Tempatkan setiap Anak kita sebagai “Leader” di setiap bidang Kehidupan

Harry Santosa
December 4·

Tempatkan Setiap Anak Kita sebagai “Leader” di Setiap Bidang Kehidupan

Konon pada tahun 2015, para pakar dan pemikir bangsa Israel berkumpul di New York (bukan di Tel Aviv) untuk menghadiri sebuah perhelatan besar konferensi yang bertujuan membuat “grand design” arsitekur peradaban bangsa ini beberapa dekade ke depan.

New York dipilih mengingat inilah tempat bersejarah kedua yang menjadi titik awal kebangkitan bangsa Israel sebelum negara Israel raya berdiri dengan menjajah Palestina.

Barangkali jarang yang tahu bahwa nama pertama New York adalah New Yerusalem atau New Amsterdam. Ini kota kedua sebagai pusat kebangkitan Israel setelah berpindah dari Amsterdam yang dulu juga bernama New Yerusalem.

Konferensi bangsa Israel ini melahirkan berbagai keputusan penting dan protokoler bangsa Yahudi setebal beberapa ribu halaman. Namun intinya adalah bangsa Israel membuat misi peradaban bahwa harus ada seorang putera bangsa Israel yang menjadi pakar sekaligus pemimpin yang menjadi rujukan dunia pada setiap bidang dalam kehidupan.

Yang menarik adalah bahwa konferensi ini ditutup dengan pidato seorang sepuh bangsa Israel, yang di akhir pidatonya mengutip sebuah quote dari filsuf Israel yang hidup di abad 1 Masehi bernama Hilar, yaitu

If I am not for me, who will be me
If i am for me, who am i
If not now, when?

(Jika saya bukan untuk saya, siapa yang akan menjadi saya
Jika saya untuk saya, lalu siapa saya
Jika tidak sekarang, lalu kapan?)

Quote ini sederhana, namun menggambarkan keinginan dan keseriusan besar bangsa mereka untuk leading pada setiap bidang kehidupan dengan mendorong tiap orang Israel untuk menemukan takdir peran peradaban dirinya untuk menguasai dunia.

Keseriusan ini bahkan tergambar dalam bidang kehidupan yang paling sederhana sekalipun, sebagai contoh, pemeran film Wonder Woman, adalah seorang perempuan pelatih Kraf Maga (beladiri khas Israel) pada tentara Israel.

Bayangkan, dalam bidang beladiri saja mereka ingin leading dan ingin menjadi teladan. Kraf Maga ini banyak digunakan sebagai andalan para petarung MMA (Mix Martial Art) di ajang dunia tarung bebas.

Tulisan ini bukan bermaksud SARA atau anti semit atau membenci ras bangsa Israel, namun kita dapat belajar betapa seriusnya mereka untuk fokus pada potensi kekuatan mereka sendiri dengan mendorong bangsanya agar setiap dari mereka menemukan peran peradaban dan leading pada setiap bidang kehidupan tersebut sehingga menjadi rujukan dunia.

Refleksi

Kita bisa berefleksi kepada peradaban Islam sendiri, bagaimana peradaban kita hari ini? Apa yang bangsa Israel lakukan di atas sesungguhnya sedang membangun arsitektur peradabannya.

Mereka meniru konsep alQuran bahwa setiap muslim harus memiliki daurul hadhoriyah (peran peradaban) dan menjadi teladan pada bidangnya masing masing sekecil apapun.

Peran peradaban personal seorang muslim adalah bashiro wa nadziro yaitu banyak memberi kabar gembira (solution maker) dan peringatan (problem solving) lalu harus rahmatan lil alamin yaitu menebar manfaat besar bagi manusia.

Kemudian, secara kolektif, peran peran personal ini akan membawa Ummat kepada peran komunal yaitu khoiru ummah (the best model community) dan ummatan wasathon (the best collaborator) bagi ummat manusia.

Untuk sampai kepada mengantarkan generasi peradaban anak anak kita kepada peran peradaban terbaiknya pada setiap bidang kehidupan agar menjadi khoiru ummah dan ummatan wasathon, sebagaimana yang Allah kehendaki itu harus diawali dengan model pendidikan peradaban yang mampu melakukan hal demikian.

Namun sayangnya, benak kebanyakan ummat Islam tentang pendidikan adalah hanya mengantarkan generasi pada pandai akademis dan pandai agama, bukan peran peradaban. Mindset pandai akademis inilah sesungguhnya yang membuat peradaban Islam menjadi mandul peran peradaban.

Kita banyak menemukan lembaga lembaga pendidikan Muslim maupun Orangtua Muslim yang masih berorientasi agar anaknya bagus di akademis dan atau bagus di agama, misalnya hampir seragam ingin punya anak yang lulus UN dengan nilai tinggi dan hafal banyak juz alQuran, lalu ujungnya agar bisa diterima di perguruan tinggi bergengsi dan bekerja di tempat “basah”.

Nampaknya tiada yang salah ketika berobsesi anak pandai akademis dan pandai agama lalu sekolah setinggi tingginya di kampus bergengsi dan akhirnya bekerja di perusahaan besar dengan gaji besar sehingga zakat dan infaqnya besar.

Sesungguhnya Islam tak melarang manusia untuk kaya, berkuasa, terkenal dstnya, namun Islam melarang menjadikan dunia sebagai orientasinya walau dikemas dalam kemasan agama “agar banyak infaqnya”. Itu namanya hubbuddunya dan menjadikan agama sebagai bungkus ambisi dunianya.

Bayangkan apa jadinya, andai semua Muslim menjadikan dunia sebagai orientasinya? Mengantarkan anak anak kita yang cerdas dan hafizh itu untuk menjadi kuli kuli peradaban, bukan peran peran peradaban terbaik pada setiap bidang kehidupan? Tentu menjadi khoiru ummah hanya isapan jempol dan mimpi di siang bolong.

Hari ini generasi muda muslim, kebanyakan ketika selesai sekolah dan kuliah, hadir di masyarakat, menjadi orang yang mati (meminjam istilah Buya Hamka), tanpa peran peradaban. Mereka melayang layamg menjajakan kepandaian akademis dan kepandaian agama untuk mencari nafkah dan menjadi kuli peradaban bangsa lain.

Indonesia konon punya 600 Doktor Tafsir, namun tak satupun berminat bikin tafsir. Sejak Indonesia merdeka, kita hanya punya 2 tafsir kontemporer, yaitu AlAzhar (Hamka) dan alMisbah (Quraish Shihab). Kita punya banyak hafizh namun sedikit yang berminat jadi guru Quran apalagi ahli Quran dsbnya. Lembaga pengembangan SDM Muslim yang merekrut banyak pemuda pandai untuk diberi bea siswa dengan dana ummat, namun ujungnya hampir semuanya diserap perusahaan konglomerat.

Ini terjadi karena orientasi pendidikan kita tak berorientasi peradaban dengan mengantarkan anak anak kita kepada peran peradaban terbaiknya dan menjadikan mereka sebagai rujukan dunia pada bidang itu.

Lima tahun lalu, seorang ibu yang jadi rujukan banyak orang, menulis status di sosmed sbb

“….alhamdulillah anak saya yang hafizh alQuran sekarang sudah tamat dari PTN,
…….mohon doanya agar segera diterima bekerja”

Bisa dibayangkan peradaban Islam 10-20 tahun ke depan jika mindset setiap ibu demikian.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife

Advertisement

Penyiapan SDM Muda Berkualitas

Oleh : Ronny P Sasmita, Direktur Eksekutif Economic Action Indonesia/EconAct
Media Indonesia, 30 November 2018

INDONESIA saat ini sedang menikmati bonus demografi yang akan mencapai puncaknya pada 2030-2045. Penduduk usia produktif Indonesia yakni mereka yang berusia 15-64 akan mencapai 180 juta atau 68% dari total penduduk.

Pada 2030-2045, penduduk usia produktif akan mencapai 70%. Namun, kondisi Indonesia saat ini masih jauh dari ideal untuk bisa bercengkerama dengan tantangan bonus demografi. Penduduk miskin masih 26 juta, atau 9,6% dari jumlah penduduk, dan angka pengangguran terbuka masih mencapai 7 juta, atau 5,1% dari total angkatan kerja.

Celakanya lagi, sekitar 60% penduduk yang bekerja berada di sektor informal. Mayoritas tenaga kerja berpendidikan maksimal sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.

Tak sampai di situ, risiko lainya ialah saat pencari kerja meningkat, Indonesia pun diterjang disruption technology. Peluang negatif ikut terbuka lebar karena Indonesia sekaligus akan menghadapi ancaman PHK. Jika Indonesia kurang mampu beradaptasi dengan teknologi digital, banyak perusahaan akan berhadapan dengan ancaman gulung tikar. Oleh karena itu, persoalan Indonesia saat ini tidak saja mempersiapkan generasi yang berkualitas, tetapi juga menyiapkan iklim usaha yang produktif untuk lahirnya perusahaan-perusahaan penyedia lapangan kerja.

Kemajuan ekonomi Indonesia hanya bisa diraih lewat pembangunan sektor riil. Industri mau tak mau harus terus didorong untuk bertumbuh dan berkecambah karena dengan cara itu, pertumbuhan tenaga kerja terampil dan produktif bisa diakomodasi. Selain itu, dunia pendidikan harus bisa pula mempersiapkan lulusan yang mudah untuk dilatih menjadi tenaga kerja terampil.

Generasi berkualitas

Generasi muda yang berkualitas ialah generasi yang memiliki integritas yang baik, memiliki karakter sebagai bangsa Indonesia, dan memiliki kompetensi di bidang-bidang yang kontekstual dengan kue ekonomi nasional. Generasi muda berkualitas ialah mereka yang mudah beradaptasi dengan perubahan dan mampu menggunakan kemajuan teknologi digital. Mereka sejatinya memiliki kecerdasan komprehensif, yakni kecerdasan untuk bekerja produktif, bekerja inovatif, dan mampu berinteraksi sosial dengan baik, serta berperadaban unggul.

Persoalannya, dari sisi kompetensi, pendidikan formal di Indonesia masih jauh dari level ideal yang menghasilkan lulusan yang mampu bersaing. Berbagai survei lembaga internasional menunjukkan rendahnya peringkat pendidikan di Indonesia. Untuk bersaing dengan sesama negara ASEAN saja, Indonesia tampaknya masih jauh tertinggal. Dalam Global Talent Competitiveness Index 2018, Indonesia berada di urutan ke-77 dari total 119 negara yang disurvei.

Poin-poin yang disurvei ialah semangat keberagaman dan daya saing. Hasilnya peringkat Indonesia masih berada jauh di bawah negara tetangga seperti Malaysia di peringkat ke-27, Filipina di posisi ke-54, dan Thailand di peringkat ke-70, sedangkan peringkat pertama diraih Swiss, diikuti Singapura, Amerika Serikat, Norwegia, dan Swedia.

Dalam World Education Ranking yang diterbitkan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), Indonesia juga berada di peringkat ke-57 dari 65 negara yang disurvei, delapan tingkat dari posisi terbawah. Survei itu mencakup kemampuan membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan.

Sejalan dengan itu, dalam laporan berjudul Global Human Capital Report 2017, yang mengkaji kualitas SDM di 130 negara berdasarkan sejumlah indikator yang dipakai, RI berada di urutan ke-65, naik tujuh peringkat jika dibandingkan dengan tahun lalu. Namun, secara rata-rata kualitas SDM kita masih berada di bawah negara ASEAN lainnya, seperti Singapura (11), Malaysia (33), Thailand (40), dan Filipina (50).

Laporan itu memotret seberapa berkualitas SDM di tiap-tiap golongan umur lewat empat elemen indikator human capital, yakni capacity (kemampuan pekerja berdasarkan melek huruf dan edukasi), deployment (tingkat partisipasi pekerja dan tingkat pengangguran), development (tingkat dan partisipasi pendidikan), dan know-how (tingkat pengetahuan dan kemampuan pekerja serta ketersediaan sumber daya) di tiap negara.

Berdasarkan empat indikator itu, WEF (yayasan organisasi nonprofit yang didirikan di Jenewa pada 1971 dan terkenal dengan pertemuan tahunannya di Davos, Swiss) memberi peringkat untuk menemukan negara-negara mana yang telah berhasil membangun SDM-nya dengan baik. Berdasarkan indikator capacity, RI berada di peringkat ke-64 dengan nilai 69,7. Nilai itu didasarkan pada tingkat buta huruf dan kemampuan berhitung yang mencapai nilai 99,7 di golongan umur 15-24 tahun.

Hal yang juga menggembirakan terkait kategori development. Menurut laporan itu, inilah indikator yang paling baik untuk Indonesia. Berdasarkan kategori itu, kondisi pendidikan di Indonesia mendapatkan skor 67,2 dan menempati peringkat ke-53 dunia. WEF menilai Indonesia mampu membuat partisipasi pendidikan dasar mencapai nilai 92,9.

Namun, berdasarkan indikator deployment yang didasari nilai-nilai penyerapan SDM dan tingkat pengangguran di berbagai jenjang umur, potret Indonesia sedikit buram. Berdasarkan kategori itu, posisi Indonesia berada di peringkat ke-82 dunia dengan skor 61,6.
Angka itu menunjukkan jumlah tenaga kerja masih banyak yang belum terserap. Bahkan, di golongan umur paling produktif, 25-54 tahun, Indonesia masih berada di peringkat ke-99 dunia dengan angka partisipasi sebesar 77,9.

Tingkat kesejahteraan

Selanjutnya secara fiskal, dana pendidikan yang mencapai 22% dari APBN semestinya sudah mampu melahirkan kualitas pendidikan yang mendekati negara maju, tidak kalah dari negara tetangga. Jika diselisik lebih dalam, kelemahan utama ada di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Kementerian yang satu ini sama sekali tidak mampu meningkatkan kualitas guru. Banyak sertifikasi yang diberikan, tapi mutu guru kian melorot.

Survei yang diadakan Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta awal Oktober 2018, misalnya, menunjukkan, 63% guru beragama tertentu menunjukkan opini yang intoleran terhadap agama lain. Tantangan ke depan, pekerjaan rumah Indonesia tidak saja tentang upaya meningkatkan kompetensi anak didik, tetapi juga pembentukan karakter bangsa.

Pemerintah sudah menggulirkan Perpres No 87/2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter yang ditandatangani Presiden Jokowi pada 6 September 2017. Namun, apalah artinya sebuah perpres jika implementasi tidak dikawal dengan baik.

Saat ini, yang harus diingat ialah bahwa sebagaimana irama revolusi industri 4.0, ukuran hebat sebuah negara bukan lagi besar-kecilnya negara. Kehebatan sebuah negara tidak ditentukan luas-sempitnya wilayah negara itu, besar-kecilnya jumlah penduduknya, dan banyak-sedikitnya sumber daya alam yang dimiliki.

Ukuran hebat sebuah negara ialah tingkat kesejahteraan yang merata dan hal itu salah satunya ditentukan kualitas SDM. Banyak negara kecil di dunia yang mencuat sebagai negara hebat karena kualitas SDM.

Namun, generasi muda berkualitas tidak lahir dengan sendirinya, tetapi ditempa keluarga, dibentuk pendidikan formal, dan diarahkan elite bangsa melalui mekanisme suri teladan. Serta dihadirkan di dalam ekosistem profesional yang kompatibel dengan kompetensi-kompetensi generasi muda.

Pedesaan Pun Berubah Global

Bernardus Djonoputro
Kompas, 20 Nov 2018

INDIKATOR tentang ketahanan terhadap krisis ekonomi maupun krisis politik di suatu negara terlihat nyata pada bagaimana rakyat hidup di pedesaan, termasuk masih adakah rasa damai dan kelestarian di dipedesaan.

Desa adalah inti dari kehidupan komunitas, budaya gotong royong dan kemakmuran menciptakan desa yang damai dan kualitas hidup warga yang tinggi.

Berjalan kaki setiap hari hampir 300 kilometer menyusuri kota dan pedesaan Portugal dan Spanyol sungguh telah membuka mata saya akan makna kehidupan pedesaan. Dan kita bisa belajar banyak dari desa-desa itu.

Sebagai bagian dari Uni Eropa, ekonomi Portugal mengalami krisis besar pada tahun 2015. Namun pemerintah yang baru saat itu, melakukan balik arah dengan mengubah haluan yang telah ditetapkan pemerintah sebelumnya.

Mereka secara tegas melakukan berbagai langkah melawan kebijakan penghematan (austerity) yang dampaknya justru baru mulai terlihat saat ini.

Perdana Menteri Antonio Costa membentuk aliansi unik dengan partai Komunis dan partai-partai kiri radikal, yang selama ini tidak pernah berkuasa sejak berakhirnya era diktator tahun 1974.

Akhir tahun 2015, pemerintah baru membalikkan berbagai kebijakan yang dibuat pemerintah sebelumnya untuk menurunkan defisit Portugal melalui dana talangan internasional sebesar hampir 78 miliar Euro.

Mereka bersatu untuk mengalahkan kebijakan-kebijakan austerity, sambil memperkuat neraca sesuai dengan aturan Uni Eropa.

Desa dan kota seperti Fatima, Porto, Vilarinho, Barcelos, Rubiales, Ponte De Lima, Braga, Valencà terus ke Spanyol seperti Tui, Redondela, Penteverada, Padron dan Santiago de Compostela, adalah sedikit contoh kota dan desa yang saya amati.

Terletak di sepanjang jalur napak tilas Camino Santiago de Compostela, atau dikenal sebagai jalur St. James Way, jalur ziarah tua yang ditetapkan UNESCO sebagai situs bersejarah.

Sambil melangkah, kaki ini terus menapaki batu-batu granit kotak-kotak, yang sudah menjadi bagian dari jalan sejak berabad-abad yang lalu.

Hasilnya, kontemplasi dan menikmati karakter pedesaan yang dikelilingi oleh perkebunan anggur dan hutan evergreen, saya juga dapat merasakan sensasi luar biasa menapaki jalur perjalanan jaman abad pertengahan.

Konsisten di pedesaan Portugal, infrastruktur demikian berkualitas. Saluran air bersih dengan standar dapat diminum, mengalir melalui pipa-pipa bawah tanah ke rumah warga dan ladang-ladang.

Fasum dan fasos terlihat merata, dan konektivitas warga pun terjamin dengan keberadaan transportasi publik seperti bis komuter low-deck dengan jangkauan yang luas.

Masyarakat pedesaan Portugal hari ini masih seperti cermin para nenek moyangnya berabad-abad lalu. Infrastruktur penunjang kehidupan masyarakat mercerminkan warga yang taat aturan dan menghargai perencanaan yang baik.

Tidak ada kesemrawutan, apalagi anarki pemanfaatan ruang. Keseimbangan terjaga dengan harmonis. Warga petani dengan ramah menawarkan anggur dan hasil tanamnya, serta menyapa setiap peziarah yang lewat.

Fenomena tersebut sangat berlawanan dengan apa yang kita hadapi di kampung halaman. Desa terasa tegang, karena berkutat untuk menahan penjarahan ruang.

Infrastruktur minimal, memperlihatkan kekalahan desa dalam kontestasi politik anggaran. Berjalan di pedalaman Rangkasbitung, Baduy Luar, atu Cibodas di kaki gunung Tangkuban Perahu dan banyak lagi, suasana yang mendominasi adalah perasaan adanya kesenjangan yang lebar.

Bahkan pemimpin kabupaten, kota dan provinsi, menjadikan desa dan kelurahan kota sebagai obyek eksploitasi pencitraan politik. Solusi infrastruktur nampak ala kadarnya, air bersih tidak pernah menjangkau warga.

Meniru desa Eropa dengan memperindah jalan kampung, bukan dengan batu granit namun keramik buatan cina dan batako. Maklumlah, kalau pecah-pecah pada hari pertama.

Salah satu cara mengukur kualitas kehidupan desa dan kota adalah dari air. Sebagai kebutuhan dasar, air adalah hak hidup warga.

Lembaga Kesehatan Dunia WHO menetapkan pedoman kualitas air minum yang menjadi referensi internasional, dan disetujui di Geneva tahun 1993.

Belajar dari pedesaan Portugal semua menyediakan air siap diminum. Sungguh sebuah amalan filosofi bahwa air adalah kebutuhan dasar manusia, dan pemerintah bertanggung jawab menyediakan nya.

Berjalan selama hampir 3 minggu di jalur Camino memberikan kepada saya kecintaan terhadap desa, ranah tinggal yang tenang, penuh nuansa kontemplatif dan damai. Masih banyak tugas kita ke depan!

Menyegerakan Diversifikasi Energi

Oleh : Oki Muraza, Associate Professor di King Fahd University of Petroleum & Minerals, Arab Saudi
Media Indonesia, 22 September 2018

BESARNYA impor energi di saat nilai tukar rupiah melemah tentu merisaukan banyak kalangan. Impor energi juga menjadi pilar penting dalam menganalisis ketahanan energi di sebuah negara. Secara umum, ketahanan energi dapat dievaluasi dari keterjangkauan (affordability), ketersediaaan (availability), kestabilan harga, kebergantungan terhadap impor, dan ketergantungan terhadap bahan bakar minyak (BBM).

Keterjangkauan dan ketersediaan merupakan parameter penting yang menyangkut persepsi masyarakat terhadap keberhasilan sebuah pemerintahan. Kestabilan harga BBM menjadi penting sebab Indonesia masih bergantung pada impor dan masih memiliki porsi BBM dari minyak bumi yang besar jika dibandingkan dengan bahan bakar gas (BBG) dan bahan bakar alternatif lainnya.

Dengan fluktuasi harga minyak mentah dari US$30 ke US$100 hanya dalam beberapa tahun terakhir pada kurun waktu yang singkat, kestabilan harga menjadi perhatian penting. Dikhawatirkan, subsidi energi pada 2018 ini melonjak lebih dari 150% dari rencana APBN. Kebergantungan terhadap impor menjadi parameter sangat penting sebab nilai tukar rupiah terus melemah. Diversifikasi energi ialah pekerjaan rumah bagi setiap periode kepemimpinan di Tanah Air.

Energi dan neraca perdagangan
Energi adalah instrumen penting dalam industri dan usaha produksi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa impor energi ialah penyumbang defisit terbesar akibat (a) naiknya harga minyak mentah dunia dan (b) menguatnya nilai tukar dolar AS.

Energi juga merupakan utilitas penting bagi industri manufaktur. Rendahnya keuntungan ekonomi di industri manufaktur di dalam negeri berasal dari besarnya kebutuhan impor komponen. Pasokan energi yang lebih terjamin dan affordable di dalam negeri akan meningkatkan produksi komponen yang diolah dari komoditas hasil tambang. Misalnya, paduan logam dari tembaga dan engineering steel dari bijih besi.

Industri otomotif di dalam negeri juga merupakan industri yang sangat bergantung akan komponen yang masih impor dan rawan (volatile) terhadap menurunnya nilai tukar rupiah.

Transisi ke bahan bakar gas

BBG ialah bahan bakar yang diproyeksikan untuk mengisi fase perpindahan dari energi fosil menuju energi hijau yang lebih bersih dengan cara mengurangi jumlah karbon yang dilepas ke lingkungan dalam bentuk CO2. Pilihan untuk pindah ke bahan bakar gas (BBG) seperti compressed natural gas (CNG) masih terhambat akibat terbatasnya jumlah stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) atau refueling station di Tanah Air.

Selain dari gas alam, yang sebagian besar sudah terikat kontrak jangka panjang dengan konsumen LNG di luar negeri, BBG khususnya biometana (bio-CNG) juga dapat diproduksi dari biogas. Baru-baru ini, Negara Bagian California di Amerika Serikat memulai pengunaan BBG dari biogas (renewable natural gas/RNG) untuk transportasi. Gas metana dihasilkan di pembuangan sampah kota yang diolah secara terstruktur untuk menghasilkan biogas. Lebih dari 50% SPBG yang ada di California berasal dari gas terbarukan.

Kota metropolitan di Tanah Air seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan dapat membuat program mobil berbahan bakar gas terbarukan, dengan pembuangan dan pengolahan sampah akan terintegrasi bersama penjualan bahan bakar gas bagi warga masyarakat.

Mobil listrik masa depan

Selain BBG, pemerintah juga mulai membuka pintu bagi mobil listrik di Tanah Air. Akan tetapi, kebijakan ini menyisakan beberapa pekerjaan rumah bagi pemerintah dan industri. Perusahaan penelitian KPMG mengumumkan survei terhadap pimpinan perusahaan otomotif yang menyiratkan kekhawatiran lambatnya perkembangan mobil listrik dunia akibat (a) keterbatasan infrastruktur, (b) keterbatasan perkembangan barter, dan (c) keterbatasan sumber daya litium sebagai bahan baku terpenting untuk baterai yang digunakan mobil listrik.

Namun, setidaknya mobil listrik dapat mengambil sebagian porsi mobil mewah di Jakarta sebagai kebutuhan gaya hidup. Sementara itu, kenyataan bahwa sebagian besar listrik di Tanah Air masih berasal dari PLTU batu bara menyiratkan kebutuhan untuk lebih serius dalam mengelola polusi di sekitar pembangkit tenaga PLTU.

Melimpahnya minyak nabati

Minyak sawit (crude palm oil/CPO) dapat menjadi sumber produksi bagi biodiesel (FAME), green diesel (HVO), bensin hijau, dan bioelpiji. HVO (hydrotreated vegetable oil) diesel sudah diproduksi secara komersial di beberapa negara oleh Neste, sebuah perusahaan energi dari Finlandia. Hal itu hendaknya menjadi inspirasi bagi pemerintah dan BUMN terkait untuk secara bertahap terus memperbesar porsi bahan bakar nabati di bauran energi nasional untuk transportasi.

Salah satu kebutuhan bagi pengendara mobil pribadi di Tanah Air ialah transportasi jarak jauh antarkota dan kebutuhan pulang kampung saat hari raya. Kebutuhan ini masih hanya dipenuhi oleh BBM, bukan BBG (akibat terbatasnya SPBG) dan juga belum mobil listrik (akibat keterbatasan miles dari baterai).

Meski demikian, kebutuhan BBM harus dikurangi secara bertahap dengan memproduksi bahan bakar cair dari minyak nabati yang keberadaanya melimpah di Tanah Air, tidak seperti minyak bumi yang produksinya makin menurun.

Indonesia dapat belajar dari pengalaman Finlandia dalam program konversi ke bahan bakar nabati. Setidaknya dalam lima tahun ke depan, porsi bahan bakar nabati diharapkan naik hingga 10% di 2024, dan 20% di 2029. Setelah biodiesel B20 diharapkan ada program produksi B100 (100% diesel) yang diolah dari minyak nabati seperti minyak sawit atau minyak jarak (jatropha). Demikian juga dengan produksi BG100 (100% bensin nabati) di dalam negeri yang perlu direncanakan segera.

Saat ini dengan nilai tukar dolar AS yang sangat tinggi terhadap rupiah, sementara impor energi masih sangat besar, neraca perdagangan Indonesia sangat terganggu. Momentum ini adalah kesempatan untuk membuka kembali semua roadmap energi masa depan yang pernah dihasilkan bangsa kita. Pilihan yang berat ada di depan mata, diversifikasi energi secara saksama dalam tempo sesingkat-singkatnya, atau defisit perdagangan yang makin merisaukan perekonomian.

Daulat Rakyat dalam Ekonomi, Pasar Domestik Terkelola dan Daya Saing Industri Nasional sebagai Tiga Pilar Pertumbuhan Ekonomi

Jusman Syafii Djamal
22 May 2018

Di hari Kebangkitan Nasional ini tanggal 20 Mei 2018,saya memiliki rencana untuk menambah jumlah terbitan buku saya. Kini ada Trilogi Catatan Facebook. Mudah mudahan akhir tahun saya dapat menerbitkan Tetralogi tentang catatan yang saya miliki dalam setiap peristiwa kecil dalam perjalanan hidup selama ini. Untuk dipersembahkan pada anak anak saya dan kawan kawan satu generasinya.

Karena itu Notes on facebook yang keempat yang bakal saya tulis ini diawali oleh sebuah catatan kecil tentang harapan di Tahun 2018 yang disebut tahun Politik. Tahun dimana rakyat akan memilih pemimpin yang memiliki visi dan misi tentang kemana suatu wilayah pertumbuhan ekonomi akan dikembangka. Apa muncul strategi dan langkah aksi nyata agar pertumbuhan ekonomi tidak melupakan tujuan kesejahteraan Bersama bagi semua rakyat yang memilih mereka. Pada tahun 2018 ini, pilkada serentak ada dimana mana. Harapan bagi semua orang untuk menciptakan kehidupan demokrasi yang semakin bersinar .

Demokrasi politik dengan ritual pilkada setiap lima tahunan hingga saat ini, tidaklah cukup jika kita tidak menempatkan demokrasi sebagai wahana pencipta kesejahteraan bersama. Demokrasi adalah musyawarah untuk mufakat yang dijiwai hikmah kebijaksanaan untuk menciptakan Keadilan social bagi seluruh rakyat begitu kata para Pendiri Republik.

Pengalaman di banyak negara memperlihatkan bahwa Demokrasi tidak dapat berfungsi sebagai pembangkit kesejahteraan dan mesin pendorong pertumbuhan ekonomi tanpa desentralisasi kekuatan ekonomi yang tumbuh berkembang di pelbagai kawasan ekonomi.

Inti dari Demokrasi adalah distribusi kekuasaan dan kewenangan yang dilengkapi oleh “systems check and balances”, agar tidak terjadi monopoli kekuasaan di satu tangan.

Dalam buku Demokrasi Kita, Bung Hatta sebagai Founding Father telah memberikan arah tentang demokrasi ekonomi dan demokrasi politik sebagai dua sisi dari mata uang yang sama. Tak mungkin Demokrasi Politik berkembang dengan baik tanpa demokrasi ekonomi.

Dalam banyak tulisannya Bung Hatta menegaskan keyakinannya , ia mengatakan :”bangsa ditentukan oleh keinsafan sebagai suatu persekutuan yang tersusun jadi satu, yaitu keinsafan yang terbit karena percaya atas persamaan nasib dan tujuan. Keinsafan yang bertambah besar oleh karena seperuntungan, malang yang sama diterima, mujur yang sama didapat, pendeknya oleh karena peringatan kepada riwayat bersama yang tertanam dalam hati dan otak”.Pada kedalaman filosofinya, demokrasi ekonomi Bung Hatta berisi gagasan tentang pola pengambilan keputusan sosial-ekonomi di tangan publik mayoritas .

Rasionalitas yang mendasarinya adalah pandangan bahwa hak politik yang penuh tidak dapat dimenangkan tanpa hak ekonomi yang penuh. Untuk menjamin tata kelola perekonomian yang demokratis dan memastikan distribusi yang pantas atas sumber daya ekonomi, kontrol politik dan hukum selayaknya dikembalikan kepada rakyat mayoritas. Hatta menegaskan bahwa rakyat tidak akan benar-benar berdaulat kecuali juga berdaulat dalam bidang ekonomi.

Telah banyak inisiatip yang dikembangkan oleh Pemimpin Negara dimasa Presiden Sukarno, Suharto, Habibie, Abdurachman Wachid, Megawati, SBY dan Jokowidodo untuk membangkitkan potensi rakyat dalam kehidupan ekonomi. Tumbuh berkembangnya koperasi, usaha kecil menengah di pelbagai pelosok Indonesia merupakan jejak inisiatip yang patut ditingkatkan peranannya. Inisiatip yang dapat dijejaki dari Visi, Misi, Perencanaan, Alokasi Anggaran dan Kebijakan serta Program Aksi yang telah berlangsung sejak 17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2017, hingga saat ini.

Diantaranya saat ini yang patut diapresiasi adalah inisiatip dana desa Dan inisitaip kebijakan ekonomi dan program aksi dari Pemerintahan Jokowi -Jusuf Kala dengan Kabinet Kerja. Secara sistimatis dan bertahap ada langkah aksi untuk membangun infrastruktur ekonomi wilayah pedesaaan dan konektivitas antar wilayah terpencil. Muncul Political Will Presiden Jokowi untuk membangun ekonomi dari pinggiran dan mewujudkan konsep “circular economy” yang pas di wilayah pedesaan.

Dalam inisiatip ini, Desa dikedepankan sebagai pusat produksi. Tiap desa memiliki prodüksiyon unggulan dan andalan. Tiap desa terkoneksi dalam jaringan produksi dan distribusi dengan wilayah perkotaan sebagai suatu mata rantai value chain dan supply chain bagi terciptanya pasar domestik yang kokoh. Diperlukan mekanisme ekonomi yang dapat menjaga agar pergerakan volume uang terus beredar di masyarakat pedesaan tanpa tersedot kembali ke wilayah urban dan perkotaan. Sustainability diperlukan.

Sebab tanpa volume uang dan kecepatan uang beredar yang semakin hari semakin terakumulasi untuk menggairahkan dan memberdayakan potensi pedesaan, tidaklah mungkin tercipta daulat ekonomi rakyat seperti dicita citakan dalam konstitusi.

Ini sebuah adagium dan perjalanan kebangkitan daulat ekonomi rakyat, yang kelihatannya perlu terus dipelihara dan dijaga pertumbuhan kekuatannya, agar demokrasi politik dan demokrasi ekonomi menjadi dua sisi dari satu mata uang yang sama, dan dipersembahkan bagi kemajuan suatu bangsa dan jesejahteraan borsama.

Sebab demokrasi adalah wahana bukan tujuan akhir. Sebuah wahana tak mungkin ia dapat bergerak seenaknya tanpa arah dan tujuan.
Demokrasi bukan semata mata soal kebebasan berpendapat, bukan juga hanya suatu system yang bertumpu pada mekanisme pemungutan suara setiap lima tahun. Demokrasi harus ditempatkan sebagai pilar pencipta kesejahteraan rakyat, bukan sebaliknya. .

Ada banyak jalan dan strategi pertumbuhan ekonomi. Ada mazhab ekonomi yang mengedepankan fungsi memperbesar kue ekonomi sebagai prioritas. Ada mazhab yang mengatakan bahwa kesejahteraan Bersama dan upaya mempersempit jurang antara kaya miskis menjadi yang utama berbareng dengan langkah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Growth with Equity dan Growth for all.

Salah satu kebijakan yang dapat muncul dari alam demokrasi adalah konsistensi kebijakan industrialisasi dengan mengembangkan apa yang disebut klaster Kawasan industry sebagai wahana pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini tidak berarti melupakan pertanian dan peternakan. Karena pada hakekatnya sector pertanian dan peternakan serta sector lainnya dapat dikemas dalam kerangka industrialisasi.

Industri berarti mengolah bahan baku melalui penguasaan iptek untuk menciptakan produk bernilai tambah tinggi. Industri mempersyaratkan lahirnya mata rantai proses produksi dari hulu ke hilir. Tiap mata rantai memiliki standardisasi, mekanisme dan system operating procedure serta kualitas manusia bersumber daya iptek yang berbeda, bertingkat dan berjenjang. Mata rantai nilai tambah atau value chain yang berfokus pada “Cost Efficiency” dan “Value Creation”.

Sejak tahun 1945 Founding Father Indonesia mencita citakan Indonesia yang Demokratis dengan Kesejahteraan Sosial yang Tinggi. Setiap orang mampu memanfaatkan keahlian dan pengetahuan yang dimilikinya dalam jaringan lapangan kerja yang tercipta oleh kebijakan Negara yang pas dan sistimatis berkesinambungan. Dalam kerangka fikiran demokrasi ekonomi seperti disampaikan diatas , maka pembangunan kawasan industri Nasional yang kokoh dan kuat, menempati posisi strategis dalam kebijakan ekonomi selama 48 tahun ini. Suatu arah kebijakan ekonomi yang didasarkan pada preposisi utama :”Industrialisasi mustahil tumbuh berkembang tanpa perlindungan negara yang kuat dan terus menerus”.

Mengapa sebagai suatu bangsa kita terus menerus seolah kalah bersaing dengan bangsa bangsa lain didunia dalam memproduksi barang dan jasa adalah pertanyaan klasik yang selalu muncul dipermukaan. Solusi atas pertanyaan itu adalah “policy on trade and industrialization”. Kebijakan tata kelola mekanisme pasar dan tata niaga produk industry Nasional.

Tingkat industrialisasi dibatasi oleh luasnya pasar. Mengapa di abad 18, Inggris dan bukan Belanda yang menjadi pembangkit Revolusi Industri Pertama adalah karena kesuksesan Inggris dalam menciptakan pasar tekstil dan mata rantai pasokan bahan baku kapas di dunia pada abad ke-18. Yang membuat industry tekstil dan produk tekstil tumbuh berkembang.

Demikian juga mengapa Amerika Serikat dan bukan Perancis atau Jerman yang mampu menyalip Inggris menjadi negara adidaya ekonomi berikutnya adalah karena dukungan kebijakan pemerintah AS yang konsisten dalam menciptakan pasar barang produksi industry dalam negerinya di abad ke-19. Yang lahir menjadi penemu terbesar dunia seperti Thomas Edison dan raksasa industri seperti Andrew Carnegie, Henry Ford, JP Morgan, John D. Rockefeller, dan Cornelius Vanderbilt.Di abad 21 yang disebut sebagai abad Asia, bukannya India melainkan Tiongkok yang berada diposisi terdepan untuk mengambil alih posisi Amerika Serikat di bidang manufaktur dan inovasi.

Mengapa begitu ?

Ini semata mata karena secara sadar dan sistimatis Pimpinan Politik Ekonomi di Tiongkok telah secara konsisten dan bertahap berhasil menggunakan kombinasi instrument fiscal dan moneternya untuk mewujudkan kekuatan daya saing Industri Nasionalnya. Dengan mengembangkan kebijakan untuk meproteksi pasar domestiknya dan menciptakan pasar raksasa bagi Industri Nasionalnya. Mereka dengan cerdik menempatkan Industri Nasional sebagai ujung tombak penciptaan lapangan kerja dan sekaligus wahana untuk mendidik tenaga kerja trampil untuk meng -imitasi, mengadopsi dan menguasai iptek Negara lain, untuk dimanfaatkan sebesar besarnya bagi kemakmuran Bersama.

Mereka dengan teliti mendefinisikan wilayah pertumbuhan ekonomi sebagai klaster industry bertujuan eksport dan Kawasan berikat Free Trade Zone, yang pada gilirannya menjadi tempat dan pusat engineering dan produksi dunia. World Factory and World Engineering Center. Sebab mereka memahami pengaruh tata kelola manajemen industry global MNC yang selalu berorientasi pada upaya menemukan Cost Efficiency dan value Creation. Menemukan wilayah pertumbuhan ekonomi tinggi dengan biaya murah. Low Cost High Yield.

Bagi Pemimpin Politik Tiongkok mereka tidak terjebak dalam faham nasionalisme sempit yang menyatakan bahwa hanya modal dan perusahaan milik warga negara mereka saja yang boleh beroperasi didalam negeri. Mereka memberi izin untuk perusahaan yang bermarkas besar di New York ataupun London atau Tokyo menanamkan modal investasinya melalui skema Foreign Direct Investment ataupun Penanaman Modal Asing atau melalui pasar saham , untuk membangun mata rantai pabrik komponen, suku cadang ataupun perakitan akhir di Kawasan Industri seperti Guangzhou, Shenzen, Tianjin hanya untuk mendapatkan sertifikat sebagai Industri Nasional mereka dan memiliki akses pada pasar domestic Tiongkok.

Pasar Tiongkok ini berapa kali jauh lebih besar dari pasar Amerika SerikatDi Tiongkok muncul kesadaran para pemimpin politik nya akan kenyataan bahwa “Pasar ‘bebas’ tidaklah sepenuhnya bebas dari pertarungan kepentingan. Pasar adalah barang publik mendasar yang sangat mahal.

Ambil contoh proses pembangunan industri yang sedang berlangsung sejak masa 1978 di Tiongkok yang didorong tumbuh berkembang bukan semata mata karena keberhasilan untuk menciptakan “layer keahlian” manusia bersumber daya iptek dalam mengadopsi teknologi maju. Meski pembangunan keahlian Manusia Bersumber Daya Iptek merupakan prasyarat utama dari kemajuan industry nasional. Melainkan karena penguasaan teknologi oleh Manusia bersumber Daya Iptek, ditopang oleh pilar keberhasilan kebijakan ekonomi yang diarahkan pada upaya sistimatis berkesinambungan.

Kebijakan ekonomi yang diarahkan untuk penciptaan pasar domestic yang kuat dan kokoh dalam melindungi produk yang dibuat di dalam negerinya sendiri, oleh manusia bersumber daya iptek yang bekerja di pelbagai sektor industri nasional nya.

Pengalaman Tiongkok dari sejak tahun 1978 hingga 2018, atau 40 tahun, menunjukkan bahwa Pasar untuk barang-barang industri yang diproduksi secara massal didalam negeri tidak dapat diciptakan oleh satu policy economy ‘big Push’ berupa kebijakan industry substitusi impor dan “export oriented economic policy” semata.

Tidak mungkin industry nasional dapat tbuh berkembang hanya melalui sebuah surat keputusan dan program deregulasi diatas kertas semata. Ada proteksi terus menerus yang dipimpin oleh pemerintah untuk memajukan Industri Dalam Negeri melalui pelbagai kebijakan ekonomi, industry dan perdagangannya.

Industri tak mungkin tumbuh berkelanjutan hanya dengan “shock theraphy”. ini hanya dapat dibuat langkah demi langkah dalam urutan yang benar dalam rangkaian urutan ‘shock therapy’ untuk menjebol dan membangun pasar domestic yang memihak pada produk dalam negeri.

Jika kita ingin memetik pelajaran dari Kebangkitan Tiongkok untuk supremasi ekonomi global yang tak terbendung , itu semata mata karena mereka telah menemukan dan mengikuti resep yang benar melalui sistimatika urutan penciptaan pasar bagi industry dalam negerinya. Pendekatan ini berbeda dengan kebijakan industry yang sebelumnya. Tiongkok mengalami tiga kali kegagalan dalam proses industrialisasi antara 1860 dan 1978. Sebab tidak dikaitkan dengan kebijakan perdagangan dan tata niaga komoditas dalam negeri.

Dengan kata lain Pasar domestik adalah kekuatan pembangkit industry. Tanpa pasar domestik yang terkelola dengan baik maka industry Nasional akan kehilangan mata air, sumber aliran revenue dan EBITDA yang cukup untuk tetap bertahan sepanjang masa.

Mohon Maaf jika terdapat kekeliruan dalam sharing tulisan kali ini. Salam

Focus – Speed – Damage Control : Tiga Langkah atasi Volatilitas

Jusman Syafii Djamal
May 17, 2018

“Think small, act fast” , fokus pada yang sederhana, bertindak cepat”, adalah pelajaran berharga yang diperoleh pengusaha Indonesia ketika menghadapi krisis 1998. Pada saat krisis ekonomi yang bergulir dari Thailand akibat merosotnya nilai tukar bath yang merembet pada pelemahan nilai rupiah dan menyebabkan banyak perusahaan bangkrut, telah membuat semua pengusaha dan entrepreneur tidak sempat lagi terobsesi pada upaya memikirkan gagasan-gagasan besar dan grandiose.

Pengusaha dipaksa keadaan fokus pada hal-hal yang kecil dan sederhana. Cash flow, likuiditas, uang keluar masuk pada arus kas menjadi pusat perhatian. Semua mengejar upaya untuk tidak terkena krisis. Ketika itu pengusaha tidak punya banyak waktu untuk berasyik masyuk dengan kegelisahan nya sendiri. Sebab “bleeding cash flow” dan hutang terus menekan keadaan. Kecepatan tindakan amat diperlukan”. Dalam krisis ekonomi 1998 ternyata usaha kecil menengah dan sektor informal menjadi bantal kestabilan ekonomi. Pengusaha kecil menengah ternyata lebih tahan banting dan lebih ulet.

“Dari pengalaman mengatasi krisis ekonomi, semua pengusaha Indonesia banyak belajar untuk melihat dan percaya pada kekayaan Manusia Bersumber Daya yang dimilikinya. Ternyata potensi kreatif yang dimiliki untuk merobah kesulitan jadi oportunitas melalui karya cipta sendiri, menjadi kekuatan yang tak dapat diabaikan. Apalagi dalam situasi krisis tidak ada seorang teman tempat bergantung.

Krisis hanya dapat diselesaikan oleh kekuatan diri sendiri. Dari krisis kita belajar ternyata pada tiap meja kerja, tiap mesin, tiap alat, tiap ruang kerja, tiap jenis pekerjaan, tiap bidang keahlian, mempunyai pesarnya sendiri-sendiri. Tiap ruang kerja mempunyai pundi-pundi emas permatanya sendiri,” Karena itu, semua pengusaha ketika itu berupaya untuk mulai membersihkan meja kerja masing-masing karyawannya dari persoalan yang rumit rumit dan jelimet. Para karyawan diminta untuk merapihkan ruang kerja masing-masing, diminta untuk saling bekerja sama bahu membahu dan menjaudi debat berputar putar dan berdiskusi tanpa henti tentang kesulitan ekonomi.

Perusahaan yang cenderung sempoyongan tak mungkin dipaksa menaikkan gaji. Semua berfikir perusahaan lolos krisis 1998 saja sudah harus disyukuri. Semua fokus diarahkan pada upaya menemukan pasar yang dapat diterobos melalui keahlian dan peralatan yang dimiliki. Semua karyawan juga belajar dari krisis bahwa banyak menuntut sesuatu yang tak mampu dipenuhi oleh kesanggupan dana perusahaan akan membawa kejurang kebangkrutan bersama. Karenanya semua pekerja selalu bersatu , tiada yang mencoba jalan sendiri-sendiri apalagi dengan bikin perusahaan dalam perusahaan, atau ancam mengancam mogok kerja yang dapat membangunkan macan tidur berupa situasi impasse deadlock tak ada ujung solusi.

Sebab perilaku semacam itu akan meruntuhkan semua proses restrukturisasi dan turn around untuk merubah musibah jadi berkah. Merubah problema jadi opportunità. Itu adalah pelajaran krisis tahun 98.

Kini kita tidak berada dalam krisis seperti itu lagi. Badai sudah ber lalu. Dari pengalaman dua kali krisis atau gonjang ganjing ekonomi tahun 1997-1998 krisis ekonomi Asia, 2008-2009 tahun finansial krisis , paling tidak pengusaha Indonesia sudah belajar bahwa siklus bisnis memang selalu naik turun, ada pasang surut. Kadangkala krisis menyergap tanpa diduga. Fenomena bisnis kini kian menjadi kompleks. Keterkaitan antar wilayah, globalisasi perdagangan, kekuatan finansial global menyebabkan semua faktor berjalin kelindan. Kelamahan internal berupa kelambatan antisipasi dan tekanan perubahan ekonomi global bisa saling menimbulkan resonansi yang berdampak spiral down. Kejutan dan diskontinuitas pertumbuhan ekonomi bisa lahir tanpa peringatan.

Karenanya kini banyak perusahaan besar yang membelah portofolio bisnisnya kedalam pelbagai Strategic Business Unit dan Unit Profit Center. Sebuah kapal induk direstrukturisasi menjadi memiliki pelbagai fast boat, kapal cepat dan kapal fregat serta kapal selam untuk menghadapi pelbagai kemungkinan ancaman. Restruktursasi melahirkan organisasi yang ramping bermakna (lean and mean), organisasi yang adaptip dan memiliki fleksibilitas untuk memitigasi resiko jika diperlukan.

Melalui cara diskritisasi dgn pembentukan pelbagai unit reaksi cepat dalam skala ukm membuat ruang inovasi perusahaan besar menjadi lebih terbuka. Perusahaan skala besar perlu bertingkah laku seperti usaha kecil menengah. Biaya produksi efisien, penetrasi pasar lebih menonjol memenuhi setiap ceruk pasar yang semakin mengecil. Pakar management high tech company dari MIT menyebutnya dengan istilah Decentralize Empowering and Enabling. DE2. Mengajari Gajah menari. Elephant learning how to dance kata Reformer IBM perusahaan Komputer yang hampir bangkrut ketika Apple dan Windows serta komputer desktop muncul.

Dalam tulisan David Wessel, “In FED We Trust.” Crown Publishing Group, 2009 digambarkan bagaimana Manusia Bersumber Daya Iptek seperti Bernanke (Gubernur Bank Central Amerika), dan Geithner Menteri keuangan Amerika pada tahun 2008 bekerjasama bahu membahu dalam upaya temukan solusi terbaik. Keduanya merupakan “the best among equal”atau primus interpares” yang ahli dari yang expert” pada saat krisis finansial global yg melanda Amerika Serikat.

Keduanya sebagai Gubernur Bank Sentral pengelola instrumen moneter dan Menteri Keuangan sebagai pengelola instrumen fiskal tidak sibuk dan asyik masyuk dengan kejagoan diri sendiri. Masing masing tak merasa syok aksi mempertahankan independensi aktivitas.

Sebab mereka ibarat dua sisi dari mata uang yang sama. Tidak mungkin intrumen moneter bisa bekerja sendiri terlepas dari instrumen fiskal. Karenanya baik Bernanke maupun Geithner telah menunjukkan profesionalisme dan menurunkan ego sektoralnya. Mereka membangun sinergi dan memiliki komitment dan dedikasi untuk secara bersama membangkitkan ekonomi Amerika yang sedang terpuruk ketika itu, dilanda krisis finansial tahun 2008. Dari Geithner kita memperoleh tiga “lesson learned” ketika hadapi krisis yakni :

1. Selalu Pecahkan masalah kompleks menjadi puluhan masalah rinci yang sederhana dan kelihatan mudah dipecahkan. Diskritisasi ” a complex system” through “hundred of subsystems” dengan pembagian tugas dan tim kerja yg profesional.Then, as Geithner always did in a crisis, he divided the necessary work among task forces.

2. Jangan cepat puas pada satu solusi. Sebab satu solusi belum tentu terbaik. Terus Lakukan proses Iterasi. Batin dan daya imajinasi kita harus terus diasah untuk senantiasa trengginas dan tidak pernah cukup puas dgn jawaban sembarangan dan apa adanya.

Kita perlu mengembangkan daya kritis dan daya imajinasi Staff atau bawahan kita agar mereka menjadi problems solver yang andal. Karenanya kita harus meminta mereka pulang balik, lakukan pelbagai telaahan dan sugesti solusi. Jika perlu tiap dua jam mereka harus datang kembali dgn pilihan solusi yg lebih baik.

Hanya melalui masalah yang berat kecerdasan seorang staff dan teamwork dapat dikembangkan.”He is very iterative,” one of Geithner’s aides said. “What’s the best idea? Go back and work on it. Come back in two hours.

3. Jangan pernah menyatakan “we give up”, kita menyerah. Kembangkan semangat Tak kenal putus asa u dapat solusi terbaik pada para staff.
Bangun ekosistem intelektual dalam ruang kerja yang selalu berupaya teliti, cermat dan berdialog tentang pelbagai solusi. Sebuah ekosistem dimana para karyawan dan staf secara teliti dan cermat serta cekatan membuat solusi terbaik perlu terus menerus ditemukan dalam dialog dan iterasi.

Jika perlu bolak balik 500 kali untuk ketemu policy terbaik bagi Bangsa dan Negara agar terhindar dari krisis finansial, Mengapa tidak. Ya ke 500 proses iterasi dilakukan dengan penuh kesabaran.
He’s incredibly tenacious. He just keeps going. How many iterations are required to get to where we want to go? Five hundred? OK, I’ll go to five hundred.”

Itulah yang kita bisa pelajari dari dua krisis 1998 dan 2008.Fokus pada yang sederhana dan kecil. Think Global act Locally. Think on small things act fast merupakan strategi jitu menemukan cahaya diujung lorong yang gelap gulita.

Sun Tzu. dalam “The Art of War.”, merekomendasikan agar “Setiap pekerjaan besar itu lebih mudah dimulai dari yang kecil. Membuat langkah perubahan, merencanakan langkah aksi atasi problem yang sukar dicapai hendaknya dilakukan ketika tak menghadapi kendala dimana semua terasa mudah.

“Plan for what is difficult while it is easy, do what is great while it is small. The most difficult things in the world must be done while they are still easy, the greatest things in the “world must be done while they are still small.

Mohon maaf jika keliru, Salam

Jembatan Ekonomi Kerakyatan Bernama Fintech

Oleh : Aldi Haryopratomo, Wakil Ketua Umum Bidang Inklusi Keuangan Asosiasi Fintech Indonesia & CEO Go-Pay

16 Agustus 2018

“SANUBARI rakyat Indonesia penuh dengan rasa bersama, kolektivitas”. Demikian bunyi salah satu kutipan sekaligus intisari pemikiran Bung Hatta dalam tulisannya Ke Arah Indonesia’ Merdeka yang dirilis pada 1932.

Jauh-jauh hari, Bapak Proklamator telah menegaskan bahwa syarat menciptakan kesejahteraan yang merata bagi rakyat Indonesia ialah sebuah ekonomi yang berdasarkan semangat tolong-menolong antarwarga masyarakat.

Sebuah semangat yang sudah mengakar dalam tradisi dan budaya Indonesia. Tanggung renteng, paguyuban, gotong royong, hanyalah sedikit dari banyak kata yang mencerminkan rasa kebersamaan yang kuat di Indonesia.

Salah satu bukti nyata tentang eksistensi tingginya rasa kebersamaan di Indonesia ialah arisan. Arisan ialah satu aktivitas yang tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu sekelompok orang yang sudah saling percaya.

Mereka menentukan jumlah setoran dan setiap bulan bertemu untuk melakukan kocokan pemenang. Setelah semua menang, arisan yang baru bisa dimulai kembali sehingga tali silaturahim tak pernah putus.

Tak cuma itu, arisan juga berfungsi sebagai jaringan pengaman saat keadaan darurat. Jika salah seorang anggota arisan masuk rumah sakit, meninggal, atau ada kebutuhan mendadak lainnya, ia bisa meminta kepada ketua arisan untuk didahulukan.

Berbicara tentang arisan, ingatan saya berkunjung ke Balai Desa Tambang Ayam di bantaran Pantai Anyer, Serang, Banten. Saya dikelilingi kurang lebih seratus ibu-ibu berkerudung warna-warni. Mereka berdandan dengan sungguh-sungguh karena akan menghadiri sebuah acara penting. Setiap Rabu sebelum zuhur, mereka turun dari berbagai desa di lereng gunung untuk hadir di pengajian dan ikut arisan bulanan.

Walaupun setiap bulan mereka arisan uang, untuk membeli barang seperti panci mereka masih menggunakan kredit sehingga harga bisa naik hingga dua kali lipat dari harga jika beli tunai. Dari sinilah cikal bakal Arisan Mapan, sebuah aplikasi arisan yang anggota kelompoknya arisan bisa memilih barang yang mereka inginkan di aplikasi, lalu bergiliran mendapatkan barang tersebut secara bergantian, tanpa membayar bunga sepeser pun. Kini Arisan Mapan sudah memiliki jutaan anggota, salah satu bukti bahwa dengan teknologi, ekonomi kolektivitas bisa menggabungkan daya beli penduduk.

Pilar penting

Sejatinya, kolektivitas dan kepercayaan tak hanya ditemui dalam aktivitas informal. Sejarah perbankan pun sesungguhnya bermula dari kepercayaan. Kata ‘bank’ berasal dari bahasa Italia banque atau banca yang berarti bangku. Bangku di alun-alun kota Romawi saat itu menjadi tempat para pemberi pinjaman pertama duduk. Memang, di sebuah masa yang hampir semua orang masih saling kenal, kepercayaan menjadi cara utama para bankir menganalisis risiko kredit.

Namun, kepercayaan antarindividu yang menjadi andalan perbankan zaman dahulu sulit dikelola manakala sudah ada jutaan nasabah seperti sekarang. Di dunia perbankan modern, nasabah menabung di bank yang mengelola aset keuangan secara gelondongan berbentuk pinjaman, asuransi, dan investasi lain. Uang inilah yang menggerakkan roda industri di sekitar kita dan bergantung pada kepercayaan nasabah terhadap institusi keuangan dan begitu pun sebaliknya.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Sama halnya dengan negara di belahan dunia lain dan dengan sederet tantangan yang ada, Indonesia butuh sebuah jembatan yang mampu mengantarkan masyarakat mengakses fasilitas keuangan sebagai pilar penting menciptakan ekonomi kerakyatan. Di tengah zaman yang serba modern, teknologi finansial (financial technology/fintech) yang mampu menjembatani kepercayaan institusi dan orang-orang yang sebelumnya sulit mengakses fasilitas keuangan itu.

Hadirnya semakin banyak uang elektronik seperti T-Cash dan Go-Pay bisa menjadi jembatan tersebut. Pembayaran digital (digital payment) membantu pencatatan transaksi perdagangan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekaligus merapikan pembukuan mereka. Hal ini yang dapat mereka bawa ke institusi keuangan formal untuk mengakses pembiayaan. Uang elektronik juga memudahkan pelunasan pinjaman itu.

Jika belum lulus di standar perbankan, teknologi tetap memberikan pilihan bagi UMKM mengakses pinjaman dengan mudah, murah dan cepat. Kita kini mulai melihat pinjam meminjam (peer to peer lending) dan penggalangan dana (crowdfunding) yang menggunakan teknologi untuk membantu fasilitasi pinjaman, donasi, dan investasi langsung dari nasabah ke penerima.

Salah satu fintech lending yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan, Amartha, misalnya, bisa memfasilitasi karyawan di Sumatra Utara untuk memberikan pinjaman usaha kepada seorang pedagang gorengan di Jawa Barat. Sebaliknya, fintech lending seperti Investree mampu memfasilitasi mahasiswa di Sulawesi untuk memberikan pinjaman kepada karyawan perusahaan di Jakarta.

Tak hanya pinjaman, teknologi juga telah mempersatukan masyarakat untuk saling membantu sesama. Melalui platform crowdfunding, Kitabisa, di mana pun kita dapat menyalurkan bantuan untuk masyarakat yang terkena bencana gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Sampai Juni 2018 penyaluran pembiayaan industri ini telah mencapai Rp7 triliun, tumbuh 173,4% jika dibandingkan dengan akhir Desember 2017 yang mencapai Rp2,56 triliun. Begitu pula dengan jumlah peminjam yang menikmati layanan ini, melonjak dari 259 ribu peminjam di 2017 hingga 1 juta peminjam di Juni 2018.

Peer to peer lending dan pembayaran digital ialah infrastruktur dasar yang akan memungkinkan lebih mendekatkan yang dibantu dan yang membantu, memperkuat rasa kebersamaan kita.

Melalui inovasi digital di industri keuangan, seorang di desa dapat ditolong bersama-sama tidak hanya dengan yang sedesa, tetapi juga se-Indonesia. UKM sekecil apa pun kini bisa akses layanan keuangan melalui fintech. Bisa dibilang, fintech menjadi salah satu senjata untuk melawan kesenjangan sosial. Fintech ialah jembatan menuju gerbang ekonomi kerakyatan yang diidam-idamkan Bung Hatta lebih dari 80 tahun silam.

Kurangi Jumlah Entrepreneur! — Catatan Iman Supriyono

Quote

Oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting, IG: @imansupri Apakah judul tulisan ini salah? Tidak. Judul tulisan ini benar dan kita harus melakukan itu jika kita ingin bangsa ini kuat secara ekonomi. Menjadi bangsa bos. Bukan bangsa anak buah. Menjadi bangsa produsen. Bukan bangsa konsumen. Kok bisa? Lalu bagaimana dengan mereka-mereka yang selalu berkampanye agar orang-orang […]

via Kurangi Jumlah Entrepreneur! — Catatan Iman Supriyono

Keahlian “Weruh sadurunge winarah” dan Future Scenario in Techno Economy.

JUSMAN SYAFII DJAMAL·
SATURDAY, APRIL 7, 2018

Semua Pengusaha dan Industriawan, pencipta lapangan kerja selalu memerlukan “impuls ekonomi”,untuk menciptakan momentum pertumbuhan baru. Meski tingkah laku Presiden Donald Trump, kelihatannya diluar pakem, nyentrik dan “erratic” tidak mudah diduga, tetapi Pelaku ekonomi di Amerika kini senang. Meski prilaku Presiden Donald Trump sukar diduga dan beberapa kalangan menyebutnya “erratic”, paling tidak ia melahirkan sebuah kebijakan fiskal menarik. Ia memotong pajak perusahaan menjadi sekitar 25%, dan pajak lainnya seperti income tax yang flat, perlindungan proteksi kenaikan tarif import duty untuk aluminium dan baja.

Ada Impuls ekonomi yang membuat industriawan dan usahawan dapat menciptakan momentum pertumbuhan. Impuls kebijakan yang melahirkan proses keseimbangan antara tekanan kemerosotan dan energi untuk bangkit dari tekanan.Apalagi gebrakannya untuk melindungi industriawan baja dan aluminium dengan memasang “new entry barriers”, tambahan bea Masuk untuk produk baja dan aluminium dari luar negeri, dengan alasan proteksi kepentingan nasionalnya yakni kemajuan industri domestik Amerika yang pasarnya terus dirongrong oleh produk industri Tiongkok.

Kebetulan saya baru selesai baca ulang kembali buku berjudul : “The Map and The Territory” , Risk Human Nature and the Future of Forecasting, karya Alan Greenspan, Gubernur Bank Sentral Amerika yang sudah pensiun lama. Greenspan menulis buku sebagai buah hasil renungan tentang masa lalu sebagai seorang ahli ekonomi yang mumpuni di Amerika dan pengalamannya menjadi Gubernur Bank Sentral the FED.

Buat saya buku ini kembali menarik untuk dibaca karena, dalam bulan bulan terakhir ini sebagai “just a man on the street”, saya melihat trend menarik. Nilai rupiah terus bergerak turun kebawah. Kalah perkasa dibanding mata uang negara tetangga. Seperti Kafilah yang berlalu, kita amati roda beban ekonomi para industriawan yang memproduksi barang setengah jadi maupun jadi, makin jauh berjalan semakin meningkat. Sementara Revenu berjalan “flat” tidak naik tidak turun. Kini semua pelaku ekonomi terus memusatkan diri pada aliran “uang lancar” atau “cashflow” sembari berupaya meningkatkan EBITDA atau menjaganya tetap stabil.

Dalam kondisi turbulensi setiap upaya membangkitkan revenu perlu dikendalikan dengan ikutan langkah efisiensi. Ruang maneuver para pengusaha dan industriawan makin terbatas.Dan seperti juga dimasa lalu pengusaha dan industriawan ditinggal sendiri. Ahli Ekonomi sibuk berdebat tentang hal lain, tidak ada yang mau membahas trend global dan soal soal menyangkut masa depan kebijakan fiskal dan moneter yang tepat untuk membangun impuls dan momentum bagi penciptaan Lapangan kerja melalui industri.

Kini kita saling berdebat tentang hutang Negara seolah tanpa titik temu. Yang satu anti Hutang, yang lain bilang Hutang tidak masalah. Lupa asumsi pokok dan mendasar : Apakah hutang itu seuatu yang tabu dalam ilmu ekonomi mikro dan ekonomi makro ? Jika tidak ada mekanisme debet kredit, hutang piutang , asset dan liability, apakah kita perlu memiliki Bankir, Ekonom dan Pengusaha ? Apakah tanpa mekanisme hutang piutang ilmu ekonomi dan Bisnis diperlukan ??
Karenanya, Dalam buku itu Greenspan merekomendasikan agar pelaku ekonomi “jangan lupakan pengalaman buruk krisis dimasa lalu, untuk tak terperosok pada jurang krisis yang sama”. Learn from the past to shape a better future.

Sebagai seorang ekonom ia berbeda. Greenspan tidak seperti ekonom lain. Ekonomi biasanya kurang suka “mathematical equation” dan hanya mengandalkan intuisi. Sementara Greenspan amat menyenangi matematika. Ia selalu bilang :”a key point in the history of our effort to see the future has been the development over the past eight decades of the discipline of model based economic forecasting”. Ia sangat percaya pada angka dan forecasting, dan selalu beorientasi untuk ambil kebijakan moneter Bank Sentral melalui upaya pegembangan pendekatan econometric dan forecasting method.

Meski begitu, Greenspan terpana dan “Shock” pada tahun 2008.

Ketika itu, Amerika dan dunia diambang kebangkrutan, karena dilanda krisis finansial. Semua orang mengamati bagaimana duet ganda terkuat Ben Bernanke Gubernur Bank Sentral Amerika dan Hank Paulson Menteri Keuangan Amerika siang malam bekerja menyiapkan paket kebijakan fiskal dan moneter, agar tercipta energi ekonomi luar biasa. Sehingga muncul impuls dan momentum agar locomotive ekonomi, yang terjebak dan berhadapan dengan krisis finansial yang secara tiba tiba muncul kepermukaan tanpa diketahui, dapat bangkit kembali.

Bernanke , Gubernur Bank Sentral Amerika pengganti Greenspan, dikenal sangat hati hati dan sabar, mau mendengar pendapat orang lain, yidak ngototan dan pembangun konsensus yang andal. Ia menguasai seluk beluk tentang Depression 1929. Bernanke adalah Doktor Ekonomi dengan thesis doctoralnya berjudul Long Term Commitment,Dynamic Optimization and the Business Cycle, dibawah bimbingan Stanley Fischer.

Greenspan dan semua orang terkaget kaget, dan Greenspan terus bertanya kenapa Bernanke yang selalu waspada pada angka dan percaya pada model matematika serta kecanggihan proses pengumpulan informasi yang ada di Bank Sentral, ternyata bisa kehilangan ilmu Weruh sadurunge winarah, ketika tanda krisis luput dari radar prediksi.

Krisis memang bisa muncul tanpa diundang.Karenanya Greenspan billing begini :”we know that we have a limited capability to see much beyond our horizon”. Kata Greenspan dalam retsropeksinya :”.Meski kita selalu berharap sebaliknya, forecasting economics pada akhirnya adalah suatu disiplin ilmu ekonomi yang bertumpu pada teorema probability , ilmu tentang pelbagai jenis kemungkinan.
“As always though we wish it otherwise, economic forecasting is a disicpline of probabilities. The degree of certainty with which the so called hard sciences are able to identify the metrics of the physical world appears to be out of the reach of the economic disciplines

Derajat kepastian yang diperoleh dalam memanfaatkan kecanggihan matematika (hard sciences) untuk mengidentifikasikan dan menyederhanakan masalah serta memodelkan realitas pertumbuhan ekonomi ternyata tidak seakurat ketika diterapkan pada persoalan fisika atau gerak benda mati lainnya dalam kehidupan se hari hari.Dari pelbagai krisis ekonomi yang pernah dialami, Greenspan sampai pada suatu pemahaman bahwa kemampuan penerawangan model matematika yang dikembangkan pada postur masa depan ekonomi suatu Bangsa masih kurang lengkap. terbatas.

Kecerdikan kita untuk meramalkan apa yang bakal terjadi diesok hari sangat tergantung pada hosion dan cakrawala berfikir kita”. Ada banya interest yang menyebabkan kita sering terbutakan pada fakta fakta yang mungkin keluar dari jalur regresi lurus dari semua prediksi yang kita lakukan. dan ternyata fakta fakta diluar jalur itu merupakan petanda tentang lahirnya jaman baru yang sama sekali tak pernah kita duga.

Menurut Greenpan :”John Maynard Keynespun di tahun 1936 ketika menulis buku berjudul :”General Theory of Employment , Interest and money” telah melahirkan formula matematika yang dapat digunakan sebagai “framework” dalam membangun model econometrik dari kebijakan makroekonomi masa kini dan masa depan”
Karenanya jika terjadi sesuatu diluar perencanaan, ia selalu bertanya :” What Went Wrong ? Tanya Greenspan pada dirinya sendiri, yang ia catat dalam buku itu. Ia terus bertanya :”Why was virtually every economist and policy maker of note so off about so large an issue ?

Apa yang luput dari pandangan, mengapa selalu muncul krisis dan mengapa kita sering terperangkap dalam krisis yang sama, padahal semua text book dan catatan semua ahli ekonomi selalu bercerita tentang bahaya depresi tahun 1929, resesi dan stagnasi yang datang silih berganti. Dan toh tahun 2008 Amerika pernah jatuh kelubang krisis finansial tanpa ada yang tau sebelumnya.

Mengapa Keahlian Weruh sadurunge winarah seolah menemukan jalan buntu ? Kata Greenspan, dengan sedih. Dalam buku itu secara rinci ia menyebut akar masalahnya nya adalah “behaviour”. Sesuatu yang disebut oleh Keynes sebagai “animal spirit” dalam formula matematikanya.

Melalui buku ini, Greenspan kemudian mememberi rekomendasi kemana para ekonom harus melangkah agar lubang krisis yang sama dapat dihindari dimasa depan. Forecasting dan econometric harus dilengkapi dengan model tingkah laku pelaku ekonomi. Yang oiia sebut pelaku ekonomi adalah baik pengusaha, pedagang, tehnokrat maupun pengabil keputusan. Ia bilang semua pelaku ekonomi harus selalu waspada akan peringatan Keynes tentang “phenomena animal spirit” dari pelaku ekonomi.

Harus ada rumus yang mampu menjabarkan pemahaman kita tentang terminologi “animal spirit” , suatu terminologi yang dari sejak awal disebut oleh John Maynard Keynes dalam makalahnya di tahun 1936. Terminologi yang sering dilupakan banyak pelaku ekonomi. Dan terminologi itu kini jadi fokus pembahasan dalam “behavioral economics” yang dikembangkan oleh Daniel Kahneman dan pemenang hadiah nobel ekonomi 2017 Prof. Richard Thaler dengan bukunya antara lain “Misbehaving”.

Masalahnya kata Greenspan, bukan semata mata pada ketidak pahaman para pengambil keputusan akan tingkah laku pasar yang cenderung tidak mampu diduga. Bukan semata mata karena pengambil keputusan tidak paham bahwa tiap pelaku memiliki kecendrungan untuk mengambil keputusan tidak rasional karena didorong oleh kepentingannya sendiri sendiri. Melainkan , justru kekeliruan dan kesalahan interpretasi data pengamatan hasil model matematika lahir karena pengambil keputusan juga tidak punya jarak pada masalah. Mereka secara emosional terlibat dan merasa paling benar sendiri dan seolah hanya mereka yang memiliki indera keenam untuk ambil jalan sejarah masa depan.

Mereka kadangkala tergoda pada bisikan emosi untuk ambil jalan lain dibanding percaya pada angka dan prediksi pilihan terbaik solusi yang disajikan model matematika yang telah dikembangkan oleh staffnya.

Membaca catatan Greenpan seperti diungkapkan dalam buku itu, timbul pertanyaan apakah ketika kita ingin mewujutkan Visi Besar Indonesia 2020, 2025,2030 dan Indonesia 2045, kata dan istilah “Grand Strategy” masih punya makna ?
Bukankan kata Grand Strategy mengandung arti upaya sistimatis terencana dan terukur yang dilakukan setahap demi setahap untuk mencapai suatu posisi strategis tertentu yang diinginkan. Padahal setiap kali kita meuju puncak pertumbuhan, krisis bisa muncul tanpa diundang.

Dalam ilmu matematika dikenal istilah integral dan differential. Persamaan differensial seperti kata Alan woods dalam bukunya Reason in Revolt selalu dikembangkan dengan suatu asumsi bahwa “realitas kehidupan pada dasarnya merupakan rangkaian peristiwa yang berjalan sambung menyambung tanpa jeda dan tanpa kejutan”. Kehidupan berjalan mengikuti kurva yang mulus dan teratur yang dapat diterjemahkan kedalam bentuk persamaan matematika yang teratur dan indah.

Karenanya perubahan yang terjadi dalam domain ruang dan waktu terjadi secara teratur, sistimatis dan mulus tanpa kendala.

Tidak ada teritori wilayah kerja suatu fungsi yang tidak teratur , acak dan penuh kejutan yang bisa melahirkan patahan atau lonjakan mendadak. Tak ada diskontinuitas. Asumsi inilah yang menyebabkan persamaan integral dan diferential hingga kini menjadi bahan mata kuliah di Perguruan Tinggi dan digunakan sebagai dasar membuat prediksi tentang fenomena alam.

Akan tetapi dalam realitas ternyata perjalanan tidak selamanya mulus. Ambil contoh krisis ekonomi tahun 1998 yang melahirkan krisis ekonomi yang dampaknya di Indonesia baru setelah empat belas tahun dapat direcovery kembali. Begitu juga peristiwa tahun 2008 yang melahirkan krisis finansial di Amerika yang sebelumnya tak pernah diduga. Semua lahir dari suatu shock atau kejutan. Tak dapat diramalkan dan diprediksi dengan tepat kapan tepatnya kejutan akan terjadi, kapan ada shock dalam pertumbuhan ekonomi yang melahirkan diskontinuitas yang disebut krisis. Semua samar samar.

Persis ketika kita sedang mengenderai mobil dijalan tol tiba tiba hujan deras, wiper tak mampu membuka ruang pengamatan. Kita terus berlari meski jalan tampak samar samar. Dan tiba tiba Brak, sapi liwat dijalan tol. Kita terkejut dan schock kenapa ada sapi dijalan tol, ditengah hujan. Sapi juga kaget kenapa ditengah hujan ada mobil kencang terus tanpa berhenti.

Apakah Grand strategy kehilangan makna ???

Seorang ahli matematika yang juga periset di IBM Benoit Mandelbrot dalam bukunya The Fractal Geometry untungnya mampu membangkitkan optimisme kita tentang perlunya kita membuat Grand Strategy. Asal saja kita mampu meningkatkan tingkat kecerdasan dalam membuat prediksi.

Dalam buku itu Mandelbrot menemukan apa yang ia sebut sebagai “Himpunan Mandelbrot”. Melalui metode grafis dan diagram yang ia terjemahkan dalam metode simulasi komputer ia menemukan fakta bahwa ternyata didalam situasi chaos yang penuh dengan ketidak beraturan ternyata masih bisa ditemukan potongan kberaturan.

Dalam situasi chaotik ternyata ada wilayah terbatas yang tidak terpengaruh oleh uncertainty, ketidak pastian dan ketidak beraturan. Selalu ada oase ditengah padang pasir. Kata Fungsi Mandelbrot dalam situasi betapapun sukarnya selalu dapat ditemukan “fractal” atau wilayah keberaturan yang memiliki pola dan gambar geomteri yang sama dan sebangun dan dapat digunakan sebagai jejak jejak jalan menuju masa depan yang lebih baik.

Dengan kata lain metode Mandelbrot ini melahirkan optimisme untuk tetap melakukan langkah sistiamtis dan terencana dalam membangun postur kekuatan suatu Bangsa melalui pengembangan Visi, Misi, serta perumusan Grand Strategy berupa Garis Garis Besar Haluan Arah Kebijakan.

Kata Garis Garis Besar merujuk pada istilah militer yang disebut dengan ruang maneuver. Ada Redline. Dalam perancangan peswat terbang disebut meneuvering envelope, batas batas kekuatan struktur pesawat ditetapkan oleh tiap perancang pesawat.

Sun Tzu dalam buku the art of war dan Jomini atau Claustwitz dalam buku dengan judul yang sama yakni Seni Perang memperlihatkan apa yang mereka sebut sebagai “Fog of War”, Kabut yang menyelimuti pandangan dan persfektip strategis dari seorang Jenderal. Setiap perang melahirkan “fog of war” atau kebingungan dan ketidakpastian tentang posisi kalah dan menang, tentang adanya kejutan terhadap kekuatan lawan yang tadinya diperkirakan lemah, tentang perubahan medan tempur karena perubahan cuaca dan sebab lainnya.

Tiap perang yang didahului oleh upaya membuat Grand Strategy selalu berbenturan dengan “animosity” sebuah kekacauan karena apa yang diperkirakan tidak sepenuhnya benar dalam kenyataan. Selalu lahir kejutan. Dan perang pada dasarnya adalah “deception”, hanya dimenangkan melalui tipu daya yang penuh dengan kejutan tak terduga. Meski demikian tetap saja para Jendral di West Point, Sesko dan segala jenis proses pendidikannya selalu diberi kurikulum Strategi untuk percaya pada pembuatan dan pengembangan postur kekuatan berdasarkan prediksi atau kekuatan musuh musuhnya. Semua pemimpin memerlukan Grand Strategy,

Pada dasarnya Grand Strategy dilandasi oleh intuisi seorang pemimpin untuk melahirkan apa yang disebutnya sebagai gambaran atau vision mereka tentang kata kata “Shih” atau posisi terbaik dimana potensi kekuatan suatu Bangsa memiliki “competitive advantage” atau kekuatan pemukul dan penggerak kemajuan suatu Bangsa.

Dalam hal itu Visi, Misi dan Grand Strategy karenanya masih memiliki makna untuk dilahirkan oleh semua calon Pemimpin Bangsa. Menurut hemat saya, dalam situasi menghadapi masa depan yang penuh dengan gejolak perubahan yang tak kita kenali, kita memerlukan Grand Strategy Politics and Economy. Yang menyatakan arah kemana kita akan melangkah untuk mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi secara bertahap dalam dua, lima tahun kedepan.

Kini muncul tanda dan bayangan “trade War” yang dipicu kebijakan kenaikan tariff bea masuk Donald Trump pada import produk baja dan aluminum. Ada tanda protectionism bangkit kembali. Ada hantu “cold war” yang muncul kembali dengan pengusiran puluhan diplomat Russia dari Inggris, dan perang Suriah yang tak pernah berkenti.

Meski kita selalu optimis dan percaya pada semua langkah kebijakan ekonomi yang ada saat ini sudah merupakan langkah terbaik yang diambil, sebab tak punya jalan lain. Ruang Maneuver kita sebagai pelaku ekonomi dan pengambil kebijakan juga memiliki batas gerak maju. Dipelukan Impuls untuk melahirkan Momentum, begitu kata ahli Fisika.

Mohon Maaf jika ada yang keliru.

Salam

Hantu disiang bolong dan Future Scenario ? : Catatan Pertama

JUSMAN SYAFII DJAMAL·
SATURDAY, APRIL 7, 2018

Seorang teman anjurkan saya membaca buku novel of the next world war berjudul Ghost Fleet, karya p w singer dan August cole, pesannya Bang Jusman harus tuntas menikmati nya nanti buat ringkasan di facebook. Sy kebetulan sedang Ke Tiongkok. Jadi “homework” Teman junior saya untuk membaca novel itu terpaksa dilakukan diwaktu senggang dalam perjalanan.

Kebetulan sy sedang diundang mengunjungi beberapa universitas di Tiongkok. Guandong University of Finance dan Zhejiyang Technology University . Saya diundang Ke Guangdong University of Finance , universitas keuangan yg didirikan oleh Bank Sentral tahun 1950 , untuk diberi kehormatan sebagai Professor Emeritus Keuangan.

Saya tadinya bingung sebab kata Emeritus berarti Pensiunan. Mereka non menjelaskan bahwa Di Tiongkok pemahaman ttg Emeritus bukan untuk pensiunan. Guru Besar Emeritus bukan jabatan yg punya tanggal berlaku, tidak kenal kata Pensiun. Tacit Knowledge dan Wisdom nya lebih Utama. Istilah Emeritus disematkan untuk mereka yg dinilai Senat Guru Besar telah mengabdi 30 tahun dalam pengembangan iptek.

Menurut Senat mereka , catatan pengalaman sy dalam bidang pengembangan iptek sebagai assisten utama Prof Dr. Ing BJ Habibie selama bekerja di IPTN lebih 20 tahun, telah dpt disetarakan dgn pengabdian 30 tahun dalam dunia iptek.

Karenanya Mereka ingin sy diberi gelar kehormatan sebagai Permanent Professor, tanpa batas waktu. Sebelumnya Zhejiyang University of Technology telah anugerah kan saya sebagai Honorary Guest Professor pd tahun 2016.

Kata penterjemah mereka seorang Professor yang berasal dari Singapura, Istilah Emeritus yg digunakan mirip seperti kata yg disematkan untuk Go CHOK Tong, beliau diberi kehormatan oleh pemerintah Singapore sebagai Emeritus Senior Minister. Jadi Emeritus artinya tanpa batas waktu pensiun. Alhamdulillah Saya Sih senang saja dan Welcome. Semua patut disyukuri Alhamdulillah. Semuanya atas izinNya.

Sebagai visiting Professor saya selalu diundang makan siang Dirjen Pendidikan Tinggi di kota Hangzhou. Kali ini sy direkomendasi untuk mampir di kota tua Wushen untuk melihat kota berusia 500 tahun. Ia minta saya melihat pembangunan infrastruktur transportasi masa lalu, jalan Dinasty Tang. Di kota ini ada lintasan kanal buatan manusia sepanjang 1750 km. Sebagai wahana infrastruktur transportasi angkutan barang di masa lalu. Juga saya diminta mampir sejenak Ke Head Quarter Alibaba dalam perjalanan Ke kota Wushen dan Suzhou dari Hangzhou.

Saya diminta menginap Di kota Suzhou , kata mereka ini Venesia of The East. Disini saya sempat duduk duduk di pinggiran danau buatan bernama Golden Chicken. Danau buatan ini diciptakan ditengah kompleks kawasan Industri yang dibangun Singapore tahun 2006. Kawasan Industri ini awalnya dimiliki Singapore 65% saham nya dan 35% sahamnya dipunyai Pemda kota Suzhou, melalui Town n Village Enterprisesnya.

Kini setelah 10 tahun kawasan industri ini dimiliki Pemda Kota Suzhou 65% dan 35% Singapore. Di Suzhou ada danau alam yg amat luas dan terkenal dengan budi daya kepiting telur. Satu pertiga dari daging kepiting adalah telur kepiting Karenanya makanan terkenal kota ini adalah telur kepiting. Dikota ini ada taman Unesco Heritage berisi pelbagai jenis bunga pohon dan villa yg dibangun 700 tahun lalu. Di pinggir danau dengan ipad yg selalu saya tenteng di ransel saya bisa membaca novel fiksi Armada Hantu itu .

Belum tuntas tapi sudah ketemu plot nya. Membaca novel fiksi sebetulnya seperti menerawang kedalam alam fikir penulisnya. Membaca framework. Tak mungkin ada fiksi dan novel tanpa franework. Kerangka fikir itu yg membuat sebuah novel fiksi tidak sama dengan tulisan ilmiah. Ruang interpretasinya terbatas dalam plot dan counterplot yg dikembangkan nya Adabatas gerak maju agar Novel fiksi tidak jadi mulur mungkret seperti karet gelang yg bisa dijadikan ketapel kesana kesini.

Semua prediksi ataupun novel memiliki ruang interpretasi. Tergantung pada frame work dan plot yang dibangun penulisnya berdasarkan “preskripsi” atau “asumsi tertentu”. Seperti juga obat, tiap dokter pastilah melakukan diagnosa dan prognose atas kondisi tubuh pasien, agar resep yang ditulis dan obat yang ditelan secara teratur akan melahirkan kesembuhan ces pleng, ataupun bertahap.

Bagi saya yg memiliki latar belakang teknologi Novel itu menyenangkan sebab disini pemahaman tentang technology sebagai “tools and equipment” serta ekosistem membangun kekuatan militer dan soft power suatu Bangsa dapat dinikmati pemahaman nya.

Novel ini menarik karena dimulai dari kisah tentang “fail state”. Negara gagal yg muncul bukan karena policy economy yg salah dan keliru.Melainkan karena kekeliruan ambisi militer untuk kembali ber perang me lakukan aneksasi untuk kedua kali .

Dalam awal cerita novel dikembangkan fiksi bahwa Negara gagal itu ekonomi nya sedang goncang akibat Perang ekpansionis yg menyebabkan banyak dana dan cadangan finansial terkuras Sebab kedua muncul akibat sumber ekonomi nya sukar bangkit kembali setelah dana terkuras akibat perang.

Mengapa ? karena dunia alami krisis ekonomi ketiga. Sebuah rangkaian bom menghancurkan sumur dan ladang minyak di Saudi Arabia. Akibat yg muncul terjadi kenaikan harga minyak hingga 200 dollar.

Jadi Negara gagal yg dimaksud Novel ini adalah akibat kesalahan Grand Strategy militer dan ekonomi yg didominasi fikiran ekspansionis, perebutan wilayah, ditengah fondasi ekonomi sosial dan politik yg tidak mendukungnya akibat gejolak ekonomi dunia yg awalnya tdk masuk skenario

Kebetulan negara yg diambil contoh oleh penulisnya bernama Indonesia .

Plot pertama itu kemudian diikuti oleh plot kedua. Di Tiongkok terjadi gerakan massal mirip seperti robohnya tembok Berlin. Dominasi Partai komunis dan sistem sebtralistik runtuh.

Muncul Presiden dan Perdana Menteri yg lahir dari kombinasi tiga unsur Military – Businessman – Politician. Ketiga troika ini memilki ambisi ekspansionis dan membangun kekuatan militer untuk menyerbu Hawai.

Plot yg mengulangi kisah awal Perang Dunia Kedua dimana kemajuan teknologi dan industri Jepang diarahkan untuk membangun armada kapal induk dan pesawat terbang untuk menyerang Pearlharbour.

Disini penulis membangun kisah menarik tentang kemajuan teknologi Digital, drone. Robotics. Brain and bio engieering in artficial iteligence. Yg membuat Novel ini kemudian jadi bacaan wajib Para mahasiswa di akademi militer karena deskripsi teknologi yg dikemukakan ditulis oleh pakar atau expert mumpuni .
Sebuah Sciience fiction yg membuat kita terkesima.

Dari dua plot yg dikembangkan penulisnya, saya jadi merenung apa scenario novel fiction Ghost Fleet tentang Negara Gagal bernama Indonesia itu mungkin terjadi dimasa depan ?

Kalau mungkin bagaimana kalau tidak Mengapa ?

Saya ber pendapat tidak mungkin cerita negara gagal dalam kisah Novel itu terjadi. Jauh panggang dari api. Mengapa ? Sebab sy belum menemukan indikasi adanya trend masa depan politik ekonomi dan militer yg menyebabkan kita punya kehendak lakukan langkah agresif sebagai suatu bangsa.

Sy belum melihat ada indikasi munculnya kekuatan politik ekonomi yg menyebabkan Indonesia vulnerable. Tak mungkin tahun 2030 ada tokoh ambisius yg gandrung pada Langkah ekspansionis yg melahirkan perang dikawasan ini yg menyeret sumber ekonomi negara ketitik terendah.

Jadi ditengah keindahan tepi danau Suzhou itu saya membuat catatan awal tentang novel fiksi ini.Mohon maaf tidak diteruskan sebab cuaca dingin mulai bikin memggigil. Dan saya harus pergi Ke kunjungan berikutnya.

Mohon maaf jika keliru.

Salam