Preman Lontong Soda Gembira : Model “Sharing Economy” ?

JUSMAN SYAFII DJAMAL·
JANUARY 24, 2018

Tahun 70 an saya punya banyak Teman lebih Tua yang dikenal sebagai “preman” . Berkenalan dengan mereka dimasa itu menyenangkan. Sebab mereka marah jika saya terlena bermain main. Mereka bilang :”Yusman kau jangan ikut jalan tak berujung ini, sekolah dan belajar yang rajin. Bapak mu di gang macan langsa nanti kecewa kalau Kau ikut jadi luntang lantung seperti ini. Kau sekolah yang rajin. Kalau ada yg ganggu lapor saja sama abang.

Bergaul dengan mereka rasanya syur . Asal ada filem India yang baru atau film Clint Eastwood Janggo pasti nonton tanpa karcis alias gratis”. Tapi kalau mereka sudah bergelut tanpa ujung pangkal, badan pun ikut menggigil. Salah gerak ikut masuk Rumah sakit. Ketika itu mereka yang saya kenal di Medan itu adalah Abang abang baik hati berbadan kekar, yang sering jadi pelindung anak sekolah, Gadis cantik di kampung dan orang tua yang sudah lemah. Itu kenangan Tempo dulu. Entah sekarang. Ketika ke Medan saya coba bertemu lagi, mereka banyak yg sudah wafat diusia yang tergolong Muda.

Mereka disebut preman bukan karena keganasan nya dan kegaduhan yang ditimbulkan nya. Tapi lebih karena mereka habis lulus SMA tak bisa cari kerja. Hobby mereka memang latihan bela diri dan adu otot. Dikenal istilah Muka Seram Hati Roman. Galak tapi hatinya baik. Awalnya istilah preman lahir untuk menyatakan bahwa mereka adalah “free man” orang merdeka tak punya Tuan yang bisa mendikte. Mereka sering dan mudah saya temui didepan sekolah saya dan juga simpang jalan.

Ketika itu saya bertemu dengan dua type preman. Yg satu mereka sebut preman lontong. Istilah ini muncul karena ketika makan siang, mereka kurang duit untuk makan Sate padang atau Sate kacang komplit pake daging nya. Sate zaman old dagingnya memiliki potongan besar besar . Jadi satu porsi bikin kenyang. Begitu juga lontong nya. Kini tidak begitu lagi. Daging mahal jadi potongan sate dan rendang ikuti trend technology digital “miniaturisasi” dan “de scaling “, mengkerut ukuran nya.

Istilah Preman lontong muncul karena mereka punya teknik menghemat ongkos. Kalau makan sate padang mereka hanya pesan lontong dengan kuahnya saja. Harga potong separoh, lontong lebih banyak. Sementara yang lain memesan daging saja tanpa lontong . Yg pesan sate daging nya saja akan dapat bonus. Sate berdaging plus kerupuk jangek disiram kuah sate. Ketika makan , mereka berkumpul jadi satu . Ala kenduri cinta.

Membangun persahabatan senasib sepenanggungan dengan cara berbagi. Yang pesan lontong kuah sate. Bergabung dengan yg pesan sate daging dgn Bonus kerupuk jangek berkuah sate. Model makan berbagi ini yang mungkin jadi inspirasi “uber taxi” dan Arnbnb pencipta ekonomi berbagi atau “sharing economy”.

Yang punya asset mobil atau Rumah yang idle tak digunakan memanfaatkan ruang kosong dan tak terpakai dari asset yg dimiliki untuk dimanfaatkan oleh Pelanggan yang sedang pusing nunggu taxi yang tak muncul2 dan hotel yang penuh sesak.
Dengan “software aplikasi” yang memerlukan kenderaan bertemu dengan pemilik mobil yang sedang nganggur tak punya penumpang.

Klop. Mirip cara Sate bertemu lontong dalam ruang persahabatan di warung pinggir jalan yg bersih terjaga. Komplit sudah apalagi dapat tambahan kerupuk jangek dengan kuah sate padang. Hidup jadi nyaman. Dengan software aplikasi pemilik Rumah kosong dapat menawarkan kamar untuk dijadikan tempat peristirahatan Para pelancong. Turis ala jalan Sabang yg menumpang dirumah Rumah penduduk.

Di New York cara kerja berbagi ini melahirkan model bisnis sharing Economy yg dipeopori oleh Arnbnb dan Taxi Uber. Di Indonesia zaman dulu disebut Guest House dan taxi omprengan. Kini generasi tua yang hidup di zaman Now sering kaget dan merasa bisnis nya terancam akibat kehadiran model bisnis dengan software aplikasi. Padahal generasi zaman old sudah hidup dengan cara yang berdiri diatas prinsip dan metode yg mirip sama dan se bangun.

Model kerjasama Preman Lontong. Bekerja sama makan bersama, yang satu fokus pada lontong dan kuah. Yg lain fokus pada sate daging nya. Pemilik Kios sate juga gembira. Ada pembeli langganan yang hadir setia. Economic of scale muncul. Volume lontong dan sate memenuhi syarat break event point. Book. Topline dan bottom line neraca rugi laba masuk.

Cerita pengalaman masa SMA bersahabat dgn preman lontong dishare disini untuk memberi persfektip bahwa kita tak perlu terlalu hawatir dengan banjir teknologi digital. Yg bikin persepsi bahwa kita telah ketinggalan zaman dan dilanda tsunami software aplikasi yg meruntuhkan sendi sendi ekonomi tradisional.

Sebab dalam adat istiadat kehidupan keseharian kita sebenarnya tersembunyi spirit local wisdom. Mba Megawati Presiden kelima RI sejak tahun 2000 an telah mengajak kita semua untuk mulai membangun kembali spirit ekonomi gotong royong sebagai basis ekonomi berdikari. Dan kini diulang kembali oleh Presiden Jokowi. Fondasi Revitalisasi dan Modernisasi telah dirintis oleh semua Presiden RI, Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur dan Pak SBY. Continuous journey to build a Nation.

Di Medan masa lalu saya sempat mengenal kehidupan preman lontong. Makan siang dan malam berbagi lauk pauk di meja makan. Yang tak lengkap jika tidak ditutup dengan minuman segar. Soda gembira. Limun Bergas atau minuman bersoda yang dituang dalam gelas berisi susu kental manis.

Sate Padang atau Sate Kacang tambah Soda Gembira. Kenangan masa lalu yang menyenangkan. Prinsip Sharing Economy telah kita kenal sejak masa lalu. Yang perlu direvitalisasi dan dimodernisasi adalah infrastruktur iptek yang kita kuasai dan miliki. Infrastruktur yang berfungsi seperti roda gembira memperlancar dan memuluskan konektivitas diantara produsen – distributor – pemilik warung/pedagang dengan customer nya. Agar asset yg dimiliki meningkat value nya. Agar asset meningkat nilainya dalam proses bisnis dan value chain yang lebih canggih.

Apa begitu ? Mohon maaf jika ada yang keliru . Happy New Year 2018.
Salam

Advertisement

Welcome Leisure Economy

Yuswohady

The Phenomenon
Dalam 3 bulan terakhir muncul diskusi publik yang menarik mengenai fenomena turunnya daya beli konsumen kita yang ditandai dengan sepinya Roxi, Glodok, Matahari, Ramayana, Lotus, bahkan terakhir Debenhams di Senayan City.

Anggapan ini langsung dibantah oleh ekonom karena dalam lima tahun terakhir pertumbuhan riil konsumsi masyarakat robust di angka sekitar 5%. Kalau dilihat angkanya di tahun ini, pertumbuhan ekonomi sampai triwulan III-2017 masih cukup baik sebesar 5,01%. Perlu diingat bahwa konsumsi masyarakat (rumah tangga) masih menjadi kontributor utama PDB kita mencapai 54%.

Sebagian pakar mengatakan sepinya gerai ritel konvensional tersebut disebabkan oleh beralihnya konsumen ke gerai ritel online seperti Tokopedia atau Bukalapak. “Gerai-gerai tradisional di Roxi atau Glodok telah terimbas gelombang disrupsi digital,” begitu kata pakar.

Kesimpulan ini pun misleading karena penjualan e-commerce hanya menyumbang 1,2% dari total GDP kita, dan hanya sekitar 0,8% (2016) dari total penjualan ritel nasional. Memang pertumbuhannya sangat tinggi (eksponensial) tapi magnitute-nya belum cukup siknifikan untuk bisa membuat gonjang-ganjing industri ritel kita.

Kalau konsumen tak lagi banyak belanja di gerai ritel konvensional dan masih sedikit yang belanja di gerai online, maka pertanyaannya, duitnya dibelanjakan ke mana?

The Consumers
Tahun 2010 untuk pertama kalinya pendapatan perkapita masyarakat Indonesia melewati angka $3000. Oleh banyak negara termasuk Cina, angka ini “keramat” karena dianggap sebagai ambang batas (treshold) sebuah negara naik kelas dari negara miskin menjadi negara berpendapatan menengah (middle-income country).

Ketika melewati angka tersebut, sebagian besar masyarakatnya adalah konsumen kelas menengah (middle-class consumers) dengan pengeluaran berkisar antara $2-10 perhari. Di Indonesia, kini konsumen dengan rentang pengeluaran sebesar itu telah mencapai lebih dari 60% dari total penduduk.

Salah satu ciri konsumen kelas menengah ini adalah bergesernya pola konsumsi mereka dari yang awalnya didominasi oleh makanan-minuman menjadi hiburan dan leisure. Ketika semakin kaya (dan berpendidikan) pola konsumsi mereka juga mulai bergeser dari “goods-based consumption” (barang tahan lama) menjadi “experience-based consumption” (pengalaman). Experience-based consumption ini antara lain: liburan, menginap di hotel, makan dan nongkrong di kafe/resto, nonton film/konser musik, karaoke, nge-gym, wellness, dan lain-lain.

Pergeseran inilah yang bisa menjelaskan kenapa Roxi atau Glodog sepi. Karena konsumen kita mulai tak banyak membeli gadget atau elektronik (goods), mereka mulai memprioritaskan menabung untuk tujuan liburan (experience) di tengah atau akhir tahun. Hal ini juga yang menjelaskan kenapa mal yang berkonsep lifestyle dan kuliner (kafe/resto) seperti Gandaria City, Gran Indonesia, atau Kasablanka tetap ramai, sementara yang hanya menjual beragam produk (pakaian, sepatu, atau peralatan rumah tangga) semakin sepi.

The Shifting
Nah, rupanya pola konsumsi masyarakat Indonesia bergeser sangat cepat menuju ke arah “experience-based consumption”. Data terbaru BPS menunjukkan, pertumbuhan pengeluaran rumah tangga yang terkait dengan “konsumsi pengalaman” ini meningkat pesat. Pergeseran pola konsumsi dari “non-leisure” ke “leisure” ini mulai terlihat nyata sejak tahun 2015

Untuk kuartal II-2017 misalnya, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,95% dari kuartal sebelumnya 4,94%. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini dinilai melambat lantaran konsumsi rumah tangga dari sisi makanan dan minuman, konsumsi pakaian, alas kaki, perumahan dan perlengkapan rumah tangga, (goods-based) hanya tumbuh tipis antara 0,03-0,17%. Sementara konsumsi restoran dan hotel (experience-based) melonjak dari 5,43% menjadi 5,87%. “Jadi shifting-nya adalah mengurangi konsumsi yang tadinya non-leisure untuk konsumsi leisure,” ucap Ketua BPS, Suhariyanto.

Studi Nielsen (2015) menunjukkan bahwa milenial yang merupakan konsumen dominan di Indonesia saat ini (mencapai 46%) lebih royal menghabiskan duitnya untuk kebutuhan yang bersifat lifestyle dan experience seperti: makan di luar rumah, nonton bioskop, rekreasi, juga perawatan tubuh, muka, dan rambut.

Sementara itu di kalangan milenial muda dan Gen-Z kini mulai muncul gaya hidup minimalis (minimalist lifestyle) dimana mereka mulai mengurangi kepemilikian (owning) barang-barang dan menggantinya dengan kepemilikan bersama (sharing). Dengan bijak mereka mulai menggunakan uangnya untuk konsumsi pengalaman seperti: jalan-jalan backpacker, nonton konser, atau nongkrong di coffee shop.

Berbagai fenomana pasar berikut ini semakin meyakinkan makin pentingngnya sektor leisure sebagai mesin baru ekonomi Indonesia. Bandara di seluruh tanah air ramai luar biasa melebihi terminal bis. Hotel budget di Bali, Yogya, atau Bandung full booked tak hanya di hari Sabtu-minggu, tapi juga hari biasa. Tiket kereta api selalu sold-out. Jalan tol antar kota macet luar biasa di “hari kejepit nasional”. Destinasi-destinasi wisata baru bermunculan (contoh di Banyuwangi, Bantul atau Gunung Kidul) dan makin ramai dikunjungi wisatawan.

Sektor pariwisata kini ditetapkan oleh pemerintah sebagai “core economy” Indonesia karena kontribusinya yang sangat siknifikan bagi perekonomian nasional. Saat ini sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa kedua terbesar setelah kelapa sawit dan diproyeksikan 2-3 tahun lagi akan menjadi penyumbang devisa nomor satu. Ini merupakan yang pertama dalam sejarah perekonomian Indonesia dimana pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi bangsa.

Tak hanya itu, kafe dan resto berkonsep experiential menjamur baik di first cities maupun second cities. Kedai kopi “third wave” kini sedang happening. Warung modern ala “Kids Jaman Now” seperti Warunk Upnormal agresif membuka cabang. Pusat kecantikan dan wellness menjamur bak jamur di musim hujan. Konser musik, bioskop, karaoke, hingga pijat refleksi tak pernah sepi dari pengunjung. Semuanya menjadi pertanda pentingnya leisure sebagai lokomotif perekonomian Indonesia

The drivers
Kenapa leisure-based consumption menjadi demikian penting bagi konsumen dan mereka mau menyisihkan sebagian besar pendapatan untuk liburan atau nongkrong di kafe/mal? Setidaknya ada beberapa drivers yang membentuk leisure economy.

#1. Consumption as a Lifestyle. Konsumsi kini tak hanya melulu memenuhi kebutuhan dasar sandang, pangan, papan. Konsumen kita ke Starbucks atau Warunk Upnormal bukan sekedar untuk ngopi atau makan, tapi juga dalam rangka mengekspresikan gaya hidup. Ekspresi diri sebagai bagian inhenren dari konsumsi ini terutama didorong maraknya media sosial terutama Instagram.

#1. From Goods to Experience. Kaum middle class milennials kita mulai menggeser prioritas pengeluarannya dari “konsumsi barang” ke “konsumsi pengalaman”. Kini mulai menjadi tradisi, rumah-rumah tangga mulai berhemat dan menabung untuk keperluan berlibur di tengah/akhir tahun maupun di “hari-hari libur kejepit”. Mereka juga mulai banyak menghabiskan waktunya untuk bersosialisasi di mal atau nongkrong di kafe sebagai bagian dari gaya hidup urban.

#2. More Stress, More Travelling. Dari sisi demand, beban kantor yang semakin berat dan lingkungan kerja yang sangat kompetitif menjadikan tingkat stress kaum pekerja (white collar) kita semakin tinggi. Hal inilah yang mendorong kebutuhan leisure (berlibur, jalan-jalan di mal, atau dine-out seluruh anggota keluarga) semakin tinggi.

#3. Low Cost Tourism. Dari sisi supply, murahnya tarif penerbangan (low cost carrier, LCC) yang diikuti murahnya tarif hotel (budget hotel) menciptakan apa yang disebut: “low cost tourism”. Murahnya biaya berlibur menjadikan permintaan melonjak tajam dan industri pariwisata tumbuh sangat pesat beberapa tahun terakhir.

#4. Traveloka Effect. Momentum leisure economy semakin menemukan momentumnya ketika murahnya transportasi-akomodasi kemudian diikuti dengan kemudahan dalam mendapatkan informasi penerbangan/hotel yang terbaik/termurah melalui aplikasi seperti Traveloka. Kemudahan ini telah memicu minat luar biasa dari seluruh lapisan masyarakat untuk berlibur. Ini yang saya sebut Traveloka Effect.

“Welcome to the leisure economy.”

Sharing Economy dan Bahaya Competitive Authoritarian dalam Transformasi Analog ke Digital society

Jusman Syafii Djamal
May 12, 2017

Ownership atau kepemilikan di zaman analog merupakan suatu hal yang utama. Tidak dimasa Digital. Kini “access” atau jalan menuju sumber daya jauh lebih utama. Tidak heran jika kini Negara Adi Daya seperti Amerika mengedepankan motto : “American First”.

Presiden Trump bertekad untuk menDahulukan kepentingan Amerika, baru lainnya. Dengan motto itu Amerika di masa kepemimpinan Trump ingin mengisolasi semua pintu masuk Bangsa lain ke sumber daya Amerika.

Pintu masuk untuk Bangsa lain seperti Tiongkok dan Negara Asia lainnya mempelajari Teknologi Amerika yang terejawantah dalam Perusahaan dan Industri Amerika kini ditutup. Industri Amerika tidak dibolehkan untuk di investasikan di luar Amerika. Pajak nya terlalu tinggi.

Begitu juga pintu masuk ke lapangan kerja di Amerika bagi Immigrant Mexico terutama ditutup dengan tembok tinggi. Hal sama pintu masuk untuk produk asing masuk pasar Amerika juga dipersempit. Semua perjanjian Perdagangan seperti Nafta atau Trans Pacific Trade Agreement yang sebelumnya di gerakkan oleh Inisiatip Amerika juga kini dibatalkan.

Seolah fikiran Perdagangan bebas kini dipandang tidak relevan lagi. Apakah trend ini bersifat sementara, ketika Trump menjadi Presiden atau seterusnya dan akan menjadi model serta arah baru kebijakan semua Negara, kita belum tau pasti.

Yg kasat Mata Terlihat ada kecenderungan semua pihak yang kini memiliki akses pada kekuatan politik dan kekuatan ekonomi semakin memprioritaskan segala tindakannya pada pada upaya mempersempit pintu masuk bagi orang lain ke dalam alokasi sumber daya.

Dalam teori politik muncul istilah “Competitive Authoritarian”.Seorang teman mengirim sebuah buku menarik karya Steven levitsky dari Harvard University dan Lucan A. Way dari University of Toronto berjudul :” Competitive Authoritarianism : Hybrid Regimes After the Cold War”.

Kata Competitive sebetulnya merujuk sisi positive outcome. Akan tetapi ajektive Authoritarian yg menimbulkan kehawatiran. Ada pengertian dominasi kepemilikan yg membuat level playing field yg tidak setara .

Buku ini diawali dengan kutipan kata Daniel arap Moi, President of Kenya yang bilang “Politics …is not like football, deserving a level playing field. Here, you try that and you will be roasted.” Politik bukan permainan sepak bola. Jika kita mencoba untuk bermain jujur dan fair mungkin akan terpanggang.

Dalam sepak bola lapangan permainan dijaga seimbang oleh Wasit dan setiap tim memiliki kesempatan sama untuk membukukan kemenangan.
Fairness membuat bola bundar menjadi menarik untuk ditonton. Akan tetapi dalam politik “fairness” atau “level playing field yang sama” sukar ditemukan.

Dalam buku tersebut dikatakan : rejim “Competitive authoritarian” adalah rejim pemerintahan sipil yang berkuasa melalui mekanisme demokrasi seperti pemilu akan tetapi sebagai incumbent akan terus melanggengkan kekuasaan nya sepanjang waktu dengan memanfaatkan instrument negara untuk melumpuhkan saingan.

Rejim ini seolah menggunakan kompetisi sebagai sarana demokrasi bagi pemilih menemukan pilihan terbaiknya . Tetapi lapangan pertandingan sudah “disetting” tidak seimbang.

Muncul fenomena Rejim Putin di Russia dan kini mungkin Trump di Amerika ??
“Competitive Authoritarian regimes are civilian regimes in which formal democratic institutions exist and are widely viewed as the primary means of gaining power, but in which incumbents’ abuse of the state places them at a significant advantage vis-`a-vis their opponents.”

Such regimes are competitive in that opposition parties use democratic institutions to contest seriously for power, but they are not democratic because the playing field is heavily skewed in favor of incumbents. Competition is thus real but unfair.”

Buku Steven Levitsky tentang Competitive Authoritarian tersebut dapat dinikmati dalam bentuk lain pada essay pendek di majalah Foreign Affairs May/June issue, judulnya “Is America Still Safe for Democracy?” ditulis oleh Robert Mickey, Steven Levitsky, and Lucan Ahmad Way.

Tulisan itu diawali dengan kata begini :” Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden memculkan cara baru dalam pemerintahan demokratis di Amerika. Trump yang menyatakan pers dan media mainstream seperti CNN dan banyak lainnya sebagai “enemy” dan tiap hari gunakan “tweeter” untuk menyerang siapa saja termasuk Obama pendahulu nya atau juga memuji Pemimpin dunia lain yang dianggap diktator telah menumbuhkan rasa hawatir Amerika menuju Negara Otoriter. Sebab mekanisme check and balance seolah tak berfungsi sebagaimana adanya.

The election of Donald Trump as president of the United States—a man who has praised dictators, encouraged violence among supporters, threatened to jail his rival, and labeled the mainstream media as “the enemy”—has raised fears that the United States may be heading toward authoritarianism.

While predictions of a descent into fascism are overblown, the Trump presidency could push the United States into a mild form of what we call “competitive authoritarianism”—a system in which meaningful democratic institutions exist yet the government abuses state power to disadvantage its opponents.”

Dengan kata lain akibat kemajuan internet dan proses transformasi dari analog ke dunia digital, kini muncul masalah akibat banyak orang tidak lagi peduli pada institusi, ingin serba cepat “mak jeg mak nyes”, kata orang jawa. Dunia seolah dalam genggaman.

Melalui jempol jari di twitter Presiden Trump dapat memecat seorang tokoh profesional Comey, Direktur FBI, misalnya, ketika sedang pidato didepan anak buahnya dikota lain. Comey tau dipecat ketika menonton TV.Tidak lazim dan Semua geger.

Ini suatu petunjuk bagaimana Pintu masuk kekuasaan dapat dengan mudah dimanfaatkan untuk memutus mata rantai pandangan independent dalam mengelola institusi Negara dan diputar menjadi hamba kepentingan satu golongan.

Di Indonesia pengalaman “Competitive Authoritarian” sebenarnya sudah pernah terjadi baik dimasa Demokrasi Terpimpin maupun dimasa Orde Baru. Hanya ketika itu istilah “competitive authoritaritarian” tidak dikenal dalam ilmu politik.

Akan tetapi saya bukan politisi dan juga bukan ahli ilmu politik. Sy engineer yg menyenangi mathematical model dan simulation.

Yang ingin saya tonjolkan sebetulnya adalah perubahan atau proses transformasi dari dunia analaog ke dunia digital ini sangatlah perlu dipelajari dengan seksama oleh para ahli.

Sudah saatnya ahli sosiologi, psikologi, politik dan ekonomi dari Universitas Gajah Mada dan Universitas Indonesia sebagai leading University di Indonesia membahas fenomena ini. Agar masa depan generasi muda Indonesia memiliki roadmap dan arah yang dapat diprediksi.

Ambil contoh dalam model dan platform bisnis masa kini seperti Taxi Uber dan Arbnb yang tidak memiliki “ownership” terhadap sumber daya seperti mobil , motor dan juga property.

Kumpulan anak anak muda yang berlokasi nun jauh di New York dengan sebuah algoritme dan software mampu menembus dan menyediakan access atau pintu masuk kesetiap orang dipelosok dunia untuk menggunakan mobil atau motor atau rumah orang lain dengan leluasa untuk melayani kepentingan sesaatnya.

Sebuah model bisnis dan platform bisnis yang dapat menghancurkan “Perusahaan Bisnis taksi yang menyediakan lapangan kerja ribuan orang”, Perusahaan Perhotelan dan lain sebagainya. Industri analog dgn pabrik dan ribuan pekerja kini jadi soal apa diperlukan ataukah tidak ?

Lapangan kerja dalam industri barang dan jasa berskala besar mungkin meng hilang, potensi pajak dari perusahaan dapat menyusut, keuntungan terbesar dapat dipindahkan secara virtual ke Negara lain seperti yg dilakukan Google di Indonesia tanpa Menteri Keuangan mampu berbuat apa apa.

Dan dilapangan menyempitnya pendapatan bagi para sopir taksi tradisional lahirkan konflik antar bisnis online dan tradisional terus bergerak seperti api dalam sekam diseluruh dunia. Pemerintah mau condong kemana ??

Transformasi analog ke Digital society menyebabkan makna Access to Resources jauh lebih utama dari ownership pada Sumber Daya. Dan ini menjadi PR besar untuk dikelola ketika kita sebagai “policy maker” bicara tentang “level playing field”.

Policy untuk menDistribusikan asset jauh berkurang relevansi nya dibandingkan kesetaraan aksess terhadap Kapital, Pasar dan Sumberdaya lainnya.

Karenanya Tak mudah menemukan Policy atau kebijakan yang setara dan tidak diskriminatip bagi semua warga negara. Diperlukan smart policies bukan hanya smart cities.

Sebab teknologi telah mengalami percepatan pertumbuhan yang tak mudah diprediksi daya “disruption” nya. Perubahan landskap ekonomi dan politik dapat terjadi serta merta.

Dulu kepemilikan “automobile” merupakan simbol “ownership”. Kata Automobile sendiri terdiri atas dua suku. Auto-nomy dan Mobil-ity. Otonomi dan Mobilitas. Semua anak muda atau kepala keluarga menginginkan mobile. Sebab dengan mobil yang dimiliki sendiri lahir kebebasan untuk bepergian kemana suka. Ada perasaan bebas merdeka jika memiliki mobil sendiri. Freedom melahikan autonomy dan mobility. Automobile menjadi simbol “our conventional notion of freedom”.

Akan tetapi generasi anak anak saya dimasa digital ini pemahaman freedom dengan memiliki sendiri sebuah property kini berubah makna. Freedom tidak lagi diartikan “to exclude other”, Kebebasan memiliki sebuah property seperti rumah dan mobil tidak berarti mengharamkan orang lain menggunakan atau memanfaatkannya. Kini Freedom is measured more by access to others in networks than ownership of property in markets. Begitu kata Jeremy Rifkin in his book :”The Zero Marginal Cost Society”.

Generasi digital anak anak saya sekarang telah mentransformasikan ketergantungannya pada kepemilikan mobil pribadi dan lebih cendrung menyenangi kebebasan untuk memiliki akses pada pemanfaatan kepemilikan mobil orang lain melalui jaringan networking tersedia.

Dalam hal ini konsep taxi uber menjadi menarik bagi mereka. Begitu juga jika bepergian keluar negeri yang dicari tidak lagi hotel atau rumah teman, melainkan Arbnb, rumah orang lain yang sedang tak ditempati tetapi dapat digunakan melalui network. Sharing Economy.

Dengan dua contoh diatas saya ingin mengajak para ahli politik, ekonomi, sosiologi dan psikologi untuk mengamati dan menganalisa dua kecenderungan berikut :

Pertama Apa yang dilakukan Presiden Trump selama 100 hari dalam kehidupan Demokrasi Amerika kini seolah dianggap mengabaikan Institusi lain dan Kepentingan Negara lain dalam mengelola Amerika. Pertanyaannya apakah benar asumsi ini ?

Pertanyaan kedua, apakah tingkah laku Presiden Trump yang berusia 70 tahun dapat dianggap sebagai mewakili paradigma bergfikir generasi analog atau generasi tua, yang mengedepankan “ownership” , kepemilikan sebagai sesuatu yang sakti dan harus digenggam sendiri.

Paradigma ownersip ini telah menyebabkan muncul kehawatiran akan lahirnya “competitive authoritarian”. Dimana kekuasaan politik dapat dianggap sebagai milik pribadi selama lima tahun dan dimanfaatkan sebagai milik mereka ya memenangkan pemilu, sehingga yang lain dan kalah “di exclude” atau ditutup jalan masuk nya ke sumber daya.

Dalam paradigma seperti ini Demokrasi kehilangan elan vitalnya. Demokrasi untuk menciptakan kesejahteraan bersama menjadi problema tersendiri dan “vulnerable”. Jika kekuasaan dianggap milik sendiri, semua orang bisa dipenjara dengan pelbagai alasan. Semua Pajak orang orang yang tak sefaham dapat diperiksa tanpa sebab musabab. Dan lain sebagainya.

Demokrasi yang seharusnya melahirkan “playing field” yang setara kehilangan elan vitalnya. Ini yang dihawatirkan oleh Steven Levitsky sehingga ia menulis buku Competitive Authoritarian tersebut dan essay pendek di majalah Foreign Affairs May/June issue, judulnya “Is America Still Safe for Democracy?” yang ditulis bersama Robert Mickey, Steven Levitsky, and Lucan Ahmad Way.

Yang kedua , Fenomena Uber Taxi, Arbnb yang mengedepankan penggunaan software dan algoritme dan platform bisnis “sharing economy” yang mengedepankan “Access to Network” telah menjadi trend masa depan. Generasi Digital berbasis internet telah lahir.

Jika begitu bagaimana kita sebagai suatu bangsa dapat menciptakan “level playing field” yang sama dalam sistem ekonomi nasional agar generasi muda Indonesia dapat membendung kebebasan entrpreneur bangsa lain yang ada di mancanegara dan berpusat di New York, Tokyo, Beijing, Singapura misalnya, untuk memiliki kebebasan akses terhadap sumber daya di Indonesia tanpa kendali ?

Bagaimana sharing economy dapat dijadikan fondasi bagi platform bisnis untuk menciptakan lapangan kerja dan membayar pajak ?
Mohon maaf jika keliru. Salam

Meretas Konsep Ekonomi Berbagi

Dr. Harris Turino Kurniawan, MM, MSi
5 Oktober 2016

Manusia pada hakekatnya adalah mahluk berbagi. Sejarah perjalanan manusia menunjukkan bahwa konsep berbagi sudah dikenal sejak jaman homo sapiens purba. Mereka berburu bersama dan membagi hasil buruannya. Demikian pula ketika peradaban manusia sudah sampai pada tahapan menetap dan bercocok tanam. Mereka berbagi pengetahuan dan lahan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Berbagi adalah hakekat dasar dari sifat manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Adam Smith (1776) dan David Ricardo (1817) sudah menjelaskan konsep ekonomi berbagi melalui perilaku rent seeking, di mana manusia pada hakekatnya bisa memperoleh tambahan keuntungan dengan cara menyewakan sumber daya berlebih (underutilized resources) yang dia miliki kepada pihak lain yang membutuhkan. Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi sumber daya. Lloyd (1833) dan Hardin (1968) dalam Tragedy of Commons menjelaskan bahwa sumber daya strategis yang dikuasai oleh pihak tertentu secara berlebihan akan menimbulkan tragedi bagi manusia lain dan lingkungannya. Kesejahteraan akan meningkat bila sumber daya tersebut dibagikan dan digunakan secara bersama.

Dalam keseharian manusia modern, konsep ekonomi berbagi juga sudah dikenal lama. Bentuk yang paling sederhana dari konsep ekonomi berbagi adalah pinjam meminjam uang antar tetangga. Bank pada hakekatnya juga menerapkan konsep ekonomi berbagi, di mana bank mempertemukan antara pemilik sumber daya (para deposan) dan pemakai sumber daya (para peminjam). Lalu mengapa konsep ekonomi berbagi dipandang sebagai sesuatu yang baru ketika menjelaskan fenomena Uber, AirBnB, GoJek dan perusahaan sejenis? Di mana letak perbedaannya?

Fenomenanya sendiri memang sangat menghebohkan dunia bisnis saat ini. Uber yang sama sekali tidak memiliki aset berupa taksi adalah perusahaan taksi terbesar di dunia. Bahkan nilai perusahaan yang baru berdiri kurang dari 8 tahun ini sebesar 68,8 miliar dollar AS, lebih besar dibandingkan nilai perusahaan dari raksasa otomotif Amerika, yaitu Ford, General Motor dan Chrysler. AirBnB saat ini sudah menjadi perusahaan penyedia akomodasi terbesar di dunia, walaupun tidak memiliki aset berupa hotel dan properti. Alibaba yang didirikan oleh Jack Ma pada tahun 1999 saat ini adalah toko ritel terbesar di dunia, walaupun juga tidak memiliki aset berupa toko. Kapitalisasi pasarnya sudah melebihi toko buku online terbesar di dunia, Amazon, yang juga tadinya tidak punya aset fisik berupa toko buku.

Di ranah nasional, fenomena serupa juga terjadi. GoJek sudah bukan lagi hanya perusahaan “ojek” terbesar di Indonesia, tetapi sudah merambah ke jasa logistik (GoBox), pengiriman makanan (GoFood) bahkan sampai ke jasa pijat (GoMassage). Padahal mereka juga tidak memiliki aset berupa kendaraan. Traveloka adalah perusahaan penyedia layanan tiket pesawat dan hotel terbesar di Indonesia, mengalahkan para pemain tradisional travel agent seperti seperti Anta Group, Panorama dan Bayu Buana. Bukalapak yang sama sekali tidak punya lapak adalah pasar daring (online marketspace) terkemuka di Indonesia yang menyediakan sarana penjualan dari konsumen ke konsumen.

Perubahan yang dramatis ini tentu menggoyang kemapanan para pemain tradisional di industri masing-masing. Disruptive innovation ini mengubah tatanan bisnis (business landscape) dan bahkan menjadikan bisnis semakin sulit dan rumit untuk diramalkan. Gebrakan usaha-usaha rintisan (start-up companies) yang menggerogoti para petahana (incumbents) seolah tidak menyediakan ruang gerak sama sekali bagi petahana. Sumber keunggulan bersaing (competitive advantage) tradisional kelihatan menjadi usang dengan munculnya pemain-pemain baru yang berbasis teknologi.

Tidak ada orang yang bisa meramalkan dengan pasti, apakah fenomena ini akan berkelanjutan dan menjadi sebuah model bisnis masa depan yang menjanjikan. Atau sebaliknya ini hanyalah sebuah gelembung hampa (bubble) yang bisa meletus, sama seperti bubble yang terjadi pada dunia dot.com pada tahun 1990-an dan meletus pada tahun 2001. Yang jelas, kita sebagai pelaku bisnis tidak boleh ketinggalan kereta. Peluang bisnis yang muncul dengan model bisnis ekonomi berbagi layak dijajagi tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian. Pendekatan real option investment bisa menjadi solusinya. Pemerintah sendiri harus peka dan bersikap adil serta tidak bisa menolak mentah-mentah kemajuan teknologi. Bahkan pemerintah harus mendukung perkembangan perusahaan ekonomi berbagi domestik untuk mampu bersaing, baik di ranah nasional maupun regional/global.

Di dunia akademis, diperkirakan ini bakalan menjadi sebuah trending topic yang menarik untuk dikuak secara lebih mendalam. Para akademisi berusaha menjelaskan fenomena ekonomi berbagi dengan menggunakan teori-teori terkait. Akar filosofosifnya adalah Stakeholders Theory of the Firm oleh Freeman (1984). Fenomena ini juga bisa dijelaskan dengan Transaction Cost Economy (Koase, 1937; Williamson, 1977), Strategic Alliance (Inkpen dan Beamish, 1997; Luo, 2003), The Theory of the Growth of the Firm (Penrose, 1959), Resource Based Theory (Barney, 1986), Resource Orchestration (Sirmon et. al., 2007), Path Dependence, Generic Strategy and Competitive Strategy (Porter 1980, 1985), Competing for the Future (Hamel and Prahalat, 1990), Dynamics Capabilities (Teece et. al., 1997, 2007) dan tentu saja Creative Destruction (Schumpeter, 1942).

Metafora ekonomi berbagi juga bisa digunakan untuk menjelaskan fenomena yang terjadi dalam dunia politik. Kalau dalam bisnis para pelaku memperebutkan sumber keunggulan bersaing (competitive advantage), maka dalam politik yang diperebutkan adalah sumber keunggulan politik (political advantage). Secara tradisional satu-satunya sumber keunggulan politik adalah melalui partai politik. Fenomena Teman Ahok bisa menjadi contoh yang menarik sebagai sumber keunggulan politik yang baru.

Dikutip dari kata pengantar Prof. Djisman Simandjuntak, PhD dalam buku Meretas Konsep Ekonomi Berbagi (Turino. 2016), ekonomi berbagi (sharing economy) memang sudah besar walaupun masih muda. Banyak pertanyaan yang harus diteliti tentangnya seperti akibatnya terhadap pengaburan batas antara urusan pribadi dan urusan komersial dengan segala akibat peliknya terhadap kehidupan perorangan, keluarga, kemasyarakatan dan kebijakan publik lokal, nasional, regional dan internasional. Mari kita sama – sama cermati sesuai dengan bidang peran masing-masing. Semoga kita mampu menjadikan fenomena ekonomi berbagi untuk kemaslahatan kita. Seperti kata pepatah, “Knowledge multiplies when share.”

Sumber:
http://ikaprama.org/alumni-article/meretas-konsep-ekonomi-berbagi/

“Five In One”, Ini yang Membuat “Sharing Economy” Menjadi Besar

Rhenald Kasali – Rumah Perubahan

Sharing selalu dikontraskan dengan owning. Maka dari itu,sharing economy dalam hal tertentu bisa memberi ruang lebih bagi hadirnya kewirausahaan baru, ketimbang owning economy.

Keduanya bisa hidup berdampingan, tetapi butuh regulasi yang lebih humanis dan menghormati keberadaan keduanya.

Masalahnya juga ada: kalau dilengkapi dengan teknologi, ia punya efek merombak persaingan, apalagi kalau perekonomian masih kurang efisien dan terlalu banyak pungutan yang mendistorsi.

Rakyat (khususnya kaum muda) yang berkolaborasi akan punya cara sendiri membangun kemandiriannya. Baiknya kita periksa kembali ideologi kita berbangsa.

Jadi, sharing adalah kerja sama, gotong royong. Dalam perekonomian, dasar gotong royongnya tampak dalam sharing resources. Namanya juga perekonomian, harus adavalue creation, yaitu benefit yang bisa di-share, yaitu kesejahteraan.

Anda boleh kasih nama apa saja: spiritual, emosional, material, atau monetary benefit.

Benefit itu adalah insentif yang memotivasi manusia, bukan?It’s a basic fundamental of human behavior.

Lantas mengapa sekarang tiba-tiba banyak kaum muda yang terlibat dalam sharing economy dan berhasil mengubah dunia? Mengapa ia bisa membuat para “incumbent” atau “petahana” (pelaku bisnis konvensional) jungkir balik? Ini jawabannya: five in one strategy.

Five itu mencakup: model bisnis, struktur biaya baru, teori disrupsi, big data analytics, dan sharing resources itu sendiri. Jadi, sharing economy tidak berdiri sendiri. Ia dipadukan dengan teknologi, ilmu statistik realtime, dan cara berpikir kaum muda.

Kecuali incumbent menjalankan prinsip “managing like start ups“, saya kira akan banyak yang mengalami kesulitan di sini.

Model bisnis

Ini adalah “mantra” lain dalam berkompetisi pada abad ke-21. Singkatnya, model bisnis atau business model adalah cara manusia menemukan benefit atau rezeki yang tersembunyi, bisa langsung ataupun tidak. Jadi, harus cerdik karena dunia sudah benar-benar berubah. Ibarat memotong hewan kurban, mereka mencari “di mana dagingnya?”

Sharing economy juga merupakan business model. Tak perlu beli yang baru, sharing saja yang masih ada lifetime value-nya, yang menganggur (idle). Jangan kuasai sesuatu hanya untuk didiamkan, dipagari, atau digudangkan.

Regulator bisa mendukung atau sebaliknya mendistorsi sehingga terjadi ekonomi biaya tinggi. Hal ini terlebih lagi jika mereka hanya fokus pada peraturan-peraturan yang melibatkan pendapatan negara bukan pajak.

Segala hak milik pribadi kalau selalu harus diinstitusikan dulu, baru di-sharing-kan, tentu menjadi hambatan bagi kerja sama dan biaya.

Kalau kita jeli dengan business model, harusnya kita bertanya mengapa banyak pelaku ekonomi baru yang tak memungut bayaran? Lihat saja mesin pencari Google, Facebook, Twitter, Line, Path, YouTube, bahkan kuliah gratis, seperti TEDx dan IndonesiaX.

Melalui business model itulah, para pelaku menggarap key-partners, menggarap keuntungan dari sisi lain, dan memilih waktu yang tepat.

Saya ambil saja contoh proyek kereta api cepat yang kontroversial itu. Jepang dan China saja punya business modelyang berbeda.

Yang satu ingin membangun lintasan pada jalur kereta  api lama sehingga butuh dana besar untuk pembebasan tanah.Income dari bisnis transportasi itu sendiri utamanya adalah tiket kereta api.

Sementara itu, yang satu lagi menggunakan konsep sharing resources dari BUMN (jalan tol milik Jasa Marga, terminal di area perkebunan Walini, konstruksi oleh WIKA, dan dengan PT Kereta Api Indonesia sebagai operator) dan mendapatkan keuntungan dari usaha di kawasan TOD, yakni rumah sakit, kampus, perumahan, perkantoran, sarana kerja, dan sebagainya. Sumber pendapatannya lebih beragam.

Kalau Anda belum puas, baca lagi kolom saya ini:  Mereka yang Melakukan Perubahan dengan Cara Sederhana.

Di situ Anda akan membaca, betapa cerdasnya orang kampung dari Pulau Adonara ini membangun desanya.

Bahasa kerennya itu kita sebut business model. Anda juga bisa mereka-reka bagaimana model bisnis kickstarter.com atau kitabisa.com. Silakan dipelajari.

Predatory dan disruption

Ekonomi selalu mencari dua jalan: efisiensi dan kesejahteraan. Untuk itulah, Clayton Christensen sejak 20 tahun lalu mengingatkan proses disruption, yang bisa saja berakibat “kehancuran” atau “kemunduran” di antara para incumbent.

Incumbent, menurut teori disruption, akan fokus pada kelompok segmen pasar yang memberi banyak keuntungan kepadanya dan loyal. Mereka menerapkan  sustaining innovation.

Anak-anak muda, wirausaha baru, yang ingin masuk ke dalam pasar, sebaliknya menerapkan disruptive innovation melalui business model.

Maka dari itu, biasanya, wirausaha-wirausaha baru “mencari pasar” dari bawah yang harganya murah. Mereka melayani kelompok yang belum menjadi pasar karena soal harga dan diabaikan incumbent.

Namun, perlahan-lahan, terjadi dua hal: wirausaha baru memperbaiki layanan dan teknologi, sedangkan segmen yang di atas tergoda pindah, apalagi kalau bagus dan jauh lebih murah. Di situlah terjadi proses disruptif. Bergejolak dan ribut.

Lantas, yang dikhawatirkan sebenarnya adalah kalau mereka menerapkan strategi temporal, predatory.

Selentingan ini juga beredar kuat di masyarakat karena terbetik kabar, Grab, Uber, dan Go-Jek setiap bulan masih harus mengeluarkan jutaan dollar. Mari kita buka teori dan praktiknya.

Menarik untuk disimak bahwa sejarah perubahan 25 tahun terakhir ini berpola sama.

Mungkin kalau hidup di sini, Google dan Facebook (keduanya juga rugi bertahun-tahun, tetapi kini menjadi yang terkaya di dunia) juga dituding sebagai pelaku predatory pricing. Mereka menerapkan zero price, freemium. Namun, lihatlah, itu bukan berlaku sementara, melainkan memang sudah menjadibusiness model-nya.

Sementara itu, Amazon, yang berbayar, juga sudah lebih dari lima tahun rugi di tengah-tengah popularitasnya. Juga bukan hal yang aneh, semua pendatang baru membutuhkan  2-5 tahun untuk  mencapai titik impas.

Starbucks Indonesia, Sogo, Pizza Hut, dan sebagainya juga mengalami hal serupa, sama dengan yang membuka usaha restoran, rugi dan harus nombok beberapa tahun di awal.

Namanya learning curve, semua pengusaha melewati kurva belajar sampai profit datang. Namun, mengapa sebagian dari mereka menerapkan harga yang murah? Sekali lagi, pelajaribusiness model-nya.

Big data analitics

Akhirnya, harus saya katakan bahwa sharing economy tidak berdiri sendiri. Untuk menembus barikade ekonomi berbiaya tinggi itulah yang membuat publik berkolaborasi, menciptakan sistem sendiri, menemukan business model yang pas, dan mencari teknik-teknik baru untuk mengikis inefisiensi.

Jadi bagian mana yang tidak disukai kaum propaganda yang “tidak welcome” terhadap kehadiran sharing economy? Ekonomi gotong royong? Business model? Proses disruption?Predatory pricing (atau learning curve) atau analitics?

Ini five in one sehingga sulit dibendung.

Mekanisme teknologi ini menjadi amat runyam, kalau “incumbent” dan regulator terlambat belajar ilmu statistik baru yang didasarkan pada pergerakan data real time.

Ya, generasi tua belajar teori sampling dan data time series, sementara kaum muda tinggal dalam big data dan real time.

Mereka bisa mendeteksi mood public dari kata-kata yang diucapkan dan ditulis lewat media sosial, bahkan mereka bisa memetakan siapa menteri yang harus diganti.

Mereka menggunakan natural language programming (NLP),memory based reasoning (rekomendasi), analisis sentimen,customer segmentation using recency frequency monetary(RFM), dan analisis churn risk.

Senjata analitis itu juga bisa mendeteksi di mana ada permintaan pada waktu tertentu. Dengan begitu, “pasukan” suplai dapat dikerahkan untuk menjemput demand at the right time.

Kalau sudah begitu, “daging” ekonominya bisa lebih mudah ditangkap. Jadi, usaha mereka lebih sehat, gesit, dan lebih sejahtera. Bahkan, para driver dalam sistem ekonomi five in one ini harusnya tak perlu lagi bekerja 12 jam.

Hanya dengan bekerja 8 jam sehari, sesuai dengan amanat UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (2009), mereka harusnya sudah bisa sejahtera kalau sistemnya efisien. Kecuali regulator berkata lain, hasilnya akan berbeda.

Jadi sharing economy dalam proses disruption ini tak berdiri sendiri. Saya berharap, kita tak memilih untuk sekadar menjadi penonton dalam gejolak perubahan ini.

Pelaku lama perlu meremajakan diri, strategizing like startups. Regulator perlu membuka wawasan berpikirnya, dan parastartups tidak cengeng dalam berjuang.

Detail semua ini bisa Anda saksikan dalam kuliah umum saya di IndonesiaX.co.id.

Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan bisa membuat kita lebih kompetitif kalau paham dan terus mengikutinya… karena dunia terus berubah.

 

Ini Beda antara ‘Sharing’ dan ‘Sharing Economy’

Rhenald Kasali – Rumah Perubahan
Kompas, 3 May 2016

Sewaktu saya kuliah di Amerika Serikat, saya suka mencari literatur-literatur tua yang tidak ada di perpustakaan. Mulanya sulit, tetapi begitu kampus berkenalan dengan internet, perpustakaan menerapkan interlibrary loan.

Saya bahkan bisa meminjam buku karangan saya sendiri yang saat itu dikoleksi oleh library of congress melalui perpustakaan kampus. Cukup menulis di layar monitor, seminggu kemudian buku datang di rumah.

Beberapa saat setelah itu, masyarakat berpendidikan membentuk komunitas pinjam-meminjam buku. Semua koleksi perorangan bisa dipinjamkan. Maklum, harga buku memang mahal dan kita yang membeli, paling lama hanya memakai buku itu sekitar dua bulan.

Jadi, pantaslah para pecinta buku men-sharing-kan koleksinya. Ini murni sharing, belum menjadi kegiatan ekonomi, namun sudah mengancam eksistensi penerbit.

Gagasan itu baru berkembang menjadi sebuah kegiatan ekonomi tatkala seorang peneliti menemukan bahwa rata-rata pemilikpower drill (bor listrik untuk memasang sekrup ke dinding) hanya memerlukan alat itu sekitar 14 menit.

Padahal, para produsennya marancang power drill agar kuat seumur hidup (a lifetime warranty) makanya wajar kalau harganya mahal.

Dalam hal ini, konsumen Indonesia mungkin lebih cerdas. Kita masing-masing memang perlu tenda untuk kegiatan-kegiatan tertentu. Ya, tenda pesta. Apakah pesta sunatan, pernikahan, kematian, ulangtahun, reuni, atau apa saja.

Barangkali 2-3 tahun sekali perlu tenda sekitar 2-3 hari. Lantas buat apa dibeli kalau hanya dipakai sekali-sekali? Kita pun menyewanya. Murah meriah. Bisnis sewa-menyewa tenda hidup. Kegiatan ekonomi pun terjadi.

Di Amerika Serikat, gagasan sharing economy muncul dalam banyak hal. Termasuk dalam pengumpulan power drill dari para pemiliknya.

Seorang membuat aplikasinya, memungut biaya sewa, dan sedikit komisi. Mereka yang membutuhkannya mengunduh apps itu, lalu menyewanya. Ya, hanya untuk beberapa menit saja. Para pemiliknya pun dapat uang.

Di San Francisco, dua orang sahabat melakukan kegiatan ekonomi dengan menawarkan sharing space dari studio apartemennya. Lumayan, tiga orang yang mendaftar.

Sejak itu lahirlah  kegiatan menyewakan space apa saja, mulai dari kamar yang menganggur, apartemen, kapal pesiar sampai tenda kemah.

Sekarang, gerakan ini telah berubah menjadi sharing economyyang besar, bahkan menggeser kebesaran jaringan hotel. Namanya Airbnb.

Orang-orang yang piknik ke luar negri menyewakan kamarnya. Pada saat ia menyewa kamar orang lain di tempat tujuan wisatanya. Uang pun berputar. Segala yang idle (menganggur) menjadi produktif karena teknologi yang menghubungkan semua pihak.

Ekonomi Gotong Royong

Semangat ekonomi gotong royong kita pelajari sejak di sekolah dasar. Di dana juga ada sharing, yaitu sharing tenaga.

Di Bali, kerjasama itu disebut Subak dan Ngayah, Mapalus (Manado), Gugur Gunung (Jogja), Sambatan (pesisir Jatim), Song Osong Lombhung (Bangkalan, Madura), Pawoda (NTT), Siadapari (Sumatera Utara) dan Paleo di Kaltim. Pokoknya dimana-mana ada.

Selain gotong royong, Indonesia juga punya perekonomiannya, yaitu ekonomi gotong royong. Bung Hatta pencetusnya.

Sebagai ekonom, Bung Hata yang berasal dari Sumatera Barat, sangat dekat dengan ekonomi gotong royong.

Di Desa Lasi, Kabupaten Agam, misalnya, jejak itu masih amat terlihat. Di sini saya diajak mantan Wali Nagari Lasi, Suardi Mahmud Bandaro Putiah menyaksikan gerakan ekonomi rakyat membangun kebun kopi warga desa.

Di atas ketinggian 1.400 menter di atas permukaan laut, Datuk Suardi menunjukkan pohon-pohon kopi yang di-sharing Rumah Perubahan empat tahun lalu.

Kami memberikan 20.000 bibit, dan kini pohon-pohon kopi kualitas premium mulai panen sedikit-sedikit.

Ia pun berpesan agar saya menceritakan kepada khalayak bahwa saya sudah sampai di lereng Marapi. “Agar mereka tahu Pak Rhenald sudah sampai di tempat nenek moyang orang Minang,” ujarnya sambal tersenyum.

Turun dari lereng, saya disambut puluhan warga adat. Mereka membangun balai pertemuan dengan bahan dari bambu, dan diberi nama “Istana Rakyat-Selaras Alam”. Ini bukan istana biasa, melainkan istana pelaku ekonomi Gotong Royong.

Jangan salah, mereka ini benar-benar petani. Tetapi di situ saya melihat Datuk Suardi menjalankan sendi-sendi ekonomi koperasi. Anggotanya dibuat pandai dengan diskusi rutin, dan merekapun punya impian bersama dari kegiatan ekonomi itu.

“Kami ingin naik haji bareng melalui kebun kopi ini,” ujarnya.

Melalui gerakan koperasi yang kita kenal, suara anggota didengar, dan manusia berkumpul dalam kegiatan ekonomi aktif yang hasilnya ditujukan demi kepentingan anggota: kesejahteraan.

Gotong Royong dan Aps

Di Rumah Perubahan, gagasan ekonomi Gotong Royong ditangkap oleh Alfatih Timur, yang pernah jadi mahasiswa saya di kelas Manajemen Perubahan di UI.

Timmy (begitu sapaan Alfatih) bercita-cita menjadi pemimpin. Tiga hari setelah bergabung di Rumah perubahan, Timmy saya ajak ke Pulau Buru dan saya tinggalkan beberapa hari di sana untuk bergabung dengan masyarakat adat desa.

Pulang dari Pulau Buru, gagasan sosialnya timbul. Ia membangun komunitas Kitabisa.com, sebuah situs berbagi sosial yang mempertemukan mereka yang mau menggerakkan perubahan (sosial) tapi tak punya uang dengan yang mau menyumbang.

Gagasannya muncul dari kesehariannya di masa kecil, di Bukit Tinggi – Sumatera Barat. Di Sumbar, seperti Bung Hatta, Timmy biasa melihat segala masalah sosial lewat gotong royong.

Upacara perkawinan, pindahan, sunatan, bangun masjid, pertanian, pendidikan, bangun pasar dan seterusnya. Semua dilakukan warga adat bergotongroyong.

Bedanya, kini Timmy tinggal di kota, Ia bergaul lintas budaya dengan teknologi pula yang mempertemukan kita semua. Real time!  Ia pun menciptakan situs Kitabisa.com.

Tahukah Anda, Timmy dan Kitabisa.com bersama ribuan orang Indonesia tahun ini sudah mengumpulkan lebih dari Rp 11 miliar.

Dana tersebut disalurkan untuk membangun jembatan yang terputus akibat bencana alam sehingga anak-anak sekolah tak perlu bergelayutan di sisa-sisa jembatan yang rawan rubuh, rumah bagi kaum dhuafa, pengobatan bagi penderita kanker, bangun perpustakaan, masjid di Tolikara sampai bus donor darah dan hadiah umroh bagi  penjaga kampus.

Semua ini kegiatan sosial ? Ya ! Terang benderang.

Apakah ini ada ekonominya ? Ya juga. Apakah dibenarkan ada kegiatan yang membagi keuntungan? Tentu saja tak dilarang sepanjang keuntungan didapat secara halal dan wajar.

Tapi baiklah, besok kita lanjutkan, sambil membahas business model, dan five in one dalam gerakan sharing economy.

Business model itulah yang sulit dipahami kaum tua. Apalagi, kalau harga jualnya rendah, bahkan digratiskan seperti mesin pencari Google atau media sosial Facebook.

Dari mana uangnya? Apakah itu predatory? Jangan sampai kita gagal paham di sini.