Peran Ibu adalah Salah Satu Akar Kemajuan Bangsa

Dr. dr. Jumiarti Agus
Pendiri Sekolah Acikita Indonesia

Kasihan sekali dengan kondisi nyata, dimana dari riset yang ditayangkan di beberapa video Ibu ibu tidak mengetahui tentang kondisi dan hal anaknya. Jawaban orangtua umumnya salah, setelah ditanyakan jawaban setiap anak.

Di Indonesia mayoritas Islam. Dalam Islam ibu adalah sekolah pertama bagi anak. Tapi kondisi nyata anak anak tidak diasuh dan dibesarkan oleh ibu 100%. Jangankan 100% mungkin 60% pun tidak.

Di negara Jepang, mereka tegaskan, “Anakmu harus kamu yang mengurus dan membesarkan dan bukan orang lain.” Ucap Prof Doi ketika dia tahu saya hamil saat sudah 8 bulan (karena saat itu selalu pakai baju lab), dan tidak ada seorangpun warga lab yang tahu kalau saya hamil, kecuali suami.

Jujur saya syok mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut Prof Doi.

Mulai saat ini, kamu harus stop riset, saya harus cepat mengabarkan untuk kamu istirahat sampai April tahun depan, anak sudah berumur 9 bulan sehingga anak sudah bisa bersekolah.

Bukan itu saja, Prof Doi juga bertanya, “Sebenarnya goal kamu apa ya? Mau mendapatkan sertifikat Ph.D atau mau punya anak?”

“Dua-duanya sensei!”

“Tidak bisa begitu! Kamu harus pilih salah satu!”

“Istri saya juga professor, tapi ketika saya harus ke Amerika, dia berhenti dari kerajaannya!”

Benar saja, selama saya istirahat dan membesarkan Najmi di rumah dengan khusyuk, terprogram, dan rumah selalu dipel setiap hari, tapi pulang pulang suami sering membawa berita, “Kata Doi Sensei, Agus-San fokus saja membesarkan anak di rumah, dan biar kamu bisa fokus bekerja!”

Hmmm sebagai anak Indonesia, yang setiap hari guru berucap, “ Jadilah anak yang rajin, biar bisa pintar dan bisa jadi dokter, insinyur, tentu pertentangan dalam jiwa sangat dahsyat!”

Dari kecil sudah terlalu suka belajar dan terus belajar, datang ke Jepang ingin banyak belajar bioteknologi, rekayasa genetika, protein engineering, yang memang sangat asyik dan membuat takjub lebih dalam akan kebesaran Allah.

Tapi nyatanya orang Jepang berpikir tegas umumnya, masa masa punya anak, istri harus berhenti bekerja. Apakah dia jadi guru di TK, SD, SMP pada masa punya anak, dipastikan istirahat. Dan jelas tidak ada gaji. Mereka fokus mengurus anak, mengantarkan imunisasi, bermain di taman, di tempat tempat wisata, musium, perpustakaan umum, dll. Suami yang fokus untuk cari uang.

Kita lihat semua orangtua tahu persis bagaimana anaknya. Dan ini sudah ada risetnya, kemajuan bangsa Jepang ditopang oleh peran para ibu dalam membesarkan anak-anaknya.

Suatu hari saya pernah iseng bicara sama tetangga Jepang yang Islam.

“Ayasan saya salut dengan ibu ibu Jepang, waktunya dihabiskan bersama anak. Mereka mengurus anak tanpa bantuan orang lain. Tidak umum anak dititipkan sama orangtua, atau membawa Adek tinggal bersama dalam membesarkan anak. Mereka yang masak untuk anak anak mereka. Dan umumnya ibu ibu Jepang sangat sigap dan cekatan.”

Apa komen Ayasan?

“Agus-san, hal itu adalah atarimae. Terjemahan bebasnya, sesuatu yang lumrah dan biasa yang harus dikerjakan. Memang ibu kan yang harus mengurus anak anak?” Ia balik bertanya!

“Ya betul” jawab saya tegas.

“Tapi di negara saya tidak begitu umumnya. Walau mayoritas Islam. Anak umumnya dibesarkan oleh banyak pihak. Ada asisten rumah tangga, ada orangtua ada adek, ponakan. Ibunya bekerja apakah keluar rumah atau punya perusahaan sendiri, home industri, dsbnya.”

“Oh kalau begitu, apa artinya menjadi seorang Ibu?”

Saya jujur tidak bisa menjawab pertanyaan Ayasan yang simple tapi mengena banget.

Saya hanya berucap, “Ya itulah salah satu penyebab kami tidak serempak maju seperti anak anak di Jepang umumnya yang serempak maju. Karena negara punya aturan tegas, terimplementasi dalam kehidupan nyata. Banyak support dalam mendidik dan membesarkan anak dari pemerintah melalui programnya yang sangat detil. Banyak hal yang meringankan tugas ibu, hingga saat ibu sakit pun, negara melalui pemerintah kota punya bagian khusus yang bertugas menerima volentir yang siap membantu ibu ibu muda yang kelelahan, capek atau ingin punya waktu bersenang senang, main dan jalan jalan ke mall seorang diri, tanpa harus dorong dorong anak di baby car, seperti rutinitas mereka setiap hari.

Saya salut dengan kinerja pemerintah mereka, jangankan untuk urusan perut, sekolah, listrik dan gas yang semuanya tersedia ke rumah rumah rakyat, tapi urusan seorang warga yg butuh bantuan tenaga orang lain pun negara mengurusnya.

Bagaimana dengan Indonesia kita?
Bisa kita jawab sendiri ! Semua kita sudah paham!

Sebagai anak bangsa perjuangan apa yang bisa kita perbuat?

Tiada lain dengan merubah sistem pendidikan, dengan mencharger banyak warga Indonesia untuk mengenal life style nyata orang di negara maju, misalnya Jepang, adalah perjuangan yang paling handal, karena pemerintah sangat abai. Apalagi kalau anak anak pelajar yang mengikutinya. Mereka akan cepat menerima kebenaran. Itulah makanya kenapa disamping mengedukasi anak melalui sekolah ACIKITA, kami juga mengedukasi anak melalui kegiatan ASSJA, visit nyata tentang rahasia kemajuan bangsa Jepang. Dan alhamdulillah dari semua kegiatan yang diadakan tidak ada satu pun anak yang menyesal, ketika kami hadirkan program untuk mencharger mereka.

“Program ini adalah pengalaman spesial yang pernah saya ikuti dan tak akan pernah terlupakan sampai kapanpun. Kami mengerti banyak rahasia kemajuan bangsa Jepang. Suatu saat ingin datang k sini lagi sebagai pelajar!” Ucap salah satu peserta!

“Saya karena di Indonesia tidak terbiasa jalan, maka sangat capek rasanya. Tapi saya juga sangat senang dan puas sekali. Bisa banyak tahu tentang Jepang. Saya tidak mengira Jepang yang sesungguhnya seperti yang diperkenalkan, secara nyata ini kepada kami. Harusnya biar orangtua juga pada maju, sebaiknya mereka juga mengikuti program ACIKITA ini!” Ucap Athifa peserta Summer Vacation 5.

“Terus Maju ACIKITA”

“Semoga ACIKITA makin maju”

“Terimakasih ACIKITA yang sudah menyadarkan pelajar Indonesia”

Dan masih banyak lagi ungkapan para Peserta. Dan ini adalah hal sama dengan tahun 2017. Semua mereka juga membuat tulisan (review), dan insyaAllah akan dibukukan di ACIKITA punlishing. Diharapkan menjadi syiar untuk memajukan kita semua. Aamiin YRA.

Semoga kita bisa mengambil poin positiv dari tulisan ini.

Tetap semangat untuk kemajuan Indonesia

Wassalam
Jumiarti Agus

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s