Hyper Parenting

Harry Santosa
October 17 ·

Kita butuh referensi dalam mendidik anak, itu benar, namun kalau belum apa apa sudah banyak bertanya pada manusia apalagi google maka kita akan bingung sendiri dan akan sakit kepala krn informasi bisa berbeda. Abah ini bilang gini, Ayah itu bilang begitu, Ustadz ono bilang begono dstnya.

Menurut riset, para orangtua millennial (millennials parents) kelahiran 70-90, menjadikan Google dan tetangga baru sebagai New Grandparents, tempat bertanya apapun.

Keluarga muda tanpa warisan yang cukup sudah pasti tinggal di daerah pinggiran, di perumahan baru dan tetangga baru serta masjidpun juga masih baru. Ayah tentu bekerja jauh ke tengah kota, berangkat gelap pulang gelap, kadang tak siap dicurhati istri. Ini jelas kondisi parentless.

Tinggalah sang ibu harus membesarkan anak anaknya nyaris sendirian, orangtua jauh di desa dan tak paham kondisi. Jadi informasi terdekat dalam mendidik didapat dari seminar parenting dan google. Ya itu tadi, malah informasi bisa berbeda beda dan membuat bingung.

Apalagi google, hasil pencarian google itu yang teratas bukan yang paling benar tetapi yang teratas itu yang paling tenar.

Akibatnya para orangtua millennial jadi Hyper parenting. Informasi membanjir namun sedikit hikmah yang bisa diambil. Drowning in information but Starving in Knowledge. Ditambah lagi anak anak mereka adalah gen Z, kelahiran 1995 ke atas bahkan gen Alpha kelahiran 2010 ke atas yang super duper ajaib karena memang Allah ciptakan agar bisa hidup pada zamannya bukan zaman ortunya.

Kasus kasus di luar rumah, seperti penculikan, human traficking, lgbt, narkoba, pornografi, depresi dll semakin membuat para ortu menjadi paranoid, riset bahkan menyebut gaya parenting orangtua millennial condong kepada Helycopter Parenting, serba protektif. Ini justru kelak membuat anak jadi lambat dewasa dan tidak mandiri.

Lalu Bagaimana?

Ketahuilah bahwa tiap zaman unik, tiap anak unik, tiap keluarga unik, tidak ada tips n trick parenting yg berlaku utk semua orang dan semua kondisi. Tiada magic medicine yg bisa menyelesaikan dan menyembuhkan semua hal.

Aqidah kita mengajarkan utk “iyyaka na’budu, wa iyyaka nasta’in” , mintalah pertolongan pertama kepada Allah dan pertamalah bertanya meminta pd Allah. Lalu tanyalah nurani dan bangkitkan fitrah dan aqal kita utk temukan solusi. Jadi jangan belum apa apa sudah bertanya pada manusia dan google.

Sambutlah panggilan menjadi orangtua sejati. AlQuran menampilkan sosok LuqmanulHakim, seorang hamba sahaya, bukan nabi, bukan rasul, namun keren dalam mendidik anak anaknya sehingga dipilih menjadi ayat ayat di dalam surat Luqman, sekaligus mengabadikan nama LuqmanulHakim.

Sungguh sungguh kami curahkan hikmah yang banyak kepada Luqman, karena ia banyak bersyukur. Inilah kuncinya, “syukur”, yaitu menyambut panggilan dengan suka cita menjadi ayah bunda sejati dalam mendidik anak.

Jadi ingat bahwa orangtua versi terbaik dan ahli parenting terbaik untuk anak anak kita adalah kita sendiri, ayah bundanya. Allah telah instal fitrah parenting dalam diri tiap orangtua yang diberi amanah anak, maka bangkitkan saja fitrah itu dengan penuh bahagia.

Tiap manusia atau tiap anak itu sangat rumit dan kompleks, maka tiada solusi instan dan mudah, semua solusi hanya bisa diperoleh dengan membersamai tumbuh kembang fitrahnya.

Mintalah Allah untuk senantiasa intervensi memberikan solusi, agar tak menjadi orangtua yang hyper parenting tetapi orangtua yang rileks dan optimis membersamai tumbuh kembang fitrah ananda.

Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation
#pendidikanbsrbasisfitrah

Advertisement

Mendidik Fitrah Keimanan

Harry Santosa
September 30 ·

#fitrahkeimanan

Fitrah adalah Islamic Concept of Human Nature (konsep Islam ttg Asal Mula Kejadian Manusia). Sejak lahir manusia telah membawa pokok kebaikan (innate goodness) yang sangat cukup untuk menjalani peran peradaban spesifiknya dalam rangka mencapai maksud penciptaan untuk Beribadah (Hamba Allah) dan untuk menjadi Khalifah Allah di muka bumi.

Diantara aspek fitrah adalah kecenderungan manusia untuk beriman atau bertuhan, yang disebut fitrah keimanan. Fitrah keimanan bahkan telah diinstal sejak di alam rahiem (QS 7:172) dalam bentuk persaksian Allah sebagai Robb (kholiqon-pencipta, roziqon-pemberi rezqi, malikan-pemilik/pemelihara dstnya).

Instalasi persaksian ini kemudian muncul dalam kenyataan bahwa tiap bayi lahir menangis. Para ulama mengatakan bahwa bayi menangis karena “seeking Allah” atau mencari Allah, dalam hal ini adalah Robb. Itulah mengapa menyusui diwajibkan karena sebagai bentuk penguatan dan perawatan syahadah Rubbubiyatullah. Dalam pemberian ASI, sang bayi merasakan adanya Zat yang memberi rizqi, melindungi, merawat, menyayangi dstnya.

Perihal syahadah Rubbubiyatullah ini juga nampak pada perihidup bangsa bangsa, bahwa tiada satu sukupun di muka bumi yang tidak ada tempat untuk sujud kepada Tuhan.

Atheisme sendiri baru dikenal manusia pada Abad 18an sebagai bentuk penolakan terhadap penindasan Raja Diktator dan Gereja. AlQuran bahkan menyebut bahwa Kafir Quraisy sekalipun mengakui Tauhid Rubbubiyatullah. “Jika ditanyakan kpd mereka siapa yang menciptakan langit dan bumi, maka mereka menjawab Allah”.

Karenanya dalam hadits ttg Fitrah, dikatakan bahwa “setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, orangtuanyalah yang merubahnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi” , namun dalam hadits ini tidak dikatakan merubahnya menjadi Muslim. Mengapa? Karena setiap bayi sudah lahir dalam keadaan Islam.

Lalu bagaimana Mendidik Fitrah Keimanan?

Mendidik fitrah keimanan, tentu bertahap sesuai tahapan usia.

Usia 0-2 tahun. Ini tahap penguatan fitrah keimanan dengan memberikan ASI secara eksklusif, menghadirkan hati, perhatian, sentuhan, pandangan dsbnya ketika menyusui. Inilah tahap penguatan awal Tauhid Rubbubiyatullah.

Usia 3-6 tahun.

Ini tahap merawat fitrah keimanan dengan membangun imaji imaji keindahan ttg Allah, ttg Rasulullah SAW, ttg Islam dan kebaikan lainnya sehingga melahirkan kesan dan cinta yang mendalam. Cinta sebelum Islam, Iman sebelum Amal.

Dilarang merusak imaji imaji anak di usia ini ttg indahnya alHaq. Para ulama meminta untuk menunda menceritakan ttg neraka, perang akhir zaman, Dajjal, qiyamat dstnya, sampai benar benar fitrahnya kuat di usia 7 tahun ke atas.

Dilarang mendidik adab dengan memaksa, menyakitkan hatinya, dstnya, agar tidak malah membenci adab. Namun upayakanlah adab berkesan indah. Jadi tahap ini sepenuhnya full cinta namun tidak memperturutkan yang tidak baik.

Ceritakanlah hal hal indah yang membuat ananda sangat tergugah, berkesan mendalam dan antusias pada kebenaran. Suasanakanlah keshalihan dalam setiap momen dan kesempatan tanpa terasa dan formal.

Ini tahap emas untuk mengenalkan Allah, Rasulullah SAW dan kebaikan kebaikan Islam. Anak sedang pada puncak imaji dan abstraksinya, alam bawah sadarnya masih terbuka lebar, maka mengenalkan apapun ttg kebaikan apalagi dgn cara berkesan akan masuk ke dalam bawah sadarnya dna menguatkan fitrahnya. Penting mengkontekskan semua peristiwa baik dengan Allah dalam setiap kesempatan.

Teladankan kebaikan tanpa pasang target untuk segera diikuti. Hindari semua bentuk formal dan penerapan disiplin yang membuatnya jadi membenci kebaikan itu sendiri. Ingat bahwa sholat baru diperintah saat usia 7 tahun, jadi di bawah 7 tahun sholat diimajikan indah bukan dipaksa tertib gerakan, tertib bacaan, tertib waktu. Misalnya penting setiap azan berkumandang, wajah bunda menjadi sumringah dan tersenyum seindah mungkin, bahkan memeluk dan mengucapkan kata kata indah di telinga ananda.

Dahulukan amar ma’ruf daripada nahi munkar. Misalnya jika ananda naik ke atas meja, katakan saja “nak meja untuk makan, kaki untuk ke masjid atau ke taman” daripada panik dan menyebut keburukan.

Diharapkan pada fase ini anak sudah antusias mengenal dan menyebut nama Allah di usia 3 tahun. Nanti di usia 7 tahun, diharapkan ketika kita mengatakan, “nak, sholat itu diperintah oleh Allah lho…” maka ananda menerima perintah Sholat dengan suka cita”.

Usia 0-6 tahun adalah masa emas bagi mendidik fitrah keimanan, dengan menguatkan konsep Allah sbg Robb, melalui imaji imaji indah yang melahirkan kecintaan kpd Allah, Rasulullah SAW, Islam. Metodenya adalah keteladanan dan suasana keshalihan yang berkesan mendalam.

Usia 7-10 tahun.

Ini adalah tahap menumbuhkan dan menyadarkan Tauhid Mulkiyatullah. Pada tahap ini ananda sedang sangat kritis (fitrah belajar dan bernalar pada puncaknya), mereka juga mulai bergeser dari ego sentris ke sosio sentris, mereka mulai memahami adanya keteraturan di alam dan di kehidupan.

Inilah tahap yang tepat untuk menumbuhkan dan menyadarkan bhw Allahlah Sang Maha Pengatur, Sang Maha Pembuat Hukum, Zat Yang harus ditaaati. Fitrah keimanannya ditumbuhkan dengan membaca alam dan mentadaburi keteraturan ciptaan Allah di alam semesta.

Fitrah keimanan tumbuh baik dengan menginteraksikannya pada kenyataan keteraturan yang indah dan sempurna alam semesta. Keimanannnya mulai berbunga menjadi keinginan kuat memahami keteraturan itu dan mencintai Sang Maha Pengaturnya. Keimanan tidak bisa lagi lewat kisah kisah menjelang tidur, namun harus dialami langsung dengan interaksi di alam.

Usia 11-14 tahun.

Ini tahap mendidik fitrah keimanan untuk Tauhid Uluhiyatullah. Metodenya adalah mengokohkan fitrah keimanan melalui ujian ujian kehidupan sehingga mennjadi kebutuhan. Iman itu perlu diuji bukan lagi dikisahkan atau diinteraksikan, tetapi melalui beban beban kehidupan dalam batas kesanggupannya. Ingat bahwa fitrah keimanan bukan bicara seberapa banyak ilmu agama yang direkam di benak, namun bicara seberapa banyak anak mengokohkan keimananannya melalui cinta yang mendalam pada alHaq.

Pada tahap ini, memberikan anak kesempatan untuk merantau yang tidak terlalu jauh, berbisnis kecil kecilan, memberi investasi, memagangkan pada maestro, melibatkan pada aktifitas dakwah dll. Maka kita akan lihat, bagaimana fitrah keimanannya diuji dalam kehidupan.

Rasulullah SAW memulai magang berdagang bersama pamannya dan merantau ke Syams sejak usia 11-12 tahun. Maka kita lihat Rasulullah SAW piawai di dakwah dan piawai di pasar.

Dalam ujian ujian kehidupan itu mereka akan menyadari butuhnya sholat malam, butuhnya panduan alQuran dan alHadits, butuhnya memperbaiki misi hidup sesuai yang Allah kehendaki dstnya.

> 15 tahun. Peran Peradaban atas Tumbuhnya Fitrah Keimanan

Fitrah Keimanan yang tumbuh paripurna akan berujung kepada peran peradaban berupa ghairah dan antusias Menyeru Kepada Tauhidullah. Inilah adab tertinggi kepada Allah sebagaimana yang ditugaskan kepada para Nabiyullah Alaihimusalaam sepanjang sejarah.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah
#fitrahkeimanan

Mendidik Anak Generasi Z

Harry Santosa
September 17 ·

Setiap zaman Allah ciptakan generasi unik sesuai zamannya agar mampu hidup di zamannya. Anak2 para orangtua milennials (kelahiran tahun 1975-1995) adalah anak anak zaman now yang dikenal dengan GenZ kelahiran 95 -2010 dan GenAlpha kelahiran 2010 ke atas.

GenZ paling tua hari ini, jika lahir tahun 1995, maka sudah berusia 23 tahun dan paling muda usia 8 tahun kelahiran 2010. Sementara GenAlpha bisa dianggap masih usia dini di bawah 7-8 tahun karena mereka kelahiran di atas tahun 2010. Orang orang menyebut dua generasi ini dengan generasi zaman now.

Sayangnya, banyak orang memplesetkan anak zaman now, mohon maaf, dengan kata “now-udzubillah”, menggambarkan betapa seolah mengerikannya generasi ini. Bahkan ada yang bilang jika dahulu bung Karno berkata, “Berikan aku 10 pemuda, maka akan kurubah dunia”, kini orangtua berkata, “Berikan aku satu remaja jaman now, maka sakit kepala aku dibuatnya”.

Lalu bagaimana mensikapi generasi Z ini?

Ketahuilah bahwa tiada anak atau generasi yang dilahirkan tanpa maksud apalagi sia sia. Setiap manusia dilahirkan membawa fitrahnya, dimana sebagian besar ulama seperti Ibnu Khaldun, Ibnu Qoyyiem, Ibnu Taimiyah, dll menyepakati bahwa fitrah itu hanya kebaikan (positif) adanya atau dikatakan “innately pre disposed to know God and to be good”.

Secara lebih spesifik seorang ulama kontemporer menyebut bahwa fitrah adalah kondisi, konstitusi, karakter yang dipersiapkan untuk menerima atau mengemban Kitabullah.

Jadi sejatinya fitrah seseorang manusia diciptakan sebagiannya adalah diturunkan genetis dari orangtuanya agar mampu melanjutkan peran orangtuanya di dunia, sebagiannyalagi diciptakan agar mampu hidup di daerah atau di tempat dimana ia ditakdirkan lahir misalnya bumi Indonesia, sebagiannya lagi diciptakan agar mampu hidup pada suatu zaman di saat ia dihadirkan ada misalnya abad 21, dan sebagiannya lagi diciptakan agar mampu mengemban Kitabullah yang memandu keseluruhan fitrahnya itu.

Jadi keunkan generasi ini dan segala attributenya tentu sudah kehendak Allah, tinggal bagaimana kita mendidiknya agar mampu tangguh ditempa zamannya dan buminya sehingga mampu berkontribusi menebar manfaat pada peradaban bangsanya dan pada zamannya, bukan sekedar survive atau bertahan hidup diterpa krisis zaman.

Maka

1. Pahami dengan mendalam dan sungguh sungguh karakteristik GenZ, dan pahami pula gaya para orangtua Millennilas yang harus mendidik Gen Z.

2. Didiklah anak sesuai dengan zamannya. Ingat bahwa semua hal akan berubah, maka didiklah generasi masa depan untuk menghadapi zaman yang bukan zamanmu. Satu satunya hal yang tak akan berubah sampai kapanpun adalah Aqidah. Jangan biarkan anak kita hidup beragama namun tanpa aqidah.

– Biarkan ananda mengembangkan sayapnya. Berikan mereka izin untuk mengambil resiko.
– Izinkan mereka untuk belajar dalam lingkungan yang relevan dengan bakat dan minatnya. Namun aturlah penggunaan teknologi.
– Beri kesempatan mereka untuk membuat keputusan yang produktif bahkan apabila keputusan juga salah dan dorong mereka untuk memperbaikinya
– Ajarkan mereka nilai dari komunikasi manusia.
– Dorong keberanian mereka untuk berinteraksi dengan aktifitas dunia nyata
– Fokus pada aktifitas keluarga jangka pendek namun sering
– Integrasikan “screen time” secara produktif dan membangun kebersamaan pada acara bersama untuk menyalurkan kekhasan generasi mereka

Rancang kegiatan bermakna atau proyek produktif seru bersama anak sesuai fitrah dirinya, fitrah alamnya, fitrah kehidupan dan zamannya serta pandulah dengan Kitabullah.

3. Bangunlah misi keluarga yang kokoh agar tak digilas zaman. Bangunlah komunitas keluarga keluarga yang punya misi yang searah sehingga bisa bahu membahu saling mendidik dan menegakkan peradaban terbaik masa depan.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife

Gagal Faham Memahami Fitrah

Igo Chaniago

Kemarin saya membuka treath diskusi di grup HEbAT, karena ada sebuah lembaga parenting islami yang HTMnya jutaan rupiah, yang tidak perlu saya sebut namanya mengatakan di salah satu promosinya :

*Akhir akhir ini sering ada seminar tentang mengembalikan fitrah yang memisahkan agama dan dipengaruhi pola pikir kapitalis* 

Saya heran, bagaimana cara berpikirnya sehingga metode parenting yang digaungkan komunitas kami ini dikatakan telah memisahkan agama dan dipengaruhi pola pikir kapitalis. Karena itu hal ini saya diskusikan dengan para gurunda di komunitas kami, Ustadz Adriano, Ustadz Harry dan Bu Septi. Isi diskusinya sangat mencerahkan dan patut untuk disimak oleh ayah bunda agar tidak gagal faham tentang mendidik anak sesuai fitrah.

Ustadz Adriano mengatakan : Seandainya ijtihad pendidikan kita sepenuhnya berasal dari Al-Qur’an dan As-sunnah, tetap kita nggak boleh melakukan klaim-klaim kebenaran. Karena kebenaran hakiki yang sudah mendapatkan sentuhan manusia, sifatnya jadi relatif. Kebenaran Al-Qur’an itu absolut, tapi tafsir Al-Qur’an itu kebenarannya relatif. Sayapun sudah berkali-kali mengoreksi pemahaman sendiri, padahal rasa-rasanya udah Islami banget
Hal ini juga dibenarkan ustadz harry dengan menyarankan agar kita berjamaah dan berkolaborasi terus menerus agar kebenaran itu bisa disaling nasehati, karena “no one of us is as smart as all of us , no all of us as smart as Allah”

Salah satu ustadz di grup tersebut mengatakan, bahwa *”Ilmu psikologi dan sosiologi itu bukan dari islam dan peraban islam, tapi dari tsaqofah asing yang bukan dari tsaqofah islam”*

Ustadz Adriano menyanggah hal ini, karena ini sudah dibahas sejak dulu. Tahun 1985 bahkan pernah dirancang materi khusus berjudul “Ilmullah”, untuk menjawab tentang keabsahan ilmu-ilmu manusia seperti psikologi,  antropologi, filsafat dsb. 

Intinya : SEMUA ILMU BERSUMBER DARI ALLAH. Ada yang Allah turunkan lewat wahyu (jalur resmi) melalui para nabi, ada yang Allah turunkan lewat ilham (jalur tak resmi) kepada seluruh manusia. 

Ilmu yang Allah turunkan lewat wahyu, memiliki kebenaran absolut. Sedangkan ilmu yang Allah turunkan lewat ilham memiliki kebenaran relatif, karena telah dipengaruhi oleh kelemahan manusia. 

Ilmu-ilmu Allah yang turun lewat jalur ilham ini disebut hikmah. Kita boleh mengambilnya dari manapun. “Hikmah itu milik Mu’min yang tercecer. Di manapun ia temukan, ia berhak mengambilnya”

Yang penting, kita harus kritis dalam menghimpun ilmu semacam ini. Yang baik ambil, yang buruk buang. Tolok ukurnya adalah wahyu dan hati. 

Ilmu-ilmu sosial-humaniora ini unik : semakin besar manfaatnya, resiko mudharatnya juga besar.

DR Yusuf Al-Qaradhawi mengatakan :

“Ada tiga ilmu yang sangat penting bagi dakwah : filsafat,  psikologi dan antropologi. Tapi resiko negatifnya juga tinggi”

DR Sa’id Hawwa juga meminta kita untuk mendalami ketiga ilmu ini, tapi dengan iman yang kuat, dan mempelajarinya dari pakar-pakar mu’min pula.

Saya pernah beberapa kali membaca konsep parenting islami. Tapi kok justru banyak yang nggak Islami ya. Makanya saya cenderung menganggapnya sebagai branding dan perang dagang saja.

Saya dari dulu justru menghindari label-label “Islam” dari produk-produk ijtihad manusia, walaupun diturunkan sepenuhnya dari ajaran Islam. 

Saya khawatir pelabelan “Islam” terhadap ijtihad manusia ini justru disebabkan karena kita sedang jauh dari Islam. 

Mari kita sadari bahwa di Padang nggak ada Rumah Makan Padang… Di Madura nggak ada Sate Madura… Di Tegal nggak ada Warung Tegal… Namun, saat kita jauh dari Padang, Madura dan Tegal, kita mulai butuh label

Makanya waktu Khilafah Islamiyah masih tegak, nggak ada sekolah Islam,  Rumah Sakit Islam dsb. Ibnu Khaldun saat menyusun Teori Sosiologi, nggak menyebutnya sebagai Sosiologi Islam

Bu Septi menambahkan hal ini dengan mengatakan : Pemahaman ini yg dari dulu saya pegang, bahwa saya tidak perlu menambah embel-embel nama islam di komunitas, sekolah dll karena Islam sdh menyatu dg diri kita, Tinggal mewujudkan sikap islaminya. Sehingga antara islam dan islami tidak akan pisah ranjang. Tapi tidak semua orang paham akan konsep ini. Misal contoh perilaku yg islami kita ambil yg paling dasar saja , kamar mandi bersih, maka tunjukkan dulu. Jangan namanya sudah mengandung unsur  Islam, kamar mandinya kotor banget. 

Allah telah memberikan kita sebuah nikmat, dimana nikmat itu tidak diberikan kepada selain Umat Islam yakni nikmat Iman dan nikmat Islam.” Tentu hal tersebut benar adanya. Namun pertanyaan nya adalah, apakah kita memang telah merasakan kenikmatan beriman dan berislam tersebut? Bukankah sesuatu yang bernama nikmat itu tentu dapat dirasakan kenikmatannya? Tidak hanya sekedar tertulis dan terbaca.
direnungkan satu hal lagi dengan pertanyaan yang mendasar yaitu :

” Bagaimana tolak ukur seseorang itu bisa dikatakan merasakan nikmatnya beriman dan berislam?”

Sehingga manisnya Iman dan Islam dapat dirasakan, yang kemudian berpengaruh pada amal orang tersebut di dunia.

#Fitrah Based Education
#HEbAT Community
#Fatherhood Forum

Makna & Kesadaran

Adriano Rusfi
14 Sep 2018

Sekarang saya adalah penggiat gerakan Pendidikan Aqil-Baligh, agar lahir kembali pemuda yang sepenuhnya dewasa, produktif dan kontributif. Bukan generasi remaja : generasi jadi-jadian pasca abad 19 yang konsumtif dan destruktif itu.Tapi, apakah saya dulu juga terbentuk menjadi seorang pemuda mukallaf yang tak perlu lagi melewati masa remaja, pemuda yang berkeinsafan hidup tinggi, pemuda yang mendiri dan bertanggung jawab di usia belia, bahkan siap menikah dan memikul tanggung jawab keluarga di usia yang cukup dini untuk ukuran jamannya ???

Alhamdulillah… sedikit-banyaknya YA !!! Memang betul tidak persis seperti tuntutan ajaran Islam, yaitu paling lambat di usia 15 tahun. Saya baru bisa mencari nafkah sendiri di usia 21 tahun… Saya baru berani untuk meminang perempuan di usia 21 tahun… Saya baru menikah di usia 23 tahun… Dan baru mengontrak rumah sendiri di usia 24 tahun…Tapi, saya telah memikirkan nasib ayahbunda dan adik-adik di usia SD… Saya tertarik dengan persoalan kebangsaan dan politik di kala SMP… Dan saya mulai melalap buku filsafat di akhir SMP. Saat SMA, saya belajar berjuang untuk Islam…

Berarti orangtua saya secara sadar telah mendidik saya untuk menjadi pemuda aqil-baligh/mukallaf ?

Ternyata tidak !!! Begini ceritanya :

Saya adalah anak tertua enam bersaudara dari sebuah keluarga miskin, namun beruntung. Karena sejak kecil saya diasuh sebagai anak oleh kakak ibu yang kaya. Ya, sejak 7 tahun saya diboyong oleh Maktuo atau Budhe nan kaya ke Jakarta. Maka saya memanggilnya “Mama”. Beliau relatif tak mendidik saya, karena sibuk bekerja pagi-sore sebagai karyawati Ditjen Pajak, Kementerian Keuangan. Apakah Beliau menempa saya dengan keras untuk menjadi lelaki tangguh ? Sama sekali tidak !!! Bahkan saya sangat dimanja : kebutuhan dicukupi, dan sekadar mencuci celana dalam sendiripun tak boleh. Menjelang usia 21 saya masih dikenal sebagai “mahasiswa dengan uang jajan besar”

Tapi “Mama” mengajarkan saya makna dan kesadaran. Tak bosan ia berkata : “Ayah,ibu dan adik-adikmu miskin. Kelak bantulah mereka”. Saya diberikannya uang jajan besar, tapi saya dimintanya untuk menyisihkan sebagian untuk dikirimkan pulang tiap bulan lewat wesel. Saya wajib berkirim surat menanyakan kabar ibunda tiap bulan. Mungkin itu yang membuat saya pandai menulis. Sering saya menangis membaca surat balasan ibunda. Suatu ketika “Mama” bercerita : “Mungkin saat ini ayah, ibu dan adik-adikmu hanya makan nasi dengan kecap”. Dan saat itu saya pun minta pada “Mama” untuk makan dengan kecap. Saat kelas 4 SD saya sering minta makan pakai kecap.

Sungguh, saya akhirnya tumbuh menjadi seorang perenung. Bahkan terkadang terlalu kontemplatif. Saat SMA saya aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII). Dan lagi-lagi saya diajari tentang makna dan kesadaran : tentang nasib ummat, tentang siswi yang dimusuhi gara-gara ingin menutup aurat. Saya sering marah dan menangis, membuat petisi kepada Kepala Sekolah, dan demo didepan Kakanwil Pendidikan DKI-Jakarta. Ketika kuliah, saya ikut tarbiyah. Dan lagi-lagi bicara tentang makna dan kesadaran : tentang keluarga sebagai tonggak peradaban Islam. Tiba-tiba saya ingin segera menikah, padahal belum bisa mencari nafkah.

Tentunya saya tak ingin mengatakan bahwa penempaan “bak budak dan tawanan” tak diperlukan agar seorang manusia mampu menjadi mukallaf selambat-lambatnya di usia 15 tahun. Bahkan sangat perlu dan wajib. Yang ingin saya bicarakan adalah hal yang lebih penting, yaitu pembentukan MAKNA DAN KESADARAN. Yang sedang kita hadapi, didik dan bentuk adalah manusia : makhluk yang punya hati, niat dan kesadaran. Bukan pembiasaan yang paling mereka butuhkan, tapi makna dan kesadaran yang sudah dapat ditumbuhkan saat usia 7 tahun.

“Setiap amal bermula dari kesadaran” (Al-Hadits)

Sekolah yang Mendidik

Mohammad Fauzil Adhim
23 Aug 2018

Mengajarkan kepada anak untuk berpikir, bersikap, dan berperilaku baik tidak cukup untuk melahirkan anak-anak yang baik. Apalagi sekadar membiasakan anak dengan kebaikan, tidak cukup untuk menjadikan sebuah sekolah dianggap sebagai sekolah yang baik. Ada hal lain yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan di sekolah. Ada budaya sekolah, iklim kelas yang mendukung anak untuk senantiasa berpikir, bersikap dan berperilaku baik, guru-guru yang memiliki perhatian total serta kecintaan terhadap tugas mendidik, dan orangtua yang memiliki kepercayaan tinggi (trust) terhadap sekolah. Ini menuntut sekolah untuk mampu menjadi lembaga yang memiliki tingkat kelayakan untuk dipercaya (trustworthiness) yang sangat kuat. Tanpa itu, tidak bisa membangun kepercayaan dari orangtua meskipun sekolah sudah berkali-kali menyelenggarakan acara untuk meningkatkan reputasi sekolah di mata orangtua.

Sangat berbeda antara meningkatkan derajat kelayakan lembaga untuk dipercaya (trustworthiness) dengan meminta orangtua untuk percaya penuh. Yang pertama menuntut sekolah agar terus berbenah dan berusaha dengan sungguh-sungguh menjaga amanah yang diberikan oleh orangtua terhadap sekolah, yakni berusaha memberikan pendidikan terbaik, mengarahkan anak didik agar senantiasa lurus dalam berpikir dan benar dalam berkeyakinan, serta membuka diri untuk menerima masukan dari orangtua. Sekolah merasa senang terhadap niat baik orangtua meskipun boleh jadi apa yang disampaikan orangtua tidak tepat. Sekolah merasa senang karena melihat iktikad baik orangtua, sehingga sekolah tidak sibuk membela diri.

Sesungguhnya lembaga yang memiliki integritas sangat tinggi lebih mencintai kebaikan –termasuk di dalamnya niat baik orangtua— sekaligus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkannya di sekolah. Ia lebih suka untuk menambah kesempatan berbenah. Sebaliknya, sekolah yang kehilangan visi akan sibuk membangun reputasi. Caranya dengan menciptakan prestasi, pengakuan dan rekam jejak yang positif. Di luar itu, ada sekolah-sekolah yang buruk meskipun dari luar tampak sangat baik. Sekolah jenis ini bukan membangun reputasi, tetapi melakukan pencitraan melalui prestasi yang tampaknya memukau. Padahal, prestasi tersebut bukan merupakan hasil jerih payah sekolah, atau prestasi tersebut tidak menggambarkan kualitas inti sekolah, yakni pendidikan. Bukan tidak boleh berprestasi dalam bidang olahraga dan seni. Tetapi, tanpa prestasi dalam bidang yang menjadi tugas pokok sekolah, berbagai gelar tersebut tak ada nilainya.

Pertanyaannya, apa yang bisa mengantarkan sekolah menjadi lembaga pendidikan yang baik dan memiliki integritas tinggi? Pertama, kualitas kepemimpinan kepala sekolah dan wakil-wakilnya (prinsipalship) beserta lembaga yang mengelola. Kedua, totalitas mendidik dari para pengajar. Ini tampak dari tinggi rendahnya passion (kegairahan mengajar) dari para guru yang meliputi kecintaannya terhadap profesi sebagai guru, kecintaan yang sangat besar terhadap anak didik, obsesi yang sangat tinggi untuk mendidik para siswanya menjadi manusia ideal dan terikat secara emosi dengan cita-cita tersebut, memiliki kesediaan meluangkan waktu untuk memperhatikan para siswanya dan sekaligus memiliki kemauan belajar dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan kemampuan maupun kualitasnya sebagai guru. Sesungguhnya, unsur yang ada pada passion antara lain mencakup obsesi, antusiasme, dan ikatan emosi yang kuat sehingga bersemangat (zeal) dengan apa yang digeluti. Jika tiga hal tersebut tidak ada, hampir pasti guru tidak memiliki kegairahan (passion) sebagai pendidik.

Tetapi, tanpa kesediaan untuk belajar, guru akan jumud atau bahkan frustasi meskipun ia memiliki obsesi, antusiasme dan semangat yang menyala-nyala (zeal) disebabkan adanya ikatan emosi yang kuat.

Masalahnya adalah, guru-guru semacam itu sulit sekali kita peroleh melalui proses rekrutmen terbuka. Yang paling memungkinkan adalah melalui proses pencarian dan pendekatan kepada orang-orang yang memenuhi kriteria agar mereka bersedia menjadi guru. Masing-masing cara membawa konsekuensi bagi sekolah.

Nah.

Kemitraan Sekolah dan Orangtua

Sekolah yang baik tidak bisa dibeli karena ia berdiri untuk sebuah prinsip. Ia memperjuangkan idealisme. Ia sedang ingin mewujudkan sebuah cita-cita mulia. Cukuplah kita merasa khawatir jika sekolah lebih banyak menonjolkan kegiatan-kegiatan populis untuk mengambil hati orangtua daripada melakukan upaya berkesinambungan agar orangtua turut memperjuangkan idealisme tersebut, sekurangnya bersikap hormat terhadap idealisme sekolah serta prinsip-prinsip yang ditegakkan oleh lembaga. Sekolah yang mudah ikut arus, menuruti kemauan “pasar” dan larut dalam trend, hampir pasti merupakan lembaga yang misi ideologisnya lemah dan visinya tidak jelas.

Ini bukan berarti sekolah mengabaikan peran orangtua. Tanpa ada komitmen orangtua untuk berubah, maka pengajaran, pembiasaan, dan pendidikan yang dilakukan oleh sekolah bisa mentah. Sekolah yang baik tetap bertumpu pada proses yang terencana di sekolah. Sekolah tidak bisa mengandalkan orangtua karena meskipun sama-sama memiliki komitmen yang sangat tinggi, wujud komitmen itu berbeda-beda sesuai dengan tingkat pemahaman dan kemampuan orangtua.

Di samping itu sekolah juga harus menyadari bahwa tidak mungkin menyamakan cara orangtua mengasuh anak secara total. Ada banyak hal yang menyebabkan para orangtua –termasuk guru—secara alamiah berbeda satu sama lain, bahkan di antara orang-orang yang memiliki cara pandang sama. Tak ada keraguan sedikit pun bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib, dan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhum ajma’in merupakan sahabat utama yang penuh kemuliaan dan khalifah yang mendapat petunjuk (khulafaur rasyidin), tetapi mereka masing-masing memiliki kepribadian yang unik dan temperamen yang berbeda.

Itu sahabat utama radhiyallahu ‘anhum!! Mereka jauh lebih utama dibanding kita yang hidup sekarang ini. Maka, bagaimana mungkin kita secara total menyamakan cara orangtua murid mengasuh anak dengan cara guru mendidik (atau mengajar?) di sekolah. Jenjang pendidikan berbeda-beda, kemampuan memahami bertingkat-tingkat, dan latar belakang sekolah sangat beragam. Padahal, ‘sudah paham’ sangat berbeda dengan ‘mampu menerapkan’ dengan baik. Selain itu, mereka menjadi orangtua bukan karena menempuh pendidikan khusus tentang bagaimana menjadi orangtua, tetapi karena mereka sudah punya anak.

Orangtua tidak memiliki persiapan khusus dalam mendidik anak, kecuali orang-orang tertentu saja. Gurulah yang memang sedari awal –seharusnya—mempersiapkan diri bagaimana mendidik para siswa, termasuk menghadapi mereka yang bermasalah perilakunya. Apalagi jika kita perhatikan bahwa waktu efektif anak di sekolah jauh lebih banyak dibanding di rumah, maka seharusnya sekolah menjadi koreksi atas apa yang terjadi di rumah.

Lalu apa harus sama antara sekolah dan rumah? Nilai-nilai dasar yang harus ditegakkan. Adalah tugas sekolah untuk secara berkesinambungan melaksanakan pendidikan bagi orangtua agar bersama-sama anak menghormati, memuliakan, dan merasa bangga dengan nilai-nilai itu sehingga amat besar keinginan dari setiap pihak untuk mewujudkan nilai tersebut di mana pun mereka berada. Sekadar paham tak akan membuat mereka bangga.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Overview Framework Mendidik Fitrah Keimanan

Harry Santosa
June 20, 2018

Didiklah keimanan anak usia dini dimulai dengan imaji imaji positif tentang Allah, Rasulullah, Islam dan segala kebaikan sehingga bangkitlah kecintaan yg mendalam kepadaNya dan kesan baik pada semesta ciptaanNya. Saat sudah tumbuh aqalnya di usia dasar, maka binalah kecintaan itu dgn aktifitas seru yang berkesan & menginspirasi nalar agar menjadi kesadaran penuh utk taat dengan ikhlash kepadaNya.

Kemudian saat menjelang aqilbaligh antara 11-15, kokohkanlah kesadarannya pada ketaatan itu tadi dengan beban beban dan ujian keimanan dalam kehidupan agar menjadi ketangguhan dalam peran menyeru kebenaran.

Jika kecintaan, kesadaran dan ketangguhan sudah terbangun maka biarlah anak kita yang sudah menjadi pemuda itu untuk meneruskan sisanya untuk menjalani takdir peran peradabannya menyeru kebenaran untuk rmembuat perubahan peradaban yang Allah ridhai pada zamannya.

#pendidikanberbasisfitrah

Foto Keluarga

Harry Santosa
June 16, 2018

Di hari iedul fitri 1439H, kita lihat betapa bahagia dan indahnya foto foto keluarga beserta ucapan selamat hari raya bersliweran di berbagai sosial media, semoga senyum bahagia di foto itu benar benar mewakili kebahagiaan sesungguhnya keluarga keluarga yang kembali fitri dengan misi keluarga yang ajeg.

Semoga senyuman bahagia itu tidak seperti senyuman pada foto foto keluarga saat wisuda salah seorang anak anaknya, yang umumnya hanya senyuman untuk menutupi kebingungan dan kegalauan, mau dibawa kemana ijasah sarjana anaknya itu setelah acara wisuda.

Itu karena anaknya kuliah sekedar memenuhi prestise atau mencapai target obsesi keluarga atau menjalani kuliah tanpa kejelasan misi hidupnya. Riset sebuah lembaga di tahun 2014, menunjukkan 87% mahasiswa di Indonesia salah jurusan. Sungguh Ilusi perkuliahan yang dijalani anak anak kita.

Data BPS 2016, menunjukkan bahwa ada sebanyak 300 ribu lebih perceraian dalam setahun, itu berarti sekitar 970an kasus perceraian perhari atau sekitar 36 kasus perceraian per jam. Sejak subuh tadi sampai kita membaca artikel ini, sudah ada sekian jam dikali 36 keluarga yang bercerai. Kita tentu tak sedang berharap ini terjadi ketika membahas ini, namun inilah realitanya.

Penyebab Perceraian

Seorang pakar mengatakan bahwa ada 2 penyebab utama perceraian, yang pertama adalah tiadanya misi keluarga dan yang kedua adalah tidak adanya proses mendidik di dalam rumah tangga.

Misi Keluarga

Keluarga tanpa Misi Keluarga, ibarat kapal terbang tanpa destini dan rute penerbangan, melayang layang di awan tak jelas arahnya hingga bahan bakar habis, rentan dihempas badai sekecil apapun.

Tiadanya misi keluarga umumnya adalah dosa para ayah yang gagal berperan sebagai ayah sejati, sang pemimpin jalan, “A Man of Mission dan Vision”, yang tugas utamanya adalah find the mission, show the mission dan lead the mission.

Umumnya para ayah tak punya misi personal karena tak dibimbing untuk menumbuhkan fitrahnya sejak masa anak, lalu para ayah tanpa misi personal ini akan gagal menemukan misi keluarganya.

Misi keluarga adalah jawaban jawaban atas pertanyaan untuk apa pernikahan kita atau keluarga kita ada di muka bumi, apa misi personal ayah dan misi personal ibu yang dapat disinergikan, aktifitas apa yang sangat bergairah dilakukan dan semakin menguatkan cinta, kegiatan apa yang menggebu gebu ingin dilakukan untuk membuat dunia lebih baik, peran peradaban apa yang ingin disandang oleh keluarga kita, siapa yang paling ingin kita tolong di muka bumi dengan peran dan aktifitas keluarga kita, jika orang berkunjung ke rumah kita maka ingin disebut apa rumah kita dstmya.

Proses Mendidik

Tentang tidak adanya proses mendidik di rumah, nampaknya kita telah paham bahwa banyak orangtua yang lebih pandai menitipkan anak anaknya atau mencari sekolah favorit anaknya begitu saja daripada mendidiknya sendiri. Anak boleh sekolah atau tidak sekolah, namun kewajiban mendidik anak tak pernah bisa didelegasikan.

Apalagi banyak orangtua yang berpandangan bahwa kalau anak sudah disekolahkan di sekolah Islam penuh hari, mahal dengan fasilitas mewah dan prestasi akademis selangit lalu kita menganggap selesailah pendidikan anak anak kita, padahal riset dan realita banyak membuktikan bahwa tersekolahkan dengan baik belum tentu terdidik dengan baik.

Lalu apa efeknya ke pernikahan? Keluarga keluarga yang tak menajamkan fitrah mendidiknya akan kehilangan kehangatan cintanya dan kehilangan kesempatan untuk menumbuhkan kekuatan cahayanya dalam rumah tangganya. Anak anak itu karunia dan amanah, makin kita urun rasa, urun hati, urun tangan, urun fikiran, urun kaki dalam mendidiknya, maka makin hebatlah fitrah keayahbundaan kita, lalu makin berbahagialah dan bercahayalah rumah kita.

Keluarga yang punya misi keluarga maka proses mendidik di keluarganya akan semakin mudah. Banyak kisah tentang bagaimana anak anak yang menyimpang akan mudah diluruskan apabila diingatkan tentang misi keluarganya dan dilibatkan menjalaninya.

Uswatun Hasanah

Sepanjang sejarah kita temukan bahwa para Ayah Ayah luarbiasa baik di dalam rumah maupun di dalam jamaahnya adalah para ayah yang punya misi personal yang ajeg dan kokoh. Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahiem AS, Nabi Muhammad SAW dengan misi visi keluarganya dan adab pada keluarganya yang luarbiasa, maka beliau berdua secara khusus disebut alQuran sebagai uswatun hasanah.

Semoga kita mampu meneladani keluarga keluarga terbaik sepanjang sejarah, yang punya misi keluarga yang kokoh, memperjuangkannya bersama dengan penuh cinta dan bahagia lalu menurunkannya menjadi pendidikan bagi anak anaknya. Lalu kelak kita saksikan senyuman bahagia pada foto keluarga kita adalah senyuman karena kebahagiaan sejati kembali ke fitri.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

#FBE

Korupsi Pangkal Kaya Menyontek Pangkal Pandai

Seto Mulyadi, Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI)
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma

Media Indonesia, 2 Mei 2018

DI seluruh Indonesia para siswa sejak pekan lalu tengah mengikuti ujian nasional. Di hadapan anak-anak pengungsi gempa Banjarnegara, Presiden Jokowi berpetuah agar anak-anak rajin belajar. Di Jakarta politikus papan atas divonis bersalah dan dihukum penjara 15 tahun karena terbukti melakukan korupsi. Saya tergelitik untuk mencoba merangkai tiga peristiwa tersebut.

Para pendidik hingga kini masih terus mengernyitkan kening karena belum berhasil menemukan metode andal untuk menghentikan kebiasaan menyontek pada anak-anak didik. Bahkan, tak sedikit pula yang angkat tangan dan berusaha meredakan kegalauan mereka dengan menganggap perilaku menyontek ialah kelaziman yang seolah tidak berdampak serius.

Tentu tidak bisa dipandang sebelah mata saat anak didik tertangkap basah mengandalkan hasil sontekan untuk merampungkan tugas dari guru, apalagi bila aksi tersebut dilakukan berulang kali hingga anak didik tidak lagi yakin bahwa dia mampu menyelesaikan tugas dengan kemampuan sendiri.

Faktanya, fenomena menyontek memiliki konsekuensi lebih serius daripada anggapan awam. Kerumitan yang terungkap dari temuan-temuan Barat tentang ‘kejahatan akademis’ ini hingga beberapa segi juga mirip dengan situasi dunia pendidikan di Indonesia.

Lawson, misalnya, beberapa tahun lalu mengindikasikan bahwa siswa yang melakukan tindakan kebohongan akademik cenderung akan berbohong pula di tempat kerja. Riset lain, di antara 4.000-an pelajar yang disurvei Rutger’s Management Education Center, 75% di antara responden mengaku menyontek dengan level yang sudah tergolong sangat serius. Semakin menyedihkan, 50% di antara mereka bahkan menilai menyontek bukan perilaku yang salah sehingga tidak perlu dihentikan.

Penelitian lain, saat ditanya ihwal alasan menyontek, 80% di antara keseluruhan siswa yang disigi Newberger menyatakan tindakan terlarang itu tetap mereka lakukan agar berhasil masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, khususnya perguruan tinggi. Para penyontek, seperti halnya siswa yang tidak menyontek, yakin bahwa perguruan tinggi ialah prasyarat mutlak demi pencapaian keberhasilan kelak setelah dewasa.

Jadi, tuntutan untuk menjadi orang yang sukses justru mendorong anak didik untuk menyalin karya akademis orang lain, lalu mengakuinya sebagai produk belajar mereka. Ini alasan pertama. Alasan kedua, plagiarisme merupakan efek negatif beratnya beban akademis yang ditimpakan ke pundak anak didik. Beban pelajaran terlalu berat, sementara waktu terbatas.

Suasana hati ceria yang diperlukan saat belajar ialah sesuatu yang mutlak bagi anak didik tingkat dasar, terpinggirkan. Akibatnya, bersekolah bukan lagi merupakan kegiatan yang menyenangkan, melainkan lebih merupakan aktivitas yang tolok ukur keberhasilannya ditentukan semata-mata pada pencapaian hasil akhir belaka. Demi mengejar target akhir inilah, menyontek menjadi semacam ‘jalan keluar’ guna mengatasi kelelahan dan kejenuhan sekaligus pola untuk menyenangkan hati para ayah bunda maupun guru.

Gambaran dinamika di atas menghadirkan keinsafan baru. Bertolak belakang dengan anggapan umum, menyontek sangat mungkin bukan indikator rendahnya kecerdasan anak didik. Karena modus menyontek makin lama semakin rumit, patut diduga para pelakunya justru individu-individu yang berdaya pikir jauh ke depan, inovatif, bahkan mungkin memiliki tingkat kecerdasan jauh di atas rata-rata.

Menyontek merupakan indikasi betapa anak-anak yang sejatinya pintar justru merasa tidak berkembang karena tidak memiliki ruang untuk berselancar di samudra ilmu dan melakukan penjelajahan intelektual sesuai dengan minat mereka.

Alasan ketiga, menyontek ialah hasil duplikasi anak terhadap tindak-tanduk orang-orang dewasa. Anak didik menjadikan individu-individu dewasa sebagai acuan moral dan barometer perilaku mereka. Orang-orang dewasa memang tidak menjiplak seperti yang berlangsung di ruang-ruang kelas. Namun, aksi mencuri milik orang lain, lalu diikuti dengan klaim atas benda curian tersebut sebagai milik pribadi, esensinya sama saja dengan perilaku menyontek.

Nah, pada titik inilah dapat dipahami bahwa para pembobol uang negara yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ternyata dapat berperan sebagai model bagi anak-anak didik untuk menampilkan tindakan koruptif di kelas mereka. Tindak-tanduk orang dewasa–khususnya korupsi–seolah memberikan inspirasi bagi anak didik untuk melakukan tindakan ‘scholastic psychopathy’, sekaligus mengukuhkan pandangan mereka bahwa tindakan semacam itu ialah sah-sah belaka.

Dalam ungkapan Williams (2002), anak didik perlahan tapi pasti menjadi yakin akan keampuhan perilaku antisosial untuk menggapai prestasi dan memperoleh apresiasi. Kebiasaan menyontek sejak belia memperbesar kecenderungan anak didik untuk nantinya berkembang menjadi semacam individu berkeperibadian psikopat.

Heller dan Hare, lewat studi mereka pada dasawarsa lalu, menegaskan hal itu. Mereka menyimpulkan, orang-orang dewasa yang berkepribadian psikopat diketahui memiliki masalah tingkah laku sejak usia sebelum tiga belas tahun.

Masalah tingkah laku mereka beragam, mulai vandalisme, berbohong, mencuri, melakukan perundungan, kontak seksual prematur, mengendus lem, membuat kebakaran, menenggak minuman keras, kabur dari rumah, dan ini dia menyontek.
Orang dewasa berpesta pora melakukan rasywah di tempat kerja. Anak menyontek tanpa rasa bersalah, bahkan berkomplot, di sekolah. Mau dibawa ke mana kapal besar bernama Indonesia ini akan dilayarkan?

“Pendidikan Kritis Nirkekerasan”

Oleh : Nanang Martono,
Dosen sosiologi pendidikan FISIP Unsoed Purwokerto
Doktor Sosiologi Pendidikan Universite de Lyon, Prancis

Media Indonesia, 2 Mei 2018

INDONESIA telah menikmati kemerdekaan selama 73 tahun. Meski demikian, praktik pendidikan di Tanah Air belum berhasil memerdekakan peserta didik dari berbagai belenggu kekuasaan dan kepentingan. Pendidikan belum sepenuhnya bebas dari kepentingan segelintir kelompok yang menjadikan sekolah sebagai tempat mewujudkan tujuannya demi kepentingan pribadinya.

Hasil pendidikan semacam ini ialah siswa menjadi tidak leluasa meluapkan ekspresi, kreativitas, serta hasil olah pikir di bangku sekolah. Masih ada pengotak-ngotakan ‘mana pengetahuan yang penting dan mana pengetahuan yang tidak penting’ bagi masa depan siswa. Sekolah dipandang sebagai sumber pengetahuan tunggal. Siswa menjadi objek kepentingan penguasa, yaitu negara, masyarakat, dan kapitalis. Kepentingan mereka saling beradu di sekolah.

Sekolah juga gagal menjadikan diri sebagai sebuah tempat yang nyaman bagi siswa. Seharusnya siswa lebih betah berada di sekolah daripada di tempat lain. Namun, realitasnya masih jauh panggang dari api.

Kekerasan simbolis

Adalah Pierre Bourdieu (1930-2002) yang mencoba mewacanakan kekerasan simbolis dalam dunia pendidikan di sekolah. Menurutnya, sekolah pada dasarnya hanyalah sebuah ruang yang digunakan untuk menyosialisasikan kepentingan kelompok tertentu. Ini dilakukan dengan menggunakan banyak simbol yang diciptakan agar ‘proses penyebaran nilai’ dapat berlangsung secara ‘alamiah’ tanpa perlawanan.

Melalui berbagai simbol, siswa dipaksa menerima budaya yang dianut kelompok tertentu. Siswa dipaksa memiliki pemahaman yang sama bahwa ‘sekolah adalah belajar’, bukan ‘bermain’. Mereka harus mempelajari semua pengetahuan, tidak peduli apakah pengetahuan tersebut bermanfaat bagi masa depan atau tidak.

Di sekolah siswa juga dipaksa menerima pengetahuan bahwa ‘siswa harus menghormati guru’. Sejatinya, bukan ideologi ‘siswa harus menghormati guru’ yang ditanamkan dalam diri siswa, melainkan ‘guru dan siswa harus saling menghormati, saling menghargai, saling memahami. Posisi mereka setara.

Pandangan semacam itu ialah bagian kekerasan simbolis yang dapat menjadi akar terjadinya kekerasan fisik. Ini disebabkan pandangan ini hampir selalu memosisikan siswa sebagai objek, guru selalu benar dan siswa selalu salah. Jika terjadi pelanggaran, siswa ialah aktor yang salah, bukan guru, meskipun guru menyumbang terjadinya kenakalan siswa. Akan tetapi, guru akan selalu merasa menjadi aktor berkuasa di sekolah.

Dalam posisi tersebut, siswa akan merasa tidak nyaman di sekolah sehingga sekolah bukanlah menjadi tempat yang nyaman untuk belajar. Sekolah ialah lingkungan yang penuh pemaksaan. Siswa dipaksa sekolah demi mendapat ijazah. Ijazah ialah instrumen efektif untuk memaksa siswa tetap berada lebih lama di sekolah.

Taman bermain

Sekolah sejatinya taman bermain, tempat siswa menemukan jati diri. Siswa harus belajar mengenal dirinya dan menjawab pertanyaan ‘siapa sebenarnya diriku’. Dalam proses pencarian jati diri inilah guru memiliki peran strategis sebagai pengarah atau sebagai teman dialog siswa.

Jika guru masih memegang teguh pandangan ‘guru harus dihormati’, guru semakin leluasa memaksakan kebenaran versinya. Kebenaran tersebut ada kalanya bertentangan dengan konsep kebenaran yang dimaknai siswa. Kekerasan fisik kemudian dilegalkan atas nama ‘pendisiplinan’ siswa. Kekerasan fisik sejatinya produk kekerasan simbolis yang seolah memaksakan sebuah paham bahwa ‘guru selalu benar’.

Inilah problem pendidikan di zaman now yang sering tidak dipahami guru di sekolah. Sudah saatnya guru harus memahami konsep pendidikan kritis agar mereka tidak terbelenggu pola pikir pendidikan zaman old yang konservatif. Untuk itu, upaya penyadaran kepada guru mengenai hakikat proses pendidikan di kelas harus menjadi agenda penting untuk meminimalkan kekerasan (fisik) di sekolah. Setop kekerasan melalui pendidikan kritis.