Enam Dosa Sekolah Modern

Diterjemahkan bebas oleh Tita, Relawan SALAM
dari Great Big Mind-6 Problems With ModernSchooling System

Nyaris tak banyak orang yang bertanya, untuk apa sesungguhnya menyekolahkan anak kita? Mestinya agar anak kita siap lahir dan bathin menghadapi realita hidup yang berubah sangat cepat. Tetapi kenyataannya sejak ratusan tahun, praktek proses belajar di sekolah tidak banyak berubah.

Faktanya, 4 pemimpin dunia bersepakat merancang pendidikan untuk menjawab kebutuhan industri, utamanya berperan mencetak pekerja (baca; buruh) pabrik. Penekanan proses di sekolah agar tumbuh kembang mentalitas industrial yakni dalam rangka membangun produksi massa dan kontrol massa. Hal ini menjadi orientasi serta prioritas di sekolah. Seth Godin seorang penulis sekaligus pebisnis berpendapat bahwa tujuan utama sistem pendidikan adalah melatih orang agar mau bekerja di pabrik. Ken Robinson seorang penulis dan pemerhati pendidikan berpendapat, bahwa pendidikan memang dirancang atas kepentingan zaman industri, maka dari itu otomatis mencerminkan sebagai berikut:

Satu: Nilai-nilai zaman industri

Sekolah mendidik siswa dengan menggunakan labeling, dan mengatur kehidupan mereka dengan membunyikan bel—Sepanjang hari agar siswa tidak melakukan tindakan apapun kecuali harus mengikuti instruksi, yakni duduk, perintah keluarkan buku, siswa diminta membuka buku halaman sekian, kerjakan soal nomor sekian. Siswa dilarang berbicara. Di sekolah, siswa dinilai berdasarkan apa yang diinstruksikan guru. Hal seperti itulah, merupakan nilai-nilai industrial yang penting bagi para pekerja pabrik. Kesuksesan mereka ditentukan oleh ketaatan mengikuti instruksi dan melakukan tepat apa yang dikatakan pada mereka. Tetapi saat ini, sejauh mana siswa akan berhasil jika hanya mengikuti instruksi? Padahal dunia modern konon sangat menghargai orang yang kreatif, yang mampu mengomunikasikan ide-ide, dan bekerja sama dengan orang lain. Tetapi siswa, anak-anak kita kenyataannya tidak punya memiliki peluang, kesempatan untuk mengembangkan ketrampilan itu dalam sistem yang berdasarkan nilai-nilai yang diproduksi oleh zaman industrial.

Dua: Kehilangan otonomi dan kontrol

Di sekolah, siswa kehilangan otonomi dan kontrol. Setiap menit dalam hidup mereka di sekolah, dikontrol ketat oleh peraturan. Padahal di kehidupan dunia nyata saat ini, jika siswa memilih mengerjakan suatu pekerjaan penting, maka seharusnya para siswa dapat mengatur waktu sendiri. Para siswa dapat mengambil keputusan sendiri apa yang harus dilakukan dan kapan. Tetapi sekolah sangat berbeda. Sekolah menyampaikan pesan yang sangat berbahaya bahwa mereka tidak berkuasa atas hidupnya sendiri. Mereka hanya menjalankan apa yang telah tertulis, bukannya memberi kesempatan kepada siswa untuk mengatur sendiri kehidupan mereka dan memaksimalkan potensinya. Padahal para ahli yakin bahwa otonomi sangat penting bagi siswa. Tidak heran siswa mengalami kebosanan dan sangat tidak termotivasi di sekolah. Bisa Anda bayangkan jika Anda terus-menerus diberitahu apa yang harus dilakukan di setiap menit hidupmu. Pink seorang penulis buku tentang perilaku, menulis : Otonomi adalah kebutuhan psikologis bawaan—juga Peter Gray seorang psikolog : Anak-anak tidak suka sekolah karena mereka merasa tidak bebas di sekolah.

Tiga: Pembelajaran yang tidak otentik

Kebanyakan apa yang dijalankan di sekolah saat ini tidak otentik karena bergantung pada hafalan dan panutan. Sistem yang dibangun menghasilkan seperangkat pengetahuan umum yang harus diketahui oleh setiap anak. Kemudian setiap berapa bulan hafalan mereka diukur dengan ujian. Kita semua tahu cara tersebut sama sekali sangat tidak otentik karena pasti sudah hilang setelah ujian. Belajar bisa jauh lebih mendalam dan otentik, lebih dari sekadar menghafal dan mengingat. Tapi hanya itu yang kita ukur dan nilai ujian adalah satu-satunya yang dinilai. Ini sangat jelas hanya menciptakan budaya yang sangat tidak sehat antara siswa, orang tua dan guru. Siswa menghadapi situasi yang tidak mengenakkan, di rumah menghafalkan sampai larut malam fakta-fakta tidak penting yang akan sangat cepat dilupakan.

Empat: Tak ada tempat untuk passion dan minat

Kita punya sistem yang sangat standard di mana siswa belajar pada waktu yang sama, tempat yang sama, dan cara yang sama. Ini tidak menghargai fakta dasar sebagai manusia, yang unik dan berbeda satu sama lain. Kita semua memiliki passion dan minat yang masing-masing. Dan kunci pemenuhan hidup adalah menemukan passion masing-masing siswa. Namun apakah sekolah saat ini mendukung siswa menemukan dan mengembangkan passionnya? Tampaknya tak ada ruang di sekolah saat ini yang mendukung siswanya menjawab pertanyaan-pertanyaan penting dalam hidup mereka.

Apa keahlianku?

Apa yang ingin kulakukan dalam hidup?

Bagaimana aku masuk dalam dunia ini?

Sistem pendidikan tampaknya sangat acuh, tidak terlalu peduli. Ada begitu banyak orang hebat yang gagal di sekolah tradisional. Untungnya mereka berhasil mengatasi kegagalan tersebut. Tapi tak semuanya bisa. Kita tidak bisa mengukur betapa banyaknya bakat dan potensi yang tidak terdeteksi dalam sistem saat ini.

Winston Churchill : Nilai rata-ratanya C di sekolah.

Steven Spielberg : tidak naik kelas 6.

John Lennon : dianggap tidak punya harapan dan dianggap badut kelas.

Albert Einstein : dikeluarkan dari sekolah karena suka melawan.

Lima: Perbedaan cara belajar

Masing-masing orang memiliki perbedaan gaya belajar sendiri. Berapa banyak waktu yang kita butuhkan untuk belajar, media atau sumber daya apa yang paling sesuai untuk kita. Tetapi sistem tidak punya ruang untuk perbedaan ini. Jadi jika siswa sedikit lambat mempelajari sesuatu, maka siswa akan dianggap gagal. Padahal yang kita perlukan adalah sedikit waktu untuk mengejar.

Enam: Menceramahi

Dalam sistem sekolah yang ada saat ini, anak diceramahi lebih dari 5 jam sehari. Tapi ada masalah dalam metode ceramah. Sal Khan dari Khan Academy menyebut bahwa ceramah adalah pengalaman mendasar yang mengakibatkan penghilangan kemanusiaan (dehumanisasi). Tiga puluh siswa tidak boleh berbicara satu sama lain. Dalam satu kelas terdapat beberapa siswa dengan level pemahaman yang berbeda-beda. Dan guru tidak memedulikan siswa yang bosan karena sudah lebih maju, atau yang bingung karena tertinggal. Karena internet dan media digital, siswa mampu mendapatkan semua informasi dari seluruh dunia di ujung jari mereka. Teknologi memungkinkan siapa saja untuk mempelajari apa saja. Tetapi karena takut tidak bisa mengontrol, sistem ini tidak memanfaatkan sumber daya luar biasa ini.

Semua sistem pendidikan yang berbasis pada zaman industrialisasi telah ketinggalan zaman dan tidak efektif, jika kita hendak menyiapkan anak-anak kita di dunia modern, jika kita ingin kegiatan belajar lebih efektif dan menarik, maka kita harus mengubah sistem pendidikan kita secara fundamental. ***

Advertisement

Menjadi Guru Zaman Now

Marthunis,
Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Aceh
Media Indonesia, 27 Nov 2017

MEME yang tersebar di media sosial terkait dengan polah generasi milenial atau lebih populer disebut kids zaman now terkadang membuat kita berada dalam situasi antara ingin tertawa dan mengelus dada. Salah satu ilustrasinya ialah ketika anak zaman old yang hobinya bermain di luar rumah harus diseret paksa oleh sang ibu agar pulang ke rumah karena hari sudah telanjur sore. Sebaliknya, kids zaman now malah harus diseret paksa oleh sang ibu agar mau keluar rumah untuk bermain dan bersosialisasi dengan teman-temannya karena sudah telanjur kecanduan gadget di tangannya.

Menyalahkan generasi milenial yang telanjur kecanduan perangkat digital yang mereka miliki ialah sama halnya dengan mengutuk kemajuan teknologi itu sendiri yang bisa berarti sebuah kekeliruan. Marc Prensky, seorang penulis dan pemerhati pendidikan asal Amerika Serikat, pernah berujar for our twenty-first century kids, technology is their birthright. Hal ini mengindikasikan bahwa keterikatan generasi masa kini dengan teknologi merupakan sebuah hal yang tak terhindarkan. Yang menjadi catatan ialah bagaimana teknologi dalam bentuk internet, game online, maupun media sosial dapat diarahkan untuk digunakan dalam ruang yang lebih positif bagi kids zaman now.

Maka, dunia pendidikan memiliki peranan penting untuk memanifestasikan hal ini. Salah satunya ialah dengan memberdayakan para gurunya menjadi guru zaman now. Dalam 21st Century Teachers (Becta: 2010) dan What Kind of Pedagogies for The 21st Century (Scott: 2015) secara gamblang dijabarkan bahwa salah satu kualifikasi untuk menjadi guru di abad ini ialah melek teknologi. Alih-alih menyalahkan teknologi, guru zaman now sebaiknya mampu menerjemahkan kemajuan teknologi secara tepat dan proporsional bagi proses pembelajaran.

Survey of Schools: ICT in Education (2013) yang dilakukan European Commission (Directorate General Communications Networks, Content, and Technology) di sekolah-sekolah di 31 negara di Eropa, menemukan bahwa guru-guru yang cukup percaya diri dalam penggunaan ICT (Information and Communication Technology) di sekolah cenderung membawa pengaruh positif bagi proses pembelajaran siswa secara menyeluruh. Mereka terlihat sebagai guru yang menyenangkan bagi para siswanya karena dianggap gaul dan up to date. Sebaliknya, guru-guru yang kurang percaya diri terhadap pemanfaatan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dalam mengeksekusi proses pengajaran mereka dianggap sebagai guru yang membosankan.

Tentu, rasa percaya diri atau sebaliknya bagi para guru terhadap penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran dilatari pengetahuan dan kemapanan skill yang mereka miliki terhadapnya. Implikasinya, para guru yang kurang percaya diri dalam pemanfaatan TIK dalam memfasilitasi proses belajar siswa akan cenderung skeptis terhadap para siswanya yang membawa gadget ke sekolah, baik dalam bentuk smartphone, laptop, maupun lainnya. Guru-guru tersebut akan cukup mudah melabeli siswa yang gandrung dengan teknologi sebagai siswa badung, malas belajar, lalai, dan sebagainya.

Akibatnya ialah para siswa tidak mendapatkan informasi yang tepat dari para gurunya tentang bagaimana seharusnya mereka memanfaatkan teknologi di tangan mereka secara aman dan bertanggung jawab. Maka, tidak mengherankan jika kids zaman now terutama di Indonesia cenderung ngawur dan tidak dapat memanfaatkan teknologi yang mereka kenal seperti internet maupun media sosial secara tepat maupun proporsional. Berbeda dengan hasil survei serupa di atas yang dilakukan European Commission di sekolah-sekolah di 31 negara di Eropa terhadap para siswa.

Hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas peserta didik yang menjadi responden dalam survei tersebut menyatakan bahwa mereka paham benar bagaimana memanfaatkan teknologi baik dalam bentuk intenet maupun media sosial secara aman dan bertanggung jawab. Pemahaman dan kemampuan ini juga didorong perhatian guru terhadap hal penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Perbedaan fenomena ini harus dilihat dari kacamata yang lebih komprehensif. Permasalahan generasi milenial negeri ini yang belum cerdas dalam memanfaatkan TIK tentu bukan berasal dari kemajuan teknologi yang tidak dapat dibendung. Toh, kemajuan peradaban dalam bentuk teknologi ialah sebuah keniscayaan. Faktanya, seiring dengan laju teknologi yang begitu cepat, pendidikan kita di Indonesia ternyata belum dapat mengimbangi kemajuan tersebut.

Salah satu indikatornya ialah masih banyaknya guru yang belum melek teknologi. Alih-alih mampu mengembangkan teknologi yang ada saat ini, masih banyak guru di negeri ini yang masih berkutat dengan hal-hal nonteknis dalam pemanfaatan teknologi. Dalam sebuah riset yang dilakukan Bambang Sumintono (2012) terhadap 151 guru sains SMP di Indonesia yang berasal dari dari Pulau Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku, dan Papua, dalam penggunaan perangkat TIK dalam pengajaran mereka. Salah satu temuan yang menarik ialah para guru di wilayah itu mengalami kesulitan dalam pemanfaatan TIK disebabkan hal yang sangat mendasar sekali, yaitu tidak adanya fasilitas yang mereka miliki.

Secara personal, mereka tidak mampu membeli perangkat komputer atau laptop untuk kepentingan proses pembelajaran, dan secara institusional sekolah mereka belum dapat menyediakan fasilitas teknologi serupa. Hal ini mengisyaratkan betapa pendidikan kita tertinggal jauh di belakang. Momen hari guru yang baru saja diperingati dua hari yang lalu seyogianya menjadi momentum berharga bagi para pemangku kepentingan pendidikan serta seluruh guru di negeri ini untuk melakukan refleksi setelah 72 tahun memperingatinya. Refleksi untuk melihat fenomena kids zaman now yang gandrung dengan teknologi sebagai sebuah kemutlakan dari perubahaan zaman.

Yang harus kita upayakan ialah bagaimana mempersiapkan pola pendidikan yang tentunya juga zaman now, yakni rangkaian prosesnya akan menggiring generasi milenial itu ke dalam ruang yang lebih positif dalam memanfaatkan teknologi yang mereka kuasai. Pada titik ini, guru sebagai aktor utama dalam ruang pendidikan itu haruslah memainkan perannya sebagai guru zaman now, yang tidak anti dan melek teknologi, serta mampu membawa peserta didiknya dapat menggunakan teknologi itu secara tepat, aman, dan bertanggung jawab. Semoga.

.

ZPD dan Ban Zhuren

Khairil Azhar
Kepala Divisi Pelatihan Yayasan Sukma Jakarta
Media Indonesia, 20 November 2017

PEMBELAJARAN, bagi Vygotsky, pada 1930, adalah soal mengelola perkembangan untuk menghapus jarak.

Ini setidaknya seperti yang ditulisnya dalam Mind in society: the Development of Higher Psychological Processes.

Jarak itu, kata psikolog prolifik Rusia yang mati muda ini, ada di antara perkembangan aktual dan potensial murid.

Pembelajaran, kata Vygotsky, hanya akan berhasil sejauh tingkat kerumitan isinya berada dalam jangkauan murid.

Pelajaran yang terlampau sulit, banyak, atau terlalu jauh berpeluang menyebabkan demotivasi atau bahkan kegagalan, seperti munculnya kebosanan dan melemahnya kepercayaan diri murid.

Inilah yang disebut sebagai pembelajaran yang mesti merentang dalam wilayah perkembangan maksimal murid, atau zone of proximal development (ZPD).

Berbeda dari Piaget, Vygotsky menekankan pentingnya kehadiran ‘orang lain’, seperti guru, orangtua, atau teman.

Itu tidak saja dalam proses pembelajaran, tetapi juga dalam percepatan perkembangan kecerdasan.

Namun, ini tentu tidak sesederhana bayangan umum tentang pola relasi vertikal antara seorang murid dan ‘orang yang lebih tahu’ (the more knowledgeable others).

Pembelajaran, bagi para Vygotskian, adalah proses dialog atau dialektika dalam sebuah konteks relasional. Di dalamnya ada proses afirmasi atau negasi, penambahan atau reduksi, atau pertarungan tesis dan antitesis.

Belajar adalah proses pergumulan yang dinamis, dalam diri murid maupun secara interpersonal. Kehadiran guru atau orang tua bukan untuk mendominasi, tetapi sebagai mitra dialog supaya jarak antara ketidakmampuan dan kemampuan murid terhapus.

Lalu bagaimana guru tahu tentang jarak di antara kedua perkembangan tersebut? Vygotsky, dalam buku yang baru terbit dalam bahasa Inggris pada 1978 itu, secara tegas bicara tentang kemampuan memecahkan suatu masalah atau menyelesaikan sebuah persoalan secara mandiri.

Ini yang disebutnya sebagai indikasi telah terjadinya perkembangan aktual.

Perkembangan potensial atau potensi perkembangan, selanjutnya, diketahui dengan mencermati tingkat ketergantungan. Seorang guru, mengikuti Vygotsky, mesti mampu melihat “…Sejauhmana ketergantungan muridnya pada bimbingan orang dewasa atau teman belajar yang lebih kapabel dalam memecahkan masalah atau mengatasi persoalan.” Belajar dikatakan terjadi ketika ketergantungan berkurang dan hapus.

Salah satu indikasi umum yang menunjukkan telah terjadinya perkembangan aktual ialah ketika murid mampu menghasilkan sebuah ‘produk’ secara mandiri.

Dalam bentuk paling sederhana, seperti di tingkat TK umpamanya, ini bisa dilihat dari keberhasilan murid menyusun puzzle atau lego.

Secara sosial, perkembangan aktual tecermin dari keberhasilan murid mengelola konflik dan terterima dalam satu komunitas.

Demikian juga, ini bisa dilihat ketika murid mampu merespons suatu fenomena secara kritis dan menghadirkan solusi yang kreatif.

Ban zhuren

Praktik kewalikelasan sejatinya ialah salah satu bentuk penerapan ZPD dalam konteks sistem pendidikan massal, yakni kehadiran the more knowledgeable others.

Wali kelas merupakan penanggung jawab supaya terjadi perkembangan aktual sesuai dengan potensi perkembangan murid-murid di kelasnya.

Wali kelas dalam sistem pendidikan Tiongkok disebut ban zhuren atau sutradara kelas.

Sebagai kunci keberhasilan pendidikan, Liu dan Barnhart, dalam The Educational Forum edisi 63, 1999, menulis “… Wali kelas mengorkestrakan keberhasilan murid dengan membangun suatu komunitas belajar.”

Komunitas belajar itu sendiri dikelola dengan konsep ‘homeroom’ dan ‘home setting’.

Sederhananya, tempat belajar, yang tidak melulu dalam arti ruangan, adalah rumah dan ditata secara rumahan.

Rumah ini merepresentasikan adanya sebuah keluarga belajar yang bertumpu pada kesalingpercayaan mutual trust.

Guru disyaratkan percaya pada potensi perkembangan murid sebagai cermin bagi murid supaya juga percaya pada gurunya.

Dalam tata-kelola rumahan ini, sebagai sutradara, wali kelas berpeluang besar membangun ikatan emosional yang kuat, tidak saja dalam hubungan guru-murid, tetapi juga murid dengan murid.

Keterikatan ini kemudian memungkinkan terciptanya komunikasi yang efektif dan membesarnya peluang untuk bekerja sama.

Bagi guru, proses pembelajaran tentu menjadi lebih mudah.

Ketika komunikasi berjalan efektif, guru bisa secara lebih tepat mendiagnosis perkembangan aktual murid sekaligus memprediksi perkembangan potensialnya.

Bagi murid, selain rasa aman dan nyaman dalam bereksplorasi dan berkreasi, komunikasi efektif dengan guru dengan sendirinya memperbesar peluang melejitnya perkembangan potensial mereka.

Kemandirian murid

Sebuah potret pendidikan di Jepang memberi tahu kita lebih jauh tentang bagaimana guru memfasilitasi berkembangnya kemampuan mengelola diri murid-murid sejak masa prasekolah. Para murid di Jepang, sebagaimana ditulis Catherine C Lewis dalam New Direction for Child Development, edisi 73, 1996, sedapat mungkin diperlakukan seperti orang dewasa. Konsep ini bertumpu pada upaya-upaya untuk memfasilitasi perkembangan kematangan murid.

Dalam risetnya, Lewis terutama menunjukkan bagaimana murid-murid KB, TK, dan SD di Jepang difasilitasi pertama-tama supaya mampu secara reflektif memahami dan memaknai persoalan sosio-relasional mereka.

Berdasarkan pemahaman reflektif ini, mereka selanjutnya tidak saja digiring untuk mampu menemukan resolusi, tetapi juga lebih jauh bertindak secara bersama-sama untuk membangun, merawat, dan mengembangkan kolektivitas.

Salah satu contoh yang menarik ialah bagaimana seorang wali kelas ‘membiarkan’ dua murid yang berkelahi dengan disaksikan teman-temannya, dan dia hanya melihat dari jauh.

Dalam perspektif Vygotskian, tindakan ‘membiarkan’ ini bukanlah tindakan tak terukur.

Sebagai sutradara, sang guru berupaya mengondisikan supaya inisiatif dan upaya menuju gencatan, perdamaian, dan terbangunnya relasi bermula dari murid-murid yang ‘menonton’ perkelahian.

Sebagaimana dicatat Lewis, terjadi perdamaian di antara kedua murid TK yang berkelahi tersebut.

Dimulai dengan adanya inisiasi yang dicetuskan seorang murid, teman-teman mereka yang ‘menonton’ secara bersama-sama membangun resolusi.

Perlu dicatat lebih lanjut, basis perdamaian dalam kasus tersebut bukanlah doktrin klise hasil indoktrinasi atau karena rasa takut.

Lewis mendefinisikan kompetensi (atau agensi) sebagai kemampuan untuk memulai dan menjalankan tindakan dalam berbagai konteks karena pertimbangan kebernilaian (worthwhileness).

Artinya, murid-murid TK tersebut mampu mencerna fenomena secara kognitif dan memutuskan tindakan secara mandiri.

Wali kelas kita

Idealnya, tentu saja, wali kelas di Indonesia mampu mempraktikkan ZPD menjadi ban zhuren seperti di Tiongkok atau memfasilitasi perkembangan kemandirian murid seperti di Jepang, atau bahkan lebih dari itu.

Sayangnya, tak terbantahkan praktik pendidikan kita masih bertumpu pada berbagai bentuk ‘penghakiman’ terhadap akuntabilitas belajar murid.

Di kelas-kelas ada berbagai bentuk tugas, kuis, ujian harian, ujian tengah semester, ujian akhir semester, ujian nasional, dan sebagainya. Murid-murid di sekolah kita born free but tested to death.

Dalam praktik pendidikan semacam itu, tugas utama wali kelas masih melulu untuk memastikan semua muridnya lulus ujian, naik kelas dan tamat sekolah.

Wali kelas lebih banyak bergumul dengan borang, laporan, administrasi, rapat, dan tindakan-tindakan intimidatif supaya murid-muridnya belajar.

Inovasi Membutuhkan Konsistensi

“Inovasi membutuhkan konsistensi, karena tanpanya, ia secara perlahan akan mulai mati.”

Seusai gelaran event WBT batch ke-15 garapan Akademi Trainer di tanggal 20-22 Februari 2015 tahun lalu, salah seorang alumninya ada yang mendatangi saya. Mba Ririe namanya. Kami sebelumnya berkenalan di WBT, karena kebetulan saya menjadi salah satu fasilitator trainingnya.

Ia, mewakili beberapa teman alumni lainnya meminta saya, untuk mengajarkan kepada mereka tentang mendesain slide presentasi.

Saat itu saya berkata, “wahh, saya bukan trainer untuk slide presentasi Mba Ririe. Lagipula, saya tidak punya bahan materi untuk sharing mengenai slide.”

Beliau kemudian menimpali, “nggak apa-apa Bang Andy. Bikin aja materinya dan nanti kita dari alumni WBT15 jadi peserta trainingnya Bang Andy. Soalnya beberapa dari kita sudah sepakat. Pokoknya harus belajar dari para fasilitator usai WBT dan pastinya, yang pertama kami mesti belajar, ya dari Bang Andy.”

Saya sempat terdiam sejenak ketika memikirkan permintaan tersebut.

Lalu Bismillah dan saya pun akhirnya menyanggupi seraya berkata, “kasih saya waktu 3 minggu ya Mba Ririe untuk mendesain materinya.”

Petualangan pun akhirnya dimulai. Tepat di tanggal 12 April 2015, angkatan pertama dari kelas pelatihan seni mendesain slide presentasi, untuk beberapa alumni dan fasilitator WBT15 menjadi awal babak sejarah baru. Sebuah inovasi sederhana dalam hidup, yang sejarahnya tak akan pernah terlupa.

Inovasi itu kemudian diberi nama, “Melukis Slide Dengan Hati”.

Tanpa terasa, inovasi tersebut kini makin dicintai. Berharap keberadaannya, akan bisa menjadi pengungkit bagi mereka yang ingin merevolusi tampilan slide presentasinya.

Karena dari apa yang dipahami saat ini, slide bukan lagi sekadar alat bantu. Melainkan pilihan penyampai pesan dalam bentuk media visual, yang kita yakini akan mampu memperkuat pesan verbal yang diucapkan. Jika delivery untuk tampil berbicara saja dipelajari, maka slide presentasi juga patut untuk dijiwai.

Ketika tak ada passion, maka di sana sulit tuk muncul innovation. Tanpa terasa, sudah 14 kelas public digelar dan juga beberapa in-house di organisasi atau perusahaan.

Inovasi pastinya tiada akan berhenti. Karena telah terpatri sebait mimpi, semoga bisa berinteraksi dengan sejuta sahabat dan mampu mewarnai negeri ini dengan slide presentasi yang bermanfaat dan menggerakkan hati.

JIka di hari kedua Hari Raya Idul Fitri tahun 2014 tak pernah tercetus ide membuat ‪#‎1Day1Quote‬, mba Ririe tentu tak akan pernah mendatangi saya.

Jika saya berhenti menulis lantaran buku yang tak kunjung jadi dan tak menantang diri untuk berinovasi, tentu tak akan pernah lahir ide mendesain #1Day1Quote.

Jika saya menampik permintaan mba Ririe untuk sharing tentang slide lantaran tak berani, maka passion menjadi seorang slide designer tak akan pernah dijalani.

Akhirnya, sejarah itu masih berjalan hingga hari ini. Alhamdulillah, rencana Tuhan yang membuatnya menjadi begini. Namun pada akhirnya, jalan yang telah dibukakan oleh-Nya kembalinya kepada diri sendiri. Andai tak berteman dengan konsistensi, maka semua ini hanya akan cepat berakhir, tanpa sempat menjadi goresan sejarah yang bisa mendapat ridho Ilahi.

Konsistensi pun memliki kawan baik yang bernama pengembangan diri. Ilmu tak pernah diam di tempat, namun ia terus tumbuh dan berkembang sesuai kemajuan jaman. Ilmu yang didapat kemarin mesti terus diasah. Ilmu yang terbentang di hari depan, menantang untuk diperjuangkan.

Inovasi itu kini, tengah berupaya membentuk team yang bisa memperkokoh kerangka bangunan kapal yang telah mulai disusun. Sadar bahwa mengarungi bisnis, tak bisa dilakoni oleh seorang superman. Nakhoda tak bisa berlayar sendirian. Namun yang dibutuhkan adalah super team. Team yang nantinya bisa mulai bersama-sama menaikkan layar, untuk menjelajah samudera.

Sebelum layar terkembang, pembelajaran membentuk super teamnya ada di pelatihan bertajuk “Competitive Innovation Workshop”, di tanggal 10-11 Agustus 2016 mendatang.

Inovasi jadi tak berarti tanpa konsistensi dan konsistensi dapat terlihat, dari bagaimana seseorang mau berjuang untuk mengembangkan diri.

“Learning and innovation go hand in hand. The arrogance of success is to think that what you did yesterday will be sufficient for tomorrow.” – William Pollard

Karya tulis ini dipersembahkan untuk Klub Inovator Bisnis, tempatnya belajar strategi dan inovasi bisnis. Join di bit.ly/klubinobis.

Salam suksesmulia,
Andy Sukma Lubis

Saya Butuh Mentor

Eileen Rachman & Billy Latuputty
Kompas, 28 Mei 2016

PERNAHKAH kita mendengar kata “mentor” dalam obrolan anak muda sekarang, terutama mereka yang baru memasuki korporasi atau lembaga? Bila iya, bisa dipastikan bahwa korporasi atau lembaga tersebut sudah memiliki sistem untuk mempersiapkan future leaders-nya. Bila tidak, maka bisa saja upaya-upaya untuk menarik individu berpotensi serta mengakselerasi proses pengembangan maupun pembelajarannya masih belum tertata dalam sistem.

Bayangkan jika seorang karyawan muda, walaupun ia ambisius, ingin berkembang cepat, ternyata tidak punya bayangan tentang jalur pengembangan, bahkan tidak mempunyai gambaran jelas tentang konsep mentoring. Tanpa harus menyalahkan generasi mana yang salah, kita perlu menyadari bahwa di samping mengupayakan profitabilitas dan produktivitas, kita juga perlu menabung upaya untuk mengembangkan potensi kepemimpinan pada generasi muda. Bayangkan bila terjadi sesuatu hal pada pimpinan perusahaan sekarang. Sudah siapkah kita dengan rencana suksesi maupun suksesornya?

Di banyak perusahaan, pertanyaan ini memang sering muncul. Tetapi dalam banyak kasus, para leader, termasuk departemen pengembangan sumber daya manusianya, tidak tahu bagaimana cara memulainya. Bila memulai pun, sering kali mereka tidak bisa menjaga konsistensi pelaksanaannya. Penelitian menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan dengan program mentoring yang sinambung biasanya mempunyai tingkat semangat kerja yang lebih baik.

Mentor maupun “mentee” merasakan kepuasan kerja lebih tinggi dibandingkan jika program ini tidak ada sama sekali. Individu pergi bekerja, dengan kesiapan hati menghadapi tantangan, siap membantu sesama anggota tim, siap mengajari teman lain, dan paham bagaimana memberi kontribusi kepada perusahaan. Individu yakin bahwa kontribusinya berdampak signifikan bagi kemajuan perusahaan. Bahkan, ketika bisnis terasa sepi, justru semangat para pembelajar inilah yang bisa mengangkat mental perusahaan.

Kenali akselerator karier anda

Sepintar dan sesukses apa pun, kita perlu menyadari bahwa kita perlu orang lain untuk mempercepat pengembangan diri. Kita mungkin mengenali para atasan di pucuk kepemimpinan, yang sangat memperhatikan bawahan, dan sering memberi tips ataupun pengarahan pada kita. Namun, banyak juga atasan yang tidak meluangkan waktu untuk memperhatikan kita. Dalam situasi ini, kita seakan berada di sebuah lembah tanpa alat bantu untuk mencapai dataran tinggi.

Adanya sistem mentoring sebetulnya sangat membekali diri kita dengan hal-hal yang tidak kita dapatkan baik di sekolah, pelatihan atau pendidikan formal lainnya. Seorang mentor yang baik, selain mempunyai jalur koneksi lebih banyak, bisa memberi kita kesempatan untuk bertanya, menyampaikan proposal, belajar, atau sekedar berkenalan dengan orang yang tidak mungkin kita temui dengan upaya sendiri. Seorang mentor juga biasanya sudah mempunyai lebih banyak referensi. Ia bisa menyarankan buku, jurnal, artikel atau bacaan lainnya, agar wawasan kita semakin meluas.

Banyak di antara kita, walaupun sering membaca visi misi perusahaan, ternyata kurang paham tentang bagaimana menerapkannya dalam perilaku kerja sehari hari. Dari seorang mentorlah kita bisa mendapatkan “ilmu” berperilaku, sekaligus menanamkan nilai-nilai korporasi dengan lebih kuat. Kita tidak mungkin maju, bila kita tidak mempunyai pandangan jauh ke depan. Dengan mentorlah kita bisa bertukar pikiran mengenai masa depan, dan nasib karier kita.

Banyak ahli yang mengatakan, ”mentorship is a two-way street”. Apa artinya? Bisakah Anda membayangkan, rasa kesal seorang mentor bila ia tidak melihat adanya perbaikan, atau respons positif dari mentee-nya? Pertama, kita perlu berupaya keras untuk menjadi orang yang layak mendapatkan mentor. Sikap kerja dan kinerja kita perlu menonjol. Mau tidak mau, hanya kinerja dan sikap kerjalah yang bisa mencuri hati para mentor. Supaya engagement antara mentor dan mentee tetap terjaga, si mentee memang harus memperlihatkan kemajuan, dan menunjukkan nilai tambah yang produktif. Tidak bisa pasif, tidak berinisiatif, tetapi harus aktif berprestasi.

Nilai tambah ini bukan saja dirasakan si mentee dan perusahaan, tetapi lebih daripada itu rasa lega, bangga dan maju, juga akan dirasakan oleh sang mentor. Bagi mentor yang memang sudah senior, berperan sebagai pembina juga mengandung fungsi kontrol bagi dirinya. Otomatis ia perlu menjaga perilakunya sendiri, karena perlu walk the talk. Tanpa disadari, seorang mentor mengelevasi posisinya sendiri, karena mengembangkan pemikiran yang segar sebagai efek pembelajaran ini.

Bisakah perusahaan membuat sistem mentoring?

Beberapa best practice menunjukkan bahwa program yang sukses, koordinatornya adalah pimpinan puncak atau paling tidak, direktur PSDM-nya sendiri. Mau tidak mau, kita pun perlu memilih calon-calon mentor yang mempunyai kemampuan komunikasi yang di atas rata-rata, serta dikenal sebagai individu yang berpandangan luas. Mereka pun perlu dilatih untuk misalnya menggali kekuatan “mentee”, mengenali persoalan, dan pertimbangan yang dikemukakan mentee, dan yang paling penting, terampil mengarahkan pembicaraan dengan pertanyaan-pertanyaan penggali, sebelum kemudian memberi pengarahan atau penugasan.

Perusahaan bisa membantu untuk mengampanyekan budaya bertanya, dan juga pemberian umpan balik yang actionable melalui poster-poster, iklan internal dan buletin, sehingga kebiasaan para karyawan pun terbentuk. Program mentoring juga akan efektif bila mentee yang sukses memang akan diberi prioritas untuk menduduki jabatan yang lebih menantang. Unsur sponsorship yang sering kita kenal dalam organisasi kemiliteran juga bagus kita terapkan di sini, asalkan obyektif dan tidak mengandung unsur nepotisme.

Membenahi Bahasa, Membenahi Matematika

Iwan Pranoto,
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI di New Delhi

Pengajaran kebahasaan yang bermutu di suatu sekolah akan berdampak positif pada pelajaran lain. Khususnya keberadaan guru mata pelajaran bahasa yang baik akan meningkatkan prestasi murid bukan saja di bahasa, tapi juga di mata pelajaran matematika, dan pengaruhnya pada matematika ini bertahan lama. Lebih tepatnya, murid yang belajar dari guru bermutu di mata pelajaran English Language Arts (ELA), prestasinya di pelajaran matematika akan meningkat juga.

Temuan ilmiah yang mendukung pernyataan di atas dilaporkan dalam sebuah artikel berjudul “Learning that Lasts: Understanding Variation in Teachers’ Effects on Students’ Long-Term Knowledge”. Penelitian yang tentunya bermanfaat pada perancangan kebijakan pendidikan ini dilaksanakan oleh Benjamin Master dan Susanna Loebdari Universitas Stanford serta James Wyckoff dari Universitas Virginia.

Hal ini memberi pesan bagi penentu kebijakan pendidikan bahwa upaya perbaikan mutu guru kebahasaan sangat strategis, karena dampaknya bersifat lintas disiplin dan bertahan lama. Khusus untuk Indonesia, jika situasinya boleh disejajarkan, ini berarti bahwa peningkatan mutu guru matematika perlu dibarengi dengan peningkatan mutu guru kebahasaan (bahasa Indonesia dan bahasa lain) sekaligus kurikulum dan buku ajarnya. Ini berarti bahwa perancangan strategi pengembangan pendidikan matematika dan bahasa perlu disiapkan dalam sebuah payung serta sasaran bersama.

Dalam laporan tadi tidak dijelaskan mengapa hasilnya demikian. Namun temuan di atas menyokong keyakinan bahwa seseorang yang cakap berbahasa akan terbantu saat bermatematika. Bahkan, saat sekadar memahami buku matematika, seseorang dituntut memaknai tiap kalimat sekaligus istilah teknis di dalamnya. Karena itu, masuk akal bahwa kecakapan berbahasa akan membantu seseorang dalam bermatematika.

Ini sekaligus menyangkal mitos kuno yang menyatakan bahwa kemampuan bermatematika terlepas dari kemampuan berbahasa. Pendapat bahwa seseorang yang cakap berbahasa, tak akan cakap bermatematika, dan sebaliknya, yang cakap bermatematika, tak akan cakap berbahasa, disangkal lewat penelitian ini.

Pada saat yang sama, dugaan kelemahan kecakapan berbahasa sebagai penyebab lemahnya pelajar kita dalam bermatematika dapat digali dari laporan tes internasional bidang matematika seperti TIMSS dan PISA. Untuk memperoleh dugaan ini, perlu mengkaji laporan tadi dengan mendalam, tak cukup sampai pada pemeringkatan negara saja.

Isu pemeringkatan negara memang menarik untuk bahan bakar perdebatan politik dalam layanan publik, tetapi sejatinya pemeringkatan ini tak berguna dalam merumuskan kebijakan perbaikan pendidikan. Laporan dan data perlu dikaji secara rinci, khususnya mengenali jenis soal seperti apa yang mudah serta sulit dikerjakan pelajar Indonesia. Dari situ dapat disorot kecakapan atau pengetahuan apa yang kurang dikuasai pelajar, sehingga dapat disusun langkah perbaikannya.

Dalam TIMSS 2011, misalnya, sekitar dua pertiga pelajar kelas VIII kita berhasil mengerjakan sebuah soal aljabar yang bentuknya sudah “siap dilahap” dengan mengganti lambang peubah dengan bilangan yang diberikan, walau sesungguhnya ini bentuk soal abstrak.

Meski demikian, saat menghadapi sebuah soal yang dinarasikan dalam teks, walau tak menuntut keterampilan berhitung sama sekali, hanya sekitar seperempat pelajar kita yang berhasil mengerjakan. Karena itu, wajar diduga bahwa pelajar kita memiliki kendala membaca dan memaknai narasi dari soal. Dan kendala ini menyulitkannya dalam bermatematika.

Memang berbahasa dalam bermatematika mungkin lebih sulit dibanding berbahasa sehari-hari, karena dalam bermatematika dituntut bahasa teknis. Walau kata dalam bahasa teknis sama dengan yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, tapi maknanya kerap jauh berbeda.

Misalnya, contoh soal berikut: “Diketahui bahwa dua akar suatu persamaan kuadrat jumlahnya nol. Apa yang istimewa dari persamaan itu?” Kata “akar” dan “persamaan” memang jamak digunakan dalam perbincangan sehari-hari. Namun dua kata tadi berbeda makna saat di dalam pelajaran matematika.

Ini berarti bahwa, untuk dapat bermatematika dengan baik, seorang pelajar butuh mampu berbahasa yang baik sekaligus menguasai bahasa teknis matematika.

Dari pembahasan di atas, mendesak lahirnya terobosan inovasi pembelajaran kebahasaan yang memberlatihkan kecakapan membaca untuk memahami teks sekaligus menulis untuk mengungkapkan argumen bernalar. Dapat dipertimbangkan agar bahan pelajaran bahasa Indonesia setara dengan ELA, yang menekankan kegiatan mengajak anak memahami literatur sastra, menghargai keindahan karya sastra, sekaligus menuliskan pemikirannya. Sejalan dengan itu, terobosan inovasi pengajaran matematika ke depan juga mendesak dalam menumbuhkan kecakapan berbahasa formal dan menyajikan gagasan.

Pembelajaran Seumur Hidup

Eileen Rachman & Emilia Jakob
EXPERD CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

KOMPAS,12 maret 2016

Seorang pimpinan perusahaan begitu bangga dengan tim IT nya dan menganggap bahwa kemampuan teknologi informasi perusahaannya sudah sangat canggih dan mumpuni. Namun dalam suatu seminar, pimpinan ini terkejut, karena ternyata banyak perusahaan lain mempunyai kekuatan IT yang sama, bahkan lebih canggih. Ketika meninjau kembali manajemennya, ia baru menyadari bahwa tim IT yang merasa sudah canggih ini, ternyata tidak mempelajari sistem baru dan tidak memperbaharui pengetahuannya. Beberapa bahasa bahkan masih menggunakan versi lama. Bisakah kita bertahan bekerja dengan pengetahuan yang diperoleh lebih dari 10 tahun lalu ini?

Mungkin untuk beberapa sistem yang memang sangat statis, pengetahuan ‘old school’ ini masih bisa digunakan. Tetapi menjawab tantangan dan tuntutan pasar yang semakin besar, kompleks dan tak jelas, pastinya membutuhkan pengetahuan yang paling mutakhir. Bisakah kita menjaga keingintahuan, semangat belajar, pembaruan kompetensi di lingkungan perusahaan kita, sementara kita juga perlu mengejar target dan tetap berproduksi?

Di Google, 20 % dari kegiatan perusahaan dipergunakan untuk merancang prototip baik untuk produk baru, pembenahan interior ruang atau bahkan untuk mendesain kursi taman kantor baru. Menurut Larry Page, founder Google, “Yang penting ada unsur kotak katik dalam benak karyawan, tidak hanya desain, tetapi juga mencakup implementasi, aplikasi, dan terealisasikan secara fisik”. Kegiatan ini diperlukan untuk membuat aktivitas berfikir karyawan selalu berada dalam keadaan siaga. Tidak bisa kita menganut faham penyebaran benih, ”Let a thousand flowers bloom, and we’ll see what happens” lagi.

Saat ini kita selalu perlu berfikir dengan berbagai fokus, serta memperbaharui proses yang sedang berjalan. Bahkan sebenarnya kita perlu menjaga ‘sikap oposisi’ terhadap produk yang tadinya adalah ide cemerlang kita. Tuntutan belajar dalam organisasi sudah bukan main-main. Bila tidak dijaga dan dipasarkan dengan baik di internal, maka kita akan menemukan karyawan yang meskipun masih muda, tetapi berpandangan ‘jadul’, keras kepala, dan tidak percaya pada perubahan, merasa tidak bisa dan tidak mau mempelajari sesuatu dalam proses bekerjanya. Bahkan dalam organisasi yang secara teratur mengirimkan karyawannya ke luar negeri untuk meraih gelar S2 bahkan S3 pun, gejala kealotan pemikiran ini bisa tetap terjadi.

Belajar informal

Apakah pembelajaran memang sudah berganti rupa? Masih bisakah kita menyuntikkan kegiatan belajar dengan cara konvensional? Matthias Malessa, Chief Human Resources Officer Adidas, merasa pembelajaran di dalam kelas sudah tidak lagi berdampak signifikan. Ia mencari cara, bagaimana pembelajaran dapat menjadi “light, desirable, dan fun.” Matthias percaya, bahwa mengalami sendiri, melakukan kesalahan, adalah cara pembelajaran yang paling efektif. Mereka percaya bahwa 80% pembelajaran terjadi secara informal. “Corporate University’ terasa menjadi tempat belajar yang sempit untuk mengakomodir karyawan yang ingin belajar dengan santai. Itulah sebabnya Adidas, mencari cara agar belajar bisa terjadi sepanjang hari, 24/7. Bahan pembelajaran diperluas menjadi bacaan koran, video, internet, quiz-quiz, termasuk ‘sharing’ untuk mengakses sumber sumber eksternal seperti TED, You tube, blog-blog. Mereka mengikuti prinsip : MOOC’s (Massive Open Online Courses). Para karyawan yang dibesarkan oleh You Tube, Pinterest dan Instagram ini perlu dirangsang pembelajarannya melalui media media ini pula.

Agenda pembelajaran menjadi agenda setiap orang dalam organisasi, tidak terkecuali para pemimpin. Pemimpinlah yang menjadi komandan dan provokator pembelajaran. Hal ini juga dilakukan oleh sebuah perusahaan kosmetik lokal di negara kita, di mana pemilik, suami-istri, anak-mantu, semua percaya bahwa belajar bisa di mana saja, kapan saja, dari siapa saja, dan dengan media apa saja. Organisasi perlu mencari cara pembelajaran yang ‘self driven’ dan ‘sexy’ bagi karyawannya, menjadikan inovasi sebagai ‘way of thinking’ sehari-hari di lingkungan pekerjaannya. Pemimpin yang menganggap pembelajaran adalan kegiatan pra atau pasca, ataupun di samping kegiatan utama, akan mengalami perlambatan yang signifikan di organisasinya.

Quantum Leap Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran perlu didesain secara seksama, dengan tujuan dan ‘dashboard’ alias parameter pengukuran keberhasilan yang jelas. Menurut para pimpinan Adidas, “Kita paling tidak, perlu melakukan ‘quantum leap” sebanyak 10 kali lipat, dan mencetak laba 10 kali lipat lebih besar. Tidak lagi mengharapkan pertumbuhan mainstream 10 % saja secara biasa”. Mengapa harus demikian? Kenyataannya dengan lompatan 10 kali lipat, kita meninggalkan kompetitor. Karyawanpun menjadi lebih ambisius, dan ingin menginspirasi satu sama lain. Atmosfir seperti ini pastinya akan menarik dan individu yang suka tantangan, rajin belajar dan gemar berpikir untuk bergabung dengan perusahaan pembelajar ini. Budaya inovasi akan terwujud nyata dalam organisasi, tidak hanya menjadi kutipan manis yang tergantung pada plakat budaya perusahaan semata. Dan di sini, pemimpin tidak memiliki pilihan lain selain berpikir ‘why not?’

Meragui

Iwan Pranoto
MARCH 5, 2016

meragui, maka aku memikir, maka aku ada.
~ René Descartes

Melalui penelitian LIPI ke kampus-kampus, Anas Saidi dkk menemukan bahwa mahasiswa bidang IPA di pendidikan umum (non-keagamaan) lebih rentan terindoktrinasi (CNN Indonesia, 18 Feb 2016). Senada dengan temuan itu, sebelumnya M Zaid Wahyudi menyatakan bahwa anak-anak yang terbujuk radikalisme keliru ini umumnya dari sekolah atau perguruan tinggi favorit dan dari program eksakta (Kompas Siang, 13 April 2015).
Bagaimana menjelaskan fenomena menentang-intuisi ini? Bukankah sejatinya pembelajaran IPA justru menyuburkan rasionalitas? Tak mungkinkah ada yang keliru dalam praktik pendidikan IPA di Tanah Air?

Meragui

Keadaan seseorang yang mudah terbujuk dan mempercayai sesuatu, walau sesungguhnya meragukan, diistilahkan sebagai credulous. Keadaan credulous ini memiliki penangkal alami, yakni habits of mind atau kebiasaan berakal, antara lain perangai skeptis atau meragui.

Dalam beberapa model pendidikan, meragui sudah dicanangkan secara eksplisit dan terstruktur sebagai salah satu sasaran. Misalnya, pada dokumen Benchmark Online yang disusun American Association for Advancement of Science, dirumuskan secara khusus perangai meragui ini sampai tahapan operasional membelajarkannya. Sebagai ilustrasi, di kelas 8, pelajar diharapkan sudah cekatan “meragui klaim penelitian yang didasarkan pada populasi sampel terlalui kecil” atau “meragui pernyataan yang didasarkan pada analogi semata.”

Kebiasaan meragui juga semakin relevan di kehidupan sekarang, karena hari ini manusia bukan kekurangan informasi, tetapi justru kebanjiran informasi. Menghadapi situasi ini, membuka pikiran pada suatu informasi perlu dibarengi dengan mensyaki informasi tersebut, karena informasi belum tentu benar. Harus siap menerima suatu pendapat jika nanti benar, tetapi juga harus tetap meragui karena mungkin berdasar argumen yang lemah. Pasangan dua kutub ini merupakan komponen penting dalam critical-response skill atau keterampilan menanggapi-secara-kritis yang sejatinya bertumbuh subur melalui pembelajaran IPA, khususnya.

Matematikawan-cum-filsuf René Descartes menggagas pijakan kebersahajaan ilmiah total berupa pengakuan bahwa setiap pendapat kita berpeluang salah. Rangkaian argumen yang mendasari pendapat kita mungkin ada yang tak sahih. Oleh karenanya, manusia perlu terus mencari reasonable doubts atau keraguan masuk akal yang mendasari pada pendapatnya melalui tahap meragui, dan kemudian memperbaikinya. Descartes membahasakannya, “untuk mencapai kepastian … kibaskan tanah dan pasir, sehingga berpijak pada batu.”

Proses meragui tidak hanya akan memperkokoh pendapat, tetapi menumbuhkan kebijaksanaan si subjek. Ini sebuah pesan bahwa moral diekspresikan dari dalam pengalaman berilmu-pengetahuan sendiri ke luar, bukan diindoktrinasi dari luar ke dalam ilmu pengetahuan. Kebersahajaan ini berwujud pengakuan atas adanya keterbatasan kepastian sebuah pendapat. Jika pengalaman meragui dibarengi kegiatan berpikir reflektif atau tafakur, subjek menyadari bahwa masih ada bagian dalam pengetahuannya yang patut diragui. Akan bertumbuh pemahaman bahwa pendapat dirinya belum sempurna, sedang pendapat orang lain mungkin dapat melengkapi pendapatnya.

Dalam kelas, laboratorium, dan bahkan saat belajar mandiri, pelajar diharapkan berlatih meragui suatu gagasan serta belajar merumuskan alasan keraguannya, kemudian menelaahnya lebih lanjut untuk mencari argumen pendukungnya, sampai akhirnya menjadi kepercayaan. Rangkaian pengolahan akal ini merupakan bagian dari kecakapan yang sejatinya bertumbuh subur dalam pendidikan secara umum. Jika ini berjalan, pelajar menumbuhkan nilai, sikap, dan keterampilan yang akan menjadi kebiasaan bernalar untuk dibawa terus dalam kehidupannya di kemudian hari.

Sebaliknya, jika tahap meragui ini absen dalam pengajaran IPA lalu ditambah lagi pengajarannya dogmatis, maka lengkaplah pelajaran IPA menjadi kumpulan mantra sakral yang tabu disangsikan. Kemudian, karena hakikat IPA yang memang universal, pelajar mungkin akan tergiur menganalogikan kepastian mutlak berpikirnya, termasuk cara pandang hitam-putih, pada berbagai fenomena dalam kehidupan. Dampaknya, tabiat menutup diri menguat, karena keyakinan bahwa apa yang dipahaminya sudah benar mutlak serta semua pendapat berbeda darinya pasti salah. Ini yang akan memunculkan benih intoleransi dan takut pada perbedaan. Perlu diselidiki lebih jauh jika pendekatan pengajaran IPA dogmatis tersebut yang melahirkan fenomena seperti yang ditemukan penelitian LIPI di atas.

Strategi

Menghindarkan warga negara, khususnya pemuda, dari pemikiran yang bertentangan dengan Dasar Republik tak cukup dilakukan dengan sekedar larangan atau ceramah. Perlu ada langkah positif membangun tameng sesungguhnya, yaitu kecakapan berpikir, keterampilan berargumentasi, sampai perangai ilmiah warga.

Pembelajaran bernalar, termasuk kebiasaan berakal di atas, dalam sistem pendidikan di RI memang membutuhkan pembenahan mendasar dan segera. Berikut diajukan dua pendekatan membenahinya agar tepat sasaran, segera, dan hemat.

Sudah disadari bahwa menciptakan dokumen pendidikan semacam standar, kurikulum, dan buku ajar bermutu setara dengan yang telah dibuat lembaga di beberapa negara lain sulit dan butuh waktu tak sebentar. Padahal, menunggu perbaikan dokumen pendidikan merupakan kemewahan yang tak dimiliki anak-anak kita hari ini.

Oleh karenanya, pertama, pendekatan reverse engineering atau rekayasa mundur yang jamak digunakan di bidang industri manufaktur dapat dicoba diterapkan guna merekacipta program pendidikan. Setidaknya, untuk matapelajaran yang universal seperti matematika, IPA, dan pendidikan jasmani, rancangan pembelajarannya dapat dikembangkan dari dokumen rujukan yang terbukti baik dan sudah banyak dibuat lembaga atau negara lain. Justru cerdas jika menerapkan strategi menggunakan apa yang sudah dikerjakan pihak lain kemudian memodifikasinya sehingga lebih baik sekaligus sesuai dengan keadaan Indonesia.

Kita perlu mengurangi kegemaran reinventing the wheel atau mengulang pekerjaan menemukan lagi sesuatu yang sesungguhnya sudah jamak. Terlebih, kerap “roda” yang diciptakan juga tak lebih baik ketimbang “roda” yang sudah ada. Pada sisi lain, dokumen pendidikan seperti kurikulum dan buku ajar yang jelas-jelas masih keliru amat tak etis disajikan ke anak kita sendiri. Seperti, tak ada ibu atau ayah yang menyuapkan makanan rusak bagi anaknya, demikian pula tak sepatutnya Negara menerapkan kurikulum atau buku ajar tak baik ke warganya.

Kedua, melalui forum maya pendidik, dapat disebarkan inovasi dan praktik pembelajaran yang mengetengahkan cara mengelola kelas dalam menumbuhkan kebiasaan berakal dalam video klip 5-menitan. Ini akan lebih menyasar tepat pada inti permasalahan pendidikan, segera, terencana, sekaligus hemat. Tiap pelajar akan merasakan langsung perbaikan pendidikan ketimbang pendekatan pelatihan guru lewat tatap muka yang mahal, rumit, bertele-tele, boros waktu, serta keterbatasan pelatih andal.
Membelajarkan kebiasaan berakal dan kecakapan bernalar, secara umum, bukan sesuatu yang mustahil, bahkan di tingkat SD. Dari yang paling sederhana, seperti guru mengajak mendiskusikan berbagai jalan berbeda untuk menyelesaikan suatu masalah, mengkaji berbagai cara pandang berbeda terhadap suatu isu, dsb dapat diterapkan agar pelajar membiasakan diri dengan keberagaman pendapat serta pemikiran.
Mengedepankan akal serta menyuburkan perangai ingin tahu, kejujuran, terbuka, dan meragui akan menjamin perkembangan ilmu pengetahuan sekaligus membela Republik Nalar.

Catatan:
Versi pendek tulisan ini dimuat di Kompas, 5 Maret 2016.

Revolusi Metode Pembelajaran

M Syamsul Arifin ; Pegiat di Forum Penulis Muda Jogja
KORAN TEMPO, 05 Januari 2015

Generasi hari ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi hari ini terlahir ketika di sekelilingnya dipenuhi kecanggihan teknologi digital. Ketika belajar membaca dan menulis hingga beranjak usia remaja, mereka dimanjakan oleh game online, MP3 player, hingga yang menyita banyak waktu: media sosial.

Namun masalah selanjutnya adalah, teknologi digital (smart phone) tidak hanya membawa sejumlah dampak positif, tapi juga sejumlah dampak negatif. Dalam konteks pembelajaran, sejatinya smart phone bisa mendukung proses belajar-mengajar yang dilakukan guru-murid. Proses knowledge transfer membina karakter dan keterampilan agar yang dilakukan guru bisa berjalan lancar.

Di samping dampak positifnya, smart phone juga berdampak buruk. Kita kerap menjumpai remaja yang berada dalam sebuah forum tanpa berkomunikasi satu sama lain. Generasi sekarang seolah asyik dengan dunianya sendiri, yang dipenuhi kecanggihan digital.

Meminjam bahasa Don Tapscott (2013), inilah generasi acuh tak acuh. Minat mereka hanya kultur populer, para pesohor, dan teman-teman mereka. Karena itu, transformasi pembelajaran menjadi mutlak harus kita lakukan. Bertolak dari hal di atas, revolusi metode pembelajaran menjadi mutlak harus kita lakukan.

Pertama, kurangi metode ceramah. Mereka sudah bosan dengan gaya ini. Menurut Felder dan Soloman (1993): “Pembelajar di zaman informasi ini mempunyai kecenderungan gaya belajar aktif, sequential, sensing, dan visual.”

Kedua, fokus pada pembelajaran seumur hidup, bukan pada mengajarkan untuk ujian semata. Yang terpenting bukan hanya tentang apa yang mereka ketahui ketika mereka lulus, tapi juga untuk mencintai pembelajaran seumur hidup. Para guru tidak perlu khawatir siswanya lupa tanggal peristiwa penting dalam sejarah, karena mereka dapat mencari informasi itu kapan saja dengan melalui buku maupun web. Para guru perlu mengajari mereka cara belajar, gemar membaca dan menulis, bukan hanya cara mengetahui.

Ketiga, berdayakan para siswa untuk berkolaborasi. Dorong mereka agar bekerja sama dengan yang lain dan tunjukkan cara mengakses sumber pengetahuan yang tersedia di web dan lain-lain. Dalam hal ini, mungkin kita dapat belajar dari pengalaman Uri Treisman, seorang profesor matematika di Universitas California-Berkeley.

Melihat banyak mahasiswa kulit hitam yang nilai kalkulus-nya sangat jelek, Prof Treisman melakukan riset kecil. Ia membandingkannya dengan kelompok mahasiswa asal Cina, yang semua memperoleh nilai bagus. Ia menemukan bahwa mahasiswa Cina suka bekerja dalam kelompok, sedangkan mahasiswa kulit hitam cenderung bekerja mandiri. Ia mengubah kondisi dan tata letak kelas serta menerapkan sistem pembelajaran kelompok. Tak lama kemudian, prestasi para mahasiswa kulit hitam meningkat pesat.

Guru menghadapi manusia, bukan seperti buruh pabrik dan karyawan perusahaan yang berhadapan dengan benda mati. Guru memiliki tugas perencanaan, pembelajaran, dan penilaian (evaluasi). Perencanaan dilakukan sebelum mengajar di kelas dan penilaian setelah mengajar di kelas selesai. Inilah yang diinginkan Kurikulum 2013. Sekarang revolusi (metode) pembelajaran ada di tangan para guru di seantero Indonesia. Apakah mereka akan melakukan revolusi? Kita tunggu gebrakannya untuk menciptakan generasi emas.

Dua Kurikulum: 2006 dan 2013

Elin Driana
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka Jakarta;
Salah Seorang Koordinator Education Forum

Kompas 29 Desember 2014

PENGHENTIAN Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang baru menjalankannya selama satu semester—dan hanya diterapkan di sekolah-sekolah yang sudah menjalankannya selama tiga semester—oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menuai beragam reaksi.

Tidak sedikit yang menyesalkan keputusan tersebut, baik dari kalangan guru, siswa, orangtua, maupun anggota masyarakat lainnya. Reaksi yang cukup dominan antara lain kekhawatiran akan kembalinya pembelajaran pada model ceramah yang membosankan, latihan-latihan soal, atau hanya mengacu pada buku teks apabila menggunakan Kurikulum 2006.

Banyak kesamaan

Ditinjau dari prinsip-prinsip pembelajaran, sebetulnya tak ada perbedaan yang berarti antara Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 22/2006—yang ditandatangani mendiknas terdahulu Bambang Soedibyo—menyebutkan bahwa kurikulum tingkat satuan pendidikan dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip antara lain ”berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya”; ”beragam dan terpadu”; ”tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni”; ”relevan dengan kebutuhan kehidupan”; ”menyeluruh dan berkesinambungan”; ”belajar sepanjang hayat”; dan ”seimbang antara kepentingan nasional dan daerah”.

Adapun pelaksanaan kurikulum didasarkan pada prinsip-prinsip pembelajaran, antara lain: ”aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan”; ”menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, serta memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar”.

Pendekatan saintifik yang kerap dipromosikan sebagai keunggulan Kurikulum 2013 sebenarnya juga telah ada dalam Kurikulum 2006. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 41/2007 tentang Standar Proses disebutkan, ”Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologi peserta didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi”.

Disebutkan bahwa dalam proses eksplorasi, peserta didik memiliki kesempatan untuk ”mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang tengah dipelajari”. Peserta didik pun difasilitasi untuk ”melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan”. Sementara itu, dalam proses elaborasi, peserta didik dibiasakan antara lain untuk ”membaca dan menulis melalui penugasan-penugasan yang bermakna, berdiskusi, memunculkan gagasan, baik secara lisan maupun tulisan”, serta ”berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut”. Adapun dalam proses konfirmasi, guru dan peserta didik berkesempatan untuk memberikan umpan balik dan melakukan refleksi atas pembelajaran yang telah dilalui.

Pembelajaran berbasis masalah dan proyek yang kerap diklaim sebagai terobosan Kurikulum 2013 juga sebenarnya telah ada dalam Kurikulum 2006. Begitu pula dengan penilaian otentik, misalnya melalui unjuk kerja, hasil karya, proyek, dan produk, telah ada dalam Kurikulum 2006. Pendidikan karakter pun telah tercakup dalam Kurikulum 2006.

Faktor-faktor penentu

Jika terdapat banyak kesamaan prinsip-prinsip Kurikulum 2006 dan Kurikulum 2013, mengapa masih berkembang anggapan di sebagian guru, siswa, orangtua, dan anggota masyarakat lainnya bahwa pembelajaran dengan menggunakan Kurikulum 2006 berbeda daripada Kurikulum 2013? Keberhasilan implementasi kurikulum bergantung pada faktor-faktor penentu, seperti peningkatan kualitas guru, misalnya melalui pelatihan, pendampingan, dan kegiatan kolaboratif.

Termasuk perubahan pola pikir dalam pembelajaran dan motivasi untuk melakukan perubahan dari praktik-praktik yang selama ini dilakukan ke arah yang lebih baik, pembenahan sarana dan prasarana penunjang, serta pemenuhan standar-standar nasional pendidikan lainnya.

Prinsip-prinsip pembelajaran Kurikulum 2006 yang pada dasarnya sama dengan Kurikulum 2013 tampaknya tidak tersosialisasikan dan tidak terimplementasikan dengan semestinya karena tidak memadainya upaya pembenahan faktor-faktor yang menentukan keberhasilan penerapan kurikulum tersebut. Akibatnya, ketika prinsip-prinsip pembelajaran yang dipandang lebih sesuai dengan kebutuhan peserta didik dalam menghadapi tantangan masa depan tersebut dikemas kembali dalam Kurikulum 2013, tak sedikit menganggap bahwa prinsip-prinsip itu tidak ada dalam Kurikulum 2006, tidak terkecuali di kalangan tim yang menyosialisasikan kurikulum tersebut.

Kini, masyarakat perlu diyakinkan bahwa kembali ke Kurikulum 2006 bukanlah suatu kemunduran dibandingkan dengan tetap menggunakan Kurikulum 2013. Kedua kurikulum tersebut memiliki keunggulan-keunggulan yang relatif sama dan keduanya pun sama-sama memiliki kekurangan-kekurangan yang perlu diperbaiki. Siswa dan orangtua yang anak-anaknya bersekolah di sekolah yang menggunakan Kurikulum 2006 tidak perlu merasa dinomorduakan.

Selain itu, masyarakat perlu mengetahui secara lebih utuh masalah-masalah lebih substantif yang ada dalam Kurikulum 2013, di samping masalah-masalah dalam implementasinya, yang menjadi dasar penghentian Kurikulum 2013 di sekolah yang baru menjalankannya selama satu semester. Sebagai contoh, rumusan Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar dalam Kurikulum 2013 mengandung kelemahan-kelemahan dari sisi substansi dan logika. Ini kemudian berdampak pula pada perumusan indikator-indikator Kompetensi Dasar dan penyusunan bahan ajar.

Kurikulum masa depan

Seiring dengan berjalannya evaluasi dan implementasi Kurikulum 2013 dan Kurikulum 2006, diharapkan dalam praktiknya tak mencolok lagi dikotomi antara Kurikulum 2013 dan Kurikulum 2006. Justru diharapkan semakin mengarah pada kurikulum yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan keragaman latar belakang serta karakteristik peserta didik.

Penilaian sikap spiritual dan sosial dalam Kurikulum 2013 yang rumit dari sisi administratif—mengingat jumlah siswa yang bisa mencapai ratusan yang harus diamati seorang guru dan perlu dipertanyakan juga secara substantif—merupakan aspek yang mendesak untuk dievaluasi. Beban tatap muka minimal 24 jam per minggu bagi guru di luar tugas-tugas yang lain, jumlah mata pelajaran dan jam belajar siswa serta beban siswa, perlu dikaji kembali dengan melibatkan juga ahli-ahli psikologi pendidikan dan perkembangan, misalnya.

Orientasi lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) dalam mempersiapkan guru pun semestinya tidak lagi dibatasi oleh kurikulum tertentu. Akan tetapi, lebih pada pengembangan kemampuan dalam merancang, menjalankan, dan mengevaluasi proses pendidikan yang sesuai dengan keragaman latar belakang dan karakteristik peserta didik dan peka terhadap tuntutan-tuntutan perubahan.

Kurikulum pun sepatutnya dikembalikan pada fungsinya sebagai panduan pembelajaran, bukan diperlakukan sebagai buku petunjuk penggunaan mesin yang diikuti secara kaku. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 36 Ayat (2), menyebutkan, ”Kurikulum pada semua jenjang pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik”. Kurikulum yang kaku dan terlalu rinci, terlebih bagi Indonesia dengan latar belakang dan karakteristik peserta didik yang beragam, tidak akan mampu mengimbangi tantangan-tantangan masa depan yang terus berubah dan semakin kompleks.

kurikulum