Oleh: Jusman Syafii Djamal

Prof Suhono Supangkat dari ITB bercerita di salah satu emailnya tentang presentasi Prof. Jaeho Choi, dari Chungbuk National University Korea yang diundang untuk memberikan kuliah oleh beliau di depan mahasiswa ITB-nya dengan tema kuliah tentang teknologi “smart grid for smart city”. Dalam pemaparan Prof Jaeho Choi disampaikan “Lesson learned” sebagai berikut, atas pertanyaan mahasiswa kenapa Korea Selatan bisa menjadi negara Industri maju. Padahal Korea adalah bekas jajahan Jepang selama 36 tahun (1910-1945, 36 tahun) Perang Korea terjadi selama 3 tahun (1950-1953), Setelah itu semua fasilitas infrastruktur rusak berat. Semua tergantung dari bantuan luar negeri, tidak ada lapangan pekerjaan, dan secara sosiologi, politiknya tidak stabil.

Namun demikian Korea bisa recovery dan bisa tumbuh perekonomiannya cepat secara mandiri sejak tahun 1960.

Apa yang menjadi faktor utama kenapa Bangsa Korea bersatu melakukan proses transformasi dari negara agraris ke negara industri ? Dan para ekonomnya tidak terus menerus berbicara soal Cost Benefit Ratio diantara membangun sendiri dengan membeli produk negara lain? Mengapa para ekonomnya tidak mencegah para insinyurnya untuk menghabiskan dana investasi untuk membangun pabrik, industri agar mereka mampu mengabdikan keahlian engineeringnya untuk mengembangkan keahlian industri secara bertahap dari manufaktur ringan ke Industri Kimia dan Industri berat, otomotif, kapal, pesawat terbang hingga elektronika?

Prof Jaeho Choi menjelaskan antara lain hal strategis sebagai berikut :
*Pertama,* Fokus Pembangunan keahlian manusia bersumber daya dimulai dari pembenahan kurikulum dan fasilitas pendidikan atau Education. Kurikulum dikembangkan dengan basis Science dan Technology yang kuat. Matematika, Fisika, Kimia, History, Sastra, Drawing dijadikan dasar kurikulum untuk membangun potensi kreatif dan daya inovasi berbasis iptek. We often amazed by the way Koreans learned crafts and skills, everything from basketball to calligraphy, for example, by methodically studying and reproducing a defined set of steps, kata Cullen Thomas,

Misalnya salah satu kegiatan perkuliahan anak S1 di Korea University. Pada kelas ini, masing-masing siswa memikirkan sebuah ide baru dan mempresentasikan idenya ke kalangan umum. Kebanyakan ide-ide yang ditampilkan adalah berupa modifikasi sederhana pada produk serupa yang sudah ada di pasaran. Kelas ini murni melatih kreativitas mereka saja.

Keberhasilan mereka dalam kelas ini tidak ditentukan oleh seberapa pintar mereka akan rumus integral-turunan, atau seberapa hebat pengetahuan mereka akan teori rangkaian elektrik, kemampuan programming, ataupun tingkat ketabahan mereka dalam solder-menyolder.

*Kedua,* Membangun ekosistem agar muncul spirit Kebangkitan dan semangat bekerja sama dengan pengembangan infrastruktur pertanian (irigasi, benih unggul, koperasi) melalui apa yang disebut New Village Movement (Saemaul Undong)

*Ketiga,* Terus menerus melakukan kampanye tak kenal henti agar semua orang “make a good village all together” dengan kesatuan visi misi, fokus, dan kesempurnaan kerja melalui kolaborasi dan sharing.

*Keempat,* Secara konsisten, dikembangkan kebijakan fiskal dan moneter yang menciptakan suatu ekosistem bisnis dan industri dimana Tenaga terdidik baik lulusan SD, SMP, SMK maupun Universitas diarahkan untuk mengembangkan produk dengan Orientasi ekspor, dimulai dari Wig (rambut buatan), tahun 1960-1970, diikuti dengan tekstil (1970-1980), Automobile (1980-1990), Semiconductor (1990-2000), hingga sekarang “consumer electronic”. Hal ini dilakukan karena pasar domestik Korea Selatan kurang besar size-nya. Jadi untuk mendapatkan “economic of scale” perlu pasar manca negara.

*Kelima.* Kerja keras. Memeras Otak dan mengucurkan keringat dalam lumpur persoalan untuk menghasilkan produk andalan dan produk unggulan dalam setiap sektor. Tiap pekerja Korea Selatan meniru Jepang bekerja keras siang malam, rata-rata 11 jam perhari dengan produktivitas persatuan jam dan tenaga kerja yang tinggi.

Begitu kurang lebih cerita Suhono dalam emailnya ke grup sinergi IA ITB yang sempst saya baca pagi ini. Terimakasih Suhono. Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s