Nilai Tambah Global Production Network : Catatan Ketiga dari Tiga tulisan

JUSMAN SYAFII DJAMAL·TUESDAY, JANUARY 30, 2018

Jalan menuju kemakmuran ekonomi bagi suatu bangsa terkait dengan ketahanan dan keberlangsungan sektor produktipnya. Nilai tambah yang diperoleh dari penguasaan jam kerja oleh Bangsa sendiri jadi tujuan. Setiap Bangsa diberkahi oleh keunggulan Sumber Daya nya. Ada Bangsa maju karena kekayaan Sumber Daya Alamnya.

Ada Bangsa yang tumbuh berkembang karena keunggulan Manusia Bersumber Daya Iptek yang dimilikinya. Dalam tiap proses produksi selalu tersedia kapasitas dan kemampuan untuk mengakumulasi ilmu pengetahuan dan keterampilan produktif.

Daya kretivitas manusia bersumber daya iptek untuk menghasilkan produk inovatif seperti organisme hidup lainnya dapat secara sengaja dirancang dan di budi dayakan dalam setiap tupoksi dan pekerjaan yang dikelola dan dikuasai dalam mata rantai proses produksi. Manusia bersumber Daya Iptek meningkat nilai tambahnya ketika bekerja, bukan ketika menganggur. Proses produksi memperkaya nilai tambah individu. Manusia bersumber daya Iptek tak mungkin dapat memperdagangkan produk karya ciptanya secara kompetitif di pasar global, tanpa Organisasi , Capital dan Machinery. Ada formula dan Matematika nilai tambah dalam mata rantai produksi lokal maupun global.

Secara teoritis dikenal istilah Man-Materials-Machine and Money Relationship. Interaksi diantara Manusia dengan Raw Material, Alat peralatan utama produksi berupa mesin mesin dan capital menentukan formasi social ekonomi dan landskap bisnisnya.Premis ini dapat didiskusikan, diantaranya dengan merujuk tulisan Ricardo Hausmann dan Cesar Hidalgo dalam bukunya Atlas Kompleksitas Ekonomi.

Mereka mengatakan “Masyarakat modern yang paling sejahtera … memiliki keragaman knowhow dan teknologi… yang secara evolutip dapat dikelola dan ditumbuhkan ekosistem dan habitat inovasi nya untuk menemukan jalan baru untuk menciptakan variasi produk yang lebih cerdas dan lebih baik.”

Semakin maju produk teknologi yang dihasilkan sebuah negara – dan semakin maju proses produksi yang diciptakan di wilayah ekonomi suatu negara – semakin besar nilai tambah yang dihasilkan bagi kemakmuran bangsa. Para pembuat kebijakan selalu ingin menciptakan instrument fiscal dan moneter agar terbangun lapangan kerja bernilai tambah tinggi bagi warganya.

Tiap negara kini berlomba lomba mereformasi birokrasi dan memperbaiki tata kelola izin berizin, agar daya tarik investasi untuk memfasilitasi industri manufaktur paling maju dengan infrastruktur paling canggih membesar. Persaingan untuk menarik investasi asing dengan perpindahan lokasi industry manufaktur dan investasi langsung antar negara dan antara wilayah geografis negara semakin meningkat.

Industri padat teknologi memiiki hirarki dan kategori. Density teknologi tinggi, teknologi menengah dan teknologi tinggi. Industri Manufaktur berteknologi rendah biasanya selalu mengalir dari wilayah dengan biaya sumber daya manusia yang tinggi ke yang lebih rendah. Seperti air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Dari gunung mengalir ke lembah, ngarai dan sungai. Menemukan jalan mudah. Disebut “foot loose industry. Mudah berpindah tempat. Karena tingkat keterampilan yang dibutuhkan dan upah yang tersedia lebih rendah. Cost of doing business selalu jadi daya tarik. Investor selam berfokus pada wilayah geografis denna biaya produksi yang lebih rendah.

Selain itu,Industri padat teknologi memiliki efek multiplier berupa munculnya mata rantai industry manufaktur berteknologi menengah dan tinggi sebagai jaringan pemasok yang kuat. Untuk memungkinkan proses manufaktur just-in-time (JIT), dan “economic of scale and economic of speed” seperti dalam industri otomotif, tercipta.

Produk padat teknologi kini menjadi semakin canggih dan kompleks. Memerlukan industry kecil menengah sebagai pemasok komponen yang bersifat unik atau khusus. Jaringan industry kecil menengah yang berkontribusi pada mata rantai subsistem kompleks dan akses ke jaringan pasokan global yang maju. Seperti yang terjadi di industri kedirgantaraan. Standardisasi tingkat keahlian manusia bersumber daya iptek jadi utama. Sertifikasi mata rantai produksi diperlukan. Disini proses peningkatan nilai tambah jauh lebih besar dibanding industry dengan kadar teknologi lebih rendah.

Dengan kehadiran internet kini persyaratan penting untuk akses ke pemasok khusus dan jaringan pasokan global yang unik tidak terletak pada kedekatan geografis. Produsen di Eropa, Jepang, Korea , Jepang ataupun China dan Amerika Mungkin saja memiliki mata rantai industri di Bandung atau Banda Aceh. Selama biaya prodüksi konpetitip.Selain itu konsep TKDN atau Tingkat kandungan Dalam Negeri, atar kandungan lokal juga tidak lagi menarik dijadikan ukuran oleh investor. Dianggap sebagai “barrier to entry” yang menguntungkan negara seperti China yang fokusnya lebih pada upaya memperoleh nilai tambah dari Tenaga kerja yang dimilikinya.

Meski Nilai tambah ke wilayah geografis Kawasan industri yang dimilikinya sebenarnya kurang, tetapi China membangun infrastruktur Kawasan industri berbiaya rendah dengan membuat klaster atau kelompok perusahaan sejenis dan basis pasokan mereka terbentuk di wilayah lain sebagai mata rantai pasokan kebutuhan yang sangat terspesialisasi dan maju di belahan dunia lainnya.

Selama dekade terakhir, banyak rantai nilai industi global telah mengalami pergeseran. Kawasan Industri pindah dari Utara ke Selatan. Sementara sebagian besar barang setengah jadi masih diperdagangkan dalam blok ekonomi regional besar seperti Uni Eropa. Kawasan industry di Asia mengimpor lebih banyak barang setengah jadi daripada yang diekspor. Fenomena yang mengindikasikan tingkat integrasi yang tinggi diantara kawasan industry di Di Asia dengan mata rantai pasokan global. Dalam neraca perdagangan Industri yang mengimpor bahan baku dan bahan setengah jadi dari negara lain, tidak dikategorikan sebagai perusahaan asing. Asal industri tersebut mendirikan pabrik dan mempekerjakan tenaga kerja dari China ia dikategorikan sebagai industri dalam negeri.

Dalam industry elektronik,, industry manufaktur komponen biasanya dipusatkan ke beberapa produsen besar, misalnya Hon Hai / Foxconn, Flextronics and Quanta, yang pabriknya berkerumun di China.Dalam hal ini kawasan industry China yang terletak di kota Guangzhou, Shenzen, Tianjin sangat diuntungkan, dan bergerak lebih maju akibat tingkat konsentrasi yang tinggi dalam rantai pasokan global.

“Kota rantai pasokan” China adalah ilustrasi sempurna tentang bagaimana China mengubah spesialisasi manusia bersumber daya iptek yang awalnya berbasis skala ekonomi, atau volume untuk kemudian ditransformasi menjadi keunggulan kompetitif yang terus-menerus bagi negara tersebut. Dari industry kecil menengah yang awalnya terkoneksi sebagai pemasok bernilai tambah rendah menjadi industry kecil menengah yang menjadi pemasok komponen berkadar teknologi tinggi, dengan nilai tambah yang tinggi. Ikuti proses kemajuan industry seperti di Jepang.

Paradoksnya, bagaimanapun berupaya membangun kawasan industry nya, manusia bersumber daya ipteknya belum mampu menembus “innovation barrier”. Mereka belum menjadi Original Branding Manufakturer. Baru pindah dari tahapan Original Equipment Manufacturer ke tahapan Original Design Manufacturer.

Sebab China beleum berhasil menjadi Negara pencipta teknologi produkt. China tidak menciptakan atau menangkap sebagian besar nilai tambah yang dihasilkan dalam produk yang di ekspor sebagai bagian mata rantai nilai tambah produksi global. Misalnya, iPhone Apple sepenuhnya dirakit di China oleh produsen kontraktor dari Taiwan Foxconn dan diekspor ke Amerika Serikat. Bila ukuran tradisional yang memberikan nilai ekspor kotor produk ke negara pengekspor digunakan, Industri perakit akhir iphone 4 di China mendapatkan harga total sebesar US $ 194,04. Dari harga keseluruhan tersebut China mengekspor satu unit iPhone menghasilkan US $ 169,41.

Untuk setiap unit iphone yang dikirim dengan harga pabrik sebesar US $ 194,04 , China hanya memperoleh US $ 24,63 dan nilai tambah biaya perakitan sebesar US $ 6,54. Dalam hal perolehan nilai tambah dari mata rantai pembuatan iphone4, sebagian besar nilai untuk iPhone4 diperoleh Korea sebesar US $ 80,05, yang memasok dua komponen paling mahal – panel display dan chip memori – untuk produk tersebut.

Hitungan diatas dapat ditelaah dari makalah Koopman, R., Z. Wang and S.-J. Wei. “How Much of Chinese Exports Is Really Made in China? Assessing Domestic Value-Added When Processing Trade Is Pervasive”, National Bureau of Economic Research Working Paper, No. 14109, Cambridge, MA, 2008.

Revolusi Industri Keempat dan teknologi baru seperti Internet of Things, kecerdasan buatan, robotika dan manufaktur aditif – memacu pengembangan teknik produksi baru dan model bisnis secara fundamental akan mengubah tatacara berproduksi. Kecepatan dan ruang lingkup perubahan teknologi dikombinasikan dengan munculnya tren perubahan landskap social ekonomi lainnya, menambah lapisan kompleksitas pada upaya menemukan solusi persoalan yang menantang dimasa depan.

Diperlukan paradigma dan mindset baru untuk mengembangkan dan menerapkan strategi industri yang mendorong peningkatan produktivitas dan pertumbuhan inklusif. Perubahan mindset yang menempatkan paradigma daya saing ekspor manufaktur berbiaya rendah sebagai wahana untuk pertumbuhan dan perkembangan yang berisiko.

Negara perlu memutuskan bagaimana menanggapi dengan baik paradigma produksi baru ini dengan merancang ulang strategi industri nasional untuk memanfaatkan kekuatan produksi sebagai daya saing nasional. Hal ini mengharuskan negara untuk terlebih dahulu memahami faktor dan kondisi yang memiliki dampak terbesar pada transformasi sistem produksi yang eksis dan kemudian menilai kesiapan kita untuk menuju masa depan.

Dan dalam hal ini kita tidak harus mendaur ulang kebijakan dan policy masa lalu di zaman Old. Perlu persfektip dan mindset baru di zaman Now.

Mohon maaf jika ada yang keliru. Salam

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s