Persekolahan & Ujian Nasional

Dalam Rangka Memperingati Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2017

Wicak Amadeo

Persekolahan dengan Ujian Nasional terbukti tak memberikan kontribusi bagi Perekonomian Indonesia. Keluarga Indonesia yang fokus membentuk jatidiri putra putrinya dengan tumbuhnya Fitrah dan Adab serta Talenta secara paripurna diharapkan akan memberikan kontribusi bagi peradaban masa depan Indonesia, termasuk perekonomian negara. Bonus Demografi dapat dipetik jika fokus pada penumbuhan fitrah dan pengembangan talenta, bukan semata untuk industri, tetapi untuk kemajuan bangsa secara keseluruhan.

Indonesia hari ini adalah negara karyawan karena perolehan pajak penghasilan lebih ditopang oleh pajak karyawan-pekerja ketimbang pajak para pemilik perusahaan dan manajer perusahaan. Ini merupakan keanehan yang tidak baik (outliers). Profil pajak negara-negara menengah dan negara maju menunjukkan bahwa komposisi pajak terbesar adalah Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi termasuk pemilik perusahaan dan manajer perusahaan disusul pajak perusahaan (pajak badan), dan selanjutnya pajak pembelian barang (PPn).

Di Indonesia, dari dana pendidikan APBN Rp 400 triliun, alokasi pelatihan kerja (bukan SMK dan pendidikan kedinasan seperti STAN, Akademi Imigrasi) hanya di bawah Rp 2 triliun-Rp 3 triliun yang dikelola oleh dua atau tiga kementerian (Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Perindustrian, dan kementerian lainnya).

Di Jerman, semua pelatihan vokasi yang diselenggarakan didanai oleh industri dalam sistem pendidikan ganda (dual system). Separuh waktu siswa SMP-SMA belajar di sekolah (didanai oleh pemerintah) dan separuh waktu untuk praktik kerja dan belajar keahlian spesifik di industri (didanai oleh industri-perusahaan)

Prinsip-prinsip dasar proses pembelajaran menurut Ki Hadjar Dewantoro bahwa dalam proses pembelajaran seorang pendidik hendaknya bisa:

• ING NGARSA SUNG TULADHA yang artinya: di depan, seseorang harus bisa memberi teladan atau contoh.
Dalam pengertian ini, bahwa proses pembelajaran contoh atau teladan menjadi kata kunci kesuksessan dalam pembelajaran. Pembelajaran di sekolah senantiasa terjadi proses imitasi atau proses peniruan dari contoh atau teladan, sehingga ketika pembelajaran berlangsung seorang pendidik harus menstrasfer pengetahuan tentang sesuatu yang dipelajari siswa dengan benar dan tepat. Selain itu siswa tidak hanya mempelajari mengenai pengetahuan saja melainkan belajar dengan lingkungannya seperti belajar mengenai pribadi pendidiknya. Oleh karena itu pendidik selain menguasai pengetahuan dia juga harus mempunyai pribadi yang dapat dicontoh.

• ING MADYA MANGUN KARSA yang artinya: ditengah – tengah atau diantara seseorang bisa menciptakan prakarsa dan ide.
Pada pengertian itu, seseorang dapat menciptakan prakarsa atau ide diantara orang lain). Dalam proses pembelajaran di sekolah, berarti seorang guru harus dapat menciptakan prakarsa dan ide para siswanya ketika mereka dalam proses pembelajaran. Sehingga kata kunci kesuksesan dalam pembelajaran adalah pendidik bisa membangkitkan minat dan semangat belajar siswa , disini guru dituntut menjadi penggali minat dan pemompa semangat belajar anak .
Sehingga setiap anak mampu berfikir kritis dan belajar mandiri (Cara Belajar Siswa Aktif). Jadi guru sebetulnya tidak perlu banyak mengajar justru lebih perlu menggagas tentang beragam bintang prestasi yang perlu setiap siswa gapai.

• TUT WURI HANDAYANI yang artinya: dari belakang seorang pendidik harus bisa memberikan dorongan dan arahan.
Pada pengertian itu seseorang harus dapat mendorong orang yang dalam tangungjawabnya untuk mencapai tujuan secara berkelanjutan dalam pekerjaannya. Dalam proses pembelajaran, guru harus memberi dorongan kepada siswanya untuk selalu belajar dengan tuntas dan maju berkelanjutan. Sehingga kata kunci sukses dalam pembelajaran adalah belajar tuntas dan berkelanjutan.

.

Pendidikan Anak Menuju Aqil Baligh

Dr Malik Badri, seorang Psikolog Muslim asal Sudan, pendiri International Association of Muslim Psychologists (Asosiasi Psikolog Muslim Internasional), pada tahun 1980-an dan tahun 2000-an pernah ke Indonesia, beliau dikenal dengan bukunya yang berjudul Dilemma Psikolog Muslim, sudah diterjemahkan sejak lama di Indonesia.

Beliau mengatakan bahwa penjenjangan toddlers, kids, teenagers, adults, dimana masing-masing ada tahap awal, tengah, dan akhir, lalu ada pubertas dan sebagainya, sesungguhnya tidak pernah bisa dibenarkan secara ilmiah. Itu hanya pengamatan masyarakat barat terhadap masyarakat mereka. Penjenjangan tidak ilmiah ini kemudian masuk ke dalam penjenjangan sistem persekolahan.

Sementara Islam hanya mengenal dua fase saja, yaitu fase sebelum aqilbaligh, dan sesudah aqilbaligh. Baligh pada anak pria ditandai dengan mimpi basah (ihtilam), dan pada wanita ditandai dengan menstruasi (haidh).

Islam, bahkan dunia sampai abad 19 tidak mengenal fase remaja (adolescence). Fase ini diciptakan pada era industri sampai kini dengan berbagai kepentingan konglomerasi akan sebuah kelas konsumtif dan kepentingan negara sepihak untuk memanipulasi data demografis.

AqilBaligh dalam Islam tentu bukan sekedar pertanda fisik, namun juga pertanda berpindahnya fase anak sebelum wajib syariah, dan fase sesudahnya yaitu pemuda, fase dimana jatuhnya kewajiban menjalankan syariah, atau masa pembebanan syariah, atau sinnu taklif.

Islam tidak mengenal aqil belum baligh, atau baligh belum aqil (remaja).

Ketika seorang anak mencapai aqilbaligh, maka dia tidak lagi disebut anak, tetapi seorang pemuda yang setara dengan kedua orangtuanya dalam kewajiban ibadah, jihad, zakat, nafkah dan seterusnya.

Semua ulama fiqih sepakat, bahwa anak lelaki yang sudah mencapai AqilBaligh, maka orangtua tidak wajib lagi menafkahinya. Jika ada anak lelaki yang aqilbaligh yang masih dinafkahi, maka sebenarnya bukan nafkah tetapi shodaqoh, karena statusnya faqir miskin.

Oleh karenanya, sistem pendidikan Islam seharusnya menyiapkan anak lelaki agar mampu menjadi mukalaf atau orang yang mampu memikul syariah tepat ketika dia aqilbaligh.

Sayangnya, sistem pendidikan kita umumnya abai terhadap konsep dan praktek AqilBaligh ini. Syariah yang diajarkan akan tidak banyak artinya, jika anak tidak mencapai aqil ketika baligh, artinya mereka tidak mampu memikul beban syariah.

Ada kesenjangan yang lebar antara aqil dan baligh. Anak-anak yang sudah dewasa secara biologis atau mampu bereproduksi (baligh), ternyata tidak lantas menjadi mampu dewasa secara psikologis, finansial, mandiri memikul syariah, dan kewajiban sosial lainnya (aqil). Umumnya baligh terjadi di usia 12-14 tahun, tetapi Aqil baru dicapai di usia 22-24 tahun.

Riset membuktikan bahwa dalam sistem persekolahan dan sosial modern, telah terjadi pembocahan (infantilization) yang panjang. Kenakalan, kegalauan, depresi, penyimpangan sosial, dan perilaku sex dan lain-lain, diakibatkan karena kesenjangan antara masa tibanya baligh (dewasa biologis reproduktif) di usia 12-14, dengan tercapainya aqil (dewasa psikologis produktif) di usia 22-24 bahkan lebih.

Sampai disini, maka bisa dipahami betapa pentingnya mendidik generasi aqilbaligh, generasi yang aqil dan baligh dicapai bersamaan.

Kapan dimulai pendidikan generasi aqilbaligh, tentu sejak usia dini, 0-6 tahun. Titik kritisnya di usia 7 dan 10 tahun. Kritisnya fase ada di pre AqilBaligh, usia 10-14 tahun. Catatan bahwa Usia 14 adalah rata-rata usia seseorang mencapai baligh.

Usia 10 tahun adalah titik kritis untuk “mengenal” Allah (fitrah keimanan) dan “mengenal diri” (fitrah bakat) secara mendalam. Usia 11-14 tahun, anak-anak pre aqilbaligh akan menjalani masa yang paling berat sepanjang masa anak-anaknya karena inilah persiapan aqil baligh.

Bagaimana pada fase pre aqilbaligh, fitrah keimanannya berwujud menjadi akhlak yang mulia yang dibutuhkan sebagai credibility attitude dan sosialnya pada fase aqilbaligh. Bagaimana pada fase pre aqilbaligh, fitrah bakat dan fitrah belajar berwujud menjadi peran dan karya produktif yang dibutuhkan sebagai kredibilitas kompetensinya, dan kredibilitas peran profesinya pada fase aqilbaligh.

Pada prinsipnya, mendidik anak laki-laki dan anak perempuan sama, yaitu merawat dan menumbuhkan fitrah, baik fitrah keimanan (aqidah), fitrah belajar dan nalar, fitrah bakat dan peran sesuai tahapan usianya.

Hanya yang membedakan adalah fitrah peran kelelakian, dan peran keayahan yang harus dibangkitkan pada anak laki-laki. Diantara kewajiban anak laki-laki ketika mencapai aqilbaligh adalah menjadi Qowam, pencari nafkah, dan pemimpin rumah tangga, perancang visi rumah tangga, dan seterusnya.

Karenanya, leadershipnya bisa dimulai sejak usia dini dengan yang paling sederhana, misalnya memelihara hewan dan tumbuhan. Rasulullah SAW menggembala kambing ketika usia dini (0-6 tahun) di Bani Sadiah. Setelah itu usia 7-10 tahun mulai libatkan dalam project-project sederhana di rumah. Usia 11-14 tahun mulai antarkan ke Maestro atau pakar/maestro yang sesuai bakatnya untuk magang. Rasulullah SAW mulai magang bersama pamannya di usia 11-12 tahun.

Di usia ini, menitipkan anak pada keluarga sholehah (homestay) atau Murobby (pendamping akhlak) juga penting untuk menularkan keteladanan dan keshalihan.

Seorang Ayah Pendidik, sebaiknya jauh-jauh hari mengingatkan putranya bahwa saat baligh mereka harus menghidupi diri sendiri. Inilah cuplikan diskusi seorang Ayah Pendidik dengan putranya saat sang putra sudah baligh.

“Saat ini kamu sudah baligh. Rekening Rezeki kamu sudah Allah pindahkan ke bahumu sendiri, tidak lagi bersama Ayah. Saat ini, Rekening Rezeki yang masih bersama Ayah adalah: Rekening Rezeki Ayah, Rekening Rezeki Bunda, Rekening Rezeki adik-adik, dan Rekening Rezeki golongan orang tidak mampu yang Allah titipkan pada rekening Ayah. Namun, Ayah takkan keberatan bersedekah dari rezeki Ayah untuk kamu. Jadi, saat ini kamu hidup dari sedekah Ayah. Saat ini, kamu menumpang hidup di rumah Ayah. Maka, berlaku lah sebagai sebaik-baik tamu”

Inilah dialog seorang Ayah Pendidik profesional penegak Sistem Berpikir dan Supplier Maskulinitas untuk sang putra.

Anak laki-laki yang sudah baligh juga tidak lagi dipenuhi permintaannya 100%, namun diajak untuk memikirkan solusi. Saat anak laki-laki minta dibelikan motor, misalnya, seorang Ayah Pendidik hendaknya mensyaratkan : 10%nya adalah uang kamu, bensinnya kamu yang isi, service Ayah yang tanggung 50%. Lalu apa yang terjadi? Seorang putra baligh akan memilih dengan penuh pertimbangan, memilih motor yang murah dan sesuai kebutuhannya. Hal serupa dapat diterapkan jika yang diminta adalah gadget atau laptop.

MENDIDIK bukan mengajar. Sekolah tidak bisa mendidik, sekolah hanya bisa mengajar. Ilmu Pengetahuan dapat ditransfer oleh siapapun, keterampilan (soft skills, hard skills) dapat ditransfer oleh siapapun, namun KARAKTER hanya bisa dibangun oleh Ayah Bunda di rumah, dengan KETULUSAN. Mendidik itu hanya bisa dilakukan dengan ketulusan.

.

Prinsip Mendidik Fitrah Bakat

قُلْ كُلٌّ يَّعْمَلُ عَلٰى شَاكِلَتِهٖ ؕ فَرَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ اَهْدٰى سَبِيْلًا
Katakanlah (Muhammad), “Setiap orang berbuat sesuai dengan bakat pembawaannya masing-masing.” Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.
[QS. Al-Isra’: Ayat 84]

Setiap anak lahir dengan membawa fitrah. Secara garis besar, yang pertama, fitrah ada yang terkait dengan Ketuhanan dan Keagamaan yaitu potensi serta dorongan bawaan manusia untuk menerima Ketuhanan atau Keagamaan. Yang kedua, fitrah ada yang terkait dengan kemanusiaan itu sendiri yaitu potensi bawaan manusia (innate goodness atau innate character) untuk menjalani peran peran terbaik di muka bumi. Diantara fitrah itu adalah fitrah bakat.

1. Jangan Sia Siakan Bakat. Ibnul Qayyiem dalam bukunya Tuhfatul Maudud mewanti wanti agar kita janganlah sampai melalaikannya sehingga anak kehilangan perannya. Banyak bersyukurlah (optimis dan tenang) atas fitrah bakat tiap anak dan yakinlah bahwa tiap anak kita dengan fitrah bakatnya pasti punya peran spesifik istimewa di muka bumi yang ditunggu tunggu dunia di masa depan.

2. Bakat untuk mencapai Maksud Penciptaan. Jika peran spesifik istimewa atas fitrah bakat ini dicapai atau “accomplished” maka maksud penciptaan untuk menjadi Hamba Allah dan Khalifah Allah akan juga tercapai. Maka mendidik fitrah bakat adalah menemani anak anak kita untuk menemukan jatidirinya sesuai tahapan usianya (lihat no 7,9,10) dan menghantarkan mereka untuk menjalani peran spesifik peradaban di dunia yang sesuai dengan fitrah bakat atau sifat uniknya itu dalam rangka memenuhi maksud penciptaan itu.

3. Temukan Peran Unikmu Sendiri. Mendidik tiap aspek fitrah harus berujung kepada peran spesifik terbaik dan adab mulia sesuai atas aspek fitrah bakatnya itu. Mendidik fitrah bakat harus berujung kepada agar anak anak kita memiliki peran peradaban spesifik di dalam bidang kehidupan di masyarakat dengan kemauan memberi sebanyak banyak manfaat atau memberi adab mulia bagi kehidupan. Peran spesifik ini bisa jadi belum ada contohnya pada saat ini, tugas kitalah mendorong anak anak kita menemukan peran uniknya sendiri atas fitrah bakatnya itu. Jangan pernah menyuruh anak kita menjadi versi kedua dari orang lain. Sebagai catatan bahwa fitrah bakat ini ada yang terkait dengan keistimewaan sifat (suka memimpin, suka mengatur, suka meneliti, suka merancang dll) dan ada yang terkait dengan keistimewaan fisik (olahraga, memasak, dll).

4. Dipandu Kitabullah. Mendidik fitrah bakat harus dipandu dengan nilai nilai Kitabullah agar menjadi peran yang menebar rahmat (rahmatan lil alamin) dan kabar gembira serta peringatan (bashiro wa nadziro)

5. Bakat itu Karakter Unik Bawaan. Diantara makna kata “Fithrah” adalah Al-Ibtida atau diciptakan tanpa contoh alias unik. Jadi makna fitrah bakat adalah sifat unik atau fitur unik manusia, tentu yang positif. Fitrah bakat merupakan karakter unik yang merupakan bawaan lahir (nature character) yang melekat pada personaliti manusia sehingga membuatnya unik dalam berfikir, merasa dan bertindak. Karena ini nature character maka sudah keren tanpa membutuhkan banyak kursus atau training. Hanya memerlukan aktifasi dan penguatan. Karenanya Bakat disebut karakter kinerja.(performance character).

6. Bakat itu Passion, Hebat belum tentu Bakat. Jangan tergesa menganggap sesuatu yang nampak hebat dari anak kita itu bakat, karena bakat memerlukan passion atau enjoy ketika melakukannya. Fitrah bakat atau Sifat unik ini Allah instal sejak lahir agar kelak manusia memiliki peran peradaban spesifik dalam satu atau beberapa bidang dalam kehidupan masyarakat atau peradabannya pada sebuah zaman dimana mereka ditakdirkan hidup. Fitrah bakat adalah panggilan hidup yang terlihat dari bagaimana manusia menjalaninya dengan ghairah, passion dan bahagia.

7. Pada tahap usia 0-6 tahun, fitrah bakat akan nampak sebagai sifat unik, maka amati dan buatlah jurnal aktifitas yang dapat merekam sifat uniknya, yaitu aktifitas yang relevan dengan sifat uniknya dengan ciri antusias, bahagia, keren dalam melakukannya.

8. Jangan Benturkan dengan Adab/Akhlak. Beberapa sifat unik di bawah 7 tahun bisa jadi terlihat “tidak beradab”, misalnya keras kepala, cerewet, cengeng, penakut dsbnya. Maka jangan tergesa dibenturkan dengan adab atau akhlak, banyak bersyukurlah bahwa Allah tidak mungkin menciptakan anak yang jahat dan tidak punya masa depan. Lihatlah bahwa anak keras kepala itu sesungguhnya berbakat sebagai pemimpin, tidak ada pemimpin yang mudah diatur bukan? Anak cerewet itu sesungguhnya adalah komunikator atau orator atau presenter dsbnya yang handal, bukankah semua peran itu bukan peran pendiam?

9. Pada tahap usia 7-10 tahun, berikan aktifitas yang relevan dengan sifat unik. Ajak untuk “tour de talents” untuk membuka wawasan aktifitas atau peran yang relevan dengan sifat uniknya itu. Jika sifat uniknya, misalnya suka memimpin, maka berikan aktifitas dimana ananda selalu mendapat kesempatan untuk memimpin. Ingat setiap anak bisa memiliki sifat unik lebih dari satu, sehingga aktifitas yang relevan juga bisa banyak. Diharapkan pada usia 10 tahun sudah bertemu dengan aktifitas yang jika akan memulainya sangat diitunggu ditunggu, ketika menjalankannya sangat enjoy, easy, excellent seolah dunia berhenti berputar, dan ketika mengakhirinya ananda tidak mengatakan, “akhirnya kelar juga”. Pilihlah 2 atau 3 aktifitas yang demikian lalu fokus saja mengembangkannya. Jangan lupa buatlah portfolio anak untuk merekam pencapaiannya.

10. Pada tahap usia 11-14 tahun, pastikan bakat anak sudah jelas atau sudah ditemukan pada usia 10 tahun, jika belum maka prosesnya diulang seperti pada tahap di no 7, 8 dan 10 di atas. Lakukan talents mapping jika masih ragu. Jika sudah yakin maka kembangkan bakat itu dengan konsisten dan disiplin sehingga menjadi peran peradaban terbaik. Berikan Maestro Bakat untuk pemagangan bakatnya dan berikan Murobby/Chaperon untuk menggembleng adab / akhlaknya. Ingat bahwa peran ananda kelak bisa jadi belum ada pada zaman ini. Buatlah personalized curriculum berbasis fitrah bakat untuk memandu pengembangannya.

Tahapan di atas adalah tahapan Ideal, bisa jadi tiap anak berbeda kesempatan untuk mengembangkannya, maka yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan mempersiapkan yang terbaik.

.

Sir Ken Robinson: Bagaimana Menemukan Bakat Sejatimu

Sir Ken Robinson berbicara tentang bagaimana seorang professional menemukan inner talent (bakat) dan passion mereka. Ken Robinson adalah seorang pimpinan berskala internasional dalam bidang pendidikan dan bisnis pengembangan kreativitas, inovasi dan HR. Video terkenalnya di tahun 2006 dan 2010 yang membicarakan tentang Konfrensi TED (Technology, Entertainment, Design) telah dilihat lebih dari 25 juta kali dan ditonton sekitar 250 juta orang di 150 negara. Dia adalah penulis dari The Element, Out of Our Minds dan buku terbarunya saat ini berjudul Finding Your Element: How to Discover Your Talents and Passions and Transform Your Life.

Dalam percakapan berikut, Sir Ken Robinson berbicara tentang bagaimana menemukan bakat unik dan passion Anda, apa yang Anda lakukan jika apa yang menjadi passion Anda adalah sesuatu yang Anda tidak memiliki kemampuan yang memadai untuknya, mengapa tidak setiap orang bisa hidup melakukan apa yang mereka cintai dan banyak hal lain.

Bagaimana orang bisa mengidentifikasi bakat unik dan passion mereka? Apakah ini bisa terjadi dengan adanya kesempatan?

Terjadi atau tidaknya Anda menemukan bakat dan passion Anda adalah tergantung dari kesempatan. Jika Anda tidak pernah berlayar, atau tidak pernah memainkan satu instrument, atau mencoba mengajar atau menulis cerita fiksi, bagaimana Anda akan tahu jika Anda memiliki bakat dalam bidang tersebut? HR seperti juga sumber daya natural bumi: mereka seringkali terkubur di dalam kedalaman dan Anda harus berusaha untuk menemukannya. Temukan Elemen Anda yang menawarkan nasihat, arahan dan latihan praktek yang membantu Anda untuk melakukannya secara sadar dan sistematis.

Bagaimana jika passion seseorang bukan sesuatu yang ia punya kemampuan baik di dalamnya?

Elemennya adalah dimana bakat natural bertemu dengan passion personal. Untuk berada di elemen, tidaklah cukup hanya sekedar melakukan sesuatu yang Anda bisa/ahli. Banyak orang yang bisa dengan baik melakukan sesuatu namun sebenarnya mereka tidak menikmatinya. Menjadi elemen Anda harus mencintainya: jika iya, Anda tidak akan “bekerja” lagi. Passion adalah pengemudi yang mengantar Anda kedalam kesuksesan dalam segala bidang. Terkadang seseorang mencintai sesuatu yang mereka pikir mereka tidak miliki kemampuan di dalamnya. Itu mungkin saja dikarenakan mereka meremehkan bakat mereka atau mereka belum menyentuhnya untuk membuatnya berkembang. Dengan kata lain, passion yang kuat yang bersatu dengan bakat yang rata-rata sekalipun, akan membawa Anda lebih maju daripada bakat kuat namun dengan antusiasme yang minim.

Apakah Anda pikir akan realistik bahwa setiap orang bisa menjadikan passion mereka ke dalam pekerjaan dan memperoleh pemenuhan dalam kehidupan mereka? Mengapa atau mengapa tidak bisa?

Ada orang yang memenuhi kebutuhan mereka dari elemen mereka. Ada yang tidak bisa dan ada yang tidak mau. Menemukan elemen Anda bukan hanya tentang membuat uang: ini tentang bagaimana Anda membentuk hidup Anda dan bagaimana secara keseluruhan Anda bisa memenuhi dan bertujuan. Apakah bisa atau tidak atau mau membuat hidup Anda berada di elemen Anda, Anda berutang kepada diri sendiri untuk memastikan bahwa ada beberapa bagian dari hari atau minggu Anda ketika Anda secara alami melakukannya dan membuat Anda merasa dititik pusat dan otentik.

Dalam masa krisis ekonomi ini, bagaimana Anda bisa meraih rasa percaya diri dalam mengejar mimpi?

Seperti yang saya katakan, berada di elemen Anda akan lebih pada kegemaran daripada pekerjaan. Itu tergantung Anda dan keadaan Anda. Kita semuanya unik dan setiap kehidupan itu berbeda satu dengan yang lain. Tidak ada yang sama dengan Anda. Manusia memiliki kekuatan yang luar biasa dalam imajinasi dan kreativitas. Anda mendesain kehidupan Anda dan Anda juga bisa mengkreasi ulang kehidupan Anda. Dalam masa krisis ekonomi dan ketidakpastian ini adalah penting untuk lebih melihat secara mendalam pada diri Anda sendiri untuk memahami bentuk kehidupan apa yang Anda ingin arahkan dan bakat serta passion yang bisa membuatnya jadi kenyataan.

Tiga saran karir teratas apa yang Anda bisa sampaikan?

Pertama, hidup tidak linier. Apa yang Anda lakukan sekarang, atau yang Anda lakukan di masa lalu, tidak memberikan determinasi apa yang Anda lakukan selanjutnya dan masa depan. Menemukan elemen Anda penuh dengan cerita dan contoh dari orang yang seringkali secara dramatik dan mengejutkan berubah dari arah hidup mereka untuk menjadi elemen mereka.

Kedua, uang bukan jaminan kebahagiaan. Kita semua butuh hidup dan menjaga orang-orang yang bergantung dengan kita. Tapi penelitian dan pengalaman membuktikan bahwa tidak ada kaitan langsung antara kemakmuran dan kesejahteraan. Kebahagiaan jika apa yang Anda inginkan merupakan pengungkapan spiritual bukan material. Itu hadir dari pemenuhan, memiliki tujuan dan merasa autentik.

Ketiga, hambatan terbesar dalam menemukan elemen Anda ada pada diri Anda sendiri. Anda mungkin takut dengan opini orang lain atau Anda akan gagal dan terlihat bodoh. Menemukan elemen Anda membutuhkan keberanian, tapi semua itu pantas untuk dilakukan.

http://www.forbes.com/…/sir-ken-robinson-how-to-discover-y…/

Sir Kenneth Robinson (born 4 March 1950) is a British author, speaker and international advisor on education in the arts to government, non-profits, education and arts bodies. He was Director of the Arts in Schools Project (1985–89) and Professor of Arts Education at the University of Warwick (1989–2001), and is now Professor Emeritus at the same institution. In 2003 he was knighted for services to art.

Originally from a working class Liverpool family, Robinson now lives in Los Angeles with his wife and children.

Robinson has suggested that to engage and succeed, education has to develop on three fronts. First, that it should foster diversity by offering a broad curriculum and encourage individualisation of the learning process; secondly, it should foster curiosity through creative teaching, which depends on high quality teacher training and development; and finally, it should focus on awakening creativity through alternative didactic processes that put less emphasis on standardised testing, thereby giving the responsibility for defining the course of education to individual schools and teachers. He believes that much of the present education system in the United States fosters conformity, compliance and standardisation rather than creative approaches to learning. Robinson emphasises that we can only succeed if we recognise that education is an organic system, not a mechanical one. Successful school administration is a matter of fostering a helpful climate rather than “command and control”

https://youtu.be/FLbXrNGVXfE

.

More than 61 million jobs have been lost since 2008, resulting in more than 200 million people unemployed globally

The youth unemployment rate is nearly 3 times higher than the rest of the population

Nearly 500 million new jobs will need to be created by 2020

Almost 90% of the job creation needed must take place in the developing world, primarily in Africa and Asia

Educators and Employers must work together to address the education skills and employment challenge for individuals, businesses and economies to stay competitives. Current and expected skills gaps need urgent attention. Entrepreneurship, SMEs and the Gig Economy are potential solutions, as well as domestic economic reforms aimed at building human capital.

The 20th century education system needs to be redesigned to meet the real-time needs of the labor market. We need to develop 21st Century Skills such as Critical Thinking, Problem Solving, Creativity, Collaboration, and Digital Literacy, through lifelong learning re-skilling and upskilling programs, using big data to provide accurate information on education skills, demand supply and employment needs, both in the developed and developing world. Join the conversation to mobilise change and ensure future prosperity for all

https://youtu.be/7g8OpiWR83Y

.

Peta Jalan Ketimpangan

Bahwa masalah ketimpangan perlu diatasi, kiranya sudah ada kesepakatan luas di Indonesia dan bahkan di seluruh dunia. PBB dalam dokumen Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goal/SDG) tahun 2015 menyepakati penurunan ketimpangan menjadi satu dari 17 tujuan utama SDG. Demikian juga dengan berbagai keputusan dan laporan dari lembaga-lembaga internasional G-20, Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), dan Forum Ekonomi Dunia (WEF).

Di Indonesia, Presiden Joko Widodo telah menetapkan bahwa menurunkan rasio gini menjadi prioritas pemerintah dalam jangka menengah. Dalam berbagai rapat kabinet, Presiden juga telah memberi arahan agar penurunan ketimpangan menjadi ukuran keberhasilan pembangunan, bukan hanya penurunan kemiskinan dan pengangguran. Yang menjadi soal dan bahan diskusi hari ini bukan lagi soal perlu tidaknya mengatasi ketimpangan, melainkan lebih kepada bagaimana cara menurunkan ketimpangan.

Pertanyaan-pertanyaan mengemuka: (i) apa yang harus dilakukan untuk memperkuat perolehan pajak agar sesuai dengan potensi ekonomi dan jumlah kelompok superkaya; (ii) apa yang harus diubah untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM) dan angkatan kerja Indonesia agar daya saing ekonomi nasional dan perluasan kelas menengah dapat dipercepat; (iii) apa yang harus dilaksanakan untuk memastikan kesetaraan jender agar potensi sosial ekonom kesetaraan jender dapat diraih dalam waktu tidak terlalu lama.

Minggu lalu, INFID-Oxfam telah melansir laporan penelitian tentang ketimpangan di Indonesia. Laporan itu pada intinya berupaya menjawab soal-soal tersebut. Laporan berjudul “Menuju Indonesia Setara (MIS)” mengajak pemerintah untuk melaksanakan dua langkah utama: (i) memperbaiki dan memutakhirkan kebijakan pajak; (ii) memberi prioritas tinggi kepada kualitas SDM dan angkatan kerja—bagaimana meningkatkan kompetensi 60 persen angkatan kerja berpendidikan SD-SMP.

Pajak ketinggalan zaman

Laporan ini juga menyediakan data-data dan analisis perbandingan yang strategis bagi Pemerintah Indonesia untuk melaksanakannya dan mengembangkan.

Tanpa mengecilkan kinerja pemerintah dalam program amnesti pajak, laporan MIS menegaskan perlunya Indonesia terus-menerus memperbaiki dan memutakhirkan kebijakan pajak sehingga dapat mencapai potensinya hingga 20-21 persen dari produk domestik bruto (PDB) sebagaimana dihitung oleh Dana Moneter Internasional (IMF, 2011). Meski Indonesia anggota G-20 dengan kue ekonomi terbesar ke-20 dunia dan menjadi negara observer dalam OECD, kinerja pajak Indonesia masih jauh di bawah rerata negara berpendapatan menengah (middle income), yakni 25 persen dan jauh di bawah negara-negara maju 35 persen. Perolehan pajak Indonesia baru 12-13 persen dari PDB. Presiden Jokowi telah menargetkan kenaikan pajak hingga 16 persen PDB pada tahun 2019.

UU Pajak yang berlaku hingga hari ini terlalu usang, kuno, dan ketinggalan zaman karena tidak mencerminkan perkembangan dan realitas besaran ekonomi dan kemampuan membayar, terutama besaran kelompok superkaya Indonesia. Sementara UU pajak mematok batas tertinggi pajak penghasilan orang pribadi bukan karyawan (PPh) sebesar Rp 500 juta per tahun, kini Indonesia telah memiliki ratusan atau ribuan orang dengan pendapatan di atas Rp 5 miliar per tahun.

Artinya, ketentuan golongan dan tarif pajak penghasilan orang pribadi bukan karyawan perlu diperbaiki sesuai dengan praktik wajar di dunia internasional. Misalnya, pengenaan tarif 40 persen bagi pendapatan di atas Rp 10 miliar per tahun dan 45 persen untuk penghasilan di atas Rp 20 miliar per tahun.

Indonesia hari ini adalah negara karyawan karena perolehan pajak penghasilan lebih ditopang oleh pajak karyawan-pekerja ketimbang pajak para pemilik perusahaan dan manajer perusahaan. Ini merupakan keanehan yang tidak baik (outliers). Profil pajak negara-negara menengah dan negara maju menunjukkan bahwa komposisi pajak terbesar adalah Pajak Penghasilan (PPh) orang pribadi termasuk pemilik perusahaan dan manajer perusahaan disusul pajak perusahaan (pajak badan), dan selanjutnya pajak pembelian barang (PPn)

Pelatihan kerja

Laporan Bank Dunia tentang Ketimpangan Indonesia, Indonesia’s Rising Divide (2015), menyebut salah satu sumber penyebab ketimpangan adalah ketimpangan pasar kerja. Laporan MIS (2017) meyakinkan pengambil kebijakan Indonesia untuk menaikkan alokasi anggaran pelatihan kerja/pelatihan vokasi oleh perusahaan dan BLK (10-20 persen dari dana pendidikan di APBN atau 10-20 persen dari Rp 400 triliun).

Mengapa? Karena, pelatihan vokasi kerja selama ini masih menjadi “anak tiri” ketimbang “anak kandung”. Dua indikator utama adalah: terlalu minimnya alokasi anggaran untuk pelatihan kerja, sementara 60 persen angkatan kerja berpendidikan SD dan SMP. Selain itu, terlalu minimnya peran industri dalam pelatihan kerja.

Mari kita lihat angkanya. Dari dana pendidikan APBN Rp 400 triliun, alokasi pelatihan kerja (bukan SMK dan pendidikan kedinasan seperti STAN, Akademi Imigrasi) hanya di bawah Rp 2 triliun-Rp 3 triliun yang dikelola oleh dua atau tiga kementerian (Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Perindustrian, dan kementerian lainnya).

Peran industri di Indonesia dalam pelatihan kerja juga masih marjinal. Industri belum ikut serta secara aktif dalam pembentukan kurikulum BLK dan SMK agar lulusannya relevan dan cocok dengan kebutuhan pasar kerja. HRD berbagai perusahaan belum membentuk asosiasi yang khusus memajukan dan memperluas pelatihan vokasi. Hasilnya, sejak krisis ekonomi 1997 hingga hari ini, atau 20 tahun, industri Indonesia lebih sering kesulitan mencari tenaga kerja yang pas dan akhirnya lebih memilih membajak talenta dari industri lain ketimbang memproduksi talenta-talentanya sendiri.

Industri-perusahaan

Karena itu, laporan MIS mengajak berbagai perusahaan untuk ikut serta dalam menurunkan ketimpangan. Bagaimana caranya? Setidaknya ada empat cara: (i) patuh membayar pajak, baik pemilik maupun perusahaannya, (ii) ikut serta menyelenggarakan pelatihan kerja, baik untuk pekerjanya sendiri maupun untuk calon pekerja atau pencari kerja; (iv) membayar upah pekerjanya sesuai upah layak, dan (iv) mengalokasikan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk memperluas akses dan mutu pelatihan kerja, baik yang diselenggarakan sendiri dan atau bersama dengan BLK dan lembaga-lembaga pelatihan

Pengalaman negara lain layak kiranya dipelajari, khususnya negara-negara yang berhasil naik kelas dari level menengah menjadi negara maju. Di Korea dan Malaysia, misalnya, terdapat undang-undang yang mewajibkan industri-perusahaan menyisihkan dana untuk pelatihan kerja, dihitung dari total persentase gaji yang dibayarkan.

Di Jerman, semua pelatihan vokasi yang diselenggarakan didanai oleh industri dalam sistem pendidikan ganda (dual system). Separuh waktu siswa SMP-SMA belajar di sekolah (didanai oleh pemerintah) dan separuh waktu untuk praktik kerja dan belajar keahlian spesifik di industri (didanai oleh industri-perusahaan)

Pemerintah dan Kadin-Apindo sebaiknya segera merumuskan langkah menemukan cara meningkatkan peran industri dalam memperluas akses dan mutu pelatihan vokasi. Pemerintah perlu membuka ruang dan menyediakan insentif. Sementara Kadin-Apindo perlu meyakinkan anggotanya, terutama industri besar dan menengah, untuk ikut serta membangun keterampilan dan kompetensi angkatan kerja kita. Untuk kebaikan mereka sendiri dan untuk Indonesia masa depan.

Oleh : Sugeng Bahagijo, Direktur International NGO Forum on Indonesian Development (INFID)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Maret 2017, di halaman 7 dengan judul “Peta Jalan Ketimpangan”.

.

Advertisement

Renungan Pendidikan #79

Harry Santosa
January 20, 2016

Dalam sebuah talkshow di televisi, seorang menteri pendidikan dihadirkan bersama dengan seorang ibu yang “tidak menyekolahkan” anak anaknya, namun berhasil membawa anak anak nya “sukses” dalam usia belasan tahun.

Harap dipahami bahwa “tidak menyekolahkan” bukan berarti tidak terdidik dan tidak
punya kurikulum pendidikan. Jelas punya namun kurikulum pendidikan rumahan ini fokus pada potensi unik anak anaknya dengan orientasi memberi manfaat bagi dirinya dan sekitarnya.

Kurikulum rumahan bukan murahan dalam kualitas, namun fakta kini semakin membuktikan bahwa kurikulum rumahan apalagi bersama komunitas mampu memberikan banyak manfaat yang jelas daripada kurikulum nasional berharga ratusan triliun dengan pacuan dan arah yang tidak kemana mana juga.

Bagi sang Ibu itu, “sukses” dalam usia belasan tentu saja maksudnya bukan dalam medali medali olimpiade maupun nilai akademis, yang menjadi berhala bagi banyak orang padahal tanpa karya dan tidak relevan dengan kehidupan.

Namun sukses yang dimaksud, sebagaimana dipaparkan oleh sang ibu dalam siaran TV
itu, adalah memberi manfaat sebanyak banyaknya bagi banyak orang. Justru inilah tujuan pendidikan sejati yang diakui pada masa lalu, pada masa kini dan pada masa depan..

Di acara itu, Pak Menteri nampak kecut, gesturnya sangat tidak nyaman. Beliau tahu betul bahwa sesungguhnya rumahlah sentra pendidikan terbaik sepanjang masa sejak zaman Nabi Adam AS. Namun mau apa dikata, beliau menjabat sebagai menteri persekolahan nasional yang harus menunjukkan bahwa kurikulum persekolahan nasional adalah yang terunggul.

Lihatlah Beliau meragukan para orangtua mampu merancang kurikulum yang baik dengan mengatakan bahwa kurikulum sekolah telah dibuat selama dua ratus tahun dan teruji, para orangtua harus berhati hati membuat kurikulumnya sendiri.

Padahal, sesungguhnya kitalah para orangtua yang harus meragukan kurikulum mahal nasional berusia dua ratus tahun itu dan bernilai ratusan triliun itu.

Kita semua bukan cuma meragukan kurikulum persekolahan nasional, namun menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kurikulum nasional justru lebih kacau, selalu berganti, bermasalah pada konten lolos sensor, membelenggu kreatifitas guru dan siswa, gagal membentuk karakter, lalai terhadap potensi keunikan anak, tidak punya ukuran dan arah yang jelas kecuali jumlah kelulusan dan lama waktu bersekolah dsbnya.

Kementerian sebagaimana birokrasi lainnya, sudah sangat sibuk mengurusi dirinya, bagaimana bisa mengurusi anak anak kita dengan baik dan telaten satu demi satu. Jadi harap maklum, bahkan para pembuat kurikulum nasional sendiripun senantiasa meragukan kurikulum buatannya.

Tanpa perlu riset mendalam, kita segera tahu, bagaimana mungkin sebuah kurikulum nasional yang seragam dipakai untuk mendidik 56 juta siswa yang Allah ciptakan berbeda, tinggal di tempat berbeda, hidup di zaman yang berbeda di seluruh Indonesia? Bagaimana 2 juta guru, bisa dididik agar setelaten dan seikhlash para orangtua kandung?

Sejujurnya kita hanya perlu guru yang telaten dan ikhlash. Dengan pengetahuan yang tersebar di dunia maya dan di tangan orang orang hebat, maka mohon maaf, yang diperlukan dari seorang guru bukanlah menguasai segala pengetahuan, tetapi yang bisa telaten dan ikhlash menjadi jembatan bagi segala aktifitas dan minat siswanya satu persatu kepada sumber pengetahuan baik dunia maya maupun para maestro di bidangnya.

Kita ragu guru mampu telaten, fokus dan ikhlash. Justru para orangtua beserta komunitasnya punya kemampuan yang lebih banyak dalam hal ini, bahkan jauh lebih telaten, fokus dan ikhlash bila menyadari peran mendidiknya yang diamanahkan oleh Allah SWT.

Semestinya, bagi negara, lebih baik mendidik para orangtua agar sadar dan mampu mendidik anak anak mereka sebaik baiknya dengan akses kepada pengetahuan seluas luasnya daripada mendidik para guru dan membuat kurikulum detail seragam. Cukuplah negara memfasilitasi para orangtua untuk pendidikan usia dini dan dasar, lalu negara fokus pada perguruan tinggi dan riset.

Lalu terakhir Pak Menteri mengatakan bahwa kita ingin anak anak Indonesia menjadi pembelajar yang tangguh. Jadi inikah tujuan pendidikan sesungguhnya?

Perlu dicatat bahwa sekolah sekolah di Indonesia bahkan di dunia, umumnya berhenti sampai “Learning to Know” dan “Learning to do Examination”. That’s all. Memang ada sekolah yang memberikan akses seluasnya bagi siswa untuk memahami fenomena alam, buku yang beragam dsbnya, tetapi ingat bahwa “learning” tidak berhenti pada itu, harus menjadi peran dan manfaat bagi sekitarmya. Tujuan pendidikan harus selaras dengan tujuan penciptaan manusia itu sendiri, yaitu rahmatan lil alamin dan bashiro wa nadziro, memberi rahmat dan menebar manfaat.

Sebagaimana maksud “learning” seperti dikemukakan oleh Dellors, et.al, (1996) dalam naskah Learning: The Treasure Within adalah meliputi: Learning to know (belajar untuk tahu), Learning to do (belajar untuk bisa melakukan), Learning to live together (belajar untuk hidup bersama), Learning to be (belajar untuk menjadi).

Dalam perspektif pendidikan berbasis fitrah, “learning” adalah sebagian saja dari fitrah, yaitu fitrah belajar dan bernalar manusia yang sudah ada sejak lahir. Masih ada fitrah lainnya yang harus ditumbuhkan dalam pendidikan bukan hanya tentang belajar, tetapi fitrah bakat, fitrah seksualitas, fitrah sosial, fitrah estetika, fitrah iman dstnya.

Sejujurnya rumah dan jamaahlah, orangtua dan komunitaslah yang mampu melakukannya lebih tajam dan maksimal apabila dimampukan dan diberi kesempatan tentu saja.
Maka wahai para orangtua, jadilah para arsitek pendidikan bagi anak anak kita sendiri, jadilah arsitek peradaban bagi masa depan generasi ummat ini.

Jangan mau cuma jadi pelanggan dan penitip masa depan anak anak kita pada lembaga dan birokrat yang tidak pernah mengenal anak anak kita sebaik kita, tidak pernah tahu apa yang anak anak kita rasakan dan fikirkan.

Mari kita buktikan bahwa kurikulum pendidikan rumahan bukan menghasilkan generasi murahan yang cuma menjajakan ijasah dengan kedewasaan dan akhlak yang jauh tertinggal sebagaimana dihasilkan kurikulum yang konon sudah berusia 200 tahun itu.

Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#pendidikanberbasispotensi

Mindset Persekolahan

Harry Santosa – Millenial Learning Center
Nov 23, 2016

Ah sudah diduga, mindset para menteri persekolahan itu pasti menambah jam belajar, menambah jam mengajar dan kini menambah biaya operasional dengan meminta donasi orangtua dan lembaga. Isi kepala mereka adalah “deficit based” bukan “strengths based.

Ah mereka memang selalu begitu sejak 100 tahun terakhir, melihat masalah maka solusinya adalah menambal masalah dengan masalah baru. Mereka mirip sebuah forum Lawak, “menyelesaikan masalah tanpa solusi”. Problem based bukan potential based.

Sudah hafal kan? Para perancang program persekolahan itu “come up” dengan kacamata penjajah, datang dengan nafsu intervensi membawa serenceng program buatan pakar mereka sendiri untuk “menolong” bukan untuk “menguatkan” kearifan yang ada lalu merancang program bersama.

Ah mereka itu seperti tuan “meneer”, kebanyakan makan bangku sekolah kolonial. Mereka melihat para orangtua dan masyarakat semua nya bodoh dan lemah kecuali jika mengikuti program sekolah. Jadi agar tak bodoh dan tak lemah maka menghambalah kepada sekolah.

Hai pak Menteri Persekolahan serta orang pintar di sekitarmu, lihatlah ada potensi hebat yang bisa dilibatkan untuk mendidik generasi, yaitu orangtua dan komunitas. Buang jauh jauh fikiran bahwa mereka bodoh dan lemah, yang hanya bisa menitip anak dan menitip uang donasi.

Berhentilah menjadi penjajah dunia pendidikan berkulit sawo matang. Berdayakan para orangtua dan komunitas beserta kearifan kearifannya untuk terlibat penuh mendidik anak anak mereka sendiri.

Ah sayang, menteri persekolahan dan jajarannya bukan sedang membangun peradaban, mereka cuma sedang mempertahankan kekuasaan.

Sudahlah para orangtua dan komunitas, berhentilah berharap menunggu ilusi persekolahan, keluarlah dari lingkar yang diluar kendalimu, yang engkau cuma bisa protes dan frustasi serta stress. Sibuklah pada lingkar kendalimu (circle of control). Jadilah orangtua dan komunitas yang berani kembali kepada kesejatian fitrah perannya.

Jika cahaya mu melebar maka masalah dan kegelapan duniamu sekitarmu juga kan selesai.

Mari bangun peradabanmu sendiri dengan mendidik secara berjamaah anak anak kita sendiri sesuai fitrah ilahi. Kita rancang dan racik kurikulum yang tepat untuk anak anak kita sendiri. Yuk bahagia menjalani dan menularkannya.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Sekolah dan Modernisme

Harry Santosa – Millenial Learning Center
November 3, 2016

Modernisme di Barat memang telah kehilangan dukungannya. Barat kini bergerak ke Post Modernisme. Sistem Persekolahan Modern ala pabrik yang menyeragamkan sudah ditinggalkan, berganti menjadi sistem persekolahan posmo yang lebih “humanis”. Mereka menyebut gerakan ini dengan education reform (reformasi pendidikan) yang tentu saja segera diikuti oleh bangsa Asia dstnya.

Persekolahan Modern yang dahulu amat beraroma mekanistik dan robotik, kini mengalami reformasi menjadi amat menghargai humanistik. Pendekatan “Deficit based” yang melihat gap kelemahan lalu menambalnya atau diisi banyak banyak, bergeser menjadi pendekatan “Strength based” yang fokus pada potensi kekuatan manusia.

Outcome pendidikan selama ini berupa “Human Doing” dan “Human Thinking” disadari ternyata amat merusak alam, kehidupan dan kemanusiaan itu sendiri, sehingga diyakini harus lebih bermakna menjadi “Human Being”. Gelombang yang menyerukan agar manusia hidup lebih bermakna (meaningfull dan mindfull) menjadi arus baru paska modernisme atau post modernisme.

Namun sayangnya di Barat, semangat melahirkan “human being” dalam reformasi pendidikannya, baru sebatas “Brain based” dan “Strength based” semata. Human being dimaknakan sebagai manusia yang lebih dihargai kecerdasan personalnya dan dihargai bakat personalnya.

Dalam tataran praktek kecerdasan personal ini disebut “brain based” (mindfull) dan bakat personalnya disebut “strength based” (meaningfull).

Dalam kaitan dengan otak, ada juga yang menggunakan pendekatan Neuro Science dsbnya. Dalam psikologi post modernisme perubahan perilaku masih diawali dengan utak atik otak atau utak atik bakat.

Kecerdasan personal biasamya menggunakan pemetaan Multiple Intelligence buatan Howard Gardner, yang tidak lagi melihat kecerdasan sebagai “si bodoh” dan “si jenius”, tetapi didiversifikasi menjadi lebih banyak kecerdasan.

Sementara untuk bakat personal biasanya menggunakan pemetaan bakat dari Gallup yang mengembangkan psikologi positif dari Martin Selignman.

Dalam Islam, sistem pendidikan memang untuk melahirkan “human being” (insan kamil) yang berangkat dari potensi bawaan personal dari manusia yaitu human nature atau fitrah.

Namun fitrah manusia bukan hanya tentang kecerdasan bawaan dan bakat bawaan, tetapi meliputi juga keimanan bawaan, keindahan bawaan, seksualitas bawaan, ego dan sosial bawaan, termasuk fisik dan kesehatan bawaan serta sunnatullah perkembangan manusia. Perilaku manusia didrive oleh semuanya terutama terkait kejiwaan.

Buat apa kecerdasan dilejitkan, bakat ditajamkan namun seksualitas menyimpang sehingga menjadi homo, keimanan berantakan menjadi sekular, estetika terabaikan menjadi merusak keharmonian, sosialitas tak berkembang sehingga merusak kehidupan dstnya.

Dalam pendidikan karakter, semua potensi bawaan inilah sebenarnya juga merupakan karakter bawaan (innate goodness character) karena melekat dengan personaliti manusia yang kelak menjadi peran peran terbaik manusia.

Dalam pandangan pendidikan berbasis fitrah, semuanya mengandung makna spiritual bukan material, bahwa manusia hadir di muka bumi memiliki maksud penciptaan sehingga Allah memberikan mereka tugas dan peran baik spesifik maupun universal dalam rangka memenuhi maksud penciptaan.

Untuk menjalani tugas dan peran penciptaan itulah Allah memberikan 2 bekal, yang pertama adalah Fitrah dan yang kedua adalah Kitabullah. Fitrah adalah potensi potensi bawaan meliputi keimanan, bakat, seksualitas, nalar dstnya. Kitabullah yang akan memandu Fitrah ini sehingga menjadi terarah dan beradab.

Jika dikaitkan dengan maksud agar menjadi Khalifah Allah di muka bumi yang tidak merusak alam dan tidak menumpahkan darah maka ada 2 bekal lagi yang harus diinteraksikan dengan bekal personal, yaitu Alam dan Kehidupan.

Maka pendidikan peradaban adalah mentransformasi semua potensi manusia, alam dan kehidupan dipandu oleh Kitabullah sehingga menjadi peran peran peradaban terbaik dengan adab mulia.

Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Persekolahan dan Paham Behaviourisme

Harry Santosa – Millenial Learning Center
October 30, 2016 ·

Di sebuah sekolah Islam yang sangat mahal, seorang guru di sekolah itu dengan bangga mengatakan telah “memberhentikan” beberapa siswa yang dianggap tidak patuh. Sekolah ini merasa sukses telah menerapkan disiplin yang sangat hebat. Peraturan yang ketat dirancang untuk membuat siswa menjadi patuh dan taat.

Diantara hal yang lumayan “aneh” adalah mereka menerapkan konsekuensi bagi anak yang tidak sholat Jumat untuk tidak boleh Sholat Jumat pada pekan berikutnya. Lho? Inilah diantara potret kebingungan untuk “mengubah perilaku” dengan panduan bukan dari Islam.

Memang membuat anak patuh dan taat dengan mudah dan cepat adalah sangat sederhana (walau efeknya tak sesederhana yang dibayangkan), yaitu terapkan SOP yang ketat lalu berhentikan yang melanggar dan beri gelar si “baik” atau hadiah untuk yang patuh.

Begitulah, sebagaimana umumnya persekolahan modern, sekolah Islampun banyak menggunakan cara cara Behaviourisme, yaitu menggunakan cara “conditioning” atau pembiasaan, “reward n punishment”, “irrelevant consequency”, stimulus dsbnya. Cara cara ini sebenarnya cara shortcut yang berangkat dari paham behaviorisme yang amat sangat menolak bahwa manusia lahir dengan membawa Fitrah atau Innate Goodness (kebaikan bawaan).

Betapa amat gemarnya kita untuk melakukan shortcut untuk merubah perilaku anak. Pendidikan selalu dikonotasikan sebagai upaya mengendalikan, mengubah, mengatasi, membentuk perilaku anak. Kita sudah sangat lama dijajah dengan pemahaman bahwa anak tidak punya kapasitas memilih untuk baik, tidak punya kemampuan untuk baik, dan tidak punya kesadaran untuk “commitment” layaknya hewan yang bisa dibuat patuh tanpa perlu memperhatikan jiwanya, keinginan terdalamnya, perasaannya dstnya.

Paham Behaviorisme sudah menjadi agama sejak 200 tahun terakhir. Mereka menganggap manusia sama seperti hewan, dapat dibuat “beradab” apabila diberi hukuman atau hadiah. Model Stick n Carrot (reward n punishment) yang cocok untuk keledai dipakai juga untuk manusia. Pembiasaan atau stimulus untuk Anjing Pavlov juga digunakan untuk manusia bahkan anak anak usia dini. Bentuknya sudah pasti yaitu formal SOP dan “check list” !

Prof Dr Muhammad Yasien, seorang pakar pskolog Muslim, penulis buku Fitrah, Islamic Human Nature, mengatakan bahwa konsep dan praktek behaviorisme berlawanan dengan konsep fitrah, karena berangkat dari keyakinan bahwa manusia lahir tanpa terinstal apapun (fitrah) dan meyakini bahwa manusia adalah hewan yang bisa dilatih patuh untuk menjadi apapun.

Padahal bagi manusia, cara cara shortcut behaviorisme begitu sangat tidak permanen dan menimbulkan dampak lain yang lebih buruk. Mengapa? Karena perbuatan atau perilaku didorong oleh motif eksternal (extrinsic motivation) bukan berangkat dari niat yang kuat. Islam dengan jelas menyebut “sesungguhnya amal itu karena niat”. Hampir semua bab awal Kitab klasik islam selalu ada bab Niat karena pentingnya niat. Dalam psikologi modern bab Niat ini disebut Intrinsic Motivation.

Ingatlah bahwa upaya pembiasaan akan berubah ketika ada pembiasaan baru yang lebih seru. “Mass Conditioning” dalam banyak kasus juga akan mengalami kejenuhan dan stagnan karena tidak alamiah. Begitupula Hukuman, akan membuat perilaku buruk kumat lagi jika hukuman tidak ada lagi. Sementara Reward adalah little punishment, yaitu anak merasa dihukum jika tidak mendapat hadiah. Sifatnya sama, anak akan berhenti melakukan kebaikan jika hadiah berhenti diberikan bahkan cenderung menjadi manipulatif atau “suka disuap”.

Misalnya seorang ayah yang keras menerapkan kedisplinan tanpa kesadaran pada anak anaknya, maka kedisplinan itu hanya akan berlangsung ketika sang ayah masih hidup dan akan segera ditinggalkan bersamaan dengan apabila sang ayah tutup usia.

Padahal Islam dengan jelas membedakan manusia dengan hewan. Islam menyatakan bahwa Allah memberikan Fitrah kepada manusia sebagai bawaan kebaikan (innate goodness), maka sejatinya perilaku akan membaik secara permanen jika orangtua atau pendidik jika bisa menumbuhkan “innate goodness” menjadi kesadaran.

Innate Goodness atau Fitrah ini perlu ditumbuhkan dari dalam (inside out), dengan menemukan antusias, gairah, cinta anak untuk melakukan sesuatu. Dalam banyak sekolah “fun learning” diterapkan dengan maksud agar anak suka melakukan sesuatu, namun sayangnya seringkali tidak pernah berempati mendalam, apakah memang anak suka apa yang guru rancang untuk fun? Tiap anak tentu berbeda dan unik mensikapi sebuah kegiatan.

Professor L Deci, menyebutkan bahwa agar manusia mau melakukan sesuatu maka dilakukan dengan menemukan “intrinsic motivation” dengan kesadaran bahwa pertama, manusia punya “Autonomy” yaitu kebebasan otonomi untuk memilih apa yang dia ingin lakukan karena manusia bukan benda atau hewan. Kedua, bahwa manusia mau melakukan sesuatu jika mereka “Competence” atau “mampu” melakukan dengan baik. Ketiga, bahwa manusia mau melakukan sesuatu jika mereka punya “Commitment” terhadap sesuatu.

Dalam pendidikan berbasis fitrah tentu berangkat dari keyakinan bahwa manusia punya kapasitas yang cukup bahkan berlimpah untuk menjadi baik dan berperilaku baik. Dengan syarat bahwa manusia mau melakukan sesuatu dengan permanen dan berangkat dari dalam (intrinsic motivation) jika

  1. Relevant dengan Fitrahnya baik satu aspek atau beberapa aspek fitrah, misalnya fitrah keimanan, jika ini tumbuh menjadi gairah dan kecintaan kepada Allah maka anak akan bersedia melakukan amal dengan antusias dan ikhlash. Misalnya fitrah bakat, tentu manusia akan mau melakukan sesuatu jika relevan dengan sifat uniknya atau aktifitas yang disukainya atau peran yang dijalaninya dengan bahagia.dsbnya
  2. Relations. Hubungan kelekatan dan kecintaan yang mendalam akan membuat manusia mau melakukan apapun. Banyak guru atau pendidik berfikir, jika SOP dan checklist sudah tersusun lalu anak akan mau menjalaninya. Barangkali mereka lupa, apakah dirinya sendiri mau melakukan sesuatu yang diperintahkan oleh orang yamg tidak dicintainya atau tidak punya relasi yang kuat?
  3. Reason. Jika ada alasan yang sangat kuat dan diyakini sebagai sebuah misi penting maka manusia mau melakukannya sepanjang hidupnya. Umumnya manusia yang mampu menemukan “Why” atau mengapa mereka hadir di muka bumi, lalu apa misinya dstnya akan mau melakukan sesuatu dengan permanen bahkan sampai mati.

Jadi berhenti dan bertaubatlah untuk mengubah perilaku anak dengan cara shortcut yang nampak berhasil dalam waktu singkat namun tidak permamen dan merusak banyak aspek fitrah.

Dalam pameran pertanian di Jepang, ada sebuah pohon tomat dengan buah 20000 butir tanpa rekayasa teknologi apapun. Ternyata ditemukan melalui pengamatan pola bahwa akar tomat cocoknya di air bukan di tanah.

Maka bershabarlah dan bersyukurlah dalam mendidik fitrah bagai menjadi seorang petani yang harus telaten dan empati serta konsisten menemukan pola pola tumbuh tanamannya dan menumbuhkannya selaras dengan polanya (fitrahnya) itu. Jika ditemukan maka tanaman akan berbuah hebat. Temukan intrinsic motivation atau niat yang kuat dalam diri anak sehingga mereka beramal sepanjang hidupnya tanpa perlu ada kehadiran kita.

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

Pendidikan, Persekolahan & Kepemimpinan

Harry Santosa – Millenial Learning Center
October 26, 2016

Mengapa kita tidak merasa Kitabullah diabaikan dan dilecehkan ketika sistem pendidikan Islam tak lagi fokus melahirkan peran spesifik peradaban dan kepemimpinan peradaban? Apakah sama pendidikan kepemimpinan dengan pelatihan kepemimpinan?

Dalam beberapa dekade belakangan nampaknya kita sibuk memproduksi cendekiawan pembelajar dengan gelar segudang, professor akademis dengan ijasah segulung besar dll yang berorientasi menguasai konten pengetahuan namun barangkali selama ini abai melahirkan pemimpin yang hebat dalam banyak peran dan bidang.

Hari ini terasa betul krisis kepemimpinan itu, dan sebagian kita menyalahkan dan menumpahkan marah pada “pihak luar”. Padahal jika kita kaji Siroh secara mendalam, Islam adalah agama fitrah yang concern dengan potensi fitrah tiap manusia khususnya generasi peradaban. Islam juga agama peradaban yang pendidikannya sejatinya adalah pendidikan peradaban yang mengantarkan generasi peradaban kita pada peran peran peradaban spesifik terbaik mereka dengan adab mulia sesuai potensi fitrahnya masing masing.

Barangkali mindset kita tentang pendidikan sudah tercekoki mindset persekolahan modern hasil impor kolonialisme, sehingga kita memberhalakan akademis, mempertuhankan skill & knowledge semata sehingga hanya menghasilkan orang pandai ilmu agama dan pandai ilmu umum, namun kita lupa bahwa sistem pendidikan Islam sejatinya melahirkan peran peran peradaban dan kepemimpinan terbaik di bidangnya yang penuh manfaat dan menebar rahmat.

Sistem persekolahan modern impor itu tentu mencegah lahirnya kepemimpinan dan peran peran spesifik peradaban di negeri negeri Muslim, karenanya sistem ini menyeragamkan anak anak kita, mengabaikan potensi potensi fitrah anak anak kita, mengusung pendidikan karakter yang tidak relevan dengan potensi fitrah tiap anak. Ujung ujungnya memproduksi kuli kuli peradaban yang patuh tanpa peran peradaban, Lalu bagai berhala kita taat kepadanya.

Sejak sumpah pemuda 28 Oktober 1928, mohon maaf, jelas sekali sekolah, ormas, partai Islam nampaknya mengalami kegagalan melahirkan para pemuda dengan kepemimpinan dalam berbagai peran dan bidang yang dibutuhkan rakyat. Yang muncul adalah para pekerja professional dan professor akademis yang sibuk dengan dirinya tanpa peran kepemimpinan.

Barangkali juga kita salah memahami makna pendidikan peran kepemimpinan dengan pelatihan kepemimpinan?
Kita para orangtua, pendidik maupun perancang pendidikan mungkin lupa bahwa manusia diciptakan untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi bukan khalifah Allah di langit, artinya harus ada peran peran peradaban terbaik di berbagai bidang yang dihasilkan oleh sistem pendidikan Islam, karena Islam adalah agama fitrah dan sekaligus agama peradaban.

Sistem pendidikan Islam kini tak ada bedanya dengan sistem persekolahan modern hanya diberikan label Islam lalu konten Islam ditambahkan di atasnya bersama konten umum sehingga akumulasinya memerlukan jam pelajaran sampai sore alias fullday. Sementara integrasi Ilmu Islam dan ilmu Umum tidak pernah benar benar terjadi.

Namun apakah kepemimpinan bisa dihasilkan dengan mengakumulasi ilmu agama dan ilmu umum seperti itu di kepala anak anak tanpa penggalian potensi potensi fitrah tiap anak? Apakah pendidikan karakter akan berjalan baik tanpa penumbuhan potensi potensi fitrah anak anak kita?

Mari jadilah para arsitek peradaban, untuk mampu mendidik semua aspek potensi fitrah generasi peradaban lalu menghantarkan mereka menuju peran peran spesifik peradaban dan kepemimpinan peradaban terbaik. Tak perlu gelar hebat untuk menjadi arsitek peradaban, siapapun kita mampu melakukannya sepanjang mensyukuri potensi fitrah diri dan potensi fitrah anak anaknya lalu memandunya dengan Kitabullah.

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

“Mayday School”

Bambang Wisudo.
Aktivis Sekolah Tanpa Batas

MEMBUSUKNYA SISTEM PERSEKOLAHAN KITA

Tanyakan pada seorang guru, “Anda mengajar apa?”

Jawabannya hampir pasti. “Saya mengajar matematika.” “Saya mengajar Bahasa Inggris.” Hampir pasti mata pelajaran yang disebut sebagai jawaban. Atau, kalau ia seorang guru SD, ia akan menjawab di kelas berapa yang ia mengajar.

Sangat jarang terdengar jawaban, “Saya mengajar anak.”

Ini hanyalah cermin kultur yang mendominasi persekolahan dan guru-guru kita. Pelajaran, transfer pengetahuan, nilai, tes, dan ujian menjadi mantra sakti sekolah-sekokah kita. Anak dinomorduakan atau bahkan tidak masuk hitungan.

Interaksi yang baik antara guru dan murid merupakan hal yang paling esensial dalam pendidikan. Itu pula yang dikemukakan almarhum Soedjatmoko, orang pintar asal Indonesia yang pernah memimpin Universitas PBB. Soedjatmoko mengemukakan, ada tiga unsur utama yang menentukan mutu pendididikan, yakni interaksi guru dan murid, perpustakaan, dan laboratorium.

Interaksi guru dan murid bisa kita perluas dengan mengaitkan interaksi guru dan murid dengan pengetahuan. Perpustakaan dalam pengertian ini bukan hanya fisiknya saja tetapi sejauh mana buku-buku jadi rujukan dan bahan perbincangan. Sedangkan laboratorium jangan dipahami sebagai laboratorium sains semata-mata tetapi laboratorium sosial di mana anak bisa mengembangkan interaksi sosial atau memakai istilah dulu, kesukaan bergaul.

Dari tiga unsur utama yang disebutkan Soedjatmoko, interaksi guru dan murid merupakan hal yang paling menentukan mutu sekolah. Gedung boleh tidak ada, buku dan laboratorium bisa ditunda tetapi interaksi yang baik antara guru dan murid harus ada. Socrates bisa mengajar dengan berdiri di depan pasar. Paulo Freire di masa kecilnya belajar membaca dan menulis di bawah pohon dengan ranting sebagai pena dan tanah papan tulisnya.

Sungguh menyedihkan sebagian besar sekolah kita gagal membangun interaksi guru dan murid. Ini tidak hanya terjadi di pelosok tetapi juga di kota, tidak hanya di sekolah-sekolah kelas bawah tetapi juga di sekolah-sekolah negeri maupun swasta papan atas. Di Papua, tidak ada usaha serius guru-guru, sekolah, dan birokrasi untuk mencari akar masalah mengapa banyak anak tidak mampu membaca dan berhitung sederhana sekalipun telah mengantongi ijazah SD, SMP, atau bahkan SMA.

Di kalangan guru seperti ada sebuah permufakatan bahwa yang penting kurikulum dijalankan, pada waktunya anak naik kelas, dan nilai ujian bisa diatur-atur sesuai kebutuhan. Ketika guru berkumpul, baik di ruang guru dalam komunitas virtual, hal yang dibicarakan lebih banyak soal beban administrasi, gaji atau tunjangan. Sangat jarang ada diskusi mendalam yang bertolak dari kepentingan anak.

Sistem Persekolahan yang Usang

KITA bersepakat bahwa pendidikan merupakan jalan untuk membangun peradaban dan masa depan anak-anak kita. Persoalan muncul ketika pendidikan dilembagakan dan disamaratakan. Wajib belajar dikerdilkan menjadi wajib bersekolah di sekolah yang seragam. Nilai dan ijazah jadi tolok ukur utama keberhasilan. Semua orang yang terlibat atau berada dalam institusi sekolah, baik guru, birokrasi, orangtua, maupun murid menjadi pemuja nilai dan ijazah. Festisisme terhadap nilai dan ijazah dengan sendirinya itu serta merta menjauhkan kita dari tujuan pendidikan itu sendiri.

Ada cerita yang menarik dari John Taylor Gatto, seorang tokoh pendidikan progressif di Amerika Serikat. Dalam sebuah artikelnya yang sangat emosional di Wall Street Journal (1991), ia menulis bahwa ia memutuskan berhenti setelah 26 tahun mengajar di sekolah negeri. Padahal Gatto tidak main-main dengan profesinya. Ia pernah mendapatkan gelar Teacher of The Year di New York.

“Bertahun-tahun saya memohon kepada dewan sekolah dan pengawas agar membolehkan saya mengajar dengan kurikulum yang tidak melukai anak-anak, tetapi mereka menginginkan aku melakukan sesuatu yang menurut mereka lebih penting. Karena itu aku berpikir untuk keluar,” kata Gatto.

Dalam bukunya yang terkenal Dumbing Us Down: The Hidden Curriculum of Compulsory Education (2005), Gatto membongkar keburukan mendasar institusi bernama sekolah. Ia mengritik sekolah yang tidak mengajarkan indepedensi, menyuruh anak melakukan hanya bila ada perintah, berhenti saat mengerjakan sesuatu karena bunyi hal, memilah-milahkan anak berdasarkan umur atau mitos kepandaian. Gatto berpendapat, model sekolah publik seperti itu tidak bisa diperbaiki atau direformasi. Karena itulah ia memilih keluar dari sekolah.

Pink Floyd, grup band rock progresif yang lahir di London, dalam albumnya The Wall menggambarkan sekolah sebagai sesuatu yang menjijikkan. Kritik bernada sarkasme diangkat Pink Floyd dalam lirik maupun visuallsasi lagu berjudul “Another Brick in The Wall (Part II)”. Sekolah digambarkan sebagai pabrik yang merampas identitas anak, membuat anak-anak seragam dalam cara berpakaian, cara duduk dan berjalan, bahkan dengan menyembunyikan wajah asli mereka di balik topeng. Proses mekanis di atas roda berjalan itu mengahasilkan produk yang sama dan mustahil bagi kita untuk membedakan satu dengan lainnya.

Pendidikan massal dalam wujud sekolah yang semula bertujuan mulia kini berubah menjadi tiruan penjara atau pabrik. Untuk mempertahankan eksistensinya mitos-mitos pun dibangun: bahwa ada kelompok anak pintar dan kelompok anak bodoh, ada anak yang kecerdasannya tinggi ada tetapi ada anak yang lambat belajar, bahwa anak harus dipimpin oleh seorang guru profesional bersertifikat agar mau belajar, bahwa anak harus terus dikontrol oleh sekolah termasuk saat di rumah dengan memberikan pekerjaan rumah yang berjibun, bahwa anak harus dipacu motivasinya untuk berkompetisi dan menjadi nomor satu, bahwa semakin lama anak di sekolah dan semakin lama belajar lebih baik daripada anak-anak bebas bermain, bahwa anak harus dididik berdisiplin dengan berlatih baris berbaris ala militer, bahwa aklhak anak harus dibina dengan menanamkan kebiasaaan anak mencium tangan guru dan orang yang dihormati termasuk bila bertemu mereka di pasar, bahwa anak harus dididik dengan memberikan hadiah dan hukuman (reward and punishment), model psikologis behavioralistik ala Pavlov dan kawan-kawan supaya patuh dan baik perilakunya.

Sekolah yang lebih mirip pabrik atau penjara jelas bertolak belakang dengan hakikat anak.

Sistem persekolahan kita sudah sejak lama berada dalam situasi darurat. Kapal besar pendidikan nasional telah berkarat, bocor dan berlubang di sana-sini, dan makin miring dan makin tenggelam. Sedihnya, bukannya sinyal tanda bahaya, “Mayday, mayday …” yang tertangkap tetapi justru rencana full day school yang tiba-tiba jatuh dari langit Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pendidikan yang Memerdekakan

KI HADJAR Dewantara sejak lama mengingatkan kepada kita bahwa setiap anak membawa kodratnya sendiri-sendiri. Anak, menrut Ki Hadjar, bisa kita ibaratkan seperti tanaman. Bibit padi akan tumbuh menjadi padi. Bibit jagung akan tumbuh menjadi jagung. Tugas seorang guru hanyalah menjaga agar bibit itu dapat tumbuh dengan baik. Bibit yang kurang baik bila dirawat dengan bagus akan menghasilkan buah. Akan tetapi mau berupaya apapun, kita tidak akan bisa membuat tanaman jagung berbuah padi.

Pendidikan massal dalam sekolah publik yang ada sekarang tidak memungkinkan untuk itu. Ketika anak dipaksa belajar dengan kurikulum yang sama, dipilah-pilah seperti barang yang mau dijual, distandardisasi, dan diharuskan mencapai nilai kriteria kelulusan minimal (KKM) sesungguhnya kita telah melakukan kekerasan pada anak. Benar bahwa dalam kehidupan modern, seorang anak harus pandai membaca dan berhitung tetapi itu bukan segala-segalanya. Lagi pula sangat mungkin ada kekhususan yang melekat pada seorang anak yang mungkin membuat ia kesulitan membaca dan berhitung, sekalipun pada dasarnya ia seorang anak yang cerdas. Saat anak itu tumbuh dewasa, kita tidak bisa membedakan ia bisa membaca sebelum masuk TK, di kelas I atau V SD, atau bahkan setelah lulus SMA. Apa bedanya? Siapa sangka aktor terkenal Hollywood Tom Cruise baru bisa membaca setelah lulus SMA?

Di sekolah, anak seringkali divonis terlalu cepat dan buru-buru dikategorikan dalam kelompok bodoh atau pintar. Mungkinkah seorang anak yang tertinggal pemahaman matematikanya sepanjang usia SD-nya kelak menjadi ahli matematika? Mungkin. Akan tetapi bila sekolah cepat-cepat memvonis dia bodoh dalam matematika, dengan memberi nilai di bawah lima dan angka merah terus-menerus di buku rapornya hampir dipastikan ia tidak akan berani menjadi matematikawan. Di sini pembunuhan potensi anak terjadi.

Pendidikan yang tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk tumbuh menurut kodratnya, pendidikan yang tidak memberikan ruang kepada anak untuk belajar merdeka untuk menjadi manusia merdeka merupakan sebuah bentuk penindasan dan dengan sendirinya merendahkan martabat manusia. Jimmy Paat dalam tulisannya “Uraian Singkat Mengenai Belajar” (2016), belajar merdeka adalah belajar yang tujuan atau hasilnya adalah manusia yang memiliki tiga unsur kemerdekaan sebagaimana diuraikan Ki Hadjar Dewantara.

Ki Hadjar dalam sebuah tulisannya yang dikumpulkan dalam buku tebal dengan judul singkat Pendidikan, yang diterbitkan Taman Siswa pada 1962, menyodorkan pengertian yang sangat bagus tentang kemerdekaan. Menurut Ki Hadjar kemerdekaan adalah hidup tidak terperintah, berdiri tegak dengan kekuatan sendiri atau mandiri, dan bisa tertib mengatur dirinya sendiri.

Seseorang yang mengikuti aturan karena takut atau diawasi bukan orang merdeka. Seorang yang banyak beribadah dan beramal karena takut tidak masuk surga, ia bukan orang merdeka. Seorang yang hidupnya bergantung pada orang lain, seseorang yang selalu dibayang-bayangi ketakutan kehilangan nafkah karena dipecat oleh majikannya, bukan orang merdeka. Seorang merdeka adalah bisa berpikir dan bertindak otonom, menjalankan kebebasannya dengan selalu menghormati orang lain.

Dengan demikian belajar merdeka tidak sekedar memberikan keleluasaan anak untuk belajar apa yang dia inginkan. Apalagi bila itu semata-mata dipersempit menjadi metode. Inti dari belajar merdeka adalah memberikan keleluasaan bagi setiap anak tumbuh sesuai kodratnya. Ia belajar untuk mengembangkan seluruh potensi dirinya untuk menjadi manusia yang utuh, manusia yang merdeka. Pendidikan yang menjejali anak dengan tumpukan informasi dan pengetahuan hanya akan menjadi penghalang lahirnya manusia merdeka. Dalam memperoleh pengetahuan atau pemahaman, anak tidak harus selalu dituntun Biarkan anak berpikir dan menemukakan sendiri, bahkan juga dalam pengertian berkaitan moral. Karena itu berpikir kritis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam belajar merdeka. Dialog mendalam, dialog atas dasar cinta kasih – bukan transfer pengetahuan dalam pendidikan ala bank – merupakan karakteristik penting belajar merdeka.

Pendidikan yang memerdekakan tidak terlepas dari usaha untuk memupuk jiwa-jiwa yang peduli pada orang lain, bersolidaritas kepada orang yang lemah dan tertindas, bukan manusia egois serakah yang menindas dan suka mencelakai orang lain. Di sini catatan Tan Malaka dalam tulisannya SI Semarang dan Onderwijs (1921) menjadi relevan. Pendidikan selain bertujuan agar anak dapat hidup dalam dunia kemodalan juga bertujuan agar di kemudian hari anak memiliki komitmen untuk membela kaum kromo. Kemerdekaan merupakan hal mustahil ketika masih ada ketidakadilan dan penindasan di sekitar kita.

Peluang Pendidikan Alternatif

BILA di sekolah-sekolah publik interaksi antara guru dan murid gagal dibangun dengan baik, interaksi yang bagus antara guru dan murid tampak menonjol di komunitas-komunitas pendidikan alternatif. Ini salah satu yang bisa menjelaskan mengapa sekolah alternatif dalam banyak hal bisa berjalan lebih baik dan lebih bersahabat dengan anak meskipun guru-guru yang mengajar bukanlah guru profesional. Banyak guru di sekolah-sekolah alternatif tidak pernah dididik secara khusus sebagai guru, bekerja secara sukarela dengan seadanya. Baru belakangan ini saja muncul sekolah-sekolah alternatif yang membidik kelas menengah atas yang dikelola dengan model bisnis dengan guru-gurunya digaji lebih layak meski sebagai konsekuensinya membebankan biaya yang tinggi kepada peserta didik dan menutup diri dari warga miskin.

Interaksi yang mendalam antara guru dan murid, kecintaan pada anak, semangat guru untuk “menghamba” pada anak selalu saya temukan di sekolah-sekolah alternatif yang pernah saya kunjungi. Ini tidak hanya saya jumpai pada sekolah alternatif yang bergerak di usia kanak-kanak, seperti di Sanggar Anak Alam di Jogja, tetapi juga di tingkatan SMA sebagaimana pernah saya jumpai di Madrasah Aliyah Bingkat.

Eksperimen pendidikan alternatif di Indonesia memiliki akar sejarah yang panjang dan sudah cukup maju. Sewaktu saya masih bekerja sebagai jurnalis yang meliput bidang pendidikan saya ingin sekali melihat dari dekat pendidikan di Brazil, negara tempat kelahiran dan eksperimentasi Paulo Freire yang melahirkan buku terkenal Pedagogy of The Opressed. Niat itu pudar setelah melihat dari dekat sejumlah praktik pendidikan alternatif di Indonesia.

Bahkan, sejumlah ide yang disampaikan Jean Anyon dalam bukunya Marx and Education (2011), seperti menghadirkan aktivis di kelas dan melibatkan murid dalam aksi atau kerja bersama-sama warga dalam proyek untuk perubahan, telah dipraktikkan oleh sejumlah sekolah alternatif. Dalam bentuk yang lebih radikal ide itu malah telah dipraktiikan di sekolah-sekolah alternatif yang diprakarsai oleh organisasi-organisasi petani di Bingkat, Sumatera Utara, dan di wilayah selatan Jawa Barat.

Harus diakui tidak semua eksperimen pendidikan alternatif itu berjalan mulus. Sekolah alternatif yang diprakarsai oleh Serikat Petani Pasundan di Sumamukti, Garut, Jawa Barat, berhenti setelah bertahun-tahun berkibar karena konflik dengan pemilik Yayasan. Madrasah Aliyah Bingkat di Sumatera Utara kehilangan elannya setelah ditinggalkan salah satu perintisnya dan gerakan organisasi rakyat surut. Sanggar Ciliwung yang bergerak mengadvokasi anak-anak dan masyarakat miskin melalui gerakan pendidikan dan seni dihancurkan bersama-sama dengan komunitasnya, dalam aksi penggusuran terhadap permukiman di bantaran Kali Ciliwung di Jakarta baru-baru ini.

Selain menghadapi berbagai persoalan manajerial, tidak semua komunitas pendidikan alternatif dibangun di asar fondasi yang kuat. Kalaupun ada seringkali visi dan dasar-dasar filosofis itu hanya dipahami oleh para pendirinya tetapi tidak oleh para guru dan relawannya. Padahal tanpa fondasi yang kuat ada bahaya komunitas pendidikan alternatif akan terjebak pada mitos-mitos atau kemasan belaka.

Ambillah contoh sekolah-sekolah alam yang kini menjamur di berbagai kota di Jawa. Kalau sekedar belajar di sawah atau di kebun, anak-anak di gunung-gunung Papua pastilah lebih unggul karena sehari-hari mereka belajar bebas merdeka di hutan.

Demikian pula perkara kebebasan belajar atau belajar menyenangkan. Belajar sambil bermain dalam suasana menyenangkan merupakan sebuah keniscayaan untuk usia kanak-kanak. Akan tetapi saat menginjak dewasa, bukan lagi suasana menyenangkan yang menjadi tuntutan tetapi kesenangan belajar. Pada titik tertentu belajar menuntut komitmen, belajar harus dengan berdarah-berdarah.

Menjiplak mentah-mentah model pendidikan alternatif jelas bukan gerakan alternatif. Ada yang menjiplak model Montessori, Waldorf, bahkan sampai kurikulum dan pernak-pernik media belajarnya. Dalam hal ini lagi-lagi, sebenarnya kita bisa merujuk pada Ki Hadjar. Sebelum mendirikan Taman Siswa, Ki Hadjar mempelajari dulu pedagogi Barat termasuk pemikiran dan praktik pendidikan progresif pada masa itu dan kemudian membumikannya dengan budaya lokal. Penyelenggara maupun aktivis pendidikan alternatif perlu menjelajahi pemikiran dan praktik pendidikan terbaik dari berbagai penjuru dunia, membumikannya dengan kultur dan kepentingan lokal atau nasional, dan menjadikannya kredo – keyakinan bersama tentang visi dan nilai-nilai pendidikannya.

Pada 1980-an, di Inggris bermunculan komunitas-komunitas pendidikan progresif tetapi kemudian mati satu persatu. Pendidikan progresif juga sempat berkibar di Amerika Serikat pasca perang Vietnam tetapi kemudian dituduh menjadi penyebab kemerosotan kualitas pendidikan. Sejak itu mashab standardisasi dengan rezim testing terus mendominasi. Meskipun demikian, eksperimen pendidikan alternatif memiliki pengaruh besar dalam di sekolah-sekolah publik. Di Amerika Serikat, sejumlah guru dan dosen yang berperspektif kritis bergabung dalam kelompok bernama Rethinking Schools. Setelah 25 tahun, kelompok ini memiliki pengaruh signifikan baik dalam pemikiran maupun praktik pendidikan di negara itu.

Masih di Amerika Serikat, komunitas-komunitas pendidikan alternatif dan sekolah rumah bergabung dalam jaringan Alternatif Education Resource Organization (AERO) dan kini pendidikan alternatif telah berada posisi yang diperhitungkan dalam poltiik pendidikan di negara itu.

Pendidikan alternatif merupakan sebuah pilihan tetapi juga bukan segala-galanya. Komunitas-komunitas pendidikan alternatif perlu berbenah dan mengaca diri, bersinergi, agar dapat menancapkan peran dan pengaruhnya dalam masyarakat.

Di samping itu, kita masih berharap sekolah-sekolah publik bisa berubah. Bila itu terjadi, pada saatnya nanti, tidak perlu lagi dibeda-bedakan lagi antara sekolah publik dan pendidikan alternatif karena pada dasarnya pendidikan adalah pilihan, pendidikan haruslah memerdekakan dan memanusiakan.

Ada begitu banyak cara untuk menjadi terdidik, sebanyak sidik jari manusia, kata Gatto.

Mau bersekolah di sekolah negeri, sekolah swasta, sekolah alternatif, sekolah rumah (home schooling), atau tidak bersekolah (deschooling) pada akhirnya adalah soal pilihan.

 

No automatic alt text available.

Sistem Persekolahan

Harry Santosa – Millenial Learning Center
10 Okt 2016

Sistem Persekolahan Modern hari ini disesali banyak bangsa, keluarga maupun pakar sebagai sistem yang membuat krisis manusia dan krisis alam. Sistem ini dianggap gagal melahirkan human being dan hanya mencetak “human doing” serta “human thinking”, karena yang difokuskan hanyalah skill dan knowledge. Bahkan saking menghambanya pada keterampilan dan pengetahuan maka pendidikan karakter pun ditempelkan ke mata pelajaran dan diseragamkan.

Lalu kesadaran akan pentingnya pendidikan yang melahirkan “human being”, yaitu manusia yang kembali kepada fitrahnya kemudian nampak pada arus baru pendidikan yang mendorong tumbuhnya potensi bakat anak, atau keunikan anak. Tetapi sesungguhnya bakat hanyalah satu aspek fitrah, masih banyak fitrah lainnya yang secara simultan harus ditumbuhkan.

Human Being adalah manusia yang tumbuh paripurna semua aspek fitrahnya, meliputi fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah belajar, fitrah seksualitas, fitrah estetika dan bahasa, fitrah individualitas dan sosialitas, dstnya kemudian merelevankan semua fitrah itu pada peran peran peradaban yang penuh makna dan secara spritual itu semua untuk mencapai maksud Allah menciptakan manusia.

Bayangkanlah, jika bakat tumbuh hebat tetapi atheis dan tidak menyeru manusia pada Tuhan karena fitrah keimanannya tidak tumbuh, lantas bagaimana?

Bayangkanlah jika bakat tumbuh hebat tetapi menjadi homosex dan kelak menjadi ayahbunda yang buruk karena fitrah seksualitasnya tak tumbuh, lantas bagaimana?

Bayangkanlah jika bakat tumbuh hebat tetapi tidak innovatif dan merusak alam karena fitrah belajar dan bernalarnya tidak tumbuh dan berinteraksi dengan alam, lantas bagaimana?

Bayangkanlah jika bakat tumbuh hebat namun tidak berkontribusi pada realita sosial dan masyarakatnya karena fitrah individualitas dan sosialitas tidak tumbuh, lantas bagaimana?

Bayangkanlah jika bakat tumbuh hebat tetapi adabnya tidak dipandu Kitabullah, lantas bagaimana?
dstnya

Namun masalah juga muncul jika terjadi kebalikan, yaitu bagaimana jika fitrah keimanan tumbuh baik namun fitrah bakatnya tak tumbuh? Maka kita temukan pemuda “baik baik” yang galau tanpa peran dan karya terbaik.

Ingat bahwa pendidikan berbasis fitrah adalah pendidikan yang merawat, menumbuhkan, membangkitkan setiap aspek potensi fitrah sehingga tumbuh paripurna dan kelak akan mencapai peran peran peradaban terbaik.

Fitrah keimanan jika tumbuh paripurna maka peran yang dicapai adalah peran menyempurnakan akhlak manusia dengan Tauhid. Ini disebut akhlak atau adab pada Allah

Fitrah belajar dan bernalar jika tumbuh paripurna maka peran yang dicapai adalah peran innovator untuk memakmurkan bumi dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Ini disebut akhlak atau adab pada Alam

Fitrah bakat jika tumbuh paripurna maka peran yang dicapai adalah peran solution maker atau pembawa berita gembira dan peringatan kepada masyarakatnya. Ini disebut adab atau akhlak pada Kehidupan.

Fitrah seksualitas jika tumbuh paripurna maka peran yang dicapai adalah peran lelaki sejati atau peran perempuan sejati kemudian kelak menjadi peran keayahan sejati dan peran keibuan sejati. Ini disebut akhlak atau adab pada keluarga dan generasi.

Maka mari tumbuhkan seluruh aspek fitrah anak anak kita secara simultan dan paripurna sesuai fitrah perkembangannya agar kelak mereka mencapai peran peran peradaban terbaik dan akhlak yang mulia sehingga memenuhi maksud diadakannya manusia di muka bumi, yaitu beribadah kepada Allah semata dan menjadi Khalifah Allah di muka bumi.

Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Jalur Pendidikan (Harus Formal) ?

Harry Santosa – Millenial Learning Center
October 05, 2016

Heran jika sampai saat ini negara masih keras kepala memaksakan semua jalur pendidikan harus formal, yaitu harus melalui jalur persekolahan formal nasional dengan ujian nasionalnya, lalu hanya jalur formal dan yang setara yang boleh masuk PTN.

Arogansi ini memiliki berbagai alasan politis bukan edukatif. Alasan politiknya adalah negara harus bisa mengatur dan mengendalikan pendidikan secara terpusat, dan yang bisa dikendalikan adalah pendidikan formal.

Sesungguhnya ini juga berangkat dari bahwa Negara tidak percaya kepada penyelenggara pendidikan informal, bahkan menyebutnya alternatif seolah pilihan terakhir. Padahal semua jalur pendidikan adalah alternatif, baik formal, non formal maupun informal..

Misalnya negara secara sepihak menetapkan ukuran wajib belajar 9 tahun sebagai wajib bersekolah di sekolah formal atau pendidikan formal. Di Amerika, program “no left child behind”, dikritik keras sebagai program untuk mengokohkan kendali negara atas pendidikan.

Padahal UU Sisdiknas 2003, negara seharusnya menjamin pendidikan formal, non formal dan informal. Artinya semua jalur pendidikan seharus difasilitasi, diperkuat dan dipercaya. Pemisahan kementerian pendidikan dini dasar, menengah dengan kementerian perguruan tinggi dan riset, seharusnya disikapi dengan dibolehkannya semua jalur pendidikan masuk ke perguruan tinggi tanpa harus disetarakan dulu ke jalur formal.

Secara definisi, pendidikan formal atau yang kita kenal dengan persekolahan nasional adalah sistem pendidikan yang terstruktur dan berjenjang. Sementara pendidikan non formal dikatakan sebagai pendidikan yang dapat terstruktur dan berjenjang, sehingga di tataran praktis isinya kebanyakan adalah PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Mengajar) yang programnya adalah Paket Kesetaraan untuk SD, SMP dan SMA atau disebut paket kesetaraan A,B dan C. Setara maksudnya adalah setara dengan pendidikan formal.

Lalu bagaimana pendidikan Informal? Jalur pendidikan informal, adalah pendidikan yang diselenggarakan keluarga dan komunitas. Biasanya membawahi para praktisi HS (home schooling) dan HE (home education) termasuk CBE (Community based Education). Jalur ini dianggap ancaman dan mengganggu kendali negara atas pendidikan.

Jadi berbagai Peraturan Menteri Pendidikan diupayakan mengarahkan (memaksa) agar jalur informal ini masuk ke jalur pendidikan non formal agar dibolehkan mendapat ijasah kesetaraan formal sehingga anak anak HS dan HE bisa masuk ke perguruan tinggi. Walhasil hampir semua penyelenggara HS disibukkan oleh mengejar paket kesetaraan formal.

Nagara barangkali lupa Borok dan Buruknya Sistem Persekolahan Formal

Jalur pendidikan formal atau kita kenal dengan sistem persekolahan formal nasional dikenal sejak lama sebagai model pendidikan yang memberhalakan prestasi akademis bukan mengutamakan kodrat manusia dan perkembangannya. Maka penyakit dan krisis yang diakibatkan oleh pendidikan formal adalah lemahnya kreatifitas, hilangnya potensi bakat anak anak, anjloknya karakter dsbnya.

Karena memberhalakan prestasi akademis sampai sampai pendidikan karakterpun ditempelkan ke akademis, maka kita kenal hal yang paling aneh dalam dunia pendidikan, yaitu matematika berkarakter, fisika berkarakter dstnya. Sejujurnya karakter sama sekali tidak terbangun di pendidikan formal. Padahal karakter akan mudah dibangun jika potensi unik anak tergali dan terkembangkan.

Maka gagalnya sekolah formal membentuk karakter dengan mudah bisa dilihat pada derivasi kemerosotan akhlak siswa Indoensia yang muncul dalam banyak kasus, seperti tawuran, bully, depresi, bunuh diri, manipulasi dstnya.

Issue Nasional

Remaja bangsa ini sangat rentan berbagai kerusakan moral spt pornografi, narkoba, LGBT dsbnya, sebagai akibat sistem pendidikan formal yang memberhakakan prestasi akademis. Yang dihasilkan sistem pendidikan formal adalah “human doing” dan setinggi tingginya adalah “human thinking”. Padahal sebuah sistem pendidikan seharusnya melahirkan “human being” atau insan kamil, manusia seutuhnya sesuai fitrahnya.

Remaja putus sekolah, terutama di daerah pinggiran (sub urban) dan di perdesaan sudah dalam angka yang sangat besar. Model pendidikan formal membuat anak anak pinggiran merasakan sebagai beban karena selain mahal juga mereka menyadari terlalu panjang untuk dapat membuat mereka mampu mandiri membantu orangtuanya mencari nafkah. Begitupula di desa desa, model pendidikan formal membuat anak anak desa tak mampu membangun desanya dan dipastikan menjadi urban di kota besar.

Solusi

Seharusnya Negara Indonesia dalam hal ini pembuat kebijakan pendidikan segera insyaf. Sistem pendidikan formal yang memberhalakan akademis dan menyeragamkan anak anak Indonesia dari Sabang sampai Merauke adalah sistem pendidikan yang tidak bersyukur kepada karunia Allah berupa fitrah manusia, potensi keunikan alam, potensi kekuatan masyarakat dan kearifan lokal atau keyakinan yang dianutnya.

Wahai Negara, beri jalan dan fasilitasi pendidikan informal yang berbasis rumah, komunitas dan desa untuk tumbuh dan berkembang sesuai kodratnya masing masing. Fasilitasi saja agar anak anak dapat tumbuh sesuai potensi fitrahnya, agar keluarga, komunitas dan desa juga tumbuh sesuai potensi kodratnya. Jadikan kampus dan PTN sebagai tempat riset bagi siapapun terutama anak anak desa yang ingin melakukan riset agar mampu membangun desanya.

Jika 70.000 desa bangkit hebat sesuai kodratnya begitupula 36 juta anak Indonesia bangkit dengan potensinya maka negeri ini akan dicatat sebagai negeri paling bersyukur di muka bumi dan Allah akan tambahkan nikmat nikmatNya.

Jika negara masih arogan dengan mengutamakan sistem pendidikan formal dengan penyeragaman dan akademisnya maka silahkan saja, karena cepat atau lambat sistem persekolahan formal akan ditinggalkan orang.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Pendidikan Tanpa Mendidik

Oleh: Yudi Latif
Kompas, 4 Agustus 2016

Dunia pendidikan kita sudah melenceng jauh dari orbit hakikat pendidikan sesungguhnya. Menteri silih berganti, namun pusat perhatiannya sama: administrasi pendidikan (anggaran, bantuan operasional sekolah, rancang bangun kurikulum, standar formal kompetensi guru, ujian nasional dan sejenisnya).

Esensi pendidikan nyaris tak tersentuh. Paling jauh, yang dikembangkan dalam sistem persekolahan kita hanyalah “pengajaran” (onderwijs), yakni pemberian materi berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan. Mata pelajaran sarat muatan kognitif. Sukses pendidikan diukur oleh pencapaian anak dalam bidang penalaran seperti itu, seperti tercermin dalam muatan ujian nasional. Tak heran, banyak orang tua menambah jam pelajaran anaknya dengan mengikuti bargai kursus dalam/luar sekolah.

Bias pengajaran membuat dunia pendidikan pada umumnya mengabaikan tugas mendidik: memberikan tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Suhu pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, mengingatkan bahwa “pendidikan”(opvoeding) merupakan sesuatu yang lebih luas dan esensial daripada pengajaran. Pendidikan bermaksud “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anakitu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-setingginya”.

Singkat kata, pendidikan adalah proses belajar menjadi manusia seutuhnya dengan mempelajari dan mengembangkan kehidupan sepanjang hidup, yang diperantarai sekaligus membentuk kebudayaan. Dalam proses belajar memanusia dan membudaya itu, tugas guru bukanlah memaksakan sesuatu pada anak, melainkan menuntun mengeluarkan potensi-potensi bawaan anak agar bertumbuh.

Darisitulah muncul istilah education (Latin: educare; ex-ducare) yang berarti mengeluarkan dan menuntun, dalam arti mengaktifkan kekuatan terpendam bawaan sang anak.

Apa yang harus diaktifkan adalah budi-pekerti. Budi mengandung arti “pikiran, perasaan dan kemauan”; pekerti artinya “tenaga”. Alhasil, pendidikan budi-pekerti mengupayakan bersatunya pikiran, perasaan dan tekad-kemauan manusia yang mendorong kekuatan tenaga yang dapat malahirkan penciptaan dan perbuatan yangbaik, benar dan indah.

Dengan pengembangan “budi-pekerti” anak didik diharapkan berdiri sebagai manusia merdeka. Kemerdekaan yang harus ditumbuhkan dalam pendidikan mengandung tiga sifat: berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain dan dapat mengatur diri sendiri. Itu sebabnya mengapa di banyak negara, orang tua dilarang mengantar anaknya ke sekolah.

Sampai di sini, tampak jelas betapa terbelakangnya dunia pendidikan kita. Keterbelakangan sesungguhnya bukanlah ketika dibandingkan dengan pencapaian bangsa-banga lain; karena setiap bangsa punya sejarah, tantangan dan ukuran nilainya masing-masing; melainkan keterbelakangan dari hakikat pendidikan yang dikehendaki.

Apa yang Harus Dilakukan?

Pendidikan sebagai proses belajar menjadi manusia berkebudayaan yang merdeka itu berorientasi ganda: memahami diri sendiri dan memahami lingkungannya. Kedalam, pendidikan harus memberi wahana kepada peserta didik untuk mengenali siapa dirinya sebagai “perwujudan khusus” dari alam. Proses pendidikan harus membantu peserta didik menemukenali kekhasan potensi dirinya sekaligus kemampuan untuk menempatkan keistimewaan diri itu dalam konteks keseimbangan dan keberlangsungan jagad besar.

Ahli-ahli pendidikan berhaluan merdeka, mulai dari Maria Montessori, Helen Parkhurst, Rabindranath Tagore, Ki Hadjar Dewantara hingga Paulo Freire mengingatkan fungsi pendidikan sebagai usaha mencerdaskan jiwa kanak-kanak menurut kodratnya masing-masing. Seturut dengan itu, kerja mendidik bukanlah mengajar, melainkan menuntun.

Karena potensi anak berbeda-beda, maka proses pendidikan jangan sampai menghilangkan kodrat individualitas seseorang karena terdidik bersama-sama yang lain. Harus lebih banyak ruang untuk menuntun anak secara individual, jangan hanya berbarengan secara klasikal.

Sedangkan keluar, pendidikan harus memberi wahana kepada anak didik untuk mengenali dan mengembangkan kebudayaan. Kebudayaan sebagai sistem nilai, sistem pengetahuan, dan sistem prilaku ini secara keseluruhan membentuk lingkungan sosial yang dapat menentukan apakah disposisi karakter seseorang berkembang menjadi lebih baik atau lebih buruk.

Bibit unggul individualitas harus tumbuh di atas tanah sosialitas Pancasila yang subur. Maka dari itu, pengembangan “kecerdasan kewargaan” berbasis Pancasila bukan sekadar ornamen, melainkan substansi penting pembelajaran. Itu sebabnya, muatan ujian nasional yang dirumuskan kementerian semestinya (pun secara historis) lebih menekankan subjek-subjek yang dapat memperkuat integrasi nasional dan karakter bangsa, seperti sejarah, geografi, bahasa, dan ideologi bangsa. Adapun bahan uji bagi mata pelajaran lainnnya bisa dirumuskan oleh asosiasi-asosiasi pengajar dalam mata pelajaran yang sama.

Prioritaskan Pendidikan Dasar

Ibarat pohon, akar merupakan titik tumpu ketahanan bertumbuh. Demikian juga halnya dalam proses tumbuh hidupnya manusia. Solusi atas keterbelakangan hasil pendidikan kita harus dimulai dengan memperkuat pendidikan dasar. Sesuai dengan namanya, pendidikan dasar harus benar-benar memberikan modal dasar dalam proses belajar menjadi manusia seutuhnya. Pendidikan sebagai proses kebudayaan menghendaki agar proses belajar-mengajar tidak hanya berorientasi pada pengembangan kemampuan kognitif, melainkan juga kemampuan afektif dan konatif.

Pertama-tama, kurikulum pendidikan dasar harus memberi perhatian pada olah pikir lewat pembelajaran membaca, menghitung, menutur, mendengar, menulis, dan meneliti dalam kerangka budi pekerti. Pelajaran membaca lebih dari sekadar belajar melek-huruf, atau sekadar membaca buku pelajaran yang diwajibkan. Pelajaran membaca harus menjadi kecapakan fungsional yang dibiasakan (reading habit) sejak pendidikan dasar. Kecakapan dan kebiasaan membaca sejak dini akan memudahkan anak-anak untuk menjelajahi dunia ilmu pengetahuan melampaui batas-batas pelajaran sekolah.

Budaya baca kian penting dihadapkan pada perluasan terpaan media digital dengan muatan pesan yang serba ringkas dan instan. Tanpa tradisi membaca yang kuat akan sulit bagi generasi baru untuk memahami dan mengembangkan penalaran panjang seperti pengetahuan-pengetahuan naratif (filsafat, ideologi, sejarah, agama, sastra dan lain-lain). Padahal, pengetahuan naratif merupakan sumber penemuan diri dan pembentukan karakter.

Oleh karena itu, paling tidak satu hari dalam seminggu, harus disediakan wahana bagi anak-anak untuk membaca atas pilihannya sendiri. Sekolah hanya menyediakan bahan-bahan bacaan yang sejalan dengan misi pendidikan budi-pekerti. Setelah membaca, anak-anak juga harus dilatih untuk menuturkan apa yang mereka tangkap dari bahan bacaan. Latihan menutur bukan sekadar membantu mengingat, tetapi juga melatih kepercayaan diri, serta pembiasaan saling mendengar dan saling mengapresiasi sesama peserta didik.

Selain membaca, siswa harus diberikan kecapakan menghitung. Pada enam tahun pertama pendidikan dasar, tidak perlu diberikan pelajaran matematika yang rumit. Negara, seperti Finlandia, dengan prestasi pendidikan yang hebat pun mulai menghilangkan pelajaran matematika di sekolah dasar. Pada tingkat ini, cukuplah diberikan pelajaran aritmatik sederhana sebagi dasar kecapakan hidup, yang diterapkan langsung dalam praktik kehidupan. Pelajaran matematika bolehlah mulai diperkenalkan pada kelas tujuh.

Pelajaran membaca berkelindan dengan pelajaran menulis. Pelajaran menulis tidak sekadar diletakkan di pojok mata pelajaran bahasa, melainkan subjek tersendiri yang terintegrasi dengan seluruh mata pelajaran. Kecakapan menulis merupakan bekal dasar bagi asah kemampuan logika, sistematika, meneliti dan mencipta. Tak heran, saat Amerika Serikat menyadari penurunan daya saing, solusi kurikulumnya justrume wajibkan pelajaran mengarang di tingkat pendidikan dasar dan menengah (Godzich, 1994).

Menumbuhkan hasrat menulis pada gilirannya akan mendorong semangat meneliti, baik lewat membaca ayat-ayat kitabiyah (buku), ayat-ayat kauniyah (alam semesta),ayat-aya tarikhiyah (sejarah), dan ayat-ayat nafsiyah (diri sendiri). Di situlah, anak terdidik agar kelebihan dirinya tidak menimbulkan kacau-kaos, melainkan beres-kosmos bagi kehidupan semesta.

Kedua, kurikulum pendidikan dasar harus menyediakan peserta didik suatu wahana olah rasa untuk mengasah daya-daya afeksi yang dapat memperkuat kepekaan estetik, kehalusan perasaan, keindahan perangai, kepekaan empati dansolidaritas sosial, sensitivitas daya spiritualitas, ketajaman rasa keadilan, semangat kebangsaan (nasionalisme) dan gotong-royong.

Untuk itu, kurikulum pendidikan hendaklah memberi perhatian pada pelajaran kesenian, moral keagamaan, kesejarahan, pendidikan karakter personal dan kewargaan, wawasan kebangsaandan kemanusiaan.

Ketiga, kurikulum pendidikan juga harus memberi wahana olah raga untuk mengembankan ketahanan, ketangkasan dan kesehatan jasmani, yang diperlukan sebagai sarana fisik untuk mengaktualisasikan segala pontensi budi-pekerti anak.

Tak kurang dari filsuf pendidikan seperti Socrates dan Plato jauh-jauh hari telah menekankan pentingnya pendidikan gimnastik (olah tubuh/fisik). Olah raga selain menawarkan kesederhanaan dalam menghasilkan hidup sehat, juga dapat mengembangkan sportivitas, keriangan permainan, ketahanan mental, keberanian mengambil risiko, semangat kerjasama dan jiwa patriotisme.

Keempat, kurikulum pendidikan harus menumbuhkan olah karsa yang dapat mendorong kemauan peserta didik untuk mengembangkan kecakapan hidup dengan mengenali dan mengaktualisasikan potensi kecerdasannya masing-masing.

Orientasi pada pemuliaan ragam inteligensia menuntut perubahan sistempembelajaran dari “sekolah berorientasi kelas” menuju ”sekolah berorientasi individu”. Kurikulum inti dibuat lebih terbatas untuk memberi keleluasaan bagi siswa untuk mengambil subjek pilihan sesuai dengan minat dan bakatnya.

Konsekuennya fungsi guru bukan sekadar mengajar, melainkan sebagai penuntununtuk memantau potensi dan kecenderungan masing-masing siswa; berperan sebagai broker kurikulum yang membantu siswa mengembangkan potensi dan preferensinya; sekaligus menjadi broker yang menghubungkan siswa dengan
komunitas yang lebih luas.

Minat dan bakat siswa harus bisa dihubungkan dengan berbagai cerlang budaya dan pusat teladan di lingkungan negara, pasar dan masyarakat. Untuk itu, kerangka insentif perlu diberikan oleh pemerintah danmasyarakat kepada orang/institusi yang menyediakan kesempatan belajar luar sekolah.

Alhasil, sekolah di masa depan dituntut untuk lebih menghargai keunikan danotonomi individu serta mengembangkan iklim yang kondusif untuk mentransformasikan pribadi unggul menjadi kolektivitas unggul, dengan menempatkan kreativitas dan karakter di jantung kurikulum.

Pembenahan Guru

Untuk dapat mengemban tugas pendidikan seperti itu, guru juga harus diberi derajat kebebasan yang lebih besar untuk mengembangkan kreativitas dan inovasinya dalamproses pengajaran. Dalam kaitan ini, pengembangan kurikulum yang dikembangkan pemerintah tidak perlu terlalu kaku dan mendetil. Harus dihindari kecenderungan ganti menteri ganti kurikulum.

Sejalan dengan pasal 38 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003, yang dilakukan pemerintah cukuplah menggarikan “kerangka dasar dan struktur kurikulum”. Selebihnya, berikan kebebasan kepada guru untuk berimprovisasi. Pendidikan sebagai proses pemerdekaan tidak bisa dicapai, bila gurunya sendiri terbelenggu.

Pada titik ini, prioritas selanjutnya adalah peningkatan mutu guru. Seorang juru didik memerlukan kecakapan yang lebih baik dari juru ukir. Jika seorang pengukir kayu saja wajib mempunyai pengetahuan yang mendalam dan luas tentang hakekat kayu dan teknik ukir, apa lagi juru didik yang diharapkan mampu mengukir manusia secara lahir dan batin.

Sungguh ironis, rekrutmen tenaga pendidik saat ini lebih mementingkan aspek-aspek formal ijazah dan tingkat pendidikan, dengan melupakan kompetensi didaktik-metodiknya.

Sudah saatnya pesan Undang-Undang Sisdiknas mengenai perlunya sekolah guru berasrama segera diwujudkan. Tak cukup bekal kesarjanaan di berbagai disiplin ilmu, para calon pendidik masih harus mendapatkan proses penggemblengan dalam kecapakan ilmu pendidikan setidaknya selama satu tahun.

Itulah peta jalan sederhana agar dunia pendidikan benar-benar menunaikan kerja mendidik tunas-tunas harapan bangsa demi keselamatan dan kebahagiaan hidup bersama.

(Yudi Latif, Penghayat Ajaran Ki Hadjar Dewantara)