Hakekat Pernikahan #4

Ustadz Harry Santosa

Seorang suami yang telah menikah lebih dari 10 tahun, ketahuan oleh istrinya selingkuh. Betapa menyakitkan, sambil menangis terisak istrinya menceritakan kepada saya, betapa pengorbanannya selama ini, pontang panting membantu membiayai nafkah keluarga termasuk membiayai kuliah S2 suaminya sampai berhasil mengambil spesialis, ternyata balasannya hanya perselingkuhan yang menyakitkan.

Sang istri tak habis fikir, pengorbanannya seolah sia sia, mengapa suaminya tega mengkhianatinya, padahal ia selalu setia membantu, menghabiskan uang tabungannya, berusaha mencari uang walau harus babak belur demi agar suaminya selesai kuliahnya dan tercapai cita citanya. Kini sakit sekali, rasanya ia ingin kabur, lari dari pernikahannya, tapi kemana. Keberatannya hanya satu yaitu anak, andai tidak ada anak, sudah pasti sudah pergi entah kemana.

Begitulah, bantuan kepada suami tak selalu menjadi kebaikan walau diniatkan sebagai kebaikan. Bantuan yang terus menerus kepada seorang suami yang kurang tangguh, akan membuatnya semakin lemah dan goyah, lalai dan terlena,

Pada jangka panjang malah membuatnya kehilangan identitas dan harga dirinya atau peran fitrab keayahannya, lalu segala hal yang menyimpang dari fitrah pasti akan memunculkan perilaku dan akhlak yang buruk, misalnya berkhianat atau selingkuh untuk mencari harga diri di luar sana, kecanduan game/pornografi, depresi dan frustasi, semakin egois walau semakin peragu dstnya.

___

Seorang suami yang telah menikah belasan tahun, dan berkarir cemerlang selama belasan tahun, tiba tiba bermasalah dengan atasannya, lalu ia mengalami PHK. Ternyata peristiwa itu membuatnya susah bangkit, berkali kali interview selalu gagal. Padahal dengan pengalaman bekerja di perusahaan internasional belasan tahun dengan jabatan bagus seharusnya tak sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan, ternyata tidak.

Ternyata ia tak tangguh walau pintar. Sepanjang hidupnya ia tak pernah gagal, sejak kecil selalu juara, kuliah di PTN papan atas, lalu bekerja dengan karir mulus. Ia tak pernah ditempa untuk tangguh dan tak siap mengalami kegagalan, ia hanya dipersiapkan untuk berprestasi di sekolah.

Sang istri kebetulan orang kaya, orangtuanya tuan tanah di daerahnya, lalu menolong suaminya dengan membuatkan sebuah perusahaan dan menempatkan suaminya sebagai direktur utama. Apa yang terjadi, masalah tak selesai, bahkan pertengkaran setiap hari!

Sang istri heran, ia merasa sudah banyak membantunya, tak pernah menuntut nafkah, namun suaminya nampak tak bersemangat dan kinerja perusahaannya buruk. Bahkan perilakunya kepada dirinya juga semakin hambar dan tak menyenangkan bahkan semakin sangat egois.

Ketika saya interview suaminya, suaminya mengatakan bahwa ia merasa dijebloskan dan diberi beban berat mengurus perusahaan. Setiap hari dirasakan berat untuk melangkah kerja di perusahaan tsb. Bahkan sudah menyentuh harga dirinya sebagai lelaki dan ayah, apalagi semua fasilitas yang diberikan adalah pinjaman dari mertuanya yang kaya raya itu.

Begitulah seringkali kita tergesa membantu dan memberikan solusi kepada pasangan, namun bukan solusi yang sebenarnya dibutuhkan, sehingga bahkan dianggap beban dan menjadi masalah baru.

___

Teman teman yang baik,

Tentu saja membantu pasangan adalah sesuatu yang baik, namun bantuan istri kepada suaminya jangan sampai tanpa sadar melemahkan atau menggerus peran kesuamian dan peran keayahannya, termasuk menggerus fitrah keibuan dan keistrian. Rumah tangga memang tempat berkolaborasi suami istri, namun jangan sampai meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya (zhalim), maksudnya tetap ada adab berupa hirarki dalam peran keayahbundaan.

Harus ada pemisahan peran yang jelas walau dikerjakan bersama. Ada responsibility, ada accountable, ada inform dstnya. Di era posmo, hirarki ini dihilangkan, semua untuk semua, suami boleh jadi istri, istri boleh jadi suami, walhasil segala sesuatu yang tidak bergerak pada garis edarnya, tentu akan merusak keseimbangan dan keharmonian mikro maupun makro kosmos.

Keluarga atau pernikahan adalah ayat ayat Allah, bukti kebesaran Allah, juga perjanjian besar (mitsaqon gholizhon) yang merupakan peristiwa besar peradaban, maka peran peran di dalam pernikahan harus ditempatkan sesuai fitrahnya atau maunya Allah agar harmoni dan seimbang.

Tidak membantu suami dalam menutupi tanggungjawabnya, seperti finansial atau nafkah, membuat misi keluarga, grand design pendidikan keluarga termasuk mendidik anak dll bukan berarti seorang istri tak boleh berkontribusi, berbisnis, berkarir dan menghasilkan pendapatan, silahkan saja, namun sekali lagi jangan sampai menggerus fitrah keibuannya dan juga fitrah keayahan suaminya.

Sebagamana dibahas sebelumnya bahwa penyebab runtuhnya sebuah pernikahan adalah ketiadaan misi pernikahan yang jelas, ketiadaan petajalan bersama untuk memberikan sebesar manfaat bagi ummat yang membuat cinta mereka semakin merekah indah sehingga Allah menjadi ridha dan merekapun ridha. Umumnya yang ada adalah obsesi duniawi yang merobohkan bangunan cinta yang rapuh sejak berdirinya karena berdiri di atas fondasi yang rapuh.

Namun ada penyebab runtuh yang kedua yaitu keidakmampuan untuk saling mencahayakan, termasuk ketidakmampuan mengurai masalah yang menghalangi merekahnya cahaya fitrah masing masing, sehingga yang terjadi adalah kekusutan yang disebabkan akumulasi masalah yang tak pernah bisa diurai dengan baik. Kekusutan dalam jangka panjang menjadi penyebab perpisahan.

Langkah Langkah Membantu Pasangan untuk kembali kepada Fitrahnya.

Jika suami nampak kurang tangguh, bantulah ia untuk bangkit, bantulah ia untuk mampu memerankan peran sejati keayahan dan kesuamiannya. Jangan tergesa membantu sebelum menggali mendalam apa sesungguhnya akar masalahnya dan akar potensi kebaikannya. Makin dalam menggali dan menemukan akarnya maka makin tajam solusinya. Makin tergesa memberi solusi, maka makin melebar masalahnya.

Sebelum memulai langkah teknis berikut, maka perlu untuk menyadarkan suami, bahwa hak suami dan hak istri untuk berbahagia dan berkualitas hidupnya. Menempatkan dan menjalankan peran sesuai fitrahnya justru akan mendatangkan rezqi dan keberkahan yang berlimpah. Jika sulit menyadarkan, gunakan tekanan keluarga besar, orang yang berpengaruh dan ahli yang disegani.

Langkah langlah yang bisa dilakukan berdua, baik istri kepada suami, atau suami kepada istri, melalui interview mendalam dengan menurunkan ego serendahnya.

Langkah 1. Emphatize, tanyakan dengan halus dan santun apa yang dirasakan, apa yang membuat frustasi, apa yang diharapkan dll lakukan ini untuk setiap aspek fitrah. Digali akar penyebab, penghalang dan pemicunya.

Langkah 2. Define, simpulkan dan ambil benang merah, apa sesungguhnya kebutuhan terdalamnya, penghalang terbesarnya dan pemicu bangkitnya

Langkah 3. Ideate, tuliskan idea2 solusinya utk memenuhi kebutuhannya, menghilangkan penghalangnya, dan memanfaatkan atau memunculkan pemicunya. Pilih yang paling mudah dan berimpak besar. Idea ini bisa juga melibatkan solusi yang harus dilakukan istri.

Langkah 4. Prototype, detailkan ideanya, sehingga menjadi rancangan program atau proyek atau kumpulan aktifitas plus tahapan tahapannya utk 6 bulan sampai setahun ke depan

Langkah 5. Confirmation, konfirmasikan dengan suami untuk sempurnakan program

Langkah 6. Commitment and Discipline. Komitmen bersama dan laksanakan dengan disiplin

Langkah 7. Evaluate and Corrective Action. Sepanjang proses atau pelaksanaan program lakukan evaluasi dan jangan khawatir apabila ada koreksi untuk perbaikan atau perubahan aktifitas sepanjang disepakati

Langkah 8. Tawakal dan berharap Taufiqullah

Begitulah pernikahan, tempat untuk saling mencahayakan fitrah agar kembali kepada kesejatian peran atas fitrahnya, bukan tempat saling komplain atau bahkan saling menutupi kezhaliman atau menutupi kelemahan dalam menjalankan peran atas fitrahnya.

Semoga bermanfaat

#fitrahbasedlife
#fitrahworldmovement

Advertisement

Hakekat Pernikahan #3

Ustadz Harry Santosa

Seorang perempuan yang sangat hebat dalam karir, bertanya pada seorang Ulama, “Bagaimana saya harus taat dan tunduk pada satu lelaki di rumah, sementara saya memimpin 1000 lelaki di kantor?” .

Ulama yang bijak ini menjawab dengan tenang, “Di dalam Islam ada Adab suami dan istri, diantaranya adalah istri harus taat dan tunduk kepada suami. Jika anda merasa perempuan hebat, maka menikahlah dengan lelaki yang lebih hebat dari anda atau memahami kehebatan anda, sehingga ia bisa menghargai kehebatan anda dan anda bisa patuh dengan ikhlash”

Ada seorang suami curhat kepada saya, dengan menangis ia mengatakan bahwa istrinya belakangan ini sering merendahkannya, kesalahan kecil saja dari suaminya membuat istrinya sering kalap, memaki maki dan selalu mengulang ngulangnya. Cacian dan makian kerap keluar dari mulut dang istri. Goblok, tolol dsbnya.

Usut punya usut ternyata sang suami bekerja freelance atau bisnis serabutan, sementara sang istri bekerja di perusahaan mapan dengan gaji besar. Sang istri sudah sejak lama ingin resign, fitrah keibuannya gelisah, ingin membersamai anak anaknya, sementara ritme kerja yang hectic di perusahaannya semakin membuatnya stress.

Walau disepakati bersama, namun sang istri seperti terperangkap karena keluarga mereka masih memiliki cicilan rumah yang harus dibayar setiap bulan dan besarannya tidak bisa dibayar oleh gaji suaminya. Inilah pemicu kemarahan yang tak wajar pada suaminya.

Hari ini jargon kesetaraan gender disuarakan terus seolah suami boleh jadi istri dan istri boleh jadi suami, tiada hirarki siapa imam dan siapa makmum di rumah. Cara pandang yang aneh, padahal secara alamiah, dalam hal yang paling sederhana sekalipun, dalam perjalanan misalnya, maka perlu ditunjuk siapa pemimpin dan siapa yang dipimpin, termasuk pembagian peran yang jelas.

Belum lagi arus ekonomi konsumtif, yang membuat suami dan istri, harus keluar rumah mencari nafkah agar bisa mencicil rumah dan gaya hidup perkotaan yang serba instan berbayar. Anak anak tinggal dititip ke sekolah mahal yang dianggap kualitas berbanding lurus dengan kemahalan. Padahal mahalnya biaya sekolah hanya buat kemegahan gedung bukan kualitas guru dan pemberdayaan orangtua.

Tiada lagi pembagian peran ayah bunda dalam makna peran peran hakiki sesuai fitrahnya, yang ada adalah pembagian cicilan semata. Semua cicilan dibagi rata atau dibagi berdasarkan besaran gaji, yaitu yang gajinya besar membayar cicilan yang besar dsbnya. Yang gajinya lebih besar, bisa berperan lebih besar dan boleh banyak mengatur. Kiblat dan orientasinya serba materi.

Hal di atas, dan masih banyak lagi penyebab lainnya, seperti sistem pendidikan maupun pendidikan rumah yang tak pernah mempersiapakan anak lelaki menjadi ayah sejati atau anak perempuan menjadi ibu sejati sesuai fitrahnya dll, menyebabkan rumah tangga kehilangan hirarki peran dan posisi. Tent1u saja sudah bisa dibayangkan bahwa keluarga keluarga seperti ini sangat rapuh dan rentan berpisah. Rasa hormat pada suami atau rasa sayang pada istri, hanyalah basa basi semata, intinya adalah materi.

Sebagai contoh di Jepang, walau juga banyak kelemahan di sana sini, namun kita mengenal Jepang dengan masyarakatnya yang sangat tertib dan teratur serta disiplin, dengan pembagian peran sangat penting sehingga tatanan masyarakat dapat harmoni.

Dalam rumah tanggapun demikian, ayah berperan dalam ruang publik, sementara ibu berperan dalam ruang domestik. Karenanya akan dianggap aneh atau tabu di sebagian besar masyarakat Jepang, apabila ada perempuan yang sudah punya anak kecil bekerja di ruang publik. Ada istilah yang disematkan yang membuat mereka malu menyandangnya, sebagai ibu yang aneh, punya anak kecil tapi berkarir.

Jadi ada saatnya kapan seorang ibu bekerja di ruang publik baik fulltime atau partime, yaitu tergantung pada usia anak. Jika masih balita tentu ibu full time di wilayah domestik, jika anak beranjak besar dan bersekolah bolehlah para ibu mengambil partime untuk peran di ruang publik, dengan catatan harus ada di rumah sebelum anak dan suami tiba di rumah. Tradisi seperti juga semakin berat dipertahankan dengan serbuan pemikiran barat dan era posmo yang menghilangkan hirarki dalan semua lini.

Dalam perspektif inilah sebenarnya penting mempersiapkan diri untuk menikah muda, agar ketika anak sudah mandiri dan mentas di usia 15 tahun, maka ayah dan ibu, jika menikah di usia 20, maka saat ini masih usia 35 tahun dan bisa lebih aktif dan fokus di ruang publik.

Peran Keayahan dan Peran Kebundaan

Keharmonian terjadi ketika masing masing memahami peran spesifiknya sesuai fitrah dan secara disiplin memainkan perannya dengan baik. Bagai pilot dan copilot, selain harus memiliki petajalan yang jelas, juga masing masing harus menyadari peran spesifiknya.

Ada contoh yang pernah saya tulis, tentang film internship. Walau disepakati, misalnya ayah sepakat untuk jadi ayah rumahtangga yang sehari hari mengurus urusan domestik, sementara juga disepakati istri berkarir atau berbisnis karena dianggap lebih bersinar, pada kenyataannya sering menyebabkan perselingkuhan dan kegalauan pada kedua belah pihak, karena menyalahi peran atas fitrahnya.

Maka agar pernikahan langgeng, sangat penting bagi ayah dan bunda, atau suami dan istri memahami peran peran nya selaras fitrah.

Ayahlah sang Imam, yang harus menjadi lelaki sejati yang memiliki misi besar perjuangan yang ajeg bagi keluarganya. Ayahlah a man of mission and vision. He finds the mission, shows the mission and lead the mission. Kebahagiaan seorang ayah adalah apabila ia mampu memerankan peran leader yang punya misi dan narasi jelas bagi keluarganya.

Bundalah sang makmum, yang harus menjadi perempuan sejati yang memiliki kesetiaan dan ketulusan untuk mendukung misi perjuangan sang suami dengan segenap jiwa raga. Bundalah yang harus menerjemahkan misi suaminya itu ke dalam value keseharian di rumah, bahkan sampai kepada perancangan kurikulum bagi anak anak suaminya agar kelak anak anak suaminyz bisa melanjutkan misi perjuangan ayahnya. Kebahagiaan hakiki seorang ibu apabila mampu memerankan peran follower bagi perjuangan suaminya.

Ketika peran ini dimainkan dan diperankan dengan baik dan disiplin, maka cinta suami kan tak bertepi pada istrinya, begitupula sebaliknya, kebanggaan dan hormat akan melimpah dari istri kepada suaminya.

Teladan terbaik tentu saja ada pada Keluarga Ibrahiem AS, silahkan dalami peran keayahan Nabi Ibrahiem AS dan peran kebundaan dari bunda Hajar istrinya.

#fitrahbasedlife
#fitrahworldmovement

Hakekat Pernikahan #2

Ustadz Harry Santosa

Banyak istri mengeluh suaminya nampak “gersang” perasaan cinta pada dirinya bahkan mulai menyakiti perasaan maupun fisik. Banyak suami mengeluh, istrinya nampak tak lagi menghargai jerih payahnya, hanya menuntut, mulai nampak tak patuh atau tak setia dll.

Mengapa ada perselingkuhan? Mengapa ada riset di barat yang mengatakan Cinta dalam pernikahan akan memudar pada tahun ke empat atau ke lima dan berganti dengan kebosanan? Mengapa data statistik perceraian di Indonesia seolah membenarkan dengan membuktikan bahwa kasus perceraian terbanyak terjadi di tahun ke lima pernikahan dengan satu, dua orang anak atau terjadi di tahun ke sepuluh?

Cinta yang memudar sering dijadikan kambing hitam apabila terjadi perselingkuhan, seolah menjadi pembenar. Seharusnya mereka merenung, mengapa cinta yang besar bahkan menggebu gebu di awal pernikahan mengapa bisa memudar bahkan hilang sama sekali. Tiada lagi sentuhan dan tatapan juga senyuman yang mendatangkan “setrum listrik atau magnet” sebagaimana pada bulan bulan penuh madu di masa perkenalan maupun awal pernikahan.

Cinta sering dimaknakan sebagai rasa suka, jika makna cinta seperti itu jelas saja cinta akan memudar ketika rasa suka sudah terpuaskan dengan kepuasan fisik dan kepuasan perasaan. Sepertj orang yang kangen makanan favorit, semua rasa kangen sirna ketika kepuasan lidah, perut dan rasa sudah tuntas. Begitupula sebagaimana baju yang kita kenakan, masa lima tahun sampai sepuluh tahun adalah masa yang cukup untuk membuat lusuh dan bosan.

Sungguh kesalahan fatal dalam pernikahan ketika memaknai Cinta sebagai rasa suka. Di sisi lain, cinta sering dimaknakan juga sebagai imbalan, misalnya jika suami memberikan cinta pada istri, maka istri akan patuh dan setia, begitupula jika istri patuh dan setia pada suami, maka suami akan cinta padanya. Lalu teori ini bingung sendiri, yaitu siapa yang memulainya? Cinta dulu atau Patuh dulu? Akhirnya saling menunggu atau memberi dengan harapan kembali, ini alamat kecewa pada akhirnya.

Ada teori lain yang cukup membantu, yaitu memahami bahasa cinta. Konon cinta pasangan akan merekah dan membuncah jika kita memahami bahasa cintanya. Kenali bahasa cintanya, maka kau kan dapatkan cinta pasanganmu. Walau ini nampak membantu namun tak permanen, pada suatu titik pasangan akan merasakan bahwa bahasa cinta dimainkan bahkan dimanipulasi apabila ada kebutuhannya saja.

Begitulah, kita kaya dengan teori teori barat yang lebih menyukai hal hal teknis untuk membina cinta. Bukan tak penting, namun sejujurnya, itu tak mengakar dan permanen. Krisis pernikahan bukan perihal kurang ilmu teknis tentang pernikahan, namun keliru tentang makna makna kunci atau ilmu hakekat hakekat dalam pernikahan, termasuk hakekat cinta.

Istri istri yang selingkuh, suami suami yang selingkuh itu bukan tak paham teori dan teknik teknik itu, bahkan tak jarang mereka adalah penceramah atau motivator pernikahan, lalu mereka frustasi dengan teori dan teknik nya sendiri lalu berkhianat.

Hakekat Cinta dalam Pernikahan

Cinta hakiki adalah kepastian atau keyakinan kepada suatu kebenaran tertinggi yang diyakini dan dicintai bersama suami dan istri, yang menyatukan keduanya dalam kebaikan, kemudian secara bersama bergandeng tangan untuk mewujudkannya sehingga melahirkan keberkahan bagi diri mereka juga ummat. Keyakinan atau kepastian itu dirasakan oleh Jiwa dan organ spiritual bernama Qalbu.

Islam membedakan antara cinta syahwati dan cinta imani. Islam menyuruh kita menemukan cinta sejati dari akar kehidupan yang paling kokoh yaitu cinta ilahi. AlQuran dan AlHadits menjembrengkan kabar kabar yang benar bagaimana cinta hakiki itu berlaku dan bekerja .

Temukan rahasia, mengapa lelaki lelaki hebat sepanjang sejarah, cintanya hebat pada istri nya. Setidaknyaa karena dua hal, yaitu lelaki hebat itu jelas misi hidupnya sehingga memerankan peran imamnya dengan baik. Lalu yang kedua, istri lelaki hebat itu adalah perempuan yang memerankan peran makmumnya, yaitu mendukung misi perjuangan suaminya dengan sepenuh kesetiaan dan kepatuhan. Maka cinta suami pada perempuan yang seperti ini tak bertepi.

Mereka bukan lagi saling mencintai karena alasan fisik atau alasan komunikasi atau alasan agar terbalas atau memanipulasi bahasa cinta agar mendapat kembalian cinta atau alasan duniawi lainnya, namun mereka menemukan alasan besar mengapa mereka harus tetap jatuh cinta bahkan melimpah pada pasangannya, yaitu keyakinan perjuangan bersama di jalan Allah, maka Allah padukan dan muliakan derajat cinta mereka.

#fitrahbasedlife
#fitrahworldmovement

Hakekat Pernikahan #1

Ustadz Harry Santosa

Beberapa Ibu yg sudah beranak curhat pada saya, mereka telah selingkuh, dan kini sangat menyesal, merasa berdosa dan bersalah pada suaminya juga anak anaknya apalagi pada Tuhan dan Orangtua, namun di sisi lain, mereka sulit menghilangkan perasaan yang telah mendalam pada selingkuhannya. Padahal Ia takut aibnya diketahui suaminya juga istri selingkuhannya itu. Ia ingin taubat, lepas dari semuanya…

Kalau para Ayah yang selingkuh biasanya tak pernah langsung curhat ke saya, kecuali dipaksa istrinya untuk menemui saya karena ketahuan dan pernikahan mereka terancam bubar. Kasusnya lumayan banyak, bahkan sampai ada yang selingkuhannya hamil. Hmm.. runyam bukan?

Teman teman yang baik,

Saya yakin bahwa di awal pernikahan, tiada manusia yang apabila fitrahnya baik, yang berniat untuk selingkuh atau khianat atau berlaku tak adil alias zhalim. Mereka pasti mendambakan rumah tangga yang harmonis dan bahagia, sakinah, mawaddah warrohmah dengan pasangan terkasih di sisinya sampai maut menjemputnya, khusnul khatimah bersama…

Namun dalam perjalanan pernikahannya itu, yang sering disebut sebagai bahtera yang mengarungi samudera luas, tentu tiada gelombang besar yang tak ditemui dan tentu tak semua badai yang dilalui itu kecil, pasti ada badai besar.

Dalam pasang surut gelombang dan badai itu, selalu ada alasan ego untuk melakukan hal hal yang mengkhianati perjanjian pernikahan, padahal perjanjian itu adalah perjanjian besar sebagai peristiwa besar peradaban yang harus dipegang sampai mati. Kitabullah menyebutnya Mitsaqon Gholizhon, setara dengan penciptaan langit dan bumi.

Ketahuilah atau ingatlah bahwa Pernikahan adalah ayat ayat Allah, ia suci, urusannya bukan sekedar sah atau legal standing dalam buku nikah, tetapi ia merupakan tanda tanda kebesaran Allah. Begitulah Islam memandang pernikahan, sebuah peristiwa kosmis ideal di alam semesta. Apabila kosmis ini terganggu maka terganggulah semesta.

Pernikahan adalah hakekat kehidupan itu sendiri, ia realita sosial yang merupakan kebenaran mutlak, sekaligus merupakan fondasi peradaban. Pernikahan itulah yang melahirkan cinta sejati, bukan sebaliknya yaitu cinta syahwati yang membawa pernikahan yang suci itu.

Karenanya penting untuk memahami dan meyakini Ilmu atau hakekat hekekat kunci dalam pernikahan, karena kemungkinan dua pertiga hidup kita ada di sana. Hakekat kunci kehidupan itu adalah hakekat penghambaan, hakekat kebahagiaan, hakekat cinta, hakekat Dien (karena pernikahan adalah setengah Dien dan harus menuntaskan separuhnya lagi), hakekat Fitrah, hakekat Tugas atau Misi Pernikahan, hakekat Peran KeayahBundaan dalam konteks fitrah maupun adab, hakekat Akhirat dstnya.

Umumnya kita lebih sibuk pada teknik teknik komunikasi, teknik membina cinta, teknik mengurus anak dll. Teknik itu dinamika yang harus juga dipelajari, namun tanpa menyadari dan meyakini makna makna atau hakekat kunci dalam kehidupan dan pernikahan, maka semua teknik atau cara itu hanya bagai fatamorgana, pacuan tak kemana mana.

Akibatnya, sehebat apapun teknik atau cara, sering ketika bahtera itu goyah, solusi yang dipilih malah membuat masalah baru yang mengkhianati perjanjian besar peradaban ini seperti selingkuh. Bahkan kadang solusi yang nampak islami dipilih, misalnya Poligami.

Padahal tiada syariah tanpa Adab. Memandang syariah juga sebaiknya dari cara pandang hakekat pernikahan di atas, termasuk tentang hakekat adil vs zhalim, bukan sekedar halal haram atau sunnah ga sunnah. Hakekat adil penting difahami dan diyakini agar kelak tidak menzhalimi diri dan orang lain.

Hakekat Misi Pernikahan atau Misi Keluarga

Diantara hakekat pernikahan, selain pernikahan merupakan ayat ayat Allah yang harus dijaga kesuciannya, dirawat fitrah fitrahnya agar berkembang sesuai tahapannya, dibina dengan adab sehingga indah dan berbahagia, juga harus ditemukan peran peradabannya atau misi pernikahannya.

Misi Pernikahan atau Misi Keluarga adalah kesadaran dan keyakinan berssma antara suami istri umtuk menemukan makna pernikahan dalam peradaban, yaitu apa yang akan diperjuangkan bersama di jalan Allah yang membuat jiwa dan cinta mereka semakin merekah dan menyatu menjadi cinta ilahi serta menjadi jalan bagi khusnul khatimah bersama menuju keridhaan Robbnya.

Ibarat bahtera, ia sudah jelas petajalannya, terang benderang rute perjalanannya menuju Allah, itulah hakekat misi pernikahan atau misi keluarga. Tanpa misi keluarga yang ajeg maka rumahtamgga mudah goyah, sebagus apapun teknik komunikasi antara pilot dan copilot, jika tak tahu rute pesawatnya, pasti menuai kegaduhan setiap saat dan semakin lama semakin mempengaruhi kejiwaan mereka

#fitrahbasedlife
#fitrahworldmovement

Dakwah Keluarga

Harry Santosa
December 16, 2018

Sesungguhnya, dalam marhalah (tahapan) dakwah, setelah dakwah personal, sebelum masuk ke masyarakat apalagi ke pemerintahan, ada tahapan yang sebenarnya kritikal untuk diselesaikan lebih dahulu yaitu dakwah keluarga.

Reformasi 1998, membuat semua mata mengarah kepada kekuasaan, sehingga semua sumberdaya mengarah ke politik praktis, termasuk sumberdaya dakwah. Ada loncatan dalam tahapan yang semestinya tidak dilakukan, namun sejarah sering berkata lain dan pemimpin sering mengambil keputusan yang sulit untuk memilih.

Walhasil, hari ini kita rasakan betul bahwa dakwah Keluarga memang ternyata tidak bisa dilewatkan. Barangkali kita sering dengar banyak kasus perceraian, perselingkuhan, KDRT dll dari para aktifis dakwah yang terjadi di banyak tempat, belum lagi bicara kasus penyimpangan yang menimpa anak anak mereka yang seolah sama saja dengan keluarga lain pada umumnya.

Dakwah keluarga memang benar benar kosong. Shaf ini luput dari pembinaan serius. Padahal keluarga adalah basis peradaban, satuan terkecil peradaban yang menentukan baik dan buruk peradaban.

Kita sering berifikir bahwa urusan keluarga ini selesai lewat berbagai peraturan perundangan, peraturan menteri, pergub, perda dll. Ternyata tidak, sampai hari inipun konsep dan praktek Ketahanan Keluarga masih tidak jelas.

Keluarga keluarga muda kini seolah kehilangan pegangan, mereka tak punya panduan bahkan keteladanan dalam berkeluarga. Mereka gamang dan kemudian mencari jalan masing masing.

Menyekolahkan anak di Sekolah Islam dengan hafalan alQuran seolah fatwa paling mujarab untuk menyelesaikan semua masalah pendidikan anak dan keluarga. Sebagaian orang merasa jika anaknya sudah bersekolah di Sekolah Islam maka selesailah pendidikan anak anaknya. Padahal pendidikan bukan sekedar persekolahan dan pengajaran.

Seminar dan workshop parenting diminati dimana mana sejak 10 tahun belakangan, sekolah alternatif diburu orangtua, boardingschool menjamur sebagai jawaban kepanikan orangtua akan lingkungan yang buruk serta kepasrahan tak mampu mendidik.

Kemudian semua nampak lebih kepada kepanikan keluarga bukan gairah untuk menjadi orangtua sejati dalam mendidik anak. Maka pembinaan fardiyah harus juga bergeser kepada pembinaan keluarga, misalnya bagaimana seorang Murobby atau Ustadz membina dan mendampingi 10-20 keluarga dalam semua aspek keluarga. Jangan sampai ada kasus terjadi sehingga berujung pada perceraian, perselingkuhan dsbnya.

Hari ini saya berada di Wamena, sebuah kota di Papua, yang Muslimnya hanya 5%. Keluarga keluarga minoritas Muslim di sinipun nampak berjuang membenahi pendidikan anak anaknya. Keluarga keluarga ini sama galaunya dengan keluarga Muslim di daerah mayoritas.

Bisa dibayangkan jika keluarga keluarga Muslim galau bagaimana dengan nasib peradaban Islam di masa depan. Mari kita berbenah, mari kita hidupkan lagi dakwah keluarga, mari kita kembali kepada fitrah mendidik dan fitrah pendidikan itu sendiri, kembali mendidik anak anak kita sesuai fitrahnya dengan fitrah keayahbundaan kita.

Agar peradaban masa depan menjadi peradaban yang menebar rahmat dan manfaat melalui peran peran peradaban terbaik generasi peradaban anak anak kita yang tumbuh dari rumah rumah yang telah kembali kepada fitrahnya.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation

Regenerasi

Harry Santosa
July 17 at 2:55 AM ·

Dalam sebuah wawancara, Prof B.J Habibie mengatakan bahwa hanya ada dua orang yang diakui (registered) di dunia dalam bidang arsitek pesawat terbang, yang pertama adalah B.J Habibie dan yang kedua adalah Ilham Habibie (anaknya BJ Habibie). Lalu beliau mengatakan bahwa itulah hasil mendidiknya Ibu Ainun Almarhumah, yang menurunkan misi keluarga sebagai pendidikan dan pembudayaan di rumah.

Itulah sesungguhnya hakekat pernikahan, ada misi besar pernikahan, yang dimulai dari misi besar sang Ayah, yang kemudian didukung penuh oleh Istrinya dan diturunkan menjadi kurikulum pendidikan di rumah untuk melahirkan generasi yang melanjutkan misi besar itu. Inilah yang disebut Regenerasi.

Hari ini ayah dan anak itu, BJ Habibie dan Ilham Habibie menjadi partner dalam memperjuangkan misi keluarga yaitu “membangun Indonesia dengan industri kedirgantaraan” . Misi keluarga mereka adalah perjuangan lintas generasi mewujudkan sebesar manfaat bagi dunia. Anak dan keturunan adalah partner dalam perjuangan, dalam dakwah, dalam bisnis, dalam sosial dstnya.

Begitulah sejatinya seorang Ayah, ia punya misi besar personal dan visi hebat personal yang diperjuangkan sejak muda, lalu ketika menikah, menjadi misi besar keluarga yang dilanjutkan oleh anak dan keturunannya.

Kita saksikan dalam sejarah, betapa anak para Nabi umumnya juga Nabi, anak para ulama juga ulama, mereka adalah adalah generasi yang bersambungan lintas generasi yang mewujudkan misi besar kenabian. Kecuali Nabi Muhammad SAW yang tidak dilanjutkan dengan keturunan yang menjadi Nabi karena beliau adalah Nabi terakhir, walau begitu Risalah atau Misi Kenabian tetap dilanjutkan oleh keturunan dan para Sahabatnya.

Dalam perspektif fitrah keluarga atau misi keluarga, kita dapat melihat bahwa regenerasi (regeneration) adalah berlanjutnya misi keluarga kepada anak dan keturunannya. Istilah bahwa anak kita bukan sekedar anak biologis semata tetapi anak ideologis, dapat dimaknai sebagai keberlanjutan misi besar keluarga kepada anak dan keturunannya.

Misi hidup atau peran peradaban itu sendiri paduan keseluruhan peran atas fitrah termasuk peran menyeru kebenaran atas fitrah keimanan atau aqidah, peran memberi solusi dalam bidang tertentu di masyarakat atas fitrah bakat, peran mendidik generasi atau peran keayahbundaan atas fitrah gendernya dstnya.

Seharusnya dan sejatinya misi keluarga atau peran spesifik peradaban keluarga kita di dunia tidak boleh terputus bahkan keberlanjutan dari peran leluhur kita dalam memberi manfaat dalam suatu bidang kehidupan. Karenanya dalam workshop FBE untuk topik menemukan misi personal dan misi keluarga, ada pertanyaan “apa peran keluarga besar yang dilakukan secara turun temurun” karena bukan hanya berulang tetapi seharusnya berlanjut.

Regenerasi adalah keberlanjutan misi ayah yang kemudian menjadi misi keluarga dan dilanjutkan oleh anak dan keturunan sehingga Allah sambungkan di dunia dan di akhirat

“Walladzina amanu wattaba’athum dzurriyatahum bi imanin alhaqna bihim dzurriyatahum wama alatnahum min ‘amalihim min sya’i. ( at tur:21)

“Orang-orang yang beriman dan diikuti oleh anaknya dalam keimanan maka Allah akan mengumpulkan mereka di surga dan Allah tidak menyianyiakan amal mereka.”

Wahai para ayah, mari temukan misi keluargamu, temukan aktifitas dan peran besar keluargamu di dunia yang memberi sebesar besar manfaat dan menebar rahmat bagi dunia pada bidang kehidupan yang menjadi panggilan hidupmu sehingga manfaat besar itu menjadi pahala besar di akhirat, dan didiklah anak dan keturunanmu untuk melanjutkan misi besar perjuanganmu itu sehingga disambungkan dalam keimanan, manfaat dan pahala di dunia dan di akhirat. Anak dan keturunan akan berkiprah dalam bidang kehidupan yang menjadi misi keluarga sesuai peran peradabannya masing masing.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Hidup Hanya Sekali, Temukan Jalan, Awali dengan Kembali ke Fitrah

Harry Santosa
June 29, 2018

Rutinitas, tekanan hidup, tekanan keluarga, himpitan masalah dstnya membuat kita sama sekali tak sempat berhenti sejenak utk merenung dan menemukan jalan hidup kita. Tiba2 waktu habis, expired, tamat.

Sesungguhnya semua yg kita alami, semua peristiwa apapun itu yg sedih maupun yg senang, adalah cara Allah utk menggiring kita kembali kepada fitrah. Fitrah adalah titik tumpu untuk memulai jalan hidup.

Masalahnya adalah jika terpuruk maka umumnya kita marah2 dan cenderung kufur alias tak shabar. Jika senang umumnya lupa diri dan tak tahu diri alias tak bersyukur dgn makna sesungguhnya. Syukur bukan cuma “say thank you” tetapi menyadari karunia ini sebagai cara Alllah agar menemukan jalan hidup utk menuju Allah.

Benih dari jalan hidup kita adalah fitrah. Sebelum bertemu atau kembali ke jalan hidup kita maka kembalilah ke fitrah, diantaranya dengan tazkiyatunnafs atau mendekat kpd Allah agar Allah bawa kita kepada kejernihan pandangan utk kembali kepada titik kesadaran, “utk apa kita dihadirkan dan dilahirkan”.

Maksud (the purpose) Allah menghadirkan kita adalah agar beribadah, namun setiap kita punya tugas spesifik atau alasan kehadiran (the mission) di dunia. Itulah jalan hidup yg harus ditemukan dan diperjuangkan sampai mati dan menghadap Allah SWT.

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang orang yang diberi nikmat atas mereka”

“Katakanlah (ya Muhammad), setiap kalian beramal menurut potensi bawaannya (syaqilah) masing masing. Maka Robbmulah yang paling tahu siapa yg paling benar jalannya” (QS 17:84)

Maka mendekatlah kpd Allah agar ditunjukkan jalan kita yg benar dan tepat. Mendekat kpd Allah adalah tazkiyatunnafs utk kembali ke fitrah, kembali ke titik kesadaran siapa kita, sebelum kemudian menemukan jalan hidup kita yg ujungnya perjumpaan dgn Allah SWT.

“Hadapkanlah wajahmu kepada agama Allah dengan lurus. Tetaplah pada fitrah Allah, yang telah menjadikan manusia atas fitrah itu. Tiada perubahan atas ciptaan (fitrah) Allah. Itulah agama yang tegak, namun kebanyakan manusia tak mengetahuinya” (QS 30:30)

Kembali ke fitrah itu adalah upaya utk

1. membangkitkan kembali ghirah keimanan agar menjadi kekuatan utk mampu menyeru kebenaran dan melakukan perubahan yg Allah ridhai
2. membangkitkan kembali ghirah belajar dan bernalar agar kelak menjadi kekuatan utk mampu berinovasi sampai mati
3. membangkitkan kembali ghirah bakat dan kepemimpinan atas bakat itu, agar kelak menjadi kekuatan utk mampu berkarya atau memberi solusi pd bidang2 tertentu sesuai bakat kita di masyarakat
4. membangkitkan kembali ghirah seksualitas agar menjadi kekuatan sbg orangtua sejati yg mampu mendidik anak dan pasangannya serta keturunannya
5. membangkitkan kembali ghirah indiivdualitas dan sosialitas agar menjadi kekuatan utk memimpin dan dipimpin.

Kombinasi dari semua ghirah dan kekuatan akan menjadi jalan hidup kita yg sangat spesifik. Sehingga kelak kita bisa menyatakan misi hidup kita, “saya hadir di muka bumi untuk melakukan …. sehingga memberi manfaat besar kepada …. dengan cara … ”

Tentu saja di awal memerlukan perjuangan untuk kembali ke fitrah, dan setelah kembali ke fitrah maka suara panggilan hidup itu akan terdengar lebih jelas lalu sambutlah panggilan itu sehingga menjadi jalan hidup atau misi hidup berupa tugas spesifik peradaban.

Dengan tugas spesifik itulah kita bisa ikhlash menebar sebesar besar manfaat kepada ummat dan semesta, sehingga jiwa kita menjadi tenang, kemudian Allah menjadi ridha, dan masuklah kita ke dalam golongan Hambanya dan ke dalam SyurgaNya.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Suami (Pemimpin) Sejati

Harry Santosa
June 26, 2018

Sekarang banyak menjadi pertanyaan, bagaimana ada seorang pemimpin atau suami yang bukan hanya ditaati tetapi juga amat dicintai oleh anak dan istrinya. Sementara suami lain, walau nampak gagah perkasa, sangat rasional, tangguh namun belum tentu atau kebanyakan malah tidak benar benar ditaati apalagi dicintai.

Di era industrialisasi atau era kolonialisme orang berfikir bahwa seorang pemimpin itu seorang yang punya kekuasaan penuh, otoritas penuh, mampu mengendalikan semua orang yang dipimpinnya dengan kekuasaannya itu, mampu membuat perubahan besar sendirian dstnya. Pemimpin atau leaders itu bagai seorang hero yang menguasai dan mengendalikan.

Hari ini dunia nampaknya berfikir ulang, konsep pemimpin dan kepemimpinan seperti itu hanya melahirkan kediktatoran, ketaatan semu, kesalahan dan kefatalan dalam mengambil kebijakan karena “one man show”, “merasa pintar sendiri”, membentuk pengikut yang pengekor buta yang membahayakan semuanya, koruptif karena muncul banyak penjilat dstnya.

Kepemimpinan Sistem

Hari ini, para pakar leadership banyak menyuarakan pentingnya collaborative leadership untuk kepentingan bersama, bukan coalition leadership untuk kepentingan golongan golongan jangka pendek. Dalam peespektif ini, penting untuk membentuk kepemimpinan sistem (system leadership) dimana semua orang dianggap leader sehingga orang didorong untuk mampu mengambil alih tanggungjawab (responsibliity) berinisiatif memberi kontribusi bagi kepentingan bersama.

Itulah mengapa dalam Islam, kepempinan yang benar dan sejati tidak disebut Sultan, Malik, Raja, Penguasa dstnya tetapi disebut sebagai Khalifah yang bermakna wakil Allah, atau Amirul Mukminin yang bermakna orang yang mengurusi atau melayani urusan kaum beriman. Bayangkan bahwa setiap member dalam jama’ah dinilai dan dihitung sebagai orang beriman, punya nilai atau value yang berharga.

Kepemimpinan para pemimpin ini tentu saja harus bersifat collaborative leadership atau kepemimpinan yang sanggup mengkolaborasikan seluruh potensi potensi yang ada di dalam komunitasnya atau keluarganya sehingga menjadi ledakan energi dahsyat karena kekuatan bersinergi. Tiada lagi arogansi sektoral, atau pulau pulau (silos) kekuasaan, yang ada kolaborasi integral tanggungjawab bersama.

Jadi nampak jelas agar keluarga atau organisasi mampu bersinergi maka harus dirancang system leadership atau kepemimpinan sistem dimana di dalamnya terjadi penghargaan atas potensi potensi unik (talents) lalu tentu saja kemampuan menkolaborasikan potensi potensi dan kepemimpinan di dalamnya.

Berfikir Sistem

Itu semua diawali dengan membangun kerangka berfikir sistem, bahwa semua unsur atau member harus bisa saling mendukung dalam cara pandang sistem yang sama atau worldview yang sama namun tetap dalam potensi keunikan masing masing. Berfikir Sistem berarti pula mendahulukan wisdom sebelum rules, memdahulukan believe sebelum teknis, lalu memadukan keduanya.

Jadi membina sebuah keluarga (‘usroh), bangsa (‘ummah), komunitas (‘jama’ah) dstnya sesungguhnya seperti membina seorang perempuan (krn ‘usroh, ‘ummah, ‘jama’ah dll kata berjenis mu’anats alias perempuan) sehingga seorang pemimpin harus mendahulukan wisdom sebelum rules, karena wisdom itulah ranah seorang perempuan dan sistem adalah berjenis kelamin perempuan.

Sebuah sistem kepemimpinan harus mendahulukan Wisdom driven (mothership) bukan Rules driven (fathership), walau pada proses lanjutannya diperlukan kombinasi leadership dan followership, atau fathership dan mothership

Peran kelelakian atau fathership atau leadership sesungguhnya bukan hanya bicara bagaimana memberi komando, memerintah, mengatur, mengendalikan dstnya sebagaimana nampak di permukaan, namun sesungguhnya jauh di bawah permukaan ia adalah seorang great listener, great emphatizer sehingga secara bijak memahami mendalam kebutuhan keluarganya, anak dan istrinya.

Maka dari sifar2 itulah kemudian kecintaan anggota keluarga muncul berupa relasi yg kuat, keyakinan berupa rasa nyaman dan aman berada di naungannya lahir, serta kebanggaan karena ada pengakuan serta penghargaan atas setiap potensi unik keluarganya. Dan ujung dari itu semua adalah tentu saja ketaatan yang tulus dan kritis.

Maka sebuah keluarga, organisasi, komunitas atau bangsa sesungguhnya didrive oleh wisdom sebelum rules, dan seorang pemimpin itu idealnya adalah seorang yg memiliki kemampuan collaborative leadership yaitu mengkolaborasikan potensi potensi baik keimanan, bakat, belajar dan inovasi, ego dan perasaan, logika maskulintas dan empati femininitas di dalam wilayah yg dipimpinnya. Ketaatan dan kepatuhan adalah bagian akhir dari kolektiftas kecintaan, kenyamanan, ketenangan dan kebanggan.

Maka hal mendasar seorang untuk menjadi pemimpin adalah jadilah human being atau manusia seutuhnya yang tumbuh semua aspek fitrahnya agar kelak mampu menghargai, mengkolaborasi dan mensinergikan semua potensi fitrah keluarga dan komunitasnya menuju sinergi peran peradaban mewujudkan misi peradaban keluarganya atau komunitasnya.

Salam Pendidikan Masa Depan

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Misi Keluarga Gen Halilintar

Harry Santosa
June 22, 2018

Banyak orang mengagumi keluarga Gen Halilintar, lalu ingin menirunya. Tetapi sayangnya yang ditirunya adalah HOW nya, bukan WHY nya sehingga kelak banyak gagal dan frustasinya.

Setiap keluarga sesungguhnya unik, jadi tiada yang bisa di “copy paste” dari keluarga lain kecuali kita memahami insightnya atau hikmah dari mengapa keluarga itu demikian, baru kemudian kita kontekskan dengan keunikan keluarga kita.

Jadi jangan tergesa meniru Gen Halilintar, yang keluarganya, sejak ayah sampai anak istri adalah para pebisnis yang “menyambar nyambar” kesempatan “dagang”, namun temukan dulu gen keluarga kita, jangan jangan gen keluarga kita gen “hujan hujanan” yang suka memberi keberkahan daripada menyambar kesempatan, atau gen keluarga kita gen “awan” yang meneduhkan namun sering mendung alias baperan.

Tulisan ini hasil pengamatan saya pada sebuah talkshow, dimana bu Gen dan pak Hali menceritakan perjalanan keluarga mereka. Tulisan ini bukan sedang memuji muji sebuah kesuksesan keluarga, namun menggali sedikit pokok pengalaman keluarga mereka. Semoga kita bisa menggali hikmahnya dan tidak asal meniru.

Sepintas Perjalanan

Sejak awal pernikahan, pak Hali bercerita, ia memang sangat suka bisnis. Sejak muda sudah banyak bisnis yang digeluti. Konon menurut bu Gen, ini yang membuatnya terpesona, bayangkan orang muda mandiri dengan serenceng bisnis yang berkembang. Wow.

Bu Gen belum selesai kuliah ketika dilamar, sebagaimana kebanyakan gadis modern kelahiran 70an, tentu mindsetnya seragam yaitu kuliah sampai selesai, lalu bekerja beberapa tahun kemudian cari jodoh.

Namun pak Hali melamar tanpa ampun, “menikah dengan saya” atau “kuliah”, padahal bu Gen mendapat bea siswa bergengsi ke LN. Cerita selanjutnya sudah bisa dibayangkan, pasti keluarga besar bu Gen mengalami huru hara besar.

Akhirnya pernikahanpun terjadi. Pak Hali mengajukan proposal untuk punya 12 anak. Tentu saja bu Gen yang masih ingin santai santai dulu dan kerja dulu, terkejut. Namun lagi lagi, seorang istri yang mendukung misi suaminya, rela menerima proposal. Approved! Di talkshow, anak bungsunya mengatakan dengan bangga, “itu keputusan terbaik dari ibu saya dalam hidupnya”

Kemudian, karena sesi mereka setelah sesi saya yang membahas the power of family mission, mc talkshhow itu, menanyakan the family mission statement keluarga Gen Halilintar. Ketika pak Hali ditanya, apa misi keluarga Gen Halilintar, pak Hali nampak bingung dengan maksud misi keluarga dari pertanyaan, namun menjelaskan dengan sederhana, “kami ingin mendidik dan membesarkan anak anak kami agar menjadi pengusaha yang bertaqwa”.

Nah jelas sudah, sinkron dan konsisten antara perjalanan hidup sejak muda, sampai berumah tanggà dan mendidik anak.

Misi keluarga itu nampak ajeg dalam diri pak Hali, karena berangkat dari misi personal sejak muda dan sangat ingin ditularkan kepada anak anakmya. Semua hal yang terjadi di dalam rumahnya selalu dijadikan kesempatan untuk mengembangkan bisnis sekecil apapun. Itu semua adalah dalam rangka menjalani misi keluarganya.

Nah begitulah seharusnya seorang ayah, seorang suami, memiliki misi keluarga yang jelas. Bukan sekedar statement semata yang ditempel di dinding, namun sudah menjadi “believe” atau keyakinan sejak muda yang dijalani dengan sungguh sungguh.

Pak Hali bercerita, bahwa setiap habis sholat shubuh, ia meng”coach” anak anaknya satu persatu. Memberikan arahan dan keyakinan, bahwa bisnis itu hanyalah wasilah untuk semakin taqwa kepada Allah, maka fokus saja memberi manfaat. Kemudian memberikan solusi solusi atas berbagai macam masalah bisnis anak anaknya, namun bukan mendikte tetapi dengan cara mendorong anak anaknya untuk menemukan solusinya sendiri.

Begitulah seorang ayah sejati, ia adalah “a man of mission n vision”. Tugas utama seorang Ayah adalah “find the mission”, “show the mission” and “lead the mission”. Ayah juga penanggungjawab utama pendidikan. Narasi narasi besar peradaban harus keluar dari tutur sang Ayah. Tidak perlu panjang namun dalam dan bermakna.

Sayangnya, kebanyakan orang kemudian melihat keluarga ini sukses secara materi, lalu menyangka orientasi keluarga ini materi dan menirunya, lalu menjadi obsesi.

Perhatikan, bu Gen bercerita bahwa pernah keluarga itu terpuruk, habis habisan ditipu rekan bisnis. Itu terjadi ketika anak anak mereka sudah 8 orang. Kejadian itu begitu parah sampai anak mereka tak membayar sekolah berbulan bulan. Namun keluarga ini tak merubah sedikitpun misinya, mereka tetap konsisten untuk menjalani misi keluarga.

Pada saat saat sulit inilah, bu Gen, sang istri tetap mendukung Misi suaminya. Perhatikan betapa bu Gen mendukung penuh misi suaminya. Bukan hanya mendukung tanpa usaha, bu Gen juga ambil alih untuk mendidik anak anaknya sendiri dan terlibat dalam bisnis keluarga.

Hikmah (Insight)

1. Suami atau Ayah idealnya sejak muda sudah punya misi personal yang kokoh, dijalani dengan sungguh sungguh sehingga kompeten. Misi personal ini bukan hanya terkait bakat berupa peran profesi atau wirausaha tetapi juga terkai fitrah keimanan berupa peran menyeru kebenaran untuk perubahan, terkait juga dengan fitrah keayahbundaan berupa peran mendidik anak sesuai fitrahnya.

2. Misi personal Ayah kelak ketika menikah harus menjadi misi keluarga, kemudian menjadi family business yang diperjuangkan bersama dan diwariskan kepada keturunan sebagai sebuah legacy. Sebagai catatan bahwa family business bukan terkait dengan komersialisasi, tetapi bagaimana mendeliver karya solutif dan manfaat dari misi keluarga dengan lebih manageable, berkualitas dan sustainable.

3. Ayah bukan hanya “A Man of Mission and Vision”, tetapi iapun harus turun tangan menunjukkan dan memimpin bagaimana Misi itu bekerja. Find the Mission, Show the Mission dan Lead the Mission. Itulah mengapa misi hidup personal ayah sebaiknya dijalani dan diyakini sejak muda. Dalam pandangan ini maka peran Ayah adalah Penanggungjawab Utama pendidikan di keluarga.

4. Ibu bertanggungjawab menurunkan Misi Besar sang ayah menjadi program, proyek dan aktifitas keseharian di rumah. Bahkan tiap anak dirancangkan kurikulum personal masing masing yang relevan dengan bakat masing masing dan juga relevan dengan Misi Besar Keluarganya.

5. Sukses misi suami ada pada ketulusan sang istri mendukung misi suaminya itu berkali kali, baik di kala lapang maupun di kala susah. Maka Allah ridha dan kelimpahan dunia hanyalah bonus semata sementara cinta suami istri itu semakin dalam, indah dan kokoh di dunia dan di akhirat.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah
#familymission

Orang Tua yang Bahagia menciptakan Anak yang Bahagia – Bag 6

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #41

Bagaimanapun masa lalu kita, sejak menikah, kita masuk ke jilid dua hidup kita. Kita membayangkan kisah hidup kita diwarnai kebahagiaan. Cobaan tak apa menyapa, tapi ketenangan jiwa tetap di dada. Kita membayangkan pasangan kita senyum gembira dan anak-anak kita yang manja dengan kelucuan tingkah polahnya….

Bagaimana mewujudkannya? Peliharalah humor dalam keluarga (Sense of Humor).

Humor bukan hanya membuat kita bahagia, bahkan bisa mempererat ikatan dalam keluarga. Jika dengan tersenyum saja otak kita menghasilkan hormon-hormon dan senyawa kimia otak yang membuat tubuh kita sehat jiwa dan raga, apalagi tawa. Humor dapat mengubah iklim dalam keluarga yang semula tidak nyaman menjadi menyenangkan. Dalam keluarga, humor dapat membantu dalam situasi serius sekalipun!

Seorang anak yang dibesarkan di lingkungan yang penuh humor tidak hanya akan tumbuh menjadi anak yang ceria, tapi juga cerdas, sehat secara fisik dan jiwa, berpikiran terbuka, tidak mudah tersinggung, tidak mudah stress, pandai mengelola emosi, dan sebagainya. Mengapa demikian?

Humor mematangkan bagian otak yang bernama sistem limbik. Sistem limbik adalah bagian otak yang berfungsi dalam pengenalan dan pengelolaan emosi sehingga kecerdasan emosi anak akan terlatih. Anak yang dibesarkan dalam humor, sistem limbiknya ‘terbuka’ sehingga informasi dapat diteruskan ke neokorteks (bagian otak yang mengelola ilmu dan pengetahuan, tempat berpikir dan menganalisa). Maka, jelaslah mengapa anak yang dibesarkan dalam suasana bahagia akan jauh lebih cerdas karena otaknya seperti spons yang menyerap apa saja dengan mudah.

Sedangkan anak yang penuh dengan tekanan, kata-kata yang melukai, kemungkinan yang terjadi bisa dua hal : kecerdasan rata-rata atau lebih rendah dengan emosi tidak stabil cenderung negatif, atau cerdas dengan emosi tidak stabil cenderung negatif. Keduanya memiliki emosi tidak stabil cenderung negatif, kecuali mereka yang sudah selesai dengan dirinya dan berdamai dengan masa lalu. Tentu kita tidak menginginkan anak yang demikian bukan? Contoh terburuk dari anak-anak yang besar dalam lingkungan yang penuh tekanan adalah perilaku geng motor yang ‘senggol bacok’. Tersinggung sedikit, responnya negatif dan besar. Tidak lain karena sistem limbik yang mengurusi kontrol emosi tidak terbiasa distimulasi.

Informasi yang terkait dengan emosi dari sistem limbik, akan mendapat tanda “penting” sehingga akan disimpan sebagai memori jangka panjang. Oleh karena itu kita bisa mengingat dengan lengkap lirik lagu “Mungkinkah” milik Stinky, terlepas perasaan kita berbunga-bunga atau patah hati tak berdaya.

Humor sangat bermanfaat bagi keluarga dan anak kita. Ternyata, ada humor yang sehat dan humor yang tidak sehat. Humor yang sehat adalah segala jenis humor kecuali yang berikut ini :

• Humor yang mengejek, misalnya mengejek ‘cacat’ tubuh atau panggilan buruk
• Humor yang membual atau mengandung kebohongan
• Humor yang porno

Anak kita laksana spons, ia menyerap banyak sekali hal. Sedangkan pengasuhan menciptakan kenangan. Tanyakan pada diri sendiri setiap hari, “apa yang dipelajari anakku dari orangtuanya hari ini?” dan “akan diingat sebagai orangtua yang bagaimana oleh anakku jika aku wafat kelak?”