Makna Adab bagi Anak Usia Dini

Harry Santosa
May 30, 2018

Balita atau usia dini itu memang belum saatnya harus beradab dalam arti tertib dan disiplin. Adab di usia dini itu gairah melakukan kebaikan, bukan sempurna melakukan kebaikan. Banyak orangtua atau guru, ingin anak anaknya segera beradab sejak dini, tanpa tahu makna adab, walhasil kelak menjumpai anaknya malah tak beradab ketika besar.

Misalnya Adab pada Ilmu di usia dini berbeda dengan adab pada ilmu di usia setelahnya. Di usia dini, adab pada ilmu bukanlah duduk diam tertib santun mendengarkan guru, tetapi adalah gairah dan cinta pada buku, gairah pada kisah kisah tokoh ilmuwan, gairah keseruan bermain di alam terbuka dengan menyentuh, meraba, berlarian bereksplorasi dstnya.

Sholat adalah adab kpd Allah, bahkan baru diperintah ketika usia 7 tahun, bukan sejak dini. Apakah Allah lalai mengadabkan anak usia dini? Subhanallah, Allah Maha Tahu bahwa fitrah anak usia dini belum saatnya diperintah dengan formal. Adab pada usia dini bukan tertib dan disiplin, tetapi gairah kecintaan untuk melakukan kebaikan walau tak sempurna.

Begitupula dengan Berpuasa atau shaum, bagi anak usia dini, shoum itu bukan harus puasa sehari penuh, tetapi jadikan keseruan Ramadhan dalam aktifitas keseharian, misalnya gairah ketika bangun sahur bersama dengan makanan kesukaan di tenda di halaman rumah, antusias ketika jalan bersama ayah ke masjid sambil bernasyid walau sampai masjid ia main atau tertidur, semangat ketika masak bareng bunda menu berbuka puasa yg unik, keseruan ketika berbuka bersama dan bertarawih dstnya.

Begitupula “Berzakat” apakah kita mewajibkan anak usia dini tertib berzakat? Tentu tidak bukan, tetapi gairah berkunjung ke panti asuhan dan berbagi hadiah pada anak yatim, membagikan ta’jil kepada orang lewat, mengantarkan makanan ke tetangga, dstnya.

Jadi ayah bunda, turunkan ekspektasi, jangan artikan adab sebagai disiplin formal dan etika untuk anak usia dini, jangan tergesa mengadabkan shg harus sempurna dan tertib, jangan gunakan ukuran orang dewasa, nanti anak malah membenci adab sepanjang hidupnya.

Shabar saja utk membuatnya cinta pd kebaikan, teladankan saja adab itu pada ananda usia dini hingga berbinar matanya, hingga asik bahagia gesturnya…. kelak kau kan menyaksikan betapa ananda akan bergairah untuk beradab sepanjang hidupnya

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanbeebasisfitrah

Advertisement

Catatan tentang Adab

Catatan Diskusi mengenai Adab di grup Kader Utama Nasional Komunitas Hebat
22-23 Februari 2018
Notulen : Ninin K (div. Ilmu) 🙏🏼

Ustad Harry
🔍 definisi adab dari prof. NAQUIB ALATAS
Ini definisi lengkapnya

*Adab adalah “pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan darjat, yang merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta.”*

Definisi yang lebih ringkas
🍒 Definisi adab menurut Profesor Naquib Al-Attas :
_*Adab merupakan kemampuan untuk meletakkan sesuatu pada derajat dan martabatnya*_

🔍Para penganut pemikiran Prof Naquib alAttas menyatakan begitu, bahwa Ta’dib itu sudah meliputi Tarbiyah dan Taklim.

Saya memahami cara pandang itu krn adab itu bicara before, during dan after.

Pendidikan dalam Islam bicara 3 obyek yaitu Kitab wal hikmah, fitrah dan adab

Pendidikan terkait Kitab wal Hikmah adalah Ta’lim atau Pengajaran
Pendidikan terkait Fitrah adalah Penumbuhan atau Perawatan Potensi atau Tarbiyah
Pendidikan terkait Adab adalah Pembentukan atau Penanaman Nilai atau Ta’dib

Semuanya bisa disebut Ta’dib jika Adab dianggap sebagai 3 dimensi yaitu hikmah atau wisdom atau nilai2 Kitabullah, proses menumbuhkan potensi atau fitrah dgn dipandu Kitabullah, dan result atau hasil yaitu *manusia yang adil dan beradab*

🔍 Rasulullah SAW jelas Qudwah hasanah , best role model

Secara akhlak yang melekat dalam diri Rasulullah SAW adalah alQuran
Krn Beliau adalah alQuran berjalan *khuluquhul Qur’an*

Ini bicara adab sebagai Kitab juga Hikmah

🔍 Metode
Doa Nabi Ibrahiem ttg keturunannya kelak,
1. Dibacakan
2. Diajarkan
3. Disucikan

Dikoreksi oleh Allah SWT
1. Dibacakan
2. Disucikan
3. Diajarkan

Adab atau pembentukan nilai2 Kitabullah tidak terbangun ketika potensi fitrah tidak disucikan lebih dulu. Contoh sederhana mengapa sholat (adab pd Allah) baru diperintah kpd orangta utk menyuruh anaknya sholat saat usia 7 tahun bukan sejak dini, krn ada proses mensucikan atau menumbuhkan fitrah dulu (tarbiyah/tazkiyah) sebelum diperintahkan adab (ta’dib) dan diajarkan (ta’lim)

🔍Namun mendefinisikan Adab itu tergantung konteksnya, baik konteks waktu (before, during, after atau sejarah, kini, masa depan), konteks tempat (kearifan lokal, realitas sosial) maupun konteks derajat manusia itu sendiri (intelektualitas, keunikan, fitrah)

🔍ustd. AAD
Bagi kita yang mengalami keterbatasan ilmu akses, dan waktu, maka diantara cara termudah untuk memahami adab adalah dengan cara memahami definisi adab itu sendiri secara dalam, sedalam-dalamnya

Oleh Profesor Naquib Al-Attas, adab didefinisikan sebagai _*”kemampuan untuk meletakkan sesuatu pada derajat dan martabatnya”*_

Adab sangat beririsan dengan akhlak, namun tak persis sama.

Jika akhlak bicara tentang *ketinggian* perilaku, maka adab bicara tentang *efektivitas* perilaku, karena standar nilai yang dijaga.

Kalau akhlak bicara tentang *kemuliaan* perilaku, maka adab sebenarnya bicara tentang *presisi dan akurasi* perilaku

Maka Fakultas Sastra dalam Bahasa Arab disebut sebagai *Fakultas Adab*, itu karena sastra adalah upaya untuk meletakkan kata dan kalimat pada derajat dan martabat yang tepat, sehingga lahirlah keindahan.

Nah, dengan kita memahami definisi adab dengan dalam dan sedalam-dalamnya, maka diharapkan kita secara pribadi mampu mengimajinasikan dan merumuskan praktek-praktek adab itu sendiri.

Yang jelas, sebuah adab itu disusun oleh :

– Akhlak
– Hati nurani
– Akal sehat
– Adat istiadat
– Kearifan lokal

Nah dari unsur-unsur penyusunnya tersebut marilah kita berusaha untuk memahami konsep adab secara mandiri

🔍 ustd. Harry
Setiap manusia, setiap bangsa, setiap keluarga dihadirkan di muka bumi dengan membawa tugas atau peran peradabannya masing masing. Inilah alasan kehadiran mereka di dunia.

Misi Rasulullah SAW ini, adalah daurul hadhoriyah atau peran peradaban secara umum, yang dapat kita jadikan sebagai baseline umum dari peran speifik kita masing masing

Ustadz Anis Matta, menyebutkan bahwa secara generik, *peran atau tugas personal* (apapun peran spesifiknya) itu harus membawa kepada 2 hal yaitu

1. Bashiro (kabar gembira atau Solution Maker) wa Nadziro (peringatan atau Problem Solver)
2. Rahmatan lil Alamin (menebar rahmat dan manfaat)

Sementara peran komunal (apapun peran spesifiknya) harus membawa
1. Ummatan Wasathon (Orchestrator atau Integrator Community)
2. Khoiru Ummah (The best model community)

🔍 Challange
Tugas kita, sekali lagi, menurunkan (work by bridge) apa yang telah disarikan oleh para pemikir (work by brain) itu, menjadi sesuatu yang mudah diimplementasikan (work by hand)

——
Ust Aad
🔍Karena adab itu terkait dengan *menempatkan sesuatu pada martabatnya, perilaku yang efektif, akurat dan presisi*

Di bukunya Ust Adian Husaini memang ada pernyataan tersebut.

Adab memang nggak selalu identik dengan sopan-santun dsb. Adab itu bisa saja melabrak (jika memang dibutuhkan dan tepat)

Makanya, saya menyimpulkan bahwa tujuan adab adalah efektivitas, akurasi dan presisi. Sedangkan akhlak bicara tentang ketinggian dan kemuliaan manusia. Dan core dari adab adalah akhlak.

Makanya, ada adab masuk kamar mandi, bukan akhlak masuk kamar mandi. Adab itu sebelum ilmu, agar serapan dan penguasaan atas ilmu menjadi efektif, akurat dan presisi.

Adab itu selalu punya objek … misalnya adab ke kamar mandi, adab makan
Beda dengan akhlaq

Pesan adab adalah :

Tempatkan sesuatu pada harkat dan martabatnya. Jangan letakkan AlQur’an di WC, dan jangan letakkan kloset di ruang tamu.

Kata orang dulu : Suruhlah orang tuli melepas tembakan… orang buta meniup bara api… orang lumpuh menjaga rumah… orang bodoh disuruh-suruh…

Itulah adab…

Maka jika berhadapan dengan orang bermartabat rendah karena akhlaknya hina, dan tindakan yang efektif untuk mengatasinya hanya dengan memakinya, maka memaki pada situasi tersebut adalah beradab.

Itulah sebabnya Ibrahim as yang lembut pernah memaki Namrud, sedangkan Musa yang keras justru berkata lembut terhadap Fir’aun. Itulah adab

Di situ pulalah titik temu dan perbedaan adab dengan akhlak.

Tanggapan ust. HARRY
🔍 Akhlak adalah nilai2 Kitabullah yang universal

Adab nilai nilai Kitabullah yang kontekstual dengan dimensi ruang dan waktu juga pelaku, bukan hanya pengenalan tetapi pengakuan akan derajat dan martabat

Contoh dari bunda dinda
🔍 Menurut Imam Al-Ghazali sebagaimana disebutkan dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Din (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 444) setidaknya ada lima (5) adab orang tua terhadap anak-anaknya sebagai berikut:

أداب الوالد مع أولاده: يعينهم على بره، ولا يكلفهم من البر فوق طاقتهم، ولا يلح عليهم في وقت ضجرهم ولا يمنعهم من طاعة ربهم، ولا يمن عليهم بتربيتهم.

Artinya: “Adab orang tua terhadap anak, yakni: membantu mereka berbuat baik kepada orang tua; tidak memaksa mereka berbuat kebaikan melebihi batas kemampuannya; tidak memaksakan kehendak kepada mereka di saat susah; tidak menghalangi mereka berbuat taat kepada Allah SWT; tidak membuat mereka sengsara disebabkan pendidikan yang salah.”

Tahapan Penegahkan adab dalam peradaban
Ust. HARRY

🔍Kalau menurut Siklus Peradaban nya Ibnu Khladun yang dikembangkan oleh Dr Malik Bennabi, semua peradaban itu awalnya selalu ditegakkan dengan fase awal berupa spirituality yang baik atau adab yang baik. Tidak mungkin sebuah peradaban tegak tanpa adab yang baik.

Namun begitu tegak, umumnya spirituality nya bergeser fokus ke fase ke dua yaitu intellectuallity. Mulai lahir orang2 pandai cendikia yang menciptakan berbagai ilmu dan teknology sehingga peradaban itu mencapai puncaknya. Di saat puncak itulah mulai masuk fase kelimpahan materi karena semakin sejahtera. Inilah fase ke 3, dimana sipirituality mulai ditinggalkan, fokus kpd materi dan teknologi.

Fase ke 3 inilah sebenarnya memasuki tahap decline atau titik balik. Jika peradaban itu segera menyadari maka mereka mulai membangun kembali spirituality nya utk naik kembali menjadi titik belok bukan titik balik. Jika tak menyadari, maka berlakulah titik balik, peradaban itu akan mengalami fase keruntuhan dan memasuki fase kegelapan kembali.

Jika kemudian mereka berhasil merajut kembali spirituality nya maka akan tegak kembali, berulang ke fase 1. Namun umumnya peradaban yang runtuh tak mampu bangkit dan kemudian diwafatkan atau menemui ajalnya.

Ini berlaku pada semua organisme, baik individu, organisasi, bangsa maupun komunitas

Tanggapn Bunda Rita
🔍 Dzalim itu salah satu tanda alpanya adab, begitu kata Dr, Hamid Zarkasyi.
Tanda tanda kedzaliman yang lain karena hilangnya adab adalah :

Tanda-tanda alpanya adab, sekurangnya ada 3:
1⃣. Dzalim: kebalikan dari adil artinya tidak dapat meletakan sesuatu pada tempatnya.
Dalam adab dkesopanan orang jawa disebut empan papan. Tidak memahami dan menerapkan konsep secara proporsional, artinya mengampu dua atau tiga konsep yang saling bertentangan. Seperti mencapur keimanan dan kemusyrikan. Tauhid dengan faham dikotomis,dll
2⃣ Kebodohan: bodoh dalam cara mencapai tujuan.
3⃣ Kegilaan. Gila dalam artian salah tujuan, menentukan arah tujuan.
Akarnya adalah hamaqoh atau kebodohan. Yang bodoh akan arti hidup, tak akan tahu tujuan hidup. Bodoh dalam arti ibadah tak akan tahu tujuan ibadah dalam kehidupan.

 

Apakah Anak di bawah 7 Tahun Tidak Boleh diajarkan Adab atau Mandiri atau Disiplin?

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Ayah Bunda yang baik fitrahnya,

Anak anak kita di bawah 7 tahun ini fitrahnya masih baru tumbuh merekah sedang indah indahnya. Jadi harus hati-hati benar dan sepenuhnya mencintainya.

Para psikolog menyebut masa ini masih pra latih atau pra operasional. Dalam perspektif perkembangan manusia, masa ini anak belum punya tanggungjawab moral apalagi sosial.

Karenanya dalam Islam, orangtua baru diperintahkan utk memerintahkan anaknya (untuk sholat) di usia 7 tahun bukan sejak dini, apakah Allah lalai?

Tentu Maha Suci Allah, karena Allahlah Yang Paling Tahu fitrah manusia. Tiada anak di bawah 7 tahun yg suka gerakan formal dan tertib.

Begitupula banyak hadits bertebaran ttg betapa pentingnya merawat imaji imaji keindahan anak di bawah 7 tahun. Imaji dan abstraksi anak sedang puncaknya.

Maka betapa penting dan besarnya pahala bermain, bercanda dan membahagiakan hati anak.

Pesan Rasulullah SAW :

“Siapa yang memiliki anak, hendaklah ia bermain bersamanya dan menjadi sepertinya. Siapa yang mengembirakan hati anaknya, maka ia bagaikan memerdekakan hamba sahaya. Siapa yang bergurau (bercanda) untuk menyenangkan hati anaknya, maka ia bagaikan menangis karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla”

Para ulama juga mengingatkan agar menunda semua bentuk cerita ttg neraka, hari kiamat, perang akhir zaman, dajjal dsbnya, pd anak di bawah 7 tahun.

Lantas, apa tidak dididik adab, disiplin, mandiri dll????

Tentu saja dididik, tetapi mendidik berbeda dengan mengajarkan. Mendidik itu menumbuhkan antusias, gairah, cinta, dsbnya.

Mendidik itu mirip berdakwah, sangat memperhatikan tahapan usia, kematangan, perasaan, fikiran, sifat dari obyek dakwah.

Apalagi anak di bawah 7 tahun, tentu kita harus sangat bijak dan kreatif, cinta sekaligus logika (nalar) agar tidak menciderai fitrahnya.

Jadi?

Nah,

1. Inspirasikan, Imajikan dan teladankan indahnya perilaku baik melalui kisah kisah indah maupun contoh langsung.

Jangan paksa melakukan kebaikan jika sedang tidak mau, karena mereka belum memiliki kesadaran akan nilai, namun di waktu yang nyaman dan menyenangkan, perbanyak menginspirasi dan meneladankan.

Misalnya ajaklah anak membereskan mainan dengan bermain dan seru, ajaklah anak makan bersama dengan anak anak yatim dan membagikan hadiah utk mereka dsbnya, ini jauh lebih berkesan indah sepanjang hayat anak, daripada cara cara shortcut.

Jadi asah dan tajamkan naluri dan nurani fitrah keayahan atau fitrah keibuan kita, temukan cara2 keren dan menyenangkan.

2. Salurkan potensi energinya dan sifat uniknya, jangan membenturkannya dengan akhlak dan adab.

Misalnya anak yang suka cerewet dimarahi padahal ini potensi suka berkomunikasi. Anak yang suka keras kepala dihukum padahal ini potensi pemimpin dll.

Jika suka berkomunikasi (cerewet), jadikan dia direktur humas di rumah, beri tugas yang banyak bicara, misalnya beri panggung untuk bercerita dan berkisah, dengarkan dengan antusias. Beri jadwal menyapa nenek dan kakek, mengantarkan makanan atau undangan ke tetangga dll. Lihatlah betapa antusias dan gerak semangatnya ketika menjalaninya.

Jika suka memimpin, maka jadikan pimpro dalam kegiatan sederhana, misalnya pimpro jalan jalan, pimpro berkebun atau memelihara hewan dll. Lihatlah binar matanya ketika menerima dan menjalankan tugas itu.

3. Banyaklah berempati menggali perasaannya, berhenti menggunakan kacamata kita dalam menyerap maksud perilaku anak, gunakanlah kacamata anak.

Setiap perilaku anak yang nampak nakal adalah jeritan hati anak yang tak bertemu jalan keluarnya, maka tangkaplah maknanya, bacalah binar atau redup matanya, amati gestur tubuhnya dll. Temukan kebutuhannya dan solusinya.

4. Dahulukan pesan kebaikan bukan pesan keburukan. Jika anak naik meja makan, daripada berteriak, “jangan nakal, jangan naik, nanti jatuh, nanti kotor…” sebaiknya katakan “nak, meja itu utk makan ya sayaang, kaki kamu utk jalan di lantai atau jalan ke masjid”

Anak akan mengingat kebaikan lebih banyak dan berkesan daripada keburukan.

5. Adabkan anak dengan cinta, sehingga dia cinta pada adab. Temukan cara dan waktu yg tepat utk membuatnya bergairah pada kebaikan.

Anak di bawah usia 7 tahun yang terlalu cepat diadabkan dengan cara cara yang tidak alamiah (shortcut) maka kelak kita temukan anak yang tidak beradab karena mereka menangkap kesan buruk tentang adab, lalu membenci adab sepanjang hidupnya.

Ingatlah bahwa adab bukan tentang disiplin dan etika, namun tentang perbuatan yang berderajat dan bermartabat indah yang sesuai dengan fitrah manusia..

Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

Mendidik Adab dan Fitrah

Harry Santosa  
December 23, 2016

Mendidik Adab (QS 66:6) dan Fitrah (QS 30:30) harus berjalan selaras, keduanya adalah amanah dan tanggungjawab setiap orangtua.

Mendidik Fitrah itu inside out, bagaimana membangkitkan antusias, ghairah, kecintaan dari dalam (intrinsic motivation), karena semua potensi kebaikan sudah terinstal.

Mendidik Adab itu outside in, bagaimana nilai nilai Kitabullah perlu ditanamkan sehingga memuliakan potensi fitrah.

Tanpa fitrah yang tumbuh paripurna, Adab akan sulit ditanamkan. Kalaupun bisa, tentu dengan cara pemaksaan bukan berangkat dari kesadaran dan dari dalam diri manusia. Manusia bukan robot, mereka beramal bukan mekanistik seperti mesin atau dengan “stick n carrot” seperti hewan. Manusia yang fitri dan Islami beramal karena niat yang kuat dari dalam dirinya dipandu Kitabullah.

Apakah anak mau menerima perintah sholat (adab pada Allah) di usia 7 tahun dengan antusias dan suka cita, apabila gairah dan kecintaan (fitrah keimanan) pada Allah, Rasulullah SaW dan Islam tidak tumbuh hebat di usia 0-6 tahun?

Apakah anak akan mampu menerima beban syariah dan tanggungjawab ummat (total Adab) pada usia 15 tahun (aqilbaligh) dengan kesadaran penuh, apabila semua aspek fitrahnya tidak tumbuh hebat sejak lahir sampai usia 14 tahun?

Begitupula tanpa Adab, maka fitrah akan tumbuh menggeragas tanpa arah dan panduan. Potensi keimanan seseorang bisa melantur menjadi kebatinan, potensi bakat pemimpin bisa menyimpang menjadi diktator, potensi belajar dan bernalar akan ngawur menciptakan kehancuran, potensi seksualitas akan berkembang sesat menjadi feminisme buta dsbnya

Orangtualah satu satunya makhluk di muka bumi yang mampu melakukannya dengan baik, ikhlash, telaten dan seimbang dalam mendidik fitrah dan adab. Adanya Ayah adalah sosok yang bisa dengan tegas mengAdabkan, dan adanya Ibu adalah sosok yang mampu dengan lembut membangkitkan potensi potensi fitrah.

Sekolah jelas sulit diharapkan. Banyak sekolah masih memberhalakan kecerdasan akademis dengan pendekatan formal dan kaku sehingga berpeluang besar menyimpangkan fitrah, kemudian dengan gegabah mengkaitkan prestasi dan kedisplinan akademis dengan Adab.

Bagi Sekolah, akan lebih efektif jika sekolah melibatkan orangtua dalam mendidik fitrah dan adab secara intensif. Jadi sekolah sebagai fasilitator bagi Mendidik Fitah dan Adab, sehingga sekolah bisa fokus pada pengajaran knowledge dan skill, sementara tugas tugas menumbuhkan fitrah dan menanamkan adab bisa dilimpahkan pada orangtua

Mari bersama kita berjuang mengembalikan fitrah peran orangtua untuk berani kembali mendidik anak anaknya sesuai fitrahnya dan memuliakan fitrah itu dengan adab. Semoga kelak lahir generasi peradaban dengan peran peran peradaban terbaik istimewa dengan semulia mulia adab.

Salam Pendidikan Peradaban

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak/adab

adab-vs-fitrah

Didiklah anak anak kita (bagian 1)

Harry Santosa
Dec 8, 2016

Robbku mendidiku atau meng-Adab-kanku (melalui beragam peristiwa) maka menjadi baiklah Akhlaqku.

“Adabbani Robby faahsin Khulqy”

Barangkali kita lebih sering belajar karena sesuatu yang sudah dikurikulumkan kemudian mengukurnya dari pencapaian pemahaman atas kurikulum yang disajikan. Itulah banyak diantara kita yang kemudian ketika dewasa sulit menangkap dan menggali makna dari maksud Allah atas peristiwa atau momen di sekitar kita. Kita lebih terpesona pada yang tampak bukan yang haq sehingga sama sekali tidak menambah mulia adab atau akhlak kita.

Padahal secara fitri, ketika kecil, anak anak selalu terkesan dengan peristiwa keseharian yang mereka alami lalu secara alamiah mereka belajar dari pengalaman yang berkesan itu dan berusaha menjadi semakin baik. Semakin berkesan sebuah peristiwa semakin banyak kesempatan menggali hikmah, menemukan peran yang pas di kemudian hari dan memuliakan adab. Being through living moment.

Begitu pula secara syar’i, kita diminta untuk selalu memikirkan penciptaan Allah dalam momen pergantian siang dan malam, dalam setiap penciptaan di langit dan di bumi. Kita diminta untuk “sairu fil ardh” berjalan di muka bumi (exploration, expedition dll) untuk mengamati pola di dalam peristiwa kehidupan baik di masa lalu (sejarah) maupun masa kini yang kita alami. Spirit inilah yang menjadi tradisi hebat dalam peradaban Islam yang kemudian menghebatkan peradabannya.

Begitulah alQuran diturunkan ayat demi ayat ketika Rasulullah SAW dan para Sahabat mengalami momen peristiwa dalam keseharian kehidupannya sehingga menjadi sangat berkesan mendalam, merekonstruksi nalar, mengelola kejiwaan dan mengelola pensikapan, menajamkan kemampuan “mubsyaroh” kemudian berusaha mengamalkannya dan memperindah adab atau akhlaqnya.

Karenanya menumbuhkan fitrah anak yang paling baik adalah berinteraksi dengan momen peristiwa peristiwa keseharian sesederhana apapun, baik di alam maupun di kehidupan lalu menjadi gairah dan antusias pembacaan terhadap ayat ayat Kauniyah (ayat Allah di alam semesta).

Pembacaan atas peristiwa ini sejatinya berawal pada menemukan makna hakiki dan pengetahuan yang mendalam dan luas kemudian mentadaburi ayat ayat Qouliyah (ayat Allah di Kitabullah) sehingga makna dan pengetahuan yang ditemukan menjadi tepat dan akurat serta menebar banyak rahmat dan manfaat serta berujung pada adab yang semakin mulia.

Allahlah sesungguhnya Sang Maha Pencipta Waktu dan Peristiwa, The Moment Designer n Creator, sepanjang kehidupan manusia, untuk semakin memperindah akhlak dan adab manusia dengan catatan manusia menggunakan mata untuk melihat, telinga untuk mendengar dan hati untuk memahami makna. Yang tidak mau mempergunakannya dianggap lebih buruk dari binatang ternak.

Mari didiklah Anak anak kita melalui momen dan peristiwa berkesan yang terus berdatangan setiap saat dari Sang Maha Pencipta Peristiwa agar Adab dan akhlak mereka kepada Allah, kepada Alam dan kepada Manusia dan Peradabannya semakin baik dan mulia.

Coba renungkan, andai Allah memberi momen yang hebat dan langka kemudian adab kita semakin tidak mulia, semakin sibuk dengan kebathilan dan meniru keburukannya, semakin galau pada alBathil maka barangkali kita lebih buruk dari binatang ternak. Semoga anak anak kita tumbuh hebat fitrahnya dan semakin mulia adabnya dengan momen peristiwa yang Allah karuniakan setiap hari.

Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlaq
#fitrahbasededucation

Dimana posisi Adab

Dimana Posisi Adab?

Sumber:
http://kuttabalfatih.com/dimana-posisi-adab/

“Sekarang pergilah ke majelis Rabi’ah dan pelajari adabnya sebelum engkau ambil ilmunya.” Pesan ibunda Imam Malik bin Anas saat ingin menyiapkan sang anak belajar ke majelis gurunya.

“Aku tak ingin engkau mengajari anak ini satu ilmu pun. Aku hanya ingin dia mempelajari tingkah laku dan adabmu.” Pesan Syaikh Asy Syaibani rahimahullah saat membawa putranya belajar.

“Wahai putraku, jika engkau telah mencatat sepuluh kalimat maka perhatikanlah; apakah engkau bertambah takut, sabar dan sopan? Jika engkau tidak demikian, maka ketahuilah bahwa semua kalimat tadi akan membahayakanmu dan tidak bermanfaat bagimu.” Pesan ibunda Sufyan Ats Tsauri kepada anaknya.

Sepenggal perkataan di atas bukanlah nasehat orangtua biasa. Tetapi kata-kata itu keluar dari lisan ayah dan ibu yang mengetahui dan memahami ilmu. Ibu yang cerdas memandang kebutuhan inti dari awal perjalanan ilmu sang anak yang kelak menjadi ulama besar dan menjadi guru besar imam Syafi’i. Pesan brilian seorang ayah yang termasuk cendikiawan asal Mauritania – Syaikh Asy Syaibani pada anaknya saat diantar belajar. Kelak anaknya belajar banyak hal terkait tingkah laku, adab dan akhlak para ulama. Bahkan ia mendapatkan banyak ilmu dari majelis gurunya. Pun perhatian dan pendidikan luar biasa sang ibu kepada anaknya yang kelak menjadi amirul mukminin dalam ilmu hadits. Sufyan Ats Tsauri mendapat kalimat ibu yang mengiringi proses pendidikannya.

Semua bermula dari Adab!

Inti pendidikan adalah membangun manusia yang berakhlak dengan ilmu dan pengetahuan. Sehingga perpaduan antara ilmu, adab dan akhlak mendorong peradaban manusia yang maju dan bermartabat. Kehidupan manusia juga akan rapuh dan hancur karena rusaknya salah satu diantara aspek pendidikan, pemikiran dan moralitas generasi muda. Maka wajar jika pendidikan bukan sekadar belajar materi pelajaran dan mendapat nilai, ijazah kemudian bekerja serta mengumpulkan kekayaan agar dapat melangsungkan kehidupan.

Akhlak berbeda dengan adab. Akhlak berasal dari kata khalq – khuluq. Akhlak dimulai dari penampilan (fisik) dan akan terlihat dari keseharian. Sedangkan adab tidak selalu terlihat. Adab tercermin pada kerangka/cara berpikir dan paradigma. Ia lebih halus dari akhlak. Bahkan adab masuk aspek penjiwaan terhadap persoalan. Maka adab ini sangat luar biasa. Dulu ilmu, adab dan akhlak sangat inheren atau melekat satu sama lainnya (Dikutip dari kajian Syamail oleh Ust. Asep Sobari, Lc). Adab menjadi fokus pendidikan dahulu dibandingkan seberapa ilmu yang didapat. Maka saat mereka memprioritaskan adab, ilmu yang diraih juga berlimpah, sarat manfaat dan memberikan ruh pada kehidupan manusia.

Dimanakah posisi adab bagi orangtua dan pendidik masa kini? Bagaimana orangtua mengawal pendidikan sang buah hati di tengah krisis moral, mental dan spiritual? Saat setiap jenjang pendidikan melahirkan generasi cerdas tetapi tak memperhatikan adab dan akhlak sebagai output utama. Dari level dasar hingga pendidikan tinggi. Maka rapuh dan rusaklah institusi keilmuan, kependidikan dan hampir sebagian elemen masyarakat yang seharusnya dikelola dengan baik dan benar karena rusaknya sumber daya manusia. Mencetak manusia pintar tetapi merongrong orangtua, mencoreng masyarakat dan melemahkan bangsa. Manusia yang memiliki ilmu tetapi akhlak tidak sesuai dengan pendidikannya. Kadang akhlaknya baik tetapi cara berpikirnya justru jauh dari adab. Cara berpikir dan pandangannya tidak sesuai dengan kebenaran dan norma-norma selayaknya orang yang berilmu/mengenyam pendidikan.

Adab adalah pondasi yang mengokohkan bangunan ilmu. Ilmu yang luas dan besar akan mampu berpijak dan bertahan di tengah terpaan badai fitnah jika adab menjadi cara pandang, pemikiran dan prinsip yang kuat dalam bersikap. Setiap jenjang pendidikan membutuhkan suplemen yang menguatkan adab dan akhlak. Bukan terlihat baik dan patuh saat kecil namun menjadi nakal, pembantah dan sebagainya di tahap-tahap pendidikan selanjutnya. Bertambah besar dan pintar justru membuat kesal dan gusar. Semakin meningkat jenjang pendidikan maka kian tak menunjukkan adab dan akhlak yang mulia. Maka perhatikanlah adab mereka. Bukan hanya di level pendidikan dasar. Justru ketika pendidikan hanya mementingkan aspek kognitif, akademik dan ilmu maka hasilnya dapat disaksikan saat ini. Tidak seperti zaman ketika ilmu dan adab berdampingan dalam mencetak manusia pembangun peradaban.

Wallahu a’lam.

Adab dalam Menjalani Fase-Fase Usia

Alwi Alatas

Di antara adab yang perlu diperhatikan oleh seseorang serta para pendidik adalah adab dalam menjalani fase-fase usia. Ketidaksesuaian dalam menjalani fase-fase ini bisa menyebabkan perilaku seseorang menjadi buruk atau bahkan biadab.

Al-Qur’an membagi fase umur manusia kepada tiga bagian, yaitu lemah, kemudian kuat, kemudian lemah dan beruban. Ini disebutkan di dalam Surat al-Rum ayat 54:

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.

Ibn Katsir di dalam Tafsirnya saat menjelaskan tentang ayat ini menulis, “Kemudian ia keluar dari rahim ibunya, lemah, kurus, dan tak berdaya. Kemudian ia tumbuh sedikit demi sedikit sampai ia menjadi seorang anak, lalu ia mencapai usia baligh, dan setelahnya menjadi seorang pemuda, yang merupakan kekuatan setelah kelemahan. Kemudian ia mulai menjadi tua, mencapai usia paruh baya, lantas menjadi tua dan uzur, kelemahan setelah kekuatan, maka ia kehilangan ketetapan hati, tenaga untuk bergerak, serta kemampuan berperang, rambutnya menjadi kelabu dan sifat-sifatnya, zahir dan batin, mulai berubah.”

Kita bisa menyebut fase yang pertama sebagai fase kanak-kanak, yang kedua fase dewasa, dan yang terakhir fase tua. Hal ini karena kanak-kanak dan orang tua memang berada dalam fase kelemahan, sementara kekuatan ada pada usia dewasa. Namun berapakah batasan usia pada masing-masing fase tersebut? Dalam hal ini usia baligh, atau usia lima belas tahun, merupakan batas usia dari kanak-kanak ke dewasa dan usia enam puluh tahun, kurang lebih, merupakan saat-saat peralihan ke usia tua. Usia lima belas tahun adalah waktu yang tidak terlalu lama sejak seorang anak mencapai usia baligh, sehingga membuat seorang anak tidak perlu melewati masa peralihan yang terlalu panjang untuk memasuki usia dewasa. Tentang batas usia ini ada penjelasan dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

Ibn Umar radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil saya agar hadir ke hadapannya menjelang Perang Uhud dan ketika itu saya berusia empat belas tahun, dan beliau tidak mengijinkan saya untuk ikut berperang. Kemudian beliau memanggil saya untuk hadir ke hadapannya menjelang Perang Khandaq ketika saya berusia lima belas tahun dan beliau mengijinkan saya untuk berperang.” Nafi’ berkata, “Saya datang kepada Umar bin Abdul Aziz yang merupakan Khalifah pada waktu itu dan menyampaikan riwayat tersebut kepadanya. Ia berkata, ‘Usia ini (lima belas tahun) adalah batas antara anak-anak dan orang dewasa.’ Dan ia memerintahkan kepada para gubernurnya untuk memberikan tunjangan kepada siapa saja yang telah mencapai usia lima belas tahun.” (HR Bukhari)

Adapun batas antara fase dewasa dan tua kurang lebih ada di sekitar usia enam puluh tahun. Hal ini dengan memperhatikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar wafat pada usia enam puluh tiga tahun, sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik (HR Muslim), dan ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum ajma’in wafat di usia yang sama. Rasulullah dan Abu Bakar wafat saat masih berada dalam kekuatan dan keduanya mengalami sakit serta menjadi lemah karenanya hanya beberapa hari menjelang wafat. Sementara Umar wafat karena dibunuh oleh Abu Lu’lu’ah. Ada riwayat di dalam Siyar A’lam al-Nubala’ karya al-Dzahabi bahwa kurang dari sebulan sebelum wafatnya beliau mengangkat tangan ke langit dan berdoa, “Ya Allah, usiaku telah tua, kekuatanku melemah, dan rakyatku menyebar luas, maka kembalikanlah aku kepada-Mu tanpa melakukan penganiayaan dan kezaliman.”

Selain itu, mereka yang berada di fase dewasa juga perlu memperhatikan batas usia empat puluh tahun, sebagaimana al-Qur’an menyebut secara khusus tentang usia ini: “… sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ….” Karena pada usia inilah, seperti disebutkan Ibn Katsir di dalam Tafsirnya, “kemampuan berpikir seseorang, pemahaman, serta kesabarannya mencapai puncak kematangan. Juga dikatakan bahwa biasanya seseorang tidak akan mengubah jalannya [cara hidup dan karakternya, pen.] saat ia mencapai usia empat puluh tahun.” Ini adalah saat seseorang mencapai usia kematangan dan berada dalam puncak kedewasaan dan kemandirian.

Seorang Muslim perlu memahami fase-fase ini dan mengambil perhatian atas diri sendiri dan orang lain agar ia tidak sampai melanggar adab-adabnya. Di antara adab terkait fase usia ini adalah mereka yang berada di fase kuat atau dewasa harus bertindak sesuai kapasitasnya dan menggunakannya dengan penuh tanggung jawab. Karena mereka adalah orang-orang yang berada di puncak fase usia dan yang paling memiliki kemampuan, maka dia harus melindungi dan mengayomi orang-orang yang berada di fase usia yang lain, bukan malah meninggalkan, tak peduli, apalagi sampai menindas. Karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang tidak menyayangi anak-anak kami dan tidak mengakui hak-hak orang tua kami maka ia tidak termasuk golongan kami.” (HR Bukhari dalam Adab al-Mufrad dari Abu Hurairah).

Begitu pula mereka yang berada pada fase-fase usia lainnya harus mengetahui adab-adab yang perlu dilakoninya. Seorang anak atau mereka yang berusia lebih muda, misalnya, perlu menghormati orang-orang yang lebih tua dan mendahului dalam memberi salam. “Yang muda harus memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak,” sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (HR. Bukhari).

Hilangnya adab terhadap usia bisa berdampak sangat serius. Ada hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang menyebut bahwa Ada tiga orang yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada Hari Kiamat, tidak mensucikan mereka, tidak memandang kepada mereka, dan bagi mereka azab yang pedih, di antaranya adalah orang tua yg berzina (HR. Muslim sebagaimana disebutkan di dalam Riyadh al-Shalihin). Hal ini disebabkan perilaku ini menunjukkan pelanggaran adab yag serius terhadap fase usia yang dilaluinya. Seorang yang sudah tua sebenarnya berada dalam kelemahan, termasuk dalam urusan syahwat atau dorongan seksual. Jika dorongan syahwat sudah jauh berkurang tapi masih saja bermaksiat dan berzina, ini merupakan hal yang sangat keterlaluan. Selain itu, fase usia yg dilaluinya adalah fase terdekat dengan kematian, maka bagaimana mungkin ia masih sempat melakukan dosa besar? Padahal seharusnya ia menjadi orang yang paling banyak mengingat kematian.

Di antara persoalan serius di jaman modern ini berkenaan dengan fase usia adalah dimundurkannya batas waktu antara fase kanak-kanak dan dewasa. Anak-anak pada hari ini belum dianggap dewasa sebelum ia mencapai usia dua puluh tahun atau bahkan lebih. Masa-masa di antara baligh dan usia sekitar dua puluh tahun disebut sebagai masa transisi atau biasa dikenal sebagai masa remaja, sebuah periode pertumbuhan yang dahulunya tidak ada.

UNICEF dalam laporannya pada tahun 2011 menyebut umur 10-19 tahun sebagai usia remaja (http://www.unicef.org/…/SOWC_2011_Main_Report_EN_02092011.p…), sementara PBB menyebut mereka yang berusia di antara 15 dan 24 tahun sebagai pemuda (youth), tetapi penjelasan terhadap terma ini kurang lebih sama dengan apa yang dipahami masyarakat modern tentang remaja, yaitu “a period of transition from the dependence of childhood to adulthood’s independence” (http://www.un.org/…/…/youth/fact-sheets/youth-definition.pdf). Yang terakhir ini membuat fase kedewasaan seorang anak menjadi semakin mundur dan lambat.

Anak-anak sebetulnya mengalami perubahan penting secara fisik dan psikologis menjadi seorang dewasa saat mereka baligh dan, setelah melewati periode transisi yang singkat, bisa diterima secara sosial sebagai bagian dari masyarakat dewasa saat mereka berusia 15 tahun, sebagaimana di jelaskan di awal artikel ini. Hal ini sejalan dengan perkembangan natural pada fisik serta kesiapan psikologis dan sosial pada manusia secara umum. Penundaan yang terlalu lama dari batas usia ini akan menimbulkan kekacauan konsep serta kerusakan adab pada diri seorang anak. Ia yang seharusnya sudah memasuki fase kekuatan dipaksa untuk tetap berada dalam fase lemah, atau fase yang samar-samar, tidak lemah tapi juga tidak kuat.

Diubahnya definisi dan batasan waktu antara anak-anak dan dewasa telah merusak konsep adab terkait fase usia. Seseorang yang seharusnya sudah mulai menjalani adab sebagai seorang dewasa malah terus berperilaku seperti anak-anak atau malah ‘dihalalkan’ untuk tidak beradab karena mereka dianggap sedang menjalani masa transisi yang penuh gejolak. Ia menjadi kurang memiliki rasa tanggung jawab, yang merupakan salah satu ciri kedewasaan, dan seringkali tak sungkan melakukan berbagai jenis pelanggaran. Sebagian bahkan sangat membenci tanggung jawab, seperti yang dikutip James E. Gardner (1992: 41) dalam Memahami Gejolak Masa Remaja tentang ucapan seorang remaja di Amerika:

Inilah kata yang paling kubenci – tanggung jawab. Aku selalu harus bertanggung jawab terhadap diriku sendiri, terhadap orang lain, atau terhadap sesuatu …. Persetan dengan tanggung jawab. Aku tidak menginginkannya. Taik dengan tanggung jawab!

Ini baru ucapan dan sikap yang tak pantas, belum termasuk berbagai bentuk kenakalan dan perilaku tak bertanggung jawab dari anak-anak yang biasa disebut sebagai remaja, seperti bullying, perilaku seks yang bebas, penggunaan obat-obat terlarang, serta jiwa yang labil dan kecenderungan bunuh diri. Sebetulnya bukan para remaja ini yang salah pada asalnya, tetapi masyarakat modern-lah yang telah mengacaukan batasan usia serta meninggalkan adab-adab yang menjadi tuntutan di dalamnya. Akibatnya, banyak sikap dan perilaku anak-anak serta pemuda pada hari ini yang menjadi tak beradab.

Karena itu tidak ada jalan untuk memperbaiki keadaan ini selain dengan menetapkan kembali fase usia pada batas-batasnya yang alami dan sesuai dengan tuntunan agama, serta dengan memahami dan menghidupkan adab-adab yang sesuai pada masing-masing fase usia tersebut.

Jakarta,
25 Dzulhijjah 147/ 27 September 2016

http://inpasonline.com/…/adab-dalam-menjalani-fase-fase-us…/

Fitrah, Adab dan Peradaban

Idea kebangkitan peradaban Islam sudah digaungkan sejak era tahun 1980an. Namun nampaknya ummat ini jalan di tempat.Tiada kebangkitan yang nampak, kecuali pendekar mabuk yang kerepotan meladeni serangan lawan. Memang banyak serangan ditepis namun tidak sempat mengembangkan permainan sendiri.

Rupanya kita lebih sibuk menyelesaikan masalah yang dibuat bangsa Kera ketimbang sibuk mensyukuri nikmat dan karunia yang Allah berikan. Bukankah kita diminta banyak menyebut nyebut nikmat Allah? “Wa bini’matika Robbika fahaddits”

Rupanya kita lebih banyak meratapi dari menterapi kebiadaban, daripada mengarsiteki peradaban. Lihatlah kita tidak pernah mengarsiteki pendidikan peradaban generasi untuk mencapai peran dan karya peradaban terbaik. Kita hanya menjadi budak pengguna bagi peradaban lain.

Anak anak kita diajarkan untuk mendahulukan Nahi Munkar daripada mengutamakan Amar Ma’ruf. Mendahulukan Peringatan (Nadziro) daripada Kabar Gembira (Bashiro). Anak anak kita lebih sibuk menghindari dosa daripada menjaring pahala pahala. Padahal bukankah yang ditimbang adalah pahala bukan dosa. Alangkah sedikitnya amal (karya dan peran peradaban) Ummat ini di mata dunia.

Kita jadi suka membalik balikkan ayat mendahulukan yang belakang, dan membelakangkan yang dahulu.

Kita lebih takut dosa Adam AS (melanggar larangan) daripada dosa Iblis (melanggar perintah). Bukankah dosa Adam AS diampunkan? Bukankah dosa Iblis lebih berat dan dikutuk hingga akhir zaman?

Amal Sholeh bagi kita adalah kumpulan kata “Jangan” untuk takut melanggar dosa, daripada kumpulan kata “Perintah” untuk berani beramal meraih begitu banyak pahala. Apakah peradaban akan bisa ditegakkan bila dibangun dengan begitu banyak ketakutan berdosa?

Kita lebih banyak sibuk mengurusi keburukan (Syarr) daripada menjalankan (Khair). Bukankah untuk keburukan kita hanya bisa berlindung kepada Allah SWT? “Qul A’udzu billah min Syarr….”.

Mengapa tidak kita sibukkan diri, keluarga dan generasi untuk menjalankan begitu banyak kebaikan? Bukankah Generasi Terbaik dahulu lebih bersemangat menanyakan amal amal Khair kepada Rasulullah SAW?

Akibatnya ummat ini menjadi berjalan di tempat, lebih banyak mengerem daripada tancap gas kebaikan. Lebih banyak membangun benteng dan bendungan yang cepat atau lambat akan roboh juga.

Bukankah karakeristik para pembuat benteng adalah diam di tempat dan tidak kemana mana? Merasa aman namun tidak punya masa depan dan tidak berperadaban.

Sejak kejatuhan Kekhalifahan Turki Utsmani, maka Ummat ini seolah menjadi paranoid. Membangun kemuliaan (Izzah) dengan rasa minder dan ketakutan serta kesedihan. Lebih banyak meniru musuh daripada menguatkan potensi diri. Gedung gedung sekolah dan ibadah dibangun megah megah, namun jiwa dan fikiran dipenjara rapat rapat sehingga sistem pendidikan dan pengetahuan ala kita pun kita tidak punya.

Kita seolah lupa bahwa ada ayat ayat yang melarang kita minder, takut dan sedih. Kita seolah lupa ada doa doa matsurat yang setidaknya dibacakan setiap pagi dan petang, yang kebanyakan isinya adalah keridhaan, kesyukuran dan meminta perlindungan dari keburukan, kesedihan dan keresahan.

Dalam doa itu disebut bahwa aspek internal berupa kesedihan dan keresahan itu akan mendatangkan kemalasan dan ketidakbecusan. Kemudian kemalasan dan ketidakbecusan berakibat pada aspek sosial yaitu pelit dan pengecut. Tidak akan pernah ada kepemimpinan peradaban bagi bangsa yang pelit dan pengecut, kecuali ditindas secara politis dan ditindas secara ekonomi.

Salam Pendidikan Peradaban
Disarikan sebagian dari perkuliahan FBE#8 Fitrah, Adab dan Peradaban
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
#fitrahbasededucation

Fitrah Anak, Adab & Persekolahan

Harry Santosa – Millenial Learning

Seorang anak perempuan berjilbab, anak dari keluarga dokter terpandang, dengan ranking dan nilai UN terbaik seluruh SMP di kotanya, pindah melanjutkan SMA ke Jakarta.

Tak berapa lama kemudian dia berubah menjadi ratu dan icon bagi banyak ABG di dunia maya. Kecakapannya menciptakan konten di Youtube, Instagram dsbnya, kepiawaiannya membangun personal branding dengan mengusung topik topik seru kehidupannya sehari hari itu menjadi viral di kalangan remaja sehingga membuatnya menjadi jutawan dan konon mampu membeli rumah sendiri, dstnya.

Itu semua membuktikan betapa berhasilnya sistem persekolahan nasional melahirkan pembelajar sejati yang kreatif dengan kecakapan abad 21 yang dicita citakan banyak sekolah modern bahkan dia menjadi youtuberpreneur yang hebat dan banyak diteladani remaja.

Bagi anda yang memuja kecerdasan dan kreatifitas bisa jadi menganggap anak ini sukses. Lihat saja betapa fitrah belajarnya dan kreatifitasnya tumbuh hebat, fitrah individualitas dan sosialitas juga nampak tumbuh sangat mumpuni dengan banyaknya follower, fitrah bakatnya mengelola konten yang digemari sangat berkembang sehingga bahkan menghasilkan uang dsbnya.

Namun tahan dulu kekaguman anda, mengapa? Karena ternyata kecerdasan dan kreatifitas serta keterampilan abad 21 dsbnya itu tidak dibarengi tumbuhnya fitrah lainnya terutama fitrah keimanan dan adabnya. Lihatlah, betapa fitrah imannya dan adabnya anjlok, dia kini bahkan membuka jilbabnya dan sama sekali nampak tidak mencintai Tuhannya bahkan terkesan membenci dan melupakanNya.

Lihatlah konten film dan tulisan yang dihasilkan jauh daripada beradab dengan menampilkan kisah pacarannya yang panas dengan pacarnya, ditambah penampilannya yang kini sudah setengah telanjang dengan rambut dicat pirang dan pakaian minim. Jilbabnya sudah entah kemana. Menampilkan aurat dan konten yang menebarkan kerendahan moral di publik sudah menjadi tradisinya.

Begitu pula fitrah seksualitas dan cintanya menyimpang, itu ditunjukkan bahwa dia menjadi pemudi yang galau parah, haus cinta dan kasih sayang, kering kedekatan dengan kedua orangtuanya.

Baginya, berpacaran menjadi cita cita tertinggi hidupnya, bahkan mengatakan rela meninggalkan kuliah di kedokteran demi pacarnya. Kuliah di kedokteran itu sibuk, lalu kapan bisa banyak waktu untuk pacarnya, begitu katanya di dunia maya.

Nampaknya anak ini membenci orangtuanya dan juga membenci kedokteran. Barangkali pernah dipaksa untuk belajar sehebat hebatnya di sekolah agar menjadi dokter yang bukan keinginannya dan kini memberontak sejadi jadinya.

Bahasanya kini amburadul ditunjukkan dengan seringnya diumbar kata kata kasar, sense of estetika dan etikanya menyedihkan kacau balau dengan selalu menampilkan narsis dan keindahan fisik yang mengumbar syahwat para ABG semata. Ini membuktikan fitrah estetika dan bahasanya juga menyimpang.

Kita doakan semoga ananda di atas juga anak anak kita yang tersesat lainnya agar diberi hidayah oleh Allah dan disadarkan dari fitrah yang menyimpang lalu kembali kepada fitrahnya dan agama yang fitri.

Justru kita sekarang, para orangtualah yang harus bertaubat, harus merenungkan kembali apakah pendidikan itu cuma bertujuan melahirkan atau membuat anak anak sebagai pembelajar yang hebat dan menguasai keterampilan abad 21? Atau melahirkan entrepreneur hebat semata?

Juga mari renungkan apakah selama ini kita selalu memaksa anak anak untuk menjalani peran yang bukan dirinya?

Sementara kita abai dan lalai terhadap fitrah anak anak kita, karena ternyata semua fitrah harus tumbuh bersamaan, serasi dan selaras. Jangan sampai ada fitrah yang menyimpang dan adab yang melenceng. Ada banyak fitrah yang orangtua harus urun tangan langsung dan tidak bisa diserahkan ke sekolah.

Well Schooled tidak berarti Well Educated. Nilai tinggi pada mata pelajaran tidak lantas membuat seseorang tumbuh fitrahnya dengan baik dengan adab serta akhlak yang mulia.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak
‪#‎fitrahbasededucation‬

Fitrah dan Adab – Lanjutan

Harry Santosa – Millenial Learning Center

Atas nama kepatuhan dan adab, kadang anak di bawah usia 7 tahunpun tidak diberi kesempatan mengembangkan fitrahnya termasuk fitrah individualitasnya, fitrah seksualitasnya, fitrah bahasa dan estetikanya, fitrah bakatnya dstnya.

Adab dan akhlak sering dibenturkan dengan fitrah perkembangan anak, ditabrakkan dengan fitrah keunikan anak, fitrah individualitasnya bahkan fitrah keimanannya sekalipun. Semuanya karena tergesa ingin melihat anak nampak Sholeh dan Beradab.

Padahal itu tidak perlu terjadi, karena sesungguhnya Fitrah dan Adab saling berkaitan dan saling menguatkan. Fitrah sebagai modal dasarnya dan Adab sebagai buahnya apabila fitrah tumbuh paripurna pada tahap yang tepat dan dipandu Kitabullah.

Fitrah adalah potensi kebaikan (original goodness atau innate goodness) yang siap menerima Kebenaran Wahyu, meliputi fitrah iman, fitrah belajar dan bernalar, fitrah bakat, fitrah individualitas dan sosialitas, fitrah estetika dan bahasa dstnya.

Sementara Adab adalah amal atau tindakan yang beradab dan bermartabat yang dipandu Kitabullah meliputi adab pada Allah, adab pada diri, adab pada sesama, adab pada Alam, adab pada ilmu dan ulama dstnya.

Agar Fitrah dan Adab bisa saling menguatkan maka kuncinya diantaranya adalah memahami tahap perkembangan dan keunikan anak, sebagaimana Allah juga memberi contoh tahapan usia dalam mendidik anak dan menghargai keunikan amal.

Contoh 1. Lihatlah mengapa sholat (adab pada Allah) baru diminta diperintahkan pada anak saat usia 7 tahun bukan sejak dini, karena memang gerakan sholat yg formal cocok untuk anak mulai usia 7 tahun dimana kesadarannya bahwa ada aturan dan perintah baru dimulai pada usia 7 tahun. Jika kita terburu ingin melihat anak beradab dan patuh pada Allah dengan memerintah sholat pada usia di bawah 7 tahun, maka hasilhya akan kontra produktif, bisa jadi malah membenci sholat. Jangan salah duga, tentu diinspirasikan indahnya sholat boleh dan sangat baik dengan menguatkan gairah cinta anak pada Allah dsbnya. Jika cintanya tumbuh kuat pada usia di bawah 7 tahun, maka di atas usia 7 tahun, mereka akan menyambut sholat dan perintah Allah lainnya dengan sukacita. Ini pertanda Adab mereka pada Allah terbentuk baik sebagai buah dari fitrah iman yang tumbuh indah.

Contoh 2. Tentang adab pada manusia, misalnya berbagi pada teman. Anak di bawah usia 7 tahun masih ego sentris, sehingga jangan dipaksa untuk berbagi. Misalnya ketika mainannya direbut temannya, atau ketika sedang menyukai makanan tertentu, maka jangan tergesa memaksa mereka utk berbagi karena ini tahap penguatan individualitasnya, jatidirinya dstnya. Memaksanya berbagi akan membuat mereka menjadi tidak kokoh egonya, tidak utuh individualitasnya dll sehingga pada tahap berikutnya akan membuat menjadi peragu, malah sulit bersosial dsbnya. Jangan salah duga, diinspirasikan indahnya berbagi tentu boleh, namun bukan dipaksa “on the spot” dengan alasan agar memiliki akhlak atau adab. Setelah usia 7 tahun, jika fitrah individualitasnya bagus mereka akan mampu berkorban sebagai adab tertinggi pada sesama.

Contoh 3. Beberapa keunikan anak atau Fitrah bakat kadang muncul seolah tidak beradab, misalnya anak yang berbakat memimpin umumnya nampak keras kepala dan tidak suka diatur, anaknya yang berbakat seni umumnya moody dan sensitif, anak yang berbakat pemikir umumnya nampak anti sosial dan pendiam dsbnya. Jika kita tidak memahami fitrah bakat atau keunikan anak dan tergesa ingin melihatnya berakhlak atau beradab, maka kita akan memaksanya menghilangkan keunikan nya tersebut. Padahal tugas kita membantu menguatkan keunikannya dan menyempurnakan akhlaknya dimulai dari keunikannya tsb. Fitrah keunikan atau fitrah bakat jika tumbuh paripurna kelak akan menjadi peran peran peradaban terbaik yang akan menjadi adab bagi kehidupan dan masyarakat. Karenanya untuk fitrah bakat, kita Fokus pada cahayanya saja, nanti kegelapannya akan tidak relevan.

Salam Pendidikan Peradaban
‪#‎pendidikanberbasisfitrah‬ dan akhlak
‪#‎pendidikanberbasispotensi‬