Jusman Syafii Djamal
November 23, 2016 ·

Fikir itu pelita hati, begitu kata Guru saya dimasa kecil ketika tinggal di Medan dan Aceh. Dua daerah ini disetiap kota ada kedai kopi dan permainan catur bergelak bersama. Di warung kopi banyak orang menimba ilmu bercerita. Disini jarang tampak orang sedih. Semua gembira tertawa tergelak gelak.Sejak kecil kita diajari oleh guru dan orang tua kita tentang banyak hikayat. Diantaranya dulu ketika kecil saya sering diminta baca buku cerita si kancil.

Cerita tentang kecerdikan dan siasat. Bagaimana yang lemah menggunguli yang kuat yang sewenang wenang. Kancil jadi tokoh utama dalam buku komik. Kancil versus harimau, kancil versus buaya. Dalam setiap episode kancil selamat dari terkaman harimau atau buaya. Pameo lepas dari mulut harimau masuk ke mulut buaya tak masuk dalam kamus kehidupan kancil.

Satu yang masih saya ingat adalah kisah Gong Nabi Sulaeman. Kisah ini bercerita bagaimana kancil yang kecil dan cerdik mencoba membantu nasib kelinci yang sedang diuber uber oleh Harimau untuk dijadikan santapan. Harimau.

Kelinci dan kancil atur siasat “Begini, kelinci, coba kau bilang pada harimau kalau aku , kancil telah menghajarmu. Karena kau sok kuat dan telah menggangguku.

Bilang sama si harimau , aku si kancil sakti ini akan menghajar siapa saja yang berani mengganggu kau. Kau temanku. Jangan macam macam sama kawanku. Kau cubit remuk kubuat jadi kerupuk, termasuk harimau. Apalagi saat ini aku baru diangkat jadi pengawal dan sedang menjalankan tugas penting,” kata kancil pada kelinci. “Tugas penting apa, Cil?” tanya kelinci heran. ” Sudah, bilang saja begitu, kalau si harimau nanti mencariku, antarkan ia ke bawah pohon besar di ujung jalan itu. Aku tunggu Harimau disana.” Itupun kalau berani. Bilang persis seperti kataku ya Kelinci.

“Tapi aku takut Cil, benar nih rencanamu akan berhasil?”, kata kelinci. “Percayalah padaku, kalau gagal jangan sebut aku si kancil “. “Iya, iya. Aku percaya, kata kelinci, tapi kamu jangan sombong, nanti malah kamu jadi lebih sombong dari si harimau lagi.”Si kelincipun menemui harimau yang sedang bermalas-malasan. Si kelinci gugup menceritakan yang terjadi padanya.

Setelah mendengar cerita kelinci, harimau menjadi geram. “Apa ? Kancil mau menghajarku? Grr, berani sekali dia!!, kata harimau. Anak kocik tak ukur otot sendiri. Kuterkam putus kepalanya. Kata harimau. Seperti yang diharapkan, harimau minta diantarkan ke tempat kancil berada. “Itu dia si Kancil!” kata Kelinci sambil menunjuk ke arah pohon besar di ujung jalan.

“Hai kancil!!! Kudengar kau mau menantangku ya?” Katanya kau mau buat aku jadi seperti kerupuk kesiram sayur. Tanya harimau sambil marah.

“Jangan bicara keras-keras, aku sedang menjaga barang wasiat ini”. Ada tugas penting”. “Tugas penting apa?”. Tanya harimau sambil beringsut. Kata kata tugas penting ini bikin Harimau mengkeret juga, rasa ingin taunya bergolak. Lalu Kancil menunjuk benda besar berbentuk bulat, yang tergantung pada dahan pohon di atasnya. “Aku harus menjaga gong wasiat itu.” Gong wasiat apa sih itu?” Tanya harimau heran. “Ini Gong Wasiat Nabi Sulaeman” yang aku harus jaga, jangan sampai ada yang memukulnya.

Sebab kalau dipukul suaranya akan menggetarkan jiwa. Yang memukul akan sakti mandraguna. Harimau jadi penasaran dengar kolak si kancil. “Aku boleh tidak memukulnya?, siapa tahu kepalaku yang lagi pusing ini akan hilang. Dan aku bisa jadi Raja penakluk hutan belantara ini setelah mendengar suara sakti dari gong itu.”
“Jangan, jangan,” kata Kancil.

Makin dibilang jangan, makin penasaran harimau. Si Harimau terus membujuk si Kancil. Setelah agak lama berdebat, “Baiklah, tapi aku pergi dulu, jangan salahkan aku kalau terjadi apa-apa ya?”, kata si kancil.Setelah Kancil pergi, Harimau segera memanjat pohon dan dengan sekuat tenaga ia memukul Gong Nabi Sulaeman itu.

Tapi yang terjadi…. Nguuuung…nguuuung…..nguuuung sekelompok lebah yang marah keluar dari sarangnya karena merasa diganggu dengan pukulan Harimau itu. Lebah-lebah itu mengejar dan menyengat si harimau.”Ternyata yang disebut bende atau gong Nabi Sulaeman itu adalah sarang tawon atau sarang lebah yang bergantung besar berisi puluhan ribu lebah.

Cerita seperti inilah yang membuat kota Medan menyenangkan. Apalagi disini ada Mie Aceh Titi Bobrok, durian Ucok dan Kopi Mandailing serta Kopi Gayo serta Soto Medan , Martabak dan lontong disiram tauco yang maknyus.

Cerita masa kecil di Medan merupakan pelajaran berharga untuk direnungkan. Kadangkala mirip seperti motto engineer yang bilang :” “Don’t fix unbroken part” .Jangan membongkar mesin yang tak rusak perlu jadi pegangan.

Di Bandung dikenal pepatah Caina herang laukna beunang. Tangkap ikannya, Jangan buat air keruh. Pesan bijaksana agar semua orang yang diberi amanah jabatan, tugas pokok dan fungsi memiliki tatacara penyelesaian masalah dengan tenang dan hati hati.

Mengurai benang yang kusut memerlukan tatacara menelisik persoalan hingga rincian dan menemukan solusi tanpa timbul keributan yang tidak perlu.

Didalam tiap masalah pastilah tersembunyi solusi. Tiap sarang tawon menyimpan madu harapan masa depan. Madu ibarat value added, nilai tambah atau nilai guna yang tersembunyi. Tiap business process pada dasarnya adalah mata rantai proses penciptaan nilai tambah dan nilai guna. Proses mentransformasikan bahan baku menjadi produk setengah jadi atau produk jadi. Input di”create value” menjadi output yang deliverable. Tiap mata rantai proses nilai tambah ibarat menyingkirkan lebah dari madu.

Ini pesan hikayat dimasa kecil. Entah berlaku dimasa kini saya kurang tau pasti.

Karenanya dalam suasana perlambatan ekonomi saya kira kisah Kancil dengan Harimau yang rebutan Gong Nabi Sulaeman perlu dibaca ulang kembali untuk direnungkan. Jika setiap orang bebas menabuh “Gong Nabi Sulaeman” . Memukul sarang tawon tanpa fikir tentulah akan lahirkan puluhan atau bahkan ribuan masalah dan problema kecil yang muncul kait berkait.

“Gong Nabi Sulaeman”, selain menyembunyikan madu penyembuh segala jenis penyakit, juga dijaga ribuan lebah. Memukul tanpa kiat dan strategi yang tepat, pastilah yang terjadi semua orang lari lingtang pukang, terbirit birit mencari sungai lari dari sengatan lebah. Ribuan tawon yang mengejar kesana kemari ibarat membuat solusi dengan lahirkan situasi penuh ketidak pastian. Uncertainty,
unpredictable.

Ketidak pastian dan ketidak mampuan memperoleh kepastian akan masa depan ekonomi, adalah musuh pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan memerlukan stability yang dinamis. Unpredictable situation cendrung counter productive.

Dunia sedang bergejolak, peta geopolitik berubah. Bersatu kita Bangkit, Bercerai kita rubuh. “The secret of success in life is for a man to be ready for his opportunity when it comes.”, begitu kata Benjamin Disraeli.

Pesan dimasa kecil, “Hati hati memukul Gong Nabi Sulaeman” perlu dimaknai dengan waspada.Kisah Harimau Sumatera yang terpancing godaan Kancil penunggu sarang tawon lebah masa lalu, dan selalu memancing rasa penasaran untuk memukul “Gong Nabi Sulaeman”, perlu dihindari.

Keinginan dan godaan untuk memiliki kesaktian dengan terus menerus memukul “Gong Nabi Sulaeman” perlu difikir ulang dua kali.Mudah mudahan cerita Medan ini bisa berguna. Jika senang sampaikan kepada kawan tak suka sampaikan kepada kami.

Mohon Maaf jika keliru. Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s