About ekoharsono

Just a simple person....that's all

Balada Pematang Sawah (Konteks Parenting, tentang anak memahami orangtua)

Yeti Widiati – Psikolog Paradigma
February 28 at 8:52am ·

BALADA PEMATANG SAWAH
(Konteks Parenting, tentang anak memahami orangtua)

Anak-anak kota besar sekarang mungkin tidak terlalu tahu dan akrab dengan pematang sawah. Hanya anak-anak yang tumbuh dekat sawah yang tahu tentang pematang sawah ini. Oleh karena itu analoginya perlu disesuaikan bagi anak-anak yang kurang akrab dengan pematang sawah.

Ini analogi yang saya gunakan ketika bercerita pada anak saya yang waktu itu masih duduk di sekolah dasar kelas 4 atau 5. Cara ini kadang saya gunakan juga kepada klien anak dan remaja. Penyampaian pesan sebetulnya dilakukan dalam bentuk diskusi/tanya jawab, sehingga setiap tahapan pesan yang disampaikan selalu perlu direchek apakah sudah dipahami dengan baik atau belum. Penyajian di sini dibuat dalam bentuk naratif, untuk mempersingkat.

“Kamu tahu kan sawah di dekat rumah eyang? Sawah itu ada pembatasnya, yang memisahkan satu petak sawah dengan petak yang lain. Pembatasnya itu disebut ‘pematang.’ Seperti jalan setapak namun terbuat dari tanah. Kalau kita berjalan di pematang, maka hanya bisa satu orang yang berjalan di situ. Orang lain harus berjalan di belakangnya.

Nah kalau ada satu regu pramuka berjalan beriring di pematang sawah. Maka yang paling depan adalah dia yang paling dulu merasakan, apakah jalannya licin, berlubang, berbatu, dsb. Ia akan memberi tahu teman di belakangnya agar temannya bersiap-siap menghadapi jalan tersebut.

Adakalanya, orang yang paling depan jatuh karena tergelincir, dan karena ia merasa sakit akibat jatuh tersebut, dan tak ingin teman-temannya mengalami hal yang sama, maka ia pun melarang temannya untuk melalui jalan tersebut dan mengajaknya memutar, atau memegangi tangan temannya agar tak jatuh terpeleset.
Menurut kamu, kira-kira, apakah kamu akan mengikuti peringatan dari orang yang paling depan yang sudah pernah melalui jalan tersebut? Ya, kamu akan ikuti karena kamu tahu bahwa orang tersebut sudah merasakan jatuh atau sudah memiliki pengalaman, karena ia jalan lebih dahulu dari kita.

Nak, begitu pula dengan hidup di dunia ini. Orangtua kamu seperti pemimpin pramuka yang berjalan paling depan. Pematang sawah itu seperti perjalanan hidup manusia. Sekalipun orangtua tidak selalu lebih pandai dari anaknya, tapi yang jelas dia sudah berjalan lebih dahulu dalam perjalanan hidup ini dibandingkan anaknya. Sehingga ia sudah mengalami lebih banyak pengalaman dalam hidup dibanding anaknya.

Seperti pemimpin pramuka yang memberi tahu jalan di depannya kepada anggota yang berada di belakangnya, maka seperti itu juga orangtua memberi nasihat kepada anaknya.

Nak, oleh karena itu, ketika orang tuamu mengajak kamu untuk melalui jalan seperti yang mereka tempuh. Belum tentu karena orangtua ingin kamu menjadi mereka. Tapi boleh jadi karena orangtuamu pernah punya pengalaman yang baik dan ingin agar kamu merasakannya juga.

Dan ketika orangtua kamu melarang kamu melakukan sesuatu, bukan karena mereka ingin menyakiti atau mengurangi kesenanganmu. Tapi boleh jadi karena mereka sudah pernah lebih dahulu tergelincir. Dan karena cinta mereka kepada kamu, mereka tak ingin kamu mengalami sakit dan penderitaan yang sama.
Kadang-kadang keinginan dan cinta yang begitu besar dari orangtua untuk menyuruh dan melarang anaknya membuat orangtua terkesan seperti memaksa. Percaya deh, bahwa sebetulnya orangtua sangat mencintai anaknya, namun adakalanya mereka tidak tahu cara yang terbaik untuk mengungkapkannya.

Maafkan ya …. “

Advertisement

Destiny of Indonesia

Ust Harry Santosa

Tiada yang kebetulan di muka bumi, semua pasti dan selalu ada maksud penciptaannya…

Apakah kebetulan jika Indonesiamu mirip syurga hijau yang memasok 80% Oksigen dunia?
Apakah kebetulan jika Indonesiamu mirip miniatur dunia dengan ribuan suku, bahasa dan tradisi?
Apakah kebetulan jika Indonesiamu mirip miniatur dunia dengan kepulauan yang sebagian besarnya lautan?
Apakah kebetulan jika Indonesiamu dilingkari sabuk gunung berapi sirkum mediteran dan sirkum pasifik?
Apakah kebetulan jika Indonesiamu adalah pertemuan 2 Benua dan 2 Samudera?
Apakah kebetulan jika Indonesiamu terletak di Khotul-Isthiwaa?
Apakah kebetulan jika Indonesiamu dihuni oleh agama2 besar dunia lalu rukun semuanya?
Apakah kebetulan jika Indonesiamu diberi anugrah ribuan tradisi dan budaya serta kearifan2 yang mempesona?
Apakah kebetulan jika Indonesiamu berpenduduk besar dan banyak lagi produktif?
Apakah kebetulan jika Indonesiamu sangat menyukai silaturahmi, gotongroyong dan bertoleransi?
Apakah kebetulan jika Indonesiamu itu diberikan kekayaan keanekaragaman hayati, flora dan fauna yang keren?
Apakah kebetulan jika Indonesiamu dikaruniai gudang energi terbarukan masa depan berlimpah?
Apakah kebetulan jika Indonesiamu diberi sejarah panjang perjuangan dengan ribuan bahkan jutaan pahlawan?
Apakah kebetulan jika Indonesiamu diamanahkan kepadamu dgn kelahiranmu di atas tanah dan airnya?

Apakah kebetulan jika ada begitu banyak kebetulan?
Tentu itu semua bukan kebetulan,
Ada begitu banyak keistimewaan, keunikan dan kekhasan Indonesiamu…
Tentu ada maksud Tuhan memberikan Indonesia sedemikian istimewa, unik dan khas.
Sesungguhnya semua keistimewaan, keunikan, kekhasan dsbnya adalah Misi Penciptaan Indonesia…
Misi yang menjelaskan mengapa Indonesia harus ada di muka bumi…
Misi yang menjelaskan mengapa kita lahir dan hidup di Indonesia…

Mari berhenti melihat keburukan dan kelemahan Indonesia kita, karena tiada negeri yang Allah ciptakan dalam keburukan dan kelemahan…
Mari melihat dan berfikir tentang potensi kekuatan berupa keistimewaan, keunikan dan kekhasan Indonesia kita sbg takdir peran peradaban bagi dunia kita…
Mari hebatkan semua potensi Indonesiamu sebagai wujud kebersyukuran tiada tara..

Namun ingat…
Itu bukan bagaimana Indonesiamu hendak menguasai dunia…
Itu bukan tentang Indonesia Raya yang membentang dari Campa Vietnam sampai Papua New Guinea…
Itu bukan tentang eksploitasi alam besar2an atas nama kesejahteraan rakyat…
Itu bukan bagaimana Indonesiamu hendak menjadi macan atau naga di dunia…
Itu juga bukan tentang alasan mengapa kita harus cinta pada Indonesia.
Itu semua tentang bagaimana Indonesiamu hendak memberi manfaat sebesar-besarnya bagi dunia.
Itu semua tentang bagaimana Indonesiamu mampu menebar rahmat seindah-indahnya bagi dunia
Itu semua tentang bagaimana Indonesiamu hendak menjalani misi dan tugas penciptaannya di dunia
Itu semua tentang takdir dan panggilan hidup Indonesiamu. Destiny of Indonesia!

Sadarkah kita,
Jika dunia kini menunggu peran Indonesiamu?
Jika Palestina dan bumi2 terzhalimi lainnya menanti peran Indonesiamu?
Jika krisis alam dan pemanasan global menanti peran Indonesiamu?
Jika kiamat kehancuran bumi tergantung peran Indonesiamu?
Jika krisis kemanusiaan dan perselisihan juga menanti peran Indonesiamu?
Jika dunia kini menanti peran2 spesifik yang signifikan dari peran Indonesiamu?

Mari kita kuatkan tekad untuk membangkitkan semua keistimewaan, keunikan, kekhasan Indonesia kita
Mari kita rancang bangun pendidikan yang mampu menghebatkan semua karunia dan misi keberadaan Indonesia di muka bumi menuju peran peradaban Indonesiamu
Mari kita gali dan sinergikan semua potensi itu menuju peran peradaban sbg takdir Indonesiamu.

Mulailah dari dirimu dan anak2mu.
Mulailah dari rumahmu
Mulailah dari desamu
Mulailah dari komunitasmu
Mulailah dari rumah2 ibadahmu
Mulailah dari fikiran dan perasaanmu
Mulailah dari nalar dan mentalmu.

Segera mulailah sebelum destiny itu dicabut Allah SWT dari Indonesiamu

Salam Pendidikan Peradaban

Hakekat Pernikahan #4

Ustadz Harry Santosa

Seorang suami yang telah menikah lebih dari 10 tahun, ketahuan oleh istrinya selingkuh. Betapa menyakitkan, sambil menangis terisak istrinya menceritakan kepada saya, betapa pengorbanannya selama ini, pontang panting membantu membiayai nafkah keluarga termasuk membiayai kuliah S2 suaminya sampai berhasil mengambil spesialis, ternyata balasannya hanya perselingkuhan yang menyakitkan.

Sang istri tak habis fikir, pengorbanannya seolah sia sia, mengapa suaminya tega mengkhianatinya, padahal ia selalu setia membantu, menghabiskan uang tabungannya, berusaha mencari uang walau harus babak belur demi agar suaminya selesai kuliahnya dan tercapai cita citanya. Kini sakit sekali, rasanya ia ingin kabur, lari dari pernikahannya, tapi kemana. Keberatannya hanya satu yaitu anak, andai tidak ada anak, sudah pasti sudah pergi entah kemana.

Begitulah, bantuan kepada suami tak selalu menjadi kebaikan walau diniatkan sebagai kebaikan. Bantuan yang terus menerus kepada seorang suami yang kurang tangguh, akan membuatnya semakin lemah dan goyah, lalai dan terlena,

Pada jangka panjang malah membuatnya kehilangan identitas dan harga dirinya atau peran fitrab keayahannya, lalu segala hal yang menyimpang dari fitrah pasti akan memunculkan perilaku dan akhlak yang buruk, misalnya berkhianat atau selingkuh untuk mencari harga diri di luar sana, kecanduan game/pornografi, depresi dan frustasi, semakin egois walau semakin peragu dstnya.

___

Seorang suami yang telah menikah belasan tahun, dan berkarir cemerlang selama belasan tahun, tiba tiba bermasalah dengan atasannya, lalu ia mengalami PHK. Ternyata peristiwa itu membuatnya susah bangkit, berkali kali interview selalu gagal. Padahal dengan pengalaman bekerja di perusahaan internasional belasan tahun dengan jabatan bagus seharusnya tak sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan, ternyata tidak.

Ternyata ia tak tangguh walau pintar. Sepanjang hidupnya ia tak pernah gagal, sejak kecil selalu juara, kuliah di PTN papan atas, lalu bekerja dengan karir mulus. Ia tak pernah ditempa untuk tangguh dan tak siap mengalami kegagalan, ia hanya dipersiapkan untuk berprestasi di sekolah.

Sang istri kebetulan orang kaya, orangtuanya tuan tanah di daerahnya, lalu menolong suaminya dengan membuatkan sebuah perusahaan dan menempatkan suaminya sebagai direktur utama. Apa yang terjadi, masalah tak selesai, bahkan pertengkaran setiap hari!

Sang istri heran, ia merasa sudah banyak membantunya, tak pernah menuntut nafkah, namun suaminya nampak tak bersemangat dan kinerja perusahaannya buruk. Bahkan perilakunya kepada dirinya juga semakin hambar dan tak menyenangkan bahkan semakin sangat egois.

Ketika saya interview suaminya, suaminya mengatakan bahwa ia merasa dijebloskan dan diberi beban berat mengurus perusahaan. Setiap hari dirasakan berat untuk melangkah kerja di perusahaan tsb. Bahkan sudah menyentuh harga dirinya sebagai lelaki dan ayah, apalagi semua fasilitas yang diberikan adalah pinjaman dari mertuanya yang kaya raya itu.

Begitulah seringkali kita tergesa membantu dan memberikan solusi kepada pasangan, namun bukan solusi yang sebenarnya dibutuhkan, sehingga bahkan dianggap beban dan menjadi masalah baru.

___

Teman teman yang baik,

Tentu saja membantu pasangan adalah sesuatu yang baik, namun bantuan istri kepada suaminya jangan sampai tanpa sadar melemahkan atau menggerus peran kesuamian dan peran keayahannya, termasuk menggerus fitrah keibuan dan keistrian. Rumah tangga memang tempat berkolaborasi suami istri, namun jangan sampai meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya (zhalim), maksudnya tetap ada adab berupa hirarki dalam peran keayahbundaan.

Harus ada pemisahan peran yang jelas walau dikerjakan bersama. Ada responsibility, ada accountable, ada inform dstnya. Di era posmo, hirarki ini dihilangkan, semua untuk semua, suami boleh jadi istri, istri boleh jadi suami, walhasil segala sesuatu yang tidak bergerak pada garis edarnya, tentu akan merusak keseimbangan dan keharmonian mikro maupun makro kosmos.

Keluarga atau pernikahan adalah ayat ayat Allah, bukti kebesaran Allah, juga perjanjian besar (mitsaqon gholizhon) yang merupakan peristiwa besar peradaban, maka peran peran di dalam pernikahan harus ditempatkan sesuai fitrahnya atau maunya Allah agar harmoni dan seimbang.

Tidak membantu suami dalam menutupi tanggungjawabnya, seperti finansial atau nafkah, membuat misi keluarga, grand design pendidikan keluarga termasuk mendidik anak dll bukan berarti seorang istri tak boleh berkontribusi, berbisnis, berkarir dan menghasilkan pendapatan, silahkan saja, namun sekali lagi jangan sampai menggerus fitrah keibuannya dan juga fitrah keayahan suaminya.

Sebagamana dibahas sebelumnya bahwa penyebab runtuhnya sebuah pernikahan adalah ketiadaan misi pernikahan yang jelas, ketiadaan petajalan bersama untuk memberikan sebesar manfaat bagi ummat yang membuat cinta mereka semakin merekah indah sehingga Allah menjadi ridha dan merekapun ridha. Umumnya yang ada adalah obsesi duniawi yang merobohkan bangunan cinta yang rapuh sejak berdirinya karena berdiri di atas fondasi yang rapuh.

Namun ada penyebab runtuh yang kedua yaitu keidakmampuan untuk saling mencahayakan, termasuk ketidakmampuan mengurai masalah yang menghalangi merekahnya cahaya fitrah masing masing, sehingga yang terjadi adalah kekusutan yang disebabkan akumulasi masalah yang tak pernah bisa diurai dengan baik. Kekusutan dalam jangka panjang menjadi penyebab perpisahan.

Langkah Langkah Membantu Pasangan untuk kembali kepada Fitrahnya.

Jika suami nampak kurang tangguh, bantulah ia untuk bangkit, bantulah ia untuk mampu memerankan peran sejati keayahan dan kesuamiannya. Jangan tergesa membantu sebelum menggali mendalam apa sesungguhnya akar masalahnya dan akar potensi kebaikannya. Makin dalam menggali dan menemukan akarnya maka makin tajam solusinya. Makin tergesa memberi solusi, maka makin melebar masalahnya.

Sebelum memulai langkah teknis berikut, maka perlu untuk menyadarkan suami, bahwa hak suami dan hak istri untuk berbahagia dan berkualitas hidupnya. Menempatkan dan menjalankan peran sesuai fitrahnya justru akan mendatangkan rezqi dan keberkahan yang berlimpah. Jika sulit menyadarkan, gunakan tekanan keluarga besar, orang yang berpengaruh dan ahli yang disegani.

Langkah langlah yang bisa dilakukan berdua, baik istri kepada suami, atau suami kepada istri, melalui interview mendalam dengan menurunkan ego serendahnya.

Langkah 1. Emphatize, tanyakan dengan halus dan santun apa yang dirasakan, apa yang membuat frustasi, apa yang diharapkan dll lakukan ini untuk setiap aspek fitrah. Digali akar penyebab, penghalang dan pemicunya.

Langkah 2. Define, simpulkan dan ambil benang merah, apa sesungguhnya kebutuhan terdalamnya, penghalang terbesarnya dan pemicu bangkitnya

Langkah 3. Ideate, tuliskan idea2 solusinya utk memenuhi kebutuhannya, menghilangkan penghalangnya, dan memanfaatkan atau memunculkan pemicunya. Pilih yang paling mudah dan berimpak besar. Idea ini bisa juga melibatkan solusi yang harus dilakukan istri.

Langkah 4. Prototype, detailkan ideanya, sehingga menjadi rancangan program atau proyek atau kumpulan aktifitas plus tahapan tahapannya utk 6 bulan sampai setahun ke depan

Langkah 5. Confirmation, konfirmasikan dengan suami untuk sempurnakan program

Langkah 6. Commitment and Discipline. Komitmen bersama dan laksanakan dengan disiplin

Langkah 7. Evaluate and Corrective Action. Sepanjang proses atau pelaksanaan program lakukan evaluasi dan jangan khawatir apabila ada koreksi untuk perbaikan atau perubahan aktifitas sepanjang disepakati

Langkah 8. Tawakal dan berharap Taufiqullah

Begitulah pernikahan, tempat untuk saling mencahayakan fitrah agar kembali kepada kesejatian peran atas fitrahnya, bukan tempat saling komplain atau bahkan saling menutupi kezhaliman atau menutupi kelemahan dalam menjalankan peran atas fitrahnya.

Semoga bermanfaat

#fitrahbasedlife
#fitrahworldmovement

Hakekat Pernikahan #3

Ustadz Harry Santosa

Seorang perempuan yang sangat hebat dalam karir, bertanya pada seorang Ulama, “Bagaimana saya harus taat dan tunduk pada satu lelaki di rumah, sementara saya memimpin 1000 lelaki di kantor?” .

Ulama yang bijak ini menjawab dengan tenang, “Di dalam Islam ada Adab suami dan istri, diantaranya adalah istri harus taat dan tunduk kepada suami. Jika anda merasa perempuan hebat, maka menikahlah dengan lelaki yang lebih hebat dari anda atau memahami kehebatan anda, sehingga ia bisa menghargai kehebatan anda dan anda bisa patuh dengan ikhlash”

Ada seorang suami curhat kepada saya, dengan menangis ia mengatakan bahwa istrinya belakangan ini sering merendahkannya, kesalahan kecil saja dari suaminya membuat istrinya sering kalap, memaki maki dan selalu mengulang ngulangnya. Cacian dan makian kerap keluar dari mulut dang istri. Goblok, tolol dsbnya.

Usut punya usut ternyata sang suami bekerja freelance atau bisnis serabutan, sementara sang istri bekerja di perusahaan mapan dengan gaji besar. Sang istri sudah sejak lama ingin resign, fitrah keibuannya gelisah, ingin membersamai anak anaknya, sementara ritme kerja yang hectic di perusahaannya semakin membuatnya stress.

Walau disepakati bersama, namun sang istri seperti terperangkap karena keluarga mereka masih memiliki cicilan rumah yang harus dibayar setiap bulan dan besarannya tidak bisa dibayar oleh gaji suaminya. Inilah pemicu kemarahan yang tak wajar pada suaminya.

Hari ini jargon kesetaraan gender disuarakan terus seolah suami boleh jadi istri dan istri boleh jadi suami, tiada hirarki siapa imam dan siapa makmum di rumah. Cara pandang yang aneh, padahal secara alamiah, dalam hal yang paling sederhana sekalipun, dalam perjalanan misalnya, maka perlu ditunjuk siapa pemimpin dan siapa yang dipimpin, termasuk pembagian peran yang jelas.

Belum lagi arus ekonomi konsumtif, yang membuat suami dan istri, harus keluar rumah mencari nafkah agar bisa mencicil rumah dan gaya hidup perkotaan yang serba instan berbayar. Anak anak tinggal dititip ke sekolah mahal yang dianggap kualitas berbanding lurus dengan kemahalan. Padahal mahalnya biaya sekolah hanya buat kemegahan gedung bukan kualitas guru dan pemberdayaan orangtua.

Tiada lagi pembagian peran ayah bunda dalam makna peran peran hakiki sesuai fitrahnya, yang ada adalah pembagian cicilan semata. Semua cicilan dibagi rata atau dibagi berdasarkan besaran gaji, yaitu yang gajinya besar membayar cicilan yang besar dsbnya. Yang gajinya lebih besar, bisa berperan lebih besar dan boleh banyak mengatur. Kiblat dan orientasinya serba materi.

Hal di atas, dan masih banyak lagi penyebab lainnya, seperti sistem pendidikan maupun pendidikan rumah yang tak pernah mempersiapakan anak lelaki menjadi ayah sejati atau anak perempuan menjadi ibu sejati sesuai fitrahnya dll, menyebabkan rumah tangga kehilangan hirarki peran dan posisi. Tent1u saja sudah bisa dibayangkan bahwa keluarga keluarga seperti ini sangat rapuh dan rentan berpisah. Rasa hormat pada suami atau rasa sayang pada istri, hanyalah basa basi semata, intinya adalah materi.

Sebagai contoh di Jepang, walau juga banyak kelemahan di sana sini, namun kita mengenal Jepang dengan masyarakatnya yang sangat tertib dan teratur serta disiplin, dengan pembagian peran sangat penting sehingga tatanan masyarakat dapat harmoni.

Dalam rumah tanggapun demikian, ayah berperan dalam ruang publik, sementara ibu berperan dalam ruang domestik. Karenanya akan dianggap aneh atau tabu di sebagian besar masyarakat Jepang, apabila ada perempuan yang sudah punya anak kecil bekerja di ruang publik. Ada istilah yang disematkan yang membuat mereka malu menyandangnya, sebagai ibu yang aneh, punya anak kecil tapi berkarir.

Jadi ada saatnya kapan seorang ibu bekerja di ruang publik baik fulltime atau partime, yaitu tergantung pada usia anak. Jika masih balita tentu ibu full time di wilayah domestik, jika anak beranjak besar dan bersekolah bolehlah para ibu mengambil partime untuk peran di ruang publik, dengan catatan harus ada di rumah sebelum anak dan suami tiba di rumah. Tradisi seperti juga semakin berat dipertahankan dengan serbuan pemikiran barat dan era posmo yang menghilangkan hirarki dalan semua lini.

Dalam perspektif inilah sebenarnya penting mempersiapkan diri untuk menikah muda, agar ketika anak sudah mandiri dan mentas di usia 15 tahun, maka ayah dan ibu, jika menikah di usia 20, maka saat ini masih usia 35 tahun dan bisa lebih aktif dan fokus di ruang publik.

Peran Keayahan dan Peran Kebundaan

Keharmonian terjadi ketika masing masing memahami peran spesifiknya sesuai fitrah dan secara disiplin memainkan perannya dengan baik. Bagai pilot dan copilot, selain harus memiliki petajalan yang jelas, juga masing masing harus menyadari peran spesifiknya.

Ada contoh yang pernah saya tulis, tentang film internship. Walau disepakati, misalnya ayah sepakat untuk jadi ayah rumahtangga yang sehari hari mengurus urusan domestik, sementara juga disepakati istri berkarir atau berbisnis karena dianggap lebih bersinar, pada kenyataannya sering menyebabkan perselingkuhan dan kegalauan pada kedua belah pihak, karena menyalahi peran atas fitrahnya.

Maka agar pernikahan langgeng, sangat penting bagi ayah dan bunda, atau suami dan istri memahami peran peran nya selaras fitrah.

Ayahlah sang Imam, yang harus menjadi lelaki sejati yang memiliki misi besar perjuangan yang ajeg bagi keluarganya. Ayahlah a man of mission and vision. He finds the mission, shows the mission and lead the mission. Kebahagiaan seorang ayah adalah apabila ia mampu memerankan peran leader yang punya misi dan narasi jelas bagi keluarganya.

Bundalah sang makmum, yang harus menjadi perempuan sejati yang memiliki kesetiaan dan ketulusan untuk mendukung misi perjuangan sang suami dengan segenap jiwa raga. Bundalah yang harus menerjemahkan misi suaminya itu ke dalam value keseharian di rumah, bahkan sampai kepada perancangan kurikulum bagi anak anak suaminya agar kelak anak anak suaminyz bisa melanjutkan misi perjuangan ayahnya. Kebahagiaan hakiki seorang ibu apabila mampu memerankan peran follower bagi perjuangan suaminya.

Ketika peran ini dimainkan dan diperankan dengan baik dan disiplin, maka cinta suami kan tak bertepi pada istrinya, begitupula sebaliknya, kebanggaan dan hormat akan melimpah dari istri kepada suaminya.

Teladan terbaik tentu saja ada pada Keluarga Ibrahiem AS, silahkan dalami peran keayahan Nabi Ibrahiem AS dan peran kebundaan dari bunda Hajar istrinya.

#fitrahbasedlife
#fitrahworldmovement

Hakekat Pernikahan #2

Ustadz Harry Santosa

Banyak istri mengeluh suaminya nampak “gersang” perasaan cinta pada dirinya bahkan mulai menyakiti perasaan maupun fisik. Banyak suami mengeluh, istrinya nampak tak lagi menghargai jerih payahnya, hanya menuntut, mulai nampak tak patuh atau tak setia dll.

Mengapa ada perselingkuhan? Mengapa ada riset di barat yang mengatakan Cinta dalam pernikahan akan memudar pada tahun ke empat atau ke lima dan berganti dengan kebosanan? Mengapa data statistik perceraian di Indonesia seolah membenarkan dengan membuktikan bahwa kasus perceraian terbanyak terjadi di tahun ke lima pernikahan dengan satu, dua orang anak atau terjadi di tahun ke sepuluh?

Cinta yang memudar sering dijadikan kambing hitam apabila terjadi perselingkuhan, seolah menjadi pembenar. Seharusnya mereka merenung, mengapa cinta yang besar bahkan menggebu gebu di awal pernikahan mengapa bisa memudar bahkan hilang sama sekali. Tiada lagi sentuhan dan tatapan juga senyuman yang mendatangkan “setrum listrik atau magnet” sebagaimana pada bulan bulan penuh madu di masa perkenalan maupun awal pernikahan.

Cinta sering dimaknakan sebagai rasa suka, jika makna cinta seperti itu jelas saja cinta akan memudar ketika rasa suka sudah terpuaskan dengan kepuasan fisik dan kepuasan perasaan. Sepertj orang yang kangen makanan favorit, semua rasa kangen sirna ketika kepuasan lidah, perut dan rasa sudah tuntas. Begitupula sebagaimana baju yang kita kenakan, masa lima tahun sampai sepuluh tahun adalah masa yang cukup untuk membuat lusuh dan bosan.

Sungguh kesalahan fatal dalam pernikahan ketika memaknai Cinta sebagai rasa suka. Di sisi lain, cinta sering dimaknakan juga sebagai imbalan, misalnya jika suami memberikan cinta pada istri, maka istri akan patuh dan setia, begitupula jika istri patuh dan setia pada suami, maka suami akan cinta padanya. Lalu teori ini bingung sendiri, yaitu siapa yang memulainya? Cinta dulu atau Patuh dulu? Akhirnya saling menunggu atau memberi dengan harapan kembali, ini alamat kecewa pada akhirnya.

Ada teori lain yang cukup membantu, yaitu memahami bahasa cinta. Konon cinta pasangan akan merekah dan membuncah jika kita memahami bahasa cintanya. Kenali bahasa cintanya, maka kau kan dapatkan cinta pasanganmu. Walau ini nampak membantu namun tak permanen, pada suatu titik pasangan akan merasakan bahwa bahasa cinta dimainkan bahkan dimanipulasi apabila ada kebutuhannya saja.

Begitulah, kita kaya dengan teori teori barat yang lebih menyukai hal hal teknis untuk membina cinta. Bukan tak penting, namun sejujurnya, itu tak mengakar dan permanen. Krisis pernikahan bukan perihal kurang ilmu teknis tentang pernikahan, namun keliru tentang makna makna kunci atau ilmu hakekat hakekat dalam pernikahan, termasuk hakekat cinta.

Istri istri yang selingkuh, suami suami yang selingkuh itu bukan tak paham teori dan teknik teknik itu, bahkan tak jarang mereka adalah penceramah atau motivator pernikahan, lalu mereka frustasi dengan teori dan teknik nya sendiri lalu berkhianat.

Hakekat Cinta dalam Pernikahan

Cinta hakiki adalah kepastian atau keyakinan kepada suatu kebenaran tertinggi yang diyakini dan dicintai bersama suami dan istri, yang menyatukan keduanya dalam kebaikan, kemudian secara bersama bergandeng tangan untuk mewujudkannya sehingga melahirkan keberkahan bagi diri mereka juga ummat. Keyakinan atau kepastian itu dirasakan oleh Jiwa dan organ spiritual bernama Qalbu.

Islam membedakan antara cinta syahwati dan cinta imani. Islam menyuruh kita menemukan cinta sejati dari akar kehidupan yang paling kokoh yaitu cinta ilahi. AlQuran dan AlHadits menjembrengkan kabar kabar yang benar bagaimana cinta hakiki itu berlaku dan bekerja .

Temukan rahasia, mengapa lelaki lelaki hebat sepanjang sejarah, cintanya hebat pada istri nya. Setidaknyaa karena dua hal, yaitu lelaki hebat itu jelas misi hidupnya sehingga memerankan peran imamnya dengan baik. Lalu yang kedua, istri lelaki hebat itu adalah perempuan yang memerankan peran makmumnya, yaitu mendukung misi perjuangan suaminya dengan sepenuh kesetiaan dan kepatuhan. Maka cinta suami pada perempuan yang seperti ini tak bertepi.

Mereka bukan lagi saling mencintai karena alasan fisik atau alasan komunikasi atau alasan agar terbalas atau memanipulasi bahasa cinta agar mendapat kembalian cinta atau alasan duniawi lainnya, namun mereka menemukan alasan besar mengapa mereka harus tetap jatuh cinta bahkan melimpah pada pasangannya, yaitu keyakinan perjuangan bersama di jalan Allah, maka Allah padukan dan muliakan derajat cinta mereka.

#fitrahbasedlife
#fitrahworldmovement

Hakekat Pernikahan #1

Ustadz Harry Santosa

Beberapa Ibu yg sudah beranak curhat pada saya, mereka telah selingkuh, dan kini sangat menyesal, merasa berdosa dan bersalah pada suaminya juga anak anaknya apalagi pada Tuhan dan Orangtua, namun di sisi lain, mereka sulit menghilangkan perasaan yang telah mendalam pada selingkuhannya. Padahal Ia takut aibnya diketahui suaminya juga istri selingkuhannya itu. Ia ingin taubat, lepas dari semuanya…

Kalau para Ayah yang selingkuh biasanya tak pernah langsung curhat ke saya, kecuali dipaksa istrinya untuk menemui saya karena ketahuan dan pernikahan mereka terancam bubar. Kasusnya lumayan banyak, bahkan sampai ada yang selingkuhannya hamil. Hmm.. runyam bukan?

Teman teman yang baik,

Saya yakin bahwa di awal pernikahan, tiada manusia yang apabila fitrahnya baik, yang berniat untuk selingkuh atau khianat atau berlaku tak adil alias zhalim. Mereka pasti mendambakan rumah tangga yang harmonis dan bahagia, sakinah, mawaddah warrohmah dengan pasangan terkasih di sisinya sampai maut menjemputnya, khusnul khatimah bersama…

Namun dalam perjalanan pernikahannya itu, yang sering disebut sebagai bahtera yang mengarungi samudera luas, tentu tiada gelombang besar yang tak ditemui dan tentu tak semua badai yang dilalui itu kecil, pasti ada badai besar.

Dalam pasang surut gelombang dan badai itu, selalu ada alasan ego untuk melakukan hal hal yang mengkhianati perjanjian pernikahan, padahal perjanjian itu adalah perjanjian besar sebagai peristiwa besar peradaban yang harus dipegang sampai mati. Kitabullah menyebutnya Mitsaqon Gholizhon, setara dengan penciptaan langit dan bumi.

Ketahuilah atau ingatlah bahwa Pernikahan adalah ayat ayat Allah, ia suci, urusannya bukan sekedar sah atau legal standing dalam buku nikah, tetapi ia merupakan tanda tanda kebesaran Allah. Begitulah Islam memandang pernikahan, sebuah peristiwa kosmis ideal di alam semesta. Apabila kosmis ini terganggu maka terganggulah semesta.

Pernikahan adalah hakekat kehidupan itu sendiri, ia realita sosial yang merupakan kebenaran mutlak, sekaligus merupakan fondasi peradaban. Pernikahan itulah yang melahirkan cinta sejati, bukan sebaliknya yaitu cinta syahwati yang membawa pernikahan yang suci itu.

Karenanya penting untuk memahami dan meyakini Ilmu atau hakekat hekekat kunci dalam pernikahan, karena kemungkinan dua pertiga hidup kita ada di sana. Hakekat kunci kehidupan itu adalah hakekat penghambaan, hakekat kebahagiaan, hakekat cinta, hakekat Dien (karena pernikahan adalah setengah Dien dan harus menuntaskan separuhnya lagi), hakekat Fitrah, hakekat Tugas atau Misi Pernikahan, hakekat Peran KeayahBundaan dalam konteks fitrah maupun adab, hakekat Akhirat dstnya.

Umumnya kita lebih sibuk pada teknik teknik komunikasi, teknik membina cinta, teknik mengurus anak dll. Teknik itu dinamika yang harus juga dipelajari, namun tanpa menyadari dan meyakini makna makna atau hakekat kunci dalam kehidupan dan pernikahan, maka semua teknik atau cara itu hanya bagai fatamorgana, pacuan tak kemana mana.

Akibatnya, sehebat apapun teknik atau cara, sering ketika bahtera itu goyah, solusi yang dipilih malah membuat masalah baru yang mengkhianati perjanjian besar peradaban ini seperti selingkuh. Bahkan kadang solusi yang nampak islami dipilih, misalnya Poligami.

Padahal tiada syariah tanpa Adab. Memandang syariah juga sebaiknya dari cara pandang hakekat pernikahan di atas, termasuk tentang hakekat adil vs zhalim, bukan sekedar halal haram atau sunnah ga sunnah. Hakekat adil penting difahami dan diyakini agar kelak tidak menzhalimi diri dan orang lain.

Hakekat Misi Pernikahan atau Misi Keluarga

Diantara hakekat pernikahan, selain pernikahan merupakan ayat ayat Allah yang harus dijaga kesuciannya, dirawat fitrah fitrahnya agar berkembang sesuai tahapannya, dibina dengan adab sehingga indah dan berbahagia, juga harus ditemukan peran peradabannya atau misi pernikahannya.

Misi Pernikahan atau Misi Keluarga adalah kesadaran dan keyakinan berssma antara suami istri umtuk menemukan makna pernikahan dalam peradaban, yaitu apa yang akan diperjuangkan bersama di jalan Allah yang membuat jiwa dan cinta mereka semakin merekah dan menyatu menjadi cinta ilahi serta menjadi jalan bagi khusnul khatimah bersama menuju keridhaan Robbnya.

Ibarat bahtera, ia sudah jelas petajalannya, terang benderang rute perjalanannya menuju Allah, itulah hakekat misi pernikahan atau misi keluarga. Tanpa misi keluarga yang ajeg maka rumahtamgga mudah goyah, sebagus apapun teknik komunikasi antara pilot dan copilot, jika tak tahu rute pesawatnya, pasti menuai kegaduhan setiap saat dan semakin lama semakin mempengaruhi kejiwaan mereka

#fitrahbasedlife
#fitrahworldmovement

Kapan Al Qur’an Mulai Diajarkan

Featured

Ust Harry Santosa

Umur Berapa Saya Ajarkan Anak-Anak Saya Quran? – Nouman Ali Khan – Gulf Tour Q&A
Judul asli: What Age Do I Teach My Child Quran? – Nouman Ali Khan

Ada pertanyaan bagus dari seorang Ibu di Gulf Tour yang bertanya, “Kapan anak saya perlu belajar bahasa Arab?
Anak saya 2,5 tahun. Kapan saya harus mengajarnya gramatika bahasa Arab, Qur’an, tajwid dan hafalan? Saya ingin ia dibesarkan dengan Al Qur’an.”

Sangat indah niat anda untuk ajarkan anak anda Qur’an. Tapi, dia baru berusia 3 tahun. Santai saja, Bu.

Kita ingin mereka untuk miliki setiap… Apa yang Anda lakukan pada usia 3 tahun? Anda tak ingat. Bahkan Anda tak ingat pernah memakai sepatu terbalik. Anak-anak berada pada fitrah mereka. Fitrah mereka sangat indah. Biarkanlah mereka.

Ajarkan dengan kasih sayang. Sebagian dari mereka lebih berbakat. Mereka ingin belajar lebih cepat. Berikan kesempatan itu. Sebagian anak ingin banyak bermain.
Biarkanlah mereka mengambil waktu mereka. Para orang tua harus belajar fleksibel dengan anak mereka. Tidak menetapkan standar yang sama. Tidak bandingkan satu anak dengan yang lain, terutama dalam Al Qur’an mereka.

Saya punya enam anak dan cara mereka hafalkan Qur’an berbeda. Cara belajar Qur’an mereka sama sekali tidak sama. Salah satu anak saya bisa menghafal dalam 5 menit. Sangat cepat menghafal, sangat mengagumkan. Anak saya yang lain menghafal yang sama selama satu bulan.

Saya tidak membandingkannya. “Mengapa kau tak seperti kakakmu?”

Saya tidak lakukan itu. Itu adalah zhulm (ketidakadilan), ‘uluwul (obsesi) dan menciptakan rasa benci pada agama. Karena buku (Al Quran) ini ayah saya lebih menyayangi kakak saya. Ini salah. Hentikan. Jangan terlalu tertekan karena anak-anakmu.

Allah tidak menginginkan anakmu menjadi hafidz, atau alim. Allah ingin anakmu jadi muslim yang baik. Allah ingin anakmu mencintai agamanya. Itu yang Allah inginkan. Jadi, santai saja.

Catatan lainnya, tentang anak-anak. Ada beberapa orang datang pada saya dan berkata, “Anak kami 5 atau 6 tahun. Kami tunjukkan video tentang tanda hari kiamat dan bicarakan Dajjal.”

Kenapa kau lakukan itu? Mengapa Anda bicarakan Dajjal dengan anak Anda? Anak Anda baru berusia 5 tahun. Itu membuat dia trauma. Saya sendiri takut membaca tentang Dajjal. Tak perlu diceritakan pada anak.

Anak-anak berada pada fitrah mereka. Anda tahu apa maksudnya? Saat ini mereka tidak bertanggung jawab atas kesalahan mereka. Mengapa Anda ingin buat mereka takut pada Allah di saat mereka tak perlu takut kepada Allah?
Takut kepada Allah diperlukan bagi mereka yang bertanggung jawab atas amal perbuatan mereka. Ya atau tidak?

Sekarang adalah waktu untuk menunjukkan pada mereka cinta, ampunan, rasa sayang dan karunia dari Allah. Cinta Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Tidak
tentang rasa takut, jahanam, hari kiamat, Dajjal dan perang besar… Tidak. Tunggu dulu. Bukan ini yang dibutuhkan anak-anak. Ini akan ciptakan trauma.

Jangan gambarkan agama mereka dengan mengerikan. Anak-anak akan takut. Jangan beralasan bahwa tak ada yang berkata positif pada mereka. Bukan begitu caranya.
Anda tak bisa tontonkan film horor pada seorang anak, lalu katakan tapi kami tunjukkan boneka beruang setelahnya agar masalah selesai. Anda tak bisa lakukan itu. Sangat merusak anak-anak.

Pada permulaan Anda perlu memelihara fitrah itu. Mereka sudah datang dengan cinta Allah. Itulah yang Allah tanamkan di dalam mereka. Pelihara rasa cinta itu, jangan gantikan dengan rasa takut. Rasa takut akan datang kemudian. Saat mereka semakin dewasa, lalu kita bisa bahas tentang tanggung jawab, akuntabilitas. Lalu kau ajarkan tentang hari kiamat, Dajjal pada usia itu.

Mengajarkan semua itu sebelum waktunya, menghilangkan semuanya. Sama dengan mengajarkan Al Quran dan apa saja yang lainnya. Buatlah semua sesuai dengan umur dan penuh rasa sayang. Pencapaian terbesar pada zaman kita,
Wallahi, mohon dengarkan dengan seksama. Pencapaian terbesar untuk anak di zaman kita, bukan banyaknya yang mereka pelajari. Banyaknya yang mereka pelajari tak berarti.

Maafkan jika terdengar seperti menyerang Anda, tapi semua itu tak berarti. Yang berarti adalah berapa besar mereka mencintai Rabb mereka, berapa besar mereka mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam mereka, seperti apa karakter mereka, sejujur apa mereka, semudah apa bagi mereka untuk mengakui sebuah kesalahan, seterbuka apa komunikasi dengan Anda,

Karakter mereka adalah yang terpenting. Bukan ilmu mereka. Ilmu itu dangkal. Hanya untuk ditunjukkan pada orang lain. Saya tidak mengatakan ilmu tidak penting. Tapi, ilmu selalu yang kedua setelah karakter. Selalu akan jadi yang kedua setelah karakter.

Sekarang saatnya memelihara karakter itu, memelihara kepribadian itu, dengan sedikit ilmu pada perjalanannya. Banyak anak yang menghafal Al Quran pada usia dini tanpa karakter, dan itu bukan salah mereka.

Yang ditekankan pada mereka hanya menghafal Al Qur’an. Anak-anak ini akan berbohong, nakal, mereka menghina teman mereka yang tidak menghafal secepat mereka, semua yang tak harusnya dilakukan muslim mereka lakukan, tapi karena mereka hafal Qur’an jadi kebanggaan masyarakat kita.

Apa yang telah kita lakukan? Kita menekankan apa yang tidak Allah tekankan dan kita mengabaikan yang Allah tekankan. Tapi, kita mengaku bahwa kita menjalani deen (agama) kita. Kita harus menyeimbangkan kembali. Ilmu memiliki tempat, karakter juga memiliki tempat. Keduanya harus seimbang. Harus diseimbangkan.

Semoga Allah Azza wa Jalla berikan kita kedewasaan dan rasa untuk besarkan anak kita dengan pemahaman agama yang benar, pendekatan pada deen yang seimbang, penuh kasih sayang, sehingga mereka tidak berbelok dan menemukan yang dicintai selain Islam. Mereka tahu banyak tentang Islam, tapi cinta mereka untuk yang lain.

Ajarkan Agama dengan Rileks

Adriano Rusfi

Miris rasanya menyaksikan anak-anak para aktivis yang tak menunjukkan komitmen yang kuat terhadap agamanya.Merokok, pacaran, pamer aurat, menggunakan narkoba,
homoseks, hamil di luar nikah, gangster, bahkan atheis, bukan lagi barang langka. Benar-benar tersentak ketika membayangkan siapa orangtua mereka dengan segala kiprahnya dalam dakwah.

Apakah orangtua mereka lalai mendidik mereka dengan agama ? Sama sekali tidak !!! Mereka bukan saja sangat serius mendidik anak-anak mereka dengan Al-Islam, bahkan ketat dan keras. Beberapa diantara anak-anak mereka malah telah masuk pesantren sejak usia sangat dini, berjilbab tak lama setelah lahir sebagai perempuan, masuk Islamic Fullday School, hafal Juz ‘Amma sebelum 7 tahun, hafal Hadits Arba’in Annawawiyyah ketika masih TK, dan segudang “prestasi edukatif” lainnya.

Pergaulan anak-anak mereka sangat terjaga. Untuk itu mereka sengaja bikin komunitas sendiri, tinggal di kompleks perumahan yang sama dan sekolah di sekolah yang sama. Seorang anak berusia 3 tahun pernah dicubit bibirnya hingga berdarah oleh ibunya karena dari bibirnya keluar kata “Pacaran”. Tayangan-tayangan televisi di rumah mereka juga sangat terkontrol, begitu pula dengan bahan bacaan. Bahkan, ada yang mengharamkan televisi sama sekali.

Lalu, apa yang salah ?

Pertama, syari’ah dipandang sebagai sesuatu yang “given” dalam rumah tangga mereka. Karena telah dianggap terberi dan menjadi keseharian, maka tak perlu lagi ada penjelasan : apa, kenapa, bagaimana ? Anak diminta berjilbab tanpa ada penjelasan “kenapa ?”. Begitu pula tentang tauhid, akhlaq dan sebagainya. Akhirnya terbentuklah anak-anak yang bagaikan sebuah rumah yang indah namun pondasinya rapuh. KELIHATANNYA TELAH ISLAMI, PADAHAL HANYA TRADISI. Lalu, suatu saat mereka akan mencari momen yang tepat untuk MEMBERONTAK

Kedua, mimpi yang terlalu tinggi. Mereka memimpikan anak-anak yang tumbuh seperti para shahabat, atau shalafush-shalih, atau sekurang-kurangnya seperti Hasan AlBanna dan Syyid Quthb. Mereka bukan saja bermimpi menghasilkan anak-anak “beyond generation”, bahkan “above generation”. Lalu setelah itu para orang tua menjadi stres sendiri dengan mimpi yang dibuat, panik melihat kesenjangan antara “das sein” dengan “das sollen”. Mulailah anak diasingkan, kalau perlu disterilisasi melalui pendidikan antah-berantah. Apakah lahir anak shaleh ? Ternyata tidak. Yang terbentuk adalah GENERASI STERIL NAMUN TAK IMUN TERHADAP GODAAN DUNIA. Anak-anak itu bahkan tak diijinkan untuk menjalani COBAAN KEIMANAN.

Ketiga, Tadribusy-Syar’ie (pelatihan syari’ah) yang terlalu cepat. Allah dan RasulNya selalu benar, bahwa pelatihan syari’ah itu baru dimulai saat anak berusia 7 tahun. Dalam hal ini tak berlaku anggapan “lebih cepat lebih baik”. Tiba-tiba saja, atas nama agama, para orangtua telah merampas hak-hak anak yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka berjilbab sangat dini, belajar shalat sangat dini, menghafal hadits sangat dini. Padahal, Abdullah Nasih ‘Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Awlad telah menegaskan bahwa itu semua selayaknya dimulai pada usia 7 tahun. Akhirnya anak telah dirampas kebebasannya secara dini. Mereka bukan saja telah di-tadrib oleh orang tuanya, bahkan telah di-taklif jauh sebelum aqil-baligh. Pada saatnya kelak MEREKAPUN AKAN MENINGGALKAN SYARI’AH SEDINI MUNGKIN. Andai anak-anak itu kelak di Yaumil Mahsyar mengadu kepada Allah tentang HAK-HAK YANG DIRAMPAS ORANGTUANYA, bagaimana kita akan menjawabnya ?

Keempat, rumah tak lagi menjadi surga (baitii jannatii) bagi anak. Terlalu banyak aturan, terlalu banyak larangan, terlalu banyak kekangan. Ini bukan model rumah surgawi, tapi neraka. Akhirnya, anak tak berkesempatan menyalurkan naluri-naluri instingtifnya di rumah. Mereka tak punya ruang untuk meluapkan dan mengeluarkan “kejahiliyyahannya” di balik dinding rumah. Sebaliknya, di rumah mereka begitu santun, Islami, syar’ie, akhlaqi. Luar biasa. Nah, ketika mereka keluar dari rumah, mereka justru MEMAPAR AURAT DAN MENGUMBAR NAFSU DI LUAR RUMAH. Dunia publik akhirnya menjadi dunia di mana borgol dipatahkan dan
tirani dihancurkan.

Kelima, tidak ramah terhadap fitrah. Para orangtua yang aktivis biasanya sangat pro “ajaran langit” dan kurang peduli terhadap “realitas bumi”. Yang pertama kali terpikir oleh mereka saat akan mendidik anak adalah “Apa maunya Allah”,
bukan “apa maunya fitrah”. Padahal, toh fitrah manusia itu pada dasarnya Islami. Tampaknya, mereka kurang menguasai ayat-ayat insaniyyah (kemanusiaan) yang lebih dahulu turun di Makkah (yaa ayyuhan-naas…), dan lebih fokus kepada ayat ayat imaniyyah (keimanan) yang turun belakangan di Madinah (yaa ayyuhalladziina aamanuu…). Akhirnya, Islam yang sama sekali tak bertentangan dengan kemanusiaan itu, justru dihayati oleh anak sebagai sebuah kontradiksi : ISLAM VS EGO

Akhirnya, justru ketika para aktivis mendidik anaknya dengan ketat dan keras, yang lahir adalah anak-anak yang memberontak terhadap agamanya sendiri. Sedih membaca “Tagline” seorang anak dari “Syaikhul-Kabiir” di Facebook miliknya : Aku tak percaya pada Tuhan !. Seorang anak dari “assaabiquunal-awwaluun” harus mendapatkan perawatan psikiatrik. Di tempat lain, saya harus mengantarkan putra seorang senior pergerakan ke pondok rehabilitasi narkoba. Sedangkan anak dari seorang ustadzah kaliber nasional hobby betul melakukan bullying dan pemerasan terhadap teman-temannya. Kenapa tidak kita tanamkan Al-Islam ini dengan rileks dan manusiawi, untuk membentuk generasi yang targetnya tidak neko-neko : terbaik untuk zamannya???

(Segala puji bagi Allah yang telah membimbing anak-anakku sehingga seluruhnya menjadi aktivis Islam yang ceria)

Modal Sosial dan Trust Society

Jusman Syafii Djamal
January 15, 2019

Tadi malam saya sengaja ambil kesempatan menonton TV siaran langsung pidato Kandidat Presiden no 2 Prabowo Subianto di TV One. Sebelumnya juga saya menyaksikan pidato Presiden Jokowi sebagai kandidat no 1 di depån alumni ITB, UI, Gama dan Perguruan tinggi lain nya di GBK.

Buat saya kedua penampilan putra terbaik bangsa ini ini bikin kita punya optimisme tentang Indonesia masa depan. Buat intelektual berbasis keahlian sebagai teknolog seperti saya perbedaan style dan model pendekatan dalam menemukan solusi dan Inovasi terobosan amatlah penting muncul. Sebab dunia yang seragam dan monokultur serta regimented tak punya daya adaptasi terhadap perubahan zaman.

Karenanya perbedaan style of leadership dari kedua calon Presiden , sangatlah menyenangkan. Merupakan Rachmat dan Karunia tersendiri. Sebagai Bangsa kita perlu multi ide, banyak gagasan dan rame ing gawe, agar tak mundur dengan Kereta api Ekspress kata Bung Hatta.

Kita perlu membangun sebuah ekosistem dimana Demokrasi Politik berhasil mewujud menjadi pelbagai langkah kebijakan mengedepankan demokrasi Ekonomi untuk kesejahteraan bersama agar Inequality menyempit.

Sebab masalah utama masa depan yang dihadapi semua bangsa di dunia adalah kesenjangan yang melebar. Pertumbuhan ekonomi yang tak diikuti pemerataan. Growth without equity.

Dari penampilan kedua beliau selama ini, kita menyaksikan bahwa masing masing memiliki cara berbeda dalam mengedepankan kata Optimisme. Ada yang menggunakan pesimisme untuk membangkitkan semangat kejuangan sehingga optimisme lahir Ada yang mengatakan dengan tegas :”Jauhkan diri dari fikiran pesimis sebab kita tidak mungkin punah ditelan bumi”.

Meski beranjak dari persfektip berbeda, ke dua calon Presiden memiliki fikiran dan visi yang solid tentang masa depan NKRI. Tak ada keraguan bahwa kedua beliau baik Presiden Jokowi maupun Pak Prabowo sangat mencintai Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dua duanya Tidak menginginkan Indonesia menjadi tenggelam dan punah dalam arus perubahan zaman. Itu catatan saya setelah mencermatinya.

Memang pengalaman hidup yang berbeda serta latar belakang keluarga yang tumbuh dari environtment beraneka ragam telah membuat Style of leadership kedua beliau sangat lain. Model dan perspektif serta sudut pandang nya juga sedikit bervariasi.

Yang satu cenderung lugas dan action oriented tanpa Retorika. Action Oriented Leadership dengan Management by objective style. From Micro to Macro. From Infrastructure to Supra structure Human Resource Development. Sementara Yang satu lainnya mencoba mengembangkan retorika sebagai Solidarity Maker dengan visi yang jelas dan terukur pula.

Yang satu telah memiliki modal kerja lapangan sehingga tingkat keberhasilannya mudah diukur secara transparan dan akuntabel. Yang lain sedang menyusun rencana, Jika saja terpilih maka ini visi misi dan program kerja nya, begitu kuran lebih. Tetapi dua dua nya adalah Putera Terbaik Bangsa, yang lahir dari rahim Indonesia yang kita cintai bersama ini.

Kedua beliau akan melangsungkan debat pertama Kamis 17 Januari, pasti Amat menarik untuk disimak. Menangkap apa yang tersirat dibalik kata dan retorika. Mengukur mana yang feasible dan tepat memimpin Indonesia 2019-2024.

*********

Yang jelas saya kini tidak lagi merasa cemas. Harapan akan Pemilu yang berlangsung aman damai terkendali dan berlangsung jurdil jadi terang benderang. Sebab kedua Calon memiliki komitment yang sama dan sebangun.

Dari penampilan kedua beliau sebagai kandidat Presiden akhir akhir ini, jelas bagi saya ternyata kehidupan Demokrasi Indonesia yang berjalan sejak Reformasi 1998 (maaf tadi tertulis typing error’ 2018, dikoreksi bang Ilham Bintang ) telah melahirkan benih yang subur untuk lahirnya fikiran besar dan menyejukkan tentang masa depan Indonesia.

Apalagi Kita telah meliwati pelbagai krisis politik dan ekonomi paling tidak tahun 1945, 1959,1965,1999. Pelbagai Konflik telah mampu kita atasi. Ada modal sosial yang cukup besar bagi generasi masa kini untuk terus maju dan berjuang menjadikan Indonesia menjadi Bangsa Besar di Dunia.

Dalam banyak catatan saya, sering kali saya tergoda untuk ingin ikut menggunakan istilah bangkit kembali. Akan tetapi fikiran saya selalu bertanya :” emangnya bangsa Indonesia pernah tenggelam ? Emangnya sejak 1945 kita pernah pecah belah seperti Yugoslavia dan Balkan ? Pasti jawabnya tidak. Kita nyaris saja berkali kali dipinggir jurang.

Akan Tetapi kita berhasil lolos dari lubang jarum.

*******

Kita sering Jatuh tersandung batu kerikil perbedaan sudut pandang diantara nya, akan Tetapi kita selalu terus berhasil Bangun Kembali dan menemukan solusi yang indah untuk masa depan yang jauh lebih baik. Turbulensi, gelombang perubahan yang akhirnya dapat kita liwati sebagai suatu Bangsa. Jatuh Bangun Kembali begitu pesan Bung Karno dan Founding Father NKRI.

Mengapa ? Sebab utama nya tidak lain dan tidak bukan adalah kekuatan dan semangat Rakyat Indonesia untuk terus mencintai Indonesia sepenuh jiwa raganya. Kita sebagai Bangsa ternyata sangat memiliki spirit kejuangan dan daya adaptasi serta kelenturan dalam menghadapi semua badai perubahan zaman.

Lentur sepeti pohon bambu yang akar nya kuat dan selalu berdampingan hidup satu rumpun. Bhineka Tunggal Ika. Sebuah Modal Sosial yang amat bernilai tinggi telah tumbuh dalam benih fikiran setiap putera Puteri Indonesia

Spirit kejuangan dan modal sosial yang terbentuk dari pengalaman hidup dan jatuh Bangun sebagai satu Bangsa itu yang menurut hemat saya perlu terus dipupuk untuk menjadi tanaman yang subur.

Buahnya adalah spirit Siliwangi Silih Asih. Silih Asah dan Silih Asuh. Sharing experiences, saling berbagi emphaty dan kerja bersama membangun “Trust Society”.

Insya Allah.
Mohon Maaf jika keliru. Salam

Peran Wanita, juga berlaku pada Pria

Harry Santosa
December 30, 2018 ·

Wanita diperkenankan berperan dlm bidang kehidupan sesuai fitrah bakatnya, berperan menyeru kebenaran (da’iyah) atas fitrah keimanannya, berperan dalam komunitas sosial atas fitrah individualitas dan sosialitasnya, berperan memperindah dan mendamaikan dunia atas fitrah estetikanya dstnya, namun semua peran itu harus selalu dipadukan dgn peran keibuan mendidik generasi atas fitrah keperempuanannya.

Harap dicatat bahwa hal di atas juga berlaku pada Pria.

Keterpaduan antara semua peran itu menentukan derajat kebahagiaan dan kepuasan hakiki kehidupan seseorang di dunia dan di akhirat.

#fitrahbasedlife