Tantangan Disrupsi Teknologi

Oleh : Paul Sutaryono,
Pengamat Perbankan dan Mantan Assistant Vice President BNI

Kompas, 9 Oktober 2017

Perbankan di Uni Eropa telah menutup 9.100 kantor cabang dan memangkas sekitar 50.000 orang staf pada 2016. Hal ini terjadi sejalan dengan meningkatnya penggunaan layanan perbankan daring (online) oleh nasabah.

Secara keseluruhan sudah ada 48.000 kantor cabang yang ditutup di Uni Eropa selama kurun 2008-2016. Pengurangan ini mencapai seperlima dari jumlah kantor cabang yang ada (Kompas..com, 13/9/2017). Inilah tantangan sejati bagi bank: disrupsi teknologi.

Apa itu disrupsi teknologi (disruptive technology)? Disrupsi teknologi merupakan sesuatu yang menggeser teknologi yang telah mapan dan menggoyang industri atau produk yang kemudian melahirkan industri baru (Prof Clayton M Christensen, 1997). Berikut beberapa contoh disrupsi teknologi. Personal computer (PC) telah menggeser mesin tik. Surat elektronik telah menggantikan menulis surat dan mengganggu bisnis kantor pos dan industri kartu ucapan. Telepon seluler telah menggantikan industri telepon tetap dan laptop menggantikan PC. Pun telepon pintar telah menggeser kamera saku, pemutar MP3, dan kalkulator. Jaringan media sosial telah menggeser telepon, surat-el, dan pesan singkat (SMS).

Di Indonesia telah lahir bank nirkantor (branchless banking). Bank nirkantor atau Layanan Keuangan Tanpa Kantor (Laku Pandai) merupakan kegiatan jasa layanan perbankan dan jasa keuangan lainnya yang dilakukan tidak melalui jaringan kantor lembaga keuangan secara fisik. Laku Pandai memanfaatkan teknologi dan pihak ketiga yang bekerja sama dengan bank terutama untuk melayaniunbanked dan unbankable people. Nasabah cukup mempunyai nomor telepon seluler bukan rekening bank untuk menerima kiriman uang..

Tak terbayangkan sebelumnya, kini muncul perusahaan teknologi finansial (tekfin). Cara mereka dalam memberikan kredit kepada debitor begitu berbeda dari praktik perbankan konvensional. Misalnya, tanpa agunan, tanpa tatap muka antara kreditor atau investor dan debitor, lebih cepat, dan mudah. Begitu pula dalam menggali dana masyarakat yang disebut investor.

Faktor kunci keberhasilan

Lantas, apa saja faktor kunci keberhasilan (key success factors) bagi bank agar mampu menghadapi disrupsi teknologi?

Pertama, bank harus berani berdamai dengan tantangan disrupsi teknologi seperti munculnya perusahaan tekfin yang terus melaju. Bank berani berdamai berarti bank harus berbenah diri dengan aneka jurus. Katakanlah, bank wajib meningkatkan anggaran teknologi untuk mengembangkan sayap bisnis berbasis teknologi sehingga mampu bersaing dengan perusahaan tekfin. Bank dapat menjalin kerja sama dengan perusahaan tekfin untuk menggarap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kiat non-organik itu lebih efektif, efisien, dan cepat daripada membangun sendiri dari awal.

Mengapa? Karena segmen itu menjadi pasar target perusahaan tekfin dengan masuk ke pasar keuangan wong (orang) cilik. Meskipun dipandang kecil, UMKM terdiri dari 61 juta usaha sehingga sanggup menyerap 114 juta tenaga kerja. Selain itu, UMKM mengandung margin yang mahatebal sehingga menjadi mesin penghasil pendapatan dari bunga (interest income) yang gurih habis.

Terlebih ketika kelak pemerintah menurunkan suku bunga kredit usaha rakyat (KUR) dari 9 persen menjadi 7 persen. KUR ditujukan kepada pelaku UMKM dengan plafon kredit di atas Rp 10 juta hingga Rp 25 juta (mikro) dan hingga Rp 500 juta (KUR ritel) melalui bank pelaksana yang telah ditetapkan pemerintah. Penurunan itu bertujuan final supaya UMKM makin terjangkau oleh kredit perbankan. Untuk plafon kredit hingga Rp 10 juta, telah tersedia ultra mikro (UMI) dengan suku bunga kredit sebesar 2-4 persen, dan ini amat rendah.

Akan tetapi, cepat atau lambat, KUR dan UMI akan menggerus rezeki Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Sebab, suku bunga kredit BPR jauh lebih tinggi, padahal segmen mikro menjadi bisnis inti mereka. Liriklah suku bunga kredit BPR untuk modal kerja 27,48 persen, investasi 24,56 persen, dan konsumsi 25,27 persen per Juli 2017. Mestinya pemerintah mempertimbangkan pula kelestarian bisnis 1.617 BPR yang telah membangun ekonomi rakyat.

Selama ini, segmen UMKM telah menyelamatkan ekonomi ketika terjadi krisis ekonomi pada 1997-1998 dengan tetap bertahan dengan perkasa. Mimpinya, UMKM dan UMI dapat menjadi sokoguru ekonomi rakyat untuk mendukung perekonomian nasional.

Kedua, bank pun harus berani berubah seturut dengan sifat teknologi yang terus berubah. Jangan lupa disrupsi teknologi juga (akan) mengubah bukan hanya sektor jasa keuangan seperti perbankan, perusahaan pembiayaan (multifinance), perasuransian, pegadaian, pasar modal, melainkan juga sektor lainnya, seperti sektor ritel, pendidikan, kesehatan, manufaktur, pertanian, dan transportasi.

Akibatnya, bank harus segera menata diri untuk melakukan antisipasi lini bisnis apa saja yang bakal terkena disrupsi teknologi. Paling rawan terkena disrupsi teknologi adalah pegawai yang langsung berkaitan dengan layanan produk dan jasa perbankan di kantor cabang. Kok bisa? Karena fungsi layanan nasabah (front office) itu sangat mudah tergeser dengan pemanfaatan teknologi. Itulah sebabnya banyak kantor cabang kecil (secara fisik) terpaksa ditutup demi efisiensi.

Tingkat efisiensi perbankan tampak terang benderang pada rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) yang menurun (membaik) dari 81,37 persen per Juli 2016 menjadi 78,85 persen per Juli 2017 di tengah ambang batas 70-80 persen. Hal itu menyiratkan bank telah efisien, tetapi masih jauh jika dibandingkan dengan BOPO bank di ASEAN 40-60 persen. Artinya, bank wajib terus mengerek tingkat efisiensi supaya lebih mampu bersaing.

Oleh karena itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu menetapkan BOPO menjadi 60-70 persen pada semester I-2018 dan 50-60 persen pada semester II-2018. Hal itu sebagai langkah antisipasi bagi bank dalam menepis serbuan bank asing yang terus merangsek Indonesia.

Ketiga, salah satu kiat jitu untuk menaikkan tingkat efisiensi adalah berinovasi dengan memanfaatkan teknologi. Efisiensi merupakan kunci sukses menjadi pemenang dalam persaingan yang semakin sengit.

Inovasi berbasis teknologi pun menjadi kunci kelestarian bisnis. Apa manfaat teknologi bagi perbankan? Beberapa manfaat dapat disebut, misalnya meningkatkan tingkat layanan (service level): dengan ATM, nasabah akan lebih leluasa dalam memberdayakan kekuatan finansialnya; mempercepat antaran jasa (service delivery): dengan sistem online banking, nasabah akan dengan cepat menerima transfer dari mitra bisnisnya di ujung dunia sekalipun; meningkatkan efisiensi (efficiency lever): tidak menuntut banyak personel yang berarti biaya rendah tetapi dengan hasil tinggi; meningkatkan efektivitas (effectivity lever): dengan personel sedikit tetapi efektif.

Manfaat lain, meningkatkan produktivitas pegawai (employee productivity): pegawai akan lebih cepat menyelesaikan tugas dengan menggunakan komputer; meningkatkan layanan kepada nasabah (customer service): dengan sistem online banking, nasabah dapat terlayani dengan cepat dan akurasi tinggi dan meningkatkan kemampuan penjualan (sales capabilities): dengan internet banking, phone banking, SMS banking,mobile banking, tawaran produk dan jasa serta transaksi perbankan akan lebih cepat sampai kepada nasabah.

Tengok saja BRI sebagai satu-satunya lembaga keuangan yang memiliki satelit sendiri, BRISat, sudah selayaknya menjadi bank paling efisien. Dengan satelit itu, BRI dapat memaksimalkan kapasitas produk dan jasa perbankan untuk meningkatkan kecepatan layanan sampai ke daerah yang terpencil sekalipun. Itulah inovasi.

Sayangnya, ketika Satelit Telkom 1 tidak berfungsi pada 25 Agustus 2017, ribuan ATM pun terkapar, yakni 4.700 ATM Bank BCA, 2.000 ATM Bank Mandiri, 1.500 ATM BNI, dan 300 ATM BRI. Akibatnya, ribuan nasabah merugi. Itu berarti ATM BRI masih terhubung dengan Satelit Telkom 1, padahal semestinya sudah terhubung dengan BRISat sejak diluncurkan pada 2016.

Hal itu menegaskan bahwa bank wajib meningkatkan manajemen risiko terutama risiko teknologi yang termasuk risiko operasional. Mengapa? Mengingat dalam kemajuan teknologi pasti tersembunyi risiko (inherent risk).. Untuk mitigasi risiko teknologi, bank wajib melakukan audit teknologi yang dilakukan oleh pihak eksternal. Ini mutlak.

Menyikapi disrupsi

Keempat, pemerintah melalui Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan wajib untuk mengawal sektor jasa keuangan dalam menghadapi disrupsi teknologi dengan aneka aturan.

Setiap aturan wajib melindungi kepentingan konsumen, nasabah, atau investor. Anehnya, terkait dengan suku bunga kredit perusahaan tekfin, Otoritas Jasa Keuangan menyatakan hal itu tak perlu diatur. Sebab, dalam industri keuangan konvensional, mereka berada dalam posisi price maker. Sementara dalam bisnis tekfin, calon peminjam menjadi price maker, bukan price taker(tabloid Kontan, 4-10/9/2017).

Pernyataan itu dapat dianggap permisif. Padahal, terdapat perusahaan tekfin yang menawarkan suku bunga kredit terlalu tinggi. Untuk itu, suku bunga kredit perusahaan tekfin perlu diatur untuk melindungi kepentingan nasabah. Jangan sampai nasabah menjadi sapi perah.

Kelima, ketika muncul ATM pertama kali di Indonesia sekitar 30 tahun lalu, banyak prediksi mengatakan kelak tak ada lagi antrean di teller di bank. Ternyata sampai kini masih ada.

Hal itu menyiratkan bahwa budaya Eropa jauh berbeda dari budaya Indonesia. Orang Indonesia suka bertemu dengan orang lain yang berarti teller dancustomer service masih diperlukan. Akhir tutur, pengurangan pegawai perbankan sebagai akibat disrupsi teknologi tak perlu terlalu ditakutkan. Namun, tetap waspada bagai mengantisipasi dampak gunung meletus. Berbekal aneka faktor kunci keberhasilan demikian, bank bakal tetap mampu menghadapi tantangan disrupsi teknologi dengan trengginas.

Advertisement

Teknologi dan Peradaban

Adriano Rusfi

Pada sebuah kuliah di Fakultas Teknik sebuah Universitas, seorang mahasiswa pernah bertanya :

“Bang, kenapa kita tak kunjung mewujudkan sebuah teknologi, walau teori dan konsepnya sudah kita kuasai ?”

Saat itu saya jawab :

“Teknologi itu fungsi dari peradaban. Ia lahir dari desakan dan tuntutan peradaban, bukan lahir dari penguasaan konsep dan teori. Maka, andai anda kuasai teori dan konsep teknologi antariksa, namun peradaban anda masih peradaban sepeda kayuh, sebenarnya yang akan anda hasilkan hanyalah sebuah sepeda kayuh dengan modal teori dan konsep yang anda kuasai”.

“Dik, teknologi seluler juga lahir dari rahim tuntutan peradaban. Ia tak semata-mata tumbuh dari ketersediaan teori, formula dan komponen penunjangnya. Teknologi seluler, misalnya, lahir karena desakan peradaban, bahwa pergerakan dan saling ketergantungan antar manusia saat ini sangat membutuhkan komunikasi nirkabel berkecepatan tinggi, dalam genggaman tangan manusia. Ya, peradabanlah yang melahirkan gagasan”.

Nah, inilah yang sering kita lupa : teknologi sebagai fungsi peradaban. Sehingga kita lalu mencak-mencak dengan kehadiran sebuah teknologi, atau ketidakhadiran sebuah teknologi. Kita sering lupa : bahwa teknologi lahir dari sebuah formula… dan formula tumbuh dari sebuah ilham… sedangkan sebuah ilham datang dari langit, dari Allah. Sungguh, kita tak tahu maunya Allah atas kelahiran sebuah teknologi. Namun Allah Maha Tahu tentang perkembangan peradaban hamba-hambaNya, dan apa yang hamba-hambaNya butuhkan bagi peradaban itu.

Kelupaan, kealpaan dan ketidaktahuan itu yang sering membuat kita gagap dan heran atas fungsi sebuah teknologi. Betapa aneh bin ajaib, bahwa teknologi seluler yang tak lahir dari rahim bangsa ini, ternyata digunakan antusias oleh bangsa ini. Ya, bangsa ini bahkan salah satu pengguna terbesarnya.

Tapi belakangan banyak yang ngamuk bahwa bangsa ini ternyata menggunakan teknologi ini “tak sebagaimana mestinya”. Bayangkan, Facebook yang aslinya adalah media teknologi pertemanan, tiba-tiba saja di tangan bangsa ini berubah menjadi media pertengkaran. Bayangkan, ponsel yang “seharusnya” adalah instrumen komunikasi, belakangan tumbuh menjadi senjata cyber yang sangat mematikan.

Lalu ada kepanikan… Ada yang ingin meredamnya… Ada yang ingin mengendalikan dan menjinakkannya… bahkan ada yang ingin membunuhnya… Mereka-mereka yang merasa punya kewenangan atas kendali, tampaknya tak paham bahwa ada “The Metaphysic of Technology”, sebagaimana yang pernah saya kuliahkan tahun 2014 di sebuah kampus. Bahwa teknologi lahir dari “Tangan Tuhan” yang Maha Tahu dan ingin peradaban ini kelak akan dibawa ke mana. Maksud dari “pencipta” teknologi belum tentu sama dengan fungsi peradaban dari teknologi itu sendiri.

Maka, wahai anak bangsa beriman, di tangan kalian saat ini tergenggam teknologi yang mungkin tak lahir dari kepala kalian sendiri. Namun mungkin ia bagian dari makarullah, agar kalianlah yang justru menjadi pengguna terbaiknya bagi masa depan peradaban kalian sendiri. Banyak yang belakangan menjadi begitu cemas bahwa teknologi itu kini telah menjadi intrumen penggentar dari dunia maya. Gunakanlah dengan bijak bagi masa depan peradaban ummat dan kemanusiaan itu sendiri. Abaikan segala tuduhan dan caci maki. Karena hakekat dari akumulasi kekuatan adalah penggentaran.

Inovasi Digital yang Inklusif

Nyoman Pujawan ;
Profesor Bidang Supply Chain Engineering,
Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya
KOMPAS, 17 Februari 2018

Banyak pesan penting dan menarik dari Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pada 23-26 Januari lalu.

Hadir dan memberikan pemikirannya pada forum bergengsi tersebut adalah para pemimpin negara, pemimpin perusahaan besar, maupun para pemikir terkenal. Salah satu tokoh yang isi pembicaraannya cukup menarik adalah Perdana Menteri Inggris Theresa May. Dalam pidatonya, Theresa May sangat lugas membawakan tema tentang bagaimana Inggris menghadapi inovasi teknologi yang telah mengubah lanskap bisnis, sosial, politik, maupun pelayanan publik.

Perkembangan teknologi dewasa ini memang luar biasa. Digitalisasi dan otomasi adalah dua kata yang mencerminkan perubahan besar yang menyertai kehidupan kita saat ini. Dua hal tersebut mengubah kehidupan sosial masyarakat, merevolusi model bisnis, serta mengubah cara pemerintah melayani masyarakat. Inovasi teknologi ini bahkan juga mengubah politik ekonomi dunia, mengubah cara orang mendapatkan pendidikan dan mengubah cara pengobatan terhadap berbagai penyakit.

Berbagai inovasi ini menawarkan kemudahan sekaligus memunculkan tantangan. Di bidang otomasi, berbagai teknologi baru mulai digunakan untuk kegiatan produksi, transportasi, dan pergudangan. Sebagai contoh, perusahaan daring (online) Amazon dan perusahaan logistik DHL telah menggunakan drone untuk mengangkut barang pesanan pelanggan ke alamat mereka. Truk tanpa sopir juga sudah mulai diuji coba oleh beberapa perusahaan angkutan barang di AS.

Baru-baru ini perusahaan sepatu Nike dan Adidas merilis rencana mereka menggunakan robot dalam kegiatan produksinya. Alibaba, raksasa ritel daring di China, telah menggunakan robot untuk memindahkan barang di dalam gudang. Robot-robot tersebut mampu mengangkut barang dengan berat 500 kilogram dan memiliki sensor untuk menghindari tabrakan di area gudang.

Teknologi baru memang selalu menjanjikan kemudahan. Drone yang digunakan untuk mengirim barang ke pelanggan mengurangi persoalan kemacetan jalan. Penggunaan truk tanpa sopir diperkirakan bisa meningkatkan produktivitas, mengurangi kecelakaan, dan mempercepat pengiriman barang sampai ke tempat tujuan karena truk tanpa sopir ini tak lagi dibatasi oleh jam kerja.

Persoalan

Terlepas dari berbagai keunggulan yang ditawarkan teknologi tersebut, ada banyak sisi lain yang harus kita waspadai. Salah satu tantangan nyata adalah lapangan pekerjaan. Otomasi di kegiatan produksi, transportasi, pergudangan, perbankan, serta digitalisasi perdagangan mengancam begitu banyak lapangan pekerjaan. ILO (Organisasi Buruh Internasional) bahkan memprediksi bahwa dalam 20 tahun mendatang sekitar 56 persen dari tenaga kerja di kawasan Asia Tenggara akan terkena risiko tergantikan oleh mesin sebagai konsekuensi dari otomasi secara besar-besaran. Senada dengan itu, sebuah tulisan di Dailymail Online, 29 November 2017, menyebutkan bahwa sekitar 800 juta pekerja akan tergantikan oleh robot pada tahun 2030.

Kalau kita melihat struktur rantai pasok dari berbagai barang seperti sepatu dan garmen, saat ini Indonesia memperoleh banyak sekali lapangan kerja akibat kebijakan subkontrak yang dilakukan perusahaan pemegang merek besar dunia. Ketika robot makin banyak digunakan, konfigurasi rantai pasok global akan berubah, di mana produksi tidak lagi harus dilakukan di negara-negara dengan tenaga kerja murah seperti di Indonesia, tetapi bisa lebih mendekati pasar, termasuk di negara-negara maju yang biaya tenaga kerjanya mahal.

Perusahaan yang selama ini bekerja dengan model rantai pasok global karena ingin mencari lokasi produksi dengan biaya tenaga kerja murah akan mengubah strateginya menjadi apa yang mereka sebut sebagai nearshoring, yakni memindahkan fasilitas produksi ke lokasi yang dekat pasar. Tentu bagi Indonesia hal ini menghadirkan tantangan besar dalam penyediaan lapangan kerja di masa mendatang.

Penggantian tenaga kerja oleh mesin juga akan merambah berbagai pekerjaan lain, seperti pekerjaan kantoran yang sangat berulang, sistematis, dan teknis. Substitusi oleh mesin sudah dan akan terjadi di pekerjaan restoran cepat saji, sektor perbankan, agen perjalanan, dan di berbagai sektor lainnya.

Isu tergantikannya pekerjaan manusia oleh mesin sebenarnya sudah jadi diskusi yang cukup lama. Tahun 2011, dua profesor dari MIT, Erik Brynjolfsson dan Andrew McAfee, memublikasikan buku berjudul Race Against the Machine. Buku ini mengulas bagaimana teknologi memberikan kemudahan bagi manusia, tetapi juga memunculkan ancaman berkurangnya lapangan pekerjaan. Lebih lanjut juga dipaparkan data bahwa kemajuan teknologi tidak memberikan manfaat yang merata bagi semua orang. Kemajuan teknologi ditengarai justru menciptakan kesenjangan ekonomi yang lebih tinggi di kalangan masyarakat.

Peran pemerintah

Kemajuan teknologi memang tidak bisa dibendung. Perusahaan yang menjalankan bisnis, organisasi pemerintahan yang melayani masyarakat, ataupun masyarakat secara individu tidak mungkin mengelak dari perkembangan teknologi karena memang banyak kemudahan yang ditawarkan dengan memanfaatkan teknologi tersebut.

Kementerian Perindustrian kabarnya sudah mulai mendorong perusahaan manufaktur besar untuk mengadopsi teknologi industri 4.0, sebuah inovasi yang menciptakan keterhubungan informasi dalam kegiatan produksi dan pengiriman barang. Namun, isu utama yang harus dihadapi pemerintah adalah konsekuensi dari implementasinya, bukan pada mau tidaknya perusahaan menggunakannya.

Tantangannya justru bagaimana pemerintah bisa berperan aktif dalam membuat kerangka yang komprehensif, yang mencakup regulasi, penyiapan SDM, pengurangan ketimpangan, dan peningkatan inklusivitas dari perkembangan teknologi ini. Pemerintah harus memiliki peta jalan yang jelas bagaimana menghadapi risiko perubahan peta lapangan kerja ke depan.

Harus ada tim yang memformulasikan langkah-langkah strategis dalam mencegah termarjinalkannya sebagian masyarakat karena tidak cukupnya kesempatan kerja atau tak punya keahlian memadai untuk mengambil pekerjaan yang ada. Sudah banyak kita dengar bahwa inovasi teknologi akan memunculkan peluang pekerjaan baru, tetapi peluang itu butuh keahlian yang baru juga. Implikasinya, perlu ada perubahan besar di sektor pendidikan dan pelatihan kerja.

Sebagai rujukan, kita bisa melihat apa yang dilakukan Inggris, misalnya. Dalam pidatonya di Davos, PM May secara tegas menyatakan sikap dan kebijakan Pemerintah Inggris menghadapi inovasi teknologi yang sangat pesat itu. Pertama, menyediakan dana sekitar 45 juta pound sterling untuk mencetak para doktor pada bidang kecerdasan buatan. Kedua, mereka juga membentuk apa yang dinamakan Institute of Coding, sebuah konsorsium besar yang melibatkan sekitar 25 perguruan tinggi serta perusahaan besar, seperti IBM, Cisco, Microsoft, dan British Telecom.
Misinya: menyiapkan tenaga kerja ahli dan terampil yang siap mengambil dan menciptakan pekerjaan di era ekonomi digital di masa mendatang.

Indonesia sebagai negara besar dengan ketimpangan ekonomi cukup lebar tentu harus bersiap lebih serius. Mampukah pemerintah menyiapkan lapangan kerja bagi lulusan sekolah/perguruan tinggi yang masuk ke dunia kerja maupun mereka yang pekerjaannya tergantikan oleh mesin? Apakah pemerintah sudah memformulasikan langkah strategis secara komprehensif, termasuk melibatkan perguruan tinggi dan industri?

Sudahkah ada mitigasi terhadap risiko melebarnya gap ekonomi akibat inovasi teknologi dan terpinggirkannya sebagian masyarakat yang tak mampu mengikuti perkembangan teknologi tersebut?

Kita harus mampu membuat inovasi teknologi nyaman bagi setiap orang, mampu meningkatkan pemerataan, merealisasikan ekonomi berkeadilan sosial, dan meningkatkan inklusivitas. Di era digital dewasa ini, mendengungkan kembali perlunya keadilan sosial dalam pembangunan ekonomi bahkan menjadi lebih penting dibandingkan dengan di era sebelumnya.

Penguasaan Teknologi untuk Kelanggengan Pertumbuhan Ekonomi

Jusman Syafii Djamal
JANUARY 18, 2018

Saya Pernah punya pengalaman mendapatkan kehormatan diberikan titel Honorary Guest Professor dari Zheziyang Science Technology University. Universitas Teknologi Zhejiang (bahasa China: 浙江 工业 大学; pinyin: Zhèjiàng Gōngyè Dàxúe) ada di kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang. Rektor Zhejiang University of Technology and Science, Cai Yuan Qiang memberikan langsung sertifikat penghargaan profesor di kampus universitas di Hangzhou, Jumat 4/3/2016. Universitas inidianggap sebagai salah satu universitas industri terkemuka di Cina daratan dan universitas terbesar kedua di Provinsi Zhejiang setelah Universitas Zhejiang.Teknologi, terutama teknologi kimia dan biologi, adalah core competency nya.

Selama tahun 1980an, dilakukan banyak inisiatip secara sistimatis berkesinambungan usaha untuk menjadi universitas teknologi yang komprehensif. Bukan sekedar sebuah perguruan tinggi teknologi. Mereka membangun network dan hubungan dekat dan luas dengan industri. Institusi ini telah mengalami pelbagai pengalaman pergantian nama sejak didirikan tahun 1910. Sepuluh tahun lebih tua dari ITB yang lahir tahun 1920. Parts of the National Zhejiyang University(1910~1949); Hangzhou Chemical Engineering College (1953~); Zhejiang Chemical Engineering College (1960~1980)Zhejiang Engineering College (1980~1993); Zhejiang University of Technology (1993~now).

Di Tiongkok gelar Profesor bukan jabatan eselon IVE seperti di Indonesia yang akan dicabut jika sudah pensiun. Sebab gelar Profesor melekat pada jabatannya. Posisi dan jabatan hilang gelar pun hilang. Di Indonesia juga berlaku hukum dan aturan tidak tertulis yang menarik. Gelar Profesor hanya berlaku diruang kelas. Kalau dipesta kawinan atau diruang seminar yang tidak berada dilingkungan akademis, semua Profesor malu menggunakan gelar itu. Dan mengikuti nasehat para empu dalam buku silat kho ping hoo, ahli silat yang mengaku tak bisa bertarung dan juga tidak bisa membaca. Bu pun su lu kwan cu.

Akibatnya jarang kita bertemu Profesor di Indonesia. Semua bersembunyi dibalik selimut. Tak mau menggunakan gelar nya ditempat umum. Yang banyak berseliweran titel pengamat dan sebutan lain , kadangkala pakai title Doktor atau PhD yang susah payah diperoleh di Pergururan Tinggi Terkemuka di Indonesia maupun internasional pun banyak yang malu menyebutnya. Takut dibilang sombong, akhirnya tak ada beda antara si gumarapus, si badu dengan PhD. Semua ingin level playing field yang sama.

Padahal dalam penguasaan iptek jenjang, job title dan grading memiliki value yang berbeda. Kita malu dengan value berbeda entah apa sebabnya.Di Industri Pesawat Terbang dikenal istilah Job Title and Job Grading System. Hirarki yang membuat proses sertifikasi pesawat terbang oleh Otoritas Penerbangan atas kehadiran sebuah gambar komponen dan analisa kekuatan struktur, misalnya mudah dilakukan.

Jika di Indonesia kata Profesor merujuk pada jabatan. Tidak begitu di Tiongkok, ketika saya mendapatkan gelar Honorary Guest Professor, Senat Guru Besar mengatakan ini “title” penghargaan kami atas pengamatan kami terhadap catatan riwayat keahlian dan pengalaman saudara dalam mencurahkan fikiran di Industri Pesawat Terbang selama 25 tahun dan ikut aktif dalam proses Penguasaan Teknologi Maju sebagai engineer berjenjang dari awal hingga puncak. Kemudian Rektor membuat acara yang menarik khusus untuk saya.

Pertama saya diundang di auditorium untuk memberikan keynote speech, tentang topik yang saya pilih. Kebetulan gelar Honorary Guest Profesor saya disematkan karena saya memiliki pengalaman bekerja sebagai professional perancangan pesawat terbang dan aerodinamika selama 25 tahun tanpa henti. Yang dianggap oleh universitas tersebut memiliki pengalaman bekerja sambil belajar dalam proses “transfer of advanced technology for innovation”.

Sebelum membaca keynote saya dan rombongan diminta hadir diruang Rektor untuk diberi paparan tentang “what is Zhejiyang Technology University”, apa core competencynya, apa visi dan misi serta tanggung jawab yang dibebankan Negara pada warga akademiknya sekaligus berapa anggaran belanja Riset dan Pengembangan yang dialokasikan negara pada mereka. Setelah itu saya diundang dalam beberapa kali jamuan makan untuk diperkenalkan kepada pada guru besar lainnya, dekan dan pimpinan bidang keilmuan serta dirjen pendidikan tinggi. Seolah untuk mengatakan :”welcome to be our honorary guest professor”.

Mereka ingin saya menshare pengalaman itu kedalam lingkungan akademis dengan cara berdialog dan berdiskusi setiap tiga bulan sekali.
Karenanya dalam acara penyerahan surat keputusan/certificate sebagai Honorary Guest Professor didedepan kurang lebih 450 mahasiswa dan para guru besar di auditorium , saya menyampaikan keynote speech dengan judul : “Technology Acqusition for Economic Development : Lesson Learned from 25 Years Experiences in Indonesia and China”.

Dalam paparan dua tahun lalu itu, untuk Indonesia saya ambil contoh penguasaan teknologi sejak tahun 1970 hingga 1995. Sementara untuk kasus Tiongkok saya kemukakan pengalaman akusisi teknologi yang dikembangkan atas inisiatip Deng Xiao Ping sejak 1978 hingga 2003.

Seperti juga Indonesia pada awal tahun 1970, pada tahun 1978 Tiongkok boleh dikatakan tidak memiliki hutang luar negeri. Seperti juga Indonesia pada tahun 1970, Tiongkok di tahun 1978 hampir boleh dikatakan belum menjadi “darling” dari investor asing.

Indonesia sebelum tahun 1965 merupakan negara yang Berdiri diatas Kaki Sendiri. Begitu juga China sebelum 1978 merupakan negara yang terisolasi dan menutup diri. Bung Karno dan Chou En Lai bersama Nehru menggagas Konferensi Asia Afrika tahun 1955.

Di Tiongkok Arus masuk investasi asing naik bertahap selama 12 tahun, menjadi $ 3,5 miliar pada tahun 1990. Tahun 2005 meningkat menjadi $ 60 miliar. Total arus investasi asing yang masuk dari tahun 1979 sampai 2005 , $ 620 miliar lebih. Pinjaman luar negeri Tiongkok relatif kecil. Total $ 147 miliar antara tahun 1979 dan 2005, sebagian besar berjangka panjang atau menengah.

Struktur utang yang terkelola dengan baik membuat perubahan kepercayaan investor asing., Republik Rakyat Tiongkok tidak pernah menunggak hutang luar negeri. Dan telah mengumpulkan cadangan devisa sebesar $ 1,2 triliun pada awal tahun 2007.Sebagai konsekuensi dari kebijakan yang berhasil pada periode reformasi 78, pendapatan per kapita Tiongkok meningkat 6,6 persen per tahun dari tahun 1978 sampai 2003. Lebih tinggi daripada negara Asia lainnya. Jauh lebih baik dibanding dengan Eropa Barat dan Amerika, yang hanya berkisar pada angka 1,8 persen per tahun. Empat kali lebih cepat rata-rata dunia.

PDB Tiongkok per kapita meningkat dari 22 menjadi 74 persen dari PDB dunia. Porsi PDB China terhadap PDB dunia meningkat dari 5 menjadi 15 persen. Ekonomi terbesar kedua di dunia, setelah Amerika Serikat.

Pertanyaan besarnya adalah berapa lama proses pengejaran ketertinggalan teknologi dengan cara Indonesia melalui pelbagai kebijakan sejak tahun 1945 hingga terjadi percepatan 1970-1995 dalam pelbagai Repelita dan Tiongkok sejak 1978, yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi tinggi atau “catch-up growth” dapat bertahan dan seberapa jauh bisa lebih dipercepat ?

Tingkok pada tahun 2003 masih merupakan negara yang relatif miskin. Pada tahun 2003 pendapatan per kapita hanya 17 persen dari Amerika Serikat, 23 persen dari Jepang, 28 persen dari Taiwan dan 31 persen dari Korea. Seratus juta orang masih berada dibawah garis kemiskinan, separuh jumlah penduduk Indonesia.

Negara-negara seperti Tiongkok dan Indonesia memiliki kapasitas untuk pertumbuhan yang tinggi jika mereka memobilisasi dan mengalokasikan modal fisik dan manusia secara efektif, menyesuaikan teknologi asing dengan proporsional disesuaikan dengan kondisi wilayah ekonominyadan memanfaatkan peluang untuk berfokus pada spesialisasi teknologi yang berasal dari proses integrasi melalui Global Production Network ke dalam ekonomi dunia.

Kemungkinan proses “catch-up growth”, akan berlanjut pada tahun tahun berikutnya. Namun tidak realistis untuk mengasumsikan bahwa lintasan pertumbuhan ekonomi dimasa depan akan setinggi pada tahun 1978-2003.

Seperti juga Indonesia pada priode 1970-1995, Pada periode 1978-2003 tersebut, Tiongkok mengalami peningkatan efisiensi alokasi sumber daya yang besar untuk pertanian, perluasan eksploratif perdagangan luar negeri dan percepatan penyerapan teknologi asing melalui investasi langsung luar negeri berskala besar.

Dalam keynote itu, saya mengemukakan pengalaman buruk Indonesia di masa krisis ekonomi 1997/98. Dimana proses penguasaan teknologi yang dilakukan pada tahun 1970-1995 dalam pengembangan industry manufaktur mengalami titik jenuh. Laju kemajuan ekonomi mengendur karena semakin mendekati batas teknologi.

Sehingga para pengambil kebijakan ekonomi ketika itu merasa percaya diri dan masuk kedalam strategi pembangunan negara industry maju yang berfokus pada sector jasa, Hilir dari industry dan tidak mau melakukan pendalaman struktur industry yang ada. Tidak lari ke hilir kearah pengembangan kemampuan Riset dan Pengembangan sebagai fondasi Inovasi. Melalinkan memutar arah pembangunan, melakukan “shifting” untuk menemukan ceruk lebih dalam sebagai pembangkit pertumbuhan ekonomi, dengan masuk ke industry jasa property dan perbankan melupakan industry manufaktur. Shifting to service industry lupakan industry manufaktur.

Hal ini yang saya perkirakan akan dialami Tiongkok pada periode 25 tahun berikutnya atau 2004-2029. Ketika itu saya mengutip analisa Banyak ahli yang berasumsi bahwa pendapatan per kapita akan tumbuh rata-rata 4,5 persen per tahun antara tahun 2003 dan 2030. Secara khusus, saya dalam keynote itu mengasumsikan tingkat 5,6 persen per tahun sampai 2010, 4,6 persen antara tahun 2010 dan 2020 dan sedikit lebih besar dari 3,6 persen per tahun dari tahun 2020 sampai 2030.

Pada saat itu, dalam skenario yang tampak dikemukakan banyak ahli, Tiongkok akan mencapai tingkat per kapita yang sama seperti Eropa barat dan Jepang sekitar tahun 1990. Saat mendekati level ini, kemajuan teknologi akan lebih mahal. Karena penguasaan teknologi yang awalnya dilakukan melalui proses transfer technology ATM, Ambil Tiru dan modifikasi atau imitasi digantikan oleh proses penguasaan teknologi melalui inovasi.

Namun, pada tahun 2030 batas teknologi akan dapat diterobos untuk bergerak maju. Jadi masih akan ada beberapa ruang lingkup kemajuan teknologi yang dapat dikuasai menjadi “engine for growth”. Untuk mengejar ketinggalan.

Dalam proyeksi yang muncul pada tahun 2003 di Tiongkok seperti juga di Indonesia tahun 1995 menjelang krisis ekonomi tahun 1997/98, saya menunjuk ada tiga masalah utama, yang dapat menghambat prospek pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Salah satunya adalah kesulitan dalam mengurangi peran perusahaan milik negara yang tidak efisien. Sebagian besar badan usaha milik negara masih membuat kerugian besar. Mereka terus beroperasi dengan subsidi pemerintah. Kegagalan investasi dari hasil pinjaman masih harus ditalangi oleh bank bank milik negara.

Meski begitu saya perlihatkan bahwa pengaruh badan usaha milik negara di Tiongkok telah menurun secara signifikan. Pada tahun 1993, pekerjaan yang dikelola badan usaha milik negara di bidang manufaktur telah menciptakan lapangan kerja bagi lebih 35 juta penduduk Pada tahun 2005 jumlahnya merosot menjadi kurang dari 6 juta. Dengan kata lain peran perusahaan swasta dalam ekonomi china untuk menjadi sumber lapangan kerja meningkat sepanjang waktu.

Dalam perekonomian secara keseluruhan, pekerjaan yang dikelola badan usaha milik negara turun dari 19% menjadi hanya 9 persen. Pekerjaan yang sudah mampu dikelola oleh swasta secara perlahan dilepaskan dari genggaman badan usaha milik negara Tiongkok secara bertahap, dari 100%, menurun 60 % dan dibeberapa area hanya tinggal 20%. Dengan begitu masalah ketidak efisienan badan usaha milik negara ini, dimasa depan tidak lagi menjadi kendala yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi yang pesat. Karena sector swasta nya telah kokoh dan kuat sebagai “agent of change”.

Masalah yang kedua baik oleh Indonesia maupun Tiongkok dalam priode 25 tahun tersebut adalah kelemahan sistem tata kelola keuangan negara. Pada masa reformasi 1978-2003 di Tiongkok terjadi pertumbuhan eksplosif tabungan rumah tangga dan monetisasi kegiatan ekonomi yang cepat. Tabungan diambil oleh sistem perbankan milik provinsi dan pemerintah pusat kemudian memiliki keuntungan yang besar dari proses monetisasi. Dana yang dihasilkan ini mengimbangi lenyapnya surplus operasional perusahaan negara dan penurunan penerimaan pajak akibat terlalu banyak insentif diberikan pemerintah daerah untuk menarik investasi kedaerah nya.

Selama periode 1978-2003, sebagian besar kredit macet yang baerada dalam neraca Bank Bank milik Pemerintah Tiongkok telah dihapus bukukan. Tiongkok telah menarik partisipasi asing di bank-bank pemerintah dengan penjualan saham di pasar saham Hong Kong dan Shanghai.

Dalam dua tahun sejak Juni 2005, lebih dari $ 60 miliar hutang telah diubah menjadi “equity”, melalui metode “debt to equity swap” yang di Indonesia dikenal dengan istilah Penyertaan Modal Negara dalam sistim perbankan. Beberapa bank asing diizinkan beroperasi di Tiongkok.

Masalah ketiga terkait dengan lemahnya posisi fiskal pemerintah pusat. Total pendapatan pemerintah turun dari 31 persen PDB pada tahun 1978 menjadi 10 persen tahun 1995. Basis pajak tsecara serius tergerus oleh sejumlah besar konsesi pajak yang diberikan oleh pemerintah provinsi dan daerah. Serta oleh penurunan pendapatan yang dramatis dari perusahaan milik negara. Penerimaan pajak naik menjadi 17 persen PDB pada tahun 2005. Namun porsi ini perlu ditingkatkan untuk memperluas kemampuan fiscal untuk perlindungan sosial , memperkuat fasilitas kesehatan dan pendidikan.

Masalah keempat adalah persoalan keterkaitan antara pasokan energi dan ancaman lingkungan hidup. Yang telah muncul sebagai tantangan baru yang signifikan bagi perkembangan masa depan Tiongkok. Pasokan listrik naik sepuluh kali lipat antara tahun 1978 dan 2005. Ketersediaan listrik dengan harga yang sangat rendah telah mengubah kondisi kehidupan di banyak rumah tangga perkotaan dan juga munculnya kawasan industry penyedia lapangan kerja.

Namun, dampak lingkungan dari penggunaan energi di Tiongkok sangat merugikan karena ketergantungannya pada batubara sangat besar. Polusi akibat emisi karbon secara proporsional jauh lebih besar akibat pemanfaatan batubara dibanding minyak dan gas sebagai pembangkit listrik.Pada tahun 2003, 60 persen konsumsi energi berasal dari batubara. Sementara di Amerika hanya 23 persen, 17 persen di Rusia dan 5 persen di Prancis.

Boleh dikatakan delapan puluh persen listrik Tiongkok dihasilkan oleh pembangkit bertenaga batubara.Ini berarti bahwa rasio emisi karbon terhadap konsumsi energi lebih tinggi di China dibanding kebanyakan negara lain. Dalam skenario “A” IEA, China diperkirakan akan memancarkan 0,8 ton karbon per ton energi yang digunakan pada tahun 2030, dibandingkan dengan 0,63 di Amerika Serikat dan rata-rata dunia 0,60.

Batubara Tiongkok sangat kotor, partikel belerang dioksida dan jelaga yang dilepaskan oleh pembakaran batu bara telah mencemari udara di kota-kotanya dan membuat hujan asam yang turun disekitar 30 persen wilayah dari luas daratannya.Ada lebih dari 20.000 tambang batu bara dan hampir enam juta penambang dengan produktivitas sangat rendah dan kondisi kerja yang berbahaya.Beberapa ribu terbunuh setiap tahun dalam kecelakaan pertambangan.

Di Tiongkok utara ada beberapa lapisan batubara di dekat permukaan yang menyala terus menerus dalam api yang tak terbendung. Masalah lingkungan ini cenderung lebih besar di Tiongkok daripada di wilayah lain di dunia, karena lebih sulit dan lebih mahal untuk mengurangi peran batubara sebagai sumber energy listriknya.

Kepemilikan mobil juga meningkat dan cenderung menjadi elemen paling dinamis dalam konsumsi pribadi. Pada tahun 2006 ada sekitar 19 juta mobil penumpang yang beredar. Ada satu mobil untuk setiap 70 orang. Di Amerika Serikat ada dengan 140 juta mobil. Ada satu mobil untuk setiap 2 orang. Diprediksi akan ada 300 juta mobil penumpang di China atau satu mobil untuk setiap 5 orang pada tahun 2030.

Selain itu telah terjadi peningkatan efisiensi yang sangat besar dalam tata kelola energi yang digunakan. Pada tahun 1973 tercatat 0,64 ton setara energy minyak digunakan per seribu dolar PDB. Pada tahun 2003, telah turun menjadi 0,22 ton.Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan penurunan lebih lanjut menjadi 0,11 ton pada tahun 2030 dalam skenario yang mempertimbangkan kebijakan efisiensi energi yang diterapkan oleh pemerintah. Efisiensi energi lebih baik di China daripada di Amerika Serikat pada tahun 2003 dan IEA mengharapkan hal ini benar pada tahun 2030.

Dengan menceritakan pengalaman pribadi yang saya alami sendiri selama bekerja langsung dalam proses akuisisi teknologi, dan studi literature yang saya lakukan, dalam keynote speech tersebut sampai pada kesimpulan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi muaranya adalah kepercayaan pada kapasitas keahlian Manusia Bersumber Daya Iptek yang dimiliki oleh Indonesia dan Tiongkok.

Saat memasuki periode Rencana Lima Tahun ke-13 (2016-20), ekonomi Tiongkok seperti juga Indonesia akan terus berkembang pesat menurut standar internasional.

Mengapa?

Sebab kedua bangsa Negara memiliki Manusia Bersumber Daya Iptek yang penuh daya juang. Hanya bedanya Indonesia memilih jalan Demokrasi, Tiongkok Tetap Negara Satu Partai dengan pembangunan ekonomi “One Coutry Two Systems”.

Meski pertumbuhan melambat secara bertahap, PDB per kapita Tiongkok akan tetap berada di jalur hampir dua kali lipat antara tahun 2010 dan 2020. Ekonomi Tiongkok akan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan global di masa yang akan datang.

Sebagai penutup, saya menyatakan bahwa baik Indonesia maupun Tiongkok, masalah utama yang dihadapi dimasa depan adalah “the geography of inequality”, kesenjangan ekonomi antar wilayah. Kesenjangan pendapatan dan kehidupan antara Kota desa, urban rural, wilayah utara selatan, wilayah barat dan timur. Terlepas dari kinerja mengesankan ekonomi dan pengurangan kemiskinan yang belum pernah terjadi sebelumnya ,kesenjangan ekonomi masih muncul dipermukaan meningkat.

Pertumbuhan ekonomi telah lama didorong oleh akumulasi modal, didukung oleh tingginya tabungan.Namun, model pertumbuhan tersebut ternyata dapat menyebabkan misalokasi modal dan penurunan efisiensi investasi, dan kelebihan kapasitas di beberapa industri manufaktur dan sektor real estat, yang perlu diimbangi dengan upaya pemerataan.

Karenanya ilmu Regional Planning , Manajemen Science and Technology, Business Management Town and Village Enterprises yang dikembangkan dalam kurikulum harus dapat memberikan wawasan tentang pentinya peran Perusahaan dalam kawasan Industri untuk menjadi motor “akuisisi teknologi maju”. Dimasa depan “company” atau perusahaan akan merepresentasikan kekuatan suatu Bangsa dalam penguasaan teknologi untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan bersama.

Saya kemudian menutup slide presentasi saya dengan pertanyaan : Mana jalan masa depan yang hendak kita pilih : China way or Indonesian Way ?

Semua Guru Besar tersenyum, dan saya pun harus berfikir keras kembali :”Indonesian Way” yang saya maksud itu jalan yang mana dan seperti apa wujudnya ??
Mohon maaf jika ada yang keliru. Salam

Technology Disruption Ancaman atau Berkah?

Jusman Syafii Djamal
January 10, 2018

Istilah Disruption Technology pertama sekali dikenalkan oleh Clayton M. Christensen di artikelnya yang berjudul Disruptive Technologies : Catching the Wave, tahun 1995. Dikerjakan bersama Joseph Bower. Artikel ini ditujukan untuk eksekutif manajemen yang membuat keputusan pendanaan atau pembelian merger akusisi perusahaan. Awalnya istilah ini bukan untuk komunitas riset.

Dia menjelaskan istilah Disruption Technology lebih lanjut dalam bukunya The Innovator’s Dilemma.Buku Dilema Innovator yang mengeksplorasi kasus industri disk drive yang dengan perubahan generasi produk nya yang cepat, mirip seperti tatacara pembenihan kempompong ulat yang kemudian berubah menjadi kupu dan juga lalat buah yang menjadi studi genetika.

Melalui penjelasan pada buku tersebut, daur hidup atau Lifecycle pembenihan produk baru dan inovasi kini berada dalam phase “clock speed” yang jauh lebih cepat Seperti ditulis oleh Christensen pada tahun 1990an.

Kemudian Christensen mengganti istilah teknologi yang mengganggu atau disruption technology dengan disruption innovation dalam bukunya Innovation Solution.

Karena ia menyadari bahwa teknologi memiliki proses dialektika. Teknologi sebagai solusi problema masa lalu pasti akan mengalami titik jenuh dan menjadi masalah dimasa kini, untuk diganti oleh teknologi yang lebih baru. Jadi teknologi secara intrinsik tidak pernah memiliki DNA sebagai virus penyakit yang menyerang dan mengganggu. Begitu juga teknologi tidak memiliki DNA untuk langgeng sepanjang masa.

Teknologi selalu berubah, mengalir bersama hadirnya problema dalam Masyarakat.

Model bisnis yang mengikuti perkembangan teknologi , biasanya yang memungkinkan kehadiran teknologi dalam bentuk produk atau layanan baru menciptakan dampak yang mengganggu.

Inovasi model bisnis yang memanfaatkan kecepatan pertumbuhan teknologi yang memiliki dampak “tsunami” atau penggoyah struktur bisnis dan landskap bisnis masa lalu dan masa kini. Yang terjadi Innovation Disruption bukan Technology Disruption.

Dalam artikel Harvard Business Review 2008 “Reinventing Your Business Model”. Konsep “Disruptive Technology” dijelaskan sebagai kelanjutan pola fikir meneruskan tradisi panjang dari para ahli yang mencoba mengidentifikasi perubahan teknologi yang secara radikal terjadi.

Ia menjadi disruption karena model bisnisnya melahirkan ekplorasi dan pemanfaatan kecepatan perubahan teknologi yang berjalan secara setingkat demi setingkat atau incremental innovation, menjadi eksosietem yang memiliki dampak satu aliran “diskontinuitas” dalam “Revenue Stream” lama.

Biasanya dalam studi inovasi oleh para ekonom, pemahaman tentang perubahan dan dampak radikal akibat pemanfaatan kemajuan teknologi ini melalui model Bisnis yang baru oleh perusahaan dan menenggelamkan pesaing pesaingnya yang dimanfaatkan sebagai wahana untuk mempengaruhi policy on technology.

Tujuannya adalah agar Negara tidak lagi berupaya mengalokasikan anggaran untuk membangun dan ikut cawe cawe dalam proses penguasaan teknologi dalam masyarakat. Lebih baik arena kebijakan penguasaan teknologi diserahkan sepenuhnya kedalam mekanisme pasar dan menyerahkan sepenuhnya pengembangan alat peralatan utama inovasi dan daya saing perusahaan ke tangan inisitip manajemennya di tingkat perusahaan atau kebijakan internal perusahaan. The best policy on innovation is no policy, kata sebagian penganut pasar bebas.

Pada akhir 1990-an, industri otomotif mulai merangkul perspektif “disruptive technology dengan menempatkan kata teknologi disruptip dengan tambahan kata konstruktif”. Jadi dikena istilah “constructive disruption technology”.

Proses atau teknologi yang merubah landskap rekayasa dan rancang bangun produk baru, secara keseluruhan harus “konstruktif” dalam memperbaiki metode manufaktur yang eksis. Jangan merusak tatanan dan tradisi masa lalu yang dengan susah payah dibangun setahap demi setahap. Boleh muncul gangguan, tetapi bukan diskontinuitas apalagi jadi tsunami bisnis.

Pemahaman tentang disruptive innovation berbeda dari apa yang mungkin diharapkan secara dramatis oleh para ahli. Yang selalu beranggapan bahwa kata disruptive itu berarti menjebol sama sekali fondasi yang lama dan menemukan segala sesuatu yang baru yang sebelumnya tak pernah dikenal.

Sebuah gagasan yang oleh Clayton M. Christensen disebut sebagai “hipotesis lumpur bagian yang menyeramkan” tentang dampak teknologi.Gagasan tentang “disruptive technology” sebetulnya memperlihatkan kasus sederhana dimana perusahaan yang mapan dan tadinya menjadi “leader”, tiba tiba gagal menuju etape berikutnya karena tidak “mampu bertahan secara teknologis” dengan keunggulan perusahaan pesaingnya.

Dalam hipotesis ini, perusahaan diibaratkan seperti pendaki tebing gunung yang berebut naik di atas pijakan yang kurang kokoh. Runtuh karena mereka berdiri diatas fondasi rapuh rana longsor atau tenggelam dalam Lumpur kemajuan teknologi ciptaan orang lain.

Perusahaan yang baik biasanya sadar akan posisi strategis dari inovasi. Namun lingkungan bisnis mereka tidak memungkinkan mereka mengejar ketertinggalan.

Ada banyak kendala baik internal maupun eskternal yang secara “inherent” membelenggu potensi inovasi yang dimiliki. Mindset para pimpinan yang terjebak dalam zona nyaman, dan selalu berkata tidak pada setiap ide baru. Atau kondisi ekonomi wilayah yang tidak memberikan “reward” bagi tiap inovasi, malah menambah kendala.

Dalam istilah Christensen, jaringan nilai perusahaan yang diterapkan, tidak menempatkan inovasi dan inisiatip serta daya kreativitas sebagai nilai tambah yang memadai.

Ada anggapan bahwa inovasi hanya mengganggu pertumbuhan perusahaan. Inovasi hanya menjadi kubangan lumpur yang menyebabkan perusahaan akan terseret tenggelam akibat alokasi anggaran yang berlebihan menuju sesuatu hasil yang tidak pasti.

Dalam persefektip Christensen :”disruptive innovation”, bukanlah konsep yang datang secara tiba tiba tanpa asal usul dan sebab musabab. Inovasi yang disruptip merupakan hasil dari satu “planning” atau perencanaan sistimatis berkesinambungan baik dalam bentuk produk baru atau layanan baru yang dirancang untuk satu tipe pelanggan baru.

Kata dan istilah “disruptive innovation” muncul sebagai satu upaya untuk membuka peluang terciptanya persfektip baru bagi para entrepreneur untuk menjajagi kemungkinan lahirnya pasar yang baru yang memperbesar wilayah pengaruh dari pasar yang selama ini telah dikenali dan jadi sumber pendapatan perusahaan.

“Umumnya, inovasi yang disruptive secara teknologi bukanlah satu loncatan quantum melainkan terdiri dari komponen off-the-shelf dari teknologi yang eksis yang disatukan dan disinergikan dalam arsitektur produk baru. Connecting dot kata Steve Jobs.

Christensen berpendapat bahwa inovasi yang disruptip biasanya justru muncul ditengah tengah “small medium enterprises”, perusahaan baru muncul, yang produk ciptaannya secara perlaban berhasil menggerogoti pasar perusahaan-perusahaan yang sukses dan dikelola dengan baik yang tidak responsif terhadap pelanggan.

Mengapa ? Sebab Perusahaan besar dan raksasa biasanya dikelola dengan penuh Rule and Regulation yang baik. Juga biasanya memiliki pusat penelitian dan pengembangan yang sangat baik dan lengkap para ahlinya. Akan tetapi model tatakelola pusat Riset ini biasanya lebih berfokus pada upaya mengadministrasikan alokasi anggaran, dan tidak berfokus pada upaya membangun ekosistem untuk lahirnya ide baru.

Perusahaan-perusahaan yang mapan ini biasanya terlalu yakin pada kesetiaan pelanggannya dan cenderung mengabaikan pasar yang paling rentan terhadap inovasi produk atau layanan baru.

Pasar yang eksis biasanya memiliki margin keuntungan yang terlalu kecil untuk memberikan tingkat pertumbuhan yang baik ke perusahaan yang mapan. Sehingga dianggap untuk apa diberikan perhatian dan investasi baru untuk dikelola dan dirawat.

Pada tahun 2009, Milan Zeleny — American economist of Czech origin, Professor of Management Systems Fordham University New York. He has done research in the field of decision-making, productivity, knowledge management — menggambarkan teknologi tinggi sebagai teknologi disruptip, dan membuat ia mengajukan pertanyaan tentang apa yang sedang terganggu.

Jawabannya, menurut Zeleny, yang terganggu adalah jaringan pendukung teknologi tinggi tersebut. Yang terganggu adalah “network” berupa mata rantai “supply chain” yang selama ini memasok komponen dan “revenue stream” berasal dari teknologi lama. Yang terganggu adalah jaringan pasokan lapangan kerja yang tercipta dari model bisnis sebelumnya.

Misalnya, Tesla memperkenalkan mobil listrik. Mobil listrik memerlukan jaringan pendukung berbeda. Misalnya selain jaringan pemasok komponen yang mungkin identic dengan mobil biasa, akan tetapi mobil listrik memerlukan industry batteray dan jaringan pemasok sumber tenaga untuk “mrecharge batteray yang sudah kehilangan dayanya”. Ia mengganggu jaringan pendukung untuk mobil bbm.

Dengan contoh yang disebutkan diatas dapatlah disampaikan beberapa catatan untuk klarifikasi istilah “disruptive innovation” atau “disruptive technology”, yakni :

Pertama : proses disruptive tidak serta merta terjadi. Tidak berlangsung seperti lahirnya Tsunami yang bergerak tanpa permisi ketika terjadi gempa dengan skala ricter tinggi, yang menyebabkan kita terkejut dan tidak siap sama sekali.

Disruptive Technology yang memiliki dampak pada perubahan landskap bisnis merangkak setahap demi setahap.

Hanya kelalaian dan rasa percaya yang terlalu besar menyebabkan kita memandang rendah dan menganggap remeh semua fenomena yang terjadi disekitar kita. Proses “denial”, pengabaian pada perubahan prilaku pelanggan yang tidak kasat mata, kurang diantisipasi dan tidak diresponse dengan baik. Yang menyebabkan kita tiba tiba kaget dan seperti ditelan gelombang perubahan.

Kedua : proses disruptive technology dapat dikelola dampaknya, jika secara bersama para ahli teknologi dan ahli ekonomi serta ahli ahli ilmu social mau bercengkrama, berdialog untuk menemukan strategi yang pas dari suatu Bangsa dalam menghadapi perubahan yang sedang dan akan terjadi.

Teknologi, bagaimanapun jenisnya selalu memiliki tiga wajah. Terjawantah sebagai produk, mewujud dalam proses produksi, atau tersinergi kedalam masyarakat menjadi bentuk interaksi hubungan sosial yang selalu berkembang didalam sistem. Tidak ada teknologi yang tetap sepanjang masa. Teknologi tumbuh berkembang. Bertahan, bermutasi, stagnan, dan menurun, seperti organisme hidup.

Ketiga : Siklus hidup evolusioner terjadi dalam penggunaan dan pengembangan teknologi apapun, pada dasarnya dapat diprediksi. Inti teknologi tinggi yang baru muncul dan akan mengganggu jaring dukungan teknologi yang eksis dapat juga dianalisa dampaknya. Menguntungkan dan tidaknya dapat diketahui. Langkah antisipasinya dapat direncakan dengan sistimatis dan berkesinambungan.

Keempat : Disrupsi tidak sama dan sebangun dengan “diskontinuitas”, tidak selamanya melahirkan krisis karena itu kita memiliki kendali untuk melakukan langkah pergeseran untuk menyesuaikan diri.

Kelima : Proses pergeseran lapangan kerja yang mungkin terjadi aklibat inovasi disruptip yang sedang dan akan terjadi dapat dikelola melalui perubahan tatacara proses edukasi, training ketenaga kerjaan, pengembangkan “merit system” para ahli, pengembangan “hirarki organisasi”.

Bidang keahlian yang akan menghilang, serta bidang keahlian yang akan muncul sebagai lapangan kerja baru, semuanya dapat diantisipasi.

Karenanya jika banyak istilah disruptip muncul dalam tulisan para Ahli, itu merupakan “wake up call”, alarm pengganggu kenyenyakan kita yang terlelap dalam kasur yang empuk, tertidur dan seolah setiap hari sama seperti hidup dihari kemarin. Kita lupa today is today and tomorrow is another day. Ada harapan yang terbuka hadir bersama Matahari esok ada kekuatan yang tersimpan dalam hidup dihari kemarin. Panta Rei, semua mengalir bersama perubahan zaman.

Saya share tulisan ringkasan buku lama Innovator’s Dilemma, yang pernah dibaca ini ini sebagai food for thought, jika ada yang keliru mohon dimaafkan.

Salam,

Masa Depan Pekerjaan dalam Ancaman ?

Jusman Syafii Djamal
January 6, 2018

Dalam perjalanan ke Tokyo kali ini, saya menyempatkan diri mampir ke dua Toko Buku : Maruzen dan Tsutaya. Saya tartarik membeli dua buku Life 3.0 dan Raising The Floor. DIantaranya karena saya masih penasaran dengan fenomena mobil tanpa Supir, artificial intelligence dan masa Depan pekerjaan. Dalam tulisan ini saya coba share bagian yang sempat saya baca untuk disarikan. Belum dicerna dan diresapi, jadi saya belum punya opini dalam hal ini. Hanya deskripsi masalah. Pokok bahasan kata orang Universitas.

Banyak yang telah ditulis tentang kemunculan mobil tanpa sopir. Banyak versi yang dikembangkan oleh Google, Uber dan Tesla. Namun truk tanpa sopir cenderung akan diluncurkan lebih cepat. Kini tiap Individu dapat membuat pilihan sendiri tentang apakah mereka ingin masuk kedalam mobil tanpa sopir atau taksi tanpa supir. namun teknologi hemat tenaga kerja akan digunakan oleh bisnis lebih cepat,” kata Stern dalam buku Raising the Floor.

Yang membahas kebutuhan memperoleh lapangan pekerjaan dan pendapatan dasar ketika kini teknologi robotika telah memperlihatkan trend dapat menggantikan pekerjaan manusia.

Beberapa waktu berselang, saya pernah membaca koran the Guardian yang mecnceritakan bagaimana Raksasa pertambangan Rio Tinto sudah menggunakan 45 truk dengan kapasitas 240 ton untuk memindahkan bijih besi di dua tambang Australia.

Kata mereka biaya operasi jadi lebih murah dan lebih aman daripada menggunakan driver manusia. Pada bulan Mei 2015, truk penggerak diri tanpa sopir pertama kali melintas di jalan raya Amerika di negara bagian Nevada. Sebuah konvoi truk yang melaju melintasi Eropa menuju pelabuhan Rotterdam pada bulan April.

Konvoi tersebut menggunakan teknologi penggerak otomatis baru yang disebut peleton, yang menghubungkan truk yang menggunakan Wi-Fi, sensor, GPS dan kamera. Kendaraan yang berada didepan menentukan kecepatan dan arah, sementara yang lainnya secara otomatis mengarahkan, mempercepat dan memperlambat lintasan konvoi jika terlalu dekat.

Di San Francisco, mantan karyawan Google telah meluncurkan sebuah startup bernama Otto. Melayani jasa modifikasi untuk memasang peralatan navigasi dan “driverless car” kedalam kendaraan sehingga memiliki kemampuan truk tanpa driver hanya dengan $ 30.000. Upah pengemudi truk rata-rata sekitar $ 40.000 per tahun.

Potensi penghematan untuk industri angkutan barang diperkirakan mencapai $ 168 miliar per tahun. Penghematan tersebut diperkirakan berasal dari tenaga kerja $ 70 miliar, efisiensi bahan bakar $ 35 miliar, produktivitas $ 27 miliar dan kecelakaan $ 36 miliar. Tidak termasuk angkutan udara.

Dengan kata lain kini hanya peraturan, dan bukan teknologi yang menghalangi orang , untuk pergi dari belakang kemudi.Meskipun perusahaan angkutan truk cenderung melobi keras untuk melakukan reformasi hukum sehingga mereka dapat menghemat tenaga kerja dengan menggantinya dengan truk tanpa pengemudi. Morgan Stanley secara konservatif memperkirakan bahwa industri angkutan dapat menghemat $ 168 miliar per tahun dengan memanfaatkan teknologi otonom – $ 70bn datang dari pengurangan staf.

Selain penghematan biaya, armada truk otomatis dapat menyelamatkan nyawa. Kecelakaan yang melibatkan truk-truk besar menewaskan 3.903 orang di AS pada 2014, menurut National Highway Traffic Safety Administration.Dan 110.000 orang lainnya cedera. Lebih dari 90% kecelakaan disebabkan setidaknya sebagian oleh kesalahan pengemudi.

Pada tahun 2021, robot akan menghilangkan 6% dari semua pekerjaan di AS, dimulai dengan perwakilan layanan pelanggan dan akhirnya supir truk dan taksi. Itu hanya satu takeaway ceria dari sebuah laporan yang dirilis oleh perusahaan riset pasar Forrester.

Robot, atau agen cerdas ini mewakili seperangkat sistem bertenaga AI yang dapat memahami perilaku manusia dan membuat keputusan atas nama pemilik toko. Teknologi saat ini di bidang ini mencakup asisten virtual seperti Alexa, Cortana, Siri dan Google Now serta chatbots dan sistem robot otomatis.

Untuk saat ini, robot yang tersedia cukup sederhana, namun dalam lima tahun ke depan mereka akan menjadi lebih baik dalam membuat keputusan atas nama pemilik toko dalam skenario yang lebih kompleks, yang akan memungkinkan adopsi massal robot penjaga toko seperti mobil penggerak sendiri.

“Pada 2021 gelombang pasang seperti tsunami yang mengganggu lapangan pekerjaan akan dimulai. Solusi yang didukung oleh teknologi Artificial Inteligence akan menggantikan pekerjaan manusia. Dampak terbesar dirasakan pada transportasi, logistik, layanan pelanggan dan layanan konsumen, “kata Brian Hopkins dari Forrester.

Agen cerdas, secara virtual akan dapat mengakses kalender, akun email, riwayat penjelajahan ,daftar repetisi pembelian, dan riwayat penayangan media dari tiap pelanggan yang datang untuk membuat tampilan rinci tentang individu tertentu. Dengan pengetahuan ini, agen virtual dapat memberikan bantuan yang sangat berharga bagi toko atau bank yang selalu mencoba memberikan layanan pelanggan lebih baik.

Dimasa depan ketika Bel pintu berbunyi, mungkin yang datang pengiriman sepatu lari baru, dengan gaya, kita warna dan ukuran yang tepat, sama seperti kesenangan kita. Ia datang ketika perlu mengganti sepatu yang lama. Yang mengherankan kita tidak memesannya. Pembantu rumah tangga cerdas yang melakukannya, atas nama kita.

Di industri transportasi, Uber, Google dan Tesla sedang mengerjakan mobil tanpa sopir, sementara teknologi serupa merambat menuju truk untuk menggantikan driver manusia.Dan pengusaha biasanya sangat mudah terpesona oleh inovasi seperti itu. Kini pemanfaatan taxi uber Saja telah mampu menyebabkan pengemudi taksi dan omprengan tradisional Babak belur kehilangan pendapatan dan kemungkinan jadi penganggur. Mau Lindau Lapangan kerja, timbul persoalan kerja dimana.

Jika nanti robot dan artificial intelligence sudah Masuk ke “floor” industri, apa yang terjadi dengan para pekerja atau lulusan baru yang sedang mencari pekerjaan ?

Buku Raising the Floor karya Andy Stern Ini adalah tanda peringatan dini dan saya fikir menunjukkan angin besar perubahan yang akan terjadi di masa depan. Kita perlu bersiap diri.

Andy Stern dalam bukunya :” Raising the Floor: How a Universal Basic Income Can Renew Our Economy and Rebuild the American Dream menambahkan. Ada banyak korelasi antara pengangguran dan penggunaan narkoba,” kata Stern. “Jelas dari waktu ke waktu, terutama di daerah perkotaan, kurangnya lapangan kerja adalah sumbu untuk menyalakan api kerusuhan sosial.”

Tantangan yang ditimbulkan otomasi hingga saat ini tidak dianggap cukup serius pada tingkat kebijakan.

“Politisi di Amerika lebih suka berbicara tentang mendapatkan gelar sarjana dan pelatihan keterampilan teknis serta transfer of technology. Hal-hal yang mungkin sudah terlambat lima sampai 10 tahun. Semua orang terkesima. Dan benar-benar belum punya rencana dan terus menerus berdebat tentang seberapa cepat masa depan Tsunami robot dan artificial intelligence itu tiba dipekarangan rumah sendiri. ” Begitu ujarnya.

Mudah mudahan di Indonesia kita tidak akan terlambat untuk antisipasi dan tidak terus sibuk membahas siapa jadi apa, dan hal hal yang terus membawa kita kembali ke hantu masa lalu. Penyediaan lapangan kerja dan Modernisasi industri serta Revitalisasi Pertanian, Perkebunan dan Perikanan kita merupakan soal besar yang masih memerlukan perhatian.

Mohon maaf jika ada yang keliru.

Salam

Arah Tranformasi dan “Digital Crisis” 2018

Rhenald Kasali
Kompas, 28 Dec 2017

Mendiang Presiden Kennedy pernah mengatakan, hati-hati menggunakan kata Crisis. Dan kata itu kembali menguat di akhir tahun ini, tatkala lembaga riset Forrester mengeluarkan outlook bisnis tahun 2018. Salah satu poin pentingnya, akan terjadinya digital crisis di tahun 2018.

Ini menjadi penting untuk anda yang tengah merumuskan visi 2018, sebab ekonomi digital benar-benar telah merasuki hampir seluruh kehidupan manusia.

Dan bagi Forrester, digitalisasi bukanlah sebuah elective surgery, melainkan mandatory. Sementara 60 persen CEO merasa mereka sangat tertinggal.

Di tanah air, bahkan lebih dari 80 persen CEO dan pengusaha lama merasa masih menjadi pemula (beginners) yang gaptek. Dan celakanya itu dialami perusahaan-perusahaan yang menjadi bintang bagi generasi X dan di atasnya.

Merek-merek besar yang selalu unggul dan menguasai pasar dengan jaringan distribusi yang selama ini solid, tetapi serba manual dan eye-contact.

Namun kalau kita mau kembali ke peringatan Kennedy, maka kata crises tidak boleh dibaca linear sebagai “keadaan yang berbahaya”, melainkan “ada kesempatan dalam bahaya.”

Kemana hilangnya kapal-kapal layar?

Supaya jelas kemana arah transformasi yang perlu dipersiapkan para pelaku usaha di tahun 2018, saya ajak anda membuka sedikit catatan sejarah ke belakang. Ya, ini soal kapal-kapal layar yang lenyap di era revolusi industri.

Anda mungkin masih ingat gambar di buku-buku sejarah yang mengesankan perdagangan global dengan kemunculan ribuan kapal layar pengangkut segala barang, termasuk rempah-rempah.

Kapal layar pernah berjaya merajut kesatuan nusantara dan penghubung perdagangan dunia. Entah itu kapal Pinisi, atau kapal VOC.

Kapal-kapal layar itu hilang sejalan dengan munculnya mesin uap. Bagi kaum muda saat itu, mesin uap adalah opportunity untuk mengganti pemain-pemain lama yang enggan berubah. Namun bagi pengusaha lama, mesin uap adalah bahaya. Maka yang terjadi, mereka memang mengambil jalan transformasi, tetapi separoh hati.

Ya, alih-alih melakukan transformasi yang penuh, para pemilik kapal hanya tergoda membeli mesin dan memasangnya di lambung kapal. Di atasnya tetap layar yang ditiup angin, namun di bawahnya ada mesin yang bisa memicu kecepatan.

Sementara kapal-kapal baru bermunculan yang didesain tanpa layar sama sekali. Ukuran kapal pun berubah. Jumlah muatan yang diangkat terus diperbesar. Dan dermaga-dermaga baru di manca negara terus dibangun menyesuaikan diri dengan bentuk kapal-kapal baru.

Kedalaman laut di tepian dermaga juga diperdalam karena bobot kapal lebih besar. Sementara di sini, dermaga-dermaga kita hingga tahun 2000 masih sama dengan keadaan 30-40 tahun sebelumnya.

Pemilik kapal-kapal mesin baru itu adalah pengusaha-pengusaha baru. Sementara mesin-mesin kapal dibeli oleh para pemilik kapal layar yang masih menggunakan angin sebagai kekuatan dengan dimensi kapal yang tak berubah.

Begitu terusan Suez dan terusan Panama dibuka, kapal-kapal layar perlahan-lahan mulai berguguran. Para pemiliknya bergumam, “Kami mati karena daya beli menurun, orang tak lagi melakukan perdagangan karena resesi ekonomi.”

Padahal pemilik barang memilih berdagang dengan kapal-kapal baru yang jauh lebih cepat, dan biayanya jauh lebih murah.

Kapal uap mulai dikenal pada tahun 1813. Menurut catatan Gale & Aarons (2017), kapal-kapal layar itu mulai kehilangan pasar pada tahun 1849 setelah dibangun terusan Panama yang membutuhkan kapal yang dimensinya lebih besar. Kecepatannya lebih tinggi dan daya angkut yang lebih, menyambut dunia yang lebih terbuka.

Transformasi separoh hati

Kisah tentang kapal-kapal layar yang dipasangi mesin-mesin uap itu kini tengah kita hadapi dalam perekonomian Indonesia. Khususnya ketika kita tengah memasuki perdagangan digital yang sangat disruptif.

Perusahaan-perusahaan berlomba membeli teknologi dan menguasainya, tetapi bentuk kapalnya tetap sama. Demikian pula leadership, business capabilities, customer engagement, mindset pegawai dan corporate culture-nya.
Semua masih hidup di atas “kapal layar,” yang kini diberi “mesin uap” (teknologi).

Perusahaan-perusahaan demikian seperti tengah berkelahi melawan fakta-fakta baru bahwa bisnis mereka tengah berada dalam ancaman kematian. Semakin dekat kita memasuki perdagangan digital, maka semakin besar desakan kematian itu.

Tengok saja saat manusia mulai mengeksplorasi dunia digital 50 tahun lalu, rata-rata perusahaan terkemuka di dunia bisa bertahan lebih dari 50 tahun dalam daftar Fortune 500. Tetapi kini, di tahun 2018 diperkirakan mereka hanya bisa ada dalam daftar itu sekitar 15 tahun saja.

Raksasa-raksasa yang branded dan innovative itu begitu cepat digantikan pemain-pemain baru yang rata-rata CEOnya jauh lebih muda dan perusahan-perusahaannya sama sekali tidak dikenal di masa lalu.

Mau berlindung pada pemerintah lewat aturan-aturan lama ternyata juga tak bisa karena netizen berkata lain lewat customer enggagement yang lebih intim.

Mengapa raksasa-raksasa itu berguguran? Jawabannya adalah transformasi yang mereka lakukan benar-benar separuh hati, mereka membeli teknologi sekedar ikut-ikutan. Orang-orang lama tidak dilatih ulang, cara berpikirnya tidak diperbaiki, supply-chain management-nya tetap sama, sehingga cost structure-nya tidak berubah.

Sepenuh hati

Maka di tahun 2018, menurut catatan saya, akan bertambah banyak perusahaan-perusahaan besar lama, lintas kategori, yang akan semakin tegang memandang perubahan ini dan menyalahkan keadaan.

Apakah itu sektor keuangan, industri pengolahan, perdagangan dan retail, media, transportasi, farmasi, hospital, otomotif, dan masih banyak lagi yang akan memasuki masa-masa yang sulit.

Saya tentu tak bermaksud menakut-nakuti, melainkan menuntut perhatian agar eksekutif lebih berani mengambil langkah-langkah yang lebih mendasar.

Ibarat kapal layar yang telah memberi kesempatan ekonomi yang besar di masa lalu, maka kehadiran mesin uap di awal abad 18 perlu disambut dengan kapal yang benar-benar baru, baik bentuk, dimensi, dan cara-cara kerja baru.

Demikian pula kehadiran teknologi digital di abad 21, tak dapat dihadapi semata-mata dengan menambah kapabilitas teknis.

Harap diingat, 75 persen software-software baru yang powerful yang dibeli perusahaan dalam lima tahun belakangan ini pun kurang berhasil mengantarkan kemajuan perusahaan.

Masalahnya, perusahaan hanya mengandalkan orang-orang IT saja untuk menginstalasi software, sementara cara berpikir dan leadership capabilities manajemen tidak berubah.

Hanya dengan transformasi “sepenuh hati” perusahaan-perusahaan Indonesia bisa berlayar lebih cepat.

Untuk itu, cara para pemimpin dan pengamat ekonomi dalam mengkontekstualisasi dunia ini, pun harus berubah. Sebab mereka juga mengantarkan cara berpikir para CEO dan pemimpin.

Selamat berselancar dalam gelombang besar perubahan yang penuh kesempatan, bagi mereka yang sepenuh hati.

Mengajarkan Masa Depan

Victor Yasadhana,
Direktur Pendidikan Yayasan Sukma
Media Indonesia, 27 Nov 2017

TERSIRAT kekhawatiran yang serius dalam pernyataan Clayton M Christensen, profesor Harvard Business School, Harvard University, saat berbicara dalam salah satu sesi panel di Salesforce.org 5th Annual Higher Ed Summit di University of Texas System, Austin, Texas, AS, April 2017. Sebelumnya, Christensen yang dikenal sebagai pencetus teori Disruptive Innovation yang dianggap sebagai ‘ide bisnis paling berpengaruh di abad ke-21–menyatakan bahwa separuh dari 4.000 college dan universitas di AS akan bangkrut 10-15 tahun ke depan.
Dalam sesi panel itu, Christensen bahkan menegaskan kebangkrutan akan terjadi kurang dari satu dekade.

Penyebab kebangkrutan ialah tumbuhnya perkuliahan daring yang semakin efektif dan efisien dalam segi biaya. Jika dibandingkan dengan proses perkuliahan yang dilakukan kebanyakan universitas dan college tradisional, perkuliahan daring akan tumbuh dengan biaya yang semakin murah bagi kebanyakan orang. Pernyataan Christensen tampak sejalan dengan data jumlah pengguna internet di dunia yang mencapai 3.885.567.619 di Juni 2017 (Internet World Stats: 2107). Dengan berkembangnya jumlah pengguna internet, perkuliahan daring semakin berpeluang berkembang dan mampu menekan biaya yang dibutuhkan untuk memberikan layanan.

Mimpi akan pendidikan berkualitas yang sebelumnya hanya bisa diakses oleh mereka yang kuat secara ekonomi karena biasanya pendidikan/sekolah berkualitas berbiaya mahal–diperkirakan akan bisa juga didapatkan banyak orang dengan biaya yang lebih murah.
College dan universitas yang hanya menyajikan layanan pendidikan bagi segmen masyarakat kelas atas dan dianggap menguntungkan, sementara pada saat bersamaan melupakan segmen masyarakat di bawahnya bisa diserobot oleh para pengembang layanan pendidikan daring. Terlebih jika mereka–Chistensen menyebutnya dengan istilah incumbents–terlalu malas untuk melakukan inovasi secara terus-menerus.

Kiamat bagi lembaga-lembaga pendidikan semacam ini kian mendekat. Pada tingkat pendidikan yang lebih rendah, lembaga pendidikan dengan proses belajar yang tradisional kurang lebih mendapatkan tantangan yang sama. Perkembangan teknologi, terutama maraknya penggunaan jaringan internet di masyarakat, mendorong munculnya berbagai aplikasi pembelajaran yang pada titik tertentu lebih menarik jika dibanding proses belajar tradisional. Semakin marak dan mudahnya akses internet juga mengubah cara, strategi, gaya dan budaya belajar siswa. Mungkin terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa sekolah akan segera digantikan oleh aplikasi pembelajaran daring, tetapi jika fenomena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tidak direspons dengan serius, ramalan Christensen juga akan berlaku di sini.

Kids zaman now

Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang masif ialah bagian dari fenomena menarik tentang generasi kids zaman now. Sebuah istilah yang berkembang di lini masa warganet untuk menjelaskan berbagai fenomena ide, tabiat, dan perilaku anak-anak di masa kini yang berbeda dengan generasi mereka sebelumnya. Beberapa sumber menyatakan, istilah ini konon muncul dari akun palsu Seto Mulyadi akrab dipanggil Kak Seto di media sosial beberapa waktu lalu. Beberapa pendapat warganet menyatakan salah satu ciri yang paling menonjol dari generasi kids zaman now ialah keakraban mereka dengan perkembangan teknologi yang ditandai dengan penggunaan gawai secara ekstensif, kebutuhan pengakuan dan eksistensi di dunia maya dan ketergantungan tinggi akan koneksi internet.

Menurut data Internet World Stats, diperkirakan lebih dari 1,9 miliar orang menggunakan internet di kawasan Asia. Sementara angka pengguna internet di RI sebanyak 132,7 juta orang atau 50,4% dari total populasi. Dari angka itu, diperkirakan 24,4 juta orang atau 18,4% adalah pengguna internet yang berada di golongan usia 10-24 tahun. Mahasiswa pengguna internet berjumlah 10,3 juta orang atau 7,8%, sedangkan pelajar yang menggunakan internet berjumlah 8,3 juta orang atau 6,3% dari total pengguna internet nasional (Survei Asosiasi Penyelengara Jasa Internet Indonesia: 2016).

Menimbang data itu, segmen pelajar dan mahasiswa yang kebanyakan generasi kids zaman now berada, adalah lahan yang cukup besar untuk dijadikan pengembangan layanan pendidikan daring. Ketertarikan–untuk tidak disebut ketergantungan–generasi ini terhadap teknologi juga mengimbas pada respons dan perilaku mereka dalam proses pembelajaran. Diperlukan pendekatan dan strategi khusus untuk menjamin proses pembelajaran yang efektif bagi mereka. Beberapa inovasi pendidikan bisa ditimbang sebagai respons terhadap fenomena perkembangan teknologi informasi dan fenomena generasi kids zaman now.

Pertama, berkaitan dengan teknologi. Penerapan dan penggunaan teknologi dalam proses belajar memberikan keuntungan yang besar bagi upaya pengembangan pendidikan. Pengunaan teknologi dalam proses belajar adalah sesuatu yang menyenangkan. Teknologi yang digemari generasi kids zaman now, seperti penggunaan telepon genggam, tablet, atau laptop berikut koneksi internet, dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran. Pencarian bahan ajar sebagai materi diskusi atau pemanfaatan berbagai video pembelajaran yang tersedia gratis di berbagai situs-situs pendidikan seperti Khan Academy, Amazon Education, Ruangguru, Wikipedia, dan lainnya dapat membantu guru menyelenggarakan proses belajar yang lebih menarik.

Teknologi tidak dianggap sebagai ancaman atau hambatan dalam proses belajar. Memberi makna positif pada berbagai gawai yang sudah menjadi bagian gaya hidup akan mendekatkan proses belajar sebagai aktivitas yang wajar dan menyenangkan. Kedua, keterampilan untuk menggunakan teknologi itu sendiri. Memberi nilai tambah pada teknologi dalam proses pembelajaran mensyaratkan pengguasaan dan keterampilan tertentu terhadap teknologi. Guru dan siswa tidak cukup menjadi pengguna (mengakses), tetapi harus mampu menganalisis, mengevaluasi, dan memproduksi teknologi. Ketiga, keterlibatan masyarakat.

Menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas di era digital ialah kerja tim yang membutuhkan keterlibatan lebih banyak pemangku kepentingan. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat membutuhkan respons cepat dan akurat. Proses pembelajaran mustahil dilakukan hanya saat di sekolah atau di dalam kelas semata. Keterlibatan banyak pihak juga diperlukan untuk mengeliminasi efek negatif dari penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Terakhir dan paling penting berkaitan dengan peningkatan kapasitas guru. Pengembangan diri dan karier guru adalah kunci untuk menghasilkan guru yang bisa merespons perkembangan zaman dan teknologi.

Besarnya jumlah pengguna internet di Indonesia tidak berarti, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi menjadi jamak dilakukan di ranah pendidikan. Tuntutan bagi guru untuk lebih menjadi fasilitator dan bukan hanya ‘juru transfer ilmu’ di era digital mutlak memerlukan pengetahuan yang memadai tentang teknologi. Guru yang memperkaya dirinya dengan berbagai kemampuan untuk memanfaatkan teknologi, akan mudah diterima dan mampu menginspirasi murid generasi kids zaman now yang juga gandrung akan teknologi.

Guru dan murid berada dalam ‘frekuensi’ dan ‘bahasa’ yang sama. Maka guru berpeluang untuk menghadirkan moment of learning yang melekat dalam ingatan, menginspirasi dan mengubah hidup muridnya di masa depan. Seperti ditegaskan Christensen, “Mungkin hanya ada satu hal yang tidak bisa digantikan pembelajaran daring, yaitu inspirasi dari para pengajar yang mampu mengubah hidup muridnya di masa depan.” Menginspirasi dan mengajarkan masa depan. Selamat Hari Guru!

Menjadi Guru Zaman Now

Marthunis,
Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Aceh
Media Indonesia, 27 Nov 2017

MEME yang tersebar di media sosial terkait dengan polah generasi milenial atau lebih populer disebut kids zaman now terkadang membuat kita berada dalam situasi antara ingin tertawa dan mengelus dada. Salah satu ilustrasinya ialah ketika anak zaman old yang hobinya bermain di luar rumah harus diseret paksa oleh sang ibu agar pulang ke rumah karena hari sudah telanjur sore. Sebaliknya, kids zaman now malah harus diseret paksa oleh sang ibu agar mau keluar rumah untuk bermain dan bersosialisasi dengan teman-temannya karena sudah telanjur kecanduan gadget di tangannya.

Menyalahkan generasi milenial yang telanjur kecanduan perangkat digital yang mereka miliki ialah sama halnya dengan mengutuk kemajuan teknologi itu sendiri yang bisa berarti sebuah kekeliruan. Marc Prensky, seorang penulis dan pemerhati pendidikan asal Amerika Serikat, pernah berujar for our twenty-first century kids, technology is their birthright. Hal ini mengindikasikan bahwa keterikatan generasi masa kini dengan teknologi merupakan sebuah hal yang tak terhindarkan. Yang menjadi catatan ialah bagaimana teknologi dalam bentuk internet, game online, maupun media sosial dapat diarahkan untuk digunakan dalam ruang yang lebih positif bagi kids zaman now.

Maka, dunia pendidikan memiliki peranan penting untuk memanifestasikan hal ini. Salah satunya ialah dengan memberdayakan para gurunya menjadi guru zaman now. Dalam 21st Century Teachers (Becta: 2010) dan What Kind of Pedagogies for The 21st Century (Scott: 2015) secara gamblang dijabarkan bahwa salah satu kualifikasi untuk menjadi guru di abad ini ialah melek teknologi. Alih-alih menyalahkan teknologi, guru zaman now sebaiknya mampu menerjemahkan kemajuan teknologi secara tepat dan proporsional bagi proses pembelajaran.

Survey of Schools: ICT in Education (2013) yang dilakukan European Commission (Directorate General Communications Networks, Content, and Technology) di sekolah-sekolah di 31 negara di Eropa, menemukan bahwa guru-guru yang cukup percaya diri dalam penggunaan ICT (Information and Communication Technology) di sekolah cenderung membawa pengaruh positif bagi proses pembelajaran siswa secara menyeluruh. Mereka terlihat sebagai guru yang menyenangkan bagi para siswanya karena dianggap gaul dan up to date. Sebaliknya, guru-guru yang kurang percaya diri terhadap pemanfaatan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dalam mengeksekusi proses pengajaran mereka dianggap sebagai guru yang membosankan.

Tentu, rasa percaya diri atau sebaliknya bagi para guru terhadap penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran dilatari pengetahuan dan kemapanan skill yang mereka miliki terhadapnya. Implikasinya, para guru yang kurang percaya diri dalam pemanfaatan TIK dalam memfasilitasi proses belajar siswa akan cenderung skeptis terhadap para siswanya yang membawa gadget ke sekolah, baik dalam bentuk smartphone, laptop, maupun lainnya. Guru-guru tersebut akan cukup mudah melabeli siswa yang gandrung dengan teknologi sebagai siswa badung, malas belajar, lalai, dan sebagainya.

Akibatnya ialah para siswa tidak mendapatkan informasi yang tepat dari para gurunya tentang bagaimana seharusnya mereka memanfaatkan teknologi di tangan mereka secara aman dan bertanggung jawab. Maka, tidak mengherankan jika kids zaman now terutama di Indonesia cenderung ngawur dan tidak dapat memanfaatkan teknologi yang mereka kenal seperti internet maupun media sosial secara tepat maupun proporsional. Berbeda dengan hasil survei serupa di atas yang dilakukan European Commission di sekolah-sekolah di 31 negara di Eropa terhadap para siswa.

Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas peserta didik yang menjadi responden dalam survei tersebut menyatakan bahwa mereka paham benar bagaimana memanfaatkan teknologi baik dalam bentuk intenet maupun media sosial secara aman dan bertanggung jawab. Pemahaman dan kemampuan ini juga didorong perhatian guru terhadap hal penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Perbedaan fenomena ini harus dilihat dari kacamata yang lebih komprehensif. Permasalahan generasi milenial negeri ini yang belum cerdas dalam memanfaatkan TIK tentu bukan berasal dari kemajuan teknologi yang tidak dapat dibendung. Toh, kemajuan peradaban dalam bentuk teknologi ialah sebuah keniscayaan. Faktanya, seiring dengan laju teknologi yang begitu cepat, pendidikan kita di Indonesia ternyata belum dapat mengimbangi kemajuan tersebut.

Salah satu indikatornya ialah masih banyaknya guru yang belum melek teknologi. Alih-alih mampu mengembangkan teknologi yang ada saat ini, masih banyak guru di negeri ini yang masih berkutat dengan hal-hal nonteknis dalam pemanfaatan teknologi. Dalam sebuah riset yang dilakukan Bambang Sumintono (2012) terhadap 151 guru sains SMP di Indonesia yang berasal dari dari Pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku, dan Papua, dalam penggunaan perangkat TIK dalam pengajaran mereka. Salah satu temuan yang menarik ialah para guru di wilayah itu mengalami kesulitan dalam pemanfaatan TIK disebabkan hal yang sangat mendasar sekali, yaitu tidak adanya fasilitas yang mereka miliki.

Secara personal, mereka tidak mampu membeli perangkat komputer atau laptop untuk kepentingan proses pembelajaran, dan secara institusional sekolah mereka belum dapat menyediakan fasilitas teknologi serupa. Hal ini mengisyaratkan betapa pendidikan kita tertinggal jauh di belakang. Momen hari guru yang baru saja diperingati dua hari yang lalu seyogianya menjadi momentum berharga bagi para pemangku kepentingan pendidikan serta seluruh guru di negeri ini untuk melakukan refleksi setelah 72 tahun memperingatinya. Refleksi untuk melihat fenomena kids zaman now yang gandrung dengan teknologi sebagai sebuah kemutlakan dari perubahaan zaman.

Yang harus kita upayakan ialah bagaimana mempersiapkan pola pendidikan yang tentunya juga zaman now, yakni rangkaian prosesnya akan menggiring generasi milenial itu ke dalam ruang yang lebih positif dalam memanfaatkan teknologi yang mereka kuasai. Pada titik ini, guru sebagai aktor utama dalam ruang pendidikan itu haruslah memainkan perannya sebagai guru zaman now, yang tidak anti dan melek teknologi, serta mampu membawa peserta didiknya dapat menggunakan teknologi itu secara tepat, aman, dan bertanggung jawab. Semoga.

.

Sistem Inovasi Dalam Lanskap Ekonomi Digital

DR. Ir. Agus Puji Prasetyono, M.Eng.
Staf Ahli MenRistek & Dikti bidang Relevansi dan Produktivitas,
Dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.
24 Oct 2017

Gelombang perkembangan inovasi global yang begitu cepat, kini sudah tidak dapat dibendung lagi. Saat ini akselerasi yang sangat tinggi dalam kompetisi ekonomi global selalu ditandai dengan gegap gempitanya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Jika beberapa dekade silam teknologi Informasi dan komunikasi menjadi salah satu bidang fokus yang harus dikembangkan, kini hal itu telah berubah menjadi alat dari sebagian besar wahana dalam proses inovasi. Industri besar kini mulai memutar barisan dan mengambil tempat di posisi strategis ini. Tidak heran jika kini bermunculan e-commerce seperti alibaba.com, bli-bli.com, facebook, traveloka.com, dan sebagainya bersaing merebut pasar potensial ini. “Sungguh menakjubkan..!”. Dengan perkembangan itu negara semakin tidak dapat menutup diri melakukan penataan internal yang tak berkesudahan, melainkan harus semakin terbuka dan melakukan penyelarasan terhadap perkembangan dunia. Dinamika Dunia menjadikan negara saling tergantung.

Melihat perkembangan global saat ini, China dengan strateginya yang disebut“One Belt One Road-OBOR” dan telah diubah menjadi “Belt Road Initiative-BRI” memiliki pola strategi menyatukan ASEAN menjadi kawasan kolaboratif dalam inovasi dan ekonomi, bersatu menghadang hegemoni ekonomi negara raksasa seperti Eropa dan Amerika Serikat di kawasan Asia Tenggara. Namun hal ini menjadikan negara lain tidak tinggal diam, Jepang dan India mengembangkan kolaborasi ekonomi dalam “Freedom Initiative” yang bergerak meningkatkan kemampuan inovasi dan ekonominya berupaya untuk mengalahkan raksasa lainnya di dunia.

Internet of Things (IOT) Technology.

Jika hari ini masyarakat telah mahir menggunakan internet untuk mencari data atau berhubungan dengan orang lain termasuk menghubungkan satu kelompok dengan kelompok lainnya, dari berbagai tempat yang berjauhan dengan mudah secara real time, maka sebenarnya Indonesia telah masuk dalam skenario permainan di Global Smart Technology. Dalam perkembangannya, banyak negara telah menggunakan sistem dan teknologi digital ini untuk memproduk barang dan jasa dengan cepat dan efisien.

Pada saat kita membuat perencanaan terhadap sebuah disain inovatif maka saat itulah kita berhadapan dengan sebuah smart computer yang digunakan untuk mencari data dan komponen yang diperlukan sekaligus siapa, dimana dan dengan dana berapa kita bisa mendapatkan komponen tersebut.Smart computer diberi tugas untuk menganalisis dan memilih komponen yang paling sesuai dengan metoda yang sudah kita siapkan. Begitu kita tekan tombol akses, maka dalam waktu yang sangat singkat komponen bisa kita tentukan dan produk inovasi dapat dilahirkan dengan cara yang sangat simpel, singkat efektif dan efisien. Di sinilah letak keunggulan Internet of Things Technology. Jika ini merupakan pilihan dunia, maka pada saatnya tidak akan ada industri besar yang harus mengeluarkan biaya besar untuk operasionalnya. Industri besar yang memiliki ciri produksi dengan membuat semua komponen untuk produk inovasinya, suatu saat akan tumbang satu persatu karena beban operasional sangat tinggi. Industri berskala kecil dan sarat dengan penguasaan dan pemanfataan teknologi digital akan berkembang dengan pesat, karena memiliki elastisitas dan beban yang ringan namun kapasitas dan kemampuannya luar biasa cepat.

Jika dulu kita miliki “Bandung Bondowoso” yang mampu membangun Candi Perambanan dalam semalam, maka kedepan bisa dibayangkan akan ada “Bandung Bondowoso” modern yang mampu membangun produk inovasi dalam sekejap dengan menggunakan teknologi digital yang berkembang sangat pesat ini. Peran komputer akan banyak mengantikan peran manusia, robotika akan menjadi populer dengan segala program otomatisasinya. Bahkan pekerjaan yang berbahaya tidak lagi masalah, karena bisa dikendalikan dari jarak jauh ditempat yang aman, bahkan dapat dilaksanakan oleh sistem otomatis yang cerdas. Tidak menutup kemungkinan pusat perbelanjaan yang penuh pengunjung tiba-tiba menjadi sepi, karena jual beli dapat dilakukan dalam jarak jauh. Digital financial akan menjadi trend tidak hanya sebatas pada kartu ATM, tetapi pembayaran sudah dapat dilakukan dengan deteksi muka secara otomatis. Hidup menjadi lebih berkualitas, efektif dan efisien. Bagaimana dengan Indonesia…? Apa saja yang harus disiapkan?

Kaca Benggala Inovasi

Bercermin kepada kegagalan masa lalu harus mampu menjadikan pelajaran untuk menemukan kunci keberhasilan yang berharga dalam melihat strategi menaatap masa depan yang lebih produktif. Hal ini menjadi penting bagaimana menata ulang perencanaan penerapan dan penciptaan sistem inovasi selaras kebutuhan dalam pembangunan ekonomi negara melalui sistem yang dipastikan dapat berkompetisi diarena global. Upaya ini tidak hanya membantu, tetapi memberikan dasar bagi munculnya pemikiran tentang praktik terbaik dengan cara memastikan teknologi dan sistem inovasi yang dirancang selaras dengan perkembangan global. Dengan cara ini dapat dipastikan sebuah teknologi benar-benar “memberdayakan” yaitu ketika Negara mampu menciptakan proses perancangan yang bersifat kolaboratif di tingkat regional, nasional dan global (consortium model practically).

Ketika Negara menjadikan Teknologi Digital sebagai faktor penentu untuk kemandirian ekonomi maka semestinya kinerja teknologi informasi dan komunikasi berbasis digital yang memiliki kekuatan transformatif dalam pembangunan nasional didorong menjadi prioritas nasional. Berbagai proyek pemerintah yang direncanakan dalam APBN semestinya “tidak hanya terarah kepada sistem inovasi nasional”, namun juga seharusnya berorientasi pada “Global Innovation system and management” dengan memasukkan itu sebagai faktor utama dalam mencari solusi dalam pembangunan ekonomi bangsa. Kuncinya adalah dengan mengenali semua elemen terutama dukungan kebijakan seputar pendidikan, keterampilan dan pembangunan yang berbasis pada teknologi digital.

Kita sudah semestinya menangani tantangan pembangunan global melalui penelitian, pengembangan dan pemanfaatan smart technology secara komersial yang kolaboratif dengan industri terutama industri strategis seperti bidang energi dan transportasi, yang notabene menentukan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekarang dan masa mendatang. Berbagai lapangan pekerjaan akan terbuka menyesuaikan trend perkembangan global melalui investasi dan substitusi komponen teknologi yang telah proven dalam mendukung industri nasional.

Begitu pula kebijalan fiskal dan moneter Negara tentu akan menyesuaikan trend global untuk mendorong sektor Industri yang memungkinkan tercapainya pertumbuhan ekonomi tinggi sekaligus menurunkan gap kaya miskin (Gini Ratio) dan pengentasan kemiskinan melalui perbaikan pendapatan masyarakat.

Terobosan kebijakan yang harus dilakukan..

Pertama, kombinasi stagflasi dan persaingan internasional berbasis teknologi digital yang semakin meningkat memunculkan gerakan daya saing yang membutuhkan seperangkat kebijakan pelengkap untuk mendorong pertumbuhan produktivitas jangka panjang. Pemerintah sesegera mungkin merancang strategi penataan sistem dan peningkatan daya saing negara dengan menemmpatkan teknologi digital sebagai alat untuk mendorong bidang industri berbasis keunggulan teknologi dan inovasi. Fokus pada pertumbuhan produktivitas jangka panjang beserta rekomendasi dan langkah spesifik untuk meningkatkan investasi.

Kedua, memperbaharui sistem riset dan teknologi di level pendidikan tinggi dan lemlitbang yang bertanggung jawab penuh hingga berskala pasar. Namun di sisi lain perlu menjadikan industri nasional sebagai finish line, sehingga kompetensi mahasiswa menuju profesional sudah terprogram sejak di universitas melalui pembelajaran, pelatihan, dan perolehan keterampilan baru secara terus-menerus. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan iptek hulu mengembangkan formula dan disain fundamental bagi berkembangnyascience dan technology.

Ketiga, kebijakan perdagangan dirancang untuk mengadopsi kebijakan ekonomi luar negeri yang berusaha membuka pasar di seluruh dunia berbasis pada pengurangan (minimalisasi) defisit untuk memperbaiki iklim investasi, termasuk pengembangan dan pemanfaatan Iptek untuk kemandirian. Internet of Things Technology berperan sebagai media untuk mengambil peran dalam percaturan persaingan yang bebas dalam era global.

Keempat, political will untuk mendukung peningkatan infrastruktur dan kompetensi sumberdaya manusia sebagai prime mover pembangunan Iptek dan Inovasi hingga komersialisasi. Dukungan pemerintah juga diperlukan di tataran promosi maupun desiminasi hasil inovasi secara masif. Dari skenario ini berakibat dapat dipastikannya dampak pada jutaan rakyat Indonesia yang memanfaatkan kesempatan baru untuk pendidikan dan pelatihan. Hal ini memungkinkan adanya lembaga intermediasi sebagai wahana pendampingan dan konsultasi segala hal yang terkait dengan industri dan inovasi.

Kelima, menciptakan kerangka kerja yang terarah dan berguna untuk kebijakan ekonomi masa depan, sehingga iklim ekonomi mampu mendorong investasi. Kebijakan ekonomi internasional yang mampu membangun kolaborasi dan pasar yang berkelanjutan merupakan strategi yang baik, sukses dan berkelanjutan.

Keenam, penyelarasan terhadap perkembangan global. Perkembangan global yang kompleks, memaksana negara untuk lebih berperan dalam diplomasi dan networking secara masif dan terstruktur sehingga gejala ancaman dini dapat diatasi dengan strategi yang komprehensif, holistik dan terintegrasi.