mereka ingin menjadi sangat berkuasa seperti halnya Zulkarnaen Agung, tapi melupakan kemuliaan AlMasih As dan Muhammad SAW, yang berdiri sampai mati di sisi kaum tak berpunya.

Suatu saat, seorang teman bertanya kepada saya tentang hasil temuan sebuah studi dari UIN Jakarta pada 2008 yang mengatakan bahwa “Pendidikan Agama (Islam) di Indonesia, khususnya di Jawa, tidak mendorong perilaku kebinekaan.”

Jawaban pertama saya adalah “Tidak mengejutkan, dan bahkan memperkuat hipotesis saya menjadi sebuah tesis”.

Saya lalu menambahkan, “Materi dan cara guru agama di sekolah dalam mendidik masih tidak berubah sejak 30 bahkan 50 tahun lalu, yang masih berkutat dan 99 persen fokus pada urusan pribadi. Meskipun agama pada dasarnya adalah sebuah doktrin, namun jika 100 persen materinya disampaikan pula dengan cara yang doktriner, tentulah hasilnya akan hitam-putih, salah-benar, on-off. Mungkinkah kebinekaan akan tumbuh, jikalaupun ada, tentulah hanya kebinekaan pura pura”.

Pembelajaran umum yang pada dasarnya bukan doktrin pun, disampaikan dengan cara yang sama. Guru, bahkan dosen sangat piawai menggunakan cara yang deterministik. Semuanya, ya memang “sudah begitu”, dan kalau tidak begitu ya dianggap “salah”.

Pembelajaran tersebut dimulai dengan mencetak pemikiran kaum balita di PAUD dengan cara berpikir gurunya. Jika memberi warna badan gajah tidak abu-abu atau kecoak tidak dengan hitam, pastilah dikasih nilai “C”.

Murid yang mewarnai badan gajah abu-abu dan kecoak hitam mendapat nilai A. Bayangkan berapa nilai lembar mewarnai jika di murid balita itu mewarnai badan gajah colorful seperti “d united color of benneton”?

Pola deterministik guru semacam itu terus berlanjut. Orang tua juga bersikap sama, bahkan masyarakat pun menguatkan. Yang “beribadah” tidak sesuai dengan cara mereka akan “digebukin”. Istilahnya, mengikuti gaya bercanda anak Betawi, “‘Yang kagak ikut ane, ente semua musuh ane!”

Sejatinya, jika pendidikan dan akhirnya menjadi perilaku dan berujung kepada budaya yang tidak menjunjung hukum alam kebhinekaan (bukankah Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu sama, bahkan manusia kembar sekalipun) atau keberagaman, maka jangan berharap manusianya akan bermental bhineka.

Mungkin, dosa terbesar Soeharto adalah menyeragamkan sesuatu yang seharusnya beragam, mulai baju kerja PNS hingga nama gedung (graha) diseragamkan. Bahkan, doktrin P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) pun begitu seragamnya hingga Pancasila yang kemuliaannya sebagai ideologi bangsa tiada taranya, nyaris terbuang seperti sampah.

Bangsa ini menjadi semakin kurang menghargai keberagaman. Salah satunya karena gaya kepemimpinan yang doktriner, keberagaman hukum alam dipaksa menjadi keseragaman hukum manusia. Di titik inilah peran guru menjadi strategis.

Meminjam istilah kang Endo, seorang pendidik pakar etnomusika, “Seharusnya, mendidik itu adalah menjadikan anak manusia menjadi manusia beneran, yang bukan setan dan bukan pula malaikat”.

Kang Endo ingin mengatakan, bahwa manusia yang sebenarnya adalah insan kamil yang sebagian dan sangat sedikit adalah seperti (bukan) setan (hitam) dan malaikat (putih) dan paling banyak adalah diantaranya (abu abu).

Jadi, jika pendidikan memaksa kita menjadi malaikat dan setan, pastilah keberagaman akan mustahil terjadi. Ya, karena cuma ada dua pilihan, tidak ada area abu abu di mana 99 persen manusia berada, dimana determinisme tidak laku karena melanggar hukum alam. Gagalkah pendidikan kita?

Platform Bisnis berbasis 3D : Digitalisasi, Desentralisasi dan De-Carbon-isasi

Jusman Syafii Djamal
2 Jan 2019

Ketika tanggal 1 Januari 2019 saya melintasi jalan dari Amsterdam menuju Hamburg , karena jalan 360 km terasa sangat mulus, goncangan mobil tak begitu terasa, saya dapat membaca majalah the Economist. Judulnya The World in 2019.

Ada pandangan Isabelle Kocher CEO Engie yang menarik untuk saya share. Semoga bermanfaat.

Ia bilang di tahun 2019 Ada Tiga trend kemajuan teknologi Yang perlu ditunggangi agar suatu wilayah ekonomi dapat tumbuh lebih tinggi.

Yang pertama adalah trend akselerasi teknologi Yang bergerak dalam paradigma digitalisasi.

Yang kedua desentralisasi sumber daya untuk mempercepat proses kolaborasi kompetensi dan integrasi jaringan kerja dalam global production network

ketiga adalah akselerasi proses de carbonisasi. Untuk membangun masyarakat bebas emisi karbon.

Pada bulan Agustus 2018 meski California mengalami kebakaran hutan yang meluluh lantai kan daerah pemilik Iman kaum élite kaya nya, akan tetapi pemerintahan negara bagian California telah mensahkan undang undang sumber energi dan sistem Transportasi bebas karbon.

Pada tahun 2045 ditargetkan 100% sumber energi fossil Menghilang diganti renewable source of energy. Tahun 2018 Isabelle Kocher sebagai CEO telah menanda tangani kontrak untuk pengadaan sumber energi Matahari atau solar cell dengan harga 0,043 dollar per kilowatt hour di Senegal. Seperlima harga jual energi berbasis Batubara. Harga energi solar cell telah turun 73% pada 2017 dibanding harga 2010.

Juga kini di Paris telah terjadi peningkatan penggunaan mobil dan motor listrik. Tahun 2015 ada satu juta mobil listrik beredar dijalan. Tahun 2017 meningkat jadi 3 juta.

Kedua trend diatas memperlihatkan bahwa Policy On De Carbonization mungkin diimplementasikan dalam
Satu wilayah ekonomi. Perlu insentip Fiskal dan moneter untuk mewujud kan nya. Jika tak mau ketinggalan.

Kini di Eropa dan Amerika jumlah kantor, pabrik dan industri Yang memanfaatkan “Internet of Thing” Yang mengkoneksikan pelbagai gawai, sensor , displays dan personal computing meningkat. Banyak kawasan kini sudah benar benar berada dalam era digital economy.

Dicatat tiap orang paling tidak telah mengkoneksikan 11 peralatan utamanya satu sama lain dan terhubung dengan sensor dan displays dalam jaringan wifi atau online sepanjang waktu. Digital home and office sudah jadi gaya hidup. Digitalisasi jadi penggerak utama kemajuan.

A digital network kini juga telah mendorong terbentuknya proses desentralisasi pusat pusat produksi dan kreativitas.

Innovation kini terdesentralisasi dalam banyak “Silicon Valley” yang terdistribusi dipelbagai Wilayah. Proses desentralisasi ini melahirkan pusat pertumbuhan klaster Inovasi dan klaster ekonomi

Dengan Tiga trend yang akan semakin tampak nyata pada tahun 2019 ada baiknya kita “banting stir “ seperti anjuran Bung Karno. Banting stir untuk memutar arah dan strategi bisnis dalam perusahaan kita masing masing agar dapat terus survive menuju masa depan.

Begitu kata Isabelle Kocher. Bagaimana kata kita di Indonesia ? Wallahu Alam.

Mohon maaf jika ada yang keliru. Salam

Family Business & Community Business

Harry Santosa
December 9·

Family Business & Community Business

Di masa depan peran keluarga dan peran komunitas akan semakin menguat. Keluarga keluarga mulai menyadari pentingnya memiliki misi keluarga sebagai keniscayaan untuk ketahanan keluarga dan pendidikan anak anaknya.

Tentu ini berawal dari akan semakin banyak lahirnya generasi masa depan yang sejak muda sudah punya misi personal. Misi personal sejak muda, nampak dari banyaknya anak muda hari ini yang lebih suka memulai bisnis sendiri atau membuat startup business daripada bekerja menjadi karyawan atau buruh.

Misi personal sejak muda ini, ketika mereka menikah akan menjadi misi keluarga. Misi keluarga inilah kemudian yang akan berkembang menjadi bisnis keluarga dan juga menjadi kurikulum pendidikan anak anaknya untuk melanjutkan misi dan bisnis keluarga di masa depan.

Regeneration parenting kemudian menemukan bentuknya, bahwa anak anak kita tidak lagi sekedar dididik untuk menemukan peran peradabannya atau misi hidup personalnya namun melanjutkan misi keluarga yang dirintis oleh ayah dan ibunya sebagai kelanjutan perjuangan dan amal jariah yang terus mengalir pahalanya. Family mission, family business kemudian family legacy.

Tentu misi keluarga akan berkembang menjadi bisnis keluarga, namun bukan bisnis untuk tujuan mencari uang dan dunuawi karena uang dan duniawi hanyalah efek dari manfaat yang kita berikan kepada ummat. Makin besar manfaatnya, makin besar uang yang diterima.

Semakin ajek dan mulia misi keluarga semakin banyak ia menebar manfaat, semakin banyak menebar manfaat maka kemudian materi dan syurga adalah efek dari manfaat yang diberikan bagi ummat dan itu juga yang membuat Allah ridha.

Jadi bisnis keluarga pada hakekatnya adalah upaya dan usaha untuk mendeliver manfaat dengan lebih luas, besar, professional, akuntabel dan sustainabel karena akan juga diwariskan kelak, baik peran, branding, wisdom dan knowledge juga manfaat dan aset.

Community based Business

Keluarga keluarga itu tentu tak bisa sendirian, secara alamiah keluarga keluarga ini akan membentuk komunitas bersama keluarga lain yang memiliki belive yang sama. Awalnya bisa dimulai pada kebersamaan dalam hal yang paling penting yaitu mendidik anak.

Community based Education (CBE) adalah jawaban dari kebutuhan untuk membesarkan anak secara bsrsama dengan keluarga keluarga yang memiliki keyakinan dan platform yang sejalan. Lalu terjadilah kolaborasi seru saling berbagi pengalaman dan perjalanan mendidik. Sepanjang dewasa dalam berkomunitas, maka yang terjadi adalah saling mengkayakan dan saling mencahayakan.

Berkomunitas bukan melebur sehingga kehilangan peran unik dan identitas masing masing, namun berkomunitas adalah bersinergi atas peran peran unik masing masing dan sekaligus menjalankan peran atau misi bersama komunitas.

Pada perkembangannya kemudian, niscaya CBE akan berkembang menjadi Community based Business (CBB), karena komunitas secara alamiah adalah tempat bertemunya misi keluarga yang unik termasuk bisnis keluarga yang juga unik. Komunitas tidak boleh menggerus keunikan identitas keluarga, nsmun justru mensinergikan dan menghebatkannya.

Peradaban adalah hasil perpaduan peran pendidikan dan peran pemberdayaan, saling mencahayakan peran masing masing, sehingga tegaklah peradaban yang menyinari. Ibarat taman peradaban, bunga bunga yang ada tak seragam, namun ditata agar keindahan warnanya menjadi paduan harmoni yang indah.

Dengan berkolaborasi, akan terjadi supply dan demand dalam banyak hal baik pengetahuan, jasa, barang dsbnya di dalam komunitas. Sepanjang dewasa dalam berkomunitas, maka yang terjadi adalah saling mengkayakan dan saling mencahayakan.

Community based Business selain memfasilitasi family business , tentu bisa juga bahkan harus ada bisnis yang dikelola bersama dengan mengutamakan supply chain dan customer based di dalam jaringan komunitas itu sendiri.

Jika ini berjalan harmoni, maka kemudian akan datang masa dimana keluarga dan komunitas begitu berdaya menegakkan peradabab, karena begitulah sesungguhnya peradaban itu, ia adalah milik keluarga dan komunitas, karena dari keduanyalah lahir generasi peradaban dengan peran peran peradaban terbaik dan adab termulia yang berkelanjutan.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife
#communutybasededucation
#communutybasedbusiness

Syarat Kemenangan : Beriman, Bukan Muslim

Satria Hadilubis

Syaikh Asy-Sya’rawi bercerita,

“Tatkala saya di San Fransisco, Amerika ada seorang orientalis bertanya kepadaku,
“Apakah ayat-ayat di Al-Qur’an kalian seluruhnya benar?”

Maka saya menjawab, “Iya, yakin benarnya!”

Ia lanjut bertanya, “Lalu mengapa Allah jadikan orang-orang kafir berkuasa atas kalian, padahal Allah Ta’ala berfirman, “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk (menguasai) orang-orang yang beriman (mukminin).”
(QS. An-Nisa’: 141)

Maka saya menjawab, “Karena kami masih muslimin belum mukminin”

Dia bertanya lagi, “Lalu apa bedanya mukminin dan muslimin?”

Saya menjawab, “Kaum muslimin hari ini menunaikan seluruh syiar Islam, dari shalat, zakat, haji, puasa Ramadhan, serta ibadah lainnya.
Namun mereka sangat gersang! Mereka gersang ilmu, ekonomi, sosial, militer, dan lainnya.

Mengapa kegersangan ini terjadi?

Sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an;

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah Islam’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.” (QS. Al-Hujurat: 14)

Dia bertanya kembali, “Lantas apa yang membuat mereka dalam kegersangan semacam ini?”

Saya menjawab, “Al-Quran telah menerangkannya, karena kaum muslimin belum meningkat hingga level mukminin, coba kita renungi ayat-ayat ini;

Andaikan mereka benar-benar beriman, tentu Allah akan menangkan mereka, berdasarkan firman Allah Ta’ala;

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman (mukminin).”
(QS. Ar-Rum: 47)

Andaikan mereka beriman tentu mereka yang paling berkedudukan tinggi di antara umat dan bangsa lain, berdasarkan firman Allah Ta’ala;

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman (mukminin).”
(QS. Ali-Imran: 139)

Andaikan mereka beriman tentu tiada satu umat pun menguasai mereka, berdasarkan firman Allah Ta’ala;

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk (menguasai) orang-orang yang beriman (mukminin).”
(QS. An-Nisa’: 141)

Andaikan mereka beriman tentu Allah tidak akan membiarkan mereka di atas kondisi menyedihkan seperti ini, berdasarkan firman Allah Ta’ala;

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini”
(QS. Ali-Imran: 179)

Andaikan mereka beriman tentu Allah akan bersama mereka dalam segala kondisi, berdasarkan firman Allah Ta’ala;

وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan sesunguhnya Allah bersama orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Anfal: 19)

Namun mereka masih level muslimin, belum meningkat hingga level mukminin, Allah Ta’ala berfirman;

وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan kebanyakan mereka tidak beriman.”
(QS. Asy-Syu’ara: 190)

Lantas siapakah orang beriman?
Jawabannya ada dalam Al-Qur’an, mereka lah;

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat , yang ruku’, yang sujud, yang kerjanya berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah.
Dan gembirakanlah orang-orang mu’min itu.”
(QS. At-Taubah: 112)

Coba kita perhatikan, sesungguhnya Allah mengaitkan kemenangan, kekuasaan, dan meningkatnya kondisi dengan mukminin bukan muslimin.

Membuat Rencana Hidup

Satria Hadi Lubis

Biasanya di akhir tahun atau di awal tahun kita membuat resolusi diri berupa target yang akan kita capai di masa mendatang. Begitu pun di akhir tahun 2018 ini, sebaiknya agar waktu libur lebih bermanfaat kita gunakan untuk membuat rencana hidup.

Untuk membuat rencana hidup (life plan), langkah-langkah yg perlu dilakukan sbb:

1. Membuat visi dan misi hidup.
Visi adalah tujuan yang terukur. Buat visi seumur hidup (misalnya sampai dgn usia 60 thn). Contohnya: menjadi pengusaha dgn total omzet 3 triliun atau menjadi pegawai dengan jabatan terakhir Dirut. Sebaiknya visi hidup mencakup aspek karir, keluarga, keuangan dan agama/sosial.Muhamad Herry tidak betul begitu. Ini life plan untuk keberhasilan hidup di dunia dan akhirat. Ada paragraf tentang “sebaiknya visi hidup mencakup aspek karir, keluarga, keuangan, agama/sosial”.

Untuk visi agama/sosial contohnya sampai usia 60 tahun sudah naik haji 1x, umroh 2x, hapal 30 juz al Quran, memiliki 100 anak asuh, memiliki total 50 halaqoh, membangun 2 buah pesantren, dll (silakan disesuaikan sendiri).

Setelah itu, membuat misi hidup yaitu pedoman hidup yg dipegang teguh dalam mencapai visi hidup. Misi hidup berguna untuk membuat kita konsisten dgn visi hidup. Membuat hidup terarah dan tidak plin plan.

2. Langkah selanjutnya membuat peta kehidupan (life mapping) yg berisi rencana hidup setiap tahunnya sampai dgn usia tertentu (misal 60 thn). Life mapping bersifat global dan strategis tentang apa yg harus ditempuh setiap tahunnya untuk mencapai visi hidup. Jika ada tahun yg kosong biarkan saja, nanti akan terisi jika rencana sdh berjalan.

3. Membuat Target Peran yg dibuat setiap awal tahun. Agar hidup seimbang maka buat target untuk setiap peran dlm hidup kita. Misalnya, peran sebagai karyawan apa targetnya, sebagai anak apa targetnya, sebagai pengurus organisasi tertentu apa targetnya dan seterusnya. Tanpa mencantumkan peran biasanya kita akan terjebak untuk menghabiskan waktu pada kegiatan utama saja dan lupa bhw ada peran lain yang terbengkalai. Target setiap peran harus terukur. Contoh: peran sebagai mahasiswa targetnya memperoleh ipk 3,7. Peran sebagai anak adalah mengirimkan uang ke ortu 500 ribu per bulan. Contoh yg tidak terukur: menjadi karyawan yang baik, menjadi anak sholih, menjadi warga yang bermanfaat, dll.

4. LAKUKAN dgn konsisten menjadi langkah-langkah bulanan, mingguan, dan harian yang mengacu pada target peran tahunan.

Jangan hidup terlalu spontan, tapi sebaliknya jangan terlalu sibuk dengan satu peran saja. Beri ruang juga untuk fleksibilitas rencana. Insya Allah jika dilakukan konsisten, hidup kita akan maju beberapa langkah dan kita punya alat untuk mengevaluasi apakah hidup kita sudah sesuai dgn visi misi hidup atau tidak (on the track atau tidak).

Jangan putus asa jika rencana belum tercapai. Lakukan lagi dan lagi sambil berdoa. Jika gagal, yang penting kita sudah berusaha. Di mata Allah kita sudah tercatat sbg orang sukses. Sebab yg dilihat Allah adalah usaha kita, bukan hasilnya. Sesungguhnya yg membedakan pemimpi dgn pemimpin adalah tindakan. Pemimpi menuai penyesalan. Pemimpin menuai sukses!

Jika Anda peduli dgn keberhasilan diri Anda dan keberhasilan orang lain silakan tulisan ini di-share.