Observasi Fitrah Ketika Liburan: Observasi sebelum Basi

Harry Santosa
14 Dec 2018

Belakangan ini banyak kasus anak yg pulang dari pondok malah bermasalah, walau umumnya tak terlihat masalahnya sampai ledakan masalah terjadi.

Jangan hanya puas dengan jumlah hafalan dan ilmu yang didapat, tetapi observasi juga antusias, ghirah, harapan dan gelisahnya yang umumnya tak terlihat. Fitrah yang tak tumbuh baik tak selalu nampak di permukaan.

Umumnya yang terjadi pada sebagian anak yang di pondok, adalah gejala “libur syariah”. Itu terjadi ketika pulang atau libur dari pondok.

Libur syariah, misalnya ibadahnya atau murojaahnya jadi berantakan, main game semalaman, mager atau keluyuran tak jelas dsbnya. Seolah merdeka dari amalan yg baik sbg penanda bahwa ghirah (fitrah) keimanan tak tumbuh paripurna bersamaan dgn ilmu yg dikuasai.

Belum lagi gejala LGBT atau sekedar hubungan yg renggang dgn ayah atau ibunya. Atau gejala galau dan depresi krn tak sesuai minat dan bakatnya. Atau terpapar pornografi atau narkoba, atau menjalankan ibadah robotik dan mekanistik, dsbnya.

Agar tidak kecolongan sebelum terjadi maka saran saya lakukan observasi fitrah dan perancangan hidup ke depan melalui interview mendalam sbb:

1. Memetakan setiap aspek fitrahnya melalui interview dan dialog mendalam, namun bukan interogasi tetapi menggali dan menyerap gelisah, antusias, potensi dan harapan harapannya serta kendala utk setiap aspek fitrah.

Aspek fitrah meliputi ghirah keimanan dan semangat berdakwah, antusias belajar dan meneliti, aktifitas produktif yang “gue banget” (passion) dan bermanfaat, identitas seksualitas dan kedekatan pada sosok ayah dan bunda, ego dan sosialitas, apresiasi pada estetika dan ekpresi bahasa, kedewasaan dan kemampuan mengembangkan diri, serta keinginan dan praktek untuk hidup bersih dan sehat.

Sepanjang interview, turunkan ego serendahnya, dengarkan dengan hati, jangan emosi. Apapun yang diutarakan ananda, catat saja.

2. Setelah menyerap, kemudian membingkai, apa sih sesungguhnya “needs” atau kebutuhan mengakar ananda, temukan insight yg tak terduga yang terpendam selama ini, temukan halangan dan belenggunya dstnya.

3. Setelah menemukan “needs”nya, lalu lahirkan dan munculkan idea2 keren untuk merecovery fitrah yg cidera, atau belum tumbuh baik dan memaksimalkan lagi apa apa fitrah sdh tumbuh berkembang baik. Pilih beberspa idea terbaik

4. Lalu akhirnya dari idea idea keren di atas, bantu ananda merancang kehidupannya 12 bulan ke depan dan konfirmasikan rancangan itu kepada ananda serta minta masukannya dan sepakati untuk dijalankan bersama.

5. Jangan lupa bantu ananda temukan misi hidupnya agar tidak disorientasi ketika selesai dari pondok.

Semoga kita senantiasa bisa membersamai tumbuh kembang fitrahnya walau ananda di pondok. Tetap rileks dan optimis. InsyaAllahu tanjaa’

Salam Pendidikan Peradsban

#fitrahbasedlife

Advertisement

Fitrah based Education vs Strength based Education

Harry Santosa
October 30 ·

Dalam perspektif pendidikan berbasis fitrah, bahwa strength based itu sebenarnya sudah berlangsung panjang sejak zaman Nabi Adam AS. Pada inidividu disebut fitrah (kodrat) manusia, pd alam disebut fitrah (kodrat) alam, pada kehidupan masyarakat disebut fitrah kehidupan (kearifan).

Maka, sebagaimana kita tahu bahwa Tugas Kenabian adalah menyempurnakan atau memuliakan Akhlak, yaitu menghebatkan potensi dari benih berupa fitrah atau kodrat atau kearifan ini dan memandunya dengan Kitabullah sehingga kelak menjadi peran peradaban.

Ibnu Taimiyah rahimahullah, seorang Ulama yg banyak dirujuk dalam masalah aqidah, bahkan menyebut fitrah atau benih yg diinstal di dalam makhluk dengan istilah fitrah algharizah (innate goodness), sedangkan Kitabullah yg memandu fitrah itu disebut fitrah almunazalah.

Di zaman Nabi SAW, setiap sahabat Nabi juga ditugaskan sesuai strengths nya, walau belum ditemukan pemetaan bakat, tetapi potensi kekuatan atas kekhasan atau keunikan adalah keniscayaan pd makhluk. Rasulullah SAW melakukan observasi “mata, telinga, tangan, kaki dan hati” atau membersamai hari demi hari utk memetakan bakat para Sahabat.

Rasulullah SAW tdk pernah menyuruh Abu Bakar RA yg baperan utk menjadi seperti Umar RA yg tempramental atau sebaliknya, dan uniknya mereka berdua tak pernah menjadi panglima perang, namun keduanya keren ketika menjadi khalifah (CEO) walau sifatnya seolah berseberangan.

Ada beberapa buku yg menuliskan ttg 60 atau 64 karakteristik Sahabat beserta julukannya. Ini kalau digali sekolah2 Islam, barangkali lebih mengena utk menerapkan strengths based education.

Jadi strengths based itu memang keniscayaan, baik pd level manusia (personal dan komunal), alam, kehidupan juga zaman dan sdh berlangsung panjang sejak zaman Nabi Adam AS.

Namun demikian strengths based pada manusia sebagaimana fitrah based, seharusnya bukan hanya bicara keunikan manusia saja.

Jika menilik perannya manusia dalam kehidupan, kita temukan beragam peran dalam kehidupan bukan hanya dalan karir terkait keunikan personal tetapi peran universal, misalnya peran dalam menyeru kebenaran, peran dalam keayahbundaan, peran inovasi, peran memperindah kehidupan, peran sosial dstnya yang potensinya ada dan diinstal Tuhan.

Apa jadinya jika memiliki peran hebat atas bakat namun tak hebat sebagai ayah atau bunda, tak tangguh dalam melakukan perubahan bagi dunia yg lebih baik.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife

Fitrah itu memang tidak Allah Install di Memory, tetapi di Jiwa.

Harry Santosa
October 20 ·

QS 7:172 memberitakan ttg fitrah keimanan yg Allah instal di jiwa (nafs) bukan di memory, karenanya tak satupun kita mengingat peristiwa persaksian di alam rahim itu, bahwa kita pernah bersaksi Allah adalah Robb kita. Kita bahkan lahir dalam keadaan tak mengetahui apapun, tetapi jiwa manusia sdh terinstal fitrah keimanan tanpa sadar.

Itulah mengapa bayi lahir menangis (para ulama mengatakan krn seeking the God). Begitupula berbagai penelitiannya menyebutkan bahwa anak anak tanpa sadar memahami konsep prima causa, memahami bahwa diciptakannya beragam makhluk agar dunia menjadi semakin indah. Menurut pakar, ini pemahaman relijius tak sadar.

Jadi tak perlu menunggu bakat “connectedness” yang kuat untuk menjadi orang yang beriman atau relijius krn semua kita memilikinya dalam skala minimal sekalipun. Prof.Dr Justin Barrett meneliti panjang bagaimana anak anak dalam jenjang usia berbeda telah memiliki keimanan atau relijiusitas sejak usia dini dan menuliskannya dalam buku berjudul Baby Born as Believer.

Dr.Yusuf Qardhawi, dalam bukunya Wujudullah (Eksistensi Allah) mengatakan bahwa di masa lalu eksistensi Allah tak perlu dibahas karena suatu hal yang niscaya dan diyakini oleh orang Musyrik Quraish sekalipun. “Apabila ditanyakan kepada mereka, siapa yang menciptakan langit dan bumi, maka mereka mengatakan, Allah”

Tentang adanya fitrah, kita tak tahu sampai Kitabullah memberi tahu QS 30:30. Jadi fitrah bukan diinstal di memory otak, walau demikian jiwa manusia telah merekamnya di alam rahiem lalu secara tak sadar memperlihatkan sepanjang kehidupannya. Secara tak sadarmanusia menunjukkan kebutuhannya akan fitrah baik sebagai konsepsi (sifat), potensi (aktifitas) maupun eksistensi (peran).

Manusia akan selalu mencari jalan menuju fitrahnya ketika merasakan ketidakseimbangan dalam hidupnya, kemudian ketika telah kembali kepada titik kesadaran fitrahnya maka fitrah itu meningkat menjadi jalan menuju perannya atau tugas spesifiknya atau misi hidupnya di muka bumi dalam rangka memenuhi maksud penciptaannya untuk beribadah dan menjadi Khalifah di muka bumi.

Jika fitrah adalah Jalan hidup (terminal & route), maka Kitabullah lah penunjuk jalannya (compass).

Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife

Fitrah tak Tuntas, Pernikahan terancam Kandas

Harry Santosa
October 14

Tingkat perceraian di Indonesia sungguh mengerikan, yaitu 300.000 lebih pertahun, itu artinya kurang lebih 960an per hari, atau 36 lebih kasus per jam. Penyebabnya beragam, namun umumnya karena banyak fitrah yang tak tuntas ketika masa anak dan masa muda sebelum pernikahan. Nah ledakannya terjadi di dalam pernikahan.

Barangkali banyak orangtua yang masih memuja akademis dalam pendidikan anak anaknya, masih memuja mengasah otak dan melejitkan kecerdasan anak anaknya, namun sayangnya, kebahagiaan masa depan anak anak kita bukan tentang banyaknya pengetahuan yang dihafal atau kecerdasan otak yang diasah, atau keterampilan bekerja yang dilatih keras, namun tentang bagaimana potensi potensi yang Allah berikan sejak lahir itu tumbuh dengan hebat dan paripurna sehingga bahagia. Bukan tentang apa yang nampak terlihat, tetapi tentang apa yang memberi dampak hebat.

Ketahuilah bahwa fitrah yang tak tumbuh dengan paripurna dan tuntas sejak masa anak, ledakan hebatnya juatru muncul ketika masa pernikahan karena di masa inilah kita hidup bersama pasangan dan memerlukan sinergi dalam peran bersama baik dalam mendidik generasi maupun dalam mewujudkanperan spesifik keluarga yang memberi manfaat dan menebar rahmat. Bayangkan kira kira apa yang terjadi ketika banyak fitrah yang tak tumbuh tuntas ketika seseorang menikah? Masa pernikahan yang seharusnya masa bersinerginya potensi fitrah, jadi masa saling menyalahkan.

Lihatlah, betapa banyak keluarga yang mengalami kepribadian ganda, mereka beragama, namun tak beraqidah, mereka tahu ilmu agama namun galau karena gairah keimanan tak tumbuh menjadi wujud keluarga yang berani membela kebenaran, malah sebaliknya, rajin haji dan umroh, rajin zakat dan sedekah namun juga rajin korupsi dan manipulasi. Uang uang haram itu tidak dianggap lagi sebagai dosa, namun sebagai bagian dari upaya dan usaha dalam bingkai indah untuk membangun ummat, lalu mereka makan dan beri makan anak anaknya. Akankah keluarga seperti ini bahagia? Hidup senang barangkali iya, namun bahagia itu tidak bisa pura pura, ia bicara nurani yang tak dapat ditipu oleh pemiliknya.

Lihatlah pasangan yang galau karena fitrah bakatnya tak tumbuh tuntas paripurna. Berapa banyak ayah karir atau ibu karir yang salah karir, salah kuliah dstnya mereka tak tahu peran sejatinya dalam sosialnya, mereka hanya bekerja karena mengejar ambisi dan harta walau membingkai dengan ucapan agar keluarga bahagia. Namun kenyataannya mereka nampak lebih layak disebut tersesat dan tidak bahagia ketika mencari kebahagiaan, walau bergelimang harta maupun bergelimang hutang. Ayah karir dan ibu karir yang tak bahagia dan tak selesai dengan dirinya dan dengan karirnya maka akan sulit menjalani biduk pernikahannya. Mereka akan menjalani rutinitas yang menjemukan, liburan dan vakansi hanyalah sarana mengentaskan stress berkarir atau kesenangan semu bukan merajut peran, menjalin cinta dan kebersamaan untuk masa depan yang penuh manfaat dan rahmat.

Lihatlah pasangan yang menjadikan gelar gelar akademis sebagai kebanggaan dan prestise tanpa karya solutif, mereka tiba di masyarakat bagai orang yang mati. Fitrah Belajar dan Bernalarnya tak tumbuh paripurna menjadi peran inovasi untuk memakmurkan bumi dan menghebatkan alam tempat dimana ia dilahirkan. Kepandaian dan titelnya hanya untuk dijajakan dan untuk kesenangan dirinya, menaikkan pamor dan mencari uang, bukan untuk menjadikan keluarganya semakin inovatif menebar manfaat dan rahmat bagi semesta. Skripsi dan tesis bahkan disertasinya hanya pencapaian ambisi namun tanpa makna, kosong dari karya inovatif bagi masyarakat. Ilmu dan kepintarannya tidak dijadikan alat untuk semakin pandai mendidik anak dan jalan menemukan peran terbaik keluarga bahkan membuat semakin tak kenal dirinya dan membuat hubungan dengan pasangan dan anaknya makin menjauh dan kering.

Lihatlah pasangan yang gagap menjadi ayah atau gagap menjadi ibu. Ini bukan masalah kurang ilmu, namun sesungguhnya fitrah seksualitas mereka tak tumbuh tuntas paripurna, sementara mereka ragu menyambut fitrah kelelakiannya untuk menjadi suami dan ayah sejati atau ragu menyambut fitrah keperempuanannya menjadi istri atau bu sejati. Mereka berkilah tentang buruknya pengasuhan mereka di masa anak, mereka bolak balik mengeluhkan innerchild dan hutang hutang pengasuhan dsbnya, namun mereka tetap tak berani menyambut panggilan untuk menjadi ayah sejati dan ibu sejati, atau panggilan untuk menjadi suami sejati dan istri sejati. Alih alih menyambut panggilan fitrah ini, banyak para orangtua lebih pandai menitipkan dan mensubkontrakkan peran mendidiknya. Keluarga yang kosong dari proses mendidik anak sendiri, ayah yang galau dengan peran keayahannya dan ibu yang galau dengan peran keibuannya, suami yang galau dengan perannya sebagai suami dan istri yang galau dengan perannya sebagai istri adalah keluarga yang berpeluang besar berpisah.

Lihatlah pasangan yang tak bisa berkolaborasi apalagi bersinergi, berebut perhatian dan ingin menang sendiri, berambisi merubah karakter bawaan pasangannya, sulit akur dalam menetapkan kebijakan keluarga dstnya, mereka sesungguhnya pasangan yang tak selesai dengan fitrah individualitasnya atau egonya ketika masa anak anak. Ego yang tak selesai kemudian menuntut haknya ketika dewasa, padahal di saat dewasa itulah saatnya menunaikan kewajiban sosialitasnya. Maka di dalam pernikahan, ego yang tak selesai ini berubah menjadi keegoisan yang berujung kepada perceraian. Masing masing mereka sebenarnya tak siap memimpin dan tak siap terpimpin. Kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang paling akhir mendapatkan haknya, setelah menuntaskan kewajiban dan tanggungjawabnya.

Maka AyahBunda yang baik,

Mari fokus saja untuk saling mendukung untuk menumbuhkan atau mengembalikan cahaya fitrah pasangan masing masing, agar cahaya itu mengusir kegelapan, agar pernikahan itu menjadi cahaya yang menerangi sekitarnya.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah
538

Belajar dari Khabib Nurmagomedov

Harry Santosa
October 8

Tanggal 6 Oktober 2018 kemarin, Khabib berhasil menghentikan sesumbar Connor McGregor, menyumpal mulut besarnya di ronde ke 4 dengan kuncian di leher dalam gelaran Ultimate Fighting Champion ((UFC) ke 229. Kemenangan telak ini justru di jantung pendukung McGregor yang fanatis, di Las Vegas, Nevada.

McGregor ditakuti banyak petarung, dijuluki The Notorius, ada juga yang menyebutnya The Warrior, bahkan kembalinya ia ke gelanggang UFC disebut sebagai kembalinya The King. Pengamat MMA menyebutnya sebagai the best strikes in the world. Semua pengamat menjagokannya, Khabib dipandang tak sekelas, bahkan Dana White founder UFC menyebut Khabib sebagai “kurang persiapan”.

Untuk melawan Khabib, konon McGregor dibayar 32 Milyar lebih. Pertarungan yang disebut sebut sebagai pertarungan UFC terbesar dan termahal sepanjang sejarah ini dengan kursi termahal 26 juta rupiah dan termurah 2 jutaan, justru sebenarnya bukan memberikan tontonan semata namun memberikan pelajaran yang mahal bagi kita. Mengapa?

Perang Kebencian McGregor

Sejak sebelum pertarungan, McGregor telah memulai perang kebencian. Gayanya yang perlente dan fashionable dengan gaya hidup milyuner, ia sering mengejek dan merendahkan Khabib. Sebenarnya bukan hanya pada Khabib, kepada semua lawannya juga demikian, ini memang strategi membuat lawan emosi sebelum bertanding.

Hampir semua lawan McGregor tumbang karena memakan pancingan emosi McGregor. Padahal ketenangan dibutuhkan dalam pertarungan apapun, dan kalap serta emosi adalah modal terhebat kekalahan. McGregor tahu betul rahasia ini sehingga dijadikan strategi kampanye perangnya.

Sejak sebelum kontrak ditandatangani, sampai kepada press conference, acara timbang badan bahkan sampai pre fight conference, strategi perang kebencian ini dilancarkan masif dan brutal.

Namun pada Khabib, perang ini nampaknya lebih brutal dilancarkan. McGregor dan team bahkan sengaja menggeruduk ke Chicago tempat Khabib dan team menyelenggarakan acara, menyerang membabi buta, melempar bis yang ditumpangi Khabib dengan penggotong barang beroda sehingga melukai 2 kru Khabib. Khabib tak melayani sedikitpun pancingan ini, ia tetap kalem.

Konferensi pers pertama, McGregor tampil membawa Whiskey, menawarkan Khabib minum Whiskey, menghina kampung halamannya, menghina ayah Khabib, melecehkan agamanya, menertawakannya dan melecehkannya sebagai “Dagestan Rats”. Khabib hanya senyum dan tetap tenang, ia tahu betul McGregor sedang mengorek ngorek hal hal paling sensitif.

McGregor mengatakan Khabib pengecut karena tak mau keluar dari Bis untuk menerima tantangannya. Khabib menjawab, saya tidak mau tawuran berkelahi di ruang publik. Khabib mengatakan mengapa McGregor tak mau membalas pesannya untuk memberikan lokasi (send me location) untuk adu tanding, orang bebas tawuran di Brooklyn.

Press Conference yang berisi ucapan sampah sumpah serapah ini tak membuatnya goyah, bahkan semakin membuatnya tenang. Ia katakan, “Allah bersama saya”. Ia juga katakan kepada McGregor, “Saya heran, apa yang anda andalkan dari Whiskey untuk pertandingan nanti”

Di luar gedung, Khabib memberikan nasehat yang indah “…McGregor seharusnya memperhatikan bahwa ucapannya disaksikan banyak anak muda masa depan. Ini bukan tentang mencari uang tetapi tentang memberi keteladanan”

Khabib Nurmagomedov

Para pencinta MMA (Mix Martial Arts) pasti mengenalnya. Seorang Muslim asal Dagestan, sebuah negara di Rusia yang punya prestasi keren, yaitu 27 kali tak pernah kalah sepanjang karir professionalnya termasuk kemenangannya dengan Connor McGregor kemarin.

Pemuda taat beribadah ini, kini berusia 30 tahun, menikah muda, dikaruniai 2 anak ini adalah pemuda yang dibesarkan dalam nilai nilai kejantanan dan kearifan lokal bangsa Dagestan. Sejak kecil ia dilatih langsung oleh ayahnya Abdul Manap, yang juga atlit gulat Rusia, Sambo.

Sejak usia 5 tahun sudah dilatih bergulat dengan anak beruang, walau anak beruang tetap saja tenaganya besar. Begitulah sang Ayah melatih ketangguhan, bukan cuma itu termasuk respek pada bangsa, respek pada Tuhan, respek pada Agama, respek pada Orangtua dan keluarga serta pertemanan.

Sejak kecil Khabib dibesarkan di alam perbukitan Dagestan yang keras, berlatih di alam terbuka bersama saudara dan sepupu juga teman temannya dengan bimbingan ayahnya.

Beginilah seharusnya peran seorang ayah, melanjutkan misi nya pada anaknya, mengembangkan fitrah anaknya bukan hanya bakat tetapi juga nilai nilai keyakinannya, ketangguhannya, kecintaan dan kedekatan dengan ayahnya dan keluarganya, menginteraksikannya dengan alam dan kearifan kehidupan bangsanya lalu memandunya dengan nilai nilai Kitabullah dalam kehidupan nyata.

Kemenangan Khabib

Kemenangan Khabib atas McGregor adalah bukti tumbuh dan berjalannya fitrah Khabib serta nilai nilai yang dididik oleh ayahnya. Ia tetap kalem sampai kemenangan diraihnya.

Selesai memenangkan pertandingan ia melakukan aksi melompat pagar octagon tempat pertarungan, menyerang team McGregor yang selalu menghinanya. Ini langkah di luar dugaan semua orang, Khabib yang santun dan kalem selama ini bisa melakukan itu. Tidak ada yang dilukai pada insiden ini. Semua bisa dikendalikan.

Sebenarnya itu hanya langkah gertak semata untuk memberi pelajaran semata kepada penyelenggara UFC dan termasuk Pers yang selama ini membiarkan kepongahan dan pelecehan yang dilakukan McGregor.

Dalam Post Fight Press Conference, Khabib menyampaikan permohonan maaf, sekaligus memberi pelajaran penting, ia katakan

““I want to say sorry to the Nevada State Athletic Commission,”

“This is not my best side. He ((McGregor) talked about my religion, my country, my father. He came to Brooklyn, he broke bus and nearly killed two people. So why do people still talk about me jumping over the cage? I have shown respect.

“I told you guys: his whole team and him, they are tap machines. Today he tapped. Undisputed and undefeated.

“This is a respectful sport. This is not a trash-talking sport. I want to change this game. You cannot talk about religions and nations. This for me is very important. Thank you for waiting for me. I know my father is gonna smash me when I go home. Nevada: sorry. Vegas: sorry.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife

Designing “Youth” Life based on Fitrah

Harry Santosa
Aug 9 

Seorang ibu usia 50an, nampak seperti seorang wanita pengusaha, datang kepada saya, ia membawa dua orang anaknya untuk mendiskusikan masa depan kedua anaknya. Mungkin pembaca menduga kedua anaknya itu masih kecil, hmmm… kedua anaknya itu sudah selesai S2 dari PTN usianya 26 dan 28 tahun.

Tadinya saya juga menduga ibu ini ingin mendiskusikan hal lain, ternyata beliau ingin meminta masukan untuk kedua anaknya. Apa masalahnya? Kedua anaknya ini, menurut ibunya, sejak kecil cerdas, selalu juara kelas. Namun kini walau sudah S2, selalu galau dengan dirinya.

Ibu ini menuturkan perihal kedua anaknya. “Anak saya ini, jika bekerja di perusahaan manapun selalu “tak betahan” sehingga selalu tak bertahan lama. Selalu merasa tak nyaman, merasa bukan passionnya, namun jika ditanya passionnya apa, susah memaparkannya”

“Saya ini pengusaha restoran pak Harry, saya merasa cukup sukses mengelolanya, saya bahkan punya restoran juga di Mekkah. Pernah saya buatkan restoran untuk anak saya. Ternyata baru setahun bangkrut”, tutur ibu itu. Kini ia nampak mulai emosional.

“Masalah lainnya, anak saya ini, sampai sekarang belum mau menikah. Mereka bilang belum mapan dan belum berhasil. Tapi sampai kapan, saya sudah pingin banget punya cucu”, lanjut ibu itu. Kini matanya mulai basah.

_________

Teman AyahBunda yang baik,

Barangkali kita pernah menemukan atau mendengar kasus serupa di sekitar kita, barangkali juga terjadi pada diri kita dan pasangan kita. Sesungguhnya hal ini tak perlu terjadi jika para orangtua terlibat penuh dalam mendidik bukan sekedar menyerahkan pada sekolah.

Pendidikan itu bukan tentang mensarjanakan anak atau menghafizhkan anak, tetapi pendidikan sesungguhnya adalah mengantarkan generasi peradaban (jailul hadhoriyah) atau anak dan pemuda kita kepada peran peradaban (daurul hadhoriyah) atau the mission of life.

Sistem persekolahan modern umumnya hanya mencetak anak kita menjadi human thinking and human doing, bukan human being (insan kamil), manusia Robbani yang ajeg menjadi dirinya seutuhnya dengan misi hidupnya yang berorientasi ke langit dgn menebar manfaat besar di dunia dengan misi hidupnya itu bukan berorientasi bumi yang mengambil sebanyak banyaknya materi dunia.

Rancangkan Hidup Anak dan Pemuda Kita

Saya banyak menemukan kasus anak dan pemuda yg tak pernah dirancangkan hidupnya sesuai fitrahnya (setidaknya bakatnya) shg ujung2nya tak punya misi hidup yg ajeg, hanya berorientasi belajar menguasai ilmu (umum dan agama) sebanyak2nya agar sukses mencari pekerjaan dan agar bisa hidup kaya.

Jadi sebaiknya setiap anak kita harus dipetakan dan diprofiling seluruh aspek fitrahnya (bukan hanya bakat). Kemudian digali needs n insight nya dan dirancangkan hidupnya sesuai profile fitrah (life design based on fitrah) dan diarahkan the mission of lifenya dari skala paling sederhana.

Anak dan pemuda yang sudah menemukan roadmap hidupnya atas seluruh aspek fitrahnya akan disibukkan oleh kebenaran dan kebaikan. Kita sering mengecam kelalaian anak abg dan pemuda kita, mengkhawatirkannya salah gaul, dll padahal kita tak pernah memetakan fitrahnya dan merancangkan masa depannya sampai kepada program detail lalu membersamainya mewujudkannya.

Saya pernah menulis tentang pemetaan fitrah sbb

1. Anak sekolah atau tidak, hs atau unschooling atau friendscholing (magang sama temen) dll, kurikulum personal harus dibuat. Karena sekolah sebatas pengajaran akademis dan sedikit keterampilan, sementara fitrah termasuk bakat juga adab (hikmah kehidupan) itu perlu diprogram dan kewajiban oramgtua

2. Jika ananda masih balita, maka prosesnya bisa diamati sampai mendapat polanya seceparnya usia 7 dan selambatnya usia 10.

Masalahnya banyak anak keburu gede di atas 7 bahkan di atas 10 tahun cuma berisi akademis saja kepalanya, maka disinilah perlu pemetaan baik assessment maupun observasi kegiatan pada semester pendek sebelum dirancangkan program hidupnya

Catatan

Pemetaan bagi anak yg sdh di atas 7 atau di atas 10 itu ada 3
1. Assessment questioner, bisa didampingi
2. Observasi via Interview
3. Observasi via kegiatan dalam semester pendek

Di banyak kampus utk mahasiswa baru, di perusahaan utk rekrutmen dan utk pensiun, umumnya di LN, menjadi penting utk merancangkan hidup ke depan dan misi hidup. Ini biasanya hanya terkait talents tetapi seharusnya juga terkait health, relationship, love, social engagement dll (seluruh aspek fitrah) kemudian didraftkan the purpose of life nya atau the mission of life nya.

Nah, mari rancangkan hidup anak anak kita, bantu juga buatkan misi hidupnya, selambatnya begitu masuk usia 10-12 tahun, jangan sampai anak kita keburu galau bahkan sampai S2 masih galau seperti kasus di atas.

Salam Pendidkan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah