Mahasiswa Sesat

Jumat, 26 Februari 2016
Oleh: Hasanudin Abdurakhman

Ketika saya punya keluangan waktu dan dana, saya sengaja menyempatkan diri berkunjung ke kampus-kampus. Ada banyak mahasiswa tersesat di kampus-kampus. Saya tahu itu sejak dulu, saat saya masih jadi dosen tetap.

Di hari pertama kuliah biasanya saya ajukan pertanyaan kepada para mahasiswa,”Apa tujuanmu kuliah?”

Kebanyakan dari mereka gagap dalam menjawab pertanyaan ini. Mereka tak tahu untuk apa mereka kuliah. Sebagian menjawab klise, untuk menuntut ilmu.

Tapi pertanyaan saya konkret, kamu mau jadi apa? Nanti setelah lulus akan bekerja sebagai apa? Sebagian besar tidak menyadari bahwa kelak mereka harus bekerja sebagai manusia mandiri.

Lalu mengapa kuliah? Sebagian karena disuruh orang tua. Sebagian yang lain karena tak tahu mau melakukan apa selepas tamat SMA. Atau sekadar ikut-ikutan saja.

Mereka ini kemudian hanya memperpanjang masa sekolah, atau menunda masa menganggur. Setelah lulus, akan jadi pengangguran.

Ada begitu banyak orang tua yang mengirim anaknya kuliah, juga tanpa tujuan. Pokoknya kuliah, punya gelar sarjana kalau kelak lulus. Kalau sudah sarjana, pasti dapat pekerjaan. Sarjana pasti cerah masa depannya.

Di masa lalu memang begitu. Sarjana muda saja pun sudah bisa bekerja. Para orang tua ini tak menyadari bahwa zaman sudah berubah. Kini sudah banyak, bahkan sangat banyak sarjana menganggur.

Di suatu ceramah oleh Kepala BKKBN disampaikan data bahwa hanya 1 dari 7 lulusan sarjana yang mendapat pekerjaan.

Para orang tua beranggapan bahwa semua anak harus kuliah. Mereka juga beranggapan bahwa kuliah harus mendapat gelar. Maka banyak orang tua yang memaksa anak-anaknya kuliah, tanpa memperhatikan kemampuan intelektual sang anak, serta minatnya.

Dulu ada teman saya yang saya kenal betul tingkat kecerdasannya. Mohon maaf, sangat rendah. Tapi kebetulan orang tuanya kaya. Sang anak dikuliahkan. Hasilnya, selama kuliah anak itu hanya hura-hura menghabiskan harta orang tuanya.

Dalam sebuah ceramah di sebuah kampus di Mataram seorang mahasiswa mengeluh. “Saya ini tak berminat kuliah, Pak. Saya mau berbisnis. Tapi orang tua saya memaksa. Saya masuk kuliah asal saja, lalu masuklah saya ke jurusan fisika. Padahal saya sama sekali tak berminat dengan bidang ini.”

Saya ke kampus dengan tujuan membawa pesan dari dunia nyata kepada para mahasiswa. Dunia nyata adalah dunia kerja, di mana setiap orang dituntut dengan suatu tanggung jawab, dan di mana orang harus berkompetisi.

Kompetisi dimulai sejak di pintuk masuk ke dunia itu. Yang kalah tak akan bisa masuk, dan harus berada di dunia nyata yang lain, yaitu dunia pengangguran.

Ada mahasiswa yang sadar bahwa mereka harus masuk ke dunia kerja. Tapi mereka sama sekali tak mengenal dunia itu, dan tidak mempersiapkan diri untuk bersaing di pintu masuknya.

Mereka tak tahu bagaimana pelajaran-pelajaran yang mereka tekuni di bangku kuliah akan terpakai di dunia kerja. Atau, mereka tak tahu bekal apa yang harus mereka kumpulkan selama kuliah.

Ada kasus klise yang sering saya lihat. Mahasiswa baru sadar bahwa kemampuan bahasa Inggris mereka parah saat mereka sudah lulus. Ketika mencari kerja gagal karena itu. Kemudian mereka baru mulai belajar, ikut kursus. Terlambat sudah.

Penguasaan bahasa Inggris memerlukan waktu setidaknya 2 tahun. Mereka harus kehilangan waktu lagi. Padahal seharusnya hal ini dipersiapkan selama kuliah.

Saya pergi ke kampus-kampus, mengajak para mahasiswa membangun mimpi, menetapkan visi. Saya mengajak mereka menjalin kontak dengan mimpi itu.

Saya mengajak mereka untuk membuat program persiapan menuju dunia kerja, dengan target terukur, dalam batas waktu yang jelas.

Sayangnya saya belum punya banyak kesempatan untuk bertemu dengan para orang tua. Para orang tua harus diingatkan bahwa tidak semua anak harus atau perlu kuliah. Ada begitu banyak orang sukses tanpa kuliah. Kuliah bukan jaminan sukses.

Saya ingin mengajak mereka mengenal potensi setiap anak, dan mengarahkan mereka meraih sukses dengan mengembangkan potensi masing-masing.

Advertisement

Apakah Anda Punya Blueprint (Tujuan Pengasuhan) untuk Anak Anda?

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #11

Bagaimana jika seseorang melakukan perjalanan tanpa memiliki tujuan? Perjalanan tersebut bisa tetap terjadi, namun di akhir perjalanan hanya ada 3 kemungkinan: mendapat sesuatu karena keberuntungan, tidak mendapat hasil apa-apa, atau bahkan tersesat.
.
Dalam menjalankan amanah pengasuhan, sanggupkah kita bertaruh untuk ketiga kemungkinan di atas sedangkan pada akhirnya kita pasti dimintai pertanggungjawaban?
.
Dalam riset yang dilakukan YKBH kepada para ibu dari beragam usia dan kemampuan ekonomi, diperolehlah hasil bahwa orangtua tidak memiliki tujuan pengasuhan yang spesifik. Sehingga, beginilah anak-anak kita, anak-anak yang dalam riset kami 30 dari 100 anak telah melihat pornografi secara sengaja di kelas 4, 5, dan 6 SD. Hasil dari pengasuhan tanpa arah.
.
Di lain sisi, mereka adalah penghuni rumah masa depan. Maka, biarkan ia sendiri yang membangunnya. Sebagai malaikat penjaga, kita hanya diamanahi untuk memastikan ia kembali dengan selamat kepada Pemiliknya seiring ia membangun rumah masa depannya.
.
Bagaimana caranya?
.
Anak belum memiliki pemahaman yang mumpuni tentang hidup dan kehidupan. Oleh karena itu, ia membutuhkan tujuan, pola dasar, denah, perencanaan, agar punya acuan bagaimana rumah masa depan yang akan dibangunnya.
.
Bukan membuatkan rumahnya, cukup perencanaannya saja. Tentu saja dengan mempertimbangkan peran yang akan dijalaninya sepanjang hidup dan berlandaskan atas kebenaran hakiki (agama). Sebutlah perencanaan ini sebagai Blueprint atau Tujuan Pengasuhan.
.
Apa saja poin blueprint atau tujuan pengasuhan itu?
.
Setiap manusia lahir dengan tujuan penciptaan dari Allah swt. Apa sih tujuan penciptaan manusia? Ada dua dimensi, yaitu dimensi vertikal (hablumminallah) dan dimensi horizontal (hablumminannas).
.
Dalam dimensi vertikal, tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Beribadah berarti melakukan segala sesuatu hal yang diridhai oleh Allah. Melaksanakan aktivitas ibadah yang diridhai Allah akan menjadikan seseorang mendapat predikat tertinggi di mata Allah, yaitu predikat hamba. Maka, blueprint pertama pengasuhan kita adalah menjadikan anak kita sebagai hamba yang bertakwa .
.
Sedangkan dalam dimensi horizontal, manusia diciptakan agar menjadi Khalifah yang akan menjaga, mengelola, dan memakmurkan bumi. Yang mana jika kita menjalaninya dengan baik, juga merupakan bentuk ibadah hamba kepada Allah.
.
Yang perlu diingat, peran khalifah itu general. Dari memimpin diri sendiri, keluarga, hingga masyarakat. Namun jangan sampai terbalik. Ingat ya, diri sendiri dulu, lalu keluarga, baru masyarakat.
.
Kemampuan memimpin diri sendiri sudah terangkum dalam blurprint pertama, blueprint selanjutnya sebagaimana tuntunan agama adalah kemampuan anak memimpin keluarga.
.
Di masa depan, anak kita akan membangun keluarga. Ia akan menjadi suami atau istri jika Allah menghendaki, dan akan menjadi ayah atau ibu jika Allah menghendaki. Kita sebagai orangtua berkewajiban mempersiapkan anak untuk menjadi suami atau istri serta ayah atau ibu yang baik agar tercipta keluarga surga.
.
Menikah bukan hanya tentang menyatukan dua keluarga, namun meletakkan satu batu bata peradaban. Menikah adalah tentang menciptakan generasi penerus yang BEST (Behave Emphatic Smart Tough). Maka, tanggungjawab kita mempersiapkan anak kita menjadi ayah ibu pendidik generasi BEST.
.
Sebagai makhluk sosial, anak kita dibutuhkan perannya di berbagai peran kemasyarakatan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Sebagaimana tujuan penciptaan manusia dalam dimensi horizontal, maka didik anak kita siap bermanfaat untuk masyarakat agar menjadi Khalifah yang mampu menjaga, mengelola, dan memakmurkan bumi.
.
Untuk menjalankan peran kebermanfaatan ini, bisa dilakukan secara professional melalui jalur profesi formal, bisa juga dilakukan melalui jalur non profesi (hobi misalnya). Maka, penting juga bagi kita membekali anak-anak kita dengan aneka ragam ilmu dan keahlian yang diminatinya.
.
Tak perlu fokus dari awal jika anak berminat dengan banyak hal, kita tidak pernah tahu ilmu dan keahlian mana saja yang akan ia manfaatkan sepanjang hidupnya. Jangan pula menitipkan mimpi-mimpi kita yang tidak kesampaian, biarkan anak kita melukiskan dinding masa depannya sendiri.
.
Mendidik anak laki-laki tentulah berbeda dengan mendidik anak perempuan. Mengapa? Karena ada beberapa peran yang diemban laki-laki dewasa namun tidak diemban perempuan dewasa. Misalnya, menjadi pemimpin keluarga inti dan pengayom keluarga besar.
.
Jadi, apa saja blueprint (tujuan pengasuhan) untuk anak kita?
1. Menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah swt
2. Menjadi suami dan istri yang baik
3. Menjadi ayah ibu pendidik generasi BEST
4. Menjadi pribadi yang berilmu dan memiliki keahlian
5. Menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat secara profesional
Bagi anak perempuan, 5 blueprint ini sudah cukup, namun bagi anak laki-laki ada 2 poin lagi, yaitu :
6. Menjadi pendidik istri dan anak-anak
7. Menjadi pengayom keluarga
.
Blueprint memandu orangtua untuk membuat target jangka pendek dan menengah mengenai tujuan pengasuhannya, dan mengevaluasi apakah pengasuhannya efektif dengan hasil akhir yang diharapkan.
.
Ajak diskusi pasangan kita tentang apa saja blueprint bagi anak kita agar kita menjadi orangtua yang kompak dan konsisten. Samakan “suara”, nggak lucu kan kalo ayah nyanyi lagu Burung Kakatua, ibu nyanyi lagi Topi Saya Bundar? Karena anak kita bisa bingung dan bertanya-tanya, “Jadi aku harus gimanaaaaa?”. Anak-anak kita membutuhkan orangtua yang solid.
.
Anak kita perlu mengetahui blueprint bagi dirinya agar ia terbantu untuk tetap on the track dengan tujuan penciptaannya.
.
Yuk asuh anak kita sesuai blueprintnya 🙂

Ketika Patah Semangat

Hasanuddin Abdurakhman
abdurakhman.com

Dalam sebuah training seorang karyawan muda bertanya pada saya,”Saya sadar betul bahwa saya harus bekerja dan belajar giat untuk masa depan saya. Tapi sulit sekali menjaga semangat untuk konsisten berusaha. Bagaimana caranya menaikkan semangat saat semangat kita turun atau kurang?”

Kepada karyawan baru tadi saya tanya, berapa gajimu sekarang? Blak-blakan saja, tidak jauh dari gaji UMK. Beda tipis. Berapa kenaikan berkala yang bisa kamu harapkan setiap tahun? Tidak banyak. Padahal tuntutan kebutuhan hidup meningkat terus setiap tahun. Di masa depan kamu harus menikah. Untuk itu kamu perlu biaya, baik untuk pernikahannya maupun untuk hidup setelah itu. Tanggungan kamu bertambah. Belum lagi kalau nanti punya anak. Sekali lagi, tanpa kamu menaikkan gaya hidup pun tuntutan kebutuhan akan selalu naik. Jadi ingatlah bahwa bekerja keras adalah satu-satunya pilihan. Kita tidak punya pilihan lain.

Hidup itu seperti mendaki tanjakan. Kita tidak suka dengan tanjakan itu, karena mendakinya melelahkan. Tapi kalau kita berdiri saja di tanjakan itu pun, kita juga lelah. Jadi tidak ada pilihan lain kecuali mendaki, dan mendaki dengan giat, hingga kita bisa mencapai suatu titik di mana kita bisa beritirahat. Kalau kita sudah di puncak, kita bisa beristirahat dengan lebih tenang.

Jadi bagaimana cara menaikkan semangat? Dengan menatap ke puncak. Dengan mengingat-ingat bahwa di depan sana ada tujuan, bila kita sampai di sana maka segala ketidaknyamanan sekarang akan berakhir.

Apa yang mematahkan semangat kita? Kenikmatan sesaat atau kenikmatan instan. Santai bermalas-malasan, atau kumpul-kumpul tanpa tujuan adalah kenikmatan yang menggoda, sedangkan kerja keras adalah siksaan. Tapi sebenarnya santai terus menerus juga bukan sesuatu yang nikmat. Pada dasarnya manusia akan bosan bila ia melakukan hal yang sama terus menerus. Maka yang perlu dilakukan adalah membuat selingan.

Lakukan hal-hal yang kita sukai, tapi batasi diri. Beri jatah bagi diri kita, berapa lama kita boleh melakukan hal itu. Segera hentikan, lalu kembali pada kewajiban kita. Selesaikan kewajiban kita, kemudian nikmati kembali hak kita untuk santai. Yakinlah bahwa santai setelah kita menyelesaikan kewajiban jauh lebih nikmat daripada santai terus menerus, atau santai sambil khawatir soal kewajiban kita yang masih terbengkalai. Jadi kuncinya terletak pada ketegasan kita pada diri sendiri untuk tidak berlarut-larut dalam kenikmatan instan yang membuat lalai.

Menciptakan selingan penting untuk menjaga energi kita. Saat kita sedang jenuh, cobalah berhenti sejenak untuk bersantai. Atau, kerjakan hal lain yang juga merupakan tugas kita, tapi berbeda dengan yang saat ini membuat kita jenuh. Dengan begitu kita bisa sedikit lepas dari beban, tapi tetap tidak meninggalkan tugas atau kewajiban. Cara lain, carilah bagian yang mudah pada pekerjaan itu untuk kita kerjakan pada saat-saat jenuh.

Cara lain untuk mempertahankan semangat adalah dengan membuat tahapan-tahanpan pekerjaan. Bila tercapai satu tahap, kita merasakan bahwa pekerjaan kita mengalami kemajuan. Kemajuan kecil sekalipun akan kita nikmati sebagai sukses kecil yang membahagiakan. Kebahagiaan kecil akan memberi tambahan energi untuk menjalani proses selanjutnya.

Jadi sekali lagi, hidup tidak punya pilihan. Kita harus terus mendaki. Kalau tidak kita akan tertinggal, atau terperosok ke jurang. Buatlah setiap langkah pendakian itu nikmat, dengan menikmati apa yang ada di sepanjang jalan. Ingatlah selalu kenikmatan yang akan kita raih bila kita tiba di puncak. Sesekali beritirahatlah. Buatlah tahapan-tahapan di tengah jalan, di mana kita bisa beritirahat sejenak sambil melihat jalan yang kita lalui tadi. Nikmati kesadaran bahwa kita sudah mendaki sekian jauh, dan kita masih akan punya banyak tenaga untuk tiba di puncak.

Fokus kepada Tujuan Membawa Kepada Hakekat Korporasi

Berikut Copas dari komunitas CEO Indonesia)
Hallow!!!
Salam buat anda dari GA 193, KNO – CGK.

Hari ini saya belajar lanjut tentang perusahaan Teal. Tentang kenapa ada perusahaan yang pertumbuhannya luar biasa. Di sisi lain, ada perusahaan yang separoh mati ingin bertumbuh, namun malah tidak mendapatkannya.

Ada fakta yang menarik. Manusia pada dasarnya gak akan bisa bertahan lama dengan tujuan kecil atau tujuan yang egois. Namun begitu banyak perusahaan yang ‘memaksa’ tim-nya untuk antusias dengan visi yang kecil. Visi untuk sekedar memenuhi target.

Namun manusia memang tidak bisa mengeluarkan potensi terbesarnya untuk alasan sekecil itu.

Lihatlah Aung San Su Kyi atau Mahatma Gandhi. Lihatlah Nelson Mandela yang rela sampai dipenjara bertahun-tahun demi memperjuangkan sesuatu yang sangat besar. Ini yang menggerakkan manusia.

Namun ini yang sering kali dilupakan oleh perusahaan. Apa sebenarnya tujuan dari dibuatnya perusahaan itu? Perusahaan sudah sering melupakan tujuannya dan hanya mengejar 1 hal, “Pertumbuhan.” Apa tujuan bertumbuh? Sudah gak tau.
Pokoknya pertumbuhan itu sendiri sudah dijadikan tujuan.

Kalau coba kita tanyakan visi misi perusahaan kepada salah satu karyawannya, sering kali jawabannya gak tau. Apa cuma karyawan yang gak tau. Nggak, ternyata ini juga terjadi pada para managers dan CEO.

Apa bukti lain bahwa organisasi sering kali melupakan tujuannya? Saat sedang terjadi perdebatan besar, jarang sekali ada yang menghentikan meeting dan bertanya, “Eh, mari kita stop dulu. Apa sebenarnya tujuan dari dibuatnya perusahaan ini?”

Di organisasi red, amber, orange, drive utama adalah “fear”. Para karyawan dan bosnya melihat dunia sebagai tempat yang berbahaya. Tempat di mana persaingan dengan kompetitor sangat keras. You win or I win.

Di perusahaan Teal, ini sudah berubah semua. Mirip sekali dengan organisasi Green. Fokusnya sudah bukan lagi sekedar survival atau persaingan.

Yang benar-benar penting adalah, “Tujuan perusahaan.” Sungguh-sungguh penting dan sering kali disebut. Itu makanya XI sering kali mengucapkan dan mengulangi, “Bahwa XI mempunyai tujuan mengabulkan mimpi sebanyak mungkin otrang di dunia.”

Ini sungguh-sungguh menjadi energi bagi seluruh team XI. Energy yang menyemangati dan memberikan arah untuk seluruh perusahaan. Untuk semua orang yang ada.

Orange organization sangat concern dengan target dan angka. Mereka banyak menyebutkan kompetitor. Us VS Them. KIta lawan mereka.

Namun ternyata di organisasi Teal, kata-kata “Kompetisi” menghilang sama sekali.

Ketika sebuah perusahaan benar-benar hidup untuk menjalani purpose-nya, maka kompetisi hilang. Apanya yang mau kompetisi? Tujuannya aja udah beda banget.

Bukan lagi untuk meningkatkan market share, dll. Namun untuk sesuatu yang jauh lebih besar dan jauh lebih mulia.

Siapa saja yang bisa membantu perusahaan untuk mewujudkan mimpinya, adalah teman. Bukan lagi saingan.

Itu makanya Jos De Blok, pendiri Buurtzorg, dengan sennag hati mau menjadi penasehat di perusahaan saingannya. Tanpa bayaran. Bahkan dia mengundang perusahaan2 lain untuk meniru caranya. Agar mimpi mereka lebih cepat terkabul.

Ini kontras sekali dengan praktek orange. Lihatlah Coca-cola yang menyimpan rapat-rapat rahasia resep minumannya.

Ini juga yang terjadi pada Patagonia. Mereka ingin membangun bumi yang jauh lebih baik. Mereka gak mau menjual baju yang malah merusak alam. Maka semua keputusan diambil berdasarkan tujuan ini.

Patagonia bahkan sering kali mengatakan, “Baju yang ada di lemari kita, sebenarnya cukup untuk menghangatkan kita seumur hidup.” Kalau perlu gak usah beli baju. Padahal dia adalah penjual baju!!

Patagonia bahkan menawarkan jasa untuk memperbaiki dan recycle baju. Padahal tiap kali mereka memperbaiki dan recycle baju yang sudah ada, artinya berkurang satu baju yang dibeli oleh client. Namun mereka dengan senang hati melakukannya. Karena memang itu tujuan dari Patagonia.

Mereka tidak mau mengejar profit hanya untuk sekedar mengejar profit. Gak mau sekedar bertumbuh.

Namun paradox-nya, justru perusahaan-perusahaan Teal ini malah mempunyai rekor pertumbuhan yang luar biasa.

Semoga tim anda makin semangat untuk terus mengejar tujuannya!

Salam Dahsyat!
Hendrik Ronald – Pakar Service Excellence No.1 di Indonesia

Mau Dibawa Kemana Keluarga Kita?

by : bendri jaisyurrahman (twitter : @ajobendri)

Ada satu pertanyaan penting yang harus kita jawab saat memulai rumah tangga : mau dibawa kemana keluarga kita? Pertanyaan ini akan menggiring kita kepada sikap dan cara berumah tangga. Jika kita menjawabnya mengalir bagai air, seraya berharap mengalir ke danau jernih meskipun ternyata ngalirnya ke got atau septic tank, maka sikap kita dalam berumah tangga cenderung reaktif layaknya pemadam kebakaran. Hanya sibuk memadam masalah yg tiba-tiba muncul.

Inilah model keluarga survival. Hidup yang penuh adrenalin. Berdebar debar, khususnya dirasakan para istri. Hanya menerka nerka apa gerangan yg terjadi esok sambil siapin mental untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk.

Jika Anda naik roller coaster semenit aja bisa muntah-muntah, maka model keluarga seperti ini dijamin akan membuat cemas dan berpeluang stroke.
Lain halnya jika Anda jelas tujuannya mau kemana. Dan tau jalan menuju tujuan itu. Meskipun berliku-liku dan ada turbulensi dan guncangan sepanjang jalan, tetap kan tegar. Karena telah memprediksi kejadian tersebut sebelumnya.

Inilah keluarga yg punya visi. Bukan berarti gak punya masalah. Namun tau apa yg dilakukan saat menghadapi masalah karena jelas tujuan dan arahnya.

Maka, visi berkeluarga menjadikan kita menikmati setiap irama hidup berumah tangga. Baik iramanya dangdut koplo atau black metal. Masing-masing telah dipahami pola nadanya. Saat berkelimpahan tau sikap yg dilakukan, saat berkesusahan mengerti strategi yg diterapkan. Tetap optimis sampai ke tujuan.

Tidak saling menyalahkan. Sebab masing masing anggota paham rute dan medannya.
Itulah kenapa perintah agama senantiasa mengajak kita untuk membuat visi dalam berbagai hal khususnya dalam berkeluarga. Allah katakan dalam alquran surat al hasyr ayat 18 : Hai orang orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah. Dan hendaklah tiap tiap diri melihat apa yang akan dilakukannya esok hari. Maka bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan”

Ayat ini memakai kalimat تنظر dari kata نظر yang maknanya melihat dengan jelas. Ini menandakan bahwa masalah visi adalah bukan sekedar dalam pikiran namun terimajinasikan hingga seolah-olah kita melihatnya. Dengan melihat jelas itulah kita melihat dua hal : peluang sekaligus tantangan. Peluang kita jadikan alat untuk meraih tujuan dan tantangan kita sikapi dengan antisipasi sedari awal. Inilah keluarga yang selamat.

Karena itu, sebelum biduk dikayuh hendaknya masing masing anggota keluarga saling mengingatkan tujuan, ‘kita mau kemana?’ Jangan sampai energi mengayuh habis sepanjang jalan hanya untuk siap siap tenggelam karena tidak mengerti arah dan tujuan bersandar.

Sebagai muslim, Allah telah membuat panduan visi dalam keluarga. Visi umum ini mutlak kita ikuti. Tinggal misi operasionalnya yg berbeda antar keluarga. Visi yang dimaksud di antaranya :
1. Terbebas dari siksa api neraka (At tahrim : 6)
2. Masuk surga sekeluarga (ath thur : 21)

Kedua visi ini memberi petunjuk kita bahwa urusan akherat adalah prioritas. Bukan sambilan. Apalagi dianggap penghambat kesuksesan dunia. Jangan sampai muncul kalimat : ngajinya libur dulu ya, besok kamu mau UN. Ntar UN nya keganggu lagi. Ini menunjukkan bahwa kita telah gagal menempatkan akherat sebagai prioritas. Padahal urusan akherat itu yg utama sebagaimana Allah sebutkan dalam surat al qososh ayat 77(silahkan buka sendiri ayatnya)

Untuk menjaga visi berkeluarga agar sesuai dgn petunjuk quran tersebut, maka mulailah dari dominasi tema dialog dalam rumah tangga kita. Ada sebuah ungkapan masyhur yg diucap Ibnu Jarir Ath Thobari dalam kitab tarikhnya “dialog yg sering dibicarakan antar rakyat menunjukkan visi asli pemimpinnya”. Kesimpulan ini beliau ucapkan setelah meneliti visi para pemimpin di zaman dinasti umayyah, mulai dari Sulaiman bin Abdul Malik, Walid bin Abdul Malik hingga ke Umar bin Abdul Aziz. Apa yg dibicarakan rakyat menunjukkan visi pemimpinnya. Saat rakyat banyak dialog tentang jumlah anak istri dan cucu ternyata sesuai dengan visi Sulaiman yg memang concern kepada urusan pernikahan dan keluarga. Begitupun saat rakyat banyak berdialog tentang uang dan harta di masa Walid, sebab memang visinya walid seputar materi dan pembangunan.

Dan anehnya begitu di masa Umar bin Abdul Aziz rakyat lebih banyak dialog tentang iman dan amal sholeh. Tersebab memang pemimpinnya, yakni umar, kuat visinya akan akherat,

Dengan demikian, coba perhatikan dialog dalam keluarga kita, khususnya anak anak sebagai ‘rakyat’ dalam keluarga, Itulah visi asli kita. Jika lebih banyak bicarakan liburan dan makanan sebab visi keluarga mungkin seputar wisata kuliner. Sebaliknya jika sudah mulai bicarakan hal hal seputar agama, itu tanda visi akherat dari ortu telah sampai kepada mereka.

Mulailah dari perbaikan lisan (al ahzab : 70) lewat dialog yg bernuansakan akherat, maka kelak akan terperbaiki amalan kita menuju cita cita : masuk surga bersama. Inilah sejatinya keluarga. Yakni ketika kumpul bersama di surga. Dan terhindar dari keluarga broken home, dimana bukan yg tercerai berai di dunia, namun keluarga yg tak mampu kumpul bersama di surga.

Semoga Allah kabulkan pinta kita tuk ajak sanak famili kumpul bersama di jannahNya. Aamiin (bendri jaisyurrahman)