Kampus & Radikalisme

Oleh: Prof. Ir. Daniel Mohammad Rosyid Ph.D Guru Besar ITS Kompas edisi Minggu 7 Mei 2017 menyajikan headline "Rektor diminta Cegah Radikalisme". Ini permintaan Menristekdikti pada para rektor dalam acara Deklarasi Semangat Bela Negara dari Semarang untuk Indonesia di UNNES Sabtu kemarin. Hemat saya, seruan semacam ini baik, tapi tidak akan efektif. Mengapa? Karena seruan … Continue reading Kampus & Radikalisme

Merdeka Belajar: Anak dan Kelak Demokrasi Kita

Kampus Guru Cikal December 7, 2016 Merdeka Belajar: Anak dan Kelak Demokrasi Kita Najelaa Shihab - Pendidik Beberapa minggu belakangan, banyak peristiwa yang bisa menjadi pelajaran bagi anak tentang demokrasi. Anak membangun ke-Indonesia-annya dengan mengamati dan mempraktikkan yang terjadi. Hari ini, kita sebetulnya berkesempatan menumbuhkan cinta demokrasi saat mengajarkan literasi media digital serta mencontohkan pemahaman … Continue reading Merdeka Belajar: Anak dan Kelak Demokrasi Kita

Road Safety dan One Village One Product (Traveling Note 8)

Jusman Syafii Djamal December 31, 2016 Travelling note kedelapan kali ini sy buat ketika sedang mampir di Rest Area. Di Jepang setiap supir diwajibkan untuk beristirahat menhentikan mobil nya setiap dua setengah jam. Sebab supir mengantuk di jalan tol bebas hambatan sangat berbahaya bagi keselamatan dirinya, penumpang dan pihak ketiga atau juga penderitaan keluarga dirumah. … Continue reading Road Safety dan One Village One Product (Traveling Note 8)

Halal Food di Tokyo (Travelling Note 3)

Jusman Syafii Djamal December 27, 2016· Tulisan ini sy ketik diatas iphone dan di unggah liwat jaringan wifi LTE dalam perjalanan menuju Nagoya dengan Shinkansen Nozomi. Kecepatan kereta API ini 330 km perjam. Stabil dan terlihat dikanan kiri bangku saya anak kecil tertidur dipangkuan ibunya. Tenang nyaman dalam kecepatan tinggi. Safety first. Mahakarya teknologi Jepang.simbol … Continue reading Halal Food di Tokyo (Travelling Note 3)

Imajinasi

dickydwiananta

Coba kita bayangkan, gojek atau transportasi berbasis aplikasi lainnya, tapi tanpa Nadiem Makarim atau pemilik-pemilik lainnya. Kemudian produk aplikasi itu dimiliki oleh semua tukang ojek dan dikelola secara demokratis. Selain itu, juga ada transparansi dan pertanggung jawaban secara akuntabel. Dengan itu, setiap tukang ojek akan mendapat uang sesuai dengan tarikannya, kemudian juga disepakati pengambilan nilai dari si tukang ojek secara bersama (sebagaimana dilakukan oleh Nadiem Makarim dengan 30 persen ke setiap tukang gojek). Bedanya, pengambilan nilai itu dikembalikan ke lembaga yang menaungi tukang ojek supaya tetap operasional, yang sisanya juga kemudian dikembalikan ke tukang ojek lewat sisa usaha.

Coba kita imajinasikan, bila seandainya ibu-ibu di kampung (baik di desa atau di kota) mendata kebutuhan rumah tangganya masing-masing. Mereka mendata berapa kebutuhan beras tiap bulannya, berapa kilogram telur dalam seminggu, dan berapa liter minyak goreng untuk satu kali masa panen. Setelah terdata semuanya, kemudian dikumpulkan dalam sebuah data rata-rata akumulasi kebutuhan…

View original post 449 more words

Perombakan Pendidikan dan Sekolah Gratis

Oleh: Y. Nugroho Widiyanto Kompas, 11 Oktober 2016 "Perlu ada perombakan besar-besaran untuk meningkatkan kualitas pendidikan kita," demikian diungkapkan Presiden Joko Widodo, Rabu (5/10). Jagat perpolitikan dan pendidikan Indonesia geger pada awal 2000-an saat Bupati Jembrana Gede Winasa meluncurkan program sekolah gratis. Tindakan populis yang out of the box ini menjadi buah bibir di semua … Continue reading Perombakan Pendidikan dan Sekolah Gratis

20 Pertanyaan Keren Untuk Anak Sepulang Sekolah

ihei

sekolah

Bertanya pada anak tentang kegiatan di sekolah mungkin tidak semudah yang dibayangkan. Seorang ayah mengisahkan bagaimana pertanyaan yang biasa dilontarkan banyak orangtua ternyata kurang efektif untuk menggali bagaimana anak berperilaku di kelas. Seperti beberapa orangtua yang lain, sang ayah bertanya, “Gimana sekolahnya hari ini?” dan menemukan jawaban yang sama dari sang anak yang duduk di bangku SMP, “Baik, Yah.”

Namun saat mengecek rapor daring (online) atau hadir dalam pertemuan dengan guru di sekolah, sang ayah mendapatkan gambaran yang jauh berbeda dari jawaban “baik” dari si anak. Meskipun secara umum nilai ulangannya bagus, ia sering luput mengumpulkan tugas tepat waktu, dan hal tersebut membuat prestasi akademiknya menurun.

Agar tidak kehabisan ide dalam bertanya seputar kegiatan anak di sekolah – dan tidak melulu menanyakan hal yang sama setiap hari – saya memutuskan untuk mencari berbagai pertanyaan keren yang digunakan para pendidik sekaligus orangtua sepulang anak sekolah. Liz Evans, seorang mantan guru, blogger…

View original post 300 more words