Tiga Pilar Pertumbuhan Ekonomi : Desentralisasi Ekonomi, Kebangkitan Industri Nasional dan Pasar Domestik terkelola atau Managed

Jusman Syafii Djamal·
February 23, 2018

Tulisan ini merupakan sebuah Catatan Kecil tentang harapan di Tahun 2018 yang disebut tahun Politik. Sebab Pilkada serentak ada dimana mana.

Harapan agar ada Fokus untuk menciptakan kehidupan demokrasi yang semakin bersinar . Demokrasi politik dengan ritual pilkada setiap lima tahunan hingga saat ini, tidaklah cukup jika kita tidak menempatkan demokrasi sebagai wahana pencipta kesejahteraan bersama. Demokrasi adalah musyawarah untuk mufakat yang dijiwai hikmah kebijaksanaan untuk menciptakan Keadilan social bagi seluruh rakyat begitu kata para Pendiri Republik.

Pengalaman di banyak negara memperlihatkan bahwa Demokrasi tidak dapat berfungsi sebagai pembangkit kesejahteraan dan mesin pendorong pertumbuhan ekonomi tanpa desentralisasi kekuatan ekonomi yang tumbuh berkembang di pelbagai kawasan ekonomi. Inti dari Demokrasi adalah distribusi kekuasaan dan kewenangan yang dilengkapi oleh “systems check and balances”, agar tidak terjadi monopoli kekuasaan di satu tangan.

Dalam buku Demokrasi Kita, Bung Hatta sebagai Founding Father telah memberikan arah tentang demokrasi ekonomi dan demokrasi politik sebagai dua sisi dari mata uang yang sama. Tak mungkin Demokrasi Politik berkembang dengan baik tanpa demokrasi ekonomi.

Dalam banyak tulisannya Bung Hatta menegaskan keyakinannya , ia mengatakan :”bangsa ditentukan oleh keinsafan sebagai suatu persekutuan yang tersusun jadi satu, yaitu keinsafan yang terbit karena percaya atas persamaan nasib dan tujuan. Keinsafan yang bertambah besar oleh karena seperuntungan, malang yang sama diterima, mujur yang sama didapat, pendeknya oleh karena peringatan kepada riwayat bersama yang tertanam dalam hati dan otak”.

Pada kedalaman filosofinya, demokrasi ekonomi Bung Hatta berisi gagasan tentang pola pengambilan keputusan sosial-ekonomi di tangan publik mayoritas .

Rasionalitas yang mendasarinya adalah pandangan bahwa hak politik yang penuh tidak dapat dimenangkan tanpa hak ekonomi yang penuh. Untuk menjamin tata kelola perekonomian yang demokratis dan memastikan distribusi yang pantas atas sumber daya ekonomi, kontrol politik dan hukum selayaknya dikembalikan kepada rakyat mayoritas. Hatta menegaskan bahwa rakyat tidak akan benar-benar berdaulat kecuali juga berdaulat dalam bidang ekonomi

Ini sebuah adagium yang kelihatannya dapat digunakan jika kita merenungkan makna demokrasi bagi kemajuan suatu bangsa. Sebab demokrasi adalah wahana bukan tujuan akhir. Sebuah wahana tak mungkin ia dapat bergerak seenaknya tanpa arah dan tujuan. Demokrasi bukan semata mata soal kebebasan berpendapat, bukan juga hanya suatu system yang bertumpu pada mekanisme pemungutan suara setiap lima tahun. Demokrasi harus ditempatkan sebagai pilar pencipta kesejahteraan rakyat, bukan sebaliknya. .

Salah satu tujuan Industrialisasi di Indonesia yang dilaksanakan secara terus menerus dari sejak tahun 1970 hingga 2018 atau selama kurang lebih 48 tahun, adalah mengurangi laju pertumbuhan Kemiskinan dan kepincangan social. Serta menjadi wahana transformasi dan infrastruktur iptek pencipta nilai tambah agar kemampuan penguasaan teknologi dan wahana pembangkit lapangan kerja dalam masyarakat, dapat di wujudkan dalam realitas sehari hari.

Salah satu kebijakan yang dapat muncul dari alam demokrasi adalah konsistensi kebijakan industrialisasi. Dalam kerangka fikiran demokrasi ekonomi seperti disampaikan diatas , maka pembangunan kawasan industry Nasional yang kokoh dan kuat, menempati posisi strategis dalam kebijakan ekonomi selama 48 tahun ini. Suatu arah kebijakan ekonomi yang didasarkan pada preposisi utama :”Industrialisasi mustahil tumbuh berkembang tanpa perlindungan negara yang kuat dan terus menerus”.

Mengapa sebagai suatu bangsa kita terus menerus seolah kalah bersaing dengan bangsa bangsa lain didunia dalam memproduksi barang dan jasa adalah pertanyaan klasik yang selalu muncul dipermukaan. Solusi atas pertanyaan itu adalah “policy on trade and industrialization”. Kebijakan tata kelola mekanisme pasar dan tata niaga produk industry Nasional.

Tingkat industrialisasi dibatasi oleh luasnya pasar. Mengapa di abad 18, Inggris dan bukan Belanda yang menjadi pembangkit Revolusi Industri Pertama adalah karena kesuksesan Inggris dalam menciptakan pasar tekstil dan mata rantai pasokan bahan baku kapas di dunia pada abad ke-18. Yang membuat industry tekstil dan produk tekstil tumbuh berkembang.

Demikian juga mengapa Amerika Serikat dan bukan Perancis atau Jerman yang mampu menyalip Inggris menjadi negara adidaya ekonomi berikutnya adalah karena dukungan kebijakan pemerintah AS yang konsisten dalam menciptakan pasar barang produksi industry dalam negerinya di abad ke-19. Yang lahir menjadi penemu terbesar dunia seperti Thomas Edison dan raksasa industri seperti Andrew Carnegie, Henry Ford, JP Morgan, John D. Rockefeller, dan Cornelius Vanderbilt.

Di abad 21 yang disebut sebagai abad Asia, bukannya India melainkan Tiongkok yang berada diposisi terdepan untuk mengambil alih posisi Amerika Serikat di bidang manufaktur dan inovasi. Mengapa begitu ?

Ini semata mata karena pemerintah Tiongkok telah secara konsisten dan bertahap berhasil meproteksi pasar domestiknya dan menciptakan pasar raksasa bagi Industri Domestiknya. Pasar Tiongkok ini berapa kali jauh lebih besar dari pasar Amerika Serikat

Di Tiongkok muncul kesadaran para pemimpin politik nya akan kenyataan bahwa “Pasar ‘bebas’ tidaklah sepenuhnya bebas dari pertarungan kepentingan. Pasar adalah barang publik mendasar yang sangat mahal.

Ambil contoh proses pembangunan industri yang sedang berlangsung sejak masa 1978 di Tiongkok yang didorong tumbuh berkembang bukan semata mata karena keberhasilan untuk menciptakan “layer keahlian” manusia bersumber daya iptek dalam mengadopsi teknologi maju.

Meski pembangunan keahlian Manusia Bersumber Daya Iptek merupakan prasyarat utama dari kemajuan industry nasional. Melainkan karena penguasaan teknologi oleh Manusia bersumber Daya Iptek, ditopang oleh pilar keberhasilan kebijakan ekonomi yang diarahkan pada upaya sistimatis berkesinambungan.

Kebijakan ekonomi yang diarahkan untuk penciptaan pasar domestic yang kuat dan kokoh dalam melindungi produk yang dibuat di dalam negerinya sendiri, oleh manusia bersumber daya iptek yang bekerja di pelbagai sektor industri nasional nya.

Pengalaman Tiongkok dari sejak tahun 1978 hingga 2018, atau 40 tahun, menunjukkan bahwa Pasar untuk barang-barang industri yang diproduksi secara massal didalam negeri tidak dapat diciptakan oleh satu policy economy ‘big Push’ berupa kebijakan industry substitusi impor dan “export oriented economic policy” semata.

Tidak mungkin industry nasional dapat tbuh berkembang hanya melalui sebuah surat keputusan dan program deregulasi diatas kertas semata. Ada proteksi terus menerus yang dipimpin oleh pemerintah untuk memajukan Industri Dalam Negeri melalui pelbagai kebijakan ekonomi, industry dan perdagangannya.

Industri tak mungkin tumbuh berkelanjutan hanya dengan “shock theraphy”. ini hanya dapat dibuat langkah demi langkah dalam urutan yang benar dalam rangkaian urutan ‘shock therapy’ untuk menjebol dan membangun pasar domestic yang memihak pada produk dalam negeri.

Jika kita ingin memetik pelajaran dari Kebangkitan Tiongkok untuk supremasi ekonomi global yang tak terbendung , itu semata mata karena mereka telah menemukan dan mengikuti resep yang benar melalui sistimatika urutan penciptaan pasar bagi industry dalam negerinya.

Pendekatan ini berbeda dengan kebijakan industry yang sebelumnya. Tiongkok mengalami tiga kali kegagalan dalam proses industrialisasi antara 1860 dan 1978. Sebab tidak dikaitkan dengan kebijakan perdagangan dan tata niaga komoditas dalam negeri.

Dengan kata lain Pasar domestik adalah kekuatan pembangkit industry. Tanpa pasar domestik yang terkelola dengan baik maka industry Nasional akan kehilangan mata air, sumber aliran revenue dan EBITDA yang cukup untuk tetap bertahan sepanjang masa.

Mohon Maaf jika terdapat kekeliruan dalam sharing tulisan kali ini.
Salam

Advertisement

Peran Hijrah Dalam Kebangkitan Peradaban

By: Azhar Fakhru Rijal

Tahun baru Islam 1438 H telah tiba. Tidak seperti Masehi memang, tapi jika mereka merayakannya dengan pesta kembang api yang menghabiskan ratusan juta (mungkin milyar), maka esensi yang harus kita dapat adalah intropeksi. Sejauh mana kita berkembang ? Seberapa besar peran kita untuk menyongsong kebangkitan Peradaban Islam ? Kiranya momen ini sangat tepat untuk kita merenungkan itu semua.

Hijriyah dihitung sejak Rasulullah melakukan hijrahnya ke Yatsrib. Sehingga materi pokoknya ada dalam nilai-nilai hijrah itu sendiri. Kita harus mulai memikirkan sebab mengapa Rasulullah hijrah. Dalam konteks perubahan, hijrah bisa kita maknai seperti muhajirin memaknai hal tersebut. Muhajirin melakukannya dengan meninggalkan segala yang mereka miliki di dunia. Istri, anak, rumah, ternak dan sanak famili mereka tinggalkan demi menjadi orang baru.

Dalam konteks hijrah, Rasulullah tentu akan lebih besar tanggungannya dari pada muhajirin. Karena hijrahnya Rasulullah adalah tauqifi, intruksi langsung dari Allah. Bukan karena situasi atau kondisi yang menekan untuk hijrah. Meskipun nyatanya dakwah Mekah penuh dengan tekanan, tapi Rasul bukan seorang yang akan kalah karena tekanan. Kalaupun karena tekanan seharusnya hijrah itu sudah terjadi sejak awal kenabian. Sedangkan tentang sebab hijrah karena banyaknya intimidasi dari pihak kafir itu setelah masuk opini kita. Opini biasa akan berujung kepada sebab rasional, padahal dalam dakwahnya Rasul sangat kaku dengan wahyu.

Sehingga perubahan bagi kita adalah keniscayaan. Terlebih 1 Muharram bisa menjadi momen bagi kita. Tidak harus berpindah tempat, sikap kita merubah diri dan sekeliling kita merupakan hijrah yang mulia di sisi Allah.

Perpindahan dari comfort zone kepada uncomfort zone selalu dipandang sulit. Tapi jika proses itu sudah terlewati, langkah selanjutnya bukan duduk manis menunggu peradaban islam muncul. Hijrah adalah modal awal menuju peradaban, masih ada keringat yang harus kita kucurkan dan pikiran yang kita sampaikan. Output hijrah Rasulullah adalah peperangan yang terjadi semenjak beliau di Madinah. Sehingga terbangun peradaban yang mendunia.

Semua itu dibangun dibawah panji Allah dan di atas perjuangan yang tidak habis karena syahidnya para sahabat. Perjalanan menuju peradaban dibutuhkan kerja sama dan apik antar lini. Vertikal antara jahiliyah menuju hijrah dan horizontal antar sesama tanpa memandang suku dan ras.

Hijrah sebagai penyangga peradaban akan memberi dampak yang besar. Semakin besar perjuangan dalam hijrahnya, akan melahirkan output yang lebih berkualitas dan menghasilkan outcome yang lebih memuaskan. Atau hijrah yang dipenuhi dengan perjuangan dan lillahi ta’ala, akan melahirkan kualitas petarung yang lebih tangguh menghadapi hadangan-hadangan dalam membangun peradaban. Setelah itu – kita optimis – lahirlah peradaban yang kita idamkan.

Memang bukan perihal yang mudah, tapi bisa terjadi. Karena Rasulullah berhasil, dan hijrah menjadi langkah besar yang dilakukannya. Oleh karena itu semangat berhijrah harus kita kobarkan. Karena tidak ada manusia sempurna, mari kita semua terus berhijrah kepada yang lebih baik.

10 Agustus 1995 s/d 10 Agustus 2016 , Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, Kemana Melangkah Pergi ?

10 Agustus 1995 s/d 10 Agustus 2016 , Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, Kemana Melangkah Pergi ?

Jusman Syafii Djamal

Hari ini Hari Kebangkitan Nasional. Sudah sejak tahun 2013, dihari ini saya buat acara sendiri diperpustakaan pribadi. Saya mulai mengklasifikasi kumpulan tulisan saya di facebook yang dikoleksi.

Awalnya tahun 2011saya mulai sering menulis catatan di facebook, dimalam hari atau pagi hari ketika ada sesuatu terlintas dikepala. Setelah membuat 100 catatan, seorang teman bilang tulisan saya bagus dibukukan.

Anjuran teman ini, kemudian saya lakukan tahun 2013. Agar punya milestone dan tenggat waktu saya mulai program mengumpulkan tulisan yang berserak dan mengklasifikasinya serta mengedit buku diawali setiap tanggal 10 Agustus untuk mengumpulkan catatan yang terserak dalam facebook.

Hasilnya Dua Buku dari Trilogi catatan fb telah terbit. Senang karena banyak komentar. Ada yang bilang jelek, banyak yang bilang terinspirasi. Alhamdulillah. Buku kedua berjudul Notes on Strategy. Buku pertama berjudul Notes on Leadership. Buku ketiga sya mulai hari ini, akan diberi judul Notes on Techno Economy and Innovation.

Mengapa kumpulan tulisan kali ini saya beri judul Notes on Techno Economy. Sebab hingga kini saya punya kerisauan sebagai seorang Insinyur Penerbangan. Saya amati teknologi yang dikuasai dan inovasi yang diciptakan oleh putra putri Bangsa Indonesia, masih saja dipandang kekuatan yang bergerak dalam orbit berbeda atau faktor yang berada terpisah dari Pertumbuhan Ekonomi.

Terus saja muncul anggapan bahwa Penguasaan Teknologi dan membangun kekuatan Industri Nasional, itu tidak gampang dan hanya membuang buang ongkos, sumber daya dan kekuatan finansial. Padahal Teknologi mudah dibeli sebagai produk jadi dari supermarket dunia. Semua sudah tersedia dan diproduksi di Negara lain. Mengapa pula kita perlu pusingkan, strategi dan langkah sistimatis untuk menguasainya. Cukup jadi operator såja.

Kini, kita jauh tertinggal. Infstaruktur iptek tidak tersedia. Laboratorium di Institusi Teknologi yang kita miliki seperti ITB sudah ketinggalan zaman. Sementara Teknologi apa saja yang diperlukan mudah dibeli. Mengapa kita sebagai Bangsa mesti menguasai dan memproduksi Teknologi ? Hanya buang fikiran dan alokasi anggaran saja. Mengapa perlu pelihara sapi sendiri , jika ada satay house bisa dikembangkan tanpa perlu bangun peternakan sapi di sini. Cukup impor saja daging dari lain. Jika perlu jeroan juga tersedia,

Begitu juga mau handphone, banyak merk bisa di beli. Yang low End dengan harga dibawah 500 rupiah ada. Mau yang high end diatas 10 juta tersedia. Tinggal beli. Untuk apa punya industri handphone.

Bis dan angkutan umum massal ? Mau pesan ribuan bis, mengapa sukar tinggal datangkan bis dari Swedia, Jerman ataupun China dan Jepang Korea. Kereta Api juga demikian, kenapa kita masih mempertahankan INKA di Madiun, ada Korea, China dan Jepang.

Dulu waktu sy masih kecil handuk, sabun, kecap, dan segala jenis produk rumah tangga ada label Made in Indonesia. Tahun 60 an Jembatan Semanggi, Stadion Senayan,Mesjid Istiqlal semua kontruksi dominan Made in Insinyur Indonesia. Tahun 70 an Textile, Sepatu, Baju banyak Made in Indonesia. Tahun 80 an produk elektronika, otomotip dan besi baja pipa gas dan pabrik petrokimia, buatan sendiri dari bumi indonesia. Tahun 90 an Bis, Kereta Api, Kapal dan Pesawat Terbang.

Kini atas nama Globalisasi, liberasi dan pasar bebas, Masyarakat Ekonomi Asean serta untuk efisiensi, produktivitas, quality cost and delivery semua produk dapat diimport dari luar negeri. Mindset fikiran yang secara sistimatis membentuk tembok untuk membonsai industri nasional. Industri Nasional kini tidak mengalami proses evolusi tumbuh berkembang, bertahap maju dan sustain. Melainkan alami proses involusi mengkerut layu dan mati.

Kata Made in Indonesia kini terasa asing ditelinga.

Setelah Asian Crisis, kepercayaan pada kekuatan Industri Nasional runtuh satu demi satu. Diawali dari pembubaran Badan Pengelola Industri Strategis, Induk Holding BUMN Industri Strategis seperti IPTN, Pindad, Krakatau Steel, INKA, INTI dan LEN.

Semua Industri Nasional kini seolah berjalan tanpa pola dan roadmap sebagai suatu kesatuan sebagai Indonesian Inc. Paling tidak itu keluhan yang saya terima ketika berdialog di ITB tiga hari lalu. Kita kehilangan elan vital untuk menguasai teknologi, karena seolah tak memiliki sasaran strategis dan roadmap serta strategi penguasaan teknologi.

Kita kini disibukkan dengan upaya membangun cerita pada anak cucu bahwa Teknologi dunia sudah berubah pesat. Apa yang kita kuasai kini sudah kadaluarsa. Sebagai bangsa kita perlu belajar dari nol lagi. Semua dianggap kurang, ada jurang keterampilan menganga. Skill gap.

Sebelum tahun 98, jumlah Insinyur masih sedikit, tapi produk berlabel Made in Indonesia lumayan banyak. Kini Insinyur bertambah , Made in Indonesia makin berkurang. Kita semua bilang kalah bersaing. Takut bertarung dan jago kandang. Yang salah diri sendiri. Tiap hari ada instropeksi, kurang ini dan itu.

Sementara setelah tahun 1998, titel insinyur lebih sulit diperoleh. Tak semua lulusan ITB dan ITS langsung disebut Insinyur, Ingineur. Ada jenjang yang harus diikuti. Semua membuat batas gerak maju. Kapan disebut Sarjana, Kapan dibilang Insinyur Profesional. Tak semua orang yang mampu berkuliah bisa disebut sarjana, begitu juga tidak semua yang sarjana teknik bisa disebut Insinyur. Ada jenjang sertifikasi yang harus diikuti. Siapa yang mensertifikasi dan apa saja saratnya tergantung siapa Boss nya. Tak ada yang baku.

Awalnya semua dibilang Sarjana Teknik. Sarjana Strata Satu belum punya keterampilan apa apa. Masih perlu tambah 2 atau 3 tahun lagi untuk punya sayarat menjadi Insinyur muda. Tidak semua Sarjana Teknik yang baru lulus boleh diakui gelar insinyur nya oleh Persatuan Insinyur Indonesia.Perlu pengalaman kerja dan testing serta ujian untuk diakui sebagai insinyur. Bahkan lulusan universitas ternama baik dalam negeri dan luar negeri tak boleh disebut insinyur.

Yg dinilai pengalaman kerja, Sementara kesempatan untuk mendapatkan pengalaman sukar dikar. Saya jadi inget ketika zaman Orde Baru, untuk jadi Presiden syarat utamanya adalah pengalaman lima than. Akibatnya hanya satu orang yang memenuhi start ?

Jika ada Sarjana Tekni lulusan ITB atau ITS ambil S2 di Delft dan kemudian ambil S3 di MIT Amerika atau , Princeton , Grand Ecole Perancis atau menempuh S2 dari Brausweigh sampai di Indonesia tidak mungkin langsung diakui sebagai insinyur perdefinisi.

Perlu ikuti apa yang disebut test kesetaraan utk disertifikasi ijazahnya dan keahliannya. Proses baku dibuat, yang jarang diamati siapa yang punya hak menguji siapa. Bukan tidak mungkin lulusan teknik penerbangan diuji oleh mereka yang berkeahlian teknologi pertanian. Banyak orang menganggap itu tidak penting. Yg utama ada proses berbelit untuk diakui. Kita memperumit diri sendiri. Sementara negara lain mempermudahnya.

Akibatnya saja dititik awal saja Manusia Bersumber Daya Iptek kita sudah mengalami rintangan untuk punya akselerasi dan mendapatkan kepercayaan dari Bangsanya sendiri. Tak heran dikemudian hari kita kedodoran dalam Competitiveness. Karena Administrasi dan birokrasi. Ibarat ular memakan buntutnya sendiri. Melingkar tanpa kemajuan berarti.

Tak heran kini ada ketakutan Indonesia kekurangan puluhan ribu insinyur. Karenanya kita boleh impor Insinyur. Asal warga negara asing kalau di negaranya disebut insinyur kitapun mengamini. Meski yg dari luar Negeri tak lulus Test Insinyur dari PII. Impor lebih utama dari ekspor.Kini banyak anak anak tak menyenangi Matematika, Fisika dan Kimia ,Biologi atau Hard Sciences. Semua ingin milih jalur Soft Sciences.

Dimasa depan bukan tidak mungkin kita kekurangan Dokter dan Ahli Pertanian. Kita akan terus menuju bangsa yang tidak peduli pada kekuatan Industri Nasional. Tekad untuk jadi Negara Produsen jauh panggang dari api. Ada yang menyebut saya pesimis. Tapi saya hanya menyajikan fakta. Apa benar begitu marilah diverifikasi.

Program pembangunan infrastruktur kini didorong oleh Presiden Jokowi. Sebuah langkah berani.Momentum pengembangan Manusia bersumber daya iptek telah dibuka dan dirintis atas inisiatip Presiden Jokowi.

Pembangunan infrastruktur oleh Presiden diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja, efisiensi ekonomi dan juga menunrunkan biaya logistik di Indonesia. Satu kali tepuk banyak tujuan dapat dicapai. Dengan begitu pembangunan infrastruktur harusnya jadi wahana transformasi keahlian dan pemnguasaan teknologi. Jadi arena untuk membangkitkan keahlian insinyur muda baru tamat ITS, UI, Gajah Mada, ITB dan perguruan tinggi yg punya program studi Fakultas Teknik.

Sayang kini begitu banyak aturan yang dibuat. Tak mudah mereka baru lulus sarjana menjadi tenaga inti. Sebab diperlukan dua tahun pengalaman untuk dapayt diakui keinsinyurannya. Sarjana Teknik tak boleh disebut insinyur. Jadi karenanya semua Sarjana Tekni harus merangkak dari bawah. Seolah hanya menguasai ilmu ketukangan dan bisa dimasukkan dalam arena bersaing dengan lulusan D1,D2 dan D4.

Makin modern masyarakat makin berbelit sertifikasi.

Gelar insinyur pun kini dipandang sebagai produk jadi. Hanya yg berpengalaman dan lolos sebagai produk yg diakui. Padahal ketika ir Sutami memimpin proyek pembangunan Jembatan Semanggi dan Bung Karno perintahkan Rooseno, Sutami, Silaban bangun Gelora Bung Karno, Semanggi, Istiqlal yg memimpin dan dominan adalah insinyur muda baru lulus dan tak punya pengalaman.

Tahun 82 ketika Prof BJ Habibie terima sy jadi karyawan Nurtanio, beliau langsung bilang begini : jusman ada dua jalur untuk jadi insinyur proessional. Ketika bertemu pertama kali beliau memeluk saya. Sekarang kamu insinyur muda. Junior Engineer. Murid nya Toy (alm Prof Oetarjo Diran).

Alm Ibu Ainun, yang selalu berada disebelah beliau, saya ingat kurang lebih beri komentar : “jusman jadi insinyur mesti rapi jangan pake jeans , kaos dan sepatu sendal kalau ke kantor”. Sambil senyum. Sebab ketika itu dihari jumat dan saya dipanggil ketika sedang berjalan mau pulang dari kantor. Jadi karena mau naik motor tak pelak pakaian harus diganti . Ditengah jalan ada panggilan. Pakaian “perang” masih melekat.

Sunggu ingatan dari suatu Rendezvous, pertemuan awal yang membangkitkan semangat. Ada trust dari orang tua pada anak anaknya.Sejak itu saya selalu dikenalkan sebagai anak intelektual beliau.

Dengan kata lain, yang ingin saya ketengahkan, adalah proses rekruitment sarjana baru selalu diberi motivasi untuk bangkit menjadi awal munculnya rasa cinta pada profesi. Tidak ada kendala. Sentuhan emosi dan pujian yang memancing “engagement”, keterlibatan hati untuk mengabdi profesi.

Saya yang ketika itu baru lulus , tanpa diuji langsung diberi predikat Insinyur muda. Tak perlu menanti dua tiga tahun pengalaman. , Cukup dgn mengetahui sy murid Prof. O Diran yg dikenal baik, sy langsung dicemplungin untuk bekerja di Getafe Madrid, Pabrik Pesawat Terbang.Tanpa pengalaman disana sy langsung diberi tanggung jawab dalam bidang rekayasa dan rancang bangun. Tupoksi sy cuma satu learning by doing. Duduk ditengah persoalan, terseret dalam gelombang persaingan.

Jatuh bangun dalam proses introduksi teknologi, adopsi, difusi dan inovasi. Mastering technology through complexity of problems.Pak Habibie bilang ini uang disebut jalur pembudayaan. Akuisisi Teknologi melalui program sistimatis, bertahap dan bertingkat di lapangan kerja. Gelar Insinyur diperoleh sebagai produk pembudayaan dalam lapangan kerja. Ujiannya bukan tulisan, melainkan hasil karya, produk nyata.

Jalan kedua jalur Pendidikan, menguasai Teknologi melalui sekolah, laboratorium dan research di universitas. S1, S2 dan S3. Dua jalan sama penting dan terhormat u membangun manusia bersumber daya iptek.

Jalur pembudayaan Menguasai teknologi through learning by doing, ikuti teori Akamatsu social scientist Jepang tentang Flying Geese Paradigm. Kumpulan Angsa Terbang. Maju menguasai teknologi secara berjenjang, bertingkat dan berkesinambungan.Dengan kepercayaan yg sama tahun 1990 beliau nunjuk sy jadi Chief Project Engineer N250. Ketika awal ditunjuk tahun 90 megang jabatan tupoksi Chief project engineer, Sy tak punya pengalaman merancang pesawat terbang dari nol.

Prof Dr Ing BJ Habibie percaya sy punya talenta untuk jadi airplane configurator development, tugas engineering yg sulit itu. Ia percaya pd generasi muda.Dari pekerjaan insiyur muda yang baru lulus di perguruan tinggi seperti ITS, ITB, MIT , Delft, dan lain sebagainya pastilah memiliki bakat dan talenta untuk diasah dan dididik membangun ketekunan untuk menguasai keahlian.

Gelar insinyur dijadikan titik awal membangun Craftmanship dan Managerial skill on managing Technology. Kini apa yang saya peroleh secara kebetulan atas izin Allah tak mungkin muncul kembali, untuk sarjana teknik baru lulus dari Universitas. Banyak tembok yg harus diliwati.Tak heran kita kekurangan insinyur.

Mindset yang menyatakan Teknologi sebagai produk jadi mudah dibeli dipasar, menyebabkan kita ingin ambil jalan pintas. Semua produk teknologi seolah dapat dilahirkan melalui surat perintah atau Instruksi. Kini semua proyek dan program berlomba menjadikan Kepres dan Inpres sebagai sasaran utama. Seolah dengan menyatakan bahwa Produk dalam Negeri menjadi prioritas kita langsung bisa memproduksi mobil, handphone , kapal laut, pesawat terbang dan kereta api.

Padahal menguasai Teknologi tak bisa dilakukan dengan sekedar menganggapnya sebagai produk jadi, yang mudah diperoleh di supermarket. Teknology hanya bisa dikuasai dalam suatu tatanan dan rencana yang baik. Dan jika ingin dikuasai maka teknologi harus dipandang dalam perspektip dalam tiga dimensi.

Teknologi dalam dimensi Systems, Process dan Product. Menguasai Teknologi berarti menjadi ahli yg bergelut dgn keindahan produk, dan amat menyenangkan untuk ditekuni.Ada ruang imajinasi, daya creative yg dibangun untuk ciptakan inovasi.

Jika kita ingin bangun Bangsa yg unggul, please Be Hungry and Foolish in mastering Technology kata Steve Jobs.

Dari pengalaman 20 tahun bekerja di industri pesawat terbang, sy punya keyakinan generasi muda Indonesia memiliki keunggulan dan mampu jadi insinyur yg menguasai Teknologi. Kita memiliki banyak talenta yg tidak pernah dipercaya dan diberi kesempatan.

Kita hanya ribut ketika talenta ini bekerja di luar negeri. Jadi insinyur atau lead engineer di Boeing, Airbus, Microsoft, Facebook dst. Kita malah mengecap mereka tidak loyal dan brain drain. Bangsa lain menghargai kita minta Surat Ijin Bergelar Insinyur.

Mengapa semua diam ketika ada yg bilang kurang insinyur puluhan ribu. Dan juga tak percaya pada keahlian manusia bersumber daya iptek Indonesia ?Karena insinyur seperti juga dokter, akuntan dan lawyer profesional biasanya diam dan hanya produk nya yg bicara ?

Begitu kira kira alasan mengapa buku ketiga catatan fb sy akan diberi judul Notes on Techno Economy and Innovation. Dan di hari yang mengingatkan saya akan terbang perdana Pesawat N250 yang saya ikut membidaninya, dijam yang mengenang bagaimana roda N250 terangkat dari bumi Indonesia mengudara seperti Gatotkaca, saya berdoa Bismillah buku ketiga saya akan dikumpulkan dan diedit kembali untuk diterbitkan.

Saya share disini sebagai introduksi. Mudah2an berkenan, Mohon maaf jika keliru. Salam

Kebangkitan Pendidikan Tinggi Kita

Tirta N Mursitama PhD
Guru Besar Bisnis Internasional,
Departemen Hubungan Internasional
Universitas Bina Nusantara

Akhir-akhir ini banyak dibicarakan riuh rendahnya pendidikan tinggi kita. Dari soal mahasiswa yang kecewa terhadap dosen pembimbing skripsi sehingga tega menghabisi nyawa dosen, mahasiswa yang ditolak proposal skripsinya lalu mengakhiri hidupnya, perilaku dosen di kampus, hingga keinginan Menristekdikti mendatangkan orang asing sebagai rektor di perguruan tinggi negeri (PTN).

Ada apa dengan pendidikan tinggi kita?

Integrasi Global

Tak terelakkan pendidikan tinggi kita hidup dalam dunia yang makin terintegrasi baik secara regional maupun global. Contohnya, merambahnya perguruan tinggi asing yang bekerja sama menyediakan kelas persiapan (preparation/ foundation), semakin banyak skema kerja sama penelitian, program fast track, dual degree, joint degree, hingga PhD by research. Belum lagi, bila pemerintah jadi membuka kran pendirian perguruan tinggi asing di Indonesia.

Fenomena ini tidak bisa kita sikapi dengan tinggal diam. Tidak bisa lagi institusi pendidikan tinggi hidup dalam nina bobok 255 juta orang Indonesia sebagai pasar yang luas dan menjadikannya sebagai sesuatu yang diterima begitu saja (taken for granted ). Pilihannya hanya dua. Apakah institusi pendidikan tinggi akan mengintegrasikan ke ranah regional atau global? Ataukah mengungkung diri (isolasi) dari dunia luar dengan alasan nasionalistik sempit.

Pilihan kedua sepertinya sangat sulit bila melihat gempuran kapital dan teknologi informasi yang selalu menemukan jalannya sendiri hadir di keseharian kita. Satu-satunya pilihan adalah yang pertama yaitu mengintegrasikan diri dengan dunia regional dan global. Namun, pilihan ini bukan serta-merta hanyut dalam arus globalisasi tanpa syarat, melainkan kita harus mampu juga mengambil manfaat darinya. Pada saat yang sama berusaha menguatkan resiliensi diri dan membangun daya saing institusi pendidikan tinggi. Bagaimana caranya?

Inovasi

Tiada cara lain melainkan berinovasi. Institusi pendidikan tinggi baik pemerintah pengambil kebijakan maupun kampus negeri (PTN) dan swasta (PTS) harus berubah. Bila kita saksikan saat ini banyak PTS yang mulai mengejar, bahkan melampaui PTN dari sisi kualitas. Banyak PTN yang masih mengandalkan nama besar dan dukungan dari pemerintah sehingga mereka tetap hidup.

Sebagian dari mereka memang hebatdanberprestasikelasdunia dari sisi penelitian, publikasi, hingga prestasi yang diraih para mahasiswanya. Namun, ironisnya beberapa dari mereka kurang memiliki perencanaan strategis yang jelas sehingga bisa dibayangkan implementasinya akan semakin jauh dari harapan pencapaian. Sebagai contoh, proses rekrutmen tenaga pengajar dan tenaga kependidikan yang kurang transparan dan kurang mampu menjaring talentatalenta terbaik bangsa.

Selain itu, persoalan pengembangan karier staf pengajar yang seringkali dukungan institusional sangat terbatas bahkan dipenuhi isu politik kantor yang kental. Akibat itu, karier akademiknya tidak meningkat atau bahkan mentok. Sebagian lagi kelompok PTN dengan penuh semangat daya juang tinggi berusaha menghidup- hidupi kampusnya dengan sumber daya manusia dan fasilitas yang jauh dari memadai.

Biasanya mereka berada di daerah walaupun tidak semuanya demikian. Padahal, sebagian besar calon mahasiswa mengincar kursi di PTN. Jadi di antara PTN pun kapabilitasnya sangat bervariasi. Sementara di antara PTS pun berlomba-lomba meningkatkan kualitas dalam pengajaran, penelitian, publikasi, dan kontribusi pengembangan masyarakat. Mereka berusaha mengejar reputasi pendidikan tinggi kelas dunia dengan berusaha meningkatkan reputasi akademik, jumlah sitasi publikasi akademik internasional, jumlah mahasiswa asing, pengajar asing, dan sebagainya.

Yang patut diacungi jempol bagi PTS yang serius melakukan ini adalah semangat mereka untuk berubah melakukan inovasi bila tidak mau mati ditinggalkan pelanggan (mahasiswa). Di antara berbagai inovasi yang mereka lakukan adalah keteguhan mereka menerapkan standar manajemen pendidikan modern ala korporasi.

Beberapa contoh yang mereka lakukan adalahpenerapansecara sungguhsungguh prinsip-prinsip manajemenmodern dari perencanaan strategis hingga evaluasi, penggunaan indikator kinerja kunci (keyperformanceindicator), sistem reward and punishment, serta merit-based system. Ihwal seperti ini relatif mudah dijumpai di beberapa PTS yang masuk jajaran utama.

Mereka patut diapresiasi karena terus melakukan hal baru dan mengembangkan praktikpraktik terbaik manajemen pendidikan berdasar aturanaturan bisnis yang membuat mereka bertahan bahkan semakin maju. Faktor kepemimpinan juga menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan di tengah tarikan liberalisasi jasa pendidikan global dan upaya perbaikan sistem pendidikan tinggi oleh pemerintah yang menjadikan mereka masuk dalam situasi turbulensi menuju kondisi yang lebih baik.

Tanpa kejelasan visi, kemampuan memimpin eksekusi dan mengawal di lapangan, serta mengedepankan kebijaksanaan menyikapi setiap perkembangan, perubahan sebatas rencana di atas kertas dan jadi jargon semata.

Peran LPDP

Inovasi di tataran pengambil kebijakan adalah pendirian Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI. Saat ini LPDP telah berevolusi menjadi satu institusi terintegrasi yang melibatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Keuangan, Kementerian Agama, serta Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

LPDP memiliki peran sangat strategis. Mereka memberikan bantuan beasiswa bagi talenta terbaik bangsa di berbagai bidang untuk menimba ilmu di kampus-kampus terbaik dunia. Selain itu, mereka juga memberikan dana penelitian baik yang mengarah ke komersialisasi maupun pengembangan kebijakan. Langkah-langkah LPDP ini menunjukkan upaya mengaitkan dunia akademik dengan dunia industri dan pengambil kebijakan.

Hal lain yang perlu diapresiasi adalah pemberian insentif bagi para dosen/peneliti yang menghasilkan publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi dan memiliki sitasi. Semua ini bentuk kehadiran pemerintah dan langkah serius mendorong (memberikan carrot, tidak hanya menggunakan stick) untuk kemajuan dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Pada gilirannya diharapkan mampu meningkatkan daya saing bangsa di berbagai bidang.

Namun, satu hal penting yang LPDP (pemerintah) perlu pikirkan adalah membangun sistem utilisasi para penerima beasiswa sekembalinya ke Tanah Air. Suatu rencana yang komprehensif bagaimana mendayagunakan lulusan-lulusan terbaik tersebut di berbagai institusi baik pemerintah maupun swasta secara sistematis perlu dikembangkan. Dengan demikian, kontribusi mereka bisa diukur, dipantau, hingga dipikirkan mobilitas vertikal maupun horizontal.

Khususnya bagi yang berkecimpung di dunia pendidikan tinggi, ada baiknya LPDP mengajak PTN/PTS untuk menyusun rencana bersama menampung para lulusan terbaik tersebut. Dengan demikian, fenomena brain drain yang pernah terjadi beberapa puluh tahun lalu tidak akan terjadi lagi. Kinilah saatnya kebangkitan pendidikan tinggi Indonesia!

Generasi Millenial butuh Kepekaan ‘Remote Sensing’ dan ‘Energi Geothermal’

Indy Hardono
Pemerhati pendidikan

Saat ini bergiat sebagai koordinator tim beasiswa pada Netherlands Education Support Office di Jakarta.
Sebelumnya, penulis pernah menjadi Programme Coordinator di ASEAN Foundation.

 

Generasi Milenial Butuh Kepekaan ‘Remote Sensing’ dan ‘Energi Geotermal’

Jumat, 20 Mei 2016 | 13:38 WIB

KOMPAS.com – Apa arti nasionalisme bagi generasi yang bahkan tidak pernah membayangkan seperti apa rasanya jika freedom of speechadalah kemewahan pada suatu masa? Atau, sekedar membayangkan bahwa gerakan mahasiswa tahun 60-an dan 90-an adalah sesuatu yang heroik pada jamannya?

Belum lagi harus membayangkan nasionalisme tokoh-tokoh kebangkitan nasional 108 tahun lalu. Apakah arti kebangkitan bagi golden generationatau generasi emas ini? Apakah diperlukan gelombang kebangkitan nasional kedua menjelang 100 tahun kemerdekaan negeri ini pada 2045 nanti?

Turning Point

“Als ik eens Nederlander was. Seandainyasaya seorang Belanda”. Tulisan maha berani dari Soewardi Soerjaningrat yang ditulis di harian De Expresmilik Douwes Dekker pada 1913 itu membuat berang pemerintah kolonial. Tulisan itu, bisa jadi, adalah kritik tertulis yang paling dahsyat saat itu.

Tulisan tersebut adalah salah satu buah dari kebangkitan nasional pada saat Budi Utomo di  tahun 1908 membawa perubahan fundamental dalam pola perjuangan bangsa Indonesia. Perjuangan yang mengandalkan kekuatan fisik diganti dengan kekuatan intelektualitas. Melawan bukan dengan senjata dan otot, tapi lewat pikiran dan tulisan.

Budi Utomo pula yang mempelopori perjuangan sporadis menjadi terintegrasi. Suatu pola yang tidak pernah dikenal di era sebelumnya, yang mengandalkan ketokohan dari daerah masing-masing.

Integrasi itu direalisasikan dalam wadah kepartaian seperti Perhimpunan Indonesia. Lalu, ketokohan yang dulu menempatkan raja atau sultan sebagai panglima digantikan oleh para tokoh nasionalis yang tidak memandang suku dan fanatisme kedaerahan, melainkan idealisme dan intelektualitas sebagai “panglima”. Itulah turning point perjuangan kita!

Remote Sensing

Para tokoh kebangkitan itu punya kepekaan (sensibility) dalam membaca dan memetakan zaman dan mengekstrapolasikan ke satu titik: kemerdekaan!

Ya, kepekaan. Bagaikan teknologi remote sensing, kemampuan penginderaan jarak jauh yang mengandalkan kepekaan ‘sensor’ progresifitas berpikir dan nasionalisme inilah yang harus dimiliki oleh generasi muda saat ini. Kepekaan untuk menciptakan kesadaran!

Menyadari bahwa perjuangan kekinian adalah perjuangan yang mengandalkan human resources ketimbang mengandalkan natural resources yang tidak berkelanjutan. Menyadari bahwa kepemimpinan ketokohan semata akan menjadi usang dan digeser menjadi kepemimpinan berbasis kompetensi, integritas dan nilai-nilai.

Menyadari bahwa revolusi teknologi informasi dan digital harus mendorong bangkitnya sektor usaha dan industri kreatif, kesadaran antikorupsi dan juga sektor pendidikan dan riset. Tanpa kepekaan, revolusi teknologi hanya disikapi sebatas kecanduan online game atau sekedar mengunduh foto selfie di berbagai media sosial. Ya, tak lebih dari itu!

Kekuatan geotermal

Kebangkitan bagi generasi milenial sejatinya adalah juga tentang ekstrapolasi ke satu titik: Indonesia 100 tahun merdeka, Indonesia yang berdaya saing dan bermartabat!

Kekuatan untuk bangkit (lagi) itu seyogianya sangatlah besar. Bak kekuatan geotermal, yang konon kandungan terbesarnya ada di Indonesia, kita punya kekuatan istimewa yang perlu digali dan dipancarkan.

Kekuatan itu adalah kearifan lokal dan nilai-nilai luhur, seperti kohesivitas, toleransi, daya juang, kreatifitas dan juga posisi geografis dan geopolitik yang “seksi”. Integrasi kawasan ASEAN justru harus dijadikan momentum kebangkitan kedua, bukan sekedar peluang, apalagi ancaman.

Untuk mengolah kekuatan super itu memang perlu investasi besar. Tidak hanya investasi infrastruktur.

Budi Utomo menyerukan pada bangsa ini bahwa motor utama perubahan adalah pendidikan dan budaya, bukan politik. Pendidikan dan budaya harus berdiri paling depan sebagai panglima. Pendidikan yang bukan hanya berkutat pada aspek kognitif, tapi pendidikan yang membangkitkan kepekaan, dan kesadaran.

Ya, bukan pendidikan yang menghasilkan generasi yang “indiferent”, generasi yang tidak peka. Kekuatan geotermal luar biasa itu akan mampu menggerakkan turbin-turbin kesadaran bangsa untuk menghasilkan energi kebangkitan.

Selamat memaknai hari kebangkitan nasional!

Bangkitnya Industri Pesawat Terbang Jepang dan China : Kemana Indonesia ?

Jusman Syafii Djamal
23 November 2014

Saat ini jika bicara Industri Pesawat terbang, semua mata tertuju pada kekuatan duopoli Boeing di Amerika dan EADS di Eropa. Jarang yang peduli bahwa kedua industri penerbangan raksasa itu fokusnya pada pesawat terbang besar dengan kapasitas penumpang 150 keatas. Untuk kelas penumpang dibawah 150 ada duopoli lain yang bicara yakni Bombardier di Canada dan Embraer di Brazilia.

Akan tetapi dibalik keriuhan kompetisi diantara kedua raksasa industri itu, diam diam ada tiga negara yang sedang berbenah diri. Pertama Russia dengan ambisi Presiden Putin yang melakukan pross konsolidasi dengan meleburkan 152 industri pesawat terbang kecil kecil milik mereka menjadi satu Industri yang dipersiapkan untuk menembus duopoli Airbus dan Boeing. Serta Republik Rakyat Tiongkok dan Jepang.

Russia sebelumnya memiliki program rancang bangun dan industri manufaktur nya sendiri, yang secara mandiri dari hulu ke hilir mampu melahirkan pesawat terbang versinya sendiri. Kini ia mengkonsolidasikan diri dan menjadikan program rancang bangun dan manufaktur pesawat terbang kelas 100 penumpang dengan nama Sukhoi 100. Yang telah diproduksi dan digunakan dipelbagai airline termasuk di Indonesia. Sukhoi 100 ini pesawat terbang canggih . full digital dan teknologinya merupakan hibrida dari kekuatan teknologi Barat dan teknologi Russia. Semua komponen dan integrasi system berasal dari kemajuan teknologi Barat seperi kendali digital “fly by wire”, sistem propulsi dan sistem avionikanya. Sementara untuk airframe adalah teknologi russia.

Pada tanggal 18 Oktober 2014 baru lalu, semua ahli industri pesawat terbang merasa surprise ketika di Nagoya ada acara besar seperti yang sering disaksikan di Toluse Perancis atau di Seattle Amerika, peristiwa Roll out pesawat terbang yang meriah. Musik dan paduan suara anak anak disertai lampu warna warni dipadukan dalam upacara yang dihadiri oleh Pejabat Pemerintah dan CEO Maskapai Penerbangan. Mitsubishi Aircraft Industry dengan bangga mempersembahkan pesawat terbang baru dengan kapasitas 92 penumpang. Pesawat terbang ini boleh dikatakan merpakan pesawat dengan teknologi mutakhir saat ini.

Engine nya menggunakan Pratt and Whitney PurePower, yang mampu melahirkan tenaga dorong dengan efisiensi bahan bakar 20 % lebih rendah dibanding engine terbaru lainnya. Sebelumnya Mistsubishi dikenal sebagai pemasok atau industri komponen Boeing. Sayap “full composite” dari Boeing 787 dimanufaktur di Mistsubishi. Kini ia pindah menjadi Sistem Integrator. Menciptakan pesawat terbang dari awal hingga akhir, karya cipta engineer nya sendiri. Mistsubishi secara dramatis ingin menunjukkan bahwa Jepang kini tidak boleh dipandang sebelah mata dalam industri pesawat terbang. Dengan biaya pengembangan pesawat sebesar 1,7 Milyar Dollar, Mistsubishi Regional Jet (MRJ) dikembangkan mengikuti jejak fisafat rancang bangun Eropa dan Amerika, yakni “family concept”. Ada MRJ kelas 78 tempat duduk dan ada MRJ kelas 92 tempat duduk.

Ambsi Mistsubisihi adalah ingin mendapatkan bagian dari kue pertumbuhan permintaan pesawat terbang dikawasan Asia pacific, yang diprediksi hingga tahun 2033 yang diperkirakan sebesar 5,2 Trilun Dollar. dan 33 % diantara permintaan pesawat terbang itu akan datang dari Asia Pacific. Ambisi Jepang dalam memperebutkan kue pertumbuhan industri masakapai penerbangan di Asia Pacific ini tidak berlebihan. Sebab dalam waktu yang hampir sama China atau Tiongkok juga telah melahirkan pesawat Regional dalam kelas yang sama yakni 92 Penumpang. Comac Industri Pesawat Terbang China di Xian diakhir tahun ini direncanakan akan mendeliver pesawat terbang ARJ21-700 ke maskapai penerbangan Chengdu.

Kekuatan Industri Penerbangan China dalam 15 tahun terakhir ini telah bangkit dengan kekuatan yang tak dapat dipandang sebelah mata. di Tianjing, Airbus mendirikan pabrik perakitan Airbus A320 yang ketiga Industri Pesawat terbang China Comac juga telah melangkah lebih jauh dengan merancang bangun dan memproduksi pesawat terbang 168 seater yang secara langsung akan “head to head” dengan Airbus dan Boeing. Pesawat terbang C919 direncanakan akan terbang perdana September 2015. Perusahaan ini sedang membangun kawasan industri manufacture dengan kapasitas 150 pesawat pertahun di distrik Pudong, Shanghai. Tiga kali lipat dari kapasitas “assembly line” Airbus di Tiangjin. Kebetulan sudah dua kali saya diundang untuk menyaksikan kemajuan industri penerbangan China ini. Sangat impressip. Terstuktur Sistematis dan Massif.

Kini Jepang dan China sedang berlomba mempersiapkan diri untuk menjadi raksasa industri Pesawat Terbang baru di Asia Pacific. Mereka menantang kekuatan duopoli Airbus dan Boeing, Serta kekuatan duopoli lain Bombardier dan Embraer.

Pertanyaannya kemana ahli Aeronautika Indonesia akan melangkah. Salah satu potensi yang dapat dibanggakan oleh Indonesia adalah kekuatan engineering yang dimiliki oleh insinyur Indonesia. Kelas keahlian dan kepintarannya sudah diakui dunia. Kini lebih dari 300 orang engineer aeronautics Indonesia bekerja dipelbagai industri Penerbangan dunia. Ada yang di Boeing, Airbus , Embraer dan Bombardier.

Generasi baru insinyur aeronautika Indonesia kini memiliki kesempatan mejadi “engineeri of the world”, lapangan kerja di Mistsubishi Jepang dan Comac serta Russia terbuka. Tidak banyak negara memiliki potensi engineer aeronautik seperti yang dimiliki oleh Indonesia. Dalam bidang rekayasa dan rancang bangun kita memiliki “competitive advantage”. Meski kita memiliki ambisi untuk melahirkan pesawat terbang baru, akan tetapi tidak banyak Bank atau Investor yang mau mengucurkan dana sebesarr satu hingga 2 milyar dollar untuk melahirkan pesawat terbang baru yang mampu menyaingi ambisi Jepang, China dan Russia untuk menaklukkan dominasi Bomabrdier, Embraerr, Airbus dan Boeing.

Di Russia mereka memiliki Putin yang tak segan menggelontorkan “state budget” unti itu, begitu juga di China ada Presiden Xi JinPing dengan lompatan jauh kedepannya yang juga tidak segan untuk memproteksi kepentingan China dalam menguasai teknologi Dirgantara.

Sementara di Indonesia kita hanya memiliki orang yang pintar berdebat dan selalu bilang jangan begini, jangan begitu. Kita terlau pintar menyusun siasat agar semua punya pendapat belum saatnya Indonesia membuat Produk sendiri dan nanti saja. Lebih murah beli, Kita selalu berhadapan dengan tembok berisi orang yang selalu memandang rendah keahlian insinyur Indonesia dan selalu berkata kelemahan terbesar Indonesia adalah Sumber Daya Manusia. Yang selalu diberikan contoh juga menarik, Sepak bola aja ngga pernah menang.

Sebuah fikiran yang terus akan membelenggu tekad generasi muda Indonesia untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Mudah mudahan Revolusi Mental Presiden Jokowi bisa membalikkan mindset kita sebagai bangsa : Percaya pada keahlian dan kepintaran Generasi Muda Indonesia yang saat ini banyak yang cemerlang, dan ber IQ sangat tinggi.

Salam, lebih kurangnya mohon dimaafkan.