Masa Depan Toko Kelontong dan Pasar Tradisional di tengah Gelombang Disrupsi Teknologi Digital

JUSMAN SYAFII DJAMAL·
TUESDAY, MARCH 6, 2018

Anak saya yang sedang kuliah di ITB dan mengerjakan tugas akhir, pulang ke Jakarta di akhir minggu. Ketika ia saya ajak takjiah mengunjungi keluarga teman saya yang wafat, di dalam mobil ketika liwat jalan kali malang menuju pondok bambu, kami sempat ngobrol dan bercerita tentang buku yang ia mau diskusikan ke saya. Judulnya Reengineering Retail : The Future of Selling in the post Digital World, karya Dough Stephen. Sebelumnya Dough Stephen menulis buku The Retail Revival. Buku ini bab pertamanya sudah seram : Retail is Dead ?

Melalui pelbagai kemacetan yang ditemui sepanjang jalan menuju rumah sahabat tersebut kami berbincang tentang buku yang memiliki beberapa trend menarik. Pada tahun 2013,maraknya pertumbuhan e-commerce telah jadi fakta tak terhindarkan. Pada tahun fiskal yang berakhir pada bulan Maret 2013, Alibaba membukukan laba bersih sebesar 1,6 miliar dollar US . Sementara Amazon belum menghasilkan keuntungan , meski penjualan mendekati angka 68 miliar dollar.

Meskipun e-commerce di India tahun 2016 baru mencapai 16 miliar dollar US. Angka relatif kecil, tetapi Morgan Stanley memperkirakan dalam empat tahun, angka tersebut dapat melonjak tujuh kali. Didorong oleh pertumbuhan eksponensial dalam keterhubungan tiap orang dan komunitas melalui internet. Kini hampir dua puluh orang India terhubung ke Internet untuk pertama kalinya. Setiap detik bertambah tiga pengguna baru.

E-niaga di India, diproyeksikan menciptakan 12 juta pekerjaan baru di India tahun 2025. Pada 2016, India melampaui A.S. sebagai pasar global kedua yang paling terhubung dengan Internet. Penggunaan internet tumbuh sekitar 40 persen per tahun. Pada tahun 2030 lebih dari satu miliar orang India akan online. Adopsi mobile India juga tumbuh dengan kecepatan mengejutkan. Pada 2016, satu dari empat perangkat mobile adalah smartphone.

Ketika pengecer tradisional melalui toko dan mall, merasa aman dengan keyakinan bahwa pembeli e commerce hanya berfokus pada kategori barang tertentu, seperti pakaian, perabotan dan mobil. Dan masih jutaan produk lain yang tidak tersentuh. Akan tetapi keyakinan ini mulai memudar.

Toko tradisional tidak memiliki “surga penyelamat lagi”. Alibaba dari peritel digital dari Tiongkok telah mencetak rekor dunia Guinness book. Melalui jaringan online business yang ia kembangkan ia berhasil menjual enam puluh lima mobil secara online dalam satu hari. Jadi jika kita seorang dealer mobil, kita menjadi gugup.

Pada tanggal 11 November 2016, Alibaba menjual barang dagangan senilai 5 miliar dollar US melalui ecommerce. ini berarti terjadi transaksi 83 juta dollar dalam penjualan per menit atau $ 1,4 juta per detik. Padahal satu toko “Home Depot” seperti Giant dan Carefour diprediksi rata-rata hanya berhasil menjual sekitar 36 juta dollar setiap tahunnya. Jadi, dalam 60 menit pertama Alibaba bertransaksi secara signifikan lebih banyak dua kali, dua toko Home Depot dalam satu tahun fiskal penuh. Bagi Alibaba, ini merupakan lonjakan penjualan lebih dari 40 persen dari satu tahun sebelumnya.

Kita saksikan kekaisaran Amazon tumbuh terus. Mereka kini telah menyaingi perusahaan seperti United Parcel Service (UPS) dan FedEx. Pada bulan November 2015, disebabkan oleh kegagalan UPS mengirim barang yang sudah dipesan pelanggan Amazon, perusahaan tersebut masuk ke dalam kesepakatan untuk membeli “ribuan” mobil pengangkut untuk lebih efektif memindahkan barang dari gudang ke pusat distributornya.

Amazon juga mengajukan paten agar armada jaringan truk juga digunakan sebagai pusat distribusi bergerak. Dapat ditemukan dan dimanfaatkan siapa saja, untuk melayani kebutuhan siapapun berdasarkan aktivitas musiman, arus penjualan dan bahkan waktu delivery dalam sehari.

Amazon juga mengadakan kesepakatan dengan Air Transport Services Group (ATSG) pada bulan Maret 2016. ATSG akan mengoperasikan armada transportasi udara dengan dua puluh pesawat kargo jenis Boeing 767F.

Selain layanan operasional, kesepakatan tersebut membuat Amazon membeli 20 persen saham ATSG. Sebulan kemudian, rumor berkembang bahwa Amazon mungkin telah melakukan negosiasi untuk membeli Bandara Frankfurt-Hahn di Jerman. Bandara, yang telah kehilangan dan kekurangan dana yang ditawarkan untuk dijual pada Februari tahun 2016. Amazon, menurut sebuah surat kabar Jerman, adalah satu dari tiga penawar.

Pada tahun 2013, Google meluncurkan Google Shopping Express. Layanan yang memungkinkan pembeli memesan dari berbagai sumber pengecer barang yang berpartisipasi di webshopping center tersebut. Program ini kemudian berganti nama menjadi Google Express dan diperluas untuk mencakup lebih banyak kota. Salah satu motivasi mendasar yang mendesak Google melahirkan Google Express adalah bahwa Google sebagai mesin pencari memiliki saingan “head to head”.

Sebagian pelanggan Google telah berpindah saluran lalu lintas search engine nya ke Amazon. Ternyata kemampuan Amazon untuk memamerkan jutaan produk di toko online nya telah membuat ia menjadi mesin pencari secara defakto. Pelanggan tidak perlu melewati Google saat mencari produk. Marc Andreessen telah memprediksi bahwa jutaan pengecer akan gulung tikar dan e-commerce akan menjadi tempat orang berdagang dan membeli. Arena trading baru.

Kini, sebagian besar pengecer atau toko retail raksasa sedang berjuang untuk bermain catur melawan bisnis online, Amazon telah menjadi grand master nya. Amazon sebagai salah satu pelopor e-commerce selalu berpikir beberapa langkah didepan . Kini ia menjadi “benchmark” yang ditiru banyak generasi millenial.

Seperti yang dikatakan analis Scott Galloway, “Strategi Amazon adalah strategi last mile atau last man standing on the street”. Amazon melakukan Investasi multi-miliar dollar untuk mencapai mil terakhir. Amazon terus menerus membangun infrastruktur e commerce yang luar biasa. Ia membeli perusahan “trucking”, akuisisi “warehouse atau pergudangan”, membeli perusahaan pembuatan drone dan robot kyva.

Mereka sangat agresip baik melalui proses merger dan akuisisi atau inorganic growth, maupun dengan merekut pelanggan untuk pertumbuhan organic melalui peningkatan jumlah pelanggan dan volume barang yang laku.

Amazon telah mempelopori bisnis online, untuk benar-benar mengubah harapan para pembeli. Mereka menawarkan kemudahan. Dengan sekali “browsing” dan “click” transaksi terjadi dan pengiriman barang yang cepat dan gratis terlaksana.

Amazon seperti telah menulis ulang peraturan bisnis retail modern. Memaksa industri ritel secara keseluruhan bermain dengan gendang mereka atau mati. Mereka memancing agar peritel lain mengikuti langkah investasi mereka dan agar kehabisan oksigen finansial dan bangkrut.

Masalah yang dihadapi oleh toko tradisional dan mall sebetulnya bukan hanya tentang Amazon dan Alibaba. Kedua perusahaan ini mungkin tidak akan mengubah situasi yang dihadapi industri ritel.

Akan tetapi jaringan dibalik Amazon dan Alibaba, bagaimanapun, adalah tim digital yang tumbuh dari entrepreneur startups yang terus menerus mendorong inovasi yang bersifat disruptip.

Pada tahun 2016, misalnya, Unilever membayar $ 1 miliar untuk pengecer langganan pria, Dollar Shave Club. Dengan 3 juta pelanggan yang berlangganan dan tergabung didalamnya, Dollar Shave Club telah mencatat penjualan barang barang keperluan pria seperti pisau cukur ternama Gillette, minyak wangi dan lain sebagainya sebesar $ 200 juta.

Pada tahun 2012, Blue Apron telah menawarkan bahan makanan rumahan melalui online. Dengan value $ 2 miliar, perusahaan tersebut sekarang menjual 3 juta makanan per bulan dan memberi berani memberikan insentif kepada pedagang kelontong dalam proses pembuatan makanan rumah tangga.

Kini Costco pun tidak aman lagi. Boxed Wholesale, yang didirikan pada tahun 2013, memungkinkan pembeli online, bertransaksi secara massal dengan harga grosir. Mereka kini tak pernah menginjakkan kaki di Costco lagi. Tahun 2016, ada 5.721 startups terdaftar di satu situs investasi malaikat (Angel Investor List).

Kini boleh dikatakan, tidak ada lagi kategori layanan atau barang dagangan yang aman dari gangguan digital retail. Jika kita seorang pengecer, secara matematis seharusnya kita sudah tenggelam ditelan gelombang ecommerce. Keseluruhan e-commerce global terus bertambah setiap tahun dengan angka pertumbuhan dua digit.

Perusahaan E-commerce tampaknya menjadi hiu yang berenang di air jernih. Memangsa toko tradisional dan pengecer. Satu-satunya pertanyaan yang tersisa adalah, bisakah pengecer melakukan sesuatu untuk menghentikan hiruk pikuk kehadiran ikan hiu – ecommerce yang terus memangsa makanan yang tersedia ?

Pengecer di seluruh dunia sedang berjuang melawan kenaikan dominasi ‘e commerce” ini. Banyak peritel tradisional yang terpaksa melakukan proses restrukturisasi biaya, cost cutting, efficiency, layoff karyawan, menutup jaringan toko tokonya. Restrukturisasi organisasi dan finansial.

Banyak fakta yang memperlihatkan trend Aktivitas penjualan melalui toko kelontong dan bisnis retail tradisional yang dirampingkan. Penutupan jaringan toko yang dimiliki. Banyak toko tradisional mengkonsolidasikan diri. Semua pusing tujuh keliling berhadapan dengan kenyataan akan berkurangnya pangsa pasar dan volume penjualan. Sumber revenue yang terus menyusut setiap hari. Dan mengkhawatirkan.

Tiap hari seolah ada krisis. Bagi yang memiliki pinjaman modal investasi dan modal kerja, ada potensi gagal membayar pinjaman. Akibatnya Ada yang dengan tegas telah melempar handuk dan nyatakan kebangkrutan. Ini trend di belahan dunia lain. Tidak di Indonesia.

Bagaimana di Indonesia ? Apakah semua pedagang retail tradisional merasa nyaman dan masih terus berpangku tangan terhadap trend dunia yang berubah ini ?

Wallahualam.

Salam

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s