Sistem Inovasi Dalam Lanskap Ekonomi Digital

DR. Ir. Agus Puji Prasetyono, M.Eng.
Staf Ahli MenRistek & Dikti bidang Relevansi dan Produktivitas,
Dosen Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.
24 Oct 2017

Gelombang perkembangan inovasi global yang begitu cepat, kini sudah tidak dapat dibendung lagi. Saat ini akselerasi yang sangat tinggi dalam kompetisi ekonomi global selalu ditandai dengan gegap gempitanya pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Jika beberapa dekade silam teknologi Informasi dan komunikasi menjadi salah satu bidang fokus yang harus dikembangkan, kini hal itu telah berubah menjadi alat dari sebagian besar wahana dalam proses inovasi. Industri besar kini mulai memutar barisan dan mengambil tempat di posisi strategis ini. Tidak heran jika kini bermunculan e-commerce seperti alibaba.com, bli-bli.com, facebook, traveloka.com, dan sebagainya bersaing merebut pasar potensial ini. “Sungguh menakjubkan..!”. Dengan perkembangan itu negara semakin tidak dapat menutup diri melakukan penataan internal yang tak berkesudahan, melainkan harus semakin terbuka dan melakukan penyelarasan terhadap perkembangan dunia. Dinamika Dunia menjadikan negara saling tergantung.

Melihat perkembangan global saat ini, China dengan strateginya yang disebut“One Belt One Road-OBOR” dan telah diubah menjadi “Belt Road Initiative-BRI” memiliki pola strategi menyatukan ASEAN menjadi kawasan kolaboratif dalam inovasi dan ekonomi, bersatu menghadang hegemoni ekonomi negara raksasa seperti Eropa dan Amerika Serikat di kawasan Asia Tenggara. Namun hal ini menjadikan negara lain tidak tinggal diam, Jepang dan India mengembangkan kolaborasi ekonomi dalam “Freedom Initiative” yang bergerak meningkatkan kemampuan inovasi dan ekonominya berupaya untuk mengalahkan raksasa lainnya di dunia.

Internet of Things (IOT) Technology.

Jika hari ini masyarakat telah mahir menggunakan internet untuk mencari data atau berhubungan dengan orang lain termasuk menghubungkan satu kelompok dengan kelompok lainnya, dari berbagai tempat yang berjauhan dengan mudah secara real time, maka sebenarnya Indonesia telah masuk dalam skenario permainan di Global Smart Technology. Dalam perkembangannya, banyak negara telah menggunakan sistem dan teknologi digital ini untuk memproduk barang dan jasa dengan cepat dan efisien.

Pada saat kita membuat perencanaan terhadap sebuah disain inovatif maka saat itulah kita berhadapan dengan sebuah smart computer yang digunakan untuk mencari data dan komponen yang diperlukan sekaligus siapa, dimana dan dengan dana berapa kita bisa mendapatkan komponen tersebut.Smart computer diberi tugas untuk menganalisis dan memilih komponen yang paling sesuai dengan metoda yang sudah kita siapkan. Begitu kita tekan tombol akses, maka dalam waktu yang sangat singkat komponen bisa kita tentukan dan produk inovasi dapat dilahirkan dengan cara yang sangat simpel, singkat efektif dan efisien. Di sinilah letak keunggulan Internet of Things Technology. Jika ini merupakan pilihan dunia, maka pada saatnya tidak akan ada industri besar yang harus mengeluarkan biaya besar untuk operasionalnya. Industri besar yang memiliki ciri produksi dengan membuat semua komponen untuk produk inovasinya, suatu saat akan tumbang satu persatu karena beban operasional sangat tinggi. Industri berskala kecil dan sarat dengan penguasaan dan pemanfataan teknologi digital akan berkembang dengan pesat, karena memiliki elastisitas dan beban yang ringan namun kapasitas dan kemampuannya luar biasa cepat.

Jika dulu kita miliki “Bandung Bondowoso” yang mampu membangun Candi Perambanan dalam semalam, maka kedepan bisa dibayangkan akan ada “Bandung Bondowoso” modern yang mampu membangun produk inovasi dalam sekejap dengan menggunakan teknologi digital yang berkembang sangat pesat ini. Peran komputer akan banyak mengantikan peran manusia, robotika akan menjadi populer dengan segala program otomatisasinya. Bahkan pekerjaan yang berbahaya tidak lagi masalah, karena bisa dikendalikan dari jarak jauh ditempat yang aman, bahkan dapat dilaksanakan oleh sistem otomatis yang cerdas. Tidak menutup kemungkinan pusat perbelanjaan yang penuh pengunjung tiba-tiba menjadi sepi, karena jual beli dapat dilakukan dalam jarak jauh. Digital financial akan menjadi trend tidak hanya sebatas pada kartu ATM, tetapi pembayaran sudah dapat dilakukan dengan deteksi muka secara otomatis. Hidup menjadi lebih berkualitas, efektif dan efisien. Bagaimana dengan Indonesia…? Apa saja yang harus disiapkan?

Kaca Benggala Inovasi

Bercermin kepada kegagalan masa lalu harus mampu menjadikan pelajaran untuk menemukan kunci keberhasilan yang berharga dalam melihat strategi menaatap masa depan yang lebih produktif. Hal ini menjadi penting bagaimana menata ulang perencanaan penerapan dan penciptaan sistem inovasi selaras kebutuhan dalam pembangunan ekonomi negara melalui sistem yang dipastikan dapat berkompetisi diarena global. Upaya ini tidak hanya membantu, tetapi memberikan dasar bagi munculnya pemikiran tentang praktik terbaik dengan cara memastikan teknologi dan sistem inovasi yang dirancang selaras dengan perkembangan global. Dengan cara ini dapat dipastikan sebuah teknologi benar-benar “memberdayakan” yaitu ketika Negara mampu menciptakan proses perancangan yang bersifat kolaboratif di tingkat regional, nasional dan global (consortium model practically).

Ketika Negara menjadikan Teknologi Digital sebagai faktor penentu untuk kemandirian ekonomi maka semestinya kinerja teknologi informasi dan komunikasi berbasis digital yang memiliki kekuatan transformatif dalam pembangunan nasional didorong menjadi prioritas nasional. Berbagai proyek pemerintah yang direncanakan dalam APBN semestinya “tidak hanya terarah kepada sistem inovasi nasional”, namun juga seharusnya berorientasi pada “Global Innovation system and management” dengan memasukkan itu sebagai faktor utama dalam mencari solusi dalam pembangunan ekonomi bangsa. Kuncinya adalah dengan mengenali semua elemen terutama dukungan kebijakan seputar pendidikan, keterampilan dan pembangunan yang berbasis pada teknologi digital.

Kita sudah semestinya menangani tantangan pembangunan global melalui penelitian, pengembangan dan pemanfaatan smart technology secara komersial yang kolaboratif dengan industri terutama industri strategis seperti bidang energi dan transportasi, yang notabene menentukan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekarang dan masa mendatang. Berbagai lapangan pekerjaan akan terbuka menyesuaikan trend perkembangan global melalui investasi dan substitusi komponen teknologi yang telah proven dalam mendukung industri nasional.

Begitu pula kebijalan fiskal dan moneter Negara tentu akan menyesuaikan trend global untuk mendorong sektor Industri yang memungkinkan tercapainya pertumbuhan ekonomi tinggi sekaligus menurunkan gap kaya miskin (Gini Ratio) dan pengentasan kemiskinan melalui perbaikan pendapatan masyarakat.

Terobosan kebijakan yang harus dilakukan..

Pertama, kombinasi stagflasi dan persaingan internasional berbasis teknologi digital yang semakin meningkat memunculkan gerakan daya saing yang membutuhkan seperangkat kebijakan pelengkap untuk mendorong pertumbuhan produktivitas jangka panjang. Pemerintah sesegera mungkin merancang strategi penataan sistem dan peningkatan daya saing negara dengan menemmpatkan teknologi digital sebagai alat untuk mendorong bidang industri berbasis keunggulan teknologi dan inovasi. Fokus pada pertumbuhan produktivitas jangka panjang beserta rekomendasi dan langkah spesifik untuk meningkatkan investasi.

Kedua, memperbaharui sistem riset dan teknologi di level pendidikan tinggi dan lemlitbang yang bertanggung jawab penuh hingga berskala pasar. Namun di sisi lain perlu menjadikan industri nasional sebagai finish line, sehingga kompetensi mahasiswa menuju profesional sudah terprogram sejak di universitas melalui pembelajaran, pelatihan, dan perolehan keterampilan baru secara terus-menerus. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan iptek hulu mengembangkan formula dan disain fundamental bagi berkembangnyascience dan technology.

Ketiga, kebijakan perdagangan dirancang untuk mengadopsi kebijakan ekonomi luar negeri yang berusaha membuka pasar di seluruh dunia berbasis pada pengurangan (minimalisasi) defisit untuk memperbaiki iklim investasi, termasuk pengembangan dan pemanfaatan Iptek untuk kemandirian. Internet of Things Technology berperan sebagai media untuk mengambil peran dalam percaturan persaingan yang bebas dalam era global.

Keempat, political will untuk mendukung peningkatan infrastruktur dan kompetensi sumberdaya manusia sebagai prime mover pembangunan Iptek dan Inovasi hingga komersialisasi. Dukungan pemerintah juga diperlukan di tataran promosi maupun desiminasi hasil inovasi secara masif. Dari skenario ini berakibat dapat dipastikannya dampak pada jutaan rakyat Indonesia yang memanfaatkan kesempatan baru untuk pendidikan dan pelatihan. Hal ini memungkinkan adanya lembaga intermediasi sebagai wahana pendampingan dan konsultasi segala hal yang terkait dengan industri dan inovasi.

Kelima, menciptakan kerangka kerja yang terarah dan berguna untuk kebijakan ekonomi masa depan, sehingga iklim ekonomi mampu mendorong investasi. Kebijakan ekonomi internasional yang mampu membangun kolaborasi dan pasar yang berkelanjutan merupakan strategi yang baik, sukses dan berkelanjutan.

Keenam, penyelarasan terhadap perkembangan global. Perkembangan global yang kompleks, memaksana negara untuk lebih berperan dalam diplomasi dan networking secara masif dan terstruktur sehingga gejala ancaman dini dapat diatasi dengan strategi yang komprehensif, holistik dan terintegrasi.

Advertisement

Mengapa perlu Politik Inovasi ?

Jusman Syafii Djamal
Jan 10, 2017

Mengapa perlu Politik Inovasi ?
Country is Not Company kata Paul Krugman

Tahun 1996 Paul Krugman pemenang hadiah Nobel Ekonomi, menulis sebuah artikel di Harvard Business Review. Judulnya “A Country is Not A Company”.Tulisan Krugman tersebut kini relevan kembali untuk dibaca ulang.

Sebab di Amerika saat ini Donald Trump jadi Presiden terpilih. Akan dilantik 20 Januari 2017. Lawannya Hillary Clinton kalah electoral vote.Donald Trump adalah seorang pengusaha. Pernah bangkrut dan bangkit kembali. Banyak menulis buku Negosiasi dan bisnis.

Trump tampil prima dengan pendekatan “hardball politics”. Keras tanpa kompromi. Bersuara lantang menyerang yang dipandang melemahkan daya saing dan kedigjayaan Amerika.Mottonya “Make America Great Again”.

Pandangannya banyak yang kontroversial. Misal , rencana memasang dinding tembok Berlin pemisah batas Mexico dengan Amerika. Agar arus pekerja imigrant dibendung. Trump melihat lapangan kerja blue collar’ Amerika dirampas oleh immigran pendatang penyebrang batas Mexico Amerika. Mengancam dan merebut lapangan kerja. Trump ancam stop ijin Perusahaan Amerik yang pindahkan pabrik ke China atau Mexico dan negara lain. Sebab tindakan offshoring terus menerus yang dilakukan industriawan untuk mencari low cost area , juga hancurkan daya saing dan industri nya.

Trump lontarkan ide kebijakan membatasi Warga Muslim dapatkan visa Amerika, ketika kampanye. Karena pandangan sempitnya — yang ditentang semua orang — bahwa terorisme dan extreme violence yang terjadi di Paris dan Boston Amerika beberapa waktu berselang adalah soal agama. Semua kontroversi ini ditengah perlambatan ekonomi Amerika telah menjadi daya tarik sendiri. Ia menang electoral vote.Kini setelah menang sebagai Presiden terpilih, Trump berubah pandangan. Ia setuju dengan pendapat banyak kalangan bahwa Amerika adalah tempat bagi semua orang. Tidak ada batas atau tembok bagi semua agama untuk mendapatkan visa Amerika jika ingin kesana. Tentu memenuhi persyaratan yang ditetapkan.

Selain itu , yang dihawatirkan semua orang Trump memiliki visi dan program kerjanya sebagai seorang Presiden dengan persfektip Pengusaha. Orientasinya selalu menemukan mana langkah paling cepat, tak keluar modal dan mudah. Low Cost Policy. Ia juga mengangkat pembantu pembantunya dari kalangan pengusaha. Menteri Luar Negeri nya direncanakan akan dijabat oleh mantan CEO Exxon Mobil.

Gaya seorang pengusaha yang punya kecendrungan untuk mengelola Negara identic seperti mengelola Perusahaan bisnisnya. Bahkan Trump memberi kepercayaan kepada anak mantunya ikut sebagai tim transisi. Ia berpendapat pengusaha yang berhasil mengelola Perusahaan pastilah mampu mengelola Negara. Meski ada contoh dimana Pengusaha seperti Berlosconi di Italia dan Thaksin di Thailand yang menunjukkan realitas berbeda..

Paul Krugman seorang ekonom pemenang hadiah Nobel punya sikap yang secara diametral berbeda dengan para Pengusaha seperti Trump. Baginya tatacara pengelolaan Negara jauh berbeda dengan tatakelola Perusahaan. Kesuksesan seseorang mengelola bisnis bukan berarti jaminan sukses menjadi Presiden dan mengelola Negara. Perusahaan tidak identik dengan Negara.Presiden tidak sama sebangun dengan Chairman/CEO Konglomerasi perusaan. Kompleksitas masalah , kekuatan pengaruh dan interaksi yang terjadi diantara kepentingan ekonomi dan kekuatan sosial politik, budaya dan HanKam yang mempengaruhi tumbuh berkembangnya Negara, sangatlah berbeda dengan Perusahaan.

Apa yang dikatakan oleh Krugman dalam tulisannya hampir 20 tahun lalu ternyata kini relevan kembali.Debat tentang apakah mengelola Negara sama sebangun dan identik dengan mengelola Perusahaan kini mengemuka kembali.Menurut Krugman perusahaan bukan Negara. ACountry is not a company. Perusahaan dapat dikelola pada level mikroskopis. Orientasi meraih keuntungan jangka pendek. Tiap aktivitas bisnis arahnya selalu profit making. Prinsip Jika tidak untung kenapa harus investasi. Kalau tak punya prospek pada revenue yang meningkat mengapa harus dibangun, selalu jadi credo pengelola perusahaan. Fokusnya untung rugi.

Karenanya Obama yang telah memiliki pengalaman memerintah selama dua priode juga setuju dengan pendapat Paul Krugman. Ia bilang kepada Trump ketika bertemu :”memerintah itu tidak identik dengan kampanye. Begitu dilantik ada tugas besar menunggu. Anda tidak dapat menjalankan pengelolaan Negara seperti memimpin bisnis keluarga”. Hal itu disampaikan Obama dalam wawancara dengan TV ABC jumat 6 Januari berselang.

Pandangan mikroskopis dalam mengelola Perusahaan jika diterapkan dalam proses pengambilan keputusan dan kebijakan Negara dapat menimbulkan komplikasi masalah sosial besar. Sebab fokus mengelola Negara adalah menemukan solusi problem geografi kesenjangan. Mencegah pelebaran gap antara kaya dan miskin disuatu wilayah. Geography of Inequality.

Mengelola Anggaran Negara dengan meningkatkan Revenue melalui pajak dan intnstrument lainnya disatu sisi. Dan disisi lain menerapkan insentif fiskal dan moneter agar tercipta Growth with equity. Industri yang tumbuh berkembang dan lapangan kerja.

Sementara, Perusahaan fokusnya selalu pada Cost Reduction dan Revenue Driven.Efisiensi dan produktivitas kadangkala dilaksanakan secara ekstrim dengan me”layoff atau PHK ” semua pekerja dan menggantinya dengan Robot. Atau memindahkan pabrik ke Negara lain yang lebih murah. Sementara Negara Tidak demikian. Pemahaman Efisiensi dan Produktivitas Alokasi Sumber Daya memerlukan rujukan Konstitusi.

Langkah ekstrim yang abaikan kesejahteraan bersama, abaikan lapangan kerja, abaikan inequality tidak boleh dilakukan jika mengelola Negara. Jika Negara dalam keadaan stagnasi, prinsip sesuai konstitusi tetap harus dipegang teguh. Tidak boleh “America for Sale” misalnya.Padahal jika Perusahaan dalam krisis semua hal bisa dilakukan, memotong jumlah karyawan, mengurangi jam kerja, memotong mata rantai proses produksi untuk kemudian menjualnya ke Investor lain baik sebagian maupun keseluruhannya. Itu kurang lebih kata Krugman.

Tapi tetap saja ada yang berpendapat bahwa Ekonomi Perusahaan itu identik dengan Ekonomi Negara. Rumusnya bisa disederhanakan dan dibuat sama. Meski menurut Keynes General Equation to manage a country itu lebih kompleks. Jika mengelola Negara sama dengan mengelola Perusahaan, pastilah krisis Yunani mudah solusinya. Cukup dirikan sejenis BPPN untuk menjual semua Yunani yang sedang jatuh bangkrut ke pangkuan Jerman.

Akan tetapi yang terjadi tidak demikian. Referendum di Yunani mengatakan sebaliknya “We don’t want to sell our country”. “Greek is not a company, and Greek is not for Sale”. Kata Rakyat Yunani.Karenanya debat Krugman itu seperti debat klasik. Tak berhenti di tahun 1996. Kini pun masih relevan. Apalagi Obama yang telah memiliki pengalaman panjang mengelola kompleksitas mengelola Negara sependapat dan berkata mirip seperti Krugman.

Dalam hal ini upaya membangun kekuatan inovasi dan daya saing suatu Negara tentulah tidak sama dengan tatacara mengembangkan ekosistem inovasi di Perusahaan. Jika kita ingin maju sebagai bangsa produsen tentulah Inovasi harus dijadikan ujung tombak dan motor penggerak pertumbuhan ekonomi. Dan untuk itu diperlukan sebuah Politik Inovasi yang konsisten dan ajeg. Diperlukan suatu konsensus bersama untuk mengoptimalisasikan pengalokasian sumber daya, baik anggaran belanja negara maupun sumber daya lainnya untuk mengembangkan ekosistem dan infrastruktur inovasi bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan.

Politik Inovasi perlu diketengahkan agar akuisisi dan penguasaan iptek dapat diakselerasi sebagai kekuatan pembangkit kesejahteraan bersama.

Mohon Maaf Jika Keliru. Salam

10, 2017