Cultural Computing : Travel Note ke Kyoto University (Traveling Note 5)

Jusman Syafii Djamal
Dec 28, 2016

Cultural Computing : Travel
Note ke Kyoto University

Teman FB sy Bung Bagus Endar dan Djedi Widarto Yg pernah lakukan Doctoral Research di Kyoto University bercerita tentang kenangan “ngelmu” di kampus ini. Kata mereka disini Culture and Technology dipadu padankan secara selaras untuk penguasaan iptek bagi kesejahteraan bersama.

Kampus ini kampus no 2 tertua di Jepang berdiri Juni 1897. Di kampus ini mahasiswa dan dosen nya bersepeda. Kampus ini membangun tradisi sebagai Research Center.

Salah satu yg menarik perhatian saya di kyoto university ini adalah karya Cipta Prof. Tosa yang mengenalkan istilah Cultural Computing. Rasa ingin tau Prof Tosa menyebabkan ia mengajukan pertanyaan :”Apakah dimasa depan tatacara mengapresiasi kultur yang berbeda baik karena beda suku, agama atau bangsa itu akan berubah dengan kehadiran masyarakat digital ?”.

Dulu interaksi tatap muka, membaca buku, menonton filem dan theater serta drama bisa jadi jembatan untuk multi kultur. Kini budaya internet menyebabkan tendensi untuk saling kenal tatap muka memudar. Apakah kemudian kita jadi inward looking atau bisa tetap outward looking dan memiliki kekuatan untuk merengkuh harmoni dalam perbedaan ?

Mungkinkah kita masih memiliki emphati dan masuk ke “deeper level of understanding” jika terus menerus berinteraksi dgn komputer, internet dan smartphones ? Sebuah pertanyaan yang menarik sebagai bahan Riset. Jenis pertanyaan seperti ini lab yang membuat kampus kyoto berbeda dari Kampus tua lainnya. Ada kecendrungan untuk menemukan Pola interaksi kultur dan teknologi bagi masa depan bersama.

Istilah cultural computing sendiri mengingatkan saya ketika masih kerja di Telkom Indonesia. Ketika itu dikenalkan istilah “cloud computing”. Penyimpanan Data dan informasi serta software ditempat terpisah bernama data center. Kita tak memerlukan lagi perangkat penyimpan informasi seperti USB, hard disk, external drive dan lain sebagainya. Komputer dari desktop , notebook laptop berubah jadi papan baca seperti ipad. Ada yang hilang dari genggaman.

Seolah data dan informasi yang kita miliki kita serahkan penguasaan nya pada pihak ketiga. Padahal kendali masih dimiliki dengan sistem data security yg kita kembangkan. Banyak yg tak memahami akan bilang wah kedaulatan atas data dan informasi rahasia kita lepas ke pihak ketiga.

Mungkin kehawatiran yg sama hinggap dalam fikiran Prof Tosa ketika mengintroduce istilah Cultural Computing ? Sy tidak tau pasti. Yang jelas berkunjung ke kampus Kyoto ini menyenangkan. Di kampus ini saya juga bertemu resep minuman bir tak beralkohol dari sungai Nil, Mesir zaman dulu. Dijual dicafetaria mahasiswa. Ada 4 jenis rasa.

Dengan proses rekayasa ulang berdasar penelitian literature masa lalu, resep dan tatacara produksi tua itu ketemu kembali. Suatu topik Riset teknologi produk kerjasama Waseda dan Kyoto University. Menjejaki produk minuman zaman Mesir Kuno untuk ditemu kenali dan direvitalisasi jadi produk masa kini.Seolah seperti Daur ulang tetapi dengan proses kimiawi yang belum tentu sama. A New persfektive on the old problem. Inovasi yang lahir dari rahim tradisi universitas tua di Jepang Waseda dan Kyoto.

Mohon maaf jika keliru. Salam

Advertisements