Platform Bisnis berbasis 3D : Digitalisasi, Desentralisasi dan De-Carbon-isasi

Jusman Syafii Djamal
2 Jan 2019

Ketika tanggal 1 Januari 2019 saya melintasi jalan dari Amsterdam menuju Hamburg , karena jalan 360 km terasa sangat mulus, goncangan mobil tak begitu terasa, saya dapat membaca majalah the Economist. Judulnya The World in 2019.

Ada pandangan Isabelle Kocher CEO Engie yang menarik untuk saya share. Semoga bermanfaat.

Ia bilang di tahun 2019 Ada Tiga trend kemajuan teknologi Yang perlu ditunggangi agar suatu wilayah ekonomi dapat tumbuh lebih tinggi.

Yang pertama adalah trend akselerasi teknologi Yang bergerak dalam paradigma digitalisasi.

Yang kedua desentralisasi sumber daya untuk mempercepat proses kolaborasi kompetensi dan integrasi jaringan kerja dalam global production network

ketiga adalah akselerasi proses de carbonisasi. Untuk membangun masyarakat bebas emisi karbon.

Pada bulan Agustus 2018 meski California mengalami kebakaran hutan yang meluluh lantai kan daerah pemilik Iman kaum élite kaya nya, akan tetapi pemerintahan negara bagian California telah mensahkan undang undang sumber energi dan sistem Transportasi bebas karbon.

Pada tahun 2045 ditargetkan 100% sumber energi fossil Menghilang diganti renewable source of energy. Tahun 2018 Isabelle Kocher sebagai CEO telah menanda tangani kontrak untuk pengadaan sumber energi Matahari atau solar cell dengan harga 0,043 dollar per kilowatt hour di Senegal. Seperlima harga jual energi berbasis Batubara. Harga energi solar cell telah turun 73% pada 2017 dibanding harga 2010.

Juga kini di Paris telah terjadi peningkatan penggunaan mobil dan motor listrik. Tahun 2015 ada satu juta mobil listrik beredar dijalan. Tahun 2017 meningkat jadi 3 juta.

Kedua trend diatas memperlihatkan bahwa Policy On De Carbonization mungkin diimplementasikan dalam
Satu wilayah ekonomi. Perlu insentip Fiskal dan moneter untuk mewujud kan nya. Jika tak mau ketinggalan.

Kini di Eropa dan Amerika jumlah kantor, pabrik dan industri Yang memanfaatkan “Internet of Thing” Yang mengkoneksikan pelbagai gawai, sensor , displays dan personal computing meningkat. Banyak kawasan kini sudah benar benar berada dalam era digital economy.

Dicatat tiap orang paling tidak telah mengkoneksikan 11 peralatan utamanya satu sama lain dan terhubung dengan sensor dan displays dalam jaringan wifi atau online sepanjang waktu. Digital home and office sudah jadi gaya hidup. Digitalisasi jadi penggerak utama kemajuan.

A digital network kini juga telah mendorong terbentuknya proses desentralisasi pusat pusat produksi dan kreativitas.

Innovation kini terdesentralisasi dalam banyak “Silicon Valley” yang terdistribusi dipelbagai Wilayah. Proses desentralisasi ini melahirkan pusat pertumbuhan klaster Inovasi dan klaster ekonomi

Dengan Tiga trend yang akan semakin tampak nyata pada tahun 2019 ada baiknya kita “banting stir “ seperti anjuran Bung Karno. Banting stir untuk memutar arah dan strategi bisnis dalam perusahaan kita masing masing agar dapat terus survive menuju masa depan.

Begitu kata Isabelle Kocher. Bagaimana kata kita di Indonesia ? Wallahu Alam.

Mohon maaf jika ada yang keliru. Salam

Advertisement

Menaruh Asa pada Bisnis Digital

Tajuk Tempo.co, 23 November 2018

Jangan lagi memandang bisnis digital di negeri ini sebagai remah-remah perekonomian. Di tengah kelesuan ekonomi, bisnis ini justru menjadi alternatif strategis untuk menggerakkan perekonomian nasional. Hasil riset Google dan Temasek menunjukkan omzet ekonomi digital pada semester pertama tahun ini mencapai Rp 394 triliun.

Di Asia Tenggara, omzet Indonesia pada empat sektor bahkan paling tinggi, yaitu belanja, travel, media, dan transportasi online. Luasnya pasar pengguna Internet di Indonesia-ada 143,26 juta orang pengguna pada 2017-tentu bakal meningkatkan omzet. Kelebihan bisnis online memotong rantai distribusi yang ikut memangkas harga jual juga membuat pasar kian meliriknya. Hasil riset bertajuk “e-Conomy SEA 2018” tersebut juga menunjukkan arus modal yang masuk ke Indonesia pada semester gasal sudah mencapai US$ 9,1 miliar. Hampir pasti, jumlah investasi bisnis digital tahun ini meningkat. Tujuh tahun lagi, atau pada 2025, diperkirakan jumlah dana yang masuk mencapai US$ 50 miliar atau sekitar Rp 730 triliun. Perusahaan rintisan Tanah Air dipercaya bisa menyerap seluruh potensi dana tersebut.

Besarnya kue investasi ini menjadi potensi untuk mengembangkan industri digital. Apalagi bisnis ini bisa merevolusi banyak hal. Misalnya, hadirnya sharing economy membuat ekonomi menjadi lebih efisien dan tak hanya dikuasai segelintir pemain. Internet juga melahirkan pola kerja yang nyaris tanpa batas, sehingga orang di daerah juga bisa bersaing dengan orang yang berada di perkotaan. Internet juga membuat inklusi keuangan lebih berkembang karena hadirnya layanan teknologi keuangan (fintech), seperti pembayaran lewat ponsel. Ditambah lagi, masih banyak sektor yang belum tergarap maksimal. Di bidang perikanan, misalnya, tak sampai lima start-up muncul.

Namun masih ada sejumlah tantangan yang dihadapi, seperti pengembangan infrastruktur Internet, peningkatan kepercayaan konsumen terhadap layanan daring, dan perluasan pembayaran digital. Sebagian menjadi tugas pemerintah dan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter dan sistem pembayaran. Sayangnya, belum semua persoalan tuntas. Sampai sekarang, belum ada kepastian tentang standar sistem dan infrastruktur uang elektronik.

Pemerintah punya andil dalam mendukung perkembangan bisnis digital. Melalui paket kebijakan ekonomi yang diluncurkan dua tahun lalu, pemerintah memberi solusi pendanaan untuk usaha rintisan berupa kredit usaha rakyat yang tingkat bunganya tidak tinggi. Pemerintah pun memberikan hibah untuk inkubator bisnis pendamping perusahaan rintisan dan mengadakan program seribu start-up.

Jika pemerintah dan otoritas terkait bisa menyelesaikan berbagai persoalan tersebut, bukan tidak mungkin target menjadikan Indonesia sebagai negara ekonomi digital terbesar di ASEAN dua tahun lagi akan terwujud.

Kesenjangan Talenta Digital Kita

Oleh : Dedy Permadi,
Direktur Center for Digital Society (CfDS) Fisipol UGM
Kompas, 12 November 2018

“Karyawan Menjadi Kunci”, begitulah judul berita utama Kompas, Kamis, 25 Oktober 2018.

Isu sumber daya manusia (SDM) sebetulnya juga menjadi salah satu pokok bahasan dalam pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Bali, beberapa waktu lalu. Salah satu yang menyita perhatian publik adalah kehadiran pendiri Alibaba Group, Jack Ma, yang membagikan kisah hidupnya.

Ia mengungkapkan bahwa kerja keras, percaya pada visi dan masa depan, serta hari demi hari meningkatkan kapasitas diri, jadi resep kesuksesan dirinya.

Peningkatan kapasitas diri kaum pekerja tampaknya memang menjadi poin penentu, terlebih di era ekonomi digital ini.

Kebutuhan talenta digital

Pertumbuhan dan pembangunan Indonesia memang akan semakin signifikan disumbang oleh ekonomi digital. Di level regional, ekonomi digital ASEAN diproyeksikan tumbuh 500 persen dan berpotensi menembus 200 miliar dollar AS sampai 2020. Di saat bersamaan, pembeli daring akan memiliki porsi 51 persen dari total pengguna internet ASEAN sampai 2025 (Google, 2015).

Ekosistem ekonomi digital seperti infrastruktur, teknologi, pasar, pelaku usaha, kebijakan, iklim investasi, dan SDM menjadi mesin penggerak berbagai peluang di atas. Dari sederet komponen ekosistem itu, keterbatasan kapasitas SDM memang masih menjadi pekerjaan rumah yang serius di Indonesia. Tulisan ini menggunakan istilah talenta digital untuk mewakili SDM bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang memiliki kecakapan pada level teknisi, profesional, fasilitator, atau pemimpin digital.

Bank Dunia, yang merujuk pada penelitian Tan dan Tang (2016), memproyeksikan bahwa Indonesia akan kekurangan 9 juta pekerja semi-terampil dan terampil di bidang TIK sepanjang 2015-2030. Bahkan, berdasarkan prediksi Oxford Economics dan Cisco di tahun 2017, sekitar 9,5 juta tenaga kerja Indonesia diperkirakan akan terdampak langsung oleh teknologi berbasis kecerdasan buatan sampai tahun 2028. Imbasnya, 2 juta posisi dalam pekerjaan akan hilang dan memaksa para pekerja berganti profesi atau industri.

Laporan lain mengungkapkan bahwa petinggi perusahaan teknologi menyatakan ketidakpuasannya pada kualitas tenaga terampil lokal Indonesia (McKinsey, 2018). Indonesia masih ketinggalan dari China dan India, baik dari segi jumlah maupun kapasitas teknisinya.

Indonesia tidak bisa menunggu lagi untuk memenuhi kebutuhan talenta digital demi terciptanya ekosistem ekonomi digital yang subur. Jika merujuk pada asumsi dan data di atas, 600.000 talenta digital harus tercetak setiap tahun. Ini kebutuhan riil Indonesia. Pertanyaan penting selanjutnya: kompetensi dan profil seperti apa yang harus dimiliki para talenta tersebut?

Forum Ekonomi Dunia (WEF) mencatat, ada beberapa bidang pekerjaan yang memiliki pertumbuhan permintaan paling signifikan, seperti analis dan ilmuwan data, pakar kecerdasan buatan dan machine learning, manajer umum dan operasional, pengembang perangkat lunak dan aplikasi, pakar big data, pakar transformasi digital, pakar teknologi baru, pakar pengembangan organisasi, dan jasa teknologi informasi.

Pada saat bersamaan, terdapat bidang pekerjaan yang menurun permintaannya, seperti petugas entri data, sekretaris administrasi, serta pekerja pabrik dan perakitan.

Terkait dengan hal ini, haruskah kita takut era disrupsi dan otomasi akan merampas pekerjaan manusia? Frank, Pring, dan Roehrig (2017) mencatat, dalam skala besar, mesin-mesin itu justru membuat pekerjaan jadi lebih baik, produktif, dan berdaya guna.

Mesin dan teknologi baru akan menaikkan standar hidup serta berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat. Pekerjaan dengan standar gaji rendah akan semakin berkurang, sedangkan pekerjaan dengan standar gaji tinggi akan semakin meningkat. Namun, hal ini hanya akan terjadi jika transformasi ini dikelola secara tepat.

Catatan lain yang sangat penting adalah pengelolaan transformasi ini tidak hanya soal penyediaan kecakapan teknis. Kemampuan pemecahan masalah kompleks, berpikir kritis, kreativitas, manajemen SDM, kemampuan untuk berkoordinasi dengan orang lain, kecerdasan emosional, pengambilan kebijakan, orientasi pelayanan, negosiasi, dan fleksibilitas kognitif adalah sederet kecakapan yang paling dibutuhkan di 2020 (WEF, 2018).

Artinya, talenta digital yang memadukan antara kecakapan teknis yang mumpuni dan kepribadian yang matang akan jadi profil tenaga kerja paling diburu di masa mendatang.

Aksi mendesak

Dalam jangka pendek, ada beberapa hal strategis yang harus dilakukan. Pertama, perlu pemetaan secara komprehensif tentang kesenjangan yang ada saat ini. Peta kesenjangan yang dimaksud adalah peta riil yang memuat data permintaan dan ketersediaan talenta digital di semua sub-sektor industri yang ada.

Kedua, perlu upaya serius untuk mendorong sinergi triple helix antara pemerintah, industri (termasuk perusahaan teknologi), dan universitas/lembaga pendidikan untuk menjembatani permintaan dan ketersediaan tenaga kerja terampil dengan merujuk pada peta kesenjangan yang telah dibuat.

Ketiga, perlunya sosialisasi yang masif dan kolaboratif untuk membangun kesadaran pihak-pihak terkait akan urgensi talenta digital. Terkadang seorang pengambil kebijakan tak mau memutuskan sesuatu karena ia tidak memahami isu yang akan ia putuskan.

Bulan September lalu, Kementerian Kominfo telah meluncurkan program Digital Talent Scholarship, program beasiswa pelatihan intensif selama dua bulan, dengan tema kecerdasan buatan, big data analytics, komputasi awan, keamanan siber, dan kewirausahaan digital.

Tahun ini beasiswa diberikan kepada 1.000 orang, dan tahun depan akan dikembangkan untuk 20.000 peserta dengan menggandeng universitas, industri, perusahaan rintisan lokal, dan perusahaan teknologi global. Program ini belum cukup untuk menutup kesenjangan yang begitu lebar.

Namun, rasanya inisiatif ini dapat jadi pintu masuk bagi para pemangku kepentingan untuk bekerja bersama untuk memperkecil kesenjangan yang ada. Pada saat bersamaan, strategi jangka panjang wajib dilakukan dengan menyegerakan transformasi pendidikan formal: pendidikan yang adaptif terhadap perubahan yang tak terhindarkan.

Alec Rose dalam bukunya, The Industries of the Future, menuliskan: “many people will gain, some will gain hugely, but many will also be displaced”. Kira-kira ia ingin menyampaikan pesan bahwa era transformasi digital ini pasti menguntungkan banyak pihak; bahkan beberapa di antaranya mampu memanfaatkan peluang dengan sangat baik, layaknya Ferry Unardi, William Tanuwijaya, Achmad Zakky, dan Nadim Makarim.

Namun, banyak pula yang akan tergusur, yakni mereka yang tidak bergegas untuk beradaptasi dan terus menutup diri.

Pedesaan Pun Berubah Global

Bernardus Djonoputro
Kompas, 20 Nov 2018

INDIKATOR tentang ketahanan terhadap krisis ekonomi maupun krisis politik di suatu negara terlihat nyata pada bagaimana rakyat hidup di pedesaan, termasuk masih adakah rasa damai dan kelestarian di dipedesaan.

Desa adalah inti dari kehidupan komunitas, budaya gotong royong dan kemakmuran menciptakan desa yang damai dan kualitas hidup warga yang tinggi.

Berjalan kaki setiap hari hampir 300 kilometer menyusuri kota dan pedesaan Portugal dan Spanyol sungguh telah membuka mata saya akan makna kehidupan pedesaan. Dan kita bisa belajar banyak dari desa-desa itu.

Sebagai bagian dari Uni Eropa, ekonomi Portugal mengalami krisis besar pada tahun 2015. Namun pemerintah yang baru saat itu, melakukan balik arah dengan mengubah haluan yang telah ditetapkan pemerintah sebelumnya.

Mereka secara tegas melakukan berbagai langkah melawan kebijakan penghematan (austerity) yang dampaknya justru baru mulai terlihat saat ini.

Perdana Menteri Antonio Costa membentuk aliansi unik dengan partai Komunis dan partai-partai kiri radikal, yang selama ini tidak pernah berkuasa sejak berakhirnya era diktator tahun 1974.

Akhir tahun 2015, pemerintah baru membalikkan berbagai kebijakan yang dibuat pemerintah sebelumnya untuk menurunkan defisit Portugal melalui dana talangan internasional sebesar hampir 78 miliar Euro.

Mereka bersatu untuk mengalahkan kebijakan-kebijakan austerity, sambil memperkuat neraca sesuai dengan aturan Uni Eropa.

Desa dan kota seperti Fatima, Porto, Vilarinho, Barcelos, Rubiales, Ponte De Lima, Braga, Valencà terus ke Spanyol seperti Tui, Redondela, Penteverada, Padron dan Santiago de Compostela, adalah sedikit contoh kota dan desa yang saya amati.

Terletak di sepanjang jalur napak tilas Camino Santiago de Compostela, atau dikenal sebagai jalur St. James Way, jalur ziarah tua yang ditetapkan UNESCO sebagai situs bersejarah.

Sambil melangkah, kaki ini terus menapaki batu-batu granit kotak-kotak, yang sudah menjadi bagian dari jalan sejak berabad-abad yang lalu.

Hasilnya, kontemplasi dan menikmati karakter pedesaan yang dikelilingi oleh perkebunan anggur dan hutan evergreen, saya juga dapat merasakan sensasi luar biasa menapaki jalur perjalanan jaman abad pertengahan.

Konsisten di pedesaan Portugal, infrastruktur demikian berkualitas. Saluran air bersih dengan standar dapat diminum, mengalir melalui pipa-pipa bawah tanah ke rumah warga dan ladang-ladang.

Fasum dan fasos terlihat merata, dan konektivitas warga pun terjamin dengan keberadaan transportasi publik seperti bis komuter low-deck dengan jangkauan yang luas.

Masyarakat pedesaan Portugal hari ini masih seperti cermin para nenek moyangnya berabad-abad lalu. Infrastruktur penunjang kehidupan masyarakat mercerminkan warga yang taat aturan dan menghargai perencanaan yang baik.

Tidak ada kesemrawutan, apalagi anarki pemanfaatan ruang. Keseimbangan terjaga dengan harmonis. Warga petani dengan ramah menawarkan anggur dan hasil tanamnya, serta menyapa setiap peziarah yang lewat.

Fenomena tersebut sangat berlawanan dengan apa yang kita hadapi di kampung halaman. Desa terasa tegang, karena berkutat untuk menahan penjarahan ruang.

Infrastruktur minimal, memperlihatkan kekalahan desa dalam kontestasi politik anggaran. Berjalan di pedalaman Rangkasbitung, Baduy Luar, atu Cibodas di kaki gunung Tangkuban Perahu dan banyak lagi, suasana yang mendominasi adalah perasaan adanya kesenjangan yang lebar.

Bahkan pemimpin kabupaten, kota dan provinsi, menjadikan desa dan kelurahan kota sebagai obyek eksploitasi pencitraan politik. Solusi infrastruktur nampak ala kadarnya, air bersih tidak pernah menjangkau warga.

Meniru desa Eropa dengan memperindah jalan kampung, bukan dengan batu granit namun keramik buatan cina dan batako. Maklumlah, kalau pecah-pecah pada hari pertama.

Salah satu cara mengukur kualitas kehidupan desa dan kota adalah dari air. Sebagai kebutuhan dasar, air adalah hak hidup warga.

Lembaga Kesehatan Dunia WHO menetapkan pedoman kualitas air minum yang menjadi referensi internasional, dan disetujui di Geneva tahun 1993.

Belajar dari pedesaan Portugal semua menyediakan air siap diminum. Sungguh sebuah amalan filosofi bahwa air adalah kebutuhan dasar manusia, dan pemerintah bertanggung jawab menyediakan nya.

Berjalan selama hampir 3 minggu di jalur Camino memberikan kepada saya kecintaan terhadap desa, ranah tinggal yang tenang, penuh nuansa kontemplatif dan damai. Masih banyak tugas kita ke depan!

How Millennials Kill Everything

Yuswohady
3 Nov 2018

Judul tulisan ini adalah bakal judul buku yang kini idenya terus bergentanyangan di otak saya, yang membikin tiap malam saya kesulitan tidur. Mudah-mudah buku ini bisa keluar dalam 2-3 bulan ke depan. Kalau tidak, saya akan terus tersiksa insomnia hebat.

Coba googling dengan kata kunci “millennials kill”, maka Anda akan mendapati betapa milenial adalah “pembunuh berdarah dingin” yang membunuh apapun.

Di halaman pertama hasil pencarian Google saya menemui judul-judul menyeramkan seperti ini:
“RIP: Here Are 70 Things Millennials Have Killed”
“Things Millennials Are Killing in 2018”
“Millennials Kill Again. The Latest Victim? American Cheese”
“Millennials Are Killing the Beer Industry”
“How Millennials Will Kill 9 to 5 Job?”

Bahkan ada situs yang menulis:
“The Official Ranking of Everything Millennials Have Killed.”

Di dalamnya peringkat produk dan layanan yang paling cepat “dibunuh” oleh milenial. Ada dalam urutan peringkat itu produk-produk seperti: berlian di urutan 29; golf di urutan 23; department store di urutan 20; sabun batang di urutan 15; kartu kredit di urutan 10; dan bir di urutan 5.

Millennials Kill Everything New

Kenapa milenial bisa menjadi “pembunuh berdarah dingin” bagi begitu banyak produk dan layanan? Karena perilaku dan preferensi mereka berubah begitu drastis sehingga produk dan layanan tersebut menjadi tidak relevan lagi, alias punah ditelan zaman.

Contohnya golf. Tren dunia menunjukkan, sepuluh tahun terakhir viewership ajang-ajang turnamen golf bergengsi turun drastis setelah mencapai puncaknya di tahun 2015. Tahun lalu bahkan turun drastis 75%. Porsi kalangan milenial yang menekuni olahraga ini juga sangat kecil hanya 5%.

Olahraga elit ini memang digemari kalangan Baby Boomers dan Gen-X, namun tidak demikian halnya dengan milenial. Celakanya, semakin surut populasi Baby Boomers dan Gen-X, maka semakin tidak populer pula olahraga yang lahir sejak abad 15 ini. Dan bisa jadi suatu saat akan puhah.

Yang sudah kejadian sekarang adalah departement store. Tahun lalu kita menyaksikan departement store di seluruh dunia termasuk di Indonesia (Matahari, Ramayana, Lotus) pelan tapi pasti mulai berguguran.

Sumber penyebabnya adalah milenial yang bergeser perilaku dan preferensinya. Pertama karena mereka mulai berbelanja via online. Kedua, milenial kini tak lagi heboh berbelanja barang (goods), mereka mulai banyak mengonsumsi pengalaman (experience/leisure). Mereka ke mal bukan untuk berbelanja barang, tapi cuci mata, nongkrong dan dine-out mencari pengalaman penghilang stress.

Pasar properti beberapa tahun terakhir seperti diam di tempat. Alih-alih semua pelaku berharap ini hanya siklus “bullish-bearish” biasa yang nanti akan naik dengan sendirinya, saya curiga ini adalah kondisi “bearish berkelanjutan” sebagai dampak terbentuknya “new normal” perekonomian kita yang melesu dalam jangka panjang.

Mungkin biangnya bisa berasal dari pergeseran perilaku dan preferensi milenial. Beberapa kemungkinannya: Milenial mulai menunda nikah, menunda punya rumah, dan menunda punya anak. Belum lagi minimalist lifestyle yang kini banyak diadopsi milenial mendorong mereka memilih rumah ukuran mini.

Program KB yang sukses membuat late Baby Boomers dan Gen-X membentuk keluarga kecil dengan dua anak. Dengan jumlah anggota keluarga yang kecil, maka anak-anak mereka (milenial) cenderung menempati rumah orang tua dan sharing dengan sesama saudara. So, tak perlu beli rumah baru lagi. Ini yang menjadi biang kenapa market size properti cenderung mandek.

Tak hanya itu, tempat kerja pun nantinya pelan tapi pasti bisa “dibunuh” oleh milenial. Bagi Baby Boomers dan Gen-X bekerja rutin tiap hari masuk kantor dari jam 8 pagi sampai 5 sore (“8-to-5”) adalah sesuatu yang lumrah. Namun tak demikian halnya dengan milenial.

Milenial mulai menuntut fleksibilitas dalam bekerja. Bekerja di manapun dan kapanpun bisa asal kinerja yang dikehendaki tetap tercapai. Kini mereka mulai menuntut pola kerja: “remote working”, “flexible working schedule”, atau “flexi job”. Survei Deloitte menunjukkan, 92% milenial menempatkan fleksibilitas kerja sebagai prioritas utama.

Tren ke arah “freelancer”, “digital nomad” atau “gig economy” kini kian menguat. Kerja bisa berpindah-pindah: tiga bulan di Ubud, empat bulan di Raja Ampat, tiga bulan berikutnya lagi di Chiang May. Istilah kerennya: workcation (kerja sambil liburan).

Apa dampak dari millennial shifting tersebut terhadap kantor-kantor yang masih menerapkan working style ala Baby Boomers dan Gen-X? So pasti kantor-kantor jadul itu akan ditinggalkan angkatan kerja yang nantinya bakal didominasi milenial. Kantor itu akan punah dan melapuk.

Millennials will kill everything!!!

Optimisme Ekonomi Digital Indonesia

Rhenald Kasali
Kompas, 17 Okt 2018

“Anjing menggonggong kafilah berlalu,” begitulah pepatah yang pantas disematkan dalam gelaran bergengsi IMF-World Bank Group annual meeting 2018 di Bali. Gelaran itu baru saja usai. Indonesia terbilang sukses menggelarnya.

Dari berbagai segi boleh dibilang gelaran ini sama apiknya dengan pelaksanaan Asian Games 2018. Jumlah peserta yang fantastis, nilai promo bagi Indonesia, keapikan dalam penyelenggaraan, kesempatan bagi pejabat-pejabat tinggi kita duduk sama tinggi dengan ekonom kelas dunia, serta capaian-capaian penting lainnya.

Tak heran kalau banyak pujian berdatangan dari pemimpin negara-negara dan juga lembaga keuangan dunia. Ini jelas semakin meningkatkan rasa percaya diri kita sebagai bangsa yang diprediksi banyak kalangan menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat pada tahun 2050.

Namun seperti pepatah tadi, selalu ada yang tidak puas. Tetapi sebagai bangsa saya memilih sikap objektif: menerima dengan bangga.

Investasi

Pertemuan ini sendiri mendatangkan investasi dalam bidang infrastruktur yang nilainya mencapai 202 triliun rupiah. Tak hanya dana, komitmen kerjasama lainnya juga dicapai melalui pertemuan itu. Salah satunya kesepakatan dalam pengembangan SDM (sumber daya manusia) Indonesia dalam hal teknologi. Kesepakatan ini dicapai bersama salah satu raksasa teknologi dunia asal Tiongkok, Alibaba. Jack Ma

melalui Alibaba membantu pengembangan SDM Indonesia dengan program 1.000 pengusaha bidang digital. Bahkan Jack Ma langsung bertindak dengan melibatkan lima brand Indonesia diperdagangkan dalam ajang Single’s Day di China.

Ekonomi Digital

Baiklah, kita fokus pada dampak pertemuan itu terhadap perkembangan ekonomi digital Indonesia. Mengapa? Karena konsumsi dan kehidupan tengah shifting kedalam dunia cyber, ekonomi semakin kolaboratif, dengan munculnya banyak inisiatif yang didasari sharing economy.

Kaum muda – generasi millenial, bukan generasi kolonial, adalah motor penggerak utama dalam transformasi ekonomi menuju ekonomi digital. Di OJK saja, kini kita mulai biasa menyaksikan anak-anak muda berkaos oblong atau bersepatu kets mengurus perijinan sektor keuangan. Mereka itulah para juragan fintech yang merubah peta kompetisi perbankan dunia.

Di rumah, anak-anak muda itu tetaplah anak-anak, tetapi dalam dunia baru itu mereka adalah idola kaum muda. Dan kegiatan mereka itu tak lepas dari mata para menteri keuangan dunia. Itu sebabnya muncul bahasan Bali Fintech Agenda, dengan dorongan untuk merelaksasi aturan dan mendorong pelibatan fintech dalam inklusi keuangan.

Potensi Digital Indonesia

Pada tahun 2016, menurut laporan Huawei dan Oxford Economics yang berjudul Digital Spillover, ekonomi digital dunia mencapai 11,5 triliun dollar. Ini sama dengan 15,5 persen dari GDP dunia. Lalu kurang dari satu dekade kemudian angkanya meningkat luar biasa menjadi 25 persen GDP dunia. Bagaimana dengan potensi digital Indonesia?

Dalam laporannya belum lama ini, McKinsey menyebutkan bahwa ekonomi digital Indonesia sekarang hampir sama dengan China pada tahun 2010, berdasarkan indikator-indikator seperti penetrasi e-retail, GDP per kapita, penetrasi internet, pengeluaran ritel, dan urbanisasi.

Pada tahun 2017, nilai perdagangan online Indonesia mencapai 8 miliar dollar. Nilai ini meningkat menjadi 55 sampai 65 miliar dollar pada tahun 2022. Sedangkan penetrasi pengguna internet meningkat dari 74 persen penduduk menggunakan internet saat ini menjadi 83 persen pengguna di tahun 2022.

Benarlah Jack Ma saat berbicara di IMF-World Bank Group annual meeting beberapa hari yang lalu, “tiga puluh tahun yang lalu, jika tidak ada aliran listrik, maka negara tersebut tidak memiliki harapan. Sekarang, acuannya bukan lagi aliran listrik, melainkan koneksi internet.”

Akses internet yang buruk sama artinya dengan hilangnya kesempatan anak-anak muda untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan.

Perlu dicatat, di Asia Tenggara saat ini sudah ada 8 Unicorn dan setengahnya berasal dari Indonesia. Mereka antara lain: Go-Jek, Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak. Begitupun dengan nilai pendanaan yang didapat Indonesia dari venture capital selama tiga tahun ini mencapai 38 persen dari total pendanaan di Asia Tenggara.

Dampak Perdagangan Online

Dengan pencapaian saat ini saja, dampak yang dihasilkan luar biasa. Mengacu pada laporan McKinsey (2018), perdagangan online memiliki dampak di empat area. Pertama, financial benefits. Saya kira ini jelas. Indonesia adalah pasar terbesar untuk e-commerce di Asia Tenggara.

Nilainya saat ini kurang lebih 2,5 milyar dollar dan akan menjadi 20 milyar dollar di tahun 2022. Nilainya meningkat delapan kali dalam kurun lima tahun. Untuk diketahui, 30 persen dari penjualan e-commerce adalah konsumsi baru yang tidak pernah terjadi di perdagangan offline.

Kedua, job creation. Diperkirakan akan ada 26 juta pekerjaan baru di tahun 2022 akibat dari ekonomi digital ini yang kebanyakan dipengaruhi oleh perkembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Agaknya ini juga yang membuat Jack Ma membuat strategi agar Alibaba fokus pada UMKM di China. Bahkan Jack Ma mengatakan “helping small business to make money is the key”.

Lalu, buyer benefits. Ini bisa dilihat dari harga-harga di marketplace e-commerce yang biasanya lebih murah dari offline. Dengan berbelanja online, konsumen di luar Jawa dapat menghemat 11 sampai 25 persen dibandingkan berbelanja di ritel tradisional.

Terakhir, social equality. Mungkin ini dampak yang kurang kita sadari. Ekonomi digital telah berdampak terhadap kesetaraan gender, inklusi layanan keuangan, pemerataan pertumbuhan dan masalah sosial lainnya. Faktanya, wanita menikmati 35 persen “kue” penjualan online dibandingkan dengan 15 persen pada ritel tradisional. Ini artinya kesetaraan gender memungkinkan dicapai melalui ekonomi digital.

Begitupun dengan pemerataan pertumbuhan ekonomi dan inklusi keuangan yang semakin dinikmati masyarakat. Dengan adanya ekonomi digital, bisnis kecil yang awalnya hanya menjual produknya di kota asalnya saat ini bisa menjual produknya ke luar kota bahkan luar negeri.

Membangun Ekosistem Digital

Singkat kata, pertemuan IMF-World Bank Group ini sangat spesial bagi Indonesia. Lucu kalau masih ada yang mengaitkan dengan utang, sebab agenda yang dibahas bukan soal pinjaman sungguhpun dilaksanakan oleh lembaga pemberi pinjaman. Kita berpikir sehat saja. Ambil manfaatnya untuk masa depan perekonomian kita. Bukankah dunia sedang dipenuhi banyak kerisauan dan mentalitas kalah?

Jadi, kita benahi saja PR-PR yang belum dikerjakan. Tetap fokus, bangun masa depan. Ekosistem digital harus terus dibangun, karena ia memainkan peran untuk membentuk interkoneksi yang membuat segalanya menjadi terhubung. Ini artinya pembangunan infrastruktur logistik harus terus diupayakan.

Begitupun dengan sistem pembayaran digital Indonesia yang masih tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. Disini peran fintech yang melayani cashless payment sangat diharapkan untuk mendorong shifting sistem pembayaran.

Tantangan Disrupsi Teknologi

Oleh : Paul Sutaryono,
Pengamat Perbankan dan Mantan Assistant Vice President BNI

Kompas, 9 Oktober 2017

Perbankan di Uni Eropa telah menutup 9.100 kantor cabang dan memangkas sekitar 50.000 orang staf pada 2016. Hal ini terjadi sejalan dengan meningkatnya penggunaan layanan perbankan daring (online) oleh nasabah.

Secara keseluruhan sudah ada 48.000 kantor cabang yang ditutup di Uni Eropa selama kurun 2008-2016. Pengurangan ini mencapai seperlima dari jumlah kantor cabang yang ada (Kompas..com, 13/9/2017). Inilah tantangan sejati bagi bank: disrupsi teknologi.

Apa itu disrupsi teknologi (disruptive technology)? Disrupsi teknologi merupakan sesuatu yang menggeser teknologi yang telah mapan dan menggoyang industri atau produk yang kemudian melahirkan industri baru (Prof Clayton M Christensen, 1997). Berikut beberapa contoh disrupsi teknologi. Personal computer (PC) telah menggeser mesin tik. Surat elektronik telah menggantikan menulis surat dan mengganggu bisnis kantor pos dan industri kartu ucapan. Telepon seluler telah menggantikan industri telepon tetap dan laptop menggantikan PC. Pun telepon pintar telah menggeser kamera saku, pemutar MP3, dan kalkulator. Jaringan media sosial telah menggeser telepon, surat-el, dan pesan singkat (SMS).

Di Indonesia telah lahir bank nirkantor (branchless banking). Bank nirkantor atau Layanan Keuangan Tanpa Kantor (Laku Pandai) merupakan kegiatan jasa layanan perbankan dan jasa keuangan lainnya yang dilakukan tidak melalui jaringan kantor lembaga keuangan secara fisik. Laku Pandai memanfaatkan teknologi dan pihak ketiga yang bekerja sama dengan bank terutama untuk melayaniunbanked dan unbankable people. Nasabah cukup mempunyai nomor telepon seluler bukan rekening bank untuk menerima kiriman uang..

Tak terbayangkan sebelumnya, kini muncul perusahaan teknologi finansial (tekfin). Cara mereka dalam memberikan kredit kepada debitor begitu berbeda dari praktik perbankan konvensional. Misalnya, tanpa agunan, tanpa tatap muka antara kreditor atau investor dan debitor, lebih cepat, dan mudah. Begitu pula dalam menggali dana masyarakat yang disebut investor.

Faktor kunci keberhasilan

Lantas, apa saja faktor kunci keberhasilan (key success factors) bagi bank agar mampu menghadapi disrupsi teknologi?

Pertama, bank harus berani berdamai dengan tantangan disrupsi teknologi seperti munculnya perusahaan tekfin yang terus melaju. Bank berani berdamai berarti bank harus berbenah diri dengan aneka jurus. Katakanlah, bank wajib meningkatkan anggaran teknologi untuk mengembangkan sayap bisnis berbasis teknologi sehingga mampu bersaing dengan perusahaan tekfin. Bank dapat menjalin kerja sama dengan perusahaan tekfin untuk menggarap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kiat non-organik itu lebih efektif, efisien, dan cepat daripada membangun sendiri dari awal.

Mengapa? Karena segmen itu menjadi pasar target perusahaan tekfin dengan masuk ke pasar keuangan wong (orang) cilik. Meskipun dipandang kecil, UMKM terdiri dari 61 juta usaha sehingga sanggup menyerap 114 juta tenaga kerja. Selain itu, UMKM mengandung margin yang mahatebal sehingga menjadi mesin penghasil pendapatan dari bunga (interest income) yang gurih habis.

Terlebih ketika kelak pemerintah menurunkan suku bunga kredit usaha rakyat (KUR) dari 9 persen menjadi 7 persen. KUR ditujukan kepada pelaku UMKM dengan plafon kredit di atas Rp 10 juta hingga Rp 25 juta (mikro) dan hingga Rp 500 juta (KUR ritel) melalui bank pelaksana yang telah ditetapkan pemerintah. Penurunan itu bertujuan final supaya UMKM makin terjangkau oleh kredit perbankan. Untuk plafon kredit hingga Rp 10 juta, telah tersedia ultra mikro (UMI) dengan suku bunga kredit sebesar 2-4 persen, dan ini amat rendah.

Akan tetapi, cepat atau lambat, KUR dan UMI akan menggerus rezeki Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Sebab, suku bunga kredit BPR jauh lebih tinggi, padahal segmen mikro menjadi bisnis inti mereka. Liriklah suku bunga kredit BPR untuk modal kerja 27,48 persen, investasi 24,56 persen, dan konsumsi 25,27 persen per Juli 2017. Mestinya pemerintah mempertimbangkan pula kelestarian bisnis 1.617 BPR yang telah membangun ekonomi rakyat.

Selama ini, segmen UMKM telah menyelamatkan ekonomi ketika terjadi krisis ekonomi pada 1997-1998 dengan tetap bertahan dengan perkasa. Mimpinya, UMKM dan UMI dapat menjadi sokoguru ekonomi rakyat untuk mendukung perekonomian nasional.

Kedua, bank pun harus berani berubah seturut dengan sifat teknologi yang terus berubah. Jangan lupa disrupsi teknologi juga (akan) mengubah bukan hanya sektor jasa keuangan seperti perbankan, perusahaan pembiayaan (multifinance), perasuransian, pegadaian, pasar modal, melainkan juga sektor lainnya, seperti sektor ritel, pendidikan, kesehatan, manufaktur, pertanian, dan transportasi.

Akibatnya, bank harus segera menata diri untuk melakukan antisipasi lini bisnis apa saja yang bakal terkena disrupsi teknologi. Paling rawan terkena disrupsi teknologi adalah pegawai yang langsung berkaitan dengan layanan produk dan jasa perbankan di kantor cabang. Kok bisa? Karena fungsi layanan nasabah (front office) itu sangat mudah tergeser dengan pemanfaatan teknologi. Itulah sebabnya banyak kantor cabang kecil (secara fisik) terpaksa ditutup demi efisiensi.

Tingkat efisiensi perbankan tampak terang benderang pada rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang menurun (membaik) dari 81,37 persen per Juli 2016 menjadi 78,85 persen per Juli 2017 di tengah ambang batas 70-80 persen. Hal itu menyiratkan bank telah efisien, tetapi masih jauh jika dibandingkan dengan BOPO bank di ASEAN 40-60 persen. Artinya, bank wajib terus mengerek tingkat efisiensi supaya lebih mampu bersaing.

Oleh karena itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu menetapkan BOPO menjadi 60-70 persen pada semester I-2018 dan 50-60 persen pada semester II-2018. Hal itu sebagai langkah antisipasi bagi bank dalam menepis serbuan bank asing yang terus merangsek Indonesia.

Ketiga, salah satu kiat jitu untuk menaikkan tingkat efisiensi adalah berinovasi dengan memanfaatkan teknologi. Efisiensi merupakan kunci sukses menjadi pemenang dalam persaingan yang semakin sengit.

Inovasi berbasis teknologi pun menjadi kunci kelestarian bisnis. Apa manfaat teknologi bagi perbankan? Beberapa manfaat dapat disebut, misalnya meningkatkan tingkat layanan (service level): dengan ATM, nasabah akan lebih leluasa dalam memberdayakan kekuatan finansialnya; mempercepat antaran jasa (service delivery): dengan sistem online banking, nasabah akan dengan cepat menerima transfer dari mitra bisnisnya di ujung dunia sekalipun; meningkatkan efisiensi (efficiency lever): tidak menuntut banyak personel yang berarti biaya rendah tetapi dengan hasil tinggi; meningkatkan efektivitas (effectivity lever): dengan personel sedikit tetapi efektif.

Manfaat lain, meningkatkan produktivitas pegawai (employee productivity): pegawai akan lebih cepat menyelesaikan tugas dengan menggunakan komputer; meningkatkan layanan kepada nasabah (customer service): dengan sistem online banking, nasabah dapat terlayani dengan cepat dan akurasi tinggi dan meningkatkan kemampuan penjualan (sales capabilities): dengan internet banking, phone banking, SMS banking,mobile banking, tawaran produk dan jasa serta transaksi perbankan akan lebih cepat sampai kepada nasabah.

Tengok saja BRI sebagai satu-satunya lembaga keuangan yang memiliki satelit sendiri, BRISat, sudah selayaknya menjadi bank paling efisien. Dengan satelit itu, BRI dapat memaksimalkan kapasitas produk dan jasa perbankan untuk meningkatkan kecepatan layanan sampai ke daerah yang terpencil sekalipun. Itulah inovasi.

Sayangnya, ketika Satelit Telkom 1 tidak berfungsi pada 25 Agustus 2017, ribuan ATM pun terkapar, yakni 4.700 ATM Bank BCA, 2.000 ATM Bank Mandiri, 1.500 ATM BNI, dan 300 ATM BRI. Akibatnya, ribuan nasabah merugi. Itu berarti ATM BRI masih terhubung dengan Satelit Telkom 1, padahal semestinya sudah terhubung dengan BRISat sejak diluncurkan pada 2016.

Hal itu menegaskan bahwa bank wajib meningkatkan manajemen risiko terutama risiko teknologi yang termasuk risiko operasional. Mengapa? Mengingat dalam kemajuan teknologi pasti tersembunyi risiko (inherent risk).. Untuk mitigasi risiko teknologi, bank wajib melakukan audit teknologi yang dilakukan oleh pihak eksternal. Ini mutlak.

Menyikapi disrupsi

Keempat, pemerintah melalui Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan wajib untuk mengawal sektor jasa keuangan dalam menghadapi disrupsi teknologi dengan aneka aturan.

Setiap aturan wajib melindungi kepentingan konsumen, nasabah, atau investor. Anehnya, terkait dengan suku bunga kredit perusahaan tekfin, Otoritas Jasa Keuangan menyatakan hal itu tak perlu diatur. Sebab, dalam industri keuangan konvensional, mereka berada dalam posisi price maker. Sementara dalam bisnis tekfin, calon peminjam menjadi price maker, bukan price taker(tabloid Kontan, 4-10/9/2017).

Pernyataan itu dapat dianggap permisif. Padahal, terdapat perusahaan tekfin yang menawarkan suku bunga kredit terlalu tinggi. Untuk itu, suku bunga kredit perusahaan tekfin perlu diatur untuk melindungi kepentingan nasabah. Jangan sampai nasabah menjadi sapi perah.

Kelima, ketika muncul ATM pertama kali di Indonesia sekitar 30 tahun lalu, banyak prediksi mengatakan kelak tak ada lagi antrean di teller di bank. Ternyata sampai kini masih ada.

Hal itu menyiratkan bahwa budaya Eropa jauh berbeda dari budaya Indonesia. Orang Indonesia suka bertemu dengan orang lain yang berarti teller dancustomer service masih diperlukan. Akhir tutur, pengurangan pegawai perbankan sebagai akibat disrupsi teknologi tak perlu terlalu ditakutkan. Namun, tetap waspada bagai mengantisipasi dampak gunung meletus. Berbekal aneka faktor kunci keberhasilan demikian, bank bakal tetap mampu menghadapi tantangan disrupsi teknologi dengan trengginas.

Focus – Speed – Damage Control : Tiga Langkah atasi Volatilitas

Jusman Syafii Djamal
May 17, 2018

“Think small, act fast” , fokus pada yang sederhana, bertindak cepat”, adalah pelajaran berharga yang diperoleh pengusaha Indonesia ketika menghadapi krisis 1998. Pada saat krisis ekonomi yang bergulir dari Thailand akibat merosotnya nilai tukar bath yang merembet pada pelemahan nilai rupiah dan menyebabkan banyak perusahaan bangkrut, telah membuat semua pengusaha dan entrepreneur tidak sempat lagi terobsesi pada upaya memikirkan gagasan-gagasan besar dan grandiose.

Pengusaha dipaksa keadaan fokus pada hal-hal yang kecil dan sederhana. Cash flow, likuiditas, uang keluar masuk pada arus kas menjadi pusat perhatian. Semua mengejar upaya untuk tidak terkena krisis. Ketika itu pengusaha tidak punya banyak waktu untuk berasyik masyuk dengan kegelisahan nya sendiri. Sebab “bleeding cash flow” dan hutang terus menekan keadaan. Kecepatan tindakan amat diperlukan”. Dalam krisis ekonomi 1998 ternyata usaha kecil menengah dan sektor informal menjadi bantal kestabilan ekonomi. Pengusaha kecil menengah ternyata lebih tahan banting dan lebih ulet.

“Dari pengalaman mengatasi krisis ekonomi, semua pengusaha Indonesia banyak belajar untuk melihat dan percaya pada kekayaan Manusia Bersumber Daya yang dimilikinya. Ternyata potensi kreatif yang dimiliki untuk merobah kesulitan jadi oportunitas melalui karya cipta sendiri, menjadi kekuatan yang tak dapat diabaikan. Apalagi dalam situasi krisis tidak ada seorang teman tempat bergantung.

Krisis hanya dapat diselesaikan oleh kekuatan diri sendiri. Dari krisis kita belajar ternyata pada tiap meja kerja, tiap mesin, tiap alat, tiap ruang kerja, tiap jenis pekerjaan, tiap bidang keahlian, mempunyai pesarnya sendiri-sendiri. Tiap ruang kerja mempunyai pundi-pundi emas permatanya sendiri,” Karena itu, semua pengusaha ketika itu berupaya untuk mulai membersihkan meja kerja masing-masing karyawannya dari persoalan yang rumit rumit dan jelimet. Para karyawan diminta untuk merapihkan ruang kerja masing-masing, diminta untuk saling bekerja sama bahu membahu dan menjaudi debat berputar putar dan berdiskusi tanpa henti tentang kesulitan ekonomi.

Perusahaan yang cenderung sempoyongan tak mungkin dipaksa menaikkan gaji. Semua berfikir perusahaan lolos krisis 1998 saja sudah harus disyukuri. Semua fokus diarahkan pada upaya menemukan pasar yang dapat diterobos melalui keahlian dan peralatan yang dimiliki. Semua karyawan juga belajar dari krisis bahwa banyak menuntut sesuatu yang tak mampu dipenuhi oleh kesanggupan dana perusahaan akan membawa kejurang kebangkrutan bersama. Karenanya semua pekerja selalu bersatu , tiada yang mencoba jalan sendiri-sendiri apalagi dengan bikin perusahaan dalam perusahaan, atau ancam mengancam mogok kerja yang dapat membangunkan macan tidur berupa situasi impasse deadlock tak ada ujung solusi.

Sebab perilaku semacam itu akan meruntuhkan semua proses restrukturisasi dan turn around untuk merubah musibah jadi berkah. Merubah problema jadi opportunità. Itu adalah pelajaran krisis tahun 98.

Kini kita tidak berada dalam krisis seperti itu lagi. Badai sudah ber lalu. Dari pengalaman dua kali krisis atau gonjang ganjing ekonomi tahun 1997-1998 krisis ekonomi Asia, 2008-2009 tahun finansial krisis , paling tidak pengusaha Indonesia sudah belajar bahwa siklus bisnis memang selalu naik turun, ada pasang surut. Kadangkala krisis menyergap tanpa diduga. Fenomena bisnis kini kian menjadi kompleks. Keterkaitan antar wilayah, globalisasi perdagangan, kekuatan finansial global menyebabkan semua faktor berjalin kelindan. Kelamahan internal berupa kelambatan antisipasi dan tekanan perubahan ekonomi global bisa saling menimbulkan resonansi yang berdampak spiral down. Kejutan dan diskontinuitas pertumbuhan ekonomi bisa lahir tanpa peringatan.

Karenanya kini banyak perusahaan besar yang membelah portofolio bisnisnya kedalam pelbagai Strategic Business Unit dan Unit Profit Center. Sebuah kapal induk direstrukturisasi menjadi memiliki pelbagai fast boat, kapal cepat dan kapal fregat serta kapal selam untuk menghadapi pelbagai kemungkinan ancaman. Restruktursasi melahirkan organisasi yang ramping bermakna (lean and mean), organisasi yang adaptip dan memiliki fleksibilitas untuk memitigasi resiko jika diperlukan.

Melalui cara diskritisasi dgn pembentukan pelbagai unit reaksi cepat dalam skala ukm membuat ruang inovasi perusahaan besar menjadi lebih terbuka. Perusahaan skala besar perlu bertingkah laku seperti usaha kecil menengah. Biaya produksi efisien, penetrasi pasar lebih menonjol memenuhi setiap ceruk pasar yang semakin mengecil. Pakar management high tech company dari MIT menyebutnya dengan istilah Decentralize Empowering and Enabling. DE2. Mengajari Gajah menari. Elephant learning how to dance kata Reformer IBM perusahaan Komputer yang hampir bangkrut ketika Apple dan Windows serta komputer desktop muncul.

Dalam tulisan David Wessel, “In FED We Trust.” Crown Publishing Group, 2009 digambarkan bagaimana Manusia Bersumber Daya Iptek seperti Bernanke (Gubernur Bank Central Amerika), dan Geithner Menteri keuangan Amerika pada tahun 2008 bekerjasama bahu membahu dalam upaya temukan solusi terbaik. Keduanya merupakan “the best among equal”atau primus interpares” yang ahli dari yang expert” pada saat krisis finansial global yg melanda Amerika Serikat.

Keduanya sebagai Gubernur Bank Sentral pengelola instrumen moneter dan Menteri Keuangan sebagai pengelola instrumen fiskal tidak sibuk dan asyik masyuk dengan kejagoan diri sendiri. Masing masing tak merasa syok aksi mempertahankan independensi aktivitas.

Sebab mereka ibarat dua sisi dari mata uang yang sama. Tidak mungkin intrumen moneter bisa bekerja sendiri terlepas dari instrumen fiskal. Karenanya baik Bernanke maupun Geithner telah menunjukkan profesionalisme dan menurunkan ego sektoralnya. Mereka membangun sinergi dan memiliki komitment dan dedikasi untuk secara bersama membangkitkan ekonomi Amerika yang sedang terpuruk ketika itu, dilanda krisis finansial tahun 2008. Dari Geithner kita memperoleh tiga “lesson learned” ketika hadapi krisis yakni :

1. Selalu Pecahkan masalah kompleks menjadi puluhan masalah rinci yang sederhana dan kelihatan mudah dipecahkan. Diskritisasi ” a complex system” through “hundred of subsystems” dengan pembagian tugas dan tim kerja yg profesional.Then, as Geithner always did in a crisis, he divided the necessary work among task forces.

2. Jangan cepat puas pada satu solusi. Sebab satu solusi belum tentu terbaik. Terus Lakukan proses Iterasi. Batin dan daya imajinasi kita harus terus diasah untuk senantiasa trengginas dan tidak pernah cukup puas dgn jawaban sembarangan dan apa adanya.

Kita perlu mengembangkan daya kritis dan daya imajinasi Staff atau bawahan kita agar mereka menjadi problems solver yang andal. Karenanya kita harus meminta mereka pulang balik, lakukan pelbagai telaahan dan sugesti solusi. Jika perlu tiap dua jam mereka harus datang kembali dgn pilihan solusi yg lebih baik.

Hanya melalui masalah yang berat kecerdasan seorang staff dan teamwork dapat dikembangkan.”He is very iterative,” one of Geithner’s aides said. “What’s the best idea? Go back and work on it. Come back in two hours.

3. Jangan pernah menyatakan “we give up”, kita menyerah. Kembangkan semangat Tak kenal putus asa u dapat solusi terbaik pada para staff.
Bangun ekosistem intelektual dalam ruang kerja yang selalu berupaya teliti, cermat dan berdialog tentang pelbagai solusi. Sebuah ekosistem dimana para karyawan dan staf secara teliti dan cermat serta cekatan membuat solusi terbaik perlu terus menerus ditemukan dalam dialog dan iterasi.

Jika perlu bolak balik 500 kali untuk ketemu policy terbaik bagi Bangsa dan Negara agar terhindar dari krisis finansial, Mengapa tidak. Ya ke 500 proses iterasi dilakukan dengan penuh kesabaran.
He’s incredibly tenacious. He just keeps going. How many iterations are required to get to where we want to go? Five hundred? OK, I’ll go to five hundred.”

Itulah yang kita bisa pelajari dari dua krisis 1998 dan 2008.Fokus pada yang sederhana dan kecil. Think Global act Locally. Think on small things act fast merupakan strategi jitu menemukan cahaya diujung lorong yang gelap gulita.

Sun Tzu. dalam “The Art of War.”, merekomendasikan agar “Setiap pekerjaan besar itu lebih mudah dimulai dari yang kecil. Membuat langkah perubahan, merencanakan langkah aksi atasi problem yang sukar dicapai hendaknya dilakukan ketika tak menghadapi kendala dimana semua terasa mudah.

“Plan for what is difficult while it is easy, do what is great while it is small. The most difficult things in the world must be done while they are still easy, the greatest things in the “world must be done while they are still small.

Mohon maaf jika keliru, Salam

Kurangi Jumlah Entrepreneur! — Catatan Iman Supriyono

Quote

Oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting, IG: @imansupri Apakah judul tulisan ini salah? Tidak. Judul tulisan ini benar dan kita harus melakukan itu jika kita ingin bangsa ini kuat secara ekonomi. Menjadi bangsa bos. Bukan bangsa anak buah. Menjadi bangsa produsen. Bukan bangsa konsumen. Kok bisa? Lalu bagaimana dengan mereka-mereka yang selalu berkampanye agar orang-orang […]

via Kurangi Jumlah Entrepreneur! — Catatan Iman Supriyono

Hantu disiang bolong dan Future Scenario ? : Catatan Pertama

JUSMAN SYAFII DJAMAL·
SATURDAY, APRIL 7, 2018

Seorang teman anjurkan saya membaca buku novel of the next world war berjudul Ghost Fleet, karya p w singer dan August cole, pesannya Bang Jusman harus tuntas menikmati nya nanti buat ringkasan di facebook. Sy kebetulan sedang Ke Tiongkok. Jadi “homework” Teman junior saya untuk membaca novel itu terpaksa dilakukan diwaktu senggang dalam perjalanan.

Kebetulan sy sedang diundang mengunjungi beberapa universitas di Tiongkok. Guandong University of Finance dan Zhejiyang Technology University . Saya diundang Ke Guangdong University of Finance , universitas keuangan yg didirikan oleh Bank Sentral tahun 1950 , untuk diberi kehormatan sebagai Professor Emeritus Keuangan.

Saya tadinya bingung sebab kata Emeritus berarti Pensiunan. Mereka non menjelaskan bahwa Di Tiongkok pemahaman ttg Emeritus bukan untuk pensiunan. Guru Besar Emeritus bukan jabatan yg punya tanggal berlaku, tidak kenal kata Pensiun. Tacit Knowledge dan Wisdom nya lebih Utama. Istilah Emeritus disematkan untuk mereka yg dinilai Senat Guru Besar telah mengabdi 30 tahun dalam pengembangan iptek.

Menurut Senat mereka , catatan pengalaman sy dalam bidang pengembangan iptek sebagai assisten utama Prof Dr. Ing BJ Habibie selama bekerja di IPTN lebih 20 tahun, telah dpt disetarakan dgn pengabdian 30 tahun dalam dunia iptek.

Karenanya Mereka ingin sy diberi gelar kehormatan sebagai Permanent Professor, tanpa batas waktu. Sebelumnya Zhejiyang University of Technology telah anugerah kan saya sebagai Honorary Guest Professor pd tahun 2016.

Kata penterjemah mereka seorang Professor yang berasal dari Singapura, Istilah Emeritus yg digunakan mirip seperti kata yg disematkan untuk Go CHOK Tong, beliau diberi kehormatan oleh pemerintah Singapore sebagai Emeritus Senior Minister. Jadi Emeritus artinya tanpa batas waktu pensiun. Alhamdulillah Saya Sih senang saja dan Welcome. Semua patut disyukuri Alhamdulillah. Semuanya atas izinNya.

Sebagai visiting Professor saya selalu diundang makan siang Dirjen Pendidikan Tinggi di kota Hangzhou. Kali ini sy direkomendasi untuk mampir di kota tua Wushen untuk melihat kota berusia 500 tahun. Ia minta saya melihat pembangunan infrastruktur transportasi masa lalu, jalan Dinasty Tang. Di kota ini ada lintasan kanal buatan manusia sepanjang 1750 km. Sebagai wahana infrastruktur transportasi angkutan barang di masa lalu. Juga saya diminta mampir sejenak Ke Head Quarter Alibaba dalam perjalanan Ke kota Wushen dan Suzhou dari Hangzhou.

Saya diminta menginap Di kota Suzhou , kata mereka ini Venesia of The East. Disini saya sempat duduk duduk di pinggiran danau buatan bernama Golden Chicken. Danau buatan ini diciptakan ditengah kompleks kawasan Industri yang dibangun Singapore tahun 2006. Kawasan Industri ini awalnya dimiliki Singapore 65% saham nya dan 35% sahamnya dipunyai Pemda kota Suzhou, melalui Town n Village Enterprisesnya.

Kini setelah 10 tahun kawasan industri ini dimiliki Pemda Kota Suzhou 65% dan 35% Singapore. Di Suzhou ada danau alam yg amat luas dan terkenal dengan budi daya kepiting telur. Satu pertiga dari daging kepiting adalah telur kepiting Karenanya makanan terkenal kota ini adalah telur kepiting. Dikota ini ada taman Unesco Heritage berisi pelbagai jenis bunga pohon dan villa yg dibangun 700 tahun lalu. Di pinggir danau dengan ipad yg selalu saya tenteng di ransel saya bisa membaca novel fiksi Armada Hantu itu .

Belum tuntas tapi sudah ketemu plot nya. Membaca novel fiksi sebetulnya seperti menerawang kedalam alam fikir penulisnya. Membaca framework. Tak mungkin ada fiksi dan novel tanpa franework. Kerangka fikir itu yg membuat sebuah novel fiksi tidak sama dengan tulisan ilmiah. Ruang interpretasinya terbatas dalam plot dan counterplot yg dikembangkan nya Adabatas gerak maju agar Novel fiksi tidak jadi mulur mungkret seperti karet gelang yg bisa dijadikan ketapel kesana kesini.

Semua prediksi ataupun novel memiliki ruang interpretasi. Tergantung pada frame work dan plot yang dibangun penulisnya berdasarkan “preskripsi” atau “asumsi tertentu”. Seperti juga obat, tiap dokter pastilah melakukan diagnosa dan prognose atas kondisi tubuh pasien, agar resep yang ditulis dan obat yang ditelan secara teratur akan melahirkan kesembuhan ces pleng, ataupun bertahap.

Bagi saya yg memiliki latar belakang teknologi Novel itu menyenangkan sebab disini pemahaman tentang technology sebagai “tools and equipment” serta ekosistem membangun kekuatan militer dan soft power suatu Bangsa dapat dinikmati pemahaman nya.

Novel ini menarik karena dimulai dari kisah tentang “fail state”. Negara gagal yg muncul bukan karena policy economy yg salah dan keliru.Melainkan karena kekeliruan ambisi militer untuk kembali ber perang me lakukan aneksasi untuk kedua kali .

Dalam awal cerita novel dikembangkan fiksi bahwa Negara gagal itu ekonomi nya sedang goncang akibat Perang ekpansionis yg menyebabkan banyak dana dan cadangan finansial terkuras Sebab kedua muncul akibat sumber ekonomi nya sukar bangkit kembali setelah dana terkuras akibat perang.

Mengapa ? karena dunia alami krisis ekonomi ketiga. Sebuah rangkaian bom menghancurkan sumur dan ladang minyak di Saudi Arabia. Akibat yg muncul terjadi kenaikan harga minyak hingga 200 dollar.

Jadi Negara gagal yg dimaksud Novel ini adalah akibat kesalahan Grand Strategy militer dan ekonomi yg didominasi fikiran ekspansionis, perebutan wilayah, ditengah fondasi ekonomi sosial dan politik yg tidak mendukungnya akibat gejolak ekonomi dunia yg awalnya tdk masuk skenario

Kebetulan negara yg diambil contoh oleh penulisnya bernama Indonesia .

Plot pertama itu kemudian diikuti oleh plot kedua. Di Tiongkok terjadi gerakan massal mirip seperti robohnya tembok Berlin. Dominasi Partai komunis dan sistem sebtralistik runtuh.

Muncul Presiden dan Perdana Menteri yg lahir dari kombinasi tiga unsur Military – Businessman – Politician. Ketiga troika ini memilki ambisi ekspansionis dan membangun kekuatan militer untuk menyerbu Hawai.

Plot yg mengulangi kisah awal Perang Dunia Kedua dimana kemajuan teknologi dan industri Jepang diarahkan untuk membangun armada kapal induk dan pesawat terbang untuk menyerang Pearlharbour.

Disini penulis membangun kisah menarik tentang kemajuan teknologi Digital, drone. Robotics. Brain and bio engieering in artficial iteligence. Yg membuat Novel ini kemudian jadi bacaan wajib Para mahasiswa di akademi militer karena deskripsi teknologi yg dikemukakan ditulis oleh pakar atau expert mumpuni .
Sebuah Sciience fiction yg membuat kita terkesima.

Dari dua plot yg dikembangkan penulisnya, saya jadi merenung apa scenario novel fiction Ghost Fleet tentang Negara Gagal bernama Indonesia itu mungkin terjadi dimasa depan ?

Kalau mungkin bagaimana kalau tidak Mengapa ?

Saya ber pendapat tidak mungkin cerita negara gagal dalam kisah Novel itu terjadi. Jauh panggang dari api. Mengapa ? Sebab sy belum menemukan indikasi adanya trend masa depan politik ekonomi dan militer yg menyebabkan kita punya kehendak lakukan langkah agresif sebagai suatu bangsa.

Sy belum melihat ada indikasi munculnya kekuatan politik ekonomi yg menyebabkan Indonesia vulnerable. Tak mungkin tahun 2030 ada tokoh ambisius yg gandrung pada Langkah ekspansionis yg melahirkan perang dikawasan ini yg menyeret sumber ekonomi negara ketitik terendah.

Jadi ditengah keindahan tepi danau Suzhou itu saya membuat catatan awal tentang novel fiksi ini.Mohon maaf tidak diteruskan sebab cuaca dingin mulai bikin memggigil. Dan saya harus pergi Ke kunjungan berikutnya.

Mohon maaf jika keliru.

Salam