Prinsip Home based Education atau Home Education (HE)

Harry Santosa

Home Education adalah pendidikan rumah yang sudah ada sejak zaman Nabi Adam AS, dimana keluarga maupun keluarga besar seperti Ayah, Bunda, Kakek, Nenek, Paman, Bibi, Kakak dstnya terlibat dalam mendidik anak anaknya atau generasi penerusnya

Karenanya Home Education adalah kewajiban setiap keluarga bukan pilihan. Anak bersekolah atau tidak bersekolah, homeschooling maupun unschooling dsbnya tidak mengurangi kewajiban keluarga (dalam hal ini adalah ayah dan bunda) untuk mendidik anak anaknya sendiri

Home Education bukan memindahkan kurikulum sekolah ke rumah atau menyulap rumah menjadi sekolahan namun merancang kurikulum sendiri sesuai kekhasan dan kearifan serta nilai nilai keluarga kita sendiri termasuk Misi keluarga kita serta mengikuti fitrah anak anak yang ada di dalam keluarga lalu memandunya dengan Kitabullah

Home Education adalah pendidikan yang utama, sementara Sekolah, Kursus, Sanggar dsbnya hanyalah opsi atau pelengkap atau pengisi waktu luang sesuai kebutuhan. Pengetahuan dan keterampilan bisa diperoleh dari manapun, namun inti pendidikan adalah orangtua atau keluarga pada anak anaknya yaitu denganmerawat, menumbuhkan dan membangkitkan semua aspek fitrah sesuai tahapannya lalu memandunya dengan Kitabullah

Home Education bukan “Too Much Teaching”, tetapi “Much Inspiring”. Anak yang tumbuh gairah dan antusias fitrah belajarnya akan belajar sepanjang hidupnya dan memiliki struktur bernalar yang hebat. Maka tugas orangtua bukan banyak mengajar dengan pengetahuan atau harus serba tahu tetapi membersamai ananda belajar bersama dan membuat ananda terisnpirasi hebat dengan idea idea menantang sehingga ananda cinta belajar dan bernalar termasuk bergairah berinovasi kelak sepanjang hidupnya

Home Education dalam prakteknya dimulai sejak anak dalam kandungan sampai AqilBaligh di usia 15 thun. Karenanya home education berupaya merawat dan menumbuhkan semua aspek fitrah sehungga anak anak kita mencapai AqilBaligh yaitu mandiri dengan peran spesifiknya dan mukalaf atau mampu memikul beban syariah ketika berusia 15 tahun.

Home Education dimulai dengan TazkiyatunNafs atau pensucian jiwa. Tazkiyatunnafs meliputi
1. Mu’ahadah, yaitu mengingat kembali syahadah kita, merumuskan kembali janji janji pernikahan, merancang misi visi keluarga kedepan dstnya.
2. Muroqobatullah atau mendekat kepada Allah agar diberikan Qoulan Sadida (lisan, sikap, idea, perasaan dll yang layak dan pantas diteladani) .
3. Muhasabah yaitu menghitung hitung kembali capaian produktif yang dilakukan keluarga dan anak anaknya.
4. Mujahadah, sungguh sungguh mewujudkannya
5. Mu’aqobah, yaitu memberi sangsi atas kelalaian dengan sangsi yang produktif sehingga membuat anak semakin produktif.

Home Education bukan sekedar pengasuhan (parenting) semata tetapi menjalani peran fitrah keayahbundaa dan makna pendidikan secara keseluruhan khususnya menumbuhkan fitrah (tarbiyah) dan menanamkan adab (ta’dib) sesuai tahapannya sehingga kelak menjadi peran peradaban terbaik dengan semulia mulia adab dalam rangka memenuhi maksud penciptaan untuk beribadah dan menjadi khalifah di muka bumi..

Kurikulum Home Education untuk setiap anak tidak dipersiapkan di awal, tetapi terlebih dahulu harus mengenal mendalam sejak dini setiap anak dengan banyak beraktifitas bersama lalu melakukan observasi dalam setiap aktifitas itu sehingga dalam waktu panjang diperoleh pola fitrah ananda meliputi semua potensi aspek fitrah termasuk fitrah bakatnya. Jika sudah diperoleh pola fitrah ananda maka secepatnya di usia 7 tahun baru kita dapat merancang “personalized curriculum” untuk tiap anak yang relevan dengan pola fitrahnya

Home Education diselenggarakan dengan menguatkan keyakinan dan kesyukuran, tanpa bertindak obsesif dan atau pesimis namun senantiasa rileks dan optimis mengikuti fitrah keayahbundaan, fitrah anak serta kurikulum Allah semata

Advertisement

Home Education: Nurturing the Fitrah

Harry Santosa
29 April

“Every child is born on Fitrah (natural disposition; or true faith of Islam to worship none but Allah) till his tongue expresses him (i.e. express his creed), thus his parents make him a Jew or a Christian or a Magian.” [related by Al-Bayhaqy and Al-Tabarany in Al-Mu`jam Al-Kabir].

Unlike the classical Christian doctrine that every child born in this world is tainted with the Original Sin of Adam (AS), Muslims believe that children are born pure and sin-less. Inherently the seeds of gnosis of their Lord have already been sown in their souls.

{ And (remember) when your Lord brought forth from the children of Adam, from their loins, their seed and made them testify as to themselves (saying): “Am I not your Lord?” They said: “Yes! We testify,” lest you should say on the Day of Resurrection: “Verily, we have been unaware of this.”} (Al-A`raf 7:172)
It is the duty of the parents to nourish and mould natural abilities and interests their child is gifted with to help fully realize the purpose of human existence – to “know” his Lord.

Knowledge has two sources: this world (fiddunya) and that world (fil akhirat). That from the former is to be examined through creative intellect and natural/scientific inquiry; the latter through divine revelations. It is important that the pursuit of the former type of knowledge does not marginalize the latter. The end product of a balanced complementing acquisition of the two types of knowledge is a human being who is ready to realize his true destiny i.e. to become al insaan al kamil – a complete (exemplary) human being.

Mainstream school education has different objectives for your child — one being to earn a “good” livelihood. This objective supersedes other factors and creates an imbalanced individual too narrowly focused on his own economic well being. The knowledge of “that world” if at all offered is often at a lower priority and not integrated with the rest of the curriculum – often grafted poorly as an after thought.

Another covert goal of systemized education is for the individual to conform to the objectives of the one world consumer culture that is deliberately being spread globally. Once the individual goes through this system of education his fitrah will be manipulated to accept homosexuality, marriage-free partnerships, the supremacy of instant individual gratification as a lifestyle, secular thought, evolution as a doctrine, exploitation-based economy, etc.

Mass education generally produces mediocre individuals good enough to work in their little niches in the machinery of global exploitation. They are usually so busy pursuing their individual little wants that they become incapable or unwilling to question the global order in which they fit-in so nicely.

Among other things, home schooling or home education is a step in liberating your child from the global god-less world culture through nurturing what they have been bestowed with. By remembering where they came from, their purpose in life and their ultimate destiny, your child will have the ability to solve real problems by thinking holistically, free from the then prevalent models of deception.

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Home Education dan Ijazah

Harry Santosa

Beberapa pertanyaan menarik tentang Home Education namun sebenarnya membuat miris karena ini terkait fitrah keimanan para orangtua yang tidak tumbuh

Diantara pertanyaannya adalah

“Kalau anak saya di Home Education kan, kemudian dia tidak punya ijasah, kemudian orangtuanya meninggal dunia, lalu bagaimana kelanjutan pendidikannya?. Bagaimana keluarga besar akan bereaksi negatif karena meninggalkan keturunan tanpa ijasah? Bagaimana mereka kemudian melanjutkan pendidikan anak anak yatim itu tanpa ijasah?”

______

Perkara ini sesungguhnya perkara keimanan dan cara pandang yang tidak benar tentang pendidikan.

1. Diantara aspek keimanan adalah keyakinan bahwa setiap anak atau manusia sepanjang hidupnya telah Allah siapkan rezqinya. Bahkan Raslulullah SAW dilahirkan yatim dan diminta jangan khawatir dan banyak mensyukuri nikmat.

Sesungguhnya Hari Akhir itu lebih baik bagi kamu daripada yang sekarang (permulaan). Kelak Tuhanmu pasti memberi kamu karunia, lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapati dirimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi kamu; mendapati dirimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberi kamu petunjuk; Dia mendapati dirimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberi kamu kecukupan?

Jikapun ayahnya diwafatkan sebelum anak mereka lahir, atau terus dihidupkan sampai anak mereka lahir dan besar, sesungguhnya Allahlah Murobby atau Guru sejati bagi anak anak kita sepanjang hidup mereka. Karena Allahlah sesungguhnya yang paling tahu tentang aspek fitrah anak anak kita.

Sepanjang semua aspek fitrah mereka tumbuh indah, mereka akan memcapai peran peran peradaban terbaik, baik di dalam keluarga sebagai ayah atau ibu sejati, di dalam masyarakat sebagai pemimpin sejati dalam bidangnya, di alam sebagai pelestari dan perawatnya sejati dstnya.

Fitrah yang lurus dan terawat akan menuntun kepada peran, lalu peran yang beradab akan memberikan banyak manfaat,manfaat bagi apapun, dan itu semua akan mendatangkan rezqi.

Apakah anak yang berijasah namun menyimpang fitrahnya dapat hidup dengan bermanfaat?

2. Diantara aspek keimanan adalah keyakinan bahwa tiap anak telah diinstal potensi fitrah sebagai bekal atas konsekuansi dari tugas tugas (misi) sebagai seorang khalifah dan seorang Hamba Allah.

Setiap anak sudah Muslim sebagaimana hadits “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah

Setiap anak sudah bersyahadah Rubbubiyah sejak di alam rahiem (QS 7:172)

Setiap anak sudah punya jalan suksesnya masing masing sebagaimana ayat “Katakanlah, bahwa setiap manusia beramal menurut Syaqilahnya (bakat pembawaannya) masing masing (QS 17:84).

_”Dan org2 yg berjihad untuk mencari keridaan kami, kami akan tunjukkan kepada mereka jalan2 kami. Dan sungguh Allah beserta org2 yg berbuat baik”_ *[QS 29:69]*

Jadi jika mensyukuri potensi fitrah anak anak kita dan mendidiknya atas potensi fitrah itu sehingga gairah cintanya pada Allah membuncah buncah, gairah cintanya pada belajar dan ilmu sangat antusias, gairah mendalami sifat uniknya dstnya ketika kita masih hidup, maka kita tidak perlu khawatir.

Ketika fitrah mereka tumbuh indah di usia 0-7 tahun saja, mereka akan terus belajar sepanjang hidupnya, mereka akan terus mencintai kebenaran dan membelanya sampai mati, mereka akan terus percaya diri mengembangkan sifat uniknya menjadi peran peran peradaban terbaik dstnya.

Apakah anak yang berijasah sudah pasti tahu bakatnya? Suka dan bergairah belajar tanpa pamrih hingga menjadi karya karya peradaban?

3. Diantara pesan dalam ayat di atas adalah “Tidak menghardik anak yatim” . Ini bermakna bahwa secara teknis harus ada komunitas yang mendidik fitrah anak yatim ketika ayahnya atau ayahibunya dipanggil Allah SWT. Maka semasa hidup bangunlah komunitas pendidikan yang saling tolong menolong, nasehat menasehati, titip menitip dalam pendidikan anak anak secara berjamaah.

Para Sahabat Nabi SAW bahkan menikahi janda janda dari Sahabat lainnya yang lebih dahulu dipanggil Allah, semata mata bukan karena hawa nafsu, namun untuk hadirnya sosok ayah dalam kehidupan para yatim.

Apakah ijasah tanpa komunitas dapat memberikan kehidupan terbaik bagi anak anak kita?

Ambilah ijasah jika diperlukan namun bukan sesuatu yang wajib sehingga mengganggu keimanan kita dan kebersyukuran kita.

Yuk AyahBunda, yakinlah pada Allah SWT, dan barengi keyakinan itu dengan mensyukuri fitrah anak anak kita kemudian segeralah mendidik sejak dini atas potensi fitrah fitrah yang Allah karuniakan. Kembalilah menjadi orangtua sejati, yang berani menjawab panggilan untuk menjadi orangtua sejati sebagaimana Kitabullah mengamanahi Fitrah dan Adab. Mari bersama meretas gerakan bersama dalam mendidik anak secara bersama (community based education) di lingkungan kita

Apa itu Home Education? Dan Bagaimana HE berbasis fitrah

Resume Kulwap HEbAT Nasional*

📆Hari/Tanggal: Jum’at, 26 Agustus 2016
14.00-17.00 wib

Admin : Bunda Deasy (Bandung)
Host. : Bunda Umi (Jogja)
Co Host. : Bunda Dini (Sulawesi) dan ayah Muji (Bekasi)
Peresume : Bunda Farda (Surabaya)

💖 Apa itu Home Education? Dan bagaimana HE berbasis fitrah?💖

👳🏻Narasumber : Ust. Harry Santosa

🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾

Assalamualaykum.wr.wb
Ayah bunda apa kabar, tetap semangat ya 😊
🙏

Ayah Bunda yg baik,

Home Education atau home based education atau pendidikan berbasis rumah adalah amanah dan kesejatian peran dari setiap orangtua yg tak tergantikan oleh siapapun dan tdk bisa didelegasikan kepada siapapun.

HE bukanlah memindahkan persekolahan ke rumah, bukan pula menjejalkan (outside in) berbagai hal kepada anak2 kita. Namun membangkitkan dan menumbuhkan (inside out) potensi fitrah2 dalam diri kita dan anak2 kita agar mencapai peran sejati peradabannya dengan semulia2 akhlak.

Rumah2 kita adalah miniatur peradaban, bila potensi fitrah2 baik bisa ditumbuhsuburkan dan dimuliakan di dalam rumah2 kita maka secara kolektif menjadi baik dan mulialah peradaban.

Setiap anak kita setidaknya memiliki 4 potensi fitrah sejak dilahirkan:
1. Potensi fitrah keimanan, setiap bayi yg lahir pernah bersaksi bhw Allah sbg Robb. Maka setiap bayi yg lahir pada galibnya mengenal dan merindukan sosok Rabb.

2. Potensi fitrah belajar, setiap bayi yg lahir adalah pembelajar tangguh sejati.

3. Potensi fitrah bakat, setiap bayi yg lahir adalah unik, memiliki sifat bawaan yg kelak akan menjadi panggilan hidup dan peran spesifiknya di muka bumi.

4. Potensi fitrah perkembangan, setiap bayi sampai aqil baligh dan sesudahnya, memiliki tahap2 perkembangan yg harus diikuti. Tidak berlaku kaidah makin cepat makin baik.

Ke-4 potensi fitrah ini sebaiknya simultan, seimbang dan terpadu. Kurang salah satunya akan memberikan hasil yang tidak paripurna. Jika pendidikannya benar dan tepat, maka resultansi dari ke-4 fitrah ini adalah insan kamil yang memiliki peran peradaban.

Fitrah bakat tanpa fitrah keimanan akan melahirkan talented professional yang berakhlak buruk, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah bakat akan melahirkan orang2 beriman yg paham agama namun sedikit bermanfaat.

Lihatlah mereka yang berbakat menjadi pemimpin tanpa akhlak maka akan menjadi diktator. Begitupula mereka yang bertauhid tanpa bakat, akan sangat sedikit memberi manfaat.

Fitrah belajar tanpa fitrah keimanan akan melahirkan para sciencetist dan innovator yang berbuat kerusakan di muka bumi, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah belajar akan melahirkan generasi agamis namun mandul dan tidak kreatif.

Fitrah belajar tanpa fitrah bakat akan melahirkan pembelajar yang tidak relevan dengan jatidirinya, begitu pula sebaliknya, fitrah bakat tanpa fitrah belajar akan melahirkan orang berbakat yang tidak innovatif. Berapa banyak kita lihat orang yang bakatnya hanya berhenti sebagai hobby semata.

Semua fitrah personal itu jika tidak ditumbuhkan sesuai fitrah perkembangannya akan membuat generasi yang tidak matang dan tidak utuh menjadi dirinya.

Fitrah belajar dan fitrah bakat yang tumbuh bersamaan dengan fitrah keimanan melahirkan generasi yg inovatif, produktif dan berakhlak mulia.

+—————————————————–+

💖 Bagaimana Memulai Home Education? 💖

Memulai Home Education adalah memulai utk mendidik diri kita sebagai orangtua. Memulai mendidik diri kita sebagai orangtua adalah diawali dengan membaca ayat2 Allah, baik Qouliyah maupun Kauniyah, kemudian mensucikan diri kita utk mengembalikan fitrah2 yg baik yg Allah telah karuniakan kpd kita. Mengembalikan kesadaran akan peran2 kesejatian kita sebagai orangtua. Pekerjaan mendidik adalah pekerjaan para Nabi sepanjang sejarah. Tiada aktifitas dan peran paling penting di dalam rumah kita kecuali peran dan aktifitas mendidik anak2 kita.

Mendidik anak2 kita adalah membangkitkan kesadaran fitrah anak2 kita, karenanya para orangtua perlu mengawali dgn mengembalikan fitrah2 baiknya melalui tazkiyatunnafs lebih dulu. Fitrah yg baik pd anak2 kita akan bertemu dgn fitrah yg baik yg ada dalam diri orangtua nya. Apa yg keluar dari fitrah yg baik, akan diterima oleh fitrah yg baik. Fitrah keimanan pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah keimanan kedua orangtuanya. Fitrah belajar pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah belajar kedua orangtuanya. Fitrah potensi bakat pd anak2 kita akan bertemu dengan fitrah pengakuan potensi anak2nya sbg karunia Allah swt, dari kedua orangtuanya. Fitrah tahapan perkembangan sesuai sunnatullah pertumbuhan anak, akan bertemu dengan fitrah pengakuan bhw segala sesuatu di muka bumi memiliki sunnatullah perkembangannya masing..dstnya. Tanpa memulai dengan ini maka perjalanan home education adalah perjalanan yg menjauh dari fitrah, berisi obsesi2 dan kecenderungan merusak fitrah krn ambisi tertentu maupun ketergesaan dalam tahapannya. Jadi memulai HE berawal dari bagaimana kita para ortu membangkitkan kesadaran fitrah kita sendiri dengan melakukan tazkiyatunnafs atau pensucian jiwa.
Silahkan dibuka surat 62:2.

Hari Jum’at (Al-Jumu`ah):2 – Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. Ayat ini adalah jawaban atas Doa Nabi Ibrahim alaihisalam ttg generasi yg akan dibangkitkan dari keturunannya.

Ya Tuhan kami, utuslah untuk merka seorang rasul dari kalangan mereka,
yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan
kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (As-Sunnah) serta
mensucikan mereka.

Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(QS 2 Al Baqoroh Ayat 129)

Ada tahapan berbeda dari kedua ayat.

Doa Nabi Ibrahim as adalah “pembacaan”, “pengajaran” , “pensucian”

Jawaban Allah adalah “pembacaan” dan “pensucian” sebelum memulai proses “pengajaran” (ta’limunal-Kitaba walHikmah). Kata Tazkiyah atau pensucian oleh beberapa ulama dimaknakan sebagai Tarbiyah atau menumbuhkan fitrah yg merupakan inti Pendidikan itu sendiri, sdgkan pengilmuan atau pengajaran bersifat pemberian skill n knowledge. Ayah Bunda harap bersabar utk tdk langsung melompat ke teknis HE 😊🙏. Kita sungguh memerlukan pijakan yg kokoh, jiwa2 yg full ridha menjalaninya. Karena sejujurnya HE ini melawan arus baik konsep maupun praktek pendidikan yg umumnya kita samakan dengan persekolahan atau pengajaran. Pendidikan sebgamna pengantar diawal adalah proses “inside out”, membangkitkan fitrah2 dalam diri anak2 kita. Bukan proses penjejalan “outside in”. Setiap anak kita terlahir dalam keadaan fitrah (fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah perkembangan dll)…. namun semua fitrah itu adalah potensi2 terpendam, maka tugas kitalah utk mendidik/membangkitkan/menumbuhkan potensi fitrah itu agar anak2 kita mencapai peran peradabannya atau misi spesifiknya sbg khalifah di muka bumi. Dalam QS. 13 ayat 11 Allah berfirman:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Banyak yg menggunakan ayat ini sbgai argumen untuk belajar atau bekerja keras agar Allah mengubah keadaanya menjadi lebih baik. Padahal maksud ayat ini adalah agar manusia tidak mengubah fitrahnya (مَا بِأَنْفُسِهِمْ) sehingga masa depan kehidupannya menjadi lebih buruk. Yg terakhir di atas adalah nasehat dari ustadzuna Ferous. Semoga memahami bahwa mengapa kita menamakan dgn Home Education bukan Home Schooling? Karena pendidikan berbeda dgn persekolahan, mendidik tidak sama dengan mengajar, HE bukanlah memindahkan sekolah ke rumah. HE bukan menjejalkan pengetahuan namun menyadarkan, membangkitkan fitrah2. Jika fitrah2 ini bangkit maka anak2 akan beriman dgn sendirinya, belajar tangguh dengan sendirinya, mengembangkan bakat dgn sendirinya, menjalani kehidupan sesuai tahap2 perkembangan dengan sendirinya… Memulai Teknis HE akan terasa mudah dan ringan jika kita memulai dari kesadaran ini. Sampai sini, silahkan jika ada masukan dan pendapat 😊🙏

📜Tanya Jawab

1⃣ Bunda Ririn,Jogja

Apa korelasi antara fotrah bakat orang tua dan fitrah bakat anak? dikatakan bahwa ORANG TUA perlu MENGAWALI dengan MENGEMBALIKAN fitrah2 baiknya dahulu, sehingga nanti fitrah baik anak akan bertemu fitrah baik orang tua.Nah bagaimana dengan orang tua yang “terlanjur” tidak berkembang potensi bakatnya? bekerja tidak sesuai dengan potensi bakatnya. apakah ortu yang seperti ini tidak bisa maksimal mengekplore potensi bakat anaknya? apakah ortu harus fokus menggali (mengembalikan) potensi bakatnya dulu sebelum akhirnya menggali potensi bakat anak?

1⃣ bunda Riri yang baik di Jogja,
Ada ungkapan yang bagus yaitu “raise your child, raise your selves”. Betapa banyak kita temukan di banyak keluarga, ketika ayah dan bunda serius mendidik fitrah anaknya, maka pada saat bersamaan Allah berikan begitu banyak manfaat diantaranya adalah diberikan hikmah yang banyak dalam mendidik dan juga potensi2 fitrah dirinya semakin muncul ke permukaan.
Ketika menyadari bahwa anak anaknya memiliki misalnya fitrah bakat, banyak orangtua kemudian mulai merefleksikan ke dirinya untuk menemukan fitrah bakatnya. Ketika menyadari bahwa fitrah keimanan anak nya memerlukan keteladanan dan atmosfir keshalihan, lalu banyak orangtua yang kemudian menjadi berupaya mengenal Allah lebih baik dari sebelumnya agar bisa menggairahkan cinta anaknya kepada Allah.
Lakukan saja dengan paralel, dengan menyambut panggilan Allah untuk fitrah peran mendidik anak, insyaAllah akan Allah kembalikan banyak fitrah fitrah kita yang tersimpangkan atau terkubur.
Memang ada kendala ketika fitrah bakat orangtua baru ditemukan di saat fase mendidik anak, misalnya harus berubah karir, berubah bisnis dsbnya yang tentu bisa beresiko waktu dan finansial bagi keluarga. Tapi di banyak kasus lainnya justru orangtua bahkan menemukan karir yang lebih sesuai dengan fitrah bakatnya karena mulai belajar dari bagaimana anak anak mereka berbahagia menjalani bakatnya.
Ini juga berlaku untuk semua aspek fitrah lainnya

2⃣ Cahya, Bekasi

Pak Harry, idealnya Ayah berperan penting dalam proses HE ini. Namun banyak kita temui sosok Ayah hanya brperan di ranah mencari nafkah saja sampai ada ungkapan Indonesia sebagai fatherless country. Jika karena satu dan lain hal sang Ayah belum bisa diajak bekerja sama dan menjalankan fungsi pembangun peradaban dengan baik, bagaimanakah kemudian langkah kita? Atau seberapa mungkinkah seorang ibu menjalankan HE seorang diri? Terima kasih

2⃣bunda Cahya yang baik di Bekasi,
Idealnya HE melibatkan seluruh anggota kelurga, yaitu kakek, nenek, paman, bibi, ayah, ibu, kakak dstnya. Para ayah di zaman ini umumnya memang disibukkan mencari nafkah, kehidupan di luar rumah luarbiasa kerasnya bagi para ayah sehingga banyak yang meninggalkan posnya dalam mendidik anak.
Langkah praktisnya adalah bunda dan anak anak asik saja membuat beragam program yang seru, sehingga lama kelamaan semoga ayah menjadi sadar untuk terlibat dalam mendidik.
Namun, jika ayahnya sudah sadar akan peran mendidiknya yang penting namun tetap tidak bisa terlibat penuh maka sesekali minta agar ayah mengambil cuti dan menyusun misi dan visi keluarga bersama. Peran ayah yang utama bukan mencari nafkah, tetapi merancang misi visi dan mendidik.
Ayahlah yang sebaiknya find the way, lead the way dan show the way. Sebagai contoh Nabi Ibrahim AS, beliau punya misi dan visi yang kuat yang diabadikan alQuran dalam doa doanya untuk anak dan keturunannya.
Dari misi dan visi inilah bunda bisa menurunkan menjadi kurikulum HE bagi anak anak dan peran ayah diperlukan sebagai penasehat dan pengatur strategy.
Tentu perbanyaklah berdoa agar keluarga kita diberikan jalan terbaik dalam mendidik generasi dan menemukan serta menjalankan misi visi keluarga

3⃣ Yusuffajar, Jogja Assalamua’alaikum
Pak Harry bisa dijelaskan tentang struktur insan (manusia)?
Apa hakikat dari manusia itu sendiri jika diliat dari strukturnya tersebut?
Apa persamaan dan perbedaan makna nafs (bhs arab) dan psyche?

3⃣ayah Yusuf Fajar yang baik di Jogja,

Jika merujuk pada Ma’rifatul Insan maka manusia itu terdiri dari Aql, Ruh dan Jasad. Hakikat yang membedakan manusia dari makhluk lain adalah diberikannya Aql dan Ruh, ini terkait maksud penciptaan spesifik manusia yaitu sebagai khalifatullah fil ardh. Nafs dalam bahasa Arab adalah jiwa. Saya tidak tahu perbedaan makna nafs (jiwa) dan psyche (dalam perspektif barat), yang jelas pendekatan psikologi barat menolak adanya ruh dan fitrah manusia. Barangkali ustadz Adriano bisa menjawabnya

4⃣ Risna – Bekasi
Ustadz saya mau bertanya, HE diawali dgn proses tazkiyatunnafs utk orang tua. Lalu bgmn cr kita mengetahui kpn kita bs memulai HE? apakah bs dimulai HE dgn beriringan proses tazkiyatunnafs..? terima kasih 🙏

4⃣bunda Risna yang baik di Bekasi,
Menjalankan HE sesungguhnya sudah inherent ketika kita berumah tangga dan diamanahkan anak. Mengapa ada tazkiyatunnafs (pensucian jiwa), karena banyak orangtua yang menikah tanpa memiliki kesiapan lahir bathin untuk menjalankan fitrah peran keayahan dan keibuannya sehingga memerlukan upaya penyadaran kembali melalui tazkiyatunnafs. Tazkiyatunnafas ini bukan di awal saja, namun sepanjang kita mendidik anak bahkan sepanjang hidup kita senantiasa diperlukan, diantaranya agar Allah berikan Qoulan Sadida, yaitu tutur dan ucapan yang berkesan mendalam sampai ke hati anak, fikiran dan idea yang bernas yang mampu mengisnpirasi dan menggairah anak, serta sikap dan tindakan yang pantas dan layak diteladani.
Tazkiyatunnafas itu terdiri dari 5 M:
Mu’ahadah, yaitu mengingat kembali akan janji dan sumpah serta tugas/misi kehidupan kita.
Muroqobah, yaitu senantiasa mendekat kepada Allah, bermunajat dan berdoa untuk anak anak kita
Mujahadah, yaitu bersungguh sungguh menjalani peran peran kita
Muhasabah, yaitu terus menerus mengevaluasi potensi dan problematika
Mu’aqobah, yaitu tidak sungkan bertaubat dan menghukum diri jika ada kelalaian

5⃣ Rahmaniar-Baubau

Assalamu’alaikum ust harry yg dirahmati Allah,saya baru mengenal konsep HE sekitar 3 bulan ini.sy masih bingung dalam menentukan arah yg sesuai dgn bakat anak saya dan memberi hak&kewajiban sesuai usia dan gaya belajarnya.catatan:anak sy laki2 umur 12 thn dan bergaya belajar kinestetik.anak tsb sangat suka membaca,namun disatu sisi sangat terampil merangkai kepingan puzzel,lego dsb.dia juga sangat tertarik dgn semua jenis alat transportasi,dan bercita2 keliling dunia.mohon pencerahannya,ut talent mapping sy arahkan ke profesi apa dan magang pada maestro bakat apa?

5⃣bunda Rahmaniar yang baik di BauBau,
Sejujurnya saya tidak bisa memastikan bakatnya (strength) nya apa. Sepintas seperti traveler dan engineer. Saya kira perlu pendalaman dan pengamatan lebih banyak. Di usia sebelumnya dianjurkan untuk Tour de Talents untuk memperbanyak wawasan dan aktifitas yang relevan dengan sifat unik nya.
Jika ini belum dilakukan, sebaiknya juga dilakukan sebelum memastikan.
Tetapi memang usia 11-14 tahun memang tahapan yang baik untuk mengembangkan bakat anak dengan serius. Kalau di pendidikan sepakbola FIFA, usia 11 tahun (U11) sampai U13 sudah wajib melakukan match (pertandingan) 36 kali dalam setahun, kemudian U14-U16 wajib 48 kali match setahun begitu seterusnya sampai menjadi pro di U17.
Di zaman Nabi SAW, beliau sudah mulai magang berdagang bersama pamannya di usia 11-12 tahun. Di Indonesia, anak anak lelaki Minangkabau sudah malu tidur di rumah sejak usia 9 tahun dan mulai rantau di usia 14 tahun.
Jadi saran saya, bunda dan suami sebaiknya melakukan
0. Tour de talents jika belum dilakukan (kunjungan ke berbagai profesi dan maestro)
1. Talents Mapping untuk memastikan bakatnya apa atau ke psikolog untuk pendalaman jika diperlukan
2. Pembuatan personal kurikulum berbasis fitrah, termasuk bakatnya.
3. Pemagangan jika sudah jelas Bakatnya (diberikan Maestro Bakat)
4. Pendamping Akhlak.
5. Evaluasi dan monitoring

6⃣ Lani- Kendari

Bagaimana jika, passion orang tua berada di bidang yg tidak memungkinkan nya utk mnjadi ortu full timer? Bahkan part timer pun mungkin sangat sedikit waktunya. Krn jam kerja nya 7 hari seminggu, 24 jam sehari. Jika memilih meninggalkn bidang yg jd passion ny trsebut, dan kmudian itu jd hasrat trpndam yg tak trtunaikan, apkh akan brdampak pd pengasuhan anak saat mndampingi mrk mnumbuhkembangkan fitrahnya?

6⃣bunda Lani yang baik di Kendari,
Mendidik anak, idealnya adalah cerita tentang kita sebagai orangtua harus selesai dengan diri kita dan mengutamakan mendidik anak. Konflik banyak terjadi jika kita tidak selesai dengan diri kita. Namun jalan tengahnya adalah mensinergikan semua potensi dan passion di dalam rumah tangga dan menuangkannya di dalam MISI / peran keluarga dan distrategikan prioritasnya. Semua makna dan potensi di dalam keluarga harus dapat disinergikan dan diprioritaskan

7⃣Inna – bekasi

Maaf ustad, mhn penjelasan ttg macam aspek fitrah yg harus dibangkitkan pada diri anak.terutama utk anak usia 7 th? Manakah aspek fitrah yg kita dahulukan? apakah memungkinkan semua aspek fitrah dibangkitkan bersama? Jazaakalloh
7⃣bunda Inna yang baik di Bekasi,
Usia 0-7 adalah golden age bagi fitrah keimanan, namun bukan berarti fitrah lainnya diabaikan, tetap ditumbuhkan sesuai tahapannya. Dalam prosesnya tentu bisa bersamaan, misalnya bunda bisa outing bersama anak ke alam, mengenalkan Allah dengan ciptaannya di alam semesta, menginspirasi gairah fitrah belajarnya dengan memancing ananda bertanya. Mengajaknya meraba, menyentuh, merasakan dll untuk senso motoriknya, bermain melompat dll untuk fitrah jasadnya. Memeluk mencium dsbnya untuk menguattkan attachment bagi fitrah seksualitas dan cintanya Mengamati aktifitas yang disukai lalu mencatatnya untuk fitrah bakatnya dstnya.

8⃣Yenni – Baubau
Assalamu’alaikum wr wb
Ustadz sy mau nanya, apakah HE dgn mengembalikan fitrah pd anak dgn gg psikologis hiperaktif (ADHD, sedang proses terapi) sm dengan anak tanpa gangguan psikologis? Karena gangguan ini menyebabkan anak jauh tertinggal perkembangan emosi dan prilakunya.

8⃣bunda Yenni yang baik di BauBau,
Secara prinsip sama, dalam pendidikan berbasis fitrah yang diperlukan adalah keyakinan, kebersyukuran penuh para orangtua bahwa tiada anak yang Allah ciptakan tanpa peran istimewa kelak, dan itu semua dimulai dari fitrah yang ada dalam setiap anak yang lahir. Tentu ada beberapa hal yang memerlukan terapi untuk bisa berkomunikasi dan bersosial dengan lebih baik. Keyakinan dan kebersyukuran orangtua akan potensi fitrah anak anaknya yang membuat mereka tetap optimis dan rileks dalam mendidik, telaten dan shabar dalam mengobservasi dan memberikan hal yang diperlukan. Mohon maaf, anak anak down syndrome pun punya peran istimewa kelak, karena tiap keterbatasan tentu memiliki kekuatan di sisi lain. Itulah kesempurnaan ciptaan Allah.
Dengan pendidikan berbasis fitrah maka orangtua akan fokus dengan kekuatan anaknya bukan keterbatasannya
9⃣Inggrid – Bekasi

5 M tahapan tazkiatunnafs, poin terakhir Mu’aqobah, ak sungkan bertaubat dan menghukum diri ketika kita lalai.

Contoh menghukum diri yg spt apa?

9⃣Inggrid yang baik di Bekasi,
Kalau Umar bin Khattab ra, menginfaqkan seluruh kebunnya karena lalai pada Allah SWT. Tetapi bagi kita, dalam hal kelalaian dalam mendidik anak, cukuplah bertaubat pada Allah dan meminta maaf pada anak dengan tulus. Memeluk anak dan berbisik di telinganya untuk meminta maaf merupakan hal amazing bagi anak dan dikenang seumur hidupnya. Banyak kasus anak menjadi berubah perilakunya menjadi baik dengan segera ketika orangtua meminta maaf dengan tulus atas kesalahannya selama ini dalam mendidik
🔟 Ayah Wasis-Banyumas

Assalamualaikum.. Pak Harry..terima kasih atas sharing kulwapp materi pokok 1 nya. Pak yg pengin saya tanyakan apakah nanti ada panduannya buat pensucian diri atau seperti apa ya spy kita sebagai ortu tahu betul dan sadar keempat fitrah dr diri kita mana yg sdh baik sm yg belum, sehingga nanti saat mendidik anak, sdh jelas arah dan batasannya?
Terima kasih.

🔟Ayah Wasis di Banyumas yang baik,
Sesungguhnya Allah SWT punya mekanisme untuk kembali ke fitrah setiap tahun, yaitu bulan Ramadhan. Ini adalah bulan yang harus dijalani dengan imanan dan ihtisaban sehingga kita kembali kepada titik kesadaran potensi fitrah tepat ketika 1 Syawal. Ramadhan adalah momen terbaik, walau kita bisa juga membuat momen sendiri bersama pasangan (dan anak anak jika sudah berusia 7 tahun ke atas) untuk bertekad kembali kepada titik kesadaran potensi fitrah kita.
Ukuran sederhananya kembali ke fitrah adalah gairah dan cinta. Jika kita bergairah dan cinta kepada Allah maka itu pertanda fitrah iman sudah kembali merekah indah. Jika kita bergairah dan cinta belajar dan bernalar sampai melahirkan berupaya melahirkan karya inovasi bagi alam dan kehidupan, itu pertanda fitrah belajar kita kembali merekah indah. Jika kita bergairah dan cinta kepada suatu aktifitas yang produktif yang baru ditemukan sehingga memberi banyak manfaat, itu pertanda fitrah bakat kita mulai kembali merekah indah. JIka kita kembali bergairah dan cinta untuk mendidik anak sendiri dengan sungguh sungguh itu pertanda fitrah keayahan dan fitrah keibuan kita kembali merekah indah

1⃣1⃣Onish-Surabaya

Assalamu’alaikum Ustadz, Alhamdulillah dan terima kasih dpt ksmptn bertanya.

Sy ibu 2 anak. Hampir 3 thn ini dg HE. Pertanyaan sy: Anak pertama co (3th) sesuai fitrah prekmbngnnya sngat demand aktivitas fisik, bermain di alam dan kluar rumah, sdg anak kedua msh bayi(2bln) dan menuntut tempat yg tenang dan fokus bahasa. Terlintas ingin menyekolahkn kakak saja. Bagaimana baikny?

Trimakasih sblmnya

1⃣1⃣ bunda Onish yang baik di Surabaya,
HE tidak pernah mempermasalahkan apakah anak bersekolah atau tidak, namun HE menuntut tanggungjawab orangtua terhadap pertumbuhan seluruh aspek fitrah anak anaknya. Karenanya sekolah hanya opsi dan tidak dapat menggantikan kewajiban mendidik ayah dan bunda. Jika harus bersekolah maka pastikan sekolah mendukung kurikulum HE di rumah untuk menumbuhkan fitrahnya, bukan rumah yang mendukung sekolah.

Beberapa sekolah bisa bekerjasama untuk mengembangkan fitrah, beberapa sekolah tidak bisa bekerjasama. Saya bicara dengan kepala dinas PAUD, ternyata tidak ada tupoksi nya bekerjasama dengan orangtua.

Perlu disadari ada banyak fitrah yang anak perlu ditemani untuk merawat dan menumbuhkan fitrahnya, dan itu hanya bisa dilakukan oleh orangtua. Misalnya fitrah seksualitas, ini memerlukan attachment kedua orangtua. Fitrah bakat, ini memerlukan pengamatan sungguh sungguh dan pendokumentasian dari orangtua. Fitrah belajar dan bernalar, ini juga memerlukan orangtua yang rajin menginspirasi dan memberikan idea.

Fitrah estetika dan
bahasa, ini juga memerlukan kehadiran penuh orangtua, dalam bahasa ibu (mother tongue) dsbnya.

Penutup:

Alhamdulillah, ayah bunda dan teman2 HEbAT atas pertanyaan pertanyaan yang luar biasa. Home Education atau Home based Education sebagaimana bunda Septi dan ust Adriano bilang, bukanlah hal yang luar biasa, karena memang kewajiban para orangtua sejak zaman Nabi Adam AS.
Dengan banyaknya kasus penyimpangan generasi selama beberapa dekade ini dan semakin lama semakin parah, ternyata masalahnya adalah pada ketidakhadiran peran ayah dan ibu dalam mendidik. Maka kami bertekad untuk mengembalikan peran ayahbunda dalam mendidik anak, sebagaimana diamanahkan oleh alQuran dan alHadits serta telah dilakukan oleh para orangtua sejari selama berabad abad sejak zaman Nabi Adam AS.
Semoga Allah SWT mudahkan kita untuk mengembalikan fitrah peran kita sebagai orangtua sejati yang mampu mendidik fitrah dan adab anak anak kita agar kelak mereka bisa menjadi generasi dengan peran peradaban terbaik dan adab termulia. Allah ridha dan cinta pada mereka, merekapun ridha dan cinta pada Allah SWT.
Mari kita bergandeng tangan mewujudkan ini secara berjamaah, saling menasehati dalam keshabaran, kebenaran dan kasih sayang. Saling tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa. Allahumma aaamiin.
Terimakasih kepada para kordinator HEbAT di seluruh Indonesia, jazakumullah khoiron jazaa 😊🙏✅

Alasan Sebenarnya Mengapa Fitrah Belajar Anak Tidak Berkembang di Sekolah

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Pendidikan formal telah menjadi kegiatan yang begitu rumit, kaku dan terlalu diatur sehingga proses belajar dianggap sebagai sesuatu yang sulit dan otak lebih suka tidak melakukannya. Guru cenderung berpikir bahwa belajar adalah suatu peristiwa khusus membutuhkan insentif dan imbalan istimewa, bukan sesuatu yang secara alami akan menjadi pilihan orang untuk dilakukan. Otak tidak bisa dituding sebagai penyebab keengganan untuk belajar.

Belajar adalah fungsi utama otak, pusat perhatiannya yang tak pernah bergeser, dan kita meniadi gelisah serta frustrasi jika tidak ada pembelajaran yang harus dilakukan. Kita semua mempunyai kemampuan belajar yang besar dan tak terduga tanpa perlu bersusah payah “FRANK SMITH dalam bukunya “Insult to Intelligence: The Bureaucratic Invasion of Our Classrooms”

Karenanya bagi para penggiat Home Education, pendidikan bukanlah kegiatan yang harus rigid dan rumit sebagaimana “mindset schooling” telah menancap begitu kuat dalam benak banyak orangtua karena pengalaman masa lalunya, tetapi pendidikan sejatinya adalah proses alami yang relevan dengan fitrah anak anak kita, alam dan kehidupan real di sekitar mereka.

Manfaatkanlah momen keseharian dan pengalaman seru dan indah untuk membangkitkan semua fitrah anak anak kita secara berkesan dan alami. “Robbku telah mendidikku (dengan beragam peristiwa) maka menjadi semakin baiklah akhlaqku”

Maka berfikir ulanglah jika beranggapan bahwa kurikulum HE adalah kurikulum formal yang kaku sepihak dengan target target capaian yang memaksa dengan evaluasi ketat bagai saringan QC layaknya pabrik.

Salam Pendidikan Peradaban 
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak

Tentang HOME EDUCATION Berbasis POTENSI FITRAH

Harry Santosa – Millenial Learning Center
27 Januari 2015

Home Education

Home Education atau home based education atau pendidikan berbasis rumah adalah amanah dan kesejatian peran dari setiap orangtua yg tak tergantikan oleh siapapun dan tdk bisa didelegasikan kpd siapapun.

HE bukanlah memindahkan persekolahan ke rumah, bukan pula menjejalkan (outside in) berbagai hal kpd anak2 kita namun membangkitkan dan menumbuhkan (inside out) potensi fitrah2 dalam diri kita dan anak2 kita agar mencapai peran sejati peradabannya dengan semulia2 akhlak.

Rumah2 kita adalah miniatur peradaban, bila potensi fitrah2 baik bisa ditumbuhsuburkan dan dimuliakan di dalam rumah2 kita maka secara kolektif menjadi baik dan mulialah peradaban.

Setiap anak kita setidaknya memiliki 4 potensi fitrah sejak dilahirkan

1. Potensi fitrah keimanan, setiap bayi yg lahir pernah bersaksi bhw Allah sbg Robb. Maka setiap bayi yg lahir pd galibnya mengenal dan merindukan sosok Robb.
2. Potensi fitrah belajar, setiap bayi yg lahir adalah pembelajar tangguh sejati
3. Potensi fitrah bakat, setiap bayi yg lahir adalah unik, memiliki sifat bawaan yg kelak akan menjadi panggilan hidup dan peran spesifik nya di muka bumi
4. Potensi fitrah perkembangan, setiap bayi sampai aqilbaligh dan sesudahnya, memiliki tahap2 perkembangan yg harus diikuti. Tdk berlaku kaidah makin cepat makin baik.

Ke 4 potensi fitrah ini sebaiknya simultan, seimbang dan terpadu. Kurang salah satunya akan memberikan hasil yang tidak paripurna. Jika pendidikannya benar dan tepat, maka resultansi dari ke 4 fitrah ini adalah insan kamil yang memiliki peran peradaban.

Fitrah bakat tanpa fitrah keimanan akan melahirkan talented professional yang berakhlak buruk, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah bakat akan melahirkan orang2 beriman yg paham agama namun sedikit bermanfaat.

Lihatlah mereka yang berbakat menjadi pemimpin tanpa akhlak maka akan menjadi diktator. Begitupula mereka yang bertauhid tanpa bakat, akan sangat sedikit memberi manfaat.

Fitrah belajar tanpa fitrah keimanan akan melahirkan para sciencetist dan innovator yang berbuat kerusakan di muka bumi, begitupula sebaliknya fitrah keimanan tanpa fitrah belajar akan melahirkan generasi agamis namun mandul dan tidak kreatif.

Fitrah belajar tanpa fitrah bakat akan melahirkan pembelajar yang tidak relevan dengan jatidirnya, begitupula sebaliknya, fitrah bakat tanpa fitrah belajar akan melahirkan orang berbakat yang tidak innovatif. Berapa banyak kita lihat orang yang bakatnya hanya berhenti sebagai hobby semata.

Semua fitrah personal itu jika tidak ditumbuhkan sesuai fitrah perkembangannya akan membuat generasi yang tidak matang dan tidak utuh menjadi dirinya.

Fitrah belajar dan fitrah bakat yang tumbuh bersamaan dengan fitrah keimanan sesuai fitrah perkembangan akan melahirkan generasi aqilbaligh yg inovatif, produktif dan berakhlak mulia.

Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasispotensi
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

“Apa itu Home Education”

Bismillah,,, Hasil review diskusi dalam grup Home Education Potensi dan akhlak bersama ibu Septi Peni W dan bpk. Harry Santosa.. semoga bèrmànfaat

Diskusi hari rabu tgl 12 september 2014
Tentang “Apa itu Home Education”
Pembicara : Bpk. Harry Santosa dan ibu Septi Peni Wulandari

Pengantar :

Peradaban sesungguhnya berawal dari sebuah rumah, dari sebuah keluarga. Home Education itu sifat wajib bagi kita yang berperan sebagai penjaga amanah. Karena sesungguhnya HE itu adalah kemampuan alami dan kewajiban syar’i yang harus dimiliki oleh setiap orang tua yang dipercaya menjaga amanahNya.

Jadi tidak ada yang “LUAR BIASA” yang akan kita kerjakan di HE. Kita hanya akan melakukan yang “SEMESTINYA” orangtua lakukan. Maka syarat pertama “dilarang minder” ketika pilihan anda berbeda dengan yang lain. Karena kita sedang menjalankan “misi hidup” dari sang Maha Guru.

Home Education dimulai dari proses seleksi ayah/ibu yang tepat untuk anak-anak kita, karena hak anak pertama adalah mendapatkan ayah dan ibu yg baik. Setelah itu dilanjutkan dari proses terjadinya anak-anak, di dalam rahim, sampai dia lahir. Tahap berikutnya dari usia 0-7 tahun, usia 8-14 tahun, dan usia 14 tahun ke atas kita sudah mempunyai anak yg akil baligh secara bersamaan. Home Education sebagai orang tua dan anak nyaris selesai di usia 14 th ke atas. Orang tua berubah fungsi menjadi coach anak dan mengantar anak menjadi dewasa, delivery method HE pun sudah jauh berbeda.

Kita dipercaya sebagai penjaga amanahNya, SEMESTINYA kita menjaganya dengan ilmu. Jadi orang tua yang belajar khusus untuk mendidik anaknya seharusnya hal BIASA, tapi sekarang menjadi hal yang LUAR BIASA karena tidak banyak orang tua yg melakukannya.

Hal yang SEMESTINYA orang tua lakukan :
Mendidik
Mendengarkan
Menyanyangi
Melayani (pd usia 0-7 thn)
Memberi rasa aman & nyaman
Menjaga dari hal-hal yg merusak jiwa dan fisiknya
Memberi contoh dan keteladanan
Bermain
Berkomunikasi dengan baik sesuai usia anak

Tugas mendidik bukan menjejali “OUTSIDE IN“, tetapi “INSIDE OUT” yaitu menemani anak-anak menggali dan menemukan fitrah-fitah baik itu sehingga mereka menjadi manusia seutuhnya (insan kamil) tepat ketika mencapai usia aqil baligh. Satu-satunya lembaga yang tahu betul anak-anak kita, mampu telaten dan penuh cinta hanyalah rumah dimana amanah mendidik adalah peran utama ayah bundanya.

Anak lahir ke muka bumi membawa fitrahnya, sehingga perlu pendidikan yang mengeluarkan fitrah anak tersebut.
Fitrah Kesucian. Inilah yang menjelaskan mengapa tiap manusia mengenal dan mengakui adanya Tuhan, memerlukan Tuhan, sehingga manusia memiliki sifat mencintai kebenaran, keadilan, kesucian, malu terhadap dosa.

Fitrah Belajar. Tidak satupun manusia yang tidak menyukai belajar, kecuali salah ajar. Khalifah di muka bumi tentunya seorang pembelajar tangguh sejati.

Fitrah Bakat. Ini terkait misi penciptaan spesifik atau peran spesifik khilafah atau peradaban, sehingga setiap anak yang lahir ke muka bumi pasti memiliki bakat yang berbeda-beda.

Fitrah Perkembangan. Setiap manusia memiliki tahapan perkembangan hidup yang spesifik dan memerlukan pendidikan yang sesuai dengan tahapannya, karena perkembangan fisik dan psikologis anak bertahap mengikuti pertambahan usianya. Misalnya, Allah tidak memerintah ajarkan shalat sejak dini, tetapi ajarkan shalat jika mencapai usia 7 tahun. Pembiasaan boleh dilakukan tapi tetap harus didorong oleh dorongan penghayatan aqidah berupa cinta kepada Allah dari dalam diri anak-anak.

Kita perlu mengkaji lebih dalam pendidikan yang dialami oleh Rasulullah dari lahir sampai dewasa, sebagai contoh pendidikan untuk anak-anak nanti.

Pendidikan dan persekolahan adalah hal yang berbeda. Bukan sekolah atau tidak sekolah yang yang ditekankan, tetapi bagaimana pendidikan yang sesuai dengan fitrah anak sehingga potensi alamiah anak dapat dikembangkan, karena setiap anak memiliki potensi yg merupakan panggilan hidupnya.

Pendidikan berbasis potensi yang dimaksud adalah yang terkait dengan performance. Dimulai dengan mengenal sifat bawaan atau istilah Abah Rama dengan Personality Productive yang kemudian menjadi aktivitas dan performance, lalu menjadi karir dan peran peradaban yang merupakan panggilan, akhirnya menentukan destiny. Jadi pengembangan potensi berkaitan dengan performansi, namun performansi memerlukan nilai-nilai yang disebut sebagai akhlak dan moral karakter.

Dalam mengembangkan bakatnya, anak-anak perlu diingatkan dan diteladankan dengan nilai-nilai dalam keyakinannya (Al Islam) agar perannya bermanfaat dan rahmat atau menjadi akhlak mulia.

” Setiap keluarga memiliki kemerdekaan untuk menentukan dan mengejar mimpinya , termasuk dalam hal pendidikan.”

Tazkiyatunnafs secara sederhana dimaknai sebagai pensucian jiwa, membersihkan hati dengan banyak mendekat, memohon ampun, menjaga serta berhati-hati dari hal-hal yg syubhat apalagi haram atau waro’ kepada Allah dengan harapan keridhaan Allah SWT agar ditambah hidayah sehingga fitrah nurani memancar dalam akhlak dan sikap serta kesadaran yang tinggi atas peran (tauiyatul a’la). Pendidikan anak atau generasi memerlukan ini sebagai pondasi awal. Selanjutnya adalah masalah teknis.

Umumnya kecemasan, obsesif, banyak menuntut atau banyak memaksa atau sebaliknya, tidak konsisten (dalam arti sesuai fitrah anak, bukan obsesi orang tua), tidak percaya diri mendidik anak, muncul karena kurangnya tazkiyatunnafs para orang tuanya sehingga mudah terpengaruh oleh “tuntutan atau perlakuan” yang tidak sesuai atau menciderai fitrah. Tujuan tazkiyatunnafs orang tua, adalah agar kita kembali kepada kesadaran fitrah kita dengan memahami konsep pendidikan sejati sesuai fitrah.

Ketika orang tua menginginkan anaknya shalih maka orang tua harus memahami konsep kesejatian/fitrah anak dan makna keshalihan sesungguhnya. Shalih adalah amal, bukan status.

Pesan dari Bunda Septi yang selalu kami pegang, “Untuk itu siapkan diri, kuatkan mental, bersihkan segala emosi dan dendam pribadi, untuk menerima SK dari yang Maha Memberi Amanah. Jangan pernah ragukan DIA. Jaga amanah dengan sungguh-sungguh, dunia Allah yang atur, dan nikmati perjalanan anda.”

——————————

Tanya Jawab:

Pertanyaan ke 1
Beberapa waktu lalu bapak menteri pendidikan kita melempar wacana mengenai wajib belajar (baca: wajib sekolah) 12 tahun. Lebih jauh ada wacana pemberian sanksi utk keluarga yg tdk mengirimkan anaknya ke sekolah. Itu bgmn ya? Sependek yg saya tau HE atau HS sdh diakui negara krn tercantum dlm uu sisdiknas…
Jk mmg wacana itu benar, bgmn sebaiknya kita bersikap?

Jwb.
Baik, kami juga mendiskusikan intens di berbagai forum. UU di Indonesia sesungguhnya mengakui pendidikan formal, informal dan nonformal. Intinya tidak me “Wajib Pendidikan Formal” tetapi menyediakan HAK BELAJAR bagi semua rakyat Indonesia.

Entah mengapa Kewajiban Negara menyediakan Hak Belajar, kemudian berubah menjadi Wajib Belajar, dan ujung2nya menjadi Wajib Sekolah (pendidikan formal)

Karena itu Anies Baswedan juga sdg bingung krn tidak ada Payung Hukumnya utk memaksa orang Wajib Sekolah
Negara mengakui pendidikan informal dan nonformal, artinya orang boleh tidak bersekolah formal

Namun kenyataannya, kita semua digiring utk menyekolahkan anak kita di sekolah formal

Bahkan banyak HS yg kemudian, berubah menjadi Bimbingan Belajar utk memperoleh Ijasah Kesetaraan, yg ujung2 nya dipaksa utk menjadi Formal juga

Jawaban pertanyaan kedua, ada kaitannya dgn penjelasan pertama
Belajar itu Wajib, namun tidak ada satu ayat atau hadits pun yg mewajibkan bersekolah

Persekolahan adalah lembaga yg dilahirkan krn tuntutan era industri utk mencetak sebanyak mungkin skill labour dan knowledge worker

Karakter, bakat, akhlak menjadi sesuatu yg tdk penting pd era industri

Oleh krn itu KHD, KH Ahmad Dahlan dll melakukan perlawanan atas sistem persekolahan industrial yg dibawa Belanda lewat politik etis tahun Ki Hajar Dewantoro (KHD) dan KH Ahmad Dahlan, menyuarakan agar pendidikan kembali kpd kesejatiannya yaitu membangun akhlak dan fitrah manusia termasuk fitrah alam dan keunikan lokalitas. Dalam bahasa KHD, fitrah disebut Kodrat Anak dan kodrat alam serta kodrat masyarakat.

Mohon maaf, model pendidikan Taman Siswa dan Muhammadiyyah hari ini sudah 100% meniru persekolahan Belanda. Sisa2 pendidikan yg digagas Muhammadiyah tempo dulu, masih terekam dalam Novel Andrea Hirata,Fokusnya hanya 2, yaitu akhlak dan bakat

Pertanyaan ke 2
– Bagaimana meyakinkan suami & keluarga tentang HE. Krn kita butuh komitmen suami/ kel untuk berpartisipasi dalam HE kan?
– Bagaimana meyakinkan teman/para ibu tentang HE? Sebagian teman irt berpendapat skolah lebih baik krn selain guru itu lebih pintar & memang dilatih untuk mendidik, irt minder krn mgkn pendidikan, bgmn dg pekerjaan rumah, atau belum tinggal mandiri masih bersama ortu & saudara yg lain.

Apalagi kl teman adalah istri yg bekerja, bbrp dr merasa HE bukan untuk mereka.

Jwb.
Sebaik meyakinkan pasangan, baik suami atau istri adalah bhw sebaik2 pendidkkan adalah yg selaras dgn fitrah
Perintah menjaga fitrah anak adalah perintah agama

Sebaik2 makhluk di muka bumi yg diberi amanah utk menjaga fitrah adalah Ayah dan Ibunya, Rumah dan Keluarganya.
Menjawab bhw guru lebih pintar dari ortu, tentu iya utk pengajaran mata pelajaran.
Pendidikan berbeda dengan Pengajaran

HOME EDUCATION atau Home Schooling yg benar adalah tidak memindahkan pelajaran sekolah ke rumah
Kalau utk pelajaran sekolah, mohon maaf guru2 bimbel jauh lebih pintar dari guru sekolah

Guru2 bimbel juga masih kalah luas dan dalam dibanding pengetahuan yg ada dunia maya dan ditangan para maestro
HS bisa mirip sama HE jika fokus pd bakat dan akhlak. Tetapi umumnya HS itu lebih mengutamakan belajar secara bebas dari kehidupan, sebagian HS malah menyimpang dgn memindahkan pelajaran sekolah ke rumah

Panduan bagi HE, sekali lagi adalah menjaga fitrah yg baik dgn cara menumbuhkan dan mengeluarkan fitrah2 baik itu (inside out) yg Allah karuniakan kpd anak2 kita

Diantara Fitrah itu adalah bhw tiap anak yg lahir adalah pembelajar yg tangguh. Potensi fitrah belajar ini harus dibebaskan dan tidak boleh kaku dan dalam tekanan nilai, rangking dll

Namun fitrah juga meliputi fitrah keimanan/kesucian, bhw tiap anak menyukai kebenaran, keadilan, menyukai Zat Yang Maha Hebat, membenci kezhaliman, kekasaran, dstnya

Selain itu Fitrah juga meliputi Bakat/Talent, bhw setiap anak dilahirkan dgn sifat2 unik yg produktif yg merupakan misi penciptaannya dan peran spesifiknya sbg Khalifah. Orang menyebutnya panggilan hidup

Ada lagi fitrah yg terkait tahap2 perkembangan anak sesuai kronologis usianya. Inipun fitrah yg menjadi hak anak2 utk dipuaskan dan dikenyangkan hak pendidikannya pd tiap tahap usianya

Semua fitrah itu diamanahkan utk dijaga dan dididik, utamanya kpd ayah bunda, lalu kpd setiap anggota keluarga (kakek, nenek, paman, bibi, kakak dll) serta komunitas sekitar (ulama, pemimpin, tetangga dll) utk bersama mendidik anak2 pd komunitas itu sesuai fitrah2 di atas

Masalah terbesarnya adalah kita menyangka bhw mendidik adalah mengajar, belajar adalah bersekolah
Obyek nya adalah akademik, ukuran suksesnya adalah nilai dan ijasah serta gelar

Kebanyakan keluarga2 sdh kecanduan menitipkan anaknya pd lembaga dgn alasan tdk mampu mendidik (dalam benak mereka disuruh mengajar matematika, fisika dll)

Saya paham bhw banyak keluarga yg ayah ibu nya terpaksa harus bergelut dgn nafkah, shg lebih memilih menitipkan anaknya pd lembaga,Tetapi sebagian keluarga yg ekonominya cukup juga turut menitipkan anak2nya pd lembaga. Makin banyak income nya, makin dipilih lembaga yg mahal dan bergengsi krn dianggap bèrkualitas.

Pertanyàan ke 3
untuk keluarga yg orang tuanya bergelut.dgn mencari nafkah, bagaimana untuk mencapai hal ideal yaitu bisa full time bersama anak? mungkin dilakukannya bertahap

Jwb.
Utk keluarga2 yg terpaksa hrs mencari nafkah krn miskin, menitipkan anak pd lembaga sekolah adalah darurat. Diupayakan tidak selamanya demikian, bertahap diusahakan, atau diupayakan membentuk komunitas/jamaah HE shg bisa kolektif bergantian mendidik. Islam membolehkan bahkan menganjurkan agar sesekali menitipkan anak pd keluarga shalihah dimana sosok ayah dan ibu lengkap hadir

Mohon maaf, pendidikan anak sampai menjelang aqil baligh, menurut saya tdk bs didelegasikan pd siapapun, kecuali terkait pelengkap spt skill dan knowledge

Pertanyaàn kè 4
ortu sbg coach stlh anak aqil baligh itu apa mksdnya?

Jwb.
Saya lebih suka menyebut peran ortu setelah anak aqilbaligh sbg senior Partner, bisa juga diartikan sbg Coach. Itu sesuai dengan ucapan Sahabat Nabi bhw 7 tahun ke 3, berarti usia 14-21 tahun, anak kita menjadi “teman”. Tentu saja teman, krn secara Syar’i, anak yg telah mencapai aqil baligh di usia 14–15 tahun, sdh menjalani Sinnu Taklif, masa2 pembebanan kewajiban syariah. Artinya kewajiban syariah kita dan anak2 kita, tiba2 menjadi setara, yaitu kewajiban dalam ibadah spt sholat-zakat-haji, kewajiban dalam dakwah, kewajiban dalam jihad, termasuk kewajiban2 dalam urusan nafkah, dan muamalah lainnya

Semua ulama, setahu saya sepakat, bhw anak2 yg sdh aqil baligh tidak wajib dinafkahi lagi. Jika ada anak kita yg sdh aqil baligh, atau usia di atas 14-15 tahun masih dinafkahi, maka itu namanya sedekah, krn statusnya fakir miskin. Nah disinilah perlunya peran Coach atau partner utk mendampinginya mandiri dalam kehidupan sebenarnya

Oh ya bunda Fatimah, ada jurnal ilmiah psikologi yg menyebutkan bhw anak2 yg sdh aqilbaligh menyukai jika dia dianggap sbg orang dewasa yg setara. Kenakalan2 dan kegakauan mereka diakibatkan krn mereka selalu dianggap bocah pdhl sdh berusia 15 tahun, bahkan sampai 25 tahun masih dianggap bocah

Mereka memerlukan pengakuan dan tugas2 sosial dan bisnis agar mereka merasa eksis dan percaya diri menjalani kedewasaannya,Rasulullah SAW bahkan mulai magang dan menjadi partner bisnis Pamannya sejak usia 9-10 tahun,Setiap pemuda memerlukan pembimbing hidup, kehidupan dan akhlak

Pertanyaan ke 5

Apakah kita perlu menanyakan kpd anak untuk meng-HE-kan anak Atau itu hak kita sbg ortu yg wajib menentukan pendidikan anak kita?
karena anak sy bilang kpd sy ingin sekolah

Jwb.
Istilahnya bukan mengHE kan anak
Krn tanpa mengHE kan anak pun, sejak dalam kandungan sampai lahir pd galibnya sdh HE
Tugas HE itu sampai anak kita berusia aqilbaligh, kalau wanita ada special exception, yaitu sampai pindah wali alias menikah, walau kemandirian dan kedewasaan tetap harus disiapkan ketika berusia aqilbaligh

Bagi saya, pertanyaannya apakah anak itu wajib HE, ya jelas wajib

Apakah wajib sekolah, maka jawabannya tergantung

Yg bunda mesti jawab adalah apakah potensi fitrah keimanan, potensi fitrah belajar, potensi fitrah bakat dan tahapan2 pendidikan formal dapat berkembang optimal di keluarga dan komunitas atau di sekolah??
Yg bunda mesti jawab adalah apakah potensi fitrah keimanan, potensi fitrah belajar, potensi fitrah bakat dan tahapan2 pendidikan dapat berkembang optimal di keluarga
/ komunitas atau di sekolah??

Bagi saya ada anak2 yg cocok dengan model belajar di sekolah formal, biasanya mereka berfikir terstruktur, sangat kognitif, sangat formal, otak kiri banget dll Silahkan saja… tetapi tetap saja banyak aspek fitrah lainnya tdk bisa diserahkan pd sekolah formal
Utk usia 0-7tahun, fokus HE tetap pd 3 fitrah itu… aqidah dan akhlak, belajar dan bakat

Pendidikan Aqidah Usia Dini

Sudah tidak diragukan lagi bahwa mendidik (bukan mengajarkan) Aqidah sejak usia dini, adalah hal yang mutlak. Aqidah yg kokoh akan amat menentukan pilihan2 serta pensikapan2 yg benar dan baik dalam kehidupan anak2 kita kelak ketika dewasa. Lalu bagaimana metode dan caranya?

Menurut yg saya pahami secara sederhana, bahwa pertama, setiap pendidik atau ortu perlu menyadari bhw sesungguhnya setiap anak manusia yg lahir sudah dalam keadaan memiliki fitrah aqidah atau keimanan kpd Allah Swt. Setiap manusia pernah bersaksi akan keberadaan Allah swt, sebelum mereka lahir ke dunia. Maka tdk pernah ditemui di permukaan bumi manapun, bangsa2 yg tidak memiliki Tuhan, yaitu Zat Yang Maha Hebat tempat menyerahkan dan menyandarkan semua masalah dalam kehidupan.

Dengan demikian maka, yg kedua adalah bhw tugas mendidik adalah membangkitkan kembali fitrah keimanan ini, namun bukan dengan doktrin atau penjejalan pengetahuan ttg keimanan, namun dengan menumbuhkan (yarubbu/inside out) kesadaran keimanan melalui imaji2 positif ttg Allah swt, ttg ciptaanNya yg ada pd dirinya dan ciptaanNya yg ada di alam semesta.

Dengan begitu maka, yg ketiga adalah dengan metode utk sebanyak mungkin belajar melalui hikmah2 yg ada di alam, hikmah yg ada pd peristiwa sehari2, hikmah pd sejarah, hikmah2 pd keteladanan dstnya. Menjadi penting membacakan kisah2 keteladanan orang2 besar yg memiliki akhlak yg mulia sepanjang sejarah, baik yg ada dalam Kitab Suci maupun Hadits maupun yg ditulis oleh orang2 sholeh sesudahnya. Menjadi penting senantiasa merelasikan peristiwa sehari2 dengan menggali hikmah2 yg baik dan inspiratif.

Menjadi penting untuk senantiasa belajar dengan beraktifitas fisik di alam dgn, meraba, merasa, mencium aroma, mengalami langsung dstnya.

Metode berikutnya, tentu saja kisah2 penuh hikmah itu perlu disampaikan dengan tutur bahasa yg baik, mulia dan indah bahkan sastra yg tinggi. Menjadi penting bahwa tiap anak perlu mendalami bahasa Ibunya dan bahasa Kitab Sucinya. Bukan mampu meniru ucapan, membaca tulisan dan menulis tanpa makna, namun yg terpenting adalah mampu mengekspresikan gagasan2 dalam jiwanya secara fasih, lugas dan indah, sensitif thd makna kiasan2 dalam bahasa sastra yg tinggi. Para Sahabat Nabi SAW yg dikenal tegas namun memiliki empati dan sensitifitas yg baik serta visioner umumnya sangat menggemari sastra.

Semua metode itu, kembali lagi, adalah bertujuan utk membangun kesadaran keimanan melalui imaji2 positif lewat kisah yg mengisnpirasi, melalui kegairahan yg berangkat dari keteladanan, pemaknaan yg baik melalui bahasa ibu yg sempurna dstmya. Imaji negatif akan melahirkan luka persepsi dan luka itu akan membuat pensikapan yg buruk ketika anak kita kelak dewasa.

Sampai sini kita menyadari bhw peran orangtua sebagai pendidik yg penuh cinta serta telaten maupun sebagai sosok yg diteladani dan menginspirasi tidak dapat digantikan oleh siapapun, apalagi dalam membangkitkan kesadaran keimanan anak2nya. Maka penting bagi para pendidik untuk melakukan pensucian jiwa (tazkiyatunnafs) sebelum memulai mendidik dgn kitab dan hikmah. Bukankah ortulah yg akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat bukan yang lain?
Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬ akhlak
Welcome back to ‪#‎homeeducation‬

Sejatinya tiap anak lahir dalam keadaan fitrah yg baik. Maka tugas ortu adalah bukan menjejalkan (outside in) namun mengeluarkan (inside out) fitrah2.

1. Fitrah Kesucian dan kebenaran.
Tiap anak menyukai kehebatan, suatu hari mereka sadar bhw mereka butuh dan tergantung pd Zat yg Maha Hebat. Tiap anak suka diperlakukan baik, penuh damai, harmony dan adil dstnya, suatu hari mereka akan rela dan ikhlash memperjuangkan kedamaian, keharmonian dan keadilan. Tiap anak suka tutur yg lembut, perangai yg santun, wajah yg ceria dstnya, suatu hari mereka akan menyampaikan hikmah dgn lembut, santun dan berseri. Jika ada anak yg tdk menyukai itu semua, maka fitrahnya telah menyimpang. Namun itu semua, sejak awal kelahiran, baru sifat dan perlu dibangkitkan dan disadarkan dgn sensitifitas, imajinasi, bahasa ibu, interaksi di alam dstnya.

2. Fitrah Belajar.
Tiap anak adalah pembelajar sejati yg tangguh dan tak kenal putus asa. Sebuah jurnal ilmiah menyebut bhw tiap anak adalah scientist. Jika ada anak yg tdk menyukai belajar, maka fitrahnya telah menyimpang. Kesukaan dan kegemaran belajar itu mesti terus ditumbuhkan lewat tradisi2 bertanya di rumah, tradisi belajar ayah ibu dan lingkungannya, budaya berbagi pengetahuan dan intelectual curiosity.

3. Fitrah Bakat.
Tiap anak memiliki sifat bawaan yg unik, yg disebut dengan Bakat. Sifat ini mesti digali, dipetakan, disadarkan melalui beragam aktifitas dan kemudian direncanakan serius utk dikembangkan sampai menuju perannya. Inilah panggilan hidup anak2 kita yg akan menjadi misi spesifik penciptaannya sbg Khalifah.

4. Semua Fitrah itu, 1-2-3 di atas memiliki Sunnatullah Tahapan sesuai perkembangan usia. Usia 0-7, usia 8-14, usia di atas 14, harus dipetakan dgn pendidikan. Buku Guide hasil kompilasi MLC sdh siap utk dibagikan akhir tahun ini, akan dibagikan gratis ke teman2 semua InsyaAllah.

Menurut saya yg penting jangan menganggap pendidikan itu persekolahan, dan jangan persekolahan adalah hal yg paling utama dan wajib. Sekolah itu, mohon maaf, umumnya mirip lembaga kursus saja kok fungsinya, guru2nya punya tupoksi menghabiskan bahan ajar, kepsek nya punya target jumlah kelulusan dan rangking sekolah. Urusan akhlak, bakat, aqidah…. siapa yg peduli?? Memang ada guru2 baik, tetapi atmosfirmya lebih kpd penuntasan akademis dan standar kelulusan

Kapasitas guru terlalu kurang dan sedikit jika harus dibebankan utk telaten menangani bakat, akhlak, aqidah siswa satu persatu. Urusan akademis saja sdh kehabisan nafas. Saya bukan merendahkan guru, memang kenyataannya demikian. Berbeda dgn guru2 di Surau, Pesantren tempo dulu… mereka bisa menjadi sosok pengganti ortu dan fokus pd pengembangan fitrah bukan ijasah
Kewajiban mendidik ada di rumah dan di komunitas/jamaah… tidak tergantikan di dunia dan di akhirat

Pendidikan dalam Islam diistilahkan dengan TARBIYAH, yang berasal dari kata robaa, yarubu yg artinya menumbuhkan, membimbing dll. AlQuran menyebut spt burung yg merendahkan sayapnya utk mengerami telurnya dalam masa sampai mandiri. Ada juga yg menyebut pendidikan dengan TA’DIBIYAH, proses memperadabkan: manusia, alam, kehidupan dengan nilai2 keyakinan yg dianut

Sebaik2 guru adalah kedua ortunya
Sebaik2 belajar adalah bersama Kehidupan, bersama Alam dan bersama Maestro
Sebaik2 rujukan pendidikan adalah alQuran dan Siroh Nabawiyah
Sebaik2 misi pendidikan adalah sesuai dengan misi penciptaan manusia yaitu menjadi khalifah dgn mencapai peran peradaban tiap anak dan ummat sesuai karunia fitrah

Sebaik2 visi pendidikan adalah menebar manfaat dan rahmat bagi semesta
Ya syarat semuanya tentu saja para ortu dan pendidik mesti memperbaiki ruhiyahnya, atau tazkiyatunnafs. Ruh yg baik akan bertemu dgn ruh yg baik, fitrah baik anak2 kita akan bertemu dgn fitrah baik dari kedua orangtuanya. Apa yg disampaikan dari ruh akan sampai di ruh, apa yg disampaikan dari mulut saja maka akan beŕhèñti di tèlìngà saja.

Terima kasih share nya pak harry,Mau nambahin dikit ttg ibu bekerja dan HE

Di seminar HE payakumbuh kemarin muncul pertanyaan ttg ini
Jawaban saya semua ibu baik yg bekerja di ranah publik maupun di ranah domestik, wajib menjalankan HE
Caranya, berusahalah meluruskan niat terlebih dahulu, apkh keluarnya kita dari rumah membuat iman, akhlak, adab anak2 kita lebih baik

Kalau ya, maka boleh kita lanjutkan, dan energy kita harus dobel, istilah mobil dobel gardan
Management waktu hrs ditingkatkan, kl kita berangkat kerja cantik, harum dan sabar, maka pulang harus lebih cantik, lebih harum dan lebih sabar

Jadilah anda manager pendidikan anak2, manager gizi anak2, dll shg ketika anak kita delegasikan ke pihak lain selama kerja, masih di bawah management kita.

Kalau tidak sanggup dobel gardan pilih salah satu.
Demikian juga unt single parent, harus memanage dg sangat bagus. Saya dididik ibu single parent sejak kls 2 SD, beliau tdk pernah marah, kl sdg sedih di dlm kamar, menurut ibu saya, kamar itu back stage, keluar kamar sdh on stage
Mb irene, dress up 7 to 7 itu tidak harus rapii terus sepanjang hari, yg terpenting adlh momen berubah, dari yg ala kadarnya menjadi bersungguh-sungguh

Yg menyedihkan kl sdh rapi justru tidak mau bermain dg anak2.hal tsb keluar dr esensi utama.
Ya, sebaiknya memang fokus. Mk seorang ibu perlu ilmu management waktu dg SANGAT baik