Infrastruktur IPTEK : Perlukah di Revitalisasi atau di Modernisasi ?

Jusman Syafii Djamal
March 28, 2017

Hari Selasa ketika umat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Nyepi, saya dirumah punya kesempatan menyepi diri dengan membolak balik halaman buku lawas tahun 1980-1990 an. Di salah satu laci saya ketemu Buku Randall Sross tahun 1996 berjudul “Microsoft Way”, meski telah terbit lebih 20 tahun lalu, menarik untuk dikemukakan disini.

Sross memiliki thesis pada masa kini ilmuwan, engineers, ahli ekonomi dan para pakar tidak boleh berfikiran seperti katak dibawah tempurung, terperangkap dalam ruang sempit egoisme nya sendiri. Sebab semua ahli dan ilmuwan yang tak mau berinteraksi dengan kemajuan zaman, fikirannya akan menjadi batu dan tenggelam dalam arus perubahan yang deras seperti airbah.

Sross mengatakan :” Fikiran sempit yang dimaksud bukan diukur dari tinggi rendahnya IQ” yang dimiliki. Melainkan ditentukan lebar sempitnya ruang interaksi yang ia kembangkan salam jarigan kerja sama mengembangkan dan meningkatkan daya inovasi. Ruang interaksi itu disebut dengan “bandwith”

Bill Gates mengenalkan istilah “bandwidth” sebagai metafora yang menggambarkan kapasitas intelektual seseorang. Bandwith atau lebar sempitnya pita persfektip dalam fikiran yang menentukan seberapa besar kekuatan inovasi yang dimiliki seorang ahli. Kekuatan inovasi para ahli yang berkumpul dalam satu unit tau satu perusahaan yang menentukan kapasitas intelektual sebuah perusahaan, universitas atau suatu bangsa.

Dewasa ini kita memerlukan “IQ Company” atau “Bandwidth” yang tinggi, yang bertumpu pada sarana dan prasarana atau infrastruktur iptek yang kita bangun dan kembangkan. Sebagai bangsa upaya untuk memperlebar “bandwith” atau jaringan pita lebar para tangki pemikir atau Think Tank Republik Indonesia itu sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1959.

Bagi Bung Karno tahun 1959 merupakan sebuah renaisance. Ia mengeluarkan dekrit 5 juli 1959 untuk kembali ke Undang Undang Dasar 1945. Bung Karno meresmikan terwujutnya proses nasionalisasi teknologi dengan meluncurkan nama baru Institut Teknologi yang didirikan sejak tahun 1920 dimana ia menjadi alumninya untuk diubah menjadi Institute Teknologi Bandung.

Dan juga Bung Karno melakukan proses nasionalisasi Pusat Riset yang didirikan Belanda Dutch East Indies established Natuurwetenschappelijk Raad voor Nederlandsch Indie (Scientific Council of the Dutch East Indies) pada 1928, menjadi Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia (MIPI) (Indonesian Sciences Council) dan Dewan Urusan Riset Nasional tahun 1956.

Dalam perkembangannya, MIPI mengalami beberapa perubahan diantaranya karena pembentukan Departemen Urusan Reseach Nasional (Durenas) pada 1962 yang dipimpin oleh Djoenoed Poesponegoro. Ketika itu Sarwono diangkat menjadi Pembantu Menteri Urusan Kebijakan. Ketika Durenas ditiadakan tahun 1966 kebijakan iptek dikoordinasikan oleh Lembaga Reseach Nasional (LRN) dan MIPI yang kemudian lebur menjadi LIPI dengan Sarwono sebagai ketuanya.

Melalui Sarwono seorang dokter yang dipercaya memimpin LIPI untuk pertama kali kita dapat mencontoh dedikasi ilmuwan pada kemajuan bangsanya.

Menurut tokoh ilmuwan J.A. Katili, Sarwono bukanlah ilmuwan kebanyakan. Sekalipun berprofesi sebagai dokter, Sarwono mampu mengembangkan berbagai cabang ilmu pengetahuan sekaligus memimpin berbagai ilmuwan di bawah satu atap. “Seperti pohon rindang, berawal dari akar kemudian tumbuh bercabang rindang meneduhkan,” imbuhnya.

Sarwono juga terkenal sebagai orang yang jujur dan tidak pernah memanfaatkan jabatannya. Pernah seorang tukang cat yang ditugasi LIPI mengecat rumah Sarwono, harus kembali sebelum tugasnya selesai. “Ini rumah saya, bukan rumah LIPI. Sekarang kalian pulang saja!” ujar Sarwono. Karenanya Sarwono Award yang diberikan oleh LIPI setiap tahun menurut hemat saya dapat dirintis menjadi sejenis ajang prestasi puncak ilmuwan Indonesia, mirip seperti hadiah Nobel dalam bidang iptek.

Dengan kata lain sejak tahun 1959 hingga 1995 terdapat jejak sejarah bagaimana secara sistimatis bertahap Bangsa Indonesia melalui kebijakan para pemimpin dan ilmuwan nya telah membangun infrastruktur iptek untuk memperbesar bandwith atau IQ Bangsa.

Sejak 1959, setelah proses nasionalisasi penguasaan iptek dikenalkan Bung Karno. Banyak kawasan iptek dikembangkan di Universitas, begitu juga laboratorium dan Lembaga Riset Pengembangan dibangun agar terbangun suatu jaringan akuisisi iptek dari hulu ke hilir. Dari Pengetahuan Dasar hingga Applied Technology. From Maker to Creators and Innovators. Dalam hal ini Presiden Suharto tidak melakukan proses “desukarnoisiasi”. Semua lembagai iptek dipeliharan dan dilanjutkan.

Melaui prinsip Continuity and Change semua Presiden RI, Dari Bung Karno, Pak Harto, Prof Habibie, Kyai Abdurachman Wachid, Mba Megawati Sukarnoputri , SBY hingga Presiden ketujuh Jokowi memiliki cita cita untuk memberikan wahana penguasaan iptek bagi generasi muda Indonesia dengan sepenuh hati.

Jejaknya kita dapat temui melalui napak tilas di LIPI, BPPT, Kawasan Industri dan juga Laboratorium baik milik swasta maupun pemerintah. Masing masing Presiden memiliki “champion program” Melalui “champion program”, Infrastruktur iptek dan “institusional building” telah dikembangkan sedemikian rupa agar para ilmuwan atau para ahli Thinker dan Tinker dapat saling bertukar fikiran, saling bertukar gagasan, saling membagi informasi, saling berdialog untuk saling menyempurnakan gagasan masing masing.

Kapasitas pembelajaran dan kemampuan perusahaan untuk tumbuh ditentukan oleh seberapa tinggi “knowledge” atau pengetahuan dan pengalaman masa lalu yang terpendam dalam “otak para staff (brainware) dapat ditransform menjadi “pengetahuan yang tersimpan dalam pelbagai file elektronik sehingga dapat diolah dan dicerna untuk melahirkan inovasi.

Brainware (pengetahuan yang tersimpan dalam benak para ahli) ditransform menjadi Infoware (sistem informasi dan filing management) dan diolah menjadi software (perangkat lunak) dan dirproduksi menjadi hardware (perangkat keras). Baik “Brainware”, maupun “Software” atau pun”Hardware” yang bernilai tambah tinggi dapat dijadikan portofolio bisnis tersendiri.

Untuk meningkatkan kapasitas intelektual suatu Bangsa atau “bandwidth” Intelektual suatu Bangsa diperlukan ilmuwan yang juga memiliki “bandwidth” yang besar pula, yang tentunya memerlukan proses latihan dan pembelajaran terus menerus. Memerlukan ketekunan dan keinginan untuk mau bersusah payah menjadi “murid cerdas” dari para ahli yang ada disekitar.

Bandwith Intellectual di Indonesia memiliki proses evolusi yang menarik untuk dipelajari. Sebagai bingkai untuk menelisik kemajuan atau kemunduran yang terjadi baik juga kita ikuti jalan fikiran Peter Senge seorang Profesor MIT tahun 1990 pernah menulis buku “The Fifth Discipline”.

Ia menyatakan ada lima ukuran atau performance indicator yang dapat digunakan sebagai frame untuk menelisik apakah sebuah Institusi telah mewujud menjadi “Learning Organization” atau Peningkat Kapasitas Bandwidth suatu Bangsa.

Pertama : Personal Mastery , Keahlian Masing Masing Ilmuwan, Dokter, Lawyer, Engineer, Ekonom, Para Pakar dan Ahli dibidangnya masing masing . Tiap personil yang diberi kepercayaan untuk membangun sinergi dalam satu teamwork atau bekerja dalam sebuah “champion program” perlu memiliki keahlian spesifik yang diunggulkannya. Yang ia tekuni dan latih tak kenal henti sehingga menjadi bagian dari dirinya sendiri. “He is one of the best among the equal” Yang terbaik dari yang ada.

Kedua : Mental Model Sinergetik, yakni suatu kemampuan untuk mau meningkatkan pengetahuan yang dimiliki. Kemamouan untuk tidak merasa sombong serta pintar sendiri atau menang sendiri. Melalui mental model sinergetik ini dapat dikembangkan tatacara berfikir yang saling melengkapi dengan sesama anggota tim yang dikenal memiliki integritas dan kesungguhan serta kemampuan berdialog yang setara.

Everyone look for the strength not the weakness of another person.

Ketiga : Shared Vision (Visi Bersama). Sebuah komitmen bersama untuk mencapai cita cita bersama dengan sepenuh hati dan sepenuh tenaga. Pasukan Siliwangi dulu memiliki moto Esa Hilang Dua Terbilang, untuk menyatakan tekad dan komitmen bahwa akan menjalankan tugas dan missi yang diemban tiap regu dengan sepenuh hati. Mati satu tumbuh seribu.

Keempat : Team Learning (Saling asih, saling asah, saling asuh, tiap orang ada guru dan sekaligus murid dari yang lain).Kemampuan membangun sinergi sehingga karya terbaik seseorang merupakan bagian dari karya puncak kelompok.

Kelima : Systems Thinking (Tatacara Berfikir System). Memiliki kemampuan berfikir systems dan kesadaran bahwa tindakan seseorang memiliki dampak pada prestasi orang lain. Prestasi teamwork menentukan hidup matinya perusahaan.Mati hidupnya sebuah perusahaan menentukan kapasitas penciptaan lapangan kerja dan juga mulur mungkretnya suatu Bangsa. Dalam mata rantai suatu sistem kekuatan ditentukan pada elemen terlemah dari mata rantai yang saling terikat satu sama lain mencapai tujuan bersama.

Kelima indikator saya fikir perlu kembail diperkuat keberadaannya saat ini. Indikator ini menjadi tumpuan upaya memperbaiki “bandwith” intelektual kita dalam menguasai Iptek. Sebab pada saat in kecepatan dan laju kekadaluarsaan teknologi berjalan seketika.

Sebagai bangsa kita memerlukan kapasitas untuk mampu merangkul dan bersilancar dengan laju perubahan teknologi yang berlangsung terus menerus. Diperlukan Agility, kelincahan dan daya maneuverability yang tinggi seperti F16, Sukhoi 37 atau Eurofighter. Lincah dan adaptip dalam segala jenis medan,terrain dan cuaca.

Dulu perubahan berlangsung secara evolutioner dan sedikit lambat, prioritas anggaran pada penguasaan iptek sering dipotong ditengah jalan. Apalagi dengan istilah SPJ Ilmuwan, Seminar, Workshop hanya pekerjaan membuang waktu dan boros anggaran.

Kini akibat anggaran Riset dan Teknologi yang amat terbatas, semua ilmuwan diminta menulis karya, tak peduli ilmuwan itu berbasis riset terapan atau pembuat prototipe. Menulis dijournal kini bukan lagi jadi wahana tetai jadi tujuan kenaikan pangkat.

Mungkin itu juga sebabnya mengapa dikenal istilah “punctuated equilibrium” atau keseimbangan atau stabilitas yang terputus. Kemajuan penguasaan iptek tidak menjadi deret ukur melainkan deret hitung.

Ditengah persaingan global, Kini dikenal istilah “puctuated chaos”, perubahan lingkungan strategis yang terjadi secara terus menerus, tiap perubahan melahirkan kekacauan, tiap kekacauan dan ketidak seimbangan memerlukan tindakan seketika untuk menjadi disorder, kacau tetapi terisolasi kemudian diubah menjadi suatu keadaan stabil yang baru.

Dan itu berarti kita memerlukan kapasitas intelektual atau bandwith yang cukup lebar agar semua persoalan menjadi pusat pembelajaran untuk menemukan solusi otentik khas Indonesia. Sudah saatnya ifrastruktur iptek Indonesia ditinjau kembali apakah sudah sesuai dengan kemajuan zaman atau tertinggal jauh.

Apa bisa begitu ? Wallahu Alam. Mohon maaf jika saya keliru.

Salam

Advertisement