Berkomunitas

Harry Santosa
November 25,

Berkomunitas dalam mendidik generasi itu solusi terbaik. Namun kita seringkali tak siap berkomunitas dan berkolaborasi, hanya pasif, namun diam diam banyak mengambil & memanfaatkan untuk kepentingan diri sendiri bukan memberikan sebanyak manfaat yang kita punya kepada komunitas utk kebaikan bersama.

Kita seringkali merasa lebih pandai dari yang lain, atau merasa lebih lihai dari yang lain, sehingga menyembunyikan apa yang bisa diberikan dan merebut untuk diri sendiri apa yang bisa direbut dari komunitas. Padahal kaidah berkomunitas adalah No one is as smart as all of us.

Orang orang pelit dan pengecut seperti ini akan gagal paham bahwa memberi itu sesungguhnya menerima. Mereka tak pernah menyadari bahwa membesarkan komunitasnya, mendidik bersama anak anak temannya, sesungguhnya mempersiapkan tempat dan teman yang baik serta peradaban yang baik bagi anak anak mereka sendiri di masa depan

Orang orang pelit dan pengecut dalam berkomunitas ini tidak mungkin menjadi leader dan agen perubahan. Mereka akan berujung digilas zaman, dan berakhir pada ditindas secara ekonomi dan politik.

Ya Allah kami berlindung kepadaMu dari sifat pelit dan pengecut.
Ya Allah kami berlindung kepadaMu dari dililit hutang dan ditindas orang

Advertisement

Berkomunitas

Oleh : Ustadz Harry Santosa

Berkomunitas dalam mendidik generasi itu solusi terbaik. Namun kita seringkali tak siap berkomunitas dan berkolaborasi, hanya pasif, namun diam diam banyak mengambil & memanfaatkan untuk kepentingan diri sendiri bukan memberikan sebanyak manfaat yang kita punya kepada komunitas utk kebaikan bersama.

Kita seringkali merasa lebih pandai dari yang lain, atau merasa lebih lihai dari yang lain, sehingga menyembunyikan apa yang bisa diberikan dan merebut untuk diri sendiri apa yang bisa direbut dari komunitas. Padahal kaidah berkomunitas adalah No one is as smart as all of us.

Orang orang pelit dan pengecut seperti ini akan gagal paham bahwa memberi itu sesungguhnya menerima. Mereka tak pernah menyadari bahwa membesarkan komunitasnya, mendidik bersama anak anak temannya, sesungguhnya mempersiapkan tempat dan teman yang baik serta peradaban yang baik bagi anak anak mereka sendiri di masa depan

Orang orang pelit dan pengecut dalam berkomunitas ini tidak mungkin menjadi leader dan agen perubahan. Mereka akan berujung digilas zaman, dan berakhir pada ditindas secara ekonomi dan politik.

Ya Allah kami berlindung keppadaMu dari sifat pelit dan pengecut.
Ya Allah kami berlindung kepadaMu dari dililit hutang dan ditindas orang

#FBE
#HEbATCommunity
#MariMengHEbAT
#BerjamaahItuKeren

ZPD dan Ban Zhuren

Khairil Azhar
Kepala Divisi Pelatihan Yayasan Sukma Jakarta
Media Indonesia, 20 November 2017

PEMBELAJARAN, bagi Vygotsky, pada 1930, adalah soal mengelola perkembangan untuk menghapus jarak.

Ini setidaknya seperti yang ditulisnya dalam Mind in society: the Development of Higher Psychological Processes.

Jarak itu, kata psikolog prolifik Rusia yang mati muda ini, ada di antara perkembangan aktual dan potensial murid.

Pembelajaran, kata Vygotsky, hanya akan berhasil sejauh tingkat kerumitan isinya berada dalam jangkauan murid.

Pelajaran yang terlampau sulit, banyak, atau terlalu jauh berpeluang menyebabkan demotivasi atau bahkan kegagalan, seperti munculnya kebosanan dan melemahnya kepercayaan diri murid.

Inilah yang disebut sebagai pembelajaran yang mesti merentang dalam wilayah perkembangan maksimal murid, atau zone of proximal development (ZPD).

Berbeda dari Piaget, Vygotsky menekankan pentingnya kehadiran ‘orang lain’, seperti guru, orangtua, atau teman.

Itu tidak saja dalam proses pembelajaran, tetapi juga dalam percepatan perkembangan kecerdasan.

Namun, ini tentu tidak sesederhana bayangan umum tentang pola relasi vertikal antara seorang murid dan ‘orang yang lebih tahu’ (the more knowledgeable others).

Pembelajaran, bagi para Vygotskian, adalah proses dialog atau dialektika dalam sebuah konteks relasional. Di dalamnya ada proses afirmasi atau negasi, penambahan atau reduksi, atau pertarungan tesis dan antitesis.

Belajar adalah proses pergumulan yang dinamis, dalam diri murid maupun secara interpersonal. Kehadiran guru atau orang tua bukan untuk mendominasi, tetapi sebagai mitra dialog supaya jarak antara ketidakmampuan dan kemampuan murid terhapus.

Lalu bagaimana guru tahu tentang jarak di antara kedua perkembangan tersebut? Vygotsky, dalam buku yang baru terbit dalam bahasa Inggris pada 1978 itu, secara tegas bicara tentang kemampuan memecahkan suatu masalah atau menyelesaikan sebuah persoalan secara mandiri.

Ini yang disebutnya sebagai indikasi telah terjadinya perkembangan aktual.

Perkembangan potensial atau potensi perkembangan, selanjutnya, diketahui dengan mencermati tingkat ketergantungan. Seorang guru, mengikuti Vygotsky, mesti mampu melihat “…Sejauhmana ketergantungan muridnya pada bimbingan orang dewasa atau teman belajar yang lebih kapabel dalam memecahkan masalah atau mengatasi persoalan.” Belajar dikatakan terjadi ketika ketergantungan berkurang dan hapus.

Salah satu indikasi umum yang menunjukkan telah terjadinya perkembangan aktual ialah ketika murid mampu menghasilkan sebuah ‘produk’ secara mandiri.

Dalam bentuk paling sederhana, seperti di tingkat TK umpamanya, ini bisa dilihat dari keberhasilan murid menyusun puzzle atau lego.

Secara sosial, perkembangan aktual tecermin dari keberhasilan murid mengelola konflik dan terterima dalam satu komunitas.

Demikian juga, ini bisa dilihat ketika murid mampu merespons suatu fenomena secara kritis dan menghadirkan solusi yang kreatif.

Ban zhuren

Praktik kewalikelasan sejatinya ialah salah satu bentuk penerapan ZPD dalam konteks sistem pendidikan massal, yakni kehadiran the more knowledgeable others.

Wali kelas merupakan penanggung jawab supaya terjadi perkembangan aktual sesuai dengan potensi perkembangan murid-murid di kelasnya.

Wali kelas dalam sistem pendidikan Tiongkok disebut ban zhuren atau sutradara kelas.

Sebagai kunci keberhasilan pendidikan, Liu dan Barnhart, dalam The Educational Forum edisi 63, 1999, menulis “… Wali kelas mengorkestrakan keberhasilan murid dengan membangun suatu komunitas belajar.”

Komunitas belajar itu sendiri dikelola dengan konsep ‘homeroom’ dan ‘home setting’.

Sederhananya, tempat belajar, yang tidak melulu dalam arti ruangan, adalah rumah dan ditata secara rumahan.

Rumah ini merepresentasikan adanya sebuah keluarga belajar yang bertumpu pada kesalingpercayaan mutual trust.

Guru disyaratkan percaya pada potensi perkembangan murid sebagai cermin bagi murid supaya juga percaya pada gurunya.

Dalam tata-kelola rumahan ini, sebagai sutradara, wali kelas berpeluang besar membangun ikatan emosional yang kuat, tidak saja dalam hubungan guru-murid, tetapi juga murid dengan murid.

Keterikatan ini kemudian memungkinkan terciptanya komunikasi yang efektif dan membesarnya peluang untuk bekerja sama.

Bagi guru, proses pembelajaran tentu menjadi lebih mudah.

Ketika komunikasi berjalan efektif, guru bisa secara lebih tepat mendiagnosis perkembangan aktual murid sekaligus memprediksi perkembangan potensialnya.

Bagi murid, selain rasa aman dan nyaman dalam bereksplorasi dan berkreasi, komunikasi efektif dengan guru dengan sendirinya memperbesar peluang melejitnya perkembangan potensial mereka.

Kemandirian murid

Sebuah potret pendidikan di Jepang memberi tahu kita lebih jauh tentang bagaimana guru memfasilitasi berkembangnya kemampuan mengelola diri murid-murid sejak masa prasekolah. Para murid di Jepang, sebagaimana ditulis Catherine C Lewis dalam New Direction for Child Development, edisi 73, 1996, sedapat mungkin diperlakukan seperti orang dewasa. Konsep ini bertumpu pada upaya-upaya untuk memfasilitasi perkembangan kematangan murid.

Dalam risetnya, Lewis terutama menunjukkan bagaimana murid-murid KB, TK, dan SD di Jepang difasilitasi pertama-tama supaya mampu secara reflektif memahami dan memaknai persoalan sosio-relasional mereka.

Berdasarkan pemahaman reflektif ini, mereka selanjutnya tidak saja digiring untuk mampu menemukan resolusi, tetapi juga lebih jauh bertindak secara bersama-sama untuk membangun, merawat, dan mengembangkan kolektivitas.

Salah satu contoh yang menarik ialah bagaimana seorang wali kelas ‘membiarkan’ dua murid yang berkelahi dengan disaksikan teman-temannya, dan dia hanya melihat dari jauh.

Dalam perspektif Vygotskian, tindakan ‘membiarkan’ ini bukanlah tindakan tak terukur.

Sebagai sutradara, sang guru berupaya mengondisikan supaya inisiatif dan upaya menuju gencatan, perdamaian, dan terbangunnya relasi bermula dari murid-murid yang ‘menonton’ perkelahian.

Sebagaimana dicatat Lewis, terjadi perdamaian di antara kedua murid TK yang berkelahi tersebut.

Dimulai dengan adanya inisiasi yang dicetuskan seorang murid, teman-teman mereka yang ‘menonton’ secara bersama-sama membangun resolusi.

Perlu dicatat lebih lanjut, basis perdamaian dalam kasus tersebut bukanlah doktrin klise hasil indoktrinasi atau karena rasa takut.

Lewis mendefinisikan kompetensi (atau agensi) sebagai kemampuan untuk memulai dan menjalankan tindakan dalam berbagai konteks karena pertimbangan kebernilaian (worthwhileness).

Artinya, murid-murid TK tersebut mampu mencerna fenomena secara kognitif dan memutuskan tindakan secara mandiri.

Wali kelas kita

Idealnya, tentu saja, wali kelas di Indonesia mampu mempraktikkan ZPD menjadi ban zhuren seperti di Tiongkok atau memfasilitasi perkembangan kemandirian murid seperti di Jepang, atau bahkan lebih dari itu.

Sayangnya, tak terbantahkan praktik pendidikan kita masih bertumpu pada berbagai bentuk ‘penghakiman’ terhadap akuntabilitas belajar murid.

Di kelas-kelas ada berbagai bentuk tugas, kuis, ujian harian, ujian tengah semester, ujian akhir semester, ujian nasional, dan sebagainya. Murid-murid di sekolah kita born free but tested to death.

Dalam praktik pendidikan semacam itu, tugas utama wali kelas masih melulu untuk memastikan semua muridnya lulus ujian, naik kelas dan tamat sekolah.

Wali kelas lebih banyak bergumul dengan borang, laporan, administrasi, rapat, dan tindakan-tindakan intimidatif supaya murid-muridnya belajar.

Pemimpin Peradaban vs Pemimpin Karbitan

Harry Santosa – Millenial Learning Center
4 Feb 2017

Selama berabad lamanya, di masa lalu, secara alamiah, para pemimpin sesungguhnya selalu memulai karirnya sebagai local leader.

Sejak muda mereka berjibaku menata dan membangun kaumnya sehingga perlahan memiliki rekam jejak kredibilitas baik moralitas maupun karya solutif bagi kaumnya.

Itulah mengapa para local leader di masa lalu, sekaligus adalah local wisdom, karena mereka menguasai benar kearifan kearifan kaumnya sekaligus realita sosial dan problematikanya.

Begitulah para Sunan dan Kyai dahulu. Mereka sejak muda, merintis dakwah dalam sebuah teritori sekelas desa dengan pesantren sebagai sentra peradaban di desa itu.

Kredibiltas dibangun sejak muda melalui beragam karya solutif bagi warga desa dalam semua aspek, sehingga kemudian secara alamiah para Kyai ini diangkat sebagai pemimpin desa atau local community leader yang sangat genuine peran dan karya solutifnya.

Para Kyai ini bukan saja pemimpin spiritual, tetapi seorang arsitek peradaban desa, yang sejak muda berjibaku bersama warga dalam mendidik dan memberdayakan local advantage seperti pertanian, perikanan dsbnya. Sehingga seiring berjalannya usia, kematangan sebagai pemimpin teruji dan terasah hebat.

Empati, ilmu, amanah bukan cuma dihafal dan dinarasikan. Para Kyai ini adalah kearifan berjalan atau local wisdom hidup itu sendiri.

Begitupula Rasulullah SAW. Sebelum masa Kenabian, Beliau telah digelari alAmin, orang yang terpercaya. Sejak muda Beliau ikut membangun komunitas sehingga dipercaya.

Bahkan sampai turunnya Risalah, orang sekampung Quraisy tetap sangat mempercayainya, hanya ajarannya yang ditolak karena ada benturan dengan ajaran Nenek Moyang. Sampai menjelang hijrah ke madinah, Nabi SAW masih menjadi tempat penitipan barang dan harta kaum Quraisy.

Orang orang Quraisy secara umum adalah orang orang hanif yang mudah menerima Islam, paganisme sendiri baru muncul beberapa puluh tahun sebelum Rasulullah SAW lahir karena ajaran berhala yang dibawa para pedagang pendatang. Ajaran Islam dianggap ingin mengubah tradisi nenek moyang dan sistem berhala maka benturan terutama datang dari kalangan bangsawan.

Dalam 23 tahun berdakwah, Rasulullah SAW hanya fokus mengembalikan kearifan dan kehanifan ajaran Ibrahim AS sambil menata sebuah peradaban baru yang dibangun atas potensi potensi fitrah bangsa Arab dipandu Kitabullah. Selama itu Beliau tidak pernah sibuk membangun pencitraan dirinya, namun dicintai dan mencintai ummatnya dengan ikhlash.

Wahyu atau Nilai nilai Islam yang dibawa itulah yang menjadi local wisdom bagi peradaban barunya yang kelak dibawa keseluruh dunia. Dan sebagaimana para local leader lainnya, dirinyapun menjadi “local wisdom” berjalan atau diistilahkan Khuluquhul Quran – Akhlaq nya adalah alQuran.

Betapa pentingnya para Leader ini untuk lahir secara alamiah dari rahim sebuah desa, sebuah komunitas, nagari, kaum, bangsa, dstnya agar semata mata teruji dan terasah kepemimpinannya, maka Islam tidak merekomendasikan konsep Kerajaan dimana kepemimpinan cuma diwariskan atau diturunkan secara turun temurun. Simfoni indah Siroh Nabi SAW seolah ingin menunjukkan bahwa begitulah seharusnya pemimpin sejati dilahirkan.

Kepemimpinan yang diwariskan secara turun temurun sesungguhnya banyak menimbulkan kemudharatan bagi Ummat.

Memilih pemimpin adalah memiilih orang yang akan menjadi arsitek peradaban agar ummat bisa sustain selama ratusan tahun bahkan ribuan tahun.

Kini muncul sistem Demokrasi, yang dicangkok di negeri Muslim. Para Calon Pemimpin, kepemimpinannya diuji langsung lewat program kerja pada sebuah wilayah. Jelas sebagian besar mereka tidak punya “track record” membangun “peradaban” di wilayah itu, apalagi credibility record (mishdaqiyah) baik moral maupun karya solutif di masyarakat pada wilayah itu. Mereka mungkin punya karya namun dalam profesi atau bidang kehidupan yang lain.

Umumnya mereka digadang gadang oleh Partai Politik yang sistem kaderisasinya juga tidak berbasis pada ukuran karya solutif yang dihasilkan pada masyarakat di daerah terkait, bahkan umumnya bukan putra daerah yang sejak muda dikenal luas dengan karya solutifnya bagi ummat dalam teritori tsb.

Jadi pemimpin ala demokrasi ini, suka atau tidak, mohon maaf, hanya “untung untungan” saja sifatnya. Kalau baik ya alhamdulillah, kalau buruk ya astaghfirullah.

Ukuran latar belakang Pengusaha, Professor, Militer maupun Birokrat jelas tidak menjamin derajat kemampuan Kepemimpinan untuk membangun peradaban di wilayah itu.

Walau hari ini keterlibatan partisipasi publik dimaksimalkan dengan model open government, pengawasan kolektif via sosial media serta partisipasi kemitraan publik, tetap saja untung untungan.

Untunglah para Pemimpin Daerah ini sebenarnya bukan Pemimpin sungguhan, mereka hanyalah petugas negara yang digaji oleh uang rakyat. Jadi yang kita pilih sebagai kepala daerah itu, sebenarnya hanyalah kepala administratif yang mengurusi urusan adminsitrasi dan memfasilitasi pembangunan infrastruktur saja. Kepemimpinan mereka jarang sekali atau bahkan tidak pernah lahir dari rahim kearifan lokalitasnya.

Untuk masa depan, mari kita meloncat lebih maju, dari sekedar terlibat dalam partisipasi publik menuju kepada upaya melahirkan “the real local leader” kita sendiri dari komunitas kita sendiri, dari anak anak generasi peradaban kita sendiri, di setiap desa, di setiap komunitas, di setiap teritori tempat tinggal kita.

Mari kita didik fitrah anak anak kita agar tumbuh paripurna, dengan menginteraksikan potensi fitrah mereka itu dengan potensi keunggulan lokal, potensi alam setempat, kearifan lokal yang ada, serta realitas sosial dan problematika masyarakatnya lalu memandunya dengan Kitabullah.

Kelak akan lahir generasi peradaban baru anak anak kita yang tak lagi menengadahkan tangannya pada “kebaikan hati pusat kekuasaan atau para kepala administratif”.

Mereka, anak anak kita kelak, tahu betul bagaimana membangun peradaban desanya atau daerahnya melalui pendidikan dan pemberdayaan desanya atau daerahnya dalam teritori wilayahnya. Merekalah para Pemimpin Peradaban yang sejati bukan pemimpin karbitan.

Mereka sejak muda telah dipenuhi karya karya solutif bagi masyarakat dalam komunitasnya dan mereka bahagia melakukannya. Mereka jelas tidak membutuhkan pencitraan apalagi dukungan partai politik sekalpun.

Ya karena merekalah yang melanjutkan kepemimpinan para Nabi yang berakhlak mulia, para Kyai yang dicintai warganya karena karyanya dan para Local Community Leader yang arif di sepanjang sejarah.

Merekalah kelak yang akan memunculkan kembali khoiru ummah (the best community model) karena mereka adalah the real best local leader.

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

Merdeka Belajar (4): Terus Belajar, Terus Merdeka

Kampus Guru Cikal
November 25, 2016
Oleh Najelaa Shihab
inisiator Komunitas Guru Belajar, dosen Kampus Guru Cikal.

Komunitas guru belajar tidak bisa sendirian. Melawan miskonsepsi tentang pendidikan, hanya bisa dilakukan bersama-sama. Pendidik adalah kita semua, guru, orangtua, peneliti, kepala sekolah, pemimpin komunitas dan organisasi, ketua komite, pejabat pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Dalam mimpi kami, piramida aktor pendidikan perlu dirubah, agar ada proses umpan balik yang baik. Pertanyaannya bukan, “apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk mensukseskan program pemerintah?”, namun;
“apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengumandangkan dan memperbesar skala praktik baik yang sudah dilakukan oleh masyarakat?”. Percepatan amplifikasi dan skala bukan sekedar eksperimen yang bisa direplikasi di semua tempat dengan formula yang sama. Praktik baik melalui proses belajar terus menerus di setiap tempat, yang hanya bisa tercapai dengan kemerdekaan belajar.

Temu pendidik memberikan kesempatan merdeka belajar. Menghadirkan inspirasi, mengajak setiap peserta untuk refleksi dan menyusun rencana aksi. Di temu pendidik kita beragam, ada guru, ada kepala sekolah, ada peneliti, pegiat dan pejabat. Ada yang berfokus di pendidikan formal, non formal atau informal, anak usia dini atau sekolah menengah. Kita punya posisi yang mungkin berbeda tapi disatukan oleh kepentingan yang sama. Pasti ada unsur yang bisa dikolaborasikan. Saya gambarkan temu pendidik sebagai upaya kolaborasi membangun jaringan; jaring pengetahuan dan jaring emosional. Kita tidak melihat siapa yang memiliki label biru, merah atau kuning, tapi melihat bahwa setiap dari kita sebenarnya memiliki warna yang beragam. Di temu pendidik, kita percaya yang esensial adalah mencoba menumbuhkan ikatan cita dan cara.

Belajar bersama bisa berarti mendebat, mengkomunikasikan dan mengadvokasi. Ini bentuk demokrasi sesungguhnya dalam pendidikan. Dan kita bersama akan menyadari arti merdeka yang sesungguhnya. Merdeka bukan soal menunggu orang lain, merdeka belajar adalah percaya bahwa kita dan apa yang kita lakukan adalah apa yang kita nantikan-nantikan.

Peran Pemimpin dalam Peradaban

Harry Santosa – Millenial Learning Center
Oct 09, 2016

Dalam konsep peradaban, sesungguhnya negara hanyalah wadah peradaban, bukan peradaban itu sendiri. Peradaban sesungguhnya adalah manusia secara personal maupun manusia secara komunal di dalam keluarga maupun di dalam komunitas. Keluarga dan komunitas inilah sesungguhnya pemilik peradaban karena dari sanalah lahir para pemimpin, peran serta karya karya peradaban. Community leader is a real leader.

Para pengurus dan pelayan administratif semisal Lurah, Camat, Bupati, Gubernur apakah layak disebut Pemimpin? Mereka sesungguhnya hanya pelayan administratif dan infrastruktur yang “kekuasaan”nya sangat dibatasi dan diawasi UU maupun Legislatif. Mereka, para pemimpin administratif itu bukan real leader, mereka hanyalah ilusi kepemimpinan.

Karena kebanyakan kita adalah manusia yang tercerabut dari komunitasnya, lalu melayang layang di kota besar tanpa memiliki komunitas yang ajeg dengan sosok leader yang kuat maka kebanyakan kita menganggap para pemimpin administratif itu sebagai real leader. Begitupula halnya dengan desa desa maupun daerah yang kebanyakan telah kehilangan kearifan dan pemimpin sejatinya.

Akuilah bahwa kitapun hanya berurusan dengan mereka, para pelayan administratif itu, untuk urusan administrasi dan layanan publik bukan Aqidah maupun hal hal prinsipil lainnya. Bahkan kita bebas untuk beriman, beribadah dan tentu hanya dihukum bila mengganggu kepentingan publik.

Bukankah para Pemimpin Sejati sesungguhnya adalah para leader informal di komunitas? Bukankah kita lebih taat kepada Pemimpin informal ini? Jujurlah bahwa pemimpin di komunitas kita jauh lebih kita taati dalam urusan urusan yang prinsipil dan keimanan daripada para pemimpin administratif? Bukankah kita tahu pemimpin administratif itu banyak tidak hadirnya dalam hal hal yang penting dan prinsip?

Biarkanlah para pemimpin administratif itu sebagai pelayan saja. Lalu mari kuatkanlah dan berdayakanlah komunitas kita dalam urusan prinsipil keseharian dalam segala hal seperti pendidikan maupun pemberdayaan bersama serta urusan lainnya yang menentukan masa depan generasi peradaban anak anak kita di dunia dan di akhirat.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Wahai Ayah Bunda

Harry Santosa – Millenial Learning Center
Sep 29, 2016

Wahai Ayah Bunda yang baik, janganlah merasa sedih dan cemas gelisah, karena aspek internal berupa kesedihan dan kecemasan itu mendatangkan kemalasan dan ketidakbecusan.

Wahai Ayah Bunda yang baik. Rileks dan optimislah. Yakinlah sesungguhnya Allah bukan memanggil mereka yang mampu, namun Allah akan memampukan mereka yang terpanggil utk kembali kpd fitrah peran sejati mendidik anak anaknya sesuai fitrahnya.

Wahai Ayah Bunda yang baik, janganlah merasa malas sehingga melalaikanmu dari mendapat hikmah sehingga menjadi tidakbecus. Sesungguhnya kemalasan dan ketidakbecusan akan memunculkan aspek sosial yang buruk yaitu pelit dan pengecut.

Wahai Ayah Bunda yang baik, maka banyaklah menyebut nyebut nikmat Robbmu akan keindahan amanah keluarga dan anak anakmu. Sebelum mendidik anak, banyak bersyukurlah atas potensi fitrah dirimu dan fitrah anak anakmu, sehingga Allah berikan hikmah yang banyak dalam mendidik sebagaimana Luqmanul Hakim. “…dan sungguh sungguh kami telah memberikan hikmah kepada Luqman, yaitu bersyukurlah kepada Allah…”

Wahai Ayah Bunda yang baik, sesungguhnya sikap pelit dalam sosial untuk berbagi dan belajar serta berkolaborasi dalam sebuah komunitas akan mendatangkan sikap pengecut untuk menegakkan peradaban yang lebih baik untuk generasi masa depan. Sejujurnya kita perlu orang sekampung untuk membesarkan anak. Sesungguhnya sikap pelit akan mendatangkan sifat pengecut untuk membuat perubahan.

Wahai Ayah Bunda yang baik, sesungguhnya mereka yang pelit dan pengecut tidak mungkin menjadi pemimpin dan melahirkan kepemimpinan, bahkan akan mendatangkan ketertindasan dalam ekonomi dan politik. Bila peradaban kita hari ini mengalami krisis kepemimpinan dan dijajah secara ekonomi dan politik itu karena rumah rumah kita barangkali dipenuhi orang orang yang pelit, serakah dan pengecut.

Mari kita rubah realitas keseharian kita dan masa depan generasi dengan merubah cara merasa kita, cara berfikir kita, dan cara bersikap kita. Bacalah doa ma’tsurot (masyhur dibaca oleh Rasulullah SAW) setidaknya tiap pagi dan petang

“Ya Allah, sesungguhnya
aku berlindung kepadaMu dari rasa sedih dan gelisah,
aku berlindung kepadaMu dari kemalasan dan ketidakbecusan,
aku berlindung kepadaMu dari sikap bakhil dan sikap pengecut,
aku berlindung kepadaMu dari dililit hutang dan ditindas orang”

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucatiom
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

#doamatsurot

Full Day School dan “Macan Ternak”: Potret Diri Keluarga Urban

Augustinus Widyaputranto
Pemerhati pendidikan
Pemerhati masalah pendidikan, bekerja sebagai Kepala Bagian Program Development Sekolah Bisnis dan Ekonomi – Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta

Kompas, 11 Agustus 2016

Gagasan Full Day School yang dikemukakan oleh Mendikbud Muhadjir Effendy telah menuai banyak kontroversi dan emosi publik.

Full Day School (FDS) atau yang belakangan diralat oleh Mendikbud menjadi aktivitas “co-curricular”, dianggap oleh sebagian publik bakal “merampas” waktu luang anak untuk bermain dan kesempatan bagi orang tua untuk berinteraksi dengan anak.

Siapa Merampas Waktu Anak?

Kekuatiran publik seperti ini sejujurnya bisa diperdebatkan. Apalagi kalau melihat fakta di lapangan, bahwa sebagian besar anak-anak kita selama ini memang menghabiskan banyak waktu dari pagi hingga sore hari di sekolah.

Mereka menghabiskan waktu reguler belajar di sekolah hingga menjelang sore, lalu dilanjutkan dengan bimbingan belajar/les, atau kegiatan ekstra-kurikuler di sekolah, atau kegiatan lain seperti les keterampilan dan bakat yang diusahakan secara mandiri oleh orang tua. Semua kegiatan ini biasanya selesai hingga menjelang malam hari.

Di kota-kota besar, bukankah tidak sedikit juga kita jumpai sekolah dan orang tua yang “memforsir” anak untuk mengikuti kegiatan ini-itu dengan harapan sang anak dapat menguasai keterampilan tertentu.

Bukankah justru sebagian orang tua, khususnya di kota-kota besar, yang selama ini “merampas” waktu luang anak-anaknya demi menjamin anak-anaknya mendapatkan pendidikan terbaik dengan harapan agar siap masuk pasar kerja atau mendapatkan profesi yang diinginkan?

Dalam konteks yang demikian, maka gagasan FDS oleh pemerintah sebenarnya lebih dianggap sebagai penghalang bagi orang tua kelas menengah atas di kota besar dalam upaya mereka mendidik anak, sebagai bagian dari proses reproduksi kelas sosial dan mobilitas sosial, melalui agenda kegiatan khusus yang dirancang untuk memberi nilai tambah pada modal intelektual dan modal kultural sang anak sesuai dengan keinginan dan harapan orang tua.

FDS memang bisa “merampas” waktu bermain anak dengan lingkungan rumah dan komunitasnya. Dengan catatan, bila keluarga dan komunitas lingkungannya selama ini masih dapat memberikan waktu dan tingkat interaksi yang positif bagi pertumbuhan anak, di mana nilai-nilai keluarga dan kebersamaan dalam lingkungan masih dapat muncul dan diandalkan dalam proses formatif anak.

Sebaliknya, bagi keluarga dan komunitas yang tidak sanggup menawarkan interaksi yang positif dan attentif bagi tumbuh kembang anak, FDS tentu bisa menjadi alternatif yang baik.

Apakah gagasan FDS atau co-curricular perlu dipikirkan untuk menjadi sebuah kebijakan? Apakah negara harus mengintervensi pola asuh anak ketika orang tua dan keluarga memiliki daya adaptif dalam proses pendidikan anak-anak mereka?

Nampaknya hal ini memerlukan kajian yang sangat mendalam dengan memperhatikan konteks demografis, sosial kultural Indonesia yang luas dan beragam.

Ini hal yang tidak mudah dilakukan bagi seorang mendikbud yang baru. Apalagi, program FDS sangatlah membutuhkan biaya dan sarana-prasarana yang tidak murah dan tidak sedikit.

Keluarga, Masyarakat dan Negara

Polemik FDS ini dalam perspektif yang lebih luas sebenarnya menguak fenomena tentang bagaimana negara dan masyarakat memandang pendidikan dan peran keluarga.

Dalam masyarakat urban yang modern, pendidikan dan keluarga akan sangat erat terekat dalam fungsi dan kepentingan ekonominya.

Keluarga dan orang tua di satu sisi akan mengusahakan akses dan fasilitas pendidikan yang terbaik di dalam upaya mereproduksi kelas sosial ekonomi yang bisa menjadi jaminan masa depan anak-anaknya.

Reproduksi kelas dan mobilitas sosial harus diakui sebagai agenda utama yang faktual dalam pendidikan di keluarga Indonesia.

Negara di sisi lain memiliki kepentingan melalui gagasan FDS ini. FDS memberikan solusi integratif bagi negara modern karena turut memfasilitasi orang tua yang intens bekerja dalam dunia industri, ekonomi dan bisnis, dengan menyediakan lingkungan pendidikan anak yang aman, lengkap dengan program kegiatan baik akademik, kultural dan pengembangan karakter untuk anak-anak mereka.

Dalam sebuah penelitian di Yunani (Thoidis&Chaniotakis, 2015) ditemukan fakta bahwa efek FDS justru memberikan kontribusi yang sangat besar bagi orang tua di dalam meningkatkan situasi lingkungan kerja dan juga performa pekerjaannya.

Penelitian itu juga menyebutkan bahwa bagi keluarga menengah ke bawah, FDS yang disubsidi pemerintah sangatlah membantu tumbuh kembang anak secara integral, khususnya bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Dalam konteks yang lebih besar, dengan demikian gagasan FDS adalah salah satu bentuk kemampuan adaptif masyarakat urban-modern dan industrial-kapitalistik dalam mereproduksi diri dan mengupayakan keberlanjutannya, dan di sisi lain tetap menjaga pertumbuhan, produktivitas dan stabilitas ekonomi.

“Macan Ternak” dan Daya Adaptif Keluarga Urban

Mendikbud Muhadjir Effendy menyebut bahwa gagasan FDS ini dilatarbelakangi oleh harapan agar peserta didik terbangun karakternya dan tidak menjadi liar di luar sekolah ketika orangtua mereka masih belum pulang dari kerja.

Dari pernyataan mendikbud ini, lingkungan eksternal anak sebenarnya dinilai sudah tidak kondusif bagi tumbuh kembang anak, sehingga anak perlu “dikurung” di dalam sekolah sampai orang tua hadir kembali untuk anak-anak mereka.

Di sisi lain, dapat juga diasumsikan bahwa dalam masyarakat yang berpusat pada pasar kerja yang kapitalistik, fungsi keluarga sudah tidak dapat terlalu diandalkan lagi sehingga pola asuh anak perlu diintervensi oleh negara melalui FDS.

Pengaruh dari tidak kondusifnya lingkungan dan juga motivasi untuk reproduksi kelas sosial dalam konteks pendidikan anak bagi keluarga urban dapat kita lihat secara jelas dalam fenomena “macan ternak” atau MAma CANtik “anTER” aNAK sebagaimana pernah diangkat di Harian Kompas, 21 Februari 2016.

Fenomena “macan ternak” yang setiap hari mengawal kegiatan anak dari pagi subuh hingga malam ini bisa dilihat sebagai strategi dan daya adaptif dari keluarga-keluarga urban/kota besar dalam menyikapi lingkungan eksternal yang tidak kondusif dan tuntutan reproduksi kelas dan mobilitas sosial.

Ibu-ibu muda ini rela mundur dari karirnya yang cemerlang demi mendukung anak-anaknya bersekolah sekaligus menjamin keselamatan anak-anaknya setiap hari dari pengaruh lingkungan yang buruk.

Tentu fenomena “macan ternak” ini, di satu sisi dapat menjadi peringatan bahwa negara harus dapat menjamin rasa aman, dan menyediakan pendidikan nasional yang baik secara merata.

Di sisi lain, fenomena ini mengingatkan kita betapa pendidikan dan keluarga urban itu sangatlah terekat dalam nilai dan kepentingan ekonominya.

Revitalisasi Keluarga Indonesia

Negara harus berperan di dalam menggerakkan keluarga-keluarga Indonesia untuk berpartisipasi dalam pendidikan anak-anaknya di tengah tuntutan ekonomi dan keterbatasan partisipasi orang tua.

Namun pendidikan ini bukanlah pertama-tama didasari kepentingan reproduksi kelas sosial, namun harus berfokus pada pendidikan yang membangun “jiwa” anak.

Dalam konteks pendidikan dasar dan menengah, sangatlah tidak adil dan tidak bijak bila sebagai orang tua dan pendidik kita sudah mengkondisikan anak tentang pilihan profesi masa depan, ambisi orang tua, demi mobilitas sosial keluarga.

Pendidikan yang membangun jiwa anak inilah sebenarnya tugas besar dan fokus dari Mendikbud Muhadjir Effendy.

Rasa aman, pendidikan yang merata, kesejahteraan ekonomi, dan perhatian pada keluarga, anak-anak dan orang muda seharusnya menjadi perhatian besar pemerintah Presiden Jokowi di dalam mendukung pendidikan semacam ini.

Revitalisasi nilai dan peran keluarga Indonesia harus menjadi fokus besar pemerintahan ini bila masih concern dengan Revolusi Mental.

Presiden dan Mendikbud hendaknya tidak terjebak pada strategi-strategi mikro di dalam mengurusi pendidikan nasional, tetapi juga harus berani membenahi nilai fundamental dalam pendidikan, yaitu fungsi dan peran keluarga.

Dengan kondisi masyarakat sekarang, fungsi dan peran keluarga sudah lama hancur digilas roda dan pertumbuhan ekonomi.

Fenomena “macan ternak” memberikan gambaran betapa keluarga Indonesia itu sedang “sekarat” diterpa tuntutan hidup dan gaya hidup urban-modern yang kapitalistik, serta juga terancam dari ketidakadilan pembangunan dan sistem ekonomi yang ada, serta absennya hukum dan wibawa/integritas aparat terhadap kejahatan.

Kebijakan pendidikan dasar dan menengah haruslah berakar pada fungsi dan peran keluarga. Kalau pemerintah dan keluarga Indonesia masih tergoda untuk semata-mata menempatkan pendidikan nasional demi kepentingan ekonomi, maka kebijakan dan praktik pendidikan kita tidak akan mengubah banyak hal fundamental.

Pendidikan Di Tahun 2030 : Open Source Dan Berbasis Komunitas

Oleh : Mei Chua
(Hacker, Member Red Hat’s Community Architecture team)

OpenSource.Com – Saya ingin berdiskusi tentang bagaimana pendidikan akan terlihat pada 20 tahun yang akan datang. Saya pikir, pada tahun 2030, sekolah-sekolah kita akan meniru komunitas Open Source.

Catatan: Secara teori, istilah Open Source, diartikan sebagai prinsip-prinsip dan metodelogi yang bertujuan mempromosikan akses terbuka terhadap tahapan produksi dan desain pada sebuah produk atau sumber daya apapun.

Jadi sebenarnya tidak terbatas kepada perangkat lunak. Namun memang istilah Open Source lazim diterapkan pada kode sumber (source code) dari software yang dibuat untuk kepentingan public secara umum dengan tidak adanya batasan hak atas kekayaan intelektual. Prinsip ini menyediakan kebebasan kepada user untuk membuat isi sebuah software secara bertahap maupun berkolaborasi.

Coba perhatikan beberapa proyek Open Source utama : Fedora, Mozilla, bahkan Python. Perhatikan dengan seksama. Begitulah jurusan Ilmu Komputer anda, mata kuliah karya tulis teknik anda, jurusan rekayasa perangkat lunak anda dan jurus informatika anda. Di beberapa tempat, bahkan itu sudah diterapkan. Sekarang bayangkan bahwa mereka adalah tambahan untuk jurusan-jurusan lain. Sekolah seni, Jurusan Film, Sekolah Dokter Hewan, atau jurusan yang tidak populer semacam orang-orang yang mempelajari puisi-puisi Yunani. Apa yang akan terjadi ?

Mari mulai pada tahap awal : Penerimaan Siswa. Walaupun telah banyak sistem penerimaan yang dianggap sukses setidaknya di tiga sekolah (SMA, Kampus dan kini tempat saya mengambil gelar PhD pertama), saya tidak pernah mengerti betul bagaimana proses penerimaan yang sesungguhnya. Sekolah akan meminta anda untuk membuktikan potensi yang anda miliki sebelum mereka mengizinkan anda menjadi bagian dari mereka.

Masalahnya adalah, saya tidak yakin apakah memecahkan masalah aljabar di SAT adalah alat prediksi yang relevan jika – misalnya – anda ingin menjadi seorang dokter gigi profesional, atau apa hubungan antara nilai sejarah anda yang tinggi dengan kesuksesan anda sebagai pengacara. Saya telah bertanya kepada rekan-rekan dari industri dan tebak apa jawab mereka ? Mereka tidak pernah bertemu dengan kustomer yang bertanya bagaimana memecahkan teorema Pythagoras sebelum menyetujui suatu kontrak.

Saya ditunjukkan beragam nilai dan test yang dianggap berhubungan dengan hal-hal penting semacam kecerdasan dan motivasi. Tapi mengapa harus memberikan mainan anak-anak untuk menunjukkan kecerdasan dan motivasi ? Anda tidak merekrut seseorang untuk memecahkan masalah mainan, anda merekrut orang untuk memecahkan masalah yang sebenarnya.

Mungkin saja memecahkan masalah mainan adalah alat prediksi yang bagus tentang bagaimana anda dapat memecahkan masalah sebenarnya, tapi saya berpendapat bahwa memecahkan masalah nyata adalah alat prediksi yang lebih baik untuk memperkirakan berapa baik anda dapat memecahkan sebuah masalah sebenarnya.

Itulah mengapa saya menunjuk ke open source, karena ia merupakan perbandingan yang bagus untuk sistem-sistem penilaian yang ada. Selain itu di dalam komunitas open source, tidak sekedar diasumsikan bahwa anda dapat membuat perbedaan, tapi diharapkan anda AKAN membuat perubahan.

Komunitas Open Source percaya bahwa potensi hanya bisa terbukti ketika dia bermanfaat. Dalam dunia Open Source, anda tidak membuktikan bahwa anda dapat melakukan sesuatu, tapi anda harus melakukannya, kemudian pembuktian bahwa anda mampu akan mengiringi saat anda selesai melakukannya. Sumber untuk belajar dan melakukan sesuatu tersedia bahkan sebelum anda bertanya tentangnya.

Tidak ada proses pendaftaran bagi setiap orang, yang ada hanya keterlibatan. Ini adalah sebuah mentalitas kelimpahan. Apa biaya yang harus anda keluarkan bagi komunitas untuk mencoba ? Tanggung jawab pembelajaran ada pada tangan anda sendiri, orang lain dapat dan seringkali membantu anda, tetapi mereka tidak berkewajiban untuk itu. Konten dan kode, dan bahkan perangkatnya, tersedia bebas, dan waktu yang ingin anda habiskan untuk belajar terserah pada diri anda sendiri.

Ketika sumber daya bersifat langka dan mahal, adalah hal yang masuk akal untuk mengontrol akses pada sumber daya itu. Anda tidak akan menyia-nyiakannya. Tetapi data, informasi dan perangkat untuk belajar, bereksperimen dan bereskplorasi – saat ini tidaklah lagi langka dan mahal. Kita tidak harus merekam ceramah, atau menyalin tulisan tangan yang panjang, atau bahkan membawa ensiklopedia dari kota ke kota yang lain.

Kita dapat melakukan hal itu, tapi kita tidak harus melakukannya untuk mengakses dan mentransfer informasi tersebut. Menyimpannya di flashdisk adalah perangkat transfer data terbaik dibandingkan dibalik tengkorak manusia. Dapatkah saya menulis sebuah script Python yang mengurutkan database semantik lebih cepat daripada data yang saya bisa dapatkan dari Wikipedia ? Revolusi informasi sudah terjadi – atau setidaknya pada sebagian teknologinya. Dan kini kita sedang berjuang untuk mengejar ketertinggalan kemampuan berfikir dan mengajar yang kita miliki.

Guru bukan lagi sebuah “leher botol”, penjual dan penyedia informasi. Ini tidak membuat mereka kemudian menjadi usang. Hal ini justru membuat mereka menjadi jauh lebih penting sebagai pemandu yang akan membantu kita untuk memahami kekayaan data yang tersedia bagi kita. Kini sekolah dan perpustakaan bukanlah satu-satunya tempat dimana anda dapat menemukan materi pembelajaran berkualitas, karena ia sudah berubah dari tempat berkumpul untuk mendapatkan informasi menjadi tempat berkumpul bagi para pembelajar.

Tetapi belajar dapat – dan telah dilakukan diluar hubungan guru – murid. Itulah yang selama ini dilakukan, tetapi tidak bisa melakukan pembelajaran dengan cepat, tidak mendalam dan tidak seluas saat ini. Mengapa kita bahkan ingin mengatakan siapa yang dapat dan tidak dapat mempelajari sesuatu ? Jika perangkat dan pengetahuan bersifat terbuka dan bebas untuk diakses, seperti di komunitas open source, adalah bukan hal yang merugikan untuk membiarkan orang lain mencobanya. Sekali lagi, ini adalah mentalitas kelimpahan. Ketika anda berhenti khawatir akan kehabisan sumber daya, anda dapat mulai peduli pada orang-orang.

Dan anda tahu ? Beberapa orang akan gagal. Saya berharap mereka gagal. Itulah bagaimana anda belajar. Hamparan informasi yang ada saat ini penuh dengan hal-hal yang salah, ilmu pengetahuan yang keliru dan fakta-fakta yang tidak tepat. Tapi itu tak mengapa. Hal tersebut mengajarkan kita untuk menjadi kritikus yang baik, mengajarkan untuk mengevaluasi data yang kita dapat, dan menentukan apakah data tersebut benar atau tidak. Kita akan berupaya memverifikasi sumber kita. Ini adalah skil penting di era informasi saat ini.

Dan intinya adalah, komunitas open source telah menemukan cara untuk membuat orang-orang gagal dan gagal lagi. Untuk memaklumi kesalahan yang mereka buat. Mereka belajar dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan – bahkan yang diulangi – dan ketika mereka berhasil melakukan sesuatu, usaha yang telah mereka lakukan lebih besar daripada kesalahan yang dilakukan. Dan saya ingin sekali melihat lebih banyak sekolah dan perusahaan yang memperkenankan orang-orang untuk melakukan hal yang sama.

Terjemah Bebas oleh Pengelola Blog http://tanyarezaervani.wordpress.com

Sistem Pendidikan Negara Kita

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Wahai negara, mengaku sajalah bahwa sistem pendidikan negara kita gagal. Kini semua hal menjadi darurat. Museumkan saja kurikulum usangmu. Sudah terlalu lama kalian melenakan para orangtua menjadi para tukang titip anak anak. Kalian sudah memasung fikiran orangtua bahwa sukses mendidk itu jika lulus UN, perayaan wisuda, dan bergelar berderet deret.

Lihatlah anak anak kita dipaksa bisa baca sejak PAUD tapi jadi malas belajar dan malas membaca seumur hidupnya, lihatlah mereka diabaikan kodratnya sehingga buta bakatnya dan tidak tahu peran terbaiknya sampai mati, lihatlah mereka tahu agama tapi buruk moralnya, lihatlah mereka tahu sains tapi tidak tahu melestarikan alam, lihatlah para sarjana kalian tidak kompeten dan tak laku di pasar kerja, lihatlah lihat jangan cuma menjual ilusi kemajuan.

Semua bencana yang menimpa generasi anak anak kita, yang kini semakin meluas dan parah itu adalah bukti betapa rentan dan rapuhnya rumah dan jamaah. Anak anak kita sejak lama tercerabut dari akar rumah dan komunitasnya, masjid masjid dan rumah rumah sepi dari mendidik anak secara utuh dengan karya hebat, orangtua sejak lama dibelenggu tangan dan kakinya, dimandulkan lisan dan telinganya di hadapan anak anaknya, juga dilumpuhkan aqal dan perasaannya untuk mampu dan berani mendidik anak anaknya sendiri.

Wahai orangtua, ini salah kita sendiri, kita para orangtua yang melalaikan fitrah peran mendidik, menyerahkan sepenuhnya pada lembaga, mendidik anak sekadarnya saja, lebih khawatir jika anak tidak pandai akademis dan tidak berstatus shalih daripada berproses menjadi dirinya sendiri dan berproses untuk mencintai kebenaran sesuai fitrahnya dan KitabNya.

Sudahlah negara, mundurlah dari campurtangan mendidik generasi, kuatkan saja peran orangtua dan komunitas untuk berani dan kreatif mendidik anak anak mereka sendiri. Fasilitasi saja para orangtua dan komunitas agar hebat mendidik anak anak mereka sendiri, toh tiap keluarga dan tiap komunitas unik. Memang negara tahu semua? Jadi negara fokus saja pada riset dan perguruan tinggi.

Sudahlah para orangtua kembalilah kepada rumah dan jamaahmu, apa sih yang kita cari? Ayo didiklah anak anak kita secara bersama, bahu membahu, sebelum semuanya terlambat. Ayo bangkit, perkuat kemandirian komunitas untuk peradaban yang lebih baik.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak
‪#‎pendidikamberbasispotensi‬