Komunikasi Pengasuhan – Rumus Mendengar Aktif

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #62

Di dua artikel sebelumnya, kita telah membahas tentang mendengar aktif dan manfaatnya untuk anak. Kita perlu melatih nya setiap hari agar menjadi cara kita berkomunikasi yang alami.

Mendengar aktif dibutuhkan dalam berbagai kondisi, terutama kondisi ketika perasaan anak sedang penuh, baik oleh emosi positif ataupun emosi negatif. Bagaimana memulai mendengar aktif ?

Pertama, baca bahasa tubuh anak. Karena bahasa tubuh menyiratkan emosi lebih akurat daripada kata-katanya. Supaya anak terbiasa jujur dengan bahasa tubuhnya, maka kita sebagai orangtuanya dulu yang perlu duluan mencontohkan bahasa tubuh yang jujur. Kita orangtuanya perlu terbiasa mengekspresikan perasaan apa adanya ke anak, tidak jaim (jaga image), sehingga anak akan meniru cara kita dan terbiasa mengekspresikan perasaan dengan bahasa tubuh yang jelas.

Kedua, dengarkan anak bicara apa adanya, tanpa dipotong, dinilai, atau ditanggapi. Ketika itu, anak akan mengeluarkan semua emosinya. Kalaupun anak menangis atau tampak beraksi berlebihan, tidak perlu dipotong atau dihentikan. Anak masih berlatih mengendalikan diri dan emosinya. Beri dia waktu untuk berlatih itu. Kita cukup menanggapi dengan minimal encourages yang menunjukkan kita memperhatikannya, misalnya : “Mmm …” / mengangguk-ngangguk / “Terus ?”.

Ketiga, ketika tensi emosinya sudah menurun, dan waktunya sudah tepat untuk menanggapi, mulai dengan Restating (menyatakan kembali) untuk meng-crosscheck perasaannya. Misalnya : “Adek merasa kesal ya ?”.

Jika penjelasan anak cukup panjang, maka kita bisa menanggapi dengan mendaftar apa saja yang dia rasa, misalnya : “Adek merasa kesal, sakit hati, tidak dihargai ?”

Jika anak menyampaikan potongan potongan informasi, kita juga bisa bantu merangkum dan lalu menanyakan lagi ke anak. Misalnya : “Dari cerita Adek, sepertinya Adek ingin teman Adek tahu bahwa Adek tidak mau diperlakukan seperti itu. Benar begitu ?”

Dengan rangkaian pertanyaan untuk memvalidasi perasaan anak, maka kita membantu anak mengenali bahwa perasaan itu berbeda-beda, dan dari situ dilanjutkan membantu anak mengenali apa pemicu yang menyebabkan perasaan anak. Misalnya : “Adek merasa kesal karena temanmu menjauhimu ?”.

Mengetahui perasaan sendiri, dan apa penyebabnya, adalah setengah jalan menuju solusi. Melompati tahap tahap ini hanya akan membuat anak merasa bingung dengan dirinya, sehingga cenderung mudah galau menghadapi masalah. Karena tidak terbiasa mencari akar penyebab perasaan, dan tidak terbiasa mengenali dan mengelola perasaannya.

Jadi ayah bunda, untuk membantu anak anak kita tumbuh tangguh dan siap menghadapi berbagai tantangan, mari kita mulai dengan mendengar aktif anak kita. Selamat berkomunikasi yang menyenangkan 🙂

Advertisement

Jadikan Anak Lelaki Kita Sebagai Lelaki Sejati – Bagian 1

Ustadz Iwan Januar

Ayahbunda mari rehat sejenak. Lihat anak-anak lelaki kita. Apakah mereka tumbuh di jalur lelaki yang sesungguhnya? Ataukah kita tak peduli, atau entah kurang peka dengan perkembangan karakter mereka sebagai lelaki. Sudah merasa aman? Merasa tenang? Atau kita tak peduli sama sekali?

Saya ingin mengingatkan banyak remaja dan pemuda (lelaki) di negeri ini yang ternyata tidak tumbuh dan menjadi pria sejati. Ada sebagian dari mereka yang hanya punya separuh jiwa lelaki. Ya hanya separuh. Itu terlihat dari jiwa mereka yang miskin dari tanggung jawab dan seperti tak mau punya kaki sendiri. Uang jajan tinggal minta dan tinggal habiskan, kalau habis tinggal minta lagi. Jangankan mengurus tanggung jawab tentang orang lain, urusan diri sendiri pun diminta orang lain yang untuk bertanggung jawab. Kamar, pakaian, sepatu, tas, uang jajan, tinggal serahkan pada orang lain. Ada orang tua, ada pembantu, ada supir, ada yang lain-lain.

Saya kenal beberapa pemuda yang kuliah bertahun-tahun tak kunjung selesai, karena tak pernah merasa bertanggung jawab tentang kuliah. Bagi mereka menjadi anak SD atau mahasiswa sama saja; bermain. Dan orang tuanya pun membiarkan itu berlalu begitu saja.

Remaja lelaki yang hanya punya separuh jiwa lelaki ini tak punya visi tentang masa depan, tak punya misi tentang hidup kecuali me & myself. Sekolah dan kuliah pun hanya untuk periuk nasi mereka saja. Punya karir bagus, uang banyak dan istri cantik. Titik.

Jangan bandingkan mereka dengan Pangeran Diponegoro yang membuang kesempatan bertahta di Kerajaan Mataram, karena tak sudi jadi keset kompeni, dan melihat rakyat Jawa dan umat Muslim dikoyak-koyak kaum imperialis. Lalu memilih hidup dari hutan ke hutan, tinggal di Gua Selarong, dan memilih jalan hidup sebagai lelaki yang punya harga diri. Pada remaja dan pemuda yang hanya punya separuh jiwa lelaki ini, pengorbanan hidup untuk orang lain, apalagi untuk agama dan Tuhan mereka (Allah SWT.) impian terlalu mewah. Jangankan untuk menggapainya, untuk bermimpi pun mereka tak mau melakukannya.

tapi ada sebagian lagi yang patut dikasihani justru hilang semua kelelakiannya. Mereka menjadi transgender, bencong, atau malah gay. Mereka ada di panggung dunia hiburan, panggung politik, bisnis, tapi hidup melawan kodrat lelaki. Ini kelompok lelaki yang paling sakit di dunia.

Tapi mari lihat diri kita ayahbunda, anak lelaki kita sakit dan menderita justru sebagian besar disebabkan oleh pola asuh dan pola didik di rumahnya. Ayah dan ibunyalah yang membuat anak-anak lelaki hilang kelelakiannya, baik separuh atau seluruhnya. Karena sebagaimana anak perempuan, tak ada anak lelaki yang dikodratkan lahir dengan pribadi yang cacat. Bapak dan ibunya yang membuat cacat kepribadiannya.

Dimulai dari para ayah yang jarang hadir dalam kehidupan anak lelaki selain untuk memarahi dan memukul, atau berdehem. Para ayah macam ini – dan jumlahnya masih amat banyak – merasa misi mereka sebagai ayah adalah memberikan fasilitas hidup pada anak lelaki, tapi bukan mengarahkan hidupnya.

Padahal dari ayah seharusnya anak lelaki belajar tentang kepemimpinan yang mengayomi (ri’ayah) pada keluarga, cara bersikap sebagai seorang lelaki, cara memperlakukan anak lelaki, dan bagaimana bertahan menghadapi kejamnya kehidupan. Tapi ayah itu banyak memberikan ruang hampa, selain uang dan barang yang menyenangkan sesaat.

Akhirnya pengasuhan anak-anak lelaki kita justru jatuh ke tangan perempuan. Mulai dari ibunya, guru-guru TK-nya, SD, SMP dan SMA, dominan perempuan. Padahal perempuan bukanlah lelaki dan lelaki bukanlah perempuan. Fisik maupun jiwanya.

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَىٰ
dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan (TQS. Ali Imran: 36)

Meskipun mungkin tahu, tapi perempuan tak sepenuhnya paham bagaimana cara seharusnya lelaki berburu dan bertahan dari serangan musuh. Bagaimana dapat survive di alam liar. Karena jiwa perempuan adalah jiwa seorang ibu dan istri yang berbeda dengan kaum lelaki. Hormon testosteron lelaki itu 10-20 kali dari yang ada pada perempuan. Tapi dari pola asuh itu akhirnya banyak anak lelaki kita tidak tumbuh layaknya lelaki. Sebagian dari mereka ada yang kehilangan separuh jiwa kelelakiannya.

Lelaki kadang perlu dihardik sebagaimana perlu dipuji. Kadang perlu dipukul sebagaimana perlu ditepuk bahunya. Lelaki harus lebih sering ditantang baru kemudian ditenangkan. Mereka perlu jatuh dan berdarah, dan bukan duduk menenun kain, atau menonton drama percintaan. Mereka perlu diyakinkan bahwa kegagalan itu harus diterima sebagaimana menerima keberhasilan. Menangisi kehidupan bagi lelaki itu perlu tapi tak boleh melampaui kuota perempuan.

Tapi bagaimana anak lelaki kita akan punya jiwa lelaki sesungguhnya kalau ayahbundanya tak pernah menggambarkan seperti apa lelaki itu seharusnya. Ayah yang tak pernah hadir, dan kalau hadirpun hanya bisa memarahi dan memukul ketimbang menggambarkan visi dan misi hidup lelaki. Sedangkan ibunya merawatnya dengan dunia keperempuanan.

Maka, ayahbunda, jangan hanya duduk dan berdoa, tapi mulailah belajar mempersiapkan anak lelaki kita menjadi lelaki sejati. Belajarlah kepada Rasulullah SAW. yang berhasil mencetak Mush’ab bin Umair, Usamah bin Zaid, Ibnu Abbas, dan Ali bin Abi Thalib, dll. Mencetak lelaki-lelaki sejati pengukir sejarah, pengharum pentas kehidupan di panggung dunia dan akhirat.

Komunikasi Pengasuhan – Karena Dua Lebih Banyak Daripada Satu

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #61

Mendengar aktif adalah cara orangtua memahami perasaan anak. Ketika orang tua mendengarkan sepenuh hati, dan tanpa penilaian, anak akan menangkap pesan bahwa diri anak itu penting bagi orangtuanya, bahwa perasaannya penting dan diterima.

Mendengar aktif paling diperlukan ketika anak sedang merasa penuh emosinya, baik emosi positif maupun emosi negatif. Anak perlu mengeluarkan dulu semua yang dia rasa, caranya dengan bercerita.

Setelah anak bercerita, hal pertama yang kita lakukan adalah validasi. Misalnya anak bercerita keluhannya tentang temannya yang usil, maka kita validasi dengan bertanya “Oh, jadi adek ga nyaman karena temannya usil ke Adek ?”.

Validasi ini penting, karena kita meng-crosscheck perasaan anak, apa tebakan kita tentang perasaannya benar atau salah. Dengan validasi, sebenarnya kita sedang memperkenalkan ke anak, bahwa emosi itu ada namanya, dan penting untuk anak mencari tahu sendiri, dia sekarang sedang merasakan emosi yang mana.

Setelah divalidasi, anak menjawab, dia akan lanjut bercerita. Dengarkan ceritanya, dan terus validasi. Misalnya Adek melanjutkan “Adek marah karena Adek ga suka diusilin !”. Kita validasi dengan bertanya “Ibu lihat Adek marah banget ya ? Kalau pake jari Ibu, 1 sampai 10, 1 kalau marahnya dikit, 10 kalau maraaaah banget. Nah Adek marahnya sampe segimana sih ?”. Anak berpikir lalu menjawab “mmm … delapaaaan !”.

Dengan cara ini, anak jadi tahu skala perasaan dia. Mengetahui sejauh mana perasaan sendiri, akan membantu anak mencari solusi menangani emosinya sendiri. Sangat marah dengan marah sedikit, tentu berbeda penanganannya.

Selain itu, dengan didengar secara aktif, anak akan merasakan komunikasi yang alami. Kenapa ? karena begitulah manusia diciptakan, diberi kapasitas mendengar dan mengolah perasaan. Itulah mengapa Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut. Untuk digunakan lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Dengan mendengar aktif, orang tua menggunakan telinganya lebih sering daripada mulutnya ketika anak sedang berbicara perasaannya. Bayangkan betapa damainya perasaan anak, ketika seluruh emosinya tercurah dengan positif, ditanggapi dengan sepenuh hati dan tanpa penilaian. Anak yang terbiasa didengar akan tumbuh jadi anak yang peka dan bisa merasakan perasaan orang lain. Karena sejak kecil, ia sudah terbiasa didengar dan dihargai, jadi dia tahu bagaimana caranya mendengar dan menghargai orang lain.

Tentu membahagiakan mendampingi tumbuh kembang anak yang bahagia dan percaya pada kita, orangtuanya. Gunakan dua telinga kita lebih sering daripada satu mulut kita, terutama ketika emosi anak sedang penuh. Dan bersiaplah untuk komunikasi yang menyenangkan 🙂

Ayah Under Construction 2 – Merawat Iman Anak Kita

Ario Muhammad
November 4, 2018

Tantangan paling besar menjaga iman anak-anak di negeri yang tak mengenal Islam adalah meyakinkan mereka bahwa Allah adalah Tuhan Semesta Alam, bahwa Islam adalah agama paripurna, bahwa ada hari pembalasan yang akan menentukan apakah kita bahagia selamanya atau larut dalam siksa yang maha pedih.

Di Inggris, mereka bisa dengan mudah membandingkan Tuhan agama yang satu dengan agama yang lain, mempertanyakan kenapa kita harus menjadi muslim, bahkan tak jarang meninggalkan perintah-perintah wajib dalam Islam yang orang tua mereka titahkan sejak kecil.

Pemberontakan iman garis keturunan kita, bisa berada pada titik terendah saat mereka mulai tak percaya dan tak meyakini Allah sebagai Tuhan mereka. Pertanyaan apa yang paling menakutkan bagi orang tua muslim dimanapun selain anak-anak mereka yang tak lagi mempercayai Allah dan Rasul-Nya? Rasanya ini adalah ketakutan paling mengkhawatirkan dalam kehidupan kita sebagai orang tua.

Namun ada banyak kisah di dalam Alquran yang memberikan kita pencerahan tentang keimanan anak-anak keturunan kita. Seberapa besarpun usaha yang sudah kau hadirkan, jika ada yang memilih untuk memberontak, maka kamu tak punya kontrol terahadapnya. Sebagaimana Ya’qub yang menjamin kehidupan anak-anaknya: Yusuf dan saudara-saudara mereka. Menjaga mereka dalam keimanan dan kehidupan yang layak dan penuh persaudaraan. Namun saudara-saudara Yusuf memilih untuk menghianati Ya’qub. Mereka membuang Yusuf di sumur dibanding melindunginya [QS Yusuf: 7-19].

Apa yang kurang dari Ya’qub, dia adalah seorang Nabi, seorang yang begitu jelas kekuatan karakternya, yang akan memberikan kualitas kehidupan terbaik bagi anak-anaknya. Saudara Yusuf yang tumbuh besar di lingkungan sebaik keluarga Ya’qub saja bisa melenceng perilakunya, apalagi dengan kita?

Di saat yang bersamaan, ikhtiar yang paripurna dari seorang Ya’qub juga menghasilkan seorang anak semesta bernama Yusuf. Lelaki yang tidak hanya cerdas, berkarakter sempurna, namun punya paras paling tampan sejagat raya. Jika saudara-saudara Yusuf yang lain tetap tumbuh bersama keluarga Ya’qub, Yusuf justru terbuang menjadi seorang pelayan, lalu di penjara dalam bilangan waktu yang lama. Sebagai manusia normal, waktu-waktu bersama lingkungan yang tak baik seperti itu akan menjadikan kita jauh dari Allah. Namun tidak dengan Yusuf, dia masih menjadi pribadi terbaik dengan kesempurnaan perangai yang membelalakkan mata.

Maka sungguh, ikhtiar kita sebagai orang tua takkan pernah bisa mengontrol kehidupan anak-anak kita. Mereka bisa tumbuh saleh-salihah, pecinta Quran, pendakwah yang istiqomah, namun bisa juga sebaliknya, akan menjadi cobaan dan alasan kita menangis sepanjang waktu memohon Allah untuk mengampuni mereka.

Untuk itu wahai orang tua, tanggung jawab dan kontrol terbaik kita hanya ada sampai mereka baligh. Setelahnya, pilihan ada di tangan mereka. Kita boleh mengingatkan mereka tentang Shalat, mengajak mereka kepada kebaikan, namun jika mereka sudah bosan dan jengah dengannya, mungkin kita perlu kembali mengambil peran kita sebagai orang tua. Yang mendengar, yang menjadi sahabat mereka, yang mampu berbicara dari jiwa mereka yang bisa jadi terluka karena banyaknya perintah dan aturan dari kita.

Pekerjaan mendidik sejatinya jauh lebih sulit dibanding tahun-tahun pertama merawat mereka. Malam-malam panjang menyusui mereka, mengganti popok mereka yang bau, hingga melihat tantrum mereka yang berkepanjangan sejatinya jauh lebih mudah dibanding merawat iman mereka.

Semoga Allah mampukan, semoga Allah mampu, dan semoga Allah mampukan.

Teruslah berikhtiar, karena garis pahala dan surga yang menyala sejatinya terlihat dari ikhtiar kita.

Komunikasi Pengasuhan – Hearing Is Not Listening

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #60

“Ibu … ibu ….!” anak memanggil, menarik-narik baju. “Hmm .. apa sih nak ?” tanpa mengalihkan perhatian dari TV, ibu menjawab anaknya. Tanpa sadar kita sering melakukan ini ke anak kita, ini bukanlah mendengar yang benar. We’re just hearing, not listening.

Kalau kita jadi anak, lalu orang tua kita hanya menanggapi pertanyaan kita, singkat sambil lalu, apa perasaan kita ? Merasa tidak dihargai bukan ?

Lalu apa yang membuat kita merasa dihargai ? Mudah, didengarkan dengan benar. Ketika kita didengarkan, kita merasa kita penting di mata si pendengar. Kita merasa perasaan kita penting dan diterima. Setelah itu, kita jadi jauh lebih tenang dan mudah untuk mencari solusi. Begitu juga dengan anak kita. Mendengar dengan cara yang benar adalah mendengar aktif.

Mendengar aktif adalah mendengar dengan sepenuh hati, untuk memahami dan menerima perasaan yang diutarakan si pembicara. Ini seni mendengar yang sudah mulai hilang dalam pengasuhan kita. Dan kita lebih sering mendengar selektif atau bahkan tidak mendengar sama sekali.

Ketika kita mendengar aktif, kita menghadapkan diri kita ke anak, mensejajarkan pandangan mata dengan anak. Tujuan kita mendengar aktif adalah memahami apa yang mau disampaikan anak, dan apa perasaannya. Untuk itu, maka kita perlu menghilangkan pikiran menilai, menghakimi, mengukur-ngukur, atau bahkan mempersiapkan jawaban.

Ini kontras dengan yang biasa kita lakukan, kita masih sering mendengar anak dengan tujuan untuk memberi komentar. Maka kita menunggu kata kata kunci dari anak yang bisa kita tandai sebagai kelemahan untuk dikomentari. Kita bukannya mendengarkan anak, malah menyiapkan amunisi untuk menyerang balik. Pikiran kita penuh dengan menilai dan mengukur setiap pernyataan anak. Mata kita abai melihat bahasa tubuh anak, dan jadinya tidak bisa menangkap maksud di belakang kata-katanya. Akhirnya, kita tidak paham apa yang disampaikan anak. Kita hanya sibuk dengan ukuran dan penilaian sendiri.

Lalu ketika tiba saatnya kita menanggapi anak, kita tidak bisa memisahkan emosi dan ego dari jawaban kita. Sehingga yang tadinya berawal dari obrolan biasa, lambat laun malah jadi debat, dengan selera masing-masing. Bayangkan jika begitu cara kita berkomunikasi, maka itu juga yang akan ditiru anak. Hanya tinggal menunggu waktu.

Ayah bunda tentu ingin punya hubungan yang baik dengan anak, maka mari kita perbaiki cara kita mendengarkan anak.

Mendengar aktif akan membuat anak dan orang tua merasa dihargai, mendekatkan hubungan, meningkatkan kepercayaan, dan tentu menjalin ikatan yang erat antara orang tua dan anak. Anak perlu didengar secara aktif sehingga tumbuh besar menjadi dewasa yang merasa berharga dan matang.

Komunikasi Pengasuhan – Kisah dari Negeri Kendot

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #59

Setelah Jenderal Kendut dan Jenderal Kendot membahas hasil investigasi para mata-mata, hari ini seluruh orangtua di Negeri Kendi berkumpul di balai kota. Tak hanya para orangtua, Kendut muda dan Kendot muda juga ikut berkumpul. Mereka ikut hadir karena keprihatinan mereka atas teman-teman sebaya mereka yang terjebak pada kehidupan yang gelap.

Jenderal Kendot membuka pertemuan dan menyampaikan data mengenai anak dan remaja di Negeri Kendi. Warga Negeri Kendi baik para Kendut maupun Kendot tercengang dengan kenyataan yang ada. Akhirnya mereka menemukan akar permasalahan yang terjadi. “Kita harus mengubah cara mengasuh kita,” ujar seorang Kendot sambil menyeka air matanya. “Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku berempati terhadap perasaan anakku,” ujar Kendot yang lain.

Kehidupan berjalan seperti biasa, namun hari itu ada yang luar biasa. Di hutan belakang bukit, Kendot remaja berkumpul.

“Apakah kalian merasa ada yang berbeda dengan orangtua kita?,” ucap Kendot remaja yang tampaknya adalah pemimpin mereka.

“Ya, aku rasa orangtuaku jadi lebih banyak memujiku. Aku tidak tahu apakah orangtuaku tulus atau ada maunya terhadapku,” jawab seorang Kendot remaja cantik berwarna merah muda.

“Aku juga. Dan aku merasa semakin mirip dengan para Kendut. Apakah ini petanda bagus?,” Kendot remaja yang lain berujar

“Aku tidak tahu. Yang pasti, banyak geng motor yang membubarkan diri. Kalaupun masih ada, kini mereka membuat kegiatan bersama para Kendut membagi-bagikan makanan pada pengemis dan pemulung.”

***

Di ujung gang, di Wilayah Kendot. “Men, cimeng yang ini asik banget. Surga rasanya deket”, seorang Kendot remaja dengan mata merah berair menyodorkan lintingan ganja pada temannya sesama Kendot remaja.

Yang disodori mundur selangkah, tubuhnya menolak.

“Kenape lu men? Ga punya duit? Ah elu, gratis nih gua kasih. Kita kan sahabat!”, bujuknya dengan nada suara yang jelas sekali memperlihatkan bahwa ia dalam setengah kesadaran.

“Gue udah enggak. Sori ya bro. Gue ga butuh itu lagi,”

“Hahaha, ga butuh? Sejak kapan lo? Orangtua lo udah insap?Paling juga mereka balik lagi,” kini mimiknya menunjukkan kemarahan dan ancaman

“Yang gue tau, orangtua gue makin baik. Itu cukup jadi alasan gue untuk jaga kepercayaan mereka,”

“Sok baik lo, ga asik!”

Kendot remaja yang kini tubuhnya semakin bulat terisi itu pergi dengan senyuman terindah setelah menepuk pundak temannya yang sedang nge-fly. “Semoga lo segera dapet apa yang gue rasain sekarang, bro”.

Komunikasi Pengasuhan – Kisah Jenderal Kendut dan Jenderal Kendot

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #58

Alkisah, di Negeri Kendi ada dua kendi yang sedang berbincang serius. Mereka berdua adalah Jenderal kendi, bernama Kendut dan Kendot. Kendut adalah jenderal para Kendi Gendut berbentuk bulat, berisi penuh, berwajah ceria dan penuh senyuman. Sebaliknya, Kendot adalah jenderal para Kendi Peyot berbentuk lonjong, kosong, dan wajahnya suram.

Kendut dan Kendot tampak sedang serius sekali. Mereka sedang berdiskusi mengenai laju migrasi warga Kendut ke wilayah Kendot yang sangat tinggi. Mata Kendut yang biasanya berbinar-binar, alisnya berpadu di tengah petanda ia berpikir keras. Sedangkan Kendot tampak sangat stress karena laju perpindahan penduduk yang terus bertambah dari tahun ke tahun ini bahkan didominasi oleh anak-anak.

Dulu, seluruh wilayah di Negeri Kendi hanya dipimpin oleh Jenderal Kendut. Semua warga berbentuk bulat, berisi penuh, berwajah ceria dan penuh senyuman. Namun, sejak Negara Api menyerang, tiba-tiba banyak warga yang berubah dan membuat keonaran. Untuk menjaga stabilitas Negeri Kendi, akhirnya Jenderal Kendot mengumpulkan mereka yang suka berbuat onar untuk membentuk wilayah baru di tepi Negeri Kendi. Jenderal Kendot sendiri adalah sahabat Jenderal Kendut yang menyamar dan berubah wujud serupa dengan para warga yang berubah, strategi yang cantik agar diterima.

“Kendut, wargaku semakin banyak dari hari ke hari. Kita harus tahu kelemahan kita dan kekuatan Negara Api”, ujar Jenderal Kendot

“Benar, sahabatku. Aku akan mengirimkan mata-mata untuk menyusup ke kehidupan Wilayah Kendut, Wilayah Kendot, dan Negara Api”, jawab Jenderal Kendut

Beberapa minggu kemudian, mereka kembali menggelar pertemuan rahasia. Mereka membahas hasil investigasi mata-mata Jenderal Kendot. Berikut hasilnya,

Kehidupan Wilayah Kendut : Anak-anak di Wilayah Kendut sangat bahagia. Orangtua biasa mengisi Kendut kecil dengan pujian, penghargaan, pengakuan, dan kasih sayang. Kendut kecil juga merasa bahagia karena perasaan mereka diterima. Keluarga mereka terbiasa membahas perasaan dan komunikasi di tengah keluarga mereka sangat hangat. Hal ini membuat konsep diri Kendut kecil menjadi positif. Kendut kecil yang perasaannya diterima, tidak menyimpan perasaan negatifnya. Mereka lebih nyaman terhadap dirinya dan orang disekitarnya. Mereka tumbuh menjadi Kendut kecil yang cerdas, humoris, dan menikmati pergaulan dengan orang lain.

Kehidupan Wilayah Kendot : Anak-anak di Wilayah Kendot berwajah murung dan cenderung berpikiran negatif. Hal ini yang membuat mereka kerap berbuat keonaran. Orangtua Kendot kecil seringkali tanpa sadar menarik pujian, penghargaan, pengakuan, dan kasih sayang dari dalam tubuh anak-anaknya dan mengisinya dengan cacian, kecaman, ejekan, bentakan, dan hukuman. Akibatnya, mereka merasa tidak diterima, merasa diabaikan, tidak dianggap, merasa tidak berharga dan mereka berubah menjadi anak yang tidak bahagia. Keluarga mereka kerapkali menidakkan perasaan anak dan komunikasi di tengah keluarga mereka membuat anak-anak merasa tidak nyaman. Hal ini membuat anak-anak di Wilayah Kendot tidak punya saluran untuk mengalirkan perasaan negatifnya. Perasaan negatifnya tersimpan sehingga ia merasa tidak nyaman dengan dirinya atau orang disekitarnya, serta menjadi anak yang BLAST (Bored Lonely Afraid-Angry Stress Tired – Bosan, kesepian, takut, marah, stres, dan lelah). Mereka tumbuh dengan konsep diri yang negatif.

Kehidupan Negara Api : Mereka terus menerus melakukan penelitian dan menemukan bahwa orangtua yang terlalu sibuk dengan urusan yang materialistis akan menciptakan anak-anak dengan kondisi mental yang BLAST. Dan anak-anak dengan kondisi mental yang BLAST ternyata merupakan ‘target utama’ dan akan menjadi pelanggan yang loyal bagi bisnis yang mereka jalankan. Mereka bisa menjual apa saja bagi anak-anak bermental BLAST. Mulai dari rokok, miras, narkoba, hingga pornografi, sementara orangtua mereka sibuk dan tak ada waktu memberi perlindungan kepada mereka.

Jenderal Kendut dan Jenderal Kendot bertatapan lama sekali. “Aku sama sekali tidak pernah menyangka tentang hal ini. Kita harus segera mengumpulkan seluruh kendi untuk menyelamatkan anak-anak kita”, ujar Jenderal Kendot sambil bangkit dari duduknya.
Bersambung…

Komunikasi Pengasuhan – Begini Caranya Bicara Perasaan

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #57

Anak baru saja pulang dari rumah teman, membuka pintu dengan kasar, menutupnya dengan keras, berjalan dengan langkah lebar dan cepat, mukanya tegang dan merah, matanya melotot dan basah, bibir tajam, tangan mengepal. Langsung masuk kamar, tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya.

Ibu bingung melihat anaknya seperti itu. Lalu bertanya, setengah teriak sambil mengejar anak “Kamu kenapa Dek ? Cerita dong, kalau kamu diem aja kan Mama ga ngerti !”. Anak tetap diam, masuk kamar, membanting pintu.

Kejadian yang umum bukan ? apakah komunikasinya berhasil ? Tidak.

Apa yang membuat komunikasi menjadi dead lock di kejadian tadi ? Ya, karena ibu mengabaikan bahasa tubuh anak. Saat anak datang dengan bahasa tubuh yang sangat jelas, maka kita bisa melihat bahwa emosi anak sedang sangat penuh. Yang dia butuhkan adalah ruang untuk menumpahkannya. Pikirannya kalut dan sulit mengurai perasaan sendiri, sehingga dia kesulitan untuk memberi respon yang normal.

Respon paling bijak yang bisa Ibu lakukan pertama kali adalah membiarkannya dulu. Tunggu emosinya turun dulu, sampai terlihat dia siap bercerita.

Setelah tiba saat yang tepat untuk memulai bicara, Ibu bisa mulai dengan tawaran pada anak, dengan nada tenang dan penuh kasih sayang “Adek kenapa ? Mau cerita sekarang ?”. Kalau anak menolak, Ibu bisa memberi tanggapan yang membantu anak mengenali perasaannya : “Masih marah banget ya Dek ? Baiklah, Adek bisa cerita ke Ibu nanti, kalau Adek sudah tenang”.

Bantu anak memahami, bahwa menunda bicara, adalah karena Ibu paham anak masih sangat marah, bukan karena Ibu kalah dan putus asa terhadap situasi ini. Sekaligus memberi pesan, bahwa bicara akan dimulai kalau sudah tenang. Pengendalian emosi menjadi penting sebelum memulai bercerita, karena komunikasi yang efektif, hanya bisa dilakukan dalam kondisi tenang.

Ketika anak sudah lebih tenang, bisa jadi anak masih keberatan bicara. Disini, ibu bisa memantulkan perasaan ibu sendiri, sekali lagi dengan tetap tenang. Misalnya : “Ibu merasa bingung karena Adek ga mau cerita apa yang membuat Adek marah”. Pastikan bahasa tubuh kita juga nyambung, yaitu bahasa tubuh bingung. Ingat bahwa respon seperti marah atau balik kesal ke anak, tidak akan ada gunanya, karena hanya akan mematikan momen peluang berkomunikasi.

Dalam komunikasi untuk menyelesaikan masalah, sangat penting untuk membahas dengan tenang dan memantulkan perasaan juga dengan nada bicara tenang.

Jika komunikasi sudah dimulai, Ibu bisa melanjutkan dengan mendengar aktif. Dan di akhir komunikasi, Ibu memberi apresiasi atas kesediaan anak bercerita, sekali lagi juga dengan cara memantulkan perasaan Ibu. Misalnya : “Ibu merasa lega karena Adek mau cerita semuanya ke Ibu. Terimakasih ya Dek :)”

Bayangkan betapa damainya dan kuatnya relasi yang akan terbentuk antara kita dengan anak kita, jika komunikasi kita dijaga sedemikian efektif dan penuh perasaan. Anak akan tumbuh bahagia dan matang karena perasaannya dipahami. Orang tua juga akan mendapatkan kepuasan batin yang berlimpah karena terhubung kuat dengan anaknya. Selamat memulai komunikasi yang menyenangkan 🙂

Komunikasi Pengasuhan – Mengenali Emosi Positif & Emosi Negatif

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #56

Di banyak negara, pendidikan usia dini menekankan pada mengenali perasaan. Di ruangan anak, dinding penuh ditempeli dengan gambar berbagai jenis ekspresi, seperti senang, takut, marah, sedih, penasaran, dan lain lain. Melalui gambar gambar ini, anak dibantu untuk mengenali perasaan mereka sendiri. Mengenali perasaan sendiri adalah langkah awal menemukan solusi atas masalah yang sedang dihadapi.

Sayangnya, ini kontras dengan Indonesia, dimana masih banyak pendidikan di masa anak anak kecil, yang jauh lebih menekankan pada kemampuan kognitif. Padahal, kemampuan kognitif baru bisa berkembang baik setelah 7 tahun. Ini karena neokorteks di otak yang bertanggungjawab untuk kemampuan kognitif baru mulai matang di usia 7 tahun. Justru, otak manusia usia 0-7 tahun mengalami perkembangan di sistem limbik dan prefrontal korteks. Dua bagian ini yang duluan berkembang, bukan bagian neo korteks.

Praktis, banyak anak Indonesia tumbuh dengan kemampuan minim terhadap kendali emosinya. Jangankan mengendalikan emosi, mengenali dirinya sedang merasakan perasaan apa, itu pun sudah sulit. Inilah yang kemudian melahirkan generasi alay yang mudah galau dan bete. Lebih sering bersikap negatif terhadap lingkungannya daripada sikap positif.

Anak perlu mengenali perasaannya, dan kita perlu membantu itu, sehingga dia benar benar kenal dirinya dan mampu memahami situasi. Anak yang tidak terbiasa mengenal perasaannya, akan mudah larut dalam emosi negatif dan sulit mencari solusi atas masalahnya sendiri. Dari sini bisa dilihat, bahwa anak cerdas bukanlah yang ditempa kemampuan baca-tulis-hitung sejak dini. Justru anak cerdas adalah anak yang tumbuh dengan mengenali dan memahami perasaannya, sehingga tahu caranya berpikir mencari solusi, dan mampu berempati pada orang lain.

Emosi sendiri bisa dibedakan menjadi emosi positif dan negatif. Diantara keduanya terdapat nilai netral. Emosi netral adalah kategori emosi yang tidak jelas posisinya. Kadang bisa sebagai emosi positif kadang bisa sebagai emosi negatif, seperti misalnya terkejut dan heran. Emosi positif, contohnya sayang, cinta, bahagia, gembira, senang, ceria, bersyukur, dll. Emosi negatif, contohnya marah, sedih, tersinggung, benci, jijik, muak, dll.

Emosi positif berperan penting memunculkan kesejahteraan emosional (emotional well-being) dan membantu mengatur emosi negatif. Jika emosi anak positif, maka anak akan lebih mudah dalam mengatur emosi negatif yang tiba-tiba datang. Misalnya saat anak sedang merasa bahagia, tiba-tiba ada yang mengejeknya, maka anak lebih sulit untuk tersinggung. Sebaliknya, jika emosi anak negatif, maka masalah sepele pun bisa jadi memicu konflik besar.

Jika anak lebih sering berada dalam emosi positif, maka hati dan jiwanya akan tumbuh sehat. Sebaliknya, jika emosi anak sering berada dalam emosi negatif, maka hatinya hampa, dan jiwanya kosong. Anak seperti ini akan sulit menghadapi hidup, dan sulit menjalani relasi sosial yang sehat.

Pilihan ada di tangan kita sebagai orang dewasa terdekat bagi anak kita, yang mampu mengkondisikan anak kita, dan mengisi jiwa anak kita dengan emosi positif atau negatif. Mari selalu menghidupkan suasana keluarga dengan emosi positif.

Komunikasi Pengasuhan – Lihat! Tubuhku Bicara Padamu

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #53

Kita sudah memahami dari artikel “Bicara Bahasa Rasa” betapa pentingnya membiasakan keluarga kita membicarakan perasaan satu sama lain, terutama anak kita yang sedang belajar memahami perasaannya sendiri. Anak kita sangat perlu dipahami perasaannya karena ekspresi dari perasaannya adalah caranya memberi tahu kita orangtua tentang apa saja kebutuhannya, keinginannya, harapannya. Terutama jika anak kita masih batita.

Jane Chumbley dalam buku terjemahan “Kamus Perkembangan Bayi dan Balita” mengatakan bahwa kurang dari 10% emosi batita diekspresikan dengan kata-kata, dan lebih dari 90% diekspresikan melalui bahasa tubuh. Hal ini lantaran kosakata yang dimiliki batita belum banyak dan ia belum memahami nama-nama emosi/bahasa tubuh yang dimunculkannya sendiri.

Jika kita gagal memahami perasaan anak kita, seperti pesan di WhatsApp yang selalu centang satu (√) dan tidak pernah berubah jadi centang dua apalagi centang biru, tidak pernah sampai. Atau mungkin sudah centang dua tapi tidak pernah berubah jadi centang biru, tidak pernah dibaca.

Padahal anak kita belajar rasa (mengenal, mengelola, dan mengekspresikan dengan tepat emosinya) dari cara kita memperlakukannya. Ia akan memahami bahwa ia sedang sedih, jika kita menerima sinyal dari bahasa tubuhnya dan mengatakan, “Oh, adek sedang sedih ya?”. Ia akan memahami bahwa ia sedang mencari perhatian ketika kita mengatakan, “Oh, kakak sedang cari perhatian ayah ya?” saat ia menarik-narik kaki adiknya ketika kita sedang menggendong si adik. Namun, kita baru bisa bicara demikian jika kita sudah terbiasa bicara menggunakan bahasa perasaan dengan anak kita bukan?

Bagaimana caranya? Mudahnya, ada 3 tahapan yang perlu dibiasakan oleh orangtua untuk memahami perasaan anak kita. Pertama, baca bahasa tubuh anak. Kedua, namai atau tebak perasaannya. Ketiga, mendengar aktif saat anak kita mulai mengalir bercerita. Pada ulasan kali ini, kita akan membahas mengenai membaca bahasa tubuh anak.

Bagaimana caranya memahami bahasa tubuh anak?

• Amati bahasa tubuh anak dalam berbagai situasi. Bisa jadi anak kita menggunakan bahasa tubuh yang sama untuk berbagai situasi seperti bayi yang berekspresi ‘menangis’ untuk emosi lapar, haus, tidak nyaman, takut, dsb. Atau justru menggunakan berbagai bahasa tubuh untuk situasi yang sama. So, be flexible.

• Terima bahasa tubuhnya. “Cup cup, jangan nangis ya, anak kuat anak kuat”. Jika anak kita terbiasa tidak diterima bahasa tubuhnya, anak akan merasa orangtuanya tidak memahami dirinya, dan jika ini terus berulang akan membuat anak tidak percaya kepada orangtua. Terima bahasa tubuhnya sambil kita nama perasaannya, seperti sedih, marah, kesal, kecewa, dan sebagainya. Kita perlu terbuka pada curahan hati anak yang mungkin mengejutkan.

• Latih bahasa tubuh kita sendiri karena anak meniru bahasa tubuh orang tua. Jika kita sedang merasa tidak nyaman, munculkan gerakan, intonasi suara, dan perilaku yang tepat dengan perasaan kita saat itu. Jadikan latihan ini sebagai prioritas. Jika kita menggunakan bahasa tubuh yang tepat dengan perasaan kita, kita akan lebih mudah membaca makna dari bahasa tubuh anak kita.

Bisa jadi diawal latihan kita mengalami berbagai kesulitan dan kesalahan. Terus coba. Yakinkah diri kita bahwa kita mampu membaca bahasa tubuh dan memahami anak kita, mengerti keinginannya, serta mampu menerjemahkan dengan baik apa maksud dari bahasa tubuh yang tidak mampu mereka sampaikan secara lisan.

Anak kita adalah cermin diri kita. Ketika kita menunjukkan niat dan usaha yang tulus untuk memahaminya, anak pun akan belajar hal yang sama, ia akan menghargai dan memahami bahasa tubuh kita dan menyapa kedalaman hati kita. Selamat menyelami makna bahasa tubuh anak kita!