Komunikasi Pengasuhan – Pentingnya Mengenal Bahasa Tubuh Anak

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #54

Anak datang ke rumah, membuka pintu dengan cepat, menutup pintu dengan keras, berjalan cepat dengan langkah lebar, wajah tertunduk, mata membulat tegang, napas memburu, tangan mengepal. Dia sedang sangat marah. Kita tahu tanpa dia perlu mengatakannya.

Action speaks louder than words. Dengan mengamati bahasa tubuh anak saat itu, kita sebagai orang tua tahu bahwa anak sedang sangat marah. Karena tahu bahwa anak sedang sangat marah, maka kita jadi tahu bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk menegurnya, tentang caranya menutup pintu. Percuma, pesan itu tidak akan masuk.

Bayangkan, jika orang tua tidak membaca bahasa tubuhnya, dan langsung menegur. Yang terjadi bukannya anak menyesal, malah makin marah. Tanpa kita sadari, kita sangat sering terjebak situasi konflik, justru karena sejak awal kita tidak membaca bahasa tubuh anak.

Jika bahasa tubuh anak diabaikan, lama-lama dia akan kebas dan tidak empatik. Maka sulit berharap anak akan berempati pada orang tuanya nanti, juga bersimpati pada orang lain. Sebaliknya, jika di rumah, anak terbiasa dibaca bahasa tubuhnya, dipahami perasaannya, maka dia akan ekspresif dan jujur di rumah. Dia merasa aman di rumah di tengah keluarganya.

Lalu bahasa tubuh itu isinya apa saja ? Apa saja yang perlu kita amati ?

Menurut Kamus Oxford, bahasa tubuh adalah gerakan sadar dan tak sadar disertai gestur yang mengkomunikasikan sikap dan perasaan. Karena bahasa tubuh juga mencakup bahasa tak sadar, maka mengamati gestur tubuh menjadi penting.

Amati bagian tubuh yang “bicara” : ekspresi wajah, mata, gerak tangan kaki, gerak kepala, gerak tubuh, suara. Kenali bermacam bahasa tubuh : gerakan/kinestetic, teriakan, jeritan, kata sela, volume dan tone suara. Dan pahami bahwa bahasa tubuh memiliki peran sebagai lambang, ilustrator, penunjuk perasaan,pengatur perilaku, adaptasi lingkungan.

Sebenarnya kita dilatih secara bertahap oleh Tuhan, sejak bayi lahir sampai tumbuh besar. Dari awalnya tangisan yang mirip mirip, namun artinya berbeda. Sampai ke ekspresi tertawa, kesal, bosan, lapar, mengantuk, dan banyak lagi.

Seiring anak tumbuh besar, maka semakin banyak pula yang bisa orang tua amati. Dengan begitu, sebenarnya pengetahuan orangtua tentang bahasa tubuh anak akan semakin kaya.

Meminjam kalimat Sherlock Holmes ke dr.Watson “You see, but you dont observe”. Inilah yang sering terjadi pada orang tua. Luput mengamati bahasa anak sejak kecil, dan terlewat mengenali perasaannya. Dengan begitu, orang tua tidak sepenuhnya terhubung ke anak. Tanpa terhubung, maka sulit memulai komunikasi yang efektif.

Yuk, mulai sekarang lebih banyak gunakan kedua mata kita untuk mengamati bahasa tubuh anak. Menjadi terhubung lahir batin dengan anak. Saling memahami perasaan dan berkomunikasi lebih efektif.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s