7 Kunci Sukses di Masa Depan : #1. Be The Player

Eileen Rachman & Billy Latuputty
EXPERD Character Building Assessment & Training
Kompas, 4 November 2017

Dengan ketidakpastian ekonomi yang sering kita alami saat ini, kita bisa merasa bahwa kehidupan tidak bisa berjalan sesuai rencana kita. Target penjualan yang tidak tercapai, target KPI yang juga tidak terpenuhi, harapan promosi yang hilang karena menciutnya organisasi adalah fakta-fakta yang umum terjadi. Bagaimana kita bereaksi terhadapnya?

Banyak di antara kita menjadi orang-orang yang suka mencerca, menyalahkan keadaan, menyalahkan manajemen, atau juga teman sekitar. Mungkin hal ini juga dilatarbelakangi oleh keengganan kita mengeluarkan tenaga ekstra, untuk mengubah keadaan.

Namun, bukankah dalam keseharian kita memang sering menemui hal-hal yang tidak disangka-sangka, atau di luar rencana? Ada dua pilihan yang kita bisa ambil menghadapi situasi-situasi semacam ini. Kita bisa mengenakan victim mentality dengan bersikap kecut, meratapi keadaan, menganggap hidup ini tidak fair, namun tidak berbuat apa-apa. Atau kita bisa mencontoh bagaimana seorang olahragawan menghadapi tantangan bahkan kekalahan dalam pertandingan. Prasyarat untuk menjadi atlet adalah memiliki kekuatan fisik yang prima. Namun demikian mentalitas bertandingnyalah yang paling menentukan siapa yang menjadi juara.

Atlet-atlet terbaik selalu mempunyai hasrat untuk menjadi yang terbaik. Tidak hanya menjadi yang terbaik di dunia, tetapi juga mengalahkan prestasi terbaik mereka sendiri. Tak ada olahragawan sukses yang takut bersaing, atau takut bertanding. Mereka mengganti taktik, mencari jalan untuk mengatasi kekalahannya, dan mencoba cara-cara baru, yang belum pernah dilakukan. Mereka tak berhenti menaikkan standar mereka. Players mentality inilah yang perlu kita adaptasi. Perbedaannya terletak pada interpretasi dan respons mereka terhadap situasi-situasi yang dihadapi. Tidak ada pilihan mengeluh, apa lagi menyalahkan dan menjelekkan orang lain.

Menghentikan “victim mentality”

Permasalahan mendasar dari victim mentality adalah keyakinan bahwa nasib kita lebih banyak ditentukan oleh hal-hal eksternal, ketimbang diri kita sendiri. Saking parahnya mentalitas ini bahkan orang bisa menyalahkan pemerintah atas penghasilannya yang terbatas, dan melupakan kebiasaan-kebiasaan buruknya yang justru paling pertama harus diubah. Kebiasaan tidak take charge atas apa yang dikerjakan dan juga tidak mempunyai energi untuk melakukan perubahan adalah masalah utamanya. Akibatnya? Kita jadi pasif dan berputus asa. Ini betul betul menghambat kita untuk maju.

Namun, kita bisa beralih dari mentalitas korban ini dengan melakukan latihan sederhana.

Cobalah berhenti mengeluh, bergosip, menghakimi, dan bersumpah serapah untuk keadaan yang tidak menguntungkan. Kata-kata buruk yang kita lontarkan secara tidak sadar juga mempengaruhi pemikiran dan perilaku kita menjadi negatif.
Pilihlah kata-kata Anda yang mengarah pada analisis akar masalah, menemukan solusi dan pandangan positif terhadap situasi. Jika hal ini dilakukan secara rutin Anda akan mampu bersikap tenang dan konstruktif. Pilihannya lagi-lagi berpulang pada Anda.

Berinvestasi pada “continuous growth”

Terlepas dari unsur nasib atau suratan takdir, kita memang perlu menanamkan dalam pikiran kita bahwa kitalah yang bertanggung jawab terhadap prestasi kita. Kita perlu mengubah mental kita, bila ingin survive di jaman yang penuh perubahan ini. Percayalah pada pada kekuatan sendiri untuk melakukan perubahan. Memang mengeluh dan menyalahkan adalah langkah yang kelihatannya sederhana dan mudah dilakukan. Namun mengambil kendali terhadap situasi akan memberi manfaat yang jauh lebih banyak. Berikut ini caranya:

Fase 1: Ubah diri kita sendiri

Kita bisa memulai dengan hal-hal fisik seperti, berpakaian lebik baik sehingga penampilan lebih menarik. Kita juga bisa mengurangi kemalasan, dan juga memaksakan diri untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan baru. Teman saya, yang sudah ditolak wanita beberapa kali. pada akhirnya berniat mengubah diri dengan cara mengganti cara berpakaiannya, mencukur rapih rambutnya, melatih beberapa topik pembicaraan yang kira-kira dinikmati oleh lawan bicaranya. Perubahan ini tidak menjaminnya untuk mendapatkan banyak teman, tetapi paling tidak sudah membuat perubahan positif bagi dirinya.

Fase 2: Ubah kondisi kita

Tanpa kita rasakan, kita sering berada dalam lingkaran sosial yang kurang sehat, baik itu teman kerja, kelompok arisan, atau teman grup WA. Selain mengubah kebiasaan kita, kitapun bisa memutuskan untuk keluar dari kelompok-kelompok, yang menyebar hawa negatif ini. Suami teman saya, memaksa istrinya untuk keluar dari arisan tertentu yang selalu diadakan dihotel-hotel berbintang lima, karena biasanya sepulang dari pertemuan itu si istri terpaku pada gosip teman-temannya. Ketika si istri keluar, ia sendiri merasa lega bahwa ia tidak lagi berada di lingkungan yang tidak kondusif itu.

Fase 3: Ubah cara bermasyarakat

Cara kita bermasyarakat berkembang secara perlahan-lahan. Bila beberapa tahun yang lalu kita tahu bahwa berbicara secara tatap muka sambil menatap ponsel itu tidak sopan, sekarang hampir semua orang melakukannya. Bila kita tahu bahwa keranjingan menatap ponsel itu sesuatu yang membuat kita berubah dan tidak sehat, maka sebaiknya kita lebih aktif mengatur penggunaannya, dan tidak bergabung dalam kelompok-kelompok di sosial media secara berlebihan, sehingga tidak terlalu banyak pesan yang masuk.

Kitalah yang mengubah diri kita. Kita pula yang mengubah cara kita terjun ke masyarakat. Dengan demikian kita mampu menjadi atlet kehidupan yang andal.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s