Negai Goto vs Doryoku

Hasanudin Abdurakhman
Kolom Kompas, 25 Februari 2016

Negai goto (bahasa Jepang) adalah keinginan yang terucap (walau sekedar dalam hati). Doa adalah salah satu bentuk negai goto. Dalam bahasa Inggris disebut wish.

Orang Jepang punya banyak cara untuk menyampaikan negai goto. Ada yang berdoa di kuil, atau menuliskannya di secarik kertas, dan meninggalkannya di sana.

Orang Barat mengucapkan keinginannya pada bintang jatuh. Orang-orang berdoa di gereja atau mesjid. Semua berharap agar keinginan mereka tercapai.

Tadi saya pagi iseng menonton serial animasi “Sazae san” di Youtube. Serial ini adalah acara TV Jepang yang paling saya sukai. Waktu masih tinggal di Jepang, hampir setiap akhir pekan saya menontonnya. Jadwal siarannya adalah jam 6.30 Minggu sore.

Saya suka karena bagi saya serial ini menjelaskan banyak hal soal budaya Jepang secara menarik.

Di episode yang saya tonton tadi pagi, ada fragmen yang menarik. Keluarga Isono, tokoh utama dalam cerita, sedang pergi wisata ke pantai. Dalam perbincangan ada cerita tentang mutiara berwarna emas (kin iro shinju).

“Kin iro shinju wo mitsukeruto negai goto wa kanaundayo,” kata Katsuo, tokoh anak laki-laki dalam keluarga Isono. (Kalau menemukan mutiara emas, keinginan kita akan terkabul, lho.)

Tapi ayahnya lalu mengingatkan.

“Negai goto wa jibun no chikara de jitsugen surundayo.” Keinginan/harapan itu harus diwujudkan dengan kekuatan kita sendiri.

Negai goto adalah ekspresi paling dasar pada manusia. Manusia dengan kesadaran akan semua keterbatasan yang ada pada dirinya. Maka ia mencari sesuatu yang maha tak terbatas.

Wujudnya bisa bermacam-macam. Dari berbagai hal seperti benda-benda, gunung, bintang, dan matahari. Atau melalui hal-hal yang lebih abstrak: Tuhan.

Tapi sering manusia itu terjebak pada kekuatan luar yang ia percayai, sampai ia lupa pada kekuatan yang ia punyai di dalam dirinya. Tuhan ada di luar sana. Tapi Dia sebenarnya telah menempatkan kekuatan yang dahsyat dalam diri manusia. Masalahnya, manusia sering kali tidak tahu cara mengeluarkannya.

Ada teman bercerita bahwa ia pernah mengangkat satu drum minyak, sendiri. Itu terjadi saat terjadi kecelakaan, ia panik dan harus memindahkan drum itu agar tidak meledak. Refleks ia angkat drum itu, dan ia pindahkan. Itu kekuatan internal yang ia keluarkan, saya yakin kekuatan itu selama ini ada di dalam dirinya.

Otak manusia konon punya kemampuan untuk menyerap puluhan bahasa. Maka kita biasa menemukan orang yang menguasai 7-8 bahasa. Itu sebenarnya tak istimewa, karena baru sedikit dari kapasitas otak yang digunakan untuk mencapainya. Nah, kebanyakan dari kita hanya mampu menguasai satu bahasa. Kita menyerah ketika belajar satu bahasa kedua.

Kita sering terlalu asyik berdoa. Maaf kalau saya sampai pakai istilah ini. Orang lebih asyik mencari keajaiban-keajaiban di luar sana, memohon keajaiban-keajaiban dari Tuhan, padahal Tuhan sudah menciptakan dirinya ajaib. Yes, we are the miracle! Kita adalah keajaiban itu. Hanya saja kita jarang bisa menyadarinya. We have the miraculous power!

Saya bukan hendak mengatakan bahwa kita tidak perlu berdoa. Hanya saya ingin katakan, jangan lalai dengan doa kita. Macam mana bisa lalai? Macam orang yang tiap hari baca Fatiha, “ihdina shiratal mustaqim”, tunjuki kami jalan yang lurus, tapi ia jarang mengkaji isi kandungan Quran, sehingga tak pernah benar-benar paham apa isi petunjuk Tuhan. Ia pun tak menggunakan akalnya untuk mencari petunjuk.

Yang harus dilakukan manusia adalah doryoku, usaha, ikhtiar. Ikhtiar adalah usaha untuk mengeluarkan mukjizat Tuhan yang ada dalam diri kita, menjadikannya kenyataan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s