Jusman Syafii Djamal
December 11, 2016 ·

Tiga hari aku berada di jogja. Kota yang kukenal di tahun 80 an sebagai Kota sepeda dan mahasiswa. kini banyak berubah. Motor dan Mobil bikin kota ini mirip Bandung Jakarta dan Denpasar . Di akhir pekan macet nya bikin tak nyaman.

Tiga hari aku kemari bukan liburan. Melainkan diundang sahabat lama tukar fikiran. Prof Baiquni 80 an ketika sedang tugas akhir mahasiswa kalau ke Bandung sering mampir di Cimandiri 26 dan naik mobil vw combi ku ketika itu. Kini beliau jadi salah satu penggerak SDG di GAMA

Jumat aku diminta olehnya tampil dalam diskusi dengan Guru Besar dan Mahasiswa Fakultas Geography dalam seminar Sustainable Development Goals. Aku beruntung bertemu Prof Suratman Wakil Rektor, Dekan Fakultas Geography seorang Maha Guru termuda di Gajah Mada saat ini dan Prof Baiquni yg menjadi tuan Rumah serta Guru Besar lainnya.

Didepan para beliau kupaparkan masalah yg menurutku mendesak untuk ditemukan langkah aksinya. Makalah kuberi Judul Geography of Inequality and The Role of Innovation. Geography Kesenjangan dan Peranan Inovasi sebagai Engine of Economi Growth. Dua tantangan utama Sustainaibility.

Menurut data yg kuperoleh dari World Bank, Kesenjangan sosial yang diperluhatkan dalam indeks Gini yang meningkat sejak tahun 1980 hingga 2014 menunjukkan trend Pembangunan Ekonomi yang belum diikuti oleh Pemerataan.

Meski dari tahun 1980 hingga 1997 trend Angka kemiskinan terus turun. Dan tahun 1997-1999 kemiskinan meningkat akibat Krisis ekonomi Asia. Ada petunjuk bahwa sejak tahun 2000 hingga 2014 Angka kemiskinan berhasil ditekan menurun. Mereka yg miskin berpenghasilan dibawah 2 dollar perhari seperti standard World Bank, berkurang jumlah nya.

Tapi dipihak lain kesenjangan ekonomi yg tercermin pada indeks Gini menunjukkan trend meningkat.

Ini grafik pertama yg kutonjolkan sebagai problema dalam diskusi itu. Grafik ini kuikuti dgn mapping tentang kesenjangan densitas Ekonomi antar wilayah. Kesenjangan komposisi manusia bersumber daya iptek atau skill gap antar sektor antar wilayah. Dan tentu saja geography of inequality in productivity and economic growth.

Pertanyaan utama yg kuajukan pada para hadirin :”Mengapa kemiskinan yang menurun tidak diikuti oleh kesenjangan atau gap yang menyempit pula ? Itu pertanyaan sebagai “challenges” pada upaya mengembangkan Sustainability.

Grafik ini kujadikan bahan diskusi dengan Mahaguru dan Mahasiswa di hari jumat.

Pada kesempatan lain, Di hari Sabtu seorang teman lama Mochtar Abbas mengajakku sharing pengalaman dengan 50 orang anak muda lulusan SMA dan S1 yang menjadi pendamping atau mitra “ibu ibu Rumah tangga miskin” the poorest among the poor di kurang lebih 40 Desa di Jateng dan Jatim. Ia bilang kemarin kau sudah bicara data statistic dan trend inequality atau Kesenjangan, hari ini coba dengar dan amati evidence atau realitas sosial yg sedang berlangsung disekitar kita. Coba sharing disini.

Kebetulan Mochtar ini mahasiswa Matematika ITB yg kukenal sejak tahun 1979. Ia meninggalkan matematika dan pindah jalur menjadi lurah di Desa Pabelan Munkid Muntilan. Kini sejak 17 tahun ia menjadi penggerak institusi micro finance ikuti model Grameen Bank nya Mohamad Yunus pemenang Hadiah Nobel Ekonomi dari Bangladesh.

Alhamdulillah dua hariku di Jogja membuatku banyak belajar. Bertukar fikiran dengan Maha Guru di Gajah Mada tentang geography of inequality bikin mataku melek kembali tentang tantangan kesenjangan ekonomi dimasa depan yang tak mudah.

Generasi anak anak ku masih akan berhadapan dengan benih problem keadilan sosial dimasa depan. Kebhinekaan tak cukup dirajut hanya melalui karnaval kebudayaan semata. Perlu diikuti oleh langkah sistematis bertahap dan berkesinambungan untuk atasi kesenjangan dan kemiskinan yang terjadi di tiap wilayah.

Diskusiku dengan anak anak muda berusia 22-29 yang mau memilih profesi menjadi mitra pembangkit ekonomi dari ibu ibu Rumah tangga miskin didesa melalui institusi micro finance dengan model dana bergulir ala Grameen Bank bikin rasa optimis bangkit kembali.

Malam nya seperti biasa teman2 lama di jogja mengajak ku meyusuri Rumah makan di pinggiran Jogja. Jumat malam lesehan di pasar tua Sate Klatak Pak Bari, Pasar Wonokromo Bantul.

Sabtu malam jagongan di Kopi Klotok Pakem Sleman. Dua model bisnis tradisional yang terus hidup di kota jogja. Model bisnis Rumah tangga yang terus bertahan karena berbasis komunitas.

Sungguh sebuah “rendezvous” dengan masa lalu yg bikin hati terasah kembali . Berdialog dengan Mochtar, Iwan Basri, Yayak, Prof Baiquni dan banyak teman di warung warung seperti itu membuat waktu berjalan begitu cepat.

Mochtar terus saja membawa topik yg membuatku terusik bicara tentang Futuhat Al Maqiyah nya Ibn Al Arabi dan Reconstruction Paradigm nya Mohammad Iqbal fikiran klasik yang terus menerus mengetuk pintu keabadian ingatan kita tentang kebesaran Illahi dan kasih sayangNya pada semua mahluk.

Kata Sustainability terasa seperti sebuah perjalanan “in the making”, mewujud melalui pergulatan tak kenal henti menembus uncertainty.

Ibarat merancang pesawat terbang kata sustainability seolah seperti tantangan bagi perancang integrasi wahana dan Tiap komponen nya untuk mendisain struktur yg tidak rentan pada kelelahan dan perambatan retakan akibat fluktuasi goncangan dan beban tak terduga sepanjang perjalanan menuju tujuan. Kelelahan logam yg muncul akibat perbedaan atau local difference in external loads and internal strength

Apa begitu wallahu Alam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s