Kilas Balik 2016 (Part 2) From Society to Community

Adriano Rusfi
30 Des, 2016

Jika ditanyakan kepada saya : “Kasus apa yang paling fenomenal di tahun 2016 ?”. Maka secara subyektif tanpa ragu saya menjawab :
“Fenomena LGBT dan kasus AlMaidah ayat 51”
Tapi yang paling menarik di balik kedua kasus itu adalah : Gerakan mahasiswa bungkam, bisu tak bersuara !!!”. Betul, tercatat ada satu organisasi mahasiswa yang merespons isyu maraknya penularan LGBT, tapi responsnya begitu banci dan sangat malu-malu.
Tampaknya ini adalah isyu-isyu yang bagi gerakan mahasiswa sungguh tak nyaman untuk disikapi. Mereka berkembang menjadi begitu logis dan “intelektual”, sehingga mulai mengidap penyakit mati rasa. Lagipula, merespons isyu-isyu semacam ini dapat menyudutkan mereka pada posisi “anti-HAM, anti-kebhinnekaan, tak humanis, radikal-fundamentalis, tak pro-NKRI”. Bagaimanapun, mereka telah terjangkit wacana-wacana pencitraan.
Tapi saya tak ingin terlalu menyalahkan mereka. Tampaknya ada kekuatan sungguh-sungguh Adidaya yang meminta mereka untuk diam, karena pentas sedang IA pindahkan dari kampus ke kampung : From Society to Community. Sang Maha Adidaya itu adalah Allah, yang sedang menjalankan janjinya bahwa “Ia akan kokohkan pijakanmu di bumi”. Ya, bumi : sebuah teritori !!! Karena sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa berkuasa di kampus dan di kantor adalah sebuah kekuatan semu yang mudah tersapu badai. Karena kekuatan sejati ada di desa, kampung, kota : ARDHI !!! Ya, inilah hakikat khalifatullah fil-ardhi : Bukan se-bumi, tapi mem-bumi…
Maka, tahun 2016 memulai sebuah kesaksian bahwa kekuatan itu bukan lagi berhimpunnya UI, ITB, UGM, Unair dan sebagainya, melainkan bersatunya Ciamis, Balikpapan, Padang, Medan, Makassar dan seterusnya. Bahwa kekuatan itu bukan lagi berhimpunnya HMI, KAMMI, PMII, IMM dan sebagainya, tetapi berjama’ahnya NU, Muhammadiyah, FPI, Persis, Al-Irsyad dan sebagainya. Lalu, siapa pemegang tongkat komando ? Tentunya bukan para elitis di menara gading dan forum-forum diskusi, tetapi mereka yang mengakar dan berumput di akar rumput. Merekalah para tokoh masyarakat dan Ulama. Merekalah yang kini diamanahkan pentas dan panggung di hati rakyat itu. Ya, merekalah diantara para ma’mum yang kemudian di daulat menjadi imam. Karena imam itu dibai’at, bukan membai’at.
Mohon maaf, saya bukan ingin mendikotomikan antara kampus dengan kampung. Saya hanya ingin mengatakan bahwa saat ini pusaran kekuatan dan pergerakan sedang bergeser ke tempat yang seharusnya : komunitas teritorial. Sebuah gerakan kemahasiswaan akan tetap mendapatkan porsi besar untuk terlibat di dalamnya, selama mereka mereposisi dirinya sebagai anak kandung dari tanah teritorial tempatnya berpijak. Kaum muda selamanya akan tetap menjadi tulang punggung perubahan, sejauh jatidirinya lebih tertanam pada KTP yang ia miliki, bukan pada foto di kartu mahasiswanya.
Lalu, terjadilah fenomena itu : gerakan 411 dan aksi 212. Ini memang dipicu oleh Ahok, tapi sama sekali bukan tentang Ahok. Ia fenomenal bukan semata-mata karena jumlahnya, atau karena tertibnya, atau karena bersihnya. Ia fenomenal karena Allah sedang mempertontonkan sebuah gerakan perubahan dengan cara yang sangat massif, tak terbantahkan dan tak terhadang. Tuduhan makar, anti-kebhinnekaan, anti-toleransi, anti-NKRI hanya akan menyiramkan bensin ke dalam api. Karena melalui gerakan ini Allah justru ingin menguatkan makna kebangsaan kita : “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. Ya, sudah saatnya rakyat dipimpin oleh para pemilik hikmah-kebijaksanaan yang bermusyawarah. Selamat tinggal parpol…
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s