Kapan Al Qur’an Mulai Diajarkan

Featured

Ust Harry Santosa

Umur Berapa Saya Ajarkan Anak-Anak Saya Quran? – Nouman Ali Khan – Gulf Tour Q&A
Judul asli: What Age Do I Teach My Child Quran? – Nouman Ali Khan

Ada pertanyaan bagus dari seorang Ibu di Gulf Tour yang bertanya, “Kapan anak saya perlu belajar bahasa Arab?
Anak saya 2,5 tahun. Kapan saya harus mengajarnya gramatika bahasa Arab, Qur’an, tajwid dan hafalan? Saya ingin ia dibesarkan dengan Al Qur’an.”

Sangat indah niat anda untuk ajarkan anak anda Qur’an. Tapi, dia baru berusia 3 tahun. Santai saja, Bu.

Kita ingin mereka untuk miliki setiap… Apa yang Anda lakukan pada usia 3 tahun? Anda tak ingat. Bahkan Anda tak ingat pernah memakai sepatu terbalik. Anak-anak berada pada fitrah mereka. Fitrah mereka sangat indah. Biarkanlah mereka.

Ajarkan dengan kasih sayang. Sebagian dari mereka lebih berbakat. Mereka ingin belajar lebih cepat. Berikan kesempatan itu. Sebagian anak ingin banyak bermain.
Biarkanlah mereka mengambil waktu mereka. Para orang tua harus belajar fleksibel dengan anak mereka. Tidak menetapkan standar yang sama. Tidak bandingkan satu anak dengan yang lain, terutama dalam Al Qur’an mereka.

Saya punya enam anak dan cara mereka hafalkan Qur’an berbeda. Cara belajar Qur’an mereka sama sekali tidak sama. Salah satu anak saya bisa menghafal dalam 5 menit. Sangat cepat menghafal, sangat mengagumkan. Anak saya yang lain menghafal yang sama selama satu bulan.

Saya tidak membandingkannya. “Mengapa kau tak seperti kakakmu?”

Saya tidak lakukan itu. Itu adalah zhulm (ketidakadilan), ‘uluwul (obsesi) dan menciptakan rasa benci pada agama. Karena buku (Al Quran) ini ayah saya lebih menyayangi kakak saya. Ini salah. Hentikan. Jangan terlalu tertekan karena anak-anakmu.

Allah tidak menginginkan anakmu menjadi hafidz, atau alim. Allah ingin anakmu jadi muslim yang baik. Allah ingin anakmu mencintai agamanya. Itu yang Allah inginkan. Jadi, santai saja.

Catatan lainnya, tentang anak-anak. Ada beberapa orang datang pada saya dan berkata, “Anak kami 5 atau 6 tahun. Kami tunjukkan video tentang tanda hari kiamat dan bicarakan Dajjal.”

Kenapa kau lakukan itu? Mengapa Anda bicarakan Dajjal dengan anak Anda? Anak Anda baru berusia 5 tahun. Itu membuat dia trauma. Saya sendiri takut membaca tentang Dajjal. Tak perlu diceritakan pada anak.

Anak-anak berada pada fitrah mereka. Anda tahu apa maksudnya? Saat ini mereka tidak bertanggung jawab atas kesalahan mereka. Mengapa Anda ingin buat mereka takut pada Allah di saat mereka tak perlu takut kepada Allah?
Takut kepada Allah diperlukan bagi mereka yang bertanggung jawab atas amal perbuatan mereka. Ya atau tidak?

Sekarang adalah waktu untuk menunjukkan pada mereka cinta, ampunan, rasa sayang dan karunia dari Allah. Cinta Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Tidak
tentang rasa takut, jahanam, hari kiamat, Dajjal dan perang besar… Tidak. Tunggu dulu. Bukan ini yang dibutuhkan anak-anak. Ini akan ciptakan trauma.

Jangan gambarkan agama mereka dengan mengerikan. Anak-anak akan takut. Jangan beralasan bahwa tak ada yang berkata positif pada mereka. Bukan begitu caranya.
Anda tak bisa tontonkan film horor pada seorang anak, lalu katakan tapi kami tunjukkan boneka beruang setelahnya agar masalah selesai. Anda tak bisa lakukan itu. Sangat merusak anak-anak.

Pada permulaan Anda perlu memelihara fitrah itu. Mereka sudah datang dengan cinta Allah. Itulah yang Allah tanamkan di dalam mereka. Pelihara rasa cinta itu, jangan gantikan dengan rasa takut. Rasa takut akan datang kemudian. Saat mereka semakin dewasa, lalu kita bisa bahas tentang tanggung jawab, akuntabilitas. Lalu kau ajarkan tentang hari kiamat, Dajjal pada usia itu.

Mengajarkan semua itu sebelum waktunya, menghilangkan semuanya. Sama dengan mengajarkan Al Quran dan apa saja yang lainnya. Buatlah semua sesuai dengan umur dan penuh rasa sayang. Pencapaian terbesar pada zaman kita,
Wallahi, mohon dengarkan dengan seksama. Pencapaian terbesar untuk anak di zaman kita, bukan banyaknya yang mereka pelajari. Banyaknya yang mereka pelajari tak berarti.

Maafkan jika terdengar seperti menyerang Anda, tapi semua itu tak berarti. Yang berarti adalah berapa besar mereka mencintai Rabb mereka, berapa besar mereka mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam mereka, seperti apa karakter mereka, sejujur apa mereka, semudah apa bagi mereka untuk mengakui sebuah kesalahan, seterbuka apa komunikasi dengan Anda,

Karakter mereka adalah yang terpenting. Bukan ilmu mereka. Ilmu itu dangkal. Hanya untuk ditunjukkan pada orang lain. Saya tidak mengatakan ilmu tidak penting. Tapi, ilmu selalu yang kedua setelah karakter. Selalu akan jadi yang kedua setelah karakter.

Sekarang saatnya memelihara karakter itu, memelihara kepribadian itu, dengan sedikit ilmu pada perjalanannya. Banyak anak yang menghafal Al Quran pada usia dini tanpa karakter, dan itu bukan salah mereka.

Yang ditekankan pada mereka hanya menghafal Al Qur’an. Anak-anak ini akan berbohong, nakal, mereka menghina teman mereka yang tidak menghafal secepat mereka, semua yang tak harusnya dilakukan muslim mereka lakukan, tapi karena mereka hafal Qur’an jadi kebanggaan masyarakat kita.

Apa yang telah kita lakukan? Kita menekankan apa yang tidak Allah tekankan dan kita mengabaikan yang Allah tekankan. Tapi, kita mengaku bahwa kita menjalani deen (agama) kita. Kita harus menyeimbangkan kembali. Ilmu memiliki tempat, karakter juga memiliki tempat. Keduanya harus seimbang. Harus diseimbangkan.

Semoga Allah Azza wa Jalla berikan kita kedewasaan dan rasa untuk besarkan anak kita dengan pemahaman agama yang benar, pendekatan pada deen yang seimbang, penuh kasih sayang, sehingga mereka tidak berbelok dan menemukan yang dicintai selain Islam. Mereka tahu banyak tentang Islam, tapi cinta mereka untuk yang lain.

Advertisement

Ajarkan Agama dengan Rileks

Adriano Rusfi

Miris rasanya menyaksikan anak-anak para aktivis yang tak menunjukkan komitmen yang kuat terhadap agamanya.Merokok, pacaran, pamer aurat, menggunakan narkoba,
homoseks, hamil di luar nikah, gangster, bahkan atheis, bukan lagi barang langka. Benar-benar tersentak ketika membayangkan siapa orangtua mereka dengan segala kiprahnya dalam dakwah.

Apakah orangtua mereka lalai mendidik mereka dengan agama ? Sama sekali tidak !!! Mereka bukan saja sangat serius mendidik anak-anak mereka dengan Al-Islam, bahkan ketat dan keras. Beberapa diantara anak-anak mereka malah telah masuk pesantren sejak usia sangat dini, berjilbab tak lama setelah lahir sebagai perempuan, masuk Islamic Fullday School, hafal Juz ‘Amma sebelum 7 tahun, hafal Hadits Arba’in Annawawiyyah ketika masih TK, dan segudang “prestasi edukatif” lainnya.

Pergaulan anak-anak mereka sangat terjaga. Untuk itu mereka sengaja bikin komunitas sendiri, tinggal di kompleks perumahan yang sama dan sekolah di sekolah yang sama. Seorang anak berusia 3 tahun pernah dicubit bibirnya hingga berdarah oleh ibunya karena dari bibirnya keluar kata “Pacaran”. Tayangan-tayangan televisi di rumah mereka juga sangat terkontrol, begitu pula dengan bahan bacaan. Bahkan, ada yang mengharamkan televisi sama sekali.

Lalu, apa yang salah ?

Pertama, syari’ah dipandang sebagai sesuatu yang “given” dalam rumah tangga mereka. Karena telah dianggap terberi dan menjadi keseharian, maka tak perlu lagi ada penjelasan : apa, kenapa, bagaimana ? Anak diminta berjilbab tanpa ada penjelasan “kenapa ?”. Begitu pula tentang tauhid, akhlaq dan sebagainya. Akhirnya terbentuklah anak-anak yang bagaikan sebuah rumah yang indah namun pondasinya rapuh. KELIHATANNYA TELAH ISLAMI, PADAHAL HANYA TRADISI. Lalu, suatu saat mereka akan mencari momen yang tepat untuk MEMBERONTAK

Kedua, mimpi yang terlalu tinggi. Mereka memimpikan anak-anak yang tumbuh seperti para shahabat, atau shalafush-shalih, atau sekurang-kurangnya seperti Hasan AlBanna dan Syyid Quthb. Mereka bukan saja bermimpi menghasilkan anak-anak “beyond generation”, bahkan “above generation”. Lalu setelah itu para orang tua menjadi stres sendiri dengan mimpi yang dibuat, panik melihat kesenjangan antara “das sein” dengan “das sollen”. Mulailah anak diasingkan, kalau perlu disterilisasi melalui pendidikan antah-berantah. Apakah lahir anak shaleh ? Ternyata tidak. Yang terbentuk adalah GENERASI STERIL NAMUN TAK IMUN TERHADAP GODAAN DUNIA. Anak-anak itu bahkan tak diijinkan untuk menjalani COBAAN KEIMANAN.

Ketiga, Tadribusy-Syar’ie (pelatihan syari’ah) yang terlalu cepat. Allah dan RasulNya selalu benar, bahwa pelatihan syari’ah itu baru dimulai saat anak berusia 7 tahun. Dalam hal ini tak berlaku anggapan “lebih cepat lebih baik”. Tiba-tiba saja, atas nama agama, para orangtua telah merampas hak-hak anak yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka berjilbab sangat dini, belajar shalat sangat dini, menghafal hadits sangat dini. Padahal, Abdullah Nasih ‘Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Awlad telah menegaskan bahwa itu semua selayaknya dimulai pada usia 7 tahun. Akhirnya anak telah dirampas kebebasannya secara dini. Mereka bukan saja telah di-tadrib oleh orang tuanya, bahkan telah di-taklif jauh sebelum aqil-baligh. Pada saatnya kelak MEREKAPUN AKAN MENINGGALKAN SYARI’AH SEDINI MUNGKIN. Andai anak-anak itu kelak di Yaumil Mahsyar mengadu kepada Allah tentang HAK-HAK YANG DIRAMPAS ORANGTUANYA, bagaimana kita akan menjawabnya ?

Keempat, rumah tak lagi menjadi surga (baitii jannatii) bagi anak. Terlalu banyak aturan, terlalu banyak larangan, terlalu banyak kekangan. Ini bukan model rumah surgawi, tapi neraka. Akhirnya, anak tak berkesempatan menyalurkan naluri-naluri instingtifnya di rumah. Mereka tak punya ruang untuk meluapkan dan mengeluarkan “kejahiliyyahannya” di balik dinding rumah. Sebaliknya, di rumah mereka begitu santun, Islami, syar’ie, akhlaqi. Luar biasa. Nah, ketika mereka keluar dari rumah, mereka justru MEMAPAR AURAT DAN MENGUMBAR NAFSU DI LUAR RUMAH. Dunia publik akhirnya menjadi dunia di mana borgol dipatahkan dan
tirani dihancurkan.

Kelima, tidak ramah terhadap fitrah. Para orangtua yang aktivis biasanya sangat pro “ajaran langit” dan kurang peduli terhadap “realitas bumi”. Yang pertama kali terpikir oleh mereka saat akan mendidik anak adalah “Apa maunya Allah”,
bukan “apa maunya fitrah”. Padahal, toh fitrah manusia itu pada dasarnya Islami. Tampaknya, mereka kurang menguasai ayat-ayat insaniyyah (kemanusiaan) yang lebih dahulu turun di Makkah (yaa ayyuhan-naas…), dan lebih fokus kepada ayat ayat imaniyyah (keimanan) yang turun belakangan di Madinah (yaa ayyuhalladziina aamanuu…). Akhirnya, Islam yang sama sekali tak bertentangan dengan kemanusiaan itu, justru dihayati oleh anak sebagai sebuah kontradiksi : ISLAM VS EGO

Akhirnya, justru ketika para aktivis mendidik anaknya dengan ketat dan keras, yang lahir adalah anak-anak yang memberontak terhadap agamanya sendiri. Sedih membaca “Tagline” seorang anak dari “Syaikhul-Kabiir” di Facebook miliknya : Aku tak percaya pada Tuhan !. Seorang anak dari “assaabiquunal-awwaluun” harus mendapatkan perawatan psikiatrik. Di tempat lain, saya harus mengantarkan putra seorang senior pergerakan ke pondok rehabilitasi narkoba. Sedangkan anak dari seorang ustadzah kaliber nasional hobby betul melakukan bullying dan pemerasan terhadap teman-temannya. Kenapa tidak kita tanamkan Al-Islam ini dengan rileks dan manusiawi, untuk membentuk generasi yang targetnya tidak neko-neko : terbaik untuk zamannya???

(Segala puji bagi Allah yang telah membimbing anak-anakku sehingga seluruhnya menjadi aktivis Islam yang ceria)

Masyarakat negara sekuler yang maju & negara timur muslim yang masih berkembang

Harry Santosa
December 23, 2018 ·

Masyarakat negara sekuler yang maju, nampaknya sudah taubat dengan materialisme, kini mulai mencari kebahagiaan dengan lebih bermakna atau meaning atau spiritualisme namun sayangnya tanpa Tuhan.

Masyarakat negara timur muslim yang masih berkembang itu, nampaknya baru bangkit dari kesulitan ekonomi, kini sedang asik2nya mengejar kebahagiaan dengan kekuasaan dan materi, namun sayangnya mengatasnamakan Tuhan.

Siapa dari dua tipikal masyarakat di atas yang akan menguasai peradaban masa depan?

#fitrahbasedlife

Kepuasan Hakiki (Muthmainnah)

Harry Santosa

Kepuasan hakiki (Muthmainnah) terjadi pada titik indah kesetimbangan (tawazunitas atau sweet spot) atas semua aspek fitrah dalam kehidupan
yaitu pertemuan harmoni antara
spritual life (dakwah – change maker),
work life (karir – solution maker),
family life (relasi & pengasuhan – regeneration maker),
learning life (inovasi tiada henti – innovation maker),
social life (kolaborasi produktif – collaboration maker),
aesthetic life (apresiasi keindahan & kedamaian – peace maker),
health life (kesehatan pribadi dan lingkungan – health maker) &
personal growth (kedewasaan – growth maker )
sehingga semua aspek fitrah itu menjadi kehidupan yang baik (a good life)serta peran peradaban (the mission of life)yang banyak menebar rahmat bagi semesta
lalu Allah menjadi ridha dan tercapailah maksud penciptaan untuk beribadah kpd Allah dan menjadi Khalifah Allah di muka bumi

#FBL #FBE
#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife

Gaya Doktriner dan Gagalnya Pendidikan Agama Kita

Ahmad Rizali
Pengamat pendidikan dan Pendiri The Centre for Betterment of Education (CBE).
Kompas, 2 Januari 2019

Sudah puluhan tahun, begitu banyak bencana menimpa negeri ini, mulai tsunami sampai tanah longsor, dari terjatuhnya pesawat terbang hingga bis tergelincir masuk ke dalam jurang.

Semuanya memicu terjadinya seremoni pertobatan dan mengingat Tuhan secara massal dan marak. Bahkan, untuk menyumpal banjir lumpur sedahsyat itu, masyarakat secara ramai-ramai meminta Tuhan melakukannya.

Salahkah sikap seperti itu?

Tidak! Tetapi miris, karena semakin sering pengingatan dan pertobatan masal itu dilakukan dengan gegap gempita, nasib rakyat bukannya semakin baik, dan bencana tetap antre untuk turun menghantam.

Lalu, kita pun kembali ingat, bahwa kita tak siap menghadapi hantaman itu. Lantas kita kembali lupa ketika bencana usai. Otak yang dianugerahi Tuhan hanya sesekali dipakai untuk menganalisa ketika bencana sudah terjadi.

Seorang ibu, lantaran mendengar cerita temannya, begitu gandrung dengan pelatihan peningkatkan kecerdasan spiritual dan emosi, tetapi ketika membaca buku yang mampu terjual begitu banyak dan ditanya suami apa isinya, dia tersipu malu. Ternyata, isi buku tidak seperti yang dia harapkan.

Ya, jargon pelatihan kecerdasan spiritual dan emosi adalah sebuah kemasan baru cara mengajak pendosa kembali ke jalan kebenaran, semacam cara berkhutbah yang dahulu gratis, namun dengan cara ini, harus membayar.

Untuk kembali ke jalan yang benar, manusia harus mengeluarkan uang, karena jalan kebenaran ternyata laku dijual. Maka, sekali lagi, rakyat kecil akhirnya tertinggal, tak mampu membeli jalan ke surga. Sebuah harapan terakhir untuk hidup mulia yang sia sia, sementara hidup di dunia sudah bak neraka.

Zikir dan pertobatan masal serta pelatihan sejenis penguatan emosi dan spiritual itulah yang membuat manusia berduit merasa bersih dari dosa. Dengan uangnya, mereka bisa membayar penyelenggara pelatihan, maka mereka bebas menangis tersedu-sedu sepuasnya.

Pada akhirnya, kelompok manusia seperti itu ikut mendorong kebenaran tesis Marx, bahwa “Agama adalah candu yang membuat manusia lupa esensinya sebagai manusia.”

“Kita tidak berbuat apa apa untuk meniadakan suasana yang melahirkan orang orang seperti itu, malahan kita mendorong tumbuhnya lembaga lembaga yang menumbuhkan mereka, juga menganggapnya perlu, mendorongnya dan mengaturnya….”

Leo Tolstoy mengatakan hal itu dan menyindir masyarakat Rusia pada akhir abad ke-19, dan berakhir dengan pengucilan dirinya oleh para pemuka agamanya.

Zikir dan pertobatan masal serta pelatihan penguatan spiritual dan emosional tersebut jika menjadi tren dan arus besar, bisa jadi, hanya akan membelah kepribadian manusia.

Semestinya, sebagai manusia merdeka yang sudah terdidik dengan sangat baik, mereka akan mengutamakan esensi ruhani yang sesungguhnya, tanpa kehilangan rasionalitas. Semestinya tak perlu!

Akan tetapi, dengan candu ini, mereka hanya akan lebih mengutamakan simbol kesalehan kasat mata, meskipun tidak salah, seperti seragam, tempat ibadah mewah, tur spiritual berulang kali, dan pelan tapi pasti, meninggalkan kesalehan hakiki, seperti integritas, keberanian, kemerdekaan dan kemandirian bersikap dan berfikir rasional, kerja keras dan bersahaja dalam menjalani hidup.

Pendidikan yang doktriner?

Pendidikan umum dan pendidikan agama kita yang semakin hedonis dan mengekor pertumbuhan ekonomi tampaknya telah gagal, karena secara sistemik telah membuat semua anak bangsa hanya ingin menjadi kaisar kaya raya.

Mereka ingin menjadi sangat berkuasa seperti halnya Zulkarnaen Agung, tapi melupakan kemuliaan AlMasih As dan Muhammad SAW, yang berdiri sampai mati di sisi kaum tak berpunya.

Suatu saat, seorang teman bertanya kepada saya tentang hasil temuan sebuah studi dari UIN Jakarta pada 2008 yang mengatakan bahwa “Pendidikan Agama (Islam) di Indonesia, khususnya di Jawa, tidak mendorong perilaku kebinekaan.”

Jawaban pertama saya adalah “Tidak mengejutkan, dan bahkan memperkuat hipotesis saya menjadi sebuah tesis”.

Saya lalu menambahkan, “Materi dan cara guru agama di sekolah dalam mendidik masih tidak berubah sejak 30 bahkan 50 tahun lalu, yang masih berkutat dan 99 persen fokus pada urusan pribadi. Meskipun agama pada dasarnya adalah sebuah doktrin, namun jika 100 persen materinya disampaikan pula dengan cara yang doktriner, tentulah hasilnya akan hitam-putih, salah-benar, on-off. Mungkinkah kebinekaan akan tumbuh, jikalaupun ada, tentulah hanya kebinekaan pura pura”.

Pembelajaran umum yang pada dasarnya bukan doktrin pun, disampaikan dengan cara yang sama. Guru, bahkan dosen sangat piawai menggunakan cara yang deterministik. Semuanya, ya memang “sudah begitu”, dan kalau tidak begitu ya dianggap “salah”.

Pembelajaran tersebut dimulai dengan mencetak pemikiran kaum balita di PAUD dengan cara berpikir gurunya. Jika memberi warna badan gajah tidak abu-abu atau kecoak tidak dengan hitam, pastilah dikasih nilai “C”.

Murid yang mewarnai badan gajah abu-abu dan kecoak hitam mendapat nilai A. Bayangkan berapa nilai lembar mewarnai jika di murid balita itu mewarnai badan gajah colorful seperti “d united color of benneton”?

Pola deterministik guru semacam itu terus berlanjut. Orang tua juga bersikap sama, bahkan masyarakat pun menguatkan. Yang “beribadah” tidak sesuai dengan cara mereka akan “digebukin”. Istilahnya, mengikuti gaya bercanda anak Betawi, “‘Yang kagak ikut ane, ente semua musuh ane!”

Sejatinya, jika pendidikan dan akhirnya menjadi perilaku dan berujung kepada budaya yang tidak menjunjung hukum alam kebhinekaan (bukankah Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu sama, bahkan manusia kembar sekalipun) atau keberagaman, maka jangan berharap manusianya akan bermental bhineka.

Mungkin, dosa terbesar Soeharto adalah menyeragamkan sesuatu yang seharusnya beragam, mulai baju kerja PNS hingga nama gedung (graha) diseragamkan. Bahkan, doktrin P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) pun begitu seragamnya hingga Pancasila yang kemuliaannya sebagai ideologi bangsa tiada taranya, nyaris terbuang seperti sampah.

Bangsa ini menjadi semakin kurang menghargai keberagaman. Salah satunya karena gaya kepemimpinan yang doktriner, keberagaman hukum alam dipaksa menjadi keseragaman hukum manusia. Di titik inilah peran guru menjadi strategis.

Meminjam istilah kang Endo, seorang pendidik pakar etnomusika, “Seharusnya, mendidik itu adalah menjadikan anak manusia menjadi manusia beneran, yang bukan setan dan bukan pula malaikat”.

Kang Endo ingin mengatakan, bahwa manusia yang sebenarnya adalah insan kamil yang sebagian dan sangat sedikit adalah seperti (bukan) setan (hitam) dan malaikat (putih) dan paling banyak adalah diantaranya (abu abu).

Jadi, jika pendidikan memaksa kita menjadi malaikat dan setan, pastilah keberagaman akan mustahil terjadi. Ya, karena cuma ada dua pilihan, tidak ada area abu abu di mana 99 persen manusia berada, dimana determinisme tidak laku karena melanggar hukum alam. Gagalkah pendidikan kita?

Ponpes…

Harry Santosa
16 Dec 2018

Pondok pesantren yg awalnya kawah candradimuka tempat mengkader da’i & ulama, berubah jadi penampungan anak mami yg ingin disterilisasi dan diisi ilmu agama dan umum sebanyak banyaknya. Pondok kemudian menyesuaikan diri karena pasar dan input yang demikian, akibatnya pondok mengalami penyempitan makna, bak hotel dan kuil yang mencetak ilmuwan dan agamawan yang manja dan tidak tangguh serta tak punya misi hidup yang ajeg.

Lahirlah orang orang pandai agama dan pandai ilmu umum namun rentan terhadap apapun, tidak punya semangat melakukan perubahan di masyarakat atas keimanannya, tak punya karya solutif bagi ummatnya kecuali menjajakan kepandaiannya utk kepentingan dirinya, tak inovatif dalam menjalani hidup bahkan perannya, hubungan yang garing dengan anak dan pasangan, jiwanya kering dan tidak mendamaikan peradaban, sulit berkomunitas dan berkolaborasi dstnya.

#fitrahbasedlife
#fitrahbasededucation

Syarat Kemenangan : Beriman, Bukan Muslim

Satria Hadilubis

Syaikh Asy-Sya’rawi bercerita,

“Tatkala saya di San Fransisco, Amerika ada seorang orientalis bertanya kepadaku,
“Apakah ayat-ayat di Al-Qur’an kalian seluruhnya benar?”

Maka saya menjawab, “Iya, yakin benarnya!”

Ia lanjut bertanya, “Lalu mengapa Allah jadikan orang-orang kafir berkuasa atas kalian, padahal Allah Ta’ala berfirman, “Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk (menguasai) orang-orang yang beriman (mukminin).”
(QS. An-Nisa’: 141)

Maka saya menjawab, “Karena kami masih muslimin belum mukminin”

Dia bertanya lagi, “Lalu apa bedanya mukminin dan muslimin?”

Saya menjawab, “Kaum muslimin hari ini menunaikan seluruh syiar Islam, dari shalat, zakat, haji, puasa Ramadhan, serta ibadah lainnya.
Namun mereka sangat gersang! Mereka gersang ilmu, ekonomi, sosial, militer, dan lainnya.

Mengapa kegersangan ini terjadi?

Sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an;

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah Islam’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.” (QS. Al-Hujurat: 14)

Dia bertanya kembali, “Lantas apa yang membuat mereka dalam kegersangan semacam ini?”

Saya menjawab, “Al-Quran telah menerangkannya, karena kaum muslimin belum meningkat hingga level mukminin, coba kita renungi ayat-ayat ini;

Andaikan mereka benar-benar beriman, tentu Allah akan menangkan mereka, berdasarkan firman Allah Ta’ala;

وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman (mukminin).”
(QS. Ar-Rum: 47)

Andaikan mereka beriman tentu mereka yang paling berkedudukan tinggi di antara umat dan bangsa lain, berdasarkan firman Allah Ta’ala;

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman (mukminin).”
(QS. Ali-Imran: 139)

Andaikan mereka beriman tentu tiada satu umat pun menguasai mereka, berdasarkan firman Allah Ta’ala;

وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا

“Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk (menguasai) orang-orang yang beriman (mukminin).”
(QS. An-Nisa’: 141)

Andaikan mereka beriman tentu Allah tidak akan membiarkan mereka di atas kondisi menyedihkan seperti ini, berdasarkan firman Allah Ta’ala;

مَا كَانَ اللَّهُ لِيَذَرَ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ

“Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini”
(QS. Ali-Imran: 179)

Andaikan mereka beriman tentu Allah akan bersama mereka dalam segala kondisi, berdasarkan firman Allah Ta’ala;

وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan sesunguhnya Allah bersama orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Anfal: 19)

Namun mereka masih level muslimin, belum meningkat hingga level mukminin, Allah Ta’ala berfirman;

وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan kebanyakan mereka tidak beriman.”
(QS. Asy-Syu’ara: 190)

Lantas siapakah orang beriman?
Jawabannya ada dalam Al-Qur’an, mereka lah;

التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat , yang ruku’, yang sujud, yang kerjanya berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah.
Dan gembirakanlah orang-orang mu’min itu.”
(QS. At-Taubah: 112)

Coba kita perhatikan, sesungguhnya Allah mengaitkan kemenangan, kekuasaan, dan meningkatnya kondisi dengan mukminin bukan muslimin.

Sudah Lama….

Harry Santosa
December 2, 2016

Sudah lama ummat tidak menjadi tuan rumah di negerinya sendiri
Seperti penyewa yang hanya membayar pajak sewa dan diminta santun selalu

Sudah lama ummat tidak bisa bersuara dan berkata kata
Seperti penonton yang hanya bisa melihat panggung pemain yang disutradarai orang lain

Sudah lama ummat tidak dijenguk hatinya dan disayang pemimpin
Seperti anak yatim yang cuma disantuni dan diperlukan ketika ada pencitraan sang pengelola aset si yatim

Sudah lama ummat tidak bisa mengambil peran dalam kepemimpinan bangsa
Seolah hanya kumpulan ternak yang bisa dibawa kesana kemari untuk makan agar gemuk dan siap disembelih

Sudah lama ummat tidak lagi menjadi ummat…
Sudah lama gelisah dan marah karena selalu kalah dan mengalah…
Sistem Barat yang kita anut memang mengebiri semua potensi ummat.
Salah siapa?

Hari ini jutaan manusia dari ummat ini tumpah ruah menunjukkan bahwa ummat masih ada…
masih santun… masih punya nurani
masih punya pemimpin dan pengikut
masih bisa menjadi tuan di negeri sendiri
Ini bukan unjuk otot bela Agama tapi Uji bela eksistensi ummat yang harus dengan bukti
Ini bukan kritik pada pemerintah, ini sesungguhnya otokritik ke dalam ummat sendiri dan kepada para pemimpinnya

Tak perlulah kecil hati, toh kita bukan penyewa di rumah sendiri bila ada yang menghadang
Tak perlulah lagi mengais ngais pujian bagai anak yatim tak disayang bila ada yang meradang
Tak perlulah lagi merajuk dan peduli kepada mereka yang mencela..
Tak perlulah takut mengakui kesalahan agar sadar dan mau menerima perubahan

Ingat kita pemain lapangan dan aktor perubahan peradaban bukan lagi penonton
Kitalah pemilik peradaban bukan budak peradaban

Jangan sibuk pada masalah dan kekalahan… sehingga selama ini kita lupa berbenah
Sibuklah merawat dan membina potensi kekuatan

Kita harus berbenah agar mau dan mampu lagi menjadi tuan di negeri sendiri
Kita harus berbenah agar mau dan mampu lagi menjadi aktor utama yang memainkan seluruh skenario peradaban menurut Kitabullah
Kita harus berbenah agar mau dan mampu lagi menyuarakan nuraninya dan kebenaran
Kita harus berbenah agar mau dan mampu lagi mengelola aset bangsa amanah Ilahi
Kita harus berbenah agar mau dan mampu lagi melahirkan pemimpin sejati yang mengakar di tubuh ummat
Kita harus berbenah agar mau dan mampu lagi memiliki peran peran peradaban terbaik

Ya Malikal Mulki, Penguasa di atas segala Penguasa
Engkau berikan kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki,
Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau Kehendaki
Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki
Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki
Di Tangan Engkaulah segala kebaikan
Engkaulah Maha Penguasa atas segala sesuatu

Salam Pendidikan Peradaban

#aksi212
#fitrahbasededucation

Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW: Misi Kenabian adalah Merancang Model Baru Peradaban

Harry Santosa
November 20, 2018

Dahulu menjelang masa Kenabian Muhammad SAW, manusia menyangka dunia akan kiamat. Kepekatan jahiliyah dan kezhaliman imperium Romawi di barat dan imperium Persia di timur sangat menyengsarakan dunia. Dua imperium inipun bergantian menaklukan negeri negeri yang berada dalam jangkauan mesin militer mereka.

Sementara di daratan China, imperium Qin juga menindas negeri negeri di daratan itu bahkan memperbudaknya untuk membangun tembok besar china pada abad 2 SM, sepanjang 8.851 km yang dikerjakan oleh hampir 1 juta pekerja, yang membentang panjang untuk melindungi dari dari serbuan Romawi maupun Persia.

Imperialisasi dan kolonialisasi yang dikampanyekan para adidaya ketika itu, membuat sebagian besar dunia mengalami kesengsaraan luar biasa. Penaklukan terus menerus bangsa bangsa, dilanjutkan pembantaian dan penistaan, kemudian perbudakan dan penindasan melanda barat dan timur.

Lalu orang orang memohon kepada Allah SWT agar segera diutus Nabi akhir zaman sebagaimana telah diberitakan di Zabur, Taurat dan Injil unuk menyelamatkan dunia, menjadi juru selamat global bukan hanya lokal.

Lalu orang orang menduga, Nabi akhir zaman itu akan diutus di jantung imperialisme Romawi atau Persia untuk memadamkan kebakaran besar yang melanda dunia langsung di pusat api kebiadabannya.

Namun orang orang pada masa itu ternasuk bangsa Yahudi yang lebih dulu menerima berita akan datangnya Nabi akhir zaman, kecele dan kecewa. Allah SWT ternyata mengutus Nabi akhir zaman itu jauh dari pusat kebiadaban.

Rasulullah SAW diutus di jazirah Arab, sebuah padang pasir gersang, dengan suku suku yang dianggap tak beradab karena jauh tertinggal dari kejeniusan fikiran dan kehebatan materi bangsa Romawi dan bangsa Persia.

Romawi dan Persia sama sekali tak tertarik untuk menjajah bangsa Arab yang miskin sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia itu. Mereka jauh lebih tertarik menjajah Yaman, jauh di selatan Mekkah.

Abrahah yang pernah cemburu pada pilgrimage orang orang yang menziarahi Ka’bah, lalu menyerang untuk menghancurkan Ka’bah namun tak berniat menaklukkan Mekkah itu adalah Gubernur Jendral Persia yang ketika itu menjajah Yaman.

Jadi sementara kedua imperium adidaya itu sudah melimpah dengan tingkat peradaban yang tinggi dengan arsitektur yang hebat, colloseum Cesar dan istana putih Kisra yang megah, namun bangsa Arab masih tinggal di bangunan sederhana dan berkutat perang saudara hanya gara gara berselisih seekor unta milik suatu suku yang terbunuh karena minum di kebun suku lain.

Allah SWT ternyata punya rencana lain yang kelak menjadi pelajaran penting dalam menegakkan cahaya suatu peradaban di tengah pekatnya kekelaman. Dan rencana itu ternyata sudah dipersiapkan jauh jauh abad, di era Ibrahiem AS.

Di masa Ibrahiem AS, perintah untuk membawa anak istri, Hajar dan Ismail, ke Mekah, di Jazirah Arab, jauh dari wilayah perjuangan Nabi Ibrahiem AS di Babilonia, sungguh perintah yang tak masuk akal. Dan kemudian, perintah meninggalkan Hajar dan ismail berdua saja di lembah gersang, juga lebih tak masuk akal lagi.

Berabad kemudian, 5 abad setelah kelahiran Nabi Isa AS, perintah Allah itu menjadi sangat masuk akal bahkan sangat mengagumkan, subhanallah. Tempat di padang pasir itu yang dibangun Baitullah ternyata memang menjadi tempat terbaik untuk merancang sebuah model baru peradaban yang akan berlangsung berabad abad kemudian sampai akhir masa Ummat manusia.

Muhammad SAW, sang Nabi akhir zaman itu ternyata dipersiapkan bukan untuk menghancurkan langsung model lama peradaban yang menyengsarakan manusia, namun untuk Merancang Model Baru Peradaban yang kelak membuat model lama itu menjadi usang dan ditinggalkan orang. Muhammad ditakdirkan menjadi arsitek peradaban.

Begitulah kemudian Nabi SAW bisa fokus merancang model baru itu, perlahan mentarbiyah komunutas kecil para Sahabat Sahabatnya, meletakkan fondasi yang kokoh, tanpa gangguan Persia dan Romawi.

Gangguan dan serangan lokal tentu saja ada, tetapi begitu cara Allah melatih komunitas kecil ini dengan peristiwa peristiwa seserhana secara bertahap sebelum kelak mampu menghadapi peristiwa besar dan peradaban besar.

Itulah mengapa setiap arahan langit selalu mengkontekskannya dengan misi besar peradaban, berupa perintah untuk senantiasa fasiru (melihat pola pada dimensi tempat, yaitu geografis, demografis dan geopolitik) dan fanzhuru (melihat pola pada dimensi waktu, yaitu sejarah, masa kini dan masa depan) bagimana peradaban dibangkitkan dan dihancurkan.

Misalnya Allah SWT menurunkan 40 ayat khusus untuk mengomentari kekalahan perang Uhud. Dalam pandangan alQuran maupun sejarah, itu hanya perang kecil dibanding perang perang yang pernah terjadi di dunia.

Namun Allah SWT membawa konteks perang itu pada jatuh bangunnya peradaban, bagaimana peradaban jatuh dan bangkit. Taujih tentang peradaban yang langsung dari langit ini benar benar mengkonstruksi nalar, jiwa dan pensikapan komunitas kecil ini untuk menjemput takdir peran peradabannya baik individual maupun kolektif komunal.

Generasi Sahabat Nabi ini memang generasi terbaik yang sedang dipersiapkan sebagai prototype model baru peradaban. Untuk itu mereka dipersiapkan secara personal untuk memiliki peran peradaban yang memberi solusi dan peringatan (bashiro wa nadziro) juga menebar rahmat bagi semesta (rahmatan lil alamin), kemudian secara komunal dipersiapkan untuk peran menjadi the new best model community (khoiru ummah dan ummatan wasathon), dan Rasulullah SAW adalah Arsitek Peradaban yang merancang Model Baru Peradaban.

Lalu kita semua mencatat, model baru peradaban yang dirancang ini menemui wujudnya sebagai Madina alMunawaroh, sebuah model peradaban baru yang menyebabkan model lama peradaban menjadi usang. Kebaruan model yang sesuai fitrah manusia dan dirasakan manfaatnya oleh manusia itulah yang telah menggulung kedua model peradaban lama itu untuk pupus selamanya.

Semoga Maulid kali ini menyadarkan kita bahwa kita tak harus selalu berhadap hadapan berperang dengan model lama, menjadi terapis kebiadaban model peradaban lama apalagi sibuk menjadi pemadam kebakaran peradaban tetapi jadilah arsitek peradaban yang merancang model baru peradaban sehingga model lama menjadi usang. Begitulah sunnah yang telah berlalu pada Nabimu.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife

Sekali Lancung Keujian, Seumur Hidup Orang Tak Percaya — Word is our Bone

Jusman Syafii Djamal
June 6, 2018

Di bulan puasa hari lahir nya Al Quran dgn ditandai ayat Iqra Bismirabika …. tiba tiba saya ingat , pengalaman belajar tentang kehidupan dimasa SMA. 45 tahun lalu.

Upaya Membangun lingkaran persahabatan dari banyak teman berbeda dimasa SMA dulu. Saya punya empat orang sahabat semuanya sudah wafat mendahului saya.
Kami dulu memiliki sebuah perpustakaan, begitu saya menyebutnya bersama empat teman yang kini sudah almarhum Pangeran Napitupulu, Raja Ingan Sitepu, Chairil Munir.

Perpustakaan yang dimaksud adalah langganan toko sewa menyewa buku silat. Ada Khoo Ping Hoo, ada Gan KL, Ada To Liong To ada Ang Bi Tin dan Juga Pendekar Suling Emas serta Pendekar Sakti.

Kami semua seolah temggelam dan rasanya ingin belajar menjadi Bu Pun Su Lu Kwan Tju. Menjadi jagoan tanpa tanding, tetapi punya julukan tak pintar bersilat dan tak jago Sastra.

Seolah dengan hanya menguasai pedang satu jurus seperti Pendekar Hina Kelana. Memiliki strategi tak teraba :’Dikira kosong ternyata berisi, dikira ada isinya ternyata kosong.” Kami dapat menaklukkan dunia kangow.

Kami sangat rajin ke “Perpustakaan” terutama ketika menunggu azan magrib buka puasa. Paling tidak lima buku habis disantap. Setelah habis magrib tak ada jalan lain kecuali shalat Tarawih bersama teman teman lainnya.

Teman teman teman saya ini teman yang baik, meski dua orang berbeda agama mereka selalu menemani saya ketika berpuasa. Pangeran almarhum memiliki sebuah vespa. Sementara saya kemana mana naik sepeda.

Dengan sepeda saya tiap sabtu dan minggu mengelilingi kota medan. Raun raun untuk saling kunjung mengunjungi sesama teman. Sebuah “ritual” untuk membangun persahabatan sebagai sesama anak SMA 1 jalan Cik Ditiro Medan.

Jika tidak dirumah kami duduk dirumah seorang teman lain di jalan Pattimura, kami juga sering berkumpul di Pajak Peringgan. Biasanya di bioskop Astanaria menunggu seorang saudara tua yang kebetulan jadi “Preman” disana, untuk bisa tonton gratis di kelas kambing tau pun kelas satu.

Tergantung situasi pemilik bioskop.

Persahabatan model begitu yang melahirkan rasa keIndonesiaan saya. Dan aku fikir semua anak muda yang bersekolah di SMA disekitar tahun 70-80 an akan menjalani “ritual” yang sama. Merajut persahabatan sambil bermain bersama.

Main volley, main bola, luntang lantung di pasar atau di pajak sayur , tanding catur di warung kopi dan belajar bersama untuk menyelesaikan PR dari Guru Matematika , Fisika dan Kimia yang ketika itu terkenal sebagai Pembangun Disiplin Belajar.

Tanpa Matematika dan Fisika dengan Guru yang “strength” dalam. membangun disiplin belajar dengan timbunan pekerjaan rumah serta sifat kebapakan yang dimiliki para guru, boleh jadi kami anak SMA 1 Medan mungkin 20 tahun kemudian akan jadi “gelandangan malam”.

Kami menyebutnya dengan istilah “gelam goli”. Gelandangan Malam Golok Melintang. Istilah yang dibuat seram agar banyak orang mau bersahabat. Ancaman atau gertak sambal kata orang Medan.

Gertak sambal yamg sering melahirkan persahabatan. Tak kenal maka tak sayang. Itu dimasa salu, empat puluh lima tahun lalu. Entah kini.

Dengan kata lain Matematika dan Fisika merupakan jalan kami mengenal arti keharusan untuk belajar sungguh sungguh menjadi orang dimasa depan.

Ketika tahun 70-80 an Guru saya itu bernama Palit D Harahap untuk Fisika , Sianturi untuk Matematika dan Lundak Sianturi untuk Kimia
Ketiganya Sudah Almarhum semoga Allah melapangkan jalan Nya ke SurgaNya nan abadi.

Melalui pelajaran Ma Fi Ki, Matematetika, Fisika dan Kimia kami belajar tentang “law of Nature”.
Segala sesuatu dimuka bumi ini ada persamaan gerak nya. Tiap peristiwa dan equation of motions memiliki batas gerak maju dan domain kewenangan atau ruang lingkup kerjanya.

Melalui pelajaran yang diberikan oleh guru guru di SMA itulah kami memahami bahwa tiap insan itu memiliki “domain” ruang geraknya.
Tak ada seseorang yang dapat mengklaim bahwa ialah satu satunya yang paling pintar, paling benar dan paling jago.

Dari pelajaran Matematika Fisika dan Kimia kita menjadi faham bahwa “keberagaman melahirkan keindahan”.
Multi variable selalu merupakan kodrat fenomena alamiah. Yang memunculkan volatility, fluctuation dan complexities.

Kami diajarkan relasi antar variabel.berbeda dalam persamaan tersamar. Sebuah equation yang menarik untuk dikaji.
Equation menjelaskan fenomena fisika dan kimia serta biologi yang ada dalam alam semesta.

Dimasa SMA itu juga saya bertemu Guru Bahasa Jerman dan Bahasa Indonesia yang baik.

Mereka tak hanya mengajari tentang kerumitan berbahasa dengan belajar grammar.
Yang dibawa oleh mereka adalah keindahan cerita dalam bentuk “literature” dan pribahasa.

Belajar memahami makna kata dalam sebuah kalimat.

Guru Bahasa ini, selalu menasihati saya agar dalam hidup kedepan saya harus selalu menjaga dua keahlian utama untuk selalu diperbaharui.
Yakni keahlian berhitung dan mengarang menulis cerita.

Keahlian Matematika dan Bercerita.
Mereka selalu menyebut contoh Founding Father NKRI yang pintar membangun logika dan argumentasi yang kuat dalam menjelaskan duduk soal secara rinci.
Keahlian pidato, berceramah dan berdebat yang menyebabkan Indonesia dapat dipersatukan dengan kata kata tidak semata mata dengan bedil.
Semua founding father sangat kuat dan memiliki kemampuan berbahasa “intelectual defence”.

Mereka pintar berdebat, enak didengar jika berpidato, suara dan tone turun naik ikuti irama.

Emosi terbawa untuk berlayar menuju arah yang sama yakni Kesejahteraan rakyat dan keadian sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan cara itu Founding Father Membangun jembatan emas menuju masa depan.
Dengan kekuatan intelektualitas menemukan persamaan dalam perbedaan wacana
Dialog yang bertumpu Pada kecerdasan meyusun kata dan kalimat serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Keahlian paripurna Yang kini generasi muda kita Insya Allah jauh lebih baik.
Begitulah dimasa SMA 45.tahun lalu, melalui pelajaran Matematika, Fisika, Kimia dan Literature saya belajar tentang arti keindahan dalam keberagaman ide.
Di ITB saya kemudian belajar makna Harmony in progressio.

Harmoni hanya terwujud jika kita bekerja untuk kemajuan bersama, melalui konsep Teknologi, Man Made World dan The Limit of Growth nya Club of Rome.Beauty atau keindahan secara ilmu matematika didefinisikan sebagai “Menonjol dimana Perlu”.

Dengan kata lain melalui Pekerjaan Rumah yang amat banyak kami dididik untuk saling belajar bersama sebagai suatu teamwork.

Guru Fisika ingin kami memahami benar apa yang ditulis oleh Widagdo, dalam buku pegangan. Oleh Pak Palit Harahap kami diminta memiliki pensil merah biru. Ujung satu bewarna meeah. Ujung lain bewarna merah. Tak lupa satu belebas dan mistar segitiga. Ketika membaca buku Fisika pensil merah dan biru harus ditangan.

Membedakan fakta dan informasi.

Semua elemen fakta dan informasi yang telah diketahui istilah dan angka nya harus dicatat dalam kolom diketahui bewarna biru.Dengan sebuah gambar bejana kita mencatat istilah P = Pressure, V=Volume dan T atau temperature.Parameter yang tak diketahui dan ditanya diberi dan ditulis dalam warna merah.

Melalui warna merah dan biru kami belajar membedakan mana informasi yang benar mana yang palsu. Mana parameter yang bener bener dikuasai, mana yang masih mengambang dan mana yang sesungguhnya jadi objekt masalah untuk ditemukan solusinya.Dari pelajaran semacam ini kalimat Confusius yang diperoleh dari Buku Khoo Ping Hoo jadi pribahasa yang masuk dalam kepala.

Jika kata kata telah kehilangan makna maka kebebasan untuk memilih yang kita miliki sudah hilang. Word is our bone begitu kata pribahasa. Kata yg diucapkan ibarat kuda. Jika dilepaskan dari kekangan tak mungkin ditarik kembali.Kata kata yang diucapkan lidah pendekar tak mungkin lagi ditarik kembali oleh kuda sembrani sekalipun. Begitu yang sering ada dalam dialog para pendekar kangow dalam buku Khoo Ping Hoo , Gan KL.

Kita memang memerlukan sahabat yang kata katanya menjadi wujud dari apa yang difikir dan disimpan dalam kepalanya. Melalui kata kata sahabat, teman dan para pemimpin usaha atau pemimpin pemerintahan, kita selalu memiliki patokan atau guideline untuk membangun alternatip rencana untuk menjejaki masa depan.Tapi jika kata tak lagi punya makna, kebebasan untuk memilih jalan masa depan juga kehilangan artinya.

Ketika kata kata kehilangan makna, kita kehilangan kebebasan untuk memilih. Begitu kurang lebih ujaran Confusius yang pernah saya baca dicerita silat karangan khoo ping hoo ketika SMA 1,jalan Cik Ditiro.

Hari ketujuh belas puasa ini saya jadi teringat kenangan pada guru guru SMA sehabis membaca surat Al Qalam sebuah pena yg dimulai fengan ayat Nuun….Entah kenapa. Mungkin karena di WA saya penuh dengan banyak berita yang menarik yang dating silih berganti, dan saya tak lagi mampu memilah mana yang memiliki makna mana yang tidak.

Ketika kata kata telah memberontak terhadap makna, ketika imej telah menjauh dari realita dan hoax menjadi wujud komunikasi, bagaimana mungkin kita beranjak maju sebagai suatu Bangsa ?.

Apa benar begitu ?, wallahu alam. Mohon maaf jika ada kekeliruan kata disini. Salam
11