Peran Wanita, juga berlaku pada Pria

Harry Santosa
December 30, 2018 ·

Wanita diperkenankan berperan dlm bidang kehidupan sesuai fitrah bakatnya, berperan menyeru kebenaran (da’iyah) atas fitrah keimanannya, berperan dalam komunitas sosial atas fitrah individualitas dan sosialitasnya, berperan memperindah dan mendamaikan dunia atas fitrah estetikanya dstnya, namun semua peran itu harus selalu dipadukan dgn peran keibuan mendidik generasi atas fitrah keperempuanannya.

Harap dicatat bahwa hal di atas juga berlaku pada Pria.

Keterpaduan antara semua peran itu menentukan derajat kebahagiaan dan kepuasan hakiki kehidupan seseorang di dunia dan di akhirat.

#fitrahbasedlife

Advertisement

Ciri Orang Besar Memulai

Ustadz Rahmat Abdullah

Pagi yang indah selalu dihadirkan Allah SWT untuk kita yang memiliki keterpautan hati dan bisa merasakan betapa besar Cinta-Nya pada hambanya. Mata yang masih bisa melihat Keindahan itu, udara yang masih bisa kita hirup, aliran darah dan denyut nadi yang masih bisa kita rasakan, menunjukkan jika kita masih diberi eksistensi oleh-Nya. Rasulullah SAW yang melihat umatnya dari syurga Firdaus-Nya, mendoakan kita yang tak kenal letih memperjuangkan risalah dakwah untuk kejayaan Islam di Bumi Allah ini. Semoga kelak kita semua dikumpulkan bersama Baginda Rasul dan para keluarga serta sahabat.

Terkadang kita ini terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri kita. Juga terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan selain diri kita, baik itu merupakan kesalahan, keburukan, maupun kelalaian. Namun ternyata sikap kita yang kita anggap kebaikan itu tidak efektif untuk memperbaiki yang kita anggap salah. Banyak orang yang menginginkan orang lain berubah, tapi ternyata yang diinginkannya itu tak kunjung terwujud. Kita sering melihat orang yang menginginkan Indonesia berubah. Tapi, pada saat yang sama, ternyata keluarganya “babak belur”, di kampus tak disukai, di lingkungan masyarakat tak bermanfaat. Itu namanya terlampau muluk.

Jangankan mengubah Indonesia, mengubah keluarga sendiri saja tidak mampu. Banyak yang menginginkan situasi negara berubah, tapi kenapa merubah sikap adik saja tidak sanggup. Jawabnya adalah: kita tidak pernah punya waktu yang memadai untuk bersungguh-sungguh mengubah diri sendiri. Tentu saja, jawaban ini tidak mutlak benar. Tapi jawaban ini perlu diingat baik-baik. Siapa pun yang bercita-cita besar, rahasianya adalah perubahan diri sendiri. Ingin mengubah Indonesia, caranya adalah ubah saja diri sendiri. Betapapun kuatnya keinginan kita untuk mengubah orang lain, tapi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, semua itu menjadi hampa. Setiap keinginan mengubah hanya akan menjadi bahan tertawaan kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Orang di sekitar kita akan menyaksikan kesesuaian ucapan dengan tindakan kita.

Boleh jadi orang yang banyak memikirkan diri sendiri itu dinilai egois. Pandangan itu ada benarnya jika kita memikirkan diri sendiri lalu hasilnya juga hanya untuk diri sendiri. Tapi yang dimaksud di sini adalah memikirkan diri sendiri, justru sebagai upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki yang lebih luas. Perumpamaan yang lebih jelas untuk pandangan ini adalah seperti kita membangun pondasi untuk membuat rumah. Apalah artinya kita memikirkan dinding, memikirkan genteng, memikirkan tiang yang kokoh, akan tetapi pondasinya tidak pernah kita bangun. Jadi yang merupakan titik kelemahan manusia adalah lemahnya kesungguhan untuk mengubah dirinya, yang diawali dengan keberanian melihat kekurangan diri.

Pemimpin mana pun bakal jatuh terhina manakala tidak punya keberanian mengubah dirinya. Orang sukses mana pun bakal rubuh kalau dia tidak punya keberanian untuk mengubah dirinya. Kata kuncinya adalah keberanian. Berani mengejek itu gampang, berani menghujat itu mudah, tapi, tidak sembarang orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri. Ini hanya milik orang-orang yang sukses sejati. Orang yang berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain, itu tidak istimewa. Sebab itu bisa dilakukan oleh orang yang tidak punya apa-apa sekali pun. Tapi, kalau ada orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang kekurangan itu secara sistematis, lalu dia buat sistem untuk melihat kekurangan dirinya, inilah calon orang besar.

Mengubah diri dengan sadar, itu juga mengubah orang lain. Walaupun dia tidak berucap sepatah kata pun untuk perubahan itu, perbuatannya sudah menjadi ucapan yang sangat berarti bagi orang lain. Percayalah, kegigihan kita memperbaiki diri, akan membuat orang lain melihat dan merasakannya. Memang pengaruh dari kegigihan mengubah diri sendiri tidak akan spontan dirasakan. Tapi percayalah, itu akan membekas dalam benak orang. Makin lama, bekas itu akan membuat orang simpati dan terdorong untuk juga melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini akan terus berimbas, dan akhirnya semakin besar seperti bola salju. Perubahan bergulir semakin besar.

Jadi kalau ada orang yang bertanya tentang sulitnya mengubah keluarga, sulitnya mengubah anak, jawabannya dalam diri orang itu sendiri. Jangan dulu menyalahkan orang lain, ketika mereka tidak mau berubah. Kalau kita sebagai ustadz, atau kyai, jangan banyak menyalahkan santrinya. Tanya dulu diri sendiri. Kalau kita sebagai pemimpin, jangan banyak menyalahkan bawahannya, lihat dulu diri sendiri seperti apa. Kalau kita sebagai pemimpin negara, jangan banyak menyalahkan rakyatnya. Lebih baik para penyelenggara negara gigih memperbaiki diri sehingga bisa menjadi teladan. Insya Allah, walaupun tanpa banyak berkata, dia akan membuat perubahan cepat terasa, jika berani memperbaiki diri. Itu lebih baik dibanding banyak berkata, tapi tanpa keberanian menjadi suri teladan. Jangan terlalu banyak bicara. Lebih baik bersungguh-sungguh memperbaiki diri sendiri. Jadikan perkataan makin halus, sikap makin mulia, etos kerja makin sungguh-sungguh, ibadah kian tangguh. Ini akan disaksikan orang.

Membicarakan dalil itu suatu kebaikan. Tapi pembicaraan itu akan menjadi bumerang ketika perilaku kita tidak sesuai dengan dalil yang dibicarakan. Jauh lebih utama orang yang tidak berbicara dalil, tapi berbuat sesuai dalil. Walaupun tidak dikatakan, dirinya sudah menjadi bukti dalil tersebut. Mudah-mudahan, kita bisa menjadi orang yang sadar bahwa kesuksesan diawali dari keberanian melihat kekurangan diri sendiri. Jadi teringat kutipan kata bijak dari sebuah buku seperti ini:

– Jadilah kau sedemikian kuat sehingga tidak ada yang dapat mengganggu kedamaian pikiranmu
– Lihatlah sisi yang menyenangkan dari setiap hal
– Senyumlah pada setiap orang
– Gunakanlah waktumu sebanyak mungkin untuk meningkatkan kemampuanmu sehingga kau tak punya waktu lagi untuk mengkritik orang lain
– Jadilah kau terlalu besar untuk khawatir dan terlalu mulia untuk meluapkan kemarahan
– Satu-satunya tempat dimana kita dapat memperoleh keberhasilan tanpa kerja keras adalah hanya dalam kamus.

Di awal tahun, awal bulan dan awal minggu (Jum’at adalah awal minggu bagi umat Islam), ayo kita semua mulai memperbaiki diri. Suatu karya besar selalu diciptakan oleh orang-orang yang berfikir besar. Namun perubahan besar pasti dimulai dari satu langkah kecil, dan itu dimulai dari diri kita masing-masing.

Wallahualam bishowab

Bahasa adalah Alat Berpikir

Wicak Amadeo

Bahasa bukan semata-mata alat komunikasi, gagah-gagahan dan meningkatkan gengsi penuturnya. Bahasa adalah alat berpikir, memecahkan masalah, beretika, menghaluskan budi dan tutur kata.

Oleh karenanya, tuntaskanlah pendidikan bahasa ibu anak-anak kita, sampai pada kedalaman gramatika dan keindahan sastra, melalui dialog, cerita, bacaan, pembacaan puisi di sore hari, atau berbalas pantun.

Tundalah dulu gairah mengajarkan bahasa asing bagi mereka, agar tak kacau pola logikanya, agar tak rusak budi bahasanya. Percayalah, saat bahasa ibu terkuasai, belajar seribu bahasa asing bukan hal sulit.

.

Bahasa adalah sebagai alat menalar, alat berpikir, alat memecahkan masalah, alat negosiasi, alat manajemen konflik, alat silaturahim, bahkan alat hidup. Maka dalam perspektif ini bahasa ibu harus dikuasai oleh anak kita secara mendalam : strukturnya, rasa bahasanya, intonasinya, makna tersiratnya, moralitasnya, sastranya.

Harus dikatakan, bahwa pembelajaran bilingual atau multilingual saat anak berada dalam periode pertumbuhan kognitif dan bahasa, akan mengacaukan segalanya. Tak akan mungkin kita dapati anak-anak yang cermat dengan pilihan bahasa seperti dialog Ibrahim as dan Ismail as yang kita kenal dan tercantum dalam kitab suci.

.

Belajar dari Khabib Nurmagomedov

Harry Santosa
October 8

Tanggal 6 Oktober 2018 kemarin, Khabib berhasil menghentikan sesumbar Connor McGregor, menyumpal mulut besarnya di ronde ke 4 dengan kuncian di leher dalam gelaran Ultimate Fighting Champion ((UFC) ke 229. Kemenangan telak ini justru di jantung pendukung McGregor yang fanatis, di Las Vegas, Nevada.

McGregor ditakuti banyak petarung, dijuluki The Notorius, ada juga yang menyebutnya The Warrior, bahkan kembalinya ia ke gelanggang UFC disebut sebagai kembalinya The King. Pengamat MMA menyebutnya sebagai the best strikes in the world. Semua pengamat menjagokannya, Khabib dipandang tak sekelas, bahkan Dana White founder UFC menyebut Khabib sebagai “kurang persiapan”.

Untuk melawan Khabib, konon McGregor dibayar 32 Milyar lebih. Pertarungan yang disebut sebut sebagai pertarungan UFC terbesar dan termahal sepanjang sejarah ini dengan kursi termahal 26 juta rupiah dan termurah 2 jutaan, justru sebenarnya bukan memberikan tontonan semata namun memberikan pelajaran yang mahal bagi kita. Mengapa?

Perang Kebencian McGregor

Sejak sebelum pertarungan, McGregor telah memulai perang kebencian. Gayanya yang perlente dan fashionable dengan gaya hidup milyuner, ia sering mengejek dan merendahkan Khabib. Sebenarnya bukan hanya pada Khabib, kepada semua lawannya juga demikian, ini memang strategi membuat lawan emosi sebelum bertanding.

Hampir semua lawan McGregor tumbang karena memakan pancingan emosi McGregor. Padahal ketenangan dibutuhkan dalam pertarungan apapun, dan kalap serta emosi adalah modal terhebat kekalahan. McGregor tahu betul rahasia ini sehingga dijadikan strategi kampanye perangnya.

Sejak sebelum kontrak ditandatangani, sampai kepada press conference, acara timbang badan bahkan sampai pre fight conference, strategi perang kebencian ini dilancarkan masif dan brutal.

Namun pada Khabib, perang ini nampaknya lebih brutal dilancarkan. McGregor dan team bahkan sengaja menggeruduk ke Chicago tempat Khabib dan team menyelenggarakan acara, menyerang membabi buta, melempar bis yang ditumpangi Khabib dengan penggotong barang beroda sehingga melukai 2 kru Khabib. Khabib tak melayani sedikitpun pancingan ini, ia tetap kalem.

Konferensi pers pertama, McGregor tampil membawa Whiskey, menawarkan Khabib minum Whiskey, menghina kampung halamannya, menghina ayah Khabib, melecehkan agamanya, menertawakannya dan melecehkannya sebagai “Dagestan Rats”. Khabib hanya senyum dan tetap tenang, ia tahu betul McGregor sedang mengorek ngorek hal hal paling sensitif.

McGregor mengatakan Khabib pengecut karena tak mau keluar dari Bis untuk menerima tantangannya. Khabib menjawab, saya tidak mau tawuran berkelahi di ruang publik. Khabib mengatakan mengapa McGregor tak mau membalas pesannya untuk memberikan lokasi (send me location) untuk adu tanding, orang bebas tawuran di Brooklyn.

Press Conference yang berisi ucapan sampah sumpah serapah ini tak membuatnya goyah, bahkan semakin membuatnya tenang. Ia katakan, “Allah bersama saya”. Ia juga katakan kepada McGregor, “Saya heran, apa yang anda andalkan dari Whiskey untuk pertandingan nanti”

Di luar gedung, Khabib memberikan nasehat yang indah “…McGregor seharusnya memperhatikan bahwa ucapannya disaksikan banyak anak muda masa depan. Ini bukan tentang mencari uang tetapi tentang memberi keteladanan”

Khabib Nurmagomedov

Para pencinta MMA (Mix Martial Arts) pasti mengenalnya. Seorang Muslim asal Dagestan, sebuah negara di Rusia yang punya prestasi keren, yaitu 27 kali tak pernah kalah sepanjang karir professionalnya termasuk kemenangannya dengan Connor McGregor kemarin.

Pemuda taat beribadah ini, kini berusia 30 tahun, menikah muda, dikaruniai 2 anak ini adalah pemuda yang dibesarkan dalam nilai nilai kejantanan dan kearifan lokal bangsa Dagestan. Sejak kecil ia dilatih langsung oleh ayahnya Abdul Manap, yang juga atlit gulat Rusia, Sambo.

Sejak usia 5 tahun sudah dilatih bergulat dengan anak beruang, walau anak beruang tetap saja tenaganya besar. Begitulah sang Ayah melatih ketangguhan, bukan cuma itu termasuk respek pada bangsa, respek pada Tuhan, respek pada Agama, respek pada Orangtua dan keluarga serta pertemanan.

Sejak kecil Khabib dibesarkan di alam perbukitan Dagestan yang keras, berlatih di alam terbuka bersama saudara dan sepupu juga teman temannya dengan bimbingan ayahnya.

Beginilah seharusnya peran seorang ayah, melanjutkan misi nya pada anaknya, mengembangkan fitrah anaknya bukan hanya bakat tetapi juga nilai nilai keyakinannya, ketangguhannya, kecintaan dan kedekatan dengan ayahnya dan keluarganya, menginteraksikannya dengan alam dan kearifan kehidupan bangsanya lalu memandunya dengan nilai nilai Kitabullah dalam kehidupan nyata.

Kemenangan Khabib

Kemenangan Khabib atas McGregor adalah bukti tumbuh dan berjalannya fitrah Khabib serta nilai nilai yang dididik oleh ayahnya. Ia tetap kalem sampai kemenangan diraihnya.

Selesai memenangkan pertandingan ia melakukan aksi melompat pagar octagon tempat pertarungan, menyerang team McGregor yang selalu menghinanya. Ini langkah di luar dugaan semua orang, Khabib yang santun dan kalem selama ini bisa melakukan itu. Tidak ada yang dilukai pada insiden ini. Semua bisa dikendalikan.

Sebenarnya itu hanya langkah gertak semata untuk memberi pelajaran semata kepada penyelenggara UFC dan termasuk Pers yang selama ini membiarkan kepongahan dan pelecehan yang dilakukan McGregor.

Dalam Post Fight Press Conference, Khabib menyampaikan permohonan maaf, sekaligus memberi pelajaran penting, ia katakan

““I want to say sorry to the Nevada State Athletic Commission,”

“This is not my best side. He ((McGregor) talked about my religion, my country, my father. He came to Brooklyn, he broke bus and nearly killed two people. So why do people still talk about me jumping over the cage? I have shown respect.

“I told you guys: his whole team and him, they are tap machines. Today he tapped. Undisputed and undefeated.

“This is a respectful sport. This is not a trash-talking sport. I want to change this game. You cannot talk about religions and nations. This for me is very important. Thank you for waiting for me. I know my father is gonna smash me when I go home. Nevada: sorry. Vegas: sorry.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife

Seorang Ibu Bertanya

Harry Santosa
October 5 ·

Seorang ibu bertanya

Bismillah……
Ustadz bgmn cara membangkitkan semangat anak2 usia 7 dan 10th dlm menjalani bln ramadhan.awalnya mrk punya kesepakatan dg ortuanya utk hafal jus 30 dan asmaul husna plus artinya.utk kakak setuju hafal jus 30 dg mumtaz maka hadiahnya 500rb,sedangkan adik hafalan asmaul husna plus artinya dg hadiah 125rb.tp bbrp hari ini kelihatan tdk bersemangat pdhl sdh di dorong/disemangati dg berbagai macam cara.Bagaimana cara mengembalikan ghiroh mrka ustadz?
Lalu apakah jk orgtua mengiming2 dg hadiah atau bhkn sedikit memaksa hal itu menyalahi fitrah anak?

_____________

Banyak orangtua langsung fokus pada target target amalan walau itu kesepakatan. Untuk memotivasinya biasanya dengan checklist yang diberi bintang atau iming iming hadiah atau ancaman hukuman. Padahal haditsnya jelas bahwa “sesungguhnya amal itu karena niat” , dan niat itu ada di dalam jiwa manusia.

Dalam riset modern tentang motivasi manusia, niat itu disebut intrinsic motivation atau motif dari dalam diri manusia. Di dunia barat, intrinsic motivation ini diteliti secara serius dan menakjubkan banyak orang, bahwa manusia ternyata bisa berkinerja tinggi jika itu berangkat dari jiwanya dan tanpa iming iming. Bahkan dalam riset ditemukan bahwa iming iming membuat kinerja dan kreatifitas kerja lebih rendah.

Itulah mengapa betapa pentingnya “Niat” ini dalam Islam, sehingga banyak buku klasik Islam selalu mengawali bab awal dengan Bab Niat. Sayangnya kita umumnya melihat “Niat” sebagai “bacaan atau lafazh menjelang ibadah ritual” bukan sesuatu yang luarbiasa yang perlu diriset lebih dalam karena mampu menggerakkan jiwa manusia.

Lawannya Niat atau intrinsic motivation adalah extrinsic motivation, yaitu motif yang dipicu dari luar diri manusia, misalnya hadiah, hukuman, rangsangan, stimulus, conditioning, drilling dlsbnya. Extrinsic motivation membuat seseorang melakukan sesuatu yang bukan berangkat dari dalam jiwanya sehingga tidak permanen.

Anak berhenti beramal jika hadiah atau hukuman juga berhenti. Anak yang terbiasa beramal tertentu karena pembiasaan, akan beramal robotik dan mekanistika, cenderung akan beralih kepads amal lain jika lebih menarik. Anak yang beramal karena pengkondisian, bisa berhenti beramal jika kondisi tersebut tidak lagi ada. Bukankah kita ingin anak beramal shalih secara permanen sepeninggal kita kelak?

Ghiroh atau Gairah adalah spirit yang berangkat dari dalam jiwa karena kecintaan yg besar, maka agar anak mau beramal dengan ghiroh yang hebat, haruslah berangkat dari cinta kuat, baik kepada Allah, Rasulullah SAW maupun Islam dan orangtuanya.

Di sisi lain anak mau beramal kalau itu relevan dengan sifat unik atau potensi uniknya. Siapapun akan bekerja dengan baik dan enjoy jika itu relevan dengan potensinya. Berikutnya anak mau beramal kalau ada reason atau alasan yang kuat secara mendalam, mengapa harus melakukan amal tsb.

Karenanya sebelum fokus pada target2 amal, maka
1. bangun dulu cintanya yang besar kepada Allah, Rasulullah SAW, alQuran, alIslam dll dan kedua orangtuanya .
2. kenali fitrah termasuk sifat keunikan anak anak kita sehingga kita tahu apa yang relevan dgn sifat uniknya
3. ajak untuk menemukan keinginan terdalamnya dan menstrukturkan misi hidupnya agar memiliki alasan yang kuat untuk melakukan amal

Ingat bahwa anak kita punya jiwa, punya perasaan, punya keinginan, punya potensi dstnya, mereka bukan robot cerdas, memiliki fitrah di dalam dirinya yang perlu dikenali, dirawat, dikokohkan, disadarkan, dikuatkan dstnya.

Jika ananda beramal karena berangkat dari dalam jiwanya, maka mereka akan terus beramal sepanjang hidupnya. Kita tak mungkin bersama ananda selamanya, kita akan wafat lebih dulu dan anak anak akan beranjak dewasa tanpa kita. Maka bangkitkan fitrahnya agar mereka kelak terus beramal menuju Robbnya sepanjang hidupnya dengan memiliki peran peran peradaban terbaik yang menebar rahmat dan manfaat bagi semesta.

Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Keep Relax and Optimis

Harry Santosa
September 27, 2018 ·

Seorang ibu sedih betul, ia merasa gagal mendidik anak lelakinya usia 11 tahun, karena sering mencuri curi melihat foto atau film yang memperlihatkan lelaki dan perempuan berciuman. Hapenya sudah diproteksi, anaknya sdh ditegur dan dinasehati, tetapi nampaknya rasa penasaran seorang lelaki menjelang kedewasaannya tak terbendung. Anaknya masih saja mencuri curi menonton. Ibunya panik dan sedih, merasa gagal, sampai kapan hape bisa diproteksi, sampai kapan anaknya berkhianat di belakangnya dstnya.

Banyak ortu mengalami perasaan gagal jadi ortu melihat perubahan anak anaknya menuju kedewasaan. Anak yang dulu patuh, manut nurut, dekat dll kini sejak usia 11-12 tahun nampak menjauh, berperilaku mengejutkan, beberapa nampak berkhianat di belakang ortunya dll.

Semua yang diajarkan sejak kecil nampak menguap begitu saja. Anak anaknya kini tidak mau diatur, lebih suka berkumpul dengan temannya atau mengurung diri di kamar, hapenya dipassword, dalam sehari tidak banyak dialog dengan ortunya kecuali kata kata pendek, banyak menuntut dsbnya.

Ini bukan hanya melanda anak anak yang bersekolah di dekat rumah, termasuk anak anak yang bertahun tahun diboarding school juga. Banyak orangtua kecewa, harapan agar anak shalih dan santun sepulang disekolahkan di sekolah Islam atau sepulang dari pondok, seperti mimpi di siang bolong. Fenomena anak “libur syariah” ketika pulang dari pondok nampak sudah biasa.

Perasaan gagal menjadi orangtua, sering melanda para orangtua krn sesungguhnya mereka kaget dan panik serta tdk siap menerima perubahan pada anak yg sebenarnya wajar wajar saja dan hanya perlu sikap arif dan produktif utk menyalurkannya.

Justru kepanikan dan kemudian protektif berlebihan itu malah akan membuat anak merespon negatif, sehingga kemungkinan besarnya ia akan terus berkhianat di belakang ortunya atau ia malah mematikan perkembangan kedewasaannya yg wajar. Jadi runyam bukan.

Maka ayah bunda, tetaplah rileks dan optimis dalam mendidik, syukuri perkembangan kedewasaannya dengan sikap wajar, tetaplah arif dan bijak menghebatkan cahaya ananda bukan sibuk pada kegelapannya. Jangan tergesa untuk berlebihan dalam bertidak.

Lebih baik kita peluk anak kita yang menjelang dewasa itu dgn penuh cinta, mohonkan maaf dan sambil penuh senyum dan syukur katakan alhamdulillah anakku sdh dewasa, lalu katakan bhw wajar rasa penasaran menjelang kedewasaan itu, namun jangan diumbar, jelaskan peran lelaki dan ayah dalam syariah.

Buatlah emphaty map, lakukan dialog penuh empati bukan interogasi, petakan kegelisahannya, perasaannya, frustasinya, penasarannya, harapan harapannya, mimpinya dstmya. Lalu biakkan idea2 keren untuk membantunya, detailkan sehingga menjadi program produktif.

Maka penting mendekatkan ananda kepada ayahnya agar mampu tegas menghadapi zamannya, fokus pada perannya dan siap menjalani masa perkembangannya, dan penting mendekatkan ananda pada ibunya agar mampu lebih hati hati dan tenang menghadapi dunia dan gejolak perasaan dan penasarannya.

Sekali lagi, daripada sedih, rasa gagal dan panik tak jelas juntrungannya, mari relaks dan optimis, ajak ananda untuk fokus pada cahayanya bukan sibuk memadamkan kegelapannya. Mari sibuk meng-aqilbaligh-kannya atau memukalafkannya, ajak ananda merancang hidupnya dan masa depannya, fokus pada pengembangan dirinya baik bakatnya, keimanannya, seksualitasnya, inovasinya dstnya.

Yakinlah, mustahil Allah ciptakan anak anak kita tanpa peran istimewa di masa depan. Yakinlah bahwa ketika Allah berikan amanah anak kpd kita, maka kitalah orangtua versi terbaik untuk anak anak kita menurut Allah SWT.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife

Nabi Muhammad Itu Pemberontak

Nabi Muhammad Itu Pemberontak
https://lpmarena.com/2016/09/19/roy-murtadho-nabi-muhammad-itu-pemberontak/

Tugas profetik dari muslim saat ini adalah aktualisasi misi kerasulan. Misi kerasulan adalah membebaskan manusia dari penyembahan kepada sesama manusia. Keberadaan tirani yang menindas menyebabkan manusia berpaling dari penyembahan pada Tuhan. Nabi Muhammad adalah seorang pemberontak terhadap penguasa.

Kini, kelompok-kelompok Islam bersikap pasif terhadap penguasa. Mereka berdiam diri menyaksikan penindasan kapitalisme global terjadi. Hal tersebut dianggap melucuti sisi progresif Islam. Ini disebut sebagai gejala Gandiisme yang disebabkan oleh kegagalan mengidentifikasi misi kerasulan.

Sementara para ulama yang disebut sebagai pewaris nabi, juga hanya bersikap pasif. Sikap tak peduli ulama menyalahi salah satu ciri para nabi sebagai pemberontak terhadap status quo. Legitimasi para ulama saat ini sebagai para pewaris nabi patut dipertanyakan.

Misi kerasulan akan selalu relevan sampai kapanpun. Akan selalu ada tirani di setiap zaman, seorang muslim musti melanjutkan misi kerasulan dengan melawan tirani zamannya. Tirani disebut sebagai thoghut, yaitu manusia yang melampaui batas kemanusiaannya hendak menyaingi Tuhan seperti Fir’aun dan Namrud.

Perjuangan umat Islam menjadi sulit semenjak terputusnya wahyu dari Tuhan. Umat Islam tak bisa lagi mendapatkan petunjuk langsung dari Tuhan atas persoalan-persoalan kontemporer.

Drama sejarah nabi menunjukkan bahwa seluruh nabi adalah aktivis dan memiliki sifat progresif. Nabi menyebarkan kebenaran secara terus menerus tanpa pernah putus asa. Ada masa ketika perjuangan kalah, namun tak pernah menyerah.

Sejarah dakwah Nabi Muhammad adalah kisah perjuangan pembebasan manusia. Kelompok-kelompok marjinal seperti budak dan perempuan dibebaskan dari penindasan struktural masyarakat feodal bangsa Arab saat itu.

Saat Bilal bin Rabah, seorang budak, tengah disiksa di gurun pasir tengah hari oleh tuannya, Nabi Muhammad datang membebaskannya dari siksaan. Nabi juga memerdekakan Bilal dari perbudakan.

Nabi tak cukup hanya berdoa, ia juga melakukan aksi nyata. Beratus tahun sebelumnya, Nabi Ibrahim menentang kekuasaan dengan menghancurkan patung-patung berhala. Mengetahui hal itu, Raja Namrud marah kemudian menanyai Ibrahim tentang penghancuran patung sembahanya. Ibrahim menjawab dengan sederhana, “Patung besar itu yang menghancurkannya.” Dalam banyak riwayat, Ibrahim berumur tiga belas tahun saat itu.

Baik Nabi Muhammad maupun Nabi Ibrahim menorehkan kisah perlawanan terhadap status quo yang mapan.

 

Ingin Menuai Tanpa Menanam

Harry Santosa
September 19 ·

Arief dan istrinya, keluarga muda dengan 3 orang anak usia 11, 7 dan 4 tahun, telah mendiami sebuah perumahan di pinggiran kota besar. Ia dan istrinya dulu adalah anak anak daerah yang merantau kuliah di Bandung, lalu Allah mempertemukan mereka dalam pernikahan.

Sebagaimana keluarga muda lainnya, tanpa warisan orangtua, memulai hidup mandiri setelah menikah, bekerja di kota besar, tentu saja hanya mampu tinggal di daerah pinggiran. Arief harus berangkat pagi gelap sebelum anak bangun tidur dan kembali malam hari setelah anak sudah tidur.

Anak anak keluarga muda seperti anak anak keluarga Arief di atas tentu saja mengalami Parentless. Harapannya tentu saja pada komunitas atau Masjid untuk mendidik bersama. Jika tidak ada komunitas dan masjid, maka pilihannya sudah tentu sekolah formal. Namun banyak orangtua kelahiran 80-90an yang berfikiran maju nampaknya tak lagi percaya dengan sekolah, tetapi sayangnya mendidik anak sendiri tak yakin juga.

Orangtua Millennial

Riset riset membuktikan bahwa orangtua millennial lebih berat dalam mencari nafkah, namun mereka ditenggarai menjadi orangtua yang mandiri belajar parenting via internet walau kadang kebanjiran informasi dan malah menjadi kebingungan sendiri.

Di sisi lain, riset juga mendapatkan kenyataan bahwa orangtua millennial lebih peduli pada anak anaknya, bahkan tiap anak diberi hashtag sehingga membantu menemukan jatidiri anak mereka. Sebagian keluarga over peduli, karena khawatir lingkungan yang buruk, penculikan dll sehingga sebagian disebut sebut bergaya helicopter parenting. Ini bisa menghambat kemandirian dan ketangguhan anak anaknya.

Di sisi lain lagi, ternyata orangtua millennial juga berusaha ingin kembali kepada kehangatan keluarga masa lalu. Banyak keluarga muda mulai menyepakati mematikan gadget ketika sedang makan atau bercengkrama bersama keluarganya.

Sayangnya keluarga keluarga muda ini umumnya tak punya pendamping baik pendamping dalam parenting maupun dalam menjalani bahtera rumah tangga. Di kota kota besar, tiada yang peduli pada keluarga muda ini apabila terjadi krisis rumahtangga seperti kdrt, pengasuhan yang salah, pertengkaran sampai perceraian, kekerasan dalam rumah tangga, phk atau kesulitasn ekonomi, depresi istri atau depresi suami dll.

Anak Anak Orangtua Millennial

Obyek dakwah hari ini sesungguhnya adalah generasi masa depan, yaitu mereka yg pada hari ini berusia 0 – 25 tahun. Itu artinya bahwa obyek dakwah kita adalah generasi kelahiran 1995 – 2018. Generasi ini disebut generasi Z dan generasi Alpha.

Perusahaan perusahaan yg berorientasi masa depan membidik anak anak muda berbakat Gen Z dan Gen Alpha. Sebuah jargon disepakati, “Barangsiapa bisa mengambil hati Generasi Masa Depan maka akan Memenangkan Masa Depan”.

Sayangnya kita masih tergagap merangkul GenZ dan Gen Alpha, bahkan orangtua merekapun yaitu Gen Y luput dari pembinaan dan pendampingan. Lihatlah masjid masjid kosong dari pembinaan pemuda dan pendampingan keluarga keluarga muda.

Lihatlah masjid dan perumahan kosong dari pembinaan pemuda. Lihatlah anak anak TPA atau PAUD penuh di masjid, orang orangtua juga memenuhi masjid namun masjid kosong dari pembinaan GenZ, anak anak smp dan sma juga mahasiswa.

Pemuda pemuda tumbuh tanpa sentuhan komunitas dan masjid. Masjid tak lagi menjadi tempat mendewasakan dan pusat belajar para pemuda, tempat mereka dibesarkan dan diaqilbalighkan atau dimukalafkan.

Generasi pemuda kita tak lagi mengatakan, “Dulu aku dibesarkan oleh komunitas atau jamaah Masjid, Surau, Meunasah…”

Apa Solusi nya?

1. Merintis Program Gerakan mengAqilBaligh kan Pemuda berbasis Masjid
2. Merintis Program Pendampingan Para Orangtua Muda

Seperti apa program di atas? Nantikan tulisan berikutnya

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife

Coaching Family

Harry Santosa
September 15 ·

Data BPS terbaru menunjukkan bhw kasus perceraian di Indonesia, mencapai lebih dari 300.000 kasus pertahun. Itu artinya ada 970an kasus perhari dan 40 kasus per jam. Perceraian umumnya melanda pasangan dengan usia pernikahan kurang dari 5 tahun, dengan anak 1 atau anak 2. Sementara 70% perceraian terjadi karena Khulu’ atau istri menggugat suami.

Seorang pakar pendidikan mengatakan bahwa penyebab perceraian ada dua, yaitu tiadanya misi pernikahan dan kosongnya rumah dari proses mendidik, tiada saling mencahayakan karena tiada saling asah asih asuh. Umumnya para Ayah tak punya misi, tak tahu mau dibawa kemana keluarganya. Orientasinya hanya bagaimana memenuhi nafkah dan menitipkan sedini mungkin anak ke lembaga penitipan bernama sekolah atau boarding school.

Steven Covey, dalam bukunya family mission statement, mengungkapkan bahwa keluarga tanpa misi atau tanpa peran peradaban, itu ibarat kapal terbang yang pilotnya tak tahu route penerbangan dan tak tahu destinasi penerbangan. Dan anak anak yang dibesarkan pada keluarga tanpa misi keluarga, tak punya landasan kokoh yang mengendalikan orientasi hidupnya dan masa depannya. Tiada misi besar yang diperjuangkan dan tiada perjuangan yang dilanjutkan anak dan keturunan.

Sepanjang sejarah, tugas para Ayah yang utama adalah merancang misi dan visi keluarga serta mendidik anak dan istrinya. Ayah ayah hebat yang menjadi teladan di alQuran adalah para ayah yang punya misi besar yang diperjuangkan dan dilanjutkan anak dan keturunan. Lihatlah misi besar Nabi Ibrahim AS untuk anak dan keturunannya, diabadikagn dalam doa doanya. Simaklah dialog dialog “mendidik” keren ayah Ibrahim AS dan anaknya, ayah Luqman alHakim dan anaknya di dalam alQuran.

Mari kita kembalikan fitrah keayahan para Ayah untuk memimpin keluarganya, mari kita kembalikan fitrah keibuan para Ibu untuk mendukung para Ayah dan mendidik anak anaknya.

Alhamdulillh, hari ini di Bandung, sekumpulan psikolog muda kreatif, meramu program coaching family, membantu pasangan muda dgn masa pernikahan antara 1 – 8 tahun.untuk merancang masa depannya dan menggali misi keluarganya. Itu dimulai dengan memetakan semua aspek fitrah ayah dan aspek fitrah bunda, menggali core value keluarga, melakukan tracking aktifitas ayah dan bunda, menemukan pola aktifitas yang merupakan peran keluarga, merencanakan roadmap beberapa tahun ke depan datnya.

Saya optimis pada masa depan keluarga muda, melihat betapa mereka antusias untuk kembali kepada fitrahnya, fitrah diri dan fitrah keayahbundaan, fitrah keluarga atau misi keluarga, fitrah mendidik anak anaknya. Yuk kita giatkan pendampingan keluarga keluarga muda agar tak ada lagi ayah galau penuh obsesi tanpa misi , bunda galau tak berani merancang aksi bermakna, melakukan observasi dan inovasi.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife
#familymission

Find Your Calling/Find Your Mission of Life based on Fitrah

Harry Santosa
August 14 ·

Hidup kita bukan kebetulan, Hidup itu penugasan, Hidup itu menunaikan Tugas
Bahkan para Nabipun menerima penugasan berupa Tugas atau Misi Kenabian
Bahkan semestapun menerima penugasan, beredar pada garis edarnya masing masing
Kullun fii falakin yasbahuun

Hidup itu tentang usaha menunaikan Tugas Spesifik di dunia
Dalam pandangan peradaban, tugas spesifik itu disebut Peran Peradaban (Daurul Hadhoriyah)
Dalam pandangan dunia modern, tugas spesifik kita disebut The Mission of Life

Setiap manusia punya penugasan, punya The Mission of Life, itulah alasan kehadiran kita di dunia
The Mission of Life itulah Our Calling atau Panggilan hidup kita di dunia
Panggilan hidup itu terasa jelas memanggil manggil bagi mereka yang bening dan jernih hati dan fitrahnya

Syarat menemukan Our Calling, cuma satu, Jujur pada nurani, jujur pada suara hati nurani
Agar jujur maka suara hati nurani itu harus berangkat dari jiwa yang senantiasa berusaha suci, maka lakukan Tazkiyatunnafs
Tazkiyatunnafs itu Mu’ahadah, Muroqobah, Muhasabah, Mujahadah, Mu’aqobah

Mu’ahadah adalah mengenang kembali janji janji dan syahadah kita kpd Allah SWT, juga merenungkan maksud kita diciptakan
Muroqobah adalah mendekat kpd Allah SWT agar diberikan qoulan sadida, qoulan karima dstnya shg memantapkan hati dan langkah
Muhasabah adalah mengukur (ihtisab) semua kondisi, potensi dan karakter diri serta semua aktifitas saat ini secara tepat dan mendalam
Mu’aqobah adalah menerima konsekuensi atas kelalaian masa lalu dan siap memperbaiki
Mujahadah adalah sungguh sungguh menemukan jalan dan menempuhnya dengan keberanian (hijrah atau dare to transform)

Seiring dengan Tazkiyatunnafs itu maka semua aspek fitrah akan merekah kembali
Diharapkan misi hidup mulai terpampang di depan mata
Misi hidup kita adalah paduan semua peran dan gairah yang tumbuh dari semua aspek fitrah

Misi hidup kita, terkandung di dalamnya peran menyeru kebenaran dan menegakkan kalimatullah, gairah pantang menyerah melakukan perubahan yang Allah ridha (da’iyah/changemaker). Peran dan gairah ini berangkat dari aspek fitrah keimanan (faith n believe).

Misi hidup kita, terkandung di dalamnya peran melakukan inovasi dan penemuan baru (innovator dan inventor), gairah inovasi tiada henti melakukan mubasyaroh (ulilalbab/inventor n innovator) terhadap alam semesta dan terhadap diri. Peran dan gairah ini berangkat dari aspek fitrah belajar dan bernalar (learn n logic)

Misi hidup kita, juga terkandung di dalamnya peran profesi atau keahlian pada sebuah bidang kehidupan spt pertanian, akademis, pendidikan, kesehatan dstnya, gairah menemukan karya solutif (bashiro wa nadziro/solution maker and problem solver) dalam bidang kehidupan yang menjadi minatnya. Peran dan gairah ini berangkat dari aspek fitrah bakat (talents).

Misi hidup kita, juga terkandung di dalamnya peran keayahbundaan dan mendidik generasi, gairah membangun misi keluarga dan mendidik anak dan pasangan, menjalin hubungan dan relasi cinta yang dekat dengan anak dan pasangan serta melanjutkan misi keluarga pada anak dan keturunan (educator, family mission and regeneration builder). Peran dan gairah ini berangkat dari fitrah seksualitas (sexuality).

Misi hidup kita, juga terkandung di dalamnya peran mengharmonikan dan mendamaikan dunia dan melestarikan alam (peace maker), gairah dan apresiasi pada harmoni keindahan (harmonizer) dan desain (designer) termasuk gairah membangun narasi narasi indah peradaban lewat tutur dan media ekspresi lainnya, bukan hanya fungsional dan formal teknis. Peran dan gairah ini berangkat dari fitrah estetika dan bahasa (aesthetic n language).

Misi hidup kita, juga terkandung di dalamnya peran memimpin dan terpimpin (social collaboration maker), gairah untuk menjadi leader sekaligus follower (collaborative leadership), gairah berbagi sekaligus menerima, gairah berkolaborasi dan berjejaring sosial serta membangun gerakan sosial (social movement maker). Peran ini berangkat dari fitrah individualitas dan sosialitas (individuality n sociality)

Misi hidup kita, juga terkandung di dalamnya peran terkait kesehatan dan kebugaran serta kebersihan fisik (health n strength) unruk mendukung peran atas fitrah lainnya, gairah untuk hidup lebih sehat dan seimbang, lebih bersih, lebih bergerak alamiah, lebih banyak makan makanan alami, gairah membangun lingkungan yang bersih dan sehat. Peran dan gairah ini berangkat dari fitrah jasmani.

Dari semua paduan peran itulah Tugas kita dirancang. Tidak ada satupun peran di atas yang dibenturkan satu sama lain atau dilupakan atau dihilangkan dalam merancang hidup kita dan kemudian menemukan misi hidup kita. Kurangnya satu atau lebih dari peran dan gairah atas fitrah di atas akan berujung pada misi hidup yang tak seimbang.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah