Hikikamori

Oleh: Kak Eka Wardhana,
Rumah Pensil Publisher

Di beberapa negara, khususnya di Jepang berkembang penyakit sosial baru, namanya Hikikamori. Dari segi bahasa, hikikamori berarti mengurung diri. Hikikamori adalah fenomena sosial dimana para remaja dan orang dewasa menarik diri dari kehidupan sosial dengan mengurung diri di rumah. Berapa lama mereka mengurung diri? Dari berbulan-bulan sampai bertahun-tahun! Bahkan ada yang sampai 20 tahun tidak bertemu adik atau orangtuanya sendiri!

Dari survei yang dilakukan pemerintah Jepang pada tahun 2016, pelaku Hikikamori sudah mencapai 500 ribu orang. Jumlah ini meningkat 16,9% dari survei yang dilakukan pada tahun 2009. Dan setiap waktu yang terlewat, jumlahnya semakin bertambah.

Jelas ini adalah masalah serius. Kementrian kesehatan Jepang sampai mengucurkan dana sebesar 2,53 miliar yen atau 329 miliar rupiah untuk membantu para penderita hikikamori. Maka timbul dong pertanyaan: kenapa fenomena ini muncul? Apa yang menyebabkan orang memutuskan untuk tidak bersekolah, tidak bekerja dan tidak melakukan aktivitas di luar rumah?

Dari beberapa artikel yang saya baca, beberapa penyebab hikikamori adalah:
1. Sering dibully di sekolah,
2. Tidak bisa memenuhi harapan keluarga untuk mencapai standar nilai akademik yang tinggi,
3. Gagal ujian, terutama untuk memasuki sekolah favorit,
4. Terlalu dimanja dan dilindungi keluarga, sehingga lemah terhadap tekanan lingkungan,
5. Merasa lingkungan sosial tidak sesuai dengan idealismenya sehingga memutuskan untuk menolak berhubungan dengan orang lain,
6. Stress dan depresi yang berlebihan.

Selain beberapa penyebab di atas, ada juga faktor pendukung yang membuat pelaku hikikamori merasa bisa bertahan walau tak bertemu siapapun yaitu: teknologi yang makin canggih. Tahu sendiri kan, dengan teknologi masa kini orang bisa bergaul, bermain virtual game, bahkan bekerja dan berbelanja tanpa harus keluar rumah.

Ada istilah lain dalam bentuk akronim yang banyak persamaannya dengan hikikamori, yaitu NEET. NEET adalah singkatan dari Not Employment, Education, or Training alias pengangguran. Bedanya, dalam hikikamori masih ada orang yang bekerja walau lewat dunia maya dan benar-benar mengurung diri, sedangkan NEET adalah para pemalas yang menolak bekerja walaupun tidak selalu mengurung diri di rumah.

Bisa ditebak, orang yang paling rentan terkena hikikamori adalah para Getaku. Getaku kependekan dari “Game Otaku” alias para penggemar anime yang dikemas menjadi game atau komik. Getaku menyukai game yang mempunyai karakter dan alur cerita sendiri. Mereka bisa berjam-jam bahkan berhari-hari menatap layar komputer dan membentuk komunitas online yang tersebar di manca negara.

Saudaraku para orangtua, berhati-hatilah pada fenomena-fenomena di atas. Salah pengawasan sedikit, anak yang saat lahir membawa harapan kita ke atas awan, ternyata malah menghancurleburkan kebanggaan kita dari sejak dini.

Sekadar mengingatkan, dari sejak awal Islam sudah mengingatkan pentingnya bergaul dengan orang lain. Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda sebagaimana yang dikutip Ahmad dalam Al-Musnad, Abu Dawud dalam Al-Adab, dan At-Tirmidzi dalam Sifah Al-Qiyamah:

“Maukah kalian kuberi tahu tentang perbuatan paling utama daripada puasa, shalat dan sedekah?’ Para Sahabat menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah’. Lalu Beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Memperbaiki (dan menjalin) hubungan di antara sesama. Maka sesungguhnya kehancuran pertalian antar sesama adalah pembabatan. Aku tidak mengatakan membabat rambut tetapi membabat (memutuskan agama).”

Jadi, apa yang harus dilakukan agar fenomena hikikamori ini tidak menjangkiti anak-anak kita?

1. Memperkuat aqidah. Aqidah yang kuat akan membuat hubungannya dengan Allah menjadi dekat. Maka Allah akan selalu menjadi penolongnya.

2. Menumbuhkan rasa percaya diri anak. Caranya adalah menemukan bidang dimana bakat dan minat anak berada. Bila anak bisa berprestasi di bidang itu, dengan sendirinya rasa percaya dirinya pun tumbuh.

3. Mendampingi anak bila ia merasa berat menghadapi pelajaran akademis di sekolah.

4. Mempersiapkan fisiknya termasuk berlatih bela diri islami. Dengan demikian ia bisa membela diri bila terkena bully. Fisik yang kuat akan menambah rasa yakin pada dirinya.

5. Jangan terlalu over protective, dorong anak untuk berani menghadapi masalahnya sendiri. Dampingi dan awasi, tetapi biarkan ia memecahkan masalah dengan kemampuannya sendiri.

6. Diet gadget dan game. Bukan berarti anak tidak boleh main game buat sekadar pelepas lelah atau menambah pengalaman, tetapi segala sesuatu yang kebanyakan akan buruk akibatnya. Batasi jam main gadget dan game anak.

7. Inspirasikan ke dalam jiwanya kisah orang-orang shalih dan para pahlawan sehingga jiwanya terbentuk juga menjadi jiwa yang shalih serta dipenuhi semangat berjuang. Caranya? Bacakan buku-buku tentang orang-orang shalih, pemberani dan berprestasi.

Semoga Allah senantiasa melindungi keluarga kita dari tangan-tangan setan yang berusaha merebut mereka.

Salam Smart Parents!

Advertisement

Menangani Anak yang Mengalami “Attention Deficit Hyperactivity Disorder”

Bondhan Kresna W.
Kompas.com – 30/04/2018, 09:00 WIB

Tulisan pertama di kolom ini saya menceritakan pengalaman saya melakukan pendampingan pada remaja yang memperlihatkan gejala-gejala depresi.

Pada saat yang sama, saya juga melakukan pendampingan di sebuah sekolah dasar swasta pada seorang anak yang didiagnosa mengalami gangguan pemusatan perhatian (GPP). Apa itu GPP?

Nama kerennya ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) yaitu suatu kondisi dimana individu memiliki kesulitan untuk memfokuskan diri pada sesuatu, terkadang ada kasus yang disertai dengan hiperaktifitas, impulsif atau susah diam, bergerak terus, tidak capek-capek.

Diagnosa itu biasanya diberikan pada anak, karena gejala-gejalanya paling terlihat pada anak. Sebenarnya labelling ini dari pengalaman saya juga masih ada yang “protes” dan saya dapat memahami protesnya.

“Lha wong sudah biasa to, anak itu ya ada yang sering tidak fokus, ada yang gampang fokus. Ga usah dikasih label…”

Beliau yang protes ini tidak sepenuhnya salah. ADHD sendiri juga kemudian jadi label dan penyandangnya dianggap memiliki gangguan jiwa, padahal yang paling tepat adalah gangguan saraf. Tapi sebaliknya, label ini penting bagi psikolog karena bisa menentukan intervensi yang tepat untuk menanganinya.

Padahal individu dengan ADHD tetap bisa beraktifitas seperti biasa, bahkan banyak orang-orang sukses yang sebenarnya pernah didiagnosis ADHD. Contohnya miliarder Inggris pemilik Virgin Group, Richard Branson, aktor Hollywood Jim Carrey, Ryan Gosling, vokalis Maroon 5 Adam Levine, Justin Beiber, peraih emas Olimpiade dalam cabang atletik Simone Biles, dan banyak tokoh-tokoh dunia yang lain.

Jadi selama diberikan terapi dan bila perlu pengobatan yang tepat, maka tidak akan mengganggu perkembangan fisik maupun psikologis anak. Sebaliknya kalau didiamkan saja maka akan menjadi masalah yang serius sejalan dengan perkembangan anak, karena anak atau remaja jadi susah belajar. Akibat lain adalah lemahnya kontrol emosi.

ADHD sendiri bukan disebabkan oleh lingkungan, pola asuh, atau yang lain. Kondisi ini disebabkan oleh faktor genetik atau keturunan, jadi gejalanya tidak bisa seratus persen dihilangkan, hanya bisa dikontrol dan dikurangi.

Menurut jurnal Pediatrics pada 2010, paparan pestisida juga meningkatkan resiko ADHD pada ibu mengandung. Selain itu resiko tinggi juga terjadi pada ibu hamil yang merokok atau meminum minuman beralkohol.

Balik lagi ketika itu saya mendampingi seorang anak berusia 8 tahun. Sebut saja namanya Roni. Roni sudah duduk di kelas tiga sekolah dasar. Untungnya sekolah itu tidak membanding-bandingkan anak melalui ranking. Semua anak diapresiasi dan dihargai kelemahan dan kelebihannya.

Dalam satu kelas ada 20 anak dengan dua guru, tiga diantaranya berkebutuhan khusus termasuk Roni. Saya ditugaskan kampus untuk membantu mendampingi. Saya mulai dari kulonuwun, minta ijin baik ke pihak sekolah maupun pada orangtuanya saya mampir ke rumah.

Orangtua Roni cukup terbuka, memang saya diinterogasi singkat maksud dan latar belakang saya. Tapi kemudian mereka dengan senang hati menerima, dan saya sangat bersyukur selama proses penegakan diagnosa, pendekatan (building rapport), lalu kemudian terapi berlangsung dengan lancar.

Karena tanpa kesediaan dan keterlibatan orangtua secara aktif, semua jenis terapi psikologi pada anak tidak akan optimal. Bersedia doang juga tidak akan bermanfaat, tapi harus aktif kedua-duanya ayah maupun ibu. Orangtua diberikan pekerjaan rumah untuk memberikan terapi mandiri di rumah. S

eperti biasa, hal pertama yang saya lakukan adalah observasi di sekolah maupun di rumah. Untuk penegakan diagnosa saya meggunakan DSM (Diagnostic & Stastitical Manual of Mental Disorders), yang saat ini sudah sampai pada edisi kelima. Panduan diagnosa gangguan jiwa (yang didalamnya juga ada pedoman diagnosa gangguan syaraf) ini bersumber dari American Psychiatric Association (APA) dan di Indonesia diadaptasi menjadi PPDGJ (Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa).

Dalam pedoman tersebut, untuk menegakkan diagnosa ADHD (kode F.90.0) ada gejala-gejala yang harus muncul secara konsisten (minimal 6 bulan) setidaknya 5 dari 9 gejala yaitu :

1. Tugas-tugas dikerjakan dengan tidak akurat, sering melupakan detail pekerjaan. Pada gejala ini ketika guru memberikan tugas menyalin tulisan. Tulisan Roni selalu ada yang tidak lengkap, kekurangan huruf. Misalnya diminta menyalin kata “Buku”, ditulis “Bku”

2. Sering memiliki rentang perhatian yang pendek, kesulitan untuk fokus. Roni tidak pernah bisa memberikan perhatian pada satu hal lebih dari tiga menit, setelah tiga menit atau kurang perhatiannya selalu beralih.

3. Sering terlihat tidak memperhatikan ketika diajak bicara. Ketika diajak ngobrol, Roni hanya melihat lawan bicara beberapa detik pertama, setelah itu perhatiannya selalu beralih meski tidak ada hal lain yang terjadi di sekitarnya.

4. Sering tidak bisa mengikuti instruksi, tugas-tugas tidak selesai dikerjakan. Roni jarang menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Misalnya diminta menyalin sepuluh tulisan, yang dikerjakan baru lima lalu berhenti.

5. Sering mengalami kesulitan untuk mengerjakan tugas yang berurutan atau merapikan pekerjaan. Roni jarang merapikan tugas-tugasnya untuk dikumpukan sehingga guru (shadow teacher) lebih sering mengambil di meja belajarnya dibandingkan Roni menyerahkan ke meja guru.

6. Sering menolak tugas-tugas yang memerlukan upaya mental, misalnya pekerjaan rumah atau pekerjaan tambahan. Roni jarang menolak tugas tambahan yang diberikan padanya

7. Sering kehilangan barang-barang Pribadi. Roni sering ketinggalan alat tulis di sekolah.

8. Sering tiba-tiba terlihat terganggu oleh sesuatu hal. Meski perhatian sering beralih, Roni tidak terlihat terganggu perhatiannya secara tiba-tiba.

9. Sering melupakan tugas-tugas harian. Roni sering diingatkan untuk melakukan tugas-tugasnya kembali setelah perhatiannya beralih.

Dari 9 gejala di atas, ada 7 gejala yang konsisten muncul dari beberapa kali observasi yang dilakukan selama satu bulan dan dikonfirmasi oleh orangtua maupun guru bahwa gejala-gejala ini sudah lama berlangsung, lebih dari 6 bulan.

Bahkan sejak pertama kali masuk sekolah. Sementara itu tidak ada satupun gejala hiperaktifitas yang muncul, sehingga diagnosa utamanya adalah Gangguan Pemusatan Perhatian (GPP) dengan taraf sedang (mild) karena apabila tidak diberikan intervensi akan berpengaruh pada perkembangan mental anak.

GPP meskipun tidak disertai gejala hiperaktifitas, masih sering didiagnosa sebagai ADHD lengkap oleh psikiater atau psikolog. Padahal dalam DSM ada tiga kode diagnosa untuk ADHD yaitu F.90.2 untuk dominan GPP dan hiperaktifitas, kemudian F.90.0 untuk dominan GPP saja, dan F.90.1 untuk dominan hiperaktif saja.

Efeknya cukup besar, karena gejala-gejala GPP yang sudah didiagnosa lebih dini tidak memerlukan pengobatan, cukup terapi perilaku. Biasanya obat yang diresepkan adalah Ritalin yang berfungsi menekan fungsi syaraf atau merk lain yang mengandung Methylphenidate.

Pemberian intervensi medis yang tidak tepat khususnya pada anak meningkatkan risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan stroke ketika dewasa. Pemberian obat disarankan untuk diagnosis gangguan dengan taraf berat (severe). Itupun disarankan dengan kombinasi terapi perilaku.

Dalam kasus Roni, saya hanya akan menyarankan pemberian terapi perilaku. Ada banyak terapi perilaku, namun untuk kasus GPP pada anak salah satu yang cukup efektif adalah dengan token economy. Anak seusia Roni secara kognitif masih dalam taraf operasional konkrit menurut teori perkembangan kognitif Piaget, artinya bahwa anak memahami segala sesuatu secara konkrit apa yang dilihat atau didengar anak.

Beda dengan remaja yang sudah bisa melakukan abstraksi, pada kasus remaja yang sebelumnya pernahs saya tulis, saya menggunakan Cognitive Behavioral Therapy (CBT), pada anak terapi ini tidak akan efektif.

Token economy merupakan terapi yang sederhana, tapi membutuhkan konsistensi yang tinggi baik dari psikolog, guru, maupun orangtua. Sekali saja muncul inkonsistensi dari salah satu pihak, terapi akan berantakan.

Intinya adalah take and give. Memberi dan menerima. Makanya ada istilah “economy”. Anak akan dijanjikan sesuatu apabila dia melakukan sesuatu. Dalam hal ini Roni diminta melakukan hal-hal yang sedarhana pada awalnya, namun teratur dan konsisten. Misalnya sepulang sekolah Roni ditugaskan menaruh baju kotor dan kaus kaki di keranjang baju kotor dekat mesin cuci di rumah.

Total ada 5 tugas di rumah dan 4 tugas di sekolah untuk diselesaikan dalam tiga bulan. Setiap kali Roni berhasil melaksanakan tugasnya, ia akan mendapat sebuah stiker. Stiker ini bisa ditempel di buku token atau papan token. Saya buatkan stiker dan buku token warna-warni dengan gambar tokoh idolanya waktu itu Bernard Bear, dan mainan favoritnya, gambar-gambar mobil Hot Wheel. Buku ini dibawa oleh anak, kalau di sekolah yang memberi stiker guru, di rumah bisa ayah atau ibunya.

Ketika memberikan buku, saya, Roni, bu guru, dan kedua orangtua sudah sama-sama sepakat. Setelah sebelumnya sekitar dua minggu pendekatan ke Roni, main bola tiap sore di depan rumahnya.

Stiker dalam jumlah tertentu bisa ditukarkan dengan berbagai aktivitas kesukaan Roni. Misalnya dalam seminggu terkumpul sepuluh stiker, bisa ditukar dengan jalan ke minimarket beli satu hal yang diinginkan, jalan-jalan lihat mobil dan kereta api, atau yang unik dari Roni, dia senang sekali bila diajak ke bengkel melihat mobil diperbaiki.

Sementara dalam sebulan bila terkumpul 40 stiker bisa ditukar berenang di water boom atau nonton balap motor trail. Alhamdulillah, dalam tiga bulan Roni sudah mulai terbiasa menaruh baju kotor, menghabiskan sarapan pagi, dan tiga tugas lain. Sementara di sekolah rentang perhatiannya menjadi sedikit lebih panjang, tidak lagi ketinggalan alat tulis, dan mau menyelesaikan tugas yang diberikan.

Setelah itu saya serahkan semua stiker yang pernah saya buat, dan beberapa buku token cadangan. Mulai saat itu orangtua dan guru sendiri yang menjalankan terapinya, dengan tugas-tugas yang sedikit lebih sulit dari sebelumnya. Sekali lagi inti dari terapi ini hanya satu, konsistensi. Konsistensi akan membangun kepercayaan diri anak dan menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan yang sebelumnya sulit dilakukan.

Bahkan saat saya pamitan di rumahnya untuk menyelesaikan program terapi, Roni langsung bilang ke ayahnya nanti kalau sudah besar ingin masuk Teknik Mesin, kalau tidak bisa ya STM jurusan mesin, lalu ingin punya bengkel sendiri, ingin punya showroom mobil. Bahkan anak lain seusianya mungkin masih banyak yang belum tahu mau jadi apa selain pilot kata saya.

Ayah, ibu dan putra tunggalnya ini pun tertawa lebar. Tidak lama kemudian saya pun pamit, sambil mereka antar saya mengeslah motor saya…jeglek..jeglek..jeglek, honda supra saya memang kadang suka ngambek.

Saya meringis diketawain Roni. Lalu Bruum…akhirnya hidup setelah 12 kali starter. Saya pun tos dengan Roni dan senyum-senyum sendiri dalam perjalanan pulang sambil bersyukur bisa membantu mereka. Bahagia itu sederhana…

Mengapa Orang Tidak (Bisa) Berubah?

DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum.
Kompas.com – 05/10/2017

Sudah banyak orang belakangan ini merasakan beban berat saat mengurus keluarga yang sakit. Mulai dari beban ekonomi, hingga beban emosional menanggung penderitaan tersiksanya tubuh.

Negara pun ‘merasakan’ siksaan yang sama, apalagi mengurus lebih dari seperempat milyar jumlah penduduknya.

Oleh karena itu pelbagai upaya diketengahkan, berbagai terobosan dikedepankan. Salah satunya yang paling tidak favorit adalah upaya pencegahan alias preventif, promotif. Mencegah penyakit sebelum datang, mencegah komplikasi di kemudian hari, hingga meningkatkan kualitas hidup manusianya.

Keluhan tenaga kesehatan yang selalu muncul: Mengapa sulit sekali mengubah kebiasaan buruk, mengapa orang susah diajak hidup sehat, mengapa keluar dari zona nyaman untuk sesuatu yang lebih baik malah dianggap merepotkan?

Ada 2 jawaban saya yang selalu terbukti:

Pertama, orang yang diajak berubah hanya melihat perubahan tersebut sebagai “keharusan”. Bukan sesuatu yang maha penting buat dia. Masih ada yang lebih penting baginya untuk diprioritaskan.

Kedua, perubahan itu sendiri sebenarnya mempunyai 6 tahapan yang kerap tidak disadari oleh para promotor kesehatan.

Enam tahapan “orang bisa berubah” sebagaimana pernah diulas oleh Prochaska di tahun 70an membuat kita bisa melihat “seberapa jauh saya sudah melangkah” dan apakah perubahan yang diinginkan itu bisa jadi kenyataan, atau ‘sekadar proses’ (yang tak pernah kesampaian).

Level terendah alias tahap satu adalah saat orang baru terpapar oleh sebuah informasi. Bahasa gaul menyebutnya ‘baru ngeh’, alias menimbulkan awareness.

Tahap terendah ini adalah saat orang melihat poster, membaca berita, atau baru saja mendengar hal baru. Ajakan untuk berubah belum digubris, masih untung tidak ditampik.

Tahap dua, adalah situasi saat orang yang terpapar informasi masih ‘mikir-mikir’. Masih menimbang dan mengolah apa yang telah diketahuinya.

Ini adalah momen manusia menghitung untung ruginya, bahkan mencari tahu antara ‘mudharat dan manfaat’. Ajakan berubah akan sirna bila orang tersebut mendapat informasi lain yang kontra-produktif. Alias hasutan dari sumber lain, yang mengajaknya mengambil pilihan lain.

Di tahap ke tiga, jangan mengira orang mulai berubah. Sama sekali tidak. Ia masih mengambil ‘ancang-ancang’. Ini adalah saat kritis dimana bila terjadi hal yang tidak mengenakkan, ia akan langsung balik badan.

Ibaratnya anak baru mau belajar berenang, baru saja akan memulai latihan meluncur, hidungnya keburu kemasukan air dan gelagapan panik.

Baru di tahap ke empat-lah seseorang yang sudah mantap ingin berubah menjalankan hal baru dan siap menghadapi berbagai kendala.

Dalam perubahan gaya hidup dan pola makan, intervensi mentor sangat dibutuhkan. Banyak pertanyaan akan muncul di tengah perjalanan seseorang melakukan apa yang tadinya ia kenal sebatas teori. Disinilah keterampilan mentor menjadi kunci keberhasilan.

Saat itu pula seseorang harus bisa melihat hasil yang dicapai, dibandingkan dengan upaya babak belur belum lagi cibiran orang yang mengikuti perubahannya.

Sentilan komen di medsos hingga tatapan merendahkan anggota keluarga (yang sebetulnya juga iri tapi belum bisa berubah) bagi sebagian orang merupakan hantaman besar – yang oleh sebagian kecil orang justru bukan hal yang berarti.

Banyak petugas kesehatan salah menempatkan pasiennya di level empat ini; padahal sang pasien masih di level satu. Itulah sebabnya ocehan gaya hidup sehat hanya didengar sebatas iklan.

Kurun waktu seminggu atau sebulan bagi suatu perubahan besar dalam hidup belum dianggap sebagai kondisi ‘stabil’.

Memelihara perubahan alias ‘maintenance’ merupakan tahap ke lima yang justru bisa jadi lebih sulit dari saat memulai suatu perubahan. Di tahap ke lima ini, kerap yang dihadapi bukan lagi orang lain, melainkan tantangan yang muncul dari diri sendiri. Sebab hidup tidak selamanya berjalan datar.

Sarapan, makan siang dan makan malam tidak selamanya di rumah. Bagaimana jika tugas luar kota? Bagaimana jika ada hajatan? Bagaimana regulasi apa yang dimakan saat berpuasa?

Itulah mengapa ada tahapan ke enam: saat orang tergelincir kembali ke pola lama. Alias ‘kumat’. Berbuka puasa yang semestinya bisa saja ada pilihan takjil lebih sehat, ternyata tergiur oleh jajanan sepanjang mal atau tawaran teman arisan.

Ke luar negeri yang juga masih tersedia banyak sayur dan buah melimpah, malah nyasar ke street food.

Tahap relaps atau tergelincir ini membuat orang kadang harus melihat kembali ke tahap yang paling dini: awareness. Dan bertanya kembali ke diri sendiri: penting enggak sih arti perubahan ini buat saya?

Dari tulisan di atas, kita bisa merenung kembali semua ‘program’ yang selama ini diharapkan mampu mengubah kebiasaan, gaya hidup hingga pola makan masyarakat. Jangan-jangan kita masih asik mentok di tahap pertama.

Hanya sebar menyebar informasi, ‘membangunkan orang dari tidur’. Menghabiskan dana untuk deklarasi dan mengingat semboyan. Tapi begitu sedikit yang sudi mengambil tindakan dan kendali untuk berubah.

Nah, begitu sudah ‘kepentok’ – seperti istilah saya bagi pasien yang sudah babak belur habis-habisan – barulah tindakan yang signifikan diambil. Tanpa negosiasi. Sementara kondisi ‘kepentok’ tadi belum terjadi, sebagian besar orang masih bermain dengan skala prioritas.

Tepatnya permainan menang-kalah. Lebih mementingkan pekerjaan, makan seketemunya. Dikira uang yang dihasilkan bisa membuat hidupnya lebih baik (tanpa kesehatan yang dijaga).

Lebih mementingkan karir, perkawinan dianggap sesuatu yang berjalan baik-baik saja (tanpa dicek lagi makna komitmen, keterbukaan, kejujuran, apalagi kepedulian).

Urgensi yang dinegosiasi barangkali lekat dengan ideologi ‘alon alon waton kelakon’ – alias pelan-pelan saja, yang penting kesampaian.

Padahal di saat ‘pelan-pelan’ itu – yang kerap diandaikan proses – ada hal yang lebih dahulu sampai di garis finish: penyakit fatal keujung kematian, kecacatan, bahkan kemiskinan.

Karena banyak penyakit yang kita tiru dari negeri seberang bukan berasal dari pulau Jawa, makanya tidak pernah kenal dengan ideologi ‘alon alon waton kelakon’.

Kebiasaan Salah Menuai Sekian Masalah

DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum.
Kompas.com – 28/09/2017

Tulisan ini memuat sekian banyak pengamatan yang bisa jadi luput dari kacamata awam, tapi begitu menggelitik jika dilewatkan.

Salah satunya pemandangan yang semakin marak di meja makan restoran: bayi-bayi atau bocah di kursi tinggi di meja makan sambil disuapi matanya terpaku pada layar ponsel.

Cara membuat ‘anak duduk tanpa bertingkah’ di saat makan yang dianggap praktis dan pintar oleh orangtuanya (apalagi pengasuhnya), yang tanpa disadari akan menuai perkara di kemudian hari.

Anak tidak diajar menjadi tertib di meja makan dan menikmati makanannya, melainkan justru pengalihan fokus yang menjadi pilihan.

Suatu hari, jangan marah jika anak yang sama di usia remaja akan lebih asik berkutat dengan ponselnya, sementara keluarganya di sekeliling meja makan dianggap bukan siapa-siapa.

Lebih parah lagi jika anak itu suatu hari juga jadi orangtua, yang sibuk sendiri atas nama pekerjaan yang ‘harus diurus via telepon pintar’ ketimbang berinteraksi dengan keluarganya di meja makan.

Ini bukan masalah sopan santun lagi, melainkan hilangnya penghargaan atas eksistensi manusia di sekelilingnya.

Juga bukan perkara pengalihan perhatian semata, tetapi ketidakmampuan menunda ketagihan dan kelekatan pada media ciptaan manusia, daripada ketertarikan pada manusianya sendiri.

[Baca juga: Bagian Otak yang Hilang Itu Bernama Nurani]

Ponsel yang tiba-tiba terselip, raib atau hilang sinyal menjadi malapetaka besar bagi seorang remaja belakangan ini, ketimbang orang tuanya tak pulang rumah seharian.

Mengerikan sekali jika kita mulai berhitung, berapa jam anak-anak berinteraksi dengan gawai dibandingkan dengan sungguh-sungguh berbicara, berdialog dan menatap sesamanya menggunakan seluruh panca indera dan empati.

Norma, etika, sopan santun, atau istilah unggah-ungguh belakangan ini menjadi hal yang begitu dingin jika tidak mau disebut ‘tidak dipahami’ sama sekali.

Jangankan terhadap orang lain, berbuat sopan dan menjadi hormat, memberi penghargaan terhadap diri sendiri pun jarang saya jumpai pada manusia milenial ini.

Kebiasaan makan seadanya, seketemunya, atau malah berjingkrak kegirangan saat kecanduan lidah ditemukan – disadari atau tidak – merupakan penyiksaan terhadap tubuh yang kebutuhan esensinya justru diabaikan. Jangan kesal saat penyakit pun satu per satu bermunculan sebagai kumpulan masalah baru.

Terlambat makan, makan ngawur, kurang tidur, kerap dianggap ‘tambahan keluhan’ di praktik dokter, bukannya menjadi fokus perubahan yang utama.

Tak heran jika temuan diabetes di hari pertama pun oleh dokter langsung diberi obat, padahal prosedur operasional yang benar bukan begitu.

[Baca juga: Rame Ing Gawe, Sepi Ing Pamrih]

Lebih celaka lagi, masih ada dokter spesialis yang menertawakan kemampuan pasien mengubah gaya hidup. Cobalah jadi pasien diabetes di negri maju. Tak ayal negri kita dikenal royal obat-obatan di kala sakit.

Dan kondisi ini pastinya akan semakin parah dan masalah kian menggunung bilamana situasi sebelum sakit tidak pernah mendapat perhatian.

Kebiasaan salah bermula dari pola asuh masa kecil

Kebiasaan mencari jalan pintas, solusi seringkas-ringkasnya, jika masih malu menggunakan kata instan, membuat otak berpikir pendek dan jiwa kehilangan ‘grit’ – jika meminjam istiilah profesor muda yang sedang naik daun, Angela Lee Duckworth.

Keuletan dan kegigihan jiwa dalam segala aspek kehidupan pun bukan karunia, apalagi wangsit instan. Melainkan, hasil dari pola asuh keluarga yang masih menghargai komitmen serta keutamaan.

Bahwa uang itu bukan segalanya, walaupun uang itu penting. Sehingga, amat tidak masuk akal jika ada manusia menjual harga diri demi uang apalagi status.

Begitu pula uang hanyalah wahana, yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, digunakan bukan untuk merendahkan harga diri lagi, tapi justru meningkatkan kualitas diri. Sehingga, dari kecil anak terbiasa menabung bukan untuk membeli makanan melainkan buku bermutu, misalnya.

Di hari tua, punya pulsa dan kuota berlebih pun tidak dipakai untuk menyebar berita sensasi (hanya supaya kelihatan kekinian, tidak telat informasi) padahal akhirnya menuai kontroversi.

Tanpa disadari, seseorang bisa punya andil dalam menciptakan kekisruhan, kebodohan dan keterbelakangan cara berpikir.

Bayangkan jika kuota berlebih itu dipakai untuk mengunduh buku elektronik atau berlangganan jurnal teranyar!

[Baca juga: Kesehatan Salah Kaprah, Adakah Rasa Bersalah?]

Kebiasaan salah yang kerap tidak disadari juga terjadi saat kita menelan mentah-mentah informasi tanpa berpikir lebih cermat apalagi menelusuri kebenaran fakta.

Hal yang juga tidak serta merta kita dapatkan sebagai kebijaksanaan, tetapi sekali lagi: pembiasaan sejak kecil untuk berpikir bukan hanya rasional tapi juga runut, terstruktur dan bisa dipertanggungjawabkan.

Sayangnya, kebiasaan melempar batu sembunyi tanganlah yang dijadikan pola – mulai dari kebiasaan mencari kambing hitam hingga mengangkat bahu menampilkan raut muka, ”Wah, ndak tahu ya…”

Terbiasa mengatakan “saya tidak tahu” di era milenial ini, suatu hari akan menuai badai. Harga yang harus dibayar akan sangat mahal. Mulai dari kecerobohan mengurus diri hingga korbannya orang lain.

Ungkapan “tidak tahu” secara implisit mengandaikan banyak hal, mulai dari orang tersebut tidak punya tanggung jawab hingga keberadaannya tidak bermakna sama sekali di dunia ini.

Sayang amat jika suatu perusahaan atau instansi pemerintah menggaji karyawan yang kerap menjawab “tidak tahu”.

Banyak orang besar di dunia ini mendapat titik balik dalam kehidupannya justru saat mereka menyadari kebiasaan-kebiasaan salahnya dan langsung berubah sebelum menuai masalah.

Seperti yang pernah diucapkan Albert Einstein, kegilaan itu adalah saat di mana ada orang mengharapkan hasil yang berbeda, tapi dalam hidupnya ia masih mengulangi cara-cara yang sama!

Pacuan Manfaat Menuju Akhir Hayat.

Harry Santosa
April 25, 2018

Wahai yang tiba di Usia 40. Usia ini adalah usia penentuan, ingin berpacu dalam kebaikan penuh manfaat secara eksponensial sampai ajal tiba atau sebaliknya, sibuk berpacu pada mengambil sebanyak banyak yang bisa diambil dari dunia sebagai ambisi prestise kebanggaan semu sampai mati.

Hidup hanya sekali bukan? Maka fokuslah pada memberi manfaat yang besar, karena manfaat itulah ukuran kemuliaan dan ukuran kehinaan. Ada yang merasa dimuliakan Allah karena diberi kemuliaan dan kenikmatan hidup, dan ada yang merasa dihinakan ketika rezqinya disempitkan. Oh no, sama sekali bukan begitu, ukuran kemuliaan dan kehinaan adalah seberapa besar memberikan manfaat bagi dunia. (QS Alfajr 15-18)

Dengan banyak menebar rahmat dan manfaat di dunia itulah kita berharap Allah ridha dan jiwa kita juga ridha, lalu Allah nyatakan kita dimasukkan ke dalam golongan HambaNya karena dianggap telah berhasil mencapai maksud penciptaan selama di dunia untuk beribadah. Tidak mungkin kita bisa mengatakan kita hamba Allah jika tiada manfaat yang kita berikan di dunia. Kita dihadirkan di dunia itu agar nyata bagi Allah siapa yang paling baik amalnya, “linabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala”. Dan syurga adalah tempat bagi mereka yang pahala amal manfaatnya paling banyak.

Mereka yang banyak memberi manfaat dan tidak banyak mengambil alias tidak rakus itulah yang tenang jiwanya yang kemudian diundang ke SyurgaNya. Ketenangan jiwa (nafsul muthmainnah) inilah jiwa yang sudah tak lagi berambisi dunia, ia telah menemukan makna kehidupan sejatinya, yaitu banyak menebar rahmat bagi semesta dan memberi manfaat dalam bentuk kabar gembira (karya solutif) dan peringatan (problem warning) atau bashiro wa nadziro. Muthmainah adalah the truth of happiness, kebahagiaan sejati.

Peran Sejati

Kemudian pertanyaannya adalah dengan apa kita mampu memberi manfaat sebesar besarnya bagi dunia selama kita hidup di dunia? Jawabannya adalah dengan peran peran sejati kita yang merupakan panggilan hidup kita. Orang yang fokus menjalani peran spesifiknya yang merupakan panggilan hidupnya, sudah pasti akan banyak menebar rahmat dan manfaat. Sebaliknya, mereka yang tak jelas dan tak fokus pada peran sejatinya di dunia sudah pasti sangat sedikit menebar manfaat bahkan jiwanya tak bahagia.

Temukanlah peran peran spesifik kita dalam fitrah fitrah yang Allah telah karuniakan sejak lahir. Tidak selalu mudah menemukannya, tetapi galilah dan harus terus diupayakan dengan sepenuh jiwa karena itulah jalan menuju syurga, jalan menuju kebahagiaan sejati, jalan menuju ketenangan dn kedamaian jiwa, jalan untuk meperoleh pahala manfaat sebesar besarnya.

Tajamkan mata nurani sehingga bisa melihat apa yang tak nampak, tajamkanlah telinga nurani sehingga bisa mendengarkan apa yang tak terdengar, tajamkanlah hati nurani sehingga mampu menyerap rasa apa tak bisa dirasa begitu saja. Dan karenanya Allah akan penuhi neraka jahannam dengan mereka yang tak mengunakan mata, telinga dan hati dengan sungguh sungguh, karena mereka hidup tak beda dengan bintang ternak yang hanya untuk kesenangan dirinya semata bahkan mereka lebih buruk dari binatang ternak, karena kerakusannya.

Semoga Allah SWT menolong kita menemukan takdir peran peradaban kita, memberikan kita kekuatan dan kesempatan membangkitkan dan menumbuhkan kembali fitrah fitrah kita yang telah layu, menurunkan keberanian untuk menyambut panggilan jiwa atas fitrah fitrah itu. Sesungguhnya Allah tidak akan memanggil mereka yang mampu, tetapi memampukan mereka yang terpanggil.

Semoga sisa hidup kita adalah pacuan eksponensial amal amal yang penuh manfaat menjelang finish karena peran peran sejati yang kita jalani dengan penuh keridhaan, ketenangan dan kebahagiaan.

#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah

“Agar Tidak Keracunan Omong Kosong”

Agar Tidak Keracunan Omong Kosong

Oeh : Anggi Afriansyah,
Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI

Media Indonesia edisi Selasa, 10 April 2018

DONALD B Calne (1999) seorang profesor neurologi di University of British Colombia dalam Within Rationality and Human Behavior (sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia, diterjemahkan Kepustakaan Populer Gramedia) mempertanyakan, “Jika memang betul kearifan berasal dari pendidikan, bagaimana mungkin Jerman yang merupakan negeri Bach, Beethoven, Brahms, Goethe, Leibniz, dan Kant bisa menjadi negara yang dipacu oleh kebencian dan terlibat dalam kejahatan paling ganas terhadap kemanusiaan sepanjang sejarah?”

Di pengantar awal karyanya, Calne mempertanyakan, mengapa orang berpendidikan yang dianggap yang diharapkan menjadi manusia menjadi arif bijaksana, mampu memilah yang baik dan buruk, juga memperkuat nalar. Bahwa dalam kisah sejarah panjang dunia, ternyata kekejaman bukan hasil perbuatan orang-orang bodoh. Nazi, seperti ditulis Calne, bukan dirancang orang-orang bebal, akarnya bertumpu pada bahu kaum cendekiawan, mereka yang terdidik dengan sangat baik. Jawaban kegelisahan Calne ada di bukunya tersebut, buku yang berisi soal-soal bagaimana nalar berpengaruh bagi kehidupan kita sebagai manusia.

Apa yang menjadi pertanyaan Calne tersebut relevan untuk kita jawab dalam konteks pendidikan Indonesia saat ini. Apakah pendidikan di Indonesia sudah memberikan kualitas terbaik untuk memperkuat nalar bagi kehidupan Indonesia yang lebih baik? Atau pendidikan kita masih terjebak pada hal-hal yang sangat mekanis? Sekadar lulus ujian dengan nilai baik dan kemudian masuk ke jenjang selanjutnya. Atau yang penting lulus dan bisa bekerja? Tanpa memikirkan bagaimana peran dan kontribusi anak-anak didik ini bagi Indonesia di masa depan? Menjaga Indonesia yang bineka ini?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mesti dijawab dunia pendidikan kita. Apalagi di era banjir informasi ini, yang beragam informasi berkelibatan antara fakta dan fiksi, antara kebenaran dan kebohongan. Ketika informasi begitu mudah dimanipulasi atas beragam alasan dan kepentingan. Pada saat kebencian begitu dibudidayakan dan segala sesuatu dianggap sebagai kebenaran ketika sesuai dengan seleranya, selera kelompoknya, yang berbeda harus menyingkir, lenyap dari pandangan.

Penetrasi internet dengan begitu leluasa masuk ke genggaman anak didik ialah sebuah keniscayaan yang tidak terbantahkan. Merujuk data dari BPS (2017), persentase siswa umur 5-24 tahun yang mengakses internet selama tiga bulan terakhir (selama 2017) mencapai 40,96%. Siswa yang tinggal perkotaan hampir dua kali lebih besar menggunakan internet jika dibandingkan dengan yang tinggal di perdesaan. Di sisi lain, menurut laporan tersebut, ada peningkatan meningkatnya persentase siswa umur 5-24 tahun yang mengakses internet seiring dengan meningkatnya kuintil pengeluaran dan jenjang pendidikan yang diikuti. Laporan tersebut juga menyatakan bahwa sebagian besar dari mereka mengakses internet untuk mengerjakan tugas sekolah dan aktivitas sosial media/jejaring sosial.

Tantangan

Era ini, ketika sosial media begitu punya kekuatan besar dalam membentuk opini publik, kita harus begitu hati-hati dalam menilik informasi. Informasi yang begitu meluber dengan basis argumentasi yang asal juga dibangun narasi hoaks ialah jelas tak masuk akal dan brutal. Meracuni akal sehat. Tapi tetap saja banyak yang masih percaya pada narasi-narasi penuh kebohongan itu.

Tantangan bagi institusi pendidikan dan keluarga menjadi lebih kompleks. Narasi yang berkembang di luar kedua institusi ini ditambah dengan informasi dari internet jelas tak bisa dibendung. Yang paling penting ialah bagaimana anak-anak memiliki mekanisme filter dari dalam diri untuk memilah informasi. Amat sangat banyaknya informasi yang dikonsumsi anak membuat mereka kesulitan memilah informasi yang diperoleh. Keterampilan memilah informasi yang punya nilai positif bagi perkembangan tumbuh kembang anak menjadi amat penting dalam konteks saat ini. Memilih konten yang konstruktif bagi perkembangan mental mereka.

Anak sekolah menengah yang usianya sudah menjelang 17 tahun ini dan tahun depan memiliki hak pilih, misalnya, harus sudah diberi pemahaman yang memadai mengenai pendidikan politik. Mereka ialah pemilih pemula, yang tahun ini atau tahun depan sudah harus memilih di momen-momen penting baik itu pilkada maupun pemilu. Mereka termasuk bagian penting yang membentuk wajah perpolitikan Indonesia.

Kontestasi perpolitikan nasional yang begitu ramai beberapa tahun belakangan ini mesti menjadi pelajaran berharga bagi anak-anak didik. Guru-guru yang mengampu pelajaran pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan maupun rumpun ilmu sosial lainnya sudah sepatutnya memberikan pembelajaran yang lebih kontekstual. Menghadirkan permasalahan-permasalahan yang terjadi di masyarakat dan mendiskusikannya di ruang kelas. Munculnya pertanyaan-pertanyaan calon anggota legislatif, bupati/wali kota, gubernur, atau presiden-wakil presiden mana yang harus dipilih akan mungkin diajukan ketika pembelajaran. Pro-kontra di grup Whatsapp atau sosial media lainnya pun akan semakin mungkin disampaikan.

Karena itu, guru-guru harus rela untuk berdialog secara intensif dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin hadir tersebut. Jebakannya ialah setiap guru pasti memiliki preferensi politik masing-masing. Mereka harus memiliki argumentasi yang kukuh ketika berhadapan langsung dengan pertanyaan anak-anak didik mereka. Tidak terjebak pada pilihannya dan menegasikan argumen pihak yang berbeda. Sosok ideal guru yang arif bijaksana dalam memandang persoalan mesti dikedepankan. Jangan sampai justru gurunya yang terbawa emosi dalam memandang situasi politik. Anak-anak muda ini perlu mendapatkan pencerahan dari orang-orang dewasa di sekitarnya termasuk guru dan orangtua mereka. Mereka butuh teladan dari orang-orang dewasa di sekitar.

Membangun argumentasi dengan nalar yang sehat tanpa kebencian ialah tugas fundamental yang harus dibangun di dunia pendidikan. Anak-anak mesti dilatih diskusi-diskusi penuh pencerahan. Membiasakan diri untuk saling mendengarkan. Meskipun berbeda pandangan, mereka harus diajak untuk belajar menghormati perbedaan. Kesemuanya harus didasarkan kesadaran bahwa negeri yang begitu kaya dan beragam ini hanya akan maju jika kita semua bersatu.

Di negara yang amat bineka ini perbedaan jelas suatu yang niscaya dan tidak terbantahkan. Yang paling penting ialah saling mengisi dan mencari keseimbangan. Saling memahami perbedaan-perbedaan tersebut dan berusaha mencari titik temu. Ruang-ruang kelas inilah arena terbaik untuk membangun kebiasaan baik ini dan guru-guru punya tugas yang amat mulia ini. Membangun dan menjaga akal sehat anak-anak bangsa ini. Agar anak-anak negeri ini tak keracunan omong kosong seperti yang disebut grup band Efek Rumah Kaca. Mereka yang argumennya asal, jauh dari andal. Mereka yang tak masuk akal, kacau menjurus brutal. Semoga tidak.

*Terinspirasi dari lagu band Efek Rumah Kaca Keracunan Omong Kosong dalam album Sinestesia.

Diskusi Bahasa Ibu (Mother Tongue)

Wicak Amadeo
April 10, 2018

Sebuah diskusi dengan tema menarik dengan narasumber seorang Pendidik Hebat yang terbukti berdedikasi. Beliau pernah menulis sebuah tema yang sangat menggugah dan menginspirasi yaitu “Anak-Anak Karbitan”. Dalam diskusi berikut, akan dibahas tentang Bahasa Ibu (Mother Tongue).

Dalam laporan Center on the Developing Child (2007), ditunjukkan secara khusus bahwa efek pendidikan usia dini yang benar, terutama pengaruh penggunaan bahasa ibu, dapat meningkatkan kapasitas arsitektur otak anak, yaitu pada saatnya otak tersebut akan memberikan pengaruh baik dalam membentuk perilaku sosial dan emosi anak yang cerdas.

Di Indonesia kita memiliki permasalahan dalam pelestarian bahasa ibu. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pernah memperkirakan bahwa dari 746 bahasa daerah di Indonesia kemungkinan akan tinggal 75. Penyebab utama punahnya bahasa-bahasa tersebut adalah urbanisasi dan perkawinan antar etnis.

Ketika melihat generasi Indonesia pada tahun 1990 an, ditemukan bahwa mulai banyak keluarga yang tidak mengajarkan bahasa ibu. Banyak hal yang menjadi alasan mengapa sebuah keluarga yang bahkan baik ayah dan ibu berasal dari satu suku dan tinggal di daerah namun mereka hanya mengajarkan bahasa Indonesia kepada anak-anaknya.

Hal tersebut sangat disayangkan karena salah satu warisan kekayaan Indonesia adalah bahasa dan budaya kita. Keragaman yang kita miliki telah mewarnai perjalanan hidup berbangsa di bumi nusantara ini. Begitu pula bahasa dan budaya yang menunjukkan jati diri bangsa Indonesia. Sungguh hal yang memprihatinkan jika pada suatu saat kita mengalami bahwa penutur bahasa ibu di Indonesia menjadi semakin berkurang. Hal yang sangat menyedihkan apabila suatu saat kita kehilangan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia ataupun sebagai salah satu suku bangsa di nusantara. Sebagai salah satu unsur budaya, bahasa dan sastra turut serta membentuk adat istiadat, tradisi, tata nilai dan juga cara berpikir yang kemudian dianut oleh seseorang.

Salah satu arti penting pemahaman bahasa ibu sebagai pembentuk budaya adalah ketika orang tua menanamkan nilai-nilai dengan latar belakang budaya masing-masing, misalnya melalui kisah-kisah rakyat. Nilai-nilai tersebut akan dipahami seutuhnya hanya apabila seseorang mengenal dengan baik bahasa dan budayanya. Sebagai contoh, dalam sebuah cerita pewayangan, nilai budaya yang menjadi latar belakang dan logika berpikir salah satu tokoh tidak akan bisa dipahami seutuhnya apabila kisah tersebut disampaikan dalam bahasa Jerman.

Pemahaman bahasa dan budaya mau tidak mau harus berangkat dalam keluarga. Ayah atau Ibu dalam suatu keluarga yang saat ini masih menuturkan bahasa ibu (daerah) memiliki kewajiban moral untuk mewariskan bahasa tersebut kepada anak-anaknya.

Dalam dunia pendidikan nasional, sebenarnya pemerintah telah cukup mendukung penggunaan bahasa daerah sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 33 ayat (2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam tahap awal pendidikan apabila diperlukan dalam penyampaian pengetahuan dan/atau keterampilan tertentu. Namun demikian ada baiknya jika Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus menerapkan kewajiban kepada setiap pelajar di Indonesia untuk menguasai setidaknya satu bahasa daerah. Hal tersebut dimaksudkan agar bahasa daerah tidak punah. Banyak kearifan lokal dan nilai luhur tradisional yang hanya tepat ditransformasikan lewat bahasa ibu. Karena itu, banyak kearifan lokal yang sirna bersamaan dengan pudarnya minat bertutur dalam bahasa daerah.

Menyadari pentingnya pelestarian bahasa ibu tersebut, UNESCO sebagai salah satu organ PBB telah mencanangkan setiap tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional, karena menurut UNESCO unsur terbesar dalam kebudayaan adalah bahasa sebagai penopang tradisi lisan yang dapat mentransformasikan kesejarahan, pengetahuan dan peradaban secara turun temurun.

.

MOTHER TONGUE/BAHASA IBU

Oleh: Dewi Utama Fayza
Direktorat Pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Kemendikbud, Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter divisi dari Indonesia Heritage Foundation.

Pengantar
🌐🌼🌼🌼🌼🌐
Saat ini muncul kecenderungan, sejak TK dan SD, anak dikenalkan bahasa asing sebagai penanda status sosial. Fenomena ini tumbuh bukan hanya di Jakarta, tapi juga di kota-kota lainnya di Indonesia.

Indonesia dengan beragam suku dan budaya mulai Sabang hingga Merauke adalah himpunan kekayaan sosial- spiritual- material tiada hingga, yang selama ini telah diabaikan keberadaannya dalam pelayanan pengasuhan dan pendidikan. Anak-anak masuk sekolah dasar banyak dinolkan pengalaman belajarnya.

Beragam bahasa ibu sebagai bahasa pertama yang dikuasai anak manusia sejak ia lahir melalui interaksi sosial dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungannya, sesungguhnya merupakan investasi luar biasa yang harus kita perjuangkan dalam mengusung lahirnya kembali generasi emas.

Tercerabutnya anak-anak dari bahasa ibu mereka sebagai wujud pesan budaya yang mereka miliki akan memunculkan beberapa risiko, menghadang tumbuh kembang anak dalam proses pembelajarannya dan berdampak rendahnya budaya literasi.

Vygotsky mengatakan bahwa kontribusi budaya, interaksi sosial, dan sejarah sangat mempengaruhi perkembangan mental individual anak, khususnya dalam perkembangan bahasa, membaca, dan menulis. Lebih lanjut Vygotsky menyampaikan bahwa pembelajaran yang berbasis pada budaya dan interaksi sosial sesungguhnya adalah sebuah pendekatan proses pembelajaran yang mengacu pada fungsi mental tinggi (Higher Order Thinking Skill) yang berdampak pada persepsi memori, dan berpikir anak.

Ida Wayan Oka Granoka dalam seminar budaya Parum Param di Bali (2013) dan dalam bukunya Reinkarnasi Budaya mengakui kehebatan bahasa ibu sebagai “Bahasa Ibu Sakti” yang memperkuat gerak bahasa anak menjadi menyempurna, karena peristiwa pemerolehan bahasa berasal dari rahim Ibu. Bukan dari lembaga bernama sekolah. Oka Granoka mengistilahkan gerak bahasa bayi dengan ibunya itu dengan istilah “Guttural-Palatal-Cerebral”.

Hal yang sama RA. Kartini memperjuangkan konsep bahasa ibu dalam membangun Konsep Keluarga sebagai Entitas Sosial yang melahirkan peradaban. Beliau menyampaikan dalam surat-suratnya. ”…dalam hariban si ibu itulah anak akan belajar merasa, berpikir, berkata-kata-kata” (awal tahun 1900 surat untuk Nyonya Ovink Soer).

Hal yang sama sebagai inspirasi, Jepang misalnya, memperkuat tradisi mereka mampu tegak gagah berdampingan dalam era globalisasi ini karena berkembang pesatnya gerakan ”kyo iku mama —ibu-ibu pendidik” yang mengusung konsep inti, lahirnya ”Mitsu no Tamashi”— masa-masa emas, di mana kaum ibu bertugas meletakkan pendidikan dasar semenjak janin berada di dalam rahimnya hingga bayi mereka usia tiga tahun pertama.

Program Generasi Emas Jepang untuk menguatkan kebahasaan alamiah kebahasaan, sosial, dan kognitif muncul beriringan dalam diri calon bayi sebelum lahir itu dikenal dengan “Mimi-Me-Te- Kokoro”. Sebuah program sensori-inderawi yang kaya dengan pembekalan agar calon ibu cerdas melakukan stimulasi kebahasaan dini.

Vygotsky dan Piaget dalam riset-risetnya yang berkembang kemudian menambahkan lagi bahwa “private speech” yang didampingi dengan verbal art dalam pengasuhan akan membawa anak mampu meraih ZPD “Zone of Proximal Development”.

Verbal Art melalui bercerita, menembang/lulluby, mendongeng, dalam pengasuhan ini sangat kental pada suku Aceh, Minang, Jawa, Sunda dan sebagainya, yang pada abad ke 19 melahirkan generasi emas di zamannya. Sebutlah Cut Nya’Din, Teuku Umar, Natsir, Sjahrir, Hatta, Bung Karno, dan sebagainya.

Riset-riset longitudinal di PAUD menyatakan bahwa anak-anak yang mendapat perlakuan yang patut di sekolah dasar yang menggunakan BAHASA IBU mereka sebagai pengantar di kelas awal mampu merawat motivasi, minat belajar hingga jenjang pendidikan tinggi (minimal S1).
🌰🌰🌰
Strategisnya peran bahasa ibu bagi masyarakat pendukungnya, dalam kenyataannya bahasa ibu sebagai lokal konten (muatan lokal) harus tersisih manakala berhadapan dengan bahasa-bahasa utama yang dipakai dalam kehidupan modern.

Bahasa utama itu di dalamnya termasuk penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa asing lainnya yang diberikan kepada anak di awal tahun masuk SD dengan pendekatan yang keliru dan tidak patut.

Sebagai contoh adalah masuknya muatan lokal Bahasa Sunda di wilayah Jabobedatek dikurikulum SD yang menumbuhkan masalah baru dalam proses pendidikan dan pembelajaran.

.

Pertanyaan – Jawaban

Pertanyaan 1
Apakah bahasa asing boleh diperkenalkan, misalnya sambil bermain? Boleh diperkenalkan bahasa lain sejak umur berapa?

Jawaban 1
Bermain itu cara yang amat ramah untuk kehidupan anak. Bernyanyi dalam berbagai bahasa yang kata-katanya “menarik” pendengaran anak. Dulu pernah ada lagu anak dari Jepang (80an) mulai awal hingga akhir kata-katanya hanya ” cincin ponpon”. Bahasa makhluk langit pun jika ada bisa kita kemas sebagai syair lagu atau dalam mendongeng. Itu menarik hati anak. Tetapi akan menjadi siksaan saat itu jika hanya terkait dengan aspek kognitif dan melupakan aspek afektif.

Pertanyaan 2
Baiknya penanaman bahasa ibu sampai usia berapa? Bila berkaitan dengan mulok (muatan lokal) atau bahasa asing bagaimana baiknya? Siswa SD kelas 1 sudah mendapat pelajaran tersebut.

Jawaban 2
Bahasa ibu (mother tongue) ditanamkan hingga anak memiliki kosakata hingga 8000 hingga 9000. Itu harus dimiliki saat anak usia 7 tahun atau saat di kelas 1 SD. Ini yang harus dipersiapkan ayahbunda di rumah dengan cara mendongeng, membacakan buku menjelang tidur, dan dengan percakapan sehari-hari.

Pertanyaan 3
Bahasa ibu yang paling tepat itu apakah bahasa indonesia? Apabila iya, kapan waktu yang tepat untuk mengenalkan bahasa daerah? Selama ini komunikasi suami istri menggunakan bahasa jawa, karena keturunan jawa, besar di jawa tetapi sekarang tinggal di kalimantan.

Jawaban 3
Jika sehari-hari berbahasa Indonesia, itulah bahasa ibu, yaitu apa yang dibahasakan ibu sehari-hari. Saat ini, bahasa daerah hanya digunakan dalam rumah tangga atau keluarga yang masih kental adat istiadatnya. Jika di kota besar tentu berbahasa Indonesia. Jika bahasa jawa masih digunakan dalam percakapan sehari-hari, maka bahasa jawa itulah bahasa ibu. Bahasa ibu adalah bahasa tutur ibu sehari-hari.

Pertanyaan 4
Jika kasusnya anak tinggal di luar negeri bagaimana? Mereka pasti terpapar dengan bahasa asing dalam kesehariannya.

Jawaban 4
Anak bagaikan spons. Cepat menyerap tetapi juga cepat lupa saat ia kembali ke lingkungan yang berbeda.

Pertanyaan 5
Tentang 8000-9000 kosa kata, apakah harus dicatat kembali kosa kata yang dimiliki anak? Atau ada trik mengetahui seberapa banyak kosa kata yang dimiliki anak?

Jawaban 5
8 hingga 9 ribu kosakata itu riset. Jika kosakata anak kurang dari sejumlah itu langsung diajarkan calistung secara akademik, maka minat membaca anak akan lenyap. Tidak ada tip dan trik untuk tumbuh kembang anak. Semua perlu proses!
Manusia hanya butuh 4 hingga 10% saja aspek kognitif dalam kehidupan ini. Sisanya mereka butuh domain Afektif, Sosial, Spiritual, Imajinasi. Itu yang sangat dibutuhkan anak. Sudahkah kita mengasah imajinasi anak-anak kita?
Itu terkait dengan emosi, perasaan, hasrat, minat/ passion, motif, empati, simpati, apresiasi

Pertanyaan 6
Apakah efek kognitif (siksaan bagi anak) ketika ada orangtua yang terlalu dini mengajarkan bahasa asing pada anak usia dini?

Jawaban 6
Anak-anak akan trauma. Trauma itu ada scorenya. Jika mencapai 300 maka anak harus dirawat psikolog dan psikiater. Jika hingga 150 saja, orangtua dan guru bisa menangani dengan cara bijak.

Pertanyaan 7
Apakah ada cara mudah mengukur score trauma anak bagi orangtua yang sudah terlanjur melakukan hal tersebut?

Jawaban 7
Trauma bahasa asing yang digegas pada anak masih bisa ditolerir. Yang perfect trauma pada anak adalah ayah bunda bercerai atau meninggal. Scorenya 100
Elkind meneliti tentang ini.

Pertanyaan 8
Ada keluarga yang menjadikan bahasa Inggris sebagai mother tongue padahal tinggal di Indonesia. Anak-anaknya masih balita dan sekarang mau diajarkan bahasa Indonesia tetapi anak-anaknya kesulitan. Bagaimana sebaiknya?

Jawaban 8
DNA nenek moyang bangsa kita sebagai bangsa penutur tidak bisa diganti dengan DNA Inggris. Harus dimulai dari awal. Bercakap, bernyanyi dengan bahasa Indonesia, melalui bahasa gambar (perceiving and drawing). Harus Rekonstruksi ulang.

Pertanyaan 9
Sehari-hari, sebagai suami istri, menggunakan bahasa indonesia. Namun, anak banyak belajar nyanyi, nari, games dan sebagainya dari youtube yang walaupun dengan pendampingan, kebanyakan berbahasa inggris. Saat anak klik dari referensi video yang ditonton, beberapa kali anak klik video bahasa arab, melayu, india, spanyol, rusia. Raut wajah anak terlihat berusaha mengerti. Saat hamil, sempat kagum dengan Gayatri, (16th, almarhumah), duta unicef dari Maluku yang menguasai belasan bahasa dunia. Apa plus minus kasus anak seperti ini?

Jawaban 9
Dalam konsep bermain, semua baik-baik saja. Mari kita gunakan Hi Tech dengan Hi Concept dan tak melupakan Hi Touch

Pertanyaan 10
Jadi yang dimaksud bahasa ibu, apakah isi dari yang ibu sampaikan kepada anaknya seperti moral, etika, nilai-nilai dan cara penyampaian yang benar, atau bahasa yang digunakan? Jika bahasa yang digunakan bahasa Indonesia, mengapa pelajaran bahasa Indonesia itu sendiri justru menimbulkan masalah baru dalam proses pendidikan dan pembelajaran?

Jawaban 10
Inilah yang sedang dibidik Pak Anies Baswedan sebagai Mendikbud. Kurikulum Bahasa Indonesia itu hampir 99% kognitif akademik, sehingga di TK, anak digegas membaca menulis berhitung, malah bimbel calistung untuk Balita marak di mana-mana. Saat masuk SD di tes pula. Itulah sebabnya lahir PERMENDIKBUD NOMOR 23 TAHUN 2015. Setiap hari membaca 15 menit buku bacaan non pelajaran
Anak-anak dicelupkan pada seni berbahasa. Guru-guru harus jadi role model membaca dengan cara reading aloud.

Pertanyaan 11
Anak usia 5 tahun enggan bermain dengan teman-teman asing di sekitar rumah: orang korea pakistan dsb. Dia pun tak mau bersekolah karena takut tak mengerti bahasa korea karena di lingkungan sekitar, ada beberapa keluarga Indonesia mungkin menyebabkan anak enggan bersosialiasi dengan warga lokal. Inginnya bermain dengan teman sebangsa saja, bagaimana baiknya?

Jawaban 11
Semua anak merasa tak nyaman dengan lingkungan barunya yang asing. Membangun trust itu tak mudah. Itu sebabnya disediakan sekolah khusus untuk anak Indonesia di Luar Negeri. Tetapi jika itu jauh ya “home schooling” saja.

Pertanyaan 12
Perfect trauma pada anak adalah ayah bunda bercerai. Ini sifatnya pasti atau hanya hasil Penelitian? Perfect berarti score 300 atau 100? Kalau mau cek bisa ke mana ya?

Jawaban 12
Itu riset David Elkind, pakar PAUD yg sangat terkenal. Score 100 itu bisa ditolerir jika tak ditambah dengan perlakuan berikutnya seperti anak dipukul, disiksa, ayah mabuk, ibu pacaran lagi. Score hanya sebagai skala, rambu-rambu menakar. Tidak ada timbangan untuk mengukur perasaan.

Pertanyaan 13
Anak-anak sering menanyakan definisi suatu kata indonesia, apakah dengan begitu boleh diajarkan bahasa asing? Usia anak 5th dan 6 th. Misalnya arti kata tembus.

Jawaban 13
Ada kamus Bahasa Indonesia yang tebalnya hampir sebantal. Itu bisa dijadikan pegangan. Mari gunakan kosakata padanan dalam bahasa Indonesia. Ketahuilah, kamus Inggris setiap tahun bertambah kosakatanya. Sementara Kamus Bahasa Indonesia bangkrut. Padahal bangsaIndonesia nomor 2 terbanyak suku bangsa dan bahasanya. Ini PR Kemdikbud berikutnya, menambah kosakata Indonesia ke Kamus Bahasa Indonesia. Setiap ayahbunda harus punya kamus Bahasa Indonesia, jika cinta Indonesia.

Pertanyaan 14
Keterkaitan antara bahasa ibu, dialek lokal dan kearifan lokal. Bagaimana agar penyampaian budi pekerti dan kearifan lokal melalui bahasa ibu dapat lebih cepat diterima oleh anak dibandingkan bahasa “lingkungan” dan bahasa “teknologi” yang semakin canggih yang bermuatan budaya dan bahasa luar yang tidak selalu baik?

Jawaban 14
Bahasa ibu itu Sakti, karena sejak di rahim sudah terjadi interaksi. Dongeng, siapa diantara kita yang masih ingat dongeng masa kecil? Bahasa ibu itu adalah kurikulum Bumi Pertiwi. Kurikulum Jagad Raya.

Pertanyaan 15
Sebaiknya, usia berapa bahasa asing dikenalkan? Bagaimana dengan bahasa Arab yang merupakan bahasa alQuran?

Jawaban 15
Bahasa Arab berbeda dengan mengaji. Saya belajar bahasa Arab saat studi di Jepang bersama teman-teman Mesir, tetapi sudah belajar mengaji sejak 5 tahun lewat bermain untuk mengingat bacaan sholat. Bermain itu kata kunci. Tetapi bahasa Arab saya tidak maju-maju hingga kini. Berbeda dengan bacaan sholat dan mengaji. Kita bisa khatam saat usia 9 tahun.

Pertanyaan 16
Anak usia 5,5 tahun sudah lancar berbahasa ibu dan mulai senang “nggrundel” menirukan host tutorial lego di youtube yang menggunakan bahasa Inggris. Sesekali menanyakan arti kata yang diucapkan si host. Apakah sebenarnya anak sudah siap dikenalkan bahasa asing?

Jawaban 16
Anak-anak usia 5 hingga 7 tahun masih suka melakukan “private speech” seperti meniru omongan teman yang aneh dan jorok. Bagi mereka, itu hal yang unik dan mereka suka. Itu sebabnya virus ngomong jorok di sekolah cepat sekali menular. Mengenalkan bahasa asing perlu dengan cara yang “PATUT” jika anak suka dan gembira karena dengan cara bermain.

Pertanyaan 17
Jadi mana yang lebih baik jika orangtuanya berbeda suku dan bahasa, kita ajarkan dua-duanya atau pilih satu saja?

Jawaban 17
Pilih bahasa ibu karena yang punya rahim itu ibu. Ibu yang hamil, melahirkan, menyusui dan membesarkan. Di seluruh dunia hanya ada MOTHER TONGUE
Ayah cukup mendekap, membacakan buku dan kerja cari rezeki yang halal.

Pertanyaan 18
Adakah peran spesifik ayah yang bisa dijalankan dalam memperkaya khasanah bahasa ibu, selain mendongeng, karena kebanyakan ayah biasanya irit bicara.

Jawaban 18
Peran ayah mengajak anak bermain saat luang, membantu di ranah domestik, sumur, kasur, dapur. Ranah domestik ini terbunuh pelan-pelan karena ada pembantu dan babby sitter. Itu sebabnya domestik sains tak berkembang di Indonesia. Rumah tangga boros. Hedonis matrialis. Jarum pentul saja kita impor dari China. Ujung-ujungnya Papa minta saham. Rumah tangga bangkrut itu ya akan menumbuhkan bibit-bibit korup.

Pertanyaan 19

Dalam the Whole Language for Second Language Learners (1992), Freeman, Yvonne S Freeman, dan David E disebutkan bahwa signifikansi penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar di sekolah sebelum bahasa kedua dikuasai anak akan mampu menghasilkan prestasi yang lebih baik bagi anak-anak di masa mendatang. Sementara realitasnya, murid-murid SD di perkotaan umumnya ialah penutur-penutur asli bahasa Indonesia, sedangkan bagi murid perdesaan, bahasa ibu mereka bukan bahasa Indonesia. Kurang lebih 75% siswa TK dan SD di pedesaan bukanlah penutur asli bahasa Indonesia. Pemakaian bahasa ibu di TK dan SD kelas awal menjadi sangat penting. Selain untuk menjamin kelangsungan pembelajaran, juga untuk mencegah gangguan perkembangan kognitif anak. Tugas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjadi ekstra dalam memberikan pelatihan yang memadai kepada para guru TK dan SD serta menyediakan buku teks yang tentu harus berbeda, atau sesuai dengan kebutuhan lingkungan dan budaya setempat dalam mengantarkan anak-anak memahami bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di sekolah.

Bagaimana dengan realitas ini Bunda Dewi?

Jawaban 19

Sepertinya kita di frekuensi berpikir yang sama. Saya jatuh cinta dengan The Whole Language sejak tahun 1998 saat ikut kuliah Prof Sabarti Akhadiah satu semester. Ini kegelisahan saya dan belum mampu membawanya hingga tataran kebijakan karena terkendala kepentingan. Ayuk kita berjejaring mengimplementasikannya. Saya punya buku tentang the Whole language cukup untuk jadi referensi. Nanti saya inbox. Salam literasi.

.

Penutup

Iqra’ bismirabbikaladzi khalaq
Maknanya sangat luas dan dalam. Mari terus kita belajar hingga ajal menjelang.
Selamat istirahat.

.

CATATAN

Pada tahun 2011, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa 90 persen bahasa daerah terancam punah pada akhir abad ke-21. Seharusnya, ini menjadi peringatan bagi setiap pemangku kepentingan budaya. Dari 746 bahasa daerah yang masih eksis, diperkirakan hanya akan tersisa sekitar 10 persen atau 75 bahasa daerah. Kemendikbud, saat menetapkan kurikulum 2013, tidak ada muatan lokal/bahasa daerah.

Pada 17 November 1999, UNESCO menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Hari Bahasa Ibu Internasional nyaris tak ada gaungnya. Padahal, sebagian besar anak bangsa ini mengenal bahasa daerah sebagai bahasa ibu (mother tongue). UNESCO—badan PBB yang bertugas di bidang pendidikan dan kebudayaan—menetapkan Hari Bahasa Ibu Internasional berdasarkan keprihatinan terhadap banyaknya bahasa ibu yang punah di atas bumi. Hari Bahasa Ibu Internasional berasal dari pengakuan internasional terhadap Hari Gerakan Bahasa yang dirayakan di Bangladesh.

Beberapa pegiat sastra mencoba berjuang sendiri-sendiri melestarikan bahasa daerah. Di antaranya, bahasa daerah Jawa, Sunda, Bali, Banjarmasin, dan Batak. Ajip Rosidi, Erry Riyana Harjapamekas, Edi S Ekajati, dan beberapa tokoh lain melalui Yayasan Kebudayaan Rancage telah menginisiasi pemberian penghargaan kepada tokoh-tokoh yang dianggap berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah. Hadiah Sastra Rancage diberikan setiap tahun sejak 1989. Buletin internal berbahasa daerah mungkin ada. Beberapa majalah atau koran berbahasa daerah masih mencoba bertahan, seperti majalah bahasa Jawa Panjebar Semangat, Jaya Baya, Djaka Lodang, Damar Jati, Mekar Sari, dan ANCAS. Dalam bahasa Sunda ada Cupumanik, Manglé, dan Ujung Galuh.

Majalah etnis Batak ada beberapa, tetapi menggunakan bahasa Indonesia. Tahun 2012, Saut Poltak Tambunan, seorang novelis, menulis kumpulan cerpen Mangongkal Holi dan novel Mandera na Metmet dalam bahasa Batak Toba. Ini sastra modern pertama berbahasa Batak Toba. Komjen (Purn) Posma L Tobing dalam pengantar buku Mandera na Metmet menulis, inilah konsekuensi dari modernisasi yang mendorong derap urbanisasi, pernikahan antar-etnis, industrialisasi, dan terciptanya masyarakat heterogen. Bahasa daerah juga semakin terpinggirkan oleh globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang ”English heavy”. Apalagi, pendidikan dan transformasi ilmu pengetahuan nyaris tak ada yang diantarkan dalam bahasa daerah. Pendidikan bahasa lokal kerap dimarjinalkan dan tidak begitu menentukan dalam mengindikasi keberhasilan pendidikan.

.

Eksploitasi Privasi Pengguna Medsos

Agus Sudibyo,
Direktur Indonesia New Media Watch

Kompas, 4 April 2018

Facebook, platform media sosial terpopuler sejagat, seperti tak pernah putus dirundung prahara. Skandal mobilisasi akun-akun Facebook palsu oleh Rusia untuk menyebarkan ribuan ujaran kebencian dan berita bohong dalam pilpres AS tahun 2016 masih dalam proses penyelidikan, kini muncul skandal tak kalah menggemparkan.

Seorang “peniup peluit” (whistle blower) bernama Christopher Wylie mengungkapkan, data pribadi lebih dari 50 juta pengguna Facebook diam-diam digunakan perusahaan bernama Cambridge Analytica untuk mendukung kampanye Donald Trump pada pilpres AS di 2016. Cambridge Analytica mengolah data itu untuk memprediksi kecenderungan politik para pemilih dalam pilpres AS, untuk kemudian menjadikan mereka sasaran iklan politik yang sesuai.

Kegeraman dan kepanikan pun terjadi di mana-mana. Tak hanya Pemerintah AS yang kelabakan, tetapi juga Pemerintah Inggris, Uni Eropa, Israel, India, dan lain-lain. Muncul kekhawatiran praktik penyalahgunaan data pengguna medsos untuk memobilisasi opini publik juga terjadi di negara lain. Keluarnya Inggris dari UE diperkirakan juga tak terlepas dari kejahatan itu. Untuk Indonesia yang sedang menyongsong tahun politik dan sedang didera histeria hoaks, kejahatan itu jelas sangat relevan dan kontekstual.

Dalam buku Marx in Age of Digital Capitalism (2016), Vincent Mosco menjelaskan, mediamedia baru, seperti medsos, mesin pencari, dan e-commerce telah menciptakan ekosistem baru yang sangat rawan manipulasi dan kejahatan. Kerawanan setidaknya disebabkan empat hal: 1) ketidaktahuan pengguna internet akan risiko-risiko keaktifan mereka di ranah digital; 2) kemampuan perusahaan media digital mengakses privasi penggunanya nyaris tanpa batas; 3) ketidakmampuan atau ketidakmauan perusahaan media digital menjamin keamanan data penggunanya; 4) belum adanya pranata hukum untuk menangani berbagai manipulasi, penyelewengan dan kejahatan pada aras itu. Dalam konteks ini, menjadi jelas bahwa yang kita hadapi terkait dengan medsos bukan hanya ujaran kebencian dan hoaks, melainkan juga campur tangan dan pengendalian atas kehidupan pribadi pengguna medsos.

Infiltrasi ranah personal

Para pengguna medsos umumnya tak menyadari campur tangan dan pengendalian itu. Mereka terus-menerus mengumbar data pribadi, aktivitas, sikap politik dan orientasi ideologis di medsos. Kata sosial dalam media sosial begitu hegemonik sehingga masyarakat umumnya mengira medsos murni ruang diskusi dan interaksi sosial. Mereka tak sadar medsos juga instrumen pengawasan dan pengendalian yang sistemik dan eksesif oleh perusahaan-perusahaan media digital. Dalam kaitan inilah, pada 2015, Shoshanna Zuboff mengenalkan konsep surveillance capitalism.

Jenis kapitalisme yang senantiasa mengawasi dan merekam aktivitas pengguna internet untuk menghasilkan data perilaku (behavioral data) yang akan digunakan untuk menunjang kepentingan bisnis perusahaan media digital. Melalui penghitungan algoritma dan penerapan kecerdasan artifisial, perusahaan medsos, e-commerce, atau mesin pencari mengolah data perilaku pengguna untuk menghasilkan prediksi pola konsumsi, keputusan, dan interaksi sosial mereka.

Data perilaku ini lalu bertransformasi menjadi surplus perilaku (behavioral surplus) ketika dikemas sedemikan rupa dan dijual kepada pelanggan perorangan, organisasi dan perusahaan yang akan membayar tarif layanan data sesuai permintaan. Surplus perilaku inilah instrumen utama bisnis perusahaan media digital. Pada tataran global, surplus perilaku itu secara oligopolis dikuasai sedikit perusahaan, seperti Google, Facebook, dan Amazon.

Lebih dari itu, yang juga terjadi menurut Mosco adalah infiltrasi atas ranah personal pengguna internet. Google diam-diam dapat membaca surat elektronik pengguna layanan Gmail untuk menentukan iklan apa yang tepat untuk dikirimkan ke pengguna.

Facebook dapat memanipulasi lini masa penggunanya untuk mendongkrak jumlah waktu yang dihabiskan setiap orang untuk berselancar di medsos. Data durasi penggunaan medsos ini kemudian digunakan untuk menarik minat pengiklan. Facebook juga dapat memasok iklan-iklan daftar impian (bucket list) kepada penggunanya karena Facebook telah memetakan terlebih dahulu masalah dan kebutuhan mereka.

Eksploitasi data pengguna internet juga lazim terjadi pada ranah politik. Tahun 2012, Amazon menyediakan layanan berbasis analisis big data untuk tim kampanye Barack Obama. Keberhasilan Amazon mengidentifikasi dan mengarahkan pemilih AS pada Obama mirip kemampuan Amazon menggiring pengguna internet ke arah iklan digital tertentu. Keberhasilan itu dianggap sebagai salah satu penyebab kesuksesan Obama terpilih sebagai presiden untuk kedua kali.

Berkat keberhasilan ini, Amazon dapat imbalan kontrak 600 juta dollar AS guna menyediakan layanan cloud dan big datauntuk CIA. Menurut Mosco, Amazon bukan hanya sukses mendominasi bisnis media digital, melainkan juga mendemonstrasikan tendensi usang kapitalisme: kemampuan menggunakan akses politik demi keuntungan ekonomi.

Peretasan privasi pengguna internet secara terus-menerus dan pengawasan atas pengguna internet yang kian menyeluruh merupakan elemen penting dari model bisnis yang dikembangkan perusahaan media digital seperti Facebook dan Google. Mereka memaksimalkan pengolahan dan penggunaan data pengguna internet yang tersimpan dalam server raksasa mereka, lalu mengemas dan menawarkan data itu kepada klien bisnis dan politik yang akan membayar layanan data sesuai dengan permintaan.

Pertanggungjawaban

Pertanyaannya, bagaimana etika penggunaan data pribadi pengguna internet secara sepihak oleh perusahaan media digital? Apakah perusahaan media digital pernah meminta izin menggunakan data itu? Atas dasar apa perusahaan media digital merasa berhak memonetisasi data pribadi pengguna? Apakah ini bukan manipulasi atau penyalahgunaan?

Dalam konteks inilah permintaan maaf bos Facebook, Mark Zuckerberg, ke publik AS atas skandal Cambridge Analytica menarik dicermati. Di satu sisi, dia menyatakan tak seharusnya data pribadi pengguna Facebook digunakan secara sepihak.

Namun, bukankah selama ini model bisnis perusahaan medsos memang berdasarkan pada pemanfaatan sepihak data pengguna? Di satu sisi, dia mengakui adanya kesalahan dan meminta maaf, tetapi di sisi lain dia secara implisit menyatakan kesalahan bukan pada Facebook, melainkan Cambridge Analytica.

Ketiadaan hukum yang mengatur keamanan data pengguna internet memberi efek impunitas bagi perusahaan media digital. Impunitas juga tecermin dari bagaimana peretasan data pengguna internet diselesaikan. Kasus peretasan 10 lembaga keuangan di AS yang berdampak pada keselamatan data 83 juta pelanggan layanan cloud September 2014, menurut Mosco, menunjukkan Pemerintah AS dan perusahaan media digital hanya fokus menangani peretasan sebagai murni tindakan kriminal pelanggaran privasi dan peretasan. Padahal, ada dua perkara di sini. Pertama, ketakmampuan perusahaan media digital melindungi data pelaku pengguna internet yang mereka kelola. Kedua, tindakan peretasan oleh individu atau kelompok.

Namun, yang dianggap tindakan kriminal perkara kedua saja. Padahal, secara kausalitas, masalah kedua tak akan terjadi jika masalah pertama tak terjadi. Masalah pertama semestinya juga kesalahan yang mengandung konsekuensi bagi yang bertanggung jawab atasnya. Perusahaan media digital merekam data perilaku pengguna internet dan memanfaatkan tanpa izin untuk keuntungan ekonomi atau politik.

Perusahaan tak merasa perlu bertanggung jawab meski pengguna internet dirugikan. Peretasan dianggap semata-mata tanggung jawab peretas. Impunitas perusahaan media digital dalam kasus ini paralel dengan impunitas perusahaan medsos dalam kasus persebaran hoaks.

Memahami Mata-Rantai Makanan Kita

*Noer Fauzi Rachman, Pelajar dan Pengajar Studi Agraria.
Mengajar Environmental Politics of Agriculture Spring 2011 di Colorado College. Colorado Spring, USA.

*Dalam pengantar buku: BEREBUT MAKAN: Politik Baru Pangan/ Paul McMahon/ Roem Topatimasang (penerjemah)/ INSISTPress, 2017.

Marilah mulai memahami pangan yang kita konsumsi sehari hari dalam suatu rantai komoditas, mulai dari produksi, sirkulasi, hingga konsumsi. Hanya sebagian saja dari kita, manusia Indonesia, yang sumber makanannya langsung dari pekarangan, kebun, danau, sungai atau laut, di kampung sendiri. Sebagian besar kita, terutama yang hidup di kota-kota, memakan makanan yang berasal dari pembelian di pasar. Makanan yang sampai ke meja kita itu telah melalui perjalanan yang panjang, mulai dari tempat ia dihasilkan hingga diperjualbelikan dan sampai akhirnya hadir di meja makan kita. Lahirlah istilah food miles yang sekarang dijadikan pula sebagai satu penanda dari dampak lingkungan dari makanan.

Melalui pasar raya (supermarket), kita bisa melihat dan menikmati makanan tidak diproduksi di sini, tapi nun jauh di sana. Makanan-makanan baru berdatangan. Orang-orang Indonesia di mana-mana sekarang ini dibiasakan berbelanja di pasar raya, yang jumlahnya makin hari makin berlipat-ganda, membanyak. Cara orang mengalami pasar yang dihidupkan oleh jaringan dengan perusahaan pasar raya, tidak bisa dipahami dengan rujukan pengalaman berbelanja di pasar tradisional. Rakyat dibuat merasa meningkat derajatnya sebagai warga pasar raya. Posisi keanggotaannya sebagai warga pasar pun dirasakannya meningkat. Di zaman globalisasi sekarang ini, makanan global ada di mana-mana, terutama disebabkan oleh peran jaringan pasar raya tersebut. Perusahaan dagang makanan waralaba (franchise) berbasiskan hak menggunakan model bisnis dan merek tertentu untuk masa waktu tertentu. Iklan audio-visual di televisi membuat daya tarik dan gairah konsumsi meningkat dan seragam. Paling mutakhir, transaksi komersial elektronik melalu internet.

Marilah memahami pangan yang kita konsumsi sehari-hari dalam suatu rantai komoditas, mulai dari produksi, sirkulasi hingga konsumsi pada skala dunia. Cara pandang demikian terhadap rezim pangan (food regime) akan sangat berguna dipakai untuk menikmati dan memahami isi buku ini. Dari cara memandang demikian itu, kita akan bisa mengetahui bahwa rantai pasokan makanan __sejak mulai diproduksi, lalu disirkulasikan hingga dikonsumsi__ adalah suatu urusan politik yang merupakan arena pertarungan kekuatan pada skala dunia (lihat juga: Philip McMichael, 2013, Food Regimes and Agrarian Questions).

Warga Eropa, sudah jauh-jauh hari menikmati pangan global sejak masa kolonial. Rasa manis gula dari tebu, aroma harum dari kopi, dan hisapan santai dari tembakau dibawa ke Eropa dari Pulau Jawa dan Kuba. Kebiasaan minum english tea di abad ke-18 adalah hasil dari kolonialisme Inggris di India melalui British East India Company; atau makanan ontbitkoek __kue dengan bumbu rempah kayu manis, cengkeh, pala, jahe, dan lainnya__ tiada lain adalah hasil kerja perusahaan VOC (Vereenigde Oost-indische Compagnie). Rakyat di negeri-negeri jajahan merasakan akibat yang luar biasa dari politik agraria kolonial demi produksi semua makanan itu (contohnya, lihat karya Jan Breman, 2014, Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa; Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870).

Buku karya Paul McMahon (2013) Feeding Frenzy: The New Politics of Food ini dapat membantu pembaca melihat secara panoramik politik makanan sekarang ini dan krisis global yang menyertainya. Istilah feeding frenzy adalah suatu metafora yang dipakai oleh penulis buku ini. Amsal ini berasal dari perspektif ekologi yang kurang lebih menggambarkan situasi saat sekelompok pemangsa kalap menghadapi begitu melimpahnya makanan yang tersedia. Si pemangsa jadi kalap, bertingkah menggigit apa saja yang ada di dekat mulutnya, bahkan juga mengigigit pemangsa lain sesamanya. Jadi, bisa juga, istilah itu dipakai saat pemangsa saling melukai karena saling berebut makanan.

Bayangkan bagaimana 9 miliar orang di tahun 2050 yang mayoritas adalah penduduk yang hidup di kota dan bukan penghasil makanan. Orang-orang yang berpenghasilan lebih, makan lebih banyak dan membuang 30 sampai 40 persen makanannya menjadi sampah, sementara 1 miliar orang miskin nyaris kelaparan mengais-ngais makanan. Sejak melonjaknya harga-harga pangan di pasar dunia pada 2008, berkembang ramalan-ramalan buruk perihal akan ambruknya pasar pangan dunia (lihat juga: Lester E. Brown, 2011, World on the Edge, How To Prevent Environmental and Economic Collapse).

Namun, dalam konteks ini, juga berkembang para promotor kedaulatan pangan (food sovereignty), yang mengkritik kekuatan pasar global (lihat misalnya: Peter Rosset, 2006, Food is Different: Why the WTO Should Get Out of Agriculture). Meski sama-sama mendasarkan diri pada kritik atas sistem ekonomi global, para promotor kedaulatan pangan lebih menyoroti sistem sosial-ekologis yang mendukung keberlangsungan pertanian rakyat (lihat teks naratif otoritatif mengenai kedaulatan pangan, yang terkenal dengan julukan The Nyéléni Declaration 2007, membedakan diri dengan Rome Declaration on Food Security 1996; lihat juga: Michael Pimbert, 2009, Toward Food Sovereignty). Mereka melihat krisis-krisis itu sebagai hasil dari suatu sistem ekonomi-politik neo-kolonial yang bekerja di jalur modernisasi yang ditempuh negara-negara bekas jajahan, mentransformalkan perdesaan pertanian dengan membangun sistem produksi kapitalis dunia melalui perampasan tanah maupun pengembangan pertanian agribinis skala raksasa. Ini adalah proses memiskinkan jutaan petani, dan penyingkiran penduduk desa dari pemilik tanah dan penghasil makanan menjadi pekerja tidak memiliki tanah. Sebagian mereka pergi menjadi kaum urban proletariat di kota-kota. Dalam keadaan semacam itu, negara-negara terpaksa membentuk kebijakan ketahanan pangan untuk memberi makanan pada orang-orang yang sudah dilepaskan dari posisinya sebagai produser menjadi konsumen makanan.

McMohan membedakan diri dengan para ‘peramal kiamat’, dan mengambil sebagian dari menu para promotor kedaulatan pangan. Ia berpendirian bahwa krisis ini bukan tidak bisa ditangani. McMahon menawarkan sejumlah jalan yang menurutnya bisa memberi harapan. Ia mengusulkan empat pokok tindakan yang pemerintah, petani, investor, dan warga negara musti lakukan: (i) memacu petani-petani kecil di negeri-negeri miskin untuk meningkatkan produksi pangan; (ii) menggunakan prinsip-prinsip agroekologi dalam produksi pangan; (iii) mengarahkan agar pasar-pasar keuangan bekerja menyasar tantangan-tantangan yang nyata; dan (iv) mengatur penyesuaian atas harga-harga pangan yang terus meninggi dan beralih ke bio-based economy, yakni semua aktivitas ekonomi yang digerakkan dari riset dan pengetahuan ilmiah yang befokuskan biotechnology.

.

Merenungi Usia Manusia

Oleh : Sjamsoe’oed Sadjad,
Guru Besar Emeritus, Fakultas Pertanian IPB

KOMPAS edisi Senin, 02 April 2018

Dari ada sampai tiada, usia manusia saya renungkan menjadi empat periode umur: Periode Mula, Muda, Tua, dan Henti. Keempat periode itu berawal dari titik lahir sampai titik mati, dan setiap periode dibatasi dua titik yang jarak usianya sama, 25 tahun.

Pemikiran pragmatis demikian, saya namakan pemikiran grafikal (PG). Ini sekadar perenungan pragmatis, lahiriah semata-mata, tanpa memasuki segi batiniah, apalagi segi agama. Perenungan usia manusia ini, ingin saya kaitkan dengan pembangunan pedesaan yang berbasis kelompok tani. Pendekatan pertanian berbasis kelompok telah menggelora sejak adanya Program Bimas Padi Sawah awal-awal tahun 1960-an.

Mahasiswa digerakkan untuk berpartisipasi dalam proyek ini. Hasil kenaikan produksi padi cukup mengesankan berkat teknologi maju yang diterapkan oleh petani berdasarkan hasil-hasil penelitian pemupukan NPK dan pemberantasan hama penyakit padi yang dicobakan penerapannya dan tercapai bisa mempertinggi produksi padi petani.

Bagaimana kalau sistem Bimas diterapkan pada masing-masing periode usia dalam rangka Program PG? Pertama-tama yang perlu dilakukan adalah inventarisasi jumlah warga desa.

Periode Mula barangkali banyak diisi oleh siswa SD dan SMP, sedangkan kelompok siswa SMA barangkali sudah relatif lebih sedikit karena banyak yang meninggalkan desa. Kelompok muda dalam Periode Muda jelas tinggal “hitungan jari” karena tidak berada di desa lagi. Entah bekerja atau sekolah di kota.

Periode Tua dan Periode Henti yang berisi orang-orang relatif tua, adalah generasi kelahiran 1950-an yang sudah kurang produktif dan jumlahnya sedikit.

Situasi kritis

Pusat perhatian kita adalah situasi pedesaan yang kritis oleh tarikan kuat perkotaan yang lebih menjanjikan, menciptakan situasi pembangunan desa yang berfokus pada kelompok Periode Mula. Melalui pendidikan formal perlu diciptakan sistem pendidikan yang berorientasi pengembangan agroindustri pedesaan.

Harus ada program penelitian dengan menggerakkan tenaga-tenaga pemikir yang lebih berorientasi pada agroindustri pedesaan berbasis kelompok tani. Perlu diciptakan program pendidikan sistem teknologi maju dalam penerapan pembangunan pertanian dari hulu sampai hilir yang terintegrasi dengan rencana pembangunan desa setempat. Sistem pengelolaan desa jangka panjang perlu menjadi dasar pendidikan formal sampai tingkat menengah, plus pemanfaatan teknologi media sosial dengan teknologi bertingkat modern.

Walau demikian, semangat membaca media cetak masih perlu diteruskan. Semangat membaca akan memudahkan mencari tambahan pengetahuan, baik di media cetak maupun digital.

Dalam hal kelompok usia muda dan tua yang saat ini berusia 30-70 tahun dan masih tinggal di desa, merekalah yang diharapkan menjadi inspirator pembangunan desa. Di tangan merekalah pembangunan nasional berbasis desa pinggiran berada.

Bagi saya apa yang disebut desa pinggiran bukan saja desa di perbatasan, di pulau-pulau yang jauh dari pusat pemerintahan, tetapi juga desa yang selama ini masih tergolong ‘jauh’ dari perhatian pembangunan nasional. Dengan majunya teknologi komunikasi hal ini semestinya bukan menjadi masalah lagi.

Sumber daya manusia

Untuk terlaksananya pembangunan sesuai dengan apa yang diprogramkan dan bagaimana implementasinya, dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni fisik maupun intelektualnya. Kalau SDM itu disyaratkan lulusan S-1 perguruan tinggi, misalnya, maka di samping ilmunya masih diperlukan sikap dan kesiapan mentalnya dalam berhadapan dengan petani.

Belum tentu seorang sarjana pertanian yang berprogram studi agronomi, misalnya, cukup memadai dalam ilmu sosial-ekonomi atau sosial-politik menghadapi problem desa pinggiran. Perlu pendidikan tambahan ekologi manusia dalam hal pendekatan kepada petani.

Pikiran dasar yang saya pakai ialah pengelompokan manusia dengan basis usia berinterval 25 tahun. Kalau diasumsikan dari ada menjadi tiada berjangka 100 tahun, maka ada empat kelompok usia sebagaimana saya sebutkan di awal.

Bagian perencanaan

Dalam hal pengelompokan ini, sebelum dan sesudahnya tiada, bisa jadi ada juga kelompok usia yang tidak sampai saya jadikan bahasan naskah saya ini, meski saya meyakini itu ada.

Kemampuan saya hanya bersifat grafikal, bersumbukan X dan Y, menciptakan garis yang selalu bergerak maju tidak pernah mundur. Hal ini saya dasarkan pemikiran bahwa usia manusia itu selalu maju, tidak pernah bisa dibuat mundur.

Dengan menuliskan sebuah gagasan pemikiran berupa pengelompokan masyarakat atas dasar usia, saya berharap perencanaan pembangunan baik di daerah-daerah maupun pembangunan di tingkat nasional akan lebih bisa diikuti oleh masyarakat. Bagaimana pun juga, setiap insan tentu berkepentingan sekaitan dengan umurnya.

Dengan demikian program pembangunan akan mudah dicerna dan dihayati oleh setiap individu. Mungkin juga bisa lebih gampang untuk diresapi. Demikianlah harapan saya dengan menulis naskah ini. Semoga bisa mendatangkan manfaat bagi semua yang membacanya.