Tertib itu Budaya?

Hasanudin Abdurakhman
24 Oktober, 2016

Saya pernah tinggal di Jepang selama 10 tahun, sehingga boleh dibilang saya hafal betul dengan kebiasaan-kebiasaan mereka. Tapi ketika kembali berada di tengah mereka, mau tak mau saya harus kembali terkesan dengan ketertiban mereka. Saat berjalan di kota, ketika hendak menyeberang jalan saya berdiri di ujung zebra cross.

Dengan pola pikir Indonesia saya menunggu kendaraan yang lalu lalang sedikit sepi, baru saya hendak menyeberang. Tapi kemudian, kendaraan yang lewat segera memperlambat lajunya, kemudian berhenti di zebra cross, memberi kesempatan pada saya untuk menyeberang. Kejadian ini menyadarkan saya bahwa saya sedang kembali ke Jepang.

Tidak hanya pengendara mobil yang tertib begitu. Pejalan kaki juga tertib. Saat lampu lalu lintas untuk pejalan kaki masih menyala merah, para pejalan kaki berhenti, menunggu sampai lampu berganti warna menjadi hijau, meski jalan yang mereka lalui sangat sepi dari kendaraan.

Orang Jepang itu tertib, itu budaya mereka. Hal itu sangat sering kita ucapkan dalam berbagai obrolan maupun diskusi. Tapi benarkah tertib itu budaya? Apa sih budaya itu? Ada begitu banyak definisi budaya. Budaya bisa didefinisikan sebagai hal-hal yang terkait dengan akal budi manusia. Atau, kita bisa pula mendefinisikan budaya sebagai suatu tata cara hidup yang berlangsung secara turun temurun. Tertibnya orang Jepang berlangsung dari generasi ke generasi, sehingga kita menyebutnya sebagai budaya.

Menariknya, saya pernah mendapat sudut pandang yang berbeda dari Prof. Sakurai, seorang ahli sosiologi Universitas Tokyo, dalam sebuah obrolan. Menurut dia, budaya adalah sesuatu yang lahir dari alam dan lingkungan, sehingga terkait erat dengan dua hal itu. Misalnya, pakaian, itu adalah produk budaya. Di daerah dingin orang akan memakai pakaian tebal. Pakaian itu hanya cocok untuk daerah dingin. Kebiasaan tertib, menurut definisi Prof. Sakurai ini bukanlah budaya, melainkan teknik.

Sebagai karyawan perusahaan Jepang saya kerap menyaksikan konflik antara ekspatriat Jepang dengan karyawan lokal. Orang-orang biasanya menyebut kejadian itu sebagai konflik akibat perbedaan budaya. Tapi dalam hal apa mereka berselisih? Biasanya soal tepat waktu, ketertiban dan kebersihan. Apakah ini soal budaya? Bisa iya, bisa tidak. Ada begitu banyak definsi, dan kita bebas untuk memakai yang mana pun. Berdasarkan definisi yang kita pilih, kita bebas mengatakan ini budaya atau bukan.

Banyak orang yang merasa nyaman dengan menyebut ketertiban itu sebagai budaya, spesifiknya budaya Jepang. Apa konsekuensi penyebutan itu? Tertib itu budaya Jepang. Tentu saja bukan budaya kita. Karena itu kita tidak perlu tertib, bukan?

Mari kita lihat bagaimana hal yang kita sebut sebagai ‘budaya Jepang’ itu dibentuk. Kebetulan saya mendapat SIM pertama kali di Jepang. Bagaimana caranya? Saya belajar di sekolah mengemudi. Di sekolah itu kursus mengemudi dibagi dalam 2 bagian.

Pada bagian pertama peserta diajari menyetir dalam sirkuit (bukan di jalan raya). Ia harus melalui 15 tahap pelajaran. Satu tahap menghabiskan 1 jam pelajaran. Itu kalau peserta memenuhi syarat yang diperlukan untuk pindah ke tahap selanjutnya dalam 1 jam tersebut. Kalau tidak, maka ia harus mengulang. Begitu pula pada tahap selanjutnya. Artinya, pada bagian pertama ini seseorang harus menjalani sedikitnya 15 jam latihan. Saya sendiri harus menjalani 17 jam latihan.

Di luar latihan praktik, peserta juga harus mengikuti kuliah teori sebanyak 15 jam pelajaran. Di akhir bagian pertama peserta akan diuji, baik praktik maupun teori. Kalau tidak lulus, harus mengulang. Kemudian ia akan mulai latihan di jalan raya, dengan cara yang sama, minimal 15 jam. Itu juga masih ditambah lagi dengan kuliah teori sebanyak 15 jam juga. Saya harus menghabiskan 20 jam praktik pada bagian ini. Setelah itu barulah peserta menjalani ujian praktik dan teori. Kalau tidak lulus ia harus terus menerus mengulang ujian, sampai lulus.

Semua proses itu menghabiskan biaya setidaknya JPY 250.000, setara dengan Rp 25 juta. Banyakkah jumlah itu? Sebagai perbandingan, seorang sarjana S1 yang baru lulus akan digaji sekitar JPY 150.000. Artinya, seseorang perlu menghabiskan sedikitnya sekitar 2 bulan gajinya untuk membayar biaya kursus mengemudi. Ini bukan biaya yang murah. Dengan cara itu setiap calon pengemudi digiring untuk serius dalam belajar mengemudi, sampai ia betul-betul menguasai teknik dan teorinya.

Cukup? Belum. Jepang menerapkan sanksi yang tegas bagi pelanggar aturan lalu lintas. Mulai dari denda yang tinggi, sampai hukuman kurungan. Seseorang yang berkendara tanpa SIM tidak akan didenda, tapi langsung dikenai hukuman kurungan atau penjara. Pengemudi yang melakukan pelanggaran berat akan disuruh mengulang sejumlah jam pelajaran di sekolah mengemudi. Bahkan ada yang SIM-nya dicabut seumur hidup, tanpa hak untuk mendapatkannya kembali. Peraturan ini ditegakkan tanpa pandang bulu.

Jadi, apakah tertib itu budaya Jepang? Apakah hal itu didapatkan setiap orang otomatis secara turun temurun? Tidak. Perilaku tertib itu didapat melalui proses pendidikan yang ketat, baik melalui sekolah mengemudi maupun penegakan hukum. Tentu saja itu masih ditambah lagi dengan teladan yang baik dari penegak hukum.

Dalam hal konflik di perusahaan Jepang, saya lebih suka menyebutnya sebagai konflik antara common sense dengan common nonsense. Orang-orang Jepang yang biasa tertib itu sebenarnya hanya menjalankan common sense. Mereka berkonflik dengan orang-orang lokal yang biasa menjalankan common nonsense. Dalam bahasa Prof. Sakurai tadi, perilaku tertib sebenarnya adalah teknik, bukan budaya.

Apakah kita hendak menyebutnya budaya atau bukan pada akhirnya tak penting. Yang penting adalah, kita mau menerapkannya atau tidak. Kalau kita terapkan, maka perilaku itu akan menjadi budaya kita.

Sesungguhnya bukan hanya orang Jepang yang bisa begitu. Perusahaan-perusahaan Jepang menerapkan sistem penataan tempat kerja dengan konsep seiri, seiton, seiso, seiketsu, shitsuke, yang dikenal dengan istilah 5S. Konsep ini dipakai di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Artinya, perilaku tertib, bersih, tepat waktu, dan sebagainya itu adalah sesuatu yang bisa dilatihkan, dan menjadi kebiasaan. Kalau kita mau menyebutnya sebagai budaya, boleh saja. Yang penting kita ingat, bahwa perilaku itu bisa dimiliki siapa saja, bukan hanya orang Jepang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s