Jusman Syafii Djamal
January 4, 2017

Catalan perjalanan yang kedua belas kali ini saya ketik diatas iPad pada ketinggian jelajah 39000 kaki Penerbangan Garuda dari Haneda menuju Sutta. Diunggah melalui jaringan wifi PT Telkom Indonesia yang di install dipesawat Boeing 777 ini.

Waktu tempuh perjalanan kata Captain Pilot tujuh jam dua menit. Itu berarti sejak pushback brake off hingga garba rata menempel dipintu brake on, tujuh jam dua menit.

Terbang dipagi hari jam 11 waktu setempat seperti saat ini kadang menyenangkan kadang tidak. Tidak bisa tidur, jika siang hari. Tapi menyenangkan bagi mereka yang punya home work atau pekerjaan Rumah yang harus diselesaikan sambil mengetik diatas laptop.

Apalagi kini Garuda seolah mengenalkan pendekatan “pesawat terbang sebagai Rumah dan ruang kerja diudara”. Ada Sajian Makanan yang diramu oleh Chef dan juga wifi onboard untuk rute internasional.

Bagi yang aktip sebagai businessman atau CEO atau Manager Pemasaran yang biasa traveling untuk laksanakan tupoksi nya biasa memilih terbang malam hari. Sebab dapat hemat hotel, dan sepanjang perjalanan bisa nyenyak tidur untuk langsung kerja ketika sampai di tempat tujuan. Kita menyebutnya “red eye” flight. Terbang ketika mata merah menahan kantuk.

Saya ketika masih menjadi junior aerdoynamicist di Industri Pesawat Terbang pernah selama kurang lebih 7 tahun dari tahun 82 hingga 90 menikmati pengalaman sebagai “red eye” traveller. Berangkat malam hari, sampai pagi hari ketujuan. Kalau dihitung jumlah kilometer atau nautical mile yang pernah di tempuh selama tujuh tahun itu hampir mendekati enam kali keliling dunia. Boleh dikata hampir seluruh Bandara ternama dunia saya punya pengalaman take off and landing dari disana.

Banyak suka duka, salah satunya adalah menjadi apa yang disebut Paul Krugman , pemenang Hadiah Nobel ekonomi saya belajar jadi “airport economist”, yang mencoba memahami dasar dasar ilmu ekonomi dari membeli buku ekonomi di bandara dan membacanya dipesawat terbang. Ternyata ilmu ekonomi itu sukar difahami.

Seperti kata Prof Dornbursch, Maha Guru Ekonometrik dari MIT dan Alan Greenspan, membaca teori ekonomi kelihatan nya mudah, sebab para penulis nya telah berupaya sekuat tenaga untuk membuat bukunya gampang dicerna.

Akan tetapi ekonomi itu ilmu tentang kehidupan masyarakat yang mempelajari tingkah laku interaksi dan Transaksi yang terjadi diantara penjual dan pembeli di pasar.

Meski ada rational expectation akan tetapi di pasar tidak vacum dari proses Tarik menarik dan tolak menolak diantara kekuatan yang bekerja. Supply and demand tidak berjalan dalam “continuous process” akan tetapi berfluktuasi dalam “uncertainty”. Itu yang menyebabkan memahami ilmu ekonomi yang bekerja di pasar amatlah sukar. Mirip seperti memahami fluktuasi dan gelombang perubahan cuaca yang terjadi sepanjang perjalanan pesawat terbang. Fluctuation and Uncertainty always there waiting…..

Fenomena ekonomi yang berluktuasi dan uncertainty ini yang saya amati akan kita hadapi sebagai bangsa dalam “global economy”. Munculnya Trump sebagai Presiden Terpilih di Amerika telah menyebabkan “globalisasi ekonomi” seolah direm lajunya dan bahkan mungkin akan berbalik arah menuju pada Ekonomi yang tumbuh berkembang dalam Alam Regionalism dan Nationalism. Apa begitu ? Saya tak tau Pasti

Trump kata Kissinger dalam wawancara dengan The Yomiuri Shimbun pada 20 December 2016 adalah Presiden Amerika yang terpilih secara “extra ordinary”, tidak biasa. Trump maju tanpa dukungan “political leadership” baik dari partai Republik apalagi Demokrat. Ia maju dengan dukungan dana sendiri karena pengusaha kaya.

Ia berhasil mengharmonisasikan program kampanye dan cara komunikasi nya dengan “the forgotten men and women”, tambah Michael Sandel seorang Political Philosopher dalam wawancara dengan Koran Jepang yang sama. Trump telah bersilancar diatas gelombang rasa lapar para pemilih akan perubahan. Dan Hilary Clinton dipandang sebagai mewkli status quo.

Keinginan masyarakat Amerika untuk berubah amatlah kuat atau dengan istilah Michael Sandel The hunger for change is so powerful, dan inilah yang dijadikan pijakan strategi kampanye Trump. Mesin politik Clinton dan Partai Demokrat yang underestimate terhadap suara “grass root” ini kalah.

The forgotten men and women yang aspirasi nya ditampung oleh Trump adalah “para pekerja” industri yang pabrik nya dipindah ke Mexico atau China, dalam program ‘offshoring” untuk mereduksi biaya produksi melalui pemanfaatan jaringan “supply chain” di Negara yang berbiaya rendah.

The forgotten men and women adalah “uneducated college”, yang tak sempat mengenyam pendidikan universitas. Mereka merasa selama ini dilupakan oleh elite politik dan bisnis yang ada di Washington . Juga mereka merasa ditinggal oleh elite mass media yang tidak pernah peduli dengan situasi mereka. Kebangkrutan kota Detroit misalnya tak pernah diresponse dengan baik oleh para elite.

The forgotten men and women Amerika ini merasa tidak digubris dan dihargai. Kebetulan apa yang disuarakan Trump kena di hati mereka. Selain itu program membangun tembok pembatas antara Mexico dan Amerika dan rencana pengusiran 11 juta immigran yang disuarakan Trump dalam kampanye pas dengan fikiran mereka, meski para elite politik dan ekonomi menganggapnya sebagai impian ngawur.

Karenanya ketika Trump menang menjadi Presiden Amerika dalam Pemilu dan akan dilantik 20 Januari ini mengganti Obama, semua analis ekonomi dan politik terpaksa merubah persfektip mereka terutama tentang Arti Free Trade dan Globalisasi. Trump mengatakan begitu ia duduk di White House, semua industri milik usahawan Amerika yang tidak memindahkan lokasi pabriknya ke Amerika untuk “create jobs” akan kena pajak tinggi.

Bahkan Industriawan yang mencoba untuk memindahkan pabrik nya keluar dan pergi ke negara lain, diancam Trump akan dihukum. Semua produk yang diproduksi di luar Amerika akan kena pajak import tinggi.

Trump kata Kissinger adalah extraordinary Presiden Elect dalam Sejarah Amerika, apa yang akan terjadi setelahnya tak ada kepastian. Apa Amerika akan lebih baik atau lebih buruk tak ada yang berani menebak. Ian Bremmer menulis di Majalah Times terbitan 24 Des 2016-2 Januari 2017, dengan judul :”The era of American Global Leadership is over”. Joe Klein menulis judul yang cynical :”Beware the tricks and traps of Donald Trump”, ia bahkan menambahkan subjudul:”News Manipulator in Chief”.

Sementara Jeffrey Imelt, CEO General Electric mencoba beradaptasi dengan langkah Trump untuk inward looking dengan membuat tulisan di Times berjudul :”Localization can help America win around the world”. Seorang penulis Chairman Lembaga Think Tank di Jepang mengatakan :”Trump”s shock doctrine will make China even stronger”.

Karenanya secara Geopolitic Admiral James Stavridis , former Supreme Allied Commander NATO merekomendasikan agar Trump memprioritaskan strategi untuk mengimbangi dan jika perlu menangkal pengaruh dominan China dalam percaturan politik global.

Apakah Trump akan berhasil ? Jika tidak Michael Bloomberg, waliKota New York tahun 2003-2013 yang juga seorang pengusaha telah punya PLAN B. Ia minta para politisi membuat alternatip jalan keluar. “jika Washingon gagal mendorong perubahan dan kemajuan, maka pusat pertumbuhan ekonomi harus pindah ke Kota kota. If Washington Fails to drive progress , cities will acts”.

Dengan kontroversi yang muncul dipermukaan, President elect Trump seolah ingin mengatakan Amerika dimasa depan tidak lagi akan cawe cawe dalam implementation konsep Globalisasi dan Free Trade. Amerika akan fokus pada program pembangunan industri dalam Negerinya, sebab selama ini Amerika terlalu menghabiskan “tax payer money” untuk ngurusin negara lain, lupa diri sendiri. Sehingga Globalisasi dan Free Trade menghancurkan lapangan kerja di Amerika.

Kini, Amerika memerlukan lapangan pekerjaan. Industri dan “small medium enterprises” adalah motor penggerak lapangan kerja baru. Apakah ini bentuk inward looking, atau nasionalisme baru ataukah ini proteksionisme ? Banyak istilah yang perlu ditinjau kembali ?

Konsepsi dan kesepakatan para pemimpin dunia tentang Global Trade dan Liberalisasi Pasar boleh dibilang disepakati dan dimatangkan oleh Deklarasi Bogor, APEC Meeting yang dipimpin oleh Presiden Suharto. Sejak itu ada kesepakatan bahwa Negara Industri harus membuka pasar domestiknya tahun 2010 dan Negara berkembang tahun 2020.

Kini setelah lebih dua puluh dua tahun kesepakatan itu berlangsung, ternyata yang tidak kuat adalah Amerika. Seolah siklus sebuah konsepsi untuk pindah jalur paradigma kebijakan adalah 20/25 tahunan .

Semua industri di Amerika ditutup dan dipindahkan ke lokasi berbiaya operasi rendah seperti ke Mexico dalam kerangka North America Free Trade atau NAFTA. Atau ke Negara China atau Vietnam. Akibatnya banyak Pekerja Industri seperti Technician, Machinist dan Engineer kehilangan lapangan kerja.

Pekerjaan kasar yang tersisa juga dirampas oleh kehadiran immigrant gelap Pekerja asing illegal dari Mexico yg dengan mudah masuk liwat perbatasan tanpa dinding pemisah.

Dan kini ditahun 2017, arah bandul patadigma kebijakan akan berputar kembali counter clockwise. Amerika tak ingin ladi jadi lokomotif dari gerbong Globalisasi dan Free Trade. Perjanjian NAFTA, Amerika Canada Mexico diambang keretakan. Inisiatip Trans Pacific Partnership, sejenis perdagangan bebas lintas Negara Pacific diambang kehancuran.

Amerika kembali ke pendekatan Inward looking. “Tax Payer Money” , Uang pajak tidak lagi akan digunakan untuk tujuan menjadi pemimpin ekonomi dunia dengan konsep globalisasi.

Melainkan akan diarahkan untuk “inward looking” membenahi, merevitalisasi dan memordenisasikan kembali jaringan infrastruktur industri dan ekonomi yang sudah kadaluarsa. Karenanya akan lebih ptoteksionis dan lebih fokus pada kepentingan diri sendiri Nasionalisme baru .

Apa benar begitu ? Wallahu Alam , dan kalau benar Kemana kita hendak melangkah ?

Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s