Saripati Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Anang Susanto, S.PD.SD.
Guru SDN Jaten Balong Bimomartani Ngemplak Sleman

Pemikiran Ki Hajar Dewantara telah dipraktikkan di negara maju seperti Finlandia sejak 20 tahun yang lalu.

Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara merupakan founding father bangsa, pelopor kemerdekaan sekaligus bapak pendidikan Indonesia. Ditengah-tengah kondisi bangsa yang tengah dirundung berbagai permasalahan, ada baiknya kita flashback ke dalam filosofis Ki Hajar Dewantara yang fenomenal. Semoga dengan refleksi filosofis beliau terutama dalam bidang pendidikan, kita bisa menyadari pentingnya hakikat pendidikan tidak hanya sebagai the only solution akan tetapi juga pengembaraan jati diri manusia sebagaimana kodratnya.

1. Ing, ing , Tut
Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Dalam ing ngarsa sung tulada” kata tuladha sering diartikan sebagai contoh. Padahal “contoh” dengan “tuladha” sangat berbeda. Tuladha adalah contoh yang pasti baik. Sementara contoh belum tentu baik. Bisa juga contoh buruk. Filosofis ajur ajer juga mengajarkan bahwa dalam pendidikan guru dan siswa adalah setara. Setara dalam arti pendidikan adalah fasilitator, teman sekaligus sahabat berbagi. Tut wuri handayani dapat diterjemahkan bahwa guru harus selalu memberikan dorongan “encouragement” terhadap semua keunikan dan kodrati siswa.

2. Momong, Among, Ngemong
Guru adalah schafolding, artinya guru membantu anak dalam menemukan pengetahuan sesuai dengan kodrat anak dan tetap mengedepankan budi pekerti. Guru adalah pendidik dan pengajar. Guru harus selalu membimbing dengan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan jaman. Dalam sikap yang Momong, Among, dan Ngemong terkandung nilai yang sangat mendasar yaitu pendidik tidak memaksa namun demikian tidak berarti membiarkan anak berkembang bebas tanpa arah.

3. Niteni, nirokne, nambahi
Niteni adalah memperhatikan dengan seksama menggunakan seluruh indra. nirokne berarti menirukan apa yang telah dipahami dari proses niteni dengan melibatkan seluruh pribadinya yang berarti menambah apa yang telah diperoleh dari dua proses sebelumnya yaitu niteni dan nirokne. Ketiga fase ini akan membuat pemahaman peserta didik utuh dan tidak sepotong-potong. Dalam dunia modern pendekatan ini dengan pembelajaran yang integral (menyeluruh) dan kontektual (contextual learning).

4. Neng, ning, nung, nang
Neng adalah kependekan dari meneng yang berarti diam dan tenang dengan perhatian untuk mendengar secara aktif. Ning adalah kependekan dari wening yang berati kejernihan hati dan pikiran. Nung kependekan dari Hanung yang berarti Kebesaran Hati dan Jiwa; dan Nang kependekan dari Menang yang berati kemenangan baik secara batiniah maupun lahiriah.

5. Ngerti, Ngrasa, Nglakoni
Ngerti artinya memahami secara utuh. Ngrasa berarti merasakan. Nglakoni artinya melakukan. dalam segala hal kita tidak hanya dituntut untuk mengerti secara teoritis akan tetapi juga merasakan dengan seluruh indra. Setelah dipahami dan dirasakan barulah kita melaksanakan atau nglakoni.

Tentu saja masih banyak saripati pemikiran Ki Hajar yang belum terakomodir dalam tulisan ini dikarenakan pemikiran beliau yang sangat luas. Hebatnya, pemikiran Ki Hajar Dewantara dipraktikkan di negara maju seperti Finlandia semenjak reformasi pendidikan mereka 20 tahun yang lalu. Hal ini dikonfirmasi oleh pernyataan Mendikbud Anis Baswedan, “Di Negeri ini (buku Ki Hajar Dewantara) tidak dibaca, tapi di Finlandia dipraktikkan”. Tentu saja semua stakeholder pendidikan harus meresapi filosofi Ki Hajar Dewantara demi pendidikan yang humanis, menghormati kodrat peserta didik dan tentu saja berdaya saing.

Advertisement

Siapa dan Apa Ajaran Ki Hadjar Dewantara?

Palupi Annisa Auliani
Kompas, 02 May 2018

Coba diingat-ingat benar, siapa itu Ki Hadjar Dewantara? Nama aslikah itu? Apa pula ajarannya sampai tanggal lahirnya ditetapkan menjadi hari besar nasional?

Tebakan paling baik, yang teringat dari nama ini mungkin kurang lebih hanya, “Umm… tokoh pendidikan nasional?”

Tak usah malu atau merasa dipermalukan kalau tak juga mendapatkan informasi tambahan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Banyak orang sekarang bisa jadi punya ingatan sama pendeknya soal nama ini.

Kalaupun ada tambahan informasi yang teringat, paling banter ya Hari Pendidikan Nasional yang dirayakan setiap 2 Mei ini punya kaitan dengan Ki Hadjar Dewantara.

Soal ajarannya, barangkali hanya anak-anak generasi Orde Baru yang tumbuh besar dalam deretan slogan dan jargon yang masih ingat beberapa hapalan tentangnya.

“Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani,” tiga frasa yang dulu rutin jadi soal ulangan atau pertanyaan di ujian kecakapan Pramuka tentang ajarannya.

Terjemahan bebas dalam Bahasa Indonesia kurang lebih, “Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberikan dorongan.”

Sederet slogan tersebut sampai kini resminya masih menjadi acuan bagi guru dalam mendidik para siswanya. Setidaknya, frasa “tut wuri handayani” masih setia terpajang sebagai bagian dari logo Kementerian Pendidikan Nasional.

Ki Hadjar Dewantara adalah nama alias untuk Raden Mas Soewardi Soerjaningrat sejak 1922. Lahir pada 1889, tanggal kelahirannya ditetapkan menjadi Hari Pendidikan Nasional, yaitu setiap 2 Mei.

Penelusuran Kompas.com mendapati penetapan Hari Pendidikan Nasional ini muncul di Keputusan Presiden Nomor 316 tahun 1959 dan aturan lain sesudah itu yang merujuk kepada aturan tersebut.

Itu pun, “tentang”-nya adalah “Hari-hari Nasional yang Bukan Hari Libur” bersama sejumlah hari peringatan lain.

Merujuk harian Kompas edisi 2 Mei 1968, penetapan tersebut merupakan bentuk penghargaan Pemerintah atas jasa Ki Hadjar Dewantara yang telah memelopori sistem pendidikan nasional berbasis kepribadian dan kebudayaan nasional.

Penggunaan nama alias pada 1922 bertepatan dengan langkah Ki Hadjar Dewantara mendirikan sekolah Taman Siswa di Yogyakarta. Sejak itu, kiprahnya di dunia pendidikan terus berlanjut, sejalan dengan semangatnya melawan penjajahan.

Fatwa ajaran

Soewardi adalah Menteri Pendidikan pertama setelah Indonesia merdeka. Dia ditetapkan Pemerintah sebagai Pahlawan Nasional pada 1959, yaitu melalui Keputusan Presiden Nomor 305 Tahun 1959.

Dalam sistem yang dia kembangkan, Ki Hadjar Dewantara mengeluarkan “10 Fatwa akan Sendi Hidup Merdeka”. Di belakang hari, ajaran ini dikenal dan dikaji lagi antara lain dengan penyebutan beken “pendidikan karakter”.

Seperti dikutip dari salah satu situs web lembaga pendidikan Taman Siswa, kesepuluh fatwa Ki Hajar Dewantara tersebut berikut penjelasannya adalah:

1. Lawan sastra ngesti mulya

Terjemahan bebasnya, “dengan pengetahuan kita menuju kemuliaan”. Penjelasan poin ini mencakup pula frasa lain, yaitu sastra herjendrayuningrat pangruwating dyu, yang terjemahannya, “ilmu yang luhur dan mulia menyelamatkan dunia serta melenyapkan kebiadaban”.

2. Suci tata ngesti tunggal

Penjelasan bebasnya, “dengan suci batinnya, tertib lahirnya menuju kesempurnaan”.

3. Hak diri untuk menuntut salam dan bahagia

Merujuk situs web tersebut, fatwa ini menjelaskan bahwa bagi Tuhan semua manusia itu pada dasarnya sama, sama haknya dan sama kewajibannya, sama haknya mengatur hidupnya serta sama haknya menjaIankan kewajiban kemanusiaan untuk mengejar keselamatan hidup lahir dan bahagia daIam hidup batinnya. Intinya, jangan kita hanya mengejar keselamatan lahir, dan jangan pula hanya mengejar kebahagiaan hidup batin.

4. Salam bahagia diri tak boleh menyalahi damainya masyarakat

Penjelasan fatwa ini, ”Sebagai peringatan, bahwa kemerdekaan diri kita dibatasi oleh kepentingan keselamatan masyarakat. Batas kemerdekaan diri kita iaIah hak-hak orang lain yang seperti kita masing-masing sama-sama mengejar kebahagiaan hidup. Segala kepentingan bersama harus diletakkan di atas kepentingan diri masing-masing akan hidup selamat dan bahagia, apabila masyarakat kita terganggu, tidak tertib dan damai. Janganlah mengucapkan ‘hak diri’ kalau tidak bersama-sama dengan ucapan ‘tertib damainya masyarakat’, agar jangan sampai hak diri itu merusak hak diri orang lain sesama kita, yang berarti merusak keselamatan hidup bersama, yang juga merusak kita masing-masing.

5. Kodrat alam penunjuk untuk hidup sempurna

Sebagai pengakuan bahwa kodrat alam, yaitu segala kekuatan dan kekuasaan yang mengelilingi dan melingkungi hidup kita itu adalah sifat lahirnya kekuasaan Tuhan yang Maha Kuasa, yang berjalan tertib dan sempuma di atas segala kekuasaan manusia. Janganlah hidup kita bertentangan dengan ketertiban kodrat alam. Petunjuk dalam kodrat alam kita jadikan pedoman hidup kita, baik sebagai alam kita jadikan pedoman hidup kita, baik sebagai orang seorang atau individu, sebagai bangsa, maupun sebagai anggota dari alam kemanusiaan.

6. Alam hidup manusia adalah alam hidup berbulatan

Penjelasannya, bahwa hidup kita masing-masing itu ada dalam lingkungan berbagai alam-alam khusus, yang saling berhubungan dan berpengaruh. Alam khusus tersebut adalah alam diri, alam kebangsaan, dan alam kemanusiaan. Rasa diri, rasa bangsa, dan rasa kemanusiaan, ketiga-tiganya hidup dalam tiap-tiap sanubari kita masing-masing manusia, yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya.

7. Dengan bebas dari segala ikatan dan suci hati berhambalah kita kepada sang anak

Dalam mendidik, penghambaan kepada sang anak tidak lain daripada penghambaan kita sendiri. Sungguh pun pengorbanan kita itu kita tujukan kepada sang anak, tetapi yang memerintahkan kita dan memberi titah untuk berhamba dan berkorban itu bukan si anak, melainkan diri kita masing-masing. Di samping itu kita menghambakan diri kepada bangsa, negara, pada rakyat, dan agama, atau terhadap lainnya. Semua itu tak lain penghambaan pada diri sendiri, untuk mencapai rasa bahagia dan rasa damai dalam jiwa kita sendiri.

8. Tetep–mantep–antep

Dalam melaksanakan tugas perjuangan kita, kita harus memiliki ketetapan hati (tetep), termasuk tekun bekerja, tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. Kita harus tetap tertib dan berjalan maju. Kita harus selalu mantep, setia dan taat pada asas itu, teguh iman hingga tak ada yang akan dapat menahan gerak kita atau membelokkan aliran kita. Sesudah kita tetap dalam gerak lahir kita, lalu mantep dan tabah batin kita, segala perbuatan kita akan antep, yaitu berat berisi dan berharga, tak mudah dihambat, ditahan-tahan, dan dilawan oleh orang lain.

9. Ngandel–kendel–bandel

Kita harus ngandel, percaya, kepada kekuasaan Tuhan dan percaya kepada diri sendiri. Kendel, berani, tidak ketakutan dan was-was oleh karena kita percaya kepada Tuhan dan kepada diri sendiri. Bandel, yang berarti tahan dan tawakal. Dengan demikian maka kita menjadi kendel, tebal, kuat lahir batin kita, berjuang untuk cita-cita kita.

10. Neng-ning–nung–nang

Dengan meneng (neng), tenteram lahir batin, tidak nervous, kita menjadi wening (ning), bening, jernih pikiran kita, mudah membedakan mana yang benar dan mana yang salah, lalu kita menjadi hanung (nung), kuat sentosa, kokoh lahir dan batin untuk mencapai cita-cita, hingga akhirnya menang (nang) dan mendapat wewenang, berhak dan kuasa atas usaha kita.

Kritik Ki Hajar Dewantara Terhadap Sistem Pendidikan Barat

Bondhan Kresna W.
Kompas, 9 April 2018

Beberapa waktu yang lalu istri saya sedang ngobrol di salah satu grup media sosial, salah satu temannya saat diskusi mempromosikan “sekolah Montessori”. Mungkin kita sudah sama-sama tahu, banyak sekali PAUD, TK, ataupun SD yang berlabel “Montessori”.

Montessori diambil dari nama seorang ahli pendidikan dari seorang ahli pendidikan Italia bernama Dr. Maria Tecla Artemisia Montessori (1870-1952). Dia yang mengembangkan metode pendidikan sesuai namanya, metode Montessori. Menurut teman istri saya, Ki Hajar saja muridnya Montessori. Apakah benar demikian?

Pada 1922, Soewardi Soerjaningrat resmi banting setir dari aktivis politik menjadi aktivis pendidikan dan kemudian mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara.

Soewardi sendiri mulai tertarik dan belajar mengenai sistem pendidikan kolonial ketika dibuang ke negeri Belanda pada 1913. Ketika di Belanda dia memperoleh ijazah guru dan mengambil bagian dalam suatu diskusi pada Kongres Pendidikan Kolonial, disana pertama kali dia mengusulkan pendidikan nasional bagi orang-orang Indonesia.

Setelah kembali ke Hindia Belanda pada 1919, sebagai pengelola majalah Persatuan Hindia, dan sebagai sekretaris National Indische Partij (NIP), versi baru dari Indische Partij masih menulis artikel-artikel politik yang radikal dan provokatif menyerang pemerintah.

Karena nggak kapok-kapok, akhirnya Soewardi di tangkap lagi, dipenjarakan plus dihukum kerja paksa pada 1920, bukan hanya itu NIP juga dilarang dan dibubarkan ada 1922. Pada tahun yang sama Soewardi, atau sekarang Ki Hajar dibebaskan dan mendirikan Sekolah Taman Siswa.

Mungkin dia melihat bahwa perlawanan non-kooperatif yang frontal di bawah represi Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum, yang kemudian diganti oleh Dirk Fock pada 1921 tidak terlalu efektif, dan dia mencari cara perlawanan yang lain, yaitu melalui pendidikan.

Sejak didirikan, Sekolah Taman Siswa menolak keras uang bantuan pemerintah, sehingga tidak bisa dengan mudah disetir oleh pemerintah. Sejak itu artikel-artikelnya yang tersebar di berbagai media mulai menyoroti masalah pendidikan. Dari sana kita bisa tahu pendidikan seperti apa yang dibangun oleh Bapak Pendidikan Nasional kita ini.

Ki Hajar, dalam artikelnya pada majalah “Pusara” jilid XI, nomor 8 tahun 1941 mengatakan bahwa memang banyak orang ketika itu mengira bahwa pendidikan di Taman Siswa semata-mata aliran Tagore – Montessori.

Memang benar bahwa Dr Rabindranath Tagore, tokoh nasional dan tokoh pendidikan dari India, pendiri sekolah Shanti Niketan dan orang asia penerima nobel sastra pertama itu pernah berkunjung ke pusat perguruan Taman Siswa di Yogyakarta pada 1927, begitu pula Maria Montessori disebutkan juga sempat berkunjung pada 1941. Pun foto keduanya pernah terpampang di pendapa dan sekolah Taman Siswa yang pertama.

Ki Hajar mengatakan, “Sebenarnya kita menggantungkan potret dari kedua pemimpin itu tidak lain karena kedua-duanya kita anggap sebagai penunjuk jalan baru, Montessori dan Tagore ialah pembongkar dunia pendidikan lama serta pembangun aliran baru.”

Namun demikian justru disini Ki Hajar mengagumi keduanya sekaligus melakukan kritik pada keduanya untuk saling melengkapi dan dijadikan fondasi sistem pendidikan Taman Siswa pada waktu itu yang disebut harus mengikuti perkembangan jaman modern namun juga harus “kulturil-nasional” yaitu tidak boleh meninggalkan adat budaya baik yang sudah ada dan masih hidup dalam masyarakat.

Perbedaan antara sistem Montessori dan Tagore itu terletak pada tujuannya. Montessori sangat mementingkan hidup jasmani anak-anak, terutama untuk menstimulasi dan mengoptimalkan perkembangan kognitif dan panca-inderanya.

Menurut Ki Hajar, metode pendidikan Montessori tidak menyentuh perkembangan batin anak-anak, yang dimaksud batin di sini adalah mengajarkan anak untuk mengenal pencipta-Nya dan kata Ki Hajar “semata-mata bersifat psikologis, jauh dari tujuan religius.”

Sementara Dr. Tagore membentuk sistem pendidikan anak semata-mata sebagai alat dan syarat untuk memperkokoh kehidupan kemanusiaan dalam arti yang sedalam-dalamnya, yaitu religiusitas. Namun demikian kurang menekankan masalah-masalah kognitif dan psikologis.

Lebih jauh lagi saat pidato pada rapat besar gerakan PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat), September 1943 Ki Hajar dengan berapi-api mengatakan bahwa pendidikan Eropa itu baik adanya namun “Sangat mengabaikan kecerdasan budi-pekerti sehingga menimbulkan penyakit intellektualisme yakni mendewakan angan-angan, semangat mendewakan angan-angan itu menimbulkan kemurkaan-diri atau individualisme dan kemurkaan-benda atau materialisme, itulah yang menyebabkan hancurnya ketentraman dan kedamaian di dalam hidupnya masyarakat!”

Pendidikan Dikhianati

Oleh karena itu Ki Hajar tidak mengambil mentah-mentah sistem pendidikan barat, namun mensinergikannya dengan kekayaan budaya nasional dan pendidikan spiritual.

Agaknya pendapat Ki Hajar ini masih relevan hingga saat ini, setidaknya menurut saya. Pendidikan “dikhianati” tujuannya bukan untuk membuka batin (rasa-spiritual), memerdekakan pikiran (cipta) dan membangun kemandirian (karsa). Tapi justru untuk menceburkan diri pada materialisme, sekolah supaya dapat kerja, kerja jadi pegawai, entah negeri atau swasta.

Jadi pegawai mengejar karir supaya dapat duit banyak, punya rumah besar (materi/benda), punya mobil (materi), bisa beli iphone (materi), tas bermerk (materi), jam tangan Fossil (materi), sepatu Nike atau Adidas (materi), bisa liburan ke luar negeri dan foto-foto (ketenaran), kalau perlu rumah, tanah dan mobil lebih dari satu atau sebanyak-banyaknya (materi lagi).

Ki Hajar tidak mengatakan bahwa memiliki materi, benda-benda kebutuhan sehari-hari itu salah, yang disalahkan beliau adalah kerakusan, rakus ingin memiliki lebih dari yang dibutuhkan, kalau perlu dengan berhutang (lagi-lagi materi).

Sampai detik ini definisi “sukses” masih seperti itu bagi sebagian besar orang Indonesia. Apa namanya itu kalau bukan materialisme? Mungkin pada titik Nietszche benar bahwa Tuhan telah mati “dibunuh”. Atau kalau terlalu ekstrem, Tuhan dikerdilkan dalam tembok-tembok rumah ibadah, rapalan-rapalan doa, dan pelajaran agama. Tuhan diusir dalam pelajaran Fisika, Matematika, Biologi, Geografi, Sosiologi, Olahraga dan hampir semua materi yang diajarkan di sekolah.

Jadi menurut saya, meski dalam artikel-artikelnya Ki Hajar mengagumi sekaligus mengkritik Montessori, yang dalam hal ini waktu itu sebagai wakil dari sistem pendidikan barat secara umum. Ki Hajar sebenarnya sedang melakukan kritik terhadap pendidikan barat secara keseluruhan.

Ironisnya, justru model pendidikan semacam demikian yang saat ini sedang naik daun. Sekolah berlomba-lomba mendapatkan sertifikasi “Cambridge” atau berlabel internasional dan semacamnya untuk menarik para orangtua bahwa institusinya “berkualitas”. Apalagi ada upaya pemerintah untuk menerapkan sistem “student loan” atau “sekolah dengan hutang” seperti yang berlaku di Amerika dan terbukti membelenggu lulusannya dengan hutang seumur hidup.

Sekolah bukan lagi tempat menyenangkan untuk menciptakan masyarakat yang damai (Shanti Niketan), tapi menjadi bagian dari mesin perusahaan-perusahaan besar yang rakus mencari uang sebanyak-banyaknya (What?!, materi lagi)…

Terkuburnya Pemikiran Ki Hadjar

Oleh : Ginanjar Hambali,
Guru SMAN 7 dan Pegiat Komunitas Nalar di Pandeglang
Kompas,2 Mei 2017

Siapa tak kenal Ki Hadjar Dewantara? Kita, terutama yang bergiat di bidang pendidikan, tentu mengenalnya. Sayangnya, kebanyakan di antara kita-termasuk guru-guru-mengenal Ki Hadjar sebatas nama atau slogan yang dikutip di mana-mana: “Tut Wuri Handayani”.

Pemikiran Ki Hadjar amat jarang didiskusikan dan dipelajari kembali. Hanya segelintir guru yang memiliki buku kumpulan tulisan Ki Hadjar. Bahkan, di ruang guru atau perpustakaan sekolah sangat jarang dijumpai buku kumpulan tulisan Ki Hadjar.
Meski tiap 2 Mei kita memperingati Hari Pendidikan Nasional, yang juga hari kelahiran Ki Hadjar, pemikiran Ki Hadjar nyaris terkubur dan dilupakan. Praksis pendidikan kita makin menjauh dari pemikiran, praktik, dan pengajaran yang digagasnya.

Ki Hadjar meletakkan dasar-dasar pendidikan yang amat penting. Menurut Ki Hadjar, tujuan pendidikan tak lain supaya anak jadi manusia merdeka batin, pikiran, dan tenaganya. Ada tiga sifat dalam kemerdekaan, yakni mampu berdiri sendiri, tidak bergantung kepada orang lain, dan mampu mengatur diri sendiri.

Guru sekarang lebih banyak berbicara bagaimana mengajar yang baik dengan ukuran pencapaian target kurikulum. Jarang guru mempertanyakan mengapa dan apa manfaat suatu pelajaran diberikan ke murid. Apalagi mendiskusikan pemikiran-pemikiran pendidikan. Mereka merasa lebih aman menempatkan diri sebagai operator, menerima apa yang diperintahkan, termasuk dalam praktik dan pilihan metode pengajaran. Hasilnya mudah ditebak: proses pembelajaran terjebak pada pedagogik dogmatis, mencontoh yang terbaik, tetapi tak tahu apa falsafahnya.

Tugas seorang guru

Pendidikan memerdekakan, dalam gagasan Ki Hadjar, sangat erat dengan pemahaman bahwa anak membawa kodratnya masing-masing. Tugas pendidik pada hakikatnya sama dengan petani. Petani menanam padi, ia hanya dapat menuntun tumbuhnya padi. Ia dapat memperbaiki tanah, memelihara tanaman, memberi rabuk dan air, memusnahkan hama-penyakit. Tapi, seorang petani tak dapat menjadikan padi tumbuh menjadi jagung. Demikian pula seorang anak.

Kenyataannya, anak-anak kita masih dipaksa belajar yang kadang tak sesuai kodratnya. Seorang anak yang bakat dan kesenangannya berolahraga, misalnya, dipaksa mengesampingkan bakat dan kesenangannya itu, demi belajar materi yang akan diujikan dalam ujian nasional.

Slogan “Tut Wuri Handayani” bukan saja berarti guru berdiri di belakang murid, juga berlaku dalam proses pembelajaran sehari-hari di kelas. Menurut Ki Hadjar, guru jangan hanya memberi pengetahuan yang perlu dan baik saja, juga mendidik murid agar dapat mencari sendiri pengetahuan. Pendekatan ini relevan dengan konteks sekarang, di tengah kemajuan zaman, dengan teknologi informasi memudahkan anak mengakses pengetahuan.

Guru sering menganggap dirinya sebagai paling tahu dan memandang anak sebagai tidak tahu. Ibarat bejana kosong yang harus diisi. Proses pembelajaran sistem ceramah membatasi potensi anak untuk bertanya, mencari dan mengembangkan pengetahuan sendiri. Pola pendidikan yang selama ini banyak terjadi, model pendidikan ala bank, yang dikritik Paulo Freire, yaitu guru sebagai subyek bercerita dan para murid sebagai obyek, dengan patuh mendengarkan. Guru mengajar murid belajar.

Seperti seorang tukang ukir harus mengetahui dalam dan luas hakikat dan keadaan kayu, kata Ki Hadjar, begitu pula seorang guru harus mengetahui pengetahuan yang diajarkan dan cara bagaimana mendidik. Ia mesti paham cara mendidik anak yang mempunyai kekurangan dan kelebihan, fisik maupun latar belakang sosial, serta perbedaan-perbedaan lain.

Sekolah diibaratkan tanah tempat bercocok tanam sehingga guru harus mengusahakan sekolah jadi lingkungan yang menyenangkan, menjaga, dan melindungi anak dari pengaruh-pengaruh jahat. Hanya dengan itu karakter anak tumbuh dengan baik, yang tadinya malas menjadi semangat, jangan kebalikannya.

Penutup
Guru memang tidak bisa disalahkan jika tidak mengenal lebih dalam pemikiran Ki Hadjar. Selama penulis menempuh pendidikan di sekolah guru, termasuk di tingkat pascasarjana, karya dan pemikiran Ki Hadjar tak banyak dibahas dan didiskusikan.
Sudah saatnya pemikiran Ki Hadjar kembali disebarluaskan. Tulisan-tulisan Ki Hadjar Dewantara harus menjadi bahan bacaan wajib bagi guru-guru dan tersedia di sekolah.
Tanpa usaha-usaha menghidupkan kembali pemikiran Ki Hadjar, guru-guru hanya akan mengenal Ki Hadjar sebatas nama dan slogan belaka. Membaca, mendiskusikan, dan mengaktualkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara juga akan menghindarkan guru menjadi penganut pedagogik dogmatis, mengikuti praktik pendidikan tanpa disertai usaha berpikir kritis.

Pendidikan Tanpa Mendidik

Oleh: Yudi Latif
Kompas, 4 Agustus 2016

Dunia pendidikan kita sudah melenceng jauh dari orbit hakikat pendidikan sesungguhnya. Menteri silih berganti, namun pusat perhatiannya sama: administrasi pendidikan (anggaran, bantuan operasional sekolah, rancang bangun kurikulum, standar formal kompetensi guru, ujian nasional dan sejenisnya).

Esensi pendidikan nyaris tak tersentuh. Paling jauh, yang dikembangkan dalam sistem persekolahan kita hanyalah “pengajaran” (onderwijs), yakni pemberian materi berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan. Mata pelajaran sarat muatan kognitif. Sukses pendidikan diukur oleh pencapaian anak dalam bidang penalaran seperti itu, seperti tercermin dalam muatan ujian nasional. Tak heran, banyak orang tua menambah jam pelajaran anaknya dengan mengikuti bargai kursus dalam/luar sekolah.

Bias pengajaran membuat dunia pendidikan pada umumnya mengabaikan tugas mendidik: memberikan tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Suhu pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, mengingatkan bahwa “pendidikan”(opvoeding) merupakan sesuatu yang lebih luas dan esensial daripada pengajaran. Pendidikan bermaksud “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anakitu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-setingginya”.

Singkat kata, pendidikan adalah proses belajar menjadi manusia seutuhnya dengan mempelajari dan mengembangkan kehidupan sepanjang hidup, yang diperantarai sekaligus membentuk kebudayaan. Dalam proses belajar memanusia dan membudaya itu, tugas guru bukanlah memaksakan sesuatu pada anak, melainkan menuntun mengeluarkan potensi-potensi bawaan anak agar bertumbuh.

Darisitulah muncul istilah education (Latin: educare; ex-ducare) yang berarti mengeluarkan dan menuntun, dalam arti mengaktifkan kekuatan terpendam bawaan sang anak.

Apa yang harus diaktifkan adalah budi-pekerti. Budi mengandung arti “pikiran, perasaan dan kemauan”; pekerti artinya “tenaga”. Alhasil, pendidikan budi-pekerti mengupayakan bersatunya pikiran, perasaan dan tekad-kemauan manusia yang mendorong kekuatan tenaga yang dapat malahirkan penciptaan dan perbuatan yangbaik, benar dan indah.

Dengan pengembangan “budi-pekerti” anak didik diharapkan berdiri sebagai manusia merdeka. Kemerdekaan yang harus ditumbuhkan dalam pendidikan mengandung tiga sifat: berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain dan dapat mengatur diri sendiri. Itu sebabnya mengapa di banyak negara, orang tua dilarang mengantar anaknya ke sekolah.

Sampai di sini, tampak jelas betapa terbelakangnya dunia pendidikan kita. Keterbelakangan sesungguhnya bukanlah ketika dibandingkan dengan pencapaian bangsa-banga lain; karena setiap bangsa punya sejarah, tantangan dan ukuran nilainya masing-masing; melainkan keterbelakangan dari hakikat pendidikan yang dikehendaki.

Apa yang Harus Dilakukan?

Pendidikan sebagai proses belajar menjadi manusia berkebudayaan yang merdeka itu berorientasi ganda: memahami diri sendiri dan memahami lingkungannya. Kedalam, pendidikan harus memberi wahana kepada peserta didik untuk mengenali siapa dirinya sebagai “perwujudan khusus” dari alam. Proses pendidikan harus membantu peserta didik menemukenali kekhasan potensi dirinya sekaligus kemampuan untuk menempatkan keistimewaan diri itu dalam konteks keseimbangan dan keberlangsungan jagad besar.

Ahli-ahli pendidikan berhaluan merdeka, mulai dari Maria Montessori, Helen Parkhurst, Rabindranath Tagore, Ki Hadjar Dewantara hingga Paulo Freire mengingatkan fungsi pendidikan sebagai usaha mencerdaskan jiwa kanak-kanak menurut kodratnya masing-masing. Seturut dengan itu, kerja mendidik bukanlah mengajar, melainkan menuntun.

Karena potensi anak berbeda-beda, maka proses pendidikan jangan sampai menghilangkan kodrat individualitas seseorang karena terdidik bersama-sama yang lain. Harus lebih banyak ruang untuk menuntun anak secara individual, jangan hanya berbarengan secara klasikal.

Sedangkan keluar, pendidikan harus memberi wahana kepada anak didik untuk mengenali dan mengembangkan kebudayaan. Kebudayaan sebagai sistem nilai, sistem pengetahuan, dan sistem prilaku ini secara keseluruhan membentuk lingkungan sosial yang dapat menentukan apakah disposisi karakter seseorang berkembang menjadi lebih baik atau lebih buruk.

Bibit unggul individualitas harus tumbuh di atas tanah sosialitas Pancasila yang subur. Maka dari itu, pengembangan “kecerdasan kewargaan” berbasis Pancasila bukan sekadar ornamen, melainkan substansi penting pembelajaran. Itu sebabnya, muatan ujian nasional yang dirumuskan kementerian semestinya (pun secara historis) lebih menekankan subjek-subjek yang dapat memperkuat integrasi nasional dan karakter bangsa, seperti sejarah, geografi, bahasa, dan ideologi bangsa. Adapun bahan uji bagi mata pelajaran lainnnya bisa dirumuskan oleh asosiasi-asosiasi pengajar dalam mata pelajaran yang sama.

Prioritaskan Pendidikan Dasar

Ibarat pohon, akar merupakan titik tumpu ketahanan bertumbuh. Demikian juga halnya dalam proses tumbuh hidupnya manusia. Solusi atas keterbelakangan hasil pendidikan kita harus dimulai dengan memperkuat pendidikan dasar. Sesuai dengan namanya, pendidikan dasar harus benar-benar memberikan modal dasar dalam proses belajar menjadi manusia seutuhnya. Pendidikan sebagai proses kebudayaan menghendaki agar proses belajar-mengajar tidak hanya berorientasi pada pengembangan kemampuan kognitif, melainkan juga kemampuan afektif dan konatif.

Pertama-tama, kurikulum pendidikan dasar harus memberi perhatian pada olah pikir lewat pembelajaran membaca, menghitung, menutur, mendengar, menulis, dan meneliti dalam kerangka budi pekerti. Pelajaran membaca lebih dari sekadar belajar melek-huruf, atau sekadar membaca buku pelajaran yang diwajibkan. Pelajaran membaca harus menjadi kecapakan fungsional yang dibiasakan (reading habit) sejak pendidikan dasar. Kecakapan dan kebiasaan membaca sejak dini akan memudahkan anak-anak untuk menjelajahi dunia ilmu pengetahuan melampaui batas-batas pelajaran sekolah.

Budaya baca kian penting dihadapkan pada perluasan terpaan media digital dengan muatan pesan yang serba ringkas dan instan. Tanpa tradisi membaca yang kuat akan sulit bagi generasi baru untuk memahami dan mengembangkan penalaran panjang seperti pengetahuan-pengetahuan naratif (filsafat, ideologi, sejarah, agama, sastra dan lain-lain). Padahal, pengetahuan naratif merupakan sumber penemuan diri dan pembentukan karakter.

Oleh karena itu, paling tidak satu hari dalam seminggu, harus disediakan wahana bagi anak-anak untuk membaca atas pilihannya sendiri. Sekolah hanya menyediakan bahan-bahan bacaan yang sejalan dengan misi pendidikan budi-pekerti. Setelah membaca, anak-anak juga harus dilatih untuk menuturkan apa yang mereka tangkap dari bahan bacaan. Latihan menutur bukan sekadar membantu mengingat, tetapi juga melatih kepercayaan diri, serta pembiasaan saling mendengar dan saling mengapresiasi sesama peserta didik.

Selain membaca, siswa harus diberikan kecapakan menghitung. Pada enam tahun pertama pendidikan dasar, tidak perlu diberikan pelajaran matematika yang rumit. Negara, seperti Finlandia, dengan prestasi pendidikan yang hebat pun mulai menghilangkan pelajaran matematika di sekolah dasar. Pada tingkat ini, cukuplah diberikan pelajaran aritmatik sederhana sebagi dasar kecapakan hidup, yang diterapkan langsung dalam praktik kehidupan. Pelajaran matematika bolehlah mulai diperkenalkan pada kelas tujuh.

Pelajaran membaca berkelindan dengan pelajaran menulis. Pelajaran menulis tidak sekadar diletakkan di pojok mata pelajaran bahasa, melainkan subjek tersendiri yang terintegrasi dengan seluruh mata pelajaran. Kecakapan menulis merupakan bekal dasar bagi asah kemampuan logika, sistematika, meneliti dan mencipta. Tak heran, saat Amerika Serikat menyadari penurunan daya saing, solusi kurikulumnya justrume wajibkan pelajaran mengarang di tingkat pendidikan dasar dan menengah (Godzich, 1994).

Menumbuhkan hasrat menulis pada gilirannya akan mendorong semangat meneliti, baik lewat membaca ayat-ayat kitabiyah (buku), ayat-ayat kauniyah (alam semesta),ayat-aya tarikhiyah (sejarah), dan ayat-ayat nafsiyah (diri sendiri). Di situlah, anak terdidik agar kelebihan dirinya tidak menimbulkan kacau-kaos, melainkan beres-kosmos bagi kehidupan semesta.

Kedua, kurikulum pendidikan dasar harus menyediakan peserta didik suatu wahana olah rasa untuk mengasah daya-daya afeksi yang dapat memperkuat kepekaan estetik, kehalusan perasaan, keindahan perangai, kepekaan empati dansolidaritas sosial, sensitivitas daya spiritualitas, ketajaman rasa keadilan, semangat kebangsaan (nasionalisme) dan gotong-royong.

Untuk itu, kurikulum pendidikan hendaklah memberi perhatian pada pelajaran kesenian, moral keagamaan, kesejarahan, pendidikan karakter personal dan kewargaan, wawasan kebangsaandan kemanusiaan.

Ketiga, kurikulum pendidikan juga harus memberi wahana olah raga untuk mengembankan ketahanan, ketangkasan dan kesehatan jasmani, yang diperlukan sebagai sarana fisik untuk mengaktualisasikan segala pontensi budi-pekerti anak.

Tak kurang dari filsuf pendidikan seperti Socrates dan Plato jauh-jauh hari telah menekankan pentingnya pendidikan gimnastik (olah tubuh/fisik). Olah raga selain menawarkan kesederhanaan dalam menghasilkan hidup sehat, juga dapat mengembangkan sportivitas, keriangan permainan, ketahanan mental, keberanian mengambil risiko, semangat kerjasama dan jiwa patriotisme.

Keempat, kurikulum pendidikan harus menumbuhkan olah karsa yang dapat mendorong kemauan peserta didik untuk mengembangkan kecakapan hidup dengan mengenali dan mengaktualisasikan potensi kecerdasannya masing-masing.

Orientasi pada pemuliaan ragam inteligensia menuntut perubahan sistempembelajaran dari “sekolah berorientasi kelas” menuju ”sekolah berorientasi individu”. Kurikulum inti dibuat lebih terbatas untuk memberi keleluasaan bagi siswa untuk mengambil subjek pilihan sesuai dengan minat dan bakatnya.

Konsekuennya fungsi guru bukan sekadar mengajar, melainkan sebagai penuntununtuk memantau potensi dan kecenderungan masing-masing siswa; berperan sebagai broker kurikulum yang membantu siswa mengembangkan potensi dan preferensinya; sekaligus menjadi broker yang menghubungkan siswa dengan
komunitas yang lebih luas.

Minat dan bakat siswa harus bisa dihubungkan dengan berbagai cerlang budaya dan pusat teladan di lingkungan negara, pasar dan masyarakat. Untuk itu, kerangka insentif perlu diberikan oleh pemerintah danmasyarakat kepada orang/institusi yang menyediakan kesempatan belajar luar sekolah.

Alhasil, sekolah di masa depan dituntut untuk lebih menghargai keunikan danotonomi individu serta mengembangkan iklim yang kondusif untuk mentransformasikan pribadi unggul menjadi kolektivitas unggul, dengan menempatkan kreativitas dan karakter di jantung kurikulum.

Pembenahan Guru

Untuk dapat mengemban tugas pendidikan seperti itu, guru juga harus diberi derajat kebebasan yang lebih besar untuk mengembangkan kreativitas dan inovasinya dalamproses pengajaran. Dalam kaitan ini, pengembangan kurikulum yang dikembangkan pemerintah tidak perlu terlalu kaku dan mendetil. Harus dihindari kecenderungan ganti menteri ganti kurikulum.

Sejalan dengan pasal 38 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003, yang dilakukan pemerintah cukuplah menggarikan “kerangka dasar dan struktur kurikulum”. Selebihnya, berikan kebebasan kepada guru untuk berimprovisasi. Pendidikan sebagai proses pemerdekaan tidak bisa dicapai, bila gurunya sendiri terbelenggu.

Pada titik ini, prioritas selanjutnya adalah peningkatan mutu guru. Seorang juru didik memerlukan kecakapan yang lebih baik dari juru ukir. Jika seorang pengukir kayu saja wajib mempunyai pengetahuan yang mendalam dan luas tentang hakekat kayu dan teknik ukir, apa lagi juru didik yang diharapkan mampu mengukir manusia secara lahir dan batin.

Sungguh ironis, rekrutmen tenaga pendidik saat ini lebih mementingkan aspek-aspek formal ijazah dan tingkat pendidikan, dengan melupakan kompetensi didaktik-metodiknya.

Sudah saatnya pesan Undang-Undang Sisdiknas mengenai perlunya sekolah guru berasrama segera diwujudkan. Tak cukup bekal kesarjanaan di berbagai disiplin ilmu, para calon pendidik masih harus mendapatkan proses penggemblengan dalam kecapakan ilmu pendidikan setidaknya selama satu tahun.

Itulah peta jalan sederhana agar dunia pendidikan benar-benar menunaikan kerja mendidik tunas-tunas harapan bangsa demi keselamatan dan kebahagiaan hidup bersama.

(Yudi Latif, Penghayat Ajaran Ki Hadjar Dewantara)

Tentang Kepemimpinan

Sunindyo
Jul 08, 2016
Tentang Kepemimpinan

Seth Godin, seorang pakar marketing, dalam bukunya tentang kepemimpinan yang berjudul Tribes, menyebutkan bahwa kepemimpinan tidak hanya berarti memimpin dari depan. Bisa juga berarti mendukung dari belakang. Yang jelas memimpin itu tidak diam, tidak berhenti.

Hal ini selaras dengan apa yang dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hadjar Dewantoro, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, yang artinya di depan memberikan teladan, di tengah membangun harapan, dan di belakang memberikan dorongan.

Peran seorang pemimpin menjadi penting dewasa ini. Tidak hanya menjadi orang yang berada di depan untuk menggerakkan perubahan, ia bisa berada di berbagai lini sektor untuk memungkinkan perubahan itu terjadi. Pemimpin bukanlah orang yang mengerjakan segala sesuatu seorang diri, ia “hanya” memberi arah ke mana yang akan dituju.

Banyak orang yang memberikan definisi seorang leader atau pemimpin, sebagai seorang yang knows the way, shows the way, dan goes the way. Seorang yang tahu jalan, menunjukkan jalan, dan menjalaninya. Ini baru sebagian benar. Karena pada kenyataannya, seorang pemimpin juga harus menjalani segala macam penderitaan dan tekanan serta tanggung jawab yang lebih besar daripada yang dipimpinnya.

Orang membayangkan bahwa pemimpin adalah seorang sosok luar biasa yang sempurna dan tidak pernah salah dalam mengambil keputusan. Dan jika ia salah, maka kita layak mencercanya. Ini tidak sepenuhnya benar. Kita hidup di era partisipatif, di mana seluruh di antara kita adalah pemimpin, untuk lingkup yang berbeda-beda. Pemimpin adalah manusia biasa yang bisa belajar dan berproses. Ia bisa salah, tapi ia bisa belajar dan memperbaiki kesalahannya. Sudah bukan jamannya kita meletakkan segala kesalahan hanya pada pemimpin dan cuci tangan atas segala permasalahan yang ada manakala kita dibutuhkan. Karena pada hakikatnya kita adalah pemimpin dan menjadi bagian dari kepemimpinan itu sendiri.

Lalu apakah kepemimpinan itu tidak menyenangkan? Apakah ia harus rela menderita? Mengapa banyak orang yang ingin menjadi pemimpin? Mengapa pula banyak yang gagal?

Semua itu adalah soal niat dan motivasi. Kita tidak bisa menilai pemimpin sebagai sesuatu yang berada di luar kita atau sangat berbeda dengan kita. Karena kita adalah pemimpin, dan pemimpin adalah kita. Kita bisa menilai diri kita sendiri, apakah kita sudah layak menjadi pemimpin yang baik? Dengan demikian kita bisa secara fair menilai kepemimpinan orang lain tanpa judgment/penilaian yang berlebihan.

Kita bisa melihat sosok seorang pemimpin secara wajar, sebagai manusia biasa,dengan segala kelebihan dan kekurangannya, tanpa kultus individu yang berlebihan atau pula cercaan yang berlebihan kala ia salah.

Yang menjadi perbedaan, bahwa seorang pemimpin mempunyai inisiatif dan perhatian yang besar pada yang dipimpinnya. Ia selalu ada dan tidak tinggal diam. Semua orang bisa menjadi pemimpin dalam lingkup yang ia suka dan kuasai. Dan ia bisa membawa dan menggerakkan perubahan secara gradual. Belum tentu suatu yang sangat fenomenal. Namun yang penting adalah sesuatu yang signifikan dan berarti bagi yang dipimpinnya.

Menjadi pemimpin berarti siap pula dipimpin. Dipimpin oleh orang lain, dipimpin oleh visinya, bukan oleh hawa nafsunya. Untuk itu pemimpin perlu memperhatikan kepada siapa dia harus bertanggung jawab. Kepada Tuhannya, kepada orang yang dipimpinnya, kepada masyarakat sekitarnya, kepada bangsa dan negaranya, kepada alam semesta.

Memang tidak mudah untuk menjadi pemimpin yang baik. Tapi tidak mudah bukan berarti tidak mungkin. Berdiam diri bukanlah pilihan. Apalagi cuma mencaci dan merutuki nasib tidak akan membawa perubahan apa-apa. Bergeraklah. Ambillah inisiatif dan mainkan peranan kita, di depan, tengah ataupun belakang. Menginspirasi dan menggerakkan. Dengan kata-kata atau perbuatan, semua bernilai. Beranilah bertindak karena benar, jangan ragu-ragu atau putus asa.

Sistem Among pada Era Digital 3.0

Wicak Amadeo

Ki Hajar adalah wujud keterbukaan pada perubahan
Ki Hadjar Dewantara mengubah namanya sebagai wujud manisfestasi perubahan sikapnya dalam melaksanakan pendidikan yaitu dari satria pinandita ke pinandita satria yaitu dari pahlawan yang berwatak guru spiritual ke guru spiritual yang berjiwa ksatria, yang mempersiapkan diri dan peserta didik untuk melindungi bangsa dan negara. Nama Hadjar Dewantara sendiri memiliki makna sebagai guru yang mengajarkan kebaikan, keluhuran, keutamaan.

Para pamong hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian dan kerohanian, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa.

Dengan kata lain, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah fungsinya sebagai model atau figure keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau pengajar. Oleh karena itu, Pamong atau Sang Hadjar adalah seseorang yang memiliki kelebihan di bidang keagamaan dan keimanan, sekaligus masalah-masalah sosial kemasyarakatan.

Latar Belakang

Pada jaman kemajuan teknologi sekarang ini, sebagian besar manusia dipengaruhi perilakunya oleh pesatnya perkembangan dan kecanggihan teknologi (teknologi informasi). Banyak orang terbuai dengan teknologi yang canggih. Karena sempitnya pemahaman arti perkembangan Teknologi dan Informasi, orang cenderung melupakan aspek-aspek lain dalam kehidupannya, seperti pentingnya membangun relasi dengan orang lain, perlunya melakukan aktivitas sosial di dalam masyarakat, pentingnya menghargai sesama lebih daripada apa yang berhasil dibuatnya, dan lain-lain.

Seringkali teknologi yang dibuat manusia untuk membantu manusia tidak lagi dikuasai oleh manusia tetapi sebaliknya manusia yang terkuasai oleh kemajuan teknologi. Manusia tidak lagi bebas menumbuh-kembangkan dirinya menjadi manusia seutuhnya dengan segala aspeknya.

Keberadaan manusia pada zaman ini seringkali diukur dari “to have” (apa saja materi yang dimilikinya) dan “to do” (apa saja yang telah berhasil/tidak berhasil dilakukannya) daripada keberadaan pribadi yang bersangkutan (“to be” atau “being”nya).

Dalam pendidikan perlu ditanamkan sejak dini bahwa keberadaan seorang pribadi, jauh lebih penting dan tentu tidak persis sama dengan apa yang menjadi miliknya dan apa yang telah dilakukannya. Sebab manusia tidak sekedar pemilik kekayaan dan juga menjalankan suatu fungsi tertentu. Pendidikan yang humanis menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang (menurut Ki Hadjar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif)). Singkatnya, “educate the head, the heart, and the hand !”

Perkembangan Peradaban Teknologi dan Informasi pada Era Digital 3.0

Di tengah-tengah maraknya globalisasi komunikasi dan teknologi, manusia makin bersikap individualis. Mereka “gandrung teknologi”, asyik dan terpesona dengan penemuan-penemuan/barang-barang baru dalam bidang iptek yang serba canggih, sehingga cenderung melupakan kesejahteraan dirinya sendiri sebagai pribadi manusia dan semakin melupakan aspek sosialitas dirinya.

Menurut Ketua Kelompok Keahlian Teknologi Informasi ITB Dr. Armein Z.R. Langi, Model Edukasi di mana guru menjadi sumber ilmu dan murid menjadi penerima ilmu disebut Edukasi 1.0 sedangkan Model Edukasi dimana guru dan murid bermitra belajar disebut Edukasi 2.0. Sementara pada versi Edukasi 3.0, murid secara kolektif menjadi sumber ilmu bagi individu, di mana guru menjadi fasilitator dan narasumber pendukung proses belajar, yaitu pendidikan yang memberi kesempatan belajar menjadi milik mereka yang memiliki selera yang tinggi akan pengetahuan serta kapasitas “metabolisme pengetahuan yang tinggi pula.

Oleh karena itu, pendidikan dan pembelajaran hendaknya diperbaiki sehingga memberi keseimbangan pada aspek individualitas ke aspek sosialitas atau kehidupan kebersamaan sebagai masyarakat manusia. Pendidikan dan pembelajaran hendaknya juga dikembalikan kepada aspek-aspek kemanusiaan yang perlu ditumbuh-kembangkan pada diri peserta didik.

Kekeliruan menafsirkan konsepsi Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan karena hanya menyorot secara sepotong-sepotong, khususnya tentang “metode Among” dengan trilogi kepemimpinannya (Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tutwuri Handayani) sehingga justru mengaburkan gagasan awalnya sendiri tentang rekonstruksi pemikiran Ki Hadjar Dewantara.

Pendidikan di Tamansiswa

Menurut Ki Hadjar Dewantara, mendidik adalah proses memanusiakan manusia (humanisasi), meningkatkan manusia ke taraf insani. Meski ia membedakan “Pengajaran” dan “Pendidikan”, keduanya harus saling bersinergi. Pengajaran memerdekakan manusia dari aspek lahiriah : kemiskinan dan kebodohan, sedangkan pendidikan memerdekakan manusia dari aspek batiniah : otonomi berpikir, mengangkat martabat dan mentalitas demokratik.

Dalam Mendidik, Metode yang digunakan oleh Tamansiswa adalah sistem among, yaitu pendidikan yang berdasarkan asih, asah dan asuh, pada teknik pengajaran meliputi “kepala, hati dan tangan” (educate the head, the heart, and the hand).

Pada masa lalu, kemampuan manusia dalam mengolah cipta, rasa, karsa kekuatan manusia dalam mempertahankan kelangsungan hidup dan telah menghasilkan peradaban menakjubkan, melahirkan peradaban besar di masa lalu. Itulah sebabnya, orang-orang tua dahulu sering mengatakan bahwa apabila kita bisa menyelaraskan 3 komponen kata di atas, maka kita akan bisa merasakan nikmatnya kehidupan (kemakmuran dan kebahagiaan).

Sistem Among

Ki Hadjar Dewantara menggambarkan dalam sebuah sistem pendidikan (Among Systems) yang terdiri dari “Cipta (the Head) atau Pola Pikir – Rasa (the Heart) atau Pola Emosi – Karsa (the hand) atau Pola Sikap.” Tiga komponen kata tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan (tritunggal atau tridaya), yang mendasari kekuasaan yang tertinggi.

Pasal 25 (4) Peraturan Pemerintah No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menjelaskan bahwa Kemampuan/kompetensi Lulusan suatu jenjang pendidikan mencakup 3 (tiga) ranah, yaitu :

1. Kemampuan Berpikir,
2. Ketrampilan Melakukan Pekerjaan,
3. Prilaku.

Setiap peserta didik memiliki potensi pada ketiga ranah tersebut, namun tingkatnya satu sama lain berbeda. Ini menunjukkan keadilan Tuhan YME, setiap manusia memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi kemampuan untuk hidup di masyarakat. Untuk itu, para Pendidik/Pamong Pengajar dalam menilai siswa, wajib memperhatikan ketiga faktor tersebut sebagai acuan/indikator penilaian.

Kemampuan Berpikir merupakan ranah Kognitif, meliputi kemampuan menghafal, memahami, menerapkan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi.
Kemampuan psikomotorik yaitu ketrampilan yang berkaitan dengan gerak, menggunakan otot seperti lari, melompat, menari, melukis, berbicara, membongkar, dan memasang peralatan, dan sebagainya.
Kemampuan afektif berhubungan dengan minat dan sikap yang dapat berbentuk tanggung jawab, kerjasama, disiplin, komitmen, percaya diri, jujur, menghargai pendapat orang lain, dan kemampuan mengendalikan diri.
Semua kemampuan ini harus menjadi bagian dari tujuan pembelajaran di sekolah.

Implementasi Sistem Among Dalam menjawab Peradaban

Menurut Ki Hadjar Dewantara, kebudayaan adalah buah budi manusia melalui olah-cipta (kognitif), olah-rasa (afektif) dan olah-karsa (konatif). Lalu dimanakah ranah psikomotorik-nya (olah-karya) untuk melengkapi Taksonomi Bloom (1956) sebagai arus utama yang melandasi penyelenggaraan pendidikan? Dalam tiga ranah itu terkandung totalitas potensi subyek didik yang perlu dikembangkan secara terintegrasi, bukan parsial (tritunggal atau tridaya).

Dengan mencermati kembali metode among, yang secara teknik pengajaran meliputi “kepala, hati dan tangan”, maka konsep Ki Hadjar Dewantara tersebut sesungguhnya secara implisit telah terkandung aspek psikomotorik, menyangkut ketrampilan fisik dalam mengerjakan sesuatu. Dalam Ajaran Ki Hadjar Dewantara hal ini disebut dengan Pendidikan berdasarkan kodrat Alam, dimana pendidikan berdasarkan ‘kodrat Sang Anak’ melalui ketiga indikatornya “Cipta (the Head) atau Pola Pikir –Rasa (the Heart) atau Pola Emosi – Karsa (the hand) atau Pola Sikap,” atau menempelkan anak sebagai figur sentral dalam pendidikan dengan memberikan kemerdekaan sepenuh-penuhnya untuk berkembang.

Pembelajaran pada Anak Digital 3.0 adalah pencerdasan mesin pengetahuan secara ‘kodrat’ dan ‘simultan’ yaitu manusia yang terdiri sebagai makhluk Karbon dan Silikon (Cipta- Rasa dan Karsa). Ada pembagian tugas antara manusia makhluk Karbon dan Silikon. Apa yang secara efektif disimpan Silikon seperti website, internet tidak perlu disimpan oleh Karbon. Teknologi digital elektromagnetika membuat koneksi antara pikiran seseorang dengan pikiran orang lain menjadi lebih lancar. Mesin Silikon membangun organisme Silikon besar (cloud computing), individu Karbon saat ini bisa membangun organisme yang besar yang disebut knowledge society. “Masyarakat terdidiklah yang menyelenggarakan Edukasi versi 3.0 sebagai pihak yang paling berkepentingan dengan pembangunan organisme bernama knowledge society,” (Pakar Pendidikan TIK, Dr. Armein Z.R. Langi)

Referensi :

http://pendidikan-tepat-guna.blogspot.co.id/…/hukum-keterta…
http://pendidikan-tepat-guna.blogspot.co.id/…/menggagas-ren…
http://pendidikan-tepat-guna.blogspot.co.id/…/pemikiran-ki-…
http://pendidikan-tepat-guna.blogspot.co.id/
http://www.pikiran-rakyat.com/…/pendidikan-abad-21-dibangun…

Pendidikan dan Kebudayaan

Daoed Joesoef ; Alumnus Université Pluridisciplinaires Pantheon-Sorbonne
KOMPAS, 07 November 2014

SETELAH menanti selama sepekan penuh, the longest week that ever exist, Presiden Joko Widodo mengumumkan komposisi pemerintahannya. Setelah menyaksikan di layar televisi susunan Kabinet Kerja-nya, saya sangat kecewa.
Presiden cum pemimpin baru Indonesia betul-betul telah keliru memahami ”pendidikan” dan ”kebudayaan”, yang saya pikir bukan merupakan konsen saya saja, melainkan adalah masalah masa depan Indonesia selaku satu negara-bangsa.

Padahal, dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Tanah Air tercatat jelas bahwa Indonesia adalah satu-satunya bangsa yang sewaktu masih dijajah berani mendirikan sekolah bersistem nasional berhadapan dengan sekolah kolonial Belanda. Sekolah nasional itu adalah Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara di Yogyakarta. Ada Indonesische Nijverheid School yang didirikan Moh Syafei di Kayu Tanam dan Normal School yang didirikan oleh Willem Iskander di Tano Bato.

Semua lembaga pendidikan nasional tersebut secara esensial membelajarkan aneka pengetahuan yang dikemas dalam budaya nasional dan bermental perjuangan kemerdekaan. Dengan kata lain, para pendiri bangsa itu sama-sama berpendirian bahwa pendidikan adalah bagian dari kebudayaan. Bagian dari sistem nilai yang dihayati oleh manusia. Pendidikan bertugas mengembangkan manusia menjadi pencipta nilai dan pemberi makna pada nilai.

Satu menteri

Kini pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla memecah belah keutuhan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Yang dibenarkan masih ”berbudaya” adalah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, sedangkan sempalannya, pendidikan tinggi, digabung ke Kementerian Riset dan Teknologi, tanpa kebudayaan. Kebijakan ini sungguh merisaukan karena kekeliruan kecil bisa berakibat besar yang tak terelakkan, suatu bahaya fatal yang dahulu sudah diingatkan oleh Aristoteles.

Betapa tidak. Pendidikan adalah satu keseluruhan walaupun dibuat berjenjang, secara formal sejak TK hingga S-3. Pendidikan (education) beda dengan persekolahan (schooling). Persekolahan mengurus (memikirkan) semua bahan pelajaran yang diperlukan oleh anak didik untuk mampu survive dalam menempuh kehidupan. Pendidikan bertanggung jawab atas perkembangan keseluruhan pribadi anak—the development of the whole child. Maka, penting sekali bahwa pendidikan formal anak bangsa ditetapkan di bawah tanggung jawab satu orang menteri, siapa pun dia.

Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi tidak dikaitkan dengan kebudayaan. Lalu, bagaimana dengan ”nasib” Fakultas Ilmu Budaya, Akademi Seni Rupa dan Musik serta Karawitan, serta Fakultas Seni Rupa dan Desain dari ITB, yang notabene membelajarkan teknologi? Bukankah semua lembaga pendidikan yang disebut tadi tergolong pada perguruan tinggi? Apakah akan dimatikan begitu saja? Kalau dibiarkan hidup, mereka ”berinduk” ke mana? Masak urusannya akan diserahkan begitu saja kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yang masih ”berbudaya”.

Proses pendidikan tinggi di mana pun di dunia berusaha menghasilkan ”budayawan” (man of culture), bukan ”ilmuwan” (man of science), walaupun tidak selalu dinyatakan secara eksplisit. Sebab, ilmu pengetahuan tanpa budaya bisa tergelincir ke teknologi (applied science) yang menghancurkan manusia itu sendiri. ”It is not the business of science to inherit the earth,” kata Prof Bronowski, ”but to inherit the moral imagination; because without that, man and belief and science will perish together.”

Sementara yang konsen pada moral dan moralitas adalah budaya, sebagai salah satu nilai yang terus-menerus menjadi urusannya para excellence. Dan, kita selaku satu bangsa diniscayakan mengembangkan kebudayaan demi bisa mencapai peradaban. Bukankah sila kedua dari Pancasila berbunyi: ”Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Unsur yang membentuk peradaban adalah kebijakan, pengetahuan, dan keindahan.

Ini bukan berarti bahwa riset tidak perlu. Kita menghadapi masa depan dengan suatu senjata yang tidak dikenal oleh penguasa negeri puluhan tahun yang lalu. Senjata ini berupa pengetahuan ilmiah dan kapasitas menyempurnakannya tanpa batas melalui riset ilmiah pula. Sejauh yang mengenai Indonesia dewasa ini, hal ini dapat dilaksanakan di lingkungan satu lembaga formal, yaitu Kemendikbud.

Kementerian ini membawahi kegiatan pendidikan tinggi yang sudah mengurus pendidikan penelitian dan pengabdian masyarakat. Kalau kegiatan penelitian ini perlu lebih diintensifkan dan, karena itu, dianggap perlu ada Kementerian Riset tersendiri, silakan saja. Namun, jangan merusak lembaga yang sudah berjalan. Kementerian Riset seharusnya memanfaatkan lembaga-lembaga riset yang sudah ada, yaitu LIPI, BPPT, bila perlu Bappenas. Sambil lalu perlu dipertanyakan apakah pemecahan Kemendikbud sudah dikonsultasikan lebih dahulu pada Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI)?

Segera koreksi

Ide pemecahan Kemendikbud ini konon datang dari Forum Rektor Indonesia. Kalau hal ini benar, sungguh disayangkan. Ternyata para rektor ini tidak menyadari ide humanitarian yang membentuk lembaga-lembaga pendidikan yang selama ini mereka pimpin. Mereka ternyata adalah ”guru” dan ”besar”, tetapi bukan pendidik in spite of kebesarannya itu. Mereka menganggap jabatannya semata-mata sebagai suatu profesi teknis, bukan vokasi (suatu panggilan nurani). Mereka sungguh tega mempermainkan pendidikan.

Maka, ada baiknya para rektor dan dekan membaca tulisan yang penuh dengan kearifan dari Prof Dr Tjipta Lesmana berjudul Jangan Pecah Kemendikbud. Selama 40 tahun dia memberi kuliah di beberapa universitas/perguruan tinggi dan pernah ikut riset di LPPM yang ketika itu dipimpin seorang teknikus picik. Berdasarkan pengalamannya itu, Tjipta Lesmana berpendapat, penggabungan perguruan tinggi ke riset dan teknologi mengandung dua kesalahan berpikir yang fatal.

Pertama, riset tidak mesti selalu diarahkan ke kebutuhan pasar dan industri. Keharusan riset seperti ini adalah pandangan Marxis yang serba materialistis dan kurang memandang manusia sebagai ”thinking thing”, sebagaimana dinyatakan oleh Descartes: cogito ergo sum, aku berpikir, maka aku ada.

Peradaban Barat amat mencerahkan bukan berkat penelitian materialistis, melainkan karena karya-karya besar dari ”the thinking thing”, berupa hasil penelitian sosial, terutama penelitian filosofi. Budaya Indonesia ”rusak” karena negara kita kekurangan ahli pikir. Sementara nenek moyang kita telah berpepatah, ”pikir itu pelita hati, salah pikir binasa diri”.

Masih menurut Pak Tjipta, teknolog-pemimpin riset cenderung melupakan nama-nama besar, seperti John Lock, John Milton, Mintesquieu, Rousseau, James Madison, dan Paine Burke, apalagi trio filosof nomor wahid di zaman Yunani Kuno: Socrates, Plato, dan Aristoteles, mereka semua jadi besar namanya di manca dunia karena kehebatannya berpikir dan berfilosofi sepanjang hayatnya.

Kesalahan pemikiran fatal kedua dari penguasa Indonesia kini adalah memecah kesatuan pendidikan dasar, menengah dan tinggi, dengan alasan yang sama seperti yang telah saya ajukan di atas.

Ada dikatakan bahwa pemecahan Kemendikbud setelah dilakukan perbandingan dengan keadaan pendidikan di luar negeri. Jangan sekali-kali membuat perbandingan dua kondisi yang tidak setara. Bandingkan kondisi kita dengan kondisi negeri maju ketika dahulu masih tertinggal seperti kita sekarang.

Di Perancis, misalnya, guru sekolah menengah (sudah) disebut professeur. Mereka adalah lulusan sekolah guru yang bernama Ecole Normale. Mereka sudah menjadi profesional begitu rupa hingga tanpa menteri atau kementerian apa pun di atasnya, proses pendidikan tetap berjalan sebagaimana seharusnya. Mereka inilah pelaksana sejati dari sistem pendidikan nasional bangsanya. Mereka sadar bahwa le gouvernement passe, les professeurs restent—pemerintah (boleh) silih berganti, tetapi para guru tetap di tempat. Di Indonesia belum terbentuk ketegasan profesionalisme di kalangan korps guru-guru kita. Mereka masih berupa pencari nafkah halal di bidang pendidikan.

Wahai Presiden dan Wakil Presiden, sebelum terlambat, masih ada kesempatan emas untuk mengoreksi kekeliruan kebijakan mumpung nasi belum telanjur menjadi bubur. Kembalikanlah keutuhan Kemendikbud, jangan main-main dengan pendidikan dan kebudayaan. Pikirkan baik-baik. Nenek moyang kita telah berpepatah: ”pikir itu pelita hati, salah pikir binasa diri”. Sementara itu, kaum intelektual dan para orangtua murid yang terdidik hendaknya tidak bersikap indifferent. Masa depan anak-anak Anda yang menjadi taruhan dan para masa depan mereka tergantung dari masa depan Indonesia.