Kritik Ki Hajar Dewantara Terhadap Sistem Pendidikan Barat

Bondhan Kresna W.
Kompas, 9 April 2018

Beberapa waktu yang lalu istri saya sedang ngobrol di salah satu grup media sosial, salah satu temannya saat diskusi mempromosikan “sekolah Montessori”. Mungkin kita sudah sama-sama tahu, banyak sekali PAUD, TK, ataupun SD yang berlabel “Montessori”.

Montessori diambil dari nama seorang ahli pendidikan dari seorang ahli pendidikan Italia bernama Dr. Maria Tecla Artemisia Montessori (1870-1952). Dia yang mengembangkan metode pendidikan sesuai namanya, metode Montessori. Menurut teman istri saya, Ki Hajar saja muridnya Montessori. Apakah benar demikian?

Pada 1922, Soewardi Soerjaningrat resmi banting setir dari aktivis politik menjadi aktivis pendidikan dan kemudian mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara.

Soewardi sendiri mulai tertarik dan belajar mengenai sistem pendidikan kolonial ketika dibuang ke negeri Belanda pada 1913. Ketika di Belanda dia memperoleh ijazah guru dan mengambil bagian dalam suatu diskusi pada Kongres Pendidikan Kolonial, disana pertama kali dia mengusulkan pendidikan nasional bagi orang-orang Indonesia.

Setelah kembali ke Hindia Belanda pada 1919, sebagai pengelola majalah Persatuan Hindia, dan sebagai sekretaris National Indische Partij (NIP), versi baru dari Indische Partij masih menulis artikel-artikel politik yang radikal dan provokatif menyerang pemerintah.

Karena nggak kapok-kapok, akhirnya Soewardi di tangkap lagi, dipenjarakan plus dihukum kerja paksa pada 1920, bukan hanya itu NIP juga dilarang dan dibubarkan ada 1922. Pada tahun yang sama Soewardi, atau sekarang Ki Hajar dibebaskan dan mendirikan Sekolah Taman Siswa.

Mungkin dia melihat bahwa perlawanan non-kooperatif yang frontal di bawah represi Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum, yang kemudian diganti oleh Dirk Fock pada 1921 tidak terlalu efektif, dan dia mencari cara perlawanan yang lain, yaitu melalui pendidikan.

Sejak didirikan, Sekolah Taman Siswa menolak keras uang bantuan pemerintah, sehingga tidak bisa dengan mudah disetir oleh pemerintah. Sejak itu artikel-artikelnya yang tersebar di berbagai media mulai menyoroti masalah pendidikan. Dari sana kita bisa tahu pendidikan seperti apa yang dibangun oleh Bapak Pendidikan Nasional kita ini.

Ki Hajar, dalam artikelnya pada majalah “Pusara” jilid XI, nomor 8 tahun 1941 mengatakan bahwa memang banyak orang ketika itu mengira bahwa pendidikan di Taman Siswa semata-mata aliran Tagore – Montessori.

Memang benar bahwa Dr Rabindranath Tagore, tokoh nasional dan tokoh pendidikan dari India, pendiri sekolah Shanti Niketan dan orang asia penerima nobel sastra pertama itu pernah berkunjung ke pusat perguruan Taman Siswa di Yogyakarta pada 1927, begitu pula Maria Montessori disebutkan juga sempat berkunjung pada 1941. Pun foto keduanya pernah terpampang di pendapa dan sekolah Taman Siswa yang pertama.

Ki Hajar mengatakan, “Sebenarnya kita menggantungkan potret dari kedua pemimpin itu tidak lain karena kedua-duanya kita anggap sebagai penunjuk jalan baru, Montessori dan Tagore ialah pembongkar dunia pendidikan lama serta pembangun aliran baru.”

Namun demikian justru disini Ki Hajar mengagumi keduanya sekaligus melakukan kritik pada keduanya untuk saling melengkapi dan dijadikan fondasi sistem pendidikan Taman Siswa pada waktu itu yang disebut harus mengikuti perkembangan jaman modern namun juga harus “kulturil-nasional” yaitu tidak boleh meninggalkan adat budaya baik yang sudah ada dan masih hidup dalam masyarakat.

Perbedaan antara sistem Montessori dan Tagore itu terletak pada tujuannya. Montessori sangat mementingkan hidup jasmani anak-anak, terutama untuk menstimulasi dan mengoptimalkan perkembangan kognitif dan panca-inderanya.

Menurut Ki Hajar, metode pendidikan Montessori tidak menyentuh perkembangan batin anak-anak, yang dimaksud batin di sini adalah mengajarkan anak untuk mengenal pencipta-Nya dan kata Ki Hajar “semata-mata bersifat psikologis, jauh dari tujuan religius.”

Sementara Dr. Tagore membentuk sistem pendidikan anak semata-mata sebagai alat dan syarat untuk memperkokoh kehidupan kemanusiaan dalam arti yang sedalam-dalamnya, yaitu religiusitas. Namun demikian kurang menekankan masalah-masalah kognitif dan psikologis.

Lebih jauh lagi saat pidato pada rapat besar gerakan PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat), September 1943 Ki Hajar dengan berapi-api mengatakan bahwa pendidikan Eropa itu baik adanya namun “Sangat mengabaikan kecerdasan budi-pekerti sehingga menimbulkan penyakit intellektualisme yakni mendewakan angan-angan, semangat mendewakan angan-angan itu menimbulkan kemurkaan-diri atau individualisme dan kemurkaan-benda atau materialisme, itulah yang menyebabkan hancurnya ketentraman dan kedamaian di dalam hidupnya masyarakat!”

Pendidikan Dikhianati

Oleh karena itu Ki Hajar tidak mengambil mentah-mentah sistem pendidikan barat, namun mensinergikannya dengan kekayaan budaya nasional dan pendidikan spiritual.

Agaknya pendapat Ki Hajar ini masih relevan hingga saat ini, setidaknya menurut saya. Pendidikan “dikhianati” tujuannya bukan untuk membuka batin (rasa-spiritual), memerdekakan pikiran (cipta) dan membangun kemandirian (karsa). Tapi justru untuk menceburkan diri pada materialisme, sekolah supaya dapat kerja, kerja jadi pegawai, entah negeri atau swasta.

Jadi pegawai mengejar karir supaya dapat duit banyak, punya rumah besar (materi/benda), punya mobil (materi), bisa beli iphone (materi), tas bermerk (materi), jam tangan Fossil (materi), sepatu Nike atau Adidas (materi), bisa liburan ke luar negeri dan foto-foto (ketenaran), kalau perlu rumah, tanah dan mobil lebih dari satu atau sebanyak-banyaknya (materi lagi).

Ki Hajar tidak mengatakan bahwa memiliki materi, benda-benda kebutuhan sehari-hari itu salah, yang disalahkan beliau adalah kerakusan, rakus ingin memiliki lebih dari yang dibutuhkan, kalau perlu dengan berhutang (lagi-lagi materi).

Sampai detik ini definisi “sukses” masih seperti itu bagi sebagian besar orang Indonesia. Apa namanya itu kalau bukan materialisme? Mungkin pada titik Nietszche benar bahwa Tuhan telah mati “dibunuh”. Atau kalau terlalu ekstrem, Tuhan dikerdilkan dalam tembok-tembok rumah ibadah, rapalan-rapalan doa, dan pelajaran agama. Tuhan diusir dalam pelajaran Fisika, Matematika, Biologi, Geografi, Sosiologi, Olahraga dan hampir semua materi yang diajarkan di sekolah.

Jadi menurut saya, meski dalam artikel-artikelnya Ki Hajar mengagumi sekaligus mengkritik Montessori, yang dalam hal ini waktu itu sebagai wakil dari sistem pendidikan barat secara umum. Ki Hajar sebenarnya sedang melakukan kritik terhadap pendidikan barat secara keseluruhan.

Ironisnya, justru model pendidikan semacam demikian yang saat ini sedang naik daun. Sekolah berlomba-lomba mendapatkan sertifikasi “Cambridge” atau berlabel internasional dan semacamnya untuk menarik para orangtua bahwa institusinya “berkualitas”. Apalagi ada upaya pemerintah untuk menerapkan sistem “student loan” atau “sekolah dengan hutang” seperti yang berlaku di Amerika dan terbukti membelenggu lulusannya dengan hutang seumur hidup.

Sekolah bukan lagi tempat menyenangkan untuk menciptakan masyarakat yang damai (Shanti Niketan), tapi menjadi bagian dari mesin perusahaan-perusahaan besar yang rakus mencari uang sebanyak-banyaknya (What?!, materi lagi)…

Advertisement

Sifat-sifat Asasi Peradaban Barat

September 29, 2014

Bentuk : Rangkuman Diskusi Pekanan DISC 1 Dzulqoidah 1435 AH/26 September 2014 M
Pemateri : Tri Shubhi Abdillah
Perangkum : Yogi T. Rinaldi

Mengenali lawan dalam sebuah peperangan adalah sebuah strategi yang amat penting. Ketidaktahuan dalam mengenali lawan hanya akan membuat serangan-serangan yang dilancarkan tidak tepat sasaran. Tampaknya itu yang hendak disampaikan di awal perenggan sembilan oleh Syed M. Naquib al-Attas di dalam bukunya Risalah untuk Kaum Muslimin, ketika hendak menjelaskan apa sebenarnya Kebudayaan Barat.

Kaum Muslimin belum sepenuhnya mengetahui apa sebenarnya Kebudayaan Barat. Ketidaktahuan ini menyebabkan ketidakmampuan kaum Muslimin dalam mengukuhkan kedudukannya ketika menghadapi serangan-serangan yang diluncurkan oleh Kebudayaan Barat. Oleh karena itu, seyogyanya kaum Muslimin mengetahui sifat-sifat asasi Kebudayaan Barat itu.

Unsur-unsur Pembentuk Peradaban Barat

Kebudayaan Barat merupakan hasil adonan daripada unsur-unsur Kebudayaan Yunani Kuno, Kebudayaan Romawi, dan unsur-unsur lain dari hasil cita-rasa dan gerak-daya bangsa-bangsa Eropa sendiri, khususnya dari suku-suku bangsa Jerman, Inggris dan Prancis. Dari kebudayaan Yunani Kuno, mereka telah meletakkan dasar-dasar falsafah, kenegaraan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kesenian; dari Kebudayaan Romawi, mereka telah merumuskan dasar-dasar undang-undang, hukum dan ketatanegaraan. Agama Kristen, meskipun berhasil memasuki benua Eropa, tetapi tidak berhasil meresap ke dalam qolbu Peradaban Barat.

Seorang pendeta dan profesor teologi di Selly Oak College, Universitas Birmingham, menyatakan bahwa Barat dan orang-orang Barat maju bukan karena Kristen. Dia mencontohkan, bahwa bos Pabrik Coklat Cadbury menyumbang dana jutaan Poundsterling untuk membangun perpustakaan di Selly Oak bukan karena dia seorang Kristian, tapi karena dia kaya dan punya dana sosial lebih. Profesor ini sepertinya ingin mengungkapkan bahwa Barat tidak lahir dari pandangan hidup Kristen.

Sebenarnya bukan Kristen yang berhasil mengubah Barat, tetapi Baratlah yang telah mengubah agama Kristen. Agama ini, telah diambil-alih dan diubah-gantikan oleh Peradaban Barat demi melayani dan agar dapat selaras dengan kepercayaan-kepercayaan yang dianut Peradaban Barat sebelum masuknya agama Kristen. Peradaban Barat telah berhasil mencampuradukkan ajaran-ajaran Yunani Kuno dan Romawi yang kemudian menjelma menjadi agama Kristen. Menurut al-Attas, agama yang berasal dari Asia Barat ini adalah satu-satunya agama yang telah berpindah dari pusat aslinya, yaitu dari Darussalam Palestina ke Roma Italia. Perpindahan ini pada hakikatnya adalah suatu bentuk pembaratan (westernization) dan penyerapan unsur-unsur Barat secara berangsur-angsur dan berturut-turut. Oleh sebab itu, dari sudut pandang Islam, terdapat dua agama Kristen: Kristen awal dan benar, dan Kristen versi Barat. Kristen awal dan benar adalah Kristen yang dibawa oleh Nabi Isa As. yang sesuai dengan Islam. Mereka adalah mukmin dan muslim.

Islam pun turut mempengaruhi Peradaban Barat pada Abad Pertengahan dengan menyumbangkan unsur-unsur penting dalam ilmu pengetahuan sains dan teknologi. Akan tetapi perkembangan yang amat mempengaruhi kemajuan Peradaban Barat ini kemudian mengikuti bawaan jiwa asli Peradaban Barat, yakni menceraikan nilai-nilai agama dari setiap elemen kehidupan. Alhasil, Kebudayaan Barat adalah kebudayaan yang hampa dari agama, kebudayaan yang telah membunuh tuhan seperti yang digemakan oleh Nietzsche, yang tidak lain adalah pembunuhan agama Kristen.

Sifat-sifat Asasi Peradaban Barat

Setelah Peradaban Barat membunuh tuhan, mereka kemudian malah mengangkat akal (rasio) mereka sebagai tuhan untuk membimbing manusia Barat. Oleh sebab itu, sebenarnya Peradaban Barat bukan berasaskan pada agama (Kristen) tetapi filsafat, karena itulah tidak ada agama dalam jiwa pengalaman mereka, suatu ketetapan akan keyakinan.

Sebelum kemunculan agama Kristen, pada zaman Olimpus Yunani Kuno, alam tidak dipisahkan dari dewa-dewa. Akan tetapi ketika kemerosotan agama terjadi di kalangan orang Yunani, dewa-dewa itu secara berangsur-angsur disingkirkan dari alam tabii. Ini kemudian menghasilkan kehampaan akan makna spiritual. Pada awalnya, kosmologi Yunani sebagaimana manusia zaman kuno lainnya, diserapi oleh kepercayaan bahwa ada kekuatan spiritual yang mengatur, memelihara dan menopang alam semesta. Mereka menyebutnya dengan archē sebagai substansi spiritual yang membentuk dasar semua realitas. Setelah dewa-dewa itu diusir dari masing-masing tempatnya di alam tabii, filsafat Yunani mengalami perubahan tafsir terhadap alam, yang menjadi lebih berupa penjelasan alamiah dan ‘rasional’.

Postulat bahwa alam semesta tercipta dari anasir-anasir utama seperti air, udara, tanah dan api adalah sebagai bukti penjelasan alamiah itu. Hal tersebut seperti diyakini oleh Thales (624—546 SM), Anaximenes (585—528 SM), Diogenes (w. 460 SM), Hippasus, Herakleitos (535—475 SM) dan Empedokles (490—430 SM). Semenjak terusirnya kepercayaan terhadap mitos dewa-dewa, filsafat Yunani mengangkat akal (rasio) sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Apa yang dapat dicerap oleh indra, yakni yang empirik dan rasional adalah yang ada (wujud) dan benar.

Kemudian, ketika Aristoteles (384—322 SM) memperkenalkan filsafat Yunani kepada dunia Romawi di mana kemudian agama Kristen merumuskan dan membentuk dirinya sebagai agama Kekaisaran Romawi dan dunia Barat, Rasionalisme murni ini beserta naturalismenya melucuti alam tabii dari makna spiritualnya, sehingga alam hanya dapat dikenali dan dimengerti oleh rasio manusia. Meski tidak dimungkiri masih ada bentuk-bentuk filsafat lain yang mengakui pentingnya spiritual dari alam tabii dan metafisika dalam dunia Yunani, tetapi Aristotelianisme lebih memegang pengaruh.

Akibat dari pemisahan spiritual dari alam tabii adalah munculnya pandangan Dualistik. Faham dualisme ini mengikrarkan adanya dua hakikat dan kebenaran yang senantiasa terpisah serta bertentangan. Manusia terjerembab pada dua hal yang senantiasa dikotomis dan tidak dapat disatukan, seperti fisika dan metafisika, Tuhan dan alam, ruhani dan jasmani, material dan immaterial, ilmu dan tanzil, dunia dan akhirat, kepercayaan dan ilmu pengetahuan, akal dan wahyu, tekstual dan kontekstual, agama dan negara, dan sebagainya. Syed M. Naquib menyebutnya dengan pandangan Sekular dan syirik yang berbeda dengan tawhid.

Lagi-lagi karena pengagungan terhadap akal secara berlebihan akhirnya Peradaban Barat memungkiri peran wahyu yang dibawa oleh agama. Segala sesuatu yang berasal dari agama bagi Peradaban Barat akhirnya hanya dapat dipercayai (iman), tidak termasuk ilmu pengetahuan. Pengingkaran terhadap kepercayaan agama, yang telah menjadi sifat bawaannya, kemudian diperkukuh pula oleh kekecewaannya dalam pengalaman beragama (Kristen) pada Abad Pertengahan, yang tidak berhasil menjamin keyakinan dan yang hanya penuh dengan dugaan-dugaan itu menjadikan manusia Barat sebagai manusia yang Sekular. Akibatnya memunculkan sebuah faham pandangan hidup, yang biasa disebut dengan nama Humanisme.

Faham Humanisme berkeyakinan bahwa manusia dapat menentukan kebenarannya sendiri. Manusia dianggap mempunyai kapasitas untuk berkembang sendiri tanpa agama dan Tuhan. Manusia dapat mengetahui baik dan buruk dengan akalnya. Humanisme menjadikan manusia sebagai satu-satunya ukuran segala sesuatu. Humanisme tiada lain adalah antroposentrisme yang berbeda sepenuhnya dengan teosentrisme. Humanisme adalah sebuah agama baru yang mulanya berteduh di dalam rumah agama, tetapi kemudian keluar dan memaki agama.

Anehnya akhir-akhir ini sering kali kita jumpai istilah yang saling bertentangan tetapi seolah mencoba disatukan seperti “Kristen Humanis”, “Muslim Humanis”, “Humanisme Islam” atau yang lainnya. Teologi agama seolah berorientasikan manusia, bukan lagi berdasarkan wahyu. Lagi-lagi ini adalah sebuah pandangan yang sekular.

Selain pengagungan yang berlebihan kepada rasio, faham dualisme dan pandangan-alam sekular, Peradaban Barat juga bercirikan tragedi. Pandangan Hidup yang tragis, menurut al-Attas, yaitu menerima pengalaman kesengsaraan hidup sebagai satu kepercayaan yang mutlak yang mempengaruhi peranan manusia dalam dunia.

Semenjak zaman Yunani Kuno, bangsa-bangsa Yunani Kuno menganggap tragedi sebagai satu unsur penting kehidupan manusia; bahwa manusia itu merupakan pelakon dalam drama kehidupan dan pahlawan-pahlawannya membayangkan watak yang tragis. Faham tragedi kehidupan ini disebabkan oleh kehampaan qolbu dan iman. Kehampaan iman adalah akibat dari falsafah yang mengikrarkan adanya dua hakikat yang saling bertentangan satu sama lain hingga menimbulkan syak serta ketegangan jiwa. Keadaan jiwa yang tiada tenteram ini mengakibatkan pula perasaan takut dan sedih menjalani dan mengenang nasib diri.

Manusia Barat meyakini bahwa kehidupan manusia adalah sebuah episode-episode tragedi yang harus dilalui. Bahkan mereka berkeyakinan bahwa nasib terburuk bagi manusia adalah dilahirkan. Kehampaan hati dari nilai-nilai spiritual yang kemudian diisi oleh perasaan tragis ini menganjurkan manusia Barat mencari jawaban dari persoalan-persoalan hidup, untuk giat berusaha menyelidiki, mengkaji dan mereka-reka teori baru, dan mengemukakan masalah asal-usul alam semesta dan manusia. Hasil fikiran tersebut dianggap sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang tidak lain hanyalah sekedar syak dan wasangka. Pengembaraan dan pencarian jawaban persoalan-persoalan tersebut malah menjadi semangat Peradaban Barat. Anehnya, mereka tidak ingin mengakhiri pencarian tersebut, justru pencarian tersebut bagi mereka setidaknya dapat mengurangi beban kekosongan dan kesunyian jiwa. Seolah-olah hal tersebut menjadi penawar hati yang tegang.

Menurut al-Attas, manusia Barat itu adalah seperti pejalan haus yang pada pertama kalinya secara tulus mencari air pengetahuan, tetapi kemudian, karena mungkin menemukannya kurang menarik, lalu dia mulai mengeraskan cangkirnya dengan garam keraguan sehingga rasa hausnya menjadi tidak terpuaskan meskipun dia minum secara berkelanjutan. Dengan demikian air tersebut tidak dapat menghilangkan hausnya dan dia pun telah lupa tujuan asal dan sejatinya untuk apa air itu dicari.

Manusia Barat akhirnya beranggapan bahwa mencari kebenaran itu lebih penting daripada menemukan kebenaran itu sendiri. Mereka akan senantiasa ‘menjadi’ (becoming) tetapi tidak pernah ‘jadi’.

Sifat-sifat asasi Peradaban Barat tersebut yakni pengagungan yang berlebihan kepada akal (rasio), keabsahan terhadap visi dualistik terhadap realitas dan kebenaran, pandangan-alam sekular, dan faham humanisme menjadi elemen penyusun Pandangan-Alam (Worldview) Barat. Peradaban Barat juga telah mengucilkan metafisika tempat teologi bersemayam; dalam bidang Epistemologi, Barat telah menolak wahyu sembari mengangkat tinggi-tinggi akal sebagai sumber ilmu pengetahuan; sedangkan dalam hal aksiologi, tujuan ilmu pengetahuan sendiri jadi tidak jelas. Akhirnya, kita harus memandang bahwa Barat bukan sekadar arah mata angin atau sebuah entitas politik, akan tetapi lebih dari itu, Barat adalah sebuah Pandangan-Alam.

Rujukan:
Al-Attas, Syed M. Naquib. 2011. Islam dan Sekularisme. Bandung: PIMPIN
Al-Attas, Syed M. Naquib. 2001. Risalah untuk Kaum Muslimin. Kuala Lumpur: ISTAC
Zarkasyi, Hamid Fahmy. 2012. Misykat: Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi, dan Islam. Jakarta: INSISTS-MIUMI
Saefuddin, A.M. 2010. Islamisasi Sains dan Kampus. Jakarta: PT PPA Consultants
Rinaldi, Yogi T. 2014. “Kosmologi Dalam Pandangan Hamzah Fansuri”. Program Studi Arab, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. (Skripsi)
Materi Kajian Pekanan DISC, “Tragedi Barat: Sebuah Kandungan Penting dari Imperialisme Baru” oleh Khayrurrijal Abdul Halim.

Ulama Saintis

Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi.

Dalam Konferensi Pertama Pendidikan Islam Se-Dunia di Mekkah tahun 1977, dan yang kedua di Islamabad tahun 1980, Professor Naquib al-Attas menyampaikan pandangannya bahwa problem utama umat Islam adalah ilmu pengetahuan. Dan untuk menyelesaikan masalah itu umat Islam perlu menyusun kembali konsep keilmuan Islam yang mengarah pada pembentukan universitas Islam. Yaitu iniversitas yang struktur, epistemologi dan teleologinya berbeda dari universitas Barat sekuler.

Ide itu disambut baik oleh dunia Islam. Dan pada tahun 80an berdirilah Universitas Islam Internasional di Islamabad Pakistan dan Malaysia. Disitu upaya untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan Islam dan Barat dilakukan secara institusional.

Upaya ini dikenal juga dengan istilah Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer. Namun karena masalah sumber daya manusia dan berbagai persoalan internal yang menggelayuti umat Islam, proyek ini belum memenuhi harapan dan bahkan ditentang.

Nampaknya, masih dalam upaya yang sama ketika Liga Universitas Islam, Mesir, bekerjasama dengan Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor, mengadakan Konferensi Internasional.
Konferensi yang diadakan pada tanggal 90-11 Januari 2011 yang lalu itu bertema “Membangun tradisi ilmiah dengan universitas-universitas Asia”. Maksudnya adalah untuk meningkatkan kualitas keilmuan di universitas-universitas Islam dengan cara kerjasama dengan berbagai pihak khususnya dengan universitas-universitas di Asia.

Konferensi yang dihadiri 200 akademisi termasuk 15 rektor universitas di negera-negara Arab 15 rektor dari universitas di Indonesia dan Malaysia itu membahas tiga topik utama. Pertama, Tentang Sejarah kebangkitan, pengaruh dan peran universitas Islam masa kini. Kedua, Tentang pengalaman dalam pengembangan universitas dalam berbagai hal. Ketiga, Model pengembangan keilmuan di universitas Islam. Termasuk pada masing-masing topik ini pengalaman kerjasama.

Pembahasan topik pertama banyak diisi oleh universitas di Timur Tengah. Dan yang paling menonjol adalah tentang sejarah dan peran universitas al-Azhar di Mesir dalam dunia Islam.
Peran universitas yang berumur 1000 tahun lebih itu di dunia Islam cukup besar. Sebab kini sebanyak 36.000 mahasiswa dari 102 negara asing sedang belajar disana. Diantara mahasiswa asing itu yang mendapat beasiswa berjumlah ribuan.

Topik kedua tentang pengalamaan universitas Islam masa kini dalam pengembangan berbagai aspek pendidikan tinggi. Diantara pembahasan yang menarik adalah tentang pengembangan ekonomi Islam. Pengalaman pengembangan ekonomi oleh Pusat Studi Ekonomi Islam (PSEI) Saleh Kamil, Mesir dan pengembangan enterpreneurship di Universitas Brawijaya cukup menarik.
Kini PSEI telah mengoleksi 2500 makalah tentang ekonomi Islam yang terus akan dikembangkan. Dan sejak tahun 2009 PSEI sedang menyusun buku teks tentang ekonomi Islam dari berbagai aspeknya.

Sementara keberhasilan UNIBRAW dalam pengembangan mental enterpreneurship kepada mahasiswanya penting untuk diadopsi untuk pengembangan ekonomi Islam. Namun wacana untuk mendialogkan keduanya masih belum maksimal.

Topik ketiga adalah tentang model-model pengembangan riset dan kajian sains dan ilmu humaniora di universitas Islam. Disini pengalaman UNAIR dan Gajah Mada dalam pengembangan sains, meskipun murni sains, cukup penting sebagai obyek pembelajaran bagi universitas Islam.

Apa yang tersirat dari topik pembahasan ketiga ini sebenarnya adalah suatu kerja besar. Yaitu proses yang disebut asimilasi atau integrasi atau Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer. Masalah yang dihadapi adalah masih banyaknya cendekiawan Muslim yang tidak sepakat, karena percaya bahwa ilmu itu netral alias bebas nilai. Karena itu semua ilmu dianggap Islami dan tidak perlu Islamisasi. Sebaliknya, mereka justru melihat Islam itu perlu diilmukan.
Sekurangnya terdapat dua masalah mendasar sebagai berikut ini:
Pertama, Kelambatan universitas Islam dalam mengembangkan epistemologi dan sains Islam. Ini disebabkan oleh terputusnya cendekiawan Muslim dengan tradisi intelektual Islam dan terlalu menekankan pada ilmu-ilmu naqliyyah dan sedikit mengkaji kembali ulum ‘aqliyyah;
Kedua, Lemahnya penguasaan cendekiawan Muslim tentang sains dan epistemologi Barat. Akibatnya adalah sikap apriori atau apresiasi terhadap Barat secara berlebihan, sehingga tidak dapat mengambil manfaat dari Barat secara cerdas.

Karena itu, kini di beberapa universitas Islam kajian sains dan ilmu humaniora baru pada tahap disandingkan dengan studi Islam atau hafalan al-Qur’an. Upaya lebih akademik untuk membangun struktur keilmuan Islam dengan basis epistemologi, metodologi penelitian dan teori-teori baru penelitian yang berdasarkan konsep-konsep Islam dapat dikatakan masih sangat minim, untuk tidak mengatakan tidak ada. Apalagi upaya untuk mengkaji secara kritis struktur keilmuan Barat sekuler untuk dapat mengadapsi kedalam struktur konsep keilmuan Islam masih sangat langka.

Mungkin baru pada disiplin ilmu ekonomi Muslim menyadari adanya teori, asumsi, dan metodologi yang tidak sesuai dengan Islam. Padahal disiplin ilmu lain juga banyak mengandung teori, asumsi dan metodologi yang tidak Islami.

Jika kesadaran ini dimiliki cendekiawan Muslim tentu akan nampak jalan panjang untuk mengembangkan konsep sains Islam, sosiologi Islam, politik Islam dan filsafat Islam, pendidikan Islam, multimedia dan komunikasi Islam dan sebagainya
Namun, untuk itu diperlukan kerjasama sinergis antara cendekiawan Muslim pakar di bidang studi Islam dan bidang sains Barat. Pengalaman kerjasama Universitas Gajah Mada dengan universitas di Mesir adalah permulaan yang baik dan dapat dikembangkan di masa depan.

Demikian pula pengalaman kerjasama UIN Alaudin Makassar, UIN Malang dengan berbagai universitas di Timur maupun di Barat merupakan pelajaran menarik.

Namun, persoalannya apakah kerjasama itu memberi kontribusi pada proses pembangunan konsep-konsep keilmuan Islam. Apakah disitu terjadi proses pembelajaran cerdas sehingga, seperti ulama di masa lalu, kita bisa menghasilkan ilmu-ilmu baru yang memiliki dasar epistemologi Islam yang kuat.

Isu penting lainnya dalam topik ini adalah bagaimana model studi Islam pada fakultas sains dan humaniora di tingkat universitas. Proposal menarik diajukan oleh Alparslan Acikgence dari Turkey.

Menurutnya, model studi Islam harus disusun mengikuti pola pembentukan worldview dalam diri seseorang. Bermula dari keyakinan dasar di tingkat sekolah hingga menjadi bersifat saintifik di tingkat universitas.

Jadi yang mestinya diajarkan pada fakultas-fakultas sains dan humaniora bukan lagi soal aqidah, syariat dan akhlaq. Tapi harus bidang ilmu yang relevan dengan fakultas dan program studi yang ditekuni mahasiswa sesuai dengan worldview mereka.

Lagi-lagi disini kerjasama sinergis antara cendekiawan Muslim bidang sains dan humaniora mutlak diperlukan. Tujuannya adalah menciptakan berbagai disiplin ilmu yang berbasis worldview Islam dan melahirkan ulama yang saintis yang menjadi rahmatan lil alamin. Inilah yang diimpikan oleh al-Attas pada kurang lebih empat dasawarsa yang lalu dan kini sedang ditunggu oleh masyarakat luas.

Islamisasi Ilmu Sekuler

Oleh: Dr Hamd FahmyZarkasyi

Sekitar tahun 1992 Prof. Dr. Mukti Ali disela-sela sebuah seminar di Gontor tiba-tiba bergumam, “Bagi saya Islamisasi ilmu pengetahuan itu omong kosong, apanya yang diislamkan, ilmu kan netral”. Prof. Dr. Baiquni yang waktu itu bersama beliau langsung menimpali “Pak Mukti tidak belajar sains, jadi tidak tahu dimana tidak Islamnya ilmu (sains) itu”.

Pak Mukti dengan antusias, menyahut “Masa iya, bagaimana itu?”, “Sains di Barat itu pada tahap asumsi dan presupposisinya tidak melibatkan Tuhan, alam ini dianggap bukan ciptaan Tuhan” jawab Baiquni. “Maka dari itu” lanjutnya, “ilmu yang dihasilkan adalah ilmu yang sekuler dan bahkan anti Tuhan”. Pak Mukti dengan kepolosan dan sikap akademiknya spontan menjawab lagi “Oh begitu”. Diskusi terus berlangsung dan soal ilmu serta Islamisasinya menjadi topik menarik.

Benarkah ilmu pengetahuan masa kini itu tidak mengakui adanya Tuhan. Pernyataan Prof. Baiquni sejalan dengan apa kata R.Hooykaas dalam Religion and The Rise of Modern Science.

Di Barat dunia dulunya digambarkan sebagai organisme, tapi sejak datangnya Copernicus hingga Newton bergeser menjadi mekanisme. Pergeseran cara pandang ini pada abad ke 17 telah diprotes pengikut Aristotle. Menurut mereka pandangan terhadap dunia yang mekanistis itu telah menggiring manusia kepada ateisme (kekafiran).

Tapi pendukung mekanisme seperti Beeckman, Basso, Gasendi dan Boyle tidak terima. Dengan dalih konsep mukjizat, Boyle misalnya, beralasan, gambaran mekanistis bisa juga religius. Karena jika materi dan gerak yang menjadi esensi organisme tidak cukup untuk menerangkan fenomena alam, maka ini berarti memungkinkan adanya intervensi Tuhan melalui mukjizat.

Artinya masih ada peran Tuhan disitu. Tuhan bisa sewaktu-waktu turun tangan mempengaruhi kausalitas alam semesta. Inilah occassionalisme yang menjadi doktrin Kristen hingga kini. Artinya Tuhan itu sangat transenden, berada jauh disana dan tidak terjangkau. Sementara alam berada disini dan tidak selalu dibawah pengawasan Tuhan.

Menggambarkan dunia sebagai mekanisme berarti melihatnya sebagai mesin. Bagi yang ateis mesin itu ada dengan sendirinya. Bagi yang tidak ateis mesin itu diciptakan.

Tapi di Barat kekuasaan Pencipta itu direduksi dan akhirnya dihilangkan. Dunia dulu diciptakan namun kini bebas dari Penciptanya. Masih belum lama ketika Henri de Monantheuil seorang penulis Perancis, pada tahun 1599, menyatakan bahwa Tuhan adalah pencipta mesin dan ciptaanNya, yaitu dunia ini, berjalan bagaikan sebuah mesin. Tentu, ini membuat jamaah gereja berang. Tuhan gereja dianggap tidak ikut campur urusan dunia.

Paham mekanisme tentang dunia inilah yang menguasai alam pikiran Barat modern. Paradigma positivisme dan empirisisme dalam sains Barat menjadi subur. Otoritas memahami dunia kini berpindah dari gereja ke tangan saintis.

Descartes, Gassendi, Pascal, Berkley, Boyle, Huygens dan Newton yang konon membela Tuhan, akhirnya merebut otoritas Tuhan. Kesombongan pemikir Yunani dengan ditiru dan jargonnya “Man is the standard of everything”. dinyanyikan ulang. Benar-salah, baik-buruk tidak perlu campur tangan Tuhan. Wahyu dikalahkan atau diganti dengan akal.

Jika dulu gereja bisa marah pada Copernicus dan Galelio dan menghukum mati Bruno, kini hanya dapat menangisi ulah para saintis. Sementara para saintis seperti tidak mau repot dan mengambil posisi, “yang tidak bisa dibuktikan secara empiris bukan sains”.

Teologi tidak bisa masuk dalam sains. Bicara fisika tidak perlu melibatkan metafisika. Argumentasi Francis Bacon sangat empiristis “Ilmu berkembang karena kesamaan-kesamaan, sedangkan Tuhan tidak ada kesamaannya”. Maka dari itu dalam teori idola-nya Bacon mewanti-wanti agar tidak melakukan induksi berdasarkan keyakinan.

Selain itu Bacon juga mengakui, kita ini bodoh tentang kehendak dan kekuasaan Tuhan yang tersurat dalam wahyu dan tersirat dalam ciptaanNya. Descartes berpikiran sama kehendak Tuhan tidak dapat dipahami sehingga menghalangi jalan rasionalisme. Terus? “kita tidak perlu takut melawan wahyu Tuhan dan melarang meneliti alam ini” katanya.

Sebab tidak ada larangan dalam wahyu. Tuhan memberi manusia hak menguasai alam. Oleh sebab itu kita bisa seperti Tuhan dan mengikuti petunjuk akal kita. Jadi, sebenarnya para saintis bukan tidak percaya Tuhan, tapi mereka kesulitan mengaitkan teologi dengan epistemologi. Tragedinya, standar kebenaran dan metode penelitian pun akhirnya dimonopoli oleh empirisisme rasional.

Sebenarnya argumentasi Descartes dan Bacon masih belum beranjak dari pertanyaan Ibn Rusyd kepada al-Ghazzali. Namun karena Ibn Rusyd terlanjur lebih populer di kalangan gereja dengan Averoismenya, pikiran al-Ghazzali tidak dianggap.

E. Gillson dalam karyanya Revelation and Reason jelas sekali menyalahkan Ibn Rusyd. Sebab dengan teori kebenaran gandanya ia dianggap telah menabur benih sekularisme pada Descartes, Malebanche, David Hume dan pemikir Barat lainnya.

Tuhan tetap disembah dan diyakini wujudNya, tapi tidak ditemukan hubungannya dengan pikiran, ilmu atau sains. Padahal, bagi al-Ghazzali, kehendak Tuhan tidak pernah bertentangan dengan rasio manusia. Kehendak Tuhan dalam realitas alam ini bisa dipahami secara rasional dengan satu kata sunnatullah.

Al-Attas segera sadar ilmu pengetahuan modern ternyata sarat nilai Barat. Andalannya akal semata dengan cara pandang yang dualistis. Realitas hanya dibatasi pada being yang temporal dan human being menjadi sentral.

Ismail al-Faruqi dan Hossein Nasr mengamini. Al-Faruqi menyoal dualisme ilmu dan sistem pendidikan Muslim. Nasr mengkritisi mengapa jejak Tuhan dihapuskan dari hukum alam dan dari realitas alam. Ketiganya seakan menyesali seandainya yang menguasai dunia bukan Barat eksploitasi alam yang merusak itu tidak pernah terjadi.

Ilmu yang seperti itu harus diislamkan, kata al-Attas. Namun mengislamkan ilmu itu tanpa syahadat dan jabat tangan sang qadi. Diislamkan artinya dibebaskan, diserah dirikan kepada Tuhan. Dibebaskan dari paham sekuler yang ada dalam pikiran Muslim.

Khususnya dalam penafsiran-penafsiran fakta-fakta dan formulasi teori-teori. Pada saat yang sama dimasuki konsep din, manusia (insan), ilmu (ilm dan ma’rifah), keadilan (‘adl), konsep amal yang benar (amal sebagai adab) dan sebagainya.

Jika Thomas Kuhn tegas bahwa ilmu itu sarat nilai, dan paradigma keilmuan harus dirubah berdasarkan worldview masing-masing saintis. Bagi santri yang cerdas tentu akan berguman laa siyyama (apalagi) Muslim.

Lalu apakah setelah itu akan lahir mobil Islam, mesin Islam, pesawat terbang Islam dan sebagainya? This is silly question, kata al-Attas suatu ketika. Yang diislamkan adalah ilmu dalam diri al-‘alim, dan bukan al-ma’lum (obyek ilmu), bukan pula teknologi. Yang diislamkan adalah paradigma saintifiknya dan sekaligus worldview-nya.

Jika paradigma dan worldviewnya telah berserah diri pada Tuhan, maka sains dapat memproduk teknologi yang ramah lingkungan. Teknologi bisa serasi dengan maqasid syari’ah dan bukan dengan nafsu manusia.

Dengan worldview Islam akan lahir ilmu yang sesuai dengan fitrah manusia, fitrah alam semesta dan fitrah yang diturunkan (fitrah munazzalah) yakni al-Qur’an, meminjam istilah Ibn Taymiyyah. Dengan paradigma keilmuan Islam akan muncul ilmu yang memadukan ayat-ayat Qur’aniyah, kauniyyah, dan nafsiyyah. Hasilnya adalah ilmun-naafi’ yang menjadi nutrisi iman dan pemicu amal. Itulah misykat (cahaya) yang menyinari kegelapan akal dan kerancuan pemikiran.

Timur

Hamid Fahmy Zarkasyi

Ketika saya berkunjung ke perpustakaan Islamic Research Academy di Leicester Inggris, photo copy disitu mendadak macet dan tidak ada yang nampak bisa memperbaiki. Tiba-tiba seorang yang berjanggut panjang dan berpakaian salwar gamis mencoba mengotak-atik mesin itu. Saya yakin dari logat Inggrisnya dia orang Pakistan atau India. Banyak yang antri photo copy waktu itu. Semua setengah kesal dan tidak sabar. Dan akhirnya dengan mudah mesin itu berfungsi kembali.

Kisahnya sederhana dan tidak penting. Yang penting apa yang dikatakannya kemudian. Sambil tersenyumdia berkata: “You see! wisdom always come from the East”. Lho! apa hubungannya? Kami diam sejenak, tapi kemudian tertawa renyah. Rasanya kami sedang memperolok-olok teknologi Barat. Teknologi itu kecil! Tidak ada apa-apanya dibanding wisdom dari Timur. Tapi, itu hanya olok-olok.

Makna Timur atau “orient” dapat dipahami hanya dalam konteks Barat “occident”. Ini bukan klasifikasi geografis dan nama dua mata angin. Tidak jelas siapa yang memulai mengolok-olok “kamu orang Timur! kamu orang Barat!”. Yang pasti orientalisme mendahului occidentalisme. Kini siapa yang disebut “orang Timur” dan “orang Barat” sudah jelas. Timur, kata Edward Said, adalah masyarakat dan bahkan spirit yang menakutkan Barat. (Orientalism, hal. 1-2).

Bahasa Edward nampak agak kasar, tapi gambaran yang tepat untuk fenomena perseteruan. Timur dan Barat bahkan seperti dua kutub yang mustahil bertemu. Saya lalu teringat dengan Iqbal. Ia memberanikan diri menghubungkan kutub itu dengan pesan-pesannya. Dia sadar tidak banyak yang berani menyampaikan pesan kepada Barat. Ia menulis:

“Saya tahu di kegelapan Timur, tidak ada cahaya tangan Musa atas Fir’aun”.

Pesan Iqbal untuk Barat dikompilasi dalam bentuk puisi, tahun 1923, berjudul Payam-i-mashriq (Pesan dari Timur). Pesan ini disampaikan sebagai jawaban atas ratapan Goethe seabad sebelumnya. Goethe (1749-1832) menulis buku West-Oestlicher Divan. Ia meratapi mengapa pandangan manusia Barat menjadi sangat materialistis. Ia berharap Timur dapat membawa misi yang menjanjikan nilai-nilai spiritual. Iqbal menjawab, moralitas dan agama itu penting bagi peradaban bung! Hidup ini tidak akan pernah meningkat tanpa memahami makna spiritualitas.

Ratapan Goethe dan pesan Iqbal masih tetap relevan hingga kini. Nyatanya para pendeta Kristen di Barat masih terus menyesali “spirituality has gone to the East”. Barat memang materialistis, individualistis dan mematikan rasa belas kasih dan persaudaraan antar manusia, kata Iqbal. Maka ia kemudian berpesan:

“Wahai penghuni negeri-negeri Barat, alam milik Tuhan ini bukan toko.

Yang kau anggap barang berharga akan terbukti bernilai rendah.

Peradaban anda akan bunuh diri dengan pisau anda sendiri.

Sarang yang dibangun di atas dahan yang rapuh tidak bertahan lama.”

Bait terakhir itu ia ulangi lagi dalam Bang-i-Dara “Peradaban yang hanya berdasarkan kapitalisme tidak akan berumur panjang”. Pasalnya tentu, karena kekurangan asas moralnya dan lack of wisdom.

Sejalan dengan kegelisahan Goethe, pesan Iqbal dialihkan ke Karl Marx (1818-1883). Iqbal kagum pada gagasan ekonomi Marx. Karena terlalu kagum, ia menyebut Marx sebagai “nabi” tanpa wahyu”. Orang seperti Marx boleh jadi “hatinya beriman tapi otaknya kafir”. Karena itu, pesan Iqbal, baiknya Marx kembali kepada agama dan nilai-nilai spiritual. Pesan itu secara puitis dituangkan dalam Javid Namah “Orang Barat kehilangan visi tentang surga. Mereka berburu mencari spirit murni dari perut.”

Iqbal pun berpesan kepada Nietzsche (1884-1900). Nietzsche adalah pemikir cengeng. Ia merintih bagai orang tua dan menangis cengeng seperti anak kecil. Ketika pikirannya buntu ia menangis “where is man”. Siapa yang bisa saya “orangkan”. “Aku perlu guru (master)”, katanya. Master yang bisa membimbing jiwa. Sayangnya teriakannya tidak bisa memanggil orang semerdu azan, dan tidak mampu mengusik telinga sekuat musik rock. Tangisan Nietzsche adalah nyanyian spiritual yang tidak lagi digubris di Barat. Mencari guru spiritual di Barat hanyalah utopia.

Anehnya, dalam kesunyian spiritualnya dan kebuntuan intelektualnya Nietzsche menawarkan gagasan Superman. Iqbal pun segera tahu, gagasan itu pinjaman dari literatur Islam atau Timur. Sayangnya baju Superman itu tidak berlabel S (baca: Spiritualisme), tapi M (baca: Materialisme). Superman “ciptaannya” hanyalah makhluk biologis yang tanpa moral dan spiritual.

Nietzsche hanya membuang tenaga dan waktu saja, kata Iqbal. Gagasan Superman, tanpa melibatkan realitas khudi (Tuhan) adalah omong kosong. Pancaran sinar matanya hanya dapat menembus dimensi fisik. Konsepnya hanya setingkat kemanusiaan (nasut).

Masih ada dua tingkat lagi yang belum dilalui: realisasi diri dalam konteks sosial dan kesadaran ketuhanan (lahut). Iqbal pun gregetan: “Kalau orang Barat itu (maksudnya Nietzsche) masih hidup hari ini, tentu aku akan menjelaskan tingkat Kesadaran Ketuhanan ini”. Mestinya Superman diganti dengan Insan Kamil, kombinasi dari kesadaran ketuhanan (lahut) dan kemanusiaan (nasut).

Masih soal manusia, Iqbal juga berpesan kepada kaum Feminis. Gerakan wanita modern ini, kata Iqbal, memisahkan wanita dari tanggungjawab biologisnya. Peranan tertinggi wanita itu adalah ibu bangsa.

Tapi wanita modern terlanjut menabur benih individualisme. Kodrat kewanitaan dikorbankan untuk mengisi perut. Ini sama saja dengan bunuh diri, lanjutnya. Hasilnya wanita Barat hanya memiliki kebebasan dan sanjungan. Sementara wanita Timur juga memiliki kebebasan tapi dengan segala kehormatan dan penghargaan (with respect and honor). “Barat tidak memahami wisdom dibalik kerudung wanita Timur”, katanya.

Jadi, benarkah wisdom selalu datang dari Timur?

Rabindranath Tagore peraih hadiah Nobel sastra dari India membenarkan. Kata bijak “Cintailah musuhmu” diucapkan Nabi dari Timur. ”Taklukkan kemarahan dengan kesabaran, kejahatan dengan kebaikan” juga wisdom Nabi yang lain dari Timur. Tapi kata-kata “Kenali Musuhmu”, vini, vidi, vici, we are the super power dan sebagainyakeluar darimulut orang Barat.

Tapi Tagore tidak selugas Iqbal. Ia sering menyampaikan pesan dari Timur ke Barat, Tapi ia seperti ragu apakah Barat akan mendengar pesan-pesannya. Di Jerman ia pernah menulis: “Namaku matahari. Hingga kini aku hanya menyinari Timur. Kini sang matahari beranjak ke Barat. Untuk melihat apakah ia dapat menyinari negeri-negeri itu, sehingga mereka mengalihkan pandangan kepadanya, Yang tidak mempedulikan Timur atau Barat.

Tagore tidak punya rasa like dan dislike kepada Barat, ia malah tidak peduli Timur atau Barat. Orang Barat yang bijak mestinya juga begitu. Orang Timur yang bijak malah menegur Barat, seperti tangan Musa menegur Fir’aun. Hanya orang Timur yang “tolol” dan tidak tahu Timur akan membenci Timur. Persis seperti kata Gai Eaton, dalam King of Castle: The core of all stupidity is lack of self knowledge.

Goethe dan Tagore sama bijaknya. Tagore tidak peduli Timur atau Barat, Goethe menganggap Timur dan Barat sama-sama milik Tuhan. Ia menulis:

Gottes ist der Orient,

Gottes ist der Okzident.

Tuhan adalah pemilik Timur. Tuhan adalah pemilik Barat. Luar biasa! Orang mungkin terperangah dengan diktum Goethe ini. Tapi A. Dasgupta penulis buku Goethe and Tagore, segera tahu ternyata Goethe diam-diam memplagiat ayat al-Qur’an, wa lillaahi al-mashriq wa al-magrib. Hanya saja pada bait selanjutnya Goethe menambahi “The Northland and the Sotherrn land, Rest in the quiet of His hand”. Masalahnya, Barat itu milik Tuhan tapi Barat sendiri tidak memiliki Tuhan.

Jadi, benarkah wisdom selalu datang dari Timur?

Benar!, Kalau setuju bahwa Timur (syarq) adalah tempat terbit dan Barat adalah tempat tenggelam (gharb). Faktanya semua agama terbit dari Timur, tapi ketika di Baratkan (seperti Kristen) ia justru tenggelam. Mungkin pengakuan Hakim Agung Amerika Serikat tahun 70an William O. Douglas seperti membenarkan kata orang berjanggut di Leicester itu “One great contribution of the East to the West is charity or love, as epitomized by Muhammad….”. itulah hikmah atau wisdom itu.

Filsafat Agama

FILSAFAT AGAMA

Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Baru-baru ini (2011) Kementerian Agama melalui Dirjen Diktis mencoret program studi (prodi) filsafat Islam menjadi filsafat agama. Padahal filsafat Islam ada dalam khazanah pemikiran Islam dan juga telah menjadi prodi di banyak perguruan tinggi Islam. Sedangkan filsafat agama merupakan produk dari kajian agama di Barat dan tidak ada dalam tradisi intelektual Islam.

Sejak zaman modern diskursus agama Di Barat berpindah dari tangan teolog ke tangan para filosof. Pernyataan theology was subservient to philosophy atau under the tutelage of philosophy adalah realitas yang tidak disesali.Artinya, teologi menjadi bulan-bulanan para filosof. Untuk sekedar menyebut beberapa nama, Sartre, Heidegger, Jung, Ludwig Feurbach, William James, Nietzsche, Kant dan lain-lain adalah filosof-filosof yang bicara soal agama. Padahal mereka tidak punya otoritas untuk bicara teologi.Para pakar sosiologi, psikologi, antropologi dan lain-lain pun ikut-ikutan membawa agama ke ranah disiplin mereka. Para sosiolog menggunakan teori evolusi Charles Darwin (1809-1882) untuk menjustifikasi adanya perubahan dalam agama. Herbert Spencer (1820-1904) juga mengikuti. Friedrich Max Muller (1794-1827), Emile Durkheim (1858-1917), Rudolf Otto (1869-1937) dan lain-lain mengaitkan agama dengan realitas sosial. Akhirnya, wacana keagamaan mereka itu tidak lagi bisa disebut teologi, mereka lalu menciptakan apa yang mereka sebut philosophy of religion.Filsafat Agama adalah suatu disiplin ilmu yang metode dan basis teorinya adalah filsafat Barat. Obyeknya adalah semua agama. Maka ketika filsafat membahas agama-agama itu, worldview Barat berada pada posisi bird-eye. Doktrin filsafat berada diatas doktrin agama-agama. Disini pembahasan agama berada pada zone bebas agama tapi tidak bebas dari worldview Barat. Di era postmodern disiplin ilmu ini kemudian dikembangkan menjadi Filsafat Agama Lintas Kultural (Cross-Cultural Philosophy of Religion). Ini berarti bahwa obyek kajian filsafat agama diperluas dari sekedar agama yang ada dalam kultur Barat menjadi agama-agama dan kepercayaan yang berasal dari kultur lain. Metode dan cara pandangnya tetap pemikiran filsafat, sosiologi dan antropologi Barat. Agama hanya dianggap sebagai produk dari kreatifitas manusia dan akan terus berubah sebagaimana makhluk hidup (living organism). Namanya pun dirubah menjadi sekedar penumpukan tradisi (cummulative tradition).Namun, menurut Thomas Dean, benih-benih disiplin ilmu filsafat agama telah ada sejak tahun 1950an, ia berbuah pada tahun 1960an, membesar pada tahun 1970an dan menjadi buah masak pada tahun 1980an.Benihnya adalah buku filsafat agama Ninian Smart (1958) Reason and Faith. Diikuti oleh karya Wilfred Cantwell Smith The Meaning and End of Religion (1960), yang membahas pemahaman agama lintas kultural dan kehidupan keagamaan sebagai sebuah dynamic historical continuum, dan bukan merupakan sistem tertutup. Periode pembesaran, ditandai oleh penerbitan esai analitis William Christian, Opposition of Religious Doctrines (1972).Ditambah lagi ketika karya “kroyokan” para filosof dan pakar sejarah agama yang berjudul Truth and Dialogue in World Religions: Conflicting Truth-Claim (1974) dan yang disunting John Hick terbit. Buah itu menjadi semakin besar ketika Raimundo Panikkar menerbitkan bukunya, The Intrareligious Dialogue (1978) dan Hick sendiri menulis buku Philosophy of Religion.Sebagai titik kulminasi dari wacana ini adalah terbitnya karya Wilfred Smith yang berjudul Towards World Teology, dan karya John Hick berjudul Problems of Religious Pluralism (1985) dan Interpretation of Religion (Gifford Lecture, 1986-87). Didalam karyanya inilah Hick mendeklarasikan perlunya teologi global. Jadi “buah masak” dari disiplin filsafat agama adalah pluralisme agama. Goal getter nya adalah Smith dan Hick. Jika seseorang memilih menjadi sarjana program studi filsafat agama di perguruan tinggi Islam boleh jadi ini hanya akan menambah barisan penggugat fatwa MUI. Artinya dari prodi ini akan lahir sarjana-sarjana pluralis yang akan percaya bahwa semua agama itu sama benarnya dan Islam bukan yang paling benar.

Barat

Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Suatu hari David Thomas, pendeta dan Profesor teologi di Selly Oak College, Universitas Birmingham, Inggris ditanya seorang mahasiswanya yang Muslim: “Are you happy with the Western civilization?” “No, not at all” jawabnya tegas. “Why?”, tanyanya. Sebab, paparnya, Barat dan orang-orang Barat maju dan berkembang bukan karena Kristen. Bos pabrik cokelat Cadbury, katanya mencontohkan, menyumbang dana jutaan Poundsterling untuk membangun perpustakaan Selly Oak bukan karena ia seorang Kristen, tapi karena ia kaya dan punya dana sosial lebih.

Jawaban Thomas mengungkap fakta sejarah. Barat bukan Kristen. Sejarawan Barat seperti Onians, R.B, Arthur, W.H.A, Jones, W.T.C, atau William McNeill, umumnya menganggap “Ionia is the cradle of Western civilization” dan Bukan Kristen. Agama Kristen malahan telah ter-Baratkan. Thomas sepertinya ingin mengatakan bahwa Barat tidak lahir dari pandangan hidup Kristen.

Sosoknya mulai nampak ketika marah dan protes terhadap otoritas gereja. Agama dipaksa duduk manis di ruang gereja dan tidak boleh ikut campur dalam ruang publik. Diskursus teologi hanya boleh dilakukan dengan bisik-bisik. Tapi orang boleh teriak anti agama. Hegemoni diganti dengan hegemoni. Barat adalah alam pikiran dan pandangan hidup.
Teriakan Nietzsche “God is dead” masih terdengar hingga saat ini. Dalam The Gay Science ia mengatakan, “ketika kami mendengar “tuhan yang tua itu mati” kami para filosof dan “jiwa-jiwa yang bebas” merasa seakan-akan fajar telah menyingsing menyinari kita”.

Kematian tuhan di Barat ditandai oleh penutupan diskursus metafisika tempat teologi bersemayam. Tuhan bukan lagi supreme being. Tidak ada lagi yang absolute. Semua relatif. Kalau anda mengklaim sesuatu itu benar maka orang lain berhak menghakimi itu salah. Tuhan tidak lagi bisa diwakili. Ia telah mati. Barat adalah alam pikiran dan pandangan hidup.

Mengapa tuhan perlu dibunuh? Kalau Marx menganggap agama sebagai candu masyarakat, Nietzsche menganggap tuhan sebagai tirani jiwa (tyrant of the soul). Beriman pada tuhan tidak bebas dan bebas berarti tanpa iman. Sebab beriman berarti sanggup menerima perintah, larangan atau peraturan yang mengikat. Barat adalah alam pikiran pandangan hidup.

Sejarah Barat adalah sejarah pencarian “kebenaran”. Tapi mencari kebenaran di Barat lebih penting dari kebenaran itu sendiri. Mencari untuk mencari, ilmu untuk ilmu, seni untuk seni. Sesudah “membunuh tuhan” Barat mengangkat tuhan baru yakni logocentrisme atau rasionalisme.

Tidak puas dengan tuhan baru mereka mengangkat liberalisme. Namun kini liberalisme seperti moncong bedil. Pandangan-pandangan yang tidak “setuju” harus keluar atau berhadapan. “You are with us or against us”.
Liberalisme membawa gagasan kepelbagaian (multiplicities), kesamarataan, (equal representation) dan keraguan yang menyeluruh (total doubt). Barat kini adalah sosok yang tanpa wajah. Atau seperti kata Ziauddin Sardar wajah yang tanpa kebenaran (no truth), tanpa realitas (no reality), tanpa makna (no meaning). There is no comfort in the truth. Setting alam pikiran Barat ini dihukumi Francis Fukuyama sebagai akhir dari sejarah (the end of History).

Diskursus tentang God-man & God-world relation di abad pertengahan kini sudah tidak relevan. Humanisme telah mendominasi dan menyingkirkan teisme. Akibatnya, teologi tanpa metafisika, agama tanpa spiritualitas atau bahkan religion without god.

Teologi (theos dan logos) secara etimologis tidak lagi memiliki akar ketuhanan. Istilah teologi pembebasan, teologi emansipasi, teologi menstruasi dan sebagainya tidak lagi berurusan dengan Tuhan. Agama bagi postmodernisme tidak lebih dari sebuah narasi besar (grand narrative) yang dapat diotak-atik oleh permainan bahasa. Makna realitas tergantung kepada kekuatan dan kreatifitas imaginasi dan fantasi. Feeling is everything kata Goethe.

Kebenaran itu relatif dan menjadi hak dan milik semua. Kebenaran adalah ilusi verbal yang diterima masyarakat atau tidak beda dari kebohongan yang disepakati. Etika harus di- globalkan agar tidak ada orang yang merasa paling baik. Baik buruk tidak perlu berasal dari apa kata Tuhan, akal manusia boleh menentukan sendiri.

Barat adalah alam pikiran pandangan hidup. Seperti juga Barat, Kristen, Islam, Hindu, bahkan Jawa adalah sama-sama pandangan hidup. Meski sama namun kesamaan hanya pada tingkat genus, bukan species. Masing-masing memiliki karakter dan elemennya sendiri-sendiri.

Jika elemen-elemen suatu pandangan hidup dimasuki oleh elemen pandangan hidup lain, maka akan terjadi con-fusion alias kebingungan. Margaret Marcus (Maryam Jameelah), malah mengingatkan jika pandangan hidup Barat menelusup kedalam sistem kepercayaan Islam, tidak lagi ada sesuatu yang orisinal yang akan tersisa.
Benar, ketika elemen-elemen Barat yang anti Kristen dipinjam anak-anak muda Muslim, maka mulut yang membaca syahadat itu akan mengeluarkan pikiran ateis. Tuhan yang Maha Kuasa, bisa menjadi “Tuhan yang maha lemah”, al-Qur’an yang suci dan sakral tidak beda dari karya William Shakespear, karena ia sama-sama keluar dari mulut manusia.

Jika umat Islam ingin maju seperti Barat maka ia akan menjadi seperti Barat dan bukan seperti Islam. Dan suatu hari nanti akan ingat keluhan David Thomas atau tangisan Tertulian yang sudah lapuk “Apalah artinya Athena tanpa Jerussalem”. Maksudnya apa artinya kemajuan ilmu pengetahuan jika tanpa didukung agama. Apa arti ilmu tanpa iman.

Islam adalah Barat

Sarlito Wirawan Sarwono ; Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
KOMPAS, 09 November 2014

Pada zaman dulu kala orang-orang Mesir percaya ada makhluk kombinasi seperti Sphinx, makhluk berkepala singa, bersayap garuda dan berekor ular yang doyan makan manusia. Orang Yunani percaya ada Centaurus, yaitu manusia yang bertubuh kuda.

Orang Yunani dan Roma juga percaya pada para dewa, makhluk- makhluk abadi yang menguasai alam semesta, tetapi bersifat seperti manusia, termasuk juga mempunyai nafsu asmara dan angkara murka, seperti misalnya dewi kecantikan dan seks yang diYunani disebut Aphrodite dan dalam mitologi Romawi kuno disebut Venus. Atau dewa laut Yunani, Poseidon, yang di Romawi disebut Neptunus.

Mereka juga kawin-mawin dengan hewan dan/atau dilahirkan dari hewan, seperti Ekhidna, yaitu makhluk setengah wanita setengah ular yang merupakan istri Tifon, dan tentu saja putri duyung (mermaid) yaitu wanita cantik bertubuh ikan, yang menikah dengan raja yang tampan. Tetapi pada 384-322 sebelum masehi, hiduplah seorang filsuf yang pikiran-pikirannya sangat berpengaruh sampai hari ini, yang bernama Aristoteles.

Dia mengajarkan untuk pertama kalinya ilmu logika, yang isinya antara lain adalah hukum ”All or None ” (seluruhnya atau bukan sama sekali), yaitu bahwa sesuatu itu adalah ”X” atau ”Bukan- X”. Tidak ada setengah X, atau campuran X dan Y.

Atas dasar itu ia membagi makhluk hidup di dunia ini ke dalam tiga golongan, yaitu anima vegerativa (tanaman yang hidup dan berkembang biak saja), anima sensitiva (hewan yang hidup dan mempunyai indera), dan anima intelektiva (yaitu hewan yang hidup, berindera dan punya fungsi mnemic atau memori).

Maka sejak itu di Barat berkembang ilmu pengetahuan yang dasarnya adalah logika Aristoteles dan berkembang sampai ke kawasan Timur Tengah. Maka, sejak itu pulalah makhluk-makhluk campuran yang bisa saling kawin-mawin tinggal menjadi mitos saja. Ilmu dan agama-agama yang lahir di Barat kemudian berkembang dengan mengikuti logika Aristoteles.

Islam adalah yang paling konsisten dengan logika Aristoteles itu, misalnya Islam membedakan dengan sangat jelas tumbuhan, hewan, dan manusia dari malaikat, dan setan; dan antara dunia dengan akhirat. Tuhan di mata Islam adalah tunggal, tidak dilahirkan dan tidak berketurunan. Tetapi di Timur (India, Tiongkok, Jepang, zaman dulu Amerika belum ditemukan), tidak ada Aristoteles.

Karena itu logika Timur berbeda sekali dengan logika Barat. Tuhan yang menurut kepercayaan-kepercayaan timur disebut dewa bisa banyak (Hindu, Konghucu). Setiap orang yang sangat baik hati, bisa dipromosikan menjadi dewa. Dewa-dewanya orang Hindu Bali dengan orang Hindu Nepal bisa berbeda sekali.

Berbeda dengan saya yang terkadang salat di berbagai masjid di seluruh dunia tanpa halangan apa-apa (kecuali bahasa pengantar lokal yang saya tidak mengerti), seorang dokter kawan saya yang kebetulan dari Bali, ketika kami mengikuti konferensi di Nepal, langsung keluar dari kuil tempat pemujaan Hindu lokal, katanya, ”Enggak enak, dewa-dewanya enggak ada yang saya kenal.”

Orang Buddha, bahkan punya konsep tentang Tuhan yang berbeda sama sekali dengan konsep agama lain, di mana yang penting adalah perbuatan baik dari setiap orang, agar nantinya bisa reinkarnasi ke kehidupan yang akan datang dan menjadi manusia yang makin baik dan makin baik lagi, sehingga akhirnya moksa (bukan surga loh), seperti sang Buddha sendiri.

Bagaimana dengan Indonesia? Sebelum mengenal Islam dan Kristen, kerajaan-kerajaan di Nusantara, terutama Jawa dan Sumatera, sudah mengenal animisme, dinamisme dan agama Buddha dan Hindu terlebih dulu. Di Bali bahkan sampai sekarang agama Hindu masih merupakan agama mayoritas. Tidak mengherankan jika pengaruh logika Timur masih sangat kental di Indonesia.

Di Jawa Tengah, misalnya, kalau ada orang meninggal, diadakan acara berdoa bersama atau dalam istilah Islam Jawa ”tahlilan” (Jawa: ”slametan”) pada hari ketiga, ketujuh, keempatpuluh, sampai ke 100 hari, bahkan 1.000 hari. Demikian pula ada kebiasaan mengunjungi makam atau berpuasa pada hari-hari/ peristiwa-peristiwa tertentu.

Hubungan manusia dengan roh gaib, bahkan dengan Tuhan digambarkan sebagai manunggaling kawula lan gusti (bersatunya manusia dengan Tuhan) atau yang dalam Islam disebut sufisme yang sangat ditentang oleh golongan yang ingin mengembalikan agama ke jalan seperti yang dicontohkan oleh para nabi pada zamannya (Islam yang dipahami oleh pengikut aliran Wahabi dan Salafi).

Orang Indonesia juga masih percaya pada babi ngepet (siang jadi manusia, malam jadi babi, karena mengikuti ilmu hitam untuk mencari kekayaan), dan di ceritacerita wayang (yang aslinya dari India) ada Gatotkaca yang bisa terbang, Bima yang beristrikan seekor ular, dan Semar si manusia sekaligus dewa.

Kebiasaan dan kepercayaan- kepercayaan ini dilakukan juga oleh penganut agama Kristen di Jawa, tetapi tidak oleh muslim di Sumatera Barat. Ini tidak berarti bahwa muslim Sumatera Barat lebih beriman dan bertakwa dari muslim di Jawa, tetapi memang agamaagama yang sama, ketika berkembang di daerah kebudayaan yang berbeda akan melahirkan kebiasaan yang berbeda pula.

Inilah yang disebut akulturasi budaya, atau yang dalam istilah ilmu perbandingan agama disebut sinkretisme. Sekarang ada kecenderungan orang untuk kembali ke agama masing-masing sesuai asalusulnya. Maka semua yang tidak berasal dari agama versi orisinal (asli dari sononya) dianggap salah, kafir, dan harus diberantas, kalau perlu dengan perang dan darah!

Banyak di antara mereka yang menyatakan bahwa musuh Islam adalah Barat, karena kebudayaan Barat yang masuk Indonesia (Westernisasi) telah membawa budaya imperialisme, kapitalisme, demokrasi, dan konsumtivisme, pokoknya destruktif. Padahal, semua itu bukan agama yang bermain, melainkan politik. Dalam kaitannya dengan logika Aristoteles, agama Islam itu sama saja dengan agama-agama samawi lain yang berasal dari Barat.

Sifat-sifat Asasi Peradaban Barat

September 29, 2014

Bentuk : Rangkuman Diskusi Pekanan DISC 1 Dzulqoidah 1435 AH/26 September 2014 M
Pemateri : Tri Shubhi Abdillah
Perangkum : Yogi T. Rinaldi

Mengenali lawan dalam sebuah peperangan adalah sebuah strategi yang amat penting. Ketidaktahuan dalam mengenali lawan hanya akan membuat serangan-serangan yang dilancarkan tidak tepat sasaran. Tampaknya itu yang hendak disampaikan di awal perenggan sembilan oleh Syed M. Naquib al-Attas di dalam bukunya Risalah untuk Kaum Muslimin, ketika hendak menjelaskan apa sebenarnya Kebudayaan Barat.

Kaum Muslimin belum sepenuhnya mengetahui apa sebenarnya Kebudayaan Barat. Ketidaktahuan ini menyebabkan ketidakmampuan kaum Muslimin dalam mengukuhkan kedudukannya ketika menghadapi serangan-serangan yang diluncurkan oleh Kebudayaan Barat. Oleh karena itu, seyogyanya kaum Muslimin mengetahui sifat-sifat asasi Kebudayaan Barat itu.

Unsur-unsur Pembentuk Peradaban Barat

Kebudayaan Barat merupakan hasil adonan daripada unsur-unsur Kebudayaan Yunani Kuno, Kebudayaan Romawi, dan unsur-unsur lain dari hasil cita-rasa dan gerak-daya bangsa-bangsa Eropa sendiri, khususnya dari suku-suku bangsa Jerman, Inggris dan Prancis. Dari kebudayaan Yunani Kuno, mereka telah meletakkan dasar-dasar falsafah, kenegaraan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan kesenian; dari Kebudayaan Romawi, mereka telah merumuskan dasar-dasar undang-undang, hukum dan ketatanegaraan. Agama Kristen, meskipun berhasil memasuki benua Eropa, tetapi tidak berhasil meresap ke dalam qolbu Peradaban Barat.

Seorang pendeta dan profesor teologi di Selly Oak College, Universitas Birmingham, menyatakan bahwa Barat dan orang-orang Barat maju bukan karena Kristen. Dia mencontohkan, bahwa bos Pabrik Coklat Cadbury menyumbang dana jutaan Poundsterling untuk membangun perpustakaan di Selly Oak bukan karena dia seorang Kristian, tapi karena dia kaya dan punya dana sosial lebih. Profesor ini sepertinya ingin mengungkapkan bahwa Barat tidak lahir dari pandangan hidup Kristen.

Sebenarnya bukan Kristen yang berhasil mengubah Barat, tetapi Baratlah yang telah mengubah agama Kristen. Agama ini, telah diambil-alih dan diubah-gantikan oleh Peradaban Barat demi melayani dan agar dapat selaras dengan kepercayaan-kepercayaan yang dianut Peradaban Barat sebelum masuknya agama Kristen. Peradaban Barat telah berhasil mencampuradukkan ajaran-ajaran Yunani Kuno dan Romawi yang kemudian menjelma menjadi agama Kristen. Menurut al-Attas, agama yang berasal dari Asia Barat ini adalah satu-satunya agama yang telah berpindah dari pusat aslinya, yaitu dari Darussalam Palestina ke Roma Italia. Perpindahan ini pada hakikatnya adalah suatu bentuk pembaratan (westernization) dan penyerapan unsur-unsur Barat secara berangsur-angsur dan berturut-turut. Oleh sebab itu, dari sudut pandang Islam, terdapat dua agama Kristen: Kristen awal dan benar, dan Kristen versi Barat. Kristen awal dan benar adalah Kristen yang dibawa oleh Nabi Isa As. yang sesuai dengan Islam. Mereka adalah mukmin dan muslim.

Islam pun turut mempengaruhi Peradaban Barat pada Abad Pertengahan dengan menyumbangkan unsur-unsur penting dalam ilmu pengetahuan sains dan teknologi. Akan tetapi perkembangan yang amat mempengaruhi kemajuan Peradaban Barat ini kemudian mengikuti bawaan jiwa asli Peradaban Barat, yakni menceraikan nilai-nilai agama dari setiap elemen kehidupan. Alhasil, Kebudayaan Barat adalah kebudayaan yang hampa dari agama, kebudayaan yang telah membunuh tuhan seperti yang digemakan oleh Nietzsche, yang tidak lain adalah pembunuhan agama Kristen.

Sifat-sifat Asasi Peradaban Barat

Setelah Peradaban Barat membunuh tuhan, mereka kemudian malah mengangkat akal (rasio) mereka sebagai tuhan untuk membimbing manusia Barat. Oleh sebab itu, sebenarnya Peradaban Barat bukan berasaskan pada agama (Kristen) tetapi filsafat, karena itulah tidak ada agama dalam jiwa pengalaman mereka, suatu ketetapan akan keyakinan.

Sebelum kemunculan agama Kristen, pada zaman Olimpus Yunani Kuno, alam tidak dipisahkan dari dewa-dewa. Akan tetapi ketika kemerosotan agama terjadi di kalangan orang Yunani, dewa-dewa itu secara berangsur-angsur disingkirkan dari alam tabii. Ini kemudian menghasilkan kehampaan akan makna spiritual. Pada awalnya, kosmologi Yunani sebagaimana manusia zaman kuno lainnya, diserapi oleh kepercayaan bahwa ada kekuatan spiritual yang mengatur, memelihara dan menopang alam semesta. Mereka menyebutnya dengan archē sebagai substansi spiritual yang membentuk dasar semua realitas. Setelah dewa-dewa itu diusir dari masing-masing tempatnya di alam tabii, filsafat Yunani mengalami perubahan tafsir terhadap alam, yang menjadi lebih berupa penjelasan alamiah dan ‘rasional’.

Postulat bahwa alam semesta tercipta dari anasir-anasir utama seperti air, udara, tanah dan api adalah sebagai bukti penjelasan alamiah itu. Hal tersebut seperti diyakini oleh Thales (624—546 SM), Anaximenes (585—528 SM), Diogenes (w. 460 SM), Hippasus, Herakleitos (535—475 SM) dan Empedokles (490—430 SM). Semenjak terusirnya kepercayaan terhadap mitos dewa-dewa, filsafat Yunani mengangkat akal (rasio) sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Apa yang dapat dicerap oleh indra, yakni yang empirik dan rasional adalah yang ada (wujud) dan benar.

Kemudian, ketika Aristoteles (384—322 SM) memperkenalkan filsafat Yunani kepada dunia Romawi di mana kemudian agama Kristen merumuskan dan membentuk dirinya sebagai agama Kekaisaran Romawi dan dunia Barat, Rasionalisme murni ini beserta naturalismenya melucuti alam tabii dari makna spiritualnya, sehingga alam hanya dapat dikenali dan dimengerti oleh rasio manusia. Meski tidak dimungkiri masih ada bentuk-bentuk filsafat lain yang mengakui pentingnya spiritual dari alam tabii dan metafisika dalam dunia Yunani, tetapi Aristotelianisme lebih memegang pengaruh.

Akibat dari pemisahan spiritual dari alam tabii adalah munculnya pandangan Dualistik. Faham dualisme ini mengikrarkan adanya dua hakikat dan kebenaran yang senantiasa terpisah serta bertentangan. Manusia terjerembab pada dua hal yang senantiasa dikotomis dan tidak dapat disatukan, seperti fisika dan metafisika, Tuhan dan alam, ruhani dan jasmani, material dan immaterial, ilmu dan tanzil, dunia dan akhirat, kepercayaan dan ilmu pengetahuan, akal dan wahyu, tekstual dan kontekstual, agama dan negara, dan sebagainya. Syed M. Naquib menyebutnya dengan pandangan Sekular dan syirik yang berbeda dengan tawhid.

Lagi-lagi karena pengagungan terhadap akal secara berlebihan akhirnya Peradaban Barat memungkiri peran wahyu yang dibawa oleh agama. Segala sesuatu yang berasal dari agama bagi Peradaban Barat akhirnya hanya dapat dipercayai (iman), tidak termasuk ilmu pengetahuan. Pengingkaran terhadap kepercayaan agama, yang telah menjadi sifat bawaannya, kemudian diperkukuh pula oleh kekecewaannya dalam pengalaman beragama (Kristen) pada Abad Pertengahan, yang tidak berhasil menjamin keyakinan dan yang hanya penuh dengan dugaan-dugaan itu menjadikan manusia Barat sebagai manusia yang Sekular. Akibatnya memunculkan sebuah faham pandangan hidup, yang biasa disebut dengan nama Humanisme.

Faham Humanisme berkeyakinan bahwa manusia dapat menentukan kebenarannya sendiri. Manusia dianggap mempunyai kapasitas untuk berkembang sendiri tanpa agama dan Tuhan. Manusia dapat mengetahui baik dan buruk dengan akalnya. Humanisme menjadikan manusia sebagai satu-satunya ukuran segala sesuatu. Humanisme tiada lain adalah antroposentrisme yang berbeda sepenuhnya dengan teosentrisme. Humanisme adalah sebuah agama baru yang mulanya berteduh di dalam rumah agama, tetapi kemudian keluar dan memaki agama.

Anehnya akhir-akhir ini sering kali kita jumpai istilah yang saling bertentangan tetapi seolah mencoba disatukan seperti “Kristen Humanis”, “Muslim Humanis”, “Humanisme Islam” atau yang lainnya. Teologi agama seolah berorientasikan manusia, bukan lagi berdasarkan wahyu. Lagi-lagi ini adalah sebuah pandangan yang sekular.

Selain pengagungan yang berlebihan kepada rasio, faham dualisme dan pandangan-alam sekular, Peradaban Barat juga bercirikan tragedi. Pandangan Hidup yang tragis, menurut al-Attas, yaitu menerima pengalaman kesengsaraan hidup sebagai satu kepercayaan yang mutlak yang mempengaruhi peranan manusia dalam dunia.

Semenjak zaman Yunani Kuno, bangsa-bangsa Yunani Kuno menganggap tragedi sebagai satu unsur penting kehidupan manusia; bahwa manusia itu merupakan pelakon dalam drama kehidupan dan pahlawan-pahlawannya membayangkan watak yang tragis. Faham tragedi kehidupan ini disebabkan oleh kehampaan qolbu dan iman. Kehampaan iman adalah akibat dari falsafah yang mengikrarkan adanya dua hakikat yang saling bertentangan satu sama lain hingga menimbulkan syak serta ketegangan jiwa. Keadaan jiwa yang tiada tenteram ini mengakibatkan pula perasaan takut dan sedih menjalani dan mengenang nasib diri.

Manusia Barat meyakini bahwa kehidupan manusia adalah sebuah episode-episode tragedi yang harus dilalui. Bahkan mereka berkeyakinan bahwa nasib terburuk bagi manusia adalah dilahirkan. Kehampaan hati dari nilai-nilai spiritual yang kemudian diisi oleh perasaan tragis ini menganjurkan manusia Barat mencari jawaban dari persoalan-persoalan hidup, untuk giat berusaha menyelidiki, mengkaji dan mereka-reka teori baru, dan mengemukakan masalah asal-usul alam semesta dan manusia. Hasil fikiran tersebut dianggap sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang tidak lain hanyalah sekedar syak dan wasangka. Pengembaraan dan pencarian jawaban persoalan-persoalan tersebut malah menjadi semangat Peradaban Barat. Anehnya, mereka tidak ingin mengakhiri pencarian tersebut, justru pencarian tersebut bagi mereka setidaknya dapat mengurangi beban kekosongan dan kesunyian jiwa. Seolah-olah hal tersebut menjadi penawar hati yang tegang.

Menurut al-Attas, manusia Barat itu adalah seperti pejalan haus yang pada pertama kalinya secara tulus mencari air pengetahuan, tetapi kemudian, karena mungkin menemukannya kurang menarik, lalu dia mulai mengeraskan cangkirnya dengan garam keraguan sehingga rasa hausnya menjadi tidak terpuaskan meskipun dia minum secara berkelanjutan. Dengan demikian air tersebut tidak dapat menghilangkan hausnya dan dia pun telah lupa tujuan asal dan sejatinya untuk apa air itu dicari.

Manusia Barat akhirnya beranggapan bahwa mencari kebenaran itu lebih penting daripada menemukan kebenaran itu sendiri. Mereka akan senantiasa ‘menjadi’ (becoming) tetapi tidak pernah ‘jadi’.

Sifat-sifat asasi Peradaban Barat tersebut yakni pengagungan yang berlebihan kepada akal (rasio), keabsahan terhadap visi dualistik terhadap realitas dan kebenaran, pandangan-alam sekular, dan faham humanisme menjadi elemen penyusun Pandangan-Alam (Worldview) Barat. Peradaban Barat juga telah mengucilkan metafisika tempat teologi bersemayam; dalam bidang Epistemologi, Barat telah menolak wahyu sembari mengangkat tinggi-tinggi akal sebagai sumber ilmu pengetahuan; sedangkan dalam hal aksiologi, tujuan ilmu pengetahuan sendiri jadi tidak jelas. Akhirnya, kita harus memandang bahwa Barat bukan sekadar arah mata angin atau sebuah entitas politik, akan tetapi lebih dari itu, Barat adalah sebuah Pandangan-Alam.

Rujukan:
Al-Attas, Syed M. Naquib. 2011. Islam dan Sekularisme. Bandung: PIMPIN
Al-Attas, Syed M. Naquib. 2001. Risalah untuk Kaum Muslimin. Kuala Lumpur: ISTAC
Zarkasyi, Hamid Fahmy. 2012. Misykat: Refleksi tentang Westernisasi, Liberalisasi, dan Islam. Jakarta: INSISTS-MIUMI
Saefuddin, A.M. 2010. Islamisasi Sains dan Kampus. Jakarta: PT PPA Consultants
Rinaldi, Yogi T. 2014. “Kosmologi Dalam Pandangan Hamzah Fansuri”. Program Studi Arab, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. (Skripsi)
Materi Kajian Pekanan DISC, “Tragedi Barat: Sebuah Kandungan Penting dari Imperialisme Baru” oleh Khayrurrijal Abdul Halim.