Mendidik bukan Mengajar

Oleh: Harry Santosa

Mendidik Fitrah anak itu bukan “too much teaching” atau terlalu banyak mengajarkan (outside in), namun lebih banyak menumbuhkan dan menyadarkan gairah anak untuk belajar dan bernalar (inside out).

Anak yang gairah Fitrah Belajar dan Bernalar nya tumbuh hebat akan belajar sepanjang hidupnya, namun anak yang banyak diajarkan akan meminta diajarkan sepanjang hidupnya.

Anak yang suka dan bergairah pada buku akan membaca sepanjang hidupnya, namun anak yang dipaksa bisa segera membaca sebelum cinta buku barangkali akan membenci membaca buku sepanjang hidupnya.

Anak yang Fitrah Keimanan nya tumbuh dalam wujud bergairah cintanya kepada Allah, kepada Rasulullah SAW, kepada Islam dan kepada Al Quran, akan menjalani perintah Allah sepanjang hidupnya, meneladani Rasulullah SAW sepanjang hayatnya, mendalami dan mengamalkan Al Quran dengan antusias sampai ajalnya.

Namun, anak yang ditargetkan ini dan itu sebelum cintanya tumbuh bisa jadi akan membuang Syariahnya ke tempat sampah ketika dewasa kelak. Anak yang terlalu cepat diadabkan sebelum gairah cintanya tumbuh, kelak akan berpeluang membenci adab dan menjadi tidak beradab.

“Don’t too much teaching”. Rileks dan optimislah. Yakinlah anak-anak kita punya cukup semua yang dibutuhkan untuk menjalani maksud penciptaannya sebagai Hamba Allah dan Khalifah Allah di muka bumi. Anak-anak kita telah Allah install kebaikan sejak lahir, yaitu Fitrah.

Maka sekali lagi “Don’t Too Much Teaching”, fasilitasi saja, temani saja, arahkan saja, tunjuki saja, dampingi saja. Allah lah Murobby atau pendidik bagi anak-anak kita, Allah lah Yang paling Tahu fitrah anak-anak kita, karenanya ikuti saja fitrah Allah.

Tugas kita hanyalah mengaktifasi Fitrah ini dengan merawat, menguatkan konsepsi ketika dibawah usia tujuh tahun, kemudian menumbuhkan dan menyadarkan potensi ketika usia 7-10 tahun, lalu mengokohkan dan menguji eksistensi perannya dengan kehidupan nyata ketika menjelang aqil baligh sehingga akhirnya mengantarkan anak-anak kita pada peran-peran peradaban terbaik dengan adab mulia.

Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Advertisement

Mendidik bukan Mengajar

Harry Santosa
March 2, 2017

Mendidik fitrah anak itu bukan “too much teaching” atau terlalu banyak mengajarkan (outside in), namun lebih banyak menumbuhkan dan menyadarkan gairah anak untuk belajar dan bernalar (inside out).

Anak yg gairah fitrah belajar dan bernalarnya tumbuh hebat akan belajar sepanjang hidupnya, namun anak yang banyak diajarkan akan meminta diajarkan sepanjang hidupnya.

Anak yang suka dan bergairah pada buku akan membaca sepanjang hidupnya, namun anak yang dipaksa bisa segera membaca sebelum cinta buku barangkali akan membenci membaca buku sepanjang hidupnya.

Anak yang fitrah imannya tumbuh dalam wujud bergairah cintanya kepada Allah, kepada Rasulullah SAW, kepada Islam, kepada alQuran akan menjalani perintah Allah sepanjang hidupnya, meneladani Rasulullah SAW sepanjang hayatnya, mendalami dan mengamalkan alQuran dengan antusias sampai ajalnya.

Namun anak yang ditargetkan ini dan itu sebelum cintanya tumbuh bisa jadi akan membuang Syariahnya ke tempat sampah ketika dewasa kelak. Anak yang terlalu cepat diadabkan sebelum gairah cintanya tumbuh kelak akan berpeluang membenci adab dan menjadi tidak beradab

“Dont too much teaching”. Rileks dan optimislah. Yakinlah anak anak kita punya cukup semua yang dibutuhkan untuk menjalani maksud penciptaannya sebagai Hamba Allah dan Khalifah Allah di muka bumi. Anak anak kita telah Allah instal kebaikan sejak lahir, yaitu fitrah.

Maka sekali lagi “Dont Too Much Teaching”, fasilitasi saja, temani saja, arahkan saja, tunjuki saja, dampingi saja. Allahlah Murobby atau pendidik bagi anak anak kita, Allahlah Yang paling Tahu fitrah anak anak kita, karenanya ikuti saja fitrah Allah

Tugas kita hanyalah mengaktifasi fitrah ini dengan merawat, menguatkan konsepsi ketika bawah usia tujuh tahun, kemudian menumbuhkan dan menyadarkan potensi ketika usia 7-10 tahun, lalu mengokohkan dan menguji eksistensi perannya dengan kehidupan nyata ketika menjelang aqilbaligh sehingga akhirnya mengantarkan anak anak kita pada peran peran peradaban terbaik dengan adab mulia.

Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Ongkos Mahal Gagasan “Mengajar 12 Jam” dan “Full Day School”

Muhammad Latief
Kompas, 8 Agustust 2016

Belum sebulan menjabat, pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy sudah mengundang ramai perbincangan, yang kalau boleh disebut kontroversi. Yang pertama soal waktu mengajar 12 jam, dan kedua soal pelaksanaan program full day school di sekolah. Kenapa kontroversial?

Dua kebijakan yang diwacanakan Mendikbud tersebut sebetulnya sudah saling berlawanan, dalam arti berseberangan dengan sendirinya. Bagaimana mungkin guru yang hanya diberikan beban mangajar 12 jam bisa mengikuti kebijakan menjalankan program full day school atau sehari penuh di sekolah?

Ya, jika siswa diminta seharian penuh di sekolah, sementara beban guru mengajar hanya 12 jam, lalu siapa yang akan membimbing anak-anak didik itu di sekolah? Apakah kebijakan itu akan menempatkan peran guru honorer yang dibayar sesuai dengan jam mengajarnya agar mengajar sehari penuh? Atau, malah beban itu ada di anak didik itu sendiri?

Gagasan tersebut memang tak seluruhnya salah. Tapi, tak ada salahnya gagasan itu lebih dulu ditata dan diukur. Hal pertama yang sudah pasti menjegal gagasan itu adalah Undang-undang Guru dan Dosen (UUGD), tepatnya Undang-Undang Nomor 14/2005 tentang Guru dan Dosen. UU itu pun bahkan sudah diperkuat oleh Peraturan Pemerintah (PP) No. 74 Tahun 2008 tentang Guru yang ditandangani oleh Presiden Republik Indonesia per 1 Desember 2008.

Pada pasal 35 14/2005 tentang Guru dan Dosen disebutkan;

1. Beban kerja guru mencakup kegiatan pokok yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik serta melaksanakan tugas tambahan;

2. Beban kerja guru sebagaimana dimaksud pada ayat 1 adalah sekurang-kurangnya 24 ( dua puluh empat ) jam tatap muka dan sebanyak-banyaknya 40 ( empat puluh ) jam tatap muka dalam 1 minggu tersebut merupakan bagian jam kerja dari jam kerja sebagai pegawai yang secara keseluruhan paling sedikit 37,5 ( tiga puluh tujuh koma lima ) jam kerja dalam 1 minggu;

3. Ketentuan lebih lanjut mengenai beban kerja guru sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2 diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Menanggapi gagasan itu, perlu daya kritis semua pihak untuk menyikapinya. Karena, selain akan mengarahkan pada pengubahan UUGD yang membutuhkan proses politik dan ongkos mahal, gagasan tersebut akan banyak membuang sia-sia jam belajar, terutama hitungan beban mengajar di setiap mata pelajaran di struktur kurikulum. Yaitu, jika jam mengajar dikurangi, maka akan ada sisa jam yang tidak ada gurunya.

Faktanya, memang, tak semua guru bidang studi tertentu bisa memenuhi 24 jam itu akibat alokasi waktu di tiap kelas terlalu sedikit sehingga harus mencari sekolah lain untuk tambahan jam mengajar. Hanya, persoalan mencari tambahan itu juga bukan perkara sepele, mengingat tak semua sekolah membuka lowongan baru untuk guru.

Boleh jadi, bagi sebagian besar guru swasta, apalagi yang belum mengantongi sertifikasi, akan mencari jam tambahan. Mereka akan berusaha mencari cara untuk menambah penghasilannya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya selama sebulan. Bukankah faktanya memang demikian, bahwa penghasilan guru swasta, apalagi yang masih berstatus honorer, berbanding lurus dengan jam mengajar? Dengan pertanyaan itu, apakah gagasan tersebut sudah sangat substansial bagi jalannya pendidikan nasional?

Bukan sekadar gagasan

Itu baru bicara jam mengajar, belum gagasan soal full day school. Di era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh, kebijakan penambahan jam belajar 4-6 jam per minggu sesuai amanat Kurikulum 2013 membawa wacana baru saat itu; pelaksanaan full day school.

Saat itu, jelas-jelas ditegaskan bahwa pelaksanaan program ini belum bisa diterapkan di sekolah negeri, karena jam belajar pendidikan dasar di Indonesia masih kurang dan tertinggal jauh dengan negara-negara lain.

Ketertinggalan itu sangat jelas, terutama jika dikaitkan dengan perbandingan jumlah jam belajar pendidikan dasar anak-anak usia sekolah di negara-negara anggota OECD (Organization for Economic Co-operation and Development). Rata-rata lama sekolah untuk seorang anak mengenyam pendidikan dasar di Indonesia, SD-SMP adalah 6.000 jam, sedangkan di negara-negara OECD rata-ratanya 6.800 jam.

Menurut etimologinya, kata full day school berasal dari Bahasa Inggris, yang terdiri dari ‘full’ atau ‘penuh’, dan ‘day’ yang artinya ‘hari’. Jadi, ‘full day’ mengandung arti ‘seharian penuh’. Adapun ‘school’ artinya ‘sekolah’. Maka, dilihat dari etimologinya arti dari ‘full day school’ berarti sekolah atau kegiatan belajar yang dilakukan seharian penuh di sekolah.

Adapun dalam terminologinya secara luas, full day school mengandung arti sistem pendidikan yang menerapkan pembelajaran atau kegiatan belajar-mengajar sehari penuh. Sistem ini memadukan pengajaran intensif, yakni menambah jam pelajaran untuk pendalaman materi pelajaran dan pengembangan diri dan kreatifitas anak didik.

Dilihat dari paparan tersebut, ide full day school memang sangat baik, terutama membuat anak didik terkontrol. Tetapi, model semacam ini belum bisa dilaksanakan di sekolah negeri, yang notabene masih paling dominan menampung anak-anak didik di seluruh Indonesia dibandingkan kehadiran sekolah swasta. Karena dalam penyelenggaraannya sangat membutuhkan konsekuensi berupa pembiayaan yang tidak sedikit. Bagaimana dengan fasilitas untuk menanggung anak-anak didik seharian penuh, mulai alat bantu belajar dan mengajar sampai urusan makan anak-anak?

Pertanyaannya, apakah para orang tua rela melihat anak-anaknya kehilangan waktu bermain dan mengeksplorasi dunia luar di balik tembok sekolahnya, yang tanpa dibatasi aturan-aturan formal hingga seringkali membuat anak didik cepat bosan? Bukankah mereka akan kehilangan banyak waktunya di rumah dan belajar tentang hidup bersama keluarganya?

Bisa dibayangkan, sepulang sekolah sore hari anak-anak didik itu akan kelelahan. Rumah hanya menjadi tempat istirahat, karena tak banyak waktu lagi untuk bercengkerama dengan keluarganya, terutama jika orang tuanya yang juga terdiri dari manusia-manusia supersibuk. Bukankah sekolah terbaik itu ada di dalam rumah dan keluarganya? Itulah ongkos yang harus dibayar oleh anak-anak didik.

Dengan dua “permasalahan” dari gagasan di atas bisa dilihat bahwa semua memang butuh aturan, butuh payung hukum sebagai konsekuensi menerapkan perubahan dari yang sudah ada dan terlaksana menjadi kebijakan baru.

Apapun bentuknya, aturan merupakan terjemahan dari suatu pelaksanaan ide atau gagasan. Dalam kasus ini, bukan lagi soal 24 jam atau 12 jam atau bahkan 40 jam, tapi sejauh mana substansi pendidikan itu bisa direalisasikan oleh pemerintah. Selanjutnya, ide dasar sebuah konsep pendidikan itu berjalan sesuai target dan tujuan pendidikan atau tidak, itulah substansinya. Setelah itu, barulah aturan itu dibuat agar bukan lagi sekadar gagasan.

Tentang Cara Belajar

Ahmad Baedowi ; Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
MEDIA INDONESIA, 30 Maret 2015

ADA ribuan buku telah ditulis ten tang bagaimana sesungguhnya sebuah proses belajar-mengajar harus dikelola. Ada jutaan pengalaman di pikiran dan tindakan jutaan guru yang selalu dibagi kepada setiap siswa dalam proses belajar sehari-hari. Ada begitu banyak kesadaran yang mulai tumbuh untuk belajar dari hal-hal yang dianggap salah ketika kita mengajarkan sesuatu terhadap para siswa.Pendek kata, cara belajar dan mengajar memang selalu menarik untuk dikaji dan dilihat karena belajar merupakan kesadaran alami yang dimiliki setiap insan yang diberi akal dan pikiran oleh Yang Maha Berpikir, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam tradisi pendidikan Islam, ada satu kitab yang secara fenomenal menjadi rujukan sepanjang zaman tentang tata cara belajar dan menuntut ilmu, yaitu kitab Ta’lim al-Muta’allim yang jika diterjemahkan secara literal dapat berarti penuntut ilmu tentang cara belajar. Hampir semua pesantren salafi di Indonesia mengajarkan kitab itu kepada para santrinya, tetapi elaborasi terhadap kitab ini dalam ranah pendidikan modern masih jarang dilakukan. Karena itu, ketika semua orang gemar dan senang mengutip teknik pengelolaan kelas, teknik belajar-mengajar secara efektif dan menyenangkan, serta mempelajari beragam strategi pembelajaran, ada satu landasan teologis dalam belajar yang kurang diperhatikan dalam proses belajar-mengajar, yaitu soal niat.

Syeik al-Zarnuji, pengarang kitab Ta’lim al-Muta’allim, kerap menyebut fenomena kegagalan siswa dan guru dalam proses belajar-mengajar disebabkan ketiadaan motivasi yang konsisten. Konsistensi niat dalam belajar merupakan landasan utama terjadinya proses belajar-mengajar yang efektif dan menyenangkan.

Kesadaran ini perlu diulang dan diperbarui setiap saat agar niat belajar menjadi sandaran untuk beribadah kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Sama seperti ibadah salat, puasa, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji, niat harus selalu dikelola dalam bentang kesadaran manusia yang cenderung berubah setiap saat.

Dalam pendidikan modern, sebenarnya elaborasi soal niat banyak disamakan dengan teori motivasi, tetapi lebih kepada aspek psikologis tinimbang teologis. Perlu ada cara menanamkan kesadaran tentang pentingnya niat belajar dalam proses belajar-mengajar secara berulang-ulang, sama seperti niat salat yang selalu dilakukan lima kali sehari. Dalam praktik sederhana, guru harus memiliki teknik dan cara untuk memotivasi siswa setiap saat dan berusaha mengingatkan para siswa mereka tentang konsekuensi salah niat dalam belajar yang dapat menyebabkan kegagalan.

Selain niat, kritik Al-Zarnuji juga tampaknya berlaku dalam pendidikan modern tentang perlunya mempelajari sebuah konsep dan teori ilmu secara tuntas. Dalam tradisi pendidikan modern sebenarnya ada strategi belajar tuntas yang disebut mastery learning, tetapi elaborasinya ke dalam sistem malah membelenggu para siswa karena baik sistem persekolahan maupun sistem madrasah di Indonesia notabene lebih senang membelenggu para siswa dengan mata ajar yang banyak, tetapi tak tuntas dipelajari. Sistem kurikulum kita menyebabkan hampir semua guru dan siswa belajar seperti mengejar setoran, ingin cepat lulus, tetapi ilmunya tak dapat. Jika ilmu tak didapati, menurut Al-Zarnuji, dengan sendirinya akan terjadi erosi dalam niat guru dalam mengajar dan siswa ketika belajar.

Berikan kepercayaan

Selain dua syarat utama itu, yaitu soal niat dan belajar tuntas, kitab Ta’lim al-Muta’allim juga memberi kiat tentang tata cara belajar yang efektif. Pertama, guru harus memahami kemampuan siswa dan memulai setiap pelajaran dengan sesuatu yang mudah dipahami dan dimengerti siswa. Siklus predan post-test dapat dengan mudah dijalankan untuk mendeteksi para siswa tentang suatu konsep dan teori tertentu secara mudah. Gunakan juga teknik bercerita, mencari hubungan gambar dengan sebuah kata agar akal pikiran anak akan dengan mudah menerima konsep dan atau teori tertentu dalam belajar.

Kedua, hindari membahas sebuah konsep dan teori terlalu panjang dengan cara memberikan siswa kepercayaan untuk menggali informasi tersebut secara mandiri.Dengan tersedianya bahan ajar yang tak terhingga di dunia maya, sesungguhnya tugas guru akan semakin ringan karena hanya memerlukan proses pendampingan yang benar dan bertanggung jawab. Lagi-lagi tanggung jawab guru dan siswa harus selalu dalam posisi yang sama (equal) agar niat dan motivasi belajar tetap terjaga. Guru harus memiliki tujuan atau niat pengajaran yang baik setiap saat dan siswa harus selalu diingatkan tentang pentingnya sikap menuntut ilmu yang didasari tujuan yang jelas.

Ketiga, biasakanlah meminta siswa untuk membuat catatan mereka sendiri berdasarkan pemahaman mereka terhadap sebuah konsep atau teori. Guru harus cermat membaca catatan tersebut dan membuat catatan-catatan tambahan pada buku siswa secara positif dan tidak terlalu sering menyalahkan. Anak biasanya akan menyenangi teknik belajar itu karena mereka dianggap sebagai manusia yang berpikir menurut ukuran kemampuan sendiri-sendiri. Sikap positif guru dalam melakukan penilaian terhadap siswa juga akan membantu mereka untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang memiliki karakter dan sikap yang kuat dan bertanggung jawab.

Keempat, mintalah kepada para siswa untuk membaca catatan mereka dan bukubuku penunjangnya pada saat bangun tidur di pagi hari. Akan lebih baik jika para siswa di ingatkan untuk rajin bertahajud kemudian kembali membaca ulang pelajaran yang mereka dapatkan pada hari kemarin. Mengatur sikap belajar dengan cara menghargai waktu akan menumbuhkan semangat dan kepedulian siswa terhadap lingkungan sekitar. Jauh sebelum muncul teori tentang belajar secara kontekstual (contextual learning), konsep pengaturan waktu belajar menurut Al-Zarnuji justru menjadi sumber inspirasi bagi teori-teori belajar dalam pendidikan modern.

Semoga kita masih memiliki banyak guru dan siswa yang memiliki ciri-ciri seperti yang diingatkan Al-Zarnuji sekian abad silam dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim. Wallhu a’lam bi al-sawab.

Seharusnya Guru Dipercaya Sepenuhnya

Imam Suprayogo Dua
December 3, 2014

Tidak sembarang orang bisa dipercaya dan diangkat menjadi guru. Untuk menjadi guru, seseorang harus memenuhi berbagai persyaratan, misalnya minimal berjazah S1 keguruan, telah memiliki sertifikat sebagai guru, dikenal cakap, memiliki integritas keilmuan dan moral yang tinggi dan sebagainya. Setelah syarat-syarat itu terpenuhi, maka seseorang baru diangkat menjadi guru.

Jabatan sebagai guru adalah berbeda dari lainnya. Sehari-hari guru menghadapi benda hidup, yaitu anak-anak manusia yang harus dididik. Oleh karena itu, maka sementara orang menyebut, bahwa guru bukan sekedar tukang, yaitu tukang mengajar. Umpama sebagai tukang, maka tugas guru sehari-hari hanya menyampaikan mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya kepada para murid-muridnya. Jika murid yang diajar berhasil menguasai mata pelajaran yang diberikan, maka tugas guru dianggap selesai dan berhasil.

Tugas guru bukan sekedar mengajar, lebih dari itu adalah mendidik. Pengertian mendidik jauh lebih luas dibanding sekedar mengajar. Seorang pendidik seharusnya berusaha mengembangkan segenap potensi yang dimiliki oleh para siswanya. Guru mengajar matematika, biologi, fisika, kimia, sosiologi, psikologi, sejarah, dan lain-ain, bukan saja bermaksud agar para siswanya mengerti prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori tentang mata pelajaran itu, melainkan agar mereka semakin menyenangi dan terdorong untuk memahami pengetahuan itu lebih lanjut.

Seorang pengajar biologi baru disebut berhasil manakala para siswanya menjadi senang dengan pelajaran biologi. Demikian pula pengajar matematika, fisika, kimia, dan seterusnya. Manakala seorang guru yang mengajar fisika di akhir program pembelajaran justru menjadikan siswanya membenci ilmu fisika, maka sebenarnya guru yang bersangkutan telah gagal menunaikan tugasnya.

Oleh karena itulah sebenarnya, tugas guru bukan sebatas menghabiskan bahan pelajaran yang ditetapkan di dalam kurikulum, tetapi lebih dari itu adalah sejauh mana mereka mampu melahirkan imajinasi, khayalan, rasa senang, dan bahkan mencintai terhadap ilmu pengetahuan yang diberikan itu. Guru yang berhasil adalah mereka yang mampu menjadikan para siswanya semakin mencintai ilmu pengetahuan yang diberikannya itu.

Karena kemampuan guru yang bersangkutan, maka para siswa tatkala belajar bukan lagi merasa terpaksa, dan bahkan juga bukan sekedar untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian, baik ujian sekolah maupun ujian nasional. Jika para siswa dalam belajar berbagai jenis ilmu pengetahuan hanya bermaksud agar lulus dan mendapat nilai istimewa atau menjadi juara, maka sebenarnya proses pembelajaran itu telah gagal. Belajar bukan sebatas untuk lulus dan memperoleh ijazah, melainkan agar para siswa mengenal dan mencintai ilmu pengetahuan. Orang yang mencintai ilmu itulah yang ingin dibentuk melalui lembaga pendidikan di berbagai jenjang yang ada.

Dalam kitab suci agama Islam, yakni al Qur’an, banyak perintah agar manusia mempelajari penciptaan langit dan bumi, termasuk juga tentang manusia sendiri. Dalam ilmu pengetahuan, penciptaan langit dan bumi serta seisinya itu telah dirumuskan menjadi ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu social, dan humaniora. Ketiga jenis ilmu murni tersebut sebenarnya mengkaji ciptaan Allah itu. Hanya saja, ciptaan Allah yang terangkum di dalam ketiga jenis ilmu murni itu belum menyangkut seluruhnya.

Selain yang disebutkan itu, masih banyak lagi, ciptakaan Allah yang tidak akan mungkin dikenali lewat indera manusia, seperti misalnya alam ruh, jin, malaikat, dan sejenisnya. Manusia hanya mampu mengenali ciptaan Allah hanya lewat indera dan dibantu oleh peralatan yang berhasil diciptakannya. Oleh karena itu, apapun yang dilakukan oleh manusia, ilmu yang diperoleh akan terbatas.

Selanjutnya, berbekalkan ilmu yang terbatas itu pula diharapkan berhasil mengantarkan seseorang mengenal Tuhannya. Dalam Islam, mencari ilmu bukan semata-mata bertujuan untuk meraih hal sederhana yang bersifat praktis dan prakmatis, yakni agar bisa bekerja dan memperoleh rizki misalnya, melainkan untuk mengenal siapa penciptanya. Melalui pengenalan itu, maka diharapkan akan tumbuh kesadaran tentang eksistensinya. Kesadaran tentang dirinya itulah sebenarnya yang akan menjadi pintu untuk mengenal Tuhannya. Orang yang memiliki kesadaran diri itulah sebenarnya yang akan memperoleh derajad tinggi atau hidup berkualitas.

Mengemban tugas mulia seperti itu, maka seorang guru, seperti yang disebutkan di muka, bukan sekedar sebagai tukang mengajar. Sehari-hari, para guru bekerja bukan sebatas menyampaikan bahan pelajaran kepada murid-muridnya, melainkan untuk mengenalkan tentang kehidupan ini. Mereka menyadarkan kepada para murid-muridnya bahwa hidup ini harus memiliki makna, mengenal siapa yang menciptakan, berbagai jenis tugas-tugas kehidupan, dan bahkan juga memperkenalkan tentang kelanjutan kehidupan ini.

Maka semakin jelas, bahwa tugas guru bukan sebatas sebagai pekerja, melainkan sebagai sosok yang sehari-hari berusaha menumbuhkan jiwa, pikiran, khayalan, cita-cita, harapan, rasa syukur, dan saling menghormati dan mencintai antar sesama. Jika demikian itu tugas guru, maka mereka harus dipercaya sepenuhnya. Guru tidak selayaknya dicurigai dan disalahkan hanya sekedar tidak membuat laporan formal. Sekalipun dari perspektif administrasi bahwa itu adalah penting, tetapi tugas mereka bukan sebatas yang bisa dilaporkan itu. Tugas guru sebenarnya tidak semuanya bisa dicatat di dalam diskripsi atau kolom-kolom laporan formal. Wallahu a’lam.

Refleksi Hari Guru 2014

Mohammad Nuh ; Dosen Jurusan Teknik Elektro ITS
JAWA POS, 26 November 2014

TIDAK ada satu pun di antara kita yang tidak pernah mendapatkan sentuhan kemuliaan dari guru sehingga menjadi kita seperti sekarang ini, apa pun profesi dan status sosial kita. Itulah realitas sosial sepanjang sejarah peradaban umat manusia. Pendek kata, peran guru dalam kehidupan tidak bisa dimungkiri. Oleh karena itu, tidak berlebihan kalau salah satu peran guru adalah sebagai mesin pembuat dan transmisi ilmu, perilaku, dan peradaban yang menjaga kesinambungan antargenerasi. Guru tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi lebih jauh dari itu ikut menghantarkan proses menjadikan manusia yang mampu memanusiakan manusia (humanizing the human being).

Bahkan, dalam tradisi sufistik, orisinalitas dan keabsahan sang guru (mursyid) sangat ditentukan kepada siapa dia berguru. Hal ini semata-mata untuk memastikan kemurnian dan kesahihan amaliah yang diajarkannya.

Secara etimologi, guru yang berasal dari bahasa Sanskerta terdiri atas dua kata, yaitu gu (darkness) dan ru (to push away). Oleh karena itu, peran substansi guru adalah kemampuannya dalam memberikan pencerahan untuk mentransformasikan dari keadaan yang terkungkung ”kegelapan” (jahiliah) menuju keadaan yang tercerahkan. Jahiliah di sini bukan hanya ketidaktahuan dari aspek pengetahuan, tetapi juga termasuk kelamnya perilaku dan peradaban. Mengingat peran penting dan mulianya seorang guru, menjadi guru itu juga penting dan mulia. Bahkan, dalam tradisi pesantren, menghormati guru sama pentingnya dengan menghormati ilmu sebagai syarat agar bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat (Syech Az-Zamuji dalam Ta’alim Muta’alim).

Di balik penting dan mulianya menjadi guru, banyak ragam yang melatar belakanginya. Ada yang disebabkan tuntutan pekerjaan, panggilan jiwa, profesi, dan profesi yang didasari panggilan jiwa. Latar belakang inilah yang ikut menentukan karakter dan tingkat kemuliaan (maqom) sebagai guru.

Sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, ada empat kompetensi yang harus dipenuhi guru, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan kompetensi sosial. Pertanyaannya adalah apakah guru-guru kita yang jumlahnya sekitar 3 juta telah memenuhi UU tersebut? Inilah pertanyaan yang jawabannya bukan sekadar sudah atau belum, tetapi lebih jauh dari itu bagaimana menjadikan guru-guru kita memiliki empat kompetensi tersebut secara memadai.

Guru sebagai Pekerjaan

Realitasnya, tidak jarang kita jumpai menjadi guru sebagai pilihan terakhir setelah ke sana kemari tidak mendapatkan pekerjaan. Daripada menganggur, akhirnya berlabuh menjadi guru. Sehingga guru diposisikan sebagai pemenuhan pekerjaan dan pilihan terakhir.

Untuk guru pada tipe ini, yang menjadi ukuran utamanya adalah bagaimana dia bisa menunaikan tugas formal semata tanpa disertai rasa tanggung jawab terhadap capaian kompetensi murid. Yang penting mengajar yang berfokus pada pengetahuan, belum mendidik dan hasilnya murid yang bertanggung jawab. Suasana pembelajaran sangat kering karena tidak ada ikatan emosional antara guru dan murid.

Guru sebagai Panggilan Jiwa

Kedahsyatan panggilan jiwa bisa melampaui sekat-sekat yang menjadi hambatan untuk menjadi guru. Dia memahami betul esensi menjadi guru adalah membantu dan menghantarkan murid menjadi manusia sejati yang berbasis pada perilaku, budi pekerti, dan karakter atau dalam K-13 kompetensi sikap. Dalam bahasa KH Hasyim Asy’ari: semua amal ibadah, baik rohani maupun jasmani, perkataan maupun perbuatan, tidak akan dihitung kecuali disertai perilaku serta budi pekerti yang terpuji (Adabul ’Alim wal Muta’allim). Dia mengandalkan pentingnya guru sebagai sumber keteladanan dan inspirasi sehingga guru harus berusaha menampilkan diri sebagai sosok yang penuh kemuliaan.

Dia juga menyadari, pada akhirnya ilmu bisa usang karena perkembangan zaman, tetapi perilaku haruslah tetap tersisa sepanjang hayat. Begitulah kata Einstein (fisikawan) dan Skinner (psikolog), dua ilmuwan terbaik pada zamannya.

Suasana pembelajarannya sangat hidup, pendekatannya penuh kasih sayang, karena ada ikatan emosional yang kuat. Hubungan guru-murid tidak sebatas terjalin di wilayah sekolah, tetapi diperluas sampai wilayah spiritual-transendental. Dia lebih fokus terhadap kewajiban dan tanggung jawabnya, tidak terlalu peduli terhadap haknya.

Guru sebagai Profesi

Sejak diundang-undangkannya UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen, guru sebagai profesi membawa dampak yang luar biasa dalam dunia ”per-guru-an” kita. Menjadi guru tidak cukup hanya karena ijazah dan kemampuannya untuk bekerja atau karena keinginan yang kuat sebagai panggilan jiwa. Akan tetapi, semua kriteria untuk menjadi guru yang jelas dan terukur harus dipenuhi sebagaimana lazimnya profesi yang lain.

Tahun 2005 hingga 2015 merupakan masa transisi guru sebagai profesi. Oleh karena itu, ada pendidikan, pelatihan, dan sertifikasi bagi guru yang sudah ”telanjur” mengajar. Sejak dua tahun terakhir sudah dirintis secara khusus pendidikan untuk menjadi guru dengan model berasrama dan berbeasiswa. Melalui model ini, diharapkan empat ranah kompetensi guru bisa dipenuhi.

Dengan guru sebagai profesi, ada keseimbangan antara hak dan kewajiban serta ada standar yang harus dipenuhi. Konsekuensinya, negara harus menyediakan anggaran untuk gaji dan tunjangan yang jumlahnya tidaklah kecil, sekitar Rp 230 triliun (2015). Anggaran sebesar itu apakah sebanding dengan perbaikan kinerja dunia pendidikan? Para guru tentu yang menjawabnya melalui pembuktian.

Guru sebagai Profesi dan Panggilan Jiwa

Apakah sudah cukup menjadi guru sebagai profesi yang profesional? Sudah cukup, namun belum sempurna. Panggilan jiwa yang akan menyempurnakannya. Keempat kompetensi yang dimilikinya, yang dilandasi panggilan jiwa, sebagaimana ibu yang mengasuh sang anak, akan menyempurnakannya. Profesionalitasnya tidak dikaitkan dengan hak yang dimilikinya, tetapi dengan kewajiban yang harus dipenuhinya. Wilayah pembelajarannya melintasi batas wilayah kehidupan yang diikat dengan nilai spiritual-transendental.

Dirgahayu guruku. Selamat Hari Guru 2014, harinya orang-orang mulia. Dan hanya orang mulia yang bisa memuliakan orang mulia.

Guruku Pahlawanku

Edi Sugianto ; Pengamat Pendidikan
REPUBLIKA, 26 November 2014

“Peran kaum guru dalam perubahan, seperti keberadaan nabi-nabi tanpa senjata.” (Niccolo Machiavelli, filosof Italia: 1456-1527).

Tanggal 25 November terasa milik semua guru. Profesi guru merupakan suatu kemuliaan dan kebanggaan tersendiri. Sebab, guru mengemban peran strategis dan menjadi tumpuan perubahan nasib bangsa.

Peran terbesar guru adalah transformer sosial, perumus dan artikulator bagi problematika kehidupan kebangsaan, bahkan kemanusiaan universal. Maka fungsi melayani, mengajar, menginspirasi anak-anak bangsa menjadi prioritas utama.

Saat ini masyarakat semakin memberhalakan harta dan jabatan, hidup dengan kepentingan-kepentingan individual tanpa peduli sesama. Kekerasan berlabel sara sudah tak terhitung jumlahnya. Lalu apa solusinya? Menurut para filosof, “pendidikanlah” senjata paling ampuh untuk menepis serangan radikalisme, hedonisme, dan eksklusivisme semacam itu.

Pendidikan sebagai sarana humanisasi diharapakan mampu melahirkan wakil-wakil (khalifah) Tuhan untuk mengatur alam semesta dan peradabannya. Tentu peradaban yang selalu memihak pada kebenaran, keadilan, melawan kebatilan, kesenjangan, kebodohan, dan keserakahan (korupsi), serta menghapus hukum rimba, seperti yang dikatakan Thomas Hobbes (1588- 1679), manusia adalah pemangsa manusia lainnya, “homo homini lupus”. Kemudian diganti dengan “homo homini socius”, manusia adalah adalah sahabat bagi sesama.

Kehadiran kaum guru, sejatinya seperti diutusnya para pahlawan ke muka bumi. Sebagai penyelamat dari belenggu yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan di atas. Lalu, apa saja tugas guru dalam menyelamatkan (salvation) manusia dari kehancuran dan kebinasaan?

Peran strategis

Pertama, guru yang baik akan selalu menjadi pelita (rahmat) bagi alam semesta. “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS 21:107).

Rahmat artinya kelembutan yang berpadu dengan rasa iba. Atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Jadi, guru harus mendidik murid-muridnya dengan kasih sayang. Sebagaimana Tuhan mengutus para nabi kepada seluruh manusia sebagai bentuk kasih sayang-Nya yang terbesar.

Pendidikan harus dilakukan dengan proses lemah lembut dan kasih sayang. Ketika murid telah mencintai gurunya, maka proses komunikasi akan berjalan dengan baik dan harmonis. Apabila kenyamanan berkomunikasi sudah terjalin, maka transmisi pengetahuan dan nilai serta internalisasi karakter pun mudah melekat pada jiwa anak.

Mendidik anak dengan cinta tidaklah mudah. Diperlukan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi. Namun, bukan berarti dengan kesulitan itu lantas guru seenaknya saja. Diperlukan strategi khusus untuk melakukan itu. Misalnya, dengan melihat kemampuan dan potensi siswanya dengan baik, fleksibel, dan tidak terlalu protektif kepada anak. Pun pembelajaran yang dilakukan harus rileks dan menyenangkan (joyful study).

E Handayani Tyas (2013) mengatakan, guru diharapkan dapat menjadi pendidik yang memenuhi tiga kunci, yakni dasar pendidikannya adalah kasih sayang, syarat teknisnya adalah saling percaya, dan syarat mutlaknya adalah kewibawaan.

Pendidikan yang dilakukan dengan kasih sayang akan melahirkan pengasih-pengasih selanjutnya, generasi yang peka dengan keadaan sosial, demokratis, inklusif, toleran, penuh persaudaraan dan perdamaian. Bukan generasi angkuh, egois, dan radikal.

Kedua, guru memberikan petunjuk ke jalan yang benar. “Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (QS 35:24).

Salah satu tugas guru adalah sebagai mursyid, yakni pembimbing ke arah kebaikan, penuntun ke jalan hidup yang benar. Syarat untuk menjadi guru yang mursyid adalah harus memiliki wawasan luas tentang berbagai disiplin ilmu, memiliki kejernihan hati, sikap kesederhanaan dan ikhlas.

Mursyid dalam ilmu tasawuf biasanya disematkan kepada guru sufi, yaitu orang yang ahli memberi petunjuk dalam bidang kebatinan. Para mursyid dianggap golongan pewaris para nabi dalam bidang penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs).

Dengan peran mursyidnya, guru diharapkan mampu mencetak manusia yang memiliki hati, sifat, ucapan, dan perilaku yang bersih dan suci. Bersih dari kedengkian, ketamakan harta, pemujaan jabatan, dan korupsi.

Ketiga, guru memberi peringatan kepada murid-murid dan masyarakat. “Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS 6:48)

Guru adalah kaum intelektual yang membantu murid-muridnya untuk mencapai tujuan pendidikan dan kebenaran sejati. Namun perlu diingat, guru juga manusia biasa, bukan malaikat. Seperti nabi yang hanya sebagai penyampai pesan dan pemberi peringatan bagi kaumnya.

Proses belajar-mengajar harus dilakukan tanpa unsur paksaan. Memaksakan kehendak anak didik dalam belajar tak akan memberi bekas sedikit pun bagi perkembangannya. Seperti dakwah para nabi kepada umatnya yang dilakukan dengan pendekatan persuasif tanpa paksaan, apalagi kekerasan. Dakwah pada hakikatnya meyakinkan manusia agar selalu berjalan dalam koridor kebenaran. Dakwah bukan mencerca, mengejek, mengancam, atau bahkan meneror.

Keempat, guru menjadi teladan yang baik. “Sesungguhnya aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan akhlak.” (HR Ahmad). Salah satu faktor penting keberhasilan para Nabi dalam mendidik dan membimbing umatnya, sebelum berdakwah mereka telah menjadi living model (teladan). Mereka adalah orang-orang pertama yang melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Dengan itu umat pun mudah mengamalkan dan meniru ajarannya.

Sesuatu yang akan membingungkan murid bila ucapan guru dan perilakunya berbeda. Murid-murid tak tahu siapa yang harus dicontoh, dan apa arti dari keluhuran budi dan kemuliaan akhlak. (Syafi’i Antonio, 2009: 195).

Akhir kata, guru sebagai pahlawan dan pewaris para Nabi memiliki peran besar dalam pencerdasan, pencerahan, dan penyelamat bangsa dari keterpurukan moral manusia yang gila harta, pemuja jabatan, wanita, dan korupsi. Selamat Hari Guru!

Revolusi Mental atau Revolusi yang Mental

Fathur Rozi ; Wartawan Jawa Pos
JAWAPOS, 27 November 2014

Peringatan Hari Guru Nasional, 25 November 2014, ini menampilkan nuansa berbeda. Selain karena Indonesia punya menteri pendidikan baru, Hari Guru kali ini bertema Revolusi Mental Melalui Penguatan Peran Strategis Guru. Seiring dengan slogan Presiden Joko Widodo: Revolusi Mental.

Revolusi mental memang bisa dimulai lewat bidang pendidikan. Dan, di sanalah guru memegang peran strategisnya. Banyak ahli meyakini, menuntaskan persoalan-persoalan terkait dengan guru otomatis menyelesaikan lebih dari separo masalah pendidikan di Indonesia.

Namun, siapa yang bisa menjamin revolusi mental itu akan berhasil dan tidak menjadi revolusi yang mental di tengah jalan? Guru punya banyak tantangan kekinian dalam melaksanakan tugas. Lalu, apakah semua guru menyadari peran strategis itu dan menyiapkan kompetensi mereka? Yang lebih penting, bersediakah mereka melakukan revolusi mental mulai diri sendiri?

Banyak tantangan bagi guru. Tugas mengajar berkaitan erat dengan konteks zamannya kelak. Guru diharapkan mentransformasikan pengetahuan, sikap, serta keterampilan kepada murid agar mereka mampu menjawab tantangan zaman ke depan. Salah satunya menjadi sumber sejati ilmu dan pendamping perangkat teknologi. Perangkat era multimedia itu kerap dipersepsikan anak sebagai pengganti fakta-fakta dalam belajar.

Mereka bisa memperoleh segala informasi dengan sangat instan. Bagaimana, misalnya, siswa menyusun tugas-tugas sekolah cukup dengan ponsel pintar. Contohnya, tugas bertopik kelautan tentang nelayan. Mereka hampir pasti mampu menjawab detail tentang deskripsi pekerjaan, paparan tentang jenis-jenis perairan, dan ikan tangkapan. Termasuk, narasi proses penjualan ikan di pasar hingga ke pabrik pengolahan. Cukup unduh dari internet.

Namun, belum tentu mereka mampu merasakan perjuangan seorang nelayan dalam mencari BBM yang sedang langka, menjual hasil tangkapan dengan harga layak, hingga harus menganggur berhari-hari jika cuaca sedang buruk. Mereka tahu banyak, tapi belum bisa merasakan.

Siswa-siswa mungkin matang secara pengetahuan. Namun, kematangan itu terasa semu. Ada yang hilang dari proses belajar berbekal ponsel pintar tersebut: pengalaman faktual dan empati. Pengalaman faktual merupakan bekal amat penting dalam pembelajaran. Dalam pendekatan scientific Kurikulum 2013, pengalaman itu berupa menemukan sendiri materi belajar.

Peran lain yang tidak kalah penting adalah menggelorakan mental prestatif. Menanam, memupuk, dan menumbuhkan mental juara dalam diri anak. Penguatan mental prestatif tersebut akan sangat hebat jika guru pun merupakan pendidik-pendidik berprestasi. Orientasi prestasi itu diharapkan mampu mengalihkan perhatian peserta didik dari kenakalan remaja dan budaya hedonis.

Tugas lain yang tidak kalah penting adalah kemampuan mencerahkan tontonan jadi tuntunan dalam beragam panggung di republik ini. Tontonan yang tidak sengaja jadi tuntunan itu, antara lain, terlihat di panggung politik. Atas nama demokrasi, saling hujat, sikut-menyikut, berebut kekuasaan, dan sikap tidak legawa dipertontonkan dengan begitu vulgar.

Padahal, dalam pelajaran pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan, mereka diajari tentang sopan santun, toleransi, demokrasi Pancasila, serta teori yang menyatakan suara rakyat suara Tuhan.

Di lapangan bola, pemain saling pukul, penonton berkelahi dengan wasit. Di pengadilan dan Mahkamah Konstitusi, hakim menerima suap. Padahal, dalam pelajaran agama, mereka didoktrin dengan ajaran untuk berbuat jujur dan adil.

Kejadian-kejadian yang kontradiktif dengan akal sehat dan hati nurani itu bisa jadi disikapi sebagai hal biasa karena seringnya terjadi. Bukan lagi perilaku yang layak dinegasikan.

Tanpa disadari, anak-anak akan belajar hal-hal negatif itu sebagai referensi (negatif learning). Pembelajaran negatif tersebut bukan semata-mata fenomena sosial, melainkan problem pendidikan yang krusial. Di sinilah kehadiran guru sulit tergantikan.

Profesi guru bukanlah pekerjaan biasa. Sosok mulia guru selalu dituntut memiliki empat kompetensi. Yaitu, kompetensi profesional, sosial, personal, dan pedagogis. Mengapa? Sebab, seorang pendidik menjalankan banyak fungsi sekaligus. Guru ibarat seorang perajin. Dia wajib punya gambaran yang jelas tentang apa yang harus dilakukan sekaligus bagaimana melaksanakannya. Kehati-hatian sangat penting karena tugas guru berkaitan dengan anak manusia. Sekali salah dalam mendidik, akibatnya bisa fatal.

Di sisi lain, pendidik juga seorang seniman yang perlu mampu menjiwai karakter anak didiknya secara mendalam, detail, dan individual. Karena itulah, misalnya, seorang guru musik mungkin saja tidak cukup diisi hanya oleh seorang artis atau komposer. Guru yang bermutu biasanya lahir dari lembaga pencetak guru, lembaga pendidikan tenaga kependidikan.

Sejak diakui sebagai profesi dan ditindaklanjuti dengan program sertifikasi, tunjangan profesi pendidik (TPP atau sekarang TPG) mulai dibayarkan. Manfaat sertifikasi dan di dalamnya TPG seharusnya tidak berhenti pada kesejahteraan guru. Tunjangan itu harus berlanjut pada peningkatan kualitas murid-murid.

Sertifikasi merupakan pemacu guru untuk terus bergerak maju, bukan momentum untuk menuai hasil. Bergerak maju berarti terus berubah, bukan bersikap anti perubahan. Siap menerima belajar hal-hal yang baru tanpa pandang usia. Tidak bertahan pada tradisi lama.

Pendidikan kita tidak akan mampu mempersembahkan kemajuan jika para guru tidak antusias pada perubahan. Ekologi pendidikan perlu terus dijiwai semangat pro perubahan ke arah kemajuan. Apalagi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah di depan mata. Ada persaingan baru dengan guru-guru dari negara lain.

Sudah saatnya para guru mampu menembus hambatan-hambatan dari luar. Tentu saja terutama dari diri mereka sendiri. Salah satunya, keberanian mereaksi kebijakan-kebijakan yang sering membuat guru terombang-ambing dalam ketidakpastian dan kungkungan birokrasi.

Apa artinya menuntut guru untuk terus maju dan berubah jika mereka ’’dikuasai’’ birokrasi yang melahirkan kebijakan tidak ramah pendidikan. Baik birokrasi dalam lingkungan pendidikan maupun di luar pendidikan. Birokrasi yang korup akan menerbangkan awan gelap berupa ketakutan guru untuk percaya diri, aktif, inovatif, kreatif, serta bergairah dalam melaksanakan tugas.

Karena itulah, bukan hanya guru yang harus menjiwai segala tindakannya dengan filosofi pendidikan. Para pemegang kebijakan seperti presiden, menteri, hingga kepala daerah, juga DPR dan DPRD, harus yakin. Setiap perumusan aturan dan penggodokan anggaran benar-benar perlu dijiwai dasar filosofis yang kuat dan hakiki serta tujuan yang benar. Bukan semata pencitraan. Revolusi mental dengan penguatan peran strategis guru jangan sampai menjadi revolusi yang mental karena kebijakan birokrasi yang tidak mendukung.

Umpama Sekolah Merdeka Mendidik Dan Mengajar

Imam Suprayogo
07 November 2014

Bangsa ini telah merdeka lebih dari enam puluh tahun. Atas kemerdekaan itu, rakyatnya telah dididik. Sekolah hingga perguruan tinggi telah ada di mana-mana. Rakyat hingga sampai desa-desa telah mengenyam pendidikan. Aneh dan perlu disyukuri, bahkan perguruan tinggi sekalipun, telah berdiri hingga ke tingkat kecamatan.

Akan tetapi juga aneh pula, sekalipun lembaga pendidikan sudah ada di mana-mana, dan rakyat sudah mengenyam pendidikan, tetapi para lulusannya sekedar mencari kerja masih dirasakan sulit. Disebut-sebut bahwa pengangguran semakin lama semakin menumpuk, termasuk lulusan perguruan tinggi. Mereka lulus dan dianggap pintar, tetapi sekedar menjadi mandiri secara ekonomi saja masih dirasakan tidak mudah.

Mungkin gambaran yang terasa kontradiktif itulah yang menjadikan banyak orang kebingungan. Lulus hingga perguruan tinggi, tetapi masih belum bisa mencari dan atau menciptakan lapangan pekerjaan di negeri yang kaya sumber daya alam. Suasana seperti itu kemudian melahirkan pertanyaan, siapa sebenarnya yang salah dari penyelenggaraan pendidikan itu.

Untuk menjawab pertanyaan sederhana tersebut tentu tidak mudah. Sebab diyakini bahwa kualitas pendidikan selalu ditentukan oleh banyak faktor, mulai dari faktor siswanya sendiri, kurikulum, guru, sarana dan prasarana, lingkungan, pembiayaan, dan masih banyak lagi lainnya. Namun dari sekian banyak faktor yang berpengaruh itu, kiranya perlu ditanyakan apakah sudah ada kemerdekaan di lembaga pendidikan itu.

Kemerdekaan itu sangat penting, apalagi kemerdekaan bagi seorang pemimpin lembaga pendidikan. Orang yang tidak memiliki kemerdekaan tidak akan kreatif dan juga tidak akan menggunakan kecerdasannya secara maksimal. Akibatnya, tugas-tugas yang diberikan tidak akan mencapai kualitas yang diharapkan. Secara formal tugas itu terselesaikan, tetapi tidak akan menyentuh hingga wilayah substansinya. Apa yang dilakukan hanya bersifat formalitas, dan demikian pula hasilnya.

Suasana merdeka juga diperlukan oleh guru. Guru di depan para siswanya harus merdeka. Tidak selayaknya guru kelihatan terjajah atau diliputi oleh perasaan takut. Di hadapan siswa, guru tidak boleh kelihatan tertekan hingga harus mengajari para siswanya cara-cara menjawab soal ujian agar muridnya lulus. Sekolah bukan semata-mata mengantarkan siswa lulus, tetapi juga pintar, cerdas, berkharakter, dan dewasa.

Memperhatikan dan merenungan lembaga pendidikan selama ini, maka terbayang dalam pikiran, jangan-jangan lembaga pendidikan selama ini sedang mengalami perasaan terjajah, atau tidak merdeka. Kepala sekolah tidak merdeka, guru tidak merdeka, muridnya juga tidak merdeka, termasuk pegawai hingga tukang kebunnya. Mereka terjajah oleh berbagai peraturan yang belum tentu memiliki fungsi untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran, atau bahkan yang terjadi adalah justru sebaliknya.

Manakala gambaran itu benar, bahwa salah satu sebab rendahnya kualitas hasil pendidikan itu adalah tidak adanya kemerdekaan di lembaga pendidikan, maka tugas Pak Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan menengah, termasuk pak Menteri Pendidikan Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi adalah memberikan kemerdekaan itu. Tugas Pak Menteri tidak perlu hingga detail, menyangkut hal-hal kecil dan sepele, tetapi cukup memberikan garis besar kebijakan, membuat standar umum yang harus dijalankan oleh sekolah dan guru. Kepala sekolah dan guru sangat perlu diberi kemerdekaan untuk mendidik dan mengajar.

Pekerjaan yang bersifat teknis, mengikuti petunjuk nabi, seyogyanya Pak Menteri cukup mengatakan : “antum a’lamu biumuri dunyakum”, atau dalam bahasa sederhananya, bahwa kamu semua lebih tahu tentang apa yang seharusnya kamu kerjakan. Kepala sekolah dan bahkan para guru harus dipercaya dan diberi kemerdekaan untuk menjadikan para siswanya cerdas, kaya ilmu, semakin dewasa, dan berakhlak atau berkharakter mulia. Hal yang bersifat teknis, agar hasilnya masksimal, maka tanggung jawab cukup diserahkan saja kepada pihak-pihak yang menjalankan, dalam hal mendidik dan mengajar adalah kepala sekolah dan guru.

Manakala hal itu bisa dilakukan, maka sekolah akan benar-benar menjadi tempat yang menyenangkan, guru dan kepala sekolah akan semakin kreatif dan cerdas, dan lembaga pendidikan akan benar-benar menjadi tempat persemaian generasi bangsa yang unggul di masa depan. Selain itu, sekolah tidak akan dirasakan sebagai beban hidup, tetapi sebaliknya, menjadi sesuatu yang dibutuhkan dan menyenangkan. Lulusannya tidak akan mengekspresikan kegembiraannya dengan corat-coret baju seragam, konvoi keliling kota, kebut-kebutan persis ayam yang kelamaan terkungkung dan kemudian berhasil keluar dari sangkarnya. Wallahu a’lam.