Saatnya Lelaki Pendekar Turun Gunung (Bag. 1)

17 Jan 2017
by : bendri jaisyurrahman (twitter/IG : @ajobendri)

Ini kisah tentang permusuhan yang abadi. Bukan antara Batman dan Joker, Popeye versus Brutus, Inspektur Vijay lawan Tuan Takur ataupun MUI-er seteru Ahoker. Permusuhan ini lebih hebat dan lebih dahsyat. Bahkan boleh dibilang sebagai biang dari segala permusuhan di muka bumi ini. Dimana takkan pernah ada perdamaian antara dua kubu. Meskipun salah satunya berupaya melakukan negosiasi dengan tetesan air mata ataupun makan siang bersama. Jika perdamaian terjadi, pasti salah satu sudah menjadi bagian darinya alias tunduk menyerah. Dan itu kekalahan telak. Permusuhan hebat ini adalah antara manusia dan setan. Sebagaimana yang Allah peringatkan dalam kitab suci, “Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu”. So, jangan berpikir dunia aman-aman saja bro. Sudah ada musuh yang mengintai kita sampai hari kiamat. Musuh yang gak kelihatan. Namanya setan. Maka perangilah ia sebenar-benarnya.

Jangan bayangkan setan di sini dengan ciri-ciri wanita berambut panjang, gigi taring, berdaster putih, kaki tak menapak ke bumi, punggung bolong diameter 10 senti sambil menyapa abang tukang sate yang lewat, “Satenya bang, 200 tusuk!”. Bukan. Justru hal tersebut hakikatnya pembodohan mengenai setan itu sendiri. Sebab permusuhan yang dilakukan setan kepada manusia bukanlah dengan menakut-nakuti manusia dalam tampilan menyeramkan. Cara ini gak bakal mempan. Malah bisa jadi bahan tontonan yang menghibur bagi manusia. Terbukti film horror dengan imajinasi khayalan akan setan malah menjadi box office di pasaran.

Cara setan untuk menghancurkan manusia sejatinya sungguh sangat halus, licin bahkan tak meninggalkan jejak yang nampak. Wajar kalau setan disebut lebih lihai dari intelijen manapun di muka bumi ini. Aksinya sangat strategis dengan target khusus : “menjadikan manusia tunduk lantas mengikuti segala langkah-langkahnya”. Saat manusia ada yang rela menjadi anak buahnya, inilah manusia pecundang. Pihak yang kalah total dalam permusuhan abadi ini. Bahkan sejatinya ia telah hilang kemanusiaannya. Berubah identitas menjadi setan dalam wujud manusia. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah dalam surat An Naas bahwa setan bisa berwujud jin juga manusia.

Untuk melancarkan misinya dalam dendam kesumat sepanjang zaman ini, setan memiliki strategi khusus. Ya. Setan meski tak pernah kuliah post doktoral atau seminar skala international, memiliki kecerdasan yang mumpuni. Rencana mereka sangat terstruktur. Dan ini bisa dilihat dari fokus target penghancuran dalam kehidupan manusia. Di saat manusia sibuk menangani urusan ekonomi dan politik, setan justru mensasar keluarga sebagai target kerusakannya. Hal ini diceritakan dalam hadits riwayat Imam Muslim no 2813. Dimana Rasul mengabarkan prestasi terbesar setan adalah merusak keluarga. Karena itu keluarga manusia menjadi bidikan utama mereka.

Ekonomi memang penting diurus, namun jika keluarga diabaikan akan muncul ekonom-ekonom busuk di dalamnya. Yang menindas kaum lemah dan menghalalkan segala cara demi menumpuk kekayaan berlimpah. Politik apalagi. Amatlah penting. Namun ketika keluarga tak lagi dijaga, akan lahir politisi-politisi bermasalah tersebab berasal dari keluarga yang rapuh. Jadilah kita menyaksikan tiap hari di media kelakuan bejat para politisi kita. Mulai dari korupsi, perzinahan bahkan kongkalikong dengan musuh negara.

Dan tengoklah saat ini. Setan boleh dibilang telah berhasil memukul telak manusia. Menjadikan manusia sebagai pecundang. Kerusakan yang terjadi pada institusi keluarga tak dapat dicegah. Tren angka perceraian yang meningkat pesat sebagai indikatornya. Kini, menurut sebuah lembaga penelitian, terjadi kasus perceraian hingga 350.000 per tahun di Indonesia. Atau jika ingin disederhanakan ada 40 kasus perceraian setiap jam di negeri ini. Dengan kata lain setiap 3 menit sekali ada dua pasangan yang bercerai dengan berbagai alasan penyebabnya. Jadi kalau anda membaca tulisan ini selama 3 menit, maka sudah ada 2 pasangan yang bercerai selagi anda membaca. Dahsyat! Dan data ini yang tercatat di pengadilan agama. Yang tak terdata, bisa jadi lebih banyak lagi.

Tragisnya, permasalahan keluarga ini tak menjadi perhatian serius pemerintah. Khusus penanganan gonjang ganjing ekonomi, ada kementriannya. Untuk menangani situasi politik agar kondusif, dibuatlah Kementrian Politik. Namun untuk keluarga, tak ada kementrian khusus yang menanganinya. Alhasil setan makin leluasa menghancurkan kita. Bagaimana tidak? Perilaku anak-anak muda yang rusak akibat terjerat dengan masalah narkoba dan pornografi makin menjadi-jadi. Tanyakan kepada mereka, “Kenapa kalian memakai narkoba?”. Mereka takkan mungkin menjawab, “Karena sistem ekonomi kita masih kapitalis. Angka pertumbuhan rasio ekonomi tersendat. Inflasi dimana-mana”. Mereka takkan menjawab itu. Atau tanyakan alasan kenapa mereka suka nonton film porno dan bergaya hidup bebas tanpa aturan agama. Tak kita temukan jawaban, “karena sistem politik kita belum stabil. Partai-partai belum memiliki konsep bernegara yang jelas. Eksekutif dan Legislatif tak sejalan”. Lagi-lagi bukan itu.

Justru jawaban yang akan kita temukan dari carut-marutnya moral generasi muda saat ini adalah satu kalimat yang seirama. “Karena keluarga saya berantakan. Saya punya ayah tetapi merasa yatim. Punya ibu tapi piatu. Punya rumah tapi tak memiliki keluarga”. Inilah akar dari kehancuran negeri kita. Saat kita abai dalam urusan keluarga, kita sedang merencanakan kehancuran generasi masa depan. Perlahan bangsa ini hanya terabadikan dalam batu nisan sejarah. Pernah jaya namun akhirnya rusak karena cuek terhadap masalah keluarga.

Maka, di saat negara seolah-olah tak peduli terhadap masalah keluarga, sudah saatnya kita memanggil lelaki-lelaki hebat untuk selamatkan negeri ini. Mereka adalah lelaki tangguh gagah berani yang sedang khusyu’ dalam pertapaan di atas gunung. Gunung-gunung ‘obsesi’. Gunung-gunung ‘karier’ dan puncak prestasi. Mereka adalah lelaki peduli yang mengamati kondisi negeri dari gunung yang tinggi agar dapat mencari sebab kerusakan di negeri ini. Mereka mengetahui akan adanya makar yang maha dahsyat di negeri mereka. Makar yang bersumber dari permusuhan abadi antara manusia dan setan. Musuh yang nyata. Bukan ‘asing’ atau ‘aseng’ yang akan mereka lawan. Namun biangnya, yakni setan yang terkutuk. Dan hal tersebut memaksa lelaki ini untuk ‘turun gunung’. Dialah lelaki pendekar. Bukan pendek dan mekar. Lelaki pendekar adalah singkatan dari Lelaki Peduli Anak dan Keluarga.

Inilah sosok lelaki yang sekian lama dirindukan. Yang berjuang melakukan perbaikan negeri lewat langkah yang tepat dan terencana. Menjaga benteng pertahanan dari kebobolan. Di saat sebagian lelaki berjuang di medan jihad lain yang lebih ‘prestise’, ia memilih untuk ‘pulang’ ke rumah. Bukan karena tak punya nyali di luar. Tapi justru menyadari bahwa benteng pertahanan yakni keluarga sedang dirusak oleh musuh dan harus diselamatkan. Dan inilah lelaki terbaik. Sebagaimana sabda baginda nabi, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling peduli terhadap keluarga”.

Bermula dari kepedulian terhadap anak-anak yang menjadi calon pemimpin bangsa di masa depan, dan juga peduli terhadap perbaikan keluarga. Lelaki pendekar meyakini bahwa kekuatan sebuah negeri bermula dari kekokohan keluarga. Ia berjuang untuk menyelamatkan keluarga agar mampu menghadapi serangan ‘mematikan’ dari setan. Berjuang menjadikan keluarga tempat bernaung yang nyaman melebihi tempat hiburan semisal mall atau pusat perbelanjaan. Keluarga harus menjadi garda terdepan yang kuat untuk membentengi anak-anak dari berbagai virus moral yang membahayakan.

Ingat! Jangan mengandalkan perbaikan keluarga ini lewat kaum wanitanya saja. Mereka memang harus dilibatkan, namun lelaki tetap yang menjadi pemimpinnya. Inilah makna “qowwam” yang sesungguhnya. Sebab membiarkan wanita bertarung sendirian menghadapi musuh yang amat dahsyat, adalah lelaki pengecut. Justru wanita harus dikuatkan. Diberikan energi agar berjuang bersama dalam pengokohan keluarga.

Anda berminat menjadi lelaki pendekar itu? Jika iya, maka tulisan berseri ini akan mengupas perjalanan hidup lelaki pendekar ini. Dimulai dari saat ia lajang, memilih pasangan, mendampingi istri saat hamil dan menyusui, saat anak balita hingga anak beranjak remaja. Kisah panjang lelaki pendekar ini akan membahas hal-hal apa yang harus dilakukan sebagai bagian pengokohan keluarga di setiap jenjang masa. Agar kelak setan merasa putus asa dan terbirit-birit menghadap iblis, raja mereka, seraya berujar “Aduh bos! Gagal maning, gagal maning!”. Dan iblis menjawab “Makanya, jangan remehin lelaki pendekar. Dia muncul, bisa kelar hidup lo!” (bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s