Mengapa Anak Malas Belajar? Bertanyalah!

Ayu P in Refleksi CM
January 12, 2018
http://cmindonesia.com/mengapa-anak-malas-belajar-bertanya…/

Pendidikan itu hidup dan kehidupan jiwa terpelihara oleh asupan ide-ide. Tugas orangtua adalah memelihara kehidupan jiwa anaknya dengan ide, sebagaimana kita memelihara kehidupan jasmaninya dengan makanan. (Parents and Children, hlm. 39)

“Jadi, kamu tidak mau belajar?” tanya saya pada salah satu murid berusia akhir belasan yang sepanjang kelas menunjukkan muka sangat malas.

“Nggak!” jawabnya mantap sambil membenamkan wajah di meja.

“Lalu kenapa kamu ada di sini?”

“Karena disuruh Mamaku.”

***

Sebagai guru les-lesan, saya sudah biasa bertemu murid yang datang ke tempat belajar tanpa gairah belajar, mulai dari anak-anak, remaja, bahkan dewasa muda. Rasanya persis seperti menyuapi anak yang sedang mogok makan. Kita tahu anak itu butuh makan, tapi dia tidak merasa lapar. Makin dipaksa, makin dia menolak.

Memang kata Charlotte Mason, kita bisa menuntun kuda ke air, tapi tak bisa memaksanya minum. Menghadapi siswa yang tidak lapar dan haus akan pengetahuan seperti ini … benar-benar PR besar bagi guru yang bertugas menyajikan menu!

***

Ada lagi murid saya lainnya. Ia baru saja masuk SMA, anak yang rajin dan cerdas. Ia bercerita pada saya bahwa ia kerap kali mimpi buruk, mimpi buruk tentang mendapat nilai buruk. Memang betul, tiap selesai ujian, anak ini selalu tergesa mencari tahu hasil nilai ujiannya. Kalau nilainya jelek, wajahnya memucat. Kalau nilainya bagus, sorot mata penuh beban itu berubah lega sekali. Jelas nilai merupakan pencapaian penting baginya.

Setelah dapat nilai bagus lalu apa? Anak sendiri mungkin tidak tahu. Namun yang pasti saat belajar tidak lagi mendatangkan sukacita, anak menanggung beban yang berat. Makanan pengetahuan yang seharusnya dinikmati dengan mata berbinar disikapi seperti menelan pil pahit. Tak heran kalau akhirnya rasa lapar mereka perlahan lenyap.

***

Fakta bahwa proses melaju ke tahap berikutnya menuntut anak lulus dari ujian segala macam, yang membuat ia harus memeras keringat sambil panas dingin dengan stres yang berlebihan, seharusnya membuat kita tergerak untuk mencari sebabnya dan bertanya, “Kenapa bisa begini?” (Parents and Children, hlm. 216)

Masalah-masalah yang kasat mata, orangtua biasanya lebih cepat tanggap. Kala anak susah makan, lalu berat badan tidak naik-naik atau justru turun, apalagi mulai sakit-sakitan, orangtua biasanya langsung mengerahkan segala daya upaya untuk mengatasinya. Ya, karena sesuatu yang bersifat fisik memang mudah terlihat. Masalah lekas ditangani, sehingga lebih mudah disembuhkan.

Namun bagaimana dengan tumbuh kembang jiwa? Jiwa bertumbuh atau tidak, sangatlah abstrak dan tidak kasat mata, sehingga seringkali kita abai mengeceknya. Jangankan tentang anak atau murid, untuk menilai seberapa bertumbuhnya jiwa kita saja terkadang kita lalai. Butuh waktu khusus dan teratur untuk merenungkannya.

Sebenarnya gejala umum sehat tidaknya jiwa cukup mudah dideteksi. Apakah kita merasa lapar akan ide dan pengalaman yang membuat diri kita bertumbuh dan berkembang? Ataukah kita merasa cukup menjalani hidup rutin dan mainstream asal kebutuhan materiil terpenuhi?

Jika kita mengamati bayi-bayi, kita akan dapati betapa mata mereka berbinar-binar. Mereka merangkak, merambah ke sana kemari, mencoba meraih apa pun yang belum diketahui. Balita pun begitu. Saat baru saja bisa bicara, mereka bertanya apa saja tanpa ragu ragu. Hasrat ingin tahu memang sejatinya alami dimiliki manusia. Lalu mengapa saat mereka tumbuh lebih besar, para orangtua dan guru mengeluh anak-anak ini “malas belajar”? Ke mana hasrat alami belajar itu pergi?

***

Untuk apa Tyler Johnson bersekolah? “Tentu saja supaya mendapat pendidikan yang baik,” jawab orangtuanya. Tyler disekolahkan dengan harapan tinggi bahwa ia akan menjadi siswa berprestasi di kelas. Namun orangtua tak menyebut sedikit pun tentang sukacita belajar, tentang berbagai keajaiban Alam yang mengagumkan, atau tentang ide-ide segar dalam buku-buku pelajarannya di sekolah. “Jadi anak manis dan jadi juara kelas ya,” adalah salam perpisahan mereka sebelum Tyler berangkat, dan kalimat itulah yang masuk ke jiwa nan muda ini tentang tujuan hidupnya. (Parents and Children, hlm. 214-215)

Meski ditulis pada awal abad ke-19, di belahan bumi yang lain pula, namun apa yang terjadi pada Tyler juga biasa terjadi di sini. Apa tujuan pendidikan? Mengapa orangtua memasukkan anak ke sekolah atau lembaga kursus? Biasanya supaya anak pintar, bukan? Pintar dalam arti nilai tesnya terbaik, menjadi ranking satu lalu mendapat beasiswa – bukankah itu bakal membanggakan orangtuanya?

Karena hasrat belajar sulit diukur, cara paling mudah untuk membuktikan siapa yang terbaik adalah dengan memberi serangkaian tes lalu menilainya. Ujian itu sendiri tidak salah, tapi manakala hasil ujian itu menjadi tujuan, menjadi ambisi yang diburu, barangkali kita perlu merenung lagi: benarkah itu tujuan tertinggi proses belajar?

Jika sudah masuk urusan akademis, nafsu menjadi nomor satu itu berbahaya. Seorang siswa bisa begitu terperangkap dalam obsesi menjadi juara sampai-sampai ia tak bisa memikirkan perkara lainnya. Bukan pengetahuan yang ia tengah pelajari yang menarik minatnya, dia berusaha mati-matian hanya agar bisa mengungguli kawan-kawannya. (A Philosophy of Education, hlm. 85)

***

“Saya menyesal, Miss, kenapa kok baru merasa perlu untuk belajar di usia setua ini!” keluh seorang bapak yang berusia lebih dari setengah baya. Bapak ini selalu datang ke kelas dengan semangat belajar luar biasa. Bahkan di antara kesibukannya bekerja, ia kerap kali mengulang-ulang materi yang sudah dipelajari di kelas.

Demi nilai, Pak?

“Saya tidak peduli berapa nilai saya! Dapat nilai jelek juga nggak ada yang bakal marahin. Saya hanya butuh menambah kemampuan, belajar ya untuk diri saya sendiri!” kata seorang murid saya yang lain, lagi-lagi berusia setengah baya.

Begitulah fenomena yang saya amati di tempat saya mengajar. Siswa-siswa yang “cukup umur” cenderung memiliki semangat belajar tinggi, sangat berkebalikan dengan anak-anak muda yang kerap kali hanya masuk les karena perintah orangtua mereka.

Saya pun sebetulnya mengalami itu. Baru setelah memutuskan jadi mama homeschooler, saya merasakan betapa belajar itu begitu membahagiakan. Banyak pelajaran yang di zaman sekolah dulu tak pernah saya minati, sekarang terlihat arti pentingnya. Saya jadi mengerti, saat proses belajar dilakukan dengan sadar dan merasa butuh – proses belajar tanpa beban, yang dilaksanakan tulus karena ingin belajar – barulah belajar akan jadi bermakna.

***

Bolak balik dalam tulisannya, Charlotte menekankan: hasrat alami belajar bisa hancur jika anak didorong mengutamakan hasrat-hasrat lainnya seperti ingin dipuji, ingin menjadi yang terbaik, ingin menyenangkan orangtua, takut akan ancaman, hasrat ingin diterima dalam masyarakat, dan sebagainya.

Sejatinya setiap anak senang belajar sejak pertama kali ia lahir ke dunia, sebab begitulah fitrah manusia. Namun tekanan, ancaman, iming-iming hadiah, pengabaian, pengalihan motif, kompetisi yang berlebihan, lingkungan yang tidak mendukung, seringkali mengalahkan kesenangan tersebut. Sampai pada saatnya nanti, ia sudah dewasa, sudah lebih bisa mengenali diri, barulah rasa “lapar” itu muncul kembali.

Namun, haruskah setiap anak seperti itu, telat menyadari pentingnya belajar, baru merasa butuh belajar setelah tua? (Itu pun kalau sadar, karena banyak juga orang yang sampai tua tetap tidak tergugah untuk menumbuhkan diri dan menikmati proses belajar.)

***

Saat memahami bahwa benak manusia hanya berfungsi kalau punya bahan bakar, kita akan memandang pendidikan dalam terang baru. Tubuh yang terus diisi dengan pil-pil dan makanan sampah lama kelamaan akan hancur. Benak juga hanya akan memproses satu jenis makanan saja: ide-ide! Benak manusia hidup, bertumbuh, berkembang oleh ide-ide, tak ada yang lain. Fakta-fakta informatif garing sama tak menggugah seleranya bagi pikiran kita bagaikan seporsi serbuk asahan gergaji bagi tubuh. (A Philosophy of Education, hlm. 105)

Supaya tumbuh baik, anak butuh makanan bergizi tinggi. Jika kita tahu caranya, anak-anak akan menyukai hidangan sehat ini tanpa perlu dihias dengan beragam kemasan. Begitu pula, kata Charlotte, benak anak butuh makanan berupa ide-ide vital. Ia butuh sesuatu untuk dipikirkan, bukan sekadar fakta yang hari ini dihafal lalu selesai ujian sudah lupa.

Coba saja! Pasok anak-anak yang benaknya sakit sampai tidak merasa lapar itu dengan sajian ide-ide segar – bisa ide-ide yang menyangkut minatnya, ide ide dari para tokoh inspiratif – lalu kita singkirkan informasi kering, perlahan rasa laparnya akan tergugah. Dengan memberikan asupan ide hidup secara konstan, tanpa pernah melewatkan sehari pun, benak anak pelan-pelan sehat kembali, baginya belajar jadi menarik lagi.

Dalam metode Charlotte Mason, asupan ide terutama berupa living books. Kita menggelar perjamuan buku-buku bermutu tinggi, yang di dalamnya penuh ide-ide berkesan. Namun tidak tertutup kemungkinan ide-ide bisa disajikan dengan cara yang lain. Setelah makanan lezat bergizi disajikan, jangan hilangkan nafsu makan intelektual anak dengan motif motif yang lain. Mari kita ajak mereka menikmati belajar demi ilmu itu sendiri.

Dalam kerja besar pendidikan, akan celaka jika mengabaikan satu pun bagian dari jiwa anak. Sebaliknya, kalau kita menjadikan rasa cinta pengetahuan itu sendiri sebagai tujuan pendidikan, maka setiap aspek, setiap kekuatan dalam diri anak akan bekerja sama ke arah yang satu. Kita dapati anak-anak itu siap dan bersemangat menerima tantangan ini, dan yang bisa mereka capai akan mengejutkan kita. (A Philosophy of Education, hlm. 93)

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s