Beri Kepercayaan, Petakan Potensi dan Rancangkan Program

Harry Santosa
July 7, 2018

Seorang pemudi usia 15 tahun, sebut saja namanya Putri, tidak mau balik ke pondok pesantren aliyahnya setelah masa libur ini, alasannya ia tak bisa mengembangkan dirinya di pondok tersebut. Seperti umumnya pondok pesantren modern, kurikulum utamanya adalah akademis umum dan akademis agama plus kurikulum pesantren, juga ekskul berupa kegiatan organisatoris.

Putri merasa banyak bakatnya yang tak berkembang dan tak sesuai. Kepada orangtuanya ia memberi contoh seorang temannya yang fokus mengembangkan bakat hafizh nya tanpa harus ke pondok atau sekolah, sekarang sudah punya peran dan manfaat dengan hafizhnya itu, diundang kemana mana untuk mengajar. Walau dalam hal ini Putri sekedar memberi contoh, karena memang punya bakat berbeda dengan temannya.

Awalnya orangtuanya menduga Putri membanding bandingkan dirinya dan ingin menjadi seperti temannya, ternyata tidak. Putri nampak cukup bijak dan paham betul kalau ia tak sedang berobsesi meniru temannya, ia hanya memberi contoh.

Kedua orangtuanya sebenarnya punya mindset bahwa anak memang harus berkembang sesuai bakatnya, mereka tak ragu dengan itu. Namun justru yang mereka ragu dengan anaknya. Kedua orangtuanya galau dan risau, mereka khawatir bahwa Putri hanya melarikan diri dari masalah atau beban di pondok lalu cari cari alasan dan obsesi ingin menjadi seperti orang lain.

Bagaimana tidak, pemudinya ini kalau pulang dari pondok, selama liburan maunya main dengan teman temannya seharian, berpindah setiap hari dari teman yang satu ke teman yang lain. Secara karakter, ibunya melihat anaknya ini tipikal ingin enak dan gampangnya saja, tak mau menempuh proses.

Anaknya ini, Putri, kalau sudah mau dan sepanjang itu hal yang disukai maka akan dikerjakan sampai tuntas, tetapi kalau bukan sesuatu yang ia mau maka ia malas melakukannya. Ini bikin galau menurut orangtuanya, mereka menduga Putri tak suka pada proses yang tak menyenangkan, selalu mencari jalan mudah. Saya hibur mereka dengan mengatakan bahwa itu ciri khas GenZ, mereka hidup dalam dunia serba mudah, tetapi percayalah bahwa GenZ itu pejuang hebat untuk hal yang memang menjadi minatnya.

Kegalauan orangtuanya bertambah, karena sejak dikirim ke pondok, kedekatan dengan ibunya berkurang, tidak ada rasa kangen pada ibunya kalau pulang dan….. sibuk pegang hape dan memuaskan waktunya bertemu teman teman.

So, kalau tidak mau balik ke pondok, terus dengan karakter begitu, mau ngapain? “Bunda setuju kamu tidak balik ke pondok untuk mengembangkan bakatmu, tapi selama ini kamu tidak menunjukkan kinerja dan attitude yang baik”

Putri tidak terima. Ia bilang, “selama ini saya begitu karena saya tidak tahu sebenarnya bakat saya apa. Bunda mengizinkan saya tidak balik ke pondok, tetapi saya tidak dibantu untuk harus bagaimana. Bunda setuju tapi sinis, tidak percayaan, tidak mendukung dstnya”

___________

Sampai disini, silahkan menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi, lalu apa yang harus dilakukan? Memberi kepercayaan sang pemudi dan membiarkannya tidak kembali ke pondok untuk mengembangkan bakatnya padahal belum jelas juga bakatnya atau mengharuskannya kembali ke pondok dan mensyaratkan dulu untuk menunjukkan kinerja dan attitude nya baru memberinya kepercayaan.

Berikut langkah langkah yang saya lakukan sebelum mengambil keputusan Putri kembali ke Pondok atau Berhenti dan Fokus di Bakat

1. Mengkonfirmasi Mindset Orangtua dan Anak

Selama sesi diskusi, pertama saya mencoba menggali mindset orangtua tentang bakat anak dan masa depan, ternyata mereka memang orangtua yang berfikiran maju, meyakini bahwa anak harus tumbuh sesuai fitrahnya atau dalam hal ini bakatnya.

Hanya saja kendala terbesar mereka justru di tataran prakteknya. Mereka tak tahu bagaimana memetakan dan menggali potensi fitrah atau bakat anaknya. Yang mereka tahu adalah bakat sebagai keterampilan atau skill yang disukai seperti main piano, fotografi dll.

Saya katakan kepada mereka bahwa bakat itu diawali dengan mengenal sifat unik dan fisik unik, baru kemudian berlanjut kepada mengenali aktifitas produktif yang menyenangkan dan keren (enjoy, easy, excellent, earn) baginya tetapi tidak selalu dalam bentuk skill, misalnya suka berkumpul bersama teman, suka berkomunikasi, suka memotivasi, dstnya.

Jadi saya melihat kegalauan orangtua sesungguhnya muncul dari ketidak percayaan diri mereka untuk mengizinkan anaknya tak bersekolah atau tak kembali ke pondok. Pertanyaan yang membuat mimpi buruk mereka adalah “Kalau tak sekolah mau ngapain”. Ujung ujungnya anaknyalah yang dikejar kejar atau dicari cari kelemahannya. Saya sarankan daripada sibuk mencari kelemahan anak, mari kita sibuk mencari kekuatannya. Fokus pada cahaya, bukan kegelapan.

Kemudian setelah mengkonfirmasi mindset Orangtua dan mindset Putri, langkah berikutnya saya coba menggali bakat Putri. Ia saya minta mengisi questioner di http://www.temubakat.com. Setelah selesai, saya mengajak bersama sama untuk melihat hasilnya sambil mengkonfirmasi kebenarannya.

2. Melakukan Pemetaan Bakat

Ternyata Putri punya potensi dominan sebagai motivator, communicator, interpreter, caretaker, server, visionary. Ini jelas lebih banyak otak kanan dan interpersonal sejajar. Sepintas melihat hasilnya pemetaan bakat, strength cluster Putri memang tidak menunjukkan Putri berbakat di akademis dan juga di enjineering, walaupun memang diakui cerdas. Jadi hebat di akademis belum tentu bakat.

Dalam diskusi Putri memang setuju kalau ia suka berimajinasi alias mengkhayal. Kekuatannya memang visionary, bagian dari kelompok orang yang suka aktifitas melahirkan idea. Ketika saya tanya, “Putri suka film horor ya?” , Ia konfirm. Umumnya anak yang punya idea banyak apalagi imajinawinya lewat visual, apabila tak dituangkan menjadi karya baik tulisan, movie, game dll cenderung suka film horor.

Putri juga suka bersosial, walau menurut orangtuanya di rumah nampak individual dan kasar sama adiknya. Saya katakan bedakan antara potensi bakat dan jeritan hati. Putri memang nampak jenuh pada rutinitas, hal yang wajar terjadi pada anak yang dominan pada imajinasi atau banyak idea.

Mengejutkan juga bahwa ternyata Putri suka menasehati teman, suka membantu, suka menyajikan hal hal sulit menjadi mudah, dstnya. Saya katakan kepada orangtuanya bahwa ini baru potensi belum jadi peran atau profesi, jadi harus dicoba coba profesi yang relevan dengan potensinya itu.

Saya sarankan untuk mencoba mendalami profesi kepenulisan atau movie maker, profesi sukarelawan, profesi motivator, profesi public speaker atau presenter dsbnya dalam beberapa bulan ke depan.

3. Memberi Kepercayaan

Langkah berikutnya saya meminta Orangtua untuk memberi kepercayaan dan fokus ke masa depan Putri. Selama ini Putri belum dibantu digali bakatmya dan diprogram untuk melakukan “Tour de Talents” untuk memastikan aktifitas atau profesi yang relevan dengan bakatnya.

Saya ingatkan bahwa ini memerlukan waktu beberapa bulan untuk mengekplorasi profesi apa yang sesuai dengan potensinya. Jadi saya meminta mereka untuk bersama sama merancang kegiatan untuk Putri selama enam bulan atau setahun ke depan.

Karena sang Bunda masih nampak belum percaya penuh, saya meminta Ibunya Putri untuk melist semua kerisauanmya dan mencari jalan keluarnya untuk membuatnya tenang dan mau mendukung. Misalnya jika risaunya karena khawatir Putri jika tidak sekolah akan banyak main, maka buatlah program atau proyek atau kegiatan produktif yang disukai Putri dan menyibukkan Putri. Jika risaunya karena khawatir Putri tidak bertambah hafalannya, ikutkan saja program tahfizh non reguler tanpa harus mondok. Jika risaunya karena khawatir ijasah, ikutkan saja paket kesetaraan, dsbnya.

Seperti biasa, saya menasehati dengan prinsip prinsip pendidikan berbasis fitrah

“Fokuslah pada cahaya ananda, kelak cahayanya akan bersinar indah menerangi semesta. Jangan sibuk dengan kegelapan, karena kegelapan hanya ada ketika tiada cahaya. Semua kebaikan akan mengalir jika sibuk dengan kebaikan”

“Yakinlah bahwa mustahil Allah ciptakan anak kita tanpa peran istimewa di masa depan yang ditunggu tunggu dunia”

4. Membuat Draft Program

Di akhir sesi diskusi, saya menyarankan untuk membuat draft aktifitas secara umum untuk semua kelompok fitrah. Bakat hanya satu aspek saja, ada aspek lain yang perlu direncanakan untuk dikembangkan, meliputi fitrah keimanan, fitrah belajar dan bernalar, fitrah seksualitas, fitrah individualitas dan sosialitas, fitrah estetika dan bahasa, fitrah jasmani, dan fitrah perkembangan.

Saya menyarankan, apapun keputusannya, baik bersekolah atau tidak, program pengembangan personal atau personalized curriculum untuk tiap anak wajib dibantu pembuatannya oleh orangtua dan dikawal pelaksanaannya. Awali dengan pemetaan semua aspek fitrah bukan hanya bakat.

5. Merencanakan Sesi Berikutnya untuk Workshop Merancang Personalized Curriculum atau Program Personal Pengembangan fitrah

Semoga bermanfaat

Salam Pendidikan Masa Depan

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

Advertisement

Mahasiswa Sesat

Jumat, 26 Februari 2016
Oleh: Hasanudin Abdurakhman

Ketika saya punya keluangan waktu dan dana, saya sengaja menyempatkan diri berkunjung ke kampus-kampus. Ada banyak mahasiswa tersesat di kampus-kampus. Saya tahu itu sejak dulu, saat saya masih jadi dosen tetap.

Di hari pertama kuliah biasanya saya ajukan pertanyaan kepada para mahasiswa,”Apa tujuanmu kuliah?”

Kebanyakan dari mereka gagap dalam menjawab pertanyaan ini. Mereka tak tahu untuk apa mereka kuliah. Sebagian menjawab klise, untuk menuntut ilmu.

Tapi pertanyaan saya konkret, kamu mau jadi apa? Nanti setelah lulus akan bekerja sebagai apa? Sebagian besar tidak menyadari bahwa kelak mereka harus bekerja sebagai manusia mandiri.

Lalu mengapa kuliah? Sebagian karena disuruh orang tua. Sebagian yang lain karena tak tahu mau melakukan apa selepas tamat SMA. Atau sekadar ikut-ikutan saja.

Mereka ini kemudian hanya memperpanjang masa sekolah, atau menunda masa menganggur. Setelah lulus, akan jadi pengangguran.

Ada begitu banyak orang tua yang mengirim anaknya kuliah, juga tanpa tujuan. Pokoknya kuliah, punya gelar sarjana kalau kelak lulus. Kalau sudah sarjana, pasti dapat pekerjaan. Sarjana pasti cerah masa depannya.

Di masa lalu memang begitu. Sarjana muda saja pun sudah bisa bekerja. Para orang tua ini tak menyadari bahwa zaman sudah berubah. Kini sudah banyak, bahkan sangat banyak sarjana menganggur.

Di suatu ceramah oleh Kepala BKKBN disampaikan data bahwa hanya 1 dari 7 lulusan sarjana yang mendapat pekerjaan.

Para orang tua beranggapan bahwa semua anak harus kuliah. Mereka juga beranggapan bahwa kuliah harus mendapat gelar. Maka banyak orang tua yang memaksa anak-anaknya kuliah, tanpa memperhatikan kemampuan intelektual sang anak, serta minatnya.

Dulu ada teman saya yang saya kenal betul tingkat kecerdasannya. Mohon maaf, sangat rendah. Tapi kebetulan orang tuanya kaya. Sang anak dikuliahkan. Hasilnya, selama kuliah anak itu hanya hura-hura menghabiskan harta orang tuanya.

Dalam sebuah ceramah di sebuah kampus di Mataram seorang mahasiswa mengeluh. “Saya ini tak berminat kuliah, Pak. Saya mau berbisnis. Tapi orang tua saya memaksa. Saya masuk kuliah asal saja, lalu masuklah saya ke jurusan fisika. Padahal saya sama sekali tak berminat dengan bidang ini.”

Saya ke kampus dengan tujuan membawa pesan dari dunia nyata kepada para mahasiswa. Dunia nyata adalah dunia kerja, di mana setiap orang dituntut dengan suatu tanggung jawab, dan di mana orang harus berkompetisi.

Kompetisi dimulai sejak di pintuk masuk ke dunia itu. Yang kalah tak akan bisa masuk, dan harus berada di dunia nyata yang lain, yaitu dunia pengangguran.

Ada mahasiswa yang sadar bahwa mereka harus masuk ke dunia kerja. Tapi mereka sama sekali tak mengenal dunia itu, dan tidak mempersiapkan diri untuk bersaing di pintu masuknya.

Mereka tak tahu bagaimana pelajaran-pelajaran yang mereka tekuni di bangku kuliah akan terpakai di dunia kerja. Atau, mereka tak tahu bekal apa yang harus mereka kumpulkan selama kuliah.

Ada kasus klise yang sering saya lihat. Mahasiswa baru sadar bahwa kemampuan bahasa Inggris mereka parah saat mereka sudah lulus. Ketika mencari kerja gagal karena itu. Kemudian mereka baru mulai belajar, ikut kursus. Terlambat sudah.

Penguasaan bahasa Inggris memerlukan waktu setidaknya 2 tahun. Mereka harus kehilangan waktu lagi. Padahal seharusnya hal ini dipersiapkan selama kuliah.

Saya pergi ke kampus-kampus, mengajak para mahasiswa membangun mimpi, menetapkan visi. Saya mengajak mereka menjalin kontak dengan mimpi itu.

Saya mengajak mereka untuk membuat program persiapan menuju dunia kerja, dengan target terukur, dalam batas waktu yang jelas.

Sayangnya saya belum punya banyak kesempatan untuk bertemu dengan para orang tua. Para orang tua harus diingatkan bahwa tidak semua anak harus atau perlu kuliah. Ada begitu banyak orang sukses tanpa kuliah. Kuliah bukan jaminan sukses.

Saya ingin mengajak mereka mengenal potensi setiap anak, dan mengarahkan mereka meraih sukses dengan mengembangkan potensi masing-masing.

Tazkiyah An-Nafs

Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

Salah satu misi mengapa Allah mengutus para Rasul adalah untuk pensucian diri atau “tazkiyatunnafs” (QS. Al-Jum’ah 2). Mengapa diri manusia harus disucikan? Alasannya sesuai dengan watak jiwa manusia yang diciptakan dengan sebaik-baik ciptaan. Namun manusia diberi potensi untuk berbuat kebaikan (taqwa) dan kejahatan (fujur) ” (QS. Al-Shams 7-8). Maka dari itu manusia tidak luput dari berbuat salah dan dosa, sekecil apapun. Itu semua bisa terjadi ribuan kali dalam sehari semalam.

Tapi seorang Muslim tidak perlu khawatir. Islam memberi jalan atau cara atau alat untuk menghapus dosa-dosa kecil itu. Jalan atau cara penghapusan dosa-dosa itu adalah syariah. Syariah dalam arti luas mengandung aqidah, hukum-hukum, akhlaq dsb.

Maka dari itu para ulama sepakat bahwa “Setiap syariat Islam memiliki tujuan dan mengandung maslahat”. Tujuannya beribadah kepada Allah dan maslahatnya adalah kembali kepada kepentingan jiwa manusia.

Syariat Islam yang utama memiliki lima rukun. Hikmah dari perintah menjalankan rukun Islam yang lima itu ternyata adalah pensucian diri. Diri yangt suci adalah yang bebas dari dosa-dosa. Orang yang berkata “La ilaha illallah” akan dihapus dosa-dosanya. Syariat shalat lima waktu, puasa dibulan Ramadhan, zakat dan haji adalah alat penghapus dosa-dosa alias alat pensucian diri.

Shalat adalah ibarat kerja bersih-bersih yang rutin setiap hari. Sebab seperti rumah, kamar atau kantor dsb., jika lama tidak dibersihkan tentu akan banyak debu dan kotoran. Jiwa manusia Maka yang selalu menimbun kotoran dosa-dosa kecil perlu dibersihkan setiap hari, dan itulah fungsi shalat. Nabi bersabda:”sesungguhnya shalat lima waktu itu menghilangkan dosa-dosa sebagaimana air sungai menghilangkan kotoran dalam tubuh kalian” (al-hadith)

Shalat adalah juga merupakan proses untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Maka siapapun yang selalu bersuci dan mendekatkan diri pada Yang Maha Suci Allah maka jiwanya akan menjadi bersih. Jiwa yang bersih akan menghasilkan perbuatan yang baik. Maka shalat pun menjadi standar amal seseorang.

“…..Jika baik shalatnya maka baik pula seluruh amalnya, namun jika rusak shalatnya maka rusak pulalah seluruh amalnya. (H.R. Tabrani)

Begitulah, berislam dengan melakukan shalat adalah pensucian diri. Namun jika shalat lima waktu tidak cukup efektif menghapus dosa-dosa seseorang dalam sehari semalam, maka Allah memberi alat satu lagi yaitu shalat Jum’at sebagai menghapus dosa-dosa selama seminggu. Namun jika shalat Jum’at juga tidak efektif, karena keteledoran manusia pula, sehingga dosa-dosa kecil itu berakumulasi dalam masa satu tahun menjadi jutaan jumlahnya, Islam masih memberi jalan lain yaitu dengan berpuasa. Dalam hadith Nabi diterangkan

Shalat lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at, dari Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa-dosa kecil (yang terjadi) diantara waktu-waktu itu selama tidak melakukan dosa-dosa besar. (HR. Muslim)

Puasa juga dapat disebut sebagai pembersih diri atau zakat diri. Jika harta seseorang yang mencapai nisab wajib dizakati, maka badan manusia juga perlu dizakati. Ini dengan secara gamblang disampaikan oleh Nabi:

Segala sesuatu itu ada zakatnya dan zakat badan itu adalah puasa, dan puasa asalah separoh dari kesabaran (HR.Bukhari)

Dengan berpuasa seorang Muslim sedang mengosongkan dirinya dari kecenderungan fisik manusia yang umumnya didominasi oleh nafsu hewani (nafsu-l-ammarah bissu’). Dengan memberhentikan makan dan minum dalam sehari maka kekuatan fisiknya akan melemah dan diikuti oleh melemahnya dorongan jiwa hewani tersebut. Ketika jiwa hewani melemah maka jiwa yang tenang (nafs al-mutma’innah) akan menguat dan dominan. Dalam teori al-Ghazzali ketika dorongan fisik seseorang dipenuhi oleh nafsu hewani diganti atau dikuasai oleh akalnya atau oleh jiwanya yang tenang, maka manusia akan melakukan tindakan-tindakan yang positif.

Meski pembersihan badan berdampak pada jiwa manusia, puasa ternyata bukan pembersihan badan saja. Berpuasa tidak cukup hanya dengan meninggalkan makan minum di siang hari.Puasa juga puasa batin. Puasa batin adalah puasa mulut dari perkataan kotor, puasa mata dari melihat sesuatu yang haram, puasa hati dengan menahan diri dari rasa marah, dari nafsu syahwat, puasa telinga dengan menahan diri dari mendengar sesuatu yang diharamkan dan lain sebagainya. Jadi karena jiwa dan raga manusia itu saling berhubungan maka kesucian jasmani harus disertai kesucian rohani. Dosa-dosa jasmani harus disucikan secara serentak dengan dosa-dosa rohani.

Orang yang berpuasa tapi “tidak bisa meninggalkan diri dari ucapan palsu (jelek) dan tetap mengerjakannya, maka puasanya itu tidak berguna bagi Allah” (HR Bukhari – Muslim). Itulah sebabnya sejak awal Nabi telah mewanti-wanti “Banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala kecuali lapar, dan banyak orang yang shalat (malam) tidak mendapat pahalanya kecuali berjaga” (HR Al Hakim).

Meskipun jiwa manusia disucikan dengan shalat dan puasa, namun Islam masih menyediakan alat pensucian lagi yaitu zakat, infaq dan shadaqah. Zakat adalah pensucian diri manusia melalui harta bendanya. Meski tidak berkatian langsung dengan jiwa manusia, namun tanggung jawab dan keikhlasan memberi atau mengeluarkan zakat itu sungguh berpengaruh pada jiwa pemberinya.

Hadith-hadith Nabi jelas-jelas menyatakan bawha shadaqah ternyata juga pemadam api kekhilafan dan dosa manusia sebagaimana air mematikan api. Dan terakhir adalah haji. Di dalam penjelasan Nabi pula haji mabrur berfungsi seabgai penghapus dosa-dosa. Saking bersihnya dosa-dosa yang berhaji mabrur itu maka jiwanya sama seperti hari diwaktu ia dilahirkan .

Begitulah, berislam dengan menjalankan syariatnya bermuara pada tazkiyatunnafsi (pensucian diri). Dengan dosa yang terhapus jiwa menjadi jernih, hati menjadi tenang, kesulitan hidup menjadi kemudahan, pikiran menjadi positif. Al-Qur’an memberi kabar baik “Beruntunglah orang yang membersihkan diri dan mengingat asma Tuhannya dan shalat. (QS al-A’la 14-15). Dan Nabi mengajari kita doa “Ya Allah berilah aku rezeki hati yang bersih, dan lidah yang jujur”.’
TAZKIYAH AN-NAFS
Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

Salah satu misi mengapa Allah mengutus para Rasul adalah untuk pensucian diri atau “tazkiyatunnafs” (QS. Al-Jum’ah 2). Mengapa diri manusia harus disucikan? Alasannya sesuai dengan watak jiwa manusia yang diciptakan dengan sebaik-baik ciptaan. Namun manusia diberi potensi untuk berbuat kebaikan (taqwa) dan kejahatan (fujur) ” (QS. Al-Shams 7-8). Maka dari itu manusia tidak luput dari berbuat salah dan dosa, sekecil apapun. Itu semua bisa terjadi ribuan kali dalam sehari semalam.

Tapi seorang Muslim tidak perlu khawatir. Islam memberi jalan atau cara atau alat untuk menghapus dosa-dosa kecil itu. Jalan atau cara penghapusan dosa-dosa itu adalah syariah. Syariah dalam arti luas mengandung aqidah, hukum-hukum, akhlaq dsb.

Maka dari itu para ulama sepakat bahwa “Setiap syariat Islam memiliki tujuan dan mengandung maslahat”. Tujuannya beribadah kepada Allah dan maslahatnya adalah kembali kepada kepentingan jiwa manusia.

Syariat Islam yang utama memiliki lima rukun. Hikmah dari perintah menjalankan rukun Islam yang lima itu ternyata adalah pensucian diri. Diri yangt suci adalah yang bebas dari dosa-dosa. Orang yang berkata “La ilaha illallah” akan dihapus dosa-dosanya. Syariat shalat lima waktu, puasa dibulan Ramadhan, zakat dan haji adalah alat penghapus dosa-dosa alias alat pensucian diri.

Shalat adalah ibarat kerja bersih-bersih yang rutin setiap hari. Sebab seperti rumah, kamar atau kantor dsb., jika lama tidak dibersihkan tentu akan banyak debu dan kotoran. Jiwa manusia Maka yang selalu menimbun kotoran dosa-dosa kecil perlu dibersihkan setiap hari, dan itulah fungsi shalat. Nabi bersabda:”sesungguhnya shalat lima waktu itu menghilangkan dosa-dosa sebagaimana air sungai menghilangkan kotoran dalam tubuh kalian” (al-hadith)

Shalat adalah juga merupakan proses untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Maka siapapun yang selalu bersuci dan mendekatkan diri pada Yang Maha Suci Allah maka jiwanya akan menjadi bersih. Jiwa yang bersih akan menghasilkan perbuatan yang baik. Maka shalat pun menjadi standar amal seseorang.

“…..Jika baik shalatnya maka baik pula seluruh amalnya, namun jika rusak shalatnya maka rusak pulalah seluruh amalnya. (H.R. Tabrani)

Begitulah, berislam dengan melakukan shalat adalah pensucian diri. Namun jika shalat lima waktu tidak cukup efektif menghapus dosa-dosa seseorang dalam sehari semalam, maka Allah memberi alat satu lagi yaitu shalat Jum’at sebagai menghapus dosa-dosa selama seminggu. Namun jika shalat Jum’at juga tidak efektif, karena keteledoran manusia pula, sehingga dosa-dosa kecil itu berakumulasi dalam masa satu tahun menjadi jutaan jumlahnya, Islam masih memberi jalan lain yaitu dengan berpuasa. Dalam hadith Nabi diterangkan

Shalat lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at, dari Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa-dosa kecil (yang terjadi) diantara waktu-waktu itu selama tidak melakukan dosa-dosa besar. (HR. Muslim)

Puasa juga dapat disebut sebagai pembersih diri atau zakat diri. Jika harta seseorang yang mencapai nisab wajib dizakati, maka badan manusia juga perlu dizakati. Ini dengan secara gamblang disampaikan oleh Nabi:

Segala sesuatu itu ada zakatnya dan zakat badan itu adalah puasa, dan puasa asalah separoh dari kesabaran (HR.Bukhari)

Dengan berpuasa seorang Muslim sedang mengosongkan dirinya dari kecenderungan fisik manusia yang umumnya didominasi oleh nafsu hewani (nafsu-l-ammarah bissu’). Dengan memberhentikan makan dan minum dalam sehari maka kekuatan fisiknya akan melemah dan diikuti oleh melemahnya dorongan jiwa hewani tersebut. Ketika jiwa hewani melemah maka jiwa yang tenang (nafs al-mutma’innah) akan menguat dan dominan. Dalam teori al-Ghazzali ketika dorongan fisik seseorang dipenuhi oleh nafsu hewani diganti atau dikuasai oleh akalnya atau oleh jiwanya yang tenang, maka manusia akan melakukan tindakan-tindakan yang positif.

Meski pembersihan badan berdampak pada jiwa manusia, puasa ternyata bukan pembersihan badan saja. Berpuasa tidak cukup hanya dengan meninggalkan makan minum di siang hari.Puasa juga puasa batin. Puasa batin adalah puasa mulut dari perkataan kotor, puasa mata dari melihat sesuatu yang haram, puasa hati dengan menahan diri dari rasa marah, dari nafsu syahwat, puasa telinga dengan menahan diri dari mendengar sesuatu yang diharamkan dan lain sebagainya. Jadi karena jiwa dan raga manusia itu saling berhubungan maka kesucian jasmani harus disertai kesucian rohani. Dosa-dosa jasmani harus disucikan secara serentak dengan dosa-dosa rohani.

Orang yang berpuasa tapi “tidak bisa meninggalkan diri dari ucapan palsu (jelek) dan tetap mengerjakannya, maka puasanya itu tidak berguna bagi Allah” (HR Bukhari – Muslim). Itulah sebabnya sejak awal Nabi telah mewanti-wanti “Banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan pahala kecuali lapar, dan banyak orang yang shalat (malam) tidak mendapat pahalanya kecuali berjaga” (HR Al Hakim).

Meskipun jiwa manusia disucikan dengan shalat dan puasa, namun Islam masih menyediakan alat pensucian lagi yaitu zakat, infaq dan shadaqah. Zakat adalah pensucian diri manusia melalui harta bendanya. Meski tidak berkatian langsung dengan jiwa manusia, namun tanggung jawab dan keikhlasan memberi atau mengeluarkan zakat itu sungguh berpengaruh pada jiwa pemberinya.

Hadith-hadith Nabi jelas-jelas menyatakan bawha shadaqah ternyata juga pemadam api kekhilafan dan dosa manusia sebagaimana air mematikan api. Dan terakhir adalah haji. Di dalam penjelasan Nabi pula haji mabrur berfungsi seabgai penghapus dosa-dosa. Saking bersihnya dosa-dosa yang berhaji mabrur itu maka jiwanya sama seperti hari diwaktu ia dilahirkan .

Begitulah, berislam dengan menjalankan syariatnya bermuara pada tazkiyatunnafsi (pensucian diri). Dengan dosa yang terhapus jiwa menjadi jernih, hati menjadi tenang, kesulitan hidup menjadi kemudahan, pikiran menjadi positif. Al-Qur’an memberi kabar baik “Beruntunglah orang yang membersihkan diri dan mengingat asma Tuhannya dan shalat. (QS al-A’la 14-15). Dan Nabi mengajari kita doa “Ya Allah berilah aku rezeki hati yang bersih, dan lidah yang jujur”.

Renungan Pendidikan #65

‪Harry Santosa – Millenial Learning Center

#‎fitrahzaman‬‬‬‬‬
‪#‎genc‬‬‬‬‬

Hari ini anak anak kita adalah anak anak yang ummumnya kelahiran tahun 2000 ke atas, anak anak milennial yang lahir di awal milennium baru. Mereka disebut dengan Generasi C.

Generasi C disebut demikian karena huruf C mewakili mereka yang “always clicking, connected, communicating, content-centric, computerized, dan community-centric”.

Sementara generasi sebelumnya adalah Generasi X, yaitu mereka yang lahir antara tahun 1960-1980, ciri khasnya adalah berpendidikan tinggi, aktif dan menjunjung keluarga. Generasi Y adalah mereka yang lahir tahun 1980 – 2000, ciri khasnya adalah suka menunda kedewasaan dan terlalu dekat dengan orangtua.

Riset pemetaan bakat menemukan bahwa sifat atau potensi bakat generasi ini berkebalikan 180 derajat dengan sifat atau bakat generasi sebelumnya. Apa yang menjadi potensi kekuatan generasi Baby Boomers atau Generasi X dan Y, termyata menjadi keterbatasan pada generasi C, begitupula sebaliknya.

Sederhananya begini, jika kita orangtua umumnya memiliki potensi keunikan lebih banyak ke otak kiri (analitis, keuangan, dll) , administratif, teknikal, pabrikasi dstnya, maka anak anak kita lebih banyak memiliki potensi keunikan pada otak kanan (desain, sintesis dll) dan hubungan interpersonal dstnya.

Pensikapan terhadap Generasi C beragam.

Sebagian kita, para orangtua mensikapinya dengan antusias. Mereka sepenuhnya melihat dari sisi positif dan produktifitas yang bisa dicapai era digital. Di rumah rumah mereka disediakan internet 24 jam sehari dengan kecepatan di atas rata rata. Anak anak sebebas bebasnya berselancar di dunia maya bahkan dipacu untuk berkreasi dan menjelajahi dunia maya sepuasnya. Digital lifestyle nampaknya jadi tuhan baru.

Seolah berkata “Hey guys, kini dunia digital sudah menjadi lifestyle, mau apa anak anda jika tidak becus menjadi generasi digital, jadilah generasi pencipta konten digital bukan konsumen konten digital. Di masa depan, apapun bakat dan minatmu semua berujung pada “screen”, yaitu tulisan, foto, audio, video yang bisa diintip orang lewat semua akses baik web maupun gadget”

Sebagian lagi mensikapinya dengan panik dan khawatir, bahkan nyaris paranoid. Yang dilihat hanyalah sisi negatif dari Generasi C dengan internetnya. Di rumah rumah mereka, pagar dan bendungan dibangun setebal tebalnya, filter dan saringan dibuat seketat ketatnya. Software Parent Control jadi gacoan handal.

Mereka sibuk memonitoring anak anaknya setiap saat setiap waktu. Mengecek berkala log pada pc, laptop dan gadget. Jika terdengar kata internet, maka bayangannya pasti pada hal hal negatif seperti pornografi, anti sosial, kecanduan game dstnya. Digital lifestyle seolah jadi setan baru.

Seolah berkata, “Awas, dunia sudah dikepung informasi berbahaya dari segala penjuru. Mau jadi apa anak anak anda jika hanya sibuk dengan layar laptop dan layar gadget. Anak anak dalam bahaya yang mengerikan, segera selamatkan mereka, lindungi dari pengaruh buruk internet. Jauhi dunia maya, dunia berbahaya, tidak ada yang anda dapat kecuali sangat sedikit kebaikan, sangat banyak sampah dan kemubadziran”

Sebagian yang lain mensikapinya dengan biasa saja, bagai air mengalir. Tidak penting banget. Antusias tidak, khawatir juga tidak. Seolah berkata, “Yah sudah zamannya, emang gue pikirin”.

Lalu bagaimana sikap terbaik.

Sikap terbaik adalah adalah memahami dengan terbuka potensi keunikan generasi C, amati seksama kekuatan sekaligus keterbatasannya. Lalu darisana kita merancang dan menerapkan pola pendidikan yang relevan.
Sesungguhnya tiap masa, tiap zaman, Allah hadirkan generasi yang khas dan unik sesuai zamannya. Generasi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Begitupula Generasi C, generasi yang juga memiliki potensi unik sesuai zamannya.

Jika potensi unik pada diri manusia mengandung potensi kekuatan dan keterbatasan. Jika potensi unik pada alam dan lokal juga mengandung potensi kekuatan dan keterbatasan. Maka potensi unik pada zaman atau generasi C juga memiliki kekuatan dan keterbatasan.

Jangan panik dan paranoid, juga jangan lebay obsesif, syukurilah fitrah zaman ini.

Sikap terbaik kita sebagai orangtua adalah menerapkan kaidah emas “fokus pada kekuatan dan siasati keterbatasan” . Artinya fokus pada hal hal positif yang produktif dan mensiasati hal hal yang tidak produktif yang akan menjadi kelemahannya.

Sesungguhnya kita tidak pernah mungkin memisahkan anak anak Generasi C dari keunikan fitrah zamannya, yaitu gadget dan internet. Kita juga tidak bisa melupakan bahwa dunia maya menyediakan begitu banyak ilmu pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat. Kita tidak bisa menutup mata dengan kenyataan anak anak kita menyukai hal hal baru yang inovatif dan idea menantang, komunitas yang berdaya, kepemimpinan yang terbuka dstnya.

Maka relevankan kekhasan generasi ini dengan fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar, juga fitrah alam dan lokalitas agar generasi ini tidak sekedar berselancar di dunia maya atau tersesat di rimba informasi, namun dunia maya menjadi tempat kesibukan menggali dan mengembangkan spiritualitas, moralitas, bakat, belajar dan bernalar juga akhlaknya. Bertemu dengan orang orang baik yang relevan dengan bakat dan akhlak yang mulia.

Jika generasi ini suka hal hal baru yang inovatif dan idea idea menantang, maka arahkan keterhubungan dan kemahiran mereka di dunia maya untuk menemukan sumber pengetahuan, pakar dan komunitas yang relevan.

Jika generasi ini menyukai kepemimpinan yang terbuka, transparan, tidak anti kritik dstnya maka kepemimpinan ini sebaiknya dibangun di rumah kita dan di lingkungan. Orangtua maupun guru dengan tipe kepemimpinan klasik yang otoriter tempo dulu barangkali akan dijauhi oleh generasi ini. Generasi ini menyukai hubungan yang setara.

Jika generasi ini suka berkomunitas dan berkomunikasi, maka dorong agar mereka bertemu dengan komunitas online dan juga komunitas offline yang relevan. Seimbangkan keasikannya di dunia maya dengan keasikannya di dunia nyata dengan menyambungkan realita dan problematika sosial di dunia nyata sekitarnya dengan kemahiran mereka mengkomunikasikan masalah dan mencari solusinya di dunia maya lalu kembali membumikannya.

Semoga anak anak kita, generasi C, akan menjadi pembaharu dan pahlawan pada generasinya, yang membuat dunia dan peradaban lebih hijau dan damai. Generasi yang Allah ridha pada mereka, dan merekapun ridha pada Allah.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬‬‬‬‬ dan akhlak
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬‬‬‬‬

Proxy

Lukito Edi Nugroho
MARCH 13, 2016

Dalam dunia komputer, khususnya di bidang jaringan komputer, istilah “proxy” menunjuk sebuah komputer yang punya peran menghubungkan komputer-komputer lain (khususnya yang berada dalam lingkungan jaringan internal) ke jaringan yang lebih luas, Internet misalnya. Dengan proxy, pemakai yang semula terputus dari dunia luar menjadi mampu mengakses informasi yang ia perlukan dari Internet. Proxy membuat si pemakai mendapatkan manfaat dan kebaikan dari apa yang ada di luar lingkupnya.

Dulu saya pernah menjadi seperti si pemakai komputer di atas: tidak tahu tentang dunia di luar dirinya. Tepatnya begini: sebagai seorang bapak, dulu saya pernah merasa tidak banyak paham tentang anak-anak saya. Memang, tiap hari saya bertemu dan berkumpul dengan mereka, tetapi saya terkadang blank dengan pandangan, cara pikir, keinginan, ataupun perasaan mereka. Apalagi saya termasuk “bapak tradisional” yang tidak pernah belajar secara proper tentang bagaimana menjadi seorang bapak yang baik, apalagi bersentuhan dengan ilmu parenting. Semuanya dilakukan secara intuitif belaka. Akibatnya, sikap, perlakuan, dan respon saya terhadap mereka kadang tidak pas dengan apa yang seharusnya saya berikan. Manifestasinya macam-macam, dari ketidakpekaan terhadap perasaan dan harapan, sampai ke sikap-sikap yang berlebihan terhadap mereka. Jika kejadian itu muncul, saya bisa merasakannya, tapi saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Blank.

Kondisi itu berlangsung sampai anak sulung saya kembali ke rumah setelah menyelesaikan studi S1nya di bidang psikologi. Dia melihat kelemahan bapaknya, lalu mulai mengajak diskusi, terutama tentang hubungan antara orang tua dan anak. Banyak yang dia sampaikan. Saya diajaknya menyelami cara pandang anak, bagaimana mereka berpikir, dan bagaimana harapan mereka terhadap orang tua. Intinya: saya dihadapkan pada dunia anak-anak, lalu diminta untuk memahami melalui eksplorasi saya sendiri.

Menjalani diskusi-diskusi dengan si sulung ini serasa menelusuri jalan berbatu. Rasanya seperti dibanting dan dihempas, terutama ketika saya dipaksa untuk merefleksikan sikap dan respon saya yang tidak benar terhadap anak. Tapi di sisi lain, saya juga melihat cahaya pencerahan. Saya jadi bisa memahami dunia anak-anak saya. Dan akhirnya saya bisa mulai belajar bersikap, berperilaku, dan memberi respon yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.

Kembali ke proxy, si sulung telah menjadi proxy bagi saya. Saya yang tadinya tidak paham tentang anak-anak saya sendiri, dengan bantuannya, sekarang bisa lebih mengenal mereka dan dunianya. Dengan latar belakang bidang psikologi yang dikuasainya, dia menjelaskan kepada saya tentang perkembangan jiwa anak, hubungan kausalitas dalam relasi antara orang tua dan anak, dan banyak lagi pengetahuan baru tentang dunia anak-anak. Kami berdiskusi tentang perubahan-perubahan cara berkomunikasi, tentang perlakuan yang sesuai dengan tingkat kematangan anak, dan lain-lain. Semua itu hal baru bagi saya, dan dia menghadirkannya untuk saya. Dan yang mungkin juga dia tidak sadari, diskusi-diskusi itu menggerakkan saya untuk bereksperimen dan mengeksplorasi…

Hasilnya? Amazingly, terhadap perubahan cara pandang, sikap, dan perlakuan saya, mereka memberikan respon balik yang positif. Amat sangat positif. Sungguh karunia yang luar biasa bagi saya…

Jika direnungkan, sebenarnya yang dilakukan si sulung bukanlah sesuatu yang rumit. Dia melihat kelemahan dan kekurangan saya, lalu mengajak saya untuk mengamati dunia baru yang sebelumnya tidak saya ketahui. Itu saja yang dia lakukan, tetapi implikasinya luar biasa.

Alangkah indahnya jika masing-masing dari kita bisa menjadi proxy bagi orang-orang di sekeliling. Kita bisa membantu dalam menghadirkan sesuatu yang belum diketahui oleh orang-orang di sekitar kita, dan dari situ mereka kemudian bisa menarik manfaat. Siapapun kita, apapun profesi kita, rasanya kesempatan menjadi proxy sangatlah besar. Cukuplah dengan memahami apa kesulitan yang dihadapi oleh orang-orang di sekitar kita, lalu hadirkan dunia baru yang kita ketahui dan bisa memberi manfaat kepada mereka. Ceritakan potensi kebaikan yang dikandungnya. Ajak mereka untuk melihat dunia baru itu dari sudut pandang yang berbeda. Selanjutnya temani mereka, ceritakan bagaimana cara memetik manfaatnya, lalu biarkan mereka mengarungi dan mengeksplorasinya sendiri untuk memperoleh sari-sari kebaikannya.

Ketika anak merasa gembira dengan keluarganya karena mereka tahu di sana mereka bisa memperoleh rasa aman dan nyaman…
Ketika murid bersemangat belajar dalam menggapai cita-cita karena mereka tahu cita-cita itulah masa depan mereka…
Ketika mahasiswa bergairah mengerjakan risetnya karena mereka tahu manisnya “madu pengetahuan” yang akan mereka peroleh sebagai buah dari riset mereka…
Ketika karyawan menunjukkan kinerja yang tinggi karena itulah satu-satunya yang dapat membawa perusahaan dan juga para karyawan ke kondisi yang lebih baik…
Itulah tanda-tanda bahwa kita sebagai orang tua, guru, dosen, ataupun pimpinan perusahaan berhasil menjadi proxy yang baik.

Tidak sulit bukan?

(Terima kasih Rizka, kamu telah membukakan sebuah dunia baru bagi bapak…)

Sekolah Alam yang Mendidik Hati

Nun di sebuah gedung megah berpintu rapat, sekumpulan anak berusia 5 – 7 tahun dikumpulkan. Mereka adalah murid-murid SD Anu, buah dari seleksi inteligensi yang teramat ketat. Wajar, karena di sekolah tersebut ada begitu banyak pelajaran yang hanya bisa dicerna oleh intelektualitas kelas tinggi. Dibutuhkan logika yang tajam dan penalaran kelas master untuk dapat mencerna paparan dan argumentasi atas tiap hal yang diajarkan.

Ya karena SD itu terlanjur yakin bahwa pendidikan itu adalah upaya membangun otak yang sehat, karena otaklah yang mengendalikan perilaku. Mereka yakin, bersama otak yang cerdas akan mudah mendidik keyakinan dan kebiasaan baik, seperti shalat, puasa, membaca AlQur’an, menutup aurat, berakhlaq mulia dan sebagainya.

Tapi segalanya belakangan berubah menjadi tangis, karena ternyata otak, pikiran dan penalaran tak mengenal kata kebaikan dan kebenaran. Ternyata otak hanya mengenal pengalaman dan data… Pikiran hanya mengenal argumentasi…. Sedangkan penalaran hanya mengenal kata logis. Kini anak-anak cerdas itu telah mampu melawan otak dengan otak, argumentasi dibalas dengan kontra-argumen, sedangkan tesis dihadapi dengan anti-tesis. Apa-apa yang telah tertanam dalam, ternyata tak tumbuh. Sedangkan kebiasaan baik hilang dengan sekejap, seakan usaha penuh disiplin dalam waktu lama, kini hilang tanpa bekas.

Dan tak jauh dari sana, ada sebuah sekolah alam. Di sana hadir berkumpul siapapun yang punya hati. Murid-muridnya tak pernah diseleksi, karena yang diseleksi adalah para ayahbunda mereka : ayahbunda yang punya peduli. Mereka “hanya” punya alam, dan itulah sebabnya kenapa yang dibutuhkan adalah hati. Karena alam hanya bisa dinikmati dengan hati, dan alam berdialog kepada hati.

Ya, alam itu feminin. Ia berbicara setiap hari pada manusia dalam bahasa hati, karena hanya bahasa itulah yang telah Allah ajarkan kepada alam untuk berbicara pada manusia (QS Al-Zalzalah : 4-5). Kalaulah kita tak kunjung mengerti cerita alam, itu karena kita telah terlalu lama berlogika.

Lalu kenapa harus hati ? Tentu, karena kesadaran itu bermula dari hati. Sedangkan niat itu adalah produk dari hati, lalu ia perintahkan otak untuk menggerakkan tubuh. Mungkin kita telah lama lupa, bahwa kesadaran bukan lahir dari pikiran dan niat tidak lahir dari otak. Otak hanya melahirkan ide, bukan gairah. Pikiran hanya melahirkan konsep, bukan niat. Sedangkan logika hanya melahirkan metode, bukan kesadaran. Nah, amal adalah buah dari gairah, kesadaran dan niat. Sementara ide, konsep dan metode hanyalah perangkat-perangkat untuk beramal. Dan sekolah alam sepenuhnya menyadari bahwa keshalehan lahir dari hati yang membuahkan gairah, niat dan kesadaran, sedangkan otak, logika dan argumentasi hanyalah instrumen keshalehan.

Maka para guru sekolah alam pun mungkin bukan orang-orang sangat cerdas, tapi kumpulan orang-orang yang punya hati, cinta, ketulusan dan keikhlasan. Mereka sadar, intelektualitas bisa dibentuk dengan ilmu, profesionalitas bisa dibentuk dengan kompetensi, namun spiritualitas hanya bisa ditularkan oleh cinta dan ketulusan. Jadi, di sekolah alam tak akan banyak kita saksikan debat argumentatif, tapi kaya dengan kisah-kisah menyentuh. Di sekolah alam tak akan banyak kita dengarkan alasan-alasan “kenapa begini dan begitu ?”, tapi yang ada adalah peran-peran yang dimainkan dan dihayati. Di sekolah alam senyum dan airmata lebih banyak berbicara daripada logika dan kata-kata, karena senyum dan airmata mampu melembutkan jiwa.

Saatnya anak-anak kita hidup di sekolah alam, jika yang kita inginkan adalah pembentukan generasi bertaqwa. Karena taqwa itu ada di dalam dada (AlHadits)

Ditulis oleh Adriano Rusfi, Psi
Konsultan Senior, Psikolog, Pelaku Pendidikan
Dewan Pakar Masjid Salman ITB

.

Apakah Anda adalah AyahBunda yang

1. Selalu mempertanyakan status “legal” dan “tidak legal” dari sekolah alam?
2. Selalu mempertanyakan apakah siswa sekolah alam bisa achieve “nilai akademis”?
3. Selalu mempertanyakan fasilitas dan hal-hal non teknis lain seperti jalan masuk, bangunan, dan sebagainya?
4. Selalu mempertanyakan “kurikulum diknas”?
5. Selalu berniat melanjutkan sekolah anaknya ke sekolah negeri selepas jenjang sekolah dasar?
6. Selalu beranggapan bahwa sekolah alam semacam penitipan anak-anak “liar” atau anak-anak “bermasalah” yang dikeluarkan dari sekolah lain?
7. Selalu menganggap sekolah alam adalah sekolah unggul?

Jika AyahBunda adalah yang demikian, maka jangan teruskan membaca tulisan ini karena akan mengganggu “kebahagiaan” anak-anaknya kelak dan segera lupakan sekolah alam. Bisa jadi, Anda memang salah pilih sekolah.

Tetapi, jika Anda adalah AyahBunda yang

1. Merindukan “sekolah impian” dengan segala eksperimen dan inovasi tentang implementasi sekolah yang membebaskan dan membahagiakan,

2. Selalu curious atau ingin tahu dengan perkembangan potensi bakat anak serta akhlak atau karakter dibanding capaian nilai akademis,

3. Selalu berpikir “lebih baik mencoba sesuatu yang belum tentu gagal, daripada melanjutkan sesuatu yang sudah pasti gagal”,

maka sekolah alam atau sekolah berbasis potensi dan akhlak bersama komunitas bisa menjadi pilihan yang tiada lagi pilihan lain.

Anak-anak di sekolah alam memang sering kalah dalam lomba cepat tepat, sering kalah dalam olimpiade sains, sering kalah dalam berbagai macam kompetisi.

Tetapi, anak-anak sekolah alam sangat hebat dalam lomba merancang dan mendesign serta mengimplementasikan proyek bersama. Lihatlah bagaimana mereka menyiapkan Sale Day, Market Day dan Bazaar di sekolah. Lihatlah bagaimana mereka menyiapkan penelitian untuk Science Fair di sekolah. Lihatlah bagaimana mereka berkolaborasi dengan teman-teman dan fasilitator menyiapkan karya pustaka bersama untuk Pekan Literasi. Mereka hebat dalam karya, bukan sekadar nilai angka dalam raport semata.

Anak-anak sekolah alam tidak perlu belajar serius hanya untuk mengejar nilai akademik. Yang dibutuhkan dan diajarkan di sekolah alam adalah tentang curiosity atau rasa ingin tahu, tentang tradisi belajar dengan logika berpikir ilmiah sehingga tanpa sadar membawanya pada fast learning dan high order of thinking.

Sebelum belajar, mereka berdoa bersama, melantunkan ayat-ayat suci dari kitab suci, bahkan menunaikan ibadah pagi.

Lalu mereka belajar dan bermain dengan kambing, belajar dan bermain dengan kelinci, belajar dan bermain dengan ayam di kandang, belajar dan bermain dengan ikan di kolam.

Mereka tampak bahagia menyusuri jejak jalanan setapak sambil menghirup udara pagi yang segar serta menikmati indahnya alam serta flora dan fauna ciptaan Sang Maha Pencipta, mencari harta karun barang bekas, memanjat atap sekolah, memancing ikan, mengerjakan tugas di pinggir danau atau di dahan pepohonan, melatih keberanian dan kepercayaan diri dengan meniti two-line bridge atau bamboo bridge bahkan meluncur dengan flying fox.

Mereka belajar tidak dengan buku tulis dan bukan hanya dengan buku cetak. Mereka juga berselancar di internet dan perpustakaan.

Mereka kerap menggunakan kertas setengah pakai dari perpustakaan serta terlibat diskusi yang mengasyikkan.

Mereka tampak bahagia walaupun ada yang menghina kelas mereka sama sederhananya dengan “kandang kambing”. Mereka bisa merasakan langsung hembusan angin dan menyaksikan dahan dan daun pepohonan melambai-lambai tertiup angin.

Tas sekolah mereka besar-besar. Isinya bukan buku, tetapi baju ayah untuk berkebun di Green Lab, jas hujan, baju ganti, termos minuman dan kotak makanan, serta sepatu boots.

Mereka berlibur tidak dengan bis mewah dan menginap di hotel mewah. Mereka berlibur dengan menjelajahi hutan, mengenali tanaman dan tumbuhan yang bisa dimakan, mempraktikkan memasak bersama di hutan dengan bahan-bahan alam yang ada di sekitar hutan (jungle cooking). Mereka berlibur dengan menyusuri pantai, mendatangi mercu suar, menyelam di sekitar pantai (snorkeling), dan menangkap ikan untuk disantap sebagai ikan bakar. Mereka berlibur dengan mendaki bukit dan gunung, menyusuri jejak para petualang di pegunungan, menikmati udara dan angin di ketinggian pegunungan, menikmati waktu dan merenungi langkah-langkah yang dituju, memercikkan air danau dan mensyukuri kesegarannya anugerah Sang Pencipta.

Lihatlah wajah bahagia mereka saat merasakan pengalaman ekspedisi ke kawasan konservasi, mencari jejak badak, biawak, ular, babi hutan dan fauna dilindungi lainnya. Lihatlah mata mereka yang berbinar saat menyusuri sungai dengan berkano diiringi kicauan burung serta suara kodok dan jangkrik serta alunan lagu hutan para satwa. Lihatlah ekspresi wajah mereka saat kaki mereka ditempeli lintah dengan baju basah saat menginap di hutan dan tidur di dalam tenda.

Wahai AyahBunda,

Anak-anak itu bahagia. Jika AyahBunda justru “miris” dengan segudang pengalaman mereka di sekolah alam, cobalah buka hati dan pikiran lebih lebar, bukan hanya mudah buka dompet untuk mereka. InsyaAllah, dari sekolah alam inilah, akan lahir pemimpin yang tidak elitis, yang sejak kecil terbiasa menghargai alam, menghargai sekolahnya bukan karena kemewahan gedungnya dan bukan karena licinnya seragam, tetapi pesona kebersamaan dan pesona miniatur kehidupannya. Memuliakan teman-teman sesama karena kebaikan akhlaknya bukan karena rankingnya. Mereka terbiasa mencintai sekolahnya, bahkan hingga hari ini, bersama teman-temannya, mengenang masa-masa indah di sekolah alam yang membuat mereka merasa “benar-benar diterima” sebagai manusia seutuhnya.

*HS-WA*

.

Sekolah Alam adalah sebuah konsep pendidikan[1] yang digagas oleh Lendo Novo berdasarkan keprihatinannya akan biaya pendidikan yang semakin tidak terjangkau oleh masyarakat. Ide membangun sekolah alam adalah agar bisa membuat sekolah dengan kualitas sangat tinggi tapi murah. Itu dilakukan karena sebagian besar rakyat Indonesia miskin.

Paradigma umum dalam dunia pendidikan adalah sekolah berkualitas selalu mahal. Yang menjadikan sekolah itu mahal karena infrastrukturnya, seperti bangunannya, kolam renang, lapangan olahraga, dan lain-lain. Sedangkan yang membuat sekolah itu berkualitas bukan infrastruktur. Kontribusi infrastruktur terhadap kualitas pendidikan tidak lebih dari 10%. Sedangkan 90% kontribusi kualitas pendidikan berasal dari kualitas guru, metode belajar yang tepat, dan buku sebagai gerbang ilmu pengetahuan. Ketiga variabel yang menjadi kualitas pendidikan ini sebetulnya sangat murah, asalkan ada guru yang mempunyai idealisme tinggi. Dari situ Lendo mencoba mengembangkan konsep-konsep sekolah alam. [2]

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sekolah_Alam

Source : https://m.facebook.com/wicak.amadeo.5/posts/594664040681385

City Branding

Rhenald Kasali ;
Akademisi, Praktisi Bisnis dan Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
JAWA POS, 13 Maret 2015

SAYA ajak Anda sejenak ke Banyumas, kabupaten di Jawa Tengah. Bagi para pemudik Lebaran, nama Banyumas sangat familier. Sebab, saat pulang mudik, sebagian di antara mereka akan melintasi jalan-jalan di sana. Sebagian lagi kenal karena daerah tersebut dulu melahirkan banyak tokoh terkenal seperti jenderal polisi jujur sepanjang sejarah: Hoegeng.

Sekali lagi, hanya melintas. Bukan mampir. Mengapa? Sebab, nyaris tidak ada yang memikat di Banyumas yang membuat pemudik ingin mampir –dan tentu membelanjakan uangnya. Banyumas memang belum menjadi salah satu tujuan wisata. Orang lebih suka berwisata ke Solo. Atau, kalau ingin mencari udara sejuk, mereka memilih Dieng di Wonosobo.

Kondisi itu membuat Banyumas tidak banyak berkembang. Apalagi tidak kaya dengan sumber daya alam seperti minyak atau gas seperti Bojonegoro yang bergeliat di tangan Kang Yoto.

Namun, pekan lalu, saya melihat geliat di kabupaten itu. Banyumas menggelar sayembara city branding. Tujuannya, memanfaatkan potensi di sektor pariwisata dan tentu potensi-potensi lainnya. City branding –dengan segala event-nya– merupakan cara untuk memikat orang agar mau datang ke sana. Dan harap dicatat, sebentar lagi Kediri yang dipimpin tokoh muda, Mas Abu, juga akan memikat kita seperti Banyuwangi. Insya Allah.

Persaingan Daerah

Di Indonesia, kini persaingan terjadi bukan hanya antarpebisnis, tapi juga antardaerah. Ini fenomena yang menggembirakan. Setiap daerah berlomba-lomba ingin lebih dikenal, lebih disukai investor, lebih mampu menyediakan lapangan kerja yang berkualitas, dan lebih ramai transaksi perdagangannya. Itu semua akan membuat uang yang datang dan beredar di daerah lebih banyak. Dalam konteks itulah city branding menjadi penting.

Sayangnya, di sisi lain, masih banyak pemimpin daerah yang belum sadar akan pentingnya city branding. Apalagi yang kaya sumber daya mineral. Akibatnya, daerahnya kaya, tetapi masyarakatnya kurang sejahtera.

Lalu, seberapa penting city branding?

Kalau kita bepergian ke Eropa atau Amerika Serikat, kadang kita merasa jengkel karena orang-orang di sana mengenal Bali, tetapi tidak tahu apa-apa tentang Indonesia. Bahkan, yang lebih menjengkelkan, mereka ternyata lebih tahu tentang Malaysia atau Singapura, tetapi tidak kenal dengan Indonesia –negara yang jauh lebih besar ketimbang dua negeri jiran tersebut.

Menggemaskan. Tetapi, apa mau dikata, Malaysia dan Singapura lebih dulu sadar akan pentingnya pencitraan atau branding. Malaysia ke mana-mana selalu bilang negaranya sebagai Truly Asia. Cukup ke sana saja, Anda sudah lihat semua ada. Singapura selalu menjual slogan Uniquely Asia. Kita?

Sejatinya, city branding mencakup aspek yang sangat luas. Sayangnya, kalau melihat slogan atau tagline city branding-nya, tampaknya lebih banyak terfokus pada kegiatan pariwisata. Coba saja Anda amati beberapa contoh.

DKI Jakarta mengusung slogan Enjoy Jakarta. Lalu, Jogjakarta denganJogja Istimewa. Pekalongan men-branding diri sebagai Kota Batik. Kendari, menurut saya, agak kurang jelas karena mengusung slogan I Like Kendari. Kota Bandung sejak lama menyebut diri sebagai Paris van Java. Mungkin yang agak ke luar sedikit adalah Kota Surabaya yang mem-branding diri dengan Smart City.

Padahal, bukan hanya pariwisata yang bisa ’’dijual’’ daerah. Contohnya, Selandia Baru. Mereka membangun citra negaranya dengan produk susu segar dan agrobisnisnya. Langkah itu ternyata mampu mengundang investor untuk menanamkan modalnya dalam bisnis peternakan sapi dan pengolahan susu serta perkebunan kiwi dan apel.

Dukungan Pusat

City branding sama sekali tidak untuk menggantikan strategi pembangunan daerah. Ia hanya menjadi pelengkap. Meski begitu, city brandingibarat brand promise. Ia juga janji. Jadi, harus ditepati. Karena itu, slogan sebuah kota harus menjadi mimpi bersama seluruh warganya.

Itu tidak mudah. Contohnya begini. Kita dengan mudah menemukan kota yang menyebut dirinya bersih dan beriman. Tetapi, sebentar saja berkeliling kota, kita dengan mudah menemukan timbunan sampah di berbagai sudut. Sampah itu basah dan berbau lagi. Artinya, sudah berhari-hari tidak diangkat.

Apanya yang beriman? Lihat saja, kekerasan yang bernuansa agama kerap terjadi di kota-kota tersebut. Berbeda sedikit saja tentang keyakinan, kekerasan mudah tersulut dan dibiarkan pula.

Mungkin ada benarnya syair lagu, ’’…tapi janji, tinggal janji.’’ Keberhasilancity branding memang sangat ditentukan oleh pengertian para pemangku kepentingan di kota tersebut.

Malahan, bukan hanya itu. Dalam sejumlah kasus, city branding juga memerlukan dukungan pemerintah pusat. Celakanya, banyak pula pejabat di pusat yang tidak seiring sejalan dengan pemerintah daerah.

Dulu, semasa menjadi gubernur Gorontalo, Fadel Muhammad ingin membangun daerahnya sebagai provinsi jagung. Karena itu, dia menganjurkan rakyatnya menanam jagung sampai berlimpah.

Suatu ketika, industri pakan ternak di Jawa mengeluh kekurangan jagung. Mestinya itu menjadi peluang. Tetapi, apa yang terjadi? Menteri perdagangan ketika itu malah membuka keran impor jagung.

Akibatnya, harga jagung pun anjlok. Para petani babak belur. Mereka kapok menanam jagung. Begitulah nasib city branding kalau yang satu maunya ke kanan, yang lain ke kiri.

Tentang HOME EDUCATION Berbasis POTENSI FITRAH

Harry Santosa – Millenial Learning Center
27 Januari 2015

Home Education

Home Education atau home based education atau pendidikan berbasis rumah adalah amanah dan kesejatian peran dari setiap orangtua yg tak tergantikan oleh siapapun dan tdk bisa didelegasikan kpd siapapun.

HE bukanlah memindahkan persekolahan ke rumah, bukan pula menjejalkan (outside in) berbagai hal kpd anak2 kita namun membangkitkan dan menumbuhkan (inside out) potensi fitrah2 dalam diri kita dan anak2 kita agar mencapai peran sejati peradabannya dengan semulia2 akhlak.

Rumah2 kita adalah miniatur peradaban, bila potensi fitrah2 baik bisa ditumbuhsuburkan dan dimuliakan di dalam rumah2 kita maka secara kolektif menjadi baik dan mulialah peradaban.

Setiap anak kita setidaknya memiliki 4 potensi fitrah sejak dilahirkan

1. Potensi fitrah keimanan, setiap bayi yg lahir pernah bersaksi bhw Allah sbg Robb. Maka setiap bayi yg lahir pd galibnya mengenal dan merindukan sosok Robb.
2. Potensi fitrah belajar, setiap bayi yg lahir adalah pembelajar tangguh sejati
3. Potensi fitrah bakat, setiap bayi yg lahir adalah unik, memiliki sifat bawaan yg kelak akan menjadi panggilan hidup dan peran spesifik nya di muka bumi
4. Potensi fitrah perkembangan, setiap bayi sampai aqilbaligh dan sesudahnya, memiliki tahap2 perkembangan yg harus diikuti. Tdk berlaku kaidah makin cepat makin baik.

Ke 4 potensi fitrah ini sebaiknya simultan, seimbang dan terpadu. Kurang salah satunya akan memberikan hasil yang tidak paripurna. Jika pendidikannya benar dan tepat, maka resultansi dari ke 4 fitrah ini adalah insan kamil yang memiliki peran peradaban.

Fitrah bakat tanpa fitrah keimanan akan melahirkan talented professional yang berakhlak buruk, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah bakat akan melahirkan orang2 beriman yg paham agama namun sedikit bermanfaat.

Lihatlah mereka yang berbakat menjadi pemimpin tanpa akhlak maka akan menjadi diktator. Begitupula mereka yang bertauhid tanpa bakat, akan sangat sedikit memberi manfaat.

Fitrah belajar tanpa fitrah keimanan akan melahirkan para sciencetist dan innovator yang berbuat kerusakan di muka bumi, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah belajar akan melahirkan generasi agamis namun mandul dan tidak kreatif.

Fitrah belajar tanpa fitrah bakat akan melahirkan pembelajar yang tidak relevan dengan jatidirnya, begitupula sebaliknya, fitrah bakat tanpa fitrah belajar akan melahirkan orang berbakat yang tidak innovatif. Berapa banyak kita lihat orang yang bakatnya hanya berhenti sebagai hobby semata.

Semua fitrah personal itu jika tidak ditumbuhkan sesuai fitrah perkembangannya akan membuat generasi yang tidak matang dan tidak utuh menjadi dirinya.

Fitrah belajar dan fitrah bakat yang tumbuh bersamaan dengan fitrah keimanan sesuai fitrah perkembangan akan melahirkan generasi aqilbaligh yg inovatif, produktif dan berakhlak mulia.

Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasispotensi
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Konsep dan Teknis Aqil Baligh >15 tahun

Winda Maya Frestikawati
21 Oktober 2014

Diskusi mingguan di group Home Education berbasis Potensi dan Akhlak kali ini membahas tentang pendidikan agil baligh untuk usia 15 tahun ke atas. Digawangi langsung oleh Subject Matter Expert (SME) tetap kami yaitu Bapak Harry Santosa (founder MLC sekaligus praktisi HE sejak 1994) dan Bunda Septi Peni Wulandani (founder IIP sekaligus praktisi HE sejak 1996) membuat diskusi ini sangat sarat ilmu pendidikan.

Usia 15 tahun ke atas ini anak-anak kita sudah bukan anak-anak lagi, karena mereka sudah masuk aqil baligh, Insya Allah. Anak-anak ini sudah menjadi individu yang sama dengan orangtuanya. Sama-sama memiliki tanggung jawab sosial dan memikul kewajiban syariah selaku individu aqil baligh. Di usia ini hubungan kita dengan anak-anak harus bisa menjadi sahabat. Tidak boleh terlalu ikut campur tangan urusan mereka, arena kita pun juga tidak terlalu suka jika orang lain ikut campur urusan kita.

Prinsipnya “apa yang kita tidak suka orang lain perlakukan kepada diri kita, maka jangan lakukan pada anak kita yang sudah aqil baligh ini”

Dari sisi visi dan misi hidup anak-anak aqil baligh sudah menemukan potensi dirinya dan mampu mengembangkan potensi diri, potensi alam dan potensi jaman yang disesuaikan dengan keadaan dan lingkungan sekitar. Karena pemimpin lahir sesuai jamannya dan sesuai orang yang dipimpinnya. Anak-anak sering diajak melihat case kehidupan di sekitarnya, kemudian mencari problem solving. Contoh : kemacetan bandung, challenge : andaikata kamu yg pegang bandung, apa yg akan kamu lakukan? Kemudian di break down dengan langkah kecil yang bisa dia lakukan sekarang.Lama- lama anak akan jadi project based talent leader.

Urusan iman, akhlak, adab dan bicara sudah tidak dimulai dari awal. Anak anak yang sudah masuk aqil baligh ini tinggal mengimplementasikan ke 4 hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Karena anak-anak aqil baligh ini sudah harus mengusung visi peradaban.

Anak-anak aqil baligh sudah mulai melatih kemampuan mengadabkan manusia, mampu mengadabkan alam, zaman, dan memiliki akhlak mulia. Karena misi kehidupan para aqil baligh tidak akan jauh dari misi hidup Rasulullah yaitu menyempurnakan akhlak manusia. Maka mereka akan memiliki peran peradaban :
a. Sebagai khalifah fil ardl
b. Mampu memikul kewajiban syar’i secara individu dan sosial
c. Menjadi muzakki

Di usia aqil baligh ini para alim ulama sepakat bahwa apabila kita masih menyediakan segala keperluan pribadi anak, termasuk kebutuhan dasarnya maka sifatnya bukan wajib melainkan sedekah.

Mendidik anak agar bisa mandiri secara finansial untuk mencukupi segala keperluan pribadinya di usia tepat saat aqil baligh adalah salah satu tantangan bagi orang tua masa kini. Menelaah kembali metode pendidikan Nabi Muhammmad, sehingga kita dapat mengikuti jejak Rasulullah seperti ini :
Kemandirian Muhammad SAW

Kemandirian Muhammad SAW

Ajarkan kemandirian sejak kecil, mulailah budayakan nyantrik/magang dimulai saat usianya 12 tahun ke atas. Kemudian ajak anak untuk mengerjakan aktivitas di ranah passionnya terus menerus sehingga menjadi produktif. Di titik ini anak sudah dibekali ilmu ikhtiar dan rizqi, sehingga saat 15 tahun ke atas anak paham bahwa bukan tugas kita mengkhawatirkan rizqi, melainkan menyiapkan jawaban “dari mana” dan “untuk apa” atas tiap karunia. Karena betapa banyak orang bercita-cita menggengam dunia, tapi mereka lupa bahwa hakikat rizqi bukanlah yang tertulis dalam angka, tapi apa yang dinikmatinya dan yang bermanfaat untuk banyak orang.

Anak2 15 th ke atas harus mulai paham bahwa ikhtiar itu bagian dari ibadah, sedangkan rizqi itu urusan Allah. Ikhtiar itu laku perbuatan yang harus dilakukan sungguh-sungguh, rizqi itu kejutan dariNya. Jika pola yang kita lakukan sesuai pola mendidiknya Rasul, maka akan banyak para calon imam keluarga dan calon ibu baik di muka bumi ini.

Saat ini jika dikonversi usia 20 th ke atas setara dg usia 14-15 th di jaman Rasulullah. Ada upaya pelambatan usia aqil baligh, sehingga terjadi banyak penyimpangan perilaku anak muda, ZERO WASTE GENERATION. Untuk anak perempuan dan laki-laki pola pendidikannya tidak dibedakan (sama), karena aqil balighnya hampir bersamaan. Kalau untuk anak perempuan justru kalau di usia aqil baligh dia sudah bisa menjadi muzakki, maka peluang besar untuk nenjadi ibu professional sangat besar, karena mesin uangnya sudah berjalan sendiri. Bagi generasi yang sudah mengalami perlambatan aqil, perlu usaha lebih untuk mencapainya. Yang pertama harus segera kenali diri, temukan passion dan produktiflah di ranah passion kita.

Semakin dini kita persiapkan pendidikan berbasis potensi dan akhlak kepada anak- anak kita, maka semakin cepat anak-anak “terpanggil” dalam menunaikan ibadah syar’i termasuk diantaranya haji dan nikah di usia muda. Karena prinsipnya bukan orang yang “mampu” yang akan dipanggil oleh Allah SWT, melainkan Allah akan “memampukan” orang yang terpanggil.

Mari kita siapkan diri kita, agar Allah memampukan.

Salam HE,
Winda Maya Frestikawati

Sumber http://windafrestikawati.wordpress.com/2014/10/21/konsep-dan-teknis-aqil-baligh-15-tahun/

Nasib PSC dan Masa Depan Industri Hulu Migas

M Hakim Nasution ; Managing Partner of Hakim dan Rekan Law Office, Jakarta
MEDIA INDONESIA, 20 November 2014

TIDAK ada yang akan menyangkal jika Indonesia dikatakan kaya akan sumber daya alam termasuk sumber daya energi. Namun, untuk mendapatkan manfaat sebesarbesarnya atas kekayaan alam tersebut, bukanlah pekerjaan gampang. Perlu dilakukan kegiatan-kegiatan eksplorasi juga produksi minyak dan gas (migas) yang memerlukan dana tidak sedikit, teknologi yang mahal, serta berisiko tinggi.

Indonesia ditengarai masih memiliki potensi cadangan migas baru sebesar 43,7 miliar barel. Tentunya, potensi migas itu masih perlu ditindaklanjuti dengan kegiatan eksplorasi lanjutan untuk menjadikannya sebagai cadangan migas yang terbukti. Mengingat bahwa saat ini potensi cadangan migas umumnya terletak di wilayah laut dalam atau di daerah yang sangat minim infrastruktur. Hal tersebut tentu berdampak pada tingginya kebutuhan biaya dan teknologi bagi siapa pun yang akan melakukan kegiatan eksplorasi.

Dalam hal itu, pemerintah Indonesia tidak mau mengambil risiko yang sedemikian besar itu sendirian. Oleh karena itu, bermitra dengan pihak swasta baik nasional maupun asing merupakan satu-satunya pilihan agar pemerintah Indonesia mampu mengembangkan sumber daya migas dengan risiko yang minim serta memberikan manfaat yang optimal.

Dalam mengelola sektor migas pemerintah Indonesia menggunakan sistem kerja sama bagi hasil atau yang dikenal sebagai Production Sharing Contract (PSC). Sistem kerja sama ini pertama kali diperke nalkan Ibnu Sutowo pada 1956, namun PSC baru benar-benar diterapkan pada 1966.

Syarat dan ketentuan PSC ditetapkan pemerintah semata-mata untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat Indonesia. Model PSC itu telah digunakan lebih dari 72 negara di dunia yang tersebar di Afrika Utara, Asia, Timur Tengah, Amerika Utara, dan Amerika Selatan.

Kepercayaan perusahaan migas atau Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan komitmen pemerintah Indonesia dalam menjalankan PSC secara utuh telah mampu mendorong kegiatan eksplorasi yang diperlukan untuk menambah cadangan dan produksi nasional selama puluhan tahun.Meskipun tidak semua kegiatan eksplorasi memberikan hasil yang diharapkan bahkan menimbulkan kerugian puluhan triliun rupiah bagi KKKS, namun hal tersebut tidak mengurangi komitmen KKKS untuk menemukan cadangan migas dan peluang-peluang baru.

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menduga bahwa pembagian produksi migas berdasarkan PSC telah merugikan negara. Padahal, selama ini sistem kerja sama PSC telah berhasil memberikan manfaat yang besar bagi pemerintah Indonesia dalam menunjang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dalam PSC, KKKS harus menanggung semua risiko dan biaya yang dikeluarkan sampai ditemukannya cadangan migas bernilai komersial menurut pemerintah Indonesia. Apabila dalam proses nantinya tidak ditemukan cadangan migas yang memiliki nilai komersial, KKKS tidak berhak mendapatkan pengembalian biaya yang telah dikeluarkannya.

Ketika ditemukan cadangan migas yang memiliki nilai komersial, maka hasil produksi migas (dalam bentuk minyak atau gas) akan dibagi antara pemerintah Indonesia dan KKKS dengan kisaran pembagian minyak bumi 85% untuk pemerintah Indonesia dan KKKS 15%, sementara untuk gas pemerintah Indonesia menerima 65% ,sedangkan KKKS 35%.

Saat ini kegiatan eksplorasi migas menjadi sangat relevan untuk dilakukan di tengahtengah kondisi penurunan cadangan migas Indonesia yang diperkirakan hanya tersisa sekitar 3,9 miliar barel sementara konsumsi harian masyarakat terus meningkat mencapai 1,5 juta barel. Dengan konsumsi harian sebesar itu cadangan migas tersebut diperkirakan akan habis dalam kurun waktu beberapa puluh tahun mendatang sehingga kegiatan eksplorasi harus segera dilakukan.

Selain itu, penerimaan negara untuk APBN dari sektor migas masih dominan setelah pajak. Bahkan, realisasi penerimaan migas pada 2013 melebihi target yang ditetapkan, yaitu sebesar Rp305,57 triliun dari target yang ditetapkan sebesar Rp267,12 triliun. Hal itu memperlihatkan bahwa investasi di sektor hulu migas masih berperan penting untuk meningkatkan penerimaan negara dan oleh karenanya investasi sektor hulu migas perlu ditingkatkan.

Terkait dengan hal itu, pemerintahan Jokowi-JK dan jajarannya perlu memastikan bahwa PSC yang menjadi komponen utama dalam menarik investasi di sektor hulu migas dapat terus dijalankan secara utuh dan konsisten. Menurut data Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) hingga April 2014, investasi di sektor hulu migas mencapai US$6,88 miliar, sedangkan target investasi di 2014 sebesar US$25,44 miliar. Tidak mungkin kita berharap investasi di sektor hulu migas akan terus bertambah jika tidak ada kepastian hukum dan jaminan bagi investor bahwa kontrak yang telah disepakati akan dihormati sampai berakhirnya jangka waktu kontrak.

Sayangnya, mendung tebal saat ini sedang bergelayut di industri hulu migas Indonesia, menyusul keputusan bersalah dari Mahkamah Agung (MA) atas kasus hukum yang menimpa karyawan dan kontraktor PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) terkait program bioremediasi. Menurut kontrak PSC, semestinya setiap isu atau persoalan dalam proyek hulu migas termasuk bioremediasi itu dapat diselesaikan dengan mekanisme penyelesaian perdata yang sudah diatur dalam PSC. Putusan MA kepada karyawan CPI menimbulkan kecemasan bagi KKKS yang merasa tidak adanya kepastian dan perlindungan serta konsistensi hukum.

Keputusan MA terkait kegiatan bioremediasi sebetulnya menunjukkan ketidakpahaman aparatur penegak hukum di Indonesia terhadap PSC. Kekeliruan proses hukum itu pada akhirnya dapat berbuah pahit bagi rakyat Indonesia karena industri hulu migas merupakan penyumbang APBN terbesar.
Ketiadaan upaya hukum melawan putusan kasasi akan melemahkan posisi PSC sebagai dasar dilaksanakannya operasi hulu migas. Hal itu berarti semakin sulit bagi para investor untuk mengambil keputusan investasi di sektor hulu migas dan artinya perkembangan industri hulu migas terancam mengalami kemunduran.

Kini tinggal menunggu langkah nyata Jokowi-JK untuk meluruskan kembali arah penegakan hukum dan kepatuhan atas ketentuan PSC dalam industri hulu migas nasional.