Talent Maintaining

Adriano Rusfi
29 Aug 2018

Alhamdulillah, secara berantai putra-putra muda Indonesia unjuk gigi. Mereka menawarkan harapan masa depan. Lalu Muhammad Zohri secara mengejutkan juara lari 100 m U-20 di Finlandia… Pasukan Garuda U-16 Juara AFF di Sidoarjo… Seorang bocah dipanggil Joni tampilkan militansi nasionalnya dengan memanjat tiang bendera di Atambua… Sebenarnya bukan hal baru jika bocah-bocah Indonesia mengukir prestasi di tingkat dunia. Beberapa kali anak-anak kita raih medali di sejumlah Olimpiade Sains sejagad. Timnas U-14 juga pernah berkibar di Piala Dunia seusianya. Dapat dikatakan, anak-anak kita sering mempesona di arena kaum belia

Tapi masalahnya justru ada di sana : ada kegemilangan yang hadir begitu cepat, lalu segera redup secepat itu juga. Sosok Kun dan Wahyu yang telah menjadi sarjana pada usia 17 dan 15 tahun, kini hilang entah ke mana… Para pemenang olimpiade sains tak lagi menunjukkan kiprah ilmiahya… Tristan Alif “Messi” Naufal, pebola cilik asal Tangerang, entahlah bernasib seperti apa. Belum lagi kisah “layu sebelum berkembang” lainnya. Mereka seperti pembalap yang mencuri start : telah tancap gas saat orang lain belum pasang kuda-kuda, sehingga melaju mengalahkan rekan seusianya. Lalu belakangan terseok-tersusul, karena buruk dalam persiapan, kuda-kuda dan ancang-ancang.

Lalu di pentas unjuk sukses yang sebenarnya bangsa ini tidak lagi menjadi siapa-siapa. Medali emas sains tak tumbuh menjadi Nobel… Sejibun Piala Robotika tak berbuah kreasi karya-karya… Kurniawan dari Primavera, atau Evan Dimas dari U-19 dipaksa berkembang menjadi selebriti bola tinimbang profesional sepakbola… Mereka hanya semacam aktor-aktor panggung yang digegas untuk menghibur kaum tua yang dahaga menanti prestasi yang tak jadi-jadi. Indra Sjafrie benar, bahwa mereka, Garuda Muda U-19, belum saatnya tersorot lampu kamera dan wajahnya menghias cover majalah. Mereka lebih baik sembunyikan wajahnya dalam khusyuknya sujud syukur. Tapi kita lebih suka membedaki mereka.

Entah apa yang membuat kita bak diburu waktu agar anak-anak kita segera mempesona. Padahal keunggulan manusia dibanding hewan justru karena persiapan asuh-didik yang lebih lama. Sering kita terjebak pada istilah “usia emas”, padahal setiap rentang usia adalah emas. Kita telah meremehkan dahsyatnya usia tua, sehingga beranggapan bahwa usia berprestasi itu begitu singkat, dan kita takut kehabisan masa muda. Kita hanya berpikir tentang performing, padahal performing yang optimal dan awet hanya lahir dari character and capacity building yang sabar. Kita lupa bahwa hidup adalah maraton, ulat butuh mengepompong untuk menjadi kupu-kupu, dan “akhir lebih baik dari permulaan”.

Ya, kita telah menjadi Talent Killer bagi potensi anak-anak kita sendiri, karena kita telah durhaka kepada waktu dan proses. Demi Ashar, kita memang telah menciptakan defisit (kerugian) atas optimalisasi potensi anak-anak kita sendiri… Demi Ashar, defisit prestasi itu terjadi karena kita telah dahulukan amal shaleh (aksi) sebelum iman (pondasi)… Demi Ashar, kita merugi karena kita lupa saling berwasiat untuk benar dan sabar… Demi Ashar, kita merugi karena kita telah meremehkan cahaya emas masa tua (Ashar)… “Demi Ashar, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali yang beriman dan beramal shaleh. Dan saling berwasiat dalam kebenaran, dan saling berwasiat dalam kesabaran” (QS 103 : 1-3)

Alhamdulillah, beberapa sahabat saya : Abah Abah Rama Royani, Kang Muhammad Firman, Bu Yustinawaty Hasibuan, Kang Gantara Abidaffa dsb. telah mendedikasikan dirinya untuk memetakan potensi-bakat anak-anak bangsa lewat Talent Mapping. Dan alhamdulillah pula mereka tak pernah tergesa untuk memetakannya sebelum usia 15 tahun, karena “tersasar-sasar tanpa peta” sebelum 15 tahun adalah petualangan misteri untuk menemukan tuntunan Ilahi tentang diri. Kini, setelah peta itu terbingkai rapi, tiba saatnya Talent Mapping (TM L-1) berlanjut pada misi

Advertisement

Seven Note on Believing to Your talent and ideas

Jusman Syafii Djamal
(Nasehat untuk generasi anak saya yang sedang ambil S1)

First : “Everybody has their own private Mount Everest they were put on this earth to climb. You may never reach the summit; for that you will be forgiven. But if you don’t make at least one serious attempt to get above the snow line, years later you will find yourself lying on your deathbed, and all you will feel is emptiness.”

Second : “Nobody suddenly discovers anything. Things are made slowly and in pain.” The most important thing is How your own idea’s become yours’ sovereignty which inspires other people to find their own sovereignty, their own sense of freedom and possibility, will give the work far more power than the work’s objective merits ever will.”

Third : “YOU DON’T KNOW IF YOUR IDEA IS ANY GOOD the moment it’s created. Neither does anyone else. The most you can hope for is a strong gut feeling that it is.
And trusting your feelings is not as easy as the optimists say it is. There’s a reason why feelings scare us—because what they tell us and what the rest of the world tells us are often two different things.”

Fourth : “There is no silver bullet. There is only the love God gave you” “The sovereignty of ideas you have over your work will inspire far more people than the actual content ever will. “Be kind to yourself. Let yourself learn. Let yourself grow.”

Fifth :“Always do what you are afraid to do as RALPH WALDO EMERSON said.“Your idea doesn’t have to be big.It just has to be yours alone. The more the idea is yours alone, the more freedom you have to do something really amazing.
The more amazing, the more people will click with your idea. The more people click with your idea, the more this little thing of yours will snowball into a big thing.”

Sixth : “THE MINUTE YOU BECOME READY IS THE MINUTE you stop dreaming. Suddenly it’s no longer about “becoming.” Suddenly it’s about “doing.”

Seventh : “Just go with the flow and don’t worry about it. Especially don’t worry about the people who are worrying about it. They’ll just slow you down.”

Never Give Up to reach the top of The Mount Everest you targeted in your life. “Doing anything worthwhile takes forever. Ninety percent of what separates successful people and failed people is time, effort, and stamina.”

Excerpt From: MacLeod, Hugh. “Ignore Everybody.”