Tiga Pilar Pertumbuhan Ekonomi : Desentralisasi Ekonomi, Kebangkitan Industri Nasional dan Pasar Domestik terkelola atau Managed

Jusman Syafii Djamal·
February 23, 2018

Tulisan ini merupakan sebuah Catatan Kecil tentang harapan di Tahun 2018 yang disebut tahun Politik. Sebab Pilkada serentak ada dimana mana.

Harapan agar ada Fokus untuk menciptakan kehidupan demokrasi yang semakin bersinar . Demokrasi politik dengan ritual pilkada setiap lima tahunan hingga saat ini, tidaklah cukup jika kita tidak menempatkan demokrasi sebagai wahana pencipta kesejahteraan bersama. Demokrasi adalah musyawarah untuk mufakat yang dijiwai hikmah kebijaksanaan untuk menciptakan Keadilan social bagi seluruh rakyat begitu kata para Pendiri Republik.

Pengalaman di banyak negara memperlihatkan bahwa Demokrasi tidak dapat berfungsi sebagai pembangkit kesejahteraan dan mesin pendorong pertumbuhan ekonomi tanpa desentralisasi kekuatan ekonomi yang tumbuh berkembang di pelbagai kawasan ekonomi. Inti dari Demokrasi adalah distribusi kekuasaan dan kewenangan yang dilengkapi oleh “systems check and balances”, agar tidak terjadi monopoli kekuasaan di satu tangan.

Dalam buku Demokrasi Kita, Bung Hatta sebagai Founding Father telah memberikan arah tentang demokrasi ekonomi dan demokrasi politik sebagai dua sisi dari mata uang yang sama. Tak mungkin Demokrasi Politik berkembang dengan baik tanpa demokrasi ekonomi.

Dalam banyak tulisannya Bung Hatta menegaskan keyakinannya , ia mengatakan :”bangsa ditentukan oleh keinsafan sebagai suatu persekutuan yang tersusun jadi satu, yaitu keinsafan yang terbit karena percaya atas persamaan nasib dan tujuan. Keinsafan yang bertambah besar oleh karena seperuntungan, malang yang sama diterima, mujur yang sama didapat, pendeknya oleh karena peringatan kepada riwayat bersama yang tertanam dalam hati dan otak”.

Pada kedalaman filosofinya, demokrasi ekonomi Bung Hatta berisi gagasan tentang pola pengambilan keputusan sosial-ekonomi di tangan publik mayoritas .

Rasionalitas yang mendasarinya adalah pandangan bahwa hak politik yang penuh tidak dapat dimenangkan tanpa hak ekonomi yang penuh. Untuk menjamin tata kelola perekonomian yang demokratis dan memastikan distribusi yang pantas atas sumber daya ekonomi, kontrol politik dan hukum selayaknya dikembalikan kepada rakyat mayoritas. Hatta menegaskan bahwa rakyat tidak akan benar-benar berdaulat kecuali juga berdaulat dalam bidang ekonomi

Ini sebuah adagium yang kelihatannya dapat digunakan jika kita merenungkan makna demokrasi bagi kemajuan suatu bangsa. Sebab demokrasi adalah wahana bukan tujuan akhir. Sebuah wahana tak mungkin ia dapat bergerak seenaknya tanpa arah dan tujuan. Demokrasi bukan semata mata soal kebebasan berpendapat, bukan juga hanya suatu system yang bertumpu pada mekanisme pemungutan suara setiap lima tahun. Demokrasi harus ditempatkan sebagai pilar pencipta kesejahteraan rakyat, bukan sebaliknya. .

Salah satu tujuan Industrialisasi di Indonesia yang dilaksanakan secara terus menerus dari sejak tahun 1970 hingga 2018 atau selama kurang lebih 48 tahun, adalah mengurangi laju pertumbuhan Kemiskinan dan kepincangan social. Serta menjadi wahana transformasi dan infrastruktur iptek pencipta nilai tambah agar kemampuan penguasaan teknologi dan wahana pembangkit lapangan kerja dalam masyarakat, dapat di wujudkan dalam realitas sehari hari.

Salah satu kebijakan yang dapat muncul dari alam demokrasi adalah konsistensi kebijakan industrialisasi. Dalam kerangka fikiran demokrasi ekonomi seperti disampaikan diatas , maka pembangunan kawasan industry Nasional yang kokoh dan kuat, menempati posisi strategis dalam kebijakan ekonomi selama 48 tahun ini. Suatu arah kebijakan ekonomi yang didasarkan pada preposisi utama :”Industrialisasi mustahil tumbuh berkembang tanpa perlindungan negara yang kuat dan terus menerus”.

Mengapa sebagai suatu bangsa kita terus menerus seolah kalah bersaing dengan bangsa bangsa lain didunia dalam memproduksi barang dan jasa adalah pertanyaan klasik yang selalu muncul dipermukaan. Solusi atas pertanyaan itu adalah “policy on trade and industrialization”. Kebijakan tata kelola mekanisme pasar dan tata niaga produk industry Nasional.

Tingkat industrialisasi dibatasi oleh luasnya pasar. Mengapa di abad 18, Inggris dan bukan Belanda yang menjadi pembangkit Revolusi Industri Pertama adalah karena kesuksesan Inggris dalam menciptakan pasar tekstil dan mata rantai pasokan bahan baku kapas di dunia pada abad ke-18. Yang membuat industry tekstil dan produk tekstil tumbuh berkembang.

Demikian juga mengapa Amerika Serikat dan bukan Perancis atau Jerman yang mampu menyalip Inggris menjadi negara adidaya ekonomi berikutnya adalah karena dukungan kebijakan pemerintah AS yang konsisten dalam menciptakan pasar barang produksi industry dalam negerinya di abad ke-19. Yang lahir menjadi penemu terbesar dunia seperti Thomas Edison dan raksasa industri seperti Andrew Carnegie, Henry Ford, JP Morgan, John D. Rockefeller, dan Cornelius Vanderbilt.

Di abad 21 yang disebut sebagai abad Asia, bukannya India melainkan Tiongkok yang berada diposisi terdepan untuk mengambil alih posisi Amerika Serikat di bidang manufaktur dan inovasi. Mengapa begitu ?

Ini semata mata karena pemerintah Tiongkok telah secara konsisten dan bertahap berhasil meproteksi pasar domestiknya dan menciptakan pasar raksasa bagi Industri Domestiknya. Pasar Tiongkok ini berapa kali jauh lebih besar dari pasar Amerika Serikat

Di Tiongkok muncul kesadaran para pemimpin politik nya akan kenyataan bahwa “Pasar ‘bebas’ tidaklah sepenuhnya bebas dari pertarungan kepentingan. Pasar adalah barang publik mendasar yang sangat mahal.

Ambil contoh proses pembangunan industri yang sedang berlangsung sejak masa 1978 di Tiongkok yang didorong tumbuh berkembang bukan semata mata karena keberhasilan untuk menciptakan “layer keahlian” manusia bersumber daya iptek dalam mengadopsi teknologi maju.

Meski pembangunan keahlian Manusia Bersumber Daya Iptek merupakan prasyarat utama dari kemajuan industry nasional. Melainkan karena penguasaan teknologi oleh Manusia bersumber Daya Iptek, ditopang oleh pilar keberhasilan kebijakan ekonomi yang diarahkan pada upaya sistimatis berkesinambungan.

Kebijakan ekonomi yang diarahkan untuk penciptaan pasar domestic yang kuat dan kokoh dalam melindungi produk yang dibuat di dalam negerinya sendiri, oleh manusia bersumber daya iptek yang bekerja di pelbagai sektor industri nasional nya.

Pengalaman Tiongkok dari sejak tahun 1978 hingga 2018, atau 40 tahun, menunjukkan bahwa Pasar untuk barang-barang industri yang diproduksi secara massal didalam negeri tidak dapat diciptakan oleh satu policy economy ‘big Push’ berupa kebijakan industry substitusi impor dan “export oriented economic policy” semata.

Tidak mungkin industry nasional dapat tbuh berkembang hanya melalui sebuah surat keputusan dan program deregulasi diatas kertas semata. Ada proteksi terus menerus yang dipimpin oleh pemerintah untuk memajukan Industri Dalam Negeri melalui pelbagai kebijakan ekonomi, industry dan perdagangannya.

Industri tak mungkin tumbuh berkelanjutan hanya dengan “shock theraphy”. ini hanya dapat dibuat langkah demi langkah dalam urutan yang benar dalam rangkaian urutan ‘shock therapy’ untuk menjebol dan membangun pasar domestic yang memihak pada produk dalam negeri.

Jika kita ingin memetik pelajaran dari Kebangkitan Tiongkok untuk supremasi ekonomi global yang tak terbendung , itu semata mata karena mereka telah menemukan dan mengikuti resep yang benar melalui sistimatika urutan penciptaan pasar bagi industry dalam negerinya.

Pendekatan ini berbeda dengan kebijakan industry yang sebelumnya. Tiongkok mengalami tiga kali kegagalan dalam proses industrialisasi antara 1860 dan 1978. Sebab tidak dikaitkan dengan kebijakan perdagangan dan tata niaga komoditas dalam negeri.

Dengan kata lain Pasar domestik adalah kekuatan pembangkit industry. Tanpa pasar domestik yang terkelola dengan baik maka industry Nasional akan kehilangan mata air, sumber aliran revenue dan EBITDA yang cukup untuk tetap bertahan sepanjang masa.

Mohon Maaf jika terdapat kekeliruan dalam sharing tulisan kali ini.
Salam

Advertisement

Ketidak sinambungan Industri Nasional, Jangan Terjadi : Lesson Learned

Jusman Syafii Djamal
June 12, 2017

Hari lahir Indonesia 17 Augustus tahun 1945 , kata Bung Karno menurut tulisan Cindy Adam, bertepatan dengan Nuzulul Quran,. Hari munculnya Sebuah jembatan emas menuju kesejahteraan bersama.

Prosperity for all.

Meski ada yang mentakan 17 Agustus 1945 sebetulnya jatuh pada tanggal 9 Ramdhan, dan bukan 17 Ramadhan tetapi esensi yang dikemukakan Bung Karno Founding Father harus selalu dicatat Kita sebagai Bangsa lahir pada bulan suci Ramdhan, Bulan Nuzulul Quran. Dan Kita harus terus meningkatkan keahlian kita untuk membaca tanda tanda zaman, serta menguada Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagai motor penggerak kemajuan Negara Bangsa yang kita cintai, Indonesia.

Tanpa terasa besok 17 Ramadhan tiba. Hari Nuzulul Quran yang ditandai dengan turunnya ayat Iqra bismirabbika. Bacalah dengan Nama TuhanMu. Entah kenapa malam ini saya ingat kisah masa lalu. Kisah ketidak berlangsungan sebuah visi penguasaan teknologi yang saya alami selama kurang lebih 20 tahun bekerja di IPTN. Visi untuk menguasai keunggulan Industri Pesawat Terbang,

Ketika saya tahún 1982/83 tinggal di Calle Galileo dan Melendez Valdez di Madrid, saya sering naik kereta api atau bis jemputan dipagi hari menuju tempat kerja di CASA Getafe Spanyol. Diatas kereta atau bis, saya sering baca Novel Ernest Hemingway. Salah satu nya berjudul The Old Man and The Sea.

Novel ini dibaca Karena Duta Besar Indonesia untuk Spanyol Pak Leon, kalau malam minggu sering ngajak saya nontón Jazz di Plaza de America. Karena beliau sebelumnya sering ikut perundingan dengan Bank Dunia, beliau sebagai diplomat selalu bercerita tentang persfektip masa depan melalui novel yang sering ia baca. Diantara nya yang beliau senangi Hemingway.

Melalui Novel Beliau ingin ingatkan saya yang ketika itu massiv berusia 28 tahun untuk tidak lupa pada kesinambungan sejarah perjuangan Bangsa. Beliau ingin menyadarkan saya bahía kesempatan saya menimba penguasaan iptek dirgantara di Spanyol itu bukan datang begitu såja tanpa diundang. Itu buah perjuangan generasi terdahulu.

Tahun 1951 Ernest Hemingway menulis cerita pendek dimajalah Life. Orang Tua dan Laut. The Oldman and the Sea. Dalam novel dikisahkan tentang perjalanan hidup seorang nelayan tua. Nelayan yang mirip kita temui di Laut Arafura. Nelayan tradisonal yang berkompetisi memancing tuna ditengah samudera , berjibaku berebut ikan dengan kapal kapal canggih milik nelayan negara lain.
Arafura adalah surga ikan tuna yang biasanya berkembang bias di Tells Tomini dan kembali berenang kelaut lepas setelah dewasa.

Kisah Hemingway ini kebetulan tentang Nelayan Kuba yang bernasib buruk. Sudah 84 Hari ada dilaut tak seekor ikanpun menerkam umpan pancing. Sampai di Hari ke 85 akhirnya ia berhasil menangkap seekor Merlin yang amat besar. Saking senangnya ikan Merlin yang besar itu ia bawa kepantai tanpa dinaikkan diatas perahu.

Alangkah sedihnya nelayan tua ini ketika iba dipantai, ingin menunjukkan buah karya masterpiece nya pada tetangga dan keluarga, ikan Merlin yang Besar dan Indah itu telah berubah jadi kerangka. Dagingnya habis disantap ikan hiu ketika dalam perjalanan.

Kurt Venegut dalam novel berjudul “TimeQuake” yang telah dterjemahkan kedalam bahasa Indonesia Gempa Waktu Oleh T Hermaya dari KPG Gramedia cetakan media Juli 2016, menyebut nelayan tua ini Idiot. Mengapa ia tidak terlebih dahulu memotong motong ikan besar itu kedalam fillet yang enak dipandang mata dan Mudah disantap nantinya.

Terlepas dari Idiot atau tidaknya Nelayan Tua , kisah Hemingway ini sering saya jadikan bahan penguat semangat di tahúr 97/98 ketika saya bersama teman teman yang menekuni Industri Pesawat Terbang di Bandung mengalami Gempa Waktu. Krisis EKonomi Asia menyebabkan bumi tempat kami berpijak bergeser. Landskap Industri berubah. Kata Kurt Vonnegut kami seolah mengalami proses diskontinuity, tidak sinambung karena fondasi Tempat Industri berdiri mendadak longsor dalam kontinum ruang dan waktu.
Generasi keinsinyuran tahun 1970-2000 an telah memiliki visi dan aksi nyata berupaya keras menemukan “Beach head”, Di tiap klaster Industri ada langkah sistimatis berkesinambungan untuk menemukan posisi terbaik pendaratan pasukan untuk merebut keunggulan penguasaan iptek, Ada generasi insinyur dan industri tekstil yang berupaya merebut Pantai Omaha di Normandi yang dijadikan Sekutu pada Perang dunia kedua , sebagai batu loncatan. Begitu juga generasi insinyur yang menekuni industri otomotive, elektronika, petrokimia, baja, sumber tenaga listrik petrkimia dan industri pesawat terbang. Masing masing memilih pantai terbaik mereka untuk menyusun kekuatan, menguasai keahlian dan mendalami potensi keunggulan masing masing untuk beradaptasi dengan Globalisasi dan serbuan produk import.

Dalam setiap lifecycle proses pengembangan satu peradaban, atau pertumbuhan ekonomi, atau kemajuan teknologi selalu saja ada saat dimana gempa waktu yang merubah landskap sejarah muncul tiba tiba. Selalu lahir siklus kondaratiev. Dalam tiap lifecycle ada pasang surut. Kadangkala muncul Timequake, Gempa Waktu yang melahirkan disrupsi. Kejayaan masa kini sebuah perusahaan bisa menurun karena tak fokus pada investasi untuk inovasi menemukan produk baru, cara kerja Baru untuk tingkatkan penjualan dan pelanggan Baru

Ambil contoh kisah pribadi yang saya alami dalam mengembangkan Pesawat N250 , pesawat berteknologi canggih fly by wire , advanced turboprop buah cipta Prof.Dr.Ing BJ Habibie, Presiden ketiga. Dimana saya ikut menjadi salah satu yang menjadi bagian.

Kami mengalami akhir perjalanan menuju puncak yang tak menyenangkan. Crash landing. Bukan karena tidak berhasil menguasai iptek dan bukan tak mampu mewujudkan visi keunggulan teknologi yang selama 20 tahun tahap demi tahap dilaksanakan. Metode Penguasaan teknologi perancangan pesawat terbang dan kemampuan untuk memproduksi secara mandiri helikopter, pesawat terbang dan industri manufaktur komponen serta rekayasa rancang bangun dilaksanakan dengan filsafat beraawal diakhir dan berakhir diawal mula. Start dari proses lisensi, final assembly yang sering dianggap pekerjaan mudah karena hanya sebagai tukang jahit atau maklon, untuk menguasai paradigma Q C D. Quality Cost and Delivery. Tatakelola atau management hightech yang tak mudah.

Ada tiga tahap, yang dilaksanakan.
Meski berhasil lolos pada phase Pertama dan phase kedua selama kurun waktu 15 tahu, 1976-1991. Yakni tahap Original Equipment Manufacturing , Industri yang bertumpu pada lisensi perakitan akhir dan kekuatan manufaktur komponen dan sukucadang Helikopter dan Pesawat Terbang. Kemudian phase kedua ditransformis menjadi Original Design Manufacturing Industri yang bertumpu pada kekuatan engineering, rekayasa dan ranking Bangun .

Tapi gagal diakhir 13 tahun kedua 1990-2003> Meski pesawat N250 berhasil terbang perdana 10 Agustus 1995 dalam tahun emas Kemerdekaan RI, dan berhasil memukau insan dirgantara dunia ketika dimunculkan di Airshow tahun 1997, dan mengantongi jam kerja akumulatip 800 jam. Akan tetapi akhir phase ketiga untuk menuju pada Original Brand Manufacturing, Industri yang bertumpu pada kekuatan Brand sendiiri. Tak berhasil dilalui dengan baik. Keputusan Politik untuk mengunci kemajuan N250 dalam Letter of Intent yang dilakukan IMF telah mengakhiri segalanya.

Tiba tiba diakhir phase lahir krisis ekonomi Asia. Muncul Time Quake. Gempa waktu yang memotong mata rantai kesinambungan sebuah program. Aliran finansial untuk membiayai tahap akhir proses sertifikasi dikunci ditengah jalan. Keran mata air dukungan dana menyusut drastis. Kami berada dalam limbo. Bergoyang goyang tanpa pegangan, dan tak ada SAR atau pasukan Search and Rescue. Kita harus menyelesaikan sendiri semua soal. Kita yang memulai kita pula yang harus mengakhiri.

Alhamdulillah.
Apa yang saya alami paling tidak dalam persepsi saya mirip seperti kisah Hemingway , 84 hari berjuang menemukan ikan Merlin Idaman. Di hari ke 85, ikan merlin yang indah disantap ikan hiu yang menggerogoti semua daging yang ada , tinggal kerangka. Malang tak dapat ditolak Untung tak dapat diraih. Dan disana ada lesson learned yang patut dipetik agar kisah serupa tak terulang lagi dimasa depan.

Sebagai Bangsa, Indonesia memerlukan Industri Nasional yang unggul dan tangguh untuk dijadikan engine for economic growth dan kesejahteraan bersama. Untuk keberlangsungan klaster industri yang telah diinvestasi kita memerlukan kesinambungan program dan konsistensi.

Meski banyak yang tak setuju dengan kebijakan dimasa lalu, yang mungkin dianggap sebagai sebuah pemborosan. Akan tetapi sekali layar berkembang, mengapa harus surut kebelakang Persfektip Industri kita memerlukan perubahan mindset. Apa yang tampak sebagai pemborosan dimasa kini, mungkin dimasa depan merupakan sebuah keunggulan. Itulah logic dari investasi. Tak cukup dilihat apa buahnya dimasa kini.
Kita memerlukan Pohon Industri yang akarnya kuat> Berupa mata rantai value chai dari hulu kehilir. Kita juga memerlukan daun Industri yang lebat disatu masa. Kita memerlukan keajegan untuk mengelola Industri Nasional baik dikalamasa musim gugur , musim dingin. Saat yang menentukan keberlangsungan hid suatu pohon untuk kemudian bersemi kembali dikala Autumn.

Dalam tiap proses pertumbuhan kita selalu perlu eling lan waspada. Seperti kata novel Game of Throne, yang selalu mengingatkan kita agar selalu memiliki persiapan ketika :”Winter is coming”.

Saat ini dari pengalaman dimasa lalu, saya berpendapat kita perlu mewaspadai lahirnya beberapa gejala menarik di akhir akhir ini. Kebijakan isolasi America dibawah kepemimpinan Trump memerlukan ruang kebijakan eksport yang baru. Apakah Pasar Amerika merupakan berkah atau kendala bagi Industri dalam negeri. Hail Pemilu Brexit dan kekalahan Perdana Menteri May pada pemilu Inggris yang memunculkan “weak government” dan “hung parliament”, sehingga peran Inngris mungkin meredup di Eropa perlu jadi perhatian. Sebab ada kemungkinan perubahan pola tingkah laku konsumen di pasar Europa. Begitu juga putusnya hubungan diplomatik Arab Saudi, UAE, Mesir, Yaman dengan Qatar yang masih masih samar samar sebab musababnya memerlukan perhatian para pengambil kebijakan, saudagar dan industriawan.

Mungkin saja akan muncul fluktuasi kenaikan harga fuel, avtur dan biaya logistik. Yang akan mempengaruhi semua rencana investasi dan posibilitas uang keluar masuk neraca dan cashflow harian, bulanan dan tahunan.

Dengan kata lain Cara kerja business as usual perlu ditinggalkan. Dunia sedang berubah.Mudah mudahan ini tanda Winter is coming yang akan diikuti oleh musim semi , dimana bunga bersemi dan buah kesinambungan Investasi pada Industri Nasional bermunculan satu persatu.

Kita berharap semoga tidak ada krisis ekonomi dimasa depan. Jadi apa yang kita perhatikan selama tahun terakhir ini bukan tanda timequake ata Gempa Waktu pencipta Diskontinuitas pertumbuhan ekonomi global.

Kurt Vonnegut mendefinisikan kata Timequake, Gempa Waktu dengan goncangan yang menyebabkan bergeser nya landskap geologis Tempat berdirinya sebuah bangunan infrastruktur iptek , industri dan kultur masa lalu. Gempa waktu yang memunculkan Kerusakan mendadak dalam proses kesinambungan ruang dan waktu, yang menyebabkan kita kemudian kehilangan persfektip jangka panjang dan terfokus pada jangka pendek.

Kita perlu Fokus pada hasil jangka pendek. Akan tetapi jangan menyebabkan kita menjadi dihinggapi rabun dekat. Mengabaikan pandangan jangka panjang. Terlau berorientasi pada hasil jangka pendek sering menyebabkan kita berada pada “blindspot”, mengambil tindakan untuk seolah dunia berjalan seperti biasa, tanpa ada beda. Kita ikuti langgam rutinitas biasa dari hari kehari. Kita terus jalan ditempat biasa yang sama seperti kemarin ditempuh.

Padahal mungkin saja landskap Tempat kita berjalan menuju masa depan telah berubah drastis karena gempa waktu. Yang tadinya lembah jadi datar, yang tadinya gunung telah longsor menutup lembah. World becoming Flat kata Friedman

Kita pernah belajar dari fenomena masa lalu. Salah satu alternatip hadapi perubahan cuaca mungkin kita dapat ikuti langkah pilot pesawat terbang jika tiba tiba berhadapan dengan cuaca buruk. Changing course, rubah haluan kurangi kecepatan kurangi ketinggian jelajah temukan ruang maneuver dimana guncangan atau turbulensi terasa terkendali.

Pengendali Fiskal dan Moneter perlu punya ilmu weruh sadurunge winarah. Intuisi dan seventh sense untuk me mandu kemana kita menuju. Direktu keuangan dan financial advisor di perusahaan perlu difungsikan dgn baik memantau keadaan.

Mudah mudahan share saya malam ini bermanfaat.
Salam

Dapatkan Industri Nasional Bangkit Menjadi Penggerak Inovasi dan Pertumbuhan Ekonomi ?

Jusman Syafii Djamal

Kini kita hidup dalam era “Akselerasi Teknologi”. Tumbuh kembangnya teknologi mengalami percepatan. Sebelum tahun 2005 pertumbuhan teknologi selalu ikuti rumus sederhana : 10 tahun R&D, Riset Pengembangan dan 10 tahun berikutnya Meledak jadi kekuatan produksi dan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah.

Ambil contoh bagaimana pada 1 januari 1954, NBC sebuah stasiun TV menyiarkan laporan pandangan mata pertama tentang Parade Bunga. Siaran pertama TV bewarna dalam layar sempit. Yang sempat melihat nya amat takjub sebab dapat mengamati dari rumah sebuah parade pameran bunga yang seolah liwat didepan jendela. Penuh warna. New York Times menyebutnya sebagai :”a veritable bevy of hues and depth”, untuk menjelaskan keindahan penyajian warna warni dalam layar tv yang ketika itu dominan hitam putih dalam skala layar yang kecil.

Akan tetapi program tv bewarna baru muncul kemudian jadi trend hampir sepuluh tahun sesudahnya. Di awal tahun 60 an. Dan masyarakat luas baru bisa menikmatinya setelah munculnya VCR dan tvi kabel diakhir 1970 an, itupun di Amerika. Diperlukan waktu 10 tahun sebuah inovasi mengendap dilaboratorium, diuji coba diamati feasibilitasnya dan kemudian dihitung untung ruginya untuk diproduksi secara massal.

Inovasi baru disebut perubah cara produksi jika temuan dimaksud baik berupa proses maupun produk mampu didorong menjadi unggul dalam persaingan di pasar. Tanpa keuntungan dan dampak di “market share” inovasi kalah sebelum bertanding.

Begitu juga ditengah era 80 an sejumlah pimpinan media terkenal dan ceo perusahan pengembang teknologi telah menjali kerjasama dengan para politisi pengambil keputusan untuk mentransformasi cara kerja “broadcasting”. Kualitas video ditingkatkan menjadi apa yang saat ini dikenal sebagai High Definition TV.

Akan tetapi ide ini baru terwujut dalam kenyataan setelah perusahaan boradcasting Raleigh di North Carolina yang merupakan perusahaan afiliasi CBS memunculkan nya dalam program tv di tgl 23 bulan Juli 1996.

Sepuluh tahun diperlukan untuk maju mundur dalam proses debat tentang benefit cost ratio diantara para engineer yang mendorong kemajuan teknologi dan para akuntan yang menghitung tiap cent keuntungan ekonomis serta dampak sosial yang terjadi, jika HDTV ini diluncurkan. Akan tetapi HDTV baru manjadi fenomena tahun 2001 setelah lima tahun kemudian.

Dengan kata lain dari dua contoh pengembangan inovasi berbasis teknologi tersebut Rule 10-10 berlaku. Diperlukan waktu 10 tahun untuk melakukan Riset dan Pengembangan Produk Baru, dan diperlukan waktu 10 tahun lagi tambahan agar sebuah inovasi menjadi fenomena baru dilpasar.

Costly. Sebuah perjalanan panjang penuh resiko dan biaya. Karenanya tak mudah sebuah karya disebut sebagai inovasi. Tak mudah orang menyandang gelar Inovator.

Atau seperti kata Steven Johnson dalam bukunya :”Where Good Ideas Come From : The seven Patterns of innovation”, ia bilang begini :” HDTV story suggest that …… we need a decade to build the new platform and decade for it to find a mass audience “, we called it the 10/10 Rules,

Begitu juga rule ini dapat dijejaki dari kemajuan penggunaan Amplitude Modulated Radio yang dikenal dengan istilah AM/FM. Stasion radio AM mulai broadcast diawal era 20 an, dan baru diakhir era 20 an ia menjadi siaran dirumah tangga America.

Sony meng inaugural “video cassette recorder tahun 1969, tetapi baru tujuh tahun kemudian produksi Betamax hingga tengah tahun 80an dan VCR menjadi phenomena.Dan baru tahun 2006 DVD mengganti peran VCR.

Cell phones, personal computers, peralatan Navigasi GPS juga ikuti time frame yang sama 10 tahun berada dilaboratorium sebagai embryo, diubah jadi prototype, uji marketing baru kemudian 10 tahun merangkak dalam persaingan menjadi unggul. Hal yang sama pernah saya alami. Tahun 1989 Prof.BJ.Habibie selaku President Direktur IPTN mampir blusukan keruang kerja saya. Sambil menepuk bahu beliau bilang :”Jusman , saya ingin kamu baca hasil Riset tentang airfoil supercritical ini. Beliau memberi sebuah buku hasil uji terowongan angin terbaru. Kemudian beliau membuat sketsa , layout. Dari inspirasi dan hasil Riset airfoil itu sy menemukan pilihan konfigurasi sayap yg sesuai misi nya.

Awal tahun 1989 Lahirlah embryo pesawat N250 dimeja kerja saya. melalui tulisan tangan beliau. Saya bersama para engineer lainnya bekerja siang malam, melakukan analisa, mengitung semua kemungkinan asitektur struktur design dan system kendali terbang, mengujinya dilaboratorium dan merubah gambar teknis menjadi komponen dan mewujutkan nya menjadi 2 prototype. Tahun 1995, enam tahun kemudian N250 prototype terbang perdana. tahun 1997 Pesawat N250 sebagai inovasi dibawa terbang ke Paris Airshow, diperkenalkan.

Perlu waktu hampir 10 tahun untuk lahirkan produk”. Sayang ketika produk baru itu sedang ada dalam uji terbang dengan 800 jam terbang, krisis ekonomi asia terjadi. Produk tak jadi inovasi perubah pasar.

Dengan kata lain Inovasi Teknologi dimasa lalu selalu ikuti rumus 10/10. Sepuluh tahun dierami dan menetas sebagai benih.Sepuluh tahun diperkenalkan dipasar dan merangkak untuk jadi unggul dan pembangkit pertumbuhan ekonomi perusahaan.

Akan tetapi rumus inovasi 10/10 ini berubah ketika Chad Hurley, Steve Chan dan Jawed Karim bekerjasama melakukan Riset dan menemukan produk “Paypal” diawal tahun 2005.

Mereka berkata bahwa Web dan Internet telah jukup masak untuk dijadikan platform merubah tatacara kita mengolah informasi melalui suara dan video, mereka me “launch You Tube”. Sebuah “website” yang kemudian mampu mentranformasikan tatacara informasi video diunggah dan dinikmati.

Dalam tempo enambulan , inovasi ini telah membuat penonton mengunggah video milik mereka sendiri 50 juta perhari. Dalam tempo dua tahun You Tube menjadi “the top ten most visited sites on the web”.

Kini kemajuan teknologi telah menyebabkan orang biasa menemukan wahana untuk secara efektip menampilkan gambar dan video milik pribadi untuk dinikmati banyak kalangan. Tiap orang ditiap rumah seolah bisa menjadi pemilik studio tv nya sendiri. Membroadcast apa yang diinginkan.

Disebut Netizen Journalism. Baik melalui You Tube, Facebook maupun Google dan Appstore IOS. Rumus 10/10 dalam inovasi seolah berubah drastis dari 10/10. sepuluh tahun di laboratorium dan di pusat riset, menjadi 1/1. Satu tahun sebagai embryo dan kemudian satu tahun kemudian dilepas di pasar untuk menjadi unggul.

Percepatan Inovasi menjadi tak terelakkan. Karenanya semua Industri kini sedang dalam persimpangan jalan. Yang terus menggenggam Rumus masa lalu 10/10 akan terus tertinggal dengan mereka yang terus berlari kencang dengan Rumus 1/1. Tiap tahun lahir produk baru, tiap tahun muncul pesaing baru.

Akan kah kita terus terlena dengan konsep lama dan terus menerus meratapi mengapa Daya Saing terus merosot ?

Kunci Daya Saing adalah Manusia Bersumber Daya Iptek yang diberi peran lebih besar untuk berkiprah. Daya saing hanya mungkin meningkat jika Industri di Indonesia di Revitalisasi.

Dalam debat Presiden Amerika antara Hilary Clinton dan Donald Trump tampak jelas spektrum policy yang mereka perbincangkan ditengah akselerasi kemajuan teknologi yang telah dikuasai Bangsa Amerika. Yang menurut hemat saya juga kita hadapi saat ini. Kemana kita hnedak melangkah. Donald Trump dan Hilary Clinton sama sama melihat bahwa problem masa depan yang mereka hadapi sebagai bangsa adalah “Job Creation- Lapangan Kerja” dan “Kesenjangan Ekonomi — In Equality”.

Pilihan mereka juga sama yakni Re-Industrialisasi. Revitalisai Industri Nasionalnya. Yang berbeda adalah caranya.

Trump lebih ekstrim ia bilang :”Amerika harus mengisolasi diri, bangun tembok diperbatasannya dengan Mexico, Hindari Immigrant yang hendak merampas lapangan kerja warga negara Amerika, dan Hentikan “outsourcing” atau “offshoring”, memindahkan pabrik dan industri ke China, Vietnam dan Indonesia harus dihentikan. Begitu kata Trump.

Sementara Hillary lebih moderat. Jalan Tengah. Revitalisasi Industri harus tetapi membangun mata rantai proses produksi di Negara lain juga hars diijinkan. Sebab kata Hilary Globalisasi tidak bisa dinafikan.

Dengan kata lain Negara sedigjaya Amerika juga kini sedang berada dipersimpangan jalan ketika menghadapi fenomena “deindustrialization, job creation and inequality”. Hal sama kita lihat ketika warga Inggris memutuskan untuk memilih “Brexit”, keluar dari EU.

Begitu juga kalau kita menyimak tv skynews atau bbc atau membaca tulisan di majalah economist, kita bisa menemukan para politisi Perancis yang sedang menata jalan pemilihan Presiden dimasa depan., juga berada dipersimpangan jalan. Kearah merengkuh globalisasi dan “market liberalization” sepenuhnya atau sedikit mengerem membalik arah mengayomi Kepentingan Nasional untuk menyediakan lapangan kerja lebih banyak dan mengurangi kesenjangan. Memajukan industri dalam negeri atau berubah menjadi negara dagang dan layanan jasa sepenuhnya ?

Ada yang ektrim meniru Trump untuk isolationism dan mengedepankan nationalism seperta Marie Le Pen yang bilang :”kedaulatan Manusia bersumber daya iptek Perancis, untuk berinovasi dan menghasilkan produk sendiri hanya mungkin tercipta jika ada ruang gerak kebebasan yang terlepas dari aturan Uni Europa.

Apa itu berarti juga akan ada “French-Xit, Perancis keluar EU, dimasa depan , entahlah ?

Dengan kata lain percepatan kemajuan teknologi dan percepatan tumbuhnya kekuatan disruptip akibat inovasi platform telah melahirkan sesuatu embryo masa depan yang belum dikenal pasti. Secara samar samar kita menyebutnya sebagai Revolusi Industri keempat, atau Industrialization 4.0, yang berbasis pada teknologi Internet of Things. Bagaimana wujutnya semua ahli masih berselisih pendapat.

Akan tetapi semua berkesimpulan sama. Landskap ekonomi sedang berubah. Stagnasi ekonomi yang terjadi saat ini sepertinya bukan semata mata petanda krisis akan muncul. Melainkan sebuah harapan baru akan struktur dan postur industri yang lebih sehat sebagai pembangkit pertumbuhan ekonomi. Fenomena yang seperti dialami seorang ibu yang sedang akan melahirkan, ada rasa sakit yang secara bertahap muncul. Itu bukan krisis, melainkan sebuah harapan lahirnya generasi baru yang lebuh cerdas dan sehat. Dengan bantuan bidan dan dokter bersalin yang berpengalaman bayi yang sehat akan lahir dengan menangis, dan disambut tawa sang ibunda.

Karenanya kita berharap program Deregulasi yang sekarang sedang gencar dijalankan oleh Menko Darmin Nasution dkk, bukanlah semata mata Deregulasi yang memudahkan inovasi bangsa lain masuk ke Indonesia. Kita berharap “kemudahan berbisnis, reducing cost of doing business” serta semua paket deregulasi itu dapat dikombinasikan dengan proses Reregulasi, menata ulang kembali ceruk pasar mana yang perlu dibuka mana yang ditutup, serta diikuti oleh deregulasi untuk menurunkan biaya produksi barang dan jasa di Indonesia yang diikuti oleh insentif fiskal agar Manusia Bersumber Daya Iptek Indonesia dapat melahirkan inistiatip untuk memajukan Industri di Negeri Sendiri.

Tanpa kepercayaan pada kemampuan Bangsa Sendiri, tak mungkin kita mampu berdiri diatas kaki sendiri.

Apa benar begitu Wallahu Alam. Mohon Maaf jika keliru. Salam

10 Agustus 1995 s/d 10 Agustus 2016 , Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, Kemana Melangkah Pergi ?

10 Agustus 1995 s/d 10 Agustus 2016 , Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, Kemana Melangkah Pergi ?

Jusman Syafii Djamal

Hari ini Hari Kebangkitan Nasional. Sudah sejak tahun 2013, dihari ini saya buat acara sendiri diperpustakaan pribadi. Saya mulai mengklasifikasi kumpulan tulisan saya di facebook yang dikoleksi.

Awalnya tahun 2011saya mulai sering menulis catatan di facebook, dimalam hari atau pagi hari ketika ada sesuatu terlintas dikepala. Setelah membuat 100 catatan, seorang teman bilang tulisan saya bagus dibukukan.

Anjuran teman ini, kemudian saya lakukan tahun 2013. Agar punya milestone dan tenggat waktu saya mulai program mengumpulkan tulisan yang berserak dan mengklasifikasinya serta mengedit buku diawali setiap tanggal 10 Agustus untuk mengumpulkan catatan yang terserak dalam facebook.

Hasilnya Dua Buku dari Trilogi catatan fb telah terbit. Senang karena banyak komentar. Ada yang bilang jelek, banyak yang bilang terinspirasi. Alhamdulillah. Buku kedua berjudul Notes on Strategy. Buku pertama berjudul Notes on Leadership. Buku ketiga sya mulai hari ini, akan diberi judul Notes on Techno Economy and Innovation.

Mengapa kumpulan tulisan kali ini saya beri judul Notes on Techno Economy. Sebab hingga kini saya punya kerisauan sebagai seorang Insinyur Penerbangan. Saya amati teknologi yang dikuasai dan inovasi yang diciptakan oleh putra putri Bangsa Indonesia, masih saja dipandang kekuatan yang bergerak dalam orbit berbeda atau faktor yang berada terpisah dari Pertumbuhan Ekonomi.

Terus saja muncul anggapan bahwa Penguasaan Teknologi dan membangun kekuatan Industri Nasional, itu tidak gampang dan hanya membuang buang ongkos, sumber daya dan kekuatan finansial. Padahal Teknologi mudah dibeli sebagai produk jadi dari supermarket dunia. Semua sudah tersedia dan diproduksi di Negara lain. Mengapa pula kita perlu pusingkan, strategi dan langkah sistimatis untuk menguasainya. Cukup jadi operator såja.

Kini, kita jauh tertinggal. Infstaruktur iptek tidak tersedia. Laboratorium di Institusi Teknologi yang kita miliki seperti ITB sudah ketinggalan zaman. Sementara Teknologi apa saja yang diperlukan mudah dibeli. Mengapa kita sebagai Bangsa mesti menguasai dan memproduksi Teknologi ? Hanya buang fikiran dan alokasi anggaran saja. Mengapa perlu pelihara sapi sendiri , jika ada satay house bisa dikembangkan tanpa perlu bangun peternakan sapi di sini. Cukup impor saja daging dari lain. Jika perlu jeroan juga tersedia,

Begitu juga mau handphone, banyak merk bisa di beli. Yang low End dengan harga dibawah 500 rupiah ada. Mau yang high end diatas 10 juta tersedia. Tinggal beli. Untuk apa punya industri handphone.

Bis dan angkutan umum massal ? Mau pesan ribuan bis, mengapa sukar tinggal datangkan bis dari Swedia, Jerman ataupun China dan Jepang Korea. Kereta Api juga demikian, kenapa kita masih mempertahankan INKA di Madiun, ada Korea, China dan Jepang.

Dulu waktu sy masih kecil handuk, sabun, kecap, dan segala jenis produk rumah tangga ada label Made in Indonesia. Tahun 60 an Jembatan Semanggi, Stadion Senayan,Mesjid Istiqlal semua kontruksi dominan Made in Insinyur Indonesia. Tahun 70 an Textile, Sepatu, Baju banyak Made in Indonesia. Tahun 80 an produk elektronika, otomotip dan besi baja pipa gas dan pabrik petrokimia, buatan sendiri dari bumi indonesia. Tahun 90 an Bis, Kereta Api, Kapal dan Pesawat Terbang.

Kini atas nama Globalisasi, liberasi dan pasar bebas, Masyarakat Ekonomi Asean serta untuk efisiensi, produktivitas, quality cost and delivery semua produk dapat diimport dari luar negeri. Mindset fikiran yang secara sistimatis membentuk tembok untuk membonsai industri nasional. Industri Nasional kini tidak mengalami proses evolusi tumbuh berkembang, bertahap maju dan sustain. Melainkan alami proses involusi mengkerut layu dan mati.

Kata Made in Indonesia kini terasa asing ditelinga.

Setelah Asian Crisis, kepercayaan pada kekuatan Industri Nasional runtuh satu demi satu. Diawali dari pembubaran Badan Pengelola Industri Strategis, Induk Holding BUMN Industri Strategis seperti IPTN, Pindad, Krakatau Steel, INKA, INTI dan LEN.

Semua Industri Nasional kini seolah berjalan tanpa pola dan roadmap sebagai suatu kesatuan sebagai Indonesian Inc. Paling tidak itu keluhan yang saya terima ketika berdialog di ITB tiga hari lalu. Kita kehilangan elan vital untuk menguasai teknologi, karena seolah tak memiliki sasaran strategis dan roadmap serta strategi penguasaan teknologi.

Kita kini disibukkan dengan upaya membangun cerita pada anak cucu bahwa Teknologi dunia sudah berubah pesat. Apa yang kita kuasai kini sudah kadaluarsa. Sebagai bangsa kita perlu belajar dari nol lagi. Semua dianggap kurang, ada jurang keterampilan menganga. Skill gap.

Sebelum tahun 98, jumlah Insinyur masih sedikit, tapi produk berlabel Made in Indonesia lumayan banyak. Kini Insinyur bertambah , Made in Indonesia makin berkurang. Kita semua bilang kalah bersaing. Takut bertarung dan jago kandang. Yang salah diri sendiri. Tiap hari ada instropeksi, kurang ini dan itu.

Sementara setelah tahun 1998, titel insinyur lebih sulit diperoleh. Tak semua lulusan ITB dan ITS langsung disebut Insinyur, Ingineur. Ada jenjang yang harus diikuti. Semua membuat batas gerak maju. Kapan disebut Sarjana, Kapan dibilang Insinyur Profesional. Tak semua orang yang mampu berkuliah bisa disebut sarjana, begitu juga tidak semua yang sarjana teknik bisa disebut Insinyur. Ada jenjang sertifikasi yang harus diikuti. Siapa yang mensertifikasi dan apa saja saratnya tergantung siapa Boss nya. Tak ada yang baku.

Awalnya semua dibilang Sarjana Teknik. Sarjana Strata Satu belum punya keterampilan apa apa. Masih perlu tambah 2 atau 3 tahun lagi untuk punya sayarat menjadi Insinyur muda. Tidak semua Sarjana Teknik yang baru lulus boleh diakui gelar insinyur nya oleh Persatuan Insinyur Indonesia.Perlu pengalaman kerja dan testing serta ujian untuk diakui sebagai insinyur. Bahkan lulusan universitas ternama baik dalam negeri dan luar negeri tak boleh disebut insinyur.

Yg dinilai pengalaman kerja, Sementara kesempatan untuk mendapatkan pengalaman sukar dikar. Saya jadi inget ketika zaman Orde Baru, untuk jadi Presiden syarat utamanya adalah pengalaman lima than. Akibatnya hanya satu orang yang memenuhi start ?

Jika ada Sarjana Tekni lulusan ITB atau ITS ambil S2 di Delft dan kemudian ambil S3 di MIT Amerika atau , Princeton , Grand Ecole Perancis atau menempuh S2 dari Brausweigh sampai di Indonesia tidak mungkin langsung diakui sebagai insinyur perdefinisi.

Perlu ikuti apa yang disebut test kesetaraan utk disertifikasi ijazahnya dan keahliannya. Proses baku dibuat, yang jarang diamati siapa yang punya hak menguji siapa. Bukan tidak mungkin lulusan teknik penerbangan diuji oleh mereka yang berkeahlian teknologi pertanian. Banyak orang menganggap itu tidak penting. Yg utama ada proses berbelit untuk diakui. Kita memperumit diri sendiri. Sementara negara lain mempermudahnya.

Akibatnya saja dititik awal saja Manusia Bersumber Daya Iptek kita sudah mengalami rintangan untuk punya akselerasi dan mendapatkan kepercayaan dari Bangsanya sendiri. Tak heran dikemudian hari kita kedodoran dalam Competitiveness. Karena Administrasi dan birokrasi. Ibarat ular memakan buntutnya sendiri. Melingkar tanpa kemajuan berarti.

Tak heran kini ada ketakutan Indonesia kekurangan puluhan ribu insinyur. Karenanya kita boleh impor Insinyur. Asal warga negara asing kalau di negaranya disebut insinyur kitapun mengamini. Meski yg dari luar Negeri tak lulus Test Insinyur dari PII. Impor lebih utama dari ekspor.Kini banyak anak anak tak menyenangi Matematika, Fisika dan Kimia ,Biologi atau Hard Sciences. Semua ingin milih jalur Soft Sciences.

Dimasa depan bukan tidak mungkin kita kekurangan Dokter dan Ahli Pertanian. Kita akan terus menuju bangsa yang tidak peduli pada kekuatan Industri Nasional. Tekad untuk jadi Negara Produsen jauh panggang dari api. Ada yang menyebut saya pesimis. Tapi saya hanya menyajikan fakta. Apa benar begitu marilah diverifikasi.

Program pembangunan infrastruktur kini didorong oleh Presiden Jokowi. Sebuah langkah berani.Momentum pengembangan Manusia bersumber daya iptek telah dibuka dan dirintis atas inisiatip Presiden Jokowi.

Pembangunan infrastruktur oleh Presiden diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja, efisiensi ekonomi dan juga menunrunkan biaya logistik di Indonesia. Satu kali tepuk banyak tujuan dapat dicapai. Dengan begitu pembangunan infrastruktur harusnya jadi wahana transformasi keahlian dan pemnguasaan teknologi. Jadi arena untuk membangkitkan keahlian insinyur muda baru tamat ITS, UI, Gajah Mada, ITB dan perguruan tinggi yg punya program studi Fakultas Teknik.

Sayang kini begitu banyak aturan yang dibuat. Tak mudah mereka baru lulus sarjana menjadi tenaga inti. Sebab diperlukan dua tahun pengalaman untuk dapayt diakui keinsinyurannya. Sarjana Teknik tak boleh disebut insinyur. Jadi karenanya semua Sarjana Tekni harus merangkak dari bawah. Seolah hanya menguasai ilmu ketukangan dan bisa dimasukkan dalam arena bersaing dengan lulusan D1,D2 dan D4.

Makin modern masyarakat makin berbelit sertifikasi.

Gelar insinyur pun kini dipandang sebagai produk jadi. Hanya yg berpengalaman dan lolos sebagai produk yg diakui. Padahal ketika ir Sutami memimpin proyek pembangunan Jembatan Semanggi dan Bung Karno perintahkan Rooseno, Sutami, Silaban bangun Gelora Bung Karno, Semanggi, Istiqlal yg memimpin dan dominan adalah insinyur muda baru lulus dan tak punya pengalaman.

Tahun 82 ketika Prof BJ Habibie terima sy jadi karyawan Nurtanio, beliau langsung bilang begini : jusman ada dua jalur untuk jadi insinyur proessional. Ketika bertemu pertama kali beliau memeluk saya. Sekarang kamu insinyur muda. Junior Engineer. Murid nya Toy (alm Prof Oetarjo Diran).

Alm Ibu Ainun, yang selalu berada disebelah beliau, saya ingat kurang lebih beri komentar : “jusman jadi insinyur mesti rapi jangan pake jeans , kaos dan sepatu sendal kalau ke kantor”. Sambil senyum. Sebab ketika itu dihari jumat dan saya dipanggil ketika sedang berjalan mau pulang dari kantor. Jadi karena mau naik motor tak pelak pakaian harus diganti . Ditengah jalan ada panggilan. Pakaian “perang” masih melekat.

Sunggu ingatan dari suatu Rendezvous, pertemuan awal yang membangkitkan semangat. Ada trust dari orang tua pada anak anaknya.Sejak itu saya selalu dikenalkan sebagai anak intelektual beliau.

Dengan kata lain, yang ingin saya ketengahkan, adalah proses rekruitment sarjana baru selalu diberi motivasi untuk bangkit menjadi awal munculnya rasa cinta pada profesi. Tidak ada kendala. Sentuhan emosi dan pujian yang memancing “engagement”, keterlibatan hati untuk mengabdi profesi.

Saya yang ketika itu baru lulus , tanpa diuji langsung diberi predikat Insinyur muda. Tak perlu menanti dua tiga tahun pengalaman. , Cukup dgn mengetahui sy murid Prof. O Diran yg dikenal baik, sy langsung dicemplungin untuk bekerja di Getafe Madrid, Pabrik Pesawat Terbang.Tanpa pengalaman disana sy langsung diberi tanggung jawab dalam bidang rekayasa dan rancang bangun. Tupoksi sy cuma satu learning by doing. Duduk ditengah persoalan, terseret dalam gelombang persaingan.

Jatuh bangun dalam proses introduksi teknologi, adopsi, difusi dan inovasi. Mastering technology through complexity of problems.Pak Habibie bilang ini uang disebut jalur pembudayaan. Akuisisi Teknologi melalui program sistimatis, bertahap dan bertingkat di lapangan kerja. Gelar Insinyur diperoleh sebagai produk pembudayaan dalam lapangan kerja. Ujiannya bukan tulisan, melainkan hasil karya, produk nyata.

Jalan kedua jalur Pendidikan, menguasai Teknologi melalui sekolah, laboratorium dan research di universitas. S1, S2 dan S3. Dua jalan sama penting dan terhormat u membangun manusia bersumber daya iptek.

Jalur pembudayaan Menguasai teknologi through learning by doing, ikuti teori Akamatsu social scientist Jepang tentang Flying Geese Paradigm. Kumpulan Angsa Terbang. Maju menguasai teknologi secara berjenjang, bertingkat dan berkesinambungan.Dengan kepercayaan yg sama tahun 1990 beliau nunjuk sy jadi Chief Project Engineer N250. Ketika awal ditunjuk tahun 90 megang jabatan tupoksi Chief project engineer, Sy tak punya pengalaman merancang pesawat terbang dari nol.

Prof Dr Ing BJ Habibie percaya sy punya talenta untuk jadi airplane configurator development, tugas engineering yg sulit itu. Ia percaya pd generasi muda.Dari pekerjaan insiyur muda yang baru lulus di perguruan tinggi seperti ITS, ITB, MIT , Delft, dan lain sebagainya pastilah memiliki bakat dan talenta untuk diasah dan dididik membangun ketekunan untuk menguasai keahlian.

Gelar insinyur dijadikan titik awal membangun Craftmanship dan Managerial skill on managing Technology. Kini apa yang saya peroleh secara kebetulan atas izin Allah tak mungkin muncul kembali, untuk sarjana teknik baru lulus dari Universitas. Banyak tembok yg harus diliwati.Tak heran kita kekurangan insinyur.

Mindset yang menyatakan Teknologi sebagai produk jadi mudah dibeli dipasar, menyebabkan kita ingin ambil jalan pintas. Semua produk teknologi seolah dapat dilahirkan melalui surat perintah atau Instruksi. Kini semua proyek dan program berlomba menjadikan Kepres dan Inpres sebagai sasaran utama. Seolah dengan menyatakan bahwa Produk dalam Negeri menjadi prioritas kita langsung bisa memproduksi mobil, handphone , kapal laut, pesawat terbang dan kereta api.

Padahal menguasai Teknologi tak bisa dilakukan dengan sekedar menganggapnya sebagai produk jadi, yang mudah diperoleh di supermarket. Teknology hanya bisa dikuasai dalam suatu tatanan dan rencana yang baik. Dan jika ingin dikuasai maka teknologi harus dipandang dalam perspektip dalam tiga dimensi.

Teknologi dalam dimensi Systems, Process dan Product. Menguasai Teknologi berarti menjadi ahli yg bergelut dgn keindahan produk, dan amat menyenangkan untuk ditekuni.Ada ruang imajinasi, daya creative yg dibangun untuk ciptakan inovasi.

Jika kita ingin bangun Bangsa yg unggul, please Be Hungry and Foolish in mastering Technology kata Steve Jobs.

Dari pengalaman 20 tahun bekerja di industri pesawat terbang, sy punya keyakinan generasi muda Indonesia memiliki keunggulan dan mampu jadi insinyur yg menguasai Teknologi. Kita memiliki banyak talenta yg tidak pernah dipercaya dan diberi kesempatan.

Kita hanya ribut ketika talenta ini bekerja di luar negeri. Jadi insinyur atau lead engineer di Boeing, Airbus, Microsoft, Facebook dst. Kita malah mengecap mereka tidak loyal dan brain drain. Bangsa lain menghargai kita minta Surat Ijin Bergelar Insinyur.

Mengapa semua diam ketika ada yg bilang kurang insinyur puluhan ribu. Dan juga tak percaya pada keahlian manusia bersumber daya iptek Indonesia ?Karena insinyur seperti juga dokter, akuntan dan lawyer profesional biasanya diam dan hanya produk nya yg bicara ?

Begitu kira kira alasan mengapa buku ketiga catatan fb sy akan diberi judul Notes on Techno Economy and Innovation. Dan di hari yang mengingatkan saya akan terbang perdana Pesawat N250 yang saya ikut membidaninya, dijam yang mengenang bagaimana roda N250 terangkat dari bumi Indonesia mengudara seperti Gatotkaca, saya berdoa Bismillah buku ketiga saya akan dikumpulkan dan diedit kembali untuk diterbitkan.

Saya share disini sebagai introduksi. Mudah2an berkenan, Mohon maaf jika keliru. Salam