Facebook,Tweeter,WA , Medsos Berenkripsi : Pisau Bermata Dua ?

Jusman Syafii Djamal
June 7, 2017

Puncak kemajuan infrstruktur teknologi Informasi dan komunikasi terjadi dengan sangat cepat. Dalam satu dasawarsa di abad 21 ini, jumlah orang yang terkoneksi melalui internet dipenghujung abad 20 berkisar 30 juta, kini telah meningkat drastis menjadi mendekati angka 3 Milyar orang seluruh dunia. Jumlah mereka yang menggunakan handphone dari 750 juta kini menjadi 6 Milyar.

Proses adopsi dan penetrasi media sosial dengan begitu mengalir seperti air bah. Tak ada yang lolos dari pengaruhnya. Bahkan diantara kita tak jarang terjadi pertengkaran kecil antara suami dan isteri, anak dan ayah. Sebab ayahnya seolah lebih asyik dengan smartphone dan iPad ketimbang dengan mereka. Sebuah pertengkaran yang membuat hidup dan rasa cinta antar keluarga juga membesar.

Pada tahun 2025, diprediksi dalam satu generasi semua orang akan hidup dalam sebuah “life style” digital. Erich Schmidt Executive Chairman Google dan Jared Cohen Director Google Ideas menerbitkan sebuah buku panduan untuk hidup di masa depan. Judulnya “The New Digital Age : Reshaping The Future of People, Nation and Business”, Terbit tahun 2014.

Ketika kedua penulis tersebut melakukan perjalanan ke Tempat tempat dilanda Perang, untuk mengamati seberapa jauh pengaruh Gadget dan Cyber Space mereka menemukan hal menarik. Bahkan di Iraq dan Syria yang dilanda perang dan pork poranda pun, yang dimes damai dan dimasa Sadam Husein masih berkuasa penggunaan handphone dilarang, kini dimasa perang kehancuran infrastruktur komunikasi tidak menghalangi penduduk yang terisolasi menggunakan fasilitas handphone untuk saling memesan bahan makanan, obat obatan dan saling berbagi air minum untuk survive.

Teknologi komunikasi dan informasi bagi yg terisolasi dalam zona perang seolah menadi “life line of defence”. bagi mereka yang terisolasi di “shelter shelter” jadi Benteng pertahanan hidup menyatu dengan dunia lain.

Kisah perjalanan Schmidt dan Jared di “war zone” Iraq dan Suriah memberikan perspektif mereka tentang pemisahan “klaster” ahli gadget. Ada yang hanya menguasai tatacara menggunakan gadget. Ada yang ahli otak otaik dan reparasi. Dan ada pula yang ahli membangun jembatan atau infrastruktur supaya tiap orang mampu saling berhubungan dan berinteraksi secara virtual.

Bagi Schmidt dan Jared Cohen, Cyber Space kini memerlukan telaahan para ahli “Cyber security” dan juga ahli “homeland security”, keamanan dalam negeri. Sebab Cyber space telah menjadi arena perebutan wilayah antar kekuatan dalam masyarakat. Cyber Space menjadi salah satu agenda “global security” dalam percaturan geopolitic yang kini sedang berubah.

Ketika Inggris dilanda 3 serangan teror berurutan dalam tiga bulan terakhir dan di London Bridge terjadi aksi terorisme minggu ini, Perdana Menteri Inggris langsung memmimpin “emergency meeting” COBRA (Cabinet Office Briefing Room A) .

Sebuah Pertemuan Darurat Kabinet dengan klasifikasi tingkat keamanan informasi A1 atau AO, hanya yang hadir boleh tau apa informasi rahasia yang dibahas.

Sebuah meeting yang dilangsungkan di Downing Street 10, selalu diberi label ” an emergency council”. Meeting Cobra berfokus pada “high-priority issues that cross departmental borders within government”. Klasifikasi Boleh Mendengar dan Melihat, Tutup mulut meski untuk isteri dan yang dicintai. For Eyes Only.

Dilaksanakan jika ada serangan teorisme atau tanggap darurat karena bencana lainnya yang memerlukan reaksi cepat dari Angkatan Bersenjata, Scotland Yard dan juga Emergency Unit lainnya.

Hasilnya menarik : “Inggris tidak lagi memberi toleransi kepada pihak lain untuk menjadikan “cyber space” sebagai “save haven. Ruang yang dimanfaatkan untuk menelorkan benih kebencian dan ajaran ekstrim yang dapat menguncangkan stabilitas nasionalnya .Perdana Menteri Inggris menyatakan “enough is enough”.

Ada perubahan policy dan strategy penangkal teorisme yang memberi batas gerak maju Cyber Space sebagai tempat bebas merdeka tanpa batas. Itu di Inggris.
Entah disini. Kita seolah terlena tanpa Peduli ada Api dalam sekam.

Menurut koran Guardian Tuesday 6 June 2017 06.13 BST :”Britain will need to radically change its strategy to stop terrorism attacks because the threat is now at a “completely different” level of danger, according to the country’s top counter-terrorism officer.Mark Rowley, the Metropolitan police assistant commissioner, said the changes could cover police, MI5, communities, technology companies, the law and other policies.”

Dalam masa tenang dan damai, Cyber Space juga kini menimbulkan problema tersendiri.
Generasi milliniea seperti anak anak saya tumbuh berkembang bersama “gadget” dan media sosial. Mereka terpengaruh dan mempengaruhi dunia maya. Ketika mengerjakan PR dari sekolah mereka bersilancar dengan Google mencari bahan rujukan. Dalam perjalanan mencari sumber ilmu pengetahuan kadangkala mereka mampir di situs situs yang menarik.

Ayah bunda kini tak lagi dapat mengendalikan anak anaknya yang senang bermain gadget dan medsos. Kini kita sukar untuk mengetahui apa yang di temukan generasi anak anak kita di alam maya yang tak terbatas itu.

Mereka bisa bertemu ajaran baik dari referensi yang baik dapat diserap sebagai ilmu pengetahuan dan teknologi. Akan tetapi juga dapat bertemu hantu belau kata orang medan. Hantu gentayangan yang merusak alam fikiran. Berupa Hoax dan cerita tanpa dasar dan fakta.

Diperlukan metode seleksi dan keahlian menyaring informasi yang baik dan benar.Cerita yang bikin mereka mengalami “sturm un drank” mabuk kepayang tak tau mana bener mana keliru dan sesat jalan fikiran.

Menurut hemat saya kita sebagai Orang tua perlu menempatkan anak anaknya untuk belajar metode pemilahan berita dalam medsos dari para ahli jurnalisme dan psikologi sosial.

Untuk paling tidak mampu menyaring berita yang pas dan perlu. Paling tidak memahami rumus ABC nya jurnalisme. Yakni 5 W, Who, What, Where, When and Why. Siapa yang dibahas, apa yang difokuskan, dimana peristiwa terjadi, bilamana hal itu muncul dan mengapa ia menarik untuk diunggah. Dan memahami konteks tiap berita dalam persfektip masa lulu, masa kini dan masa depan yang dipelajari dari para ahlis psicologia sosial dan sejarawan.

Cyber Space dapat melahirkan suatu benih ancaman bagi jalan masa depan generasi anak anak kita.

Sebab semua “chatting”, ucapan maupun tulisan yang diunggah baik dalam bentuk video, foto maupun tulisan dari seseorang dimanapun berada tidak mungkin terhapus dalam dunia maya selamanya.

Finger print seseorang dalam dunia maya tak mungkin hilang. Dapat ditelusuri lima sepuluh tahun mendatang. Hari ini kita mengunggah kebencian pada seseorang siapa tau di lima sepuluh tahun mendatang kita bertemu orang yang sama dan ia menjadi tokoh penyeleksi lulus tidaknya kita menempati sebuah posisi.

Ada “foot print” jejak kaki masa lalu yang terekam dengan baik. Bayangkan jika generasi anak kita yang saat ini berusia 10 than memiliki kebebasan untuk bermain facebook, tweeter ataupun menulis dalam blog untuk menyalurkan daya kreativitasnya. Semua tercatat dengan baik.

Ketika usia menjadi 40 tahun ia menjadi calon Gubernur atau Calon Ketua Partai bukan tidak mungkin ucapan, foto tau video masa lalu nya dapat dimanfaatkan oleh lawan politik nya untuk menjatuhkan.

Siapa tau di usia 20 than ia mengunggah foto pribadi atau ucapan yang tidak sepatutnya ?

Cyber Space juga menyimpan potensi yg dapat menjadi ancaman baik bagi kepentingan pribadi mapun kepentingan Nasional.

Bagi Perdana Menteri Inggris dan warga Inggris, pengalaman hidup dalam ketidak pastian serbuan teroris yg bisa muncul kapan saja dimana saja , tanpa mampu diprediksi, Cyber Space dianggap menjadi “save haven” aktivitas Terorisme. Kini para pemilik akun dan perusahaan pemilik medsos berenkripsi diminta bekerjasama menutup celah penggunaan medsos untuk aksi pecah belah .

Apalagi teknology ICT telah meningkat kecanggihannya dengan pemanfaatan keahlian “encryption”, “code breaker dalam algoritme yang memperumit tingkat pemantauan aparat keamanan ” dan lain sebagainya.

Ada ancaman Cyber Space dapat menjadi “Achilles Heel” sel terorisme yang perlu mendapatkan perhatian sungguh sungguh.

Sebab kini pengertian terorisme dari peristiwa di Inggris dan Perancis telah jura memasuki babak baru. Munculnya “unconnected cell” dengan azas ciri “lone wolf”, srigala yang berjalan sendiri ditengah keramaian, tanpa tujuan tanpa kendala.
Banyak ahli yang menginginkan adanya pengaturan tingkat keselamatan dan keamanan dalam pemanfaatan “cyber space”. Diperlukan Undang Undang yang mampu menjerat pelaku tindak kriminalitas yang memanfaatkan Cyber Space.

Akan tetapi mayoritas masyarakat sipil lainnya juga masih berkeyakinan bahwa “cyber space:” adalah “freedom space” wilayah bebas yang tak perlu diatur.

Apalagi tiap situs merupakan “wilayah privacy” masing masing individu dan perusahaan pengembang software nya. Dua kekuatan tarik menarik yang perlu segera menemukan jalan keluarnya.

Cyber Space kini bermuka dua. Yang pertama dan ditakuti semua Negara adalah ketika Cyber Space yang aman tentram berubah menjadi “war Zone” baru.

Tiap hari jutaan Hoax bertebaran. Ada yang merupakan bahan candaan. Ada yg serius jadi ancaman. Juga ada keahawtiran dari para aparat penanggulangan aksi terorisme dan kejahatan narkoba antar negara, yang melihat Cyber Space dapat dimanfaatkan menjadi “tempat berlindung:=” ,menyusun rencana dan melakukan prose rekuitmen.

Ada kemungkinan medsos dimanfaatkan sebagai bagian dari perang urat syaraf atau “psywar” dan “proses recruitment” dalam rangka “net war”, perang perebutan pengaruh”in the mind and soul” of the people.

Diperlukan keahlian “Weruh sakdurunge winarah” dari semua pengguna Medos.
Diperlukan pengaturan melalui Undang Undang yang pas untuk memanfaatkan Medos sebagai wahana pembangkit produktivitas dan efisiensi bagi pertumbuhan ekonomi suatu Bangsa. Cyber Space juga bisa sebagai wahana pembangkit proses Demokrasi untuk kesejahteraan bersama.

Kini gadget dan medsos telah menjadi pisau bermata dua.
Diujung yg satu ia berfungsi Sebagai wahana pembangun masyarakat demokratis dengan freedom of speech, dan pencipta platform serta business model untuk melahirkan tingkat efisiensi dan produktivitas tinggi.

Tapi ada ujung tajam lainnya yang dapat digunakan oleh mereka yang tak bertanggung jawab sebagai sarana untuk merobek robek ketenangan dan keamanan bersilaturahmi.
Balkanisasi dalam dunia maya akibat munculnya “hacker” dan penyebar hoax yang terus menerus bekerja siang malam.

Dua Spektrum yang perlu menjadi perhatian kita bersama.
Apakah saya terlalu paranoid ? entahlah.

Saya unggah sebagai sebuah “food for thought” dihari kesebelas Ramadhan. Jika ada yang keliru mohon dimaafkan. Salam

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s