Menjadi Mahasiswa yang Belajar

HASANUDIN ABDURAKHMAN
Kompas, 25 April 2016

Banyak orang mengeluh sulit mencari kerja. Khususnya bagi lulusan baru yang tidak punya pengalaman kerja. Tidak sedikit yang melamar ke sana sini tapi tak kunjung mendapatkan pekerjaan.

Namun dari sisi sebaliknya saya merasakan hal yang juga tak enak. Dari sisi pemberi kerja (perusahaan), saya sering merasa kesulitan mendapat tenaga kerja sesuai dengan yang kami butuhkan.

Waktu memimpin sebuah perusahaan manufaktur kecil di Karawang saya punya kebijakan untuk memprioritaskan lulusan baru ketika merekrut karyawan. Pertimbangannya, saya ingin memberi kesempatan seluas-luasnya bagi lulusan baru.

Saya menyediakan diri untuk membimbing dan melatih karyawan, juga memberi kesempatan kepada mereka untuk belajar secara mandiri.

Apa hal terpenting yang saya perhatikan ketika saya menyeleksi calon karyawan? Kemampuan belajar.

Prinsip saya, seorang karyawan yang baik dan bisa diandalkan adalah orang yang mampu belajar dan mau terus belajar. Perusahaan akan maju bila para karyawannya adalah orang yang cerdas, kreatif, dan penuh inisiatif.

Tapi bagaimana bisa menilai semua itu dari suatu wawancara yang singkat? Meski tidak 100% akurat, hal itu bisa dilakukan.

Bagi lulusan baru biasanya saya tanya soal apa saja yang dia pelajari waktu kuliah. Tujuan pertanyaan ini tidak untuk menggali kemampuan spesifik yang dibutuhkan pada suatu lowongan pekerjaan.

Tujuannya lebih pada menggali informasi tentang kemampuan seseorang untuk belajar. Kemampuan belajar seseorang akan terlihat dari cara dia menjelaskan apa yang dia ketahui.

Saya biasanya mulai dari pertanyaan umum tapi mendasar, lalu mengerucut pada hal yang lebih spesifik. Seseorang yang belajar dengan benar pasti mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sayangnya, banyak yang sudah keteteran pada satu dua pertanyaan pertama.

Pada calon karyawan dengan pengalaman kerja ceritanya hampir sama. Biasanya saya akan minta dia menjelaskan seluk beluk pekerjaan dia di tempat ia bekerja.

Karyawan yang belajar mampu menjelaskan apa yang dia lakukan secara komprehensif, sedangkan yang tidak hanya bisa menjelaskan sesuatu secara parsial.

Ciri penting dari kemampuan belajar adalah kemampuan melihat persoalan yang dihadapi secara utuh.

Mengapa banyak orang yang gagal dalam seleksi kerja? Mengapa banyak orang yang tak kunjung dapat pekerjaan?

Banyak yang mengira karena teknik wawancara mereka buruk. Ya, banyak yang mengira teknik wawancara adalah kunci untuk lulus seleksi. Lalu mereka mati-matian belajar dan berlatih wawancara. Hasilnya: mereka jadi badut saat wawancara.

Sebab kegagalan yang utama sangat jelas: karena mereka tidak belajar. Atau, karena mereka belajar dengan cara yang salah.

Banyak mahasiswa mengira di bangku kuliah mereka akan belajar tentang hal-hal yang membuat mereka siap bekerja. Yang dibayangkan adalah ketika lulus nanti mereka akan mendapat pekerjaan dengan bekal apa yang sudah mereka pelajari.

Pikiran seperti itu hanya cocok untuk peserta kursus menjahit yang ingin mencari kerja sebagai tukang jahit!

Pekerja lulusan perguruan tinggi tidak diharapkan demikian. Mungkin hanya 10% dari apa yang dipelajari dari kurikulum kuliah yang terpakai di dunia kerja. Dalam banyak kasus malah jauh di bawah angka itu.

Kalau begitu, untuk apa kuliah bertahun-tahun, mempelajari ilmu yang kemudian tidak dipakai?

Kuliah, sekali lagi, bukan kursus keterampilan. Tujuan utama kuliah adalah untuk mengasah kemampuan belajar. Materi kuliah pada akhirnya hanyalah sampel yang pada tingkat tertentu bisa diganti-ganti.

Lulus kuliah tidak berarti seseorang sudah lengkap ilmunya, dan siap memasuki dunia kerja. Lulus kuliah hanya bermakna bahwa seseorang sudah menjalani proses belajar, dan ia sudah menunjukkan kemampuan belajarnya, dan siap untuk belajar lagi.

Ketika memasuki dunia kerja orang tidak dihadapkan pada persoalan seperti saat menyelesaikan soal ujian di kelas. Ia akan menyelesaikan masalah yang selalu punya banyak dimensi. Dalam setiap masalah ia harus belajar lagi untuk mencari penyelesaiannya.

Yang harus dia pelajari tidak terbatas pada bidang yang tadinya ia tekuni, tapi meliputi berbagai bidang. Dan setiap hari, setiap saat ia akan dihadapkan pada situasi itu. Setiap hari dan setiap saat ia harus belajar, lagi dan lagi. Bahkan seorang presiden direktur, seorang pakar sekalipun harus selalu belajar.

Banyak mahasiswa yang belajar demi menghadapi ujian. Lulus ujian adalah tujuan belajar. Bahkan lulus ujian adalah tujuan dari tujuan. Karenanya kita sering menemukan mahasiswa menyontek saat ujian.

Pada titik itu ia sudah gagal sebagai mahasiswa, karena ia gagal memahami makna yang paling dasar dari proses belajar. Besar kemungkinan ia hanya akan jadi penenteng ijazah kosong saat lulus nanti.

Banyak pula mahasiswa yang tidak menghayati proses belajar. Ketika praktikum, misalnya, mereka hanya fokus pada materi akademik belaka. Padahal ada banyak sisi non-akademik seperti kerja sama, kepemimpinan, etika, dan lain-lain.

Banyak yang menghabiskan waktu dengan menekuni buku teks, menjadi penghafalnya, tapi tidak pernah peduli pada hal lain seperti pergaulan, komunikasi, dan hal-hal lain yang dikenal sebagai soft skill. Hasilnya adalah seseorang yang mahir dalam hal-hal teknis, tapi gagap dalam kerja sama.

Di akhir tulisan singkat ini saya ingin kutipkan penggalan cerita dalam Quran, ketika Allah hendak menciptakan Adam, dan menjadikannya sebagai khalifah di muka bumi. Para malaikat keberatan, lalu Allah menunjukkan alasanNya.

Kepada Adam diajarkan nama-nama benda, yang ketika ditanyakan kepada malaikat mereka tak tahu jawabannya. Adam tahu. Mengapa? Karena manusia dibekali kemampuan belajar.

Pesan Allah sangat jelas: hanya yang mampu belajar yang akan jadi khalifah.

Advertisement

Para Mahasiswa, Belajarlah!

Hasanudin Abdurakhman
Kompas, 02 April 2016, 07:00 WIB

Saya bertemu dengan mahasiswa Jurusan Ushuluddin, UIN. Saya tanya,”Nanti kalau sudah lulus kamu mau kerja apa?”

Seperti saya duga, ia gelagapan, tidak bisa menjawab. Mohon maaf, mahasiswa jenis ini banyak. Kuliah di jurusan “tidak jelas”, dan tidak jelas juga apa tujuannya kuliah.

Jangan marah dulu kalau saya menyebut jurusan “tidak jelas”. Tidak ada maksud menghina. Saya hanya membicarakan realitas. Jurusan “tidak jelas” adalah jurusan yang tidak begitu jelas ke mana lulusannya akan bekerja.

Tidak jelas dalam pengertian, tidak diketahui dengan baik oleh khalayak, tidak dipahami dengan baik oleh mahasiswa maupun dosen, atau, memang sempit kemungkinan lapangan pekerjaan yang tersedia.

Salah satu jurusan tidak jelas ini adalah jurusan filsafat. Para mahasiswanya malah sering menjadikan isu “mau kerja apa” ini sebagai bahan untuk mengolok-olok diri mereka sendiri.

Saya sendiri berasal dari jurusan yang termasuk kategori “tidak jelas”. Dulu waktu saya masuk kuliah tak banyak orang tahu lulusan jurusan fisika itu bisa jadi apa. Bahkan tak banyak yang tahu bahwa jurusan itu ada di universitas!

Situasinya sangat kontras dengan jurusan-jurusan favorit dan “jelas” seperti teknik elektro, teknik sipil, kedokteran, dan sebagainya. Sampai kini pun jurusan fisika masih bisa digolongkan “tak jelas”.

Apa yang dipelajari orang di jurusan ushuluddin? Ini adalah jurusan yang mempelajari hal-hal fundamental dalam soal iman Islam, termasuk di dalamnya seluk beluk akidah.

Lalu, pekerjaan apa yang bisa dilakukan oleh lulusannya? Tentu saja pekerjaan yang berkaitan dengan agama. Saya tidak tahu banyak soal ini, tapi perkiraan saya adalah ia bisa menjadi guru agama (termasuk dosen), atau periset untuk masalah keagamaan.

Untuk periset tentu saja diperlukan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kementerian agama juga mungkin memerlukan pengetahuan mereka. Selain itu lulusan di bidang ini juga bisa menjadi wartawan.

Adakah peluang kerja bagi mereka di dunia industri? Menurut saya peluangnya kecil. Hampir tak ada industri yang memerlukan pengetahuan itu. Maka lulusan dari jurusan ini harus punya kemampuan lain, kalau ingin masuk ke dunia industri.

Sebenarnya tidak hanya jurusan ushuluddin, atau program studi agama yang demikian. Ada begitu banyak jurusan yang tidak tersambung dengan baik ke dunia kerja formal, seperti sosiologi, antropologi, sastra, juga bidang-bidang ilmu dasar seperti matematika dan fisika.

Perlukah berkecil hati? Tidak. Soal tersambung atau tidak, itu hanya soal hukum yang makro saja sifatnya. Secara mikro, tidak ada orang yang dipastikan bisa bekerja hanya berdasarkan atas jurusan kuliahnya. Usaha setiap oranglah yang akan memastikan ia akan mendapat pekerjaan.

Kepada para mahasiswa saya selalu menganjurkan untuk membangun portofolio. Apa itu portofolio? Ia adalah satu set pengetahuan dan keterampilan di suatu bidang, yang punya nilai atau daya jual di dunia kerja, khususnya industri.

Seorang sarjana matematika murni mungkin akan sulit masuk kerja di dunia industri. Peluangnya akan membesar bila ia bisa melakukan pemrograman. Bila ditambah lagi dengan pemahaman tentang proses-proses bisnis, maka ia akan bisa mendesain sistem atau tool komputer yang menjadi alat bantu dalam proses bisnis. Hal itu akan memberi solusi bagi banyak persoalan industri, sehingga punya nilai di dunia kerja.

Seorang mahasiswa ushuluddin tadi, bila ia punya kemampuan menulis dan jurnalistik, ia bisa menjadi seorang wartawan.

Intinya, para mahasiswa perlu menetapkan tujuan, ke dunia mana ia akan bekerja. Kemudian, ia harus mengumpulkan informasi soal portofolio apa yang harus dia bangun untuk bisa masuk ke bidang itu.

Setelah itu ia harus membangun portofolio. Portofolio bisa terdiri dari pengetahuan dari membaca berbagai buku, ikut kursus, magang, atau kerja freelance. Semakin nyata pengalaman yang dimiliki, semakin besar peluang untuk masuk ke dunia kerja.

Lalu, apa gunanya belajar sosiologi, antropologi, ushuluddin, fisika, matematika, dan sebagainya, kalau pada akhirnya tidak terpakai? Siapa bilang tidak terpakai? Banyak yang tidak menyadari bahwa kompetensi utama yang harus dimiliki sebagai hasil belajar di perguruan tinggi adalah kemampuan belajar.

Lulusan perguruan tinggi dilatih untuk menguasai seperangkat ilmu, dan prosesnya dilakukan secara (lebih) mandiri. Bidang ilmunya bisa apa saja. Jadi, sosiologi, antropologi, matematika, fisika, dan sebagainya itu hanyalah contoh dari seperangkat ilmu tadi.

Seperangkat ilmu itu tidak cukup untuk berkarir, atau bahkan untuk sekedar masuk ke dunia kerja. Mereka masih harus menambah lagi dengan berbagai perangkat ilmu lain, atau memperdalam lagi ilmu yang sudah ada, baik saat sebelum masuk kerja maupun sesudahnya.

Sebenarnya setelah bekerja nanti mereka justru harus lebih intensif menambah ilmu. Bila tidak, mereka tidak akan berkembang dalam karir.

Jadi, seorang mahasiswa sebaiknya punya portofolio. Lebih bagus bila ia punya lebih dari satu portofolio. Misalnya seorang mahasiswa akutansi punya portofolio pembukuan untuk sebuah industri manufaktur. Ia bisa menambahnya dengan portofolio tentang perpajakan.

Kalau ditambah lagi dengan pengetahuan tentang proses bisnis manufaktur secara detil, ditambah kemampuan aplikasi komputer seperti SAP, maka dijamin mahasiswa seperti ini tidak akan menganggur.

Semua itu masih perlu ditambah lagi dengan kemampuan berbahasa asing. Bahasa Inggris itu mutlak perlu. Kalau bisa ditambah lagi dengan bahasa lain seperti Mandarin, Jepang, atau Perancis, nilai tawar mahasiswa itu akan semakin tinggi.

Yang tak kalah penting adalah jaringan. Punya kenalan di berbagai tempat di dunia kerja adalah sesuatu yang sangat berharga, khususnya bila kenalan itu adalah orang yang menempati posisi kunci.

Banyak mahasiswa yang merasa cukup hanya belajar sesuai kurikulum, ikut ujian dan lulus dengan nilai tertentu. Untuk masuk ke dunia kerja itu semua tak cukup. Mereka harus membangun portofolio. Karena itu mereka harus belajar, dan belajar lebih giat lagi.

Mahasiswa Sesat

Jumat, 26 Februari 2016
Oleh: Hasanudin Abdurakhman

Ketika saya punya keluangan waktu dan dana, saya sengaja menyempatkan diri berkunjung ke kampus-kampus. Ada banyak mahasiswa tersesat di kampus-kampus. Saya tahu itu sejak dulu, saat saya masih jadi dosen tetap.

Di hari pertama kuliah biasanya saya ajukan pertanyaan kepada para mahasiswa,”Apa tujuanmu kuliah?”

Kebanyakan dari mereka gagap dalam menjawab pertanyaan ini. Mereka tak tahu untuk apa mereka kuliah. Sebagian menjawab klise, untuk menuntut ilmu.

Tapi pertanyaan saya konkret, kamu mau jadi apa? Nanti setelah lulus akan bekerja sebagai apa? Sebagian besar tidak menyadari bahwa kelak mereka harus bekerja sebagai manusia mandiri.

Lalu mengapa kuliah? Sebagian karena disuruh orang tua. Sebagian yang lain karena tak tahu mau melakukan apa selepas tamat SMA. Atau sekadar ikut-ikutan saja.

Mereka ini kemudian hanya memperpanjang masa sekolah, atau menunda masa menganggur. Setelah lulus, akan jadi pengangguran.

Ada begitu banyak orang tua yang mengirim anaknya kuliah, juga tanpa tujuan. Pokoknya kuliah, punya gelar sarjana kalau kelak lulus. Kalau sudah sarjana, pasti dapat pekerjaan. Sarjana pasti cerah masa depannya.

Di masa lalu memang begitu. Sarjana muda saja pun sudah bisa bekerja. Para orang tua ini tak menyadari bahwa zaman sudah berubah. Kini sudah banyak, bahkan sangat banyak sarjana menganggur.

Di suatu ceramah oleh Kepala BKKBN disampaikan data bahwa hanya 1 dari 7 lulusan sarjana yang mendapat pekerjaan.

Para orang tua beranggapan bahwa semua anak harus kuliah. Mereka juga beranggapan bahwa kuliah harus mendapat gelar. Maka banyak orang tua yang memaksa anak-anaknya kuliah, tanpa memperhatikan kemampuan intelektual sang anak, serta minatnya.

Dulu ada teman saya yang saya kenal betul tingkat kecerdasannya. Mohon maaf, sangat rendah. Tapi kebetulan orang tuanya kaya. Sang anak dikuliahkan. Hasilnya, selama kuliah anak itu hanya hura-hura menghabiskan harta orang tuanya.

Dalam sebuah ceramah di sebuah kampus di Mataram seorang mahasiswa mengeluh. “Saya ini tak berminat kuliah, Pak. Saya mau berbisnis. Tapi orang tua saya memaksa. Saya masuk kuliah asal saja, lalu masuklah saya ke jurusan fisika. Padahal saya sama sekali tak berminat dengan bidang ini.”

Saya ke kampus dengan tujuan membawa pesan dari dunia nyata kepada para mahasiswa. Dunia nyata adalah dunia kerja, di mana setiap orang dituntut dengan suatu tanggung jawab, dan di mana orang harus berkompetisi.

Kompetisi dimulai sejak di pintuk masuk ke dunia itu. Yang kalah tak akan bisa masuk, dan harus berada di dunia nyata yang lain, yaitu dunia pengangguran.

Ada mahasiswa yang sadar bahwa mereka harus masuk ke dunia kerja. Tapi mereka sama sekali tak mengenal dunia itu, dan tidak mempersiapkan diri untuk bersaing di pintu masuknya.

Mereka tak tahu bagaimana pelajaran-pelajaran yang mereka tekuni di bangku kuliah akan terpakai di dunia kerja. Atau, mereka tak tahu bekal apa yang harus mereka kumpulkan selama kuliah.

Ada kasus klise yang sering saya lihat. Mahasiswa baru sadar bahwa kemampuan bahasa Inggris mereka parah saat mereka sudah lulus. Ketika mencari kerja gagal karena itu. Kemudian mereka baru mulai belajar, ikut kursus. Terlambat sudah.

Penguasaan bahasa Inggris memerlukan waktu setidaknya 2 tahun. Mereka harus kehilangan waktu lagi. Padahal seharusnya hal ini dipersiapkan selama kuliah.

Saya pergi ke kampus-kampus, mengajak para mahasiswa membangun mimpi, menetapkan visi. Saya mengajak mereka menjalin kontak dengan mimpi itu.

Saya mengajak mereka untuk membuat program persiapan menuju dunia kerja, dengan target terukur, dalam batas waktu yang jelas.

Sayangnya saya belum punya banyak kesempatan untuk bertemu dengan para orang tua. Para orang tua harus diingatkan bahwa tidak semua anak harus atau perlu kuliah. Ada begitu banyak orang sukses tanpa kuliah. Kuliah bukan jaminan sukses.

Saya ingin mengajak mereka mengenal potensi setiap anak, dan mengarahkan mereka meraih sukses dengan mengembangkan potensi masing-masing.

Deja Vu : Bicara Leader-Shift

Deja Vu : Bicara Leader-Shift di UNISBA
Jusman Syafii Djamal
Sep 23, 2016

Pagi ini Selasa 20 September 2016, dari jam 940 sd 1100 sy hadiri undangan Rektor Unisba Prof.Dr.dr M Thaufiq Boesoeirie MS.Sp.THT-KL(K). Sy diminta bicara dalam kuliah umum didepan 3000 mahasiswa baru. Sharing pengalaman dalam Acara Taaruf. Perkenalan Kampus. Sebelum sy pembicaranya adalah Pangdam Siliwangi dan Walikota Bandung, Ridwan Kamil.

Topik bahasan yg saya sampaikan Leadershift. Pemimpin Ditengah Gelombang Perubahan. Sengaja gunakan istilah Shift u memberi konotasi pentingnya Paradigm Shift atau Perubahan Mindset. Bukan Ship atau berkonotasi kapal, wahana, yg mudah terombang ambing Hanyut Tenggelam ditelan Gelombang zaman yg selalu berubah.

Paradigm Shift memiliki orientasi untuk selalu adaptip dan agile. Adaptip terhadap setiap perubahan cuaca-medan dan musuh yg dihadapi.Agile dalam arti Trampil jadi nakhoda yg selalu berpedoman pada kompas, konfigurasi bintang dan juga 8 penjuru mata angin.

Agility atau trengginas dan kelincahan meniti buih yg tercipta dari jam terbang dan pengalaman menguasai iptek. Platform dan GPS yg membawa kapal Pinisi lolos dari gelombang badai sampai ketujuan.Ada seni kepemimpina yg perlu dilatih selama jadi mahasiswa. Itu pesan saya.

Kampus adalah kawah candradimuka untuk mengadopsi kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai engine of growth.Kampus adalah laboratorium sosial. Breeding ground of Leader -Shift. Wahana bagi mahasiswa berlatih surfing atau menari bersilancar diatas gelombang perubahan.

Alhamdulillah dan Terimakasih atas undangan nya pak Rektor.

Ditengah ribuan mahasiswa baru itu terasa ada deja vu dgn kenangan tahun 73 ketika pertama kali jadi mahasiswa baru ITB.Ketika itu – 43 tahun lalu – Masih terkenang semangat bergelora dari seorang lulusan SMA1 Medan yg merantau dgn kapal KoanMaru berlabuh di Priok dari Belawan. Dgn tekad belajar di ITB, ingin menjalin persahabatan atau frindeship kawan satu kapal dgn lulusan SMA lain dari penjuru Indonesia. Benih Spirit Bhineka Tunggal Ika muncul diam diam

Disini Sy jadi ingat pesan Hideyoshi seorang samurai yg merangkak dari jabatan pembawa sendal Nobunaga hingga menjadi Shogun pengganti Nobunaga, tuan nya :

Setiap sesuatu tak akan tumbuh di sebuah lahan yang tak terawat.Pohon ek yang terkuat sekalipun akan roboh bila tanah tak memberikan makan. Siapa pun yang ingin mencapai puncak kepemimpinan, dari prajurit paling rendah hingga pejabat yang paling berkuasa, maka tempat karirmu bakal tumbuh atau mati jika tak dirawat setiap hari. Jagalah hubungan antara orang yang ditemui, suatu saat nanti mereka akan membantumu”.
Begitu ujar Hideyoshi dalam buku Nyanyian Jiwa Sang Samurai.

Mahasiswa baru adalah mutiara. Masa depan Indonesia ada di tangan dan fikiran nya. Kita tak boleh abai. Kata Hideyoshi dalam buku Eiji Yoshikawa , Taiko :”Medan Pertempuran dimana Persaingan dan Kompetisi berlangsung sengit dimasa kini dan masa depan bukanlah tempat yang baik untuk bergurau dan bercanda”

Mohon maaf jika keliru. Salam

Mahasiswa, Bagaimana Mengatur Waktu?

Hasanudin Abdurakhman
Doktor Fisika Terapan
Doktor di bidang fisika terapan dari Tohoku University, Jepang. Pernah bekerja sebagai peneliti di dua universitas di Jepang, kini bekerja sebagai General Manager for Business Development di sebuah perusahaan Jepang di Jakarta

Dalam setiap kuliah saya kepada mahasiswa dengan tema mempersiapkan diri memasuki dunia kerja selalu muncul 2 pertanyaan yang sebenarnya substansinya sama.

Bagaimana cara mengatur waktu dengan disiplin? Bagaimana menghindari pengaruh lingkungan yang membuat kita tidak disiplin mengelola waktu?

Coba perhatikan kehidupan mahasiswa. Untuk apa waktu yang paling banyak dihabiskan? Mahasiswa yang mengambil 20 SKS mata kuliah masih mempunyai sekitar 20 jam waktu tersisa, bila asumsinya waktu efektif adalah 40 jam seminggu.

Dengan asumsi itu artinya pagi sebelum jam 8 dan sore hingga malam di atas jam 5 tidak dihitung sebagai waktu efektif. Juga akhir pekan, belum ditambahkan.

Katakanlah waktu efektifnya adalah 40 jam seminggu seperti orang bekerja. Lalu bagaimana sisa waktu 20 jam lagi dihabiskan? Mahasiswa pembaca tulisan ini bisa menghitung ulang.

Dugaan saya sebagian besar waktu itu habis dipakai untuk nongkrong, ngobrol, chatting, atau main game. Sangat sedikit mahasiswa yang mengisi waktu di sela kuliahnya dengan membaca, berdiskusi, berlatih bahasa Inggris, atau menulis.

Ketika saya ingatkan tentang rentang skill yang mereka butuhkan untuk memasuki dunia kerja, termasuk di dalamnya kemampuan bahasa Inggris, hampir semua mahasiswa terpana.

Bahkan mahasiswa yang sudah kuliah separo jalan di semester 6 atau 7 masih belum yakin soal skill yang sudah mereka miliki. Bahasa Inggris mereka masih tergagap-gagap. Kemudian mereka panik. Selama ini aku ngapain aja?

Lalu mereka sadar betapa banyak waktu telah terbuang. Aku selama ini sudah menyia-nyiakan waktu. Tapi bagaimana cara agar bisa mengatur waktu dengan disiplin?

Dalam usaha memikirkan pengaturan waktu dengan disiplin itu mereka sadar bahwa pengaruh teman membuat mereka sulit disiplin. Ajakan untuk nongkrong dan ngobrol begitu sulit dihindari. Bagaimana menghindarinya?

Bagaimana solusinya? Saya selalu bilang, punyalah mimpi. Punyalah tujuan. Ini sebenarnya pesan utama pada setiap kuliah saya.

Tetapkan tujuan, mau jadi apa, mau kerja apa setelah lulus kelak. Ingatkan diri sendiri bahwa kuliah harus diakhiri, dan setelah itu kita harus bekerja.

Setelah menetapkan tujuan, susunlah rencana terjangka untuk mencapainya. Itu dimulai dengan mengumpulkan informasi soal skill yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu.

Misalnya seorang mahasiswa yang ingin menjadi instrument engineer harus tahu skill dan kualifikasi apa saja yang diperlukan seorang instrument engineer. Demikian pula bagi yang ingin menjadi diplomat, wartawan, atau pengusaha.

Lalu susunlah rencana untuk mengumpulkan skill itu dalam format rencana tahunan, per semester, bulanan, mingguan, dan harian. Kemudian lakukan mekanisme PDCA, plan-do-check-action terhadap rencana itu.

Mahasiswa banyak menyia-nyiakan waktu karena memang tidak pernah merencanakan untuk mengisi waktunya. Agenda mereka selain kuliah selalu kosong. Maka mereka selalu menganggap waktu di luar kuliah adalah waktu bebas. Makanya mereka melewatkannya dengan santai.

Seseorang dengan tujuan dan rencana punya agenda untuk dilakukan hari ini, besok, minggu depan, dan seterusnya. Di pagi hari ia akan menyusun agenda soal apa saja yang harus dikakukan hari ini. Ada target yang harus dicapai.

Setelah kuliah jam 9 saya harus melakukan ini, sampai jam 12. Kemudian ada kuliah sampai jam 3, setelah itu saya akan melakukan itu.

Orang dengan rencana seperti ini akan fokus mengerjakan hal-hal yang sudah ia rencanakan, dan tidak akan menyia-nyiakan waktunya.

Tapi bagaimana menghindari godaan dari teman-teman? Kalau tidak bergabung nanti dianggap tidak solider dan bisa dikucilkan.

Perhatikan bahwa hampir setiap mahasiswa mengeluh seperti itu. Saya tidak disiplin karena pengaruh teman. Kalau semua mahasiswa yang tidak disiplin mengaku akibat pengaruh teman, lantas siapa sebenarnya yang mempengaruhi?

Sebenarnya mereka itu adalah kumpulan orang-orang yang tidak disiplin dan saling mempengaruhi. Tapi mereka selalu merasa diri mereka terpengaruh oleh orang lain. Inilah yang disebut dengan perspektif korban.

Maka tinggalkanlah perspektif korban itu dengan bersikap proaktif, tumbuhkan perspektif bertanggung jawab.

Tanggung jawab itu dalam bahasa Inggris adalah responsibility. Response-ability. Artinya seseorang yang bertanggung jawab adalah orang yang bisa memilih respons dia terhadap suatu keadaan di depannya.

Seorang mahasiswa yang bertanggung jawab selalu bisa memilih, mengikuti ajakan nongkrong dari teman, atau menjalankan rencana yang sudah dia susun untuk hari ini.

Orang dengan perspektif korban selalu menganggap dirinya dalam posisi tidak punya pilihan. Padahal ia punya pilihan. Hanya saja, ia tidak menyukai resiko-resiko atas pilihan tersebut.

Ya, setiap pilihan punya resiko. Memilih untuk tidak nongkrong bisa jadi akan dikucilkan, atau setidaknya terlewatkan dari obrolan seru. Itu sebuah resiko yang sangat tidak disukai anak muda.

Padahal, memilih untuk nongkrong juga punya resiko, yaitu tidak tercapainya target membangun skill tadi. Yang ini sebenarnya resiko yang jauh lebih besar, karena menyangkut masa depan.

Maka saya selalu anjurkan untuk berhenti bersikap dengan perspektif korban. Jadilah orang yang bertanggung jawab, yang membebaskan diri mengatur respons yang akan dipilih dengan kesadaran atas resiko yang diambil pada setiap pilihan. Be the captain of your own life.

Jadi, bagaimana caranya agar bisa mengatur waktu dengan disiplin?

1. Tetapkan tujuan, sederhananya mau kerja apa setelah lulus nanti.

2. Susun rencana untuk mengumpulkan skill yang dibutuhkan untuk pekerjaan tadi. Buat rencananya sampai detil dengan target di setiap jangka waktu.

3. Jalankan rencana itu, lakukan evaluasi pencapaian target setiap selang waktu tertentu. Lakukan tindakan koreksi bila target tidak tercapai. Langkah-langkah inilah yang disebut PDCA tadi.

4. Kembangkan sikap proaktif dan bertanggung jawab. Aku bebas memilih setiap tindakan, dan aku siap menghadapi resikonya. Aku adalah kapten dalam kapal kehidupanku!

Orang – Orang Spesial: Para Pembuka Jalan…

Lukito Edi Nugroho
June 4, 2016

Kemarin saat seleksi wawancara beasiswa LPDP di Medan, saya sempat melihat-lihat berkas milik beberapa peserta, termasuk letter of acceptance yang mereka dapatkan. Di LoA biasanya sudah tercantum berapa biaya yang harus mereka bayarkan untuk bersekolah di universitas tersebut. Saat melihat angkanya….wuedyan tenan…ada yang hampir mencapai Rp 500 jeti per tahunnya. Saya membayangkan, jika uang itu dibelikan kacang rebus semuanya, mungkin bisa untuk mereklamasi pantai Jakarta. Saya juga membandingkannya dengan SPP di UGM yang cuma 5%nya saja (itupun sudah menyebabkan demo mahasiswa).

Anyway, saya tidak ingin membahas tentang reklamasi atau demo karena SPP. Saya hanya memikirkan, betapa spesialnya anda, para penerima beasiswa tersebut. Untuk sekolah master 2 tahun, negara mengeluarkan uang sebesar hampir Rp 1 M. Dan siapapun yang memenuhi syarat berkesempatan untuk meraihnya. Luar biasa memang investasi bagi anda.

Negara tidak menganggap uang Rp 1 M (atau Rp 1,5 M kalau sekolah S3) itu sebagai “hutang” bagi penerimanya. Uang itu dianggap “hilang”, artinya anda tidak akan dikejar-kejar untuk mengembalikannya setelah lulus nanti. Ya karena niat negara adalah menyekolahkan anda. Meskipun demikian, tetap saja negara mengharapkan sesuatu dari anda. Sesuatu yang tidak berbentuk finansial dan tidak diminta sekarang, tapi sangat penting bagi bangsa Indonesia: kontribusi yang membawa dampak yang signifikan.

Apa itu dampak yang signifikan? Gampangnya, dampak (positif) yang bisa dirasakan oleh orang banyak, bukan hanya untuk diri anda sendiri. Sekolah itu untuk menuntut ilmu, jadi kontribusi yang diharapkan adalah bagaimana ilmu yang diperoleh bisa diaktualisasikan dan diaplikasikan untuk kepentingan bangsa Indonesia. Jadi mestinya inilah yang harus selalu diingat: anda punya misi “belajar demi kemanfaatan bagi bangsa”. Ini yang membedakan antara anda dengan mereka yang kuliah dengan biaya sendiri.

Tapi tunggu dulu…kalau hanya diminta “berkontribusi bagi bangsa” saja sepertinya sudah kuno. Sejak jaman saya sekolah dulupun harapannya sudah seperti itu. “Kamu sekolah di luar negeri, cari ilmu sebanyak-banyaknya, setelah selesai pulanglah ke UGM lalu jadilah dosen yang baik dengan bekal ilmumu itu”, begitu kira-kira pesan yang saya peroleh dulu. Jadi saya hanya diminta membawa ilmu yang saya pelajari di luar negeri untuk digunakan di Indonesia. Itu saja intinya.

Kalau doktrin di atas dipakai di jaman sekarang, rugilah negara. Ilmu itu berkembang, dan di bidang-bidang tertentu, perkembangannya sangat pesat. Kalau seorang master atau doktor dari luar negeri pulang hari ini, dalam 5 tahun ke depan ilmu yang dibawanya mungkin sudah ketinggalan jaman. Dalam 5 tahun ke depan, kita hanya akan menjumpai “ampas” ilmu, bukan ilmu yang berdampak besar.
Lalu apa yang harus anda bawa pulang setelah lulus dari sekolah di luar negeri itu? Jawabnya: sumberdaya (resources).

Yang dibawa bukan hanya catatan kuliah, tesis, publikasi ilmiah, atau disertasi saja. Bawalah juga dosen, profesor, laboratorium, dan fasilitas-fasilitas lain yang dulu anda gunakan selama kuliah. Tentu saja maksudnya bukan secara harfiah, tapi lebih pada membuka akses bagi kita yang ada di Indonesia agar juga bisa menikmati apa yang dulu anda pernah nikmati. Agar mahasiswa di perguruan tinggi nasional juga bisa menikmati diajar oleh profesor-profesor yang keren ilmunya. Agar dosen-dosen juga suatu saat dapat merasakan bekerja di lab yang penuh peralatan canggih, meskipun cuma dalam rangka kunjungan singkat (short visit). Atau agar industri kecil kita bisa mendapatkan sentuhan teknologi maju dari mancanegara.

Dengan membuka akses, maka dampaknya akan luar biasa. Tiba-tiba saja banyak mahasiswa kita yang jadi mengerti ilmu baru. Tiba-tiba banyak dosen yang punya topik-topik penelitian bersama dan bisa mengajak mahasiswanya bergabung. Tiba-tiba industri kecil kita fasih berbicara teknologi maju. Tentu saja manfaatnya tidak berhenti sampai di sini. Terusannya panjang, trickle down effectnya besar. Dan jika critical mass-nya terbentuk, maka akan terjadi lompatan transformasi yang cukup signifikan dalam banyak sektor.

Kunci dalam membuka akses ini adalah networking. Jejaring (network) dapat dibangun dengan komunikasi yang baik, sehingga muncul kepercayaan dan saling membutuhkan. Jadi selama anda belajar di luar negeri, jangan hanya memikirkan kuliah saja. Bangunlah hubungan baik dengan dosen, pembimbing, pengelola laboratorium, dan pejabat-pejabat departemen/fakultas. Ini bukan tugas yang sulit, karena anda akan sering bertemu mereka. Jika bertemu mereka, promosikanlah Indonesia. Ajaklah mereka untuk bekerjasama dengan pihak-pihak di Indonesia. Ajaklah profesor anda atau dosen-dosen lain untuk berkunjung ke perguruan tinggi anda dan bujuk dia untuk mau berkolaborasi dengan dosen dan mahasiswa di Indonesia. Kalau sempat praktek kerja di industri di luar negeri, ajak mereka untuk ikut membantu industri kecil dengan program transfer teknologi. Banyak lagi peluang dan kesempatan yang bisa dimanfaatkan.

Intinya, sesuai dengan hukum ekonomi berbasis jejaring (network economy), jejaring adalah kunci menuju ke kemanfaatan yang besar.
Kira-kira maukah pihak-pihak di atas diajak untuk membantu kita?

Saya yakin ada di antara mereka yang mau. Mengapa? Karena kadang-kadang mereka juga memerlukan kita. Para profesor geologi dan kegempaan di Jepang misalnya, mereka sangat senang diajak peneltian bersama di Indonesia karena Indonesia adalah salah satu “sarang gempa” yang sangat menarik untuk dipelajari. Jika elemen-elemen dalam sebuah network sudah “klik” satu sama lain, maka manfaat yang dibangkitkan akan menjadi luar biasa. Dan inilah yang diharapkan oleh negara dari para penerima beasiswa tersebut…

Intinya, tempatkanlah anda pada posisi hub (penghubung) untuk mengalirkan sumberdaya yang berharga tersebut ke Indonesia dan ditangkap oleh pihak-pihak kita. Dengan itulah anda berkontribusi. Begitu kerjasama-kerjasama mulai bermunculan dan berlanjut, maka kontribusi anda berpotensi untuk jauh melebihi investasi yang sudah dikeluarkan untuk anda.

Anda bukanlah mahasiswa biasa. Keutamaan anda adalah anda tidak belajar untuk diri anda sendiri, tapi untuk kepentingan masyarakat banyak…Terima kasih untuk kesediaannya menjadi pembuka jalan…

[Tulisan ini didedikasikan untuk para penerima (dan calon penerima) beasiswa dengan biaya negara, di manapun anda berada]

Belajar : Sebuah Dimensi Baru

Belajar: sebuah dimensi baru

Lukito Edi Nugroho
April 13, 2015

Dalam beberapa kesempatan diskusi di kampus, saya sering mendengar ungkapan yang menyatakan bahwa ada cukup banyak mahasiswa yang sebenarnya belum cukup siap untuk menjadi mahasiswa. Banyak contoh yang diberikan, dari mulai cara berkomunikasi yang dirasa kurang sopan, kurangnya tanggung jawab personal, sampai kurangnya kematangan pribadi sebagai manusia dewasa.

Analisis yang muncul adalah para mahasiswa tersebut kurang mampu menyesuaikan diri dalam menjalani perubahan kultur yang mereka alami: dari kehidupan masa remaja di SMA ke tahap memasuki masa dewasa saat menjalani kuliah. Ketidakmampuan beradaptasi tersebut bertambah parah saat perguruan tinggi hanya berfokus pada urusan akademik saja. Perguruan tinggi hanya mementingkan indeks prestasi, kelulusan tepat waktu, atau prestasi-prestasi kognitif lainnya, tetapi abai terhadap perkembangan jiwa mahasiswa. Akibatnya mahasiswa kemudian memasuki dunia baru pendidikan tinggi dengan bekal yang mereka miliki, tanpa ada bimbingan dari institusi tempat mereka belajar. Yang punya bekal cukup akan selamat, dan bahkan semakin bersinar karena tertempa oleh keadaan. Yang tidak siap akan gelagapan, timbul tenggelam, dan jika tidak mendapatkan pertolongan, mereka akan benar-benar terkubur.

Fenomena tersebut di atas tentu saja tidak berdiri sendiri. Jika mau jujur, bukan hanya mahasiswa yang dilanda ketidakmampuan beradaptasi. Dosen dan pengelola perguruan tinggipun demikian. Dosen tidak mampu melihat perkembangan keilmuan yang pesat dan paradigma tentang pembelajaran mahasiswa yang berubah. Pengelola perguruan tinggi juga gagal memahami pergeseran-pergeseran prinsip pengelolaan institusi pendidikan tinggi, sehingga tetap menjalankan manajemen perguruan tinggi seperti 10-20 tahun yang lalu.

Kegagapan-kegagapan tersebut membuat kita perlu belajar, dan kita perlu mendefinisikan ulang pemahaman kita tentang belajar. Belajar bukan hanya secara formal di institusi pendidikan, tetapi juga dalam tujuan beradaptasi dengan perubahan. Sayangnya yang terakhir ini jauh lebih sulit dijalankan…

Mengapa lebih sulit? Setidaknya karena dua hal. Pertama, perubahan yang memicu kebutuhan beradaptasi itu tidak mudah dilihat, karena kita selalu menjadi bagian dari perubahan tersebut. Melihat dari dalam itu jauh lebih sulit daripada melihat dari luar.

Tantangan untuk bisa “melihat ke dalam” itu berat karena sering kali seseorang merasa baik-baik saja dengan keadaannya sekarang. “Saya sudah profesor doktor, sudah lebih dari 30 tahun menjadi dosen, dan mahasiswa juga happy dengan cara saya mengajar. Mengapa saya harus mengubahnya?”, begitu mungkin pikiran seorang dosen senior. Cara berpikir mahasiswa mungkin lebih pragmatis,”IP kumulatif saya selalu lebih dari 3. Studi saya lancar, orang tua juga tidak pernah mempersoalkan. Mengapa saya harus beradaptasi? Beradaptasi terhadap apa?”. Cara pandang pejabat perguruan tinggi juga sama,”Mengapa saya harus repot mengurusi karakter dan kemampuan soft skill mahasiswa, toh selama ini mereka baik-baik saja?

Mungkin mereka baru akan sadar setelah si mahasiswa pandai tersebut setelah lulus ternyata tidak kunjung mendapatkan pekerjaan karena pengetahuan yang diajarkan oleh dosennya ternyata sudah ketinggalan jaman, tingkat kedewasaannya kurang, dan dia tidak paham tentang bagaimana cara berkomunikasi, dan memromosikan dirinya dengan baik. Dan saat semua pihak sadar, nasi sudah menjadi bubur…

Untuk bisa belajar beradaptasi selalu diperlukan kerendahan hati. Tiada orang lain yang bisa membuka hati, kecuali sang pemiliknya. Sebuah gelas hanya akan bisa terisi air jika pemilik gelas membuka tutupnya. Sayangnya, tidak semua pemilik bersedia dan sanggup membuka tutup gelasnya. PR selanjutnya, jika gelas itu ternyata sudah berisi sisa minuman semalam, sisa itu harus dibuang untuk digantikan dengan air yang baru. Maukah pemilik gelas melakukannya?

Belajar seolah menemukan dimensi baru. Kita belajar bukan sekedar menjalankan ritual-ritual akademik, tetapi lebih mendasar lagi, bagaimana kita bersedia untuk membuka mata hati dan mengamati perubahan-perubahan yang terjadi, lalu bertanya pada diri sendiri,”Bagaimana aku dapat merespon perubahan-perubahan tersebut dengan baik?”. Belajar dalam pengertian kontemporer semacam ini berlaku untuk semua orang, memotong semua struktur dan status yang ada. Dari rektor sampai karyawan, dari profesor doktor sampai mahasiswa, semua terkena “kewajiban” ini. Belajar seperti ini juga tidak terikat pada waktu. Selama hayat dikandung badan, kewajiban ini tidak akan gugur.

Salah satu cara untuk mengatasi kesulitan “melihat ke dalam” adalah dengan menarik mundur timeline kehidupan. Tarik sampai jauh ke belakang, lalu lakukan perjalanan menyusuri timeline itu menuju ke masa kini. Secara obyektif, amatilah perubahan-perubahan yang terjadi selama perjalanan tersebut. Dua puluh tahun lalu kondisinya seperti apa, sepuluh tahun lalu seperti apa, dan seterusnya, sampai akhirnya sekarang seperti apa (bagi mahasiswa timelinenya tentu lebih pendek, tapi esensinya tetap sama). Mungkin tidak bisa menggali 100%, tapi setidaknya ada perbedaan yang bisa dibandingkan. Dari perbandingan inilah perubahan-perubahan itu bisa diidentifikasi.

Belajar beradaptasi itu (hampir) selalu meminta si pembelajar untuk membongkar cara pandangnya yang lama. Istilahnya: melakukan “unlearn”. Mengapa harus dibongkar? Karena cara pandang itu tidak sesuai lagi dengan perubahan yang terjadi. Air sisa di dalam gelas harus dibuang dulu sebelum air yang baru diisikan ke dalamnya. Ini jelas tidak mudah, karena pembongkaran ini sering terkait dengan nilai (values) dan keyakinan (belief). Tiga puluh tahun lalu, “berjualan” ilmu itu dianggap haram oleh sebagian dosen, tapi sekarang justru academic entrepreneurship menjadi salah satu pilar penting dalam kehidupan perguruan tinggi. Jelas tidak mudah bagi dosen yang mengharamkan berjualan ilmu untuk dapat menerima konsep academic entrepreneurship, tapi unlearn semacam ini harus dilakukan jika ingin survive. Cara pandang dan keyakinan lama harus diganti dengan yang baru dan yang lebih sesuai dengan kondisi saat ini.

Perguruan tinggi punya peran sebagai ujung tombak dalam perubahan-perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Peran ini hanya bisa berjalan dengan baik jika semua elemennya mampu belajar dengan baik. Bukan hanya belajar secara formal, tapi juga belajar dalam dimensi yang lebih mendasar: beradaptasi dengan perubahan jaman. Menurut saya, inilah tantangan besar pendidikan tinggi saat ini.

Menjadi Mahasiswa Bukan Sebatas Mengejar Gelar Akademik

Menjadi Mahasiswa Bukan Sebatas Mengejar Gelar Akademik

Imam Suprayogo
January 28, 2015

Tidak jarang, ketika seseorang diterima di perguruan tinggi yang terbayang adalah kuliah, ujian, lulus, wisuda, dan akhirnya memperoleh gelar akademik. Apa yang tergambar dalam pikiran seperti itu tidak salah. Memang, belajar di perguruan tinggi, ada semacam ritual seperti itu yang harus diikuti. Bahkan, kegiatan itu diatur sedemikian rupa, persis kegiatan mesin, yaitu bersifat rutin, dan monoton. Kapan harus memulai dan kapan harus mengakhiri sudah dijelaskan sejak awal.

Demikian Itulah sedikit gambaran kegiatan di perguruan tinggi sekarang ini. Mahasiswa harus kuliah, mendengarkan dosen berceramah, menyusun makalah, dan berdiskusi dengan teman-teman sekelas. Berapa lama harus datang kuliah juga telah ditentukan, misalnya 16 kali pertemuan, dan berapa kali ditoleransi tidak hadir. Setiap mahasiswa dan demikian pula dosen, diharuskan mengisi daftar hadir. Daftar hadir ternyata dianggap amat penting, tidak ubahnya pegawai pabrik, buruh di kebun, atau juga kuli bangunan.

Menangkap Ilmu bagi mahasiswa semestinya sudah menjadi kebutuhan. Jika terlambat saja, seharusnya mahasiswa menyesal. Tapi kadang aneh, umpama tidak ada daftar hadir, bisa jadi mereka seenaknya, kadang datang atau lebih memilih tidak hadir. Oleh karena itu, mengisi daftar hadir dianggap menjadi penting dan bahkan harus. Ternyata aneh, mahasiswa masih takut pada daftar hadir, dan bukan takut jika kelak sekalipun menjadi sarjana, menyandang gelar, tetapi tetap miskin ilmu.

Gambaran tersebut sebenarnya bukan hal yang menyenangkan. Siapapun prihatin jika misalnya, mahasiswa sudah benar-benar tidak memiliki semangat, atau bergairah dalam mengejar ilmu. Apa yang akan diharapkan, jika kelak, orang yang masih miskin ilmu tersebut mendapatkan ijazah dan memiliki gelar akademik. Akan tetapi siapa sebenarnya yang harus disalahkan, jika keadaan sebagaimana digambarkan itu benar-benar terjadi. Jangan-jangan mahasiswa menjadi tidak haus ilmu itu merupakan akibat saja dari sistem yang dikembangkan di kampusnya.

Pada awalnya, sebelum masuk menjadi mahasiswa, mereka bersemangat menjadi ilmuwan, sarjana yang hebat, dan bahkan ingin menjadi kebanggaan keluarga, tempat asalnya,m dan bahkan bangsanya. Cita-cita itu sedemikian tinggi. Namun oleh karena dialami sendiri, bahwa dari hari ke hari, kegiatan di kampus atau di ruag kuliah seperti itu, yakni terlalu birokratis, monoton, dan rutin, maka membosankan. Akibatnya, semangat yang semula berkobar-kobar, akhirnya menurun dan bahkan padam. Itulah akibatnya, mereka ke kampus hanya oleh karena takut ketinggalan tidak mengisi daftar hadir saja.

Manakala gambaran itu benar-benar terjadi, ialah banyak mahasiswa kehilangan semangat belajarnya, maka sistem pembelajaran di kampus harus segera diubah. Perguruan tinggi harus benar-benar menjadi perguruan tinggi. Artinya, belajar di perguruan tinggi tidak boleh disamakan dengan belajar di pondok pesantren, di sekolah, atau di madrasah. Belajar di perguruan tinggi harus diperbanyak atau ditekankan pada kegiatan riset, sesuai dengan jenjangnya, yaitu antara S1, S2, dan S3.

Belajar di perguruan tinggi tidak perlu lagi diperkenalkan dengan konsep-konsep. Kalaupun toh harus belajar, hendaknya dilakukan secara mandiri. Sebagaimana tulisan kemarin, (Selasa, tangal 27 Januari 2015) berjudul belajar di perguruan tinggi, dijelaskan bahwa pada saat sekarang ini sudah terjadi revolusi informasi yang sedemikian dahsyat. Siapapun dengan mudah bisa mengakses informasi dari internet melalui komputer, tablet dan bahkan HP. Maka, sekedar untuk memahami konsep-konsep yang dimaksudkan itu, mahasiswa akan dengan mudah bisa mencarinya sendiri. Jika masih belum paham, bisa berkonsultasi dengan dosen, teman sejawat, atau mahasiswa seniornya.

Belajar di perguruan tinggi di zaman banjir informasi seperti sekarang ini, seharusnya melalui kegiatan riset. Sementara orang, mungkin saja belum mempercayai bahwa mahasiswa itu sudah mampu melakukan kegiatan riset sendiri. Padahal, riset yang dimaksud adalah riset yang sekiranya bisa mereka melakukannya. Untuk mahasiswa S1 tentu berbeda dengan S2, dan bahkan S3. Mahasiswa S1, ditekankan pada riset pada tingkat upaya mengkonfirmasi teori yang dikenali dengan data di lapangan. Permasalahan yang diangkat sederhana, misalnya, apakah teori yang diutarakan oleh dosennya atau yang ditemukan sendiri dari buku literatur bisa dibuktikan atau ditemukan datanya di lapangan.

Penelitian dalam bentuk sederhana seperti digambarkan itu, tentu mahasiswa sudah mampu menjalankannya. Jangankan mahasiswa, siswa SMA dan atau bahkan SMP saja sudah berhasil mendapatkan temuan-temuan dalam kegiatan penelitiannya. Melalui aktifitas penelitian itu, mahasiswa dengan sendirinya akan membaca buku-buku teks, berdiskusi dengan teman atau juga dosennya, dan bahkan yang tidak kalah pentingnya lagi adalah berlatih menulis dan mengkomunikasikan hasil temuannya kepada orang lain.

Belajar dengan cara mencari sendiri secara bebas, terbuka, dan berani tetapi bertanggung jawab itulah yang kiranya menjadi lebih menarik. Sebaliknya, belajar di perguruan tinggi bukan sebatas mengikuti kuliah di kelas secara rutin, bersifat birokratis, dan membelenggu. Sebaliknya, mahasiswa seharusnya dibiarkan berpetualang mencari sendiri pengetahuan sesuai dengan bidangnya. Dengan diberikan tantangan seperti itu, mereka akan agresif, pikirannya akan hidup, kekuatan imajinasikan dan atau daya khayalnya akan tumbuh dan berkembang. Bahkan dengan cara itu, mahasiswa akan tertantang dan berlatih menjawab tantangan itu. Belajar di tingkat perguruan tinggi, di tengah-tengah membanjirnya informasi seperti sekarang ini, bukan lagi selamanya di kelas, dan apalagi hanya bermaksud mengisi daftar hadir, sekalipun oleh birokrasi kampus, bolehlah dianggap penting.

Prestasi para mahasiswa tidak diukur dari sekedar seberapa banyak kemampuan menyerap informasi dan bahkan teori, melainkan adalah seberapa hebat kemampuan mereka di dalam mendapatkan informasi, data, dan juga buikti-bukti lainnya di dalam mengkonfirmasi teori yang diperoleh dari literatur dengan kenyataan atau data di lapangan. Umpa model belajar di perguruan tingi seperti digambarkan itu, maka kegiatannya akan menjadi amat menarik. Mahasiswa akan lebih tertantang dan berusaha menjawabnya, sehingga akhirnya menjadi semakin pintar dan cerdas.

Belajar di perguruan tinggi sebagaimana sedikit diilustrasikan tersebut, maka kegiatan mahasiswa di kampus akan lebih banyak berbicara tentang ilmu, temuan-temuan baru, berdebat tentang sesuatu yang bersifat ilmiah. Pertemuan antara dosen dan mahasiswa bukan lagi sekedar memenuhi target berapa kali seharusnya masuk kuliah dan menghitung, apakah yang mahasiswa bersangkutan dibolehkan ujian atau tidak. Jika hal demikian itu yang justru terjadi, maka perguruan tinggi sudah kehilangan sesuatu yang amat mendasar, yaitu ruh atau jiwanya. Mahasiswa ke kampus, hanya sebatas memenuhi kegiatan rutinnya, yaitu agar kelak diwisuda, dan memperoleh ijazah serta gelar akademik.

Wallahu a’lam.

Orang China Dalam Melihat Lapangan Kerja

Iman Suprayogo
05 November 2014

Sekalipun taraf ekonomi masyarakat sudah disebut meningkat atau menjadi semakin baik, tetapi pengangguran, tidak terkecuali penganguran terdidik, masih dianggap sebagai masalah yang tidak mudah dipecahkan. Mencari pekerjaan masih dianggap sesuatu yang sulit. Apalagi, jenis pekerjaan yang menjadi pilihan idealnya.

Kedaan yang demikian itu menjadikan para mahasiswa yang akan mengakhirinya studinya merasa gelisah, khawatir setelah lulus, beban psikologisnya semakin bertambah. Mereka tahu bahwa sekedar mendapatkan pekerjaan bukan perkara mudah. Sementara itu, sebagai seorang yang sudah dianggap dewasa dan apalagi setelah lulus perguruan tinggi harus mampu mandiri, dan setidaknya bisa mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Di tengah kebanyakan orang yang mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan, terdapat kelompok atau tegasnya etnis tertentu yang tidak terlalu mendijadikannya sebagai beban. Etnis yang dimaksud adalah etnis China. Penyebutan etnis tersebut bukan bermaksud melakukan diskriminasi dan atau membanding-bandingkan, tetapi memang tamnpak bahwa di kalangan mereka tidak terlalu banyak yang menganggur.

Etnis China di Indonesia jumlahnya sudah cukup banyak, apalagi di kota-kota besar. Tetapi tampak bahwa, dibanding etnis pribumi, mereka tidak terlalu tampak memiliki problem pekerjaan. Orang China di Indonesia biasanya sangat gigih di dalam bekerja. Data secara kongkrit tentang jumlah pengangguran, khusus etnis China, selama ini belum saya dapatkan. Akan tetapi yang tampak sehari-hari, mereka memiliki kelebihan di bidang ekonomi. Kemiskinan di kalangan etnis China tidak terlalu tampak, bahkan yang kelihatan adalah justru sebaliknya.

Melihat kenyataan itu, saya pernah berbincang-bincang dengan anak-anak etnis China yang kebetulan saya temui. Dari perbincangan itu, saya memperoleh pemahaman bahwa, rupanya sejak usia dini, mereka selalu didoktrin di dalam menghadapi kehidupan masa depannya. Doktrin itu misalnya, bahwa bekerja adalah hidup dan tanpa bekerja mereka tidak akan bisa bertahan. Rupanya budaya kerja sudah ditanamkan di kalangan anak-anak etnis China sejak usia dini. Pengungkapan ini bukanlah sebagai sesuatu yang mengada-ada, tetapi pada kenyataannya, anak-anak pribumi memang tidak terlalu banyak diberi perhatian tentang budaya kerja ini.

Bahkan, disadari atau tidak, orang pribumi memiliki semboyan yang kurang mendorong budaya kerja. Semboyan itu misalnya berbunyi bahwa,: “ada hari pasti ada nasi, ada ombak ada ikan. Sepanjang kaki bisa digerakkan dan tangan masih diayunkan, maka di sana terdapat rizki”. Demikian pula para sopir angkutan kota menambahkan bahwa : “sepanjang roda bisa berputar maka api di dapur tidak akan padam”. Dan, masih banyak lagi kalimat-kalimat sejenis itu yang sebenarnya dapat melemahkan semangat untuk mendapatkan rizki lebih. Perasaan optimisme yang tidak terlalu menguntungkan ini sering terdengar di kalangan etnis anak-anak pribumi.

Suatu ketika, saya berbincang-bincang tentang persoalan pekerjaan dengan anak-anak muda etnis China. Lewat perbincangan itu, saya memperoleh kesan bahwa, mereka memang memiliki etos dan bahkan juga wawasan tentang kerja. Tatkala memilih jenis sekolah saja, mereka sudah mengkaitkan dengan pekerjaan di masa depan. Selain itu, mereka juga memiliki optimisme dan wawasan yang lebih jelas tentang berbagai jenis lapangan pekerjaan.

Mereka juga tahu tentang peta ekonomi yang bisa dikembangkan. Misalnya, agar sukses maka, mereka tidak mau menjadi pekerja atau buruh, kecuali hanya dimaksudkan sebatas untuk belajar. Mereka tidak bercita-cita menjadi b uruh, sebab mereka tahu bahwa tidak pernah ada buruh yang ekonominya berlebih, keculai buruh dalam pengertian tertentu yang menghasilkan upah besar. Mereka bisa menjelaskan dengan gamblang, bahwa lapangan pekerjaan itu sedemikian luas. Dikatakan bahwa, di semua jenis kebutuhan manusia pasti melahirkan lapangan pekerjaan.

Mereka memberikan contoh sederhana, misalnya bahwa kebutuhan gigi sehat saja akan membuka lapangan pekerjaan sedemikian banyak. Bahwa untuk memenuhi kebutuhan itu diperlukan dokter gigi, obat gigi, pasta gigi, kawat gigi, sikat gigi, hingga tusuk gigi, dan masih banyak lagi lainnya. Kebutuhan itu bisa dipenuhi dengan membuka pabrik, toko penjualan, mobil pengangkut bahan-bahan, dan sebagainya. Semua itu membuka lapangan pekerjaan baru. Secara lebih sederhana lagi, ia memberikan contoh lain, bahwa manusia dengan memiliki kuku saja akan mendatangkan rizki. Dengan kuku itu, manusia memerlukan gunting pemotong kuku, cat cuku, pelayanan perawatan kuku, dan lain-lain. Semua itu adalah lapangan pekerjaan.

Hal penting yang juga ditambahkan bahwa, pelayanan di mana dan kapan pun, menuntut kualitas yang semakin tinggi dan cara yang semakin mudah. Tanpa ada kemampuan menyesuaikan tuntutan kualitas itu, maka usahanya akan kalah bersaing. Selain itu, penguasaha harus jujur, kompetitif, dan mampu menyesuaikan dengan tuntutan masyarakat yang diayani. Oleh karena itu, siapapun yang mampu menangkap kebutuhan dan berhasil melayaninya, maka rezki akan datang dengan sendirinya. Dalam perbincangan itu, saya juga menjelaskan bahwa, Islam sebenarnya sangat relevan dengan konsep itu. Dalam kitab suci diajarkan bahwa, manusia harus memiliki ketajaman dalam membaca, sekaligus juga mencipta. Dua hal itu ternyata merupakan pintu sukses dalam hidup.

Wallahu a’lam.

Ilmu Digesting sebagai Soft Skills?

October 17, 2014
Oleh Hernowo  

Digesting adalah nama mata kuliah yang saya ampu di STIKOM (Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi) Bandung. Pertama kali mengajarkan matakuliah ini pada 1997. Tiga tahun mengajar, pada 2001 saya menghasilkan buku Mengikat Makna. Bagi saya, mengikat makna adalah nama lain Digesting. Secara harfiah, mata kuliah ini memang merujuk ke bekerjanya sistem pencernaan dalam tubuh kita. Ketika kita memakan buah dan sayur atau makanan lain yang bergizi, sistem pencernaan mengolah makanan tersebut dan menyaring zat-zat bergizi yang dapat menyehatkan tubuh kita. Matakuliah Digesting intinya memang melatih mahasiswa yang belajar ilmu-ilmu komunikasi untuk piawai dalam mencerna dan menyaring informasi untuk kemudian hasilnya disampaikan atau dikomunikasikan dengan lebih bermakna—baik kepada dirinya sendiri ataupun kepada orang lain yang memerlukan. 

Apabila, secara harfiah, Digesting merujuk ke bekerjanya sistem pencernaan tubuh,mengikat makna merujuk ke sistem pencernaan (digestive system) yang ada di pikiran manusia. Akhirnya, ketika saya mengajarkan matakuliah Digesting, saya pun mengajarkan kegiatan membaca dan menulis yang dipadukan untuk keperluan mencerna (memahami) informasi dan kemudian menyampaikan atau mengomunikasikan pemahaman tersebut. Kemampuan memahami dan mengomunikasikan pemahaman secara baik, tertata, dan menarik adalah inti komunikasi. Sebuah komunikasi akan berantakan alias kacau balau atau gampang membawa kesalahpahaman apabila masing-masing yang berkomunikasi tidak memiliki kemampuan memahami dan menyampaikan pemahamannya. 

Adalah Daniel Goleman, pakar dan perumus kecerdasan emosi (EQ), yang memperkenalkan istilah soft skills (kecakapan lunak). Dalam bukunya Working with Emotional Intelligence(Gramedia Pustaka Utama, 1999), khususnya di Bab 3 “Bukti Nyata Kecakapan Lunak”, Goleman menulis, “Kecakapan mendengarkan dan memahami, bekerja secara tim, membangkitkan semangat orang lain, berkomitmen, berhubungan dengan orang lain, berinovasi, memimpin secara efektif, mencari mitra yang membangun, membangkitkan kepercayaan diri, fleksibel, bekerja keras, melayani orang lain, menghadirkan pengaruh, dan mengembangkan orang lain adalah kecakapan penting dan perlu dikuasai seseorang dalam bekerja. Kemampuan seperti memiliki keahlian teknis, keterampilan berpikir analitis, misalnya, tetap penting. Namun, kecakapan-kecakapan yang disebut sebelumnya juga diperlukan dalam bekerja bersama orang lain.” Soft skills adalah kecakapan-kecakapan baru berbasis EQ sebagaimana ditunjukkan Goleman.  

Menurut Goleman lebih jauh, seseorang mampu memiliki dan menguasai soft skills dikarenakan dia sadar tentang potensi kecerdasan emosi (EQ) yang dimilikinya dan kemudian berupaya keras untuk melatih EQ-nya tersebut. Goleman kemudian menyusun “Kerangka Kerja Kecakapan Emosi” untuk dijadikan pedoman bagaimana melatih potensi EQ dalam kegiatan sehari-hari. Kerangka kerja tersebut di bagi dua: (1) kecakapan pribadi dan (2) kecakapan sosial. Kecakapan pribadi adalah kemampuan untuk mengenali diri, mengelola atau mengendalikan diri, dan membangkitkan motivasi, sedangkan kecakapan sosial adalah kemampuan berempati (memahami orang lain) dan bekerja sama dengan orang lain—baik dalam sebuah organisasi atau hanya sebatas antarindividu. Berpijak pada kerangka kerja tersebut, saya menganggap bahwa Digesting termasuk soft skills. 

Dalam latihan-latihan Digesting—khususnya Latihan 2 dan 3—soft skills tersebut kentara sekali dalam prakteknya. Apabila “Latihan 2 Digesting: ‘Mencerna’ dan Memahami Diri lewat Nama Diri” merupakan bagian dari kecakapan pribadi, maka “Latihan 3 Digesting: Memahami Orang Lain” merupakan bagian dari kecakapan sosial.  Sekali lagi, kemampuan memahami dan menyampaikan pemahaman adalah bagian penting dari Digesting. Dua kemampuan ini akan menjadikan seseorang memiliki kecakapan tinggi dalam berkomunikasi. Hanya dengan berlatih secara kontinu dan konsistenlah communication skils akan dapat ditingkatkan dalam bentuk terbaiknya. Pengetahuan tentang Digesting tetap penting untuk dipelajari, namun tanpa memiliki kemampuan berkomunikasi (communication skills), seorang jurnalis, pekerja di bidang humas (public relations), penyiar (baik penyiar di radio maupun di televisi dan di media lain), serta pengelola komunikasi—jika menamatkan pendidikan tingginya—ada kemungkinan hanya akan menjadi “sarjana kertas”. 

“Pendidikan kita masih berkutat di seputar kertas,” tulis Rhenald Kasali dalam artikelnya di Kompas edisi Rabu, 19 Maret 2014, “Dalam Cengkeraman Ilmu Dasar”. “Kita baru mahir memindahkan pengetahuan dari buku teks ke lembar demi lembar kertas: makalah, karya ilmiah, skripsi, atau tesis. Kita belum menanamnya dalam tindakan pada memori otot,myelin. Seorang mahasiswa dapat nilai A dalam kelas pemasaran bukan karena dia bisa menerapkan ilmu itu ke dalam hidupnya, minimal memasarkan dirinya, atau memasarkan produk orang lain, melainkan karena ia sudah bisa menulis ulang isi buku ke lembar-lembar kertas ujian.” Merujuk ke Rhenald Kasali, “sarjana kertas” adalah sarjana yang memiliki ijazah (dalam bentuk selembar kertas) yang hanya mengandalkan nilai-nilai yang ada di ijazah tersebut tanpa mampu menerapkan ilmunya di kehidupan nyata. 

Tentu saja, Anda boleh setuju atau tidak setuju dengan pandangan Rhenald Kasali terkait dengan pendidikan kita yang masih berkutat di seputar kertas. Sebagai dosen Digesting, saya tertantang untuk menjadikan mahasiswa saya tidak sekadar mendapat nilai “A” atau “B” untuk matakuliah Digesting. Saya ingin, setidaknya, para mahasiswa saya juga memiliki kemauan kuat (passion) untuk melatih dirinya menerapkan Digesting selama kuliah berlangsung. Oleh karena itulah, di samping ada pengetahuan (knowledge) atau teoriDigesting yang saya ajarkan di kelas dan juga  saya tayangkan di grup KIDs 3 (grup di Facebook yang anggotanya berisi para mahasiswa Digesting), secara kontinu dan konsisten—sejak kuliah perdana dimulai—saya memberikan tugas atau latihan Digesting. Saya berharap tugas atau latihan Digesting dapat melatih kecakapan atau kemampuan (skill) para mahasiswa saya dalam menerapkan teori-teori Digesting.