Komunikasi Pengasuhan – Rumus Mendengar Aktif

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #62

Di dua artikel sebelumnya, kita telah membahas tentang mendengar aktif dan manfaatnya untuk anak. Kita perlu melatih nya setiap hari agar menjadi cara kita berkomunikasi yang alami.

Mendengar aktif dibutuhkan dalam berbagai kondisi, terutama kondisi ketika perasaan anak sedang penuh, baik oleh emosi positif ataupun emosi negatif. Bagaimana memulai mendengar aktif ?

Pertama, baca bahasa tubuh anak. Karena bahasa tubuh menyiratkan emosi lebih akurat daripada kata-katanya. Supaya anak terbiasa jujur dengan bahasa tubuhnya, maka kita sebagai orangtuanya dulu yang perlu duluan mencontohkan bahasa tubuh yang jujur. Kita orangtuanya perlu terbiasa mengekspresikan perasaan apa adanya ke anak, tidak jaim (jaga image), sehingga anak akan meniru cara kita dan terbiasa mengekspresikan perasaan dengan bahasa tubuh yang jelas.

Kedua, dengarkan anak bicara apa adanya, tanpa dipotong, dinilai, atau ditanggapi. Ketika itu, anak akan mengeluarkan semua emosinya. Kalaupun anak menangis atau tampak beraksi berlebihan, tidak perlu dipotong atau dihentikan. Anak masih berlatih mengendalikan diri dan emosinya. Beri dia waktu untuk berlatih itu. Kita cukup menanggapi dengan minimal encourages yang menunjukkan kita memperhatikannya, misalnya : “Mmm …” / mengangguk-ngangguk / “Terus ?”.

Ketiga, ketika tensi emosinya sudah menurun, dan waktunya sudah tepat untuk menanggapi, mulai dengan Restating (menyatakan kembali) untuk meng-crosscheck perasaannya. Misalnya : “Adek merasa kesal ya ?”.

Jika penjelasan anak cukup panjang, maka kita bisa menanggapi dengan mendaftar apa saja yang dia rasa, misalnya : “Adek merasa kesal, sakit hati, tidak dihargai ?”

Jika anak menyampaikan potongan potongan informasi, kita juga bisa bantu merangkum dan lalu menanyakan lagi ke anak. Misalnya : “Dari cerita Adek, sepertinya Adek ingin teman Adek tahu bahwa Adek tidak mau diperlakukan seperti itu. Benar begitu ?”

Dengan rangkaian pertanyaan untuk memvalidasi perasaan anak, maka kita membantu anak mengenali bahwa perasaan itu berbeda-beda, dan dari situ dilanjutkan membantu anak mengenali apa pemicu yang menyebabkan perasaan anak. Misalnya : “Adek merasa kesal karena temanmu menjauhimu ?”.

Mengetahui perasaan sendiri, dan apa penyebabnya, adalah setengah jalan menuju solusi. Melompati tahap tahap ini hanya akan membuat anak merasa bingung dengan dirinya, sehingga cenderung mudah galau menghadapi masalah. Karena tidak terbiasa mencari akar penyebab perasaan, dan tidak terbiasa mengenali dan mengelola perasaannya.

Jadi ayah bunda, untuk membantu anak anak kita tumbuh tangguh dan siap menghadapi berbagai tantangan, mari kita mulai dengan mendengar aktif anak kita. Selamat berkomunikasi yang menyenangkan 🙂

Advertisement

Komunikasi Pengasuhan – Karena Dua Lebih Banyak Daripada Satu

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #61

Mendengar aktif adalah cara orangtua memahami perasaan anak. Ketika orang tua mendengarkan sepenuh hati, dan tanpa penilaian, anak akan menangkap pesan bahwa diri anak itu penting bagi orangtuanya, bahwa perasaannya penting dan diterima.

Mendengar aktif paling diperlukan ketika anak sedang merasa penuh emosinya, baik emosi positif maupun emosi negatif. Anak perlu mengeluarkan dulu semua yang dia rasa, caranya dengan bercerita.

Setelah anak bercerita, hal pertama yang kita lakukan adalah validasi. Misalnya anak bercerita keluhannya tentang temannya yang usil, maka kita validasi dengan bertanya “Oh, jadi adek ga nyaman karena temannya usil ke Adek ?”.

Validasi ini penting, karena kita meng-crosscheck perasaan anak, apa tebakan kita tentang perasaannya benar atau salah. Dengan validasi, sebenarnya kita sedang memperkenalkan ke anak, bahwa emosi itu ada namanya, dan penting untuk anak mencari tahu sendiri, dia sekarang sedang merasakan emosi yang mana.

Setelah divalidasi, anak menjawab, dia akan lanjut bercerita. Dengarkan ceritanya, dan terus validasi. Misalnya Adek melanjutkan “Adek marah karena Adek ga suka diusilin !”. Kita validasi dengan bertanya “Ibu lihat Adek marah banget ya ? Kalau pake jari Ibu, 1 sampai 10, 1 kalau marahnya dikit, 10 kalau maraaaah banget. Nah Adek marahnya sampe segimana sih ?”. Anak berpikir lalu menjawab “mmm … delapaaaan !”.

Dengan cara ini, anak jadi tahu skala perasaan dia. Mengetahui sejauh mana perasaan sendiri, akan membantu anak mencari solusi menangani emosinya sendiri. Sangat marah dengan marah sedikit, tentu berbeda penanganannya.

Selain itu, dengan didengar secara aktif, anak akan merasakan komunikasi yang alami. Kenapa ? karena begitulah manusia diciptakan, diberi kapasitas mendengar dan mengolah perasaan. Itulah mengapa Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut. Untuk digunakan lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Dengan mendengar aktif, orang tua menggunakan telinganya lebih sering daripada mulutnya ketika anak sedang berbicara perasaannya. Bayangkan betapa damainya perasaan anak, ketika seluruh emosinya tercurah dengan positif, ditanggapi dengan sepenuh hati dan tanpa penilaian. Anak yang terbiasa didengar akan tumbuh jadi anak yang peka dan bisa merasakan perasaan orang lain. Karena sejak kecil, ia sudah terbiasa didengar dan dihargai, jadi dia tahu bagaimana caranya mendengar dan menghargai orang lain.

Tentu membahagiakan mendampingi tumbuh kembang anak yang bahagia dan percaya pada kita, orangtuanya. Gunakan dua telinga kita lebih sering daripada satu mulut kita, terutama ketika emosi anak sedang penuh. Dan bersiaplah untuk komunikasi yang menyenangkan 🙂

Komunikasi Pengasuhan – Hearing Is Not Listening

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #60

“Ibu … ibu ….!” anak memanggil, menarik-narik baju. “Hmm .. apa sih nak ?” tanpa mengalihkan perhatian dari TV, ibu menjawab anaknya. Tanpa sadar kita sering melakukan ini ke anak kita, ini bukanlah mendengar yang benar. We’re just hearing, not listening.

Kalau kita jadi anak, lalu orang tua kita hanya menanggapi pertanyaan kita, singkat sambil lalu, apa perasaan kita ? Merasa tidak dihargai bukan ?

Lalu apa yang membuat kita merasa dihargai ? Mudah, didengarkan dengan benar. Ketika kita didengarkan, kita merasa kita penting di mata si pendengar. Kita merasa perasaan kita penting dan diterima. Setelah itu, kita jadi jauh lebih tenang dan mudah untuk mencari solusi. Begitu juga dengan anak kita. Mendengar dengan cara yang benar adalah mendengar aktif.

Mendengar aktif adalah mendengar dengan sepenuh hati, untuk memahami dan menerima perasaan yang diutarakan si pembicara. Ini seni mendengar yang sudah mulai hilang dalam pengasuhan kita. Dan kita lebih sering mendengar selektif atau bahkan tidak mendengar sama sekali.

Ketika kita mendengar aktif, kita menghadapkan diri kita ke anak, mensejajarkan pandangan mata dengan anak. Tujuan kita mendengar aktif adalah memahami apa yang mau disampaikan anak, dan apa perasaannya. Untuk itu, maka kita perlu menghilangkan pikiran menilai, menghakimi, mengukur-ngukur, atau bahkan mempersiapkan jawaban.

Ini kontras dengan yang biasa kita lakukan, kita masih sering mendengar anak dengan tujuan untuk memberi komentar. Maka kita menunggu kata kata kunci dari anak yang bisa kita tandai sebagai kelemahan untuk dikomentari. Kita bukannya mendengarkan anak, malah menyiapkan amunisi untuk menyerang balik. Pikiran kita penuh dengan menilai dan mengukur setiap pernyataan anak. Mata kita abai melihat bahasa tubuh anak, dan jadinya tidak bisa menangkap maksud di belakang kata-katanya. Akhirnya, kita tidak paham apa yang disampaikan anak. Kita hanya sibuk dengan ukuran dan penilaian sendiri.

Lalu ketika tiba saatnya kita menanggapi anak, kita tidak bisa memisahkan emosi dan ego dari jawaban kita. Sehingga yang tadinya berawal dari obrolan biasa, lambat laun malah jadi debat, dengan selera masing-masing. Bayangkan jika begitu cara kita berkomunikasi, maka itu juga yang akan ditiru anak. Hanya tinggal menunggu waktu.

Ayah bunda tentu ingin punya hubungan yang baik dengan anak, maka mari kita perbaiki cara kita mendengarkan anak.

Mendengar aktif akan membuat anak dan orang tua merasa dihargai, mendekatkan hubungan, meningkatkan kepercayaan, dan tentu menjalin ikatan yang erat antara orang tua dan anak. Anak perlu didengar secara aktif sehingga tumbuh besar menjadi dewasa yang merasa berharga dan matang.

Komunikasi Pengasuhan – Kisah dari Negeri Kendot

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #59

Setelah Jenderal Kendut dan Jenderal Kendot membahas hasil investigasi para mata-mata, hari ini seluruh orangtua di Negeri Kendi berkumpul di balai kota. Tak hanya para orangtua, Kendut muda dan Kendot muda juga ikut berkumpul. Mereka ikut hadir karena keprihatinan mereka atas teman-teman sebaya mereka yang terjebak pada kehidupan yang gelap.

Jenderal Kendot membuka pertemuan dan menyampaikan data mengenai anak dan remaja di Negeri Kendi. Warga Negeri Kendi baik para Kendut maupun Kendot tercengang dengan kenyataan yang ada. Akhirnya mereka menemukan akar permasalahan yang terjadi. “Kita harus mengubah cara mengasuh kita,” ujar seorang Kendot sambil menyeka air matanya. “Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku berempati terhadap perasaan anakku,” ujar Kendot yang lain.

Kehidupan berjalan seperti biasa, namun hari itu ada yang luar biasa. Di hutan belakang bukit, Kendot remaja berkumpul.

“Apakah kalian merasa ada yang berbeda dengan orangtua kita?,” ucap Kendot remaja yang tampaknya adalah pemimpin mereka.

“Ya, aku rasa orangtuaku jadi lebih banyak memujiku. Aku tidak tahu apakah orangtuaku tulus atau ada maunya terhadapku,” jawab seorang Kendot remaja cantik berwarna merah muda.

“Aku juga. Dan aku merasa semakin mirip dengan para Kendut. Apakah ini petanda bagus?,” Kendot remaja yang lain berujar

“Aku tidak tahu. Yang pasti, banyak geng motor yang membubarkan diri. Kalaupun masih ada, kini mereka membuat kegiatan bersama para Kendut membagi-bagikan makanan pada pengemis dan pemulung.”

***

Di ujung gang, di Wilayah Kendot. “Men, cimeng yang ini asik banget. Surga rasanya deket”, seorang Kendot remaja dengan mata merah berair menyodorkan lintingan ganja pada temannya sesama Kendot remaja.

Yang disodori mundur selangkah, tubuhnya menolak.

“Kenape lu men? Ga punya duit? Ah elu, gratis nih gua kasih. Kita kan sahabat!”, bujuknya dengan nada suara yang jelas sekali memperlihatkan bahwa ia dalam setengah kesadaran.

“Gue udah enggak. Sori ya bro. Gue ga butuh itu lagi,”

“Hahaha, ga butuh? Sejak kapan lo? Orangtua lo udah insap?Paling juga mereka balik lagi,” kini mimiknya menunjukkan kemarahan dan ancaman

“Yang gue tau, orangtua gue makin baik. Itu cukup jadi alasan gue untuk jaga kepercayaan mereka,”

“Sok baik lo, ga asik!”

Kendot remaja yang kini tubuhnya semakin bulat terisi itu pergi dengan senyuman terindah setelah menepuk pundak temannya yang sedang nge-fly. “Semoga lo segera dapet apa yang gue rasain sekarang, bro”.

Komunikasi Pengasuhan – Kisah Jenderal Kendut dan Jenderal Kendot

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #58

Alkisah, di Negeri Kendi ada dua kendi yang sedang berbincang serius. Mereka berdua adalah Jenderal kendi, bernama Kendut dan Kendot. Kendut adalah jenderal para Kendi Gendut berbentuk bulat, berisi penuh, berwajah ceria dan penuh senyuman. Sebaliknya, Kendot adalah jenderal para Kendi Peyot berbentuk lonjong, kosong, dan wajahnya suram.

Kendut dan Kendot tampak sedang serius sekali. Mereka sedang berdiskusi mengenai laju migrasi warga Kendut ke wilayah Kendot yang sangat tinggi. Mata Kendut yang biasanya berbinar-binar, alisnya berpadu di tengah petanda ia berpikir keras. Sedangkan Kendot tampak sangat stress karena laju perpindahan penduduk yang terus bertambah dari tahun ke tahun ini bahkan didominasi oleh anak-anak.

Dulu, seluruh wilayah di Negeri Kendi hanya dipimpin oleh Jenderal Kendut. Semua warga berbentuk bulat, berisi penuh, berwajah ceria dan penuh senyuman. Namun, sejak Negara Api menyerang, tiba-tiba banyak warga yang berubah dan membuat keonaran. Untuk menjaga stabilitas Negeri Kendi, akhirnya Jenderal Kendot mengumpulkan mereka yang suka berbuat onar untuk membentuk wilayah baru di tepi Negeri Kendi. Jenderal Kendot sendiri adalah sahabat Jenderal Kendut yang menyamar dan berubah wujud serupa dengan para warga yang berubah, strategi yang cantik agar diterima.

“Kendut, wargaku semakin banyak dari hari ke hari. Kita harus tahu kelemahan kita dan kekuatan Negara Api”, ujar Jenderal Kendot

“Benar, sahabatku. Aku akan mengirimkan mata-mata untuk menyusup ke kehidupan Wilayah Kendut, Wilayah Kendot, dan Negara Api”, jawab Jenderal Kendut

Beberapa minggu kemudian, mereka kembali menggelar pertemuan rahasia. Mereka membahas hasil investigasi mata-mata Jenderal Kendot. Berikut hasilnya,

Kehidupan Wilayah Kendut : Anak-anak di Wilayah Kendut sangat bahagia. Orangtua biasa mengisi Kendut kecil dengan pujian, penghargaan, pengakuan, dan kasih sayang. Kendut kecil juga merasa bahagia karena perasaan mereka diterima. Keluarga mereka terbiasa membahas perasaan dan komunikasi di tengah keluarga mereka sangat hangat. Hal ini membuat konsep diri Kendut kecil menjadi positif. Kendut kecil yang perasaannya diterima, tidak menyimpan perasaan negatifnya. Mereka lebih nyaman terhadap dirinya dan orang disekitarnya. Mereka tumbuh menjadi Kendut kecil yang cerdas, humoris, dan menikmati pergaulan dengan orang lain.

Kehidupan Wilayah Kendot : Anak-anak di Wilayah Kendot berwajah murung dan cenderung berpikiran negatif. Hal ini yang membuat mereka kerap berbuat keonaran. Orangtua Kendot kecil seringkali tanpa sadar menarik pujian, penghargaan, pengakuan, dan kasih sayang dari dalam tubuh anak-anaknya dan mengisinya dengan cacian, kecaman, ejekan, bentakan, dan hukuman. Akibatnya, mereka merasa tidak diterima, merasa diabaikan, tidak dianggap, merasa tidak berharga dan mereka berubah menjadi anak yang tidak bahagia. Keluarga mereka kerapkali menidakkan perasaan anak dan komunikasi di tengah keluarga mereka membuat anak-anak merasa tidak nyaman. Hal ini membuat anak-anak di Wilayah Kendot tidak punya saluran untuk mengalirkan perasaan negatifnya. Perasaan negatifnya tersimpan sehingga ia merasa tidak nyaman dengan dirinya atau orang disekitarnya, serta menjadi anak yang BLAST (Bored Lonely Afraid-Angry Stress Tired – Bosan, kesepian, takut, marah, stres, dan lelah). Mereka tumbuh dengan konsep diri yang negatif.

Kehidupan Negara Api : Mereka terus menerus melakukan penelitian dan menemukan bahwa orangtua yang terlalu sibuk dengan urusan yang materialistis akan menciptakan anak-anak dengan kondisi mental yang BLAST. Dan anak-anak dengan kondisi mental yang BLAST ternyata merupakan ‘target utama’ dan akan menjadi pelanggan yang loyal bagi bisnis yang mereka jalankan. Mereka bisa menjual apa saja bagi anak-anak bermental BLAST. Mulai dari rokok, miras, narkoba, hingga pornografi, sementara orangtua mereka sibuk dan tak ada waktu memberi perlindungan kepada mereka.

Jenderal Kendut dan Jenderal Kendot bertatapan lama sekali. “Aku sama sekali tidak pernah menyangka tentang hal ini. Kita harus segera mengumpulkan seluruh kendi untuk menyelamatkan anak-anak kita”, ujar Jenderal Kendot sambil bangkit dari duduknya.
Bersambung…

Komunikasi Pengasuhan – Begini Caranya Bicara Perasaan

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #57

Anak baru saja pulang dari rumah teman, membuka pintu dengan kasar, menutupnya dengan keras, berjalan dengan langkah lebar dan cepat, mukanya tegang dan merah, matanya melotot dan basah, bibir tajam, tangan mengepal. Langsung masuk kamar, tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya.

Ibu bingung melihat anaknya seperti itu. Lalu bertanya, setengah teriak sambil mengejar anak “Kamu kenapa Dek ? Cerita dong, kalau kamu diem aja kan Mama ga ngerti !”. Anak tetap diam, masuk kamar, membanting pintu.

Kejadian yang umum bukan ? apakah komunikasinya berhasil ? Tidak.

Apa yang membuat komunikasi menjadi dead lock di kejadian tadi ? Ya, karena ibu mengabaikan bahasa tubuh anak. Saat anak datang dengan bahasa tubuh yang sangat jelas, maka kita bisa melihat bahwa emosi anak sedang sangat penuh. Yang dia butuhkan adalah ruang untuk menumpahkannya. Pikirannya kalut dan sulit mengurai perasaan sendiri, sehingga dia kesulitan untuk memberi respon yang normal.

Respon paling bijak yang bisa Ibu lakukan pertama kali adalah membiarkannya dulu. Tunggu emosinya turun dulu, sampai terlihat dia siap bercerita.

Setelah tiba saat yang tepat untuk memulai bicara, Ibu bisa mulai dengan tawaran pada anak, dengan nada tenang dan penuh kasih sayang “Adek kenapa ? Mau cerita sekarang ?”. Kalau anak menolak, Ibu bisa memberi tanggapan yang membantu anak mengenali perasaannya : “Masih marah banget ya Dek ? Baiklah, Adek bisa cerita ke Ibu nanti, kalau Adek sudah tenang”.

Bantu anak memahami, bahwa menunda bicara, adalah karena Ibu paham anak masih sangat marah, bukan karena Ibu kalah dan putus asa terhadap situasi ini. Sekaligus memberi pesan, bahwa bicara akan dimulai kalau sudah tenang. Pengendalian emosi menjadi penting sebelum memulai bercerita, karena komunikasi yang efektif, hanya bisa dilakukan dalam kondisi tenang.

Ketika anak sudah lebih tenang, bisa jadi anak masih keberatan bicara. Disini, ibu bisa memantulkan perasaan ibu sendiri, sekali lagi dengan tetap tenang. Misalnya : “Ibu merasa bingung karena Adek ga mau cerita apa yang membuat Adek marah”. Pastikan bahasa tubuh kita juga nyambung, yaitu bahasa tubuh bingung. Ingat bahwa respon seperti marah atau balik kesal ke anak, tidak akan ada gunanya, karena hanya akan mematikan momen peluang berkomunikasi.

Dalam komunikasi untuk menyelesaikan masalah, sangat penting untuk membahas dengan tenang dan memantulkan perasaan juga dengan nada bicara tenang.

Jika komunikasi sudah dimulai, Ibu bisa melanjutkan dengan mendengar aktif. Dan di akhir komunikasi, Ibu memberi apresiasi atas kesediaan anak bercerita, sekali lagi juga dengan cara memantulkan perasaan Ibu. Misalnya : “Ibu merasa lega karena Adek mau cerita semuanya ke Ibu. Terimakasih ya Dek :)”

Bayangkan betapa damainya dan kuatnya relasi yang akan terbentuk antara kita dengan anak kita, jika komunikasi kita dijaga sedemikian efektif dan penuh perasaan. Anak akan tumbuh bahagia dan matang karena perasaannya dipahami. Orang tua juga akan mendapatkan kepuasan batin yang berlimpah karena terhubung kuat dengan anaknya. Selamat memulai komunikasi yang menyenangkan 🙂

Komunikasi Pengasuhan – Mengenali Emosi Positif & Emosi Negatif

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #56

Di banyak negara, pendidikan usia dini menekankan pada mengenali perasaan. Di ruangan anak, dinding penuh ditempeli dengan gambar berbagai jenis ekspresi, seperti senang, takut, marah, sedih, penasaran, dan lain lain. Melalui gambar gambar ini, anak dibantu untuk mengenali perasaan mereka sendiri. Mengenali perasaan sendiri adalah langkah awal menemukan solusi atas masalah yang sedang dihadapi.

Sayangnya, ini kontras dengan Indonesia, dimana masih banyak pendidikan di masa anak anak kecil, yang jauh lebih menekankan pada kemampuan kognitif. Padahal, kemampuan kognitif baru bisa berkembang baik setelah 7 tahun. Ini karena neokorteks di otak yang bertanggungjawab untuk kemampuan kognitif baru mulai matang di usia 7 tahun. Justru, otak manusia usia 0-7 tahun mengalami perkembangan di sistem limbik dan prefrontal korteks. Dua bagian ini yang duluan berkembang, bukan bagian neo korteks.

Praktis, banyak anak Indonesia tumbuh dengan kemampuan minim terhadap kendali emosinya. Jangankan mengendalikan emosi, mengenali dirinya sedang merasakan perasaan apa, itu pun sudah sulit. Inilah yang kemudian melahirkan generasi alay yang mudah galau dan bete. Lebih sering bersikap negatif terhadap lingkungannya daripada sikap positif.

Anak perlu mengenali perasaannya, dan kita perlu membantu itu, sehingga dia benar benar kenal dirinya dan mampu memahami situasi. Anak yang tidak terbiasa mengenal perasaannya, akan mudah larut dalam emosi negatif dan sulit mencari solusi atas masalahnya sendiri. Dari sini bisa dilihat, bahwa anak cerdas bukanlah yang ditempa kemampuan baca-tulis-hitung sejak dini. Justru anak cerdas adalah anak yang tumbuh dengan mengenali dan memahami perasaannya, sehingga tahu caranya berpikir mencari solusi, dan mampu berempati pada orang lain.

Emosi sendiri bisa dibedakan menjadi emosi positif dan negatif. Diantara keduanya terdapat nilai netral. Emosi netral adalah kategori emosi yang tidak jelas posisinya. Kadang bisa sebagai emosi positif kadang bisa sebagai emosi negatif, seperti misalnya terkejut dan heran. Emosi positif, contohnya sayang, cinta, bahagia, gembira, senang, ceria, bersyukur, dll. Emosi negatif, contohnya marah, sedih, tersinggung, benci, jijik, muak, dll.

Emosi positif berperan penting memunculkan kesejahteraan emosional (emotional well-being) dan membantu mengatur emosi negatif. Jika emosi anak positif, maka anak akan lebih mudah dalam mengatur emosi negatif yang tiba-tiba datang. Misalnya saat anak sedang merasa bahagia, tiba-tiba ada yang mengejeknya, maka anak lebih sulit untuk tersinggung. Sebaliknya, jika emosi anak negatif, maka masalah sepele pun bisa jadi memicu konflik besar.

Jika anak lebih sering berada dalam emosi positif, maka hati dan jiwanya akan tumbuh sehat. Sebaliknya, jika emosi anak sering berada dalam emosi negatif, maka hatinya hampa, dan jiwanya kosong. Anak seperti ini akan sulit menghadapi hidup, dan sulit menjalani relasi sosial yang sehat.

Pilihan ada di tangan kita sebagai orang dewasa terdekat bagi anak kita, yang mampu mengkondisikan anak kita, dan mengisi jiwa anak kita dengan emosi positif atau negatif. Mari selalu menghidupkan suasana keluarga dengan emosi positif.

Komunikasi Pengasuhan – Orangtua Pengertian Biasa Bicara Perasaan

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #55

Dua remaja putri, sebut saja namanya Ani dan Ina, sedang ngobrol di dalam kelas saat jam istirahat.

Ani : “Kok kamu diem aja sih dari tadi ?”

Ina : “Bete ! Mama udah daftarin aku ke bimbel A, padahal aku udah kebanyakan les. Apa ga liat tiap hari aku pulang malem, udah cape banget.”

Ani : “Kamu pernah ngomong ke mereka ?”

Ina : “Males, mereka ga pengertian. Aku bilang cape, mereka bilangnya demi masa depan. Aku ngusulin yang lain, mereka bilang, ini yang terbaik. Ya mana bisa ngobrol, ngedengerin aku aja engga”

Familiar dengan percakapan begini ? Banyak sosok remaja yang tumbuh tanpa merasa dimengerti oleh orang tuanya. Sebenarnya ini tidak terjadi tiba-tiba. Ini adalah hasil dari pola asuh orang tua selama ini. Jika kita memastikan selalu terhubung dengan anak sejak dia kecil, seterusnya sampai dia dewasa, maka selama itu juga kita adalah orangtua yang pengertian.

Menjadi orang tua pengertian, bukan berarti menuruti semua yang anak minta. Orangtua pengertian adalah yang mampu menerima dan memahami perasaan anak, juga apa yang anak inginkan. Orangtua pengertian biasa bicara perasaan dengan anak. Karena biasa bicara perasaan, maka akan selalu tumbuh saling pengertian antara orangtua dan anak.

Orang tua sebagai orang yang jauh lebih dewasa, sewajarnya menjadi pihak pertama yang menyesuaikan diri dan berusaha memahami anak. Karena orang dewasalah yang punya kemampuan beradaptasi. Sementara anak, dengan usia jauh lebih muda, masih belajar memahami perasaannya dan belum tentu sudah sanggup beradaptasi. Kesediaan orang tua beradptasi duluan dengan cara memahami anak, itulah yang akan anak tangkap pertama kali, sehingga ia pun tumbuh jadi anak yang belajar untuk memahami, dan jadi anak yang pengertian, seperti halnya orangtuanya.

Dengan begitu, orangtua pengertian akan menumbuhkan anak yang juga pengertian. Perasaan anak yang dihargai dan dipahami akan mematangkan sistem limbik anak. Jika perasaan anak dikenali, dihargai, maka perilaku anak juga akan sehat. Perilaku anak yang tidak sehat, di luar normal, justru sering diakibatkan perasaan anak tidak dihargai.

Bagaimana caranya kita sebagai orang tua memahami perasaan anak ? Langkah pertama, baca bahasa tubuhnya. Berikutnya adalah mendengar aktif. Tentang mendenagr aktif akan lebih banyak dibahas di artikel-artikel berikutnya.

Ayah bunda, mari pastikan kita selalu menjadi sahabat yang siap memahami perasaan anak, sehingga anak tumbuh sehat bahagia dalam asuhan kita.

Komunikasi Pengasuhan – Lihat! Tubuhku Bicara Padamu

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #53

Kita sudah memahami dari artikel “Bicara Bahasa Rasa” betapa pentingnya membiasakan keluarga kita membicarakan perasaan satu sama lain, terutama anak kita yang sedang belajar memahami perasaannya sendiri. Anak kita sangat perlu dipahami perasaannya karena ekspresi dari perasaannya adalah caranya memberi tahu kita orangtua tentang apa saja kebutuhannya, keinginannya, harapannya. Terutama jika anak kita masih batita.

Jane Chumbley dalam buku terjemahan “Kamus Perkembangan Bayi dan Balita” mengatakan bahwa kurang dari 10% emosi batita diekspresikan dengan kata-kata, dan lebih dari 90% diekspresikan melalui bahasa tubuh. Hal ini lantaran kosakata yang dimiliki batita belum banyak dan ia belum memahami nama-nama emosi/bahasa tubuh yang dimunculkannya sendiri.

Jika kita gagal memahami perasaan anak kita, seperti pesan di WhatsApp yang selalu centang satu (√) dan tidak pernah berubah jadi centang dua apalagi centang biru, tidak pernah sampai. Atau mungkin sudah centang dua tapi tidak pernah berubah jadi centang biru, tidak pernah dibaca.

Padahal anak kita belajar rasa (mengenal, mengelola, dan mengekspresikan dengan tepat emosinya) dari cara kita memperlakukannya. Ia akan memahami bahwa ia sedang sedih, jika kita menerima sinyal dari bahasa tubuhnya dan mengatakan, “Oh, adek sedang sedih ya?”. Ia akan memahami bahwa ia sedang mencari perhatian ketika kita mengatakan, “Oh, kakak sedang cari perhatian ayah ya?” saat ia menarik-narik kaki adiknya ketika kita sedang menggendong si adik. Namun, kita baru bisa bicara demikian jika kita sudah terbiasa bicara menggunakan bahasa perasaan dengan anak kita bukan?

Bagaimana caranya? Mudahnya, ada 3 tahapan yang perlu dibiasakan oleh orangtua untuk memahami perasaan anak kita. Pertama, baca bahasa tubuh anak. Kedua, namai atau tebak perasaannya. Ketiga, mendengar aktif saat anak kita mulai mengalir bercerita. Pada ulasan kali ini, kita akan membahas mengenai membaca bahasa tubuh anak.

Bagaimana caranya memahami bahasa tubuh anak?

• Amati bahasa tubuh anak dalam berbagai situasi. Bisa jadi anak kita menggunakan bahasa tubuh yang sama untuk berbagai situasi seperti bayi yang berekspresi ‘menangis’ untuk emosi lapar, haus, tidak nyaman, takut, dsb. Atau justru menggunakan berbagai bahasa tubuh untuk situasi yang sama. So, be flexible.

• Terima bahasa tubuhnya. “Cup cup, jangan nangis ya, anak kuat anak kuat”. Jika anak kita terbiasa tidak diterima bahasa tubuhnya, anak akan merasa orangtuanya tidak memahami dirinya, dan jika ini terus berulang akan membuat anak tidak percaya kepada orangtua. Terima bahasa tubuhnya sambil kita nama perasaannya, seperti sedih, marah, kesal, kecewa, dan sebagainya. Kita perlu terbuka pada curahan hati anak yang mungkin mengejutkan.

• Latih bahasa tubuh kita sendiri karena anak meniru bahasa tubuh orang tua. Jika kita sedang merasa tidak nyaman, munculkan gerakan, intonasi suara, dan perilaku yang tepat dengan perasaan kita saat itu. Jadikan latihan ini sebagai prioritas. Jika kita menggunakan bahasa tubuh yang tepat dengan perasaan kita, kita akan lebih mudah membaca makna dari bahasa tubuh anak kita.

Bisa jadi diawal latihan kita mengalami berbagai kesulitan dan kesalahan. Terus coba. Yakinkah diri kita bahwa kita mampu membaca bahasa tubuh dan memahami anak kita, mengerti keinginannya, serta mampu menerjemahkan dengan baik apa maksud dari bahasa tubuh yang tidak mampu mereka sampaikan secara lisan.

Anak kita adalah cermin diri kita. Ketika kita menunjukkan niat dan usaha yang tulus untuk memahaminya, anak pun akan belajar hal yang sama, ia akan menghargai dan memahami bahasa tubuh kita dan menyapa kedalaman hati kita. Selamat menyelami makna bahasa tubuh anak kita!

Komunikasi Pengasuhan – Bicara Bahasa Rasa

Yayasan Kita dan Buah Hati
Serial Parenting #52

“Ini pake Gar”, Ayah Tegar menyerahkan jas hujan setelah menepikan motor di bawah kanopi pohon yang cukup teduh. “Ayah ga pake? Nanti ayah basah”. “Gapapa, Ayah sehat”, jawab sang Ayah.

Pernah mengalami hal tersebut? sebetulnya hanya satu alasan Ayah Tegar memberi jas hujan pada Tegar : sayang. Perasaan sayang membuat Ayah Tegar memilih tindakan melindungi orang yang ia sayangi.

Ya, seringkali sikap dan perilaku seseorang cenderung didasari perasaan. Mungkin fitrahnya memang demikian. Mengapa kita pilih presiden A? Mengapa kita tidak bisa berhenti makan gorengan walau tahu gorengan adalah sumber kolesterol? Mengapa kita masih mau baca komik meski usia kita sudah dewasa? Mengapa kita mau berlelah-lelah terjebak macet ketika dalam perjalanan mudik?

Perasaan kita dikelola oleh bagian otak yang paling dalam dan paling terlindungi, sistem limbik namanya. Sistem limbik juga mengatur rasa lapar dan haus, serta mengelola motivasi. Dalam contoh kasus Tegar dan Ayahnya, perasaan sayang memotivasi otak bagian berpikir (neokorteks) untuk memilih tindakan berdasarkan perasaan sayang.

Apakah dapat terjadi hal sebaliknya untuk perasaan negatif? Bersama pengelolaan perasaan untuk emosi negatif? Ternyata perasaan negatif justru menutup jalur ‘informasi’ dari sistem limbik dan neokorteks. Pernahkah Ayah Bunda melihat atau mengalami bagaimana perasaan sedih, marah, benci, kesal, takut, atau perasaan negatif lainnya begitu menguasai diri dan akhirnya kita bertindak diluar akal sehat yang kadang membuat kita menyesal?

Ternyata, selain untuk mengelola emosi dan motivasi, Tuhan menakdirkan sistem limbik mengatur pengendalian organ vital tubuh kita. Jika perasaan kita sehat, sehat pula sistem limbik kita, sehat pula organ-organ vital kita.

Apa yang terjadi jika perasaan negatif tengah menguasai diri? ‘Informasi’ dari sistem limbik yang seharusnya diteruskan ke neokorteks akan diteruskan ke organ-organ vital tubuh kita. Beberapa organ vital tubuh kita adalah penghasil hormon adrenalin. Perasaan negatif tersebut akan memicu diproduksinya hormon adrenalin yang membuat jantung kita berdebar-debar, dan hormon ini juga membuat kita bersikap ‘flight or fight’ seperti saat kita berhadapan dengan anjing yang menyalak, kabur atau lawan.

Jika kita ‘kabur’, informasi akan tergenang di sistem limbik dan mempengaruhi kesehatan organ vital. Maka banyak sekali keluhan sakit dari orang-orang yang sedang stress, entah sakit maag, sulit buang air, jantung berdebar-debar, nafas berat, karena psikosomatis. Sakit yang dipicu oleh kondisi psikologis yang sedang dilingkupi perasaan negatif.

Jika kita ‘melawan’, informasi akan diteruskan ke batang otak sebagai tindakan refleks, artinya informasi tidak akan dibawa ke neokorteks untuk diproses baik buruknya, benar tidaknya. Itulah mengapa tindakan refleks selalu berupa tindakan diluar akal sehat. Tindakan refleks yang berasal dari perasaan marah dan benci seringkali merupakan berupa tindakan pelampiasan yang berdampak buruk.

Perasaan ibarat air, ia selalu membutuhkan penyaluran. Jika menggenang tak dialirkan akan menjadi sumber penyakit. Jika disalurkan dengan cara tidak tepat, akan menimbulkan bencana. Salurkan perasaan seperti kita mengalirkan air melalui parit.

Mari kita biasakan untuk bicara dengan bahasa rasa. Perasaan adalah hal yang perlu untuk didiskusikan. Kenali perasaan diri sendiri dan orang lain. Ajari anak kita untuk mengenal, mengelola, dan mengekspresikan perasaannya dengan tepat, tentu anak kita akan memulai belajar dari apa yang ia lihat. Perasaan yang sehat membentuk perilaku yang sehat.