Hakekat Pernikahan #4

Ustadz Harry Santosa

Seorang suami yang telah menikah lebih dari 10 tahun, ketahuan oleh istrinya selingkuh. Betapa menyakitkan, sambil menangis terisak istrinya menceritakan kepada saya, betapa pengorbanannya selama ini, pontang panting membantu membiayai nafkah keluarga termasuk membiayai kuliah S2 suaminya sampai berhasil mengambil spesialis, ternyata balasannya hanya perselingkuhan yang menyakitkan.

Sang istri tak habis fikir, pengorbanannya seolah sia sia, mengapa suaminya tega mengkhianatinya, padahal ia selalu setia membantu, menghabiskan uang tabungannya, berusaha mencari uang walau harus babak belur demi agar suaminya selesai kuliahnya dan tercapai cita citanya. Kini sakit sekali, rasanya ia ingin kabur, lari dari pernikahannya, tapi kemana. Keberatannya hanya satu yaitu anak, andai tidak ada anak, sudah pasti sudah pergi entah kemana.

Begitulah, bantuan kepada suami tak selalu menjadi kebaikan walau diniatkan sebagai kebaikan. Bantuan yang terus menerus kepada seorang suami yang kurang tangguh, akan membuatnya semakin lemah dan goyah, lalai dan terlena,

Pada jangka panjang malah membuatnya kehilangan identitas dan harga dirinya atau peran fitrab keayahannya, lalu segala hal yang menyimpang dari fitrah pasti akan memunculkan perilaku dan akhlak yang buruk, misalnya berkhianat atau selingkuh untuk mencari harga diri di luar sana, kecanduan game/pornografi, depresi dan frustasi, semakin egois walau semakin peragu dstnya.

___

Seorang suami yang telah menikah belasan tahun, dan berkarir cemerlang selama belasan tahun, tiba tiba bermasalah dengan atasannya, lalu ia mengalami PHK. Ternyata peristiwa itu membuatnya susah bangkit, berkali kali interview selalu gagal. Padahal dengan pengalaman bekerja di perusahaan internasional belasan tahun dengan jabatan bagus seharusnya tak sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan, ternyata tidak.

Ternyata ia tak tangguh walau pintar. Sepanjang hidupnya ia tak pernah gagal, sejak kecil selalu juara, kuliah di PTN papan atas, lalu bekerja dengan karir mulus. Ia tak pernah ditempa untuk tangguh dan tak siap mengalami kegagalan, ia hanya dipersiapkan untuk berprestasi di sekolah.

Sang istri kebetulan orang kaya, orangtuanya tuan tanah di daerahnya, lalu menolong suaminya dengan membuatkan sebuah perusahaan dan menempatkan suaminya sebagai direktur utama. Apa yang terjadi, masalah tak selesai, bahkan pertengkaran setiap hari!

Sang istri heran, ia merasa sudah banyak membantunya, tak pernah menuntut nafkah, namun suaminya nampak tak bersemangat dan kinerja perusahaannya buruk. Bahkan perilakunya kepada dirinya juga semakin hambar dan tak menyenangkan bahkan semakin sangat egois.

Ketika saya interview suaminya, suaminya mengatakan bahwa ia merasa dijebloskan dan diberi beban berat mengurus perusahaan. Setiap hari dirasakan berat untuk melangkah kerja di perusahaan tsb. Bahkan sudah menyentuh harga dirinya sebagai lelaki dan ayah, apalagi semua fasilitas yang diberikan adalah pinjaman dari mertuanya yang kaya raya itu.

Begitulah seringkali kita tergesa membantu dan memberikan solusi kepada pasangan, namun bukan solusi yang sebenarnya dibutuhkan, sehingga bahkan dianggap beban dan menjadi masalah baru.

___

Teman teman yang baik,

Tentu saja membantu pasangan adalah sesuatu yang baik, namun bantuan istri kepada suaminya jangan sampai tanpa sadar melemahkan atau menggerus peran kesuamian dan peran keayahannya, termasuk menggerus fitrah keibuan dan keistrian. Rumah tangga memang tempat berkolaborasi suami istri, namun jangan sampai meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya (zhalim), maksudnya tetap ada adab berupa hirarki dalam peran keayahbundaan.

Harus ada pemisahan peran yang jelas walau dikerjakan bersama. Ada responsibility, ada accountable, ada inform dstnya. Di era posmo, hirarki ini dihilangkan, semua untuk semua, suami boleh jadi istri, istri boleh jadi suami, walhasil segala sesuatu yang tidak bergerak pada garis edarnya, tentu akan merusak keseimbangan dan keharmonian mikro maupun makro kosmos.

Keluarga atau pernikahan adalah ayat ayat Allah, bukti kebesaran Allah, juga perjanjian besar (mitsaqon gholizhon) yang merupakan peristiwa besar peradaban, maka peran peran di dalam pernikahan harus ditempatkan sesuai fitrahnya atau maunya Allah agar harmoni dan seimbang.

Tidak membantu suami dalam menutupi tanggungjawabnya, seperti finansial atau nafkah, membuat misi keluarga, grand design pendidikan keluarga termasuk mendidik anak dll bukan berarti seorang istri tak boleh berkontribusi, berbisnis, berkarir dan menghasilkan pendapatan, silahkan saja, namun sekali lagi jangan sampai menggerus fitrah keibuannya dan juga fitrah keayahan suaminya.

Sebagamana dibahas sebelumnya bahwa penyebab runtuhnya sebuah pernikahan adalah ketiadaan misi pernikahan yang jelas, ketiadaan petajalan bersama untuk memberikan sebesar manfaat bagi ummat yang membuat cinta mereka semakin merekah indah sehingga Allah menjadi ridha dan merekapun ridha. Umumnya yang ada adalah obsesi duniawi yang merobohkan bangunan cinta yang rapuh sejak berdirinya karena berdiri di atas fondasi yang rapuh.

Namun ada penyebab runtuh yang kedua yaitu keidakmampuan untuk saling mencahayakan, termasuk ketidakmampuan mengurai masalah yang menghalangi merekahnya cahaya fitrah masing masing, sehingga yang terjadi adalah kekusutan yang disebabkan akumulasi masalah yang tak pernah bisa diurai dengan baik. Kekusutan dalam jangka panjang menjadi penyebab perpisahan.

Langkah Langkah Membantu Pasangan untuk kembali kepada Fitrahnya.

Jika suami nampak kurang tangguh, bantulah ia untuk bangkit, bantulah ia untuk mampu memerankan peran sejati keayahan dan kesuamiannya. Jangan tergesa membantu sebelum menggali mendalam apa sesungguhnya akar masalahnya dan akar potensi kebaikannya. Makin dalam menggali dan menemukan akarnya maka makin tajam solusinya. Makin tergesa memberi solusi, maka makin melebar masalahnya.

Sebelum memulai langkah teknis berikut, maka perlu untuk menyadarkan suami, bahwa hak suami dan hak istri untuk berbahagia dan berkualitas hidupnya. Menempatkan dan menjalankan peran sesuai fitrahnya justru akan mendatangkan rezqi dan keberkahan yang berlimpah. Jika sulit menyadarkan, gunakan tekanan keluarga besar, orang yang berpengaruh dan ahli yang disegani.

Langkah langlah yang bisa dilakukan berdua, baik istri kepada suami, atau suami kepada istri, melalui interview mendalam dengan menurunkan ego serendahnya.

Langkah 1. Emphatize, tanyakan dengan halus dan santun apa yang dirasakan, apa yang membuat frustasi, apa yang diharapkan dll lakukan ini untuk setiap aspek fitrah. Digali akar penyebab, penghalang dan pemicunya.

Langkah 2. Define, simpulkan dan ambil benang merah, apa sesungguhnya kebutuhan terdalamnya, penghalang terbesarnya dan pemicu bangkitnya

Langkah 3. Ideate, tuliskan idea2 solusinya utk memenuhi kebutuhannya, menghilangkan penghalangnya, dan memanfaatkan atau memunculkan pemicunya. Pilih yang paling mudah dan berimpak besar. Idea ini bisa juga melibatkan solusi yang harus dilakukan istri.

Langkah 4. Prototype, detailkan ideanya, sehingga menjadi rancangan program atau proyek atau kumpulan aktifitas plus tahapan tahapannya utk 6 bulan sampai setahun ke depan

Langkah 5. Confirmation, konfirmasikan dengan suami untuk sempurnakan program

Langkah 6. Commitment and Discipline. Komitmen bersama dan laksanakan dengan disiplin

Langkah 7. Evaluate and Corrective Action. Sepanjang proses atau pelaksanaan program lakukan evaluasi dan jangan khawatir apabila ada koreksi untuk perbaikan atau perubahan aktifitas sepanjang disepakati

Langkah 8. Tawakal dan berharap Taufiqullah

Begitulah pernikahan, tempat untuk saling mencahayakan fitrah agar kembali kepada kesejatian peran atas fitrahnya, bukan tempat saling komplain atau bahkan saling menutupi kezhaliman atau menutupi kelemahan dalam menjalankan peran atas fitrahnya.

Semoga bermanfaat

#fitrahbasedlife
#fitrahworldmovement

Advertisement

Hakekat Pernikahan #3

Ustadz Harry Santosa

Seorang perempuan yang sangat hebat dalam karir, bertanya pada seorang Ulama, “Bagaimana saya harus taat dan tunduk pada satu lelaki di rumah, sementara saya memimpin 1000 lelaki di kantor?” .

Ulama yang bijak ini menjawab dengan tenang, “Di dalam Islam ada Adab suami dan istri, diantaranya adalah istri harus taat dan tunduk kepada suami. Jika anda merasa perempuan hebat, maka menikahlah dengan lelaki yang lebih hebat dari anda atau memahami kehebatan anda, sehingga ia bisa menghargai kehebatan anda dan anda bisa patuh dengan ikhlash”

Ada seorang suami curhat kepada saya, dengan menangis ia mengatakan bahwa istrinya belakangan ini sering merendahkannya, kesalahan kecil saja dari suaminya membuat istrinya sering kalap, memaki maki dan selalu mengulang ngulangnya. Cacian dan makian kerap keluar dari mulut dang istri. Goblok, tolol dsbnya.

Usut punya usut ternyata sang suami bekerja freelance atau bisnis serabutan, sementara sang istri bekerja di perusahaan mapan dengan gaji besar. Sang istri sudah sejak lama ingin resign, fitrah keibuannya gelisah, ingin membersamai anak anaknya, sementara ritme kerja yang hectic di perusahaannya semakin membuatnya stress.

Walau disepakati bersama, namun sang istri seperti terperangkap karena keluarga mereka masih memiliki cicilan rumah yang harus dibayar setiap bulan dan besarannya tidak bisa dibayar oleh gaji suaminya. Inilah pemicu kemarahan yang tak wajar pada suaminya.

Hari ini jargon kesetaraan gender disuarakan terus seolah suami boleh jadi istri dan istri boleh jadi suami, tiada hirarki siapa imam dan siapa makmum di rumah. Cara pandang yang aneh, padahal secara alamiah, dalam hal yang paling sederhana sekalipun, dalam perjalanan misalnya, maka perlu ditunjuk siapa pemimpin dan siapa yang dipimpin, termasuk pembagian peran yang jelas.

Belum lagi arus ekonomi konsumtif, yang membuat suami dan istri, harus keluar rumah mencari nafkah agar bisa mencicil rumah dan gaya hidup perkotaan yang serba instan berbayar. Anak anak tinggal dititip ke sekolah mahal yang dianggap kualitas berbanding lurus dengan kemahalan. Padahal mahalnya biaya sekolah hanya buat kemegahan gedung bukan kualitas guru dan pemberdayaan orangtua.

Tiada lagi pembagian peran ayah bunda dalam makna peran peran hakiki sesuai fitrahnya, yang ada adalah pembagian cicilan semata. Semua cicilan dibagi rata atau dibagi berdasarkan besaran gaji, yaitu yang gajinya besar membayar cicilan yang besar dsbnya. Yang gajinya lebih besar, bisa berperan lebih besar dan boleh banyak mengatur. Kiblat dan orientasinya serba materi.

Hal di atas, dan masih banyak lagi penyebab lainnya, seperti sistem pendidikan maupun pendidikan rumah yang tak pernah mempersiapakan anak lelaki menjadi ayah sejati atau anak perempuan menjadi ibu sejati sesuai fitrahnya dll, menyebabkan rumah tangga kehilangan hirarki peran dan posisi. Tent1u saja sudah bisa dibayangkan bahwa keluarga keluarga seperti ini sangat rapuh dan rentan berpisah. Rasa hormat pada suami atau rasa sayang pada istri, hanyalah basa basi semata, intinya adalah materi.

Sebagai contoh di Jepang, walau juga banyak kelemahan di sana sini, namun kita mengenal Jepang dengan masyarakatnya yang sangat tertib dan teratur serta disiplin, dengan pembagian peran sangat penting sehingga tatanan masyarakat dapat harmoni.

Dalam rumah tanggapun demikian, ayah berperan dalam ruang publik, sementara ibu berperan dalam ruang domestik. Karenanya akan dianggap aneh atau tabu di sebagian besar masyarakat Jepang, apabila ada perempuan yang sudah punya anak kecil bekerja di ruang publik. Ada istilah yang disematkan yang membuat mereka malu menyandangnya, sebagai ibu yang aneh, punya anak kecil tapi berkarir.

Jadi ada saatnya kapan seorang ibu bekerja di ruang publik baik fulltime atau partime, yaitu tergantung pada usia anak. Jika masih balita tentu ibu full time di wilayah domestik, jika anak beranjak besar dan bersekolah bolehlah para ibu mengambil partime untuk peran di ruang publik, dengan catatan harus ada di rumah sebelum anak dan suami tiba di rumah. Tradisi seperti juga semakin berat dipertahankan dengan serbuan pemikiran barat dan era posmo yang menghilangkan hirarki dalan semua lini.

Dalam perspektif inilah sebenarnya penting mempersiapkan diri untuk menikah muda, agar ketika anak sudah mandiri dan mentas di usia 15 tahun, maka ayah dan ibu, jika menikah di usia 20, maka saat ini masih usia 35 tahun dan bisa lebih aktif dan fokus di ruang publik.

Peran Keayahan dan Peran Kebundaan

Keharmonian terjadi ketika masing masing memahami peran spesifiknya sesuai fitrah dan secara disiplin memainkan perannya dengan baik. Bagai pilot dan copilot, selain harus memiliki petajalan yang jelas, juga masing masing harus menyadari peran spesifiknya.

Ada contoh yang pernah saya tulis, tentang film internship. Walau disepakati, misalnya ayah sepakat untuk jadi ayah rumahtangga yang sehari hari mengurus urusan domestik, sementara juga disepakati istri berkarir atau berbisnis karena dianggap lebih bersinar, pada kenyataannya sering menyebabkan perselingkuhan dan kegalauan pada kedua belah pihak, karena menyalahi peran atas fitrahnya.

Maka agar pernikahan langgeng, sangat penting bagi ayah dan bunda, atau suami dan istri memahami peran peran nya selaras fitrah.

Ayahlah sang Imam, yang harus menjadi lelaki sejati yang memiliki misi besar perjuangan yang ajeg bagi keluarganya. Ayahlah a man of mission and vision. He finds the mission, shows the mission and lead the mission. Kebahagiaan seorang ayah adalah apabila ia mampu memerankan peran leader yang punya misi dan narasi jelas bagi keluarganya.

Bundalah sang makmum, yang harus menjadi perempuan sejati yang memiliki kesetiaan dan ketulusan untuk mendukung misi perjuangan sang suami dengan segenap jiwa raga. Bundalah yang harus menerjemahkan misi suaminya itu ke dalam value keseharian di rumah, bahkan sampai kepada perancangan kurikulum bagi anak anak suaminya agar kelak anak anak suaminyz bisa melanjutkan misi perjuangan ayahnya. Kebahagiaan hakiki seorang ibu apabila mampu memerankan peran follower bagi perjuangan suaminya.

Ketika peran ini dimainkan dan diperankan dengan baik dan disiplin, maka cinta suami kan tak bertepi pada istrinya, begitupula sebaliknya, kebanggaan dan hormat akan melimpah dari istri kepada suaminya.

Teladan terbaik tentu saja ada pada Keluarga Ibrahiem AS, silahkan dalami peran keayahan Nabi Ibrahiem AS dan peran kebundaan dari bunda Hajar istrinya.

#fitrahbasedlife
#fitrahworldmovement

Hakekat Pernikahan #2

Ustadz Harry Santosa

Banyak istri mengeluh suaminya nampak “gersang” perasaan cinta pada dirinya bahkan mulai menyakiti perasaan maupun fisik. Banyak suami mengeluh, istrinya nampak tak lagi menghargai jerih payahnya, hanya menuntut, mulai nampak tak patuh atau tak setia dll.

Mengapa ada perselingkuhan? Mengapa ada riset di barat yang mengatakan Cinta dalam pernikahan akan memudar pada tahun ke empat atau ke lima dan berganti dengan kebosanan? Mengapa data statistik perceraian di Indonesia seolah membenarkan dengan membuktikan bahwa kasus perceraian terbanyak terjadi di tahun ke lima pernikahan dengan satu, dua orang anak atau terjadi di tahun ke sepuluh?

Cinta yang memudar sering dijadikan kambing hitam apabila terjadi perselingkuhan, seolah menjadi pembenar. Seharusnya mereka merenung, mengapa cinta yang besar bahkan menggebu gebu di awal pernikahan mengapa bisa memudar bahkan hilang sama sekali. Tiada lagi sentuhan dan tatapan juga senyuman yang mendatangkan “setrum listrik atau magnet” sebagaimana pada bulan bulan penuh madu di masa perkenalan maupun awal pernikahan.

Cinta sering dimaknakan sebagai rasa suka, jika makna cinta seperti itu jelas saja cinta akan memudar ketika rasa suka sudah terpuaskan dengan kepuasan fisik dan kepuasan perasaan. Sepertj orang yang kangen makanan favorit, semua rasa kangen sirna ketika kepuasan lidah, perut dan rasa sudah tuntas. Begitupula sebagaimana baju yang kita kenakan, masa lima tahun sampai sepuluh tahun adalah masa yang cukup untuk membuat lusuh dan bosan.

Sungguh kesalahan fatal dalam pernikahan ketika memaknai Cinta sebagai rasa suka. Di sisi lain, cinta sering dimaknakan juga sebagai imbalan, misalnya jika suami memberikan cinta pada istri, maka istri akan patuh dan setia, begitupula jika istri patuh dan setia pada suami, maka suami akan cinta padanya. Lalu teori ini bingung sendiri, yaitu siapa yang memulainya? Cinta dulu atau Patuh dulu? Akhirnya saling menunggu atau memberi dengan harapan kembali, ini alamat kecewa pada akhirnya.

Ada teori lain yang cukup membantu, yaitu memahami bahasa cinta. Konon cinta pasangan akan merekah dan membuncah jika kita memahami bahasa cintanya. Kenali bahasa cintanya, maka kau kan dapatkan cinta pasanganmu. Walau ini nampak membantu namun tak permanen, pada suatu titik pasangan akan merasakan bahwa bahasa cinta dimainkan bahkan dimanipulasi apabila ada kebutuhannya saja.

Begitulah, kita kaya dengan teori teori barat yang lebih menyukai hal hal teknis untuk membina cinta. Bukan tak penting, namun sejujurnya, itu tak mengakar dan permanen. Krisis pernikahan bukan perihal kurang ilmu teknis tentang pernikahan, namun keliru tentang makna makna kunci atau ilmu hakekat hakekat dalam pernikahan, termasuk hakekat cinta.

Istri istri yang selingkuh, suami suami yang selingkuh itu bukan tak paham teori dan teknik teknik itu, bahkan tak jarang mereka adalah penceramah atau motivator pernikahan, lalu mereka frustasi dengan teori dan teknik nya sendiri lalu berkhianat.

Hakekat Cinta dalam Pernikahan

Cinta hakiki adalah kepastian atau keyakinan kepada suatu kebenaran tertinggi yang diyakini dan dicintai bersama suami dan istri, yang menyatukan keduanya dalam kebaikan, kemudian secara bersama bergandeng tangan untuk mewujudkannya sehingga melahirkan keberkahan bagi diri mereka juga ummat. Keyakinan atau kepastian itu dirasakan oleh Jiwa dan organ spiritual bernama Qalbu.

Islam membedakan antara cinta syahwati dan cinta imani. Islam menyuruh kita menemukan cinta sejati dari akar kehidupan yang paling kokoh yaitu cinta ilahi. AlQuran dan AlHadits menjembrengkan kabar kabar yang benar bagaimana cinta hakiki itu berlaku dan bekerja .

Temukan rahasia, mengapa lelaki lelaki hebat sepanjang sejarah, cintanya hebat pada istri nya. Setidaknyaa karena dua hal, yaitu lelaki hebat itu jelas misi hidupnya sehingga memerankan peran imamnya dengan baik. Lalu yang kedua, istri lelaki hebat itu adalah perempuan yang memerankan peran makmumnya, yaitu mendukung misi perjuangan suaminya dengan sepenuh kesetiaan dan kepatuhan. Maka cinta suami pada perempuan yang seperti ini tak bertepi.

Mereka bukan lagi saling mencintai karena alasan fisik atau alasan komunikasi atau alasan agar terbalas atau memanipulasi bahasa cinta agar mendapat kembalian cinta atau alasan duniawi lainnya, namun mereka menemukan alasan besar mengapa mereka harus tetap jatuh cinta bahkan melimpah pada pasangannya, yaitu keyakinan perjuangan bersama di jalan Allah, maka Allah padukan dan muliakan derajat cinta mereka.

#fitrahbasedlife
#fitrahworldmovement

Hakekat Pernikahan #1

Ustadz Harry Santosa

Beberapa Ibu yg sudah beranak curhat pada saya, mereka telah selingkuh, dan kini sangat menyesal, merasa berdosa dan bersalah pada suaminya juga anak anaknya apalagi pada Tuhan dan Orangtua, namun di sisi lain, mereka sulit menghilangkan perasaan yang telah mendalam pada selingkuhannya. Padahal Ia takut aibnya diketahui suaminya juga istri selingkuhannya itu. Ia ingin taubat, lepas dari semuanya…

Kalau para Ayah yang selingkuh biasanya tak pernah langsung curhat ke saya, kecuali dipaksa istrinya untuk menemui saya karena ketahuan dan pernikahan mereka terancam bubar. Kasusnya lumayan banyak, bahkan sampai ada yang selingkuhannya hamil. Hmm.. runyam bukan?

Teman teman yang baik,

Saya yakin bahwa di awal pernikahan, tiada manusia yang apabila fitrahnya baik, yang berniat untuk selingkuh atau khianat atau berlaku tak adil alias zhalim. Mereka pasti mendambakan rumah tangga yang harmonis dan bahagia, sakinah, mawaddah warrohmah dengan pasangan terkasih di sisinya sampai maut menjemputnya, khusnul khatimah bersama…

Namun dalam perjalanan pernikahannya itu, yang sering disebut sebagai bahtera yang mengarungi samudera luas, tentu tiada gelombang besar yang tak ditemui dan tentu tak semua badai yang dilalui itu kecil, pasti ada badai besar.

Dalam pasang surut gelombang dan badai itu, selalu ada alasan ego untuk melakukan hal hal yang mengkhianati perjanjian pernikahan, padahal perjanjian itu adalah perjanjian besar sebagai peristiwa besar peradaban yang harus dipegang sampai mati. Kitabullah menyebutnya Mitsaqon Gholizhon, setara dengan penciptaan langit dan bumi.

Ketahuilah atau ingatlah bahwa Pernikahan adalah ayat ayat Allah, ia suci, urusannya bukan sekedar sah atau legal standing dalam buku nikah, tetapi ia merupakan tanda tanda kebesaran Allah. Begitulah Islam memandang pernikahan, sebuah peristiwa kosmis ideal di alam semesta. Apabila kosmis ini terganggu maka terganggulah semesta.

Pernikahan adalah hakekat kehidupan itu sendiri, ia realita sosial yang merupakan kebenaran mutlak, sekaligus merupakan fondasi peradaban. Pernikahan itulah yang melahirkan cinta sejati, bukan sebaliknya yaitu cinta syahwati yang membawa pernikahan yang suci itu.

Karenanya penting untuk memahami dan meyakini Ilmu atau hakekat hekekat kunci dalam pernikahan, karena kemungkinan dua pertiga hidup kita ada di sana. Hakekat kunci kehidupan itu adalah hakekat penghambaan, hakekat kebahagiaan, hakekat cinta, hakekat Dien (karena pernikahan adalah setengah Dien dan harus menuntaskan separuhnya lagi), hakekat Fitrah, hakekat Tugas atau Misi Pernikahan, hakekat Peran KeayahBundaan dalam konteks fitrah maupun adab, hakekat Akhirat dstnya.

Umumnya kita lebih sibuk pada teknik teknik komunikasi, teknik membina cinta, teknik mengurus anak dll. Teknik itu dinamika yang harus juga dipelajari, namun tanpa menyadari dan meyakini makna makna atau hakekat kunci dalam kehidupan dan pernikahan, maka semua teknik atau cara itu hanya bagai fatamorgana, pacuan tak kemana mana.

Akibatnya, sehebat apapun teknik atau cara, sering ketika bahtera itu goyah, solusi yang dipilih malah membuat masalah baru yang mengkhianati perjanjian besar peradaban ini seperti selingkuh. Bahkan kadang solusi yang nampak islami dipilih, misalnya Poligami.

Padahal tiada syariah tanpa Adab. Memandang syariah juga sebaiknya dari cara pandang hakekat pernikahan di atas, termasuk tentang hakekat adil vs zhalim, bukan sekedar halal haram atau sunnah ga sunnah. Hakekat adil penting difahami dan diyakini agar kelak tidak menzhalimi diri dan orang lain.

Hakekat Misi Pernikahan atau Misi Keluarga

Diantara hakekat pernikahan, selain pernikahan merupakan ayat ayat Allah yang harus dijaga kesuciannya, dirawat fitrah fitrahnya agar berkembang sesuai tahapannya, dibina dengan adab sehingga indah dan berbahagia, juga harus ditemukan peran peradabannya atau misi pernikahannya.

Misi Pernikahan atau Misi Keluarga adalah kesadaran dan keyakinan berssma antara suami istri umtuk menemukan makna pernikahan dalam peradaban, yaitu apa yang akan diperjuangkan bersama di jalan Allah yang membuat jiwa dan cinta mereka semakin merekah dan menyatu menjadi cinta ilahi serta menjadi jalan bagi khusnul khatimah bersama menuju keridhaan Robbnya.

Ibarat bahtera, ia sudah jelas petajalannya, terang benderang rute perjalanannya menuju Allah, itulah hakekat misi pernikahan atau misi keluarga. Tanpa misi keluarga yang ajeg maka rumahtamgga mudah goyah, sebagus apapun teknik komunikasi antara pilot dan copilot, jika tak tahu rute pesawatnya, pasti menuai kegaduhan setiap saat dan semakin lama semakin mempengaruhi kejiwaan mereka

#fitrahbasedlife
#fitrahworldmovement

Kapan Al Qur’an Mulai Diajarkan

Featured

Ust Harry Santosa

Umur Berapa Saya Ajarkan Anak-Anak Saya Quran? – Nouman Ali Khan – Gulf Tour Q&A
Judul asli: What Age Do I Teach My Child Quran? – Nouman Ali Khan

Ada pertanyaan bagus dari seorang Ibu di Gulf Tour yang bertanya, “Kapan anak saya perlu belajar bahasa Arab?
Anak saya 2,5 tahun. Kapan saya harus mengajarnya gramatika bahasa Arab, Qur’an, tajwid dan hafalan? Saya ingin ia dibesarkan dengan Al Qur’an.”

Sangat indah niat anda untuk ajarkan anak anda Qur’an. Tapi, dia baru berusia 3 tahun. Santai saja, Bu.

Kita ingin mereka untuk miliki setiap… Apa yang Anda lakukan pada usia 3 tahun? Anda tak ingat. Bahkan Anda tak ingat pernah memakai sepatu terbalik. Anak-anak berada pada fitrah mereka. Fitrah mereka sangat indah. Biarkanlah mereka.

Ajarkan dengan kasih sayang. Sebagian dari mereka lebih berbakat. Mereka ingin belajar lebih cepat. Berikan kesempatan itu. Sebagian anak ingin banyak bermain.
Biarkanlah mereka mengambil waktu mereka. Para orang tua harus belajar fleksibel dengan anak mereka. Tidak menetapkan standar yang sama. Tidak bandingkan satu anak dengan yang lain, terutama dalam Al Qur’an mereka.

Saya punya enam anak dan cara mereka hafalkan Qur’an berbeda. Cara belajar Qur’an mereka sama sekali tidak sama. Salah satu anak saya bisa menghafal dalam 5 menit. Sangat cepat menghafal, sangat mengagumkan. Anak saya yang lain menghafal yang sama selama satu bulan.

Saya tidak membandingkannya. “Mengapa kau tak seperti kakakmu?”

Saya tidak lakukan itu. Itu adalah zhulm (ketidakadilan), ‘uluwul (obsesi) dan menciptakan rasa benci pada agama. Karena buku (Al Quran) ini ayah saya lebih menyayangi kakak saya. Ini salah. Hentikan. Jangan terlalu tertekan karena anak-anakmu.

Allah tidak menginginkan anakmu menjadi hafidz, atau alim. Allah ingin anakmu jadi muslim yang baik. Allah ingin anakmu mencintai agamanya. Itu yang Allah inginkan. Jadi, santai saja.

Catatan lainnya, tentang anak-anak. Ada beberapa orang datang pada saya dan berkata, “Anak kami 5 atau 6 tahun. Kami tunjukkan video tentang tanda hari kiamat dan bicarakan Dajjal.”

Kenapa kau lakukan itu? Mengapa Anda bicarakan Dajjal dengan anak Anda? Anak Anda baru berusia 5 tahun. Itu membuat dia trauma. Saya sendiri takut membaca tentang Dajjal. Tak perlu diceritakan pada anak.

Anak-anak berada pada fitrah mereka. Anda tahu apa maksudnya? Saat ini mereka tidak bertanggung jawab atas kesalahan mereka. Mengapa Anda ingin buat mereka takut pada Allah di saat mereka tak perlu takut kepada Allah?
Takut kepada Allah diperlukan bagi mereka yang bertanggung jawab atas amal perbuatan mereka. Ya atau tidak?

Sekarang adalah waktu untuk menunjukkan pada mereka cinta, ampunan, rasa sayang dan karunia dari Allah. Cinta Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Tidak
tentang rasa takut, jahanam, hari kiamat, Dajjal dan perang besar… Tidak. Tunggu dulu. Bukan ini yang dibutuhkan anak-anak. Ini akan ciptakan trauma.

Jangan gambarkan agama mereka dengan mengerikan. Anak-anak akan takut. Jangan beralasan bahwa tak ada yang berkata positif pada mereka. Bukan begitu caranya.
Anda tak bisa tontonkan film horor pada seorang anak, lalu katakan tapi kami tunjukkan boneka beruang setelahnya agar masalah selesai. Anda tak bisa lakukan itu. Sangat merusak anak-anak.

Pada permulaan Anda perlu memelihara fitrah itu. Mereka sudah datang dengan cinta Allah. Itulah yang Allah tanamkan di dalam mereka. Pelihara rasa cinta itu, jangan gantikan dengan rasa takut. Rasa takut akan datang kemudian. Saat mereka semakin dewasa, lalu kita bisa bahas tentang tanggung jawab, akuntabilitas. Lalu kau ajarkan tentang hari kiamat, Dajjal pada usia itu.

Mengajarkan semua itu sebelum waktunya, menghilangkan semuanya. Sama dengan mengajarkan Al Quran dan apa saja yang lainnya. Buatlah semua sesuai dengan umur dan penuh rasa sayang. Pencapaian terbesar pada zaman kita,
Wallahi, mohon dengarkan dengan seksama. Pencapaian terbesar untuk anak di zaman kita, bukan banyaknya yang mereka pelajari. Banyaknya yang mereka pelajari tak berarti.

Maafkan jika terdengar seperti menyerang Anda, tapi semua itu tak berarti. Yang berarti adalah berapa besar mereka mencintai Rabb mereka, berapa besar mereka mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam mereka, seperti apa karakter mereka, sejujur apa mereka, semudah apa bagi mereka untuk mengakui sebuah kesalahan, seterbuka apa komunikasi dengan Anda,

Karakter mereka adalah yang terpenting. Bukan ilmu mereka. Ilmu itu dangkal. Hanya untuk ditunjukkan pada orang lain. Saya tidak mengatakan ilmu tidak penting. Tapi, ilmu selalu yang kedua setelah karakter. Selalu akan jadi yang kedua setelah karakter.

Sekarang saatnya memelihara karakter itu, memelihara kepribadian itu, dengan sedikit ilmu pada perjalanannya. Banyak anak yang menghafal Al Quran pada usia dini tanpa karakter, dan itu bukan salah mereka.

Yang ditekankan pada mereka hanya menghafal Al Qur’an. Anak-anak ini akan berbohong, nakal, mereka menghina teman mereka yang tidak menghafal secepat mereka, semua yang tak harusnya dilakukan muslim mereka lakukan, tapi karena mereka hafal Qur’an jadi kebanggaan masyarakat kita.

Apa yang telah kita lakukan? Kita menekankan apa yang tidak Allah tekankan dan kita mengabaikan yang Allah tekankan. Tapi, kita mengaku bahwa kita menjalani deen (agama) kita. Kita harus menyeimbangkan kembali. Ilmu memiliki tempat, karakter juga memiliki tempat. Keduanya harus seimbang. Harus diseimbangkan.

Semoga Allah Azza wa Jalla berikan kita kedewasaan dan rasa untuk besarkan anak kita dengan pemahaman agama yang benar, pendekatan pada deen yang seimbang, penuh kasih sayang, sehingga mereka tidak berbelok dan menemukan yang dicintai selain Islam. Mereka tahu banyak tentang Islam, tapi cinta mereka untuk yang lain.

Ajarkan Agama dengan Rileks

Adriano Rusfi

Miris rasanya menyaksikan anak-anak para aktivis yang tak menunjukkan komitmen yang kuat terhadap agamanya.Merokok, pacaran, pamer aurat, menggunakan narkoba,
homoseks, hamil di luar nikah, gangster, bahkan atheis, bukan lagi barang langka. Benar-benar tersentak ketika membayangkan siapa orangtua mereka dengan segala kiprahnya dalam dakwah.

Apakah orangtua mereka lalai mendidik mereka dengan agama ? Sama sekali tidak !!! Mereka bukan saja sangat serius mendidik anak-anak mereka dengan Al-Islam, bahkan ketat dan keras. Beberapa diantara anak-anak mereka malah telah masuk pesantren sejak usia sangat dini, berjilbab tak lama setelah lahir sebagai perempuan, masuk Islamic Fullday School, hafal Juz ‘Amma sebelum 7 tahun, hafal Hadits Arba’in Annawawiyyah ketika masih TK, dan segudang “prestasi edukatif” lainnya.

Pergaulan anak-anak mereka sangat terjaga. Untuk itu mereka sengaja bikin komunitas sendiri, tinggal di kompleks perumahan yang sama dan sekolah di sekolah yang sama. Seorang anak berusia 3 tahun pernah dicubit bibirnya hingga berdarah oleh ibunya karena dari bibirnya keluar kata “Pacaran”. Tayangan-tayangan televisi di rumah mereka juga sangat terkontrol, begitu pula dengan bahan bacaan. Bahkan, ada yang mengharamkan televisi sama sekali.

Lalu, apa yang salah ?

Pertama, syari’ah dipandang sebagai sesuatu yang “given” dalam rumah tangga mereka. Karena telah dianggap terberi dan menjadi keseharian, maka tak perlu lagi ada penjelasan : apa, kenapa, bagaimana ? Anak diminta berjilbab tanpa ada penjelasan “kenapa ?”. Begitu pula tentang tauhid, akhlaq dan sebagainya. Akhirnya terbentuklah anak-anak yang bagaikan sebuah rumah yang indah namun pondasinya rapuh. KELIHATANNYA TELAH ISLAMI, PADAHAL HANYA TRADISI. Lalu, suatu saat mereka akan mencari momen yang tepat untuk MEMBERONTAK

Kedua, mimpi yang terlalu tinggi. Mereka memimpikan anak-anak yang tumbuh seperti para shahabat, atau shalafush-shalih, atau sekurang-kurangnya seperti Hasan AlBanna dan Syyid Quthb. Mereka bukan saja bermimpi menghasilkan anak-anak “beyond generation”, bahkan “above generation”. Lalu setelah itu para orang tua menjadi stres sendiri dengan mimpi yang dibuat, panik melihat kesenjangan antara “das sein” dengan “das sollen”. Mulailah anak diasingkan, kalau perlu disterilisasi melalui pendidikan antah-berantah. Apakah lahir anak shaleh ? Ternyata tidak. Yang terbentuk adalah GENERASI STERIL NAMUN TAK IMUN TERHADAP GODAAN DUNIA. Anak-anak itu bahkan tak diijinkan untuk menjalani COBAAN KEIMANAN.

Ketiga, Tadribusy-Syar’ie (pelatihan syari’ah) yang terlalu cepat. Allah dan RasulNya selalu benar, bahwa pelatihan syari’ah itu baru dimulai saat anak berusia 7 tahun. Dalam hal ini tak berlaku anggapan “lebih cepat lebih baik”. Tiba-tiba saja, atas nama agama, para orangtua telah merampas hak-hak anak yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka berjilbab sangat dini, belajar shalat sangat dini, menghafal hadits sangat dini. Padahal, Abdullah Nasih ‘Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Awlad telah menegaskan bahwa itu semua selayaknya dimulai pada usia 7 tahun. Akhirnya anak telah dirampas kebebasannya secara dini. Mereka bukan saja telah di-tadrib oleh orang tuanya, bahkan telah di-taklif jauh sebelum aqil-baligh. Pada saatnya kelak MEREKAPUN AKAN MENINGGALKAN SYARI’AH SEDINI MUNGKIN. Andai anak-anak itu kelak di Yaumil Mahsyar mengadu kepada Allah tentang HAK-HAK YANG DIRAMPAS ORANGTUANYA, bagaimana kita akan menjawabnya ?

Keempat, rumah tak lagi menjadi surga (baitii jannatii) bagi anak. Terlalu banyak aturan, terlalu banyak larangan, terlalu banyak kekangan. Ini bukan model rumah surgawi, tapi neraka. Akhirnya, anak tak berkesempatan menyalurkan naluri-naluri instingtifnya di rumah. Mereka tak punya ruang untuk meluapkan dan mengeluarkan “kejahiliyyahannya” di balik dinding rumah. Sebaliknya, di rumah mereka begitu santun, Islami, syar’ie, akhlaqi. Luar biasa. Nah, ketika mereka keluar dari rumah, mereka justru MEMAPAR AURAT DAN MENGUMBAR NAFSU DI LUAR RUMAH. Dunia publik akhirnya menjadi dunia di mana borgol dipatahkan dan
tirani dihancurkan.

Kelima, tidak ramah terhadap fitrah. Para orangtua yang aktivis biasanya sangat pro “ajaran langit” dan kurang peduli terhadap “realitas bumi”. Yang pertama kali terpikir oleh mereka saat akan mendidik anak adalah “Apa maunya Allah”,
bukan “apa maunya fitrah”. Padahal, toh fitrah manusia itu pada dasarnya Islami. Tampaknya, mereka kurang menguasai ayat-ayat insaniyyah (kemanusiaan) yang lebih dahulu turun di Makkah (yaa ayyuhan-naas…), dan lebih fokus kepada ayat ayat imaniyyah (keimanan) yang turun belakangan di Madinah (yaa ayyuhalladziina aamanuu…). Akhirnya, Islam yang sama sekali tak bertentangan dengan kemanusiaan itu, justru dihayati oleh anak sebagai sebuah kontradiksi : ISLAM VS EGO

Akhirnya, justru ketika para aktivis mendidik anaknya dengan ketat dan keras, yang lahir adalah anak-anak yang memberontak terhadap agamanya sendiri. Sedih membaca “Tagline” seorang anak dari “Syaikhul-Kabiir” di Facebook miliknya : Aku tak percaya pada Tuhan !. Seorang anak dari “assaabiquunal-awwaluun” harus mendapatkan perawatan psikiatrik. Di tempat lain, saya harus mengantarkan putra seorang senior pergerakan ke pondok rehabilitasi narkoba. Sedangkan anak dari seorang ustadzah kaliber nasional hobby betul melakukan bullying dan pemerasan terhadap teman-temannya. Kenapa tidak kita tanamkan Al-Islam ini dengan rileks dan manusiawi, untuk membentuk generasi yang targetnya tidak neko-neko : terbaik untuk zamannya???

(Segala puji bagi Allah yang telah membimbing anak-anakku sehingga seluruhnya menjadi aktivis Islam yang ceria)

Tumbuhkan Fitrah secara Selaras dan Paripurna

Harry Santosa
December 20, 2018 ·

Fitrah Bakat berkembang menjadi peran melahirkan karya solutif dalam Karir (WorkLife),
Fitrah Seksualitas berkembang menjadi peran meregenerasi dalam KeAyahBundaan (FamilyLife),
Fitrah Keimanan berkembang menjadi peran Perubahan dlm menyeru Kebenaran (Spiritual Life)
Fitrah Belajar berkembang menjadi peran Inovasi dalam intelektual (Learning Life)
Fitrah Individualitas n Sosialitas berkembang menjadi peran kolaborasi dalam masyarakat (Social Life)
dstnya

Bayangkan apa pengaruh bagi kehidupan jika salah satu fitrah di atas tak tumbuh berkembang sesuai tahapannya?

Berbakat itu penting, namun apa jadinya tanpa Ghairah Menyeru Kebenaran atas fitrah Keimanan
Keimanan itu penting, namun apa jadinya tanpa Karya solutif atas fitrah Bakat
Berbakat dan Beriman itu penting, namun apa jadinya tanpa Antusias Melanjutkan pada Anak Keturunan atas fitrah Seksualitas
dstnya

Mari tumbuhkan semua aspek fitrah secara selaras dan paripurna agar kita dan anak anak kita mencapai kehidupan yang baik dan seimbang dengan peran peradaban yang mencakup semua aspek fitrahnya

Salam Peradaban

#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife

Sekolah Alam yang Mendidik Hati

Wicak Amadeo

Nun di sebuah gedung megah berpintu rapat, sekumpulan anak berusia 5 – 7 tahun dikumpulkan. Mereka adalah murid-murid SD Anu, buah dari seleksi inteligensi yang teramat ketat. Wajar, karena di sekolah tersebut ada begitu banyak pelajaran yang hanya bisa dicerna oleh intelektualitas kelas tinggi. Dibutuhkan logika yang tajam dan penalaran kelas master untuk dapat mencerna paparan dan argumentasi atas tiap hal yang diajarkan.

Ya karena SD itu terlanjur yakin bahwa pendidikan itu adalah upaya membangun otak yang sehat, karena otaklah yang mengendalikan perilaku. Mereka yakin, bersama otak yang cerdas akan mudah mendidik keyakinan dan kebiasaan baik, seperti shalat, puasa, membaca AlQur’an, menutup aurat, berakhlaq mulia dan sebagainya.

Tapi segalanya belakangan berubah menjadi tangis, karena ternyata otak, pikiran dan penalaran tak mengenal kata kebaikan dan kebenaran. Ternyata otak hanya mengenal pengalaman dan data… Pikiran hanya mengenal argumentasi…. Sedangkan penalaran hanya mengenal kata logis. Kini anak-anak cerdas itu telah mampu melawan otak dengan otak, argumentasi dibalas dengan kontra-argumen, sedangkan tesis dihadapi dengan anti-tesis. Apa-apa yang telah tertanam dalam, ternyata tak tumbuh. Sedangkan kebiasaan baik hilang dengan sekejap, seakan usaha penuh disiplin dalam waktu lama, kini hilang tanpa bekas.

Dan tak jauh dari sana, ada sebuah sekolah alam. Di sana hadir berkumpul siapapun yang punya hati. Murid-muridnya tak pernah diseleksi, karena yang diseleksi adalah para ayahbunda mereka : ayahbunda yang punya peduli. Mereka “hanya” punya alam, dan itulah sebabnya kenapa yang dibutuhkan adalah hati. Karena alam hanya bisa dinikmati dengan hati, dan alam berdialog kepada hati.

Ya, alam itu feminin. Ia berbicara setiap hari pada manusia dalam bahasa hati, karena hanya bahasa itulah yang telah Allah ajarkan kepada alam untuk berbicara pada manusia (QS Al-Zalzalah : 4-5). Kalaulah kita tak kunjung mengerti cerita alam, itu karena kita telah terlalu lama berlogika.

Lalu kenapa harus hati ? Tentu, karena kesadaran itu bermula dari hati. Sedangkan niat itu adalah produk dari hati, lalu ia perintahkan otak untuk menggerakkan tubuh. Mungkin kita telah lama lupa, bahwa kesadaran bukan lahir dari pikiran dan niat tidak lahir dari otak. Otak hanya melahirkan ide, bukan gairah. Pikiran hanya melahirkan konsep, bukan niat. Sedangkan logika hanya melahirkan metode, bukan kesadaran. Nah, amal adalah buah dari gairah, kesadaran dan niat. Sementara ide, konsep dan metode hanyalah perangkat-perangkat untuk beramal. Dan sekolah alam sepenuhnya menyadari bahwa keshalehan lahir dari hati yang membuahkan gairah, niat dan kesadaran, sedangkan otak, logika dan argumentasi hanyalah instrumen keshalehan.

Maka para guru sekolah alam pun mungkin bukan orang-orang sangat cerdas, tapi kumpulan orang-orang yang punya hati, cinta, ketulusan dan keikhlasan. Mereka sadar, intelektualitas bisa dibentuk dengan ilmu, profesionalitas bisa dibentuk dengan kompetensi, namun spiritualitas hanya bisa ditularkan oleh cinta dan ketulusan. Jadi, di sekolah alam tak akan banyak kita saksikan debat argumentatif, tapi kaya dengan kisah-kisah menyentuh. Di sekolah alam tak akan banyak kita dengarkan alasan-alasan “kenapa begini dan begitu ?”, tapi yang ada adalah peran-peran yang dimainkan dan dihayati. Di sekolah alam senyum dan airmata lebih banyak berbicara daripada logika dan kata-kata, karena senyum dan airmata mampu melembutkan jiwa.

Saatnya anak-anak kita hidup di sekolah alam, jika yang kita inginkan adalah pembentukan generasi bertaqwa. Karena taqwa itu ada di dalam dada (AlHadits)

Adriano Rusfi
Konsultan Senior, Psikolog, Pelaku Pendidikan
Dewan Pakar Masjid Salman ITB

Apakah Anda adalah AyahBunda yang

1. Selalu mempertanyakan status “legal” dan “tidak legal” dari sekolah alam?
2. Selalu mempertanyakan apakah siswa sekolah alam bisa achieve “nilai akademis”?
3. Selalu mempertanyakan fasilitas dan hal-hal non teknis lain seperti jalan masuk, bangunan, dan sebagainya?
4. Selalu mempertanyakan “kurikulum diknas”?
5. Selalu berniat melanjutkan sekolah anaknya ke sekolah negeri selepas jenjang sekolah dasar?
6. Selalu beranggapan bahwa sekolah alam semacam penitipan anak-anak “liar” atau anak-anak “bermasalah” yang dikeluarkan dari sekolah lain?
7. Selalu menganggap sekolah alam adalah sekolah unggul?

Jika AyahBunda adalah yang demikian, maka jangan teruskan membaca tulisan ini karena akan mengganggu “kebahagiaan” anak-anaknya kelak dan segera lupakan sekolah alam. Bisa jadi, Anda memang salah pilih sekolah.

Tetapi, jika Anda adalah AyahBunda yang

1. Merindukan “sekolah impian” dengan segala eksperimen dan inovasi tentang implementasi sekolah yang membebaskan dan membahagiakan,

2. Selalu curious atau ingin tahu dengan perkembangan potensi bakat anak serta akhlak atau karakter dibanding capaian nilai akademis,

3. Selalu berpikir “lebih baik mencoba sesuatu yang belum tentu gagal, daripada melanjutkan sesuatu yang sudah pasti gagal”,

maka sekolah alam atau sekolah berbasis potensi dan akhlak bersama komunitas bisa menjadi pilihan yang tiada lagi pilihan lain.

Anak-anak di sekolah alam memang sering kalah dalam lomba cepat tepat, sering kalah dalam olimpiade sains, sering kalah dalam berbagai macam kompetisi.

Tetapi, anak-anak sekolah alam sangat hebat dalam lomba merancang dan mendesign serta mengimplementasikan proyek bersama. Lihatlah bagaimana mereka menyiapkan Sale Day, Market Day dan Bazaar di sekolah. Lihatlah bagaimana mereka menyiapkan penelitian untuk Science Fair di sekolah. Lihatlah bagaimana mereka berkolaborasi dengan teman-teman dan fasilitator menyiapkan karya pustaka bersama untuk Pekan Literasi. Mereka hebat dalam karya, bukan sekadar nilai angka dalam raport semata.

Anak-anak sekolah alam tidak perlu belajar serius hanya untuk mengejar nilai akademik. Yang dibutuhkan dan diajarkan di sekolah alam adalah tentang curiosity atau rasa ingin tahu, tentang tradisi belajar dengan logika berpikir ilmiah sehingga tanpa sadar membawanya pada fast learning dan high order of thinking.

Sebelum belajar, mereka berdoa bersama, melantunkan ayat-ayat suci dari kitab suci, bahkan menunaikan ibadah pagi.

Lalu mereka belajar dan bermain dengan kambing, belajar dan bermain dengan kelinci, belajar dan bermain dengan ayam di kandang, belajar dan bermain dengan ikan di kolam.

Mereka tampak bahagia menyusuri jejak jalanan setapak sambil menghirup udara pagi yang segar serta menikmati indahnya alam serta flora dan fauna ciptaan Sang Maha Pencipta, mencari harta karun barang bekas, memanjat atap sekolah, memancing ikan, mengerjakan tugas di pinggir danau atau di dahan pepohonan, melatih keberanian dan kepercayaan diri dengan meniti two-line bridge atau bamboo bridge bahkan meluncur dengan flying fox.

Mereka belajar tidak dengan buku tulis dan bukan hanya dengan buku cetak. Mereka juga berselancar di internet dan perpustakaan.

Mereka kerap menggunakan kertas setengah pakai dari perpustakaan serta terlibat diskusi yang mengasyikkan.

Mereka tampak bahagia walaupun ada yang menghina kelas mereka sama sederhananya dengan “kandang kambing”. Mereka bisa merasakan langsung hembusan angin dan menyaksikan dahan dan daun pepohonan melambai-lambai tertiup angin.

Tas sekolah mereka besar-besar. Isinya bukan buku, tetapi baju ayah untuk berkebun di Green Lab, jas hujan, baju ganti, termos minuman dan kotak makanan, serta sepatu boots.

Mereka berlibur tidak dengan bis mewah dan menginap di hotel mewah. Mereka berlibur dengan menjelajahi hutan, mengenali tanaman dan tumbuhan yang bisa dimakan, mempraktikkan memasak bersama di hutan dengan bahan-bahan alam yang ada di sekitar hutan (jungle cooking).

Mereka berlibur dengan menyusuri pantai, mendatangi mercu suar, menyelam di sekitar pantai (snorkeling), dan menangkap ikan untuk disantap sebagai ikan bakar. Lihatlah wajah bahagia mereka saat merasakan pengalaman ekspedisi ke kawasan konservasi, mencari jejak badak, biawak, ular, babi hutan dan fauna dilindungi lainnya. Lihatlah mata mereka yang berbinar saat menyusuri sungai dengan berkano diiringi kicauan burung serta suara kodok dan jangkrik serta alunan lagu hutan para satwa. Lihatlah ekspresi wajah mereka saat kaki mereka ditempeli lintah dengan baju basah saat menginap di hutan dan tidur di dalam tenda.

Mereka berlibur dengan mendaki bukit dan gunung, menyusuri jejak para petualang di pegunungan, menikmati udara dan angin di ketinggian pegunungan, menikmati waktu dan merenungi langkah-langkah yang dituju, memercikkan air danau dan mensyukuri kesegarannya anugerah Sang Pencipta.

Mereka berlibur dengan tinggal bersama penduduk di kawasan dengan pesona kesederhanaan dalam kehidupannya. Mereka dengan wajah ceria turun ke sawah, memandikan kambing, memerah sapi, menebarkan pakan ayam dan bebek, meniti jembatan kayu sempit agar lebih dekat dengan ikan saat menebar pakan ikan, menyimpan sepatu dan meniti pematang mengangkut hasil bumi, menikmati hiruk pikuk pasar tradisional sambil membantu menjualkan hasil bumi. Pesona kesederhahaan ini membuat mereka merasakan lebih dekat dengan Sang Sumber Kehidupan Yang Maha Menghidupi. Menguatkan keyakinan bahwa sebagai manusia selalu dicurahi Kasih dan Sayang-Nya tak terhingga.

Wahai AyahBunda,

Anak-anak itu bahagia. Jika AyahBunda justru “miris” dengan segudang pengalaman mereka di sekolah alam, cobalah buka hati dan pikiran lebih lebar, bukan hanya mudah buka dompet untuk mereka. InsyaAllah, dari sekolah alam inilah, akan lahir pemimpin yang tidak elitis, yang sejak kecil terbiasa menghargai alam, menghargai sekolahnya bukan karena kemewahan gedungnya dan bukan karena licinnya seragam, tetapi pesona kebersamaan dan pesona miniatur kehidupannya. Memuliakan teman-teman sesama karena kebaikan akhlaknya bukan karena rankingnya. Mereka terbiasa mencintai sekolahnya, bahkan hingga sampai suatu masa kemudian, bersama teman-temannya, mengenang masa-masa indah di sekolah alam yang membuat mereka merasa “benar-benar diterima” sebagai manusia seutuhnya.

(Harry Santosa – Wicak Amadeo)

Sekolah Alam adalah sebuah konsep pendidikan yang digagas oleh Lendo Novo berdasarkan keprihatinannya akan biaya pendidikan yang semakin tidak terjangkau oleh masyarakat. Ide membangun sekolah alam adalah agar bisa membuat sekolah dengan kualitas sangat tinggi tapi murah. Itu dilakukan karena sebagian besar rakyat Indonesia miskin.

Paradigma umum dalam dunia pendidikan adalah sekolah berkualitas selalu mahal. Yang menjadikan sekolah itu mahal karena infrastrukturnya, seperti bangunannya, kolam renang, lapangan olahraga, dan lain-lain. Sedangkan yang membuat sekolah itu berkualitas bukan infrastruktur. Kontribusi infrastruktur terhadap kualitas pendidikan tidak lebih dari 10%. Sedangkan 90% kontribusi kualitas pendidikan berasal dari kualitas guru, metode belajar yang tepat, dan buku sebagai gerbang ilmu pengetahuan. Ketiga variabel yang menjadi kualitas pendidikan ini sebetulnya sangat murah, asalkan ada guru yang mempunyai idealisme tinggi. Dari situ Lendo mencoba mengembangkan konsep-konsep sekolah alam.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sekolah_Alam

Apakah Sekolahalam itu sekolah untuk anak-anak nakal, yang tak bisa dididik di sekolah lain?

Berbahagialah anak-anak yang dilabeli nakal oleh para guru yang putus harapan akan rahmat Allah. Artinya, semakin banyak Sekolahalam harus segera ditingkatkan kapasitas dan daya tampungnya. Sekolah biasa yang ringan memberi label “anak nakal” yang ditinggalkan anak memang harus dikurangi kapasitasnya, bahkan ditutup jika banyak yang terbukti bahagia di Sekolahalam.

Anak yang dilabeli nakal adalah anak yang potensinya belum terlihat buahnya atau yang jeritan jiwanya sedang mencari jalan keluar terbaiknya. Alangkah berbahagianya apabila orangtua dan orang dewasa, apalagi pendidik, di sekitar kehidupannya dapat bersabar dan telaten sampai terlihat buahnya dan ditemukan jalan terbaiknya.

Anak yang “cerewet” berpotensi menjadi orator atau story teller. Anak yang “keras kepala” berpotensi menjadi pemimpin dan penegak keadilan. Anak yang “cengeng” berpotensi menjadi sastrawan. Anak yang sering “curiga” dan “perhitungan” mungkin calon manajer keuangan atau financial planner. Anak yang “tak bisa duduk tenang” mungkin calon penari dan koreografer, atau olahragawan hebat. Anak yang “suka melamun” mungkin calon dosen dan peneliti. Anak yang suka “mengutak-atik benda dan membongkar-pasang benda hingga berantakan” mungkin calon engineer atau insinyur. Begitu seterusnya.

Apakah di Sekolahalam itu ada belajarnya? Tampaknya, anak-anaknya di Sekolahalam hanya bermain sepanjang hari.

Ruang Belajar siswa sekolah biasa hanya sebatas dinding sekolah dan jam sekolah. Ruang Belajar siswa Sekolahalam luasnya seluas Alam Semesta. Sumber belajarnya tiada habisnya bagaikan mata air yang berlimpah. Fasilitasnya tersedia melimpah di alam dan lingkungan hidup di sekitarnya. Waktunya sepanjang hayat. Gurunya, selain para fasilitator yang baik hati, juga para Mentor Ahli yang ikhlas dan para Maestro yang karya dan akhlaknya diakui masyarakat, serta para Guru Kehidupan yang dapat ditemukan dimana saja sepanjang hayat.

Dalam teori Psikologi Pendidikan anak, khususnya tentang Perkembangan Sosial anak, sesungguhnya usia sebelum 7 tahun (Pra-Sekolah) bukanlah usia sosialisasi, tapi usia INDIVIDUASI. Pada usia inilah anak belajar tentang KONSEP DIRI, MEMBANGUN EGO, Menegakkan HAK-HAK INDIVIDUALITAS, BERANI TAMPIL BEDA dan sebagainya.

Makanya, pada USIA DINI bahkan bermainpun masih bersifat “PARALEL PLAY” : BERMAIN SAMA-SAMA, bukan bermain bersama. Mereka baru mengenal PLAY, bukan game. Itu karena para anak masih berkembang keyakinan Onomatopeia : Alam semesta berputar mengelilingi diriku. Dalam teori perkembangan moral, ini adalah usia pre-moral (Piaget, Kohlberg)

Barulah pada usia 7 tahun (mulai jenjang SD) anak belajar melakukan SOSIALISASI. Di usia ini diperkenalkan Konsep KESAMAAN, KEBERSAMAAN dan KERJASAMA. Anak pada usia ini diharapkan mulai memandang ke luar dirinya, bukan lagi ke dalam. Maka, pada usia ini mulai ditegakkan ATURAN dan DISIPLIN SOSIAL. Anakpun telah mengenal GAME dengan segala RULE of the GAME-nya

Mempercepat sosialisasi terhadap anak usia dini akan memberikan sejumlah dampak negatif : LEMAHNYA EGO, TAK MENGENAL DIRI, KURANG MANDIRI, TAK BERANI TAMPIL BEDA, KURANG MENGENAL HAK-HAK INDIVIDUAL, Mudah Terbawa ARUS LINGKUNGAN, Kurang Memiliki KEUNIKAN dan sebagainya. Biasanya, gejala ini mulai tampak saat anak memasuki usia remaja (pra-aqil).

Apakah siswa di Sekolahalam dapat melanjutkan ke sekolah lain ke jenjang yang lebih tinggi?

Siswa Sekolah Alam tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi hingga perguruan tinggi, jika hanya bermodal sandal gunung.

Siswa Sekolahalam yang memiliki NISN (Nomor Induk Siswa Nasional) dapat melanjutkan ke sekolah manapun, diterima di perguruan tinggi di manca negara, bahkan tanpa ijazah SMA. Contohnya banyak sekali. Mereka belajar hingga ke manca negara dan berkiprah dalam skala global.

Bagaimana dengan biaya pendidikan di Sekolahalam?

Biaya sekolah yang disediakan negara terbatas. Tidak ada Pendidikan yang Gratis. Anggaran Pendidikan Putra Putri AyahBunda adalah Cerminan Besar Kecilnya Kasih Sayang pada mereka dan keyakinan akan Ke-Maha-Kuasa-an Allah.

Di Sekolahalam, ada kegiatan Market Day, Sale Day, Bazar, atau apapun namanya. Inti kegiatan ini adalah mengasah kemandirian dengan belajar mendapatkan uang secara halal melalui kegiatan berniaga. Anak-anak banyak yang bersemangat mengikuti kegiatan ini sejak usia 7 tahun di jenjang Sekolah Dasar.

Untuk urusan berniaga ini, anak-anak terbukti terlatih untuk disiplin dan teliti saat berurusan dengan uang dan barang niaganya.

Bertahun-tahun mereka berlatih “mendapatkan uang dengan cara halal”. Bahkan, dengan kegiatan-kegiatan seperti itu, mereka dapat berkali-kali “mendapatkan uang dengan cara halal” sebagai bentuk apresiasi atas karya dan kreativitas mereka. Sebagian uang dapat dinikmati, sebagian lagi dapat disimpan dalam tabungannya di bank, sebagian yang lain dapat dikumpulkan untuk membantu sesama warga yang sedang kurang beruntung.

Dalam level belajar selanjutnya, di jenjang Sekolah Menengah, mereka dapat melakukannya secara lebih terstruktur. Mereka terlebih dahulu merancang produknya, memaparkan rencananya, membuat contoh produknya, memproduksinya dalam jumlah tertentu, menentukan metode dan lokasi berniaga, mengajukan permohonan izin kepada pengelola lokasi jika diperlukan, menjalankan kegiatan berniaga, serta mengevaluasi kegiatan berniaganya.

Bahkan, mereka dapat melanjutkan ke tahap inisiasi untuk mengembangkan platform berniaga berbasis teknologi informasi, yang kini menjadi tren sesuai perkembangan zaman.

Pertanyaannya, mengapa anak-anak tak boleh belajar mencari nafkah?

Mungkin banyak yang beralasan :

“Agar anak-anak kita cukup waktu untuk belajar dan bersekolah !!!”

Pertanyaan selanjutnya : Apakah berlatih mencari nafkah bukan merupakan bagian dari pembelajaran? Bukankah dengan berlatih mencari nafkah sejak kecil, anak-anak akan belajar tentang kehidupan, perjuangan, entrepreneurship, menghargai jerih payah dan sebagainya?

Memang banyak masyarakat yang tak paham bahwa berlatih mencari nafkah adalah cara paling efektif untuk membangun generasi yang aqil – dewasa mental. Dengan mencari nafkah, anak terlatih untuk membangun mentalitas yang tangguh. Mereka belajar untuk mempengaruhi orang lain, bukan memaksakan kehendak. Seorang anak yang sadar bahwa mencari nafkah bukanlah hal yang mudah, akan bersyukur terhadap uang yang diberikan orangtuanya.

Dengan Kurikulum Bisnis yang diterapkan sejak jenjang SD, terbukti siswa Sekolahalam terbangun kemandiriannya melalui kegiatan berniaga. Untuk kegiatan Student Scout di Sekolahalam, terbuka bagi siswa untuk memberikan kontribusi biaya dari hasil berniaga sejak jenjang SD, dengan porsi yang makin besar di jenjang Sekolah Menengah. Biaya Ekspedisi ke Taman Nasional yang mencapai Rp 5 juta dapat dipenuhi tanpa mengeluarkan dana tambahan dengan manajemen gotong royong dalam berniaga selama jangka waktu tertentu.

Indonesia hari ini adalah negara karyawan karena perolehan pajak penghasilan lebih ditopang oleh pajak karyawan-pekerja ketimbang pajak para pemilik perusahaan dan manajer perusahaan. Ini merupakan keanehan yang tidak baik (outliers). Profil pajak negara-negara menengah dan negara maju menunjukkan bahwa komposisi pajak terbesar adalah Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi termasuk pemilik perusahaan dan manajer perusahaan disusul pajak perusahaan (pajak badan), dan selanjutnya pajak pembelian barang (PPn).

Bagaimana dengan anggapan bahwa siswa Sekolahalam itu liar dan kotor?

Perguruan Taman Siswa yang didirikan Ki Hajar Dewantara itu dicap sebagai Sekolah Liar oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Artinya, siswa Perguruan Taman Siswa juga dianggap Siswa Liar. Lalu apa bedanya Bapak Ibu dengan Pemerintah Kolonial jika menganggap siswa Sekolahalam sebagai Siswa Liar? Mereka terdaftar dengan NISN dan tercatat di Badan Pusat Statistik diantara lebih dari 45,2 juta siswa di Indonesia dari jenjang SD, SMP, SMA/SMK.

The promise is the school will set them free. The reality is the school prepares them for nothing but being in poverty. Where does the laughter go?

Katanya sekolah akan membebaskan mereka dari keterbelakangan. Tetapi sekolah telah mengubah anak-anak merdeka yang bahagia hidupnya menjadi masyarakat yang tergerus dalam kemiskinan.

Pendidikan yang dibutuhkan bangsa ini adalah pendidikan untuk menjaga kelestarian alam dan lingkungan yang selaras dengan kehidupan dan keadaban, serta agar tetap dapat menjalankan peran kontributif bagi semesta. Sekolah yang hanya menjejalkan pengetahuan yang tak relevan dengan kehidupan dan keadaban tentu saja hanya akan menjadi racun bagi kelangsungan peradaban yang selaras dan lestari bersama alam.

Pahlawan itu Manusia yang Berani Ambil Resiko. Salah satu Resiko siswa di Sekolahalam adalah bajunya kotor. Artinya, mereka memupuk semangat seperti Pahlawan. Apakah AyahBunda tak bahagia jika putra putrinya bermental Pahlawan, yang semangatnya diperingati setiap 10 November, bahkan di banyak peristiwa heroik lainnya?

(Wicak Amadeo)

.

Gaya Doktriner dan Gagalnya Pendidikan Agama Kita

Ahmad Rizali
Pengamat pendidikan dan Pendiri The Centre for Betterment of Education (CBE).
Kompas, 2 Januari 2019

Sudah puluhan tahun, begitu banyak bencana menimpa negeri ini, mulai tsunami sampai tanah longsor, dari terjatuhnya pesawat terbang hingga bis tergelincir masuk ke dalam jurang.

Semuanya memicu terjadinya seremoni pertobatan dan mengingat Tuhan secara massal dan marak. Bahkan, untuk menyumpal banjir lumpur sedahsyat itu, masyarakat secara ramai-ramai meminta Tuhan melakukannya.

Salahkah sikap seperti itu?

Tidak! Tetapi miris, karena semakin sering pengingatan dan pertobatan masal itu dilakukan dengan gegap gempita, nasib rakyat bukannya semakin baik, dan bencana tetap antre untuk turun menghantam.

Lalu, kita pun kembali ingat, bahwa kita tak siap menghadapi hantaman itu. Lantas kita kembali lupa ketika bencana usai. Otak yang dianugerahi Tuhan hanya sesekali dipakai untuk menganalisa ketika bencana sudah terjadi.

Seorang ibu, lantaran mendengar cerita temannya, begitu gandrung dengan pelatihan peningkatkan kecerdasan spiritual dan emosi, tetapi ketika membaca buku yang mampu terjual begitu banyak dan ditanya suami apa isinya, dia tersipu malu. Ternyata, isi buku tidak seperti yang dia harapkan.

Ya, jargon pelatihan kecerdasan spiritual dan emosi adalah sebuah kemasan baru cara mengajak pendosa kembali ke jalan kebenaran, semacam cara berkhutbah yang dahulu gratis, namun dengan cara ini, harus membayar.

Untuk kembali ke jalan yang benar, manusia harus mengeluarkan uang, karena jalan kebenaran ternyata laku dijual. Maka, sekali lagi, rakyat kecil akhirnya tertinggal, tak mampu membeli jalan ke surga. Sebuah harapan terakhir untuk hidup mulia yang sia sia, sementara hidup di dunia sudah bak neraka.

Zikir dan pertobatan masal serta pelatihan sejenis penguatan emosi dan spiritual itulah yang membuat manusia berduit merasa bersih dari dosa. Dengan uangnya, mereka bisa membayar penyelenggara pelatihan, maka mereka bebas menangis tersedu-sedu sepuasnya.

Pada akhirnya, kelompok manusia seperti itu ikut mendorong kebenaran tesis Marx, bahwa “Agama adalah candu yang membuat manusia lupa esensinya sebagai manusia.”

“Kita tidak berbuat apa apa untuk meniadakan suasana yang melahirkan orang orang seperti itu, malahan kita mendorong tumbuhnya lembaga lembaga yang menumbuhkan mereka, juga menganggapnya perlu, mendorongnya dan mengaturnya….”

Leo Tolstoy mengatakan hal itu dan menyindir masyarakat Rusia pada akhir abad ke-19, dan berakhir dengan pengucilan dirinya oleh para pemuka agamanya.

Zikir dan pertobatan masal serta pelatihan penguatan spiritual dan emosional tersebut jika menjadi tren dan arus besar, bisa jadi, hanya akan membelah kepribadian manusia.

Semestinya, sebagai manusia merdeka yang sudah terdidik dengan sangat baik, mereka akan mengutamakan esensi ruhani yang sesungguhnya, tanpa kehilangan rasionalitas. Semestinya tak perlu!

Akan tetapi, dengan candu ini, mereka hanya akan lebih mengutamakan simbol kesalehan kasat mata, meskipun tidak salah, seperti seragam, tempat ibadah mewah, tur spiritual berulang kali, dan pelan tapi pasti, meninggalkan kesalehan hakiki, seperti integritas, keberanian, kemerdekaan dan kemandirian bersikap dan berfikir rasional, kerja keras dan bersahaja dalam menjalani hidup.

Pendidikan yang doktriner?

Pendidikan umum dan pendidikan agama kita yang semakin hedonis dan mengekor pertumbuhan ekonomi tampaknya telah gagal, karena secara sistemik telah membuat semua anak bangsa hanya ingin menjadi kaisar kaya raya.

Mereka ingin menjadi sangat berkuasa seperti halnya Zulkarnaen Agung, tapi melupakan kemuliaan AlMasih As dan Muhammad SAW, yang berdiri sampai mati di sisi kaum tak berpunya.

Suatu saat, seorang teman bertanya kepada saya tentang hasil temuan sebuah studi dari UIN Jakarta pada 2008 yang mengatakan bahwa “Pendidikan Agama (Islam) di Indonesia, khususnya di Jawa, tidak mendorong perilaku kebinekaan.”

Jawaban pertama saya adalah “Tidak mengejutkan, dan bahkan memperkuat hipotesis saya menjadi sebuah tesis”.

Saya lalu menambahkan, “Materi dan cara guru agama di sekolah dalam mendidik masih tidak berubah sejak 30 bahkan 50 tahun lalu, yang masih berkutat dan 99 persen fokus pada urusan pribadi. Meskipun agama pada dasarnya adalah sebuah doktrin, namun jika 100 persen materinya disampaikan pula dengan cara yang doktriner, tentulah hasilnya akan hitam-putih, salah-benar, on-off. Mungkinkah kebinekaan akan tumbuh, jikalaupun ada, tentulah hanya kebinekaan pura pura”.

Pembelajaran umum yang pada dasarnya bukan doktrin pun, disampaikan dengan cara yang sama. Guru, bahkan dosen sangat piawai menggunakan cara yang deterministik. Semuanya, ya memang “sudah begitu”, dan kalau tidak begitu ya dianggap “salah”.

Pembelajaran tersebut dimulai dengan mencetak pemikiran kaum balita di PAUD dengan cara berpikir gurunya. Jika memberi warna badan gajah tidak abu-abu atau kecoak tidak dengan hitam, pastilah dikasih nilai “C”.

Murid yang mewarnai badan gajah abu-abu dan kecoak hitam mendapat nilai A. Bayangkan berapa nilai lembar mewarnai jika di murid balita itu mewarnai badan gajah colorful seperti “d united color of benneton”?

Pola deterministik guru semacam itu terus berlanjut. Orang tua juga bersikap sama, bahkan masyarakat pun menguatkan. Yang “beribadah” tidak sesuai dengan cara mereka akan “digebukin”. Istilahnya, mengikuti gaya bercanda anak Betawi, “‘Yang kagak ikut ane, ente semua musuh ane!”

Sejatinya, jika pendidikan dan akhirnya menjadi perilaku dan berujung kepada budaya yang tidak menjunjung hukum alam kebhinekaan (bukankah Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu sama, bahkan manusia kembar sekalipun) atau keberagaman, maka jangan berharap manusianya akan bermental bhineka.

Mungkin, dosa terbesar Soeharto adalah menyeragamkan sesuatu yang seharusnya beragam, mulai baju kerja PNS hingga nama gedung (graha) diseragamkan. Bahkan, doktrin P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) pun begitu seragamnya hingga Pancasila yang kemuliaannya sebagai ideologi bangsa tiada taranya, nyaris terbuang seperti sampah.

Bangsa ini menjadi semakin kurang menghargai keberagaman. Salah satunya karena gaya kepemimpinan yang doktriner, keberagaman hukum alam dipaksa menjadi keseragaman hukum manusia. Di titik inilah peran guru menjadi strategis.

Meminjam istilah kang Endo, seorang pendidik pakar etnomusika, “Seharusnya, mendidik itu adalah menjadikan anak manusia menjadi manusia beneran, yang bukan setan dan bukan pula malaikat”.

Kang Endo ingin mengatakan, bahwa manusia yang sebenarnya adalah insan kamil yang sebagian dan sangat sedikit adalah seperti (bukan) setan (hitam) dan malaikat (putih) dan paling banyak adalah diantaranya (abu abu).

Jadi, jika pendidikan memaksa kita menjadi malaikat dan setan, pastilah keberagaman akan mustahil terjadi. Ya, karena cuma ada dua pilihan, tidak ada area abu abu di mana 99 persen manusia berada, dimana determinisme tidak laku karena melanggar hukum alam. Gagalkah pendidikan kita?

Bahasa adalah Alat Berpikir

Wicak Amadeo

Bahasa bukan semata-mata alat komunikasi, gagah-gagahan dan meningkatkan gengsi penuturnya. Bahasa adalah alat berpikir, memecahkan masalah, beretika, menghaluskan budi dan tutur kata.

Oleh karenanya, tuntaskanlah pendidikan bahasa ibu anak-anak kita, sampai pada kedalaman gramatika dan keindahan sastra, melalui dialog, cerita, bacaan, pembacaan puisi di sore hari, atau berbalas pantun.

Tundalah dulu gairah mengajarkan bahasa asing bagi mereka, agar tak kacau pola logikanya, agar tak rusak budi bahasanya. Percayalah, saat bahasa ibu terkuasai, belajar seribu bahasa asing bukan hal sulit.

.

Bahasa adalah sebagai alat menalar, alat berpikir, alat memecahkan masalah, alat negosiasi, alat manajemen konflik, alat silaturahim, bahkan alat hidup. Maka dalam perspektif ini bahasa ibu harus dikuasai oleh anak kita secara mendalam : strukturnya, rasa bahasanya, intonasinya, makna tersiratnya, moralitasnya, sastranya.

Harus dikatakan, bahwa pembelajaran bilingual atau multilingual saat anak berada dalam periode pertumbuhan kognitif dan bahasa, akan mengacaukan segalanya. Tak akan mungkin kita dapati anak-anak yang cermat dengan pilihan bahasa seperti dialog Ibrahim as dan Ismail as yang kita kenal dan tercantum dalam kitab suci.

.